Anda di halaman 1dari 1

ASKEP LANSIA DENGAN GANGGUAN AKTIVITAS

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal. Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. Walaupun jenis aktivitas berubah sepanjang kehidupan manusia, mobilitas adalah pusat untuk berpartisipasi dalam menikmati kehidupan. Mempertahankan mobilitas optimal sangat penting untuk kesehatan mental dan fisik semua lansia. Imobilitas merupakan tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. Diagnosa keperawatan yang dapat di ambil dalam keterbatasan mobilitas adalah hambatan mobilitas fisik, potensial sindrom disuse, dan intoleransi aktivitas. Imobilitas, intoleransi aktivitas, dan sindrom disuse sering terjadi pada lansia. Sekitar 43% lansia telah diidentifikasi memiliki gaya hidup kurang gerak yang turut berperan terhadap gangguan aktivitas. Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba, bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidakaktifan, tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari. Intervensi yang dapat dilakukan yaitu dengan diarahkan pada pencegahan ke arah konsekuensi-konsekuensi imobolisasi dan ketidakaktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. Kecenderungan untuk perawatan diri dan kemandirian yang berkelanjutan akan menurun jika penurunan imobilitas tidak di atasi atau tingkat aktivitas tidak dipertahankan.