Anda di halaman 1dari 17

Cara Ekstraksi Minyak Atsiri

Minyak atsiri disebut juga minyak eteris adalah minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri
dari campuran at yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih berbeda-beda. Setiap
substansi yang dapat menguap memiliki titik didih dan tekanan uap tertentu dan dalam hal ini
dipengaruhi oleh suhu. Pada umumnya tekanan uap yang rendah dimiliki oleh persenyawaan yang
memiliki titik didih tinggi (Guenther, 2006).

Untuk memperoleh minyak atsiri dari suatu bahan dapat dilakukan dengan berbagai cara
diantaranya penyulingan, pengepresan, ekstraksi pelarut mudah menguap dan ekstraksi dengan
lemak padat. Penyulingan dapat didefinisikan sebagai pemisahan komponen suatu campuran dari
dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap dan titik didih dari masing-masing
zat tersebut. Pada proses penyulingan minyak atsiri dikenal tiga metode penyulingan yaitu
penyulingan dengan air langsung, penyulingan air-uap dan penyulingan uap langsung. Masing-
masing metode penyulingan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Sebelum melakukan penyulingan, bahan perlu perlakuan pendahuluan. Perlakuan
pendahuluan meliputi pengecilan ukuran, pengeringan atau pelayuan dan fermentasi (pemeraman).
Pengecilan ukuran dilakukan dengan merajang bahan, perajangan ini dimaksudkan untuk
memudahkan penguapan minyak atsiri dan untuk mengurangi sifat kamba bahan olah. Pelayuan
atau pengeringan bahan dilakukan untuk menguapkan sebagian air sehingga memudahkan proses
penyulingan dan untuk menguraikan zat tidak berbau menjadi berbau wangi. Sedangkan proses
pemeraman dilakukan pada minyak-minyak tertentu untuk memecahkan sel-sel minyak pada daun
(Ketaren, 1985).

Penyulingan dengan air dilakukan seperti proses perebusan, bahan yang akan disuling kontak
langsung dengan air. Ketika air mendidih dan menguap, air membawa serta uap minyak atsiri yang
ingin diperoleh. Uap tersebut kemudian dikondensasi dengan alat kondensor, hasil kondensasi
dipisahkan antara bagian minyak dengan air dengan alat separator. Penyulingan dengan uap dan air
dilakukan seperti metode mengukus. Bahan diletakkan diatas saringan berlubang yang dibawahnya
terdapat air. Air dipanaskan yang kemudian uapnya kontak dengan bahan yang menyebabkan
minyak atsiri ikut menguap. Uap yang dihasilkan dikondensasi dan kemudian dipisahkan antara
minyak dengan air. Sedangkan penyulingan dengan uap langsung menggunkan uap air jenuh pada
tekanan lebih dari 1 atmosfir. Uap jenuh dihasilkan dari pemanasan air pada instalasi lain seperti
pada boiler (Geunther, 2006).


Selain dengan penyulingan yang telah disebutkan diatas minyak atsiri juga dapat diperoleh dengan
proses pengepresan. Ekstraksi dengan cara pengepresan umumnya dilakukan terhadap bahan
berupa biji, buah atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman termasuk famili citrus, karena
minyak famili tersebut akan rusak jika diekstraksi dengan penyulingan. Akibat tekanan pengepresan
sel-sel yang mengandung minyak akan pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan bahan.
Beberapa jenis minyak yang dapat diekstraksi dengan cara pengepresan adalah minyak almond,
apricot, lemon, kulit jeruk, mandarin, grape fruit dan beberapa jenis minyak lainnya (Ketaren, 1985).

Untuk bahan-bahan minyak atsiri yang tidak tahan terhadap panas ataupun tekanan, proses
ekstraksi dilakukan dengan ekstraksi pelarut mudah menguap atau dengan ekstraksi lemak padat.
Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap menggunakan prinsip kelarutan senyawa-senyawa
minyak atsiri terhadap beberapa jenis pelarut. Terdapat beberapa jenis pelarut yang dapat
melarutkan minyak atsiri, sebagian besar pelarut tersebut bersifat semi polar atao non polar.
Sedangkan ekstraksi dengan lemak padat menggunakan prinsip penyerapan senyawa minyak atsiri
dengan lemak.

