Anda di halaman 1dari 12

Gangguan Mood dan Afek

Mood adalah suasana perasaan atau emosi yang bersifat pervasif/internal dan bertahan lama,
mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupan.
Afek adalah respon emosional yang tampak/ ekspresi eksternal dari mood. Ekspresi emosi sesaat,
dapat diamati dari ekspresi wajah, gerak tubuh, irama suara.
Gangguan mood adalah Suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya
perasaan kendali dan pengalaman subjektif.

Gangguan mood dibagi menjadi 2 :


a. Depresi : suasana perasaan yang menurunkan/ tertekan
b. Manik : suasana perasaan yang meningkatkan/ ekspansif
Tanda dan gejala lain dari gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan
kognitif, pembicaraan, dan fungsi vegetative (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual, dan
irama biologis lainnya). Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi
interpersonal, sosial, dan pekerjaan.
Etiologi
Dasar umum untuk gangguan depresif berat tidak diketahui. Banyak usaha untuk
mengenali suatu penyebab biologis atau psikososial untuk gangguan mood telah dihalangi
heterogenitas populasi pasien yang ditentukan oleh sistem diagnostik yang didasarkan secara
klinis yang ada, termasuk DSM-IV. Faktor penyebab dapat secara buatan dibagi menjadi faktor
biologis, faktor genetika, dan faktor psikososial.
1. Faktor Biologis
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin
biogenik-seperti 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA), homovanillic acid (HVA), dan 3methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG)- di dalam darah, urine, dan cairan serebrospinalis
pada pasien dengan gangguan mood. Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis
bahwa gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik.
2. Faktor Genetika
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam
perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola penurunan genetika adalah jelas

melalui mekanisme yang kompleks; bukan saja tidak mungkin menyingkirkan efek psikososial,
tetapi faktor non genetik memungkinkan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan
gangguan mood sekurangnya pada beberapa orang.
3. Faktor Psikososial
Satu pengamatan klinis lama yang telah direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan
yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada
episode selanjutnya. Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan pengamatan tersebut adalah
bahwa stres yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang
bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan
fungsional berbagai neurotransmiter dan sistem pemberi signal intraneuronal. Hasil akhirnya dari
perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk
menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor eksternal.
Gangguan mood terdiri dari Gangguan Depresi (depresi unipolar), Gangguan bipolar, dan
dua kelainan berdasarkan etiologi; Gangguan Mood akibat Kondisi Medis umum dan Gangguan
Mood akibat Penyalahgunaan zat. Gangguan depresi (seperti; gangguan depresif berat, gangguan
distimik, dan gangguan mood yang tak tergolongkan) dibedakan dengan gangguan bipolar
dengan melihat tidak adanya episdode manik, episode campuran, atau episode hipomanik.
Gangguan bipolar (seperti; gangguan bipolar I, bipolar II, gangguan siklotimik, dan gangguan
bipolar yang tak tergolongkan) memiliki riwayat episode manik, episode campuran, atau episode
hipomanik, yang biasanya disertai dengan riwayat episode depresif berat.
Pada DSM-IV, gangguan mood diklasifikasikan sebagai berikut:

Episode mood
- Episode depresif mayor
- Episode manic
- Episode campuran
- Episode hipomanik
Gangguan bipolar
Gangguan bipolar I
- Gangguan bipolar II
- Gangguan siklotimik
- Gangguan bipolar yang tak tergolongkan
Gangguan mood lainnya
- Gangguan mood akibat kondisi medis umum
- Gangguan mood akibat zat

Gangguan mood yang tak tergolongkan

Episode Mood
Episode Depresif Mayor
Suatu mood depresi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan
gejala utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan mereka merasa
murung, putus asa, dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi pasien mood
terdepresi seringkali memiliki kualitas yang terpisah yang membedakannya
dengan

emosi

normal

kesedihan

atau

duka

cita.

Pasien

seringkali

menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri emosional yang


menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang mengeluh tidak dapat
menangis, suatu gejala yang menghilang saat mereka membaik.

Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat simtom/tanda yaitu:
- mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang
- menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan
- sulit atau banyak tidur
- agitasi atau retardasi psikomotor
- fatig atau berkurangnya tenaga
- menurunnya harga diri
- ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi
- pesimis
- pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa renacana) atau tindakan
bunuh diri.

Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan atau mengganggu fungsi personal, sosial,


atau pekerjaan.
Episode Manik
Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah merupakan tanda episode
manik. Walaupun orang yang tidak terlibat mungkin tidak mengetahui sifat mood pasien yang
tidak biasanya, mereka yang mengetahui pasien mengenalinya sebagai abnormal. Selain itu
mood mungkin mudah tersinggung, khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisius
terancam. Sering kali, seorang pasien menunjukkan suatu perubahan mood yang utama dari
euforia awal pada perjalanan penyakit menjadi lekas marah di kemudian hari.
Pasien sering kali terokupasi oleh gagasan agama, politik, finansial, seksual, atau
penyiksaan yang dapat berkembang menjadi sistem waham yang kompleks. Kadang-kadang
pasien manik menjadi teregresi dan bermain dengan urine dan fesesnya.
Criteria diagnostic :
A. Suatu periode yang nyata dari mood yang meningkat, meluap-luap, atau iritabel yang secra
abnormal dan menetap, paling kurang 1 minggu (atau durasi kapan saja jika membutuhkan
perawatan di rumah sakit).
B. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut menetap (empat jika mood
hanya iritabel) dan terjadi dalam derajat yang bermakna:
1. Harga diri yang melambung atau kebesaran
2. Penurunan kebutuhan tidur (misalnya, merasa telah beristirahat setelah tidur hanya 3 jam)
3. Berbicara lebih banyak dari yang biasanya atau tekanan untuk terus berbicara
4. Loncat gagasan atau pengalaman subyektif bahwa pikirannya berpacu
5. Distraktibilitas yaitu, prhatian sangat mudah dialihkan pada stimulus eksternal yang tidak
penting atau tidak relevan)
6. Peningkatan aktivitas yang diarahkan oleh tujuan (baik secara sosial, pada pekerjaan atau
sekolah, atau secara seksual atau agitasi psikomotor
7. Keterlibatan berlebihan pada aktivitas menyenangkan yang kemungkinan besar mempunyai
akibat yang menyakitkan (misalnya, berbelanja yang tidak terkendali, melakukan hubungan
seksual yang tidak bijaksana, atau investasi bisnis yang bodoh)
C. Gejala tidak memenuhi kriteria episode campuran

D. Gangguan mood cukup parah untuk menyebabkan gangguan yang nyata pada fungsi
pekerjaan atau pada aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain seoerti yang biasanya, atau
membutuhkan perawatan rumah sakit untuk mncegah bahaya bagi diri sendiri maupun orang
lain, atau terdapat ciri psikotik.
E. Gejala bukan efek fisiologis langsung dari zat atau suatu kondisi medis umum.
Episode Campuran
Episode campuran ditandai dengan adanya suatu periode waktu (paling sedikit 1 minggu)
yang sesuai dengan kriteria episode manik dan episode depresi, yang tejadi hampir setiap hari
(kriteria A). gangguan yang terjadi dapat menyebabkan gangguan bermakna pada fungsi sosial,
pekerjaan, bahkan kadang perlu dirawat untuk mencegah supaya penderita tidak membahayakan
dirinya maupun orang lain. Pada episode ini dapat pula ditemui adanya gambaran psikotik
(kriteria B). gejala yang timbul tidak diakibatkan oleh efek langsung dari penggunaan zat atau
akibat suatu kondisi medis umum (kriteria C).
Episode campuran ini lebih sering ditemui pada usia muda dan usia di atas 60 tahun
dengan gangguan bipoar dan lebih sering terdapat pada pria daripada wanita.
Episode Hipomanik
Episode hipomanik didefinisikan sebagai adanya periode yang terpisah dari mood yang
abnormal dan secara menetap meningkat, meluap dan lekas marah yang berlangsung selama
minimal 4 hari (kriteria A). Episode mood yang abnormal ini disertai oleh sedikitnya 3 gejala
tambahan, yaitu harga diri yang meninggi atau kebesaran (bukan waham), penurunan kebutuhan
tidur, tekanan pada pembicaraan, flight of ideas, distraktibilitas, peningkatan aktivitas,
keterlibatan berlebiahan pada aktivitas yang berlebihan (kriteria B). episode dihubungkan dengan
suatu perubahan yang jelas pada fungsi yang tidak karakteristik dari orang tersebut jika tidak ada
gejala (kriteria C).
Gangguan mood dan perubahan fungsi dapat diamati oleh orang lain (kriteria D). episode
tidak cukup parah untuk menyebabkan gangguan yang nyata pada fungsi sosial dan pekerjaan,
atau membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak memiliki ciri psikotik.
Gangguan Bipolar

Gangguan Bipolar I
Epidemiologi
Gangguan bipolar I merupakan gangguan yang lebih jarang dari gangguan depresif berat,
dengan prevalensi seumur hidup adalah 2%, sama dengan angka untuk skizofrenia. Berbeda
dengan gangguan depresif berat, gangguan bipolar I mempunyai prevalensi yang sama bagi lakilaki dan wanita. Pada umumnya, onset gangguan bipolar I adalah lebih awal daripada onset
gangguan depresif berat. Usia onset untuk gangguan bipolar I terentang dari masa anak-anak
(paling awal usia 5 atau 6 tahun) sampai 50 tahun atau bahkan lebih lanjut pada kasus yang
jarang, dengan rata-rata usia 30 tahun. Gangguan bipolar I lebih sering pada orang yang bercerai
dan hidup sendirian daripada orang yang menikah. Insidensi gangguan bipolar I yang lebih tinggi
dari biasanya memang ditemukan pada sosioekonomi tinggi, kemungkinan karena adanya
praktik diagnostik yang mengalami bias. Gangguan ini lebih sering pada orang yang tidak lulus
dari perguruan tinggi daripada lulusan perguruan tinggi, kemungkinan mencerminkan usia onset
yang relatif awal untuk gangguan tersebut.
Diagnosis
DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV) telah membuat
definisi kriteria Gangguan Bipolar I, yaitu gejala klinis yang ditandai dengan satu atau lebih
episode manik atau episode campuran. Sering individu juga telah ada riwayat satu atau lebih
episode depresi mayor. DSM IV telah membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis untuk masingmasing klasifikasi.
A. Gangguan Bipolar I, Episode Manik Tunggal
Kriteria Diagnosis :
a. Terdapat hanya satu Episode Manik dan tidak ada Episode Depresi Mayor sebelumnya.
Catatan : Rekurensi didefinisikan sebagai suatu perubahan polaritas dari depresi atau suatu
interval paling kurang 2 bulan tanpa gejala manik.
b. Episode Manik tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak
bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofrenifrom, Gangguan Waham,
atau Gangguan Psikotik yang tidak ditentukan.
B. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Manik
Kriteria Diagnosis :

a. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Manik


b. Terdapat paling kurang satu Episode Depresi Mayor, Episode Manik, atau Episode Campuran
sebelumnya.
c. Episode Mood pada kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham,
atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan.
C. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Campuran
Kriteria Diagnosis :
a. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Campuran.
b. Terdapat paling kurang satu Episode Depresi Mayor, Episode Manik, atau Episode Campuran
sebelumnya.
c. Episode Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham,
atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan.
D. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Depresi
Kriteria Diagnosis :
a. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Depresi Mayor.
b. Terdapat paling kurang satu Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya.
c. Episode Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham,
atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan.
E. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Tidak Ditentukan
Kriteria Diagnosis :
a.

Kecuali durasi, saat ini (atau paling akhir) memenuhi kriteria untuk suatu Episode
Manik, Hipomanik, Campuran, atau Depresi Mayor.

b.

Terdapat paling kurang satu Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya.

c.

Gejala mood menyebabkan penderitaan secara klinis yang bermakna atau gangguan pada
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi bidang penting lainnya.

d.

Gejala Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan
Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform,
Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik yang Tidak Ditentukan.

e.

Gejala mood pada Kriteria A dan B bukan karena efek fisiologis langsung dari zat
(misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan, atau terapi lainnya) atau suatu kondisi medis
umum (misalnya, hipertiroidisme).

Perjalanan Penyakit
Gangguan bipolar I paling sering dimulai dengan depresi (75% pada wanita, 67% pada
laki-laki) dan gangguan yang rekuren. Sebagian besar pasien menjalani episode depresif maupun
manik walaupun 10-20 persen hanya mengalami episode manik. Episode manik biasanya
memiliki onset yang cepat (beberapa jam atau beberapa hari), tetapi dapat berkembang lebih dari
satu minggu. Beberapa pasien gangguan bipolar I mengalami episode yang berulang dengan
cepat. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai
4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan)
meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut.
Gangguan bipolar I dapat mengenai anak yang sangat muda maupun lanjut usia, insidensi
gangguan bipolar pada anak dan remaja adalah kira-kira satu persen dan onset awalnya pada usia
delapan tahun. Gangguan bipolar I dengan onset awal tersebut disertai prognosis buruk.

Gangguan Bipolar II
Ciri khas yang penting pada gangguan bipolar II secara klinis adalah ditandai dengan
munculnya satu atau lebih episode depresif berat (kriteria A), yang disertai dengan paling sedikit
satu episode hipomanik (kriteria B). adanya episode manik atau episode campuran
menyingkirkan diagnosis gangguan bipolar II (kriteria C). selain itu gejala mood pada kriteria A
dan B tidak lebih baik untuk dimasukkan ke dalam gangguan skizoafektif, dan tidak tumpang
tindih dengan skizofrenia, skizofreniform,gangguan delusional, atau gangguan psikotik YTT
(kriteria D). gejala menyebabkan gangguan yang nyata pda fungsi sosial, pekerjaan, dan bidang
penting lainnya (kriteria E).
Epidemiologi
Gangguan bipolar II adalah tidak diketahui secara tepat pada saat ini karena relatif baru
dikenalinya gangguan ini. Kriteria diagnostik untuk gangguan bipolar II menyebutkan
keparahan, frekuensi, dan durasi tertentu untuk gejala hipomanik. Kriteria diagnostik untuk
episode hipomanik dituliskan secara terpisah dari kriteria untuk gangguan bipolar II.

Gambaran Klinis
Gangguan bipolar II adalah gangguan depresif berat dikombinasikan dengan gambaran
episode hipomanik. Diagnosis bandingnya termasuk gangguan bipolar I, gangguan depresif
berat, dan gangguan kepribadian ambang. Pengobatan gangguan bipolar II harus dilakukan
secara berhati-hati, karena pengobatan episode depresif dengan antidepresan sering kali dapat
mencetuskan suatu episode manik.
Gangguan Siklotimik
Dalam DSM-IV, gangguan siklotimik dibedakan dari gangguan bipolar II, yang ditandai
oleh adanya episode depresif berat dan episode hipomanik. Seperti gangguan distimik,
kategorisasi gangguan siklotimik dengan gangguan mood menyatakan adanya hubungan,
kemungkinan biologis, dengan gangguan bipolar I.
Epidemiologi
Pasien dengan gangguan siklotimik mungkin berjumlah 3 sampai 10 persen dari semua
pasien psikiatrik rawat jalan. Diperkirakan 10 persen dari rawat jalan dan 20 persen dari rawat
inap gangguan kepribadian ambang memiliki diagnosis gangguan siklotimik secara bersamasama. Rasio wanita terhadap laki-laki dalam gangguan siklotimik adalah kira-kira 3 berbanding
2, dan 50 sampai 75 persen dari semua pasien memiliki onset antara usia 15 dan 25 tahun.
Etiologi
Etiologi gangguan siklotimik diperkirakan sama dengan gangguan distimik, yaitu faktor
biologis dan faktor psikososial.
Criteria Diagnostik
A. Selama sekurangnya 2 tahun, adanya banyak episode dengan gejala hipomanik dan banyak
periode dengan gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif berat.
B. Selama periode 2 tahun di atas, orang tidak pernah tanpa gejala dalam kriteria A selama lebih
dari 2 bulan.
C. Tidak ada episode depresif berat, episode manik, atau episode campuran yang ditemukan
selama 2 tahun pertama gangguan.
Catatan: setelah 2 tahun pertama dari gangguan siklotimik, mungkin terdapat episode manik atau
campuran yang menumpang atau episode depresif berat.

D. Gejala dalam kriteria A tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak
menumpang pada skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan delusional, atau gangguan
psikotik yang tidak ditentukan.
E. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum.
F. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
Medikasi yang diberikan sesuai dengan keadaan episode bipolar (manik atau depresi).
Maka itu, beberapa obat diindikasikan untuk episode akut manik, terutama antipsikotik, valproat,
dan benzodiazepine(contoh: lorazepam, clonazepam). Pilihan dari obat tersebut tergantung dari
gejala yang ada seperti gejala psikosis, agitasi, agresif, dan gangguan tidur. Antipsikotik atipikal
digunakan untuk pengobatan mania akut dan untuk menstabilkan mood. Antidepresi spektrum
luas dan ECT (Elecro Convulsive Therapy) digunakan untuk episode depresi akut (contoh:
depresi mayor).
a. Mood Stabilizing Medications (Medikasi Penstabil Mood) biasanya merupakan terapi lini
pertama. Umumnya, pasien dengan gangguan bipolar melanjutkan terapi ini selama beberapa
tahun.
(1) Lithium sangat efektif mengontrol gejala mania dan mencegah rekuren episode mania dan
depresi.
(2) Asam valproat atau divalproex (Depakote), juga sama efektifnya dengan lithium.
Asam valproat dan antikonvulsan lainnya dapat meningkatkan risiko pikiran bunuh diri. Pasien
yang mengkonsumsi obat antikonvulsan harus diawasi dan mereka tidak diperbolehkan
mengganti dosis tanpa konsultasi dengan dokternya.
b. Atipikal antipsikotik kadang-kadang diberikan juga.
(1) Olanzapine, jika diberikan bersama dengan antidepresan dapat meringankan gejala mania
yang parah atau psikosis. Namun beberapa studi menyebutkan bahwa medikasi olanzapine dapat
meningkatkan berat badan dan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.
(2) Aripiprazole
(3) Quetiapine

(4) Risperidone
c. Antidepresan juga kadang-kadang diberikan untuk mengatasi gejala depresi pada gangguan
bipolar. Baru-baru ini, studi yang didanai oleh NIMH menunjukkan bahwa penambahan
antidepresan dengan mood stabilizer tidak lebih efektif dibandingkan dengan hanya memberikan
antidepresan.
2. Psikoterapi
Penatalaksanaan pasien dengan gangguan bipolar termasuk edukasi pasien saat awal dan
terus menerus. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi juga keluarga mereka. Tidak
hanya untuk mengatasi saat gejala muncul, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup
mereka.
a. Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)
Untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien
mengidentifikasi dan uji kognitif negatif, mengembangkan cara berfikir alternatif, fleksibel dan
positif, juga melatih kembali respon kognitif dan pikiran yang baru.
b. Terapi interpersonal
Memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang dialaminya sekarang.
c. Terapi perilaku
Dengan memusatkan pada perilaku mal adaptif di dalam terapi, pasien belajar untuk berfungsi di
dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapat dorongan positif dari lingkungan.
d. Terapi berorientasi psikoanalitik
Pendekatan psikoanalitik didasarkan pada depresi dan mania. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan perubahan pada struktur atau karakter kepribadian pasien, bukan untuk hilangkan
gejala.
e. Terapi keluarga
Diindikasikan jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga pasien.
3. Terapi Lain
a. ECT (Electro Convulsive Therapy) dapat meringankan gangguan bipolar yang parah, yang
tidak dapat diatasi dengan terapi lainnya. ECT sangat efektif untuk depresi yang parah, manik,
atau episode campuran, tetapi bukan terapi lini pertama.

b. Medikasi Tidur. Pasien dengan gangguan bipolar biasanya tidur lebih baik setelah mendapat
terapi gangguan bipolar. Tetapi jika masalah tidur ini tetap ada, dokter dapat meresepkan sedatif
atau obat tidur lainnya.

Referensi :
PPDGJ-III
Google.com