Anda di halaman 1dari 7

HERBERT SPENCER Riwayat Hidup dan Pokok-Pokok Pikiran | Herbert Spencer adalah seorang

filsuf, sosiolog pengikut aliran sosiologi organis, dan ilmuwan pada era Victorian yang juga
mempunyai kemampuan di bidang mesin. Pemuda Spencer pada usia 17 tahun diterima kerja di
bagian mesin untuk perusahaan kereta api London dan Birmingham. Kariernya bagus sehingga
dipercaya sebagai wakil kepala bagian mesin. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan
kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu
terkenal.
Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta
mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang. Spencer adalah
seorang pembaca yang luar biasa, kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai
masyarakat di manapun di dunia ini, dan penulis yang produktif. Ia mengembangkan sistem filsafat
dengan aspek-aspek utiliter dan evolusioner. Spencer membangun utiliterisme jeremy Bentham.
Spencerlah yang menggunakan istilah Survival of the Fittest pertama kali dalam karyanya Social
Static (1850) yang kemudian dipopulerkan oleh Charles Darwin. Spencer selain menerbitkan buku
lepas, juga menerbitkan buku dan artikel berseri. Beberapa diantaranya adalah Programme of a
System of Synthetic Philosophy (1862-1896) yang meliputi biologi, psikologi, dan etika.
Spencer mempopulerkan konsep yang kuatlah yang akan menang (Survival of the fittest) terhadap
masyarakat. Pandangan Spencer ini kemudian dikenal sebagai Darwinisme sosial dan banyak dianut
oleh golongan kaya (Paul B Horton dan Chester L. Hunt, Jilid 2 1989: 208).
Terbitnya buku Principles of Sociology karya Herbert Spencer yang berisi pengembangan suatu
sistematika penelitian masyarakat telah menjadikan sosiologi menjadi populer di masyarakat dan
berkembang pesat. Sosiologi berkembang pesat pada abad 20, terutama di Perancis, Jerman, dan
Amerika
Pandangan Herbert Spencer tentang Sosiologi
Spencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang
konkret. Tindakan ini kemudian diikuti oleh para sosiolog sesudahnya, baik secara sadar atau tidak
sadar.
Spencer memperkenalkan pendekatan baru sosiologi yaitu merekonsiliasi antara ilmu pengetahuan
dengan agama dalam bukunya First Prinsciple. Dalam bukunya ini Spencer membedakan fenomena
tersebut dalam 2 fenomena yaitu fenomena yang dapat diketahui dan fenomena yang tidak dapat
diketahui. Di sini Spencer kemudian mencoba menjembatani antara ilham dengan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya Spencer memulai dengan 3 garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran
universal, yaitu adanya materi yang tidak dapat dirusak, adanya kesinambungan gerak, dan adanya
tenaga dan kekuatan yang terus menerus.
Di samping tiga kebenaran universal tersebut di atas, menurut Spencer ada 4 dalil yang berasal dari
kebenaran universal, yaitu kesatuan hukum dan kesinambungan, transformasi, bergerak sepanjang
garis, dan ada sesuatu irama dari gerakan.
Spencer lebih lanjut mengatakan bahwa harus ada hukum yang dapat menguasai kombinasi antara
faktor-faktor yang berbeda di dalam proses evolusioner. Sedang sistem evolusi umum yang pokok
menurut Spencer seperti yang dikutip Siahaan, ada 4 yaitu ketidakstabilan yang homogen,
berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam ratio geometris, kecenderungan terhadap adanya
bagian-bagian yang berbeda-beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokan atau
segregasi, dan adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbangan akhir.
Spencer memandang sosiologi sebagai suatu studi evolusi di dalam bentuknya yang paling kompleks.
Di dalam karyanya, Prinsip-prinsip Sosiologi, Spencer membagi pandangan sosiologinya menjadi 3
bagian yaitu faktor-faktor ekstrinsik asli, faktor intrinsik asli, faktor asal muasal seperti modifikasi
masyarakat, bahasa, pengetahuan, kebiasaan, hukum dan lembaga-lembaga.
Giddings pada tahun 1890 meringkas ajaran sistem sosial yang telah disepakati oleh Spencer sendiri
adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat adalah organisme atau superorganis yang hidup berpencar-pencar.
2. Antara masyarakat dan badan-badan yang ada di sekitarnya ada suatu equilibrasi tenaga agar
kekuatannya seimbang.
