Anda di halaman 1dari 13

PERBANDINGAN HUKUM PIDANA INDONESIA

DAN INGGRIS

TUGAS PERBANDINGAN HUKUM PIDANA SEBAGAI PENGGANTI


KUIS

DISUSUN OLEH :

AHMAD FITRU ROZAQ

(14110059)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TAMAN SISWA PALEMBANG

TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Studi perbandingan hukum pidana pada dasarnya memperbandingkan
berbagai sistem hukum yang ada. Dalam Black’s Law Dictionary di
definisikan: “Comparative Jurisprudence is the study of the principles of legal
science by the comparison of various systems of law” dalam hal ini yang
diperbandingkan adalah dua atau lebih sistem hukum yang berbeda.Hukum
pidana positif Indonesia ialah berasal dari keluarga hukum CivilLaw System
yang mementingkan sumber hukum dari peraturan perundangan yang ada dan
berlaku di Indonesia. Sementara Inggris menganut sistem hukum Common
Law System yang mengutamakan kebiasaan yang berlaku di sana. Kebiasaan
tersebut dapat berupa Norma maupun putusan-putusan hakim sebelumnya.
Selain perbedaan seperti yang tersebut diatas, kedua sistem hukum pidana
kedua negara sebenarnya memiliki kesamaan. Di Indonesia dikenal hukum
pidana adat yang sampai saat ini masih diakui dan dipakai dalam masyarakat.
Dilihat dari sumber hukumnya, sebenarnya hukum pidana adat tersebut berasal
dari kebiasaan yang berlaku dimasyarakat. Hal tersebut sama halnya dengan
sumber hukum common law yang berasal dari kebiasaan yang ada di
masyarakat. Setiap sistem hukum, pasti memiliki asas-asas yang kemudian
dijabarkan dalam aturan-aturan hukumnya. Salah satu asas hukum yang sangat
penting dan dimiliki oleh setiap sistem hukum adalah asas legalitas atau
dikenal juga dengan asas “Nullum delictum, nulla poena, sina praevia lege
poenali”

B. Permasalahan

1.Bagaimana Perbedaan Asas Legalitas Hukum Pidana di Indonesia dengan di


Inggris ?
2. Apakah Asas Strict liability di Indonesia sama dengan strict liability di
inggris ?

3. Apakah Perbedaan Sistem Peradilan Hukum Pidana Indonesia dengan di


Inggris ?
.BAB II

PEMBAHASAN

A. Perbandingan Dan Perbedaan Asas Legalitas Indonesia Dengan Asas


Legalitas Inggris

a. Asas Legalitas di Indonesia

Asas legalitas di Indonesia terdapat dalam pasal 1 ayat 1 KUHP yang


berbunyi :”tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan
aturanpidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan
dilakukan”.Konsekuensi dari pasal tersebut ialah bahwa perbuatan seseorang yang
tidak tercantum dalam undang-undang sebagai suatu tindak pidana juga tidak
dapatdipidana; jadi dengan asas ini hukum yang tidak tertulis tidak memiliki
kekuatan hukum untuk diterapkan. Namun atas hal itu dikecualikan terhadap
daerah-daerah yang dulu termasuk kekuasaan pengadilan swapraja dan pengadilan
adat dengan dilakukan pembatasan-pembatasan tertentu.Selain itu KUHP
Indonesia juga melarang adanya analogi terhadap suatu perbuatan konkret yang
tidak diatur oleh undang-undang.

b. Asas Legalitas Di Inggris

Asas Legalitas di Inggris walaupun asas ini tidak pernah secara formal
dirumuskan dalam perundang-undangan, namun asas ini menjiwai putusan-
putusan pengadilan. Karena bersumber pada case law, pada mulanya pengadilan
di inggris merasa dirinya berhak menciptakan delik. Namun dalam
perkembangannya, pada 1972 House of Lords menolak secara bulat adanya
kekuasaan pengadilan untuk menciptakan delik-delik baru atau memperluas delik
yang ada. Jadi tampaknya ada pergeseran dari asas legalitas dalam pengertian
materiil ke asas legalitas dalam pengertian pengertian formal. Artinya, suatu delik
oleh hakim berdasarkan common law (hukum kebiasaan yang dikembangkan
lewat putusan pengadilan), namun dalam perkembangannya hanya dapat
ditetapkan berdasarkan undang-undang (statute law). Sehingga di dalam Sistem
Hukum Inggris yaitu Common Law dimana prinsipnya hukum tidak tertulis (yang
jadi patokan nilai yang ada pada masyarakat. Peran hakim menciptakan kaidah-
kaidah hukum yang mengatur tata kehidupan masyarakat. Hakim terikat pada
prinsip hukum dalam putusan pengadilan yang sudah ada dari perkara-perkara
sejenis (asas doctrine of precedent). Sumber hukum utama adalah putusan hakim
(yurisprudensi).

