Anda di halaman 1dari 16

Modul Praktikum : Destilasi Campuran Biner

Dosen Pembimbing : Ir. Yunus Tonapa, MT.


Nama Mahasiswa : Rika Mustika
NIM : 131411024
Tanggal Praktikum : 06 November 2013
Tanggal Penyerahan : 20 November 2013

I. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Mengukur indeks bias suatu larutan menggunakan alat refraktometer dengan
benar.
2. Melakukan percobaan destilasi fraksionasi pada campuran biner.
3. Membuat diagram titik didih terhadap komposisi berdasarkan data percobaan.

II. Dasar Teori
Campuran biner adalah campuran yang terdiri atas dua zat yang dapat
bercampur. Campuran ini dapat dipisahkan dengan metode destilasi. Pemisahan
dengan metode destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih dimana zat dengan
titik didih rendah akan menguap terlebih dahulu, sehingga pada suatu titik didih
tertentu komposisi uap tidak akan sama dengan komposisi dalam keadaan cair.
Tekanan uap total merupakan penjumlahan dari kedua komponen tersebut dan
untuk larutan ideal mengikuti hukum Raoult.
Larutan adalah campuran homogen antara dua zat lebih, jika campuran yang
hanya terdiri atas dua zat disebut campuran biner. Berdasarkan sifat larutan
dibedakan ada dua jenis larutan yaitu larutan ideal dan non ideal. Suatu larutan
dikatakan sebagai larutan ideal jika :
homogen pada seluruh system mulai dari fraksi mol 0 1
tidak terdapat entalpi pencampuran komponen membentuk larutan (H=0)
memenuhi hukum Raoult : P
1
=X
1
. P
dengan P
1
: tekanan uap larutan, X
1
: fraksi mol larutan, P : tekanan uap
pelarut murni.

Selain ketiga hal tersebut, dalam larutan ideal, komponen yang satu
mempengaruhi komponen yang lain, sehingga sifat larutan yang dihasilkan terletak
diantara kedua komponen penyusunnya. Menurut hukum Raoult tekanan uap dan
fraksi mol dapat digambarkan seperti ditunjukkan gambar 1.

Campuran yang dapat membentuk larutan ideal adalah tolvena dan benzena,
propanol 1 dengan propanol 2, dan heksana dengan heptana. Tekanan uap total
larutan ideal merupakan jumlah tekanan uap A dengan tekanan uap B. Karena titik
didih berbanding terbalik dengan tekanan uap, maka gambar 1 dapat diubah
menjadi gambar 2 yang menunjukkan hubungan titik didih terhadap fraksi mol.

Dalam kenyataan suatu larutan yang benar-benar ideal tidak ada atau umumnya
merupakan larutan non ideal. Larutan non ideal adalah suatu larutan yang
menyimpang dari larutan ideal. Penyimpangan ini ada dua yaitu penyimpangan
positif dan negatif.
Larutan non ideal penyimpangan positif mempunyai volume ekspresi, sehingga
menghasilkan tekanan uap maksimum pada sistem campuran. Pada tekanan
maksimum ini, campuran mempunyai titik didih yang konstan. Karena tekanan uap
berbanding terbalik dengan titik didih, maka pada saat tercapai tekanan uap
maksimum, titik didihnya menjadi minimum. Titik ini disebut azeotrop. Contoh
campuran yang mengalami penyimpangan positif adalah sistem etanol-
sikloheksana.
Larutan non ideal penyimpangan negatif mempunyai volume konstraksi,
sehingga menghasilkan tekanan uap minimum pada sistem campuran. Pada tekanan
minimum ini, campuran mempunyai titik didih yang konstan. Karena tekanan uap
berbanding terbalik dengan titik didih, maka pada saat tercapai tekanan uap
minimum, titik didihnya menjadi maksimum. Titik ini disebut titik azeotrop.
Contoh campuran yang mengalami penyimpangan negatif adalah sistem Etanol-
Aquades.
Campuran dua zat yang membentuk larutan non ideal dapat membentuk
campuran azeotrop. Campuran ini mempunyai titik azeotrop. Campuran azeotrop
biasanya dipisahkan dengan destilasi fraksionasi.
Besarnya mol fraksi (X) dapat dinyatakan dengan persamaan :
X
A
=(n
A
)/(n
A
+n
B
)
dengan X
A
= fraksi mol A
n
A
= mol A
n
B
= mol B
Sedangkan besarnya mol (n) dapat dinyatakan dengan persamaan :
Mol (n) =g/MR dan g = /V
dengan MR = massa rumus zat
g = massa zat
= massa jenis zat
V = volume zat

