Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Survey Rekayasa ini dengan baik. Diharapkan dengan disusunnya tugas ini dapat memberikan informasi kepada pembaca. Tugas ini disusun sebagai penunjang untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan kepada para pembaca, dari materi yang di sampaikan dalam makalah ini yaitu mengenai pengukuran menggunakan metode Pengikatan Kemuka, Pengukuran Tinggi Bangunan, dan pengukuran menggunakan metode Lengkung Horisontal. Penulis mohon maaf jika dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan agar pembaca dapat memberikan saran serta kritiknya untuk perbaikan yang semestinya

Surabaya, 31 Mei 2013

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pengukuran terestris merupakan salah satu metode untuk mendapatkan informasi lokasi, luas, koordinat, dan tinggi suatu daerah atau bangunan. Penngukuran tinggi bangunan bisa dilakukan dengan menggunakan alat theodolit maupun total station. Pengukuran tinggi bangunan bisa menggunakan metode perpotongan kemuka. Dimana data yang dibutuhkan diantaranya adalah jarak antara dua titik pengukuran dengan bangunan, sudut antara dua titik pengukuran dan bangunan. Selaim itu pengukuran terestris lainnya adalah survei rekayasa dalam pembuatan jalan. Pengukuran jalan merupakan salah satu pekerjaan yang penting, dimana pada belokan jalan harus ada beberapa hal yang harus diperhitungkan sehingga bisa meminimalisir jatuhnya pengendara pada saat melewati tikungan jalan tersebut. Salah satu metode yang digunakan adalah lengkung horisontal, yaitu metode untuk menyambung jalan secara horisontal antara dua jalan, atau pada daerah lengkung peralihan. Salah satu hal yang dilakukan paling awal adalah stake out. Pengukuran atau Pematokan stake-out adalah memindahkan/mentransfer titik-titik yang ada dipeta perencanaan kelapangan (permukaan bumi). Metode yang digunakan untuk staking out adalah menggunakan metode selisih absis sama panjang. Metode ini digunakan untuk mempermudah staking out. 1.2 Tujuan 1. Melakukan suatu pengukuran menggunakan metode pengikatan kemuka. 2. Melakukan pengukuran suatu tinggi bangunan dengan metode pengikatan kemuka. 3. Melakukan pengukuran lengkung horisontal. 1.3 Manfaat 1. Mahasiswa dapat melakukan dan menerapkan ilmu suatu pengukuran menggunakan metode pengikatan kemuka. 2. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran suatu tinggi bangunan dengan metode pengikatan kemuka. 3. Mahasiswa dapat melakukan lengkung horisontal

BAB II MANAJEMEN PEKERJAAN

2.1

Waktu Pelaksanaan dan Volume Pekerjaan Waktu pelaksanaan praktikum dilaksanaan selama dua kali praktikum. Yang pertama dilakukan untuk melakukan pengukuran tinggi bangunan, yaitu dilaksanakan pada: Hari : Rabu Tanggal: 24 April 2013 Jam : 13.30-16.00 WIB Lokasi :..................................................................................................................... Dan praktikum yang kedua dilaksanakan pada: Hari : Rabu Tanggal: 15 Mei 2013 Jam : 11.00-15.00 WIB Lokasi :Taman Depan Teknik Geomatika ITS 2.2 Lingkup Pekerjaan Praktikum yang dilakukan diantaranya adalah: Praktikum 1: 1. Menentukan titik pengukuran, dimana ditentukan sebanyak dua buah titik untuk menghitung tinggi bangunan menggunakan metode pengikatan kemuka. Praktikum 2: 1. Membuat lengkung horizontal dengan metode pembagian absis

BAB III DASAR TEORI 3.1 Penentuan Posisi dengan Metode Pemotongan Kemuka Pengikatan ke muka adalah suatu metode pengukuran data dari dua buah titik di lapangan tempat berdiri alat untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur, benang, unting-unting) yang akan diketahui koordinatnya dari titik tersebut. Garis antara kedua titik yang diketahui koordinatnya dinamakan garis absis. Sudut dalam yangdibentuk absis terhadap target di titik Bdinamakan sudut beta. Sudut beta dan alfa diperoleh dari lapangan. Metode ini biasanya digunakan untuk merapatkan jaringan kerangka pemetaan.1