Sehingga dari kedua Asas diatas dapat diketahui perbedaannya yaitu:

1. Asas Legalitas dalam Sistem Hukum Inggris adalah tidak ada perbuatan
yang dapat dipidana kalau tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut dimana
aturan tersebut bersumber dari putusan hakim (yurisprudensi). Jadi dalam
memutuskan suatu perbuatan pidana di inggris biasanya bersumber pada
yurisprudensi hakim.

2. Asas Legalitas dalam Sistem Hukum Indonesia adalah tidak ada perbuatan
yang dapat dipidana kalau tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut dimana
aturan tersebut bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan
dalam pemutusan suatu perbuatan pidana Indonesia tetap bersumber menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. Perbandingan Asas Strict Liability Hukum Pidana Indonesia Dengan Hukum


Pidana Inggris

a. Asas Stict Liability Indonesia

Dalam perkembangan hukum pidana yang terjadi belakangan,


diperkenalkan pula tindak-tindak pidana yang pertanggungjawaban pidananya
dapat dibebankan kepada pelakunya sekalipun pelakunya tidak memiliki mens rea
yang disyaratkan. Cukuplah apabiIa dapat dibuktikan bahwa pelaku tindak pidana
telah melakukan actus reus, yaitu melakukan perbuatan yang dilarang oleh
ketentuan pidana atau tidak melakukan perbuatan yang diwajibkan oleh ketentuan
pidana. Tindak-tindak pidana yang demikian itu disebut offences of strict liability
atau yang sering dikenal juga sebagai offences of absolute prohibition. Strict
liability disebut juga absolute liability. Istilah dalam bahasa Indonesia yang saya
gunakan adalah "pertanggung jawaban mutlak". Mardjono Reksodiputro dalam
salah satu tulisannya diterapkannya asas strict liability di Indonesia yang
menganut system Eropa Continental, yaitu “Berhubung kita tidak mengenal ajaran
Strict liability yang berasal dari system hukum Anglo-Amerika tersebut, maka
sebagai alasan pembenar dapat dipergunakan ajaran feit materiel yang berasal dari
system hukum Eropa Kontinental. Dalam kedua ajaran ini tidaklah penting adanya
unsur kesalahan. Ajaran strict liability hanya dipergunakan untuk tindak pidana
ringan. Dalam praktik di Indonesia, ajaran strict liability sudah diterapkan, antara
lain untuk pelanggaran Ialu lintas. Para pengemudi kendaraan bermotor yang
melanggar lampu lalu lintas, misalnya tidak berhenti pada waktu lampu lalu lintas
menunjukkan lampu yang berwarna merah menyaIa, akan ditilang oleh polisi dan
selanjutnya akan di sidang di pengadilan. Hakim dalam memutuskan hukunan atas
pelanggaran tersebut tidak akan mempersoalkan ada tidak adanya kesalahan pada
pengemudi yang melanggar peraturan lalu lintas itu. Pada Pasal 211 KUHAP
pembuktian pelanggaran-pelanggaran jenis lalu lintas jalan tersebut dapat
dilakukan dengan mudah dan nyata seketika itu, karena tidak mungkin dipungkiri
lagi oleh pelanggar. Berita acara yang ditiadakan diganti dengan bukti
pelanggaran lalu lintas tertentu disingkat TILANG yang diisi oleh penegak hukum
(POLRI Satuan Lalu Lintas). Oleh karena itu, tidak berlaku juga bagi semua
tindak pidana, melainkan hanya untuk tindak pidana tertentu yang ditetapkan oleh
undang-undang. Untuk tindak pidana tertentu tersebut, pembuat tindakan
pidananya telah dapat dipidana hanya karena telah dipenuhinya unsur-unsur
tindak pidana oleh perbuatannya. Di sini kesalahan pembuat tindak pidana dalam
melakukan perbuatan tersebut tidak lagi diperhatikan. Asas ini dikenal sebagai
asas "strict liability"

b. Asas Strict Liability Inggris


Walaupun pada prinsipnya berlaku asas Mens Rea , namun di Inggris ada
delik – delik yang tidak mensyaratkan adanya Mens Rea (berupa intention,
recklessness, atau negligence). Si pembuat sudah dapat dipidana apabila ia telah
melakukan perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang – undang tanpa
melihat bagaimana sikap batinnya. Di sini berlaku apa yang disebut strict liability
yang sering diartikan secara singkat liability without fault (pertanggungjawaban
tanpa kesalahan). Menurut common law, Strict Liability berlaku terhadap 3
macam delik:

1. Public nuisance (gangguan terhadap ketertiban umum, menghalangi jalan raya,


mengeluarkan bau tidak enak yang mengganggu lingkungan).

2. Criminal libel (penghinaan/fitnah, pencemaran nama baik)

3. Contempt of Court (pelanggaran tata tertib di pengadilan) Misalnya :


mengancam Jaksa, hakim dan Saksi.

Prinsip pertanggungjawaban mutlak (strict Liability) merupakan prinsip


pertanggung jawaban hukum (liability) yang telah berkembang sejak lama yang
berawal dari sebuah kasus di Inggris yaitu Rylands v. Fletcher tahun 1868. Dalam
kasus ini Pengadilan tingkat kasasi di Inggris melahirkan suatu kriteria yang
menentukan, bahwa suatu kegiatan atau penggunaan sumber daya dapat dikenai
strict liability jika penggunaan tersebut bersifat non natural atau di luar kelaziman,
atau tidak seperti biasanya. Jenis pertanggung jawaban ini muncul sebagai reaksi
atas segala kekurangan dari system atau jenis pertanggungjawaban fault based
liability. Pertanggung jawaban hukum konvensional selama ini menganut asas
pertanggung jawaban berdasarkan kesalahan (liability based on fault), artinya
bahwa tidak seorangpun dapat dikenai tanggung jawab jika pada dirinya tidak
terdapat unsur-unsur kesalahan. Dalam kasus lingkungan dokrin tersebut akan
melahirkan kendala bagi penegakan hukum dipengadilan karena dokrin ini tidak
mampu mengantisipasi secara efektif dampak dari kegiatan industri modern yang
mengandung resiko-resiko potensial. Pertanggung jawaban mutlak pada awalnya
berkembang dinegara-negara yang menganut sistem hukum anglo saxon atau
common law, walaupun kemudian mengalami perubahan perkembangan
dibeberapa negara untuk mengadopsinya. Beberapa negara yang menganut asas
ini antara lain Inggris, Amerika, Belanda, Thailand.

C. Perbedaan Sistem Peradilan Pidana Inggris dengan Sistem Pidana Indonesia

a. Sekilas Sistem Peradilan Pidana Inggris

Sampai akhir 1986, proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di


Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Police Prosecutor). Sedangkan perkara yang
agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. Dan perkara-perkara
yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut
Umum pengacara yang disebut Barrister. Namun sejak 1986 yang menentukan
apakah perkara yang disidik Polisi dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah
Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Secvice (CPS). Dan di Inggris
terdapat 31 kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor, senior Crown
Prosecutor, Assistant branch CPS, Branch prosecutor (di Indonesia setingkat
Kepala Kejaksaan Negeri), dan Chief Prosecutor (setingkat Kepala Kejaksaan
tinggi).

Sumber hukum dalam sistem peradilan pidana di Inggris terdiri dari :

a) Custom, merupakan sumber hukum tertua. Tumbuh dan berkembang dari


kebiasaan suku Anglo Saxon pada abad pertengahan yang melahirkan Common
Law. Sehingga sistem hukum Inggris disebut juga sistem anglo saxon.

b) Legislation/statute, berupa Undang-undang yang dibuat melalui parlemen.

c) Case law/judge made law, hukum kebiasaan yang berkembang di masyarakat


melalui putusan hakim yang kemudian diikuti oleh hakim berikutnya melahirkan
asas precedent.

Dalam sistem Common Law seperti di Inggris, adat istiadat atau kebiasaan
masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan Pengadilan
mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas STARE DECISIS
atau ASAS BINDING FORCE OF PRECEDENTS. Asas ini mewajibkan hakim
untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. Bagian putusan hakim
yang harus diikuti dan mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut
sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak
mengikat.

Dalam sistem peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh


juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Tugas hakim hanya memastikan
persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum.
Oleh karena itu, tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan
juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. Berbeda dengan sistem civil law yang
dianut di Indonesia sebagai kelanjutan dari sistem hukum yang dianut Belanda,
maka tugas hakim di pengadilan lebih berat karena selain harus menentukan benar
salahnya terdakwa juga menetapkan hukuman (vonis)nya .

Pada tahun 1994 telah terjadi pergeseran sistem akusator menjadi sistem
inquisitor dalam hukum acara Pidana Inggris. Hal ini dilatarbelakangi karena
Polisi di Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus
yang menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat terutama terorisme. Karena
tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum yang diberikan oleh UU antara
lain hak untuk diam (right to remain silent). Perubahan tersebut dilihat dari
konteks keberadaan sistem hukum yang ada di dunia (civil law dan common law)
ternyata saat ini bukan saatnya lagi memperdebatkan secara tajam perbedaan
antara kedua sistem hukum tersebut.

b. Sistem Peradilan Pidana Terpadu Di Indonesia

Sistem peradilan pidana di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHAP


(Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) atau Undang-undang No.8 tahun
1981, sebenarnya identik dengan penegakan hukum pidana yang merupakan suatu
sistem kekuasaan/kewenangan dalam menegakkan hukum pidana. Sistem
penegakan hukum pidana ini sesuai ketentuan dalam KUHP dilaksanakan oleh 4
sub sistem yaitu:

1. Kekuasaan Penyidikan oleh Lembaga Kepolisian.

2. Kekuasaan Penuntutan oleh Lembaga Penuntut Umum atau Kejaksaan.

3. Kekuasaan mengadili oleh Badan Peradilan atau Hakim.

4. Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan


lembaga pemasyarakatan).

