Anda di halaman 1dari 50

TEKNIK MENENTUKAN PRIORITAS MASALAH

Disusun oleh:

Adnan Hasyim Malahela, S.Ked

04108705022

Avyandita Meirizkia, S.Ked

04108705046

Harvinder Singh, S.Ked

04108705115

Nina Nayu Zainunah, S.Ked

04108705283

Wahidun Nurhidayah, S.Ked

04108705311

Dosen Pembimbing:
dr. Mariatul Fadillah, MARS

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT MOH.HOESIN PALEMBANG
2011

HALAMAN PENGESAHAN

Makalah

Judul
Tehnik Menentukan Prioritas Masalah

Oleh:

Adnan Hasyim Malahela, S.Ked

04108705022

Avyandita Meirizkia, S.Ked

04108705046

Harvinder Singh, S.Ked

04108705115

Nina Nayu Zainunah, S.Ked

04108705283

Wahidun Nurhidayah, S.Ked

04108705311

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Univesitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang
periode 26 September 2011- 21 November 2011.

Palembang, Oktober 2011

dr. Mariatul Fadillah, MARS

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Teknik Menentukan Prioritas Masalah, yang merupakan
salah satu syarat untuk menempuh Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat RSMH Palembang periode 14 Februari 2011-11 April
2011.
Di dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, penulis mengucapkan terima kasih
kepada dr. Mariatul Fadillah, MARS atas bimbingan dan arahannya dalam
penyusunan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas bantuan
dari teman-teman di bagian ilmu kesehatan masyarakt RSMH Palembang
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Akhirnya, penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Oktober 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Menetapkan prioritas dari sekian banyak masalah kesehatan di masyarakat
saat ini merupakan tugas yang penting. Manager kesehatan masyarakat sering
dihadapkan pada masalah yang semakin menekan dengan sumber daya yang
semakin terbatas. Metode untuk menetapkan prioritas secara adil, masuk akal, dan
mudah dihitung merupakan perangkat manajemen yang penting.
Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan
oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menentukan
urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting.
Penetapan prioritas memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni spesifik,
jelas ada kesenjangan yang dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif, serta
dirumuskan secara sistematis.
Masalah itu sendiri adalah terdapatnya kesenjangan antara harapan dengan
kenyataan. Oleh sebab itu, cara perumusan masalah yang baik adalah bila
rumusan tersebut jelas menyatakan adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut
dikemukakan secara kualitatif dan dapat pula secara kuantitatif.
Penetapan prioritas dinilai oleh sebagian besar manager sebagai inti proses
perencanaan. Langkah yang mengarah pada titik ini dapat dikatakan sebagai suatu
persiapan untuk keputusan penting dalam penetapan prioritas. Sekali prioritas
ditetapkan, langkah berikutnya dapat dikatakan merupakan gerakan progresif
menuju pelaksanaan.
Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan kebijaksanaan banyak
diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk mensintesis berbagai
rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang
biasanya dikatakan paling naluriah. Namun, penetapan prioritas masalah mungkin
dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila
dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas dan tepat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Memilih topik atau menetapkan permasalahan penelitian merupakan
langkah paling awal dari keseluruhan kegiatan penelitian, Sehingga
sebenarnya permasalahan penelitian dapat dicari pada semua aspek kehidupan
baik yang menimpa pelaksana kesehatan maupun obyek dari pelaksana
bidang kesehatan. Menurut Abraham. L. masalah adalah terdapatnya
kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Oleh sebab itu, cara
perumusan masalah yang baik adalah apabila rumusan tersebut jelas
menyatakan adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut dikemukakan secara
kualitatif dan dapat pula secara kuantitatif. Identifikasi dan prioritas masalah
kesehatan merupakan bagian dari proses perencanaan harus dilaksanakan
dengan baik dan melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat.
Sehingga

masalah

yang ditetapkan

untuk

ditanggulangi

betul-betul

merupakan masalah dari masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan


untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada, masyarakat dapat
berperan aktif didalamnya.
Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses
pemecahan masalah dikarenakan dua alasan. Pertama, karena terbatasnya
sumber daya yang tersedia, dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan
semua masalah. Kedua, karena adanya hubungan antara satu masalah dengan
masalah lainnya, dan karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan
Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan kebijaksanaan banyak
diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk mensintesis berbagai
rincian yang relevan. Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih
bermanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit

dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas. Ketrampilan utama yang
diperlukan dalam penentuan prioritas adalah menyeimbangkan variabelvariabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam
kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda pula sehingga
mengurangi terjadinya kesalahan timbul akibat memberikan penekanan
terlalu banyak pada satu dimensi.
Terdapat perbedaan dari cara penetepan prioritas pada seorang ahli
epidemiologi, administrator dan ahli hukum. Seorang ahli epidemiologi
cenderung untuk menilai penetapan prioritas terutama sebagai suatu masalah
penentuan mortalitas dan mortabiditas relatif dari masalah-masalah kesehatan
tertentu. Pendekatan ini dipakai secara berlebihan dalam versi pertama
Metode Amerika Latin dalam perencanaan kesehatan. Para administrator
cenderung mengkaji prioritas terutama dalam hubungannya dengan yang
disebut oleh metode perencanaan kesehatan Amerika Latin sebagai
kerawanan masalah-masalah kesehatan tertentu. Perhatiannya ada pada
ketersediaan metode teknis untuk mengendalikan penyakit-penyakit atau
kondisi-kondisi yang memerlukan perhatian. Sedangkan para ekonom
memberi penekanan khusus pada biaya. Hal ini biasanya merupakan kendala
akhir yang menentukan apa yang akan dilakukan. Kebijakan penting dalam
menyeimbangkan

ongkos

perencanaan

kesehatan

umumnya

adalah

menyediakan pelayanan kesehatan ke masyarakat secara maksimum dari pada


memberikan pelayanan dengan mutu tertinggi kepada sekelompok kecil
masyarakat.
Agar dapat melakukan pendekatan perencanaan yang seimbang maka
perencanaan kesehatan harus mengembangkan ketrampilan dalam semua
disiplin ilmu. Yang terutama diperlukan adalah indeks-indeks tertentu yang
valid di dalam informasi baik kualitatif maupun kuantitatif yang digunakan
dalam penilaian ini. Perencana harus bersandar pada elemen-elemen
kebijaksanaan yang tak pasti berdasarkan pengalaman atau evaluasi rencanarencana sebelumnya dalam membuat keputusan akhir.

B. Langkah-Langkah Menentukan Prioritas Masalah


Memilih masalah untuk diteliti merupakan tahap yang penting dalam
melakukan penelitian, karena pada hakikatnya seluruh proses penelitian yang
dijalankan adalah untuk menjawab pertanyaan yang sudah ditentukan
sebelumnya. Memilih masalah juga merupakan hal yang tdiak mudah karena
tidak adanya panduan yang baku. Sekalipun demikian dengan latihan dan
kepekaan ilmiah, pemilihan masalah yang tepat dapat dilakukan.
Menurut Abraham. L Bagaimana peneliti mencari masalah yang akan
dikaji, beberapa panduan pokok di bawah ini akan mempermudah bagi kita
menemukan masalah:
1. Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antar
dua variable atau lebih
2. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan
pada umumnya diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya.
3. Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris,
yaitu dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan
sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang dikaji.
4. Masalah tidak boleh merepresentasikan masalah posisi moral dan
etika.

Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal yang
harus dilakukan, yakni :
1.

Melakukan pengumpulan data


Untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu
tersedia data yang cukup. Untuk itu perlulah dilakukan pengumpulan
data. Data yang perlu dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan
lingkungan, perilaku, keturunan, dan pelayanan kesehatan, termasuk
keadaan geografis, keadan pemerintahan, kependudukan, pendidikan,
pekerjaan, mata pencaharian, sosial budaya, dan keadaan kesehatan.

2.

Pengolahan Data
Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data tersebut
harus diolah, maksudnya adalah menyusun data yang tersedia sedemikian
rupa sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing data
tersebut. Cara pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara
manual, elektrikal dan mekanik.

3.

Penyajian Data
Data yang telah diolah perlu disajikan, ada tiga macam penyajian
data yang lazim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal.

4. Pemilihan Prioritas Masalah


Hasil penyajian data akan memunculkan berbagai masalah. Tidak
semua masalah dapat diselesaikan. Karena itu diperlukan pemilihan
prioritas masalah, dalam arti masalah yang paling penting untuk
diselesaikan.
Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang
dilakukan oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu
untuk menentukan urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan
kurang penting. Penetapan prioritas memerlukan perumusan masalah yang
baik, yakni spesifik, jelas ada kesenjangan yang dinyatakan secara
kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara sistematis.
Dalam menetapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan
yang harus diperhatikan, yakni :
1.

Besarnya masalah yang terjadi

2.

Pertimbangan politik

3.

Persepsi masyarakat

4.

Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan.


Dalam menetapkan prioritas sebelumnya kita menentukan kriteria

untuk menetapkan prioritas, anda dapat menggunakan salah satu dari tiga
metode, yaitu: dot voting, weighted voting atau consensus voting tergantung
waktu, sumber dan sifat kelompok.

1. Dot Voting:
Berikan masing-masing anggota kelompok sejumlah votes
dengan menggunakan stiker titik-titik warna. Aturan mainnya adalah,
masing-masing orang mendapat sejumlah titik yang menunjukkan VA
dari jumlah item. Pemilahan dan penggabungan ide-ide dapat ditunda
sampai selesainya voting, jadi waktu tidak akan terbuang percuma untuk
mendiskusikan item-item dengan prioritas rendah. Voting ulang dapat
dilakukan

beberapa

kali

bersamaan

dengan

pemilihan

dan

pengklasrifikasian ide. Dot voting ini merupakan metode dengan


visualisasi tinggi dan sederhana. Kekurangannya adalah metode ini
mengambil opini mayoritas dan menyingkirkan kelompok minoritas yang
dapat merusak interaksi kelompok di masa yang akan datang.

2. Weighted Voting:
Poin diberikan pada ranking individu. Contohnya, jika anggota
diharuskan meranking lima pilihan teratas, maka 5 suara dapat memilih
pilihan pertama, 4 suara untuk pilihan kedua, 3 suara untuk pilihan ketiga
dan seterusnya. Seluruh nilai individu untuk tiap item kemudian ditotal
dan item dapat diranking (diurutkan) berdasarkan nilai total kelompok.
Metode ini lebih akurat dibandingkan dengan straight voting dalam
mengukur pilihan anggota. Metode ini juga dapat dilakukan dan
dijumlahkan atau ditotal antara pertemuan, sehingga kelompok tidak
menghabiskan waktunya hanya untuk menyelesaikan tugas ini.
3. Consensus decision:
a. Metode ini paling banyak menyita waktu, namun penting karena
implementasi keputusan membutuhkan penerimaan dan komitmen
dari seluruh anggota kelompok. Aturan dasar untuk membangun
konsensus adalah Meminta seluruh anggota kelompok berdiskusi.
b. Hindari argumentasi.

c. Nyatakan seluruh kekhawatiran/masalah/isu (terutama pandanganpandangan minor).


d. Dengarkan seluruh kekhawatiran/masalah/isu. Ajukan pertanyaan
klarifikasi, dan paraphrase kekhawatiran/masalah/isu (mengulangi
pernyataan kekhawatiran/masalah/isu tersebut dengan bahasa anda
sendiri).
e. Catat pro dan kontra masing-masing posisi dalam suatu chart.
f. Jika ada dua posisi yang bertentangan (konflik), carilah yang ketiga
untuk mengatasi perbedaan.
g. Dapatkan ekspresi dukungan dari seluruh anggota kelompok sebelum
membuat keputusan final.

5. Menentukan bobot masalah


Menentukan bobot masalah adalah suatu proses pemberian nilai
terhadap kriteria yang telah dipilih. Hal ini mempunyai tujuan agar dapat
membandingkan antara satu kriteria dengan kriteria lainya yang dilihat
dari nilai bobot tersebut.
Langkah-langkah dalam menetapkan bobot masalah:
a. Kriteria yang sudah ditetapkan dikaji dan di bahas secara rici
sehingga kesahihannya (validitas) setiap kriteria diterima oleh
semua anggota.
b. Masing-masing anggota menentukan, memberikan bobot terhadap
kriteria yang ada. Biasanya bobot yang diberikan berkisar antara 15 atau 1-10 apabila ingin memperoleh variasi nilai yang cukup luas.

