Anda di halaman 1dari 55

KONTRIBUSI PENERAPAN KONTRIBUSI PENERAPAN KONTRIBUSI PENERAPAN KONTRIBUSI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT MODEL PEMBELAJARAN CARD

CARD SORT MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT
BERBASIS BERBASIS BERBASIS BERBASIS PENDEKATAN PENDEKATAN PENDEKATAN PENDEKATAN CTL CTL CTL CTL TERHADAP TERHADAP TERHADAP TERHADAP PENINGKATAN PENINGKATAN PENINGKATAN PENINGKATAN HASIL HASIL HASIL HASIL
BELAJAR SISWA BELAJAR SISWA BELAJAR SISWA BELAJAR SISWA DALAM DALAM DALAM DALAM MATA PELAJARAN PKN MATA PELAJARAN PKN MATA PELAJARAN PKN MATA PELAJARAN PKN
PADA SISWA PADA SISWA PADA SISWA PADA SISWA KELAS KELAS KELAS KELAS VII VII VII VIIC CC C SMPN 1 CADASARI SMPN 1 CADASARI SMPN 1 CADASARI SMPN 1 CADASARI

(Penelitian Tindakan Kelas dalam Bahan Ajar Hak Asasi Manusia di kelas VII C
SMP N 1 Cadasari, Pandeglang)













DISUSUN OLEH:


AINA MULYANA, S.PD
Guru PKn SMPN 1 Cadasari, Kab. Pandeglang
Provinsi Banten








DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PANDEGLANG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PANDEGLANG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PANDEGLANG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PANDEGLANG
SMP NEGERI 1 CADASARI SMP NEGERI 1 CADASARI SMP NEGERI 1 CADASARI SMP NEGERI 1 CADASARI
PANDEGLANG PANDEGLANG PANDEGLANG PANDEGLANG
200 200 200 2009 99 9


ii

LEMBARAN PENGESAHAN

1. Judul Penelitian

KONTRIBUSI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT
BERBASIS PENDEKATAN CTL TERHADAP PENINGKATAN HASIL
BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PKN PADA SISWA
KELAS VIIC SMPN 1 CADASARI

2. Identitas Peneliti
Nama : AINA MULYANA, S.Pd
NIP : 19710222 2000031003
Pangkat/Golongan : Pembina / IVa
Jabatan : Guru SMPN 1 Cadasari

3. Lama Penelitian : 3 Bulan ( terhitung dari bulan April 2009 sampai dengan
Agustus 2009)

4. Sumber Biaya : Pribadi




Mengetahui Peneliti,
Kepala Sekolah,







SAPAAT DANUMIHARJA AINA MULYANA, S.Pd
NIP. 19580812 198003 1 018 NIP. 19710222 2000031003












iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil kegiatan
implementasi inovasi pembelajaran yang diberi judul KONTRIBUSI PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT BERBASIS PENDEKATAN CTL
TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA
PELAJARAN PKN PADA SISWA KELAS VII SMPN 1 CADASARI (Penelitian
Tindakan Kelas dalam Bahan Ajar Hak Asasi Manusia di kelas VII C SMP N 1
Cadasari, Pandeglang)
Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk memberikan informasi beberapa
temuan yang telah diperoleh melalui kegiatan inovasi pembelajaran sehingga dapat
dijadikan bahan kajian rekan-rekan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran PKn.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak
yang telah turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan implementasi inovasi pembelajaran
dan dalam penyusunan laporan ini. Semoga kebaikannya dapat diterima sebagai amal
kebaikan di sisi Allah SWT.
Penulis menyadari bahan laporan ini masih memiliki bebagai kekurangan. Namun
demikian, penulis mengharapkan semoga laporan ini memiliki manfaat yang sebesar-
besarnya.
Pandeglang, Agustus 2009
Peneliti,



Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 132257658



iv
DAFTAR ISI

hal
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii
Abstrak ................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan ............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Pembatasan Masalah ............................................................................. 2
C. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
D. Tujuan ...................................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian.................................................................................... 3
Bab II Landasan Teori............................................................................................ 4
A. Pengertian CTL ...................................................................................... 4
B. Alasan Pentingnya Penggunaan CTL dalam Pembelajaran...................... 5
C. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas ......................................... 7
D. Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual ........................................ 17
E. Model Pembelajaran Card Sort ............................................................... 18
F. Pertanyaan Penelitian ............................................................................. 19
Bab III Metodelogi Penelitian.................................................................................. 20
A. Setting Penelitian .................................................................................... 20
B. Waktu Kegiatan ....................................................................................... 21
B. Subyek Penelitian.................................................................................... 21
C. Variabel Penelitian..................................................... ............................. 21
D. Teknik Pengumpulan Data........................................................................ 22
E. Teknik Pembahasan ................................................................................... 23
F. Rancangan Tindakan .................................................................................. 24
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ................................................................ 25
A. Siklus 1 ...................................................................................................... 25
B. Siklus 2 .................................................................................................... 27
C. Siklus 3 ................................................................................................... 29
v
D. Siklus 4 ................................................................................................... 30
E. Pembahasan ............................................................................................. 32
Bab IV Kesimpulan dan Saran ................................................................................ 38
A. Kesimpulan ................................................................................................. 38
B. Saran ........................................................................................................... 38
Daftar Pustaka ......................................................................................................... 39
Lampiran-lampiran ................................................................................................... 40


























vi
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK

DAFTAR GAMBAR
Hal
1 Gb 1 : Hubungan antar variabel X dan Y............................................ 22

DAFTAR TABEL
1 Perbandingan Pola Tindakan PBM/KBM Antara Kelas VII C Sebagai
Kelas Model Dengan Kelas VIIA Dan VIIB Sebagai Kelas Pembanding
33
2 Perbandingan Nilai Ujian Harian Antar Kelas VII C Sebagai Kelas Model
Dan Kelas VIIIA Dan VIIB Sebagai Kelas Pembanding
34

DAFTAR GRAFIK
Hal
1 Grafik-1 Perbandingan Tingkat Ketercapaian Kkm Antar Kelas VIIC
Sebagai Kelas Model Dan Kelas VIIA Dan VIIB Sebagai Kelas
Pembanding Berdasarkan Hasil Ulangan Harian Siklus Ke-1
35
2 Grafik-2 Perbandingan Tingkat Ketercapaian Kkm Antar Kelas VIIC
Sebagai Kelas Model Dan Kelas VIIA Dan VIIB Sebagai Kelas
Pembanding Berdasarkan Hasil Ulangan Harian Siklus Ke-2
36
3 Grafik-3 Perbandingan Tingkat Ketercapaian Kkm Antar Kelas VIIC
Sebagai Kelas Model Dan Kelas VIIA Dan VIIB Sebagai Kelas
Pembanding Berdasarkan Hasil Ulangan Harian Siklus Ke-3
68
4 Grafik-4 Perbandingan Tingkat Ketercapaian Kkm Antar Kelas VIIC
Sebagai Kelas Model Dan Kelas VIIA Dan VIIB Sebagai Kelas
Pembanding Berdasarkan Hasil Ulangan Harian Siklus Ke-4
69

DAFTAR LAMPIRAN
Hal
1 Jadwal Kegiatan 40
2 Daftar Nilai Ujian Blok Kelas VII C (Kelas Model / PTK ) 41
3 Daftar Nilai Ujian Blok Kelas VII B (Kelas Non Model / Non PTK
(Pembanding)
42
4 Daftar Nilai Ujian Blok Kelas VII A (Kelas Non Model / Non PTK
(Pembanding)
43
5 Contoh RPP yang digunakan 44
6 Contoh Kartu Beberan/Kartu Pertanyaan Tentang Materi Hak Asasi
Manusia
45
7
Contoh Kartu Jawaban Materi Pelajaran Hak Asasi Manusia
46
8 Beberapa Foto Kegiatan 47
9 Bio Data Peserta (Riwayat hidup) 48



