Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan hukum newton tentang gerak dilaboratorium fisika dasar universitas
negeri surabaya (UNESA) yang bertujuan untuk memahami hukum newton tentang gerak, memahami
prinsip gerak lurus berubah beraturan, dan menentukan percepatan gerak benda. Pada percobaan ini
kami memanipulasi massa/ beban yang menarik trolly. Kami menentukan percepatan dengan dua jenis
papan luncur, yaitu : papan luncur arah mendatar dan papan luncur arah miring. Untuk papan luncur
arah mendatar kami memperoleh percepatan rata rata (a rata-rata) sebesar 0,738 ms
-2
dengan
ketelitian90,5%. Sedangkan untuk papan luncur bidang miring kami mendapatkan percepatan rata
rata (a rata-rata) sebesar 0,277 ms
-2
dengan ketelitian 74%. Dari data tersebut, kami menyadari bahwa
hasil penelitihan kami memang masih jauh dari memuaskan dan sempurna. Hal ini dikarenakan
kurang ketelitihan pengamat dalam mengamati pergerakan trolly dan stopwatch.

LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari hari kita pasti
menggunakan berbagai macam benda yang
mempunyai massa yang berbeda dan dapat
bergerak. Seperti saat seseorang sedang
mendorong gerobak, gerobak tersebut
memiliki massa dan bergerak. Selain
contoh tersebut ada banyak lagi benda
yang dapat bergerak, yaitu : katrol, sepeda,
mobil, trolly dan lain sebagainya. Untuk
bergerak benda benda tersebut memiliki
gaya yang mendorok atau menariknya,
dengan demikian benda tersebut memiliki
percepatan dan kecepatan. Percepatan
yang dimiliki oleh suatu benda mempunyai
hubungan dengan prinsip hukum newton
tentang gerak, khususnya hukum newton
II.
Dari beberapa contoh benda yang bergerak
diatas, maka kami terdorong untuk
membuktikan dan mengetahui lebih dalam
tentang konsep hukum newton tentang
gerak untuk mencari dan mendapatkan
percepatan suatu benda.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, dapat diperoleh
rumusan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara menentukan
percepatan suatu benda ?
2. Bagaimana prinsip gerak lurus
berubah beraturan ?
RUMUSAN HIPOTESIS
1. Setiap benda memiliki percepatan
yang berbeda. Gaya, massa benda,
massa penarik atau pendorong, dan
tegangan tali mempengaruhi
percepatan benda.
2. Gerak lurus berubah beraturan
mempunyai prinsip, yaitu: lintasan
yang dilewati lurus, memiliki
kecepatan berubah - ubah, dan
memiliki percepatan konstan.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Memahami hukum newton tentang
gerak
2. Memahami prinsip gerak lurus
berubah beraturan
3. Menentukan percepatan gerak
benda

