Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem hukum termasuk suatu gejala sosial dan hanya mengungkapkan satu aspek
saja dalam masyarakat. Karena itu sistem hukum tidak dapat dipisahkan dari
aspek-aspek lain pada masyarakat yang sama, Untuk bisa memahami aturan-
aturan hukum di sebuah negara asing, sedapat mungkin harus dipahami
lingkungan non hukumnya (seperti lingkungan ekonomi, politik, etika, agama dan
budaya) berikut tujuan-tujuan sosialnya. Hanya dengan cara inilah bisa dipahami
peran sesungguhnya aturan hukum tersebut di masyarakat dan fungsinya dalam
kenyataan. Tanpa mengabaikan betapa banyak dan beragamnya sistem hukum di
dunia, dikotomi sistem hukum civil law dan sistem hukum common law
menggambarkan tujuan dan konteks sosial yang berbeda dari kedua sistem hukum
tersebut di negara-negara yang menerapkannya. Di Indonesia dan di banyak
negeri bekas jelajahan dan jajahan bangsa-bangsa Eropah Barat, sistem hukum
nasionalnya pada dasarnya adalah sistem hukum yang bermodelkan hukum
nasional bangsa-bangsa Eropah, yaitu sistem hukum civil lawdan common
law. Sistem hukum civil law bertolak dari tradisi yang semula dikembangkan di
Prancis dan dianut negeri-negeri Eropah Kontinental dan kemudian juga oleh
negeri-negeri nasional baru bekas negeri jajahannya. Sementara itu sistem hukum
common law berkembang dari tradisi Inggris dan dianut oleh negeri-negeri bekas
jajahannya.
1

Sinzheimer mengatakan bahwa hukum tidak bergerak dalam ruang hampa dan
berhadapan dengan hal-hal yang abstrak melainkan, ia selalu berada dalam suatu
tatanan sosial tertentu dan manusia-manusia yang hidup maka diharapkan disaat

1
http://m.kompasiana.com/post/read/557099/2/analisis-perbandingan-sistem-hukum-amerika-
serikat-indonesia.html
2

melihat negara yang berdasarkan hukum perbedaan system tidaklah menjadi
masalah jika dapat memberikan kebahagiian bagi masyarakatnya. Di Indonesia
system hukumnya masih sebagain besar dipengaruhi hukum modern yang dibawa
oleh bangsa eropa, seperti yang marak mewarnai hukum di Indonesia, negara
hukum Indonesia yang bersifat kekeluargaan ini lebih memiliki kecenderungan
mengutamakan bentuk daripada isi, sehingga kurang memperdulikan kandungan
moral dan kemanusiaan yang berada didalam sytem hukumnya. Dengan
karakteristik yang demikian negara hukum pun menjadi identik dengan bangunan
perundang-undangan, kualitas hanya ditentukan dengan ketundukanya kepada
hukum.
2


Selama lebih dari Enam Puluh lima tahun menjadi bangsa dan negara merdeka
Indonesia masih banyak carut marutnya dalam penegakan hukumnya,
kemungkinan kemungkinan kurang sempurnyan system hukum yang ada di
Indonesia selalu ada, maka dari itu diharapakan dengan adanya perbandingan
system hukum antara Indonesia dan Amerika Serikat. Diharapkan dapat
memberikan sumbasih perbaikan penyempurnaan sistem hukum yang saat ini
menjadi tolak ukur ketertiban negara Indonesia.
3


1.2 Pokok Permasalahan
1. Bagaimanakah perbedaan sistem hukum negara Indonesia dan Amerika
Serikat?
2. Apakah yang menjadi persamaan sistem hukum negara Indonesia dan
Amerika Serikat?





2
Soekamto, Soerjono, Perbandingan Hukum, Alumni, Bandung, 1979.
3
http://anangyustisia.blogspot.com/2013/10/makalah-ilmu-hukum-perbandingan-hukum.html
3




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perbedaan Sistem Hukum Negara Indonesia dan Amerika Serikat
2.1.1 Sistem Hukum Negara Indonesia
Fenomena klasik hukum dalam perkembangan dunia hukum di Indonesia adalah
kritikan organisasi-organisasi keprofesian hukum, serta sorotan masyarakat (baca:
tekanan) terhadap peran lembaga peradilan, maupun sikap masyarakat yang
skeptis atau pesimis terhadap pemberlakuan sistem hukum maupun institusi
hukum yang akhirnya cenderung apatis terhadap adanya kepastian hukum atas
penegakan hukum di Indonesia. Hal ini bukan saja merupakan kegundahan
sebagian masyarakat yang menginginkan perubahan atas hukum yang berlaku di
Indonesia, namun juga perspektif kaum intelektual dan fakar hukum baik di dalam
negeri maupun luar negeri dalam memandang hukum. Guru besar kriminologi
dari Universitas Indonesia, Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara, misalnya,
berpendapat bahwa hukum telah mengalami degradasi nilai, sehingga fungsi
hukum tidak lain dari alat kejahatan, atau dalam bahasa beliau law as a tool of
crime.
4

Melihat fenomena hukum di Indonesia, tidak terlepas dari sistem hukum yang
membentuknya dengan melibatkan para pelaku hukumnya. Sehingga ketika para
praktisi hukum menjalankan tugasnya dan terjadi banyak ketimpangan hukum
seperti apa yang terjadi selama ini, mereka selalu mengatakan ''hukum positifnya
memang berbunyi begitu. Dengan demikian, bukankah hal tersebut menjadi dasar
dan landasan yang ''benar'' menurut ilmu hukum yang berlaku selama ini?

4
Semu, Kepastian Hukum di Indonesia, Kompas, 26 November 2005.
4

Sebenarnya ilmu hukum yang kita pelajari, kita yakini, dan kita praktikkan pada
hakikatnya adalah Ilmu Hukum Belanda. Buku LJ van Apeldoorn yang berjudul
Pengantar Ilmu Hukum judul aslinya adalah Pengantar Ilmu Hukum Belanda.
Salah satu ciri terpenting dalam sistem hukum Belanda adalah aliran legal
positivism. Hal ini dapat menjadi suatu kekeliruan yang paling mendasar dalam
kehidupan hukum di Indonesia, terutama sekali ketika pelaksana hukum kita
memahaminya secara harfiyah, karena dalam kajian ilmu hukum, sistem hukum
Belanda tergolong pengikut mazhab Roman Law System (istilah Prof Rahardjo
sistem hukum Romawi-Jerman). Sistem ini dibentuk di benua Eropa yang
penggodokannya sejak abad ke-12 dan 13, yang mendasarkan pada tersusunnya
peraturan perundang-undangan, sehingga menurut sistem ini, UU menjadi sumber
utama dan hakim tidak boleh membuat keputusan yang berbeda dengan UU.
Dengan perbedaan penerapan hukum diatas, kemudian berimplikasi terhadap
sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum
tersebut. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada
metode pengajaran yang bersifat doktrinal, monolog dimana mahasiswa bersifat
pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan.
Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan, karena umumnya
negara-negara civil law berpaham positivisme, sehingga landasan maupun
pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundang-undangan yang
telah terkodifikasi. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain
dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila
dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan.
5

Sebaliknya, sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada
practical use yang menekankan kepada putusan hakim, membuat perkuliahan
difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan.
Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode
self learning, dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku
yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Di dalam pasal 20
AB disebutkan bahwa hakim harus mengadili berdasarkan UU. Dalam pandangan

5
http://www.bangka.go.id/artikel.php?id_artikel=4
5

aliran Legisme abad XIX, setelah Napoleon mengundangkan Civil Code-nya,
berkembanglah anggapan bahwa UU adalah hukum itu sendiri. Civil Code bukan
saja dianggap sempurna, namun juga sekaligus dianggap menghasilkan kepastian
dan kesatuan hukum. Ini kemudian berkembang bahwa UU adalah esensi hukum
itu sendiri, dimana hakim hanya mempunyai peran menerapkan UU (meliputi
peraturan perundangan) dalam memberikan putusan hukum.
6

Kalau Roman Law System ini dipahami secara kaku, maka tidak ada kekeliruan
hakim dalam memberikan keputusan. Dalam waktu bersamaan, juga tidak ada
tanggung jawab yang dibebankan kepada hakim. Yang salah, keliru, tidak tepat,
tidak adil, atau negatif lainnya adalah bunyi harfiah UU atau peraturan
perundangan, legal maxim-nya, ''memang hukum (peraturan perundangan)
berbunyi begitu''. Para ahli berpendapat, bahwa sistem hukum di Indonesia
banyak dipengaruhi oleh sistem hukum Eropa Kontinental (civil law). Sistem
hukum Indonesia juga tidak sama dengan sistem hukum Anglo-America. Sebelum
kemerdekaan, hanya Inggris, sang Penjajah, yang mencoba menerapkan beberapa
konsep peradilan ala Anglo Saxon seperti Sistem Jury dan konsep peradilan
pidana. Namun, sejak akhir 70-an, konsep hukum yang biasa digunakan di sistem
Anglo America banyak diadopsi dalam sistem hukum Indonesia. Tidak hanya
konsep-konsep hukum pidana. Konsep perdata dan hukum ekonomi banyak
berkiblat pada perkembangan hukum di Amerika.
7

