Anda di halaman 1dari 4

AUDIOMETRI KHUSUS

Untuk mempelajari audiometri khusus di perlukan pemahaman istilah recrutment dan decay
1. Recrutment ialah suatu fenomena terjadi sensitifitas pendengaran yang berlebihan di atas abang
dengar keadaan ini khas untuk tuli koklea . Pada kelainan koklea pasien dapat membedakan bunyi 1 db
sedangkan pada orang normal baru bisa membedakan ya pada 5 db
2. Decay ( kelelahan) merupakan adaptasi abnormal merupakan tanda khas pada tuli retrokoklea, saraf
pendegaran cepat lelah bila dirasang terus menerus. Bila dibeli istirahat akan pulih kembali

1. Tes SISI
Tes ini khas untuk mengetahui adanya kelainan koklea dengan memakai fenomena rekrutmen. Caranya
adalah dengan menentukan ambang dengar pasien terlebih dahulu kemudian diberikan rangsangan
diatas ambang rangsang, setelah itu diberikan tambahan rangsangan 5dB, lalu diturunkan 4dB, lalu 3dB,
2dB, terakhir 1dB. Bila pasien dapat membedakan berarti tes SISI positif.
Cara lain adalah dengan tiap 5 detik dinaikan 1 dB sampai 20 kali. Kemudian dihitung berapa kali pasien
dapat membedakan perbedaan. Positif jika skor jawaban benar 70-100%.

2. Tes ABLB (Alternatif Binaural Loudness Balance)
Pada tes ABLB diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yang sama pada kedua telinga, sampai
kedua telinga mencapai persepsi yang sama, yang disebut balans negatif. Bila balans tercapai terdapat
rekrutmen positif.

3. Tes Kelelahan (Tone Decay)
Ada 2 cara
TTD = threshold tone decay
STAT = supra threshod adaptation test
TTD dibagi menjadi cara Gahart dan cara Rosenberg.
TTD :
Cara Gerhart memberikan perangsangan secara terus menerus dengan intensitas sesuai dengan ambang
dengar . Misalnya 40 db bila setelah 60 detik masih tetap mendengar maka test dinyatakan negative ,
jika sebaliknya terjadi kelelelahan atau tidak mendegar maka test dinyatakan +
Kemudian intesitas Bunyi ditambah 5 db jadi 45 db maka pasien dapat mrndengar lagi,rangsangan
dilakukan dengan 45 db selama 60 detik dan seterusnya
Penambahan :
0-5 = Normal
10-15 = Ringan
20-25 = Sedang
>30 = Berat
Cara Rosenberg
Penambahan : < 15 db = normal, >30 db = sedang

STAT
Prinsipnya pemeriksaan pada 3 Frekwensi( 500 hz 1000 hz dan 2000 hz) pada 110 db SPL = 100 db Sl.
Artinya Nada Murni pada frekwensi ( 500 hz 1000 hz dan 2000 hz) pada 110 db SPL diberikan secara
terus menerus selama 60 detik , terjadi kelelahan maka tes dinyatakan +.
4. Audiometri tutur (Speech Audiometry)
Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku kata). Kata-kata ini disusun dalam
daftar yang disebut Phonetically balance word LBT (PB, LIST). Pasien diminta untuk mengulangi kata-kata
yang didengar melalui keset tape recorder.
Speech discrimination score:
90 100%: pendengaran normal
75 90% : tuli ringan
60 75% : tuli sedang
50 60% : kesukaran mengikuti pembicaraan sehari-hari
<50 % : tuli berat
5. Audiometri Bekessy (Bekesst Audiometry)
Dapat menilai ambang pendengaran seseorang. Prinsip pemeriksaan adalah dengan nada terputus-
putus (interupted sound) dan nada terus manerus (continue sound).

AUDIOMETRI OBYEKTIF
Terdapat 4 cara pemeriksaan yaitu audiometri impedans, elektrokokleografi, evoked response
audiometry, oto acousric emmision.
1. Audiometri impedans
Pada pemeriksaan ini diperiksa kelenturan mambran timpani dengan tekanan tertentu pada meatus
akustikus eksterna.

2. Elektrokokleografi
Pemeriksaan ini digunakan untuk merekam gelombang-gelombang yang khas dari evoke
electropotential cochlea. Caranya Dengan Elektroda jarum , Membran timpani ditusuk sampai ke
Promontorium kemudian dilihat grafiknya.

3. Evoked Response Audiometry
Dikenal juga dengan BERA yaitu suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi N VIII.
Terdapat 5 macam gelombang :
Gelombang I : Datang Dari koklea
Gelombang II : Datang dari Nucleus Koklearis
Gelombang III : Datang dari Nucleus oliva superior
Gelombang IV : Datang dari leminiscus lateralis
Gelombang V : Datang Dari Fkolikulus Inferior

4. Otoacoustic Emission/OAE
Pemeriksaan OAE dilakukan dengan cara memasukkan sumbat telinga (probe) nkedalam liang te;inga
luar. Dalam probe tersebut terdapat mikropfon dan pengeras suara yang berfungsi memberikan
stimulus suara. Mikrofon berfungsi menangkap suara yang dihasilkan koklea setelah pemberian
stimulus. Sumbat telinga dihubungkan dengan komputer untuk mencatat respom yang timbul dari
koklea. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan diruangan yang sunyi atau kedap suara, hal ini untuk
mengurangi bising lingkungan.

PEMERIKSAAN TULI ANORGANIK
Pemeriksaan ini dipergunakan untuk memeriksa seseorang yang pura-pura tuli. Cara pemeriksaannya
antara lain:
1. Cara Stenger : diberikan 2 nada suara yang bersamaan pada kedua telinga, kemuadian pada sisi yang
sehat nada dijauhkan.
2. Dengan audiometri nada murni
3. Dengan impedans
4. Dengan BERA

AUDIOLOGI ANAK
Untuk memeriksa ambang dengar anak dilakukan di dalam ruangan khusus. Cara memeriksa ialah
dengan beberapa cara:
1. Free field test
2. Audiometri bermain (play audiometri)
3. BERA (Brainstem Evoke Response Audiometry)
4. Echochek dan Emisi Otoakustik