Gambar 2.1 : Perpotongan Kemuka Pada metode ini, pengukuran yangdilakukan hanya pengukuran sudut. Bentukyang digunakan metode ini adalah bentuksegitiga. Akibat dari sudut yang diukur adalah sudut yang dihadapkan titik yang dicari, maka salah satu sisi segitiga tersebut harus diketahui untuk menentukan bentuk dan besar segitiganya. Pada pengolahan data, kita mencari terlebih dahulu jarak dengan rumus akar danpenjumlahan selisih absis dan selisihordinat. Azimuth titik A terhadap B kita cari dengan rumus arcus tangen pembagian selisih absisdan ordinat

dari azimuth titik A terhadap titik Bditambahkan 180 dan ditambahkan terhadap sudut beta. Jarak A terhadap target dan B terhadap target diperoleh dari rumus perbandingan sinus. Jarak terhadap target sama dengan perbandingan jarak absis dibagi sudut 1800 dikurang dan dikalikan dengan sinus . Jarak B terhadap target sama dengan

Purwaamijaya,Muda,Iskandar.2008.Teknik Survei dan Pemetaan JILID I untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

perbandingan jarak absis dibagi dengan sudut 1800 dikurangi dan dikalikan dengan sudut . Mencari koordinat P dari titik A :

Mencari koordinat C dari titik B:

Koordinat target dapat diperoleh dari titik Adan B. Absis target sama dengan jarak Aterhadap target dikalikan dengan sinusazimuth A terhadap target kemudianditambahkan dengan absis titik A. Ordinattarget sama dengan jarak A terhadap targetdikalikan dengan cosinus azimuth Aterhadap target kemudian ditambahkandengan ordinat titik A. Absis target samadengan jarak B terhadap target dikalikandengan sinus azimuth B terhadap targetkemudian ditambahkan dengan absis titik Bterhadap target kemudian ditambahkandengan ordinat titik B. Nilai koordinat targetmerupakan nilai koordinat yang diperolehdari titik A dan B. Prosedur Pengikatan Ke Muka Titik P diikat pada titik A (Xa, Ya) dan B(Xb,Yb), diukur sudut-sudut alfa dan beta yangterletak pada titik A dan titik B. Dicari absisX dan ordinat Y titik P. Carilah selalu lebihdahulu sudut jurusan dan jarak yangdiperlukan. Koordinat-koordinat titik P akandicari dengan menggunakan koordinat-koordniat titik-titik A dan B sehingga akandidapat dua pasang X dan Y yang harussama besarnya, kecuali perbedaan kecilantara dua hasil hitungan. Diperlukan lebihdahulu sudut jurusan dan jarak yang tentusebagai dasar hitungan. Hitungan dengan Logaritma a. Mencari Sudut Jurusan Diketahui bahwa :

b. Xp dan Yp dicari dari titik A diperlukan ap dan dap

Setelah ap dan dap diketahui, maka :

c. Xp dan Yp dicari dari titik B diperlukan bp dan dbp

Diketahui bahwa ba = ab + 1800 karena sudut jurusan dan arah yang berlawnan berselisih 1800 selanjutnya dapat dilihat dari gambar bahwa bp = ( ba + ) - 3600 = bp = ( ab + ) - 1800. Dengan rumus sinus di dalam segitiga ABP didapat :

d. Hitungan dilakukan berturut turut dengan rumus rumus :

Hitungan dilakukan dengan cara logaritmisdan untuk hitungan digunakan suatu formulir supaya hitungan berjalan dengan rapi danteratur dan bila ada kesalahan dapatdengan mudah diketemukan. Formulir dibagi dalam dua bagian, bagianatas diisi dengan angka-angka sebenarnyadan bagian bawah diisi dengan harga-hargalogaritma angka-angka itu.

Gambar 2,2: Daftar Logaritma Empat lajur pertama kedua bagiandigunakan untuk menghitung angka-angkayang diperlukan untuk menghitungkoordinat-koordinat, sedangan dua lajur terakhir digunakan untuk menghitung sudut-sudut yang diperlukan. Lajur-lajur yang bernomor ganjil menyatakanbesaran-besaran dengan huruf, sedangkanlajur lainnya yang bernomor genap memuatbesarnya besaran-besaran itu denganangka. Dari kumpulan rumus terbukti bahwa lebihdahulu harus dicari ap dan dap denganmenggunakan selisih absis dan selisihordinat titik-titik A dan B; xb xa dan yb ya. maka pada lajur 1 dan lajur 3 bagian atasditulis dengan xb dan yb, sekarang tidakditulis dengan segera di bawahnya xa dan ya untuk dapat mengurangi xb dengan xa ataukarena nanti diperlukan untuk mencarikoordinatkoordinat titik P yang dicari darikoordinat-koordinat titik B. Karena langsung di bawah xb dan yb ditulis dbp sin bp dan dbp cos bp dan di bawahnya lagi ruang untuk xp dan yp. Contoh Perhitungan : Bla diketahui koordinat () dan titik B( - ) esar sudut = dan esar sudut = 2 60. Hitunglah koordinat titik P Jawab : Langkah perhitungan : 1. Hitung Jarak Antara Titik AB (dab) dan Azimuth AB (ab) dari Koordinat titik A dan B :

Supadiningsih,Nurjati,Chatarina.2004.Moul Ajar ILMU UKUR TANAH I.PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESIFTSP-ITS

2. Hitung Jarak A ke P (dap) dan Jarak B ke P (dbp) dengan Rumus Sinus :

3. Hitunglah Azimuth A ke P (ap) dan Azimuth B ke P (bp)

4. Hitunglah Absis Titik P dari A dan B

5. Hitunglah Ordinat Titik P dari Titik A dan B

3.2 Penentuan Lengkung Horizontal / Alinemen Horizontal Alinemen horizontal adalah poyeksi sumbu jalan pada bidang horizontal. Alinyemen horizontal dikenal juga dengan nama situasi jalan atau trase jalan. linyemen horizontal terdiri dari garis-garis lurus yang dihubungkan dengan garis-garis lengkung. Garis lengkung tersebut dapat terdiri dari busur lingkaran ditambah busur peralihan, busur peralihan saja atau busur lingkaran saja. A. Gaya Sentrifugal Apabila suatu kendaaan bergerak dengan kecepatan tetap V pada bidang datar atau miring dengan lintasan berbentuk suatu lengkung seperti lingkaran, maka pada kendaraan tersebut bekerja gaya kecepatan V dan gaya sentrifugal F. gaya sentrifugal mendorong kendaraan secara radial keluar dari lajur jalannya, berarah tegak lurus terhadap gaya kecepatan V. gaya ini menimbulkan rasa tidak nyaman pada si pengemudi. Gaya sentrifugal (F) yang terjadi F = m a Dimana : m = massa = G/g G = berat kendaraan g = gaya gravitasi bumi a = percepatan sentrifugal = V2/R V = kecepatan kendaraan R = jari-jari lengkung lintasan Dengan demikian besarnya gaya sentrifugal dapat ditulis sebagai berikut :

Untuk dapat mempertahankan kendaraan tersebut tetap pada sumbu lajur jalannya, maka perlu adanya gaya yang dapat mengimbangi gaya tersebut sehingga terjadi suatu keseimbangan.

Gambar 2.3 : Gaya Sentrifugal Pada lengkung Horizontal Gaya yang mengimbangi gaya sentrifugal tersebut dapat berasal dari : - Gaya gesekan melintang antara ban kendaraan dengan permukaan jalan. - Komponen berat kendaraan akibat kemiringan melintang permukaan jalan.

B. Jari Jari Lengkung Horizontal Untuk menghitung jari-jari minimum dengan berbagai kecepatan rencana, ditinjau dari 2 kondisi, yaitu : 1.) Gaya sentrifugal diimbangi sepenuhnya oleh gaya berat

Gambar 2.4 : Gaya Sentrifugal Diimbangi Gaya Berat

Dengan satuan praktis :

Dengan peninggian maksimum , h max = 110 mm, maka:

2.) Gaya sentrifugal diimbangi oleh gaya berat dan gaya dukung benda lain

Percepatan sentrifugal ini maksimum = 0,0476 g, karena pada harga ini penumpang masih merasa nyaman. Jadi a maks = 0,0476 g. Dengan peninggian maksimum, h maks = 110 mm, maka persamaan menjadi : 3.) Jari-jari minimum pada lengkung yang tidak memerlukan busur peralihan. Kondisi di mana lengkung peralihan (Lh) tidak diperlukan. Jika tidak ada peninggian yang harus dicapai, (h=0) ; maka berdasarkan rumus peninggian minimum :

Keterangan :

C. Lengkung Peralihan Lengkung peralihan adalah suatu lengkung dengan jari-jari berubah beraturan. Lengkung peralihan dipakai sebagai peralihan antara bagian yang lurus dengan daerah lengkungan dan atau sebaliknya, dan sebagai peralihan antara dua jari-jari lingkaran yang berbeda. Lengkung peralihan diperlukan agar gaya sentrifugal yang terjadi dapat beralih secara bertahap. Dengan menggunakan satuan praktis :

Keterangan :

Untuk berbagai kecepatan rencana, besar R min yang diijinkan seperti dalam tabel berikut :

Gambar 2.5 : Tabel Persyaratan Perencanaan Lengkungan 1. Tanpa Lengkung Peralihan

Gambar 2.6 : Lengkung Horizontal Tanpa Lengkung peralihan Rumus :

Dimana :

2. Dengan Lengkung Peralihan

Gambar 2.7 : Lengkung Horizontal Dengan Lengkung Peralihan Rumus :

Dimana :

D. Pedoman Umum Perencanaan Alinyemen Horizontal Pada perencanaan alinyemen horizontal jalan, tak cukup hanya bagian alinyemen saja yang memenuhi syarat, tetapi keseluruhan bagian haruslah memberikan kesan aman

dan nyaman. Lengkung yang terlampau tajam, kombinasi lengkung yang tak baik akan mengurangi aktifitas jalan, dan kenyamanan serta keamanan pemakai jalan. Guna mencapai tujuan di atas, antara lain perlu diperhatikan : a. Alinyemen jalan sedapat mungkin dibuat lurus, mengikuti keadaan topografi. Hal ini akan memberikan keindahan bentuk, komposisi yang baik antara jalan dan alam dan juga biaya pembangunan yang lebih murah. b. Pada alinyemen jalan yang relatif lurus dan panjang jangan tiba tiba terdapat lengkung yang tajam yang akan mengejutkan pengemudi. Jika terpaksa diadakan, sebaiknya didahului oleh lengkung yang lebih tumpul, sehingga pengemudi mempunyai kesempatan memperlambat kecepatan kendaraannya. c. Sedapat mungkin menghindari penggunaan radius minimum untuk kecepatan rencana tertentu, sehingga jalan tersebut lebih mudah disesuaikan dengan perkembangan lingkungan dan fungsi jalan. d. Sedapat mungkin menghindari tikungan ganda, yaitu gabungan tikungan searah dengan jari jari yang berlainan. Tikungan ganda ini memberikan rasa ketidak nyamanan kepada si pengemudi.

Gambar 2.8 : Tikungan Ganda Jika terpaksa diadakan, sebaiknya masing masing tikungan mempunyai lengkung peralihan (lengkung berbentuk s c s), sehingga terdapat tempat penyesuaian keadaan. Jika terpaksa dibuat gabungan lengkung horizontal berbentuk busur lingkaran, maka radius lengkung yang berurutan diambil tidak melampaui 1:1,5. Tikungan ganda umumnya terpaksa dibuat untuk penyesuaian dengan keadaan medan sekeliling, sehingga pekerjaan tanah dapat seefisien mungkin. e. Hindarkan sedapat mungkin lengkung yang berbalik dengan mendadak. Pada keadaan ini pengemudi kendaraan sangat sukar mempertahankan diri pada lajur jalannya dan juga kesukaran dalam pelaksanaan kemiringan melintang jalan.

Gambar 2.9 : Tikungan Berbalik

Jika terpaksa dibuatkan tikungan berbalik, maka sebaiknya mempergunakan lengkung dengan lengkung peralihan (lengkung berbentuk s c s), atau di antara kedua lengkung terdapat bagian lurus yang pendek. Pada lengkung berbentuk busur lingkaran bagian lurus ini dapat sebagai tempat untuk perubahan pencapaian kemiringan melintang jalan. f. Pada sudut sudut tikungan yang kecil, panjang lengkung yang diperoleh dari perhitungan sering kali tidak cukup panjang. Sehingga memberi kesan patahnya jalan tersebut. Untuk sudut lingkaran 5, panjang lengkung sebaiknya dibuat lebih besar dari 150 m dan setiap penurunan sudut lengkung 1, panjang lengkung ditambah 25 m. g. Sebaiknya hindarkan lengkung yang tajam pada timbunan yang tinggi. 3.3 Penentuan Tinggi Bangunan

BAB IV METODOLOGI PEKERJAAN 4.1 Alat dan Bahan 1) Theodolite 2) Statif 3) Target (Jalon) 4) Rol Meter 5) Payung 6) Kertas dan Alat Hitung 7) Data Board dan Alat Tulis 8) Patok Paku Payung 9) Sket Wilayah 4.2 Spesifikasi Alat(Hardware dan Software) SPESIFIKASI TEODOLIT NIKON NT-3D

Gambar bagian-bagian Theodolite dan fungsi-fungsinya

Keterangan Gambar : 1. Pembidik/ Visir berfungsi membantu menfokuskan sasaran (koordinat yang diinginkan sesuai dengan rambu). 2. Piringan vertikal berfungsi memungkinkan teropong bergerak melingkar vertikal di pusat sumbunya. 3. Lensa teropong depan/obyektif berfungsi menangkap obyek. 4. Penyangga sumbu vertikal 5. Pemutar horizontal 6. Kiap berfungsi penghubung teodolit bagian atas dengan kaki alat. 7. Anting optis berupa teropong 8. Sekrup a,b,c berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menyetel gelembung nivo agar berada di tengah-tengah. 9.Piringan bawah 10. Penggerak halus(kunci gerak) horizontal berfungsi mengunci gerakan horizontal teropong 11. Nivo tabung berfungsi untuk mendatarkan alat atau menegakkan sumbutegak 12. Penggerak halus(kunci gerak) vertikal b e r f u n g s i m e n g u n c i g e r a k a n vertikal teropong. 13. Plat dasar berkaki tiga yang dapat dibuka. 14. Piringan atas m e r u p a k a n p i r i n g a n h o r i z o n t a l y a n g m e m u n g k i n k a n teropong bergerak/ berputar secara horizontal.

15. Cermin cahaya berfungsi untuk mendapatkan penerangan cahaya 4.3 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Metode yang digunakan pada pekerjaan menghitung tinggi bangunan dan lengkung horizontal adalah metode pengikatan kemuka. Secara umum metode ini dilakukan dengan mengambil data jarak dan sudut serta azimuth . 4.4 Jadwal Pekerjaan Praktikum pertama dilakukan pada: Hari : Rabu Tanggal : 24 April 2013 Jam : 13.30-16.00 WIB Lokasi : Dengan jadwal pekerjaan sebagai berikut: 13.30: Staking out 13.40: Pengukuran dengan pembacaan besar sudut pada theodolit 16.00: selesai Praktikum kedua dilakukan pada: Hari : Rabu Tanggal : 15 Mei 2013 WIB Jam : 11.00-15.00 Lokasi :Taman Depan Teknik Geomatika ITS Dengan jadwal pekerjaan sebagai berikut: 11.00: Penentuan sket pekerjaan yang akan dikerjakan dilapangan 11.20: Berdiri alat(staking out) 11.30: pengukuran titik absis (jarak dan sudut) dan pemasangan patok sepanjang titik absis yang diukur dengan roll meter dan theodolite 15.00: selesai

4.5 Pelaksana Pekerjaan Nana Erviana Leryan Dona Doni D.V Firdiansyah Eka Rahmawan Andi Rachman Lailatul Qhomariyah Shofiyatul Qoyimah Wijaya Justian (3511100006) (3511100008) (3511100011) (3511100012) (3511100013) (3511100014) (3511100016)

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pengambilan Data Pekerjaan HASIL PENGUKURAN TINGGI BANGUNAN MENGGUNAKAN PENGIKATAN KEMUKA Dari praktikum didapatkan data-data sebagai berikut: p1p2 = 6o23o20o p1p3 = 193o25o50o p1p4 =29o39o00o dP1P2 dP1P3 dP1P4 =24,881 m =14,033 m =24,015 m

5.2 Pengolahan Data Pekerjaan PENGOLAHAN DATA TINGGI BANGUNAN MENGGUNAKAN PENGIKATAN KEMUKA Dari pengukuran jarak dan sudut antar titik yang diperoleh, maka dapat dihitung atau dicari koordinat P2,P3,P4 dari koordinat awal P1 dimana koordinat P1 adalah = 0 dan =0 (0,0). Mencari koordinat P2 + dP1P2 sin p1p2 = 0 + 24,881 sin 6o23o20o = 2,769 m P2 = + dP1P2 cos p1p2

= 0 + 24,881 cos 6o23o20o = 24,726 m Mencari koordinat P3 + dP1P3 sin p1p3 = 0 + 14,033 sin 193o25o50o = -3,259 m P3 = + dP1P3 cos p1p3

= 0 + 14,033 cos 193o25o50o = -13,649 m

Mencari koordinat P4 = + dP1P4 sin p1p4

= 0 + 24,015 sin 29o39o00o = 11.880 m = + dP1P4 cos p1p4

= 0 + 24,015 cos 29o39o00o = 20,971 m Setelah didapatkan koordinat P1, P2,P3,dan P4 maka bisa dicari koordinat dari suatu gedung yang nantinya tinggi gedung tersebut juga akan dihitung. Koordinat gedung, disimbolkan T. Koordinat gedung akan dicari dari masing-masing titik pengukuran, yaitu P1, P2,P3,dan P4. Koordinat gedung akan dihitung menggunakan metode pengikatan kemuka, dimana akan dibagi menjadi 3 segitiga yaitu segitiga P1P2T, segitiga P1P3T dan segitiga P2P4T. Setelah melakukan perhitungan koordinat T dari titik-titik patokan menggunakan metode pengikatan kemuka, maka langkah selanjutnya adalah mengukur ketinggian gedung dari masingmasing pengukuran. 1. Pengikatan kemuka dengan segitiga P1P2T Mencari koordinat T dari titik P1 Diketahui : p1T = 104o54o00o dP1T = 13.105 m Z = 66o33o10o TA = 1.488 m

Dimana Z = Sudut zenith dan TA= tinggi alat pada saat pengukuran = + dP1T sin p1T

= 0 + 13.105 sin 104o54o00o = 12.664 m = + dP1T cos p1T

= 0 + 13.105 cos 104o54o00o = -3.370 m tan V = VD = , dimana HD adalah jarak datar alat dengan gedung dan VD adalah tinggi gedung yang diukur dari tinggi alat VD =

= 5.684 m ZT = ZP + TA + VD = 7.172 m Dimana ZT adalah tinggi gedung dari msl, dan ZP adalah tinggi lokasi pengamatan dari msl. Mencari koordinat T dari titik P2 Diketahui : dP2T = 29.80 m TA = 1.481 m V = 79O10O58O O O O 1 = 25 47 30 p2T = dP1P2 + 180O = 160O35O50O = + dP2T sin p2T

= 12.669 m = + dP2T cos p2T

= -3.381 m VD = = 5.694 m ZT = ZP + TA + VD = 7.175 m 2. Pengikatan kemuka dengan segitiga P1P3T Mencari koordinat T dari titik P1 Diketahui : p1T = 104o54o00o dP1T = 13.109 m V = 66O26O15O TA = 1.453 m = + dP1T sin p1T

= 12.668 m = + dP1T cos p1T

= -3.371 m VD = = 5.717 m

ZT

= ZP + TA + VD = 7.170 m Mencari koordinat T dari titik P3

Diketahui : = 88o31o50o o o o 3 = 43 43 30 o o o = 73 14 20 1.459 m P3T = p1T + 2 - 180o + = 57o9o20o


2=

+ dP3T sin P3T

= 12.670 m = + dP3T cos p3T

= -3.360 m VD = = 5.710 m ZT = ZP + TA + VD = 7.169 m 3. Pengikatan kemuka dengan segitiga P2P4T Mencari koordinat T dari titik P2 Diketahui : p2T = 160o35o50o dP2T = 29.764 m V = 78o59o30o TA = 1.390 m = + dP2T sin p2T

= 12.657 m = + dP2T cos p2T

= -3.348 m VD = = 5.790 m ZT = ZP + TA + VD = 7.180 m

Mencari koordinat T dari titik P4 Diketahui : = = 47o39o35o = 114o47o25o 76o34o50o = 24.273 m 1.386 m = + + 180o = 178o8o50o + dP4T sin p4T

= 12.665 m = + dP4T cos p4T

= -3.389 m VD = = 5.791 m ZT = ZP + TA + VD = 7.177 m

5.3 Hasil Pengolahan Data Pekerjaan HASIL PENGOLAHAN DATA TINGGI BANGUNAN MENGGUNAKAN PENGIKATAN KEMUKA ZT = ZP + TA + VD = 7.177 m YANG DATA PRAKTIKUM LENGKUNG HORIZONTAL MANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAA//////////////////////????????????????????????????????????????????????????? ???????????????????????????????

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran