Anda di halaman 1dari 8

Indikasi Intubasi

Indikasi umum
Terdapat empat situasi klinis yang menjadi indikasi intubasi :
1. Pasien apneu pada respiratory arrest
2. Pasien dengan obstruksi jalan napas total atau parsial
3. Pasien yang membutuhkan invasive respiratory support untuk oksigenasi
4. Pasien yang yang dalam perawatan basic airway dinilai efektif, tetapi di
prediksi memiliki kondisi klinis dapat terjadi kemungkinan tinggi
obstruksi jalan napas, aspirasi atau gagal ventilasi

Dalam masing-masing tiap kelompok, intubasi dibagi lagi berdasarkan
kepentingannya :
1. Immediate intubasi : pada pasien yang membutuhkan definitive airway
care yang dapat ditunda dengan waktu yang minimum
2. Urgent intubasi : pada pasien dengan teknik dasar dapat memaintain
pasien secara fisiologis dalam waktu yang singkat.
3. Observant situation : pada pasien yang tidak terdapat indikasi intubasi.

Indikasi di ruang operasi
1. Pasien dengan kebutuhan ventilasi tekanan positif
2. Melindungi traktus respiratorius dari aspirasi isi lambung
3. Prosedur operasi yang melibatkan kepala dan leher atau dalam kondisi
posisi non-supinasi
4. Hampir seluruh kondisi pada neuromuscular paralisis
5. Prosedur operasi yang melibatkancranium, thoraks, atau abdomen
6. Prosedur yang dilakukan pada penderita hipertensi intracranial

Indikasi non-operatif
1. Pada pasien dengan kondisi tidak sadar dan ketidak mampuan melindungi
jalan napas
2. Cedera pulmoner atau multisystem yang berat yang berhubungan dengan
gagal napas, seperti sepsis, obstruksi jalan napas, hypoxemia, dan
hiperkarbia.

Referensi :
Benger, jonathan. Nolan, jerry. 2009. Emergency Airway Management. Chapter 5
Indications for intubation. Cambridge, New York









Shock
Klasifikasi shock
1. Shock hipovolemik : karena penurunan sirkulasi volume darah dan
dikarakteristikan dengan reduksi tekanan pengisian diastolic
2. Shock kariogenik : karena kegagalan pompa jantung tang dihubungkan
dengan kehilangan kontraktilias miokardial/ fungsional miokardium atau
struktur/ kegagalan mekanik dari anatomy kardiak dan digambarkan
dengan peningkatan tekanan pengisian diastolic dan volume
3. Shock obstruktif : karena adanya obstruksi pada aliran pada sirkuit
kardiovaskular dan digambarkan dengan gangguan pengisian diastolic atau
kelebihan afterload
4. Dhock distributive : disebabkan oleh kehilangan kendali vasomotor yang
menyebabkan dilatasi arteri/ vena dilatasi dan dikarakteristikan oleh
peningkatan kardiak output dan penurunan SVR

Etiologi
Hipovolemik :
1. Perdarahan
- Trauma
- Gastrointestinal
- Retroperitoneal
2. Non hemoragik
- Dehidrasi
- Muntah
- Poliuri
3. Interstisial fluid redistribution
- Thermal injury
- Trauma
- Anafilaksis

Shock kardiogenik
1. Miopati
2. Regurgitasi
3. Aritmia

Shock obstruktif
1. Gangguan pengisian diastolic
- Tamponade jantung
2. Gangguan sistolik kontraksi
- Emboli paru
- Diseksi aorta





Shock distributive
1. Sepsis
2. Anafilaktik
3. Neurogenik
4. Endokrinologik

Patofisiologi shock




Terapi awal
1. Bawa ke ruangan ICU
2. Pasang akses vena
3. CVC
4. Arterial kateter
5. EKG monitoring
6. Pulse oksimetri
7. Hemodinamik support ( MAP <60)

Goals dalam Shock
1. Hemodinamik support MAP >60 mmHg
2. PAOP = 12-18 mmHg
3. Hb >10 g/dl
4. Saturasi Arterial >92%
5. Improving renal function

Tatalaksana berdasarkan jenis shock
Shock hipovolemik
1. Penggantian cairan segera berupa darah, colloid atau kristaloid
2. Identifikasi sumber perdarahn atau hilangnya cairan
Cardiogenic Shock
1. LV infarction
Intra-aortic balloon pump (IABP)
Cardiac angiography
Revascularization
- angioplasty
- coronary bypass
2. RV infarction
Fluid and inotropes with PA catheter monitoring
3. Mechanical abnormality
Echocardiography
Cardiac cath
Corrective surgery
Obstructive Shock
1. Pericardial tamponade
pericardiocentesi
surgical drainage
2. Pulmonary embolism
heparin
ventilation/perfusion lung scan
pulmonary angiography

Distributive Shock
1. Septic shock
- Identifikasi infeksi
- Pemberian antimicrobial agent
- ICU monitoring dan support dengan cairan

Referensi :
Kumar and parnio. 2001. Shock, patofisiologi, classification and management.
Society of critical care medicine.















Nyeri
Nyeri merupakan sensasi yang sangat tidak menyenangkan dan bervariasi pada
tiap individu. (Berman, Snyder, Kozier, & Erb, 2003).

Etiologi nyeri :
- Rheumatoid arthritis
- Neuropaty perifer
- Kanker
- Panas
- Mekanikal
- Kimia

Mekanisme nyeri
Transduksi
Sebagian besar jaringan dan organ diinervasi reseptor khusus Nyeri
nociceptor yang berhubungan dgn dengan saraf aferen primer dan berujung di
spinal cord.
Jika suatu stimuli (kimiawi, mekanik, panas) datangdiubah menjadi impuls
saraf pada saraf aferen primerditransmisikan sepanjang saraf aferen ke spinal
cord ke SSP


Transmisi
Transmisi nyeri terjadi melalui serabut saraf aferen (serabut nociceptor),
yang terdiri dari dua macam:
- serabut A-(A- fiber) : peka thd nyeri tajam, panas :first pain
- serabut C (C fiber) : peka thd nyeri tumpul dan lama second pain
Persepsi nyeri
Setelah sampai di otak nyeri dirasakan secara sadar menimbulkan respon





Tatalaksana nyeri

1. Terapi non-farmakologi
- Intervensi psikologis: Relaksasi, hipnosis, dll.-
- Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) utk nyeri bedah,
traumatik, danoral-facial
2. Terapi farmakologi
- Analgesik : non-opiat dan opiat

Referensi :
Main J, Chris. 2000. Pain management.


Prinsip penatalaksanaan nyeri
Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling
ringan sampai ke yang paling kuat
Tahapannya:
Tahap I : analgesik non-opiat : AINS
Tahap II : analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)
Tahap III : analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
Tahap IV : analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan
Contoh ajuvan : antidepresan, antikonvulsan, agonis 2, dll.































Menggigil
Etiologi :
1. Demam
2. Hipotermia

Patofisiologi
Berlokasi pada posterior hipotalamus didekat dinding dari ventrikel ketiga yang
merupakan area yang disebut primary motor center, daerah ini mengatur
terjadinya menggigil. Area ini normalnya diinhibisi oleh sinyal yang berasal dari
pusat suhu di anterior hipotalamus-preoptik area tetapi kondisi ini akan ditutupi
oleh sinyal dingin yang berasal dari kulit dan spinal kord. Selanjtnya daerah ini
akan terkativasi saat suhu tubuh turun.
Peningkatan aktivitas muscular merupakan usaha tubuh untuk menghasilkan
panas.

Tatalaksana
Target temperature : 36-37
o
C
Target temperature pasien dengan hipotermi 33-35,5
o
C
Pemberian selimut hangat
Pemberian penghangat tubuh
Tramadol 1-2 mg/kgBB
Meperidini (antispasmotik agent)

Referensi :

Miller, Cari. 2011.Pharmacological Treatment of Post-Anesthetic Shivering.
Texas. United States