No Variabel Indonesia Inggris


1 Pengadilan superior dan a.Mahkamah Agung; a.House of lords;
inferior (strata tingkatan b.Pengadilan tinggi; b.Mahkamah agung;
pengadilan dari yang c.Pengadilan negeri. c.Pengadilan banding;
paling tinggi) d.Pengadilan tinggi;
e.Pengadilan kerajaan;
f.Pengadilan magistrate.

Keempat subsistem itu merupakan satu kesatuan sistem penegakan hukum


pidana yang integral atau sering disebut dengan istilah integrated criminal justice
system atau sistem peradilan pidana terpadu. Menilik sistem peradilan pidana
terpadu yang diatur dalam KUHAP maka keempat komponen penegakan hukum
Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan seharusnya
konsisten menjaga agar sistem berjalan secara terpadu. Dengan cara
melaksanakan tugas dan wewenang masing-masing sebagaimana telah diberikan
oleh Undang-undang. Karena dalam sistem Civil Law yang kita anut, Undang-
undang merupakan sumber hukum tertinggi. Karena disana (dalam Hukum Acara
Pidana) telah diatur hak dan kewajiban masing-masing penegak hukum dalam
subsistem peradilan pidana terpadu maupun hak-hak dan kewajiban
tersangka/terdakwa.
Perbedaan Pengadilan Indonesia dan Inggris

No Variabel Indonesia Inggris


1 Pembagian pengadilan a.Peradilan umum; a.Peradilan koroner;
berdasarkan yurisdiksi b.Peradilan agama; b.Peradilan militer;
khusus c.Peradilan tata usaha c.Peradilan
negara; ketenagakerjaan;
d.Peradilan militer d.Peradilan imigrasi;
e.dll

2 Pembagian daerah Terdapat pembagian Tidak terdapat


hukum daerah hukum pembagian daerah
berdasarkan hukum
administrasi wilayah

3 Jumlah hakim yang Hakim majelis Umumnya


memeriksa perkara menggunakan hakim
tunggal

4 Sistem pembuktian Pembuktian Berdasarkan keyakinan


berdasarkan undang- belaka (conviction in
undang secara negatif time)
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari Uraian Pembahasan diatas maka dapat disimpulkan Bahwa Perbedaan


yang sangat mencolok yang dapat dilihat antara Hukum pidana Indonesia dengan
inggris yaitu dapat kita lihat melalui asas legalitas dari masing-masing dimana
asas legalitas Negara inggris bersumber kepada yurisprudensi hakim, sedangkan
di Indonesia bersumber pada undang-undang yang berlaku. Dan juga asas strict
liability kedua Negara dimana di Negara inggris unsur kesalahan tidak dapat
diberikan apa bila tidak ada pada dirinya, sedangkan di Indonesia unsur kesalahan
sudah diberikan apabila telah terbukti melakukan suatu kesalahan. Dan yang
terakhir dalam system peradilan pidana Indonesia identik dengan penegakan
hukum pidana yang mempunyai kekuasaan dan kewenangnan dalam menegakan
hukum pidana. Yang terdapat 4 subsistem yaitu, kekuasaan penyidikan, kekuasaan
penuntutan, kekuasaan mengadili dan kekuasaan pelaksanaan hukuman.
Sedangkan dalam system peradilan pidana di inggris putusan pengadilan
mempunyai kedudukan yang sangat kuat. Dan putusan hakim mengikat untuk
hakim selanjutnya.

B. Saran

Dengan membandingkan hukum pidana Negara Indonesia dengan Inggris.


Indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi penegakan hukum dan keadilan
hukum, perlu meniru tata cara pengambilan putusan dalam penegakan hukum.
DAFTAR PUSTAKA

 Prof. Nawawi Arief, Barda, S.H. Perbandingan Hukum Pidana ( Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada, 2010 )

 Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1988. Jakarta : Balai Pustaka.

 E. Y. Kanter, S. R. Sianturi, Asas-asas hukum pidana di Indonesia dan


penerapannya ( Jakarta : Alumni AHM-PTHM, 1982 )

 Andi Hamzah, KUHP & KUHAP Indonesia

 Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas, Sistem Hukum di dunia,


http://id. Wikipedia.org

 www.hukumonline.com

 www.Google Cendekia.com