2.1.2 Sistem Hukum Negara Amerika Serikat
Membicarakan sistem hukum Amerika pada dasarnya kita melihat lima puluh
lebih sistem hukum yang berhubungan erat, namun sama sekali tidak identik.
Amerika Serikat menjadi sebuah federasi yang tersusun dari negara-negara
bagian yang sistem hukumnya berdiri sendiri-sendiri dengan segala otoritasnya
yang oleh Konstitusi Federal tidak diserahkan kepada organ-organ Federal. Dalam
hal terdapat beberapa bidang yang memiliki yuridiksi yang sama antara

6
Ibid.
7
Ibid.
6

pemerintahan negara bagian dengan pemerintah federal, maka hukum federal lah
yang dianggap lebih penting dari hukum negara bagian.
8

Sistem hukum negara-negara bagian sepenuhnya dibangun di atas tradisi hukum
common law yang saling berhubungan dengan sangat erat, kecuali negara bagian
Louisiana yang masih memperlihatkan jejak hukum peninggalan hukum Prancis
seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tahun 1808. Negara-negara bagian
masing-masing mempertahankan dan mengembangkan aturan hukum dibidang-
bidang seperti: hukum kontrak, hukum korporasi, hukum pidana, hukum
keluarga, hukum waris, hukum properti, tort, dan konflik hukum (hukum perdata
internasional). Sedangkan, hukum laut, kepailitan dan hukum patent diatur dengan
aturan-aturan federal.
9

Meski banyak perbedaan-perbedaan hukum diantara negara-negara bagian, hukum
negara federal berlaku di semua negara bagian dan teritori, persamaan-persamaan
itulah yang memungkinkan adanya hukum Amerika. Oleh para
Lawyer/Pengacara yang cerdas perbedaan-perbedaan bisa dimanfaatkan untuk
mencari pengadilan-pengadilan yang dapat menerima kasus-kasus yang ditangani
atau memilih negara-negara bagian yang legislasinya lebih menguntungkan
kliennya. Misalnya, dalam hal hukum korporasi, maka negara bagian Delaware
banyak dipilih untuk mencatatkan perusahaan-perusahaan oleh pengusaha, atau
negara bagian Nevada banyak dipilih oleh pasangan-pasangan yang ingin bercerai
dengan cepat. Perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara hukum-hukum di
berbagai negara bagian, menjadikan aturan tentang konflik hukum menjadi sangat
penting. Umumnya pengadilan Amerika menggunakan aturan yang sama untuk
memutuskan konfik hukum internasional dan konflik hukum antar negara bagian,
tetapi tentu saja aturan-aturan ini diterapkan dengan selalu mempertimbangkan
pilihan hukum antar negara bagian.
10

Konstitusi Amerika adalah apa kata apara hakim mengenainya, begitulah untuk
menggambarkan betapa dinamis dan berkembangnya konstitusi Amerika, baik

8
Rosalie Targonski, Pemerintahan Amerika Serikat, United States Department of State, 2007.
9
Ibid.
10
Ibid.
7

konstitusi federal maupun konstitusi negara bagian. Konstitusi Amerika Serikat
berasal dari tahun 1787, terdiri dari tujuh Article yang relatif luas dan 27
Amandemen. Di dalam praktek, Konstitusi tersebut nampak seperti hukum yang
terkodifikasi. Hal ini terlihat dari ketentuan-ketentuan yang melindungi hak-hak
sipil individu dalam sepuluh Amandemen sejak 1791 yang disebut Bill of Right.
Konstitusi, melalui penafsiran-penafsiran pengadilan, tertama dari Mahkamah
Agung Amerika Serikat melahirkan putusan-putusan yang mengikat semua
pengadilan negara bagian dan federal juga otoritas lainnya. Maka dapat
disimpulkan pengadilan itulah yang menetapkan aturan konstitusional yang
sesungguhnya.
11