DASAR TEORI
Hukum gerak Newton adalah tiga hukum
fisika yang menjadi dasar mekanika klasik.
Hukum ini menggambarkan hubungan
antara gaya yang bekerja pada suatu benda
dan gerak yang disebabkannya. Hukum ini
telah dituliskan dengan pembahasaan yang
berbeda-beda selama hampir 3 abad, dan
dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Hukum Pertama: setiap benda akan
memiliki kecepatan yang konstan
kecuali ada gaya yang resultannya
tidak nol bekerja pada benda
tersebut. Berarti jika resultan gaya
nol, maka pusat massa dari suatu
benda tetap diam, atau bergerak
dengan kecepatan konstan (tidak
mengalami percepatan).
2. Hukum Kedua: sebuah benda
dengan massa M mengalami gaya
resultan sebesar F akan mengalami
percepatan a yang arahnya sama
dengan arah gaya, dan besarnya
berbanding lurus terhadap F dan
berbanding terbalik terhadap M.
atau F=Ma. Bisa juga diartikan
resultan gaya yang bekerja pada
suatu benda sama dengan turunan
dari momentum linear benda
tersebut terhadap waktu.
3. Hukum Ketiga: gaya aksi dan
reaksi dari dua benda memiliki
besar yang sama, dengan arah
terbalik, dan segaris. Artinya jika
ada benda A yang memberi gaya
sebesar F pada benda B, maka
benda B akan memberi gaya
sebesar F kepada benda A. F dan
F memiliki besar yang sama
namun arahnya berbeda. Hukum
ini juga terkenal sebagai hukum
aksi-reaksi, dengan F disebut
sebagai aksi dan F adalah
reaksinya.
Ketiga hukum gerak ini pertama
dirangkum oleh Isaac Newton dalam
karyanya Philosophi Naturalis Principia
Mathematica, pertama kali diterbitkan
pada 5 Juli 1687. Newton menggunakan
karyanya untuk menjelaskan dan meniliti
gerak dari bermacam-macam benda fisik
maupun sistem. Contohnya dalam jilid tiga
dari naskah tersebut, Newton
menunjukkan bahwa dengan
menggabungkan antara hukum gerak
dengan hukum gravitasi umum, ia dapat
menjelaskan hukum pergerakan planet
milik Kepler.
Hukum Newton diterapkan pada benda
yang dianggap sebagai partikel, dalam
evaluasi pergerakan misalnya, panjang
benda tidak dihiraukan, karena obyek yang
dihitung dapat dianggap kecil, relatif
terhadap jarak yang ditempuh. Perubahan
bentuk (deformasi) dan rotasi dari suatu
obyek juga tidak diperhitungkan dalam
analisisnya. Maka sebuah planet dapat
dianggap sebagai suatu titik atau partikel
untuk dianalisa gerakan orbitnya
mengelilingi sebuah bintang.
Dalam bentuk aslinya, hukum gerak
Newton tidaklah cukup untuk menghitung
gerakan dari obyek yang bisa berubah
bentuk (benda tidak padat). Leonard Euler
pada tahun 1750 memperkenalkan
generalisasi hukum gerak Newton untuk
benda padat yang disebut hukum gerak
Euler, yang dalam perkembangannya juga
dapat digunakan untuk benda tidak padat.
Jika setiap benda dapat direpresentasikan
sebagai sekumpulan partikel-partikel yang
berbeda, dan tiap-tiap partikel mengikuti
hukum gerak Newton, maka hukum-
hukum Euler dapat diturunkan dari
hukum-hukum Newton. Hukum Euler
dapat dianggap sebagai aksioma dalam
menjelaskan gerakan dari benda yang
memiliki dimensi.
Ketika kecepatan mendekati kecepatan
cahaya, efek dari relativitas khusus harus
diperhitungkan.
Hukum pertama Newton
Hukum I: Setiap benda akan
mempertahankan keadaan diam atau
bergerak lurus beraturan, kecuali ada
gaya dari luar yang bekerja untuk
mengubahnya.
Hukum ini menyatakan bahwa jika
resultan gaya (jumlah vektor dari semua
gaya yang bekerja pada benda) bernilai
nol, maka kecepatan benda tersebut
konstan. Dirumuskan secara matematis
menjadi:

Artinya :
Sebuah benda yang sedang diam
akan tetap diam kecuali ada
resultan gaya yang tidak nol
bekerja padanya.
Sebuah benda yang sedang
bergerak, tidak akan berubah
kecepatannya kecuali ada resultan
gaya yang tidak nol bekerja
padanya.
Hukum pertama newton adalah penjelasan
kembali dari hukum inersia yang sudah
pernah dideskripsikan oleh Galileo. Dalam
bukunya Newton memberikan
penghargaan pada Galileo untuk hukum
ini. Aristoteles berpendapat bahwa setiap
benda memilik tempat asal di alam
semesta: benda berat seperti batu akan
berada di atas tanah dan benda ringan
seperti asap berada di langit. Bintang-
bintang akan tetap berada di surga. Ia
mengira bahwa sebuah benda sedang
berada pada kondisi alamiahnya jika tidak
bergerak, dan untuk satu benda bergerak
pada garis lurus dengan kecepatan konstan
diperlukan sesuatu dari luar benda tersebut
yang terus mendorongnya, kalau tidak
benda tersebut akan berhenti bergerak.
Tetapi Galileo menyadari bahwa gaya
diperlukan untuk mengubah kecepatan
benda tersebut (percepatan), tapi untuk
mempertahankan kecepatan tidak
diperlukan gaya. Sama dengan hukum
pertama Newton : Tanpa gaya berarti tidak
ada percepatan, maka benda berada pada
kecepatan konstan.

Hukum kedua Newton
Hukum Kedua: Perubahan dari gerak
selalu berbanding lurus terhadap gaya
yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki
arah yang sama dengan garis normal dari
titik singgung gaya dan benda.
Hukum kedua menyatakan bahwa total
gaya pada sebuah partikel sama dengan
banyaknya perubahan momentum linier p
terhadap waktu :

Karena hukumnya hanya berlaku untuk
sistem dengan massa konstan, variabel
massa (sebuah konstan) dapat dikeluarkan
dari operator diferensial dengan
menggunakan aturan diferensiasi. Maka,

Dengan F adalah total gaya yang bekerja,
m adalah massa benda, dan a adalah
percepatan benda. Maka total gaya yang
bekerja pada suatu benda menghasilkan
percepatan yang berbanding lurus.
Massa yang bertambah atau berkurang dari
suatu sistem akan mengakibatkan
perubahan dalam momentum. Perubahan
momentum ini bukanlah akibat dari gaya.
Untuk menghitung sistem dengan massa
yang bisa berubah-ubah, diperlukan
persamaan yang berbeda.
Sesuai dengan hukum pertama, turunan
momentum terhadap waktu tidak nol
ketika terjadi perubahan arah, walaupun
tidak terjadi perubahan besaran.
Contohnya adalah gerak melingkar
beraturan. Hubungan ini juga secara tidak
langsung menyatakan kekekalan
momentum: Ketika resultan gaya yang
bekerja pada benda nol, momentum benda
tersebut konstan. Setiap perubahan gaya
berbanding lurus dengan perubahan
momentum tiap satuan waktu.
Hukum kedua ini perlu perubahan jika
relativitas khusus diperhitungkan, karena
dalam kecepatan sangat tinggi hasil kali
massa dengan kecepatan tidak mendekati
momentum sebenarnya.
Sistem dengan massa berubah
Sistem dengan massa berubah, seperti
roket yang bahan bakarnya digunakan dan
mengeluarkan gas sisa, tidak termasuk
dalam sistem tertutup dan tidak dapat
dihitung dengan hanya mengubah massa
menjadi sebuah fungsi dari waktu di
hukum kedua. Alasannya, seperti yang
tertulis dalam An Introduction to
Mechanics karya Kleppner dan Kolenkow,
adalah bahwa hukum kedua Newton
berlaku terhadap partikel-partikel secara
mendasar. Pada mekanika klasik, partikel
memiliki massa yang konstant. Dalam
kasus partikel-partikel dalam suatu sistem
yang terdefinisikan dengan jelas, hukum
Newton dapat digunakan dengan
menjumlahkan semua partikel dalam
sistem:

dengan F
total
adalah total gaya yang bekerja
pada sistem, M adalah total massa dari
sistem, dan a
pm
adalah percepatan dari
pusat massa sistem.
Sistem dengan massa yang berubah-ubah
seperti roket atau ember yang berlubang
biasanya tidak dapat dihitung seperti
sistem partikel, maka hukum kedua
Newton tidak dapat digunakan langsung.
Persamaan baru digunakan untuk
menyelesaikan soal seperti itu dengan cara
menata ulang hukum kedua dan
menghitung momentum yang dibawa oleh
massa yang masuk atau keluar dari sistem:

dengan u adalah kecepatan dari massa
yang masuk atau keluar relatif terhadap
pusat massa dari obyek utama. Dalam
beberapa konvensi, besar (u dm/dt) di
sebelah kiri persamaan, yang juga disebut
dorongan, didefinisikan sebagai gaya
(gaya yang dikeluarkan oleh suatu benda
sesuai dengan berubahnya massa, seperti
dorongan roket) dan dimasukan dalam
besarnya F. Maka dengan mengubah
definisi percepatan, persamaan tadi
menjadi


Hukum ketiga Newton
Hukum ketiga : Untuk setiap aksi
selalu ada reaksi yang sama besar
dan berlawanan arah: atau gaya
dari dua benda pada satu sama
lain selalu sama besar dan
berlawanan arah.
Hukum ketiga ini menjelaskan bahwa
semua gaya adalah interaksi antara benda-
benda yang berbeda, maka tidak ada gaya
yang bekerja hanya pada satu benda. Jika
benda A mengerjakan gaya pada benda B,
benda B secara bersamaan akan
mengerjakan gaya dengan besar yang sama
pada benda A dan kedua gaya segaris
Benda yang menekan atau menarik benda
lain mengalami tekanan atau tarikan yang
sama dari benda yang ditekan atau ditarik.
Kalau anda menekan sebuah batu dengan
jari anda, jari anda juga ditekan oleh batu.
Jika seekor kuda menarik sebuah batu
dengan menggunakan tali, maka kuda
tersebut juga "tertarik" ke arah batu: untuk
tali yang digunakan, juga akan menarik
sang kuda ke arah batu sebesar ia menarik
sang batu ke arah kuda.
Hukum Ketiga Newton. Para pemain
sepatu luncur es memberikan gaya pada
satu sama-lain dengan besar yang sama
tapi berlawanan arah. Walaupun gaya yang
diberikan sama, percepatan yang terjadi
tidak sama. Peluncur yang massanya lebih
kecil akan mendapat percepatan yang lebih
besar karena hukum kedua Newton. Dua
gaya yang bekerja pada hukum ketiga ini
adalah gaya yang bertipe sama. Misalnya
antara roda dengan jalan sama-sama
memberikan gaya gesek.
Secara sederhananya, sebuah gaya selalu
bekerja pada sepasang benda, dan tidak
pernah hanya pada sebuah benda. Jadi
untuk setiap gaya selalu memiliki dua
ujung. Setiap ujung gaya ini sama kecuali
arahnya yang berlawanan. Atau sebuah
ujung gaya adalah cerminan dari ujung
lainnya.
Secara matematis, hukum ketiga ini berupa
persamaan vektor satu dimensi, yang bisa
dituliskan sebagai berikut. Asumsikan
benda A dan benda B memberikan gaya
terhadap satu sama lain.


Dengan
F
a,b
adalah gaya-gaya yang bekerja
pada A oleh B, dan
F
b,a
adalah gaya-gaya yang bekerja
pada B oleh A.
Newton menggunakan hukum ketiga untuk
menurunkan hukum kekekalan
momentum,
[21]
namun dengan pengamatan
yang lebih dalam, kekekalan momentum
adalah ide yang lebih mendasar
(diturunkan melalui teorema Noether dari
relativitas Galileo dibandingkan hukum
ketiga, dan tetap berlaku pada kasus yang
membuat hukum ketiga newton seakan-
akan tidak berlaku. Misalnya ketika medan
gaya memiliki momentum, dan dalam
mekanika kuantum.
Pentingnya hukum Newton dan jangkauan
validitasnya
Hukum-hukum Newton sudah di verifikasi
dengan eksperimen dan pengamatan
selama lebih dari 200 tahun, dan hukum-
hukum ini adalah pendekatan yang sangat
baik untuk perhitungan dalam skala dan
kecepatan yang dialami oleh manusia
sehari-hari. Hukum gerak Newton dan
hukum gravitasi umum dan kalkulus,
(untuk pertama kalinya) dapat
memfasilitasi penjelasan kuantitatif
tentang berbagai fenomena-fenomena fisis.
Ketiga hukum ini juga merupakan
pendekatan yang baik untuk benda-benda
makroskopis dalam kondisi sehari-hari.
Namun hukum newton (digabungkan
dengan hukum gravitasi umum dan
elektrodinamika klasik) tidak tepat untuk
digunakan dalam kondisi tertentu,
terutama dalam skala yang amat kecil,
kecepatan yang sangat tinggi (dalam
relativitas khususs, faktor Lorentz, massa
diam, dan kecepatan harus diperhitungkan
dalam perumusan momentum) atau medan
gravitasi yang sangat kuat.
Dalam mekanika kuantum konsep seperti
gaya, momentum, dan posisi didefinsikan
oleh operator-operator linier yang
beroperasi dalam kondisi kuantum, pada
kecepatan yang jauh lebih rendah dari
kecepatan cahaya, hukum-hukum Newton
sama tepatnya dengan operator-operator
ini bekerja pada benda-benda klasik. Pada
kecepatan yang mendekati kecepatan
cahaya, hukum kedua tetap berlaku seperti
bentuk aslinya F = dpdt, yang menjelaskan
bahwa gaya adalah turunan dari
momentum suatu benda terhadap waktu,
namun beberapa versi terbaru dari hukum
kedua tidak berlaku pada kecepatan
relativistik.





Jika gaya gesekan pada roda dan trolly
diabaikan maka berlaku persamaan :
a. Bidang mendatar










b. Bidang miring
















Keterangan : = percepatan (ms
-2
)

= massa beban (kg)


= massa trolly (kg)


METODE PENELITIHAN
RANCANGAN ALAT
a. Arah mendatar






b. Arah miring





ALAT DAN BAHAN
1. Neraca ohauss : 1 buah
2. Trolly : 1 buah
3. Beban : 1 set
4. Papan luncur : 1 buah
5. Katrol : 1 buah
6. Meteran : 1 buah
7. Balok kayu : 2 buah
8. Stop watch : 1 buah
9. Benang : 1 buah
VARIABEL VARIABEL
1. Varibel kontrol : massa
trolly, massa katrol. Massa tali, dan
panjang lintasan
2. Variabel manipulasi : beban m2
3. Variabel respon : waktu
tempuh
LANGKAH LANGKAH PERCOBAAN
a. Arah mendatar
Menimbang massa trolly (m
1
)
dengan menggunakan neraca
ohauss, menentukan beban (m
2
).
Kemudian merakit papn luncur,
katrol beban dan trolly. Disusun
sedemikian hingga sehingga (m
2
)
tidak menyentuh lantai pada saat
trolly meluncur. Menentukan
panjang lintasan yaitu 80 cm dan
menahan trolly agar tidak terjatuh.
Kemudian melepaskan trolly dan
secara serentak mengukur waktu
tempuh trolly untuk melintasi jarak
yang telah ditentukan dengan
menggunakan stopwatch.
Mengulangi percobaan tersebut
sebanyak lima kali dengan massa
yang sama. Kemudian
memanipulasi beban (m
2
) sebanyak
lima kali.

b. Arah miring
Menimbang massa trolly (m
1
)
dengan menggunakan neraca
ohauss, menentukan beban (m
2
).
Kemudian merakit papn luncur,
katrol beban dan trolly. Papan
luncur ditahan dengan kayu balok
kecil sehingga terbentuk sudut dan
papan luncur terbentuk badang
miring. Disusun sedemikian hingga
sehingga (m
2
) tidak menyentuh
lantai pada saat trolly meluncur.
Menentukan panjang lintasan yaitu
80 cm dan menahan trolly agar
tidak terjatuh. Kemudian
melepaskan trolly dan secara
serentak mengukur waktu tempuh
trolly untuk melintasi jarak yang
telah ditentukan dengan
menggunakan stopwatch.
Mengulangi percobaan tersebut
sebanyak lima kali dengan massa
yang sama. Kemudian
memanipulasi beban (m
2
) sebanyak
lima kali.

DATA DAN ANALISA
A. Data
B. Analisa
Berdasarkan percobaan yang telah
kami lakukan, maka dapat
ditentukan percepatan pada arah
mendatar dan arah miring dengan
menggunakan persamaan
a. Arah mendatar


No. t (s) a (ms
-2
)
1. 1,91 0,59
2. 1,71 0,63
3. 1,56 0,67
4. 1,54 0,83
5. 1,40 0,97


Angka ketidakpastian
9,5%
Angka kepastian
90,5%

b. Arah miring


No. t (s) a (ms
-2
)
1. 3,28 0,12
2. 3,93 0,16
3. 2,34 0,21
4. 1,94 0,37
5. 1,61 0,52

Angka ketidakpastian
26%
Angka kepastian
74%

DISKUSI
Berdasarkan percobaan yang telah kami
lakukan diperoleh percepatan dengan
metode hukum I, II, III Newton dengan
taraf ketelitian untuk bidang datar 90,5%
dan ketidakpastian 9,5%. Sedangkan untuk
bidang miring 74% dengan ketidakpastian
26%. Terdapat perbedaan yang signifikan
antara nilai yang didapat dari bidang datar
dan bidang miring. Dan hasil yang kami
dapatkan belum bisa dikatakan sempurna.
Hal ini dikarenakan kurangnya ketelitian
kami pada saat menggunakan stopwatch,
untuk budang datar dan bidang miring.
Disamping itu juga karena kurangnya
ketinggian lintasan pada bidang miring
sehingga hasil yang kami dapat belum
maksimal.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan
mengenai hukum newton tentang gerak.
Kami dapat menyimpulkan bahwa
percepatan dapat diperoleh dengan
menggunakan jarak dan waktu tempuh.
Selain itu, juga dapat diperoleh melalui
persamaan hukum newton II yang telah
dikembangkan.
Prinsip gerak lurus berubah beraturan ini
merupakan prinsip dari hukum II newton,
yaitu besarnya resultan gaya pada benda
berbanding lurus dengan percepatan
benda. Namun besarnya resultan gaya
berbanding terbalik degan massa benda.
DAFTAR PUSTAKA
Tim fisika dasar.2010.panduan praktikum
dasar I.Surabaya:Unesa
http://muhammadnuruddino071644036.blo
gspot.com/2010/10/hukum-newtontentang-
garak.html

JAWABAN PERTANYAAN