Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

PERCOBAAN G3
HUKUM BOYLE


Nama : Nurul Nur Annisa
NIM : 12/331379/PA/14637
Fakultas : MIPA
Prodi : Geofisika
Partner : Hernani Indah Lestari
Hari/Tanggal : Senin/19 November 2012
Asisten : Eni Astuti

LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
2

HUKUM BOYLE

I. PENDAHULUAN
Dewasa ini kita semua tentunya tidak bisa lepas dengan yang namanya
kendaraan pribadi, baik sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Dan tentunya suatu saat
kita pasti mengalami ban kendaraan kempes karena sudah sering digunakan. Pada saat
seperti ini alat pompa ban merupakan hal yang vital. Penemuan ini membuat kita
tidak perlu menggunakan ban langsung yang artinya kita dapat menekan pengeluaran
uang. Pemakaian ban langsung sangat tidak efisien karena hanya digunakan sekali.
Awal penemuan alat pompa ban memiliki unsur praktis yang dapat digunakan oleh
semua kalangan. Unsur praktis yang dimaksudkan adalah kita tidak perlu susah-susah
meniup ban dengan mulut, cukup dengan memompa ban baik dengan tangan ataupun
kaki.
Pada era revolusi mesin, cara ini mulai ditinggalkan karena cara kerja yang
menguras tenaga apalagi untuk memompa satu ban mobil. Maka terciptalah alat isi
angin ban mobil dan alat pengukur tekanan ban mobil tenaga mesin yang kuat untuk
memompa ban mobil. Pada era 20 muncul alat isi angin ban mobil digital. Cara kerja
yang didasari dengan perhitungan komputer atau tekanan gauge membuat alat ini
memiliki dua fungsi sebagai alat pengukur tekanan ban mobil dan alat pengukur
tekanan angin.
Prinsip kerja kompresor (seperti alat pemompa ban tersebut) dapat dijelaskan
sebagai berikut. Jika torak pompa ditarik keatas, tekanan di bawah silinder akan turun
sampai di bawah tekanan atmosfer sehingga udara akan masuk melalui celah katup
hisap yang kendur. Katup terbuat dari kulit lentur, dapat mengencang dan mengendur
dan dipasang pada torak. Setelah udara masuk pompa kemudian torak turun kebawah
dan menekan udara, sehingga volumenya menjadi kecil. Tekanan menjadi naik terus
sampai melebihi tekanan di dalam ban, sehingga udara mampat dapat masuk ban
melalui katup (pentil). Karena diisi udara mampat terusmenerus, tekanan di dalam ban
menjadi naik. Jadi jelas dari contoh tersebut, proses pemampatan terjadi karena
perubahan volume pada udara yaitu menjadi lebih kecil dari kondisi awal.
3


II. TUJUAN
1. Belajar menerapkan dan mengartikan (menginterpretasikan) grafik
2. Menentukan tekanan atmosfer (Po)


III. DASAR TEORI
Hukum Boyle adalah hukum atau ketentuan yang dirumuskan oleh seorang
kimiawan dan fisikawan asal Inggris, yaitu Robert Boyle (1627-1691). Nama Boyle
diambil dari nama penemunya. Hukum Boyle ini berhubungan dengan besaran
besaran seperti volume, suhu, dan tekanan. Sehingga hukum Boyle ini dimasukkan
dalam pembahasan kinetik gas.

Robert Boyle menyatakan tentang sifat gas bahwa apabila massa gas (jumlah
mol) dan temperatur suatu gas dijaga konstan, sementara volume gas diubah
ternyata tekanan yang dikeluarkan gas juga berubah sedemikian sehingga perkalian
antara tekanan (P) dan volume (V), selalu mendekati konstan. Dengan demikian
adalah suatu kondisi bahwa gas tersebut gas sempurna (ideal). Kemudian hukum ini
dikenal dengan Hukum Boyle dengan persamaan :

RUMUS:

Atau jika P
1
dan V
1
adalah tekanan awal dan volume awal, sedangkan P
2
dan
V
2
adalah tekanan dan volume akhir, maka :

RUMUS :

Dimana : P
1
, V1, dan T1 adalah tekanan, volume, dan temperatur pada
keadaan awal dan P
2
, V
2
, dan T
2
adalah tekanan, volume, dan temperatur
pada gas dimana sistem pada keadaan akhir. Syarat berlakunya hukum Boyle adalah
bila gas berada dalam keadaan ideal (gas sempurna), yaitu gas yang terdiri dari satu
atau lebih atom-atom dan dianggap identik satu sama lain. Setiap molekul tersebut
P
1
V
1
= selalu konstan
P
1
V
1
= P
2
V
2
= konstan
4

bergerak secara acak, bebas, dan merata serta memenuhi persamaan gerak Newton.
Yang dimaksud gas sempurna (ideal) dapat didefinisikan bahwa gas yang
perbandingannya PV/nt nya dapat didefinisikan sama dengan R pada setiap besar
tekanan. Dengan kata lain, gas sempurna pada tiap besar tekanan bertabiat sama
seperti gas sejati pada tekanan rendah. Persamaan gas sempurna :