3. Konflik menjadi suatu kegiatan masyarakat yang sudah lazim.
4. Rasa takut mati dalam perjuangan menjadi pangkal kontrol terhadap agama.
5. Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dan agama menjadi
militerisme.
6. Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial kecil menjadi kelompok sosial lebih besar
dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial.
7. Kebiasaan berdamai dan rasa kegotongroyongan membentuk sifat, tingkah laku serta organisasi
sosial yang suka hidup tenteram dan penuh rasa setia kawan.
Teori Herbert Spencer tenang Evolusi Masyarakat, Etika, dan Politik
Evolusi secara umum adalah serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan, kumulatif, terjadi dengan
sendirinya, dan memerlukan waktu lama. Sedang evolusi dalam masyarakat adalah serentetan
perubahan yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan
keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Perspektif evolusioner adalah perspektif teoretis paling awal dalam sosiologi. Perspektif evolusioner
pada umumnya berdasarkan pada karya August Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-
1903).
Menurut Spencer, pribadi mempunyai kedudukan yang dominan terhadap masyarakat. Secara generik
perubahan alamiah di dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat sekitarnya. Kumpulan
pribadi dalam kelompok/masyarakat merupakan faktor penentu bagi terjadinya proses
kemasyarakatan yang pada hakikatnya merupakan struktur sosial dalam menentukan kualifikasi.
Spencer menempatkan individu pada derajat otonomi tertentu dan masyarakat sebagai benda
material yang tunduk pada hukum umum/universal evolusi. Masyarakat mempunyai hubungan fisik
dengan lingkungan yang mengakomodasi dalam bentuk tertentu dalam masyarakat.
Darwinisme sosial populer setelah Charles Darwin menerbitkan buku Origin of Species (1859), 9 tahun
setelah Spencer memperkenalkan teori evolusi universalnya. Ia memandang evolusi sosial sebagai
serangkaian tingkatan yang harus dilalui oleh semua masyarakat yang bergerak dari tingkat yang
sederhana ke tingkat yang lebih rumit dan dari tingkat homogen ke tingkat heterogen.
Semua teori evolusioner menilai bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui oleh semua
masyarakat. Perubahan sosial ditentukan dari dalam (endogen). Evolusi terjadi pada tingkat organis,
anorganis, dan superorganis.
Evolusi pada sosiologi mempunyai arti optimis yaitu tumbuh menuju keadaan yang sempurna,
kemajuan, perbaikan, kemudahan untuk perbaikan hidupnya. Pandangan-pandangan sosiologi
Spencer sangat dipengaruhi oleh pesatnya kemajuan ilmu biologi, terutama beberapa ahli biologi
berikut ini dan pandangannya:
1. Pelajaran tentang sifat keturunan (descension) Lamarck (1909).
2. Teori seleksi dari Darwin (1859).
3. Teori tentang penemuan sel.
Membandingkan masyarakat dengan organisme, Spencer mengelaborasi ide besarnya secara detil
pada semua masyarakat sebelum dan sesudahnya. Spencer menitikberatkan pada 3 kecenderungan
perkembangan masyarakat dan organisme:
1. pertumbuhan dalam ukurannya,
2. meningkatnya kompleksitas struktur, dan
3. diferensiasi fungsi.
Teori tentang evolusi dapat dikategorikan ke dalam 3 kategori yaitu:
1. Unilinear theories of evolution.
2. Universal theory of evolution.
3. Multilined theories of evolution.
Spencer telah menggabungkan secara konsisten tentang etika, moral dan pekerjaan, terutama dalam
bukunya The Principles of Ethics (1897/1898). Isu pokoknya adalah apakah etika dan politik
menguntungkan atau merugikan sosiologi. Idenya adalah untuk memperluas metodologi individunya
dan memfokuskan diri pada fernomena level makro berdasarkan pada fenomena individu sebagai unit.
Karakteristik orang dalam asosiasi negara diperoleh dari yang melekat pada tubuh, hukum, dan
lingkungannya. Kedekatan individu adalah pada moral sosial dan yang lebih jauh adalah ketuhanan.
Oleh karena itu orang melihat moral sebagai jalan hidup kebenaran yang hebat.


A. THORSTEIN BUNDE VEBLEN [ 1857-1929 ]

Sementara aliran sejarah di kembangkan di jerman,di daratan amerika serikat pada tahun 20-an muncul aliran
pemikiran ekonomi lain yang di sebut aliran institusional.ada sedikit persamaan antara aliran institusional
dengan aliran sejarah,sebab keduanya sama-sama menolak metode klasik. Akan tetapi dasar falsafah dan
kesimpulan-kesimpulan politik kedua aliran tersebut berbeda. Aliran institusional menolak ide eksperimentasi
sebagaimana yang di anut aliran sejarah. Begitu juga pusat perhatian aliran institusional terhadap masalah-
masalah ekonomi dalam kehidupan masyarakat juga berbeda.
Jika ada yang pling berpengaruh dan mempunyai peran dominan terhadap keberadaan aliran institusional ini maka
tidak ragu lagi orang akan menunjukthorstein bunde veblen {1857-1929. veblen pada intinya mengkriitik teori-teori
yang di gunakan kaum klasik dan neo-klasik yang model-model teoritis dan matematisnya di nilai biasa dan
cenderung terlalu menyederhanakan fenomena-fenomena ekonomi. Pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neo-
klasik juga di kritiknya karena di anggap mengabaikan aspek-aspek non ekonomi sepertikelembagaan dan
lingkungan.
Padahal veblen menilai pengaruh nilai dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat.
Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat memblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi.
Pola pemikiran veblen sangat berbeda dari pola pemikiran pakar-pakar ekonomi yang lain [kecuali spencer,tokoh
idolanya]. Bagi veblen masyarakat adalah suatu kompleksitas dimana tiap orang hidup,dan tiap orang di
pengaruhiserta ikut mempengaruhi pandangan serta prilaku orang lain. Dari penelitian dan pengamatanya ia
menyimpulkan bahwa prilaku masyarakat berubah dari tahun ke tahun.
Penelitian tentang perubahan prilaku dilakukan dengan pendekatan metode induksi. Dengan metode induksi ia
dapat menjelaskan prilaku masa lalu dan sekarang, di samping bias juga meramal atau meperkirakan prilaku masa
yang akan datang.
Bagi veblen masyarakat merupakan suatu fenomena evolusi,dimana segala sesuatunya terus menerus mengalami
perubahan. Pola prilaku seseorang dalam masyarakat di sesuaikan dengan kondisi sosial sekarang. Jika prilaku
tersebut cocok dan diterima, maka prilaku akan di sesuikan dengan lingkungan. Keadaan dan lingkungan inilah
yang di sebut veblen institusi. Dalam hal ini hendaknya jelas bahwa yang di maksudkan veblen dengan institusi
bukan institusi atau kelembagaan dalam artian fisik, melainkan dalam artian yang terkait dengan nilai-nilai,norma-
norma,kebiasaan serta budaya,yang semuanya di terefleksikan dalam kegiatan ekonomi,baik dalam beproduksi
maupun mengkonsumsi.
Dalam berproduksi akan keliatan bagaimmana nilai-nilai dan norma-norma serta kebiasaan yang di anut dalam
mengejar tujuan akhir dari kegiataan produksi ,yaitu keuntungan. Ada keuntungan yang di peroleh melalui kerja
keras dan ada pula yang di peroleh dengan trik-trik licik dengan menggunakan segala macam cara
tampamemperdulikan orang lain. Begitu juga dalam perilaku konsumsi ada prilaku konsumsi yang wajar, yaitu ingin
memperoleh manfaat atau utilitas yang sebesar-besarnya dari tiap barang yang di konsumsinya, dan ada pula yang
tidak wajar kalau konsumsi di tujukan hanya untuk pamer,yang oleh veblen disebutconspicuous consumption.
Landasan pemikiran seperti di jelaskan di atas jelas bukan pemikiran ekonomi, melainkan lebih mengarah ke
sosiologi. Tetapi kalau di gabung, ia akan menjadi pemikiran ekonomi aliran institusioanal atau aliran
kelembagaan [ institutional economics].
B. THORSTEIN BUNDE VEBLEN [ 1857-1929 ]
Veblen adalah anak dari seorang petani miskin yang melakukan imigrasi dari norwegia ke amerika. Dalam keluarga
petani miskin ini,termasuk di dalamnya veblen, ada sembilan orang bersaudara. Agaknya latar belakang kehidupan
yang serba kekurangan inilah yang menjadi pangkal tolak mengapa di dalam kehidupanya ia seing bersikap
getir,skeptis,dan bahkan ada yang menilainya sebagai seorang fasis.
Gelar yang di berikan kepada veblen sangat banyak. Selain gelar-gelar diatas ia juga sering di gelari sebagai
seorang maverick, yang kira-kira bisa di artikan dengan orang yang sukalain dari yang lain. Gelar ini biasa di
berikan pada orang yang selalu berpijak pada pemikiran sendiri tampa peduli dengan pemikiran-pemikiran umum
yang di anggap lumrah [ maverick = person who dissent from the ideas of an organized group ].
Sebagai seorang maverick yang selalu ingin tampil beda,ia tidak pernah menghargai pendapat orang lain. Selalu
teguh pada pendapat sendiri,walau pendapat tersebut mungkin bertentangan dengan pendapat yang di anggap
lumrahatau benarwaktu itu.
Gela lain yang di berikan pada veblen adalah iconoclast, yaitu orang yang suka menyerang dan ingin menjatuhkan
ide-ide atau gagasan-gagasan orang-orang atau institu tradisional yang di terima secara umum [ iconoclast = one
who attacks and seeks to overthrow traditional or popular ideas or institutions ]. Sebagai seorang iconoclast ia tak
pernah segan dan tak pernah ragumenentang pendapat para establishment.
Gelar radikal juga cocok untuk veblen,sebab ia sering atau bahkan terus menerus mempermasalahkan inti
kebenaran dari kata susunan masyarakat. Sebagaimana akan di jelaskan nanti,salah stu hal yang sering di
permasalahkanya ialah kebenaran tesis neo-klasik tentang konsep utilitas marjinal [marginal utility ]dan asumsi
tingkah laku konsumen rasional.
Dengan gelar-gelar sebagaimana di sebutkan di atas veblen sering di perbandingkan dengan kalr mark, tokoh
sosialis/marxis yang juga mempunyai kemampuan intelektual yang luar biasa dan sama-sama sering melawan arus
serta revolusioner. Bahkan latar belakang pendidikan diantara keduanya mempunyai kemiripan, yaitu sama-sama
mempunyai latar belakang pendidikan yang luas di bidang sosiologi, politik,falsafah, dan antropologi di samping
ekonomi.
Pendidikan awal yang di tempuh veblen adalah bidang filsafat,yang di ambilnya di johns hopskins university dan
yale university. Kemudian ia memperdalam ekonomi di cornel university. Walaupun ia seorang yang brilian,tetapi
anehnya jabatanya sebagai dosen tidak pernah lebih tinggi dari pembantu professor,baik waktu ia mengajar di
Chicago,Stanford,maupun Missouri. Ada yang menganggap hal itu karena ia tidak terlalu tertarik untuk
mengajar,dan ada pula yang menghubungkanya dengan pribadinya yang termasuk tipe orag yang sulit bergaul.
Bagaimana gambaran dari seorang veblen yang mempunyai pribadi yang sulit ini dapat kita liat sebagai
berikut.karena namanya sangat terkenal pada waktu pendaftaran mahasiswa,mahasisiwa berbondong-bondong
mengambil mata kuliah yang di ajarkanya. Tetapi yang di temui mahasiswa adalah seorang eksentrik yang selalu
menggerutu. Pada haripertama kuliah,ia menghabiskan seluruh papan tulis membuat daftar bacaan yang harus di
kuasai mahasiswa,dan akan diuji minggu depanya. Tentu saja ini membuat mahasiswa ngeri. Sebagai
akibatnya,ruang kliahnya makin lama makin sepi,dan pada akhir semester hanya tinggal beberapa mahasiswa saja.
Sebagai dosen killer ia tidak pernah memberi nilai di atas C, yang membuat ruang kuliahnya makin di jauhi
mahasiswa.
Dari buku-buku yang di tulisnya telah membuat veblen tlah menjadi sangat terkenal. Karya tulisannya yang
tajam,dengan analisis yang langsung menukik pada persoalan, membuat di hargai oleh rekan-rekan seprofesi.
Beberapa buku yang di tulisnya seperti : the theory of lesure class[1899],the theory of business enterprise
[1904],the instinct of workmanship and the state of the industrial art : [terbit tahun 1914,dan tahun 1920 di
publikasikan kembali dengan judul :the vested interest and the common man ]; the enggineer and the price
system [1921]; absentee ownership and business enterprise in recent times the case of America. Selain buku-buku
yang di sebutkan di atas masih banyak buku-buku yang lain yang di tulisnya menyangkut masalah sosial,politik,
bahkan juga tentang pertahanan keamanan,dunia pendidikan,dan sebagainya.
