Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Problem solving sama artinya dengan pemecahan masalah. Problem solving
merupakan suatu pendekatan dalam menghadapi suatu masalah. Problem solving juga
merupakan suatu prosedur yang di dalamnya terdapat langkah-langkah yang harus yang di
ikuti dalam memecahkan sebuah masalah yang di hadapi sesorang sebagai perorangan atau
seseorang bagai pemimpin organisasi atau anggota organisasi.
Pernakah anda menghadapi masalah? Dapatkah anda mengemukakan contohnya?
Apakah masalah yang anda hadapi masalah peribadi,sosial,belajar dan kerier?
Bagaimanakah kebiasaan anda dalam mebnghadapi masalah yang pernah anda hadapi ?
Bagimana pemecahannya? atau langkah-langkah apa yang anda tempuh setiap masalah
yang anda hadapi? bagaimana hasilnya? siapa diantara anda yang bisa mengungkapkan
pendapatnya?
Apa itu masalah? Pengertian masalah atau problem yang di hadapi seseorang
berbeda dengan orang lain. Pengertian masalah yang dihadapi seorang pemimpin berbeda
dengan yang di hadapi oleh seorang pelajar atau mahasiswa. Berbeda pula oleh seseorang
sebagai pribadi dengan seseorang sebagai pemimpin anggota suatu organisasi.
!asalah dapat di gambarkan sebagai suatu keadaan "terlihat atau tidak terlihat#
dimana antara yang di harapkan dengan kenyataan tidak sesuai. Antara yang di rencanakan
dengan kenyataan tidak sesuai atau terdapat hambatan antara yang di inginkan dengan
keadaan sebenarnya. !asalah berbeda dengan keluhan. $eluhan biasanya akibat dari
masalah yang tidak jelas atau tidak teratasi tidak terselesaikan. $eluhan yang dirasakan
seseorang dapat di jadikan pertanda seseorang sedang mengalami masalah yang tidak di
kenali atau sebuah masalah yang tidak dipecahkan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
%ewell dan &imon menulis bahwa, 'seseorang dihadapkan dengan masalah
(masalah) ketika menginginkan sesuatu dialog dan tidak tahu dengan segera serangkaian
tindakan apa yang harus diameter lakukan untuk mendapatkannya '.
Demikian pula, martine( menyatakan bahwa, "problem solving adalah proses
bergerak menuju tujuan bila jalan menuju tujuan tidak pasti'. P)lya mende*inisikan
problem solving sebagai 'pencarian beberapa tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan
yang jelas dipahami, tetapi tidak segera dicapai. Dimana tidak ada kesulitan, maka tidak
ada masalah '. !enurut !ichaelis adalah aktivitas proses yang ilakukan untuk individu
mencari solusi akan suatu masalah. Adapun menurut +isher problem solving adalah
suatu proses dimana anak dapat belajar untuk menggunakan pengetahuan mereka,
berdasarkan konsep proses ketrampilan yang ada ketrampilan pada diri anak. $etrampilan
yang harus dimiliki ketrampilan anak adalah kritis, kreati* proses strategis seperti
mengamati, perancangan, pengambilan keputusan, kerjasama kelompok, pengungkapan
pendapat, menerapkan proses mengevaluasi solusi proses seterusnya.
Dari beberapa pernyataan tersebut dapat dikatakan Problem solving sebagai
rangkaian tindakan yang tepat yang digunakan untuk mencapai tujuan. ,ntuk memperoleh
kemampuan dalam pemecahan masalah , seseorang memiliki banyak harus pengalaman
dalam, memecahkan berbagai masalah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa
anak yang banyak diberi latihan problem solving memiliki nilai lebih tinggi dalam tes
problem solving dibandingkan anak yang lebih sedikit latihannya.
Problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan masalah menjadikan
sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis proses disintesis dalam, usaha mencari
pemecahan atau jawabannya masalah oleh siswa. -adi problem solving ini memberikan
tekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Problem solving problem
solving "pemecahan masalah# dapat berlangsung bila seseorang dihadapkan suatu
persoalan pada yang didalamnya terdapat sejumlah jawaban kemungkinan. ,paya
menemukan jawaban itu kemungkinan merupakan suatu proses pemecahan masalah.
Prosesnya dapat berlangsung melalui suatu diskusi, atau suatu penemuan melaui
pengumpulan data, diperoleh baik dari percobaan "eksperimen# atau data dari lapangan.
Belajar problem solving dapat berlangsung proses belajar dalam, yang berkaitan ilmu-
ilmu dengan sosial, ilmu-ilmu kealaman, maupun dalam, matematika. .leh sebab bentuk
belajar ini menekankan pada penemuan pemecahan masalah, maka pembelajaran
bertujuan membentuk kemampuan yang memecahkan masalah, lebih menekankan
penyajian bahan pada dalam, bentuk masalah penyajian yang menuntut proses penemuan
pemecahan masalah.
Problem solving menekankan pada kegiatan belajar siswa yang yang optimal
bersi*at, dalam, upaya pemecahan menemukan jawaban atau terhadap
suatu permasalahan semacam ini memungkinkan belajar siswa mencapai pemahaman
terhadap apa yang tinggi yang dipelajari. Disamping itu, proses belajar menekankan
prinsip-prinsip pada berpikir ilmiah, yang bersi*at kritis proses analitis. Dengan demikian,
diharapkan menguasai siswapun prosedur melakukan penemuan ilmiah, proses mampu
melakukan proses berpikir analitis.
ciri-ciri utama problem solving problem solving "pemecahan masalah# adalah meliputi
suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin,
menghasilkan karya kerjasama proses peragaan.
&ecara teoritis, problem solving dipercaya sebagai vehicle untuk mengembangkan
higher-order-thinking skills "$usmawan, /00/#. !elalui problem solving diharapkan
siswa dapat membangun pemahamannya sendiri tentang realita alam dan ilmu
pengetahuan dengan cara merekontruksi sendiri 1makna2 melalui pemahaman relevan
pribadinya "pandangan konstruktivisme#. &iswa di*asilitasi untuk menerapkan their
existing knowledge melalui problem solving , pengambilan keputusan, dan mendesain
penemuan. Para siswa dituntut untuk berpikir dan bertindak kreati* dan kritis. !ereka
dilibatkan dalam melakukan eksplorasi situasi baru, dalam mempertimbangkan dan
merespon permasalahan secara kritis, dan dalam menyelesaikan permasalahannya secara
realistis.
Penilaian yang dilakukan dengan problem solving , Pi((ini "3445# yakin bahwa para
siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. !ereka dirangsang untuk
mampu menjadi seorang eksplorer6mencari penemuan terbaru7 inventor6mengembangkan
idegagasan dan pengujian baru yang inovati*7 desainer6mengkreasi rencana dan model
terbaru7 pengambil keputusan6berlatih bagaimana menetapkan pilihan yang bijaksana7 dan
sebagai komunikator6mengembangkan metode dan teknik untuk bertukar pendapat dan
berinteraksi.
8elevan dengan pendapat 9ardner, individu bisa dikatakan memahami konsep, teori,
keterampilan, atau domain ilmu pengetahuan tertentu, bila dia memiliki pemahaman segala
sesuatu dari segala sisi dan bisa menyatakannya dalam berbagai sistem simbol, serta
menerapkannya dengan benar dalam berbagai konteks yang berbeda.
2.2 Langkah-langkah Pembelajaran Problem Soling
Proses penyelesaian masalah dapat dilakukan dalam beberapa metode :
A. Penyelesaian masalah menurut J. Dewey
Penyelesaian masalah menurut model ini dilakukan dalam enam tahap, yaitu :
3. !erumuskan masalah.
!ampu mengetahui dan merumuskan masalah dengan jelas.
/. !enelaah masalah.
!ampu menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari
berbagai sudut.
;. !erumuskan hipotesis.
!ampu berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab-akibat, dan alternative
penyelesaian.
<. !engumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis.
Diperlukan kecakapan mencari dan menyusun data seraya menyajikannya dalam
bentuk diagram, gambar dan table.
=. Pembuktian hipotesis.
Diperlukan kecakapan menelaah dan membahas data, kecakapan menghubung-
hubungkan serta menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
5. !enentukan pilihan.
Diperlukan kecakapan membuat alternati* penyelesaian serta menilai pilihan
dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
B. Penyelesaian masalah menurut Lawner Senesh.
&anesh adalah seorang guru besar ekonomi, ia menggunakan tiga tahap dalam proses
penyelesaian masalah ekonomi, yaitu:
3. >ahap motivasi
/. >ahap pengembangan, dan
;. >ahap komulasi.
Problem solving berbeda dalam tahap yang ke dua yaitu tahap pengembangan dengan
langkah-langkah penyelesaian sebgai berikut:
3. !enemukan gejala-gejala problematik "symptus o* the problem#
/. !empelajari aspek-aspek permasalahan "aspects o* the problem#
;. !ende*inisikan masalah "de*inition o* the problem#
<. !enentukan ruang lingkup permasalahan "scope o* the problem#
=. !enganalisi sebab-sebab masalah "causes o* the problem#
5. !enyelesaikan masalah "solution o* the problem#
C. Penyelesaian masalah menurut david johnson dan johnson.
Penyelesaian masalah menurut johnson dan david ini dilakukan melalui kelompok.
!asalah yang dipilih mempunyai si*at kontroversional, misalnya dianggap penting
"importain#, urgen dan dapat diselesaikan "solutionable#. Prosedur penyelesaian adalah
sebagai berikut:
3. mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang
mengandung isu kon*lik, hingga menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam
kegiatan ini kita bisa saling meminta pendapat dan penjelasan tentang isu-isu hangat yang
menarik untuk dipecahkan.
/. mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta
menganalisis berbagai *aktor baik *aktor yang bisa menghambat maupun *aktor yang dapat
mendukung dalam penyelesaian masalah. $egiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi
kelompok kecil, hingga pada akhirnya kita dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas
yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
;. merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan
melalui diskusi. Pada tahapan ini setiap semua pihak didorong untuk berpikir
mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang
dapat dilakukan.
<. menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang
strategi mana yang dapat dilakukan.
=. melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. ?valuasi proses adalah
evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan7 sedangkan evaluasi hasil adalah
evaluasi terhdap akibat dari penerapan strategi yang diterapka%.
Pada saat memecahkan masalah, ada beberapa cara atau langkah yang sering
digunakan. @ara yang sering digunakan dan sering berhasil pada proses pemecahan
masalah inilah yang disebut dengan kiatstrategi pemecahan masalah. &etiap manusia akan
menemui masalah, karenanya strategi ini akan sangat berman*aat jika dipelajari paar siswa
agar dapat digunakan dalam kehidupan nyata mereka.
BAB III
!ASUS
Problem solving terha"a# keamanan #a$ien "i "alam %&mah Sakit.
&etiap tindakan memiliki resiko, tindakan medic juga menyimpan potensi resiko.
Banyaknya jenis pemeriksaan, jenis obat, dan prosedur, serta jumlah pasien dan sta*
8umah &akit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan
medis "medical errors#. !enurut Anstitute o* !edicine "3444#, medical error dide*inisikan
sebagai: >he *ailure o* a planned action to be completed as intended "i.e., error o*
eBecusion# or the use o* a wrong plan to achieve an aim "i.e., error o* planning#. Artinya
kesalahan medis dide*inisikan sebagai: suatu $egagalan tindakan medis yang telah
direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang diharapkan "yaitu., kesalahan tindakan#
atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan "yaitu., kesalahan perencanaan#.
$esalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa %ear !iss atau Adverse ?vent "$ejadian
>idak Diharapkan$>D#. Cal ini sangat merugikan dan membahayakan, pasien dapat
mengalami hal buruk dan pemberi tindakan juga dapat terkena pasal pelanggaran hokum.
Near Miss atau %yaris @edera "%@# juga merupakan suatu kejadian akibat
melaksanakan suatu tindakan "commission# atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil "omission#, yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak
terjadi karena keberuntungan. Cal ini dapat kita lihat dari banyaknya tindajan tindakan
yang dilakukan berbahaya namun dapat dicegah sebelum terjadi ataupun ditangani
sebelum menimbulkan e*ek, misalnya,pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak
timbul reaksi obat#, pencegahan "suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi
sta* lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan#, dan peringanan "suatu
obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan
antidotenya#.Adverse vent atau $ejadian >idak Diharapkan "$>D# merupakan suatu
kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu
tindakan "commission# atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
"omission#, dan bukan karena Dunderlying diseaseE atau kondisi pasien.
$esalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau
keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara
pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau
observasi7 tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan
terapi, metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan
yang tidak layak7 tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta
monitor dan *ollow up yang tidak adekuat7 atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan
berkomunikasi, kegagalan alat atau system yang lain.
Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan
mencerminkan *enomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse
event yang ditemukan secara kebetulan saja. &ebagian besar yang lain cenderung tidak
dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua.
Pada %ovember 3444, the American !ospital Asosiation (A!A) "oard of #rustees
mengidenti*ikasikan bahwa keselamatan dan keamanan pasien "patient safet$# merupakan
sebuah prioritas strategik. !ereka juga menetapkan capaian-capaian peningkatan yang
terukur untuk medication safet$ sebagai target utamanya. >ahun /000, Anstitute o*
!edicine, Amerika &erikat dalam D>. ?88 A& C,!A%, Building a &a*er Cealth &ystemE
melaporkan bahwa dalam pelayanan pasien rawat inap di rumah sakit ada sekitar ;-35F
$ejadian >idak Diharapkan "$>DAdverse ?vent#. !enindaklanjuti penemuan ini, tahun
/00<, GC. mencanangkan %orld Alliance for Patient &afet$, program bersama dengan
berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit.
Di Andonesia, telah dikeluarkan pula $epmen nomor <45!enkes&$AH/00=
tentang Pedoman Audit !edis di 8umah &akit, yang tujuan utamanya adalah untuk
tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical error dan
memberikan keselamatan bagi pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan 8umah
&akit &eluruh Andonesia"P?8&A# yang berinisiati* melakukan pertemuan dan mengajak
semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien di rumah
sakit.
!empertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu
memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit
untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap
kemanusiaan, maka dikembangkan system Patient &afet$ yang dirancang mampu
menjawab permasalahan yang ada. Patient sa*ety membantu pencegahan masalah baik
pada pasien maupun pada tim medis.
A. 8,!,&A% !A&AIAC
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikutJ:
3. Bagaimana penerapan patient sa*ety?
/. Bagaimana langkah atau peran manajemen dalam patient sa*ety?
;. Apa indikator patient sa*ety dan bagaimana penerapannya?
<. Apa aspek hukum patient sa*ety?
B. >,-,A%
>ujuan dari pembahasan ini adalah, untuk mengetahuiJ:
3. Proses penerapan patient sa*ety
/. Iangkah manajemen untuk mendukung proses patient sa*ety
;. Penetapan indicator patient sa*ety dan peranannya dalam menjamin keselamatan pasien.
'eori
A. P?%9?8>AA% PA>A?%> &A+?>K
&uatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman.
&istem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
.1
Patient sa*ety merupakan kegiatan mereduksi dan meminimalkan tindakan yang
tidak aman "unsa*e actions# dalam system pelayanan kesehatan sebisa mungkin melalui
praktik yang terbaik untuk mencapai luaran klnis yang optimum. Atau ,paya-upaya yang
dirancang untuk mencegah Dadverse outcomesE sebagai akibat Dclinical errorE sebagai
akibat dair Dunsa*e actionE dan Dlatent conditionsE.

>iga kegiatan yang saling melengkapi dalam mewujudkan keselamatan pasien:
mencegah errors
!embuat erros mudah dilihat
!eminimalkan akibat dari error
B. >,-,A% PA>A?%> &A+?>K DA% P8.&?& !A%A!AIA&A8 8?&A$.
>ujuan Penerapan DPatient sa*etyE adalah untukJ:
3. >erciptanya budaya keselamatan pasien di 8umah &akit
/. !eningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat7
;. !enurunnya $>D "$ejadian tak Diharapkan# di 8umah &akit
<. >erlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan $>D
Pro$e$ minimali$ir re$iko
,paya-upaya yang dirancang untuk mencegah Dadverse outcomesE sebagai akibat Dclinical
errorE sebagai akibat dair Dunsa*e actionE dan Dlatent conditionsE.
Pen(ebab terja"in(a !'D ) A"er$e eent *%ea$on+ 1,,-./
3. >idakan yang tidak aman "unsa*e act#:
Cuman error
&lips. ?rror sebagai akibat kurang' teralihn$a perhatian atau salah persepsi
Iapses: error yang terkait dengan kegagalan memori lupa'tidak ingat
!istakes. $esalhan yang terkait dengan proses mental dalam assessment
in*ormasi yang terjadi, kesalahan dalam merencanakan asuhan, kesalahan
dalam menetapkan tujuan, kesalahan dalam mengambil keputusan klinis.
Hiolation "pelanggaran#. .e.g aborsi tanpa indikasi medis
&abotase "&abotase#. ?.g. : !ogok kerja.
/. $ondisi laten
&istem yang kurang tertata yang menjadi predisposisi terjadinya error.
e.g: &.P tidak jelas, tata ruang yang tidak jelas.
&umber daya yang tidak memenuhi persyaratan. "mal praktek#
e.g.: >ermometer yang hanya punya satu untuk bnyak pasien, dokter umum
melakukan @aesar appendektomi
Bebera#a meto"e minimali$ir re$iko &nt&k menjaga #atient $a0et(1/
8isk management: upaya-upaya yang dilakukan organisasi yang dirancang untuk
mencegah cedera pada pasien untuk meminimalkan kehilangan *inancial sebagai akibat
adverse outcome
8isiko: kemungkinanbaya, kehilangan atau cedera dalam system pelayann kesehatan.
Apa yang dilakuan: correction "sesudah terjadi# 68@A-, corrective actions, preventive
actions "sebelum terjadi# 6+!?A-
8isk !anagement sa*ety: Adenti*kasi dari kelemahan sautu system dan memperbaiki
system tersebut untuk mencegah harm, dengan tujuan sa*ety
'aha#an-taha#an ri$k managemen #ro2e$$3 a"er$e eent management #ro2e$$
(hunter area health service clinical governance unit( August( )**+)
3. 8isk identi*ication 6audits, complaints, claims and incidents
/. 8isk analysis 6 saverty analysis "8@A L +!?A#
;. 8isk evaluation 6 risk registers action plan
<. 8isk treatment 6 eliminate or minimi(e risk
=. .ngoing monitoring 6 8eview the e**ectiveness o* investigations and actors
5. @ommunication 6 communicate risks and the outcomeo* investigations
Di Amerika, petugas kesehatan yang melakukan kesalahan harus melaporkan, dan
hal ini tidak bisa dijadikan barang bukti.
>erdapat bermacam-macam masalah yang dihadapi. Diperlukan saverty assessment: untuk
menentukan apakah hal tersebut7 "3# eBtreme risk, "/# high risk, ";# moderate risk, "<# low
risk. >ergantung dari:
3. &averit$
ekstrim,
!ajor
moderate
minor
minimal
/. Probabilitas
+reMuent "setiap minggu#,
Propable, "beberapa kali dalam setahun#
Possible,
,ncommon
8are
%oot 4a&$e anal($i$ *%4A.
,angkah -.A/
3. Anvestigasi kejadian
!enentukan masalah
!engumpulkan bukti
!elakukan wawancara
!eneliti lingkungan kejadian
!egenali *actor-*aktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kjadian.
@ontoh: suasana crowded, ada pasien mengamuk, dll
!enggambarkan rantai terjadinya kejadian
/. 8ekonstruksi kejadian
!engenali kejadian-kejadian yang mengawali terjadinya adverse event
ataupun near miss,
!elakukan analissi dengan menggunakan pohon masalah untukmengetahui
kegiatan atau kondisi yang menyebabkan tinbul kejadian
lanjutkan
;. Analisis sebab
!engidenti*ikasi akar penyebab
8umuskan pernyataan
<. !enyusun rencana tindakan
=. !elaporkan proses analisis
Dari = langkah tersebut dijabarkan menjadi /3 steps o* 8@A "joint commission#
5ail&re mo"e an" e00e2t anal($i$
&ebelum terjadi, harus melakukan analisis.
Iangkah-langkah
1. +ailure mode "identi*ikasi maslah#
2. @ause o* *ailure
3. ?**ects o* *ailure
4. .@@ 6 .ccurrence- "+rekuensi kejadian# "0-30#
5. &H 6 severity-"tingkat severity# "0-30#
6. D> 6 detectable-"kemudahan mendeteksi# "0-30#. !akin sulit dideteksi makin
tinggi score nya
N. 8P% "8isk priority number# .@@ B &H B D>
8. $emudian ditetapkan, masalah yang ditetapkan adlaah 8P% OP300. Cal ini sangat
tergantung kebijakan.
4. Design actionsolution. @ontoh: salah baca resep karena tulisan dokte yang tidak
jelas.
30. Design validation.
A. %&m&$an ma$alah
3. P?%?8APA% PA>A?%> &A+?>K
3.3&olusi keselamatan pasien di rumah sakit
Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip "look-alike, sound-alike medication
names#
Pastikan identi*ikasi pasien
$omunikasi secara benar saat serah terima pasien
Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
$endalikan cairan elektrolit pekat
Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
Cindari salah kateter dan salah sambung slang
9unakan alat injeksi sekali pakai
>ingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan in*eksi nosokomial.
3./ &tandar keselamatan pasien
A. Cak pasien
&tandarnya adalah pasien L keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan
in*ormasi tentang rencana L hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya $>D
"$ejadian >idak Diharapkan#.
$riterianya adalah
3# Carus ada dokter penanggung jawab pelayanan
/# Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
;# Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan
benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau
prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya $>D
B. !endidik pasien dan keluarga
&tandarnya adalah 8& harus mendidik pasien L keluarganya tentang kewajiban L
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
$riterianya adalah:
$eselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan
pasien adalah partner dalam proses pelayanan. $arena itu, di 8& harus ada system dan
mekanisme mendidik pasien L keluarganya tentang kewajiban L tanggung jawab pasien
dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien L keluarga dapat:
3# !emberikan in*o yg benar, jelas, lengkap dan jujur
/# !engetahui kewajiban dan tanggung jawab
;# !engajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
<# !emahami dan menerima konsekuensi pelayanan
=# !ematuhi instruksi dan menghormati peraturan 8&
5# !emperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
N# !emenuhi kewajiban *inansial yang disepakati
@. $eselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
&tandarnya adalah 8& menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi
antar tenaga dan antar unit pelayanan.
$riterianya adalah:
3# koordinasi pelayanan secara menyeluruh
/# koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya
;# koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
<# komunikasi dan trans*er in*ormasi antar pro*esi kesehatan
D. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
&tandarnya adalah 8& harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada,
memonitor L mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara
intensi* $>D, L melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta $P.
$riterianya adalah
3# &etiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan "design# yang baik, sesuai
dengan E>ujuh Iangkah !enuju $eselamatan Pasien 8umah &akitE.
/# &etiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
;# &etiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensi*
<# &etiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan in*ormasi hasil analisis
?. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
&tandarnya adalah
3# Pimpinan dorong L jamin implementasi progr $P melalui penerapan DN Iangkah
!enuju $P 8& E.
/# Pimpinan menjamin berlangsungnya program proakti* identi*ikasi risiko $P L
program mengurangi $>D.
;# Pimpinan dorong L tumbuhkan komunikasi L koordinasi antar unit L individu
berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang $P
<# Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, L
meningkatkan kinerja 8& serta tingkatkan $P.
=# Pimpinan mengukur L mengkaji e*ekti*itas kontribusinyadalam meningkatkan
kinerja 8& L $P.
$riterianya adalah
3# >erdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
/# >ersedia program proakti* untuk identi*ikasi risiko keselamatan dan program
meminimalkan insiden,
;# >ersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit
terintegrasi dan berpartisipasi
<# >ersedia prosedur Dcepat-tanggapE terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien
yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian in*ormasi yang
benar dan jelas untuk keperluan analisis.
=# >ersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden,
5# >ersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden
N# >erdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar
pengelola pelayanan
Q# >ersedia sumber daya dan sistem in*ormasi yang dibutuhkan
4# >ersedia sasaran terukur, dan pengumpulan in*ormasi menggunakan kriteria objekti*
untuk mengevaluasi e*ektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien
+. !endidik sta* tentang keselamatan pasien
&tandarnya adalah
3# 8& memiliki proses pendidikan, pelatihan L orientasi untuk setiap jabatan mencakup
keterkaitan jabatan dengan $P secara jelas.
/# 8& menyelenggarakan pendidikan L pelatihan yang berkelanjutan untuk
meningkatkan L memelihara kompetensi sta* serta mendukung pendekatan interdisiplin
dalam pelayanan pasien.
$riterianya adalah
3# memiliki program diklat dan orientasi bagi sta* baru yang memuat topik keselamatan
pasien
/# mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training
dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
;# menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok "teamwork# guna
mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaborati* dalam rangka melayani pasien.
9. $omunikasi merupakan kunci bagi sta* untuk mencapai keselamatan pasien.
&tandarnya adalah
3# 8& merencanakan L mendesain proses manajemen in*ormasi $P untuk memenuhi
kebutuhan in*ormasi internal L eksternal.
/# >ransmisi data L in*ormasi harus tepat waktu L akurat.
$riterianya adalah
3# disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan in*ormasi tentang hal-hal terkait dengan
keselamatan pasien.
/# >ersedia mekanisme identi*ikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi
manajemen in*ormasi yang ada.
/. P?8A% !A%A-?!?% DAIA! PA>A?%> &A+?>K
Pelaksanaan Patient &afet$ ini dilakukan dengan system Pencacatan dan Pelaporan
serta !onitoring san ?valuasi
)010 &istem Pencacatan 2an Pelaporan Pada Patient &afet$
a. Di 8umah &akit
3. &etiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan
pasien "$ejadian %yaris @edera, $ejadian >idak Diharapkan dan $ejadian &entinel# pada
*ormulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
/. &etiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan
keselamatan pasien "$ejadian %yaris @edera, $ejadian >idak Diharapkan dan $ejadian
&entinel# kepada >im $eselamatan Pasien 8umah &akit pada *ormulir yang sudah
disediakan oleh rumah sakit.
;. >im $eselamatan Pasien 8umah &akit menganalisis akar penyebab masalah semua
kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja
<. Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka >im $eselamatan Pasien 8umah &akit
merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah
kepada Pimpinan rumah sakit.
=. Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke $omite
$eselamatan Pasien 8umah &akit "$$P8&# setiap terjadinya insiden dan setelah
melakukan analisis akar masalah yang bersi*at rahasia.
b. Di Propinsi
Dinas $esehatan Propinsi dan P?8&A Daerah menerima produk-produk dari $omite
$eselamatan 8umah &akit
c. Di Pusat
3. $omite $eselamatan Pasien 8umah &akit "$$P8&# merekapitulasi laporan dari
rumah sakit untuk menjaga kerahasiaannya
/. $omite $eselamatan Pasien 8umah &akit "$$P8&# melakukan analisis yang telah
dilakukan oleh rumah sakit
;. $omite $eselamatan Pasien 8umah &akit "$$P8&# melakukan analisis laporan
insiden bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit yang ditunjuk
sebagai laboratorium uji coba keselamatan pasien rumah sakit
<. $omite $eselamatan Pasien 8umah &akit "$$P8&# melakukan sosialisasi hasil
analisis dan solusi masalah ke Dinas $esehatan Propinsi dan P?8&A Daerah, rumah sakit
terkait dan rumah sakit lainnya.
)0)0 Monitoring 2an valuasi
a. Di 8umah sakit
Pimpinan 8umah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah
sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja
b. Di propinsi
Dinas $esehatan Propinsi dan P?8&A Daerah melakukan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan Program $eselamatan Pasien 8umah &akit di wilayah kerjanya
c. Di Pusat
3. $omite $eselamatan Pasien 8umah &akit melakukan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan $eselamatan Pasien 8umah &akit di rumah sakit-rumah sakit
/. !onitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahan satu kali.
6
;. A%DA@A>.8 PA>A?% &A+?>K
Andikator patient sa*ety merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui
tingkat keselamatan pasien selama dirawat di rumah sakit. Andikator ini dapat digunakan
bersama dengan data pasien rawat inap yang sudah diperbolehkan meninggalkan rumah
sakit. Andikator patient sa*ety berman*aat untuk menggambarkan besarnya masalah yang
dialami pasien selama dirawat di rumah sakit, khususnya yang berkaitan dengan berbagai
tindakan medik yang berpotensi menimbulkan risiko di sisi pasien. Dengan mendasarkan
pada AP& ini maka rumah sakit dapat menetapkan upaya-upaya yang dapat mencegah
timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan pada pasien.
&ecara umum AP& terdiri atas / jenis, yaitu AP& tingkat rumah sakit dan AP& tingkat
area pelayanan. Andikator tingkat rumah sakit "hospital level indicator# digunakan untuk
mengukur potensi komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah saat pasien mendapatkan
berbagai tindakan medik di rumah sakit. Andikator ini hanya mencakup kasus-kasus yang
merupakan diagnosis sekunder akibat terjadinya risiko pasca tindakan medik.
Andikator tingkat area mencakup semua risiko komplikasi akibat tindakan medik
yang didokumentasikan di tingkat pelayanan setempat "kabupatenkota#. Andikator ini
mencakup diagnosis utama maupun diagnosis sekunder untuk komplikasi akibat tindakan
medik.
a. '&j&an Pengg&naan In"ikator Patient Sa0et(
Andikator patient sa*ety "AP&# berman*aat untuk mengidenti*ikasi area-area
pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih lanjut, seperti misalnya
untuk menunjukkan: adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu, bahwa suatu
area pelayanan ternyata tidak memenuhi standar klinik atau terapi sebagaimana yang
diharapkan tingginya variasi antar rumah sakit dan antar pemberi pelayanan disparitas
geogra*i antar unit-unit pelayanan kesehatan "pemerintah vs swasta atau urban vs rural#.
b. in"ikator #atient $a0et(
&esuai dengan tujuannya, AP& hendaknya memuat potensi-potensi risiko klinis yang
relati* sering menimbulkan trauma di pihak pasien atau menimbulkan dampak medik,
biaya, dan organisasi yang signi*ikan bagi pelayanan kesehatanrumah sakit.Penetapan AP&
harus dilakukan melalui kajian-kajian serta analisis seksama terhadap berbagai adverse
event yang banyak ditemukan di sistem pelayanan kesehatan yang ada.
Berikut disajikan beberapa contoh AP& yang dapat digunakan untuk menilai sejauh
mana konsep-konsep patient sa*ety telah diterapkan secara konsisten di rumah sakit.
Bebera#a in"ikator #atient $a0et(
3. Iuka tusuk atau luka iris yang tidak disengaja
/. $omplikasi akibat anestesi
;. $ematian pada diagnosis yang angka kematiannya rendah
<. Dekubitus
=. $egagalan dalam menyelamatkan nyawa pasien
5. Benda asing tertinggal dalam tubuh pasca tindakan medikbedah
N. Pneumotorak iatrogenik
Q. Perdarahan atau hematom pasca operasi
4. +raktur tulang panggul pasca operasi
30. 9angguan *isiologis dan metabolik pasca operas
33. ?mboli paru pasca operasi atau trombosis vena
3/. $egagalan respirasi pasca operasi
3;. &epsis pasca operasi
3<. Dehisensi luka pasca operasi
3=. An*eksi akibat tindakan medik
35. 8eaksi trans*us
3N. >rauma saat lahir
3Q. >rauma obstetrik pasca operasi @esar
34. >rauma obstetrik pasca persalinan dengan instrumen
/0. >rauma obstetrik pasca persalinan tanpa instrument
Berdasarkan indikator-indikator yang telah disusun tersebut kemudian dibuat de*inisi,
cara menghitung angka kejadian serta pada tingkat mana indikator tersebut harus dicapai,
serta variabel-variabel apa saja yang harus dipertimbangkan untuk menghindari misleading
dalam interpretasinya.
<. A&P?$ C,$,! PA>A?%> &A+?>K
Aspek hukum terhadap Dpatient sa*etyE atau keselamatan pasien adalah sebagai berikut
,, >entang $esehatan L ,, >entang 8umah &akit
1. !e$elamatan Pa$ien $ebagai I$& H&k&m
a. Pasal =; ";# ,, %o.;5/004
DPelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien.E
b. Pasal ;/n ,, %o.<</004
DPasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan
di 8umah &akit.
c. Pasal =Q ,, %o.;5/004
3# D&etiap orang berhak menuntut 9.8 terhadap seseorang, tenaga kesehatan, danatau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian
dalam Pelkes yang diterimanya.E
/# DR..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan
nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.E
2. 'angg&ng ja7ab H&k&m %&mah $akit
a. Pasal /4b ,, %o.<</004
E!emberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan e*ekti* dengan
mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan 8umah &akit.E
b. Pasal <5 ,, %o.<</004
D8umah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang
ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di 8&.E
c. Pasal <= "/# ,, %o.<</004
D8umah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka
menyelamatkan nyawa manusia.E
6. B&kan tangg&ng ja7ab %&mah Sakit
Pasal <= "3# ,, %o.<</004 >entang 8umah sakit
D8umah &akit >idak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien danatau
keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian
pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensi*. D
8. Hak Pa$ien
a. Pasal ;/d ,, %o.<</004
D&etiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai
dengan standar pro*esi dan standar prosedur operasionalE
b. Pasal ;/e ,, %o.<</004
D&etiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang e*ekti* dan e*isien sehingga
pasien terhindar dari kerugian *isik dan materiE
c. Pasal ;/j ,, %o.<</004
D&etiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternati* tindakan, risiko dan
komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatanE
d. Pasal ;/M ,, %o.<</004
D&etiap pasien mempunyai hak menggugat danatau menuntut 8umah &akit apabila 8umah
&akit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidanaE
=. $ebijakan yang mendukung keselamatan pasien
Pasal <; ,, %o.<</004
3# 8& wajib menerapkan standar keselamatan pasien
/# &tandar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa,
dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak
diharapkan.
;# 8& melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi
keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri
<# Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk
mengoreksi system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.
Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien.
$eselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu system dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman. &ystem tersebut meliputi:
a. Assessment risiko
b. Adenti*ikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien
c. Pelaporan dan analisis insiden
d. $emampuan belajar dari insiden
e. >indak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko
'&j&an Pembaha$an
A. >,-,A% PA>A?%> &A+?>K DA% P8.&?& !A%A!AIA&A8 8?&A$.
>ujuan Penerapan DPatient sa*etyE adalah untukJ:
3. >erciptanya budaya keselamatan pasien di 8umah &akit
!enciptakan suatu budaya yang mengutamakan keselamtan pasien, sehingga dalam
prosedur dan proses pelayanan pasien memperoleh pelayanan terbaik yang mampu
menjamin keselamatan mereka dan prosedur diberikan sesuai dengan hak asasi manusia.
/. !eningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat7
;. !enurunnya $>D "$ejadian tak Diharapkan# di 8umah
&akit
Patient sa*ety membantu agar $>D dapat diminimalisir, sehingga pemberian pelayanan
tidak membahyakan dan merugikan baik bagi pasien maupun lembaga dan juga hal ini
membantu manjaga kepuasan pasien.
<. >erlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak
terjadi pengulangan $>D
$>D dapat terjadi lebih dari sekali, hal ini sangata mungkin mengingat kompleksitas
kegiatan untuk itu patient sda*ety dapat membantu agar $>D tidak terjadi secara berulang.
$eslalahan sebelumnya dijadikan bahan evaluasi dan pertimbangan untuk kegiatan
selanjutnya.
$eselamatan pasien merupakan isu utama akhir-akhir ini baik di Andoneisamaupun
di luar negeri. $epedualian pegnambil kebijkan, manajemen dan praktisiklnis terhadap
keselamatan pasien. Berbagai seminar, workshop, dan pelatihan banyakan diakan7 patient
sa*ety, risk management, clinical audit, patient sa*ety indicators 6 dengan brbagai moti*.
&tudi 3444 di -awa tengah dan DAK: prevalensi error berspektrum cukup luas: 3,QF -
QQ,4F.. Cal ini terjadi terutama pada medication "pengboatan#.
%i$iko (ang m&ngkin terja"i #a"a $arana #ela(anan ke$ehatan (Mc.affre$ 3 !agg-
-icken( -isk management handbook( pp 1*-1*4( )**4)
- Patient care related risk. 8isiko pasien ketika masuk rumah sakit
- !edical sta** related. 8isiko tenaga kesehatan ketika menerima pasien
- ?mployee related risk. 8isiko tenaga non kesehatan
- Property related risk. @ontoh: di depan, teras basah.
- +inancial risk
- .ther risk "e.g.: property L liability losses related to operation o* automobiles,
truck, vans, ambulances##
B. P?%?8PA% PA>A?%> &A+?>K
Patient sa*ety harus diterapkan dalam semua jenis pelayanan kesehatan, hal ini harus
memperhatikan berbagai eleman, antara lain
a. &olusi keselamatan
Patient sa*ety harus menjadi suatu solusi, menjadi suatu jaln keluar untuk membantu
melindungi pasien dan petugas kesehatan.
b. &tandar keselamatan
Patient sa*ety harus menjadi suatu kebijakan tetap dngan standar yang jelas. $etetapan dan
kejelasan tersebut membantu pemahaman pada dasar dan pedoman pemberian layanan
kesehatan.
c. $esiambungan pelayanan
Iembaga layanan kesehaytan dalam hal ini 8umah sakit harus mampu berkoordinasi
antara unit unit terkait, sehingga in*ormasi dari satu unit ke unit lain berkesinambungan.
$esinambungan pelayanan membuat adanya pemahaman yang sama sehingga penanganan
yang sesuai dapat diberikan.
d. !endidik sta**
,ntuk membangun patient sa*ety yang e*ekti* , hal itu perlu menjadi budaya. Proses
pembudayaan memerlukan pendidikan, tenaga kesehatan memerlukan pendidikan yang
baik mengenai patient sa*ety dan penerapannya. Pendidikan dan pelatihan membantu
meningkatkan pamahaman dan keterampilan sehingga patient sa*ety berjalan maksimal.
e. $omunikasi
$omunikasi menjadi suatu proses yang sangat penting, berkomunikasi memampukan
pasien dan tenaga kesehatan untuk mengerti dan mengetahui kondisi serta situasi yang
akan dihadapai. Cal ini memberikan kemudahan, sehingga dapat dipersiapkan sebelumnya.
Dengan komunikasi, hal-hal yang menjadi kendala untuk pemberian askep ataupun
layanan kesehatan lainnya dapat terselesaikan.
@. P?8A% !A%A-?!?% DAIA! PA>A?%> &A+?>K
!anajemen dalam hal ini berperan dalam menopang serta mendukung system
patient sa*ety yang diterapkan. !anajemen dalam hal ini ber*okus pada pencatatan dan
pelaporan serta monitoring dan evaluasi.
!anajeman membantu agar patient sa*ety dapat berjalan dengan baik, Proses
pencatatan dan pelaporan membantu agar patient sa*ety terdeteksi dan dapat segera
tertangani. Cal itu sangat membantu proses pembudayaan patient sa*ety sehingga pasien
dan petugas kesehatan terlindungi. &elanjutnya system harus dipantau kesinambungan dan
prosedurnya kemudian dievaluasi untuk menjadi bahan perbaikan.
D. A%DA@A>.8 PA>A?%> &A+?>K
Andicator pasien sa*ety "AP&# harus menjadi sutau acuan yang berman*aat untuk
mengidenti*ikasi area-area pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih
lanjut, seperti misalnya untuk menunjukkan:
adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu,
bahwa suatu area pelayanan ternyata tidak memenuhi standar atau terapi sebagaimana
yang diharapkan. Dengan mendasarkan pada AP& ini maka rumah sakit dapat menetapkan
upaya-upaya yang dapat mencegah timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan pada
pasien.
?. A&P?$ C,$,! PA>A?%> &A+?>K
Aspek hukum patient sa*ety dalam hal ini sangat diperlukan, hukum menjadi sutu
kebijakan tetap dan menunjang pelaksanaan patient sa*ety, hukum membantu proses
perlindungan baik bagi pasien, lembaga dan petugas kesehatan. Patient sa*ety harus
dijalankan berdasarkan ketetapan hukum di uatu %egara dengan mempertimbangkan
keselamatan pasien, tanggung jawab 8umah &akit, dan Cak petugas dan pasien.
BAB I9
!ESIMPULAN DAN SA%AN
$?&A!P,IA%
1. Proses penerapan patient sa*ety harus memperhatikan standar keselamtan,
pemahaman pada hak, melakukan proses kepemimpinan yang e*ekti*,
menerapkan meode kinerja dan ebvaluasi yang tepat, mengadakan pelatihan
serta komunikasi. Dan untuk mewujudkan patient sa*ety butuh upaya dan
kerjasama berbagai pihak, pasien sa*ety merupakan upaya dari seluruh
komponen sarana pelayanan kesehatan, dan perawat memegang peran kunci
untuk mencapainya
/. Iangkah manajemen untuk mendukung proses patient sa*ety ber*okus pada
implemenasi pencatatan dan pelaporan serta mengadakan monitoring maupun
evalusi pada tiap program, sehingga selanjutnya system patient sa*ety tyang
diterapkan mampu lebih baik lagi.
;. Andikator patient sa*ety "AP&# dikembangkan untuk mengidenti*ikasi masalah-
masalah medik yang berpotensi menimbulkan outcome yang tidak diharapkan.
Atas dasar identi*ikasi tersebut maka umpan balik secara berkala dapat
dilakukan kepada unit-unit pelayanan kesehatan sebagai alert agar mengubah
strategi pelaksanaan tindakan medik yang lebih aman dan mampu
meminimalkan risiko bagi pasien. Andicator ini perlu berjalan sesuai dengan
hukum yang telah ditetapkan
&A8A%
3. Penyelenggaraan patient sa*ety memerlukan dukungan dan ketegasan dari
pemerintah. Patient sa*ety seharusnya diperkenalkan kepada masyarakat, banyak
masyarakat yang tidak mengetahui hak mereka sebagai patient sehingga saat
terjadi eror dalam pelayanan, mereka tidak mampu menuntut ataupun meminta
kejelasan.
/. Patient sa*ety harus diselenggarakan dengan standar tetap untuk itu patient
sa*ety harus punya indicator dan diselenggarakan pada semua lembaga maupun
unit pelayanan kesehatan "balaii puskesmas, 8umah &akit, dan unit lainnya#
DA5'A% PUS'A!A
Arens, 8ichard A."/00Q#. ,earning to teach. Kogyakarta : Pustaka Pelajar
@ahyono -B&"/00Q#. !embangun budaya keselamatan pasien dalam praktek kedokteran.
-akarta: $anisius.
Davis, 9ary."/03/#..reative problem solving : creativity is *orever.ny
Departemen"/00Q# $esehatan -50 Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit
(patient safet$). ?disi ke-/. -akarta: Departemen $esehatan 8A.
+ajar &hadiM."/00<#. &trategi Pemecahan Masalah. Kogyakarta: Gidyaiswara PPP9
Ake, &ulistiyanti."/005#. Pembela6aran Model Problem &olving. Bandung : ,niversitas
Pendidikan Andonesia
Purba, -anulis."/00<#. Pemecahan Masalah dan Penggunaan &trategi Pemecahan
Masalah0
&umardyono."/004#. Pengertian 2asar Problem &olving0 Kogyakarta:P<>$
http:dhimaskasep.*iles.wordpress.com/00Q0/t-0=-problem-solving-approach-dalam-
pk.pd*
http:journal.mercubuana.ac.iddataproblem-solving.pd*
http:home.comcast.netSmrtwhsmashpolya.pd*
http:teori-belajar-dan-pembelajaran.blogspot.com
http:www.isle.orgSlangleypapersicarus.cs0=.pd*
http:marsenorhudy.wordpress.com/033030Npatient-sa*etiy-keselamatan-pasien-
rumah-sakit