vii
ABSTRAK

AINA MULYANA, S.PD KONTRIBUSI PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN CARD SORT BERBASIS PENDEKATAN
CTL TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM MATA PELAJARAN PKN PADA KELAS VII SMPN 1
CADASARI
*) Guru PKn SMPN 1 Cadasari, Pandeglang. Alamat: Jl. Rego Km.4
Cikentrung, Cadasari Pandeglang. Banten
Makalah ini merupakan suatu laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
dilakukan pada siswa kelas VII C SMPN 1 Cadasari dengan menerapkan model
pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
dan kontribusinya terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn.
Penentuan kelas VII C sebagai kelas model didasarkan atas pertimbangan masih
kurangnyanya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Data ini didapat dari rata-
rata nilai raport dan prosentase kelulusan kelas VII C pada semester yang telah lalu
dibandingkan kelas lainnya. Oleh karena itu, penulis mencoba mengadakan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran Card Sort berbasis
CTL pada kelas VII C sebagai salah satu upaya yang guna peningkatan hasil belajar
siswa.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan bagi penulis (guru) dalam pemilihan model pembelajaran PKn;
memberikan masukan yang berarti bagi instansi pemerintah cq. Dinas Pendidikan dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan; serta dapat memberikan sumbang saran yang
positif bagi para guru-guru PKn di lapangan.
Kegiatan inovasi pembelajaran dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
ini dilakukan dengan menerapkan rencana tindakan berupa penerapan model
pembelajaran Card Sort berbasis CTL yang diterapkan dengan mengunakan berbagai
variasi metode pembelajaran pada kelas VII C. Sedangkan pada kelas lainnya, yakni
VIIA dan VIIB penulis masih menggunakan model konvensional namun tetap
menerapkan pilar-pilar CTL dengan maksud digunakan sebagai kelas pembading.
Proses analisis untuk mengetahui hasil kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dalam mata pelajaran PKn dilakukan dengan menganalisis hasil Ujian Blok
untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dan memanfaatkan mitra peneliti
untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan peneliti selama KBM berlangsung. Hasil
pengamatan dari mitra guru dijadikan bahan refleksi untuk menjadi pertimbangan dalam
pelaksanaan rencana tindakan berikutnya.
Setelah diadakan dua kali Ujian Blok dan berdasarkan hasil refleksi dengan
mitra peneliti, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa penggunaan model
pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL secara efektif dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Hal ini didasarkan fakta yang
menunjukkan menunjukkan adanya keunggulan model pembelajaran Card Sort
dibanidngkan model pembelajarn lainnya, diantaranya: a) Cocok digunakan untuk usia
siswa SMP; b) mudah dan murah; c) mengutamakan kerjasama; d) menyenangkan dan
tidak membosankan; e) saling menunjang; dan f) siswa aktif
*) Kata Kunci CTL = Contectual Teaching and Learning
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Motivasi dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn pada siswa kelas
VIIC masih rendah, hal ini terlihat dari data rata-rata nilai raport dan prosentase
kelulusan ujian blok pada semester 1. Kenyataan di atas menuntut guru harus dapat
menggali berbagai upaya guna peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian
peranan guru sangat penting dalam meningkatkan hasil siswa. Untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam pelajaran PKn perlu adanya strategi, pendekatan dan sarana
pembelajaran yang diminat siswa. Strategi, pendekatan dan sarana pembelajaran ini
bermacam-macam model dan bentuknya, mulai dari yang sederhana hingga yang
sukar/rumit untuk dilaksanakan.
Pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
salah pendekatan pembelajaran yang diyakini dapat meningkatan motivasi dan hasil
belajar siswa. Pendekatan ini berasumsi bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru
harus mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. De-
ngan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil. (Depdiknas, 2003:1)
Melalui penerapan pendekatan CTL dalam pembelajaran, siswa perlu mengerti
apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana
mencapainya. Siswa diharapkan sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi
hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang
memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang
bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka
memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Penerapan pendekatan kontekstual dalam kegiatan belajar mengajar menuntut
kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Salah satu
2
model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan kontekstual adalah model Card
Sort. Model pembelajaran Card Sort merupakan salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan oleh Mel Sibermen (2002:149). Model ini dilakukan dengan cara: a)
memberikan kartu indeks kepada masing-masing peserta didik (kartu tersebut dapat
berisi pertanyaan atau jawaban); b) Meminta peserta didik memilih kartu sesuai dengan
katagori atau pertanyaan; c) Peserta didik yang telah selesai memilih kartu diberi
kesempatan menyajikan sendiri (mempresentasikan) kepada yang lain.
Penerapan model pembelajaran Card Sort dengan pendekatan Contektual
Teaching and Learning (CTL) dianggap cocok dengan tingkat perkembangan siswa
SMP. Hal ini karena model pembelajaran Card Sort selain mengandung unsur
pembelajaran juga mengandung unsur permainan yang disukai siswa. Dengan demikian
penerapan model pembelajaran Card Sort dalam pembelajaran PKn diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam penguasaan konsep atau materi pembelajaran
khususnya, bahkan diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
pada umumnya.

B. Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan dengan mempertimbangkan waktu,
tenaga dan biaya yang tersedia, penelitian tindakan sekolah ini hanya membatasi pada
masalah kontribusi penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL
pada siswa kelas VIIC dan kontribusinya terhadap peningkatan hasil belajar siswa
dalam Pelajaran PKn, khususnya dalam bahan ajar atau materi Hak Asasi Manusia.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah penelitian tindakan
kelas ini adalah Bagaimana proses penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis
pendekatan CTL pada siswa kelas VIIC dan kontribusinya terhadap peningkatan hasil
belajar siswa dalam Pelajaran PKn?



3
D. Tujuan
Tujuan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah: (1) untuk
mengetahui penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan Contectual
Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran PKn; (2) untuk dapat mengetahui
kontribusi penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan Contectual
Teaching and Learning (CTL) terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran PKn.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan penelitian ini adalah: (1) sebagai
bahan pertimbangan atau masukan penulis dalam penyusunan strategi pembelajaran
PKn selanjutnya; (2) diharapkan dapat dijadikan masukan bagi instansi pemerintah, cq
Dinas Pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan; dan (3) semoga dapat
memberikan sumbang saran yang positif bagi para guru-guru PKn di lapangan.

















4
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian CTL
CTL atau Contextual Teaching and Learning merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja
dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran
lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya,
dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang
mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan
sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka
mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam
upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca:
pengetahuan dan keterampilan) datang dari `menemukan sendiri', bukan dari `apa kata
guru'. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi
pembelajaran yang lain, kontektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran
berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa
harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam buku ringkas ini dibahas
persoalan yang berkenaan dengan pendekatan kontekstual dan implikasi penerapannya.

5
B. Alasan Pentingnya Penggunaan CTL dalam Pembelajaran
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus
pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan
utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar `baru' yang lebih
memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa
menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruk-
sikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL `dipromosikan' menjadi
alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar
melalui `mengalami', bukan `menghapal'.
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran
tentang belajar sebagai proses mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan,
kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Di bawah dikemukakan beberapa ciri
pembelajaran kontekstual, yakni:

1. Proses Belajar
a) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan
pengetahuan di benak mereka sendiri.
b) Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
c) Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi
dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
(subject matter).
d) Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi
yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
e) Manusia rnempunyai tingkatan yang berbeda dalan menyikapi situasi baru.
f) Siswa perlu dibiasakan meme-cahkan masalah, menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
g) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu
berjalan terus seining dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan
6
keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipamahi, strategi belajar yang salah
dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada
akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.
h) Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan
keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masaiah dalam
kehidupannya.
2. Transfer Belajar
a) Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari `pemberian orang lain'
b) Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit),
sedikit-demi sedikit..
c) Penting bagi siswa tahu `untuk apa' la belajar, dan `bagaimana' ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu.
d) Tugas guru: mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan
lama dan baru, dan memfasilitasi belajar.

3. Siswa sebagai Pembelajar
a) Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan
seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal
baru
b) Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang
baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
c) Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara `yang baru' dan
yang sudah diketahui.
d) Tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan
menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Siswa belajar
dari menemukan sendiri. Lupakan tradisi: "Guru akting di pangung, siswa
menonton". Ubah menjadi, "Siswa aktif bekerja dan belajar di panggung, guru
mengarahkan dari dekat."
4. Pentingnya Lingkungan Belajar
a) Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.
7
Dari "guru akting di depan kelas, siswa menonton" ke "siswa akting bekerja dan
berkarya, guru mengarahkan".
b) Pengajaran harus berpusat pada `bagaimana cara' siswa menggunakan
pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan
hasilnya.
c) Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian
(assessment) yang benar.
d) Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme
(Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning) masyarakat-belajar
(Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan
CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk
melaksanakan hal itu tidak sulit! CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja,
bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya
adalah berikut ini.
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkostruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya!
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik!
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!
4. Ciptakan `masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok-kelompok)!
5. Hadirkan `model' sebagai contoh pembelajaran!
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan!
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara!
Berikut penulis uraikan tujuha kompenen pembelajaran CTL atau pemebalajaran
kontekstual

8
1. Konstruktivisme ( Constructlvlsme)
Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi)
pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya didtperluas melalui konteks yang terbatas (sempit), dan tidak sekonyong-
konyong.Pengetahuan bukanlah seperangkat faktafakta, konsep, atau kaidah yang slap
untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi
makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ideide. Guru tidak akan mampu memberikan
semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di
benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus
menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan
apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses `mengkonstruksi'
bukan `menerima' pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar.
Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum
objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan
konstruktivis, `strategi memperoleh' lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak
siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah
menfasilitasi proses tersebut dengan:
(1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
(2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
(3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang
semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.
Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti
kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbedabeda.
Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masingmasing
individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan
9
dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur
pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi atau
akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas
dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur
pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan
hadirnya pengalaman baru.
Lalu, bagaimanakah penerapannya di kelas? Bagaimanakah cara mere
alisasikannya pada kelas-kelas di sekoilah kilta. Pada umumnya kita juga sudah
menerapkan filosofi ini dalam pembelajaran sehari-hari, yaitu ketika kita merancang
pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara
fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya.Mari
kita kembangkan cara-cara tersebut lebih banyak dan lebih banyak lagi!
Siklus inkuiri: Observasi (Observation), Bertanya (Questioning), Mengajukan
dugaan (Hiphotesis), Pengumpulan data (Data gathering), Penyimpulan (Conclussion).

2. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu
merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang
diajarkannya. Topik mengenai adanya dua jenis binatang rnelata, sudah seharusnya
ditemukan sendiri oleh siswa, bukan `menurut buku'.
Adapun siklus inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Observasi (Observation)
2. Bertanya (Questioning)
3. Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
4. Pengumpulan data (Data gathering)
5. Penyimpulan (Conclussion)
Apakah hanya pada pelajaran IPA inkuiri itu bias diterapkan? Jawabannya, tentu
"Tidak!". Inkuiri dapat ditev-upkan pada semua bidang studi: bahasa Indonesia
(menemukan cara menulis paragraph deskripsi yang indah); IPS (membuat sendiri
10
bagan silsilah raja-raja Majapahit); PPKN (menemukan perilaku baik dan perilaku
buruk sebagai warga Negara). Kata kunci dari strategi inkuiri adalah siswa menemukan
sendiri.
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri):
(1) Merumuskah masalah (dalam matapelajaran apapun)
Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah)
Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai
Kendari? (bahasa Indonesia)?
Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (biologi)
Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
(2) Mengamati atau melakukan observasi
Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
Mengamati clan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau
objek yang diamati
(3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel,
clan karya lainnya
Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri
Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri.
Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri
Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri.
Siswa membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah
di daerahnya sendiri. Dst.
(4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas,
guru, atau audien yang lain
a) Karya siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk
mendapatkan masukan
b) Bertanya jawab dengan teman
c) Memunculkan ide-ide baru
d) Melakukan refleksi
e) Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas,
dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah, dsb.
11


3. Bertanya ( Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari `bertanya'. Sebelum
tahu kota Palu, seseor ng bertanya "Mana arah ke kota Palu?" Questioning (bertanya)
merupakaan strategi
Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan
menilai kemampuan berpikir siswa. Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat
diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan
guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb utama
pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai
kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa
yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
(1) menggali informasi, balk administrasi maupun akademis
(2) mengecek pemahaman siswa
(3) membangkitkan respon kepada siswa
(4) mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa
(5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siwa
(6) menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
(7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa untuk menyegarkan
kembali pengetahuan siswa.
Bagaimanakah penerapannya di kelas? Hampir pada semua aktivitas belajar,
questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa,
antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas,
dsb. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam
kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dsb. Kegiatan-kegiatan itu
akan me-numbuhkan dorongan untuk `bertanya'. Dalam kelas CTL, guru disarankan
selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar.
12

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh
dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pinsil
dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya "Bagaimana caranya? Tolong
bantuin, aku!" Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat
itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat-belajar (learning
community).
Hasil belajar diperoleh dari `sharing' antara teman, antar kelompok, dan antara
yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-
orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam
kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya
hiterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum
tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai
gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi
bentuknya, balk keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya,
atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang `ahli' ke kelas. Misalnya
tukang sablon, petani jagung, peternak susu, teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang
reparasi kunci, dan sebagainya.
"Masyarakat-belajar" bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah.
"Seorang guru yang menga)ari siswanya" bukan contoh masyarakatbelajar karena
komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah
siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa.
Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar, dua
kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.
Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang
diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan
dari teman belajarnya.
Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan
dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak
13
yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak
harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau
ketrampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa
menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan
pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik "learning
community" ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam
pembelajaran terwujud dalam
a) Pembentukan kelompok kecil
b) Pembentukan kelompok besar
c) Mendatangkan `ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani,
pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb.)
d) Bekerja dengan kelas sederajat
e) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
f) Bekerja dengan masyarakat

5. Pemodelan (Modifikasi)
Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.
Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah
raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggeris, dan sebagainya. Atau, guru
memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model
tentang `bagaimana cara belajar'.
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Sebagian guru
memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas.
Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru
mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri
bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru
mendemontrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan
membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian
utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam
14
melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa
sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara
sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan
diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus itu, guru
menjadi model.
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang
dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya
cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba
baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggeris, siswa itu dapat ditunjuk untuk
mendemonstrasikan keahliannya. Siswa `contoh' tersebut dikatakan sebagai model.
Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai `standar' kompetensi yang harus
dicapainya.
Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli ber-bahasa
Inggeris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk men-jadi `model' cara berujar,
cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
Bagaimanakah contoh praktek pemodelan di kelas?
a) Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa
b) Guru PPKN mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa
diminta bertanya jawab dengan tokoh itu
c) Guru geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa
dalam merancang peta daerahnya
d) Guru biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan
e) Guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dsb.
sebagai model pembuatan berita. Guru kerajinan mendatangkan `model' tukang
kayu ke kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan peralatannya, sementara siswa
menirunya.


6.Refleksi ( Reflectlon)
Refleksi juga bagian penting dalam pembela) aran dengan pendekatan CTL.
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang
15
tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa
yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan
pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon
terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika
pelajaran berakhir, siswa merenung "Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini
salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer saya lebih
tertata."
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa
diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit-demi sedikit.
Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu,
siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru
dipelajarinya.
Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak
siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide
baru.
Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan
refleksi. Realisasinya berupa
a) pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu
b) catatan atau jurnal di buku siswa
c) Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
d) dlskusi
e) hasil karya.
Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu
siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada
diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.

7. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa menberikan
gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu
diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran
16
dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa
mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang
tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan
belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak
dilakukan di akhir periode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi
hasil belajar (seperti UN/UAS), tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi
(tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk
mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya
ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to
learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir
periode pembelajaran.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang
dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat
melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar
Bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat
para siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes
bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa saat siswa melakukan kegiatan
berbahasa Inggris balk di dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang disebut data
autentik.
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil. Ketika guru
mengajarkan sepak bola, siswa yang tendangannya paling bagus, dialah yang
memperoleh nilai tinggi. Dalam pembelajaran bahasa asing (Bahasa Inggeris), siapa
yang ucapannya cas-cis-cus, dialah yang nilainya tinggi, bukan hasil ulangan tentang
grammarnya. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan ketrampilan (performansi)
yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang
lain.
Karakteristik authentic assessment:
1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
2. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
3. Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
17
4. Berkesinambungan
5. Terintegrasi
6. Dapat digunakan sebagai feed back
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa
(1) proyek/kegiatan dan laporannya
(2) PR
(3) Kuis
(4) Karya siswa
(5) Presentasi atau penampilan siswa
(6) Demonstrasi
(7) Laporan
(8) Jurna
(9) Hasil tes tulis
(10) Karya tulis
Intinya, dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah
"Apakah anak-anak belajar?", bukan "apa yang sudah diketahui?" Jadi, siswa dinilai
kemampuannya dengan berbagai cara.

D. Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap-demi tahap
tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan
dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai
tujuan tersebut, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Berbeda dengan program yang dikembangkan paham objektivis, penekanan
program yang berbasis kontekstual bukan pada rincian dan kejelasan tujuan, tetapi pada
gambaran kegiatan tahapdemi tahap dan media yang dipakai. Perumusan tujuan yang
berkecil-kecil, bukan menjadi prioritas dalam penyusunan rencana pembelajaran
berbasis CTL, mengingat yang akan dicapai bukan `hasil', tetapi lebih pada `strategi
belajar'. Yang diinginkan bukan `banyak, tetapi dangkal', melainkan `sedikit, tetapi
mendalam'.
18
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benarbenar `rencana pribadi'
tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Gambaran selama ini bahwa
RPP adalah laporan untuk kepala sekolah atau pihak lain harus dibuang jauh-jauh.
Namun, sebenarnya RPP-lah yang mengingatkan guru tentang benda apa yang harus
dipersiapkan, alat apa yang harus dibawa, berapa banyak, ukuran berapa, dan langkah-
langkah apa yang akan dikerjakan siswa. RPP-lah yang mengingatkan guru ketika akan
berangkat ke sekolah, "Oh, aku lupa belum menggunting kertas karton menjadi empat
bagian untuk dibagikan ke anak-anak nanti!"
Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar format antara program
pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual: Sekali lagi,
yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional
lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional),
sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario
pembelajarannya.

E. Model Pembelajaran Card Sort
Model pembelajaran Card Sort merupakan salah satu model pembalajaran yang
dikembangkan oleh Mel Siberman (2002) dalam buku Active Learning, 101 Strategi
Pembelajaran. Model ini dilakukan dengan cara: a) memberikan kartu indeks kepada
masing-masing peserta didik (kartu tersebut dapat berisi pertanyaan atau jawaban); b)
Meminta peserta didik memilih kartu sesuai dengan katagori atau pertanyaan; c) Peserta
didik yang telah selesai memilih kartu diberi kesempatan menyajikan sendiri
(mempresentasikan) kepada yang lain.
Penerapan pendekatan kontekstual dalam kegiatan belajar mengajar menuntut
kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Salah satu
model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan kontekstual adalah model Card
Sort. Model pembelajaran Card Sort merupakan salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan oleh Mel Sibermen (2002:149). Model ini dilakukan dengan cara: a)
memberikan kartu indeks kepada masing-masing peserta didik (kartu tersebut dapat
berisi pertanyaan atau jawaban); b) Meminta peserta didik memilih kartu sesuai dengan
19
katagori atau pertanyaan; c) Peserta didik yang telah selesai memilih kartu diberi
kesempatan menyajikan sendiri (mempresentasikan) kepada yang lain.
Penerapan model pembelajaran Card Sort dengan pendekatan Contektual
Teaching and Learning (CTL) dianggap cocok dengan tingkat perkembangan siswa
SMP. Hal ini karena model pembelajaran Card Sort selain mengandung unsur
pembelajaran juga mengandung unsur permainan yang disukai siswa. Dengan demikian
penerapan model pembelajaran Card Sort dalam pembelajaran PKn diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam penguasaan konsep atau materi pembelajaran
khususnya, bahkan diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
pada umumnya.

F. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas ada dua variabel penting yang akan di teliti dalam
Penelitian Tindakan Kelas ini, yakni 1) variabel bebas (X) atau variabel yang
mempengaruhi yakni penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan
CTL; dan 2) variabel terikat (Y) atau variabel yang dipengaruhi, yakni peningkatan
hasil belajar siswa dalam Pelajaran PKn.
Adapaun rumusan pertanyaan penelitian yang dijadikan acuan dalam
pembahasan hasil penelitian adalah
1. Bagaimana proses penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan
CTL pada siswa kelas VIIC?
2. Bagaimana kontribusi penerapan model pembelajaran Card Sort berbasis
pendekatan CTL terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam Pelajaran PKn?








20
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1) Lokasi Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
A. Karakteristik lokasi
a) Nama sekolah : SMPN 1 Cadasari
b) Alamat sekolah : Jl. Rego Km.04 Cadasari Pandeglang
c) Kelas : VIIC sebagai kelas model, dan kelas VIIA dab VIIB
sebagai kelas pembanding
d) Lingk. fisik sekolah : Pedesaan

B. Karakteristik siswa
a) Latar belakang SOSEK orang tua : menengah ke bawah
b) Kemampuan : sedang
c) Motivasi belajar : rendah
d) Hasil Belajar : rendah

2) Komponen yang terlibat dalam Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas mapel PKn ini
adalah sebagai berikut:
a) Guru Mata Pelajaran PKn : Aina Mulyana,S.Pd
b) Mitra Kerja (Observer) : Aat Jumiat,S.Pd (Guru Pengetahuan
Sosial)
c) Siswa kelas VIIC yang diberikan pembelajaran dengan model Card Sort berbasis
CTL sebagai kelas model
d) Siswa kelas VIIA dan VII B yang diberikan pembelajaran dengan model
konvensional berbasis CTL sebagai pembanding.

21
B. Waktu Kegiatan
Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan selama 5 bulan yakni dari bulan
April 2009 sampai dengan Agustus 2009. Adapun jadwal penelitian ini adalah
sebagai berikut:
A. Persiapan Penelitian Menggu Ke-1 April 2009
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan Rencana Tindakan
2. Pelaksanaan Rencana Tindakan
3. Observasi
4. Refleksi
Minggu Ke-2 Bln April s/d
Minggu Ke-1 Bulan Juni 2009
C. Pengolahan Data Minggu Ke-2 Bln April s/d
Minggu Ke-1 Bulan Juni 2009
D Penyusunan Laporan
1. Penyusunan Draf Penelitian Minggu Ke-3-4 Bln Juli 2009
2. Penyempurnaan Draf Minggu Ke 1-2 Bln Agustus 2009
3. Finishing Minggu Ke-3 Bln Agustus 2009


C. Subjek Penelitian
Populasi penelitian dalam PTK ini adalah di SMPN1 Cadasari kelas VII C pada
tahun pelajaran 2008/2009 semester 2 yakni dengan jumlah populasi sekaligus sampel
sebanyak 38 orang..

D. Variabel Penelitian
Penelitian ini berjudul Kontribusi Penerapan Model Pembelajaran Card Sort
Berbasis Pendekatan CTL Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Mata
Pelajaran Pkn Pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Cadasari (Penelitian Tindakan Kelas
dalam Bahan Ajar Hak Asasi Manusia di kelas VII C SMP N 1 Cadasari,
Pandeglang).
Sesuai dengan judul di atas, maka yang menjadi variabel penelitian ini adalah:
22
1. Variabel bebas (X) atau variabel yang mempengaruhi dalam peneliian ini adalah
adalah Pembelajaran Card Sort Berbasis Pendekatan CTL
2. Variabel terikat (Y) atau variabel yang dipengaruhi dalam penelitian ini adalah
Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM.
Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:







Gb 1. Hubungan antar variabel X dan Y

E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui obeservasi dan
catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi yang
dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti. Penentuan teknik tersebut didasarkan
ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan mitra
peneliti.
Uraian lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut adalah
sebagai berikut:
a) Observasi dan catatan data lapangan
Observasi dalam kegiatan PTK merupakan kegiatan pengamatan terhadap aktivitas
yang dilakukan guru (peneliti) selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar di
kelas. Kegiatan ini dilakukan oleh pengamat yang dalam hal ini adalah mitra
peneliti (Aat Jumiat, S.Ag).
Bentuk kegiatan observasi yang dilakukan dalam PTK ini menggunakan model
observasi terbuka. Adapaun yang dimaksud observasi terbuka adalah apabila

PEMBELAJARAN CARD
SORT BERBASIS
PENDEKATAN CTL

Peningkatan Hasil Belajar
Siswa

Variabel X

Variabel Y
23
pengamat atau observer melakukan pengamatannya dengan mencatatkan segala
sesuatu yang terjadi di kelas.
Hasil pengamatan dari mitra peneliti selanjutnya dijadikan catatan data lapangan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Prof Dr. Rochiati Wiriaatmaja (2005:125) yang
menyatakan: Sumber informasi yang sangat penting dalam penelitian ini (PTK)
adalah catatan lapangan (field notes) yang dibuat oleh peneliti/mitra peneliti yang
melakukan pengamatan atau observasi.

b) Wawancara
Wawancara menurut Denzin dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:117) adalah
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang
dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang
perlu.
Dalam PTK ini kegiatan wawancara dilakukan oleh peneliti dan dibantu mitra
peneliti kepada beberapa orang siswa (sebagai sampel) yang terlibat dalam kegiatan
PTK ini.
c) Hasil tes
Hasil tes yang dimaksud adalah hasil berupa nilai yang diperoleh melalui ujian post
tes. Hasil ini dapat dijadikan bahan perbandingan antara hasil post tes terdahulu
dengan hasil post tes sebelumnya.
d) Catatan hasil refleksi
Adapaun yang dimaksud catatan hasil refleksi adalah catatan yang yang diperoleh
dari hasil refleksi yang dilakukan dengan melalui kegiatan diskusi antara peneliti
dan mitra peneliti. Hasil refleksi ini selain dijadikan bahan dalam penyusunan
rencana tindakan selanjutnuya juga dapat digunakan sebagai sarana untuk
mengetahui telah tercapai tidaknya tujuan kegiatan penelitian ini.

F. Teknik Pembahasan
Analisis atau pembahasan data dalam PTK ini dilakukan sejak awal, artinya
analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini sesuai dengan
pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:139) bahwa . the
24
ideal model for data collection and analysis is one that interweaves them form the
beginning. Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis adalah yang
secara bergantian berlangsung sejak awal.
Kegiatan analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati
Wiriaatmaja, (2005:135-151) dengan melakukan catatan refleksi, yakni pemikiran yang
timbul pada saat mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan,
mengkaitkan atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya atau
dengan teori-teori yang relevan.

G. Rancangan Tindakan
Dalam PTK ini, rancangan tindakan yang akan dilakukan adalah menerapkan
model pembelajaran Card Sort dalam materi Hak Asasi Manusia di kelas VII. Secara
rinci tindakan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut
1) Menyusun RPP dengan mengedepankan model pembelajaran Card Sort;
2) Menerapkan atau mengiplementasi RPP yang telah dibuat
3) Menganalisis hasil presentasi dengan cara mengadakan refleksi (diskusi antara
peneliti/kepsek dengan guru yang diamati) tentang kelebihan dan kekurangan
kegiatan pembelajaran dengan menggunkan model Card Sort yang telah
dilaksanakan dan mencoba membuat formula untuk pelaksanaan siklus berikutnya.












25
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Model pembelajaran Card Sort merupakan salah satu model pembalajaran yang
dikembangkan oleh Mel Siberman (2002) dalam buku Active Learning, 101 Strategi
Pembelajaran. Berpijak dari buku tersebut yang mengembangkan model ini secara
sederhana, penulis mengembangkan model ini dalam beberapa variasi pembelajaran.
Berdasarkan hasil kajian penulis, model pembelajaran ini dapat diterapkan
dengan menggunakan metode:
a) Penugasan;
b) Diskusi;
c) Kuis dan
d) Simulasi/Permainan.
Adapun bahan dan sumber pelajaran yang dibutuhkan untuk melaksanakan
model pembelajaran ini adalah:
a) Buku Sumber; LKS dan Sejenisnya
b) Kertas Karton untuk membuat Kartu Pertanyaan dan Kartu Jawaban
c) Penggaris, Guntingan/Karter
d) Kertas Karton atau Triplek untuk Papan Beberan
Berikut penulis uraikan tindakan atau action yang penulis lakukan dalam kaitan
dengan penerapan model pembelajaran Card Sort dalam proses belajar mengajar yang
digunakan penulis dalam kegiatan pembelajaran di kelas VIIC.

A. Siklus 1
1. Perencanaan
Pada Kelas VII C yang menggunakan model Card Sort rencana tindakan
berupa:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan menerapkan
model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL dengan metode
26
penugasan. RPP ini berkaitan denga nbahan ajar Hak Asasi Manusia dan
Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat pada siswa kelas VII SMP.
b. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.
Sedangkan pada kelas VIIA dan VIIB yang menggunakan model konvensional
rencana tindakan berupa:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan model
konvensional namun tetap berorientasi pada pendekatan CTL.
b. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.
2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus Ke-1 menerapkan model pembelajaran Card Sort dengan menggunaan
metode penugasan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagi berikut:
a) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok (atau menggunakan kelompok yang
telah ada)
b) Setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat kartu soal dan kartu
jawaban (bila mengalami kesulitan kartu soal dibuat oleh guru, siswa hanya
membuat kartu jawaban
c) Setiap kelompok diberi tugas membuat papan beberan (untuk memudahkan
berikan contoh papan beberan kepada siswa)
d) Hasil pekerjaan dikumpulkan untuk dipergunakan pada kegiatan
pembelajaran berikutnya
3. Pengamatan
Pada tahap ini, mitra peneliti melakukan pemantauan kegiatan proses belajar
mengajar yang ditampilkan oleh guru (peneliti). Monitoring ini dibantu dengan
instrumen penelitian berupa lembar observasi yang telah disiapkan. Aktivitas
yang diamati bukan hanya aktivitas guru, tetapi juga aktivitas siswa.
1). Mengobservasi tampilan Guru yaitu mengamati :
27
(a) Pengembangan materi pengajaran yang dilakukan guru.
(b) Strategi belajar mengajar yang dikembangkan guru.
(c) Metode pembelajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam
pembelajaran di kelas.
(d) Media pengajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran
di kelas.
(e) Sumber belajar yang dipilih dan dipergunakan guru dalam kegiatan
pembelajaran.
2). Mengobservasi aktivitas siswa yaitu mengamati :
(a) Keseriusan siswa mengikuti kegaitan belajar mengajar
(b) Keaktifan dalam menjawab pertanyaan guru dan/ataumengajukan
pertanyaan.
(c) Keterlibatan atau keaktifan siswa dalam diskusi atau kerja kelompok
(KEJARKOP).
4. Refleksi
Ada dua hal yang menjadi fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang
dibuat terutama dilihat dari skenario atau langkah-langkah pembelajarannya sudah
mengedepankan model Card Sort dengan menggunakan metode penugasan? 2) Apakah
proses pelaksanaan pembelajarannya juga sudah menerapkan model Card Sort dengan
menggunakan metode penugasan serta bagaimana hasilnya?.

B. Siklus 2
1. Perencanaan
Seperti halnya pada siklus 1, perencanaan yang dilakukan pada siklus ini adalah
membuat:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan menerapkan
model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL dengan metode
diskusi. RPP ini berkaitan denga nbahan ajar Hak Asasi Manusia dan
Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat pada siswa kelas VII SMP.
b. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
28
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.
Sedangkan pada kelas VIIA dan VIIB yang menggunakan model konvensional
rencana tindakan berupa:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan model
konvensional namun tetap berorientasi pada pendekatan CTL.
c. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanan Tindakan pada siklus Ke-2 ini menerapkan langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
a) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok (atau menggunakan kelompok yang
telah ada)
b) Setiap kelompok diberikan kartu soal,kartu jawaban dan lembaran beberan
(Lembaran beberan bisa sekaligus sebagai kartu soal). Apabila menggunakan
kartu soal, kartu jawaban dan beberan yang telah dibuat oleh siswa, maka
pembagiannya secara acak misalnya hasil kerja siswa kelompok A diberikan
pada kelompok B atau lainnya. Jangan lupa kartu jawabannya pun telah
diacak.
c) Setiap kelompok diberikan tugas untuk memilih kartu jawaban dan
menempatkannya sesuai dengan kartu soal atau lembaran beberan.
d) Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
e) Kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi, memberikan
pertanyaan atau saran.
3. Pengamatan
Sebagaimana halnya pada siklus 1, kegiatan pengamatan dilakukan mitra
peneliti dengan mengadakan pemantauan kegiatan proses belajar mengajar yang
ditampilkan oleh guru (peneliti). Monitoring ini dibantu dengan instrumen
29
penelitian berupa lembar observasi yang telah disiapkan. Aktivitas yang diamati
bukan hanya aktivitas guru, tetapi juga aktivitas siswa.

4. Refleksi
Fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang dibuat terutama dilihat dari
skenario atau langkah-langkah pembelajarannya sudah mengedepankan model Card
Sort dengan menggunakan metode diskusi? 2) Apakah proses pelaksanaan
pembelajarannya juga sudah menerapkan model Card Sort dengan menggunakan
metode diskusi serta bagaimana hasilnya?.

C. Siklus 3
1. Perencanaan
Seperti halnya pada siklus 2, perencanaan yang dilakukan pada siklus 3 ini
adalah membuat:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan menerapkan
model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL dengan metode
kuis. RPP ini berkaitan denga nbahan ajar Hak Asasi Manusia dan
Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat pada siswa kelas VII SMP.
b. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.
Sedangkan pada kelas VIIA dan VIIB yang menggunakan model konvensional
rencana tindakan berupa:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan model
konvensional namun tetap berorientasi pada pendekatan CTL.
d. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.

30
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanan Tindakan pada siklus Ke-2 ini menerapkan langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
a) Bagi siswa dalam beberapa kelompok atau guna kelompok yang telah ada
b) Panjangkan lembaran beberan (yang berisi kartu soal) pada tempat tertentu.
(Misalnya pada papan tulis)
c) Simpan kartu jawaban yang telah diacak pada tempat tertentu pula.
d) Minta perwakilan kelompok bergiliran (satu-satu orang) untuk tampil,
caranya dengan mengambil kartu jawaban yang cocok dengan pertanyaan
yang diberikan guru (petugas) dan menempatkannya pada papan beberan.
Siswa yang paling cepat dan benar (kartu jawabannya cocok dengan
pertanyaan), dialah atau kelompok tsb yang mendapat nilai.
e) Siswa yang belum tampil bertugas memberikan dukungan (sporter)

3. Pengamatan
Pada tahap ini, mitra peneliti melakukan aktivitas guru dan aktivitas siswa.
Kegiatan ini dibantu dengan instrumen penelitian berupa lembar observasi yang
telah disiapkan.

4. Refleksi
Fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang dibuat terutama dilihat dari
skenario atau langkah-langkah pembelajarannya sudah mengedepankan model Card
Sort dengan menggunakan metode kuis? 2) Apakah proses pelaksanaan
pembelajarannya juga sudah menerapkan model Card Sort dengan menggunakan
metode kuis serta bagaimana hasilnya?.

D. Siklus 4
1. Perencanaan
Seperti halnya pada siklus 3, perencanaan yang dilakukan pada siklus 4 ini
adalah membuat:
a. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang memuat materi, media dan
langkah-langkah (skenario) kegiatan pembelajaran dengan menerapkan
31
model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL dengan metode
simulasi atau permainan. RPP ini berkaitan denga nbahan ajar Hak Asasi
Manusia dan Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat pada siswa kelas
VII SMP.
b. Mempersiapkan instrumen penilaian untuk melihat hasil belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran.
c. Menyiapkan lembaran observasi atau pengamatan.
Sedangkan pada kelas VIIA dan VIIB yang menggunakan model konvensional
rencana tindakan dilakukan sama seperti pada siklus-siklus sebelumnya.

2. Pelaksanaan Tindakan
Langkah-langkah pembelajaran pada siklus ini adalah sebagai berikut:
a) Bagi siswa dalam beberapa kelompok atau gunakan kelompok yang telah
ada
b) Setiap kelompok diberikan lembaran beberan yang di dalamnya terdapat
kartu soal, dan berikan pula kartu jawaban yang telah di acak.
c) Panjangan kartu beberan pada meja masing-masing kelompok.
d) Minta beberapa siswa secara bergiliran (misalnya 4 orang) atau dapat juga
seluruh siswa untuk bermain dengan cara:
1) Kocok kartu jawaban yang dimiliki tiap-tiap kelompok.
2) Bagikan kepada siswa yang mau bermain sampai habis.
3) Lemparkan atau tempatkan kartu jawaban pada kartu soal yang ada pada
lembaran beberan secara bergiliran searah jarum jam di awali dari soal
yang diberi nomor 1
4) Bagi siswa yang mendapat giliran mencari kartu jawaban untuk soal
tertentu namun tidak memilikinya, ia menyatakan tidak ada dan
mengatakan lanjut.
5) Apabila salah satu siswa telah menghabiskan kartu jawaban yang ada
ditangannya, siswa tersebut dinyatakan menang dan siswa yang kartu
jawabannya di tangannya masih paling banyak dikenai hukuman
mengocok kartu kembali (atau hukuman tambahan misalnya bernyanyi).
32
6) Demikian seterusnya (Catatan: kecocokan jawaban yang dilemparkan
siswa pada lembaran beberan akan dinilai oleh seluruh siswa pada
kelompok yang bersangkutan, apabila tidak cocok harus diambil kembali
dan menyatakan lewat. Guru dapat membantu apabila terjadi perselisihan
pendapat)

3. Pengamatan
Pada tahap ini, mitra peneliti mengadakan pengamatan berkaitan dengan
aktivitas guru (peneliti) dan siswa. Kegiatan pengamatan ini dibantu dengan
instrumen obeservasi yang telah dibuat dalam tahap perencanaan.

4. Refleksi
Ada dua hal yang menjadi fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang
dibuat terutama dilihat dari skenario atau langkah-langkah pembelajarannya sudah
mengedepankan model Card Sort dengan menggunakan metode penugasan? 2) Apakah
proses pelaksanaan pembelajarannya juga sudah menerapkan model Card Sort dengan
menggunakan metode penugasan serta bagaimana hasilnya?.


D. Pembahasan
Penerapan model pembelajaran Card Sort dalam penelitian ini diterapkan oleh
peneliti pada siswa kelas VIIC Semester 2 di SMPN 1 Cadasari, yakni pada materi
pembelajaran PKn Hak Asasi Manusia dan Kemerdekaan Mengemukakan
Pendapat. Sedangkan kelas VIIA dan VIIB untuk materi yang sama penulis
menggunakan model konvensional dengan metode yang hampir sama, yakni penugasan,
diskusi dan kuis namun tidak menggunakan model Card Sort. Untuk lebih jelas,
perhatikan tabel perbandingan pola tindakan PBM/KBM antara kelas VIIC sebagai
kelas model dengan kelas VIIA dan VIIB sebagai kelas pembanding.



33

Tabel 1
PERBANDINGAN POLA TINDAKAN PBM/KBM ANTARA KELAS VII C
SEBAGAI KELAS MODEL DENGAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI
KELAS PEMBANDING

Kelas NO Aspek Tindakan
VIIA
(PEMBANDING)
VIIB
(PEMBANDING)
VIIC
(MODEL)
1 Model Pembelajaran yang
digunakan
Konvensional
Berbasis CTL
Konvensional
Berbasis CTL
Model Card Sort
Berbasis CTL
2 Metode yang digunakan
Materi Hak Asasi Manusia
a) Pertemuan Ke-1
b) Pertemuan Ke-2
c) Pertemuan Ke-3
d) Pertemuan Ke-4

Penugasan
Diskusi
Diskusi
Kuis

Penugasan
Diskusi
Diskusi
Kuis

Penugasan
Diskusi
Kuis
Simulasi/Permainan

Materi Kemerdekaan
Mengemukakan Pendapat
a) Pertemuan Ke-1
b) Pertemuan Ke-2
c) Pertemuan Ke-3
d) Pertemuan Ke-4


Penugasan
Diskusi
Diskusi
Kuis


Penugasan
Diskusi
Diskusi
Kuis


Penugasan
Diskusi
Kuis
Simulasi/Permainan
3 Sumber Pelajaran Buku Sumber;
LKS dan
Sejenisnya
Kertas HVS
untuk membuat
soal dan
Jawaban

Buku Sumber;
LKS dan
Sejenisnya
Kertas HVS
untuk membuat
soal dan
Jawaban

Buku Sumber;
LKS, sejenisnya
Kertas Karton
(Triplek bila ada)
untuk membuat
Kartu Beberan atau
Pertanyaan dan
Kartu Jawaban
Penggaris,
Gunting/Karter

34
Hasil yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran Card Sort di kelas
VIIC memiliki kontribusi yang positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa terutama
dalam aspek kemampuan mengembangkan konsep. Hal ini terlihat dari prosentase
ketercapaian Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) dan nilai rata-rata hasil ujian
blok siswa kelas VIIC yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelas VIIA dan VIIB.
Perhatikan tabel dan grafik ketercapaian KKM di bawah ini:

Hasil yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran Card Sort di kelas
VIIC memiliki kontribusi yang positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa terutama
dalam aspek kemampuan mengembangkan konsep. Hal ini terlihat dari prosentase
ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan nilai rata-rata hasil Ulangan
Harian siswa kelas VIIC yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelas VIIA dan VIIB.
Perhatikan tabel dan grafik ketercapaian KKM di bawah ini:

Tabel 2
PERBANDINGAN NILAI UJIAN HARIAN ANTAR KELAS VIIC SEBAGAI
KELAS MODEL DAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI KELAS PEMBANDING
Rata-rata Nilai Kelas Jml Siswa yang Tidak Lulus

Ulangan Harian Ke:/Materi
Tentang:
VIIA VIIB VIIC VIIA VIIB VIIC
Jumlah Siswa 43 39 38
Ulangan Harian Siklus Ke-1 67,91 68,46 71,89 5 orang 7 orang 3 orang
Prosentase
Ketidaklulusan
11,63% 17,95% 7,89%
Prosentase Kelulusan 88,37% 82,05% 92,11%
Ulangan Harian Siklus Ke-2 69,07 69,87 72,57 6 orang 8 orang 4 orang
Prosentase
ketidaklulusan
13,95% 20,51% 10,53%
Prosentase kelulusan 86,05% 79,49% 89,47%
Ulangan Harian Siklus Ke-3 70,06 70,17 80,60 5 orang 6 orang 2 orang
Prosentase
ketidaklulusan
11,63% 15,80% 5,26%
Prosentase kelulusan 88,37% 84,20% 94,74%
Ulangan Harian Siklus Ke-4 71,24 72,68 82,20 4 orang 5 orang 1 orang
Prosentase
ketidaklulusan
9,30% 12,82% 2,63%
Prosentase kelulusan 90,70% 87,18% 97,37%

35
Berikut disajikan grafik perbandingan tingkat ketercapaian KKM antar kelas
VII-c sebagai kelas model dan kelas VII-a dan VII-b sebagai kelas pembanding
berdasarkan hasil ulangan harian pada siklus ke 14.

