Anda di halaman 1dari 127

KATA PENGANTAR

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan fiskal yang utama bagi pemerintah daerah. Dalam APBD termuat prioritas-prioritas pembangunan, terutama prioritas kebijakan dan target yang akan dicapai melalui pelaksanaan belanja daerah sesuai sumber daya yang tersedia baik yang didapatkan melalui skema transfer maupun perpajakan daerah dan retribusi daerah.

Penetapan prioritas-prioritas tersebut beserta upaya pencapaiannya merupakan konsekuensi dari meningkatnya peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian, daerah bertanggungjawab sepenuhnya agar pengelolaan sumber daya dapat dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas belanja daerah (quality of spending), dengan memastikan dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat.

Dengan jumlah daerah yang telah mencapai 524 daerah saat ini, maka informasi mengenai APBD secara nasional sangat diperlukan guna menunjang ketepatan pengambilan kebijakan di bidang hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Dalam konteks itulah, buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah berdasarkan data yang berasal dari APBD Tahun Anggaran 2013 dari seluruh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.

Dari data yang disampaikan melalui Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) inilah kemudian disusun informasi dan analisis atas APBD seluruh daerah. APBD ditelaah berdasarkan aspek pendapatan, belanja, surplus/defisit dan pembiayaan daerahnya. Dalam buku ini juga digunakan beberapa data sekunder

lainnya berupa data anggaran pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD, realisasi transfer dari Pemerintah, ataupun data sosial ekonomi lainnya. Buku ini akan menyajikan berbagai rasio keuangan yang dapat dilihat baik secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota per provinsi maupun berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Maluku Papua).

Kami mengharapkan agar buku Deskripsi dan Analisis APBD 2013 ini dapat bermanfaat bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan baik di pusat maupun di daerah sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Jakarta,

Juni 2013

Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah

Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah Yusrizal Ilyas NIP 19540401 197507 1 001 i v

Yusrizal Ilyas NIP 19540401 197507 1 001

DAfTAR IsI

KATA PENGANTAR

 

iii

DAfTAR IsI

v

DAfTAR

TAbEl

viii

DAfTAR

GRAfIK

ix

RINGKAsAN EKsEKUTIf

xiii

bAb I

PENDAHUlUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Gambaran Umum APBD 2013

2

C. Trend APBD (2009 – 2013)

4

1. Pendapatan Daerah

13

2. Belanja Daerah

15

3. Surplus, Defisit, dan Pembiayaan Daerah

16

bAb II ANAlIsIs PENDAPATAN DAERAH

19

 

A. Rasio Pajak

(Tax Ratio)

20

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

21

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

22

3. Pemerintah Provinsi

24

4. Per Wilayah

24

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

25

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

26

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

27

3. Pemerintah

Provinsi

28

4. Per

Wilayah

29

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

30

1.

Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

30

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

31

Pemerintah

3. Provinsi

33

4. Per Wilayah

34

D. Rasio Ketergantungan Daerah

35

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

35

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

36

Pemerintah

3. Provinsi

37

4. Per Wilayah

38

E. Deviasi Alokasi Transfer ke Daerah pada APBD

40

1. Dana Bagi Hasil (DBH)

41

2. Dana

Alokasi

Umum (DAU)

45

3. Dana

Alokasi

Khusus (DAK)

47

bAb III ANAlIsIs bElANJA DAERAH

51

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

52

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

53

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

56

Pemerintah

3. Provinsi

58

4. Per Wilayah

59

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

61

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

62

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

63

Pemerintah

3. Provinsi

64

4. Per Wilayah

65

C. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk

66

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

66

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

67

Pemerintah

3. Provinsi

68

4. Per Wilayah

69

D. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Daerah

70

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

71

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

72

3.

Pemerintah Provinsi

73

 

4.

Per

Wilayah

74

bAb IV ANAlIsIs sURPlUs/DEfIsIT DAN PEMbIAYAAN DAERAH

77

A.

Defisit

77

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

79

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

79

Pemerintah

3. Provinsi

80

4. Per Wilayah

81

5. Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan82

B.

Pembiayaan Daerah

84

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

87

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

88

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

88

Pemerintah

3. Provinsi

89

4. Per Wilayah

89

C.

Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman

90

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

91

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

92

Pemerintah

3. Provinsi

92

4. Per Wilayah

93

5. Daerah yang Melampaui Batas Maksimal Defisit yang Dibiayai Pinjaman

94

D.

Dana Idle

95

bAb V REAlIsAsI bElANJA DAERAH APbD 2013 sAMPAI DENGAN bUlAN MEI 2013

99

DAfTAR PUsTAKA

104

UCAPAN TERIMA KAsIH

105

DAfTAR TAbEl

Tabel

1.1 Pembiayaan Daerah

4

Tabel 1.2.

Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2013) SiLPA Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

12

Tabel 2.1.

Daftar Daerah dengan Deviasi Negatif Alokasi DBH Tertinggi

42

Tabel 2.2

Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DBH Negatif Tertinggi

43

Tabel 2.3

Daftar Daerah dengan Deviasi Positif Alokasi DBH Tertinggi

43

Tabel 2.4

Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DBH Positif Tertinggi

44

Tabel 2.5

Daftar Daerah dengan Deviasi Negatif Alokasi DAU Tertinggi

46

Tabel 2.6

Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DAU Negatif Tertinggi

46

Tabel 2.7

Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah dan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAU Tertinggi

47

Tabel 2.8

Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

48

Tabel 2.9

Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

49

Tabel 2.10

Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah dan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAK Tertinggi

49

Tabel 4.1

Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan

82

Tabel 4.3

Daerah dengan % Pinjaman diatas 6% Pendapatan Daerah

94

DAfTAR GRAfIK

Grafik

1.1

Komposisi

Pendapatan Daerah

3

Grafik

1.2

Komposisi

Belanja Daerah

3

Grafik

1.3

Trend APBD

 

5

Grafik 1.4

Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2009 – 2013

6

Grafik 1.5.

Rata-rata Pertumbuhan (2009 – 2013) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

7

Grafik 1.6

Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2013

9

Grafik 1.7

Rata-rata Pertumbuhan (2009 – 2013) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

10

Grafik 1.8

Rasio Pendapatan Daerah Per Wilayah

14

Grafik 1.9

Rasio Belanja Daerah Per Wilayah

15

Grafik

1.10 Pembiayaan Per Wilayah

17

Grafik 2.1

Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

22

Grafik 2.2

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kotaSe-Provinsi

23

Grafik 2.3

Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

24

Grafik 2.4

Rasio

Pajak

per

Wilayah

25

Grafik 2.5

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

26

Grafik 2.6

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi

27

Grafik 2.7

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

28

Grafik 2.8

Rasio Tax per Kapita Per Wilayah

29

Grafik 2.9

Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

31

Grafik 2.10 Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi

32

Grafik 2.11 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

33

Grafik

2.12

Ruang

Fiskal Per Wilayah

34

Grafik 2.13 Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

36

Grafik 2.14 Rasio Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi

37

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

38

Grafik 2.16 Rasio Ketergantungan Per Wilayah

39

Grafik 3.1

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

54

Grafik 3.2

Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

55

Grafik 3.3

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

57

Grafik 3.4

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

58

Grafik 3.5

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

59

Grafik 3.6

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

60

Grafik 3.7

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah

61

Grafik 3.8

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

63

Grafik 3.9

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

64

Grafik 3.10 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

65

Grafik 3.11 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

66

Grafik 3.12 Rasio Belanja Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

67

Grafik 3.13 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

68

Grafik 3.14 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi

69

Grafik 3.15 Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah

70

Grafik 3.16 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

72

Grafik 3.17 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah

Kabupaten dan Kota se-Provinsi

73

Grafik 3.18 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah

 

Provinsi

74

Grafik 3.19 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

75

Grafik 4.1

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

79

Grafik 4.2

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten

dan Kota se-Provinsi

80

Grafik 4.3

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

81

Grafik 4.4

Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah

82

Grafik 4.5

Penerimaan Pembiayaan Provinsi dan Kab/Kota

84

Grafik 4.6

Persentase Penerimaan Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

85

Grafik 4.7

Pengeluaran Pembiayaan Provinsi dan Kab/Kota

86

Grafik 4.8

Persentase Pengeluaran Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

86

Grafik 4.9

Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

88

Grafik 4.10 Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota se-

 

Provinsi

88

Grafik 4.11 Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

89

Grafik 4.12 Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah

90

Grafik 4.13 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

91

Grafik 4.14 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

92

Grafik 4.15 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

93

Grafik 4.16 Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah

94

Grafik 4.17 Dana Pemda di Perbankan per Bulan

96

Grafik 4.18 Dana Pemda di Perbankan agregat Kab/kota/Provinsi

97

Grafik 5.1

Perbandingan Realisasi APBD 2011, 2012 dan 2013 (Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota)

101

Grafik 5.2

Realisasi Belanja Daerah (Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota)

Bulan Mei 2013

102

Grafik 5.3

Realisasi Belanja Daerah Secara Agregat Provinsi, Kabupaten, dan

Kota Per Provinsi Bulan Mei 2013

103

RINGKAsAN EKsEKUTIf

• Secara agregat, rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota hanya 2,1% dari PDRB non migas. Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio pajak tertinggi yaitu sebesar 9,4%. Hal ini tentunya didukung oleh posisi DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sehingga perkembangan ekonominya jauh lebih maju dan kemungkinan menggali pajak jauh lebih besar karena basis pajak yang ada di DKI Jakarta cukup banyak. Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 0,4%.

• Mengingat bahwa kewenangan yang diberikan kepada daerah untuk memungut pajak daerah bersifat terbatas (closed list) dan sumber penerimaan pajak daerah yang berlaku saat ini cenderung bias ke daerah yang tingkat urbanisasinya tinggi (urban-biased), seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Kendaraan Bermotor, hal ini menyebabkan untuk daerah yang unsur kekotaannya tidak terlalu tinggi, potensi penerimaan pajaknya menjadi kecil.

• Provinsi Kalimantan Timur mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu mencapai 61,7%. Tingginya ruang fiskal di Provinsi Kalimantan Timur tentunya didukung oleh penerimaan daerah dari Dana Bagi Hasil yang cukup besar yaitu mencapai 60,6% dari total Pendapatan Daerah. Meskipun Belanja Pegawai di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 34,3% dari total pendapatan, namun masih menyisakan ruang fiskal yang besar sehingga porsi Belanja Modalnya pun mencapai 58,4% dari total pendapatannya.

• Sementara itu, Provinsi Aceh memiliki ruang fiskal terendah yaitu 22,2%. Porsi Belanja Pegawai pemerintah daerah se-Provinsi Aceh sangat besar yaitu 42,5% dari total Pendapatan Daerah, sehingga ruang fiskal yang tersisa

sangat kecil. Dengan demikian Provinsi Aceh harus memanfaatkan ruang fiskal yang ada dengan merencanakan Belanja Daerah yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya.

• Dari hasil telaah pembandingan deviasi antara penetapan alokasi transfer oleh Pemerintah dengan penetapan dalam APBD, secara umum untuk alokasi Dana Perimbangan yang penyampaian informasinya ke publik dilakukan segera setelah pengesahan UU APBN oleh DPR RI dapat dimanfaatkan dengan baik oleh daerah dalam menyusun APBD. Adapun untuk DBH yang informasi alokasinya diumumkan lebih lambat dari DAU dan DAK (sekitar Desember hingga Januari) atau setelah APBD ditetapkan oleh daerah, nampak terjadi deviasi yang relatif tinggi antara penetapan alokasi dari Pusat dengan penetapan dalam APBD.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah 42,78%. Rasio ini lebih rendah dari tahun anggaran sebelumnya yang mencapai rata-rata 44,7%. Penurunan rasio belanja pegawai secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, meskipun penurunannya relatif kecil namun menunjukkan upaya rasionalisasi terhadap struktur belanja daerah.

• Terdapat 5 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai lebih dari 50 %, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja selain Belanja Pegawainya. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar Belanja Pegawai yang bisa didanai, khususnya dalam mendukung pemenuhan layanan publik.

• Sulawesi adalah wilayah yang memiliki rasio Belanja Pegawai tertinggi, yaitu sebesar 48,65% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 33,37%. Rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya masih di bawah 50,0%. Dengan demikian,

wilayah Sulawesi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi Belanja Daerah yang dapat digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 49,41%. Rasio ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,6%. Peningkatan rasio jumlah guru yang diiringi dengan penurunan rasio belanja pegawai secara keseluruhan, sekali lagi menunjukkan bahwa daerah telah menjadi lebih rasional dalam alokasi belanja pegawainya dengan semakin menurunkan porsi jumlah PNS maupun besaran belanja untuk PNS yang bekerja di bidang administrasi.

• Rata-rata rasio Belanja Modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota sebesar 24,81%. Tahun 2012, rata-rata porsi belanja modal menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah yaitu sebesar 23,4%. Dengan demikian telah terjadi shifting dari penurunan porsi belanja pegawai kepada peningkatan belanja modal. Hal ini merupakan indikasi positif terhadap perbaikan kualitas struktur belanja daerah. Provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan angka sebesar 12,59% sedangkan rasio tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 44,08%.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata pengeluaran daerah untuk Belanja Bantuan Sosial adalah 1,05%. Meskipun relatif kecil, namun belanja bantuan sosial ini perlu dicermati karena mempunyai potensi untuk tumpang tindih dengan belanja yang seharusnya menjadi tanggung jawab SKPD. Selain itu, jenis belanja ini juga cukup rentan terhadap isu politik yang seringkali membuat dispute antara eksekutif dan legislative. Terdapat 9 provinsi yang angka rasionya melebihi angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Daerah yang memiliki rasio terbesar secara agregat adalah Provinsi Kepulauan Riau, yaitu sebesar 3,71%, diikuti oleh DKI Jakarta, Papua. Papua Barat dan Aceh. Hal ini perlu dicermati mengingat Aceh yang mempunyai Ruang Fiskal terkecil di Indonesia, rasio Belanja Modal kedua

terendah di Indonesia, namun mempunyai rasio bantuan sosial yang relatif tinggi dibandingkan daerah lainnya.