Keterangan :
P: tekanan gas
V: volume gas
n : jumlah mol gas
T : temperatur mutlak ( Kelvin )
R : konstanta gas universal ( 0,082 liter.atm.mol
-1
K
-1
)

Untuk menunjukkan hukum Boyle dipergunakan manometer yang berfungsi
mengukur tekanan tolak. Manometer tersebut terdiri dari sebuah tabung berbentuk
seperti huruf U yang berisi cairan, dimana yang satu terbuka (terhubung dengan
atmosfer) dan ujung lainnya dihubungkan dengan sebuah sistem (tangki) yang
tekanannya akan diukur. Perumusannya adalah sebagai berikut :


Keterangan :
P : tekanan tolak
P
0
: tekanan atmosfer
: massa jenis cairan
g : percepatan gravitasi
h : perbedaan tinggi cairan di kedua kaki tabung

Sebagai catatan hendaknya dikondisikan tabung dalam keadaan rapat, tidak
terjadi celah/ kebocoran udara. Pada praktikum ini, dipergunakan manometer
sederhana guna menjelaskan Hukum Boyle. Ujung tabung yang seharusnya terhubung
dengan sistem , dihubungkan dengan keran, sedangkan ujung lainnya terhubung
dengan atmosfer.

PV = nRT
P-P
0
= gh
5

IV. METODE EKSPERIMEN
A. Alat dan Bahan
Manometer terdiri dari :
a. Raksa
b. Kran
c. Tabung karet
d. Corong
e. Statis
f. Penggaris

B. Skema Percobaan

















corong
kran
mistar
Air raksa
6

C. Tata Laksana
1. Peralatan disusun seperti pada skema percobaan dengan posisi kran terbuka
dan kedudukan tabung seimbang. Dengan posisi seperti ini kedudukan air
raksa di kolom kiri seimbang dengan kolom kanan
2. Jarak antara kran dan air raksa diukur dan dicatat sebagai l
0

3. Tabung kolom kanan yang berhadapan langsung dengan atmosfer diubah
kedudukannya (dinaikkan) sehingga kedudukan air raksa pada kolom kiri
naik 1 cm
4. Jarak antara kran dengan kedudukan air raksa diukur dan dicatat sebagai l dan
jarak antara jarak antara kedudukan air raksa kolom kiri dengan kedudukan
air raksa di kolom kanan diukur dan dicatat sebagai h
5. Jarak l divariasikan sebanyak 6 kali dengan selisih 1 cm


D. Metode Analisa Data
Persamaan (1) : nRT PV =

Persamaan (2) : C
T
PV
=

Tekanan Hg di pipa sebelah kiri
) 3 ......(
0
gh P P + =

Volume udara di bawah kran adalah
) 4 .....(
2
l r V t =

Dari persamaan (2), (3), (4) diperoleh persamaan
( )
l r
l r
c
h g P
C l r h g l r P
C l r h g P
C V P
2
2
0
2 2
0
2
0
1
) (
.
t
t

t t
t

= +
= +
= +
=

7


g
P
l g r
c
h
P l r
c
gh
t
t

0
2
0
2
1

|
|
.
|

\
|
=

=










Grafik yang akan disajikan adalah :










y m x c
0 0
0
0
0
P P
c g P
c g P
g
P
c
A
A = A
=
=

( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
2 2
2
2 2
2
2
2
2 2
2 2
2
2
2
1
i i
i
i i
i i i i i i i i
i
i i
i i i i i
x x N
x
Sy c
x x N
y x N y x y x y x
y
N
Sy
x x N
y x x y x
c
E E
E
= A
(
(

E E
E + E E E E E
E

=
E E
E E E E
=
( ) cm h
( )
1
1

cm
l
8

Keterangan :
P
0
= tekanan atmosfer (atm)
= massa jenis cairan (g/cm
3
)
g = percepatan gravitasi ( cm/s
2
)
h = selisih level raksa di kedua kolom (cm)
r = jari jari tabung U (cm)
l = jarak antara kran dan air raksa (cm)
c = perpotongan grafik dengan sumbu y
c = ralat perpotongan grafik dengan sumbu y
P
0
= ralat tekanan atmosfer (atm)
V = volume (cm
3
)