B. MOTIVASI KONSUMEN
Dalam the theory of the leisure class veblen menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengn dorongan dan pola
prilaku konsumsi masyarakat. Sebagai layaknya pemikir yang tidak puas dengan kondisi masyarakat yang ada di
sekitarnya, veblen sering melihat situasi-situasi masa lalu yang di nilainya lebih baik dari situasi-situasi dan
keadaan sekarang, terutama dalam masyarakat amerika yang di amatinya. Menurut veblen, dulu prilaku yang
terikat dengan masyarakat sekeliling, dan orang dalam tingkah lakunya berusaha ikut menyumbang terhadap
perkembangan masyarakat. Orang berusaha menghindari perbuatan yang akan merugikan orang banyak. Tetapi apa
yang di lihatnya sekarang dalam masyarakat kapitalis finansil di amerika ialah orang-orang yag hanya
mementingkan diri sendiri saja,dan tidak terlalu tertarik dengan kepentingan masyarakat banyak.
Yang di perhatikan masyarakat sekarang hanya uang,segala sesuatu juga hanya di nilai dengan uang. Sekarang orng
tidak peduli apakah prilaku ekonominya merugikan orang lan atau tidak. Orang berlomba-lomba mencari dan
memperebutkan harta tampa peduli akan cara. Mengapa orang sangat doyan dengan harta? Hal ini tidak lain
karena adanya anggapan bahwa hanya harta yang mampu menaikkan status, harga diri atau gengsi seseorang
dalam masyarakat.
Jika harta telah terkumpul,orang punya bnyak waktu untuk bersenang-senang[leisure]. Dengan demikian pada
masa sekarang kemampuan untuk hidup bersenang-senang juga di jadikan sebagai alat untuk memperlihatkan
derajat atau status seseorang. Makin mampu ia tidak bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan produktif [leisure],
makin tinggi derajatnya dalam masyarakat. Penyakit seperti ini banyak menghinggapi kaum wanita, dimana
mereka memakai gaun mode mutakhir hanya sekedar untuk mengumumkan kepada orang-orang bahwa ia absen
dari pekerjaan produktif. Memakai corset,misalnya,jelas ingin menunjukkan bahwa si pemakai tidak cocok untuk
bekerja.
Penyakit suka pamer ini,demikian veblen, cepat berjangkit dalam masyarakat. Dalam hal ini ia memberi contoh
kalau seorang bos belibur selam sebulan menggunakan yacht pribadi ke Bermuda, maka sekretarisnya dengan
segala uapaya [ mungkin dengan mengahbiskan seluruh tabunganya selama setahun] berusaha agar dapat berlayar
selama seminggu ke karibia.
Karena aktifitas leisure juga di jadikan sebagai indikasi kesuksesan, maka orang kaya yang ingin di anggap hebat
tidak pernah mengizinkan istri dan anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Semua pekerjaan rumah
diserahkan kepada pembantu, dan sementara pembantu bekerja sama istri dann anak-anak sibuk mencari
kesenangan pribadi masing-masing.
Dengan harta melimpah orang berlomba-lomba membeli barang-barang yang di gunakan untuk pamer.
Kecenderungan prilaku konsumsi seperti ini di sebut vablen dengan istilah conspicuous consumption yaitu konsumsi
barang-barang dan jasa yang bersifat ostentatious [pamer,melagak] yang di maksudkan untuk membuat orang
kagum. Sebagai mana yang di ungkapkan oleh veblen conspicuous consumption of valuable goods is means of
reputability to the gentlemen of leisure.
Yang jadi incaran konsumsi bagi masyarakat leisure ini terutama barang-barang sangat mahal, tidak peduli apakah
barang itu berguna dalam kehidupan sehari-hari atau tidak. Manfaat yang di peroleh dari pengkonsumsian barang-
barang mahal tersebut memang tidak di peroleh dari barang itu sendiri, tetapi lewat dampaknya terhadap dan
melalui orang lain. Makin mahal barang yang di beli,si pembeli makin yakin bahwa barang tersebut
indahhebat.. kepuasan dari barang-barang yang di tujukan untuk pamer tidak di terima dari pengkonsumsian
barang itu sendiri, melainkan melaui dampaknya terhadap orang lain. Makin kagum orang pada yang di belinya,
makin tinggi kepuasannya. Tetapi jika orang tidak memberi perhatian pada apa yang di belinya,ia mungkin bisa
pusing tujuh keliling.