Konstitusi Amerika Serikat adalah inti utama sistem hukum Amerika Serikat tidak
hanya secara formal tapi juga dalam kenyataan. Konstitusi Amerika Serikat
bukanlah deklarasi politik yang tak memiliki daya terap (aplikable), tetapi justru
terdiri dari aturan-aturan raktis yang kerapkali diterapkan oleh pengadilan-
pengadilan. Karenanya setiap Undang-Undang negara bagian atau federal atau
peraturan kota yang bertentangan dengan Konstitusi boleh ditentang dan ditolak
penerapannya. Biasanya pelanggaran-pelanggaran terhadap Konstitusi biasanya
menyangkut hal-hal: pelanggaran hak-hak sipil, tidak sesuai dengan pembagian
kekuasaan antara otoritas legislatif, eksekutif dan yudikatif, atau pembagian
kekusaan antara organ-organ federal dengan negara bagian. Perubahan mengenai
hak sipil seperti Amandemen Pertama yang menjamin kebebasan berbicara dan
beragama dan Amandemen keempat Belas mengenai erlindungan yang sama dan
proses hukum yang sepantasnya.
12

2.2 Persamaan Sistem Hukum Negara Indonesia dan Amerika Serikat
Meski berjalan diatas dua pijakan sistem hukum yang berbeda, yaitu common law
dan civil law, sistem hukum Amerika Serikat dan sistem hukum Indonesia pada
kondisi sekarang ini lebih banyak memiliki persamaan ketimbang perbedaannya,
bahkan pada ranah hukum bisnis telah banyak perundang-undangan Indonesia
yang meresepsi perundang-undangan Amerika. Sebagai contoh undang-undang

11
Ibid.
12
Ibid.
8

persaingan usaha tidak sehat & anti monopoli merupakan resepsi dari Anti Trust
Act, Bankrupty Act dan sebagainya.
13

Dalam bidang yudikatif atau peradilan persamaan-persamaan itu menunjukan
kemajuan bangsa Indonesia yang mulai menghargai hak-hak asasi manusia, hanya
saja Indonesia belum meresepsi nilai-nilai efisiensinya, karena beberapa fungsi
peradilan yang sebenarnya dalam perspektif pengelompokan (grouping) bisa
dijadikan satu, di Indonesia malah dibuat dalam satu lembaga atau institusi
sendiri. Oleh karenanya keluhan banyak orang tentang Indonesia asebagai negeri
komisi maksudnya kritik terhadap banyaknya komisi-komisi independent yang
menangani persoalan-persoalan dalam penyelenggaraan kekuasaan negara
mendapatkan pembenarannya.
14

Demikian juga mengenai pendidikan hukum dan profesi, hampir tidak jauh
berbeda. Pendidikan hukum formal yang berkembang di fakultas hukum
menggiring mahasiswa untuk memahami apa yang disebut dengan sistem, konsep
dan nilai-nilai hukum modern yang cirinya selalu tertulis yang berarti menjamin
adanya kepastian hukum. Prinsip-prinsip perjanjian, hukum-hukum perusahaan,
hukum kekeluargaan barat, prosedur-prosedur serta mekanisme lembaga
pengadilan. Dengan demikian tak jauh berbeda dengan Amerika, mahasiswa
hukum Indonesia diarahkan kepada penguasaan asfek teknis dari konsep-konsep
hukum modern tersebut, prosedur-prosedur serta mekanismenya. Kenyataan ini
menggambarkan bahwa orientasi pendidikan hukum mengarah pada untuk
melayani kepentingan-kepentingan hukum kelas menengah kota masyarakat
industri. Pola rekruitmen dan pluralisme organisasi profesi hukum di Indonesia
ditengah iklim kebebasan berekspresi disegala bidang merupakan hasil perjuangan
yang diinspirasi dari perkembangan demokrasi Amerika Serikat termasuk
didalamnya bidang pendidikan dan profesi hukum.
15


13
Michael Bogdan, Pengantar Perbandingan Sisitem Hukum, Penerbit Nusa Media Ujung Berung,
Bandung, 2010.
14
Ibid.
15
Ibid.
9

Meskipun ada perbedaan sistem hukum antara Amerika Serikat yang menganut
sistem Common Law dengan sistem hukum yang dianut Indonesia yaitu Civil
Law, namun pada perkembangannya di lapangan hukum perdata termasuk hukum
kontrak bisnis dan penyelesaian sengketa bisnis Indonesia telah menggunakan
sistem hukum Common Law. Tidak hanya di lapangan hukum perdata, pada
lapangan hukum lainnya juga semakin menunjukan kesamaan-kesamaan diantara
keduanya.
16

Meski ada dua Mahkamah Agung (MA) sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman
di Amerika Serikat (AS) yaitu MA Amerika Serikat (Supreme Court of the United
States) dan MA Negara Bagian (Supreme Court) sebagai kekuasaan kehakiman
tertinggi, namun secara tegas ada pembagian tugas yang jelas, yaitu MA Negara
Bagian hanya menagani kasus-kasus yang diajukan peradilan dibawahnya yaitu
perkara banding melalui pengadilan tinggi negara bagian (Appellate Courts) dan
pengadailan negara bagian (trial court). Sedangkan MA Amerika Serikat
mememeriksa perkara-perkara yang diajukan peradilan dibawahnya yaitu
pengadilan tinggi federal (US Court of Appeals) dan US District Court. Supreme
Court of US dapat membatalkan putusan Supreme Court Negara Bagian jika
menerapkan aturan perundangan yang menjadi dasar putusan yang bertentangan
dengan Konstitusi. Peran pengadilan di AS tidak hanya mengadili sengketa,
tetapi juga menjadi penjaga konstitusi, artinya setiap tingkatan pengadilan selain
memutus sengketa juga menyatakan suatu peraturan perundang-undangan tidak
mempunyai kekuatan hukum karena bertentangan dengan Konstitusi (Judicial
Review).
17

Di Indonesia sebenarnya juga tidak terlalu berbeda, pengadilan-pengadilan selain
berwenang mengadili sengketa, juga dapat menilai keabsahan suatu perundang-
undangan yang menjadi dasar dari suatu hubungan hukum yang diperselisihkan
oleh para pihak, sepanjang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
diatasnya. Hanya saja dalam sistem peradilan Indonesia kewenangan menilai
terbagi menjadi dua. Bagi peraturan perundang-undangan dibawah Undang-

16
Ibid.
17
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer, Fikahati, 2010.
10

Undang yang bertentangan dengan Undang-Undang, kewenangannya diberikan
kepada Mahkamah Agung baik langsung diajukan kepada Mahkamah Agung
maupun melalui gugatan perkara di Pengadilan Negeri, sedangkan bagi Undang-
Undang yang bertentangan dengan Konstitusi (UUD45) kewenangan memerikas
dan menilainya diberikan kepada Mahkamah Konstitusi.
18

Fungsi-fungsi lain dari Mahkamah Konstitusi juga dimiliki oleh Mahkamah
Agung Amerika Serikat (Supreme Court of US), seperti selain menguji
perundang-undangan atas Konstitusi, juga mengadili perselisihan pemilihan
umum utamanya pemilihan presiden, Kasus Marbury Vs Madison menjadi contoh
nyata kekuasaan MA Amerika yang sama dengan Mahkamah Konstitusi.
Reformasi 1998 telah menentukan pilihan memisahkan fungsi ini oleh MA & MK
didasarkan pengalaman-pengalaman praktis pelaksanaan penegakan hukum di
Indonesia yang cenderung menguntungkan pihak yang berkuasa.
19













18
Ibid.
19
Ibid.
11




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pada dasarnya Negara Indonesia menganut 4 sistem hukum yakni,
common law, civil law, hukum adat dan hukum islam. Sedangkan pada
Negara Amerika Serikat menganut sistem hukum anglo saxon/ common
law.
2. Persamaan sistem hukum Indonesia dan Amerika Serikat terletak pada
hukum perdata. Terdapat beberapa hukum dibidang bisnis ataupun
ekonomi, Negara Indonesia menganut sistem hukum anglo saxon.
3.2 Saran
1. Meskipun terdapat perbedaan antara sistem hukum Indonesia dan Amerika
Serikat akan lebih baik apabila peraturan yang ada di Negara Amerika
Serikat seusai dengan sosial masyarakat Negara Indonesia dan
menguntungkan bagi Negara Indonesia seyogyanya Negara Indonesia
dapat menganut ataupun menjadikan hukum di Indonesia.
2. Peradilan persamaan-persamaan Indonesia menunjukan kemajuan bangsa
Indonesia yang mulai menghargai hak-hak asasi manusia, hanya saja
Indonesia belum meresepsi nilai-nilai efisiensinya, karena beberapa
fungsi peradilan yang sebenarnya dalam perspektif pengelompokan
(grouping) bisa dijadikan satu, di Indonesia malah dibuat dalam satu
lembaga atau institusi sendiri.