Prinsip ekstraksi dengan pelarut mudah menguap adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan
dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam suatu
wadah yang disebut ekstraktor. Bunga yang ingin diekstrak dimasukkan kedalam ekstraktor dan
kemudian pelarut menguap dimpankan ke dalam ekstraktor. Pelarut yang biasa digunakan adalah
petroleum ether, carbon tetra clorida, chloroform dan pelarut lainnya yang bertitik didih rendah.
Pelarut organik akan berpenetrasi ke dalam jaringan bunga dan akan melarutkan minyak serta
bahan non volatil yang berupa resin, lilin dan pigmen. Hasil ekstraksi merupakan campuran dari
pelarut dan minyak atsiri yang disebut dengan concrete. Jika concrete dilarutkan dalam alkohol
maka minyak atsiri akan larut sempurna namun zat lilin akan terpisah. Jika dilihat dari minyak atsiri
yang dihasilkan ekstraksi dengan pelarut memberi minyak atsiri yang memiliki mutu yang lebih baik
dibandingkan dengan minyak atsiri hasil proses penyulingan (Ketaren, 1985).

Pada proses ekstraksi pelarut mudah menguap perlu diperhatikan
beberapa tahapan. Pemilihan jenis pelarut yang akan digunakan merupakan tahap awal dalam
ekstraksi ini. Karakteristik masing-masing pelarut berbeda-beda sehingga zat-zat yang dilarutkan
juga berbeda. Karakteristik yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut adalah harus dapat
melarutkan zat wangi secara sempurna, memiliki titik didih cukup rendah sehingga mudah
diuapkan, pelarut tidak larut air dan pelarut tidak boleh bereaksi dengan bahan. Beberapa jenis
pelarut yang dianggap baik untuk ekstraksi adalah petroleum ether dan benzena. Penggunaan
campuran berbagai pelarut dapat menghasilkan rendemen dan mutu minyak yang cukup baik
dibandingkan dengan pelarut murni. Hasil dari ekstraksi berupa campuran minyak dengan pelarut
yang kemudian memasuki tahap pemekatan. Pemekatan dilakukan dengan menguapkan pelarut
sehingga yang tersisa hanya fraksi terlarutnya. Minyak atsiri yang diperoleh dari hasil pemekatan
kemudian dimurnikan untuk menghilangkan senyawa lain seperti lilin, pigmen dan resin (Ketaren,
2011).

Ekstraksi minyak padat biasanya digunakan untuk mengekstrak minyak atsiri dari bunga. Pada
umumnya bungan setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologis. Daun bunga terus menjalankan
proses hidup dan tetap memproduksi minyak atsiri dan minyak yang terbentuk dalam bunga akan
menguap dalam waktu singkat. Kegiatan bunga akan terhenti jika kontak dengan panas atau kontak
dengan pelarut organik. Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan mutu yang
lebih baik, maka selama proses ekstraksi berlangsung perlu dijaga agar proses fisiologi dalam bunga
tetap dapat memproduksi minyak atsiri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengekstraksi minyak
bunga yang menggunakan lemak hewani atau nabati (Guenther, 2006).

Dalam melakukan ekstraksi lemak padat dibutuhkan peralatan berupa pelat glas berbentuk kotak
(chassis) dengan ukuran panjang 75 cm, lebar 60 cm dan tebal 5 cm. Pelat gelas tersebut dipolesi
dengan lemak dan bunga disebarkan dalam ruangan di antara 2 susunan pelat gelas. Dengan cara ini
minyak yang menguap dari bunga akan diabsorb oleh lemak. Bunga yang telah diekstrak diganti
dengan bunga segar setelah 24-36 jam dan umumnya 0,5 kg lemak dapat menyerao minyak atsiri
dari bunga dengan berat 1,25 1,50 kg. Hasil ekstraksi berupa campuran minyak atsiri dengan
lemak yang disebut dengan pomade (Guenther, 2006).

Minyak atsiri dalam pomade dapat diekstrak dengan alkohol dalam suatu alat yang
disebutbatteuses. Campuran alkohol dengan pomade didinginkan di bawah suhu 0
o
C, sehingga
bagian lemak akan membeku sedangkan campuran larutan alkohol dengan minyak atsiri tetap
dalam keadaan cair. Lemak dapat dipisahkan dengan proses penyaringan. Campuran antara minyak
atsiri dengan alkohol disebut dengan extrait. Extrait merupakan salah satu bahan dasar parfum yang
bernilai tinggi, karena mengandung minyak atsiri yang masih memiliki bau wangi alamiah (Ketaren,
1985).

Dalam melakukan ekstraksi dengan lemak padat, jenis lemak yang digunakan perlu diperhatikan.
Syarat lemak yang dapat digunakan haruslah lemak yang tidak berbau dan mempunyai konsistensi
tertentu. Lemak yang berbau dapat mencemari minyak yang dihasilkan. Bau lemak dapat
dihilangkan dengan proses deodorisasi. Sedangkan konsistensi lemak dapat diatur dengan
mencampur dua lemak yang titik cairnya berbeda. Campuran lemak yang baik digunakan untuk
ekstraksi adalah lemak babi dan lemak sapi. Selain campuran lemak tersebut dapat pula
digunakan lemak nabati berupa shortening (Guenther, 2006).





Cara Ekstraksi Minyak Atsiri
Cara ekstraksi merupakan sistem pembuatan minyak atsiri yang bahan bakunya
memiliki rendemen kecil, rusak pada suhu tinggi, dan rata-rata larut dalam air. Cara ekstraksi
biasanya digunakan untuk bahan baku minyak atsiri berupa bunga. Beberapa komoditas minyak
atsiri yang menggunakan sistem ekstraksi di antaranya mawar, melati, dan sedap malam.
Cara ekstraksi dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ekstraksi dengan pelarut menguap,
ekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan lemak panas. Ekstraksi minyak atsiri secara
komersial umumnya dilakukan dengan pelarut menguap (solvent extraction).

Prinsip metode ekstraksi dengan pelarut menguap adalah melarutkan minyak atsiri di dalam bahan
pelarut organik yang mudah menguap. Pelarut yang dapat digunakan di antaranya alkohol, heksana,
benzena, dan toluena. Selain itu, dapat juga menggunakan pelarut non-polar seperti metanol,
etanol, kloroform, aseton, petroleum eter, dan etilasetat dengan kadar 96%.

Alat yang digunakan dalam metode ini adalah ekstraktor yang terdiri dari tabung ekstraktor
berputar dan tabung evaporator (penguap). Tabung ekstraktor dan evaporator ini dilengkapi
dengan penunjuk tekanan dan suhu. Di dalam ekstraktor berputar terdapat saluran masuk
pelarut organik dan pompanya. Sementara itu, saluran masuk evaporator dibuat tertutup agar
pelarut tidak mudah menguap. Berikut tahapan pembuatan minyak dengan metode ekstraksi
dengan pelarut.
1. Masukkan bahan baku segar ke dalam ekstraktor dan rendam bersama dengan pelarut organik
(misalnya hexan).
2. Pelarut menguap berpenetrasi ke dalam jaringan bahan baku dan melarutkan minyak serta
beberapa zat seperti resin, lilin, dan zat warna. Untuk bunga melati, perendaman dilakukan selama
1 jam, sedangkan bunga mawar direndam selama 12 jam.
3. Putar ekstraktor selama 2060 menit, lalu pisahkan larutan dari ampas hasil ekstraksi.
4. Lakukan destilasi di dalam evaporator vakum pada suhu 45 C.
5. Pelarut akan menguap dan menyisakan larutan semipadat berwarna merah kecokelatan yang
disebut concentrate. Larutan ini terdiri dari minyak atsiri, lilin, dan resin.
6. Aduk dan larutkan concentrate di dalam alkohol 95% yang dapat mengikat minyak atsiri.
7. Dinginkan concentrate pada suhu -5 C di dalam lemari pendingin hingga lilin mengendap. Setelah
itu, saring hingga diperoleh larutan.
8. Lakukan destilasi ulang dalam kondisi vakum pada suhu 45 C untuk memisahkan minyak dengan
alkohol yang mengikatnya hingga dihasilkan minyak atsiri murni. Langkah kerja ekstraksi minyak
atsiri

Artikel ini dikutip dari buku Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. AgroMedia, 2010. Buku yang
disusun oleh Dr. Meika Syahbana Rusli ini mengupas cara memproduksi minyak atsiri hingga cara
memurnikan minyak atsiri sesuai standar mutu, sehingga layak untuk diekspor. Dibeberkan pula
berbagai tanaman unggul dan potensial penghasil minyak atsiri.


Minyak atsiri dari jeruk purut dapat diperoleh dengan melakukan penyulingan. Namun sebelum
menjelaskan tentang proses penyulingan tersebut, ada baiknya jika meninjau lebih jauh tentang
tanaman jeruk purut ini.
JerukPurut Penghasil Minyak Atsiri

