Anda di halaman 1dari 6

Jejak Sekularisme Turki dan Kisah

Sakaratul Maut Kemal Attarturk


Selasa, 19 Maret 2013 - 11:48 WIB
Detik-detik sakaratul maut, Kemal Attaturk berteriak kesakitan dalam sakratul mautnya dengan penuh
siksa di tengah-tengah laut

Terkait

 Assad Secara Tak Sengaja Bantu Masalah Kurdi


 Setelah Brexit, Turki Kehilangan Seorang Teman di Uni Eropa
 Erdogan Sebut Uni Eropa Tak Memegang Janjinya Mendukung Pengungsi
 Referendum Kurdi Merdeka dan Perpecahan Politik

ISLAM adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu,


masyarakat dan Negara. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam (baca
taqwa : melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya) dalam tingkah
lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat
mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada
masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara akan menerima rahmat penduduk
negerinya jika urusan-urusan Negara tersebut berpanduan pada Islam. Jika
tidak? Maka jangan protes kepada Allah.
Sejak Zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, agama Islam tidak bisa
dipisahkan dari urusan Negara atau politik (pelayanan terhadap umat). Ada
syari’at yang dibebankan kepada individu, misal, shalat, puasa dan ada yang
dibebankan kepada Negara, misal ekonomi, pendidikan, keamanan, hukum had
dan qishas.
Banyak pendapat orientalis yang memusuhi Islam, tapi mereka mengakui bahwa
Islam tidak bisa dipisahkan dari negara. Hal ini cukup menjawab pendapat
orang-orang yang mengatakan bahwa Islam hanya mengatur masalah ruhani
antara hamba dan Rabbnya.
Sudah kita ketahui bahwa Daulah Madinah telah tegak di masa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wassalam, kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rosyidin
kokoh sampai akhirnya pada masa Khilafah Utsmaniyah. Eksistensi khilafah
sendiri adalah sesuatu yang paling penting dalam Islam. Hal ini tergambar dalam
kesibukan 50 sahabat Muhajirin dan Anshor yang mengutamakan mencari
pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai pemimpin umat di
perkampungan Bani Saqifah daripada mengebumikan Rasul terlebih dahulu.
Kekhilafahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan
dan terkadang kemunduran. Salah satu kekhilafahan yang mempunyai rentang
waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah kekhalifahan
Utsmaniyah di Turki.
Selama kurang lebih lima abad Ustmany telah menjaga Islam dan kaum
Muslimin. Kesuksesan terbesar kekhilafahan Utsmaniyah di antaranya adalah
penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453.
Hal ini memperkuat status kekhilafahan tersebut sebagai kekuatan besar di
Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Hingga kota-kota penting yang sangat
terkenal sejak zaman dahulu pun masuk ke dalam wilayah kekhilafahan
Utsmaniyah. Pada masa itu, seluruh Eropa takut dan “menggigil” dengan
kekhalifahan Utsmaniyah. Raja-raja Eropa berada dalam jaminan keselamatan
yang diberikan dari Khalifah Utsmaniyah.
Semua hal tersebut membuat Raja-raja Eropa menaruh dendam juga niat yang
membara untuk menghancurkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun mereka
masih menunggu kesempatan dan waktu yang tepat untuk menggulingkan
kekhalifahan Utsmaniyah tersebut, sehingga mereka harus membuat rencana
yang benar-benar matang.
Disebutkan bahwa para filosofi, pemikir, raja, panglima perang, pastur bangsa
Eropa ikut terlibat dalam rencana kejam ini. Tak kurang dari perdana menteri
Romawi Dubqara menulis buku yang berjudul “Seratus Kiat untuk
Menghancurkan Turki”.
Problem Internal dan Eksternal
Kekhalifahan Utsmaniyah berakhir pada 1909 H, dan kemudian benar-benar
dihapuskan pada 3 Maret 1924 H. Setidaknya ada tiga sebab yang melingkupi
keruntuhan kekhilafahan kebanggaan kaum muslimin ini, antara lain :
Pertama; Kondisi Pemerintahan yang lemah dan kemorosotan akhlak
Penurunan drastis ketakwaan individu menyebabkan akhlak umat mulai merosot.
Turki mulai mengalami kemunduran setelah terjangkit penyakit yang menyerang
bangsa-bangsa besar sebelumnya, yaitu: cinta dunia dan bermewah-mewahan,
sikap iri hati, benci membenci, dan penindasan.
Pejabat pemerintahan terpuruk karena korupsi. Para wali dan pegawai tinggi
memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta. Begitu pula rakyat yang terus
menerus tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan hidup, meninggalkan
pemahaman dan semangat jihad. Fanatik madzhab merebak di mana-mana.
Kemudian mencukupkan Imam Madzhab dan timbul opini tertutupnya pintu
ijtihad. Sehingga umat kebingungan dan berada dalam keruwetan pada saat
menghadapi persoalan-persoalan baru yang terjadi pada umat Islam.
Kedua; serangan militer dari Eropa
Sebelum terjadinya Perang Dunia I yang menghancurkan Turki, upaya
penyerangan dari Raja Eropa ke Turki sebenarnya sudah dimulai pada akhir
abad 16, di mana saat itu keluar pernyataan yang menyatakan bahwa; ”Sri Paus
V, Raja Prancis Philip dan republik Bunduqiyah sepakat untuk mengumumkan
perang ofensif dan defensif terhadap orang-orang Turki untuk merebut kembali
wilayah-wilayah yang dikuasai Turki seperti Tunisia, Al-Jazair dan Taroblush.”
Sejak itulah Turki melemah karena banyaknya pertempuran yang terjadi antara
mereka dan negara-negara Eropa. Puncak dari semua itu adalah keterlibatan
Turki dalam Perang Dunia I pada 2 Agustus 1914 atas rencana busuk dari
Mustapa Kamal, dan mengakibatkan Turki kehilangan segala-galanya, di mana
militer penjajah akhirnya memasuki Istambul.
Ketiga; gerakan oposisi sekuler dan nasionalis
Selain serangan konspirasi dari luar, Utsmaniyah juga menghadapi tantangan
internal berupa Isu Nasionalisme Arab. Orang Arab yang merasa lebih mulia
daripada orang Turki karena Islam berasal dari Arab sehingga mereka enggan
dipimpin seorang Khalifah yang berasal dari Turki. Hal ini memicu terjadinya
separatisme yang semakin menggerogoti kekuatan dan wilayah Utsmani.
Utsmani juga mendapat perlawanan oposisi dari organisasi sekuler dan
nasionalis yang sempit, seperti Organisasi Wanita Turki dan Organisasi
Persatuan dan Kemajuan yang digawangi oleh Mustafa Kemal.
Dalam perjuangannya, mereka banyak bekerja sama dengan negara Eropa
untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan. Puncaknya
apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal,
organisasi Persatuan dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan
Khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan dan
tinggal menjadi simbol belaka. Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan
legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai presiden Turki dan membubarkan
khilafah Islamiyah.
Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan perdaban Islam.
Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam
menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham
sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil
langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan
Negara Turki Sekuler.
Di antaranya ia mengambil langkah; menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi
jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum
Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti
agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki,
melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum
wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan
bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta
Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.
Akibat ulah Mustafa Kamal, pemaksaan ini akhirnya menjadikan Turki sebagai
Republik Sekuler yang sangat anti terhadap dakwah Islam. Ciri Islam di Turki
hampir – hampir hilang sama, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan
jejak peradaban Islam di tanah Turki.
Sesaat berkuasa, Kemal Attaturk pernah menggantung tiga puluh ulama. Ia
mengatakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara
demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati
sekarang, itu akan memerlukan waktu tiga generasi,” begitulah Kamal Attaturk,
selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti agama, seorang yang
dikenal sebagai pencetus ‘sekulerisme Turki’ sekaligus penghancur kekhalifahan
Turki dan agama Islam.
Balasan atas Kedzaliman
Sekiranya Kamal Attaturk ini lahir di zaman adanya Rasul pada saat ketika
wahyu masih turun, bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Fir’aun, Namrud
dan Abu Lahab. Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka,
orang-orang yang dzalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat
unik.
Namrud, mati karena sakit kepala akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui
telinganya. Setiap kali ia menjerit, dokter pribadinya memerintahkan dipukul
kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan
sakratul maut, akhirnya dia mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga
dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.
Nasib serupa dialami Mustafa Kamal Attaturk juga menerima pembalasan yang
setimpal dari Allah. Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal
dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai
penyakit seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever. Dia meninggal
dunia pada 10 November 1938, kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan
díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal.
Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang
sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu dia
masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratul
maut.
Anehnya dia takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka
ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah, dia
tidak dapat menahan diri daripadanya kecuali menjerit. Jeritan itu semakin kuat
(hingga kedengaran di sekeliling istana). Dia berteriak kesakitan dalam sakratul
mautnya dengan penuh siksa di tengah-tengah laut.
Dr. Abdullah ‘Azzam dalam buku ‘Al Manaratul Mafqudah’, menjelaskan detik-
detik menjelang ajal sang hina Mustafa Kemal Attaturk. Menurutnya, sebuah
cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai
mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin (GO).
Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya
(ascites), dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan
kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga
Mustafa pucat seputih tulang.
Dalam Kitab ”Al-Jaza Min Jinsil Amal” Karangan Syeikh Dr. Sayyid Husien Al-
Affani disebutkan, walaupun Attaturk dikelilingi para dokter, namun penyakit
kangker hatinya baru di ketahui pada tahun 1938 padahal dia telah merasakan
pedihnya penyakit tersebut sejak 1936.
Pada Kamis tanggal 10 oktober 1938, Kamal Attatruk terlempar ke ‘sampah
sejarah’ setelah ia mengalami sakaratul maut sebulan lamanya yang tidak ada
satupun dari pembantu dan para dokternya yang berani mendekati dia ketika itu.
Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh
seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara
dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21
November, ia dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum
Etnografi di Ankara yang berdekatan gedung parlemen.
Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan
di sebuah bukit di Ankara.*/Herman Anas, penulis alumnus Pondok Pesantren
Annuqayah Sumenep Madura
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/03/19/1345/jejak-sekularisme-turki-dan-
kisah-sakaratul-maut-kemal-attarturk.html