Anda di halaman 1dari 9

8

EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH


DASAR

Sutrisno Widodo
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya
Kampus Lidah Wetan

Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang
studi/ mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman
yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam
pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap
konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung
dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pelaksanaan
pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang
dilakukan guru bersama peserta didik. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan
wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. Evaluasi pada pembelajaran
terpadu berorientasi pada program, proses, dan produk, dan penyelenggaraannya
dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. Dalam mengevaluasi
proses pembelajaran terpadu, observasi merupakan komponen dasar, dan observasi
terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat, seksama,
agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga
evaluasi dapat dilakukan secara objektif.
Kata Kunci: Pembelajaran terpadu, Model keterhubungan, Model jaring laba-laba dan
Model keterpaduan

1. PENDAHULUAN

Perkembangan anak Sekolah Dasar
cenderung bersifat holistik. Aspek
perkembangan yang satu saling terkait dan
mempengaruhi aspek perkembangan yang lain.
Perkembangan ini merupakan perkembangan
phisik, mental, emosional dan sosial yang tidak
dapat terpisahkan satu dengan lainnya, dan
sifatnya terpadu (holistik), dengan pengalaman
serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya.
Apabila kita cermati bersama proses
pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar
yang terjadi selama ini menunjukkan adanya
kecenderungan yang relatif kuat dalam hal
(Depdikbud. 1996): (1) terjadinya
pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata
pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di
Sekolah Dasar, (2) pembelajaran difokuskan
pada pencapaian dampak pembelajaran/efek
instruksional, (3) sistem evaluasi berorientasi
testing, dan penekanannya pada reproduksi
informasi.
Dari kenyataan tersebut terlihat jelas
terjadinya kontradiksi antara proses
perkembangan anak SD bersifat alamiah,
dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang
dilaksanakan di Sekolah Dasar. J ika hal ini
dibiarkan terus berlanjut, maka dapat
diramalkan akan terjadi dampak negatif
terhadap mutu dan hasil
pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar.
Bertolak dari berbagai gejala tersebut,
maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar
yang ada sekarang ini memulai untuk
mengembangkan kompetensinya dalam
merancang pembelajaran dan merancang
evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang
akan dibelajarkan kepada peserta didiknya.
Evaluasi dalam proses pembelajaran
merupakan aktivitas yang bertujuan untuk
Sutrisno,EvaluasiDalamPembelajaran...
9

mendapatkan informasi berkaitan dengan


kinerja (performance) peserta didik. Hal ini
diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan
sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari
suatu proses pembelajaran, dan juga dapat
dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka
perbaikan kualitas pembelajaran.
Pada pembelajaran terpadu peran
evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran
konvensional pada umumnya. Oleh karena itu
berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam
melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran
baik yang menggunakan pendekatan terpadu
maupun konvensional adalah
sama. Dalam pembelajaran terpadu perhatian
yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi
dampak pengiring (nurturant effects), seperti
halnya dengan kompetensi bekerja sama,
menghargai pendapat orang lain, dan
sebagainya, di samping dampak pembelajaran
(instructional effects).
Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas
evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap
perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan
aktivitas pembelajaran terpadu. Sedangkan dari
segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada
proses maupun produk/ hasil pembelajaran.


2. KONSEP PEMBELAJARAN
TERPADU

Pembelajaran terpadu merupakan
pendekatan belajar mengajar yang melibatkan
beberapa bidang studi/ mata pelajaran.
Pendekatan pembelajaran seperti ini akan
dapat memberikan pengalaman yang bermakna
kepada peserta didik. Pengertian bermakna di
sini karena dalam pembelajaran terpadu
diharapkan peserta didik memperoleh
pemahaman terhadap konsep-konsep yang
mereka pelajari dengan melalui pengalaman-
pengalaman langsung dan menghubungkannya
dengan konsep lain yang sudah mereka
pahami.
Pada dasarnya, pembelajaran terpadu
merupakan suatu sistem pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik baik secara
individual maupun kelompok, aktif mencari,
menggali, dan menemukan konsep serta
prinsip keilmuan secara holistik, bermakna,
dan otentik. Pembelajaran terpadu akan
berlangsung apabila peristiwa-peristiwa otentik
atau eksplorasi topik atau tema menjadi
pengendali di dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema
atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik
belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata
pelajaran secara serempak.
Pandangan lain, pembelajaran terpadu
merupakan pendekatan pembelajaran yang
memperhatikan dan menyesuaikan dengan
tingkat perkembangan peserta didik
(developmentally appropriate practice).
Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran
yang menolak drill sebagai dasar pembentukan
pengetahuan dan struktur intelektual anak.
(Depdikbud, 1998)
Pelaksanaan pendekatan pembelajaran
terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik
yang dipilih atau dikembangkan guru bersama
peserta didik. Tujuan dari tema ini bukan untuk
literasi bidang studi, tetapi konsep-konsep dari
bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana
untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik
atau tema.
Apabila dibandingkan dengan
pendekatan konvensional, pembelajaran
terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta
didik dalam belajar; membuat peserta didik
aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan
pembuatan keputusan. Pendekatan ini lebih
mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan
oleh J ohn Dewey dengan konsep learning by
doing-nya.
Pendekatan pembelajaran terpadu
dapat dipandang sebagai upaya untuk
memperbaiki kualitas (improvement quality)
pendidikan di tingkat dasar, terutama dalam
rangka mengimbangi gejala penjejalan
kurikulum yang sering terjadi dalam proses
pembelajaran di sekolah belakang ini.


