Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS

GAMBARAN RADIOLOGI KALSIFIKASI PARU


Disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Radiologi di RSUD Tugurejo
Semarang

Pembimbing:
dr. Zakiyah, Sp. Rad

Disusun Oleh :
Adam Mici Gandana

H2A008001

Cahya Daris Triwibowo

H2A008008

Herizko SIlvano Kusuma

H2A008024

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2013

LAPORAN KASUS

STATUS PENDERITA
I. ANAMNESIS
A. Identitas
Nama

: Tn. Hadi Waluyo

Umur

: 65 tahun

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

:-

Alamat

: Jl. Pringgodani 2 no. 12 Semarang

No. CM

: 27.10.21

Ruang

: Bangsal Mawar

Tanggal Masuk

: 15 Januari 2013

Tanggal Pemeriksaan

: 16 Januari 2013

B. Keluhan Utama

: batuk darah

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak 1 bulan sebelum masuk RS pasien mengeluh badan batuk terus menerus
batuk disertai dahak. Dahak

pasien berwarna hijau disertai darah berwarna merah

segar,dahak susah keluar bau busuk (-). Pasien mengaku setiap berdahak, dahak pasien
sebanyak kurang lebih 1 sendoh teh. Selain batuk pasien juga merasakan sesak jika
setelah batuk. Pasien kemudian berobat ke cito dari hasil pemeriksaan pasien tidak
didiagnosis TB, kemudian diberi obat, tetapi pasien tidak ada perbaikan. Pasien mengaku
belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya.

D. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sakit yang sama

: Disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi

: Disangkal
2

Riwayat sakit gula / DM

: Disangkal

Riwayat sakit jantung

: Disangkal

Riwayat asma / peny. Paru

: Disangkal

Riwayat sakit gijal

: Disangkal

Riwayat pengobatan

: Disangkal

Riwayat alergi

: Disangkal

Riwayat operasi

: Disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga

Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa

Riwayat tekanan darah tinggi

: Disangkal

Riwayat sakit gula / DM

: Disangkal

Riwayat asma

: Disangkal

Riwayat sakit jantung

: Disangkal

Riwayat alergi

: Disangkal

F. Riwayat Kebiasaan

Riwayat minum jamu

: Disangkal

Riwayat merokok

: Pasien mengaku merokok sejak SMP

Riwayat minum obat-obatan

: Disangkal

Riwayat minum-minuman suplemen

: Disangkal

G. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien dan istri pasien sudah tidak bekerja. Saat ini, pasien berobat dengan biaya dari
JAMKESMAS.

II.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 15 januari 2013 :
1. Keadaan Umum
Tampak lemas, compos mentis

Kesadaran compos mentis, GCS E4M6V5 = 15


2. Status Gizi
BB: 60 kg
TB: 159 cm
BMI= 23,53 kg/m2
Kesan : normoweight

3. Tanda Vital
Tensi

: 130/90 mmHg

Nadi

: 92x/menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup

Respirasi : 22x/menit
Suhu

: 36,5 C (peraxiller)

4. Kulit
Ikterik (-), petekie (-), turgor cukup, hiperpigmentasi(-), kulit kering (-), kulit
hiperemis (-)
5. Kepala
Bentuk mesocephal, rambut warna hitam, mudah dicabut (-), luka (-)
6. Wajah
Simetris, moon face (-)
7. Mata
Konjungtiva

pucat

(+/+),sclera

ikterik

(-/-),mata

cekung

(-/-),

perdarahan

subkonjungtiva(-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+) normal, arcus


senilis (-/-), katarak (-/-)
8. Telinga
Sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), gangguan fungsi pendengaran (-/-)
9. Hidung
Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-), fungsi pembau baik
10. Mulut
Sianosis (-), bibir kering (-), sianosis (-), stomatitis (-), mukosa basah (-) gusi
berdarah (-), lidah kotor (-), lidah hiperemis (-), lidah tremor (-), papil lidah atrofi
(+) di bagian tepi
4

11. Leher
Simetris, deviasi trachea (-), tiroid membesar (-), nyeri tekan (-).
12. Thoraks
Normochest, simetris, retraksi supraternal (-), retraksi intercostalis (-), spider nevi (),sela iga melebar (-), pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-), rambut ketiak
rontok (-)
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis kuat angkat di ICS V, 2 cm ke medial linea


midclavicularis sinistra.

Perkusi

: batas jantung

kiri bawah

: ICS V, 2 cm ke medial linea midclavicularis sinistra

kiri atas

: ICS II linea sternalis sinistra

kanan atas

: ICS II linea sternalis dextra

pinggang jantung : SIC III linea parasternalis sinistra


Kesan

: konfigurasi jantung normal

Auskultasi

BJ I-II reguler, bising (-), gallop(-)


Pulmo:
Depan
Inspeksi:
Statis

: normochest, simetris kanan kiri, retraksi (-)

Dinamis : simetris, retraksi (-)


Palpasi:
Statis

: simetris, sela iga tidak melebar, retraksi (-), tidak ada yang
tertinggal

Dinamis : Pengembangan paru simetris, tidak ada yang


tertinggal
Fremitus : stem fremitus kiri=kanan
Perkusi:
Kanan

: sonor

Kiri

: sonor
5

Auskultasi:
Kanan

: Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan Wheezing (-),


ronki basah kasar(-), ronki basah halus (+)

Kiri

: Suara dasar vesikuler (+) normal, suara

tambahan

wheezing (-), ronki basah kasar(-), ronki basah halus(+)


Belakang:
Inspeksi:
Statis

: normochest, simetris kanan kiri, retraksi (-)

Dinamis : simetris, retraksi (-), pergerakan paru simetris


Palpasi:
Statis

: simetris, sela iga tidak melebar, retraksi (-), tidak ada yang
tertinggal

Dinamis : Pengembangan paru simetris, tidak ada yang


tertinggal
Fremitus : stem fremitus kiri=kanan
Perkusi:
Kanan

: sonor

Kiri

: sonor

Auskultasi:
Kanan

: Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan


Wheezing (-),ronki basah kasar (-), ronki basah

halus

(+)
Kiri

Suara

dasar

vesikuler

(+),

suara

tambahan

wheezing (-), ronki basah kasar(-), ronki basah halus(+)

13. Punggung
Kifosis(-), lordosis (-), skoliosis (-), nyeri ketok costovertebra (-)
14. Abdomen
Inspeksi

: dinding perut sejajar dinding dada,


spider nevi (-), sikatriks (-), striae (-)
6

Auskultasi : peristaltik(+) normal, Bising usus (+) normal


Perkusi

: pekak beralih (-), pekak sisi (-), timpani di semua kuadran abdomen

Palpasi

: supel, nyeri tekan epigastrik (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba,
nyeri menjalar ke punggung (-), turgor kembali cepat

15. Genitourinaria
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-)
16. Kelenjar getah bening
Tidak membesar
17. Ekstremitas
Akral dingin ektremitas atas (-/-) ektremitas bawah (-/-)
Oedem ektremitas atas (-/-) ektremitas bawah (-/-)
18. Integumen
gatal (-), papul eritem disertai vesikel (-), di punggung, dada, lengan atas kanan dan
kiri, skuama (-),

Pemeriksaan Radiologi

Gambaran foto Thorax PA:


Cor

: CTR <50% letak dan ukuran normal

Pulmo

: Corakan vaskuler kasar


Bercak kesuraman (-)
Kalsifikasi (+) kiri atas

Diapraghma

: Normal

Sudut costophrenicus : Normal

KESAN

: cor: ukuran tidak membesar


Pulmo : kalsifikasi ---- TB paru lama

PEMBAHASAN
Definisi
Tuberculosis adalah penyakit menular pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh species
Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringanjaringan
Tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh
hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated hypersensitivity)
Tuberculosis Miliaris adalah jenis tuberculosis yang bervariasi dari infeksi kronis, progresif
lambat hingga penyakit fulminan akut;ini disebabkan oleh penyebaran hematogen atau limfogen
dari bahan kaseosa terinfeksi ke dalam aliran darah dan mengenai banyak organ dengan tuberkeltuberkel mirip benih padi.
Etiologi
Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang
dengan ukuran panjang 1-4/ m. Species lain yang dapat memberikan infeksi pada manusia
adalah M.bovis, M.kansasi, M.intercellulare. sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak
(lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan tahan terhadap trauma kimia dan
fisik.
Mycobacterium tuberculosa, basilus tuberkel, adalah satu diantara lebih dari 30 anggota genus
Mycobacterium yang dikenal dengan baik, maupun banyak yang tidak tergolongkan. Bersama
dengan kuman yang berkerabat dekat, yaitu M. bovis, kuman ini menyebabkan tuberculosis. M
leprae merupakan agen penyebab penyakit lepra. M avium dan sejumlah spesies mikrobacterium
lainnya lebih sedikit menyebabkan penyakit yang biasanya terdapat pada manusia. Sebagian
besar micobakterium tidak patogen pada manusia, dan banyak yang mudah diisolasi dari sumber
lingkungan .Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat

tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman dalam sifat dormant. Dari
sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi.
Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag.
Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi
jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal
paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat
predileksi penyakit Tuberculosis
Mikrobakterium dibedakan dari lipid permukaannya, yang membuatnya tahan-asam sehingga
warnanya tidak dapat dihilangkan dengan alkohol asam setelah diwarnai. Karena adanya lipid
ini, panas atau detergen biasanya diperlukan untuk menyempurnakan perwarnaan primer
Epidemiologi
Tuberculosis berlanjut sebagai penyebab kematian yang penting. Pada tahun 1991, di Amerika
Serikat dilaporkan 26.283 kasus tuberculosis, dengan angka kasus 10,4 per 100.000 per tahun.
Angka kasus telah menurun hingga setingkat 5-6 persen per tahun, namun sejak tahun 1985
arahnya berbalik, yaitu angka kasus menaik sampai 15,8% selama 5 tahun. Diperkirakan bahwa
10 juta orang Amerika mempunyai hasil test tuberculin yang positif, tetapi kurang dari 1% anakanak Amerika yang menunjukan reaksi terhadap tuberculin. Penyakit tuberculosis di Amerika
Utara cenderung menjadi penyakit pada orang tua, penduduk kota yang miskin, dari golongan
kecil dan penderita AIDS .Pada segala umur, rata-rata kasus di antara orang-orang kulit hitam
cenderung dua kali lebih besar dari pada orang kulit putih. Orang-orang hispanik, Haiti dan
imigran Asia Tenggara mempunyai rata-rata kasus yang sama tingginya dengan individu dari
negara asal mereka dan pada individu-individu ini frekuensi penyakit yang terjadi di antara
individu mudanya menunjukan kejadian penyakit ini pada anak-anak muda di negara mereka.
Pada banyak tempat didunia, penyebaran penyakit tuberculosis menurun, namun pada banyak
negara miskin tidaklah demikian. Pada beberapa negara, perkiraan angka kasus baru adalah
sampai setinggi 400 per 100.000 per tahun.

10

Sebagaimana di Amerika Utara dan Eropa, kemiskinan berjalanan seiringan dengan tuberkulosis.
Pada daerah yang prevalensinya tinggi, prevalensi tuberculosis tampak setara pada lingkungan
pedesaan dan perkotaan dan terutama menyerang orang dewasa muda. Pada negara dengan
infeksi HIV endemik, tuberculosis merupakan penyebab tunggal morbiditas dan mortalitas yang
terpenting pada pasien AIDS. Perkiraan yang beralasan tentang besarnya angka tuberculosis di
dunia adalah sepertiga populasi dunia terinfeksi dengan M. tuberculosis, bahwa 30 juta kasus
tuberculosis aktif di dunia, dengan 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun, dan bahwa 3 juta orang
meninggal akibat tuberculosis setiap tahun . Tuberculosis mungkin menyebabkan 6 % dari
seluruh kematian di seluruh dunia.
Penularan
M. tuberculosis ditularkan dari orang ke orang melalui jalan pernafasan. Walaupun mungkin
terjadi jalur penularan lain dan kadang-kadang terbukti, tidak satupun yang penting. Basilus
tuberkel disekret pernafasan membentuk nuclei droplet cairan yang dikeluarkan selama batuk,
bersin, dan berbicara. Droplet keluar dari jarak dekat dari mulut, dan sesudah itu basilus yang
ada tetap di udara untuk wakktu yang lama. Infeksi pada penjamu yang rentan terjadi bila
terhirup sedikit basilus ini. Jumlah basilus yang dikeluarkan oleh kebanyakan orang yang
terinfeksi tidak banyak; khas diperlukan kontak rumah tangga selama beberapa bulan untuk
penularannya. Namun demikian, pasien dengan tuberculosis laring, penyakit endobrokhial,
penyebaran tuberculosis transbronkial yang baru, dan penyakit paru berkavitas yang luas
seringkali sangat menular. Infeksi berkaitan dengan jumlah kuman pada sputum yang
dibatukkan, luasnya penyakit paru, dan frekuensi batuk. Micobakterium rentan terhadap
penyinaran ultraviolet, dan penularan infeksi di luar rumah jarang terjadi pada siang hari.
Ventilasi yang memadai merupakan tindakan yang terpenting untuk mengurangi tingkat infeksi
lingkungan. Serbuk tidak penting pada penularan tuberculosis. Sebagian penderita menjadi tidak
infeksius dalam dua minggu setelah pemberian kemoterapi yang tepat karena penurunan jumlah
kuman yang dikeluarkan dan kurangnya batuk

11

Patofisiologi
1. Tuberculosis primer
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi
droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam,
tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam
suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Bila partikel ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru.
Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari trakeo-bronkhial
beserta gerakan silia dengan sekretnya. Kuman juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau
mukosa tapi hal ini sangat jarang terjadi.
Bila kuman menetap di jaringan paru, ia bertumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di
jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang
primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru.
Dari sarang primer ini akan timbul peradangan saluraan getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang
primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer.
Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi:
1.

Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.

2.

Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, klasifikasi di


hilus atau kompleks sarang Ghon.

3.

Komplikasi dan menyebar secara :


a. Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya.
b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Dapat
juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus.
c. Secara limfogen, ke organ tubuh lainnya
12

d. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.


Semua kejadian diatas tergolong dalam perjalanan tuberculosis primer
2. Tuberculosis Post-primer
Kuman yang dormant pada tuberculosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai
infeksi endogen menjadi tuberculosis dewasa (tuberculosis post-primer). Tuberculosis postprimer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apical posterior
lobus superior atau inferior). Invasinya adalah kedaerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus
hiler paru.
Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu sarang
ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel DatiaLanghans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan bermacammacam jaringan ikat.
Kriteria Diagnosis
Diagnosis penyakit tuberculosis didasarkan pada:
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda:
a. Tanda-tanda infiltrat (redup, bronchial, ronkhi basah).
b. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.
c. Secret di saluran nafas dan ronkhi.
d. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronchus.
2. Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis)
3. Foto toraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB yaitu:
13

a. Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah.
b. Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular).
c. Adanya kavitas, tunggal, atau ganda.
d. Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru.
e. Adanya kalsifikasi.
f. Bayangn menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.
g. Bayangan milier.
4. Pemeriksaan Sputum BTA
Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini tidak
sensitive karena hanya 30-70% pasien TB yang tidak dapat didiagnosis berdasarkan
pameriksaan ini.
5. Tes PAP (peroksidase anti peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining
untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
6. Tes Mantoux/Tuberkulin
7. Teknik Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat
mendeteksi meskipun hanya ada1 mikroorganisme dalam specimen. Selain itu teknik PCR ini
juga dapat mendeteksi adanya resistensi.
8. Becton Dickinson Diagnostic Instrument System (BACTEC)
9. Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
14

10. MYCODOT
Gejala-gejala Klinis
Keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah tanpa
keluhan sama sekali. Keluhan yang terbanyak adalah:
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza, tetapi kadang-kadang panas badan dapat
mencapai 40-41C. Serangan demam pertama dapat sembuh kembali. Bagitulah seterusnya
hilang timbulnya demam influenza ini, sehingga penderita merasa tidak pernah terbebas dari
serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita dan berat
ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
2. Batuk
Batuk dapat terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang
produk-produk radang keluar. Sifat batuk mulai dari kering (non produktif) kemudian setelah
timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lebih lanjut adalah
berupa batuk darah (hemoptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding
bronchus.
3. Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas. Sesak nafas akan
ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paruparu.
4. Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul apabila infiltrasi radang sudah sampai ke
pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
15

5. Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa:
anoreksia, tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang,
nyeri otot, keringat malam, dll. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang
timbul secara tidak teratur.
Gambaran Radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologi dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan
lesi tuberculosis. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih dibandingkan pemeriksaan
sputum, tapi dapat memberikan keuntungan yaitu pada pemeriksaan tuberculosis pada anak dan
tuberculosis milier. Pada kedua hal ini diagnosis dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologis
dada karena pemeriksaan sputum hamper selalu negative.
Lokasi lesi tuberculosis umumnya didaerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau
segmen apical lobus bawah). Akan tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau
didaerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada tuberculosis endobronkhial).
TB pada orang dewasa biasanya lokasi terdapat pada lapangan atas dan segmen apical
lobus bawah. Pembagian TB pada kelaina rongent menurut bentuk :
1. Sarang eksudatif : awan-awan atau bercak, batas tidak tegas, densitas rendah.
2. Sarang produktif : butir bulat kecil, batas tegas, densitas sedang.
3. Cavitas : bulat, radiolusen, batas tegas.
4. Sarang induratif/fibrotic : garis/pita tebal, batas tegas, densitas tinggi.
5. Sarang kapur : kalsifikasi.
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di
dalam paru-paru meliputi : penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di
sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya
area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh
karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi

16

yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi
yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.
Gambaran tuberculosis milier berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar merata
pada seluruh lapangan paru. Akibat adanya penyebaran tuberculosis paru secara hematogen akan
tampak sarang-sarang sekecil 1-2 mm, atau sebesar kepala jarum (milium), tersebar merata
dikedua belah paru. Pada foto toraks, tuberculosis miliaris ini dapat menyerupai gambaran badai
kabut (snow storm appearance). Penyebaran penayakit tuberculosis paru ini juga dapat terjadi
ke ginjal, tulang, sendi, selaput otak (meninges), dan sebagainya .
Pada pemeriksaan radiologi, gambaran tuberculosis milier yang berupa bayanganbayangan kecil itu kelihatan berbatas sangat tegas, seakan-akan tiap bintik itu dapat diangkat
dengan pinset. Besarnya pada tiap kasus berlainan, tetapi pada satu kasus biasanya sama besar.
Bayangan-bayangan ini sebenarnya disebabkan oleh superposisi dari banyak tuberkel, dan ini
mungkin sama sekali tidak mengakibatkan suatu bayangan sebelum jumlahnya cukup banyak
atau besarnya cukup luas untuk menyebabkan suatu bayangan karena superposisi. Oleh karena
itu radiograf mula-mula mungkin berbentuk normal, akan tetapi akan tampak bayanganbayangan itu didalam kira-kira 2 minggu. Sementara didalam pengobatan, bayangan-bayangn
hilang jauh sebelum tuberkel-tuberkel secara patologis benar-benar menghilang, sehingga
sebaiknya pengobatan tetap diteruskan walaupun pasien telah merasa enak badan dan oleh
karena gambaran radiologi telah menjadi normal. Mungkin ada tanda-tanda lain dari tuberculosis
paru-paru seperti suatu kavitas, atau kelenjar-kelenjar hilus mungkin membesar .
Gambaran radiologis dari tuberculosis miliaris adalah terlihatnya bayangan nodul-nodul
halus yang tersebar di seluruh lapangan paru
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi
sudak diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lesi
ini dikenal sebagai tuberkuloma.
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yg mula-mula berdinding tipis. Lama-lama
dinding menjadi skelerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi fibrosis terlihat bayangan yang

17

bergaris-garis. Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat dengan


densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang dapat
terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.
Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (pada
tuberculosis yg sudah lanjut) seperti infiltrate, garis-garis fibrotic, kalsifikasi, kavitas (non
sklerotik/skelerotik) maupun atelektasis dan emfisema.

18

DAFTAR PUSTAKA
Amin Zulkifli, Bahar Asril. (2006). Tuberkulosis Paru. In Sudoyo dkk, Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam (p. 988). Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Patel Pradip R. Saluran Pernafasan. Lectures Note Radiologi. Edisi 2. 2007. Jakarta : Erlangga
Medical Series ; 19-63..
PDPI. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta. 2002.

19