V. HASIL EKSPERIMEN
A. Data
Untuk l
0
= 27,5 cm









l (cm) 1/l (x10
-2
cm
-1
) h (cm)
26,5 3,7 4,5
25,5 3,9 7,5
24,5 4,0 10
23,5 4,2 13
22,5 4,4 16,5
21,5 4,6 18,5
9

B. Grafik























10

C. Perhitungan

Menghitung x
i
(x10
-2
cm
-1
)

1. 7 , 3
5 , 26
1
=
2. 9 , 3
5 , 25
1
=
3. 4
5 , 24
1
=
4. 2 , 4
5 , 23
1
=
5. 4 , 4
5 , 22
1
=
6. 6 , 4
5 , 21
1
=
x
i
= 3,7 + 3,9 + 4 + 4,2 + 4,4 + 4,6
= 24,8



l
(cm)
x
i

1/l(x10
-2
cm
-1
)
y
i

h (cm)
x
i
2

(x10
-4
cm
-1
)
y
i
2

(cm)
x
i
.y
i

(x10
-2
cm)
26,5 3,7 4,5 13,69 20,25 16,65
25,5 3,9 7,5 15,21 56,25 29,25
24,5 4 10 16 100 40
23,5 4,2 13 17,64 169 54,6
22,5 4,4 16,5 19,36 272,25 72,6
21,5 4,6 18,5 21,16 342,25 85,1
Jumlah x
i
= 24,8 y
i
= 70 x
i
2
= 103,06 y
i
2
= 960 x
i
y
i
= 298,2
Menghitung x
i
2
(x10
-4
cm
-1
)

1. ( ) 69 , 13 7 , 3
2
=
2. ( ) 21 , 15 9 , 3
2
=
3. ( ) 16 4
2
=
4. ( ) 64 , 17 2 , 4
2
=
5. ( ) 36 , 19 4 , 4
2
=
6. ( ) 16 , 21 6 , 4
2
=

x
i
2
= 13,69 + 15,21 + 16 +17,64 +
19,36 + 21,16
= 103,06


11

Menghitung y
i
2
(cm)
1. ( ) 25 , 20 5 , 4 =
2. ( ) 25 , 56 5 , 7
2
=
3. ( ) 100 10
2
=
4. ( ) 169 13
2
=
5. ( ) 25 , 272 5 , 16
2
=
6. ( ) 25 , 342 5 , 18
2
=
y
i
2
= 20,25 + 56,25 + 100 +169
+272,25 +342,25 = 960

Menghitung c




061504 , 0 010306 , 0 . 6
982 , 2 . 248 , 0 70 . 010306 , 0

=




Menghitung Sy



(

=
061504 , 0 010306 , 0 . 6
892324 , 8 . 6 70 . 248 , 0 . 982 , 2 . 2 4900 . 010306 , 0
960
2 6
1

Menghitung x
i
.y
i
(x10
-2
cm)

1. 3,7 x 4,5 = 16,65
2. 3,9 x 7,5 = 29,25
3. 4 x 10 = 40
4. 4,2 x 13 = 54,6
5. 4,4 x 16,5 = 72,6
6. 4,6 x 18,5 = 85,1

x
i
.y
i
= 16,65 + 29,25 + 40 +54,6 +72,6
+ 85,1 = 298,2
( )
( ) ( )
2 2
2
i i
i i i i i
x x N
y x x y x
c
E E
E E E E
=
000332 , 0
018116 , 0
=
56 , 54 =
( ) ( )
( )
(
(

E E
E + E E E E E
E

=
2 2
2
2
2
2 2
2
2
1
i i
i i i i i i i i
i
x x N
y x N y x y x y x
y
N
Sy
12


| |
| |
31325 , 0
253 , 1
4
1
746988 , 958 960
4
1
000332 , 0
318304 , 0
960
4
1
000332 , 0
353944 , 53 53504 , 103 4994 , 50
960
4
1
=
=
=
(

=
(

+
=




Menghitung c A










Menghitung
0
P






5596874 , 0
31325 , 0
2
=
=
= Sy Sy
( )
2 2
2
i i
i
x x N
x
Sy c
E E
E
= A
( )
31 , 3
57 , 5 . 5596874 , 0
31 5596874 , 0
000332 , 0
010306 , 0
5596874 , 0
061504 , 0 061836 , 0
010306 , 0
5596874 , 0
248 , 0 010306 , 0 . 6
010306 , 0
5596874 , 0
2
=
=
=
=

=
c g P =
0
atm
atm
Pa
s cm cm g
17 , 7
101325
68 , 727175
68 , 727175
56 , 54 . / 980 . / 6 , 13
2 3
=
=
=
=
13

Menghitung
0
P A
c g P A = A
0








VI. PEMBAHASAN
Dalam percobaan Hukum Boyle ini, praktikan ditugaskan untuk mencari nilai
P
0
melalui metode grafik dan regresi linear. Dari hasil diketahui bahwa ternyata nilai
P
0
yang didapat adalah 7,17 atm. Dan hasil ini jauh menyimpang dari hasil yang
seharusnya, yaitu 1 atm. Praktikan menyadari bahwa peyimpangan ini cukup besar
karena jika dibandingkan dengan referensi, maka seharusnya nilai tekanan pada saat
kran ditutup adalah 1 atm. Mungkin penyimpangan ini selain disebabkan oleh
kekurangtelitian praktikan dalam membaca hasil pengukuran dan menghitung, juga
disebabkan oleh beberapa hal dari aspek alatnya sendiri (manometer) yang dapat
menyebabkan masuknya tekanan udara luar ke dalam manometer sehingga
tekanannya bertambah dan kebocoran udara, antara lain :
1. Kebocoran pada kran statis sehingga memungkinkan beberapa mililiter air raksa
keluar
2. Ketidak jelasan mistar sehingga menyulitkan dalam pembacaan hasil pengukuran
3. Warna air raksa yang perak , ini hampir sama dengan warna manometer sehingga
agak susah dalam membaca skala
4. Kesulitan dalam menggerakkan kolom bagian kanan, mungkin hal ini disebabkan
oleh alat yang sudah tua
5. Kekurangtelitian praktikan saat membaca hasil pengukuran

Dalam percobaan ini, metode yang digunakan adalah metode regresi linear
dengan pembacaan grafik. Regresi linear yautu metode statistika yang digunakan
atm
atm
Pa
s cm cm g
4 , 0
101325
8 , 41316
8 , 41316
1 , 3 . / 980 . / 6 , 13
2 3
=
=
=
=
( ) atm P P 4 , 0 17 , 7
0 0
= A
14

untuk membentuk model hubungan antara variabel terikat (dependen ; respon ; y )
dengan satu atau lebih variabel bebas ( independen ; prediktor ; x ). Dalam percobaan
ini menggunakan regresi linear sederhana karena banyaknya variabel bebas hanya 1.
Meskipun data P
0
yang dihasilkan dalam praktikum ini tidak sesuai dengan yang
seharusnya yaitu sekitar 1 atm, namun untuk grafiknya sudah sesuai karena grafik
yang dihasilkan linear dan memotong sumbu y negatif. Perpotongan ini juga sesuai
dengan perhitungan yang dihasilkan melalui metode regresi linear, yaitu -54,56.

Pada grafik tersebut juga dapat terlihat kemiringan grafik yang linear. Hal ini
menunjukkan bahwa ketinggian (h) berbanding lurus dengan 1/ panjang tabung (1/l).
Dan hal ini sangat berkaitan dengan rumus PV= nRT, karena P berbanding lurus
dengan nilai h ( h g P +
0
) , sementara itu V berbanding lurus dengan nilai l (
l r V
2
t = ). Jika tekanan (P) dan volume (V) dikombinasikan, maka akan didapatkan
rumus baru, yaitu .


Dari rumus itu, jelas terlihat bahwa h berbanding lurus dengan 1/l yang menandakan
bahwa kemiringan grafik tersebut linear adalah benar.

VII. KESIMPULAN
1. Pada suhu yang konstan, berlaku P.V = C
2. h ( selisih tinggi tabung ) berbanding lurus dengan
l
1
( 1/ panjang tabung)
3. Tekanan udara pada saat percobaan dilakukan adalah:



VIII. REFERENSI
1. Staff Laboratorium Fisika Dasar.2010. Buku Panduan Praktikum Fisika Dasar
Semester 1. Laboratorium Fisika Dasar FMIPA UGM : Yogyakarta.
2. http://onderdilmobil.net/peralatan-bengkel2/alat-pengisi-angin-pada-ban/
3. http://muin-blogs.blogspot.com/p/kompresor.html
4. http://id.scribd.com/doc/21281080/hukum-boyle
l r
c
gh P
2
0
t
= +
( ) atm P P 4 , 0 17 , 7
0 0
= A
15

IX. PENGESAHAN
Demikian laporan praktikum Fisika Dasar ini saya susun guna memenuhi
tugas praktikum Fisika Dasar.



Yogyakarta, 24 Oktober 2012
Asisten Praktikum Praktikan


Eni Astuti Nurul Nur Annisa