Kriteria yang sangat penting

: Skor 5

Kriteria yang penting

: Skor 4

Kriteria yang cukup penting

: Skor 3

Kriteria yang kurang penting

: Skor 2

Kriteria yang tidak penting

: Skor 1

c. Bobot yang telah ditentukan pada masing-masing kriteria


dijumlahkan untuk mendapatkan nilai rata-ratanya sehingga
didapatkan bobot sebenarnya.
d. Menetapkan skor
Menetapkan skor permasalahan yang dihadapi atas dasar kriteria
yang telah ditentukan. Caranya dengan menjumlahkan skor dari
setiap kriteria, sehingga didapatkan skor total bagi setiap masalah
yang ada. Dari total inilah diperoleh urutan atau prioritas masalah
kesehatan

C. Macam-macam Pendekatan Dalam Pemecahan Masalah


Ada 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi
masalah kesehatan, yakni :
1. Identifikasi masalah kesehatan dilakukan dengan mengukur mortalitas,
morbiditas dan cacat yang timbul dari penyakit-penyakit yang ada dalam
masyarakat.
2. Pendekatan Pragmatis
Pada umumnya setiap orang ingin bebas dari rasa sakit dan rasa tidak
aman yang ditimbulkan penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran
pragmatis suatu masalah gangguan kesehatan adalah gambaran upaya
masyarakat untuk memperoleh pengobatan, misalnya jumlah orangyang
datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan.
3. Pendekatan Politis
Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan diukur atas dasar pendapat
orang-orang penting dalam suatu msyarakat (pemerintah atau tokoh-tokoh
masyarakat).

D. Metode Penentuan Prioritas Masalah


Penentuan prioritas masalah merupakan hal yang sangat penting,
setelah masalah-masalah kesehatan teridentifikasi. Cara memilih prioritas

10

masalah dibedakan atas dua yaitu secara Scoring dan Non Scoring. Kedua
cara tersebut pelaksanaannya berbeda-beda. Pemilihan kedua cara tersebut
berdasarkan ada tidaknya data yang tersedia, yaitu teknik skoring dan teknik
nonskoring.
1. Scoring Technique
Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan
score (nilai) untuk berbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan.
Parameter yang dimaksud adalah :
a.

Besarnya masalah atau prevalensi penyakit

b.

Berat ringannya akibat yang ditimbulkan.

c.

Kenaikan prevalensi masalah (rate of increase)

d.

Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut


(degree of unmeet need)

e.

Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut


terselesaikan (social benefit)

f.

Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah.

g.

Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk


mengatasi masalah (resources availibilily)

h.

Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical


feasibility)

Cara-cara tersebut terbagi menjadi beberapa metode, yaitu:


a. Metode Bryant
Cara ini telah dipergunakan di beberapa negara yaitu di Afrika
dan Thailand. Cara ini menggunakan 4 macam kriteria, yaitu :

Community Concern, yakni sejauh mana masyarakat menganggap


masalah tersebut penting.

Prevalensi, yakni berapa banyak penduduk yang terkena penyakit


tersebut

11

Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit


tersebut

Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk


mengatasinya.

Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi


scoring, kemudian masing-masing skor dikalikan. Hasil perkalian ini
dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Masalah-masalah
dengan skor tertinggi, akan mendapat prioritas yang tinggi
pula. Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang
ingin dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang
diberikan adalah satu sampai lima yang ditulis dari arah kiri ke kanan
untuk tiap masalah. Kemudian dengan penjumlahan dari arah atas ke
bawah untuk masing-masing masalah dihitung nilai skor akhirnya.
Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas
masalah. Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yaitu hasil yang
didapat dari setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit untuk
menentukan prioritas masalah yang akan diambil.
b. MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment Metode)
Metode MCUA digunakan apabila pelaksana belum terlalu
siap dalam penyediaan sumber daya, serta pelaksana program atau
kegiatan menginginkan masalah yang diselesaikan adalah masalah
yang ada di masyarakat. MCUA adalah suatu teknik atau metode yang
digunakan untuk membantu tim dalam mengambil keputusan atas
beberapa alternatif. Alternatif dapat berupa masalah pada langkah
penentuan prioritas masalah atau pemecahan masalah pada langkah
penetapan prioritas pemecahan masalah.
Pada metode ini parameter diletakkan pada baris dan harus ada
kesepakatan mengenai kriteria dan bobot yang akan digunakan.

12

Kriteria adalah batasan yang digunakan untuk menyaring alternatif


masalah sesuai kebutuhan.Metode ini memakai lima kriteria untuk
penilaian masalah tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot
penilaian dan dikalikan dengan penilaian masalah yang ada. Cara
untuk menentukan bobot dari masing-masing kriteria dengan diskusi,
argumentasi, dan justifikasi
Kriteria yang dipakai terdiri dari:

Emergency

:Kegawatan menimbulkan kesakitan atau

kematian.

c.

Greetes member

:Menimpa orang banyak, insiden/prevalensi.

Expanding scope

: Ruang lingkup besar di luar kesehatan

Feasibility

: Kemungkinan dapat/tidaknya dilakukan.

Policy

: Kebijakan pemerintah daerah/nasional.

Metode Matematik PAHO CENDES

(Pan American Health

Organization-Center for Development Studies


Cara ini dipergunakan di Amerika Latin. Kriteria yang dipakai adalah :
M = Magnitude of the problem yaitu besarnya masalah yang dapat dilihat
dari % atau jumlah/kelompok yang terkena masalah, keterlibatan
masyarakat serta kepentingan instansi terkait.
I=

Importancy atau kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas


dan mortalitas serta kecenderunagn dari waktu ke waktu.
Importancy terdiri dari :
Severity (S) : berat ringannya masalah tersebut terhadap masalah
kesehatan pada umumnya (semakin berat, nilai semakin
tinggi).
Rate of Increase (RI) : berat ringannya hambatan jika masalah tersebut
tidak segera ditangani (semakin berat hambatan,
nilai semakin tinggi).

13

Public Concern (Pco) : banyak sedikitnya masalah tersebut menjadi


perhatian

masyarakat

(semakin

menjadi

perhatian, nilai semakin tinggi)


Political Climate (PC) : banyak sedikitnya perhatian politik terhadap
masalah tersebut (semakin menjadi perhatian
politik, nilai semakin tinggi)
Social Benefit (SB) : banyak sedikitnya masalah tersebut memberikan
manfaat sosial jika ditangani (semakin banyak
memberi manfaat sosial, nilai semakin tinggi)
V = Vulnerability yaitu sensitif atau tidaknya pemecahan masalah dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sensitifitas dapat diketahui dari
perkiraan hasil

(output)

yang diperoleh

dibandingkan dengan

pengorbanan (input) yang dipergunakan.


C = Cost yaitu biaya atau dana yang dipergunakan untuk melaksanakan
pemecahan masalah. Semakin besar biaya semakin kecil skornya.
Hubungan keempat kriteria dalam menentukan prioritas masalah (P), yaitu:
P =

M . I .V.C

Parameter diletakkan pada baris atas dan masalah-masalah yang ingin


dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Pengisian dilakukan dari satu
parameter ke parameter yang lain. Hasilnya didapat dari perkalian parameter
tersebut. Penentuan skor untuk setiap masalah dilakukan oleh expert.
Langkah PAHO:
1) Tulis atau daftarlah masalah yang didapat dari kegiatan analisis situasi.
2) Tentukan expert yang akan dilibatkan dalam penyusunan prioritas
3) Tentukan skor yang akan dipergunakan dalam penentuan prioritas 1
sampai dengan 10
4) Pemberian skor oleh expert untuk setiap masalah berdasarkan 4 kriteria
PAHO. (Pemberian skor sebaiknya membandingkan antar masalah dengan
kriteria yang sama)

14

5) Kalikan skor setiap kriteria pada tiap masalah


6) Tentukan prioritas berdasarkan urutan hasil perkalian. Hasil yang paling
besar merupakan prioritas.

Contoh Tabel :
I
NO MASALAH

RI PCo PCl SB

Nilai

45

11

25

Masalah 1
3
3

Masalah 2
2

1
2

Masalah 2

d. Metode Hanlon
Metode ini memberikan cara untuk membandingkan berbagai masalah
kesehatan dengan cara yang relatif, tidak absolut/mutlak, memiliki kerangka,
sederajat, dan objektif. Dalam buku Public Health: Administration and
Practice (Hanlon and Pickett, Times Mirror/Mosby College Publishing) dan
Basic Health Planning (Spiegel and Hyman, Aspen Publishers), metode
Hanlon memiliki tiga tujuan utama:

15

1. Memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi


faktor-faktor eksplisit yang harus diperhatikan dalam menentukan
prioritas
2. Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok yang memiliki
bobot relatif satu sama lain
3. Memungkinkan faktor-faktor agar dapat dimodifikasi sesuai dengan
kebutuhan dan dinilai secara individual.
Proses penentuan kriteria diawali dengan pembentukan kelompok
yang akan mendiskusikan, merumuskan dan menetapkan kriteria. Sumber
informasi yang dipergunakan dapat berasal dari :
1. Pengetahuan dan pengalaman individual para anggota
2. Saran dan pendapat nara sumber
3. Peraturan pemerintah yang relevan
4. Hasil rumusan analisa keadaan dan masalah kesehatan.
Langkah selanjutnya adalah :
1. Menginventarisir kriteria
2. Menginventalisir dan mengevaluasi kriteria
Metode Hanlon

hampir sama dengan metode MCUA, dilakukan

dengan memberikan skor atas serangkaian kriteria A, B, C dan D (PEARL).


1. Kelompok kriteria A = besarnya masalah
Komponen ini adalah salah satu faktornya memiliki angka yang
kecil. Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara
langsung terkena dampak dari masalah tersebut yakni insiden, prevalensi,
atau tingkat kematian dan angka.
Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih
dari satu cara. Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi
yang berpotensi atau berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu,
penyakit penyakit dengan faktor risiko pada umumnya yang mengarah
pada solusi bersama atau yang sama dapat dipertimbangkan secara
bersama-sama. Misalnya, jika kanker yang berhubungan dengan

16

tembakau dijadikan pertimbangan maka kanker paru-paru, kerongkongan,


dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat lebih
banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular
mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen ini
adalah 10. Keputusan untuk menentukan berapa ukuran atau besarnya
masalah biasanya merupakan konsensus kelompok.
2. Kelompok kriteria B = tingkat kegawatan masalah
Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin
dan menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian,
angka dari faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas.
Kelompok harus berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau
dapat dicegahnya suatu masalah ke dalam diskusi, karena kedua hal
tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang lain. Maksimum skor
pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus dipertimbangkan
bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Dengan menggunakan nomor ini
(20), keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan ukuran atau
besarnya masalah.
Faktor yang dapat digunakan adalah:
a. Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi, tingkat
kematian, atau faktor risiko; kepentingan relatif terhadap masayarakat;
akses terkini kepada pelayanan yang diperlukan.Tingkat keparahan:
tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia kematian, kecacatan/disabilitas,
angka kematian prematur relatif
b. Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota /daerah / Negara) dan untuk
masing-masing individu.

Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh,


bila menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau
kombinasi manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20.
Menentukan apa yang akan dipertimbangkan sebagai minimum dan

17

maksimum dalam setiap faktor biasanya akan menjadi sangat membantu.


Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-batas untuk menjaga
beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik. Salah satu
cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan menggunakannya
sebagai skala :
0=tidak ada
1=beberapa
2=lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3=paling

3. Kelompok kriteria C = kemudahan penanggulangan masalah


Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkah masalah
ini dapat diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angka
dari 0 10 (sulit mudah). Komponen ini mungkin merupakan
komponen formula yang paling subyektif. Terdapat sejumlah besar data
yang tersedia dari penelitian-penelitian yang mendokumentasikan sejauh
mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama ini. Efektivitas
penilaian yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang diketahui
dari literatur dikalikan dengan persen dari target populasi yang
diharapkan dapat tercapai. Contoh:
Berhenti Merokok :

Target populasi 45.000 perokok

Total yang mencoba untuk berhenti 13.500

Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32

Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1


Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target

dan jumlah yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yang


realistis mengenai sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang
diharapkan untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan.

18

4. Kelompok kriteria D = Pearl faktor


Yang berarti P = Kesesuaian, E = Secara ekonomi murah, A =
dapat diterima, R = Tersedianya sumber, L = Legalitas terjamin. Pearl
adalah suatu kelompok faktor yang walaupun tidak secara langsung
berkaitan dengan masalah kesehatan namun memiliki pengaruh yang
tinggi dalam menentukan apakah masalah tertentu dapat diatasi.
o P - Propriety
Suatu masalah yang masuk dalam ranah misi agensi keseluruhan.
o E - Economic Feasibility
Apakah mengatasi suatu masalah masuk akal secara ekonomi?
apakah ada konsekuensi ekonomis jika masalah tidak diatasi?
o A Acceptability
Apakah masyakarat dan/atau target populasi akan menerima bahwa
masalah tersebut ditangani?
o R Resources
Apakah tersedia sumber daya untuk mengatasi/menangani masalah
tersebut
o L Legality
Apakah hukum yang berlaku saat ini mengijinkan masalah tersebut
ditangani.

Komponen-komponen ini diterjemahkan kedalam dua formula


(rumus) yang memberikan nilai numerical yang memberikan prioritas
utama bagi penyakit/kondisi dengan nilai tertinggi.
Basic Priority Rating atau Nilai Dasar Prioritas: (BPR) > BPR =
(A+B) C/3
Overall Priority Rating atau Nilai Prioritas Keseluruhan (OPR) >
OPR = [(A+B)C/3] x D
Perbedaan dari dua rumus akan semakin jelas saat Komponen D
(PEARL) dideskripsikan. Masing-masing faktor ini dipertimbangkan,

19

dan penilaian untuk masing masing faktor PEARL adalah 1 untuk setiap
jawaban iya dan 0 jika jawabannya tidak.
Saat

penilaian

lengkap,

seluruh

angka

dikalikan

untuk

mendapatkan jawaban final. Karena seluruh faktor ini mewakili suatu


produk dan bukan jumlah maka jika salah satu dari lima faktor tersebut
jawabannya tidak, maka D sama dengan 0. Karena D adalah pengali
final dalam rumus, jika D=0, maka masalah kesehatan tidak akan teratasi
dalam OPR, walaupun masalah tersebut memiliki ranking yang tinggi
dalam BPR.

e.

Metode CARL (Capability, Accesability, Readiness & Leverage)


Metode CARL merupakan suatu teknik yang digunakan untuk
menentukan prioritas masalah jika data yang tersedia adalah data kualitatif.
Metode ini dilakukan dengan menentukan skor atas kriteria tertentu, seperti
kemampuan (capability), kemudahan (accessibility), kesiapan (readiness),
serta daya ungkit (leverage). Semakin besar skor semakin besar masalahnya,
sehingga semakin tinggi letaknya pada urutan prioritas. Penggunaan metode
CARL untuk menetapkan prioritas masalah dilakukan apabila pengelola
program menghadapi hambatan keterbatasan dalam menyelesaikan masalah.
Penggunaan metode ini menekankan pada kemampuan pengelola program.
Metode CARL (Capability, Accesibility, Readness, Leverage) dengan
menggunakan skore nilai 1 5.
Kriteria CARL tersebut mempunyai arti :
C:

Ketersediaan Sumber Daya (dana dan sarana/peralatan)

A:

Kemudahan, masalah yang ada diatasi atau tidak Kemudahan dapat


didasarkan

pada

ketersediaan

metode/cara/teknologi

serta

penunjang pelaksanaan seperti peraturan atau juklak.


R:

Kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran seperti


keahlian/kemampuan dan motivasi

L:

Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam
pemecahan yang dibahas.

20

Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L, urutan ranking atau


prioritas adalah nilai tertinggi sampai nilai terendah.
Contoh Tabel :
NO MASALAH

NILAI

RANK

Masalah 1

12

Masalah 2

36

Masalah 3

Masalah 4

12

Masalah 5

24

Masalah 6

16

Masalah 7

45

Metode CARL digunakan apabila pelaksana program masih mempunyai


keterbatasan (belum siap) dalam menyelesaikan masalah. Penggunaan metode ini
menekankan pada kemampuan pelaksana program.

Langkah-langkah Metode CARL :


Persiapan yang perlu dilakukan antara lain :
1.

Persiapan Gugus Tugas


Susunan petugas :
a. Pimpinan CARL
b. Petugas pencatat pada flipchart
c. Petugas skoring dan ranking

21

2.

Persiapan Ruang Pertemuan

3.

Persiapan Sarana atau Peralatan


a. Peserta CARL
b. Data
c. Proses Dinamika Kelompok

Langkah inti pelaksanaan CARL :


1. Pemberian skor pada masing-masing masalah dan perhitungan hasilnya
a.

Tulis atau daftarlah masalah yang didapat dari kegiatan analisis


situasi.

b.

Tentukan skor atau nilai yang akan diberikan pada tiap masalah
berdasarkan kesepakatan bersama
Misal : telah disepakati bersama skor atau nilai yang diberikan adalah
1-5, dengan ketentuan sebagai berikut :
Nilai 1 = sangat tidak menjadi masalah
Nilai 2 = tidak menjadi masalah
Nilai 3 = cukup menjadi masalah
Nilai 4 = sangat menjadi masalah
Nilai 5 = sangat menjadi masalah (mutlak)

c.

Berikan skor atau nilai untuk setiap alternatif masalah berdasarkan


kriteria CARL (Capability atau kemampuan, Accessability atau
Kemudahan, Readiness atau kesiapan, Leverage atau Daya Ungkit)

Contoh tampilan :

No.

Masalah

Skor

Hasil

Ranking

C A R L CxAxRxL
1 Mutu pelayanan BP rendah

4 5 4 5

400

2 Perilaku PHBS rendah

3 3 3 3

81

3 Perhatian keluarga pada bumil rendah 4 4 3 3

144

22

2.

Menentukan prioritas berdasarkan hasil rangking. Urutkan masalah menurut


prioritasnya, berdasarkan hasil yang telah diperoleh pada langkah b.
Misal : dari contoh tampilan pada langkah b, maka prioritas masalahnya
adalah sebagai berikut :
a. Rendahnya mutu pelayanan BP
b. Perhatian keluarga pada bumil rendah
c. Perilaku PHBS rendah

Kelebihan Penggunaan Metode CARL


Dengan masalah yang relatif banyak, bisa ditentukan peringkat atas
masing-masing masalah sehingga bisa diperoleh prioritas masalahnya.

Kekurangan Penggunaan Metode CARL


1.

Penentuan skor sangat subyektif, sehingga sulit untuk distandarisasi

2.

Penilaian atas masing-masing kriteria terhadap masalah yang diskor


perlu kesepakatan agar diperoleh hasil yang maksimal dalam penentuan
peringkat (prioritas)

3.

Objektifitas

hasil

peringkat

masalah

kurang

bisa

dipertanggungjawabkan karena penentuan skor atas kriteria yang ada


bersifat subyektif.

f. Metode Teknik Multi-voting


Teknik multi-voting biasanya digunakan jika terdapat banyak masalah
kesehatan atau masalah tersebut harus dipersempit menjadi beberapa masalah
saja. Hasil dari cara multi-voting adalah cukup menarik karena proses ini
memungkinkan masalah kesehatan yang mungkin tidak menjadi prioritas
utama dari setiap individu, tetapi disukai oleh semua, untuk naik ke atas.
Sebaliknya teknik straight voting akan menutupi popularitas dari tipe masalah
kesehatannya sehingga membuatnya menjadi lebih sulit untuk mencapai
consensus.

23

Langkah-langkah dalam melaksanakan multi voting


1. Putaran suara pertama
Setelah daftar masalah kesehatan ditetapkan, setiap peserta
memberikan suara terhadap prioritas utama mreka masing masing.
Pada putaran ini mereka boleh memilih sebanyak yang mereka mau atau
tergantung pada jumlah item yang ada dalam daftar, jumlah maksimum
suara yang boleh diberikan oleh setiap peserta dapat ditentukan
2. Memperbaharui daftar
Masalah kesehatan dengan jumlah suara sama dengan separuh
dari jumlah peserta yang memberikan voting akan tetap dipertahankan
dalam daftar tersebut, dan semua masalah kesehatan lain yang di
eliminasi.
3. Putaran suara ke dua
Setiap peserta memberikan suara terhadap apa yang paling
mereka prioritaskan pada tahap ini, peserta voting boleh memberikan
suara dengan jumlah yang sama dengan separuh dari masalah kesehatan
yang ada dalam daftar masalah. (misalnya jika sepuluh masalh tetap
pada daftar, setiap peserta dapat melemparkan lima suara).
4. Pengulangan
Langkah ketiga tersebut tetap diulang sampai prioritas masalah
menjadi lebih sempit dan disesuaikan dengan jumlah yang diinginkan
Berikut contoh konsep multi-voting :

24

Warna merah menandakan tahap pertama yaitu eliminasi, warna hijau


menandakan tahap eliminasi ke dua, sedangkan warna biru menunjukkan
tahap eliminasi pertama, daftar masalah yang mendapat suara terbanyak
mendapatkan prioritas ataupun posisi utama sebagai masalah yang paling
penting dan harus diselesaikan.

g. Metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth)


Metode USG merupakan salah satu cara menetapkan urutan prioritas
masalah dengan metode teknik scoring. Proses untuk metode USG
dilaksanakan dengan memperhatikan urgensi dari masalah, keseriusan
masalah yang dihadapi, serta kemungkinan bekembangnya masalah tersebut
semakin besar. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Urgensy atau urgensi, yaitu dilihat dari tersedianya waktu, mendesak atau
tidak masalah tersebut diselesaikan.
2. Seriousness atau tingkat keseriusan dari masalah, yakni dengan melihat
dampak masalah tersebut terhadap produktifitas kerja, pengaruh terhadap
keberhasilan, membahayakan system atau tidak.
3. Growth atau tingkat perkembangan masalah yakni apakah masalah
tersebut berkembang sedemikian rupa sehingga sulit untuk dicegah.
Penggunaan metode USG dalam penentuan prioriotas masalah
dilaksanakan apabila pihak perencana telah siap mengatasi masalah yang ada,
serta hal yang sangat dipentingkan adalah aspek yang ada dimasyarakat dan
aspek dari masalah itu sendiri.

Langkah-langkah USG:
1. Persiapan
Dalam melaksanakan penentuan prioritas masalah dengan metode
USG persiapan yang perlu dilakukan antara lain :
a) Persiapan gugus tugas
Pembagian pekerjaan atau gugus tugas perlu dilaksanakan
sebelum pertemuan dimulai, dimana ditentukan siapa yang akan

25

menjadi pimpinan proses USG, siapa yang melakukan tugas sebagai


notulis, dan orang yang menulis di flipchart, siapa yang melakukan
scoring dan menghitung hasilnya untuk menetukan ranking, serta siapa
yang membacakan hasilnya.
Susunan petugas untuk metode teknik scoring dengan metode USG,
yakni sebagai berikut :

Pimpinan USG

Petugas pencatat flipchart

Petugas scoring dan ranking

Personil yang bertugas sebagai notulis

b) Persiapan ruang pertemuan


Ruang

pertemuan

yang

akan

digunakan

sebaiknya

menggunakan ruangan yang cukup luas dan nyaman. Meja dan tempat
duduk diatur setengah lingkaran atau seperti huruf U yang terbuka
ujungnya atau meja bundar (Round table), dimana pada ujung meja
yang terbuka ditempatkan flipchart atau papan tulis atau white board.

c) Persiapan peralatan atau sarana


Sarana atau peralatan yang diperlukan dalam proses kegiatan ini
adalah:

Daftar hadir

Kertas flipchart, papan tulis atau whiteboard lengkap dengan alat


tulisnya.

Alat tulis dimasing-masing meja.

Kalkulator.

d) Peserta
Sebelum melakukan pemilihan atau seleksi untuk peserta,
beberapa hal yang perlu dijelaskan oleh pimpinan atau yang akan
memimpin pelaksanaan metode USG, yaitu

26

Peserta yang akan bergabung dalam kelompok USG, adalah


karena kemampuan mereka untuk melakukan analisis dan
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Menekankan pentingnya tugas kelompok.

Menekankan pentingnya sumbangan pikiran setiap peserta.

Memberikan petunjuk kegunaan hasil pertemuan.

Memberikan sambutan yang bersifat hangat dan ramah,


selanjutnya tentukan siapa yang akan diundang atau dilibatkan
dalam pertemuan untuk melakukan proses metode USG.

Jumlah peserta berkisar antara 7-10 peserta.

e) Data yang Dibutuhkan


Data atau informasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
metode USG, yakni sebagai berikut:

Hasil analisa situasi

Informasi tentang sumber daya yang dimiliki

Dokumen-dokumen tentang perundang-undangan, peraturan,


serta kebijakan pemerintah yang berlaku.

Proses Dinamika Kelompok


Sebelum memasuki proses atau langkah inti pada pelaksanaan metode
USG, pimpinan kelompok metode USG memberikan sambutan dalam bentuk
kata pengantar, yang berisi:
a) Ucapan selamat datang pada peserta USG
b) Penjelasan tentang teknik scoring, proses, terutama menyangkut jalannya
proses, dengan menekankan pada pentingnya untuk menciptakan suasana
kerjasama, saling pengertian dan kesatuan pandangan dari setip peserata
dalam melaksanakan setiap tahapan proses.
c) Tujuan pertemuan diadakan, yakni berorientasi pada masalah dan
pemecahan masalah.

27

Langkah inti pelaksanaan USG :


1. Penyusunan daftar masalah
a. Setiap peserta pertemuan diminta mengemukakan masalah bagian yang
diwakilinya
b. Pimpinan USG menginstruksikan kepada petugas pencatat

untuk

mencatat setiap masalah yang dikemukakan di lembar flipchart atau


papan tulis atau white board

2. Klarifikasi masalah
a. Lakukan klarifikasi masalah yang telah diidentifikasi dalam rangka
menentukan prioritas masalah
b.Setiap anggota dimintai penjelasan (klarifikasi) maksud dari masalah
yang dikemukakannya.
c. Setelah diklarifikasi, maka tulis masalah hasil dari klarifikasi tersebut
3. Membandingkan antar masalah
a. Bandingkan masalah yang diperoleh, sebagai contoh

masalah A

sampai E menurut kriteria Urgensi (Urgency), Keseriusan (Seriousness)


dan Kemungkinan Berkembangnya Masalah (Growth)
b. Tulis frekuensi kemunculan tiap masalah setelah diperbandingkan,
frekuensi ini dianggap sebagai nilai atau skor masalah. Kemudian

28

jumlahkan skor yang diperoleh tiap masalah berdasarkan kriteria


Urgency, Seriousness dan Growth
Lembar Flipchart

29

4. Penyusunan prioritas masalah


Menyusun prioritas masalah berdasarkan hasil langkah 3. Misalnya
: Dari hasil langkah 3 pada contoh, maka dapat disusun prioritas masalah
dengan urutan sebagai berikut :
a. Masalah B
b. Masalah A
c. Masalah E
d. Masalah D
e. Masalah C

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Metode USG:


1.

Kelebihan
a. Merupakan pandangan orang banyak dengan kemampuan sama
sehingga dapat dipertanggung-jawabkan.
b. Diyakini bahwa hasil prioritas dapat memberikan hasil yang obyektif.
c. Identifikasi dapat dilanjutkan, terutama untuk penyelesaian dalam
bentuk penyelasaian dengan pengelolaan manajemen atau tidak.

2. Kekurangan
a.

Dengan metode USG lebih banyak berdasar asumsi dengan suatu


keterbatasan tertentu yang melemahkan eksistensi permasalahan.

b.

Jika asumsi yang disepakati lebih banyak dengan keterbatasan,


maka hasilnya akan bersifat lebih subyektif.

30

2.

Non Scoring Technique


Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai
parameter, dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Bila tidak tersedia
data, maka cara menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah
dengan menggunakan non scoring technique, metode-metodenya terdiri atas
:
a.

Metode Delbeque
Metode Delbeque adalah metode dimana penetapan prioritas
masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang tidak
sama keahliannya. Oleh karena itu diperlukan penjelasan terlebih
dahulu untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman peserta tanpa
mempengaruhi peserta, sehingga mereka mempunyai persepsi yang
sama terhadap masalah-masalah yang akan dibahas. Lalu diminta untuk
mengemukakan beberapa masalah. Masalah yang banyak dikemukakan
adalah prioritas masalah.
Adapun caranya adalah sebagai berikut:
1) Peringkat masalah ditentukan oleh sekelompok ahli yang
berjumlah antara 6 sampai 8 orang.
2) Mula-mula dituliskan pada white board masalah apa yang akan
ditentukan peringkat prioritasnya.
3) Kemudian masing-masing orang tersebut menuliskan peringkat
atau urutan prioritas untuk setiap masalah yang akan ditentukan
prioritasnya.
4) Penulisan tersebut dilakukan secara tertutup.
5) Kemudian kertas dari masing-masing orang dikumpulkan dan
hasilnya dituliskan di belakang setiap masalah.
6) Nilai peringkat untuk setiap masalah dijumlahkan, jumlah paling
kecil berarti mendapat peringkat tinggi (prioritas tinggi). Delbeque
menyarankan dilakukan satu kali lagi pemberian peringkat
tersebut,

dengan

harapan

masing-masing

orang

akan

memertimbangkan kembali peringkat yang diberikannya setelah

31

mengetahui nilai rata-rata;Tidak ada diskusi dalam teknik ini,


yaitu untuk menghindari orang yang dominan memengaruhi orang
lain.
Cara ini mempunyai beberapa kelemahan dan kelebihan yaitu:
a) Menentukan siapa yang seharusnya ikut dalam menentukan
peringkat prioritas tersebut,
b) Penentuan peringkat bisa sangat subyektif,
c) Cara ini lebih bertujuan mencapai konsensus dari interest yang
berbeda dan tidak untuk menentukan prioritas atas dasar fakta.
Kelebihan cara ini adalah mudah dan dapat dilakukan dengan cepat,
penilaian prioritas secara tertutup dilakukan untuk memberikan
kebebasan kepada masing-masing anggota diskusi tanpa terpengaruh
oleh hirarki hubungan yang ada.

b. Metode Delphi
Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Rand Corporation
pada tahun 1950an. Pada metode delphi, penetapan prioritas masalah
tersebut dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang sama
keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan
khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk
mengemukakan beberapa masalah pokok, masalah yang paling banyak
dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari. Dimana pada
metode ini, sekelompok pakar atau orang yang dianggap memahami
permasalahan mengisi kuesioner, moderator menyimpulkan hasilnya
dan memformulasikan menjadi suatu kuesioner baru yang diisi kembali
oleh kelompok tersebut, demikian seterusnya. Hal ini merupakan proses
pembelajaran (learning process) dari kelompok tanpa adanya tekanan
atau intimidasi individu. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui
pertemuan khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan
untuk mengemukakan beberapa masalah pokok, masalah yang paling

32

banyak dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari. Adapun


caranya adalah sebagai berikut:
a) Identifikasi masalah yg hendak/perlu diselesaikan;
b) Membuat kuesioner dan menetapkan peserta/para ahli yg dianggap
mengetahui dan menguasai permasalahan;
c) Kuesioner dikirim kepada para ahli, kemudian menerima kembali
jawaban kuesioner yang berisikan ide dan alternatif solusi
penyelesaian masalah;
d) Pembentukan tim khusus untuk merangkum seluruh respon yang
muncul dan mengirim kembali hasil rangkuman kepada partisipan;
e) Partisipan menelaah ulang hasil rangkuman, menetapkan skala
prioritas/memeringkat alternatif solusi yang dianggap terbaik dan
mengembalikan

kepada

pemimpin

kelompok/pembuatan

keputusan.
Kelemahan cara ini adalah waktunya yang relatif lebih lama
dibandingkan dengan metode

Delbeque serta memungkinkan

pakar/anggota diskusi yang dominan akan mempenguruhi anggota


yang tidak dominan,
Kelebihan metode ini adalah kemungkinan telaah yang
mendalam oleh masing-masing anggota diskusi yang terlibat.
c. Metode Estimasi Beban Kerugian
Metode ini memerlukan data dan perhitungan hari produktif
yang hilang yang disebabkan oleh masing-masing masalah/penyakit.
Sejauh ini metode ini belum pernah dilakukan di tingkat kabupaten,
untuk di tingkat nasional baru Badan Litbangkes yang mencoba
menghitung beberapa DALY (disability adjusted life year) yang
ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit yang ada di Indonesia.
Pada tingkat global, Bank Dunia telah menghitung waktu
produktif yang hilang (disease burden) yang disebut DALY yang
diakibatkan oleh berbagai macam penyakit. Atas dasar perhitungan

33

tersebut, Bank Dunia menyarankan dalam program kesehatan,


prioritas diberikan kepada pelayanan kesehatan yang essensial yang
terdiri dari :
a. KIA dan pertolongan persalinan
b. KB
c. Manajemen kesehatan pada anak
d. TBC
e. Pemberantasan STDs (Sexual Transmitted Diseases)
Menurut peneliti dalam menentukan prioritas
digunakan

metode

estimasi

beban

masalah di atas

kerugian

dengan

cara

menghitung waktu produktif yang hilang (DALY).