• Data APBD menunjukkan bahwa adanya kecenderungan daerah untuk menganggarkan defisit dalam APBD-nya. Hal ini terlihat dari 491 kabupaten/ kota dan 33 provinsi di Indonesia pada Tahun Anggaran (TA) 2013 sebanyak 457 daerah menganggarkan defisit dalam APBD-nya, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 447 daerah yang menganggarkan defisit. Kecenderungan daerah menganggarkan defisit tersebut karena adanya SiLPA dalam APBD mereka, artinya sebenarnya secara umum daerah tidak sedang dalam kondisi defisit secara riil, tetapi mereka menganggarkan defisit karena untuk menyerap SiLPA tahun sebelumnya. Hal lain yang juga menarik untuk dicermati adalah bahwa pada umumnya daerah terbukti mengalami surplus pada saat realisasi.

• Rata-rata rasio defisit secara nasional (agregat provinsi, kabupaten, dan kota) adalah 7,5% dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisit tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi penerimaan pinjaman dan obligasi daerah 5,9%. Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan rasio defisit terbesar di mana faktor utama penyebab hal tersebut adalah untuk mengakomodasi SiLPA tahun sebelumnya yang jumlahnya cukup besar agar bisa digunakan dalam belanja publik.

• Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah pembiayaan masih bernilai minus. Kabupaten Sarmi merupakan daerah dengan nilai Defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar Rp80 miliar. Hal ini harus menjadi perhatian Pemerintah Pusat sebagai otoritas yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembinaan di bidang pengelolaan keuangan, karena fenomena di atas menunjukkan bahwa terdapat daerah-daerah yang akan menganggarkan belanja tanpa adanya kepastian sumber dananya. Hal ini secara normatif tidak layak untuk dilakukan karena menimbulkan ketidakpastian dalam alokasi belanja publik.

• Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah tertinggi ada di wilayah Kalimantan (15,62%), rata-rata nasional untuk rasio ini adalah sebesar 7,75%, semakin besar rasio menunjukkan semakin besar dana idle yang tidak dapat dimanfaatkan pada tahun 2012, sedangkan rasio terendah SiLPA terhadap belanja terjadi di wilayah Sulawesi (2,93%).

• Rasio pinjaman terhadap pendapatan APBD secara rata-rata adalah sebesar 0,7%. Nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibanding batas pinjaman yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.07/2012, yaitu 6% dari total Pendapatan Daerah untuk masing-masing pemerintah daerah. Secara agregat provinsi, kabupaten, dan kota tidak tampak daerah yang melampaui batas yang ditentukan, ini disebabkan pemerintah telah menaikkan batas ketentuan yaitu dari 3,5% di TA 2011 (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK07/2010 menjadi 5% di TA 2012 dan TA 2013). Rasio pinjaman tertinggi adalah Sulawesi Tenggara (4,3%).

• Pergerakan dana pemda di perbankan pada bulan Desember merupakan titik terendah dalam tiap tahunnya dan kembali meningkat pada awal tahun berikutnya. Besaran dana pemda di perbankan Desember 2012 lebih besar dibanding dengan Desember 2011, hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan besaran SiLPA tahun berkenaan tahun 2012.

bAb I PENDAHUlUAN

A. Latar Belakang

Instrumen kebijakan fiskal yang digunakan oleh Pemerintah Daerah di Indonesia dalam rangka melakukan pelayanan publik, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat serta terus melakukan pembangunan di berbagai sektor tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). APBD yang direncanakan setiap tahun dengan mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada dasarnya menunjukkan sumber-sumber Pendapatan Daerah, berapa besar alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan dan sumber-sumber pendapatan, serta pembiayaan yang muncul bila terjadi surplus atau defisit. Sumber Pendapatan Daerah tentunya masih bersandar pada penerimaan pajak dan retribusi daerah ditambah dengan dana transfer dari pemerintah pusat serta bisa juga berasal dari lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.

Perwujudan pelayanan publik di daerah tentunya berkorelasi erat dengan kebijakan Belanja Daerah. Belanja Daerah merupakan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendanai seluruh program/kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan publik di daerah. Dalam hal penganggaran tentunya bisa terjadi selisih antara pendapatan dan belanja daerah, penyebabnya bisa sangat beragam, akan tetapi surplus atau defisit daerah yang timbul tersebut tentunya perlu disikapi oleh daerah dengan kebijakan Pembiayaan Daerah. Bila terjadi surplus maka daerah harus menganggarkan untuk pengeluaran pembiayaan tertentu semisal untuk investasi atau dapat juga dengan mengoptimalisasi dana tersebut untuk mendanai

belanja kegiatan yang telah direncanakan. Akan tetapi bila terjadi defisit maka daerah perlu mencari alternatif pembiayaan yang bisa berupa pinjaman daerah, penggunaan SiLPA atau melakukan penghematan anggaran dengan melakukan penyisiran kegiatan yang tidak perlu dilaksanakan atau ditunda pelaksanannya.

Untuk melihat gambaran secara komprehensif atas anggaran daerah pada tahun 2013, diperlukan suatu telaah ringkas mengenai APBD 2013 secara agregatif maupun terpisah antara propinsi dengan kabupaten/kota. Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah di Indonesia dengan berdasarkan data yang terutama berasal dari APBD Tahun Anggaran 2013 dari seluruh Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota. Analisis APBD ditelaah berdasarkan aspek pendapatan, belanja, surplus defisit dan pembiayaan daerahnya. Dalam analisis ini juga digunakan beberapa data sekunder lainnya berupa data anggaran sebelum APBD 2013, realisasi APBD tahun-tahun sebelumnya, hingga data pendukung lain yang digunakan untuk melakukan analisis time-series. Alat analisis utamanya adalah rasio keuangan yang dilakukan secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota dan berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Maluku Papua).

B. Gambaran Umum APBD 2013

Komposisi Pendapatan Daerah pada APBD TA 2013 secara nasional dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian utama yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Grafik 1.1 menunjukkan besaran jumlah uang dan persentase dari ketiga sumber Pendapatan Daerah. Terlihat bahwa dana perimbangan masih mendominasi sumber Pendapatan Daerah yaitu sebesar sebesar 66,3% atau Rp432,697 triliun, sedangkan PAD hanya sebesar 21,5% atau sebesar Rp140,302 triliun dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar 12,2% atau sebesar Rp79,866 triliun. (Data APBD yang disajikan telah dikonsolidasikan untuk menghilangkan penghitungan ganda atas beberapa reciprocal account)

Grafik 1.1 Komposisi Pendapatan Daerah

Grafik 1.1 Komposisi Pendapatan Daerah Sumber: APBD 2013 (Diolah) Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah Sumber: APBD

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah

APBD 2013 (Diolah) Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah Sumber: APBD 2013 (Diolah) Belanja daerah secara nasional

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Belanja daerah secara nasional pada TA 2013 mencapai Rp707,083 triliun. Belanja Pegawai porsinya masih dominan yaitu mencapai 41,9% atau sebesar

Rp296,540 triliun. Belanja Modal mencapai Rp175,578 triliun atau sebesar 24,8%. Belanja Barang dan Jasa mencapai Rp148,012 triliun atau 20,9%.

Tabel 1.1 Pembiayaan Daerah (Juta Rupiah)

Pembiayaan

55.087.326

Penerimaan Pembiayaan

67.083.829

Pengeluaran Pembiayaan

11.996.503

Defisit pada APBD secara nasional yang mencapai Rp54,217 triliun. Total Pembiayaan Daerah secara nasional mencapai Rp55,087 triliun dengan penerimaan pembiayaan (SiLPA, Pinjaman dan lain-lain) mencapai Rp67,083 triliun serta pengeluaran pembiayaan dianggarkan sebesar Rp11,996 triliun.

C. Trend APBD (2009 – 2013)

Berdasarkan data APBD 2009 hingga 2013 yang telah dikonsolidasikan maka kita bisa mendapatkan gambaran sebagai berikut:

Grafik 1.3 Trend APBD (dalam miliar rupiah)

Grafik 1.3 Trend APBD (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah) Dari

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Dari grafik tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa setiap tahun sejak

2009 hingga 2013 Pendapatan Daerah meningkat rata-rata sebesar 15,6% dan

peningkatan pada tahun 2013 sebesar 18,4%, di mana Pendapatan Daerah pada tahun 2012 sebesar Rp551,3 triliun meningkat menjadi sebesar Rp652,9 triliun pada tahun 2013. Secara nasional trend anggaran belanja daerah mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2009 hingga 2013 sebesar 14,4%. Belanja daerah yang dianggarkan pada tahun 2012 sebesar Rp591,9 triliun meningkat 19,5% pada tahun 2013 menjadi sebesar Rp707,1 triliun.

Trend defisit yang dianggarkan daerah cenderung fluktuatif, cenderung terus mengalami penurunan dari tahun 2009 hingga 2011, akan tetapi pada tahun

2013 defisit anggaran meningkat sebesar 34,5%. Trend peningkatan pembiayaan

netto juga relatif sama polanya setiap tahun dengan trend defisit. Peningkatan

persentase pembiayaan netto pada tahun 2013 adalah sebesar 34,4% dari tahun sebelumnya.

Grafik 1.4 Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2009 – 2013 (dalam miliar rupiah)

Pendapatan Daerah TA 2009 – 2013 (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Komposisi setiap jenis Pendapatan Daerah beserta trend-nya terlihat pada tabel di atas. Secara nasional porsi Dana Perimbangan masih dominan setiap

tahunnya, akan tetapi terlihat laju peningkatannya lebih rendah bila dibandingkan laju peningkatan PAD. PAD terus mengalami peningkatan dimana pada tahun

2009

PAD seluruh daerah secara nasional mencapai Rp62,7 miliar dan di tahun

2013

meningkat menjadi Rp140,3 miliar rupiah. Peningkatan tersebut secara

rata-rata dari tahun 2009 hingga 2013 adalah sebesar 22,4%, peningkatan dari tahun 2012 hingga ke 2013 adalah sebesar 24,5%.

Dana Perimbangan secara nasional setiap tahunnya mengalami peningkatan, di mana pada tahun 2009 Dana Perimbangan hanya Rp285,0 triliun terus

meningkat menjadi Rp432,7 triliun di tahun 2013. Rata-rata peningkatan Dana Perimbangan dari tahun 2009 hingga 2013 di kisaran 11,1%. Peningkatan yang terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 13,7% dari anggaran Dana Perimbangan di tahun 2012.

Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah juga menunjukkan tren peningkatan dari tahun 2009 hingga 2013. Pada tahun 2009 secara nasional Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah masih di kisaran Rp19,5 triliun, kemudian mengalami rata-rata peningkatan per tahunnya sebesar 44,7%, sehingga di tahun 2013 Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah mencapai Rp79,9 triliun. Persentase peningkatan yang terjadi pada tahun anggaran 2012 yaitu sebesar 38,3% dari anggaran tahun sebelumnya dan di tahun 2013 dianggarkan meningkat 37,1%.

Grafik 1.5. Rata-rata Pertumbuhan (2009 – 2013) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Berdasarkan data trend 2009 hingga 2013 maka kita juga bisa melihat gambaran tingkat pertumbuhan total Pendapatan Daerah beserta komponen utamanya yaitu PAD dan Dana Perimbangan. Secara agregat pendapatan seluruh daerah per provinsi dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan total Pendapatan Daerah yang tertinggi adalah di Provinsi Banten (21,4%), lalu diikuti oleh Provinsi DKI Jakarta (19,5%) dan Provinsi Sumatera Utara (19,4%). Sedangkan rata- rata pertumbuhan Pendapatan Daerah yang terendah adalah di Provinsi Papua Barat (11,1%), Provinsi Kalimantan Tengah (11,4%), dan Provinsi Sulawesi Utara

(11,6%).

Bila dilihat berdasarkan rata-rata pertumbuhan PAD per tahunnya yang tertinggi adalah terdapat di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 30,7%, lalu diikuti oleh Provinsi Lampung yaitu sebesar 29,5%, dan Provinsi Kalimantan Selatan yaitu sebesar 29,4%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan PAD yang terendah yaitu di bawah 11% terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu di kisaran 2,0%, Provinsi Bengkulu sebesar 7,0%, Provinsi Aceh sebesar 10,9%.

Di sisi lain rata-rata pertumbuhan dana perimbangan dari tahun 2009 hingga 2013 cenderung tidak terlalu tajam fluktuasinya antar provinsi yaitu di kisaran 9,0% hingga 16,0%, dengan pengecualian Provinsi DKI Jakarta dengan rata-rata pertumbuhan dana perimbangan -0,4%.

Grafik 1.6 Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2013 (dalam miliar rupiah)

Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2013 (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 -

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Berdasarkan tabel di atas maka dapat kita amati porsi tiap jenis Belanja Daerah setiap tahun dan trend kenaikan/penurunannya antar tahun. Bila dicermati Belanja Pegawai (langsung dan tidak langsung) secara nasional cenderung terus meningkat dari tahun 2009 hingga 2013, di mana pada tahun 2009 total Belanja Pegawai secara nasional baru mencapai angka Rp180,4 miliar rupiah dan di tahun 2013 meningkat menjadi Rp296,5 miliar rupiah. Rata- rata peningkatan Belanja Pegawai mencapai 13,2%. Pada tahun 2013 Belanja Pegawai mengalami peningkatan sebesar 13,6% dari tahun 2012.

Besarnya Belanja Barang dan Jasa juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2009 total Belanja Barang dan Jasa secara nasional di kisaran Rp79,6 miliar rupiah dan pada tahun 2013 telah meningkat menjadi Rp148,0 miliar rupiah. Peningkatan Belanja Barang dan Jasa secara rata-rata dari tahun 2009 hingga 2013 adalah sebesar 15,0%.

Fenomena yang agak berbeda terlihat dari trend Belanja Modal tahun 2009 hingga 2013, dimana secara rata-rata mengalami peningkatan di kisaran 12,7% dari tahun 2009 hingga 2013. Namun demikian, bila dilihat secara nominal, maka perubahan tersebut cenderung fluktuatif, dimana pada tahun 2009 total Belanja Modal mencapai Rp114,6 miliar rupiah lalu mengalami penurunan di tahun 2010 yaitu hanya sebesar Rp96,2 miliar rupiah, kemudian mengalami peningkatan di tahun 2011 hingga di tahun 2013 total Belanja Modal mencapai Rp175,6 miliar rupiah.

Belanja Lain-Lain juga cenderung fluktuatif pada tahun 2009 hingga 2013 di mana pada tahun 2009 Belanja Lain-Lain secara total mencapai Rp40,6 miliar

lalu naik menjadi Rp50,11 miliar di tahun 2010. Selanjutnya total Belanja Lain- Lain di tahun 2011 turun lagi menjadi Rp48,4 miliar dan akhirnya pada tahun

2013 total anggaran Belanja Lain-Lain meningkat menjadi Rp87,0 miliar. Secara

rata-rata peningkatan total Belanja Barang dan Jasa pada tahun 2009 hingga

2013 adalah sebesar 22,3%.

Grafik 1.7 Rata-rata Pertumbuhan (2009 – 2013) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Berdasarkan grafik 1.7 maka kita bisa melihat gambaran rata-rata tingkat pertumbuhan total belanja daerah beserta komponen utamanya yaitu Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Modal dari tahun 2009 hingga ke 2013. Secara agregat total belanja seluruh daerah per provinsi menunjukkan rata-rata pertumbuhan total belanja daerah yang tertinggi adalah di Provinsi Banten (22,2%), lalu diikuti oleh Provinsi DKI Jakarta (20,1%) dan Provinsi Lampung (19,0%). Sedangkan rata-rata pertumbuhan belanja daerah yang terendah terdapat di Provinsi Aceh (8,1%), Provinsi Kalimantan Tengah (9,8%), dan Provinsi Sumatera Barat (10,8%).

Bila dilihat berdasarkan rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai per tahunnya yang tertinggi adalah terdapat di Provinsi Maluku yaitu sebesar 16,5%, lalu diikuti oleh Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 15,9%, dan Provinsi Kalimantan Selatan yaitu sebesar 15,6%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai yang terendah terdapat di Provinsi Riau yaitu di kisaran 11,0%, Provinsi Sumatera Selatan sebesar 11,1%, dan Provinsi Aceh sebesar 11,5%.

Rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang tertinggi terdapat di Provinsi Banten yaitu sebesar 28,1%, Provinsi Aceh sebesar 25,5%, dan Provinsi Bali sebesar 23,6%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang terendah terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu sebesar 7,9%, Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 8,9% , dan Provinsi Maluku sebesar

10,7%.

Rata-rata pertumbuhan Belanja Modal yang tertinggi terdapat di Provinsi Lampung yaitu sebesar 31,6% lalu diikuti oleh Provinsi DKI sebesar 28,1% dan Provinsi Banten sebesar 26,9%. Rata-rata pertumbuhan Belanja Modal yang terendah terdapat di Provinsi Aceh yaitu -7,2%, lalu Provinsi Bangka Belitung sebesar 2,0% dan Provinsi Maluku sebesar 3,6%. Provinsi Aceh relatif terus menurun Belanja Modalnya karena pembangunan infrastruktur sejak terjadinya tsunami di sana lebih dominan berasal dari bantuan hibah yang masuk pada lain- lain Pendapatan Daerah yang sah.

Tabel 1.2. Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2013) SiLPA Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

No

Se-Provinsi

SiLPA (%)

No

Se-Provinsi

SiLPA (%)

1

Sulsel

-9.0

18

Malut

5.8

2

Sultra

-8.2

19

Jateng

6.2

3

Aceh

-8.2

20

Jabar

6.5

4

Sumbar

-7.3

21

Kalbar

8.5

5

Sumut

-7.2

22

Riau

10.8

6

NTB

-6.3

23

Babel

10.8

7

Kepri

-5.7

24

Kalsel

12.1

8

Bengkulu

-3.2

25

Kaltim

17.2

9

Papua

-3.0

26

Bali

20.1

10

Kalteng

-1.0

27

Lampung

21.5

11

Papbar

0.0

28

Sumsel

22.9

12

Jatim

0.9

29

Gorontalo

27.9

13

NTT

2.3

30

Sulut

28.5

14

DIY

2.4

31

Banten

31.5

15

Maluku

3.1

32

Sulbar

47.9

16

Jambi

4.3

33

DKI

58.4

17

Sulteng

5.1

 

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2013 (Diolah)

Di sisi Pembiayaan Daerah, berdasarkan trend APBD 2009 – 2013 maka kita bisa mendapatkan gambaran mengenai rata-rata pertumbuhan SiLPA Daerah agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rata-rata pertumbuhan SiLPA yang terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu -9,0%, lalu diikuti oleh

Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar -8,2%, dan Provinsi Aceh sebesar -8,2%. Kecenderungan pertumbuhan SiLPA yang negatif setiap tahunnya bisa diartikan bahwa dalam proses perencanaan anggaran seluruh pemerintah daerah di provinsi tersebut lebih mengedepankan kehati-hatian dalam melakukan estimasi terhadap sumber pendanaan yang akan diterima pada saat anggaran tahun berjalan.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan SiLPA yang tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 58,4%, Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar 47,9%, dan Provinsi Banten yaitu sebesar 31,5%. Kecenderungan ini bisa diartikan bahwa pemerintah daerah di provinsi tersebut lebih optimis dalam estimasi atas dana yang akan diterima pada tahun anggaran berjalan akan tetapi tidak berani mengalokasikannya dalam jenis belanja untuk mendanai kegiatan layanan publik di APBD-nya.

Di sisi lain, pinjaman daerah belum terlalu mempunyai peran yang kuat dalam pembiayaan daerah. Hal ini disebabkan karena SiLPA daerah relatif masih cukup tinggi sehingga daerah cenderung akan menutup defisit mereka dari dana internal yang tidak memberikan beban antar generasi. Selain itu, kompleksitas pengajuan dan administrasi pinjaman daerah juga merupakan salah satu faktor belum terlalu berkembangnya pinjaman daerah.

1. Pendapatan Daerah

Potret rasio Pendapatan Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun Anggaran 2013 pada kabupaten, kota, dan provinsi pada beberapa wilayah secara agregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.8 Rasio Pendapatan Daerah Per Wilayah

Grafik 1.8 Rasio Pendapatan Daerah Per Wilayah Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah) Terlihat dari grafik

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah)

Terlihat dari grafik tersebut beberapa rasio yang terkait dengan Pendapatan

Daerah. Rasio PAD dibandingkan total Pendapatan Daerah yang tertinggi adalah

di wilayah Jawa Bali yaitu sebesar 33,6% sedangkan yang terendah di wilayah

Nusa Tenggara Maluku Papua yang hanya sebesar 5,9%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian seluruh daerah yang berada di wilayah Jawa dan Bali relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Fakta tersebut juga diperkuat dengan tingginya rasio dana perimbangan

dibandingkan total pendapatan. Berdasarkan rasio tersebut secara agregat daerah

di wilayah Jawa Bali hanya memiliki ketergantungan terhadap dana perimbangan

dan transfer sebesar 53,5%. Wilayah yang memiliki tingkat ketergantungan tertinggi terhadap dana perimbangan adalah di wilayah Sulawesi di mana rasio dana perimbangan terhadap total pendapatannya mencapai angka sekitar 77,4% persen. Sedangkan untuk rasio lain-lain Pendapatan Daerah yang sah terhadap

total pendapatan maka terlihat bahwa wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua masih yang tertinggi hingga mencapai 17,8%, sedangkan wilayah Sumatera memiliki rasio sebesar 12,0%. Di sisi lain terlihat bahwa wilayah Kalimantan hanya memiliki rasio yang paling rendah yaitu sebesar 5,5%. Salah satu penyebab utama dua wilayah yaitu Nusa Tenggara Maluku Papua serta Sumatera memiliki rasio lain-lain Pendapatan Daerah yang sah yang relatif tinggi adalah karena di dalam kedua wilayah tersebut terdapat daerah yang menerima dana otonomi khusus, yaitu Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat dan Provinsi Aceh.

2. Belanja Daerah

Potret rasio Belanja Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun Anggaran 2013 pada kabupaten, kota, dan provinsi pada beberapa wilayah secara agregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.9 Rasio Belanja Daerah Per Wilayah

berikut: Grafik 1.9 Rasio Belanja Daerah Per Wilayah Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah) Pendahuluan 1

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah)

Bila dilihat besaran Belanja Daerah yang dianggarkan pada APBD TA 2013 antar wilayah maka dapat diketahui bahwa Belanja Pegawai tetap merupakan porsi terbesar yang harus dibelanjakan oleh daerah, selanjutnya baru diikuti oleh Belanja Modal serta Belanja Barang dan Jasa.

Belanja Pegawai di wilayah Sulawesi mencapai 47,4% sedangkan wilayah Kalimantan Belanja Pegawainya yang terendah yaitu hanya sekitar 31,3%. Sedangkan rasio jumlah pegawai terhadap jumlah total penduduk di Sulawesi dan Kalimantan secara berturut-turut adalah 1:36 dan 1:40. Hal ini menunjukkan bahwa 1 orang PNSD di wilayah Sulawesi memberikan layanan publik kepada 40 orang penduduk. Sedangkan di wilayah Kalimantan satu orang PNSD memberikan layanan publik kepada 36 orang penduduk.

Sebagai perbandingan, rasio PNSD dan penduduk di wilayah Jawa Bali adalah 1:87. Bisa diartikan bahwa jumlah PNSD di wilayah Jawa masih sedikit karena total penduduknya sangat banyak sehingga rasio Belanja Pegawai terhadap total belanja juga besar yaitu sekitar 42,7%. Ironisnya berbagai pengeluaran kegiatan yang terangkum dalam akun Belanja Modal di wilayah Jawa Bali sangat kecil yaitu hanya sekitar 20,2%. Hal ini bisa berarti bahwa di satu sisi kebutuhan infrastruktur di Jawa-Bali relatif rendah sehingga setiap daerah di wilayah tersebut tidak perlu menganggarkan terlalu banyak Belanja Modal atau memang karena APBD di semua daerah di Jawa-Bali sudah terlalu berat untuk memberikan pelayanan publik yang tercermin dari besarnya jumlah pegawai dan rasio Belanja Pegawai per total belanjanya.

Wilayah Kalimantan menunjukkan geliat pembangunan infrastruktur yang paling signifikan tercermin dari rasio Belanja Modalnya yang mencapai sekitar 33,9% dan Belanja Barang dan Jasanya juga relatif tinggi yaitu sekitar 19,8%.

3. Surplus, Defisit, dan Pembiayaan Daerah

Potret beberapa rasio yang terkait Pembiayaan Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun Anggaran 2013 pada kabupaten, kota, dan provinsi pada beberapa wilayah secara aggregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.10 Pembiayaan Per Wilayah

Grafik 1.10 Pembiayaan Per Wilayah Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah) Secara agregat besarnya defisit APBD

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2013 (Diolah)

Secara agregat besarnya defisit APBD TA 2013 yang paling tinggi terjadi di wilayah Kalimantan yang mencapai 18,4%. Untuk menutup defisit APBD TA 2013, secara agregat seluruh daerah di wilayah Kalimantan bisa menggunakan SiLPA tahun lalu karena persentase SiLPA sudah melampaui defisit tersebut. Namun demikian, bila dilihat rasio pinjaman daerah sekitar 0,37% maka bisa ditengarai bahwa tidak seluruh daerah itu mempunyai SiLPA yang besar untuk menutup defisit anggarannya. Bisa jadi sebagian daerah tersebut sangat mengandalkan penerimaan pembiayaan dari pinjaman untuk menutup defisit anggaran daerahnya.

Potret nilai agregat defisit anggaran yang secara langsung bisa ditutup dengan SiLPA tahun lalu juga terlihat di wilayah Sumatera, Jawa Bali, dan Nusa

Tenggara Maluku Papua. Sedangkan di wilayah Sulawesi terlihat sedikit berbeda, dimana secara agregat rasio defisitnya sebesar -3,89% akan tetapi SiLPA-nya hanya 3,12% sehingga secara agregat pinjaman daerah di wilayah tersebut mencapai 1,91%. Hal ini ditengarai bahwa sebagian besar daerah memutuskan untuk meminjam sebagai bentuk upaya antisipasi bila proyeksi pendapatan daerahnya tidak tercapai, namun disisi lain sebagian daerah juga membuat kebijakan ekspansi pembangunan dengan mengandalkan sumber pembiayaan berupa pinjaman daerah.

Besarnya ketergantungan atas dana transfer ke daerah serta besarnya resiko fiskal yang ditanggung oleh APBN menyebabkan seluruh daerah sebaiknya juga harus memasukkan berbagai resiko fiskal yang terkait dalam proyeksi pendapatan maupun belanja daerahnya. Porsi Belanja Pegawai yang tinggi menyebabkan berkurangnya alternatif efisiensi belanja daerah. Sehingga daerah harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Upaya optimalisasi pajak daerah dan retribusi daerah berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 lebih mengedepankan pada perluasan obyek pajak, penambahan jenis pajak baru secara limitatif, serta optimalisasi tarif pajak yang akan dipungut berdasarkan diskresi masing-masing daerah.

Perkembangan anggaran pajak daerah dan retribusi daerah setiap tahun hingga 2013 menunjukkan trend peningkatan yang cukup besar. Bila pada tahun 2009 total pajak daerah secara nasional hanya sebesar Rp42,88 triliun maka sejak diberlakukannya UU tersebut maka seluruh pemerintah daerah pada tahun 2013 telah menganggarkan penerimaan dari pajak daerah sebesar Rp102,52 triliun atau meningkat sebesar 58,17 persen. Begitu juga dengan retribusi daerah di mana pada tahun 2009 hanya sebesar Rp7,76 triliun lalu mengalami peningkatan terus setiap tahunnya hingga di tahun 2013 menjadi sebesar Rp10,51 triliun atau meningkat sebesar 26,12%.

bAb II ANAlIsIs PENDAPATAN DAERAH

Desentralisasi fiskal pada dasarnya menekankan pada expenditure assignment yang ditandai dengan pembagian urusan pada berbagai tingkat pemerintahan. Pemerintah daerah memiliki 31 urusan yang terdiri dari urusan wajib dan pilihan. Sebagai konsekuensi logis dari penyerahan kewenangan/urusan tersebut dan sesuai dengan prinsip money follow function, pemerintah pusat setiap tahunnya mengalokasikan dana Transfer ke Daerah kepada pemerintah daerah. Jumlah Transfer ke Daerah memiliki tren yang meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan APBN.