Jeruk purut adalah salah satu anggota suku jeruk-jerukan, Rutacea, dari jenis Citrus. Nama latinnya
adalah Citrus hystrix. Buahnya tidak umum dimakan, karena tak enak rasanya. Banyak mengandung
asam dan berbau wangi agak keras. Tinggi pohonnya antara 2-12 meter. Batangnya agak kecil,
bengkok atau bersudut dan bercabang rendah. Batang yang telah tua berbentuk bulat, berwarna
hijau tua, polos atau berbintik-bintik. Daun jeruk purut berwarna hijau kekuningan dan berbau
sedap. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai. Tangkai daun bersayap lebar,
sehingga hampir menyerupai daun. Daun ini banyak dipakai untuk bumbu masakan. Buah jeruk
purut lebih kecil dari kepalan tangan, bentuknya seperti buah pir, tetapi banyak tonjolan dan
berbintil. Kulit buahnya tebal dan berwarna hijau. Buah yang matang benar berwarna sedikit
kuning. Warna daging buahnya hijau kekuningan, rasanya sangat masam dan agak pahit.
Proses Penyulingan dan Ekstraksi Minyak Atsiri
Jika daun jeruk purut itu disuling, dihasilkan minyak atsiri yang dari tidak berwarna (bening) sampai
kehijauan (tergantung cara ekstraksi), minyak atsiri berbau harum mirip bau daun (jeruk
purut). Minyak atsiri hasil destilasi (penyulingan) menggunakan uap mengandung 57 jenis
komponen kimia. Yang utama dan terpenting adalah sitronelal dengan jumlah 81, 49%, sitronelol
8,22%, linalol 3,69% dan geraniol 0,31%. Komponen lainnya ada dalam jumlah yang sedikit.
Ekstrasi yang dilakukan menggunakan pelarut meliputi persiapan bahan, mencampur, mengaduk
dan memanaskan bahan dan pelarut serta memisahkan pelarut dari minyak atsiri. Metode ekstraksi
yang digunakan antara lain destilasi uap, destilasi dengan cara Likens-Nickerson, maserasi dan
perkolasi.
Pelarut yang banyak digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri adalah etanol, heksana, etilen
diklorida, aseton, isopropanol dan metanol. Penyulingan atau destilasi uap dilakukan dengan cara
menimbang daun jeruk purut sesuai dengan kapasitas tangki penyulingan, kemudian dirajang
(dipotong kecil-kecil). Proses penyulingan minyak atsiri dilakukan selama 6 jam. Minyak atsiri yang
diperoleh dipisahkan dari air dengan menggunakan labu pemisah minyak. Destilasi menggunakan
alat yang sama dengan destilasi uap, hanya rajangan daun jeruk purut langsung dicampur dengan
air dan dididihkan. Dalam destilasi uap, rajangan dipisahkan dari air mendidih oleh suatu kawat
kasa, hingga hanya terkena uapnya. Proses penyulingan dan pemisahan minyak atsirinya juga sama.
Cara Likens-Nickerson (alatnya disebut ekstraktor Lickens-Nickerso) merupakan ekstraksiminyak
atsiri dalam skala laboratorium. Rajangan daun jeruk purut dicampur dengan air suling, lalu
diletakkan dalam labu erlenmeyer 1 liter. Pelarut ditempatkan dalam labu didih 50 ml (labu ini
berhubungan dengan labu erlenmeyer melalui pipa gas dan kondensor). Kedua labu dipanaskan
sampai mendidih hingga minyak atsiri tersuling secara simultan selama 3 jam. Pemisahan minyak
atsiri dari pelarutnya dilakukan dengan penguapan pada tekanan rendah. Pada cara maserasi, daun
jeruk purut yang telah dihancurkan direndam dalam tangki tertutup dan didiamkan beberapa
hari. Selama itu dilakukan pengadukan beberapa kali supaya larutan minyak atsiri merata.
Selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepresan, hingga diperoleh cairan pelarut.
Penjernihan dilakukan dengan pengendapan atau penyaringan. Sedangkan perkolasi adalah
melarutkan minyak atsiri dari hancuran daun jeruk purut dengan pelarut yang mengalir. Seperti
halnya maserasi, daun dihancurkan lebih dulu supaya ekstraksi berlangsung lebih cepat.
Hancuran jeruk purut itu kemudian dialiri dengan pelarut pada sebuah perkolator. Setelah proses
dianggap selesai, cairan yang diperoleh dipisahkan minyak atsirinya dengan cara penyulingan.



Faktor-faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi yaitu
1. Ukuran Bahan
Pengecilan ukuran bertujuan untuk memperluas permukaan bahansehingga mempercepat
penetrasi pelarut ke dalam bahan yang akan diekstrak danmempercepat waktu ekstraksi.
Sebenarnya semakin kecil ukuran bahan semakin luas pula permukaan bahan sehingga
semakin banyak oleoresinyang dapat diekstrak. Tetapi ukuran bahan yang terlalu kecil juga
menyebabkan banyak minyak volatile yang menguap selama penghancuran.
2. Suhu Ekstraksi
Ekstraksi akan lebih cepat dilakukan pada suhu tinggi, tetapi padaekstraksi oleoresin hal ini
dapat meningkatkan beberapa komponen yang terdapatdalam rempah akan mengalami
kerusakan
3. Pelarut
Jenis pelarut yang digunakan merupakan faktor penting dalam ekstraksioleoresin. Hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah : daya melarutkan oleoresin, titik didih, toksisitas (daya atau
sifat racun), mudah tidaknya terbakar dan sifatkorosif.
Dalam pemilihan pelarut harus memperhatikan beberapa faktor diantaranya
adalah pemilihan pelarut pada umumnyadipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :

Selektifitas Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukankomponen-
komponen lain dari bahan ekstraksi.
Kelarutan Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar
(kebutuhan pelarut lebih sedikit).
Kemampuan untuk tidak saling bercampur Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh atau
hanya secara terbatas larutdalam bahan ekstraksi.
Kerapatan Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat
perbedaankerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi.
Reaktifitas Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara
kimia pada komponen-komponen bahan ekstraksi.
Titik didih Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan,
destilasi atau rektifikasi, maka titik didih kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat.
EKSTRAKSI PELARUT
I. DEFINISI DAN JENIS-JENIS EKSTRAKSI
Ekstraksi pelarut atau disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang
paling baik dan populer. Alasan utamanya adalah pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam
tingkat makro ataupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut
dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur , seperti
benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasan nya adalah zat terlarut dapat ditransfer
pada jumlah yang berbada dalam kedua fase pelarut.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran
berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling
bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah gugus yang
diinginkan dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan.
Kadang-kadang gugus-gugs pengganggu ini diekstraksi secara selektif.
Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan air yang
mengandung gugus yang bersangkutan. Dalam pemilihan pelarut organik agar kedua jenis
pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air) tidak saling tercamupr satu sama lain.
Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalam corong pisah dengan jalan pengocokan
beberapa kali.
Untuk memilih jenis pelarut yang sesai harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan dan konstanta distribusi
rendah untuk gugus pengotor lainnya.
2. Kelarutan pelarut organik rendah dalam air
3. Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
4. Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun
5. Mudah melepas kembali gugs yang terlarut didalamnya ntk keperluan analisa lebih lanjut
Ekstraksi dapat dilakukan secara kontinue atau bertahap, ekstraksi bertahap cukup
dilakukan dengan corong pisah.Campuran dua pelarut dimasukkan dengan corong pemisah,
lapisan dengan berat jenis yang lebih ringan berada pada lapisan atas.
Dengan jalan pengocokan proses ekstraksi berlangsung, mengingat bahwa proses
ekstraksi merupakan proseskesetimbangan maka pemisahan salah satu lapisan pelarut
dapat dilakukan setelah kedua jenis pelarut dalam keadaan diam. Lapisan yang ada dibagian
bawah dikeluarkan dari corong dengan jalan membuka kran corong dan dijaga agar jangan
sampai lapisan atas ikut mengalir keluar. Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi
dilakukan lebih dari satu kali.
Analisis lebih lanjut setelah proses ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai
metode seperti volumetri, spektrofotometri dan sebagainya. Jika sebagai metode analisis
digunakan metode spekttrofotometri, tidak perlu dilakukan pelepasan karena konsentrasi
gugus yang bersangkutan dapat ditentukan langsung dalam lapisan organik. Metode
spektrofotometri dapat digunakan untuk pelarut air maupun organik.
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan
inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen
terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan
kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut
dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya
sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena
efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic
Chemistry]
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:
Tipe persiapan sampel
Waktu ekstraksi
Kuantitas pelarut
Suhu pelarut
Tipe pelarut
Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih
kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad, 2001).

Macam Metoda Ekstraksi :
1. Ekstraksi Cara Dingin
Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung,
tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud rusak karena
pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah :
Maserasi merupakan proses ekstraksi menggunakan pelarut diam atau dengan beberapa
kali pengocokan pada suhu ruangan. Pada dasarnya metoda ini dengan cara merendam
sample dengan sekali-sekali dilakukan pengocokan. Umumnya perendaman dilakukan 24
jam dan selanjutnya pelarut diganti dengan pelarut baru. Ada juga maserasi kinetik yang
merupakan metode maserasi dengan pengadukan secara sinambung tapi yang ini agak
jarang dipakai.
Perkolasi merupakan ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada suhu ruangan. Prosesnya
terdiri dari tahap pengembangan bahan, maserasi antara, perkolasi sebenarnya
(penetesan/penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak yang
jumlahnya satu sampai lima kali volume bahan, ini bahasa buku agak rumit ya?
Prosedurnya begini: sampel di rendam dengan pelarut, selanjutnya pelarut (baru) dilalukan
(ditetes-teteskan) secara terus menerus sampai warna pelarut tidak lagi berwarna atau
tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi senyawa yang terlarut.