Apa yang di katakan veblen tentang prilaku konsumsi bermewah-mewah di atas, di mana faedahnya tidak di
peroleh langsung dari konsumsi barang itu sendiri. Melainkan dari dampaknya terhadap orang lain,
oleh duesenberry kemudian di kembangkan lebih lanjut,dan lebih di kenal dengan istilah demonstration effects.
Bagi veblen gambaran di atas sungguh terbalik dengan tesis kaum klasik dan noe-klasik yang mengatakan bahwa
orang akan memilih alternatif konsumsi terbaik untuk memperoleh kepuasan sebesar-besarnya. Prilaku tersebut
juga bertentangan dengan anggapan kaum klasik bahwa tiap konsumen di dasarkan pada rasio bukan emosi.
Menurut pandangan veblen orang yang membeli suatu barang yang melebihi proporsi yang wajar jelas tidak
rasional. Melainkan lebih besifat emosional. Dan yang lebih parah lagi kadang-kadang tingkah laku konsumsi
mereka seperti orang norak. Hal seperti ini sering terjadi pada golongan nouve riche, atau di Indonesia terkenal
dengan istilah orang kaya baru [ OKB]. Golongan ini umumnya berasal dari orang miskin yang kemudian berhasil
meningkatkan status finansilnya. Karena kurang terbiasa dengan pola hidup orang-orang kaya, maka prilaku
konsumsinya menjadi seperti tidak wajar.
Veblen melihat bahwa prilaku conspicuous consumption dan pecuniary emulation semakin menggejala dalam
masyarakat kapitalis finansial liberal amerika . prilaku seperti ini sangat di benci dan di tantangnya karena dari
hasil pengamatanya ia menyaksikan bahwa orang amerika cenderung semakin manja. Banyak di antara mereka
yang kerjanya hanya menghambur-hamburkan waktu, tenaga dan sumber daya. Jika kecenderungan seperti ini
tidak di cegah,demikian peringatan veblen, bangsa amerika suatu saat akan tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang
lebih berperhitungan dalam membelanjakan pendapatan mereka.
C. PERILAKU PENGUSAHA
Dalam bukunya yang lain : the theory of business enterprise, veblen lebih jauh menjelaskan kemiripan prilaku
pengusaha amerika dengan prilaku konsumsi yang di ceritakan di atas. Veblen dalam hal ini juga melihat bahwa
prilaku para pengusaha amerika di masanya telah banyak mengalami perubahan. Dahulu para pengusaha pada
umumnya menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan melalui kerja keras. Investasi
masuk kedalam apa yang disebutnyaproduction for use. Tetapi pada masa sekarang laba dan keuntungan sebagian
tidak lagi di peroleh melalui kerja keras dengan menciptakan barang-barang yang di sukai konsumen. Tetapi lewat
trik-trik bisnis, produksi seperti ini di sebutnyaproduction for profit.
Lebih jauh dari itu veblen melihat pada masa sekarang semakin banyak di jumpai jenis pengusaha
pemangsa [predator] yaitu para pengusaha yang memperoleh keuntungan melelui berbagai cara tampa
memperdulikan nasib orang lain, termasuk para pegawai dan karyawan yang bekerja di perusahaan yang di
milikinya. Apalagi terhadap nasib para konsumen yang membeli produk-produknya, tidak ada perhatian mereka
sama sekali.
Veblen melihat dalam masyarakat amerika yang tumbuh begitu pesat telah melahirkan suatu golongan yang di
sebutnya absentee ownership. Yang di maksudkanya dengan golongan absentee ownership ini adalah para
pengusaha yang memiliki modal besar dan menguasai sejumlah perusahaan, tetapi tidak ikut terjun langsung dalam
kegiatan operasional perusahaan. Kegiatan operasional cukup di serahkan pada para professional dan karyawan-
karyawan kepercayaanya. Tetapi walau ia tidak ikut dalam kegiatan operasional, dalam kenyataan ia memperoleh
keuntungan paling besar. Untuk lebih jelas veblen memberikan contoh tentang pengusaha yang bergerak dalam
bidang perkereta apian, yang mendapat keuntungan sangat besar waktu amerika melakukan pembukaan kawasan
dari pantai timur hingga pantai barat.
Yang merancang dan melaksanakan pembuatan jaringan kereta api adalah tenaga-tenaga professional yang di
upah. Sedang sang pengusaha sebagai pemilik modal hanya ongkang-ongkang saja. Begitupun ia memetik
keuntungan paling besar. Para pengusaha kereta api yang seperti ini oleh veblen di beri gelar bangsawan kereta
api [railroad barons] sebab prilaku mereka agak mirip dengan bangsawan pemilik daerah-daerah pertanian di
eropa abad pertengahan. Mereka sama-sama tidak mengerahkan pikiran-pikiran dan energi dalam opersional tetapi
memperoleh bagian keuntungan pling besar.
Veblen lebih jauh melihat para pengusaha yang hanya mementingkan laba tampa memperhatikan cara ini biasanya
melakukan kongkalikong dengan penguasa sehingga mendapat berbagai kemudahan dan hak-hak istimewa,
misalnya dalam menguasai bahan-bahan mentah dan menguasai daerah-daerah pemasaran. Ia juga biasanya
mampu mengatur pejabat kehakiman untuk tidak mempersoalkan kedudukan monopolinya, atau agar tidak
menggubris menipulasi pajak dan keuangan yang di lakukanya. Di beberapa Negara berkembang yang masih belum
punya aturan permainan atau rule of law yang jelas bahkan sering di jumpai adanya kerja sama antara pengusaha
dengan militer demi mengamalkan monopolinya. Artinya kalau ada pengusaha lain yang ikut dalam bisnis yang di
monopolinya, ia akan berurusan dengan militer. Si penangkap biasanya di beri hadiah atau promosi naik pangkat.
Hal ini mudah di atur ,sebab sang pengusaha biasanya dekat atau memang anak atau family dari sang pengusaha
itu sendiri.
Untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, ada pengusaha absentee ownership tidak segan-segan mematikan
usaha pengusaha sungguhan yang memperoleh keuntungan lewat kerja keras. Salah satu cara untuk itu ialah
dengan melakukan akuisasi. Cara lain untuk mematikan pesaing lain ialah dengan membanting harga,sehingga
produk-produk dari perusahaan-perusahaan pesaing tersebut tidak laku. Setelah pesaing mati dan keluar dari pasar
biasanya mereka kembali menaikkan harga dan memperoleh laba sangat besar [excessve profit].
Dengan monopoly power yang ada di tangan mereka juga sering mengurangi pasok[supply] barang-barang, sehingga
harga melambung, dan lagi-lagi menerima keuntungan melebihi kewajaran. Dengan singkat, uang atau modal di
tangan pengusaha pemangsa lebih sebagai alat pengeksploitasi keuntungan sebesar-besarnya dari pada sebagai
asset yang di kelola dengan efisien untuk memuaskan kebutuhan konsumen sebagai mana yang terjadi dalam
perusahaan sungguhan.
Dari uraian di atas tidak heran kalau veblen menolak keras tesis kaum klasik yang menganggap bahwa usaha tiap
orang yang mengejar kepentinganya masing-masing pada akhirnnya akan melahirkan suatu harmoni dan
keseimbangan dalam masyarakat secara keseluruhan . sebab dari gejala-gejala yang di amatinya ia melihat bahwa
prilaku pengusaha yang hanya mengejar kepentingan pribadi sangat bertolak belakang dengan tujuan masyarakat
secara keseluruhan. Sebaliknya, demi mengejar kepentingan pribadi ada pengusaha yang tidak segan-segan
menghambat dan mematikan kepentingan orang banyak.
Veblen menilai bahwa para pengusaha absentee ownership yang biasa memperoleh keuntungan besar dengan cara
kongkalingkong tersebut sangat berpotensi melahirkan golongan leisure class. secara psikologis orang yang biasa
memperoleh sesuatu tampa keringat tidak begitu menghargai apa-apa yang di perolehnya, dank arena itu tidak
heran kalau prilaku konsumsinya akan bersifatconspicuous consumption.
Prilaku mereka yang suka pamer tersebut kadang kala sangat norak, sebab suka membeli sesuatu yang tidak di
manfaatkan dengan dengan sewajarnya. Hal ini berbeda dengan prilaku konsumsi pengusaha murni yang serius dan
mati-matian dalam berusaha. Karena keberhasilan di capai lewat kerja keras, mereka akan lebih berperhitungan
dalam mengkonsumsi barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhanya.