Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH FARMAKOLOGI

MULA KERJA, PUNCAK EFEK DAN LAMA KERJA OBAT


ANALGETIK PADA PEMBERIAN PER ORAL DAN
INTRAPERITONEAL


Oleh :
KELOMPOK 6
MARETAH INDAH FITRIA 201110410311003
DIDIN LINGGA LUDIANA 201110410311009
DYAH RAHMASARI 201110410311014
ICHA FRANSISCA PUTRI LAIMAN 201110410311032
NORMAN TAKSIS ALI 201110410311051
FENNY YUNIHARTO 201110410311118
NOVA DWI FADHDHALANI 201110410311198
ARI TRI WAHYUNI 201110410311269


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim,
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga penulisan makalah ini dapat
terselesaikan, dengan judul Mula Kerja, Puncak Efek dan Lama Kerja Obat
Analgetik pada Pemberian Per Oral dan Intraperitoneal.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Nailis Syifa, S.Farm., Apt. selaku Dosen Mata Kuliah Praktikum
Farmakologi yang telah memberikan dorongan moril untuk melakukan
penulisan makalah.
2. Kakak-kakak asisten yang telah membimbing penyusun dalam
menyelesaikan makalah ini.
3. Kedua orang tua penyusun yang telah memberikan dorongan moril dan
material.
4. Semua pihak yang telah memberi semangat penyusun dalam
menyelesaikan makalah ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu-
persatu.
Penyusun menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun bersedia menerima kritik dan saran dari
pembaca guna perbaikan penulisan makalah untuk di masa yang akan datang.

Malang, April 2013


Penyusun

Tujuan :
Membedakan mula kerja (onset of action), puncak efek (peak effect), dan lama
kerja obat (duration of action) analgetik pada pemberian per oral dan
intraperitonial.

Pendahuluan :
Farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisisologi dan biokimia
selular dan mekanisme kerja obat. Respon obat dapat menyebabkan efek fisiologis
primer atau sekunder atau keduanya. Efek primer adalah efek yang diinginkan,
dan efek sekunder bisa diinginkan atau tidak diinginkan. Salah satu obat dengan
efek primer dan sekunder adalah difenhidramin (Benadryl), suatu histamin. Efek
primer dari defin hidramin adalah untuk mengatasi gejala-gejala alergi dan efek
sekundernya adalah penekanan susunan saraf pusat yang menyebabkan rasa
kantuk. Efek sekunder ini tidak diinginkan jika sedang berkendara, tetapi saat
tidur, dapat menjadi diinginkan karena menimbulkan sedasi ringan.

Mula Kerja, Puncak Efek, dan Lama Kerja
Mula kerja dimulai ketika obat memasuki plasma dan berakhir sampai
mencapai konsentrasi efektif minimum (MEC = Minimum Effective
Concentration). Puncak kerja terjadi pada saat obat mencapai konsentrasi tinggi
dalam darah atau plasma.
Lama kerja adalah lamanya obat memberikan efek farmakologis. Beberapa
obat menghasilkan efek dalam beberapa menit, tetapi yang lain dapat memakan
waktu beberapa hari atau jam.
Perlu untuk memahami hubungan antara respons waktu dengan pemberian
obat. Jika kadar obat dalam plasma atau serum menurun di bawah ambang atau
MEC, maka ini berarti dosis obat yang memadai tidak tercapai; kadar obat yang
terlalu tinggi dapat menyebabkan toksitas.

Analgesik
Sangat sulit untuk mengukur nyeri, karena derajat nyeri yang dialami
seseorang tidak hanya bergantung pada stimulus dan persepsinya tetapi juga pada
interpretasi yang bersangkutan. Penggunaan subtansi analgetik untuk
menghilangkan rasa sakit.
Analgesik dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu analgesik lemah atau
analgesik ringan dan analgesik kutan. Analgesik lemah mempengaruhi produksi
subtansi penyebab nyeri pada tempat luka, dan meliputi aspirin dan salisilat,
parasetamol, NSAID(Non Steroid Anti Inflamtion Drug), dan opiat lemah (kodein
dan dekstropropoksifen).

Alat :
Analgetic meter beban geser
Hot plate
Spuit 1ml
Sonde
Stop watch

Bahan :
Tikus
Obat analgetik : xylomidon (250 mg/ml metampiron) tiap tikus (200g) 50
mg/0,2cc
Antalgin tablet (500mg/tab) dipuyer + CMC + air ad 20cc tiap tikus
disonde 2ml

Prosedur Kerja :
Prosedur pemeriksaan rasa nyeri
1) Rangsangan nyeri dengan tekanan :
Persiapkan alat analgesimeter, terlebih dahulu dilakukan pengaturan
dengan menentukan beban yang akan dipakai. Gunakan beban terkecil
untuk menentukan nyeri tekanan normal pada semua tikus. Pegang tikus
dengan posisi tangan kiri memegang daerah kulit punggung dan tangan
kanan memposisikan salah satu kaki di alat penekan antar jari I dan II.
Jalankan beban dengan jalan menggeser beban dengan kecepatan stabil
sampai tikus merespon rasa sakit berupa jeritan atau menarik kaki yang
ditekan. Usahakan begitu tikus menunjukkan respon nyeri, lepaskan
beban dari sela ibu jari tersebut. Catat posisi beban dalam gram.
Tikus perlakuan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok analgetik per
oral dan intraperitoneal. Setelah obat analgetik diberikan, ukur respon
analgetik tiap 5 menit. Pengamatan dilakukan sampai menit ke-60. Catat
hasil pengamatan tersebut pada tabel.
Efek analgetik dikatakan (+) jika tikus dapat menahan beban 2x beban
kontrol.
Parameter pengukuran
Onset of action diukur sejak analgetik diberikan sampai terjadi
pengurangan rasa nyeri
Puncak efek diukur sejak analgetik diberikan sampai terjadi pengurangan
rasa nyeri terhadap rangsangan nyeri yang maksimal.
Lama kerja obat diukur sejak mulai terjadi pengurangan rasa sampai
pengurangan rasa nyeri menghilang.

Tabel Pengamatan :
Cara /
Kelompok
Waktu Beban
(g) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
PER ORAL
Kelompok I - - - + + + + + - - - - 10,36
Kelompok II - + + + - - - - - - - - 7,63
Kelompok III - - - + + + + + + + + + 17,2
Kelompok IV - - - - - - - - - - - - 18
Kelompok V - - - - - - - - - - - - 1,93
Kelompok VI - - - - - - - - + + - - 5,8
% Efek 0
16,
67
16,
67
50
33,
33
33,
33
33,
33
33,
33
33,
33
33,
33
16,
67
16,
67

INTRAPERITONEAL
Kelompok I - + + + + + + + - - - - 13,4
Kelompok II - - - + + + - - - - - - 14,67
Kelompok III - + + + + + + + + - - - 9,8
Kelompok IV - + + + + - - - - - - - 24
Kelompok V - + + + + - - - - - - - 3,67
Kelompok VI - + - - - - - - - - - - 5,2
% Efek 0
83,
33
66,
67
83,
33
83,
33
50
33,
33
33,
33
16,
67
0 0 0

Dosis :
Berat badan tikus BB I : 90 gram
BB II : 95 gram
Intraperitoneal :
Dosis untuk tikus I =



Dosis yang digunakan =



Per Oral :
Dosis untuk tikus II =



Dosis yang digunakan =




Bahan diskusi :
1. Mengapa pemberian obat per oral lebih lambat daripada intraperitoneal ?
Jelaskan !
Dari data tabel percobaan di atas dapat diketahui mulai bekerja obat
(onset of action) ditunjukan pada pemberian per oral lebih lamban. Hal ini
dikarenakan pada pemberian per oral obat tidak langsung masuk ke
sirkulasi darah, namun harus melalui siklus yang panjang melalui gastro
intestinal, hepar dan kemudian ke sirkulasi darah dan itu berdampak pada
lamanya obat bekerja (duration of action). Pada pemberiaan per oral obat
memberikan onset lama sehingga lama juga durasi dari obat tersebut.
Sedangkan pada pemberian intraperitoneal obat tidak mengalami proses
absorbsi, disolusi di gastro intestinal sehingga tidak mempengaruhi
bioavailabilitas obat, sehingga obat dapat langsung memberikan onset
yang cepat karena langsung ke sirkulasi. Akan tetapi pemberian
intraperitoneal memiliki durasi kerja yang lebih cepat, hal ini dikarenakan
obat lebih cepat di metabolisme tubuh.
Dari data tabel di atas juga dapat diketahui pada masing-masing cara
pemberian obat memiliki puncak efek (peak effect) yang berbeda, pada
pemberian intraperitoneal obat mencapai puncak efek lebih cepat terjadi
dibandingkan per oral, sehingga dapat dipastikan pada pemberian
intraperitoneal obat dapat memberikan/mencapai efek terapi maksimum
dengan cepat.

2. Sebutkan cara pemberian parental selain intraperitoneal serta keuntungan
dan kelebihan masing-masing !
Pemberian secara parenteral ini bisa melalui berbagi cara diantaranya,
yaitu :
a. Intravena (IV)
Tidak ada fase absorpsi dalam pemberian obat secara intravena karena
obat langsung masuk ke dalam vena, onset of action cepat, efisien,
bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat yang menyebabkan iritasi kalau
diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus continue untuk obat
yang waktu-paruhnya pendek (Joenoes, 2002).
b. Intramuskular (IM)
Onset of action pemberian obat secara intramuskular bervariasi,
berupa larutan dalam air yang lebih cepat diabsorpsi daripada obat
berupa larutan dalam minyak, dan juga obat dalam sediaan suspensi,
kemudian memiliki kecepatan penyerapan obat yang sangat tergantung
pada besar kecilnya partikel yang tersuspensi: semakin kecil partikel,
semakin cepat proses absorpsi (Joenoes, 2002).
c. Subkutan (SC)
Onset of action lebih cepat daripada sediaan suspensi, determinan
dari kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan dimana terjadi
penyerapan, menyebabkan konstriksi pembuluh darah lokal sehingga
difusi obat tertahan/diperlama, obat dapat dipercepat dengan
menambahkan hyaluronidase, suatu enzim yang memecah
mukopolisakarida dari matriks jaringan (Joenoes, 2002).