3. KARAKTERISTIK DAN
KELEBIHAN SERTA
KETERBATASAN
PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran terpadu sebagai suatu
proses memiliki ciri-ciri: (1) berpusat pada
anak (child centered), (2) memberikan
pengalaman langsung pada anak, (3)
pemisahan antar bidang studi tidak begitu
JurnalTeknologiPendidikan,Vol.10No.1,April2010(815)
10

jelas, (4) menyajikan konsep dari berbagai


bidang studi dalam suatu proses pembelajaran,
(5) bersifat luwes, dan (6) hasil pembelajaran
dapat berkembang sesuai dengan minat dan
kebutuhan peserta didik.
Kelebihan-kelebihan pada
pembelajaran terpadu dibandingkan dengan
pembelajaran konvesional, di antaranya: (1)
pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik
selalu relevan dengan tingkat perkembangan
anak, (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan
dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak,
(3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi
peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat
bertahan lebih lama, (4) pembelajaran terpadu
menumbuh kembangkan keterampilan berfikir
anak, (5) menyajikan kegiatan yang bersifat
pragmatis sesuai dengan permasalahan yang
sering ditemui dalam lingkungan anak, dan (6)
menumbuh kembangkan keterampilan sosial
anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi,
dan respek atau menghargai terhadap gagasan
orang lain.
Dalam pendekatan pembelajaran
terpadu mengandung keterbatasan terutama
dalam pelaksanaannya. Keterbatasan itu
terutama terletak dalam aspek evaluasi yang
lebih banyak menuntut guru untuk melakukan
evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga
terhadap proses. Tidak hanya evaluasi dampak
instruksional (instructional effect), tetapi juga
dan mungkin lebih banyak dampak pengiring
(nurturant effect). Pembelajaran terpadu
memang menghendaki teknnik evaluasi yang
lebih beragam dibanding dengan pembelajaran
biasa.
Bertolak dari hal-hal tersebut, maka
sebelum mendesain pembelajaran terpadu
hendaknya para guru mengumpulkan,
menyusun, dan memahami standar kompetensi
maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang
studi dalam satu semester, kemudian
dilanjutkan dengan proses pendesainan/
perancangan pembelajaran terpadu.


4. MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN TERPADU
YANG DISARANKAN DI SD

Model Keterhubungan (Connected
models). Model keterhubungan adalah model
pembelajaran terpadu secara sengaja
diusahakan untuk menghubungkan satu konsep
dengan konsep lain, satu topik dengan topik
lain, satu keterampilan dengan keterampilan
lain, tugas-tugas yang dilakukan dalam satu
hari dengan tugas-tugas yang dilakukan pada
hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari
pada satu semester dengan ide-ide yang akan
dipelajari pada semester berikutnya.
(Fogarty,1991). Misalnya, guru secara sengaja
memadukan antara subtema kebersihan,
keadilan, dan kerukunan yang ada pada mata
pelajaran Pkn semester II pada kelas II.
Beberapa kelebihan model
keterhubungan adalah sebagai berikut: (1)
dampak positif dari mengkaitkan ide-ide
dalam satu bidang studi adalah peserta didik
memperoleh gambaran yang luas sebagaimana
suatu bidang studi yang terfokus pada suatu
aspek tertentu, (2) peserta didik
mengembangkan konsep-konsep kunci secara
terus menerus, sehingga terjadilah proses
internalisasi, (3) menghubungkan ide-ide
dalam suatu bidang studi memungkinkan
peserta didik mengkaji, mengkonseptualisasi,
memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide
secara terus-menerus sehingga memudahkan
terjadinya proses transfer ide-ide dalam
memecahkan masalah.
Kekurangan dari model keterhubungan
ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya
antar bidang studi, (2) tidak mendorong guru
untuk bekerja secara tim, sehingga isi pelajaran
tetap terfokus tanpa merentangkan kosep-
konsep serta ide-ide antar bidang studi, (3)
dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang
studi, maka usaha untuk mengembangkan
keterhubungan antar bidang studi menjadi
terabaikan
Model Jaring Laba-Laba (Webbed
models). Model ini merupakan model
pembelajaran terpadu yang menggunakan
pendekatan tematik (Fogarty, 1991).
Pendekatan ini dimulai dengan menentukan
tema tertentu, misalnya transportasi. Tema
bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru
dan peserta didik, sub-subtemanya dengan
memperhatikan kaitannya dengan bidang-
bidang studi. Dari sub-subtema ini
dikembangkan aktivitas belajar yang harus
dilakukan peserta didik.
Beberapa kelebihan model J aring
Laba-Laba, yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai
Sutrisno,EvaluasiDalamPembelajaran...
11

dengan minat akan memotivasi anak untuk


belajar, (2) model J aring Laba-Laba lebih
mudah dilakukan oleh guru yang belum
berpengalaman, (3) memudahkan perancangan,
(4) pendekatan tematik dapat memotivasi
peserta didik, (5) memberikan kemudahan bagi
peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan
dan ide-ide berbeda yang terkait,
Model J aring Laba-laba mempunyai
kelemahan, antara lain: (1) sulitnya menyeleksi
tema, (2) karena sulitnya menyeleksi tema,
maka ada kecenderungan untuk merumuskan
tema yang dangkal, (3) dalam proses
pembelajaran, guru lebih memusatkan
perhatian pada kegiatan dari pada
pengembangan konsep.
Model Keterpaduan (Integrated
models). Model ini merupakan pembelajaran
terpadu yang menggunakan pendekatan antar
bidang studi. Model ini diusahakan dengan
cara menggabungkan bidang studi dengan cara
menetapkan prioritas kurikuler dan
menemukan keterampilan, konsep, dan sikap
yang saling tumpang tindih/ overlapping di
dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991).
Berbeda dengan model J aring Laba-laba yang
menuntut pemilihan tema dan
pengembangannya sebagai langkah awal, maka
dalam model keterpaduan tema yang berkaitan
dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir
yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam
tahap perencanaan program. Pertama guru
menyeleksi konsep-konsep, keterampilan, dan
sikap yang diajarkan dalam satu semester dari
beberapa bidang studi (IPA, Matematika, IPS,
dan Bahasa). Selanjutnya dipilih beberapa
konsep, keterampilan, dan sikap yang memiliki
keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di
antara berbagai bidang studi.
Model Keterpaduan ini mempunyai
beberapa kelebihan, antara lain: (1)
dimungkinkan pemahaman antar bidang studi,
(2) memotivasi peserta didik dalam belajar, (3)
guru tidak perlu mengulang kembali materi
yang tumpang tindih, sehingga tercapailah
efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
Sedangkan beberapa kelemahan dari
model keterpaduan ini, antara lain: (1) sulitnya
menerapkannya secara penuh, (2) guru harus
menguasai konsep, sikap, dan keterampilan
yang diprioritaskan, (3) model ini memerlukan
tim antar bidang studi, baik dalam
perencanaannya maupun pelaksanaannya, (4)
pengintegrasian kurikulum dengan konsep-
konsep dari masing-masing bidang studi
menuntut adanya sumber belajar yang
beraneka ragam.


5. KONSEP EVALUASI
PEMBELAJARAN TERPADU

Evaluasi pembelajaran terpadu dapat
diartikan sebagai evaluasi yang berupaya
mencari informasi tentang pencapaian
pengetahuan dan pemahaman peserta didik,
pengembangan skill, dan pengembangan sosial
dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan
asesmen alternatif dan cara formal. Untuk
menemukan asesmen alternatif didasarkan
pada prinsip-prinsip sebagai berikut: (1)
evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja
sehingga selain memanfaatkan penilaian
produk, penilaian terhadap proses, perlu
mendapat perhatian yang besar, (2) pada setiap
langkah evaluasi hendaknya peserta didik
dilibatkan, (3) evaluasi hendaknya
memberikan perhatian pula pada refleksi diri
peserta didik (self reflection), (4) karena
penilaian perlu memdapatkan perhatian yang
besar portfolio asessment hendaknya
dimanfaatkan, (5) dalam pelaksanaan penilaian
umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesar-
besarnya untuk pengembangan peserta didik
yang bersifat invidual dan sosial, (6) evaluasi
pembelajaran terpadu hendaknya
mengutamakan Penilaian Acuan
Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma
(PAN), (7) lebih memberikan perhatian yang
lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan
kerja sama, tenggang rasa, saling tergantung
dan lain-lain), (8) perlu memandang peserta
didik itu adalah suatu keutuhan yang tak
terpisahkan (holistik), (9) evaluasi dilihat
sebagai proses yang terus menerus dan multi
dimensional, (10) evaluasi harus bersfat
komprehensif (menggambarkan keseluruhan
aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan
kestuan informasi bukan penggalan informasi).
Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan
evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap
perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan
kegiatan pembelajaran terpadu. Sedangkan dari
segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada
proses maupun produk/hasil pembelajaran.
JurnalTeknologiPendidikan,Vol.10No.1,April2010(815)
12


6. SASARAN EVALUASI

Evaluasi pembelajaran terpadu
mencakup proses dan produk dengan sasaran
peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap
program. Evaluasi proses terhadap peserta
didik sebagai pembelajar meliputi: (1)
perkembangan konseptual anak, (2) tingkat
kemampuan menghadapi tantangan, (3)
interaksi peserta didik dengan anak lainnya, (4)
kemampuan peserta didik berkomunikasi, (5)
kerasionalan argumentasi, (6) kerjasama dan
kekompakan serta produktivitas kegiatan
kelompok, (7) partisipasi anak dalam diskusi
kelompok, (8) penggunaan bahasa dengan baik
dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta
didik.
Evaluasi proses terhadap guru
mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri;
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajar, (2) pendekatan dan metode yang
digunakan, (3) materi pembelajaran yang
mencakup; pemilihan tema, topik, dan unit, (4)
kelengkapan pembelajaran yang disediakan
guru.
Evaluasi terhadap produk kegiatan
terhadap peserta didik dilakukan melalui; (1)
laporan, (2) gambar, diagram, grafik, dan lain-
lain, (3) rekaman, video dan kaset. Evaluasi
terhadap guru dilakukan melalui; (1) daftar cek
yang dilakukan oleh rekan / kolega guru
lainnya terhadap strategi dan pengelolaan
pembelajaran lainnya, (2) masukan dari peserta
didik, orang tua dan rekan guru lainnya.
Evaluasi program mencakup; (1)
catatan anekdot/file card, (2) analisis kesalahan
peserta didik, (3) rubrik, (4) konferensi guru-
siswa, (5) diskusi peergroup, (6)
perkembangan peserta didik, kemampuan
menyajikan pokok pikiran, menarik
kesimpulan yang rasional, (7) masukan orang
tua.
Evaluasi dengan menggunakan
portofolio. Hasil-hasil evaluasi proses, produk,
dan program dapat didokumentasikan dalam
suatu portofolio. Portofolio ini dapat dijadikan
salah satu masukan bagi guru untuk
memutuskan atau menetapkan nilai atau grade
setiap peserta didik.


7. TAHAP-TAHAP EVALUASI
PEMBELAJARAN TERPADU

Pada tahap pertama perencanaan.
Tahap ini kegiatan- kegiatan mencakup; (1)
merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin
dicapai melalui kegiatan evaluasi ini, baik
tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun
guru, (2) menentukan kriteria keberhasilan
yang ingin dicapai, baik oleh guru maupun
peserta didik, (3) menentukan teknik dan alat
ukur atau instrumen yang akan digunakan
dalam proses evaluasi.
Tahap ke dua, pelaksanaan. Dalam
tahap proses pelaksanaan ini harus disadari
bahwa; (1) evaluasi berlangsung sejak awal
sampai dengan akhir proses pembelajaran, (2)
evaluasi harus dilihat sebagai proses yang
berkelanjutan, lebih dari sekedar salah satu
aspek belajar yang harus dicapai sebagai
bagian suatu program, (3) evaluasi dapat
diarahkan pada proses maupun produk serta
program.
Tahap ke tiga, Penyusunan dan
Penyajian Laporan. Laporan hasil penilaian
disusun dengan jalan memperhitungkan dan
mempertimbangkan seluruh informasi yang
terkumpul dan pengolahannya. Penyusunan
laporan ini dilakukan secara logis, sistematis,
dan komprehensif dan diakhiri dengan
sejumlah rekomendasi dan saran-saran.
Tahap terakhir, Tindal-lanjut. Hasil
pengolahan informasi dan saran-saran
ditindak-lanjuti secara operasional. Perlu
dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan
akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir
kegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan
secara terus menerus, umpan balik
dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan
pembelajaran.


8. CAKUPAN EVALUASI
PEMBELAJARAN TERPADU DI
SEKOLAH DASAR

Cakupan evaluasi pembelajaran
terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai
berikut:

Sutrisno,EvaluasiDalamPembelajaran...
13

Tahapan
sasaran
Perencanaan Pelaksanaan
Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam
menentukan tema-tema terkait.
Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta
didik.
Hasil Bagaimana reaksi pesert didik terhadap
rencana yang telah disusun.
Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik?
=aspek kognisi/intelektual.
=aspek sosial
=aspek etis
=aspek pribadi dan sebagainya, sebagai dampak instruksional maupun
dampak pengiring.
=aspek lain,

Mencermati cakupan evaluasi
pembelajaran terpadu seperti pada matrik di
atas, maka evaluasi pembelajaran terpadu
bersifat multi dimensional, berlangsung dalam
konteks yang alami, kolaboratif, dan
berorientasi pada perkembangan intelektual
peserta didik serta lingkungan budayanya.
Pada pembelajaran terpadu penekanan
evaluasi terletak pada proses maupun hasil.
Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran
evaluasi banyak variasinya, maka diperlukan
teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula.
Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan
langsung yang bersifat informal sampai kepada
tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel.


9. METODE EVALUASI DALAM
PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat beberapa metode evaluasi
yang dapat digunakan dalam mengevaluasi
proses dan hasil pada pembelajaran terpadu
(Depdikbud, 1996), berikut ini.
Observasi dan Dokumentasi. Dengan
bekerja sama dengan peserta didik, guru dapat
melakukan observasi pada saat itu. Dari sini
kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian
integral dari interaksi sosial. Dalam kegiatan
ini guru berusaha memahami tugas maupun
situasi dari sudut pandang peserta didik, dan
sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada
diri anak.
Observasi dan dokumentasi berkala
dapat juga dilakukan dengan cara guru
merekam catatan kejadian di kelas, misalnya
untuk satu unit tema atau beberapa unit tema
selama satu periode satu tahun, satu semester.
Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang
sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan
bermakna selama proses pembelajaran
berlangsung di kelas. Catatan ini dapat juga
dilengkapi dengan hasil rekaman guru pada
lembaran pengamatan, misalnya untuk
kelompok kecil.
Dialog Peserta Didik dengan Guru.
Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus,
seperti halnya dalam mata pelajaran
matematika atau IPS. Dialog peserta didik dan
guru dapat pula dilakukan dalam kelompok
kecil dan direkam secara penuh. Dalam hal ini
peserta didik dapat diberi tugas untuk
merangkum hasil diskusi tersebut.
Evaluasi Diri Peserta Didik-Guru.
Dalam melakukan evaluasi pembelajaran
terpadu, evaluasi diri juga dapat dipakai.
Peserta didik dapat menyusun sendiri
pertanyaan atau butir soal dan kemudian
menjawabnya sendiri. Selanjutnya guru dapat
juga melakukan evaluasi diri untuk perbaikan
dalam perencanaan maupun pelaksanaan
pembelajaran.
Tes dan Ujian. Pada pembelajaran
terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik
untuk satu tema pembelajaran maupun untuk
beberapa tema. Perlu juga diketahui bahwa tes
formal tidak / belum memberikan informasi
yang cukup tentang bagaimana seorang peserta
didik sebagai individu berpikir dan memproses
konsep-konsep, bagaimana mereka dalam
menggunakan kemampuan intelektualnya.
Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain
yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan
pemecahannya. Dalam pemaparan ini dapat
ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata
yang tepat, sistematika penyajian dan
pengetahuan lain untuk memecahkan masalah
tersebut.
Pengamatan Orang tua. Keterlibatan
orangtua dianggap amat positif untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Karena itu masukan dari orangtua akan dapat
membantu menghapus penafsiran yang keliru
dari pihak guru dan peserta didik.
JurnalTeknologiPendidikan,Vol.10No.1,April2010(815)
14

Penyelenggaraan pengamatan oleh


orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua
berorientasi dalam kaitan kemajuan dan
kekurangan anak/ pesrta didik yang
bersangkutan. Sekaligus memungkinkan
interaksi antara guru dengan peserta didik.
Dalam kelas pembelajaran terpadu
peserta didik asyik sibuk, aktif, dan terlibat.
Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi
peserta didik, dan selalu membuat catatan;
kemudian akan dianalisis. Hasil analisis ini
dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/
masukan dalam menilai proses pembelajaran
terpadu.


10. ALAT EVALUASI DALAM
PEMBELAJARAN TERPADU

Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari
dua macam yaitu tes dan non-tes. Dalam
pembelajaran terpadu, untuk melakukan
evaluasi proses digunakan alat evaluasi non-
tes. Kegiatan penting dalam proses
pembelajaran terpadu adalah observasi untuk
pengungkapan perilaku/ unjuk kerja non-
verbal.
Observasi yang cermat terhadap
kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan
tugas dan bagaimana mereka saling
berinteraksi memberikan data pada guru dalam
rangka membantu perencanaan kurikulum dan
mengevaluasi perkembangan peserta didik
(Charbonneau & Reider, 1995). dalam hal ini
observasi merupakan komponen dasar dalam
evaluasi pembelajaran terpadu. Berikut ini
disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek
dan skala penilaian/penilaian berskala
pelaksanaan pembelajaran terpadu.


Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial

Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang
Intelektual:
- Keterbukaan
- Kreativitas
- Rasa ingin tahu
Sosial:
- Kemampuan kerja sama
- Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri
- Kepedulian terhadap orang lain
- Kepedulian lingkungan
- Kepercayaan diri

(Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu, 1996)

Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu

Pelaksanaan Kegiatan
Nama (kelompok/individu) : --------------------------------------

Aspek Yang Dinilai
Skor
Keterangan
1 2 3 4
A. Ketaatan kepada perencanaan
a. pemberian informasi
b. penggunaan sumber
c. penggunaan bahan dan alat
d. penggunaan waktu
B. Pengelolaan Kelas:
a. antusiasme
b. memotivasi kerja kelompok
c. memotivasi indivdu
C. Keberanian
a. stimultanius
b. bertindak
c. berkomunikasi
D. Proses Pembelajaran

Sutrisno,EvaluasiDalamPembelajaran...
15

a. kejelasan
b. perhatian siswa
c. partisipasi siswa
d. kreativitas siswa
e. interaksi
f. kerja sama antar siswa
E. Produk/ Hasil*)

*) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai.
(Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu, 1996)


11. KESIMPULAN

Berdasarkan pada uraian di atas, ada
beberapa kesimpulan yang dapat dipetik, yaitu;
a. Pembelajaran terpadu merupakan
pendekatan pembelajaran yang
melibatkan beberpa bidang studi dan
bertujuan untuk memberikan
pengalaman bermakna kepada peserta
didik, dan berorientasi pada proses
pembelajaran yang disesuaikan dengan
perkembangan peserta didik.
b. Pelaksanaan pembelajaran terpadu
diawali dari pemilihan dan
pengembangan topik atau tema yang
dilakukan guru bersama peserta didik.
Konsep-konsep dari bidang studi
terkait dijadikan wahana pembelajaran
dan penjelajahan topik atau tema,
c. Evaluasi pada pembelajaran terpadu
berorientasi pada program, proses,
dan produk, dan penyelenggaraannya
dilakukan dengan menggunakan alat
evaluasi tes dan non-tes.,
d. Dalam mengevaluasi proses
pembelajaran terpadu, observasi
















merupakan komponen dasar, dan observasi
terhadap kegiatan pembelajaran terpadu
seyogyanya dilakukan dengan cermat,
seksama, agar data dan informasi proses
pelaksanaannya dapat terekam dangan
sempurna sehingga evaluasi dapat
dilakukan secara objektif .


DAFTAR PUSTAKA

Charboneau, Manon P. & Reider, Barbara E.
1995. The Integrated Elementary
Classroom. London, Tokyo: Allyn and
Bacon
Depdikbud. 1996. Materi Pokok
pembelajaran Terpadu PGSD. J akarta:
BP3GSD.
Fogarty. R. 1991. How To Integrate The
Curricula. Palatine, I llonis: IRI/
Skylight Publishing, Inc.
IGK. Wardani, 2000. Materi Pokok
Pembelajaran Terpadu PGSD. J akarta,
Penerbit: Universitas Terbuka.

16

Anda mungkin juga menyukai