Anda di halaman 1dari 35

BAB II: RESERVOIR DAN KUANTITAS RESERVOIR

(Versi 20 November 2004)




Geologi Reservoir
Geologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari sejarah dan struktur bumi dan bentuk-
bentuk kehidupan di dalamnya, terutama seperti yang terekam dalam batuan. Cabang ilmu
ini sangat penting di dalam ilmu teknik reservoir untuk memperkirakan akumulasi minyak
yang mungkin terjadi. Pengetahuan geologi didasarkan pada observasi dan pengetahuan yang
berhubungan dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Prinsip utama adalah the present is the
key to the past; yaitu bahwa proses yang berlangsung dalam bumi pada masa kini pada
dasarnya sama dengan yang terjadi pada masa lalu. Dengan menggunakan pengetahuan
tentang proses dan observasi batuan dan formasi batuan, seorang petroleum geologist
melakukan rekonstruksi sejarah geologi dan menentukan apakah formasi yang sedang
dipelajari mengandung hidrokarbon atau tidak.

Suatu reservoir minyak tidak berupa sebuah gua bawah tanah yang besar seperti jika kita
mengartikan istilah oil pool. Reservoir merupakan suatu formasi yang terdiri dari batuan
dengan rongga yang sangat kecil, disebut pore, yang dapat menyimpan fluida. Disamping
mengandung berbagai jenis hidrokarbon, batuan reservoir umumnya mengandung air asin.
Fluida ini, dalam keadaan kesetimbangan, akan berada secara berlapis dengan yang paling
ringan (gas) berada paling atas, kemudian minyak, dan yang terberat (air) berada paling
bawah.

Untuk dapat menyimpan minyak, suatu reservoir harus mempunyai bentuk dan konfigurasi
tertentu serta mempunyai penyekat (seal) sehingga minyak dapat terperangkap. Di samping
itu, reservoir harus mempunyai porositas minimum yaitu batuan harus mempunyai ukuran
rongga tertentu dan reservoir tersebut harus bersifat permeable yaitu rongga-rongga
tersebut harus saling berhubungan sehingga minyak dapat mengalir di dalam reservoir dan
kemudian dapat diproduksikan melalui sumur-sumur produksi.

Sejarah Pembentukan Bumi
Bumi diperkirakan terbentuk pada kira-kira 4.6 milyar tahun yang lalu dari awan debu
kosmik. Karena suatu planet tertarik oleh gaya gravitasinya sendiri, panas kompresi dan
elemen radioaktif menyebabkan gumpalan awan tersebut mencair dan mengeras. Komponen
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 1
terberat, umumnya terdiri dari besi dan nikel, terbenam ke pusat bumi dan menjadi core.
Mineral yang lebih ringan membentuk lapisan tebal mantle, dan mineral-mineral lain yang
mengandung aluminum, silicon, magnesium, dan elemen ringan lain membentuk lapisan
bebatuan tipis yang disebut crust.

Pada waktu masih muda, permukaan planet bumi tidak dapat ditempati mahluk hidup. Batuan
berbentuk cair (magma) bererupsi melalui ribuan rekahan (fissures) dan gunung api. Di
samping itu, muncul pula berbagai macam gas dan uap air yang kemudian membentuk
atmosfir awal yang tak beroksigen. Permukaan bumi kemudian mendingin dan uap air
berkondensasi untuk kemudian jatuh sebagai hujan purba yang kemudian membentuk lautan.
Sejalan dengan itu, lapisan crust bertambah tebal dan lebih stabil. Geologist memandang
crust ini sebagai kumpulan bentuk-bentuk lempeng yang menyerupai jigsaw puzzle. Bedanya
dengan jigsaw puzzle, lempeng-lempeng crust ini bergerak dan berubah bentuk. Pada
beberapa tempat bentuk-bentuk tersebut saling tumpang tindih, bertabrakan, atau saling tarik
satu dengan yang lain. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut dengan tektonik lempeng (plate
tectonics).

Ada dua bentuk dasar crust yaitu oceanic crust dan continental crust. Oceanic crust berupa
lapisan tipis (ketebalan antara 5 7 mil) dan terbentuk dari batuan igneous berat (batuan yang
terbentuk dari magma yang mendingin). Sedangkan Continental crust berupa lapisan tebal
(ketebalan antara 10 30 mile) dan relatif lebih ringan. Karena perbedaan ini, suatu benua
(continent) cenderung mengambang seperti icebergs di atas lautan batuan yang lebih berat,
kemudian muncul di atas permukaan lautan (sea level), dan jika benua tersebut cukup tebal
maka membentuk pegunungan. Tinggian benua tersebut kemudian secara perlahan tererosi
oleh air dan sebab lainnya. Partikel-partikel batuan kemudian terbawa ke laut dan
terendapkan menjadi lapisan sedimen yang tebal sepanjang pinggiran benua. Endapan ini
kemudian diperkuat oleh sementasi mineral dalam air dan oleh tekanan berat sedimen di
atasnya. Proses ini kemudian membentuk lapisan-lapisan batuan sedimen.

Kira-kira 1.5 milyar tahun setelah bumi terbentuk, organisme sederhana mulai muncul di
dalam lautan. Akan tetapi, bentuk yang lebih kompleks tidak muncul sampai kira-kira 2.5
milyar tahun kemudian pada permulaan periode Cambrian, hanya 550 juta tahun yang lalu.
Begitu pula tumbuhan belum terbentuk dan menyebar di atas permukaan bumi sampai
periode Devonian, kira-kira 350 juta tahun yang lalu. Karena kehidupan berevolusi secara
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 2
kontinu sejak era Precambrian, fossil sisa-sisa binatang (fauna) dan tumbuhan (flora)
berlangsung dalam waktu dan orde tertentu. Geologist telah mengklasifikasi batuan
berdasarkan proses ini. Durasi era, period, dan epoch diperkirakan berdasarkan studi mineral
radioaktif. Adanya kehidupan purba sangat penting dalam sejarah minyak sebagai bahan
organik merupakan salah satu bahan penting dalam pembentukan minyak.

Tabel 1: Skala Waktu Geologi
Era
Period
(J aman)
Epoch
Durasi
juta tahun
J uta tahun
yang lalu
Recent 0.01
Quarternary
Pleistocene 1 1
Pliocene 10 11
Miocene 14 25
Oligocene 15 40
Eocene 20 60
Cenozoic
Tertiary
Paleocene 10 70 2
Cretaceous 65 135 5
J urassic 30 165 10 Mesozoic
Triassic 35 200 20
Permian 35 235 30
Pennsylvanian 30 265 35
Mississippian 35 300 40
Devonian 50 350 40
Silurian 40 380 40
Ordovician 70 460 40
Paleozoic
Cambrian 90 550 50
Precambrian 4500


Siklus Batuan
Batuan crust berubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya oleh beberapa proses geologi.
Proses-proses ini termasuk erosi, sedimentasi, sementasi, kompresi, dan pelelehan. Erosi
biasanya diakibatkan oleh adanya aliran air, walaupun dapat pula diakibatkan oleh angin,
pembekuan air, pergerakan es, dan gelombang. Partikel yang tererosi dari tinggian benua
kemudian terendapkan pada daerah-daerah lapisan horizontal, tanah rendah, atau dangkalan
laut. Sedimentasi yang terus menerus menyebabkan deposit dari partikel yang terendapkan
sebelumnya mengalami kompaksi karena berat endapan di atasnya. Proses sementasi oleh
mineral kemudian membuat endapan ini menjadi batuan sedimen. Sebagian batuan ini
kemudian tererosi untuk membentuk sedimen yang lain, sebagian lain lagi terkubur di
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 3
kedalaman dan mengalami pemanasan dan tekanan yang hebat dalam jangka waktu yang
lama untuk kemudian membentuk batuan metamorf. Peningkatan temperatur selanjutnya
dapat membuat mineral dalam batuan meleleh dan membentuk magma. J ika magma ini
mendingin dan mengkristal, maka akan terbentuk igneous rock. Baik batuan metamorf dan
igneous rock dapat tererosi kembali dan membentuk batuan sedimen baru. J adi ada siklus
pembentukan batuan.
BATUAN
SEDIMEN
Compaction,
Cementation
Heat,
Pressure
SEDIMEN
Erosion,
Weathering
BATUAN
METAMORF
IGNEOUS
ROCK

Tabel 2: J enis Batuan
Nonklastik
Klastik
Carbonate Evaporite Organic Lainnya
Conglomerate Limestone Gypsum Peat Chert
Limestone Dolomite Anhydrite Coal
Sandstone Salt Diatomite
Siltstone Potash Limestone
Shale


Batuan sedimen merupakan batuan yang menjadi sasaran studi para petroleum geologist.
Kebanyakan minyak dan gas bumi terakumulasi di dalam batuan tersebut. Batuan metamorf
dan igneous sangat jarang mengandung minyak. Batuan sedimen dapat diklasifikasikan
sebagai klastik dan nonklastik seperti ditunjukkan oleh tabel berikut, atau dapat pula
diklasifikasikan lain tergantung tujuan klasifikasi itu sendiri. Batuan klastik terdiri dari
Heat,
Melting
Cooling,
Crystallization
MAGMA
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 4
butiran-butiran akibat erosi batuan sebelumnya yang kemudian tersemen. Batuan ini biasanya
dikelompokkan lagi berdasarkan besar butirannya. Sedangkan batuan nonklastik terjadi
akibat sedimentasi jenis lain, misalnya pengendapan kimiawi atau organic detritus. Beberapa
jenis batuan, misalnya limestone, ditemukan dalam beberapa klasifikasi karena batuan
tersebut terbentuk oleh kombinasi beberapa proses atau terjadi dalam beberapa jenis batuan
yang berbeda.

Pergerakan Bumi
Crust telah dan sedang bergerak baik secara vertikal maupun horizontal secara terus menerus
sejak crust tersebut menjadi padat. Gempa bumi dan erupsi volkanik yang terjadi setiap tahun
menunjukkan bahwa pergerakan tersebut masih tetap berlangsung hingga saat ini.
Kebanyakan batuan yang dekat dengan permukaan telah terekahkan oleh gaya-gaya internal
maupun eksternal. J ika lapisan batuan pada satu sisi rekahan telah bergerak relatif terhadap
sisi yang lain, rekahan tersebut disebut fault (patahan). Perpindahan sepanjang patahan sangat
bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai ratusan mil seperti patahan San Andreas di
California. Pada waktu terjadi gempa bumi di San Francisco pada tahun 1906, bagian yang
berhadapan pada kedua sisi patahan San Andreas bergerak satu sama lain sejauh 21 ft.

Sisa-sisa organisme laut dapat ditemukan pada tinggian pegunungan dan melalui suatu sumur
minyak yang sangat dalam diketahuii bahwa batuan bersangkutan telah diendapkan pada laut
dangkal purba dan kemudian muncul (atau terbenam) ke kedalaman yang diketahui sekarang.
Pergerakan bumi yang berulang walaupun hanya beberapa inches setiap terjadi pergerakan
akan mengkibatkan penaikan dan penurunan permukaan yang besar jika hal itu terjadi selama
jutaan tahun.

Struktur Geologi dan Perangkap Minyak
Batuan sedimen terendapkan pada lapisan horizontal yang disebut strata atau bed. Akan
tetapi lapisan ini sering terdeformasi oleh proses geologi. Dalam keadaan mengalami tekanan
yang besar, lapisan batuan yang telah mengeraspun dapat terlengkungkan atau bahkan
terpatahkan. J enis deformasi yang umum terjadi adalah pelengkungan atau pelipatan lapisan.
Pelengkungan yang mengakibatkan lengkungan ke bawah disebut anticline atau sebaliknya
yang mengakibatkan lengkungan ke atas disebut syncline. Antiklin atau sinklin terbentuk
dengan pelipatan satu arah saja dan top dari keduanya biasanya tidak level (rata-horizontal).
Antiklin yang pendek dengan pelipatan pada kedua arah disebut dome. Banyak dome yang
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 5
berbentuk circular sempurna, dan plunging (dinding yang menukik) pada semua arah. Dome
sering pula mempunyai intrusi core yang mengangkatnya, misalnya salt dome di sepanjang
Gulf Coast. Patahan dapat memunculkan struktur permukaan yang mudah dikenali. Graben
adalah blok yang turun relatif terhadap crust sekeliling dan horst adalah blok yang naik relatif
terhadap crust sekeliling. Suatu permukaan batuan yang telah tererosi yang kemudian
terkubur oleh pengendapan batuan setelahnya disebut unconformity. Terdapat dua jenis
unconformity yaitu disconformity dan angular unconformity. Suatu unconformity dapat
menjadi perangkap minyak. Mengenai perangkap ini selanjutnya akan dijelaskan lebih rinci
pada bagian berikut.

Asal Mula Minyak
Ada tiga syarat agar minyak terakumulasi di dalam suatu batuan, yaitu: (1) harus ada sumber
minyak dan gas dimana minyak tersebut terbentuk, (2) batuan penyimpan (reservoir) harus
bersifat porous dan permeable, dan (3) harus ada perangkap yang menjadi penghalang bagi
minyak untuk bergerak. Sub bab ini dan dua sub bab berikutnya akan menjelaskan hal-hal
tersebut.

Minyak yang diketahui sekarang dipercaya berasal dari bahan organik yang terendapkan
bersamaan dengan terendapkannya partikel batuan selama pembentukan batuan sedimen
jutaan tahun yang lalu. Teori yang disebut teori organik ini menyatakan bahwa minyak dan
gas berasal dari jasad renik yang hidup di laut. Pada laut dangkal dengan air yang cukup
hangat, residu sejumlah besar binatang dan tumbuhan mikro jatuh ke dasar laut. Sebagian sisa
mahluk hidup tersebut termakan atau teroksidasi sebelum mencapai dasar laut dan sebagian
besar yang lain dapat mencapai dasar laut. Bakteri kemudian mengambil oksigen dari sisa-
sisa organik tersebut dan kemudian secara perlahan memecahkan bahan organik tersebut
menjadi meterial yang kaya akan karbon dan hidrogen.

Sejalan dengan bertambahnya akumulasi sedimen, clay yang kaya akan bahan organik
terdesak ke dalam shales. Tekanan dan temperatur kemudian meningkat sementara berada
dalam keadaan diberati oleh ribuan feet endapan di atasnya. Dalam keadaan demikian,
melalui kejadian yang tidak pernah kita lihat, minyak bumi terbentuk. Ketika temperatur
mencapai kira-kira 150
o
F, substansi yang kaya akan karbon dan hidrogen mulai tergabung
secara kimiawi untuk membentuk ratusan molekul hidrokarbon yang berbeda-beda.
Hidrokarbon ini mempunyai rantai atom karbon dan atom hidrogen yang tersusun baik.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 6
Proses konversi mencapai maksimum antara 225
o
sampai 350
o
F. Di atas temperatur ini,
molekul berat-berantai panjang pecah menjadi molekul yang lebih ringan-kecil, misalnya gas
metana. Akan tetapi, pada temperatur di atas 500
o
F, material organik mengalami karbonasi
dan hancur. Karena masalah temperatur inilah, mengapa lapisan yang sangat dalam tidak
dapat menghasilkan hidrokarbon.

Minyak bumi tidak terbentuk secara serentak dalam konsentrasi yang besar. Pada mulanya,
minyak ini tersebar sebagaimana halnya bahan organik pembentuknya. Setelah terbentuk,
minyak kemudian bermigrasi melalui batuan yang permeable. Tekanan formasi cenderung
mendesak minyak ke luar dari lapisan shale, yang relatif tidak permeable, menuju rekahan
dan formasi yang terbuka, misalnya batuan sandstone, di mana minyak dapat bergerak dari
satu pori ke pori yang lainnya. Minyak dan gas cenderung untuk mencari level yang lebih
dangkal (bergerak ke atas, ke arah permukaan). Kecuali minyak terperangkap di bawah tanah
oleh formasi geologi, minyak dapat sampai di permukaan sebagai oil seep yaitu minyak yang
muncul di permukaan dan terakumulasi sebagai kolam minyak.

Bermacam Teori Asal-usul Minyak Bumi
Berbagai macam teori mengenai terjadinya minyak bumi telah dikemukakan oleh para ahli.
Dewasa ini dikenal dua teori utama mengenai asal terjadinya minyak bumi:
1. Teori anorganik yang menyatakan bahwa minyak bumi berasal dari proses anorganik.
2. Teori organik yang didasarkan atas dua macam bukti, yaitu:
(a) percobaan laboratorium dan
(b) pemikiran geologi.

Teori Anorganik. Teori ini mengemukakan bahwa terjadinya minyak bumi berdasarkan
proses kimia. Prose kimia tersebut diantaranya:
1. Teori alkali panas dengan CO
2
(Berthelot): Dengan asumsi bahwa di dalam bumi terdapat
logam alkali dalam keadaan bebas dan bertemperatur tinggi. Bila CO
2
dari udara
bersentuhan dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk asitilen. Asitilen akan berubah
menjadi benzen karena suhu yang tinggi. Kelemahan teori ini adalah bahwa logam alkali
tidak terdapat bebas di dalam kerak bumi.
2. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyeff): Asumsi yang dipakai adalah bahwa ada
karbida besi di kerak bumi dan kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 7
3. Teori letusan gunung: Asal vulkanik minyak bumi mula-mula dikemukakan oleh Von
Humbolt yang kemudian dikembangkan oleh Sivestri (1882) dan Coste (1903). Silvestri
menemukan minyak cair dan parafin yang padat dalam rongga lava basalt di gunung Etna.
J uga oleh Brun (1909) yang mengamati bahwa minyak bumi yang terdapat di pulau J awa
berasal dari gunung api. Coste yang mengamati akumulasi minyak bumi pada batuan beku
di Mexico. Sebetulnya adanya minyak bumi tersebut bukan berasal dari magma, tetapi
karena fungsi batuan beku adalah sebagai saluran sehingga minyak bumi dapat bermigrasi
ke formasi di atasnya. J uga kadar metana dalam gas vulkanik sangat kecil.

Teori Organik. Teori ini telah banyak diterima oleh kalangan ahli perminyakan. Namun,
inipun belum memecahkan semua persoalan yang timbul. Persoalan itu diantaranya mengenai
sumber bahan organik. Masalah lain adalah mengenai migrasi. P.G Macquir adalah orang
yang pertamakali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuh-
tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak
bumi berasal dari zat organik, yaitu:
1. Minyak bumi mempunyai daya memutar bidang optik atau bidang polarisasi. Ini
disebabkan adanya kolestrol, zat lemak seperti yang terdapat didalam darah. Zat anorganik
diketahui tidak dapat memutar bidang optik.
2. Minyak bumi mengandung porfirin, suatu zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon
dengan unsur vanadium, nikel, dan sebagainya.
3. Susunan hidrokarbon yang terdiri dari unsur H dan C sangat mirip dengan zat organik,
yang terdiri dari H, C dan O walaupun yang disebut terakhir ini mengandung oksigen dan
nitrogen dalam jumlah cukup banyak.
4. Hidrokarbon terdapat di dalam sedimen resen. Diketahui pula bahwa zat organik banyak
terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral daripada sedimentasi.
5. Secara praktis lapisan minyak didapatkan setelah Kambrium sampai Pleistosen.

Menurut teori organik, proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga stadium:
1. Pembentukkannya sendiri yang terdiri dari:
a. pengumpulan zat organik di dalam sedimen
b. pengawetan zat organik di dalam sedimen
c. transformasi zat organik menjadi minyak bumi
2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam batuan sedimen ke perangkap.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 8
3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar di dalam lapisan sedimen sehingga berkumpul
menjadi akumulasi komersial.

Proses kimia organik umumnya dapat dipelajari dengan percobaan di laboratorium. Namun
demikian, berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta
penyebarannya di dalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta yang disimpulkan oleh Cox
(1954) ini diantaranya adalah:
1. Minyak bumi selalu terdapat dalam batuan sedimen dan umumnya sedimen marin, fasies
sedimen yang utama untuk minyak bumi memang terdapat di sekitar pantai.
2. Minyak bumi merupakan campuran kompleks hidrokarbon.
3. Temperatur reservoir rata-rata 107
o
C, dan minyak bumi masih dapat bertahan sampai
200
o
C. Di atas temperatur ini porfirin sudah tidak dapat bertahan.
4. Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi, ditandai oleh adanya porfirin dan
belerang.
5. Minyak bumi dapat tahan terhadap perubahan tekanan dari 8 sampai 10.000 psi.

Selanjutnya, menurut Hedberg (1964), terdapat beberapa faktor lingkungan pengendapan
yang mempengaruhi proses pembentukkan minyak bumi, diantaranya:
1. Banyaknya produksi zat organik jenis tertentu
2. Terbentuknya suatu kondisi anaerob dan reduksi
3. Tidak adanya organisme yang merusak zat organik
4. Pengendapan sedimen halus secara cepat yang memberikan pengawetan kepada zat
organik dan mempunyai matriks yang kaya air untuk proses diagenesa
5. Adanya rongga reservoir pada waktu kompaksi.

Selanjutnya, dalam teori organik, dikenal proses transformasi zat organik. Beberapa hal yang
berkaitan dengan peristiwa tersebut diantaranya:
1. Degradasi termal: Akibat sedimen mengalami penimbunan dan pembenaman maka akan
timbul perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang penting. Menurut
Welte (1964), proses transformasi merupakan degradasi termal yang mencakup
dekaboxilasi.
2. Reaksi katalis: Adanya katalis mempercepat proses kimia.
3. Radioaktivitas: Pembombardiran asam lemak oleh partikel alpha dapat membentuk
hidrokarbon parafin. Ini menunjukkan adanya pengaruh radioaktif terhadap zat organik.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 9
4. Aktivitas bakteri: Bakteri mempunyai peran besar dalam proses pembentukkan minyak
bumi sejak matinya zat organik sampai pada waktu diagenesis. Aktivitas bakteri
menimbulkan dan mengintensifkan lingkungan yang sifatnya mereduksi, sehingga
sekurang-kurangnya menyiapkan kondisi yang menungkinkan terbentuknya minyak bumi.

Anggapan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik, telah diterima oleh para ahli. Namun
jenis zat organik apakah yang menjadi bahan sumber terjadinya minyak bumi masih menjadi
penelitian. Kita mengenal beberapa jenis zat organik seperti protein, karbohidrat, lignin dan
asam lemak. Para ahli telah berkesimpulan lipid mungkin merupakan zat pembentuk utama
minyak bumi. Ini terlihat dari perbandingan antara Hidrokarbon dan Karbonnya, adalah yang
paling mirip dengan minyak bumi. Zat organik dapat terbentuk dalam kehidupan laut ataupun
darat dan dapat dibagi dua jenis yaitu yang berasal dari nabati atau hewani.

Agar terbentuk minyak dan gas bumi diperlukan suatu lingkungan pengendapan yang dapat
memberikan kadar zat organik yang tinggi serta kesempatan untuk mengawetkannya.
Keadaan tersebut misalnya:
1. lingkungan pengendapan dimana kehidupan berkembang secara baik sehingga zat organik
terkumpul banyak
2. lingkungan yang tereduksi, dimana tidak ada sirkulasi air yang cepat.
Perairan pantai memberikan 50 kali lebih banyak zat organik dari pada pantai terbuka,
terutama daerah muara. Ini disebabkan sungai banyak membawa zat makanan dari daratan.
Perkembangan organisme sangat cepat, kemudian mati secara cepat pula dan teronggoklah
zat organik tersebut.

Kondisi yang memungkinkan terjadinya pengawetan zat organik adalah kondisi tanpa adanya
oksigen, dan ini terjadi pada daerah dengan cekungan terbatas dengan sirkulasi fluida kurang.
Lingkungan ini biasa disebut lingkungan euxinic.

Batuan Reservoir
Seperti telah dijelaskan pada bagian awal bab ini, batuan reservoir adalah batuan bawah
permukaan yang mampu menjadi tempat terperangkapnya gas, minyak, air dan fluida
reservoir lain. Untuk menjadi reservoir minyak yang produktif, badan batuan harus cukup
besar, berpori, dan permeable sehingga mampu mengalirkan fluida ke lubang sumur. Batuan
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 10
sandstone dan carbonate (misalnya limestone dan dolomite) umumnya batuan yang paling
besar pori-porinya dan merupakan batuan yang umum sebagai batuan reservoir.

Suatu contoh batuan reservoir dapat diperbesar sehingga terlihat ribuan rongga kecil atau
pori-pori. Ukuran besarnya pori-pori tersebut disebut porositas. Makin besar porositas makin
banyak fluida yang dapat dikandung. Porositas batuan berkisar mulai dari lebih kecil dari 5
persen pada batuan sandstone atau carbonate yang tersementasi sampai dengan 30 persen
pada batuan sandstone yang unconsolidated.
MINYAK
SALT
WATER
BUTIRAN BATUAN

Disamping harus berpori, batuan reservoir juga harus permeable. Permeable artinya terdapat
pori-pori yang saling berhubungan sehingga minyak dapat bergerak (mengalir) dari satu pori
ke pori lainnya. Ukuran kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida disebut permeabilitas.
Makin besar permeabilitas makin mudah bagi minyak untuk mengalir di dalam batuan.
Satuan permeabilitas adalah darcy. Tetapi kebanyakan batuan mempunyai permeabilitas
sangat kecil sehingga digunakan satuan millidarcy. Tentang hal ini akan dijelaskan lebih
lanjut pada Bab III: Sifat Fisik Batuan. Umumnya, porositas dan permeabilitas tidak
berhubungan secara langsung. Namun demikian, terdapat beberapa batuan yang berporositas
tinggi akan mempunyai permeabilitas yang tinggi pula.

Perangkap
J ika terdapat sumber hidrokarbon, yaitu tempat dimana hidrokarbon tersebut terbentuk, dan
jika ada batuan reservoir yang berporositas dan berpermeabilitas cukup, maka dengan
perbedaan potensial migrasi akan terjadi. Akan tetapi untuk supaya hidrokarbon tersebut
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 11
berakumulasi, harus ada sesuatu yang menghentikannya atau menahannya. J ika tidak, maka
hidrokarbon tersebut akan terus bergerak sampai mencapai permukaan (potensial yang paling
rendah).

Seperti juga telah dijelaskan pada bagian awal bab ini, struktur geologi yang mencegah
pergerakan minyak dan gas keluar dari batuan reservoir disebut perangkap (trap). Terdapat
dua jenis perangkap yang dapat dikenali sampai saat, yaitu perangkap struktur dan perangkap
stratigrafi. Perangkap struktur adalah perangkap yang terbentuk akibat deformasi dari formasi
reservoir, sedangkan perangkap stratigrafi adalah perangkap yang terbentuk dari keadaan
dimana tidak ada kelanjutan porositas dan permeabilitas.

Perangkap struktur sangat bervariasi baik dalam bentuk maupun ukuran. Umumnya
perangkap ini terbentuk karena pelipatan atau patahan. Beberapa perangkap struktur yang
dikenal adalah perangkap antiklinal, perangkap patahan, dan perangkap dome. Perangkap
antiklinal terbentuk akibat pelipatan lapisan batuan. Perangkap ini kemudian terisi oleh
hidrokarbon yang masuk dari bagian bawahnya. Pergerakan hidrokarbon ke atas kemudian
terhadang oleh caprock, yaitu batuan yang bersifat impermeable. Perangkap patahan
terbentuk oleh pergeseran lapisan yang terpatahkan. Pergerakan hidrokarbon dalam
perangkap ini terhadang oleh batuan impermeable yang bergeser dan berada di sisi yang
berlawanan pada bidang patahan terhadap lapisan yang mengandung hidrokarbon atau oleh
material impermeable (disebut gouge) pada zona patahan. Dengan demikian efektivitas
penyekatan akan tergantung kepada seal pada bidang patahan. Suatu perangkap patahan yang
sederhana dapat terbentuk jika kontur struktur memberikan bidang bukaan terhadap patahan.
Perangkap dome atau plug adalah formasi batuan berpori pada atau di sekeliling intrusi garam
atau batuan serpentine yang terangkat atau terlipat oleh proses intrusi. Akumulasi
hidrokarbon di sekeliling kubah garam biasanya tidak berkesinambungan melainkan terputus-
putus menjadi beberapa segmen oleh patahan. Oleh sebab itu, biasanya hidrokarbon pada
perangkap ini seringkali sulit dibor.

Perangkap stratigrafi disebabkan oleh formasi batuan yang menyekat pada bagian atas
reservoir atau karena ada perubahan kontinuitas porositas atau permeabilitas di dalam
reservoir. Satu jenis perangkap stratigrafi adalah unconformity dimana bagian batuan berpori
yang terendapkan mengalami erosi dan kemudian terlapisi caprock di atasnya. Angular
unconformity merupakan unconformity yang diakibatkan oleh pengandapan di atas lapisan
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 12
batuan berpori yang terlipat atau miring. J enis perangkap stratigrafi lainnya adalah lenticular
trap yang tersekat oleh perubahan tiba-tiba dari penyebaran batuan berpori. Perubahan ini,
misalnya diakibatkan oleh proses pengendapan batu pasir atau clay yang tidak merata
distribusinya seperti dapat terjadi pada delta suatu sungai.

Suatu perangkap yang merupakan kombinasi dari pelipatan, patahan, perubahan porositas,
dan kondisi lain dapat pula terjadi. Perangkap ini, campuran antara perangkap struktur dan
stratigrafi, disebut perangkap kombinasi (combination trap).

Keberadaan Fluida Reservoir
Suatu fluida dapat didefinisikan sebagai suatu materi yang dapat mengalir. Terdapat tiga jenis
fluida yang dapat terkandung di dalam reservoir. Ketiga jenis fluida tersebut adalah minyak,
air, dan gas. Minyak dan air adalah fluida yang berupa cairan. Gas tidak berupa cairan dalam
keadaan alamiah. Akan tetapi gas dapat berbentuk cairan dengan cara-cara buatan.

Air
Kebanyakan reservoir minyak terdiri dari sedimen yang terendapkan di dalam atau di sekitar
laut. Lapisan sedimen ini pada mulanya terisi oleh air asin. Sebagian dari air asin ini
kemudian terdesak oleh minyak yang bermigrasi. Sebagian yang lain tetap berada di dalam
formasi batuan. Air yang tersisa ini disebut air connate interstitial connate berasal dari
bahasa Latin yang berarti lahir bersamaan dengan dan interstitial karena air ditemui di
dalam interstices atau pori-pori formasi batuan. Penggunaan istilah ini kemudian disingkat
menjadi air konat (connate water) yang berarti air di dalam formasi batuan ketika reservoir
terbentuk. Air konat terdistribusi di seluruh reservoir. Tetapi, hampir seluruh reservoir
minyak mempunyai reservoir air di sekelilingnya. Air bebas (free water) ini memberikan
energi bagi reservoir yang mempunyai mekanisme water drive dan disebut bottom water jika
berada di bawah akumulasi minyak dan edge water jika berada di sekeliling reservoir.

Minyak
Minyak yang lebih ringan daripada air dan tidak langsung bercampur dengan air akan
mendorong air ke bawah. Namun demikian, minyak tidak dapat mendesak seluruh air.
Semacam lapisan film air akan menempel pada (atau diabsorbsi oleh) dinding pori batuan.
Film ini disebut air yang membasahi (wetting water). Dengan kata lain, air tidak hanya
berada di bawah akumulasi minyak (zone minyak) tetapi juga berada di dalam pori-pori
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 13
batuan yang ditempati oleh minyak (berada bersama-sama dengan minyak). Namun, dapat
pula terjadi reservoir yang bersifat oil-wet, yang tidak mempunyai lapisan film air di
sekeliling dinding pori, sehingga seluruh pori-pori tersisi oleh minyak (mengandung 100%
saturasi minyak).

Gas
Gas biasanya berada bersama-sama dengan minyak di dalam reservoir. Energi yang diberikan
oleh gas yang berada di bawah tekanan yang besar merupakan mekanisme pendorong
reservoir yang sangat penting. Gas yang berada bersama-sama dengan minyak dan air di
dalam reservoir dapat berupa solution gas atau free gas dalam suatu gas cap. Dalam keadaan
tertentu, misalnya tekanan tinggi dan temperatur rendah, gas akan tetap terlarut di dalam
minyak. Ketika minyak diproduksikan ke permukaan, tekanan akan menurun dan gas
kemudian keluar dari larutan (seperti halnya sebotol coca cola yang dibuka tutupnya). Gas
yang berada di dalam larutan tersebut mempunyai volume sehingga perhitungan volume
minyak di tempat (oil in place) harus memperhitungkannya.

Gas bebas (free gas) yaitu gas yang berada secara tidak terlarut dalam minyak cenderung
untuk terakumulasi pada bagian struktur teratas dari reservoir dan membentuk tudung gas
(gas cap). Sepanjang ada gas bebas dalam tudung gas, minyak akan tetap tersaturasi oleh gas
dalam larutan. Gas terlarut akan menurunkan viskositas minyak dan memudahkan minyak
untuk mengalir.

Distribusi Fluida
Kontak minyak-air (WOC water-oil contact, yaitu bidang dimana air dan minyak saling
bersentuhan) merupakan sesuatu yang penting pada awal pengembangan suatu reservoir,
sebab untuk mendapatkan produksi minyak yang maksimum maka air jangan sampai ikut
terproduksi bersama dengan minyak. Pada umumnya, semua reservoir mempunyai air di
bagian struktur terendah dengan minyak berada di atasnya. Akan tetapi kontak minyak-air
tidak berupa bidang yang menunjukkan perubahan yang tajam dan tidak berupa bidang yang
horizontal, namun berupa zona yang sebagian minyak dan sebagian air setebal kira-kira 10
15 ft. Hal yang sama juga terjadi pada bidang kontak minyak-gas. Tetapi, minyak yang jauh
lebih berat dibandingkan dengan gas, cenderung tidak naik ke dalam zona gas seperti halnya
air yang naik ke zona minyak. Mengenai hal ini dapat dijelaskan oleh fenomena kapileritas.

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 14
Minyak
Air Air
Minyak Minyak
Air Air
Gas
Air
Air
Gas
Undersaturated oil reservoir
Saturated oil reservoir
Gas reservoir
WOC
Tekanan Reservoir
Semua fluida reservoir berada dalam tekanan. Tekanan ini ada di dalam reservoir karena
reservoir dan fluida yang dikandungnya berada di dalam keadaan terbebani oleh lapisan
batuan dan fluida yang berada di atasnya (disebut dengan overburden). Makin dalam suatu
reservoir akan makin besar tekanannya. J adi tekanan fluida di dalam reservoir dapat
dianalogikan dengan tekanan fluida pada suatu kolam renang. Pada bagian bawah kolam
maka tekanan fluidanya paling besar karena mendapat beban tekanan (hidrostatik) yang
paling besar.

Tekanan Normal
Seperti halnya pada suatu kolam renang, seperti disebutkan di atas, di dalam reservoir juga
terdapat tekanan fluida. Dalam keadaan normal, tekanan di dalam reservoir hanya berupa
tekanan yang diakibatkan oleh tekanan overburden fluida. Hal ini terjadi khususnya untuk
reservoir yang mempunyai hubungan dengan permukaan misalnya berupa singkapan atau
terhubungkan melalui batuan berpori lainnya dan terisi oleh air. Dalam keadaan demikian,
maka tekanan reservoir tersebut hanya berupa tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
hidrostatik fluida yaitu tekanan yang diakibatkan oleh berat kolom air. Tekanan ini disebut
tekanan normal.

Tekanan Abnormal
Reservoir yang tidak berhubungan dengan permukaan biasanya dikelilingi oleh batuan yang
bersifat impermeable. Dalam keadaan demikian, maka berat batuan yang berada di atasnya
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 15
akan mempunyai andil yang besar terhadap tekanan reservoir. Yang terjadi adalah berat
batuan yang berada di atasnya seperti menggencet (squeezing) reservoir. Karena fluida di
dalam reservoir tidak dapat keluar, maka tekanan reservoir meningkat tinggi. Analogi ini
adalah seperti sebuah balon yang ditiup untuk kemudian digencet. Maka dengan adanya
gencetan tersebut tekanan balon menjadi lebih tinggi. Tekanan ini disebut tekanan abnormal.
Tekanan abnormal dapat pula terjadi jika air yang berada di bawah reservoir minyak
terhubungan dengan permukaan dan terjadi efek artesis.

Tekanan Datum
Berbicara aliran fluida di dalam media berpori, yang dalam hal ini adalah di dalam reservoir,
maka beda potensial yang menyebabkan adanya aliran tersebut sangat penting untuk
difahami. Secara khusus, fluida dari reservoir mengalir ke sumur yang jumlahnya umumnya
lebih dari satu buah. Oleh karenanya, maka beda potensial antara suatu titik lokasi di
reservoir dengan berbagai sumur tentulah tidak sama. Dalam kaitan itulah, maka akan lebih
mudah untuk difahami jika potensial dari fluida yang mengalir dari reservoir menuju sumur
tersebut dinyatakan dalam tekanan datum yaitu bahwa tekanan di suatu titik dalam
reservoir ditarik ke atau dinyatakan pada bidang datum seperti digambarkan dalam
gambar skematik berikut:

)
z z
( g p
0 B
B
B


Anggap ada dua harga tekanan yang diukur di dua sumur A dan B dalam suatu reservoir
dimana bidang datumnya telah ditentukan yaitu pada lokasi z =z
0
. J ika tekanan di sumur
tersebut diukur terhadap tekanan datum sama dengan nol, maka potensial dari masing-masing
sumur tersebut adalah tekanan yang terukur di sumur yang merefer ke bidang datum, yaitu:
) head gravity ( ) absolut tekanan (
A A
A
+ =


+ =


)
z z
( g p
0 A
A
A
+ =


A
B
(p
A
, z
A
)
(p
B
, z
B
)
Sembarang
bidang datum
(z =z
0
)
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 16
) head gravity ( ) absolut tekanan (
B B
B
+ =

atau, secara umum:


gz p + = =
dimana disebut dengan psi-potensial dan mempunyai satuan unit potensial per unit
volume.


Diagram Fasa dan Jenis Reservoir
Secara kimiawi, minyak dan gas bumi terdiri dari molekul-molekul yang tersusun dari unsur
kimia hidrogen (H) dan karbon (C) dengan ikatan kimia tertentu. Komposisi ikatan molekul-
molekul tersebut dapat berbeda satu sama lain; yaitu mempunyai proporsi yang beraneka
ragam. Suatu jenis hidrokarbon yang ditemukan di suatu tempat, akan sangat jarang dapat
ditemukan di tempat lain dengan komposisi yang sama persis. Selanjutnya, komponen
hidrokarbon juga dapat terbentuk menjadi ikatan yang sangat rumit. Tergantung ikatan antara
atom-atom C dan H, hidrokarbon dapat berupa hidrokarbon ringan, seperti gas, atau dapat
pula berupa minyak berat. Semakin banyak komponen ringan yang terbentuk maka semakin
banyak gas yang akan dihasilkan. Sebaliknya, semakin banyak komponen berat yang
terbentuk, maka semakin banyak minyak yang akan dihasilkan.

Keberadaan fasa hidrokarbon apakah itu berupa cairan, yaitu minyak, atau gas tergantung
pada tekanan reservoir. J ika tekanan berubah maka keberadaan fasa juga berubah. Bila
tekanan naik, maka molekul tertekan untuk bersatu bersama-sama sehingga cenderung untuk
menjadi cairan. Sebaliknya bila tekanan berkurang, maka gas akan mengembang dan cairan
akan menguap dan berubah menjadi gas. Keberadaan fasa hidrokarbon juga dipengaruhi oleh
temperatur. Bila temperatur naik, maka molekul mendapat energi kinetik yang tinggi,
sehingga terjadi kecenderungan cairan untuk menjadi gas. Sebaliknya bila temperatur turun,
maka terjadi kondensasi dimana gas menjadi cairan.

Karena perubahan tekanan dan temperatur tersebut maka dapat terjadi perubahan fasa selama
perjalanan hidrokarbon dari reservoir ke permukaan pada waktu hidrokarbon tersebut
diproduksikan. Keadaan ini biasanya digambarkan oleh yang apa yang disebut dengan
diagram fasa. Dengan diagram fasa ini maka reservoir dapat dibagi menjadi beberapa jenis
tergantung keberadaan fluidanya, yaitu:
Reservoir minyak
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 17
Reservoir gas
Reservoir kondensat

Reservoir minyak dapat berupa reservoir dengan volume minyak yang stabil (low shrinkage
oil) dimana pengaruh tekanan terhadap volume tidak terlalu besar atau reservoir dengan
volume minyak yang tidak stabil (high shrinkage oil) dimana volume minyak sangat
dipengaruhi oleh perubahan tekanan. Sedangkan reservoir gas dapat berupa reservoir dengan
gas kering (dry gas) atau gas basah (wet gas).

Secara teknis, jenis reservoir dapat didefinisikan oleh letak temperatur dan tekanan awal
reservoir terhadap daerah dua fasa pada diagram tekanan-temperatur (P-T). Kurva P-T
tersebut, untuk tiap reservoir berbeda-beda tergantung komposisi hidrokarbon yang
dikandungnya. Namun, secara umum dapat digambarkan seperti ditunjukkan pada gambar
berikut. Daerah yang dibatasai oleh garis bubble point dan dew point adalah daerah dimana
terdapat baik fasa gas maupun fasa cair. Kurva-kurva di dalamnya menunjukkan persentase
volumetrik fasa cair. Tinjau suatu reservoir yang pada awalnya mempunyai p =3700 psia dan
T =300
o
F. Reservoir ini berada pada titik A dan hidrokarbon yang dikandungnya adalah
berupa fasa gas. Selama produksi, tekanan turun, namun temperatur tetap sebesar 300
o
F.
Perubahan ini ditunjukkan oleh garis A-A
1
. Selama perubahan tekanan pada kondisi
isothermal ini, fasa di reservoir tetap berupa fasa gas. Komposisi fluida di reservoir tidak
berubah karena temperatur yang lebih besar dari cricondentherm. Begitu pula komposisi
fluida yang diproduksikan tetap. Namun demikian, fasa yang terproduksikan akan berubah
sesuai dengan garis A-A
2
, sehingga di permukaan akan muncul condensate liquid. J ika,
misalnya cricondentherm adalah 50
o
F, maka di permukaan fluida terproduksi akan tetap
sebagai fasa gas, dan reservoir yang demikian disebut dengan dry gas reservoir.

Sekarang, tinjau reservoir yang pada awalnya mempunyai p =3300 psia dan T =180
o
F,
seperti ditunjukkan oleh titik B. Reservoir ini juga mengandung fluida satu fasa berupa gas
karena temperaturnya lebih besar dari temperatur kritik. Karena diproduksikan, maka tekanan
menurun, namun dengan komposisi fluida yang tetap sama seperti halnya yang terjadi di
reservoir A sampai tekanan dew-point dicapai, titik B
1
. Di bawah tekanan ini fasa cair akan
terkondensasi sebagai kabut atau dew dan reservoir demikian disebut dengan dew-point
reservoir. Kondensasi ini mengakibatkan fasa gas kehilangan kandungan cairan. Cairan yang
terkondensasi tersebut kemudian menempel pada dinding pori batuan dan tidak bisa bergerak
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 18
(fenomena membasahi berkenaan dengan tegangan antar muka). Oleh karenanya, gas yang
terproduksikan ke permukaan mempunyai kandungan cairan yang lebih sedikit dibandingkan
dengan kandungan semula di reservoir sehingga untuk jenis reservoir ini producing gas-oil
ratio (GOR) akan meningkat. Kejadian ini disebut dengan retrograde condensation. Disebut
dengan retrograde karena pada kondisi ekspansi isotermal umumnya yang terjadi adalah
vaporization bukan condensation. Proses retrograde condensation akan berlangsung sampai
titik B
2
dicapai, yaitu pada kandungan cairan maksimum 10% pada tekanan 2050 psia.
Kejadian sebenarnya, setelah dew point dicapai, komposisi fluida di reservoir berubah
sehingga diagram P-T juga berubah. Namun untuk penjelasan di sini, perubahan tersebut
diabaikan dan tidak dibahas. Selanjutnya terjadi vaporization dari titik B
2
ke titik B
3
. Hal ini
mengakibatkan liquid recovery dan oleh karenanya kemungkinan terjadi penurunan
producing GOR di permukaan.

4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0 350 300 250 200 150 100 50



A
A
1
A
2

B
B
2
B
3
B
1
C
1
C
D
Temperatur,
o
F
Critical
point
Bubble point
atau
Dissolved gas
reservoirs
Dew point
atau
Retrograde
Gas-Condensate
reservoirs
Single-phase
gas reservoirs
0%
10%
40%
20%
80%

Selanjutnya tinjau reservoir yang pada awalnya mempunyai p =2800 psia dan T =70
o
F,
seperti ditunjukkan oleh titik C. Reservoir ini juga mengandung fluida satu fasa namun
sekarang berupa fasa cair karena temperatur lebih kecil dari temperatir kritik. Reservoir
demikian disebut dengan bubble-point reservoir. Karena diproduksikan, tekanan turun, dan
suatu saat mencapai tekanan bubble-point yaitu pada p =2400 psia, titik C
1
. Di bawah
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 19
tekanan ini gelembung gas akan muncul. Gas ini umumnya akan bergerak menuju sumur dan
kemudian terproduksikan dengan jumlah yang bahkan meningkat. Sebaliknya minyak
terproduksikan akan berkurang dan sebagian bahkan tetap berada di reservoir dan tidak
terproduksikan. Istilah lain yang sering digunakan untuk reservoir dengan fenomena
mekanisme pendorongan semacam ini adalah depletion, dissolved gas, solution gas drive,
expansion, atau internal gas drive.

Dan jenis reservoir yang terakhir adalah jika reservoir berada pada titik D, yaitu yang pada
awalnya mempunyai p =1800 psia dan T =170
o
F. Fluida yang terkandung di reservoir
yang demikian berada dalam dua fasa yaitu fasa cair dan fasa liquid.

Low Shrinkage Oil. Yang dimaksud dengan low shrinkage oil adalah hidrokarbon yang
dengan turunnya tekanan, akibat proses produksi hanya sedikit fasa cairan yang akan berubah
menjadi fasa gas. Hal ini disebabkan oleh banyaknya komponen berat dari hidrokarbon, dan
hanya akan mulai keluar gas, bila komponen-komponen ringan seperti metana, etana dan
propana mulai bergerak menguap.

High Shrinkage Oil. Dengan turunnya tekanan high shrinkage oil akan menguapkan cairan
menjadi gas yang cukup banyak. Hal ini disebabkan kandungan komponen ringan cukup
banyak di dalam sistem hidrokarbonnya. Bila tekanan dan temperatur turun sampai ke
kondisi separator, maka akan diperoleh hidrokarbon sebagai gas. Dengan demikian minyak
yang diperoleh menjadi berkurang.

Dry Gas. Yang dimaksud dengan dry gas adalah kondisi hidrokarbon bila tekanan dan
temperaturnya menurun, tidak akan terbentuk cairan.

Wet Gas. Sedangkan yang dimaksud dengan wet gas adalah hidrokarbon yang bila
temperaturnya diturunkan akan menghasilkan cairan.

Condensate Gas. Condensate gas akan terjadi, bila kondisi hidrokarbon di reservoir
mempunyai temperatur yang lebih besar dari titik kritisnya, sehingga sistem menjadi gas.
Akan tetapi bila tekanan diturunkan, maka akan dihasilkan sejumlah cairan, dan bila
diteruskan penurunan tekanan maka akan kembali menjadi gas.

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 20
Pengurasan dan Mekanisme Pendorongan
Minyak dan gas yang berada di dalam reservoir bergerak menuju lubang sumur akibat
beberapa proses baik proses alamiah maupun buatan. Proses alamiah dapat diakibatkan oleh
(a) ekspansi fluida, (b) pendorongan fluida, (c) gravitasi, dan/atau (d) keadaan kapileritas.
Proses buatan dapat berupa pendorongan melalui injeksi di sumur lain (yaitu pemberian
tenaga dorong tambahan) maupun proses alami yang dibantu dengan penciptaan keadaan
buatan (misalnya perubahan sifat fisik minyak sehingga proses alami menjadi lebih mudah
terjadi) atau kedua-duanya.

Tahapan pengurasan minyak dari suatu reservoir biasanya dibagi menjadi tiga tahap yang
berurutan: primer, sekunder, dan tersier. Hampir semua reservoir yang baru dikembangkan
akan melalui tahap primer terlebih dahulu, setidaknya untuk beberapa waktu. Tahapan ini
diperlukan untuk pengumpulan data, pengkajian alternatif teknik produksi, dan studi
pengembangan lapangan. Sebagian reservoir dapat terus diproduksikan dengan menggunakan
tenaga dorong alamiah (yaitu tahap primer) sampai titik abandonment jika tenaga dorong
alamiah tersebut cukup mampu mempertahankan produksi yang diinginkan dan/atau
diperkirakan. Sebagian yang lain hanya dapat berproduksi seperti yang diinginkan dengan
tambahan proses atau mekanisme buatan. Dalam kaitan ini, sebaiknya tidak menggunakan
istilah teknik pengurasan sekunder dan/atau tersier.

Pengurasan Primer Alamiah
Pada umumnya, reservoir mempunyai energi yang cukup besar pada awal reservoir tersebut
diproduksikan. Energi ini bisa merupakan salah satu atau kombinasi dari beberapa
mekanisme, yaitu: solution gas drive, tekanan reservoir awal, efek gravitasi, gas cap, atau
tenaga dari aquifer. Energi reservoir alamiah, dengan bantuan pompa (artificial lift) dapat
memproduksikan minyak melebihi kapasitas alamiahnya sampai menurun ke titik laju
produksi yang tidak ekonomis untuk kemudian produksi dihentikan. Tahap inilah yang biasa
disebut tahap pengurasan alamiah (natural primary recovery). Faktor perolehan (recovery
factor) dalam tahap ini akan tergantung pada energi reservoir alamiah, sifat fisik batuan, sifat
fisik fluida, rencana pengembangan lapangan, dan kondisi ekonomi untuk abandonment.
Faktor perolehan tersebut berkisar pada harga-harga seperti ditunjukkan pada tabel berikut.
Kinerja produksi (karakteristik laju produksi minyak, GOR, WOR, dan penurunan tekanan)
pada tahap primer akan tergantung pada jenis energi reservoir dan parameter geologi dan
reservoir.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 21

J adi, minyak dapat diproduksikan melalui sebuah sumur secara alamiah jika ada mekanisme
yang mendorong minyak tersebut untuk bergerak ke lubang sumur (ada natural driving
mechanism). Berikut ini penjelasan singkat mengenai beberapa mekanisme pendorong
alamiah yang utama.

Tabel 3: Faktor perolehan minyak

Minyak berat 5 15 %
Minyak ringan dengan
solution gas drive
10 25 %
Minyak ringan dengan
water drive dan/atau gas
cap
20 35 %
Minyak ringan dengan
gravity drainage
30 45 %


Solution Gas Drive. Saturated reservoir dengan solution gas drive tanpa gas cap dan tanpa
water drive akan memperlihatkan kinerja produksi minyak yang menurun dan gas-oil ratio
(GOR) yang meningkat segera setelah dimulainya produksi. GOR akan terus meningkat
sampai titik maksimum untuk kemudian menurun. Sebaliknya, undersaturated reservoir tanpa
water drive akan memperlihatkan penurunan laju produksi minyak dan GOR yang konstan
sepanjang tekanan reservoir berada di atas tekanan saturasi. J ika produksi dilanjutkan, maka
tekanan akan menurun dan mencapai tekanan saturasi sehingga reservoir mulai berperilaku
seperti reservoir dengan solution gas drive.
Minyak
Air Air
Tekanan reservoir turun
melewati tekanan gelembung
WOC
Waktu
Watercut (%)
Tekanan
Producing
GOR
R
si
p
i
p
b
Sumur

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 22
Gas Cap Drive. Keberadaan tudung gas (gas cap) pada bagian atas zona minyak pada
saturated reservoir akan membantu menstabilkan laju produksi minyak dan GOR untuk
beberapa lama. Setelah itu, gas dari gas cap mulai membentuk kerucut (gas coning) dan mulai
terproduksi melalui bagian atas dari perforasi sehingga produksi minyak menurun dan GOR
meningkat dengan tajam (garis putus-putus menunjukkan produksi dengan kontrol GOR).
WOC
Waktu
Watercut (%)
Tekanan
Producing
GOR
R
si
p
i
Minyak
Air Air
Gas
Sumur
Tekanan reservoir di bawah
tekanan gelembung

Water Drive. Reservoir dengan water drive dapat berupa reservoir dengan aquifer di
sekelilingnya (edge water) atau reservoir dengan reservoir air di bawahnya (bottom water),
J ika permeabilitas di sekeliling reservoir (atau permeabilitas di bawah reservoir) cukup besar,
maka air akan masuk (disebut water influx) ke dalam reservoir sebagai akibat dari
diproduksikannya reservoir tersebut. Water influx ini memberikan efek mempertahankan
tekanan reservoir (pressure maintenance) dan, sebagai akibatnya, akan mempertahankan laju
produksi. Laju produksi minyak umumnya menurun dengan lambat dan GOR meningkat
dengan lambat (atau konstan). Setelah itu air dari aquifer akan mencapai sumur dan WOR
mulai meningkat. Di samping itu, air juga dapat terproduksikan dari air yang berada di bawah
minyak jika air tersebut telah mencapai perforasi (water coning).
Waktu
Watercut (%)
Tekanan
Producing
GOR (R=R
si
)
R
si
p
i
Minyak
Air
Air
WOC
Sumur

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 23

Gravity Drainage. Pada reservoir yang miring dengan permeabilitas vertikal dan horizontal
yang cukup besar, minyak dapat mengalir ke bawah atau ke atas menuju sumur karena efek
gravitasi. Pada reservoir dengan water drive, sumur dapat ditempatkan jauh di atas air yang
mendorongnya. Sebaliknya, pada reservoir dengan gas cap, sumur dapat ditempatkan jauh di
bawah GOC. Hal dapat memperlambat breakthrough (water atau gas coning) dan
mempertahankan energi reservoir.
100
80
60
40
20
0
0 60 50 40 30 20 10
Recovery Efficiency, % IOIP

Pengurasan Primer Dengan Stimulasi
Banyak reservoir yang secara alami sangat ketat (tight) dan mempunyai permeabilitas rendah.
Hal dapat disebabkan oleh kandungan silt dan clay serta ukuran butiran yang kecil. Di
samping itu, bagi reservoir yang normal permeabiltas rendah dapat terjadi di sekitar lubang
bor akibat aktivitas sebelumnya (pemboran, dan sebagainya) yang dikenal dengan formation
damage. Baik reservoir dengan permeabilitas alamiah yang rendah ataupun formasi di sekitar
lubang sumur yang mengalami penurunan permeabilitas (mengalami damaged), laju produksi
minyak bisa rendah atau bahkan tidak ekonomis. Peningkatan produksi pada situasi yang
demikian dilakukan dengan stimulasi. Dan pada keadaan tertentu dapat menggunakan sumur
horizontal. Dua teknik utama stimulasi yang dikenal adalah acidizing dan hydraulic
fracturing.

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 24
Water Influx
Banyak reservoir yang secara alami berbatasan sebagian atau seluruhnya dengan air yang
disebut aquifer secara hidrolik. Ukuran aquifer dapat jauh lebih besar dibandingkan dengan
reservoir sehingga seolah-olah tak terbatas (untuk tujuan praktis) dan dapat jauh lebih kecil
dari reservoir sehingga pengaruhnya terhadap kinerja reservoir dapat diabaikan. Aquifer
dapat dibatasi/dikelilingi oleh batuan yang impermeable sehingga membentuk sistem
tertutup. Tetapi dapat pula reservoir terbuka ke suatu tempat di permukaan atau terangkat
secara struktural sehingga air berada di atas reservoir memberikan energi pendorongan secara
artesis.

Pada waktu reservoir diproduksikan, aquifer bereaksi untuk kembali ke keadaan
keseimbangan sebelumnya (yaitu mengembalikan ke tekanan awal) dengan mengalirkan air
ke zona reservoir (disebut water influx) dengan cara (1) ekspansi air, (2) ekspansi minyak
dalam batuan aquifer, (3) kompresibilitas batuan aquifer, dan/atau (4) aliran artesis (jika
secara struktural aquifer berada di atas reservoir). Akibatnya, penurunan tekanan di reservoir
akibat produksi dapat diperlambat.

Untuk menentukan efek aquifer terhadap produksi maka jumlah air yang masuk ke dalam
reservoir harus dihitung. Cara yang lazim adalah dengan metode material balance dengan
syarat isi awal minyak dan jumlah yang telah diproduksikan diketahui. Telah banyak metode
material balance yang dipublikasikan dan memberikan berbagai alternatif mengenai
pemodelan water influx (lihat Bab IX). Namun demikian, masih terdapat kesulitan dalam
menentukan jumlah water influx tersebut diantaranya penentuan ukuran dan bentuk aquifer
serta sifat fisik batuan aquifer seperti porositas dan permeabilitas.

Tudung Gas (Gas Cap)
Pada keadaan awal, hidrokarbon di dalam reservoir dapat berada dalam keadaan satu fasa
atau dua fasa. Keadaan satu fasa dapat berupa cairan dengan gas terlarut di dalamnya atau
dapat berupa fasa gas saja. Reservoir dengan kedua keadaan hidrokarbon di dalamnya
tersebut, masing-masing disebut reservoir minyak atau reservoir gas. J ika hidrokarbon dari
keadaan satu fasa gas di reservoir menjadi liquid setelah diproduksikan ke permukaan, maka
disebut reservoir gas-condensate atau (istilah lama) gas-distillate. J ika akumulasi dalam
keadaan dua fasa liquid dan gas/uap bagian reservoir dengan fasa uap disebut gas cap
(tudung gas) dan reservori dengan fasa liquid disebut zona minyak. Dalam hal minyak yang
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 25
akan diproduksikan, keberadaan tudung gas dapat menjadi pendorong minyak jika
tekanannya mencukupi (yaitu terjadi ekspansi jika sumur diproduksikan).

Kompaksi
Pengeluaran (produksi) minyak atau gas dari reservoir mengakibatkan menurunnya tekanan
fluida dan sebagai akibatnya meningkatnya tekanan efektif atau tekanan butiran (beda
tekanan antara tekanan overburden dan tekanan fluida). Peningkatan tekanan antar butiran
akan menyebabkan reservoir terkompaksi dan selanjutnya mengakibatkan subsidence di
permukaan. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kompaksi tergantung pada perbedaan
antara vertical stress (overburden) dan internal stress (tekanan fluida) sehingga kompaksi
dapat dengan mudah dihitung di laboratorium.

Tabel 4: Tahap dan proses pengurasan reservoir

Tahap Pengurasan Primer
Alamiah Stimulasi
Sekunder Tersier*)
Solution gas drive Acidizing Injeksi gas Termal
Water drive Fracturing Waterflooding Kimiawi
Gas cap drive Sumur horizontal Tercampur
Gravity Drainage Lainnya
*) Berdasarkan proses pengurasannya, tahap ini menggunakan proses enhanced oil recovery (EOR)


Kompaksi, dan faktor-faktor yang diakibatkannya, akan lebih berperan pada reservoir-
reservoir dangkal dengan unconsolidated sand. Oleh karenanya, sangat perlu untuk
menentukan kompresibilitas batuan reservoir dangkal sehingga diperoleh informasi mengenai
tingkat kompaksi yang dapat membantu meningkatkan kinerja perolehan minyakdisamping
itu, juga untuk menentukan tingkat subsidence yang mungkin akan membahayakan jika
lokasi permukaan lapangan berada dekat dengan laut atau danau.

Satuan dan Simbol Kuantitas Reservoir
Melihat perkembangan metodologi, konsep, dan persamaan khususnya dalam bidang teknik
reservoir, umumnya dalam bidang teknik perminyakan, ada baiknya ditinjau tentang
konvensi penggunaan symbol dan satuan dari kuantitas reservoir. Untuk itu, dalam bagian
ini akan dibahas tentang symbol dan satuan menurut istilah SPE (Society of Petroleum
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 26
Engineers). SPE telah menetapkan bahwa penandaan suatu satuan dalam bentuk singkatan
(misalnya ft untuk feet, kg untuk kilograms, m untuk meters, mol untuk moles, dan
sebagainya) disebut singkatan satuan (unit abbreviation) untuk menghindari kesalahan-
pahaman atau kekeliruan dengan istilah simbol (symbols) yang digunakan untuk simbol
huruf (misalnya p untuk tekanan, q untuk laju alir, dan sebagainya) yang digunakan dalam
persamaan-persamaan matematik. Namun, masyarakat internasional dan Amerika
menyebutnya simbol satuan (unit symbols).

Satuan SI
Istilah SI merupakan singkatan dari Le Systme International dUnits atau Sistem Satuan
International. Sistem satuan ini tidak sama dengan sistem satuan metrik sebelumnya
(misalnya sistem-sistem satuan cgs, mks, atau mksA). Namun demikian, sistem ini
berhubungan sangat erat dan merupakan perbaikan (atau modernisasi) dari sistem-sistem
sebelumnya tersebut. Sistem satuan SI adalah suatu bentuk sistem metrik yang dianggap
sangat cocok untuk semua aplikasi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu eksakta dan ilmu
teknik. Simbol SI juga identik dalam hampir semua bahasa di dunia. Dalam kaitan ini, aturan
penulisan, ejaan, dan sebutan adalah sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam
pekerjaan numerik disamping juga membuat sistem ini lebih mudah digunakan dan dipahami
di seluruh dunia.

Keuntungan Penggunaan Sistem Satuan Internasional
Sistem Satuan Internasional (SI) mempunyai berbagai keuntungan dibandingkan dengan
sistem-sistem lainnya. Sistem satuan ini terdiri dari sistem satuan yang dipilih secara rasional
dari metric system sehingga secara individual sebenarnya istilah atau nama satuan-satuan
dalam SI tidaklah baru. SI merupakan sistem yang koheren dengan tujuh satuan dasar seperti
yang akan disebutkan di bawah. Bagi ketujuh satuan dasar tersebut, nama, simbol satuan, dan
definisinya telah ditentukan dengan baik. Berikut ini adalah sebagian keuntungan-keuntungan
satuan SI:
(1) satu satuan per kuantitas fisik
(2) simbol satuan yang unik
(3) hubungan desimal
(4) koherensi
(5) satuan dasar.

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 27
Satuan Dasar
Sistem Satuan International didasarkan pada tujuh satuan dasar yang berdasarkan konvensi
dianggap tidak bergantung pada dimensi lain. Ketujuh satuan dasar ini adalah: (1) meter
untuk panjang, (2) kilogram untuk massa, (3) detik untuk waktu, (4) ampere untuk arus
listrik, (5) kelvin untuk temperatur termodinamika, (6) mole untuk jumlah molekul, dan (7)
candela untuk intesitas cahaya. Disamping itu, ada dua satuan tambahan yaitu: (1) radian
untuk sudut bidang dan (2) steradian untuk sudut solid.

Aturan Dalam Menggunakan Satuan SI
Selain mempunyai satuan yang standar, sistem satuan SI juga mempunyai tatacara penulisan
(syntax rules) yang tertentu dalam menulis satuan dan kombinasinya. Setiap satuan ditulis
dengan singkatan yang menggunakan simbol-simbol khusus. Berikut adalah sebagian dari
aturan-aturan tersebut.
(1) Ekspresi untuk satuan turunan diperoleh dengan menggunakan tanda-tanda matematis
perkalian dan pembagian. Contoh: satuan kecepatan adalah m/s; satuan torsi adalah Nm
(bukan N-m atau Nm).
(2) Pemakaian skala untuk satuan umumnya menggunakan kelipatan 1000.
(3) Simbol satuan selalu ditulis dengan huruf Roman tanpa memperdulikan pemakaian huruf
lainnya di dalam text. Kekecualian biasanya digunakan untuk simbol untuk liter, dimana
huruf el kecil (l) bisa tertukar dengan angka satu (1). Dalam hal ini liter dapat ditulis
dengan liter atau menggunakan script l atau L.
(4) Simbol tidak mempunyai bentuk jamak. Contoh: 45 kg, bukan 45 kgs.
(5) Setelah simbol tidak menggunakan titik, kecuali simbol terjadi pada akhir kalimat.
(6) J ika simbol berupa huruf, maka selalu ada jarak antara kuantitas dan simbol. Contoh: 45
kg, bukan 45kg. Namun, ketika karakter pertama dari simbol bukan berupa huruf, maka
tidak ada jarak antara kuantitas dengan simbol. Contoh: 32
o
C, bukan 32
o
C atau 32
o
C;
42
o
12 45, bukan 42
o
12 45 .
(7) Semua simbol ditulis dalam bentuk huruf kecil (lowercase), kecuali jika satuan yang
digunakan diturunkan dari nama kepunyaan (proper name). Contoh: m untuk meter, s
untuk second, A untuk ampere, Wb untuk weber, N untuk newton, W untuk watt, dan
sebagainya.
(8) Awalan ditulis tanpa jarak (spasi) antara awalan tersebut dengan simbol satuan. Contoh:
km adalah simbol untuk kilometer.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 28
(9) Dalam teks, simbol digunakan dalam kaitannya dengan bilangan/angka. Namun, jika
tidak ada bilangan, satuan harus ditulis lengkap. Contoh: luas permukaan sebuah karpet
adalah 16 m
2
(bukan 16 meter persegi); karpet biasanya dijual per meter persegi (bukan
per m
2
).
(10) Di beberapa negara (termasuk Indonesia) tanda pemisah desimal digunakan koma (tidak
titik atau dot seperti di negara-negara Amerika Utara dan Eropa). Di beberapa negara
lainnya pemisah bilangan yang panjang ke dalam kelompok tiga-tiga angka juga
digunakan koma. Oleh karena itu, agar supaya seragam maka pemisahan angka yang
panjang digunakan spasi. Contoh: 32 453.246 072 5. Catatan: Untuk bilangan dengan
empat angka biasa tidak digunakan spasi jadi 1234 atau 1 234.
(11) J ika menggunakan fraksi desimal suatu satuan, selalu gunakan angka nol sebelum tanda
desimal. Contoh: 0.45 kg, bukan .45 kg. Hal ini untuk menekankan perhatian terhadap
pemisah desimal dan mencegah kesalahan skala.
(12) Kebingungan mungkin terjadi dengan kata tonne (1000 kg). J ika kata ini digunakan
dalam bahasa Perancis di Canada, artinya dapat menjadi a ton of 2000 pounds.

Penggunaan Satuan SI untuk Kuantitas Tertentu
Satuan SI merupakan suatu bentuk metric system yang sangat cocok untuk semua aplikasi
khususnya bidang teknik (engineering). Adalah sangat penting bahwa versi sistem metrik
yang dimodernisasi ini dapat dimengerti dan digunakan secara benar. Oleh karena itu,
penggunaan simbol satuan dalam sistem ini harus hati-hati. Kesepakatan standar internasional
maupun nasional telah memberikan aturan-aturan yang seragam (misalnya penggunakan
huruf kapital, bentuk jamak dan fraksi (bentuk pembagian), titik, tanda desimal,
pengelompokkan angka, spasi, pemangkatan, satuan gabungan, dan sebagainya). Harus
diingat bahwa aturan-aturan ini harus diikuti dengan sebenar-benarnya agar diperoleh
kemudahan komunikasi dan untuk mencegah kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak
perlu. Penggunaan nama-nama satuan dapat sedikit berbeda di beberapa negara karena
perbedaan bahasa. Namun, dengan menerapkan aturan-aturan di atas dapat mengurangi
kesulitan-kesulitan komunikasi. Berikut ini adalah beberapa kuantitas dan penggunaan satuan
SI-nya.
Massa (kg), Gaya (Newton), dan Berat (hindari)
Dimensi linier (meter)
Temperatur termodinamika (kelvin)
Waktu (second)
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 29
Sudut (radian)
Volume (cubic meter)
Energi (joule)
Torsi dan momen pelengkungan (Newtonmeter)
Tekanan dan Stress (pascal)

Simbol Standar SPE
Standar pemakaian simbol untuk menyatakan kuantitas reservoir telah ditetapkan untuk
pertama kalinya pada 1956. SPE (Society of Petroleum Engineers) kemudian
mempublikasikan Symbol Standard ini dengan berbagai simbol-simbol tambahan. Simbol-
simbol tambahan ini diakibatkan oleh pertumbuhan teknologi perminyakan dalam berbagai
bidang. Versi terakhir telah dipublikasikan pada tahun 1993. Tujuan publikasi ini antara lain
adalah: (1) untuk menciptakan konsistensi dalam penggunaan simbol dan memaksimalkan
kemudahan dalam persamaan-persamaan yang digunakan dalam makalah SPE, dan (2) untuk
memberikan pedoman dalam pengkodean daftar simbol dan aturannya dalam makalah teknis.
Beberapa prinsip yang digunakan dalam standarisasi simbol tersebut adalah:
1. Simbol sedapat mungkin harus mengikuti standar
2. Simbol harus jelas dalam referensi (tidak ada konflik, tidak berarti ganda)
3. Simbol harus dapat didentifikasi dengan mudah
4. Simbol harus bersifat ekonomis dalam publikasi (makalah).

Simbol Sekunder
Simbol-simbol sekunder seperti subskrip dan superskrip digunakan secara luas untuk
berbagai tujuan. Sebagai contoh, sebuah subskrip dapat berarti (1) tempat dimana istilah
tersebut dipakai; (2) menunjukkan keadaan, titik, bagian, atau waktu; (3) sifat konstan dari
suatu kuantitas independen di antara yang lainnya; atau (4) sebuah variabel yang menyatakan
dasar turunan (derivative). Demikian pula, sebuah superskrip dapat berarti (1) eksponen bagi
pemangkatan, (2) label pembeda, (3) sebuah satuan, atau (4) index tensor. Untuk semua
kasus-kasus di atas, tujuan-tujuan yang ingin dicapai harus jelas. Beberapa subskrip atau
superskrip kadang-kadang dipisahkan oleh koma, dapat pula digabungkan dengan simbol
yang bersangkutan. Singkatan, juga terstandarisasi, dapat muncul diantara subskrip. Namun,
nomor tanda referensi, dapat tidak digabungkan dengan simbol, untuk menghindari
kesalahpahaman.

Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 30
Subskrip Berganda
Variasi dan kompleksitas masalah yang dipelajari dalam literatur perminyakan membuat
tidak mungkin untuk menghindari penggunaan subskrip berganda dengan menggunakan
berbagai simbol. Untuk mengurangi kebingungan dalam penggunaan dan pembacaannya,
berikut ini adalah sebagai pedoman yang telah dikeluarkan oleh SPE.
1. Ketika subskrip r untuk relative digunakan, subskrip itu harus muncul pertama dalam
urutan subskrip.
Contoh: k
ro
dan k
rg
2. Ketika subskrip i untuk injection, injected, atau irreducible digunakan, subskrip
tersebut harus muncul pertama dalam urutan subskrip.
Contoh:
BB
ig
, formation volume factor dari gas yang diinjeksikan;
c
ig
, compressibility dari gas yang diinjeksikan
3. Kecuali untuk Kasus-kasus 1 dan 2 di atas (dan simbol k
h
dan L
v
), fasa, komposisi, dan
sistem, subskrip harus muncul pertama dalam urutan subskrip.
Contoh:
BB
gi
, initial atau original gas FVF;
BB
oi
, initial atau original oil FVF;
BB
ti
, initial atau original total FVF;
C
O2i
, initial atau original oxygen concentration;
BB
ti
, initial atau original total system formation volume factor;

sE
, densitas partikel padat yang mengisi suatu paket eksperimen.
4. Singkatan subskrip seperti ext, lim, max, min, ketika digunakan pada suatu simbol
yang sudah diberi subskrip, subskrip harus muncul terakhir dalam urutan subskrip dan
simbol dasar dan subskrip awal diberi tanda kurung terlebih dahulu.
Contoh: (i
a
)
max
dan (S
hr
)
min
5. Kecuali untuk Kasus 4, subskrip numerik harus muncul terakhir dalam urutan subskrip.
Contoh:
Q
oD3
, dimensionless oil-production rate selama Periode Waktu 3;
P
R2
, reservoir pressure pada Waktu 2;
(i
a1
)
max
, maximum air injection rate selama Periode Waktu 1
6. Kecuali untuk Kasus 4 dan 5, subskrip D untuk dimensionless harus muncul terakhir
dalam urutan subskrip.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 31
Contoh: P
tD
, q
oD
, (q
oD3
)
max
7. Kecuali untuk Kasus-kasus 4, 5, dan 6, subskrip berikut harus muncul terakhir dalam
urutan subskrip; region seperti bank, burned, depleted, front, swept, dan
unburned (b, b, d, f, s, dan u); separation, differential, dan flash (sp, d, dan f); dan
identifikasi komponen individual (i atau lainnya).
Contoh: E
bD
, R
sf
, n
pj
.

Penulisan (Tipografi)
Ketika sebuah simbol yang menggunakan suatu huruf muncul dalam bentuk huruf yang
dicetak tidak tebal, maka simbol huruf untuk kuantitas fisik dan subskrip dan superskrip
lainnya, baik menggunakan huruf besar ataupun huruf kecil, tersebut harus dicetak miring
(italic). Angka Arab dan huruf alfabet lain yang digunakan dalam persamaan matematis
dicetak tegak (tidak italic).

Penggunaan Khusus
Berikut adalah beberapa catatan yang menjelaskan penggunaaan huruf sebagai simbol secara
khusus. Hal ini perlu disampaikan karena penggunaan huruf sebagai simbol dalam hal-hal
tersebut telah dibuat sebelumnya dan telah menjadi sangat umum. Oleh karenanya, dalam
beberapa hal tertentu seperti dalam istilah well logging, memerlukan catatan khusus.
1. Rumus kimia yang disingkat digunakan sebagai subskrip untuk paraffin hydrocarbons: C
1

untuk methane, C
2
untuk ethane, C
3
untuk propane C
n
untuk C
n
H
2n+2
.
2. Rumus kima yang ditulis lengkap digunakan sebagai subskrip untuk material lain: CO
2

untuk carbon dioxide, CO untuk carbon monoxide, O
2
untuk oxygen, N
2
untuk nitrogen,
dan sebagainya.
3. Huruf R tetap dipertahankan untuk resistivity listrik dalam well logging. Simbol
digunakan untuk hal-hal lainnya.
4. Huruf C tetap dipertahankan untuk conductivity listrik well logging. Simbol digunakan
untuk hal-hal lainnya.
5. Bilangan tanpa dimensi digunakan sebagai kriteria untuk geometrik, kinematik, dan
similaritas dinamik antara dua sistem dan untuk hal-hal lainnya. Contoh are N
Re
, N
Pr
, N
Pe
,
N
Da
.
6. Kuantitas x dapat dimodifikasi untuk menunjukkan harga rata-rata dengan menggunakan
sebuah garis (bar) di atasnya, x.
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 32
Perbedaan Antara Singkatan dan Simbol Huruf
Kebingungan sering terjadi dalam hal bagaimana membedakan antara singkatan dan simbol
huruf. SPE telah memberikan beberapa penjelasan seperti dipaparkan berikut ini.
Singkatan
Untuk penggunaan dalam hubungannya dengan tulisan (text), tabel, gambar, dan dalam
pembicaraan. Sebuah singkatan adalah huruf atau kelompok huruf yang digunakan untuk
menggantikan nama lengkap suatu kuantitas. Singkatan tidak dapat dibenarkan dalam
konteks penulisan persamaan matematis.
Contoh:
FVF, formation volume factor
GOR, gas-oil ratio
PI, productivity index
Simbol Huruf
Untuk digunakan dalam persamaan-persamaan matematis. Sebuah simbol huruf merupakan
sebuah huruf, dimodifikasi jika perle oleh satu atau lebih subskrip, digunakan untuk
menggambarkan suatu kuantitas fisik tertentu.
Contoh:
B, formation volume factor
R, gas-oil ratio
J , productivity index
Perlu untuk dicatat di sini bahwa SPE juga telah mempersiapkan simbol-simbol cadangan
(reserve symbols) yang dapat dipakai jika simbol-simbol yang telah diutarakan di atas tidak
dapat dipakai karena sesuatu hal. Simbol cadangan ini umumnya berupa huruf tunggal dan
dapat dimodifikasi jika perlu oleh satu atau lebih subskrip atau superskrip serta dapat
digunakan sebagai alternatif jika dua jenis kuantitas, berdasarkan standar yang ada,
mempunyai simbol yang sama. Beberapa contoh untuk ini diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 5: Simbol Cadangan
Quantity Letter Symbol Reserve Symbols
Area A S
oil formation volume factor BB
o
F
o
oil production rate q
o
Q
o
Saturation S s
skin effect s S,
dan sebagainya
Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 33






Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 34


Gambar 1. Berat lapisan endapan yang saling tumpang tindih mengakibatkan terbentuknya
batuan sedimen.

Gambar 3. Beberapa jenis patahan diantaranya: normal dip-slip (A), reverse atau thrust dip-
slip (B dan C), lateral (D), overthrust (E), dan growth (F)

Gambar 4. Graben dan Horst.

Gambar 5. Dua jenis ketidakselarasan adalah disconformity (A) dan angular unconformity
(B).

Gambar 6. J enis perangkap minyak pada dasarnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu
perangkap struktur (A) dan perangkap stratigrafi (B). Dua gambar di bawahnya
menunjukkan jenis-jenis perangkap struktur, yaitu patahan, antiklinal, dan dome
plug.

Gambar 7. J enis-jenis perangkap stratigrafi.



Reservoir dan Kuantitas Reservoir, hal. 35