Grafik-1
PERBANDINGAN TINGKAT KETERCAPAIAN KKM ANTAR KELAS VIIC
SEBAGAI KELAS MODEL DAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI KELAS
PEMBANDING BERDASARKAN HASIL ULANGAN HARIAN SIKLUS KE-1
76,00%
78,00%
80,00%
82,00%
84,00%
86,00%
88,00%
90,00%
92,00%
94,00%
1 2 3
88,37%
82,05%
92,11%
Kelas VII A Kls VII B Kls VII C


Grafik-2
PERBANDINGAN TINGKAT KETERCAPAIAN KKM ANTAR KELAS VIIC
SEBAGAI KELAS MODEL DAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI KELAS
PEMBANDING BERDASARKAN HASIL ULANGAN HARIAN SIKLUS KE-2

70,00%
75,00%
80,00%
85,00%
90,00%
95,00%
1 2 3
86,05%
79,49%
89,47%
KLS VIIA KLS VII B KLS VII C


36

Grafik-3
PERBANDINGAN TINGKAT KETERCAPAIAN KKM ANTAR KELAS VIIC
SEBAGAI KELAS MODEL DAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI KELAS
PEMBANDING BERDASARKAN HASIL ULANGAN HARIAN SIKLUS KE-3


78,00%
80,00%
82,00%
84,00%
86,00%
88,00%
90,00%
92,00%
94,00%
96,00%
1 2 3



Grafik-4
PERBANDINGAN TINGKAT KETERCAPAIAN KKM ANTAR KELAS VIIC
SEBAGAI KELAS MODEL DAN KELAS VIIA DAN VIIB SEBAGAI KELAS
PEMBANDING BERDASARKAN HASIL ULANGAN HARIAN SIKLUS KE-4

82,00%
84,00%
86,00%
88,00%
90,00%
92,00%
94,00%
96,00%
98,00%
100,00%
1 2 3


37
Berdasarkan hasil analisis secara sederhana diperoleh data bahwa prosentase
ketercapaian KKM pada kelas VIIC pada ulangan harian siklus ke-1 dalam
pembelajaran Hak Asasi Manusia mencapai 92,11%, sedangkan kelas VIIA
mencapai 88,37%, dan kelas VIIB hanya mencapai 82,50% dengan nilai rata-rata kelas
VIIC= 71,89, kelas VIIA= 67,91 dan VII B=68,46. Pada ulangan harian siklus ke-2
prosentase ketercapaian KKM pada kelas VIIC mencapai 89,47%, sedangankan kelas
VIIA mencapai 86,05%, dan kelas VIIB hanya mencapai 79,49% dengan nilai rata-rata
kelas VIIC= 72,57, sedangkan kelas VIIA= 69,07 sedangkan VII B=69,87. Data
tersebut didukung hasil pengamatan mitra guru (observer) yang menyatakan bahwa
motivasi belajar siswa kelas VIIC dalam pelajaran PKn cukup tinggi dibandingkan kelas
VIIA dan VIIB. Pada ulangan harian siklus ke-3 prosentase ketercapaian KKM pada
kelas VIIC mencapai 94,74%, sedangankan kelas VIIA mencapai 88,37%, dan kelas
VIIB mencapai 84,20% dengan nilai rata-rata kelas VIIC= 80,60, sedangkan kelas
VIIA= 70,06 sedangkan VII B=70,17. Sedangkan pada ulangan harian siklus ke-4
prosentase ketercapaian KKM pada kelas VIIC mencapai 97,37%, sedangankan kelas
VIIA mencapai 90,70%, dan kelas VIIB hanya mencapai 87,18% dengan nilai rata-rata
kelas VIIC= 82,20, sedangkan kelas VIIA= 71,24 sedangkan VII B=72,68.
Dengan demikian penerapan pendekatan pembelajaran CTL dengan model
pembelajaran Card Sort ternyata memiliki dampak yang positip bagi peningkatan
kualitas pembelajaran PKn.


.








38
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil refleksi dengan mitra guru (observer) dan berdasarkan hasil
analisis ujian blok diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Proses belajar dengan model pembelajaran Card Sort berbasis pendekatan CTL
memiliki kontribusi yang positif bagi peningkatan hasil belajar siswa.
2. Beberapa keunggulan model pembelajaran Card Sort yang didapat melalui
kegitan implementasi inovasi pembelajaran PKn ini, antara lain: a) Model ini
cocok digunakan untuk usia siswa SMP; b) mudah dan murah; c) mengutamakan
kerjasama; d) menyenangkan dan tidak membosankan; e) saling menunjang; f)
siswa aktif

B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
(1) Pelaksanaan pembelajaran dengan model Card Sort dan dengan pendekatan CTL
dalam pembelajaran PKn perlu terus ditingkatkan mengingat cukup signifikan
dampak postitif penerapannya terhadap peningkatan motivasi belajar siswa;
(2) Guru PKn harus dapat mengenali dan menggunakan berbagai model pembelajaran;
sehingga mempunyai banyak pilihan untuk diterapkan sesuai dengan materi
dan/atau kompetensi dasar, karakteristik siswa serta ketersediaan sarana dan
prasarana.













39
DAFTAR PUSTAKA

Danial, Endang AR., Dr. H. M.Pd. (2003) Penelitian Tindakan Kelas. Direktorat PLP,
Dirjendikdasmen, Depdiknas. Jakarta

Depdiknas. (2003) Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktoral Pendidikan Lanjutan
Pertama. Jakarta

Gerungan, W.A. Dr. Dipl. Psych. (1991) Psikologi Sosial, Eresco. Bandung

Silberman, Melvin L (2002). Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran. Yappendis.
Yogyakarta

Bobbi DePorte & Mike Hernacki. (2000) Quantum Learning Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa. Bandung






























40

Lampiran 1

JADWAL KEGIATAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS MAPEL PKN
SMPN 1 CADASARI TAHUN PELAJARAN 2008/2009

A. Persiapan Penelitian Menggu Ke-1 April 2009
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan Rencana Tindakan
2. Pelaksanaan Rencana Tindakan
3. Observasi
4. Refleksi
Minggu Ke-2 Bln April s/d
Minggu Ke-1 Bulan Juni 2009
C. Pengolahan Data Minggu Ke-2 Bln April s/d
Minggu Ke-1 Bulan Juni 2009
D Penyusunan Laporan
1. Penyusunan Draf Penelitian Minggu Ke-3-4 Bln Juli 2009
2. Penyempurnaan Draf Minggu Ke 1-2 Bln Agustus 2009
3. Finishing Minggu Ke-3 Bln Agustus 2009


Cadasari, April 2009
Mengetahui Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,



Sapaat Danumiharja Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 130 889 201 NIP. 132 257 658
















41
Lampiran 2
DAFTAR NILAI UJIAN BLOK
KELAS VII C (KELAS MODEL / PTK )
Mata pelajaran : PKn SKBM =65
Semester : 2
Kelas : VIIC
Materi Pelajaran :HAK ASASI MANUSIA
No Nama Siswa Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Ket.
1 Aas Sulastri 80 80 85 85
2 Afid Hermawan 65 50 70 80
3 Aisah 70 80 85 85
4 Ali Darda 70 75 80 85
5 Amami 70 80 85 85
6 Andre 65 65 75 75
7 Deni Saputra 90 80 90 95
8 Eka Patyati 80 80 80 80
9 Endah Sari 90 85 90 95
10 Ermawati 80 80 85 85
11 Haerul Umami 50 50 50 55
12 Hunaepi 60 60 60 75
13 Iis Isnawati 65 70 85 86,25
14 Johara 65 65 70 70
15 Kurnianingsih 70 75 80 80
16 M. Aziz 75 75 80 80
17 M. Pauzi 85 85 90 95
18 Marlina 70 80 85 85
19 Muhdi 65 65 75 75
20 Mulyasaroh 75 75 80 80
21 Muniroh 65 70 80 80
22 Nana 70 70 85 85
23 Nurhayati 65 65 75 75
24 Nuriah Sari 75 75 85 85
25 Nurlaeli 80 80 85 90
26 Pipin Pinalia 80 80 85 90
27 Reza Asanta
28 Samsul Bahri 70 65 82,2 80
29 Siti Hilda Khodijah 75 85 85 85
30 Siti Imas 70 70 80 80
31 Sulastri 70 70 80 80
32 Taban 65 65 70 70
33 Tini Suhartini 70 80 85 85
34 Uwen Jueni 65 65 85 85
35 Yadi 60 60 85 85
36 Yanti Oktavianti 70 75 85 85
37 Yoyoh Nurasiah 90 85 90 90
38 Zaenal Abidin 80 70 80 80
Jumlah 2660 2685 2982,2 3041,25
rata-rata 71,89 72,57 80,60 82,20
Cadasari, April 2009
Mengetahui Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,

Sapaat Danumiharja Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 130 889 201 NIP. 132 257 658
42
Lampiran 3
DAFTAR NILAI UJIAN BLOK
KELAS VII B (KELAS NON MODEL / NON PTK
(PEMBANDING)
Mata pelajaran : PKn SKBM =65
Semester : 2
Kelas : VIIB
Materi Pelajaran :HAK ASASI MANUSIA
No Nama Siswa Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Keterangan
1 Ahmad Sapei 70 75 70 70
2 Anah Mulyanah 70 70 75 85
3 Asih Kurniasih 80 80 80 80
4 Ayu Lestari 70 75 70 72
5 Beni Wijaya 50 60 50 65
6 Boim 65 65 70 70
7 Cahyadi 60 60 70 75
8 Desi Sulistiawati 80 75 80 85
9
Dewi Robianti
80 80 80 85
10
Emeliah
70 70 70 70
11
Evi Susanti
80 80 80 85
12
Farida
70 80 85 70
13
Hasanudin
65 60 65 72,5
14
Iis Istiroliah
80 80 80 80
15
Ika Nurmalita
70 80 70 70
16
Ilas Sulastri
80 80 80 80
17
Isnaeni Azizah
85 90 85 85
18
Isnatul Fitria
80 70 80 85
19
Linda Fadilah
70 70 70 75
20 M. Hasan Basri 65 60 65 65
21
M. Irfan
70 70 70 75
22 M. Simin 50 60 50 50
23 M. Topik 60 60 60 60
24
M. Yusuf
60 65 60 60
25 Mahmudin 65 65 65 65
26
Mumin
50 50 50,65 50
27
Mulyadi
65 70 66 65
28
Nuriah
70 75 70 70
29 Rosita 70 70 70 75
30 Saepul 70 70 70 75
31 Sapuri 50 50 50 50
32 Sopian 70 70 75 75
33
Sriwati
70 75 80 85
34 Suhaepi 70 75 80 85
35 Sulaiman 65 65 65 70
36
Topik Hidayat
70 70 75 80
37 Udin Hasanudin 65 65 65 70
38
Umi Kulsum
75 75 75 80
39 Yulianah 65 65 65 70
Jumlah 2670 2725 2736,65 2834,5
Rata-rata 68,46 69,87 70,17 72,68
Cadasari, April 2009
Mengetahui Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,

Sapaat Danumiharja Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 130 889 201 NIP. 132 257 658

43
Lampiran 4
DAFTAR NILAI UJIAN BLOK
KELAS VII A (KELAS NON MODEL / NON PTk
(PEMBANDING)
Mata pelajaran : PKn
Semester : 2
Kelas : VII A
Materi Pelajaran : Hak Asasi Manusia SKBM= 65
No Nama Siswa Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Keterangam
1 Aan Supriatna 65 70 70 70
2 Aang Kunaepi 70 70 80 70
3 Ade Supriadi 65 65 70 66
4 Ahmad Baikuni 65 65 70 70
5 Ahmad Fauzi 70 80 70 70,5
6 Ahmad Humaedi 65 75 65 65
7 Asep Maulana 70 70 70 75
8 Asep Sopyan 70 70 70 78
9 Asmawiyah 75 75 75 75
10 Ayudi 50 55 55 55
11 Bahrudin 65 65 70 75
12 Dede 65 60 70 75
13 Deni Aprianto
14 Eha Julaeha 65 65 65 70
15 Ela Kurniasih 75 75 82,5 75
16 Emilia 70 75 70 70
17 Eva Haerunisa 75 75 75 80
18 Fitriyani 65 75 70 70
19 Imron 70 70 70 70
20 Ipah Masripah 80 80 80 80
21 Irpan 65 65 65 70
22 Jana 60 60 60 60
23 Manus 60 65 65 60
24 Marlina 65 65 65 65
25 Martini 65 65 65 65
26 Muhdi 70 70 70 75
27 Musidah 65 65 70 70
28 Muspiroh 85 85 85 85
29 Muthoharoh 65 65 65 65
30 Norma Yunita 70 75 70 70
31 Nurzaman 65 65 65 70
32 Rini Indriani 65 65 70 70
33 Riski Anggraeni 75 75 70 75
34 Risti Nuralipa R. 75 75 80 80
35 Sahri Aminudin 50 50 55 55
36 Siti Khotimah 65 65 70 70
37 Sriwana 70 75 75 70
38 Suhendra 65 60 65 65
39 Sujana 60 65 65 70
40 Sulyani 65 60 60 65
41 Supianti 85 80 85 85
42 Taufik Ismail 65 65 70 75
43 Umasih 80 80 80 84
44 Uun 70 75 75 85
Cadasari, April 2009
Mengetahui Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,

Sapaat Danumiharja Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 130 889 201 NIP. 132 257 658
44

Lampiran 5
CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL -1
MENGGUNAKAN MODEL CARD SORT (DIGUNAKAN PADA KELAS
MODEL)

Satuan Pendidikan : SMP
Mata Pelajaran : PKn
Kelas/Semester : VII/2
Waktu : 2 X 45 menit

A. Kompetensi Dasar
Kemampuan Mendeskripsikan Instrumen HAM Nasional
B. Materi Pokok
Instrumen HAM Nasional
C. Indikator
1. Menjelaskan pengertian HAM
2. Menuliskan 6 macam/jenis HAM
3. Memberi masih-masing 2 contoh dari tiap-tiap macam/jenis HAM
4. Menyebutkan Instrumen HAM Nasional
5. Mengungkapkan lembaga-lembaga perlindungan HAM
6. Memberikan contoh tugas lembaga perlindungan HAM
7. Menjelaskan lingkup peradilan HAM
8. Membedakan bentuk kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan
D. Skenario Pembelajaran :
1) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok (atau menggunakan kelompok yang
telah ada)
2) Setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat kartu soal dan kartu jawaban
(bila mengalami kesulitan kartu soal dibuat oleh guru, siswa hanya membuat
kartu jawaban
3) Setiap kelompok diberi tugas membuat papan beberan (untuk memudahkan
berikan contoh papan beberan kepada siswa)
4) Hasil pekerjaan dikumpulkan untuk dipergunakan pada kegiatan pembelajaran
berikutnya
E. Media/Sumber Pembelajaran
1) Buku Sumber; LKS dan Sejenisnya
2) Kertas Karton untuk membuat Kartu Pertanyaan dan Kartu Jawaban
3) Penggaris, Guntingan/Karter
4) Kertas Karton atau Triplek untuk Papan Beberan
F. Penilaian : Penilaian pada kegiatan ini didasarkan pada :
Catatan :
Pada penerapan model Card Sort dengan menggunakan metode penugasan ini aspek
CTL yang tampak paling dominan adalah learning community, authentic assesment.
Dan penilaian yang paling dominan adalah penilaian produk

Mengetahui : Cadasari, April 2009
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
45




Sapaat Danumiharja Aina Mulyana, S.Pd
NIP. 130 889 201 NIP. 132 257 658





Lampiran 6
CONTOH KARTU BEBERAN/KARTU PERTANYAAN
TENTANG MATERI HAK ASASI MANUSIA (1)










46


Lampiran 7
CONTOH KARTU JAWABAN
MATERI PELAJARAN HAK ASASI MANUSIA
















47
BEBERAPA FOTO KEGAIATAN KBM




















48
BIO DATA


NAMA : AINA MULYANA, S.PD
NIP : 132 257 658
TEMPAT,TGL LAHIR : SAKETI, 22 PEBRUARI 1971
UNIT KERJA : SMPN 1 CADASARI
DINAS PENDIDIKAN
KAB.PANDEGLANG PROV. BANTEN
Sebelum menjadi PNS, ia tercatat sebagai guru pada SMU PGII 2 Bandung. Ia
sejak tahun 2000 sampai dengan Tahun 2009 diangkat sebagai PNS untuk bertugas
sebagai guru di SMP Negeri 1 Cadasari, Kabupaten Pandeglang. Sejak tahun 2009
sampai dengan sekarang dipercaya pemerintah untuk memimpin SMPN 2 Cikeusik.
Dalam mengembangkan karirer, berbagai pengalaman dan penghargaan telah
diperolehnya, di antaranya:
1. Juara 1 Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional
Kelompok Mapel IPS/PKn yang diselenggrakan Direktorat Profesi, Dirjen
PMPTK di Jakarta Tahun 2008
2. Juara 1 Lomba Penelitian Tindakan Kelas Mapel PKn Tingkat Nasional yang
diselenggarakan Direktorat PSMP Jakarta Tahun 2005
3. Juara 2 Lomba Inovasi Pembelajaran Tk Nasional Mapel PKn yang
diselenggarakan Direktorat PSMP Jakarta Tahun 2006
4. Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Pandeglang Tahun 2008
5. Instruktur Pelatihan Mapel PKn Tingkat Propinsi Banten Th. 2004-2008
6. Instruktur Pelatihan Mapel PKn Tingkat Nasional Th. 2006-2007
7. Ketua MGMP Kabupaten Pandeglang Mapel PKn 2006-2008
8. Guru Inti PKn Kabupaten Pandeglang Th. 2006-2008
9. Anggota Tim Pengembang Kurikulum Propinsi Banten Th. 2006-2008
10. Anggota Tim Monitoring dan Survisi Klinis SSN Tk. Nasional Th 2006
11. Anggota Tim Penyusun Buku Tes Diagnostik Direktorat PSMP Th. 2007