Di samping itu, pemerintah pusat juga memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah yang mencerminkan kemandirian daerah dalam menyelenggarakan otonomi daerah. Untuk meningkatkan kemandirian daerah, pemerintah pusat terus berupaya melakukan penguatan kewenangan perpajakan daerah (local taxing power). Dalam UU 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, penguatan perpajakan daerah dilakukan, antara lain melalui pemberian diskresi penetapan tarif dan pendaerahan beberapa jenis pajak baru seperti Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Bumi dan Bangunan – Perkotaan dan Pedesaan

(PBB-P2).

Namun demikian, pada kenyataannya banyak daerah yang masih tergantung pada dana transfer dari pusat karena minimalnya PAD. Data APBD Tahun 2013 menunjukkan rata-rata secara agregat komposisi dana transfer dalam pendapatan daerah mencapai 82%. Hal ini menggambarkan porsi bantuan dari pemerintah pusat masih mendominasi penerimaan daerah. Fenomena ini perlu dikaji, karena jika dilihat berdasarkan data yang ada, potensi ekonomi yang dimiliki daerah

untuk mengembangkan PAD masih cukup besar, namun potensi-potensi tersebut belum dapat digali dengan baik.

Analisis pendapatan daerah berikut ini mencoba untuk memberikan gambaran kondisi pendapatan daerah yang tercermin dalam APBD. Beberapa indikator yang akan digunakan dalam analisis ini yaitu rasio pajak daerah, rasio pajak per kapita, rasio ruang fiskal daerah, dan rasio ketergantungan daerah. Setiap perhitungan rasio akan dibagi ke dalam 5 jenis yaitu perhitungan rasio secara nasional (agregat pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota), rasio seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi, rasio pemerintah provinsi, dan rasio per wilayah (pembagian 5 wilayah yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Maluku Papua). Untuk rasio per wilayah tidak mengikutsertakan Provinsi DKI Jakarta di dalam perhitungan. Pada bagian terakhir analisis ini, juga akan dibahas mengenai deviasi antara besaran Dana Perimbangan (DBH, DAU, dan DAK) yang dicantumkan dalam APBD dengan besaran alokasi Dana Perimbangan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

Kebijakan pajak daerah yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menerapkan pendekatan closed list untuk jenis pajak daerah yang dapat dikelola oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi diberi kewenangan untuk memungut 5 jenis pajak dan pemerintah kabupaten dan kota diberi kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak. Salah satu kebijakan baru dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 adalah adanya PBB-P2 dan BPHTB dari pusat ke daerah. Dengan adanya pengalihan kewenangan pemungutan kedua pajak tersebut kepada daerah, diharapkan akan menambah peluang bagi daerah untuk melakukan pemungutan secara lebih optimal.

Rasio pajak (tax ratio) merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan jumlah penerimaan pajak dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara

dalam satu tahun. Di tingkat daerah, rasio pajak merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak daerah dengan PDRB. Rasio pajak dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak, mengukur kinerja perpajakan, dan melihat potensi pajak yang dimiliki.

PDRB sangat erat kaitannya dengan pajak daerah karena dapat menggambarkan kegiatan ekonomi masyarakat. Jika pertumbuhan ekonomi daerah baik tentunya akan menjadi potensi penerimaan pajak di wilayah tersebut. PDRB yang akan digunakan dalam analisis ini adalah PDRB atas dasar harga berlaku yang merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun. Nilai PDRB ini pada umumnya digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi yang terjadi di suatu wilayah.

Perhitungan rasio pajak di berbagai wilayah di Indonesia akan memberikan gambaran hubungan antara penerimaan pajak daerah di wilayah tersebut dengan PDRB-nya, menilai kondisi suatu daerah, dan membandingkannya dengan daerah lain.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.1 menunjukkan rasio pajak secara agregat provinsi, kabupaten dan kota pada 33 provinsi seluruh Indonesia. Secara agregat, rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota hanya 2,1% dari PDRB non migas.

Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio pajak tertinggi yaitu sebesar 9,4%. Hal ini tentunya didukung oleh posisi DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sehingga perkembangan ekonominya jauh lebih maju dan kemungkinan menggali pajak jauh lebih besar karena basis pajak yang ada di DKI Jakarta cukup banyak.

Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 0,4%. Kewenangan yang diberikan kepada daerah untuk memungut pajak daerah memang terbatas (closed list). Sumber penerimaan pajak daerah yang berlaku saat ini cenderung bias ke daerah yang

tingkat urbanisasinya tinggi (urban-biased), seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Kendaraan Bermotor. Sehingga untuk daerah yang unsur kekotaannya tidak terlalu tinggi potensi penerimaan pajaknya menjadi kecil.

Grafik 2.1 Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

2.1 Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) Berdasarkan data rasio pajak

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Berdasarkan data rasio pajak di 33 provinsi, diperoleh gambaran bahwa rata- rata rasio pajak daerah secara nasional sebesar 2,1%. Provinsi yang memiliki rasio pajak di atas rata-rata nasional sebanyak 11 provinsi sebagaimana terlihat pada grafik di atas.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 2.2 memperlihatkan rasio pajak per pemerintah kabupaten dan kota untuk masing-masing wilayah provinsi. Rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia sebesar 0,53% dari PDRB non migasnya. Rasio ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 0,37%. Hal ini menunjukkan bahwa upaya perluasan objek pajak dan pengalihan beberapa jenis pajak ke daerah yang diatur dalam UU 28 Tahun 2009 telah memberikan efek positif kepada penguatan perpajakan daerah. Rasio pajak pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Bali menunjukkan angka yang paling

tinggi, yaitu sebesar 3,4%. Sebagai daerah tujuan wisata, sumber penerimaan pajak daerah di Bali berasal dari sektor pariwisata seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan, sehingga potensi penerimaan pajaknya menjadi lebih tinggi dibanding daerah lain.

Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat pada pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Papua Barat dan Provinsi Riau, yaitu sebesar 0,1%. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh rendahnya potensi penerimaan pajak daerah kabupaten dan kota. Potensi penerimaan yang tinggi di Provinsi Papua dan Riau adalah dari sektor pertambangan yang merupakan sumber penerimaan Negara yang selanjutnya akan menjadi sumber pendapatan bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) yang dalam rasio ini tidak dihitung.

Grafik 2.2 Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kotaSe-Provinsi *)

2.2 Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kotaSe-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Grafik 2.3 Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

Provinsi Grafik 2.3 Rasio Pajak Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) Grafik 2.3 memperlihatkan

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Grafik 2.3 memperlihatkan rata-rata pajak yang dipungut oleh pemerintah provinsi sebesar 1,59% dari PDRB non migas. Untuk seluruh pemerintah provinsi di Indonesia, rasio pajak tertinggi dicapai oleh Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 9,4%. Namun demikian, tingginya rasio pajak di Provinsi DKI Jakarta ini juga disebabkan karena pada Provinsi DKI Jakarta, selain memungut jenis pajak provinsi, juga memungut semua jenis pajak kabupaten dan kota.

Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat di Provinsi Papua Barat (0,3%). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan Pemerintah Provinsi Papua dalam meningkatkan penerimaan pajak daerah belum optimal karena jumlah pajak yang bisa dipungut dari potensi basis pajak yang ada masih rendah.

4. Per Wilayah

Berdasarkan pembagian 5 wilayah di Indonesia, secara rata-rata rasio pajak per wilayah sebesar 1,57%. Rasio pajak di wilayah Sulawesi merupakan yang paling tinggi dibandingkan 4 wilayah lainnya, yaitu sebesar 1,92% dan rasio pajak yang terendah terdapat di wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua yaitu

sebesar 1,13%. Jika perhitungan wilayah Jawa Bali memasukkan Provinsi DKI Jakarta, maka wilayah Jawa Bali menjadi wilayah dengan rasio pajak tertinggi yaitu sebesar 2,58%.

Grafik 2.4 Rasio Pajak per Wilayah*)

yaitu sebesar 2,58%. Grafik 2.4 Rasio Pajak per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

Pajak per kapita (tax per capita) memang belum banyak digunakan dalam menghitung tingkat keberhasilan pajak sebagai sumber Pendapatan Daerah. Namun, pajak per kapita dapat digunakan sebagai alternatif alat hitung efektifitas pemungutan pajak daerah. Pajak per kapita merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak yang dihasilkan suatu daerah dengan jumlah penduduknya. Pajak per kapita menunjukkan kontribusi setiap penduduk pada pajak daerah.

Menurut Gregory N. Mankiw , rasio pajak per PDB merupakan ukuran yang paling umum digunakan. Namun, semakin tinggi tingkat persentase pajak akan semakin menurunkan PDB penduduk setempat sehingga ukuran tersebut dapat

terlihat bias. Untuk tujuan tertentu, seperti statistik yang lebih baik, pajak per kapita (tax per personal) dapat digunakan. Pajak per kapita dapat dihitung dengan mengalikan rasio pajak dengan PDRB per kapita sehingga diperoleh pajak/PDRB x PDRB/personal = pajak / personal.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rata-rata rasio pajak per kapita secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota) adalah Rp435.087. Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio pajak per kapita tertinggi yaitu sebesar Rp2.252.729 yang berarti secara rata-rata setiap penduduk yang ada di Provinsi DKI Jakarta memberikan kontribusi melebihi Rp2,25 juta untuk Pendapatan Daerah melalui pajak daerah.

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio pajak per kapita sebesar Rp91.378 dan merupakan yang terendah dibandingkan 33 provinsi di Indonesia. Pada grafik 2.5 terlihat bahwa masih banyak daerah yang rasio pajak per kapitanya di bawah rata-rata nasional. Hanya 8 provinsi yang berada di atas rata- rata nasional, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Bali, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Banten, dan Provinsi Riau.

Grafik 2.5 Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) 2 6 Deskripsi

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio pajak per kapita pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dapat terlihat pada grafik 2.6. Rasio tersebut menunjukkan nilai total pajak daerah seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dibagi dengan total seluruh penduduk di provinsi tersebut. Dalam perhitungan rasio ini Provinsi DKI Jakarta tidak diikutsertakan.

Rasio pajak per kapita tertinggi terdapat di Provinsi Bali yaitu sebesar Rp630.370. Sementara itu, Provinsi Sulawesi Barat memiliki rasio terendah yaitu sebesar Rp29.398. Besaran nilai rasio tentunya tergantung pada basis pajak yang dimiliki masing-masing daerah serta jumlah penduduk di daerah tersebut.

Grafik 2.6 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *)

Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Grafik 2.7 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

Grafik 2.7 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) Pajak per kapita pada

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Pajak per kapita pada seluruh pemerintah provinsi sebagaimana yang digambarkan pada Grafik 2.7 menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki pajak per kapita terbesar, sama dengan pajak per kapita pada agregat provinsi, kabupaten dan kota yaitu sebesar Rp2.252.729 per kapita. Sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio terendah sebesar Rp61.863. Kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan yang cukup besar antara rasio yang tertinggi dan terendah. Rata-rata rasio pajak per kapita pemerintah provinsi sebesar Rp334.842. Grafik 2.7 menggambarkan masih banyaknya daerah yang berada di bawah rata-rata nasional. Terdapat 25 provinsi yang memiliki rasio pajak per kapita di bawah rata-rata nasional dan hanya 8 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional.

4.

Per Wilayah

Grafik 2.8 memperlihatkan rasio pajak per kapita per wilayah, dengan rasio tertinggi berada di wilayah Kalimantan (Rp717.689 per kapita) dan rasio terendah di wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua (Rp149.368 per kapita). Rata-rata rasio pajak per kapita per wilayah sebesar Rp373.078. Dari grafik 2.8 terlihat bahwa hanya wilayah Kalimantan yang memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Untuk wilayah Jawa Bali hanya memiliki rasio sebesar Rp333.749. Jika memasukkan Provinsi DKI Jakarta ke dalam perhitungan maka rasio pajak di wilayah Jawa Bali menjadi Rp399.364 per kapita. Tingginya rasio pajak per kapita di Kalimantan disebabkan oleh lebih rendahnya jumlah penduduk yang menjadi pembagi rasio tersebut. Sementara itu, untuk wilayah Jawa-Bali besarnya rasio pajak per kapita disebabkan banyaknya jumlah penerimaan pajak daerah yang diimbangi dengan banyaknya jumlah penduduk.

Grafik 2.8 Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*)

penduduk. Grafik 2.8 Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Ruang fiskal (fiscal space) merupakan suatu konsep untuk mengukur fleksibilitas yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas daerah. Semakin besar ruang fiskal yang dimiliki suatu daerah maka akan semakin besar pula fleksibilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengalokasikan belanjanya pada kegiatan- kegiatan yang menjadi prioritas daerah seperti pembangunan infrastruktur daerah.

Perhitungan ruang fiskal daerah yaitu total Pendapatan Daerah dikurangi dengan pendapatan hibah, pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked), dan belanja yang sifatnya mengikat yaitu Belanja Pegawai dan Belanja Bunga, kemudian dibagi dengan total pendapatannya.

Ruang fiskal daerah saat ini masih sangat terbatas karena sebagian besar anggaran digunakan untuk belanja rutin (Belanja Pegawai). Idealnya porsi belanja rutin lebih kecil dari Belanja Modal. Memperbesar ruang fiskal daerah untuk Belanja Modal sangat penting karena dapat menjadi stimulus perekonomian daerah. Pemerintah Daerah diharapkan dapat membuat kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. Selain itu, efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran di daerah juga dapat mendukung terciptanya ruang fiskal.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.9 menunjukkan ruang fiskal secara agregat provinsi, kabupaten, dan kota. Dari ke-33 provinsi, Provinsi Kalimantan Timur mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu mencapai 61,7%. Tingginya ruang fiskal di Provinsi Kalimantan Timur tentunya didukung oleh penerimaan daerah dari Dana Bagi Hasil yang cukup besar yaitu mencapai 60,6% dari total Pendapatan Daerah. Meskipun Belanja Pegawai di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 34,3% dari total pendapatan, namun masih menyisakan ruang fiskal yang besar sehingga porsi Belanja Modalnya pun mencapai 58,4% dari total pendapatannya.

Sementara itu, Provinsi Aceh memiliki ruang fiskal terendah yaitu 22,2%. Rendahnya ruang fiskal di Provinsi Aceh karena kontribusi terbesar pada pendapatan daerah berasal dari dana otonomi khusus yang penggunaannya sudah dibatasi. Selain itu porsi Belanja Pegawai pemerintah daerah se Provinsi Aceh sangat besar yaitu 42,5% dari total Pendapatan Daerah, sehingga ruang fiskal yang tersisa sangat kecil. Dengan demikian Provinsi Aceh harus memanfaatkan ruang fiskal yang ada dengan merencanakan Belanja Daerah yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya.

Grafik 2.9 Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

2.9 Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) Secara agregat, rata-rata ruang

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Secara agregat, rata-rata ruang fiskal seluruh pemerintah daerah di Indonesia sebesar 37,85%. Dari rata-rata tersebut, terdapat 15 provinsi dengan ruang fiskal yang berada diatas rata-rata nasional.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Ruang fiskal seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota pada satu provinsi digambarkan pada grafik 2.10. Secara rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota memiliki ruang fiskal sebesar 33,7% dari total

pendapatannya. Dari rata-rata tersebut, terdapat 18 daerah yang memiliki ruang fiskal di bawah rata-rata dan 14 daerah memiliki ruang fiskal di atas rata-rata nasional.

Ruang fiskal tertinggi untuk kabupaten dan kota terdapat di Provinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar 58,3%. Tingginya angka ini dapat disebabkan oleh pendapatan yang tidak dibatasi penggunaannya yang didominasi oleh sektor pertambangan dan migas serta sektor kehutanan.

Adapun ruang fiskal terendah terdapat pada kabupaten dan kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah, yaitu sebesar 19,9%. Porsi Belanja Pegawai mencapai 63,3% dari total pendapatan. Sementara itu, komposisi Pendapatan Daerah pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah masih didominasi oleh transfer dari pemerintah pusat yaitu Dana Alokasi Umum yang mencapai 61,9% dari total Pendapatan Daerah. Penerimaan yang bersumber dari pajak daerah hanya sebesar 4% dari total Pendapatan Daerah. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pemerintah daerah di Provinsi Jawa Tengah belum mengoptimalkan pemungutan pajak dari basis pajak yang dimilikinya.

Grafik 2.10 Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)

Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Grafik 2.11 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

Provinsi Grafik 2.11 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) Grafik 2.11 menggambarkan ruang

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Grafik 2.11 menggambarkan ruang fiskal pada masing-masing pemerintah provinsi. Secara rata-rata pemerintah provinsi memiliki ruang fiskal sebesar 57,9% dari total pendapatannya. Jika dilihat dari rata-rata tersebut, terdapat 15 daerah yang memiliki ruang fiskal di bawah rata-rata dan 18 daerah memiliki ruang fiskal di atas rata-rata nasional.

Pemda Provinsi Kalimantan Timur memiliki ruang fiskal yang tertinggi yaitu sebesar 86,1%. Hal ini didukung dari penerimaan dana bagi hasil dan penerimaan pajak daerah yang cukup besar. Sementara itu porsi Belanja Pegawai jumlahnya tidak terlalu besar sehingga ruang fiskal yang tersedia masih besar. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur perlu memanfaatkan ruang fiskal yang tinggi tersebut untuk kegiatan yang dapat memacu pembangunan di daerahnya sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi daerah. Lebih lanjut, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sektor-sektor tertentu akan meningkatkan potensi penerimaan pajak daerah.

Sementara itu, Provinsi Aceh mempunyai ruang fiskal yang terendah yaitu sebesar 20,4%. Hal ini disebabkan karena kontribusi terbesar pada Pendapatan Daerah Provinsi Aceh adalah pendapatan dari dana otonomi khusus yang sudah dibatasi penggunaannya.

4. Per Wilayah

Grafik 2.12 Ruang Fiskal Per Wilayah*)

4. Per Wilayah Grafik 2.12 Ruang Fiskal Per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Grafik 2.12 memperlihatkan ruang fiskal yang dimiliki per wilayah di Indonesia. Terlihat bahwa wilayah Kalimantan memiliki ruang fiskal tertinggi yaitu sebesar 51,5%. Hal ini menunjukkan wilayah Kalimantan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan daerahnya. Percepatan pembangunan di daerah tentunya diharapkan dapat memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi di daerahnya.

Sementara itu, wilayah Sulawesi memiliki ruang fiskal terendah yaitu sebesar 31,75%. Hal ini menunjukkan sebagian besar daerah di wilayah Sulawesi memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan di daerahnya. Dengan ruang fiskal yang tersedia, diharapkan

pemerintah daerah di wilayah Sulawesi dapat mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah dan mempunyai daya ungkit (leverage) yang tinggi bagi perekonomian daerahnya.

D. Rasio Ketergantungan Daerah

Rasio ketergantungan daerah menggambarkan tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap bantuan pihak eksternal, baik itu Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah lain. Rasio ini ditunjukkan oleh rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pendapatan dan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Rasio PAD terhadap total pendapatan memiliki makna yang berkebalikan dengan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD maka ketergantungan daerah semakin kecil. Sebaliknya, semakin besar angka rasio dana transfer, maka semakin besar tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal. Dengan demikian, daerah yang memiliki tingkat ketergantungan yang rendah adalah daerah yang memiliki rasio PAD yang tinggi sekaligus rasio dana transfer yang rendah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.13 memberikan potret rasio PAD dan dana transfer terhadap pendapatan seluruh pemda yang dikelompokkan per provinsi. Perhitungannya dilakukan dengan menjumlahkan PAD seluruh pemda pada satu provinsi kemudian membaginya dengan total pendapatan untuk wilayah yang sama. Hal yang sama juga berlaku untuk rasio dana transfer. Secara agregat (provinsi, kabupaten, dan kota), rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan sebesar 17% dan rata-rata rasio Dana Transfer terhadap Pendapatan sebesar 82%.

Berdasarkan hasil analisis, Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio PAD yang paling tinggi, yaitu sebesar 64,2%, sekaligus rasio dana transfer terendah yaitu sebesar 26,6%. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki rasio PAD terendah sebesar 2,8% sekaligus rasio dana transfer tertinggi yaitu sebesar 97,1%. Hal ini menunjukkan bahwa, Provinsi DKI Jakarta memiliki ketergantungan daerah

yang paling rendah dibandingkan provinsi-provinsi yang lain. Sebaliknya, Provinsi Papua Barat menunjukkan tingkat ketergantungan yang paling tinggi baik dari sisi PAD yang dihasilkan maupun dari sisi dana transfer yang diterima dari pusat.

Rendahnya tingkat ketergantungan di Provinsi DKI Jakarta tersebut disebabkan oleh tingginya sumber-sumber PAD khususnya dari pajak daerah dan retribusi daerah. Hal ini sejalan dengan analisis pada bagian rasio pajak yang menempatkan DKI Jakarta pada posisi pertama dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki tingkat ketergantungan tertinggi disebabkan oleh rendahnya PAD, khususnya pajak daerah dan retribusi daerah di wilayah tersebut, dan tingginya dana transfer yang diterima.

Grafik 2.13 Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan Kota

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Pada Grafik 2.14 terlihat bahwa rata-rata rasio PAD terhadap Pendapatan Daerah adalah 8,5% sedangkan rata-rata rasio dana transfer terhadap Pendapatan

Daerah adalah 91,2%. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota terhadap dana transfer masih sangat tinggi.

Rasio PAD terhadap pendapatan tertinggi terdapat pada seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali yaitu sebesar 31,6%, sedangkan yang terendah adalah di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 2,4%.

Sementara itu, rasio dana transfer terhadap pendapatan yang tertinggi terdapat di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 97,4% dan yang terendah adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali, yaitu 68,4%.

Grafik 2.14 Rasio Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)

Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Untuk tingkat pemerintah provinsi, rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan adalah 36,3% dan untuk rasio dana transfer terhadap pendapatan sebesar 62,6%. Terdapat 16 pemerintah provinsi yang memiliki rasio PAD terhadap

pendapatan di atas rata-rata nasional dan 17 pemerintah provinsi yang memiliki rasio dana transfer terhadap pendapatan di atas rata-rata-rata secara nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak daerah yang sangat bergantung bantuan dana dari pihak eksternal.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio PAD terhadapt pendapatan tertinggi, yaitu sebesar 64,2%, sedangkan Pemerintah Provinsi Papua Barat memiliki rasio yang terendah (3,3%). Sebaliknya, rasio dana transfer terhadap total pendapatan yang tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 96,6% dan terendah adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 26,6%.

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

26,6%. Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) 4. Per Wilayah Analisis rasio

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4.

Per Wilayah

Analisis rasio ketergantungan daerah berdasarkan wilayah dimaksudkan untuk menunjukkan seberapa besar ketergantungan daerah pada 5 kelompok wilayah yang memiliki karakteristik pendapatan yang sama.

Grafik 2.16 Rasio Ketergantungan Per Wilayah*)

Grafik 2.16 Rasio Ketergantungan Per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta Berdasarkan

Sumber: APBD 2013 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Berdasarkan pembagian 5 wilayah, secara rata-rata rasio PAD terhadap total pendapatan hanya sebesar 16% dan rata-rata rasio dana transfer terhadap total pendapatan sebesar 83,6%. Rasio PAD terhadap total pendapatan di wilayah Jawa Bali mempunyai rasio yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya yaitu sebesar 27,6%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan pemerintah daerah di wilayah Jawa Bali dalam menghasilkan sumber-sumber PAD relatif cukup tinggi. Hal ini berbeda dengan wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua yang rasio PAD terhadap total pendapatannya sangat rendah yaitu sebesar

5,9%.

Namun demikian, secara umum ke-5 wilayah tersebut masih memiliki rasio PAD terhadap total pendapatan rata-rata di bawah 50% (tepatnya 16%) yang artinya masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap Pusat.

Berdasarkan analisis terhadap rasio dana transfer terhadap pendapatan, wilayah Jawa Bali memiliki angka yang paling rendah yaitu 72%. Rasio ini menunjukkan bahwa wilayah Jawa Bali memiliki tingkat tingkat ketergantungan dengan dana transfer yang paling rendah. Sementara itu, rasio dana transfer terhadap total pendapatan tertinggi terdapat di wilayah Nusa Tenggara Maluku

Papua yaitu sebesar 93% yang sekaligus menunjukkan wilayah ini memiliki rasio ketergantungan daerah yang tinggi.

E. Deviasi Alokasi Transfer ke Daerah pada APBD

Salah satu permasalahan dalam penyusunan APBD yang sering dikemukakan oleh daerah adalah terlambatnya informasi alokasi dana Transfer ke Daerah yang ditetapkan dalam APBN setiap tahunnya. Terlambatnya informasi alokasi Transfer ke Daerah dari Kementerian Keuangan yang diterima oleh daerah mempengaruhi perencanaan APBD, terutama dari sisi pendapatan. Kepastian jumlah pendapatan akan mempengaruhi besaran belanja yang akan direncanakan oleh pemerintah daerah.

Untuk mengatasi hal tersebut, semenjak pembahasan RAPBN 2012, Kementerian Keuangan menerapkan kebijakan percepatan penyampaian informasi alokasi dana Transfer ke Daerah tersebut dengan menggunakan berbagai media. Sesuai dengan kesepakatan antara pihak eksekutif dan legislatif, informasi dana ke daerah tersebut dipublikasikan kepada masing-masing daerah melalui aplikasi Monitoring Transfer Ke Daerah pada laman Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan. Publikasi dilakukan setelah pengesahan RUU RAPBN pada sidang paripurna DPR RI.

Untuk alokasi tahun 2013, informasi diunggah pada tanggal 24 Oktober 2012, yaitu berupa informasi alokasi Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bantuan Operasional Sekolah, dan Dana Insentif Daerah. Adapun Dana Bagi Hasil belum dapat diunggah karena masih menunggu data teknis dari kementerian/lembaga teknis terkait.

Untuk melihat apabila masalah keterlambatan informasi alokasi masih tetap ada, pada bagian ini akan disajikan mengenai deviasi antara besaran Dana Perimbangan (DBH, DAU, dan DAK) yang dicantumkan dalam APBD dengan besaran alokasi Dana Perimbangan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. Deviasi negatif diperoleh jika besaran alokasi dalam APBD lebih kecil daripada alokasi dari Kementerian Keuangan. Hal ini juga berarti pemerintah

daerah bersikap pesimistis terhadap alokasi yang akan diterima tahun berikutnya. Sebaliknya, deviasi positif diperoleh ketika pemerintah daerah bersikap optimis.

Dari hasil telaah pembandingan deviasi antara penetapan Pemerintah dengan penetapan dalam APBD, secara umum dapat disimpulkan bahwa pengumuman alokasi Dana Perimbangan yang dilakukan segera setelah pengesahan UU APBN oleh DPR RI dapat dimanfaatkan oleh daerah dalam menyusun APBD. Hal ini terbukti dari banyaknya daerah yang mengalokasikan DAU dan DAK pada APBD sama besar dengan penetapan pemerintah pusat. Adapun untuk DBH yang informasi alokasinya diumumkan lebih lambat dari DAU dan DAK (sekitar Desember hingga Januari) atau setelah APBD ditetapkan oleh daerah, nampak bahwa seluruh daerah mengalokasikan berbeda dengan alokasi dalam PMK.

Hal tersebut menunjukkan bahwa peranan kecepatan informasi transfer mempunyai peran penting dalam menekan rendahnya deviasi alokasi transfer pada APBD. Satu hal yang perlu dicermati bahwa deviasi yang terlalu besar, akan mengakibatkan eksekusi APBD menjadi terkendala. Dalam hal dianggarkan jauh terlalu rendah dalam APBD maka akan terjadi potensi pelampauan pendapatan yang lebih lanjut akan berpotensi pada terbentuknya dana idle daerah yang tidak tergunakan dalam belanja publik. Di sisi lain, apabila dianggarkan oleh daerah jauh terlalu tinggi sudah pasti juga akan mengganggu ketersediaan dana untuk mendanai belanja yang telah terencanakan, sehingga proyek bisa menjadi tertunda atau bahkan tidak terselesaikan.

1. Dana Bagi Hasil (DBH)

Dalam APBN 2013, Dana Bagi Hasil yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang APBN adalah sebesar Rp101,96 triliun, yang terdiri dari DBH Pajak sebesar Rp49,95 triliun dan DBH SDA sebesasr Rp52,01 triliun. Sementara, dalam beberapa Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tentang alokasi DBH per daerah (bersifat perkiraan), jumlah yang dialokasikan adalah sebesar Rp90,23 triliun. Adapun total alokasi DBH dalam APBD 2013 adalah sebesar Rp90,97 triliun, yang sedikit lebih besar daripada jumlah alokasi dalam PMK.

Jika dilihat dari total, deviasi alokasi antara APBD dan PMK hanya 0,8%, tetapi apabila dilihat per daerah, deviasi tertinggi dalam nominal mencapai Rp1,24 triliun dan dalam persentase mencapai 167,3%. Dilihat dari sebaran, jumlah daerah dengan deviasi +10% adalah terbesar yaitu mencapai 183 daerah (34,9%). Dengan memperbesar rentang deviasi hingga +20%, diperoleh 302 daerah atau 57,6%. Jumlah daerah dengan deviasi positif (alokasi DBH dalam APBD lebih besar daripada alokasi PMK) lebih besar daripada jumlah daerah dengan deviasi negatif, dengan perbandingan 339:185. Berikut disajikan daerah- daerah dengan deviasi tertinggi baik dari nilai rupiah maupun persentase.

Tabel 2.1. Daftar Daerah dengan Deviasi Negatif Alokasi DBH Tertinggi

Daerah

Deviasi

% Deviasi

tanggal Perda

 

terhadap Alokasi

APBD

Prov. DKI Jakarta

(1,244,317,387,098)

-12.21%

25 Februari 2013

Prov. Jawa Timur

(464,681,715,106)

-34.34%

14 Desember 2012

Kab. Bulungan

(421,862,746,129)

-46.76%

6 Februari 2013

Prov. Jawa Barat

(317,464,183,300)

-23.55%

17 Desember 2012

Kab. Siak

(310,891,762,145.9)

-20.47%

28 Desember 2012

Dari tabel 2.1 di atas dapat dilihat lima daerah yang memiliki deviasi negatif tertinggi. Dari lima pemerintah daerah tersebut, 3 daerah merupakan pemerintah daerah provinsi, yaitu Provinsi DKI Jakarta pada posisi pertama dengan nilai deviasi sekitar -Rp1,24 triliun, kemudian diikuti dengan Provinsi Jawa Timur sebesar -Rp464,7 miliar, dan Provinsi Jawa Barat sebesar -Rp317,5 miliar. Adapun dua daerah lainnya adalah Kabupaten Bulungan yang berada pada posisi ke tiga dengan deviasi sebesar –Rp421,9 miliar dan Kabupaten Siak yang berada pada posisi ke lima dengan deviasi sebesar –Rp310,9 miliar.

Apabila dilihat dari besarnya persentase deviasi terhadap alokasi transfer yang ditunjukkan pada tabel berikut, Kabupaten Bombana memiliki deviasi

negatif terbesar dengan persentase 100%. Hal ini disebabkan karena daerah ini tidak menganggarkan DBH pada APBD namun memperoleh alokasi sebesar Rp35,2 miliar. Kelima daerah dengan deviasi negatif terbesar ini memiliki persentase deviasi lebih dari 50% terhadap alokasi transfer yang diperolehnya.

Tabel 2.2 Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DBH Negatif Tertinggi

Daerah

Nominal Var.

%

tanggal Perda APBD

Kab. Bombana

(35,253,882,971)

-100.0%

29 Desember 2012

Kab. Tanah Datar

(16,930,447,398)

-98.26%

26 Desember 2012

Kab. Bener Meriah

(16,842,192,925)

-67.25%

9 Januari 2013

Kota Surakarta

(29,097,129,472)

-54.06%

26 Desember 2012

Kota Banjar

(33,545,744,113)

-52.94%

7 Januari 2013

Tabel 2.3 Daftar Daerah dengan Deviasi Positif Alokasi DBH Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

tanggal Perda APBD

Prov. Kalimantan Timur

1,425,446,001,785

31.86%

27 Desember 2012

Kab. Bengkalis

366,195,818,094

14.16%

11 Maret 2013

Kab. Natuna

365,728,176,725

47.17%

18 Januari 2013

Prov. Sumatera Utara

303,207,535,439

74.44%

28 Desember 2012

Kab. Kutai Barat

221,665,149,358

27.14%

20 Desember 2012

Daerah yang melakukan penganggaran dengan optimis akan mengalami deviasi yang positif atas alokasinya. Provinsi Kalimantan Timur memiliki deviasi positif dengan nominal terbesar atas alokasi DBH yang diperoleh yaitu sebesar Rp1,4 Triliun. Di peringkat kedua adalah Kabupaten Bengkalis dengan nominal sebesar Rp366,2 Miliar, dan disusul dengan Kabupaten Natuna di peringkat

kedua dengan nominal sebesar Rp365,7 Miliar, Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp303,2 Miliar, dan peringkat kelima yaitu Kabupaten Kutai Barat dengan deviasi sebesar Rp221,7 Miliar. Meskipun Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan nominal deviasi secara nominal tertinggi, namun deviasi tersebut masih memiliki persentase yang kecil terhadap alokasinya apabila dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara yang memiliki persentase sebesar 74,44%.

Tabel 2.4 berikut menunjukkan daerah yang memiliki persentase deviasi positif terhadap anggaran DBH di atas 100% dengan nominalnya masih di bawah Rp65 Miliar. Kabupaten Buru memiliki persentase deviasi tertinggi yaitu sebesar 167,28% dengan nilai deviasi sebesar Rp36,9Miliar. Kabupaten Sorong menempati posisi ke 4 terbesar dengan persentase 146,70% tetapi memiliki nominal deviasi positif yang terbesar di antara kelima daerah tersebut.

Tabel 2.4 Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DBH Positif Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Kab. Buru

36,975,718,414

167.28%

29 Des 2012

Kab. Labuhan Batu Selatan

33,838,516,333

156.24%

12 Februari 2013

Kab. Kepulauan Sula

53,177,971,466

152.29%

28 Des 2012

Kota Sorong

64,559,916,065

146.70%

15 Maret 2013

Kab. Maros

26,594,241,567

113.82%

20 Des 2012

Dari tabel-tabel di atas, dapat diketahui bahwa dalam besaran nominal deviasi, terdapat beberapa provinsi yang termasuk dalam 5 teratas daerah dengan nominal deviasi terbesar. Namun, kabupaten/kota cenderung memiliki persentase besaran deviasi terhadap alokasi anggaran yang besar. Provinsi DKI Jakarta terlalu pesimis dalam menganggarkan DBH dengan nominal deviasi terbesar namun persentase penyimpangan yang paling kecil. Sebaliknya, Kabupaten Bombana memiliki deviasi Rp35,2 Miliar karena tidak menganggarkan DBH pada APBD-nya. Provinsi Kalimantan Timur menganggarkan DBH terlalu

optimis sebesar Rp1,4Miliar tetapi dengan persentase yang relatif kecil, yaitu 31,86%, dibandingkan dengan Kabupaten Buru yang menganggarkan DBH terlalu optimis sebesar 167,28% terhadap alokasi yang ada.

Secara umum, deviasi antara alokasi DBH pada APBD dan PMK terjadi pada seluruh daerah. Hal ini terjadi karena informasi alokasi DBH tidak dapat diperoleh oleh daerah sampai APBD ditetapkan. Namun demikian, terdapat pula daerah yang menetapkan APBD setelah PMK alokasi DBH ditetapkan juga memiliki deviasi.

2. Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Umum (DAU) pada tahun 2013 dialokasikan sebesar Rp311,14 triliun. Alokasi per daerah sudah dapat dilihat oleh daerah pada tanggal 24 Oktober 2012. Sementara, DAU dalam APBD dialokasikan sebesar Rp310,48 triliun atau relatif sama besar dengan alokasi dari pemerintah pusat, sehingga secara total deviasi antara APBD dan Perpres relatif tidak signifikan.

Jika dilihat per daerah, sebanyak 490 daerah mengalokasikan DAU sama dengan yang ditetapkan pemerintah pusat, 25 daerah mengalokasikan DAU dengan rentang deviasi +1%, dan 9 daerah dengan deviasi lebih dari +1%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengumuman informasi alokasi yang dilakukan beberapa saat setelah rapat paripurna DPR RI yang mengesahkan RUU APBN 2014 menjadi UU telah diterima oleh sebagian besar pemerintah daerah.

Walaupun begitu, masih terdapat beberapa daerah yang memiliki deviasi cukup besar walaupun informasi alokasi untuk daerah mereka masing-masing telah dipublikasikan.Tabel di bawah ini menunjukkan lima daerah yang memiliki nilai deviasi negatif tertinggi. Terdapat satu provinsi yaitu Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki deviasi nominal tertinggi, diikuti dengan empat kabupaten. Jika dilihat dari tanggal penetapan Perda APBD, semuanya ditetapkan setelah tanggal pengumuman informasi alokasi Transfer ke Daerah oleh pemerintah pusat.

Tabel 2.5 Daftar Daerah dengan Deviasi Negatif Alokasi DAU Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Prov. Kepulauan Riau

(155,576,032,000)

-23.7%

27 Des 2012

Kab. Hulu Sungai Selatan

(48.386.750.000)

-10.7%

29 Nov 2012

Kab. Bangka Barat

(36.151.691.000)

-10.1%

12 Des 2012

Kab. Balangan

(29.496.227.000)

-10.3%

8 Jan 2013

Kab. Barito Timur

(28.134.966.193)

-6.6%

21 Des 2012

Secara persentase, deviasi negatif tertinggi masih diisi oleh lima daerah yang sama dengan deviasi negatif tertinggi secara nominal, hanya saja terdapat perubahan pada posisi ketiga dan keempat. Tabel berikut ini menunjukkan lima daerah dengan persentase deviasi alokasi DAU negatif tertinggi.

Tabel 2.6 Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DAU Negatif Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Prov. Kepulauan Riau

(155,576,032,000)

-23.7%

27 Des 2012

Kab. Hulu Sungai Selatan

(48.386.750.000)

-10.7%

29 Nov 2012

Kab. Balangan

(29.496.227.000)

-10.3%

8 Jan 2013

Kab. Bangka Barat

(36.151.691.000)

-10.1%

12 Des 2012

Kab. Barito Timur

(28.134.966.193)

-6.6%

21 Des 2012

Sementara itu, daerah dengan deviasi positif tertinggi diperoleh 5 daerah yang sama untuk deviasi secara nominal dan secara persentase. Dari lima daerah tersebut, dapat dikatakan hanya dua daerah saja yang deviasinya cukup signifikan, yaitu Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Malinau. Secara nominal dan persentase, deviasi Kabupaten Manggarai adalah Rp28,8 miliar dan 6,37% dan deviasi Kabupaten Malinau adalah Rp20 miliar dan 3,2%, secara berturut-

turut. Adapun tiga daerah lainnya, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kota Cilegon, dan Kabupaten Barito Selatan mempunyai deviasi yang tidak signifikan.

Tabel 2.7 Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah dan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAU Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Kab. Manggarai

28,803,399,000

6.37%

22 Des 2012

Kab. Malinau

19,999,956,000

3.22%

18 Des 2012

Prov. DKI Jakarta

2,000,000,000

0.67%

25 Feb 2013

Kota Cilegon

1,716,000

0.00037%

26 Des 2012

Kab. Barito Selatan

50,000

0.00001%

21 Des 2012

3. Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pada APBN 2013, pemerintah pusat mengalokasikan DAK sebesar Rp31,7 triliun yang terdiri dari Rp29,7 triliun dialokasikan untuk 19 bidang dan bagi seluruh pemerintah daerah serta Rp2 triliun yang dialokasikan untuk infrastruktur jalan dan pendidikan bagi 183 daerah tertinggal. Dari 524 daerah, terdapat 6 daerah yang tidak mendapatkan alokasi DAK, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kota Tarakan, Kota Bontang, Kota Dumai, Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Tabalong. Sama seperti halnya DAU, informasi alokasi DAK untuk masing-masing daerah telah diunggah pada tanggal 24 Oktober 2013.

Sementara itu, alokasi DAK pada APBD mencapai Rp31,38 triliun yang dapat dirinci menjadi Rp1,82 triliun dialokasikan pada APBD provinsi dan Rp29,56 triliun dialokasikan pada APBD kabupaten/kota. Dibandingkan dengan total DAK yang ditetapkan pemerintah pusat, deviasi yang terjadi tidak signifikan yaitu hanya -1%. Jika dibandingkan per daerah, pola yang sama dengan DAU terjadi pada DAK, yaitu 498 daerah mengalokasikan sama besar dengan DAK yang ditetapkan

pemerintah pusat, 8 daerah mengalokasikan DAK dengan deviasi dalam rentang +1%, dan 12 daerah mengalokasikan DAK dengan deviasi diatas rentang +1%.

Tabel 2.8 Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Kab. Bekasi

(114,477,860,000)

-100.0%

25 Jan 2013

Kab. Mappi

(112,954,000,000)

-100.0%

4 Feb 2013

Kota Depok

(29,572,960,000)

-100.0%

26 Des 2012

Kota Solok

(25.424.230.000)

-100.0%

28 Des 2012

Prov. Kepulauan Riau

(12.001.546.000)

-32,7%

27 Des 2012

Dari tabel 2.8 di atas dapat dilihat bahwa masih terdapat daerah yang tidak menganggarkan DAK pada APBD sehingga mengakibatkan deviasi daerah tersebut menjadi sebesar 100%. Kota Bekasi menjadi daerah yang memiliki deviasi dengan nominal terbesar sekaligus persentase terbesar. Lima daerah yang memiliki persentase deviasi negatif tertinggi sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini disebabkan karena daerah tersebut tidak menganggarkan DAK pada APBD-nya. Jika dilihat dari penetapan APBD kelima daerah tersebut, seharusnya informasi DAK yang mereka peroleh sudah dapat ditampung dalam APBD. Hal ini juga didukung oleh data deviasi DAU pada daerah-daerah tersebut yang mencapai 0% kecuali Kabupaten Mappi yang deviasi DAU-nya 2,4% (relatif tidak signifikan).

Tabel 2.9 Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Kota Solok

(25,424,230,000)

-100%

28 Des 2012

Kab. Bekasi

(114,477,860,000)

-100%

25 Jan 2013

Kota Depok

(29,572,960,000)

-100%

26 Des 2012

Kab. Berau

(6,068,990,000)

-100%

13 Des 2012

Kab. Mappi

(112,954,000,000)

-100%

4 Feb 2013

Terdapat tiga daerah yang memiliki deviasi positif atas penganggaran DAK. Ketiga daerah tersebut adalah Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Gowa, dan Kota Sibolga. Nominal deviasi tertinggi adalah sebesar Rp2,7M dengan persentase terhadap alokasinya adalah sebesar 3,5% yang dimiliki oleh Kabupaten Mamberamo Raya. Daerah cenderung pesimis dalam menganggarkan DAK yang akan diperolehnya yang mungkin disebabkan karena proses penganggaran DAK yang masih kurang dapat diprediksi dari tahun ke tahun.

Tabel 2.10 Daftar Daerah dengan Nilai Rupiah dan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAK Tertinggi

Daerah

Deviasi

%

Tanggal Perda APBD

Kab. Mamberamo Raya

2,700,000,000

3.501%

31 Jan 2013

Kab. Gowa

2,000,000,000

2.956%

28 Des 2012

Kota Sibolga

630,000

0.002%

27 Des 2012

bAb III ANAlIsIs bElANJA DAERAH

Dua belas tahun pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia titik beratnya diletakkan pada desentralisasi di sisi pengeluaran. Hal ini dilakukan dengan pemberian kewenangan pungutan perpajakan daerah dan retribusi daerah yang relatif terbatas, namun kepada daerah diberikan transfer dana yang relatif besar dengan kewenangan yang luas untuk melakukan pengeluaran sesuai prioritas dan kebutuhan daerah.

Konsekuensi dari desentralisasi fiskal yang menitikberatkan pada sisi pengeluaran adalah fleksibilitas kebijakan pengeluaran daerah untuk disesuaikan dengan prioritas dan tujuan daerah masing-masing. Wujud dan implementasi dari kebijakan dan sekaligus operasionalisasi pelaksanaan pengeluaran adalah dengan pelaksanaan Belanja Daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Anggaran Belanja Daerah akan mempunyai peran riil dalam peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi stimulus bagi perekonomian daerah apabila terealisasi dengan baik. Dengan demikian, secara ideal seharusnya Belanja Daerah dapat menjadi komponen yang cukup berperan dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pada gilirannya, apabila kesejahteraan masyarakat telah meningkat maka diharapkan akan berdampak kepada perekonomian daerah secara luas.

Anggaran Belanja Daerah yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencerminkan potret pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Bagaimana pemerintah daerah menyusun anggaran Belanja Daerah dapat menunjukkan apakah suatu daerah pro poor, growth, and

jobs. Pada komponen Belanja Daerah juga nampak seberapa besar porsi belanja langsung yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan terkait langsung dalam pemenuhan pelayanan kepada masyarakat.

Untuk menggambarkan seberapa besar belanja pemerintah daerah yang digunakan dalam upaya untuk menyejahterakan penduduk di suatu daerah, dapat digunakan berbagai macam tool misalnya dengan pengukuran rasio Belanja Daerah terhadap jumlah penduduk (Belanja Daerah per kapita). Semakin besar nilai rasio Belanja Daerah per kapita, semakin besar belanja yang dikeluarkan untuk menyejahterakan satu orang penduduk wilayah tersebut sehingga semakin besar kemungkinan tercapainya. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan pemda untuk menyejahterakan penduduknya.

Namun demikian, rasio ini juga dirinci lagi menjadi per jenis belanja sehingga akan lebih memperlihatkan kontribusi dari setiap jenis belanja sebagai faktor yang mendorong peningkatan kualitas layanan publik. Berbagai macam pengukuran rasio belanja akan disajikan pada bab ini. Pada prinsipnya, dalam tataran kebijakan, untuk menuju pelaksanaan Belanja Daerah yang berdampak positif kepada masyarakat perlu diupayakan agar pemerintah daerah mempercepat realisasi belanjanya dan menjalankan kebijakan belanja yang baik, antara lain dengan mendorong agar proses penetapan Perda APBD dapat dilakukan secara tepat waktu, menetapkan anggaran Belanja Modal yang lebih besar dan tepat sasaran, mempertajam penggunaan anggaran Belanja Pegawai, dan sebagainya.

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Tujuan penghitungan rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah untuk mengetahui proporsi Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah. Data Belanja Pegawai di sini adalah penjumlahan dari Belanja Pegawai langsung dan Belanja Pegawai tidak langsung. Rasio ini menggambarkan bahwa semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang

dialokasikan untuk Belanja Pegawai. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil angka rasio Belanja Pegawai maka semakin kecil proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai APBD.

Mengingat bahwa saat ini jumlah guru mendominasi jumlah keseluruhan dari Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD), maka penting juga untuk dilihat proporsi jumlah guru terhadap total PNSD di suatu daerah. Di sisi lain selama ini banyak pihak yang menyoroti dan mengkritisi mengenai jumlah Belanja Pegawai yang dinilai terlalu besar dalam APBD. Pihak yang mengkritisi tersebut berargumen bahwa hal ini mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk Belanja Modal, yang dipandang lebih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat.

Kedua hal ini sebenarnya bisa dikompromikan. Apabila ditinjau dari sisi kewajiban pemda dalam peraturan perundangan bahwa Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dengan prioritas kepada pelaksanaan urusan daerah yang sifatnya wajib, salah satunya bidang pendidikan, maka sebenarnya belanja untuk gaji guru sebenarnya mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Pembebanan gaji guru bersifat wajib dalam rangka menjamin kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat dalam bidang pendidikan. Pembebanan gaji guru menjadi sangat krusial karena guru adalah ujung tombak langsung dalam pemenuhan pelayanan dasar pendidikan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah 42,78%. Rasio ini lebih rendah dari tahun anggaran sebelumnya yang mencapai rata-rata 44,7%. Penurunan rasio belanja pegawai secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, meskipun penurunannya relatif kecil namun menunjukkan upaya rasionalisasi terhadap struktur belanja daerah. Rasio Belanja Pegawai agregat provinsi, kabupaten, dan

kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 15 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 18 provinsi yang lain memiliki rasio Belanja Pegawai yang melebihi rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 25,89%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rasio sebesar 56,11%.

Selain itu, Grafik 3.1 menunjukkan bahwa terdapat 5 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai lebih dari 50 %, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja selain Belanja Pegawainya. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar Belanja Pegawai yang bisa didanai, khususnya dalam mendukung pemenuhan layanan publik.

Grafik 3.1 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) 5 4 Deskripsi dan

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 49,41%. Rasio ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,6%. Peningkatan rasio jumlah guru yang diiringi dengan penurunan rasio belanja pegawai secara keseluruhan, sekali lagi menunjukkan bahwa daerah telah menjadi lebih rasional dalam alokasi belanja pegawainya dengan semakin menurunkan porsi jumlah PNS maupun besaran belanja untuk PNS yang bekerja di bidang administrasi. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 14 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 19 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Bengkulu, yaitu sebesar 41%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 63,60%.

Grafik 3.2 Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: DJPK (Data Diolah) Analisa Belanja Daerah

Sumber: DJPK (Data Diolah)

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.3 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi memiliki rasio di atas 30%, kecuali Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki rasio sebesar 28%. Sedangkan rata-rata rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya sebesar 49,26% (turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 50,9%). Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai daerah. Dari angka rata-rata tersebut, sebanyak 13 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dan 19 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih besar. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar yaitu sebesar 64,06%, sedangkan yang memiliki rasio Belanja Pegawai terhadap Belanja Daerah terkecil adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se- Provinsi Kalimantan Timur dengan rasio sebesar 28%.

Grafik 3.3 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.4 memperlihatkan rasio jumlah guru pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total PNSD-nya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio jumlah guru terhadap total PNSD kabupaten dan kota se- provinsi di atas 45%, dengan rata-rata sebesar 51,94%. Dengan demikian, rata- rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawai daerahnya untuk membayar gaji guru daerah.

Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat kabupaten dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 11 provinsi rasio jumlah guru terhadap total PNSD-nya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 21 provinsi yang lain

memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 45,66%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 66,38%.

Grafik 3.4 Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: DJPK (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: DJPK (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 19,33% (turun dari rata-rata tahun sebelumnya yang mencapai 21%). Sebanyak 17 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio tersebut, 1 provinsi yaitu Provinsi Bali memiliki rasio Belanja Pegawai sama dengan nilai rata-rata rasio, sedangkan 15 provinsi lainnya di atas rata-rata. Grafik 3.5 memperlihatkan bahwa pemerintah provinsi yang

memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar adalah Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan rasio sebesar 30,72%, sedangkan pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai terkecil adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 8,16%. Grafik tersebut menunjukkan bahwa rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi.

Grafik 3.5 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) 4. Per Wilayah a. Rasio

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4. Per Wilayah

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.6 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya. Terlihat bahwa wilayah Sulawesi memiliki rasio Belanja Pegawai tertinggi, yaitu sebesar 48,65% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 33,37%. Rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya masih di bawah 50,0%. Dengan demikian, wilayah Sulawesi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi Belanja Daerah

yang dapat digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Grafik 3.6 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah Sumber: APBD 2013 (Diolah) b. Rasio Jumlah Guru

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.7 memperlihatkan rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 50,14%. Terlihat bahwa wilayah Jawa Bali memiliki rasio jumlah guru tertinggi, yaitu sebesar 53,69%, sedangkan wilayah Sulawesi memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 47,84%. Dengan demikian, wilayah Jawa Bali mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawainya untuk membayar Belanja Pegawai untuk guru daerah.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa wilayah Sulawesi telah secara konsisten dalam dua tahun terakhir mengalokasikan Belanja Pegawai tertinggi, namun secara konsisten pula data menunjukkan bahwa jumlah guru

di wilayah Sulawesi adalah yang terendah. Hal ini berarti wilayah Sulawesi memang mengalokasikan Belanja Pegawai yang bersifat administratif jauh lebih tinggi di banding wilayah lain di Indonesia. Hal ini patut diperhatikan mengingat bahwa Belanja Pegawai yang bersifat administratif inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena dinilai terlalu “gemuk” dan tidak efisien.

Grafik 3.7 Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*)

3.7 Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*) Sumber: DJPK (Data Diolah) B. Rasio Belanja

Sumber: DJPK (Data Diolah)

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

Rasio Belanja Modal terhadap total Belanja Daerah mencerminkan porsi Belanja Daerah yang dibelanjakan untuk membiayai Belanja Modal. Belanja Modal ditambah belanja barang dan jasa merupakan belanja pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah, di samping pengaruh dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri. Realisasi Belanja Modal akan memiliki multiplier effect dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, semakin tinggi angka rasionya, diharapkan akan semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin berkurang pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 3.8 menunjukkan rasio Belanja Modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rata-rata rasio Belanja Modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota sebesar 24,81%. Tahun 2012, rata-rata porsi belanja modal menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah yaitu sebesar 23,4%. Dengan demikian telah terjadi shifting dari penurunan porsi belanja pegawai kepada peningkatan belanja modal. Hal ini merupakan indikasi positif terhadap perbaikan kualitas struktur belanja daerah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 provinsi masih memiliki rasio di bawah rata- rata, sedangkan 14 provinsi berada di atas rata-rata.

Provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan angka sebesar 12,59% sedangkan rasio tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 44,08%. Kondisi di atas menunjukkan sebagian besar provinsi di Indonesia masih menganggarkan Belanja Modal dengan proporsi yang kecil, yaitu dibawah 25%. Hal ini berarti bahwa sebagian besar daerah masih belum memberikan perhatian yang cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.

Grafik 3.8 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber : APBD 2013 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten

Sumber : APBD 2013 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah yang ditunjukkan oleh grafik 3.9 memperlihatkan bahwa secara rata-rata nasional rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah adalah 25,36% (naik dari tahun 2012 yang hanya mencapai 24,1%). Sebanyak 15 provinsi memiliki rasio Belanja Modal lebih besar dari rata-rata, sedangkan 17 provinsi memiliki rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah yang lebih kecil dari rata-rata. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio Belanja Modal yang terbesar yaitu sebesar 45,28%, sedangkan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio terkecil yaitu 12,01%.

Grafik 3.9 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Profil rasio Belanja Modal pemerintah provinsi terhadap total Belanja Daerahnya dapat dilihat pada Grafik 3.10. Grafik tersebut memperlihatkan kisaran rasio antara 6,46% hingga 35,22% dengan rasio tertinggi di Maluku Utara dan rasio terendah di Provinsi Jawa Timur. Rata-rata rasio Belanja Modal pemerintah provinsi terhadap Belanja Daerah adalah 18,85% (naik dari tahun 2012 yang hanya mencapai 17,4%) dengan 20 pemerintah provinsi memiliki rasio Belanja Modal lebih kecil dari rata-rata, dan 13 provinsi lebih besar dari rata-rata.

Grafik 3.10 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik 3.11

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 3.11 menunjukkan rasio Belanja Modal terhadap total Belanja Daerah

di 5 wilayah yaitu Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara

Maluku Papua. Grafik tersebut memperlihatkan rata-rata rasio 5 wilayah sebesar 25,85%. Dari grafik dapat dilihat bahwa Belanja Modal di 4 wilayah yaitu Jawa Bali, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara Maluku Papua memiliki rasio lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata rasio. Sedangkan untuk wilayah Kalimantan memiliki rasio lebih besar dari rata-rata rasio. Belanja Modal yang

tertinggi terdapat di wilayah Kalimantan yaitu 36,17% dan yang terkecil terdapat

di wilayah Jawa Bali yaitu 21,13%.

Grafik 3.11 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*)

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk

Rasio Belanja Modal per kapita menunjukkan seberapa besar belanja yang dialokasikan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur daerah per penduduk. Rasio Belanja Modal per kapita memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan ekonomi karena Belanja Modal merupakan salah satu jenis belanja pemerintah yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Rasio ini bermanfaat untuk menunjukkan perhatian pemerintah dalam meningkatkan perekonomian penduduknya dari pembangunan infrastruktur yang dikeluarkan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 3.12 yang menunjukkan rasio Belanja Modal per kapita seluruh provinsi (agregat provinsi, kabupaten dan kota) memperlihatkan bahwa rata-

rata rasio Belanja Modal per kapita adalah Rp1,25 juta. Hanya 9 provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita lebih besar dari rata-rata nasional, dan 24 provinsi memiliki rasio Belanja Modal per kapita lebih rendah dari rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar Rp5,27 juta, sedangkan yang terendah adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp0,28 juta.

Grafik 3.12 Rasio Belanja Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Modal per kapita kabupaten dan kota se-provinsi menggambarkan besaran Belanja Modal yang dibelanjakan untuk pembangunan infrastruktur kabupaten dan kota di setiap provinsi. Dari data APBD terlihat bahwa provinsi-provinsi yang menganggarkan APBD untuk Belanja Modal yang besar atau di atas rata-rata adalah provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar dan atau memperoleh dana perimbangan yang besar dari pusat terutama DBH SDA dan Dana Otonomi Khusus.

Grafik 3.13 menunjukkan rasio Belanja Modal per kapita pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi. Secara nasional rata-rata rasio

Belanja Modal kabupaten dan kota se-provinsi adalah Rp0,97 juta. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita lebih rendah dari rata-rata sebanyak 24 provinsi, sedang yang di atas rata-rata sebanyak 8 provinsi. Kabupaten dan kota se-provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi yaitu sebesar Rp4,34 juta sedangkan yang terendah adalah kabupaten dan kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rasio Rp0,22 juta.

Grafik 3.13 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Rasio Belanja Modal per kapita pemerintah provinsi ditunjukkan pada Grafik 3.14. Rasio Belanja Modal per kapita pemerintah provinsi memiliki rata-rata nasional sebesar Rp0,28 juta. Sebagian besar pemerintah provinsi memiliki rasio Belanja Modal terhadap jumlah penduduk di bawah rata-rata nasional yaitu 24 provinsi dan hanya 9 provinsi yang memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi adalah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar Rp1,62 juta sedangkan yang terendah adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar Rp0,03 juta.

Grafik 3.14 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi

3.14 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) 4. Per Wilayah Rasio

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4. Per Wilayah

Rasio Belanja Modal per kapita per wilayah yang ditunjukkan pada grafik 3.15 memperlihatkan bahwa rasio rata-rata Belanja Modal per kapita adalah sebesar Rp1,17 juta. Rasio Belanja Modal per kapita tertinggi adalah di wilayah Kalimantan yaitu sebesar Rp2,29 juta. Hal ini menandakan bahwa anggaran Belanja Modal untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan lebih tinggi di bandingkan dengan daerah lain. Selanjutnya rasio Belanja Modal per kapita terendah adalah di wilayah Jawa Bali yaitu sebesar Rp0,42 juta.

Grafik 3.15 Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah *)

Grafik 3.15 Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

D. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Daerah

Belanja Bantuan Sosial merupakan salah satu pos dalam belanja tidak langsung. Secara definisi, bantuan sosial adalah pemberian bantuan yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif dalam bentuk uang/barang kepada masyarakat atau organisasi profesi yang bertujuan untuk kepentingan umum. Dalam bantuan sosial termasuk antara lain bantuan partai politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Seringkali pemberitaan di media massa melaporkan bahwa pada masa-masa tertentu seperti menjelang pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah, belanja ini seringkali menjadi isu yang panas dan banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat.

Dari sisi pemerintah daerah, bantuan sosial ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih kegiatan dengan kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), di mana keduanya menggunakan dana dari APBD. Sebagai contoh, bantuan sosial kepada masyarakat di lingkungan kumuh, pondok pesantren, bantuan untuk bidang sanitasi, penyediaan akses air bersih, dan sebagainya yang juga dilaksanakan oleh SKPD. Oleh karena itu, perlu adanya pemantauan terhadap jumlah anggaran yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial. Agar pengelolaan Belanja Bantuan Sosial dilaksanakan secara transparan dan akuntabel, saat ini Pemerintah telah menetapkan pengaturannya dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah mencerminkan porsi Belanja Daerah yang dibelanjakan untuk Belanja Bantuan Sosial. Semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial dan begitu sebaliknya semakin kecil angka rasio Belanja Bantuan Sosial maka semakin kecil pula proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata pengeluaran daerah untuk Belanja Bantuan Sosial adalah 1,05%. Dari 33 provinsi di Indonesia yang memiliki angka rasio di bawah angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota ada 24 provinsi dan selebihnya 9 provinsi angka rasionya melebihi angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah yang terkecil terdapat pada Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai sebesar 0,15%, sedangkan daerah yang memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah terbesar secara agregat adalah Provinsi Kepulauan Riau, yaitu sebesar 3,71%. Gambaran ini dapat dilihat pada Grafik 3.16 di bawah ini.

Grafik 3.16 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Bantuan Sosial pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap Belanja Daerahnya memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial adalah 0,93% dari Belanja Daerah. Sebanyak 25 provinsi memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial yang lebih kecil dari rata-rata dan 7 provinsi memiliki rasio yang lebih besar dari rata-rata. Dari Grafik 3.17 terlihat bahwa pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua Barat memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial yang tertinggi yaitu 4,43%, sedangkan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Sumatera Selatan memiliki rasio terendah dengan angka sebesar 0,19%.

Grafik 3.17 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap Belanja Daerah pemerintah provinsi memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial adalah 1,06% dari Belanja Daerah. Berdasarkan angka rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial tersebut, sebanyak 19 provinsi memiliki rasio yang lebih kecil dari angka tersebut, dan 2 provinsi memiliki rasio yang lebih besar. Sedangkan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki rasio sebesar 0% karena kedua provinsi tersebut tidak menganggarkan Belanja Bantuan Sosial dalam APBD 2013. Selanjutnya, Grafik 3.18 memperlihatkan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memiliki rasio tertinggi sebesar 3,52%, sedangkan yang terendah adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rasio sebesar 0,01%.

Grafik 3.18 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik 3.19

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 3.19 memperlihatkan rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah per wilayah di Indonesia. Dengan perhitungan rasio ini, wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua memiliki rasio tertinggi yaitu sebesar 2,23%, sedangkan wilayah yang memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial terendah adalah Sulawesi yaitu sebesar 0,34%.

Grafik 3.19 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah *)

Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

bAb IV ANAlIsIs sURPlUs/DEfIsIT DAN PEMbIAYAAN DAERAH

Surplus/defisit merupakan imbas dari perbedaan antara pendapatan dan belanja. Belanja yang lebih besar dari pendapatan akan menimbulkan defisit, sedangkan pendapatan yang lebih besar dari belanja akan menghasilkan surplus. Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara diamanatkan bahwa jika terdapat surplus/defisit diharuskan dianggarkan pembiayaan, baik sumber-sumber Penerimaan Pembiayaan yang akan digunakan menutup defisit dan Pengeluaran Pembiayaan guna menyalurkan surplus anggaran. Dalam APBD 2013 sebagian besar daerah menganggarkan defisit di mana sumber utama Penerimaan Pembiayaan berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya. Secara lebih detail dapat dilihat dalam penjelasan berikut.

A. Defisit

Era otonomi daerah yang sudah berlangsung lebih dari satu dasawarsa telah memberi ruang kepada daerah untuk memakai tiga model pilihan dalam penganggaran yaitu surplus, defisit dan berimbang antara pendapatan dan belanja. Data APBD menunjukkan bahwa adanya kecenderungan daerah untuk menganggarkan defisit dalam APBD-nya. Hal ini terlihat dari 491 kabupaten/ kota dan 33 provinsi di Indonesia pada Tahun Anggaran (TA) 2013 sebanyak 457 daerah menganggarkan defisit dalam APBD-nya, jika melihat data ini maka terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 447 daerah yang menganggarkan defisit. Sedangkan daerah yang menganggarkan surplus di

tahun 2013 sebanyak 56 daerah, sehingga turun dari tahun sebelumnya yang berjumlah 68 daerah dan sisanya sebanyak 11 daerah mempunyai anggaran pendapatan dan belanja yang bernilai sama atau berimbang.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Jika dilihat dari data APBD yang telah masuk, kecenderungan daerah menganggarkan defisit tersebut karena adanya SiLPA dalam APBD mereka, artinya sebenarnya secara umum daerah tidak sedang dalam kondisi defisit secara riil, mereka menganggarkan defisit karena untuk menyerap SiLPA tahun sebelumnya. Hal lain yang juga menarik untuk dicermati adalah bahwa pada umumnya daerah terbukti mengalami surplus pada saat realisasi.

Di sisi lain, besaran defisit APBD secara nasional akan terkait pula dengan kebijakan penetapan besaran defisit APBN, sebagaimana tertuang dalam peraturan perundangan yang menyebutkan bahwa batas maksimal defisit APBN dan APBD adalah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk tahun 2013 defisit APBD mencapai 0.59% PDB yang berarti melampaui batas maksimal yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.07/2012 tentang Batas Maksimal Defisit APBD dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah TA 2013 yaitu sebesar 0,5% PDB. Berikut disajikan rasio defisit terhadap pendapatan, di mana semakin besar rasio tersebut berarti semakin besar pula dana di luar Pendapatan Daerah (pembiayaan) yang diperlukan guna mendanai belanja.

1.

Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.1 Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2013 (Diolah) Rata-rata rasio defisit secara

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Rata-rata rasio defisit secara nasional (agregat provinsi, kabupaten, dan kota) adalah 7,5% dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisit tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi penerimaan pinjaman dan obligasi daerah 5,9%. Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan rasio defisit terbesar di mana faktor utama penyebab hal tersebut adalah untuk mengakomodasi SiLPA tahun sebelumnya yang jumlahnya cukup besar agar bisa digunakan dalam belanja publik.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Rasio Suplus/defisit dengan total Pendapatan pemerintah kabupaten dan kota dalam satu provinsi dapat dilihat dalam grafik 4.2 berikut. Rasio tersebut menunjukkan nilai total surplus/defisit seluruh pemerintah kabupaten dan kota dalam satu provinsi dibagi dengan total pendapatannya.

Grafik 4.2 Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Dalam grafik 4.2 terlihat bahwa pemerintah kabupaten dan kota se- provinsi yang mempunyai nilai rasio di atas 10,0% sesuai urutan dari yang tertinggi yaitu Provinsi Kalimantan Timur (36,3%), Provinsi Riau (21,1%), Provinsi Kepulauan Riau (12,8%), Provinsi Banten (12,5%), Provinsi Bangka Belitung (11,7%) dan Provinsi Kalimantan Selatan (10,3%). Semakin besar rasio tersebut mengindikasikan semakin besar pula rasio pembiayaan yang dibutuhkan guna menutupi kekurangan pendanaan, di mana sebagian besar Penerimaan Pembiayaan didominasi oleh SiLPA dan Penerimaan Pinjaman.

3. Pemerintah Provinsi

2013 terdapat 3 provinsi yang menganggarkan surplus

dalam APBD-nya yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Papua, sedangkan yang menganggarkan berimbang ada 2 provinsi yaitu Provinsi Lampung dan dan Provinsi Papua Barat.

Dalam data APBD

Grafik 4.3 Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2013(Diolah) Provinsi Riau merupakan pemerintah

Sumber: APBD 2013(Diolah)

Provinsi Riau merupakan pemerintah provinsi yang mempunyai rasio defisit paling besar yaitu sebesar 27,8%. Tiga besar berikutnya adalah Provinsi Bangka Belitung di urutan kedua (23,8%) dan urutan ketiga adalah Provinsi Bali (21,0%). Untuk provinsi yang menganggarkan surplus sebagian besar digunakan untuk Pengeluaran Pembiayaan khususnya dalam Pembentukan Dana Cadangan dan Penyertaan Modal Daerah seperti Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Papua dan Provinsi Sumatera Selatan.

4. Per Wilayah

Rasio defisit per wilayah dapat dilihat dalam Grafik 4.4,pada grafik tersebut menunjukkan bahwa Kalimantan merupakan wilayah yang mempunyai rasio defisit terhadap pendapatan paling besar (-17,01%). Dan yang terendah adalah wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua (-3,4%). Sedangkan rasio rata-rata sebesar -7,9%. Semakin besar nilai minus rasio berarti semakin besar belanja yang tidak dapat ditutup dari Pendapatan Daerah, sehingga daerah harus mencari penerimaan lain yang berasal dari pembiayaan.

Grafik 4.4 Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah*)

Grafik 4.4 Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah*) Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta Jika

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Jika dilihat dari sumber Penerimaan Pembiayaan terbesar adalah dari SiLPA, grafik di atas menunjukkan bahwa daerah di Sumatera dan Kalimantan merupakan daerah yang mempunyai SILPA yang besar dibanding dengan daerah lainnya.

5. Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan

Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah pembiayaan masih bernilai minus. Beberapa daerah tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1 Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan

NO

Nama Daerah

Surplus/Defisit

Pembiayaan

Surplus/Defisit +

 

(Rp)

(Rp)

Pembiayaan

1

Kab. Sarmi

79,257,562,012

-159,257,562,012

-80,000,000,000

 

Kab. Halmahera

2

Utara

-1,299,748,462

-48,570,575,122

-49,870,323,584

NO

Nama Daerah

Surplus/Defisit

Pembiayaan

Surplus/Defisit +

 

(Rp)

(Rp)

Pembiayaan

3

Kab. Jayawijaya

-80,626,753,486

32,933,946,054

-47,692,807,432