Anda di halaman 1dari 8

Obat obat alfa blocker selektif mampu memblok adrenoreseptor a1,yang berguna untuk pengobatan

hipertensi. Alfa blocker yang non selektif juga menghambat adrenoreseptor a2 di ujung syaraf
adrenergik sehingga meningkatkan pelepasan NE. Efek NE di jantung tidak dihambat, sehingga
terjadi perangsangan jantung yang berlebihan (efek langsung maupun tidak langsung melalui refleks
simpatis akibat vasodilatasi perifer). Hal ini menyebabkan a blocker yang nonselektif kurang efektif
sebagai antihipertensi. A1 blocker yang tersedia sebagai antihipertensi saat ini adalah
prazosin,terazosin,doksazosin,dan bunazosin.
Obat obat golongan alfa bloker terbagi kedalam tiga kelompok yakni alfa-bloker nonselektif
(derivate haloalkilamin antara lain fenoksibenzamin, derivate imidazolin antara lain fentolamin dan
tolazosin, serta alkaloid ergot), alfa 1-bloker selektif (derivate kuinazolin seperti prazosin) dan alfa-2
bloker selektif (yohimbin).
Interaksi utama dari alpha blockers adalah yang berkaitan dengan peningkatan efek hypotensive.
Sejak diperkenalkannya alfa bloker selektif ditemukan bahwa, dalam beberapa individu, mereka dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah yang cepat pada awal pengobatan (juga disebut 'efek dosis
pertama' atau 'hipotensi dosis pertama').
Fenomena dosis pertama yaitu hipotensi postural yang hebat dan sinkop yang terjadi antara 30-90
menit setelah pemberian dosis pertama. hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan darah yang cepat
pada posisi berdiri akibat mula kerja yang cepat tanpa disertai reflex takikardia sebagai kompensasi,
bahkan diperkuat oleh kerja sentral yang mengurangi aktivitas simpatis. Fenomena ini juga terjadi
pada peningkatan dosis yang terlalu cepat atau pada penambahan anti hipertensi kedua pada pasien
yang telah mendapat alfa 1-bloker.
Resiko ini mungkin lebih tinggi pada pasien yang telah menggunakan obat antihipertensi lain. Efek
dosis pertama telah dikurangi dengan memulai pengobatan pada dosis yang sangat rendah dari alfa
blocker, dan kemudian perlahan-lahan dosis ditingkatkan selama beberapa minggu. Efek hypotensive
serupa dapat terjadi ketika dosis alfa bloker ditingkatkan, atau jika pengobatan terputus untuk
beberapa hari dan kemudian kembali digunakan. Beberapa pabrik menyarankan memberi dosis
pertama ketika istirahat, atau jika tidak, menghindari tugas-tugas yang berpotensi berbahaya jika
sinkop terjadi (seperti mengemudi) untuk 12 jam pertama. Jika gejala seperti pusing, kelelahan atau
berkeringat mulai timbul, pasien harus diperingatkan untuk berbaring, dan tetap berbaring datar
sampai gejala itu benar-benar mereda.
Tidak jelas apakah ada perbedaan nyata antara alfa
blocker dalam kecenderungan nya menyebabkan efek dosis pertama ini. Kecuali indoramin, postural
hipotensi, sinkop, dan pusing merupakan efek samping dari alpha blockers yang tersedia di Inggris
dan bagi kebanyakan
disarankan bahwa mereka harus dimulai dengan dosis rendah dan dititrasi
sesuai kebutuhan. Tamsulosin dilaporkan memiliki beberapa selektivitas untuk subtype reseptor alfa

1A , yang kebanyakan ditemukan dalam prostat, dan karena memiliki lebih sedikit efek pada tekanan
darah: karena itu titrasi awal dari dosis tidak dianggap perlu. Namun demikian, akan lebih bijaksana
jika berhati-hati dengan semua obat dalam kelas ini.
Alpha bloker juga digunakan untuk meningkatkan laju aliran urin dan memperbaiki gangguan gejala
pada hiperplasia prostat jinak.
Dalam makalah ini kami membatasi pembahasan mengenai interaksi obat golongan alfa-1 bloker
dengan diuretic. Khususnya dalam penggunannya sebagai antihipertensi.
Alfa-1 bloker pertama digunakan sebagai antihipertensi berdasarkan blockade reseptor dan
vasodilatasi semua pembuluh perifer dengan akibat menurunnya tekanan darah. Meski bukan
merupakan obat pilihan utama, prazosin dan doxazosin banyak digunakan untuk hipertensi ringan
sampai sedang, bila diuretika dan bloker kurang efektif.
Alfa-bloker merupakan satu-satunya golongan antihipertensi yang memberikan efek positif terhadap
lipid darah (menurunkan kolesterol LDL dan trigliserida, dan meningkatkan kolesterol HDL). Alfa
bloker juga menurunkan resistensi insulin, mengurangi gangguan vascular perifer memberikan sedikit
efek bronkodilatasi dan mengurangi serangan asma akibat latihan fisik, merelaksasi otot polos prostat
dan leher kandung kemih sehingga mengurangi gejala-gejala hipertrofi prostat, tidak mengganggu
aktivitas fisik, dan tidak berinteraksi dengan AINS. Karena itu, alfa-bloker dianjurkan penggunaannya
pada penderita hipertensi yang disertai diabetes, dislipidemia, obesitas, gangguan resistensi perifer,
asma, hipertofi prostat, dan perokok.
Prazosin, dan yang kerjanya lebih panjang seperti doxazosin menyebabkan vasodilatasi dengan
menghambat secara selektif adrenoreseptor alfa-vaskular. Tidak seperti alfa-bloker nonselektif, obat
ini tidak menyebabkan takikardia tetapi dapat menyebabkan hipotensi postural. Hipotensi berat bisa
terjadi setelah dosis pertama. Prazosin dan doxazosin meredakan gejala hyperplasia prostat sehingga
diindikasikan pada pasien hipertensi dengan kondisi tersebut.
Semua alfa-1 bloker memberikan efek samping yang sama, yakni hipotensi ortostatis atau hipotensi
postural (reaksi first dose) yang terjadi khusus pada permulaan terapi dan setelah peningkatan dosis.
Efek samping ini dapat dihindari bila dimulai dengan dosis rendah dan berangsur angsur
menaikkannya, juga dengan minum dosis pertama sebelum tidur.

Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik berbeda dengan interaksi farmakokinetik. Pada interaksi farmakokinetik
terjadi perubahan kadar obat obyek oleh karena perubahan pada proses absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan ekskresi obat. Pada interaksi farmakodinamik tidak terjadi perubahan kadar obat
obyek dalam darah. tetapi yang terjadi adalah perubahan efek obat obyek yang disebabkan oleh obat
presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat.
A. Interaksi dengan alfa-blocker

Penggunaan alfa-bloker sebagai obat antihipertensi jika dikombinasikan dengan diuretic akan
meningkatkan efek antihipertensinya, namun dapat menyebabkan hipotensi postural. Kedua golongan
obat ini menunjukkan kerja yang sinergistik.
Sebagaimana yang diharapkan, pemakaian suatu alfa bloker dengan diuretic dapat menghasilkan efek
hipotensif yang aditif, tetapi terlepas dari efek hipotensi dosis pertama, hal ini sepertinya merupakan
interaksi yang menguntungkan bagi penderita hipertensi.
a. Alfuzosin
Tidak ada interaksi farmakokinetik yang terjadi antara Alfuzosin 5 mg dengan Hidroklortiazid 25 mg
di dalam suatu studi terhadap 8 subjek sehat. Pabrikan mencatat bahwa hipotensi postural dapat terjadi
pada pasien yang menerima antihipertensi ketika memulai Alfuzosin.
b. Doxazosin
Pabrikan mencatat bahwa tidak ada interaksi efek sampingterlihat antara doxazosin dan thiazid atau
furosemid. Bagaimanapun, pabrikan menyatakan bahwa pemakain doxazosin yang lebih besar dari 4
mg per hari meningkatkan efek samping yang tidak diinginkan seperti hipertensi postural dan sinkop.

c. Indoramin
Pabrikan menegaskan bahwa penggunaan bersama dengan diuretic dapat meningkatkan aksi
hipotensi, dan titrasi dosis diuretic dapat atau mungkin dibutuhkan.
d. Prazosin
Efek hipotensi dosis pertama dapat terjadi dengan alfa-bloker seperti prazosin dapat diperburuk oleh
beta-bloker dan penghambat kanal kalsium tetapi tidak terlihat adanya fakta klinik terhadap diuretic.
Bagaimanapun, pabrikan menyarankan bahwa hal yang paling utama bahwa pasien dengan gagal
jantung kongestif yang mendapat perawatan diuretic kuat sebaiknya diberi dosis awal prazosin pada
saat tidur dan dimulai pada dosis terendah (500 mikrogram, 2 4 x sehari). Alasannya adalah tekanan
pengisian ventrikel kiri dapat berkurang pada pasien ini dan menghasilkan gagal jantung dan tekanan
darah sistemik. Tidak ada alasan untuk menghindari penggunaan bersama jika hal ini diperhatikan.
b. Alfa Bloker dengan Calsium channel Blocker ( CCB)
Tekanan darah dapat turun secara drastis jika CCB diberikan pertama kepada pasien yang akan
diberikan alfa bloker ( seperti prazosin dan terazosin) dan sebaliknya. Dalam sebuah studi kecil,
tamsulozin tidak memilki efek yang cocok dalam pengontrolan tekanan darah sebaik jika diberikan
nifedipin. Verapamil dapat meningkatkan nilai AUC prazosin dan terazosin. Alfa bloker dan CCB
dapat dikombinasikan untuk penambahan penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi.
Gejala klinik
Dihydripiridin CCB
1. Doxazosin.

Walaupun ada kecenderungan penurunan tekanan darah untuk dosis pertama tanpa efek yang buruk
atau gejala yang terlihat pada 6 orang subjek lainnya yang diberikan obat dalam jenis yang
berlawanan. Tidak ada interaksi farmakokinetik yang ditemukan . Industri di US mencatat terjadi
sedikit interaksi farmakokinetik (kurang dari 20%) yang ditemukan dalam farmakokinetik pada
nifedipin dan doxazosin ketika diberikan bersama-sama. Diharapkan tekanan darah lebih turun ketika
diberikan bersama-sama.
2. Prazosin
Dalam placebo control, dilakukan studi pada 12 orang hipertensi yang diberikan nifedipin 20mg dan
prazosin 2 mg dalam 1 hari. Penggunaan secara bersama-sama dapat mempengaruhi tekanan darah
lebih daripada jika diberikan sendiri-sendiri, tapi ketika prazosin diberikan setelah nifedipin efeknya
ditunda. 2 pasien ketika diberikan prazosin 4 atau 5 mg menghasilkan penurunan tekanan darah yang
tajam lebih singkat setelah pemberian nifedipin sublingual. Salah satu dari mereka merasa pusing dan
penurunan tekanan darahnya dari 232/124 mmHg menjadi 88/48 mmHg selama 20 menit setelah
penambahan nifedipin sublingual lebih kecil ( berarti penurunan dari 25/12 mmHg ketika duduk dan
24 / 17 mmHg ketika berdiri). Ini tidak menjelaskan apakah pemberian prazosin memberikan efek
yang terlihat dengan nifedipin secara sublingual , sejak percobaan tidak diulangi dengan
menggunakan placebo prazosin, tapi tekanan darah pasien ini lebih cepat tinggal dan tidak terganti 1
jam setelah pemberian prazosin tunggal. Catatan bahwa sublingual nifedipin tunggal dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.
3. Tamsulosin
Dalam studi dengan placebo pada 8 orang pria hipertensi dengan tekanan darah yang dikontrol dengan
nifedipin, penambahan tamsulosin 400mcg sehari / hari selama 7 hari setelah itu 800 mcg setiap hari
selama 7 hari, tidak memiliki efek yang relevan pada tekanan darah. Pada penambahan, tidak ada
penurunan tekanan darah pada dosis pertama yang terlihat pada hari pertama pemberian tamsulosin,
atau ketika dosis tamsulosin ditingkatkan.
4. Terazosin
Analisis terdahulu pada studi besar pada pemberian terazosin 5 atau 10mg setiap hari ditemukan
bahwa terazosin hanya efektif pada tekanan darah pasien yang diberikan CCB ( amlodipin,felodipin,
fluronizin, isodipin, nifedipin) ketika tekanan drastis tidak dikontrol. Tidak ada perubahan tekanan
darah yang terlihat dengan tekanan darah normal (tanpa hipotensi dan dengan hipertensi yang
diberikan CCB). Efek yang paling tidak baik yang paling umum adalah dalam 10 minggu terazosin
yaitu sakit kepala dan studi menunjukkan penurunan pada pemberian antihipertensi (13 16%)
daripada tanpa pemberian antihipertensi ( 21-25%).
Diltiazem
Industri US mencatat bahwa ketika diltiazem 240 mg setiap hari diberikan dengan alfuzosin 2,5 mg
setiap hari kadar plasma maksimal dan AUC alfuzosin ditingkatkan 50% dan 30%, masing-masing ,
dengan kadar serum maksimal dan AUC diltiazem ditingkatkan 40%, tidak ada perubahan tekanan

darah yang terlihat.


Verapamil
1. Prazosin
Pada studi 8 subjek tekanan darah normal diberikan dosis tunggal 1 mg prazosin ditemukan konsetrasi
puncak plasma prazosin meningkat 85% ( dari5,2 menjadi 9,6 nngr/ml) dan AUC prazosin
ditingkatkan 62% ketika diberikan dalam dosis tunggal 160 mg verapamil.Tekanan darah pada saat
berdiri ,yang tidak berubah setelah pemberian verapamil tunggal dan 114/82mmHg 99/81mmHg
dengan prazosin tunggal , dan diturunkan menjadi 89/68 mmHg ketika 2 obat ini diberikan
bersama.Interaksi farmakokinetik yang sama dicatat dalam studi lain dengan pasien hipertensi. Dalam
studi ini, dosis pertama 1 mg prazosin tunggal menyebabkan 25 mmHg pada tekanan darah systole,
dan setengah pasien ( 3 atau 6) mangalami gejala hipotensi. Penurunan yang sama dalam tekanan
darah terlihat ketika pemberian prazosin 1 mg diberikan pada 6 pasien yang telah diberikan verapamil
selama 5 hari dan 2 pasien mengalami gejala hipotensi.
2. Tamsulosin
Studi pada keamanan tamsulosin, dengan perhatian pada penggunaan obat lain,ditemukan bahwa
penggunaan verapamil ditingkatkan resiko efek samping pada pengobatan dengan tamsulosin 3 x.
Penggunaan CCB lainnya ( tidak spesifik ) tidak menunjukkan peningkatan efek samping, walaupun
mengarah kepada peningkatan hipotensi.
3. Terazosin
Ketika pemberian verapamil 120 mg,2x sehari ditambahkan terazosin 5 mg sehari pada 12 pasien
hipertensi, kadar plasma puncak dan AUC terazosin ditingkatkan 25%. Kontrasnya, 12 pasien lainnya
yang diberikan 120 mg verapamil 2xsehari, pada penambahan terazosin ( 1mg menjadi 5 mg sehari)
tidak ada efek farmakokinteik verapamil. Kedua golongan obat ini pada pasien memiliki efek
penurunan yang nyata pada tekanan darah ketika mereka diberikan kedua obat ini pertama kali. Gejala
hipotensi (tidak lebih dari 3 minggu) terjadi pada 4 pasien ketika verapamil diberikan pertama
sebelum terazosin, dan pada 2 pasien ketika terazosin diberikan pertama sebelum verapamil.
Mekanisme
Tidak dimengerti dengan jelas ini memperlihatkan efek vasodilator,pada alfa bloker dan CCB yang
dapat ditambahkan atau sinergisme, setelah pemberian dosis pertama. Penurunan dalam tekanan darah
terlihat dengan prazosin dan verapamil, yang menghasilkan interaksi farmakokinetik, interaksi antara
alfazosin dan diltiazem. Tamsulosin mungkin memilki efek kecil pada tekanan darah.
Perhatian dan Pengaturan
Interaksi antara CCB dan alfa bloker dapat memperlihatkan kepastian dan efek klinik yang penting
walaupun dokumentasinya terbatas. Penambahan efek hipotensi dapat terlihat ketika penggunaan
pertama dimulai, masing masing alfuzosin, bunazosin, prazosin, dan terazosin). Ini
direkomendasikan pada pasien yang telah diberikan CCB yang dosisnya diperkecil dan mulai dengan
dosis kecil alfa bloker, dengan dosis pertama setelah tidur. Perhatian juga diberikan ketika CCB

ditambahkan untuk memastikan pengobatan alfa bloker pasien akan diingatkan tentang kemungkinan
hipotensi yang berlebihan, dan diberitahukan apa yang harus dilakukan jika mereka merasa lemah dan
pusing. Ada batas gejala tanda terazosin dan tamsulosin yang tidak disebabkan pada penambahan efek
hipotensi dalam batas lebih panjang.
c. Alpha blockers + ACE inhibitors
Efek hipotensi dosis pertama yang hebat, dan efek hypotensive sinergis terjadi pada seorang pasien
yang mengkonsumsi enalapril setelah diberi bunazosin telah direplikasikan pada subyek yang sehat.
efek Dosis pertama dilihat dengan kombinasi alpha blockers lain (terutama alfuzosin, prazosin dan
terazosin) juga kemungkinan akan diperkuat oleh ACE inhibitor. Dalam satu penelitian kecil
tamsulosin tidak punya efek klinis yang relevan pada tekanan darah yang sudah dikendalikan dengan
baik oleh enalapril.
Bukti klinis
Ketika diberi enalapril 10 mg atau bunazosin 2 mg,
tekanan darah pasien berkurang 9,5/6,7 mmHg setelah 6 jam. ketika
bunazosin diberikan satu jam setelah enalapril tekanan darah turun
27/28 mmHg, dan masih turun 19/22 mmHg, bahkan ketika dosis enalapril
dikurangi menjadi 2,5 mg.
Mekanisme
Efek Dosis pertama alpha blockers mungkin ditingkatkan oleh ACE inhibitor. Tamsulosin mungkin
tidak berpengaruh pada tekanan darah karena memiliki selektivitas untuk reseptor alfa dalam prostat.
Pentingnya dan pemakaian
Informasi langsung terbatas. hipotensi akut (pusing, pingsan)
kadang-kadang terjadi tak terduga pada dosis pertama dari beberapa alpha blockers (khususnya,
alfuzosin, prazosin dan terazosin) dan ini dapat berlebihan jika pasien menggunakan atau sudah
menggunakan
beta blocker atau penghambat kanal Ca. Karena itu akan tampak bijaksana untuk menerapkan
kewaspadaan yang sama untuk
ACE inhibitor, yaitu mengurangi dosis ACE untuk pemeliharaan
tingkat jika mungkin, kemudian memulai alfa blocker pada dosis terendah,
dengan dosis pertama diberikan pada waktu tidur..
d. Alpha blockers + Beta blockers
Risiko hipotensi dosis pertama dengan prazosin lebih tinggi jika
pasien sudah menggunakan beta blocker. Ini juga dapat timbul pada alpha blockers lain, terutama
alfuzosin, bunazosin dan terazosin. Dalam sebuah penelitian kecil tamsulosin tidak punya efek klinis
yang relevan pada tekanan darah yang sudah baik dikendalikan oleh atenolol. Alfa blocker dan beta
blocker dapat digabungkan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi.
Bukti klinis

(a) Alfuzosin
Tidak ada interaksi farmakokinetik terjadi antara alfuzosin 2,5 mg dan
atenolol 100 mg dalam dosis tunggal pada penelitian dengan 8 subjek sehat. Pabrik mencatat bahwa
postural hipotensi dapat terjadi pada pasien yang menerima antihipertensi ketika mereka mulai
menggunakan alfuzosin, mereka juga mencatat di mana kombinasi dosis tunggal 2,5 mg dan alfuzosin
atenolol 100 mg menyebabkan penurunan yang signifikan pada denyut jantung dan tekanan darah.
AUCs dari kedua obat meningkat hingga sekitar 20% ,
(b) doxazosin
Produsen doxasozin menyatakan bahwa tidak ada interaksi obat yang merugikan antara doxazosin dan
beta blockers, meskipun mereka perhatikan bahwa reaksi merugikan yang paling umum berkaitan
dengan doxazosin adalah sebuah hipotensi tipe postural. Mereka secara khusus mencatat bahwa
doxazosin telah diberikan dengan atenolol dan propranolol tanpa bukti dari interaksi yang merugikan
(c) Indoramin
Produsen Indoramin menyatakan bahwa penggunaan bersamaan dengan beta blocker dapat
meningkatkan aksi hypotensivenya, dan bahwa titrasi dari dosis beta bloker mungkin diperlukan
ketika memulai therapy.
(d) Prazosin
Sebuah reaksi hypotensive ditandai (pusing, pucat, berkeringat) terjadi dalam 3 dari 6 pasien
hipertensi yang memakai alprenolol 400 mg dua kali sehari ketika mereka diberi 500 mikrogram
pertama dosis prazosin. Seluruh 6 pasien mengalami penurunan lebih besar pada tekanan darahnya
setelah dosis pertama prazosin daripada
setelah 2 minggu pengobatan dengan prazosin 500 mikrogram tiga kali sehari tanpa beta bloker
(22/11 mmHg berarti penurunan dibandingkan dengan 4 / 4 mmHg). Selanjutnya 3 pasien sudah
menggunakan prazosin 500 mikrogram tiga kali sehari tidak biasa tekanan darah jatuh ketika mereka
diberikan dosis pertama alprenolol 200 mg.7 Dua penelitian telah menunjukkan bahwa
farmakokinetik prazosin tidak terpengaruh baik oleh alprenolol atau propranolol. Keparahan dan
durasi pertama-efek dosis prazosin juga ditemukan meningkat dalam subjek sehat yang diberikan
dosis tunggal propranolol.
(e) Tamsulosin
Dalam studi terkontrol plasebo pada 8 pria hipertensi dengan tekanan darah baik dikendalikan oleh
atenolol, penambahan tamsulosin 400 mikrogram setiap hari selama 7 hari, kemudian 800 mikrogram
setiap hari lagi selama 7 hari, tidak memiliki efek yang relevan secara klinis pada tekanan darah
(dinilai setelah 6 dan 14 hari dari tamsulosin). Tidak ada hipotensi terlihat dengan dosis pertama
tamsulosin atau ketika dosis tamsulosin ditingkatkan.
(f) Terazosin
Analisis retrospektif multinasional besar studi pada pasien yang diberikan terazosin 5 atau 10 mg per
hari menemukan bahwa hanya terazosin mempengaruhi tekanan darah pasien yang memakai beta