3. Buatlah kurva waktu vs % efek !




Pembahasan :
Analgesik adalah obat yang menghilangkan nyeri atau mengurangi nyeri
tanpa disertai hilangnya kesadaran atau fungsi sensorik lainnya. Cara pemberian
obat pada percobaan kali ini terdapat dua cara yaitu secara per oral dan
intraperitoneal. Proses absorbsi merupakan dasar yang penting dalam menentukan
aktivitas farmakologis obat.
Efek farmakologis obat merupakan fungsi dari konsentrasi obat di tempat
kerja obat. Ada tiga fase yang didapatkan dari hubungan waktu dan efek obat,
yaitu: mula kerja, puncak efek, dan lama kerja obat. Ketiga fase ini ditentukan
oleh kecepatan absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eksresi obat.
Untuk menghasilkan efek farmakologi atau efek terapi, obat harus
mencapai tempat aksinya dalam konsentrasi yang cukup untuk menimbulkan
respon. Tercapainya konsentrasi obat tergantung dari jumlah obat yang diberikan,
tergantung pada keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari tempat pemberian
dan distribusinya oleh aliran darah ke bagian lain dari tubuh.
Setiap rute pemberian obat memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri
serta memiliki persamaan, yaitu mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah
diberikan melalui rute tertentu yang aman dan nyaman. Obat seringkali digunakan
secara oral. Kebanyakan obat ditelan, dan jarang yang harus larut dalam mulut.
Tujuan penggunaan obat melalui oral terutama untuk memperoleh efek sistemik,
yaitu obat masuk ke dalam pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh setelah
terjadi absorbsi obat dari bermacam-macam permukaan sepanjang saluran gastro
intestinal. Hal ini disebabkan karena pemberian per oral melalui rute yang sangat
panjang, mulai dari kerongkongan, lambung, usus halus, lalu diabsorbsi ke usus
halus, karena mesenterika lalu ke vena porta, masuk ke hati lalu setelah itu baru
ke sistemik melalui vena porta hepatika, sehingga pemberian per oral memberikan
mula kerja yang lama dan juga karena mengalami first pass metabolism juga
dipengaruhi oleh absorbsi obat. Tetapi ada obat yang ditelan yang memberikan
efek lokal dalam usus atau lambung karena obat tidak larut atau tidak dapat
diabsorbsi dalam rute ini. Dibanding melalui tipe lain penggunaan obat melalui
oral adalah yang paling menyenangkan, murah dan paling aman. Kerugian melalui
oral adalah memberi respon yang lambat dibandingkan dengan per injeksi dan
kemungkinan terjadi absorbsi obat yang tidak teratur karena bergantung beberapa
faktor, misal :
a. Jumlah dan jenis makanan yang ada di sel lambung
b. Kemungkinan obat dirusak oleh reaksi asam di perut
Sedangkan pada pemberian intraperitoneal, obat diinjeksi pada rongga perut
tanpa melewati GIT dan hepar, sehingga obat tidak mengalami absorbsi dan
metabolisme. Obat akan langsung lewat sirkulasi darah dan sistemik. Efek yang
timbul juga lebih cepat dan teratur dibandingkan per oral, dapat diberikan pada
penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, vomit, dan sangat berguna pada saat
darurat. Kerugiannya adalah menyebabkan rasa nyeri, sulit dilakukan oleh pasien
sendiri dan kurang ekonomis. Namun dapat menyebabkan onset of action yang
lebih cepat begitu pula dengan duration of action juga lebih cepat.
Praktikum ini mempelajari tentang pengaruh cara pemberian obat terhadap
absorpsi obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Mencit dipilih
sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat
sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Sekedar
informasi, selanjutnya mencit hanya disebut sebagai hewan uji.
Pemberian obat pada hewan uji yaitu pertama melalui cara oral dan
intraperitoneal. Dengan cara oral (pemberian obat melalui mulut masuk ke saluran
intestinal) digunakan sonde untuk memasukan obat pada hewan uji. Kedua,
pemberian obat dilakukan dengan cara intraperitoneal yaitu dengan menyuntikkan
obat pada daerah abdomen (di mukosa rongga perut yang penyerapannya besar
sehingga dapat membuat obat langsung masuk ke pembuluh darah).

Kesimpulan :
1. Pemberian obat intraperitoneal lebih cepat memberikan efek terapi
dibandingkan per oral sehingga puncak efeknya juga lebih cepat tercapai.
2. Jika diberikan dalam dosis yang sama, obat melalui intraperitoneal memiliki
mula kerja yang cepat dan durasi yang lebih lama dibandingkan dengan per
oral.


DAFTAR PUSTAKA

Tim Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta :
Badan Penerbit FKUI.

Tim Laboratorium Farmakologi FKUMM. 2013. Buku Petunjuk Praktikum
Farmakologi I Program Studi Farmasi. Malang : FK UMM.