Indeks Bias
Kecepatan merambat gelombang cahaya tidak sama dalam semua media. Oleh
karena itu, jika suatu berkas cahaya melewati perbatasan dua permukaan media,
maka berkas cahaya akan dibiaskan, dimana besarnya sudut datang tidak sama
dengan sudut bias. Besarnya sudut datang dan sudut bias tergantung pada massa
jenis, suhu, dan jenis media yang dilewati, serta panjang gelombang cahaya.
Perbandingan sinus sudut datang dan sudut bias dinyatakan dengan persamaan :
n
d
=(sin i)/(sin p)
dengan sin i = sinus sudut datang ; sin p = sinus sudut bias

III. Keselamatan Kerja
Sebelum bekerja lihatlah MSDS bahan yang akan digunakan.
Gunakan jas lab dan alat pelindung lain yang diperlukan.
Berilah vaselin pada setiap sambungan alat gelas.
Gunakan water bacth atau penangas air pada waktu melakukan destilasi.
Buanglah sisa zat ke tempat (botol) yang telah disediakan.

IV. Alat dan Bahan
Alat-alat
1. Reaktor (labu bulat bermulut dua)
2. Kondensor
3. Kolom fraksionasi
4. Termostat
5. Selang
6. Adaptor pendingin
7. Adaptor penampung destilat
8. Labu penampung destilat
9. Water bacth (penangan air)
10. Termometer
11. Refraktometer
12. Pipet tetes
13. Pipet volume
14. Gelas ukur

Bahan-bahan
1. Etanol
2. Aquades





V. Skema Kerja


Beri vaselin pada
sambungan alat gelas
Dalam
reaktor
Menggunakan alat
refraktometer
kemudian catat
Catat titik didih
setiap komposisi
Setelah
keluar
destilat
Catat indeks bias
kemudian bereskan
peralatan
Cara mengukur indeks bias :






VI. Data Pengamatan
No. Nama Zat Rumus Molekul Mr Densitas Indeks Bias Titik Didih
1. Etanol C
2
H
5
OH 46 0,793 7,5 78
0
C
2. Aquades H
2
O 18 1 3,0 100
0
C


Data Indeks Bias
No Keterangan Komposisi
1 Etanol (ml) 10 8 6 4 2 0
2 Aquades (ml) 0 2 4 6 8 10
3 Indeks Bias 7,5 9,8 10,6 8,8 5,9 2,9

Penentuan Titik Didih
No. Etanol (ml) Aquades (ml) Titik Didih (
0
C)
Indeks Bias
Residu
Indeks Bias
Destilat
1 10 0 66 8,3 2,5
2 8 2 66,8 11,0 1,9
3 6 4 70 9,4 3,2
4 4 6 68 6,8 6,9
5 2 8 40 6,5 6,8
6 0 10 35 6 6,2


VII. Pengolahan Data
etanol = 0,793 g/mL
aquades = 1 g/mL
Mr etanol = 46 g/mol
Mr aquades = 18 g/mol
Menghitung fraksi mol setiap larutan
Etanol 10 mL + 0 mL
Etanol 10 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 10 mL
= 7,93 g

n =


=



= 0,172 mol


Aquades 0 mL
m = .
= 1 g/mL . 0 mL
= 0 g

n =


=



= 0 mol
X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0,172 mol / (0,172 + 0) mol
= 1
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0 mol / (0,172 + 0) mol
= 0

Etanol 8 mL + 2 mL
Etanol 8 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 8 mL
= 6,344 g

n =


=



= 0,138 mol

Aquades 2 mL
m = .
= 1 g/mL . 2 mL
= 2 g
n =


=



= 0,111 mol

X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0,138 mol / (0,138 + 0,111) mol
= 0,554
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0,111 mol / (0,138 + 0,111) mol
= 0,446

Etanol 6 mL + 4 mL
Etanol 6 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 6 mL
= 4,758 g

n =


=



= 0,103 mol

Aquades 4 mL
m = .
= 1 g/mL . 4 mL
= 4 g

n =


=



= 0,222 mol
X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0,103 mol / (0,103 + 0,222) mol
= 0,317
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0,222 mol / (0,103 + 0,222) mol
= 0,683
Etanol 4 mL + 6 mL
Etanol 4 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 4 mL
= 3,172 g

n =


=



= 0,069 mol

Aquades 6 mL
m = .
= 1 g/mL . 6 mL
= 6 g

n =


=



= 0,333 mol
X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0,069 mol / (0,069 + 0,333) mol
= 0,172
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0,333 mol / (0,069 + 0,333) mol
= 0,828

Etanol 2 mL + 8 mL
Etanol 2 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 2 mL
= 1,586 g


n =


=



= 0,034 mol

Aquades 8 mL
m = .
= 1 g/mL . 8 mL
= 8 g

n =


=



= 0,444 mol
X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0,034 mol / (0,034 + 0,444) mol
= 0,071
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0,444 / (0,034 + 0,444)
= 0,929