blockers (atenolol, labetalol, metoprolol, sotalol, dan timolol) jika tekanan darah tidak terkontrol.
Tidak ada perubahan tekanan darah terlihat pada mereka dengan tekanan darah normal (yaitu orang tanpa hipertensi dan mereka yang hipertensi dikendalikan oleh beta blockers). Yang paling umum
efek yang merugikan dalam 10 minggu terazosin
Fase pusing, dan insiden ini tampaknya lebih rendah di
mereka yang memakai antihipertensi (13 dengan 16%) dibandingkan mereka yang tidak (21 hingga
25%).
Mekanisme
Respon kardiovaskular normal (sebuah kompensasi meningkatkan output jantung dan rate) yang harus
mengikuti dosis pertama reaksi hypotensive alfa blocker tampaknya terganggu oleh kehadiran beta
blocker. Masalah biasanya hanya berlangsung singkat karena beberapa kompensasi fisiologis yang
terjadi dalam beberapa jam atau hari, dan ini memungkinkan tekanan darah diturunkan tanpa jatuh
drastis. Tamsulosin mungkin telah kurang efeknya pada tekanan darah karena memiliki beberapa
selektivitas untuk reseptor alfa di prostat.
Pentingnya dan manajemen
Beberapa pasien mengalami hipotensi postural akut,
tachycardia dan palpitasi ketika mereka mulai menggunakan prazosin
atau alpha blockers (terutama alfuzosin, bunazosin dan terazosin). Beberapa pasien bahkan tiba-tiba
pingsan dalam waktu 30 sampai 90 menit, dan ini dapat diperburuk jika mereka sudah menggunakan
beta blocker. Disarankan bahwa mereka yang telah menggunakan
beta blocker harus menurunkan dosis beta bloker nya menjadi
dosis pemeliharaan dan dimulai dengan dosis rendah alpha blockers ini, dengan dosis pertama diambil
sesaat sebelum pergi tidur. Mereka juga harus diperingatkan tentang kemungkinan hipotensi postural
dan bagaimana untuk menggunakannya (yaitu berbaring, mengangkat kaki dan bangun perlahanlahan). Demikian pula, saat menambahkan beta blocker ke alfa blocker, mungkin bijaksana untuk
mengurangi dosis alfa blocker dan re-titrate diperlukan. Ada bukti terbatas bahwa terazosin dan
tamsulosin mungkin tidak menyebabkan efek hypotensive tambahan dalam jangka panjang pada
pasien dengan BPH yang memiliki hipertensi yang telah dikontrol dengan baik dengan beta blocker.
Namun demikian, kehati-hatian harus dijalankan dalam situasi ini, dan pengurangan dosis beta bloker
mungkin diperlukan.