2. Ekstraksi Cara Panas
Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan adanya panas secara
otomatis akan mempercepat proses penyarian dibandingkan cara dingin. Metodanya
adalah:
Refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut yang dilakukan pada titik didih pelarut
tersebut, selama waktu tertentu dan sejumlah pelarut tertentu dengan adanya pendingin
balik (kondensor). Umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan proses pada
residu pertama, sehingga termasuk proses ekstraksi sempurna, ini bahasa buku lagi.
Prosedurnya: masukkan sampel dalam wadah, pasangkan kondensor, panaskan. Pelarut
akan mengekstraksi dengan panas, terus akan menguap sebagai senyawa murni dan
kemudian terdinginkan dalam kondensor, turun lagi ke wadah, mengekstraksi lagi dan
begitu terus. Proses umumnya dilakukan selama satu jam.
Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru,
umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi konstan dengan
adanya pendingin balik (kondensor). Disini sampel disimpan dalam alat Soxhlet dan tidak
dicampur langsung dengan pelarut dalam wadah yang di panaskan, yang dipanaskan
hanyalah pelarutnya, pelarut terdinginkan dalam kondensor dan pelarut dingin inilah yang
selanjutnya mengekstraksi sampel.

Digesti merupakan maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinyu) yang dilakukan pada
suhu lebih tinggi dari suhu ruangan, secara umum dilakukan pada suhu 40C 50C.


Infusa merupakan proses ekstraksi dengan merebus sample (khusunya simplisia) pada
suhu 90
0
C

II. MACAM MACAM PELARUT EKSTRAKSI
1. n-heksan
2. etil asetat
3. etanol
4. metanol
5. air
6. klorofrom (pelarut organic)
7. CHCL
3
(pelarut organic)
8. Karbon tetraklorida (pelarut organic)
9. CCL
4
(pelarut organic)


IV. RUMUS DAN HUKUM DISTRIBUSI
Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas zat
terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain diketahui, asalkan
kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi
koefisien distribusi diantaranya:

1. Temperatur yang digunakan.
Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi
menjadi kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai k.

2. Jenis pelarut.
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat
mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai k.

3. Jenis terlarut.
Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis, maka akan
mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut), akibatnya mempengaruhi harga k.

4. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k.
Harga K berubah dengan naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k tergantung jenis
pelarutnya dan zat terlarut. Menurut

Walter Nersnt, hukum diatas hanya berlaku bila zat terlarut tidak mengalami disosiasi atau
asosiasi, hukum di atas hanya berlaku untuk komponen yang sama.

Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi, analisis dan penentuan tetapan
kesetimbangan. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa solut akan
mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, sehingga setelah
kesetimbangan distribusi tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua fasa
pelarut pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut koefisien distribusi
(KD), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-reaksi apapun. Akan tetapi, jika
solut di dalam kedua fasa pelarut mengalami reaksi-reaksi tertentu seperti assosiasi,
dissosiasi, maka akan lebih berguna untuk merumuskan besaran yang menyangkut
konsentrasi total komponen senyawa yang ada dalam tiap-tiap fasa, yang dinamakan angka
banding distribusi (D).

Tetapan distribusi atau koefisien distribusi dinyatakan dengan rumus:

dengan
Kd = Koefisien distribusi,
Co = konsentrasi larutan pada pelarut organik,
Ca = konsentrasi larutan pada pelarut air.



V. DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M. N. 1997. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.
Basset, J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. PT. Kalman Media
Pustaka. Jakarta.---------





Sekedar mengingat kembali, istilah ekstraksi yaitu metode untuk memisahkan komponen
solut (zat terlarut) dari campurannya dengan menggunakan sejumlah massa pelarut. Ada
beberapa alasan mengapa memilih metode ekstraksi, antara lain :

Apabila senyawa yang akan dipisahkan terdiri dari komponen-komponen yang
mempunyai titik didih yang berdekatan.
Sensitif terhadap panas
Merupakan campuran azeotrop.
Berdasarkan fase zat terlarut dan pelarut, ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi cair cair,
ekstraksi padat-cair dan ekstraksi gas-cair.
Ekstraksi padat cair sering disebut dengan pelindian atau leaching. Jika zat terlarut yang
tidak dikehendaki akan dihilangkan dari padatan dengan menggunakan air maka proses
leaching tersebut dinamakan pencucian. Proses ekstraksi padat cair ini banyak digunakan
pada industri bahan makanan, farmasi dan ekstraksi minyak nabati. Beberapa pelarut
organik sering digunakan dalam ekstraksi padat-cair adalah alkohol (etanol), heksan,
kloroform dan aseton.

Sedang faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses ekstraksi antara lain :
1. Jenis pelarut
Jenis pelarut mempengaruhi senyawa yang tersari, jumlah solut yang terekstrak dan kecep
atan ekstraksi. Dalam dunia farmasi dan produk bahan obat alam, pelarut etanol, air dan
campuran keduanya lebih sering dipilih karena dapat diterima oleh konsumen.
2. Temperatur
Secara umum, kenaikan temperatur akan meningkatkan jumlah zat terlarut ke dalam
pelarut. Temperatur pada proses ekstraksi memang terbatas hingga suhu titik didih pelarut
yang digunakan.
3. Rasio pelarut dan bahan baku
Jika rasio pelarut-bahan baku besar maka akan memperbesar pula jumlah senyawa yang
terlarut. Akibatnya laju ekstraksi akan semakin meningkat. Akan tetapi semakin banyak
pelarut, proses ekstraksi juga semakin mahal. digunakan maka proses hilirnya akan semakin
mahal.
4. Ukuran partikel
Laju ekstraksi juga meningkat apabila ukuran partikel bahan baku semakin kecil. Dalam arti
lain, rendemen ekstrak akan semakin besar bila ukuran partikel semain kecil.