Etanol 0 mL + 10 mL
Etanol 0 mL
=


m = .
= 0,793 g/mL . 0 mL
= 0 g

n =


=



= 0 mol

Aquades 10 mL
m = .
= 1 g/mL . 10 mL
= 10 g
n =


=



= 0,555 mol
X
etanol
= n
etanol
/ (n
etanol
+ n
aquades
)
= 0 mol / (0 + 0,555) mol
= 0
X
aquades
= n
aquades
/ (n
etanol
+ n
aquades
)


= 0,555 / (0 + 0,555)
= 1











Grafik fraksi mol terhadap indeks bias air grafik kalibrasi
Grafik fraksi mol terhadap indeks bias etanol

Grafik titik didih terhadap fraksi mol residu




0
2
4
6
8
10
12
0 0.07 0.17 0.3 0.5 1
I
n
d
e
k
s

b
i
a
s

Fraksi mol ethanol
Indeks bias residu
Indeks bias destilat
0
10
20
30
40
50
60
70
80
6 6.5 6.8 8.3 9.4 11
S
u
h
u

(

C
)

Indeks bias residu
Grafik titik didih terhadap fraksi mol destilat




0
10
20
30
40
50
60
70
80
6.2 6.8 6.9 2.5 3.2 1.9
S
u
h
u

(

C
)

Indeks bias distilat
VIII.Pembahasan
Pada percobaan ini, dilakukan destilasi campuran biner antara etanol dengan
aquades dan dicari dari masing-masing campuran tersebut titik didihnya. Titik didih
dapat ditentukan pada saat keluar destilat ketika dilakukan destilasi. Destilasi yang
dilakukan adalah destilasi fraksionasi.
Setelah destilasi di lakukan terhadap campuran biner etanol dan aquades
ternyata apabila volume aquades yang ditambahkan semakin banyak, maka larutan
akan terus mengalami kenaikan titik didih. Titik didih zat cair adalah suhu tetap
pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan
tekanan udara di sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya penguapan di seluruh
bagian zat cair. Titik didih zat cair diukur pada tekanan 1 atmosfer. Dari hasil
penelitian, ternyata titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut
murninya. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu
larutan menghalangi peristiwa penguapan partikel - partikel pelarut. Oleh karena
itu, penguapan partikel - partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar.
Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap
senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan
molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan,
tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap
atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap
cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang
mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempunyai titik
didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar.
Jika campuran didihkan, komposisi uap di atas cairan tidak sama dengan
komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau
komponen dengan titik didih lebih rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan
dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi
senyawa yang terdapat pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih
lebih rendah. Jika suhu relatif tetap, maka destilat yang terkumpul akan
mengandung senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran. Dalam
praktikum titik didih etanol lebih rendah maka dalam destilasi ini etanol lah yang
akan lebih dulu menjadi destilat.
Pada praktikum kali ini, terdapat kesalahan dalam mengukur indeks bias.
Seharusnya semakin banyak aquades yang ditambahkan, maka semakin kecil
indeks biasnya. Selain itu, seharusnya indeks bias sebelum pemanasan harus
lebih kecil dikarenakan pada saat melakukan pemanasan, etanol menguap lebih
cepat sehingga yang tersisa dalam residu yaitu sebagian etanol yang tidak
menguap dan aquades. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa kesalahan
dalam praktikum seperti kurangnya ketelitian dalam membaca angka termometer
yang berembun karena uap panas, kesalahan pembacaan skala indeks bias pada
refraktometer sehingga nilai yang dihasilkan tidak sesuai, membersihkan alat
refraktometer menggunakan tisu yang kotor sehingga pendeteksi tidak bersih,
atau karena terdapat sisa-sisa air bilasan pada alat destilasi sehingga
mempengaruhi konsentrasi etanol.

IX. Kesimpulan
Campuran antara etanol (C
2
H
5
OH) dengan aquades merupakan campuran biner,
karena kedua zat tersebut dapat bercampur.
Pemisahan larutan etanol dengan aquades dilakukan melalui destilasi
fraksionasi.
Pada saat destilasi, titik didih dapat ditentukan pada saat keluar destilat.
Larutan akan mencapai titik didih maksimum pada titik azeotrop.
Sesuai data pada grafik antara fraksi mol etanol dan aquades terhadap titik
didihnya, aquades mempunyai titik didih paling besar dibandingkan dengan
etanol, semakin banyak volume aquades yang ditambahkan maka akan
mengalami kenaikan titik didih. Namun saat telah tercapai titik azeotrop,
semakin banyak volume aquades yang ditambahkan, titik didik larutan semakin
kecil.

X. Daftar Pustaka
Ngatin, Agustinus. 2011. Petunjuk Umum Praktikum Kimia Fisika. Bandung :
Politeknik Negeri Bandung.