Pemilihan pelarut dalam proses ekstraksi
Pelarut yang baik pada proses ekstraksi adalah berdasarkan pada interaksi antara solut-
pelarut. Pemilihan pelarut ekstraksi ini dapat dipilih menggunakan :
1. Tabel Robin (Robin Chart)
Tabel Robin menyajikan sistem pemilihan pelarut bagi suatu solut berdasarkan komposisi
kimianya. Tabel Robin menyajikakan deviasi negatif, positif, atau netral dari interaksi solut-
pelarut terhadap larutan ideal. Deviasi negatif dan netral mengindikasikan interaksi yang
bagus diantara kelompok solut dan pelarut, sehingga kelarutan solut dalam pelarut menjadi
tinggi.

2. Parameter kelarutan Hildebrand
Penggunaan parameter kelarutan dalam pemilihan pelarut adalah berdasar aturan kimia
yang telah dikenal yakni like dissolved like. Jika gaya antar molekul antara molekul pelarut
dan solute memiliki kekuatan yang mirip, maka pelarut tersebut merupakan pelarut yang
baik bagi solut tersebut.

3. Pertimbangan Kriteria Pelarut
Selain menggunakan parameter kelarutan Hildebrand atau Tabel Robin, pemilihan pelarut
juga dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria pemilihan pelarut seperti :
1. Selektivitas
Pilih pelarut yang selektif sesuai polaritas senyawa yang akan disari agar mendapat ekstrak
yang lebih murni.
2. Kestabilan kimia dan panas
Pelarut yang dipilih harus stabil pada kondisi operasi ekstraksi dan proses hilir.
3. Kecocokan dengan solut
Pelarut tidak boleh bereaksi dengan senyawa yang terlarut.
4. Viskositas
Jika viskositas pelarut yang rendah maka koefisien difusi akan meningkat sehingga laju
ekstraksi pun juga meningkat.
5. Recoveri pelarut
Guna meningkatkan nilai ekonomis proses, pelarut perlu direcoveri sehingga dapat
digunakan kembali. Pelarut yang mempunyai titik didih rendah, lebih ekonomis untuk
direkoveri dan digunakan kembali.
6. Tidak mudah terbakar
Untuk kepentingan safety, perlu memilih pelarut yang tidak mudah terbakar
7. Tidak beracun
Pilih pelarut yang tidak beracun untuk keamanan produk dan keamanan bagi pekerja.
8. Murah dan mudah diperoleh
Pilih pelarut yang harganya murah dan mudah diperoleh.





EKSTRAKSI SENYAWA LIKOPEN DARI BUAH TOMAT
1. Bahan yang diekstrak
Tomat
2. Komponen yang diekstrak
Lycopene atau yang sering disebut sebagai -carotene adalah suatu karotenoid pigmen
merah terang, suatu fitokimia yang banyak ditemukan dalam buah tomat dan buah-buahan
lain yang berwarna merah. Pada penelitian makanan dan phytonutrien yang terbaru,
lycopene merupakan objek paling populer. Karotenoid ini telah dipelajari secara ekstensif
dan ternyata merupakan sebuah antioksidan yang sangat kuat dan memiliki kemampuan
anti-kanker. Nama lycopene diambil dari penggolongan buah tomat, yaitu Lycopersicon
esculantum. (Di Mascio P, Kaiser, dan Sies,1989).
Gambar 1. Bentuk molekul lycopene
Secara struktural, lycopene terbentuk dari delapan unit isoprena. Banyaknya ikatan ganda
pada lycopene menyebabkan elektron untuk menuju ke transisi yang lebih tinggi
membutuhkan banyak energi sehingga lycopene dapat menyerap sinar yang memiliki
panjang gelombang tinggi (sinar tampak) dan mengakibatkan warnanya menjadi merah
terang. Jika lycopene dioksidasi, ikatan ganda antarkarbon akan patah membentuk molekul
yang lebih kecil yang ujungnya berupa C=O. Meskipun ikatan C=O merupakan ikatan yang
bersifat kromophorik (menyerap cahaya), tetapi molekul ini tidak mampu menyerap cahaya
dengan panjang gelombang yang tinggi sehingga lycopene yang teroksidasi akan
menghasilkan zat yang berwarna pucat atau tidak berwarna. Elektron dalam ikatan rangkap
akan menyerap energi dalam jumlah besar untuk menjadi ikatan jenuh, sehingga energi dari
radikal bebas yang merupakan sumber penyakit dan penuaan dini dapat dinetralisir oleh
lycopene (Di Mascio P, et.al.,1989).
Selain bermanfaat dalam dunia kesehatan, lycopene juga bermanfaat sebagai pewarna
makanan dan barang-barang dari plastik. Plastik yang diwarnai dengan lycopene tidak akan
luntur jika terkena air, sabun, maupun detergent. Namun, warna ini mudah rusak jika
dipanaskan pada suhu tinggi, terkena minyak panas, dan bahan oksidator (wikipedia.org,
2007). Kemampuan likopen dalam meredam oksigen tunggal dua kali lebih baik daripada
beta karoten dan sepuluh kali lebih baik daripada alfa-tokoferol. Tomat yang diproses
menjadi jus, saus dan pasta memiliki kandungan likopen yang tinggi dibandingkan dalam
bentuk segar. Sebagai contoh, jumlah likopen dalam jus tomat bisa mencapai lima kali lebih
banyak daripada tomat segar. Para peneliti, tomat yang dimasak atau dihancurkan dapat
mengeluarkan likopen lebih banyak, sehingga mudah diserap tubuh (Sunarmani dan Kun
Tanti, 2008).
a. Sifat Fisik Lycopene : Lycopene memiliki berat molekul 536,873 gram/mol, berwarna
merah terang, berbentuk kristal, Titik leleh 172-173 C, tidak larut dalam air namun larut
dalam n-Hexane dan hidrokarbon suhu rendah lain, methylene chloride, dan ester suku
rendah yang terbentuk dari alkohol dan asam karboksilat . (sumber : wikipedia.org, 2007).
b. Sifat Kimia Lycopene
Dalam larutannya, akan mengendap dengan kehadiran ion Ca2+
Bereaksi dengan oksigen bebas
Reaksi :
C40H56 + n On (n+1) R-C-O
Teroksidasi oleh zat-zat oksidator membentuk molekul yang lebih kecil dengan bentuk R-
C=O.
Reaksi :
oksidasi
C40H56 R-C=O (sumber : wikipedia.org, 2007).
3. Jenis Pelarut
3.1 Heksana
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 (isomer
utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3. Awalan heks- merujuk pada enam karbon
atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada
ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. N Heksana merupakan
jenis pelarut non polar.
Karakteristik n heksana :
1. Nama lain : caproyl hydride, hexyl hydride
2. Berat molekul : 86,17 kg/mol
3. Warna : berwarna
4. Melting point : 94 oC
5. Boiling point : 69 ( P = 1 atm)
6. Spesific gravity : 0,659
7. Kelarutan dalam 100 bagian air : 0,014 ( 15 oC )
3.2 Aseton
Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon, propan-2-on,
dimetilformaldehida, dan -ketopropana, adalah senyawa berbentuk cairan yang tidak
berwarna dan mudah terbakar.
Karakteristik aseton :
1. Rumus molekul : CH3COCH3
2. Berat molekul : 50,1 kg/mol
3. Melting point : 94,6 oC
4. Spesifik gravity : 0,7863 ( 25 oC)
3.3 Etanol
Karakteristik etanol :
1. Rumus molekul : C2H5OH
2. Berat Molekul : 46,07 kg/mol
3. Spesifik gravity : 0,789
4. Melting point : 112 oC
5. Boiling point : 78,4 oC
6. Soluble in water : insoluble
7. Density : 0,7991 gr/cc
8. Temperatur kritis : 243,1 oC
9. Tekanan kritis : 63,1 atm
Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, atau alkohol absolut, atau alkohol, yaitu
sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan
alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk ke
dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O.
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk
konsumsi dan kegunaan manusia (Anonymous, 2010a).
Gambar. Struktur Kimia Etanol (Anonymous, 2010a)
Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang khas. Sifat-
sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan pendeknya
rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen,
sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap daripada senyawa organik lainnya
dengan massa molekul yang sama (Anonymous, 2010a).
Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik lainnya, meliputi
asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilena glikol,
gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena. Ikatan hidrogen pada etanol menyebabkan
etanol murni sangat bersifat higroskopis, dengan demikian ia akan mudah menyerap air dari
udara. Sifat gugus hidroksil yang polar menyebabkannya dapat larut dalam banyak senyawa
ion, terutama natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida, kalsium klorida,
amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida, selain itu etanol juga memiliki
rantai karbon nonpolar sehingga ia juga dapat larut dalam senyawa nonpolar seperti minyak
atsiri serta berbagai macam perasa, pewarna, dan obat (Anonymous, 2010a).