Metode ini membutuhkan perhitungan yang canggih dan sulit
karena memerlukan data dan perhitungan hari produktif yang
hilang yang disebabkan oleh masing-masing masalah.

d. Metode NGT (Nominal Group Technique)


NGT merupakan variasi terstruktur dari kelompok diskusi kecil
untuk mencapai konsensus. NGT mengumpulkan informasi dengan cara
menanyakan secara individual kepada partisipan untuk memberi respon
mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan moderator, kemudian
menanyakan partisipan untuk memprioritaskan ide atau saran-saran dari
seluruh anggota kelompok. Proses ini menyemangati seluruh anggota
kelompok untuk berpartisipasi, mencegah adanya dominasi oleh satu
orang, dan menghasilkan kesatuan solusi prioritas atau rekomendasi
yang mencerminkan hasil pilihan kelompok tersebut.9
Teknik ini merupakan metode pengambilan keputusan yang
digunakan oleh berbagai macam ukuran kelompok yang ingin
mengambil keputusan dengan cepat, seperti dengan vote, tapi ingin
melibatkan/mempertimbangkan seluruh opini anggota (berbeda dengan
cara voting yang lama, dimana hanya kelompok terbesar saja yang
dipertimbangkan). Perbedaannya ada pada metode penjumlahan,

34

pertama tiap anggota kelompok memberikan pandangan untuk solusi


dengan penjelasan singkat. Kemudian, duplikasi solusi dihilangkan dari
daftar seluruh solusi dan anggota kelompok melanjutkan merangking
solusi tersebut. Jumlah masing-masing solusi yang diterima kemudian
ditotal dan solusi dengan rangking total terendah (most favored/paling
disukai) dipilih sebagai keputusan akhir.
Terdapat beberapa variasi dalam penggunaan teknik ini.
Misalnya, teknik ini dapat mengidentifikasi kekuatan vs area yang
dibutuhkan untuk pengembangan dari pada hanya digunakan sebagai
alternatif voting untuk pengambilan keputusan. Selain itu, pilihan
tidak selalu harus di rangking tapi dapat dievaluasi lebih lanjut.
Efek NGT
NGT telah terbukti meningkatkan satu atau lebih dimensi
efektifitas dari pengambilan keputusan kelompok. Mengharuskan
individu untuk menuliskan ide-idenya secara tenang/diam dan
independen sebelum diskusi kelompok menambah solusi yang didapat
kelompok. Round-robin polling juga menghasilkan input dalam
jumlah besar dan mendorong partisipasi yang sama. Peningkatan
jumlah input yang heterogen mengarah pada pengambilan keputusan
dengan mutu tinggi. Dibandingkan dengan kelompok interaktif,
kelompok NGT lebih memberikan ide-ide yang unik, partisipasi yang
lebih seimbang daftar anggota kelompok, meningkatkan perasaan
pencapaian, dan kepuasan yang lebih besar dengan ide yang bermutu
dan efisiensi kelompok.
Kapan menggunakan NGT
a) Saat sebagian anggota kelompok lebih vokal dibandingkan
lainnya
b) Pada saat beberapa anggota kelompok merasa bahwa diam lebih
baik
c) Jika mengkhawatirkan bahwa beberapa anggota kelompok tidak
berpartisipasi.

35

d) Saat kelompok susah mendapatkan sejumlah ide


e) Saat seluruh atau sebagian anggota kelompok merupakan
anggota baru dalam kelompok
f) Saat isu yang dibahas kontrovesi atau terjadi konflik yang
memanas
Penggunaan Nominal Group Technique (NGT)
NGT merupakan sebuah metode yang sangat baik untuk
mendapatkan kesepakatan grup, sebagai contoh, kelompok orang (staf
program, anggota komunitas, dll) yang terlibat dalam pembangunan model
logis dan daftar hasil dari komponen khusus tersebut terlalu banyak dan
harus diprioritaskan. Pada kaus ini, pertanyaan yang seharusnya diajukan
adalah Hasil dari daftar ini yang manakah yang harus diprioritaskan
untuk mencapai tujuan dan mudah diukur? Yang mana dari daftar hasil
tersebut yang tidak terlalu penting dan lebih susah?
Prosedur Standar NGT biasanya melibatkan lima tahapan:
1) Perkenalan dan penjelasan.
2) Pengumpulan ide dengan diam/tenang: Fase ini berlangsung kira-kira
10 menit.
3) Membagi-bagi ide (sharing idea): fasilitator mengajak partisipan
untuk membagi ide-ide yang telah mereka tulis. Tidak ada debat
dalam tahapan ini dan partisipan didorong untuk menuliskan ide baru
apapun yang muncul. Proses ini memastikan bahwa seluruh
partisipan mendapatkan kesempatan yang sama dalam memberikan
kontribusi dan menghasilkan catatan seluruh ide yang didapat dari
kelompok. Tahapan ini berlangsung antara 15-30 menit.
4) Diskusi kelompok: partisipan diundang untuk mencari penjelasan
verbal atau detail lebih lanjut atas ide apapun yang diberikan oleh
koleganya yang mungkin tidak begitu jelas bagi mereka. Sangat
penting untuk diingat bahwa proses ini harus netral dan menghindari
penilaian dan kritik. Tahap ini berlangsung 30-45 menit.

36

5) Voting dan Ranking: memprioritaskan ide yang tercatat yang relevan


dengan pertanyaan. Setelah proses voting dan rangking, hasil cepat
atas respon pertanyaan tersedia bagi partisipan sehingga pertemuan
disimpulkan telah mencapai outcome spesifik.
Keunggulan dan kelemahan NGT
Salah satu keunggulan NGT adalah bahwa teknik ini menghindari
terjadinya dua masalah yang disebabkan oleh interaksi kelompok.
Pertama, beberapa anggota tidak ingin memberikan ide karena mereka
khawatir di kritik. Kedua, beberapa anggota tidak ingin menciptakan
konflik dalam kelompok (banyak orang ingin tepat mempertahankan iklim
yang kondusif). NGT dapat mengatasi masalah ini. NGT memiliki
keunggulan yang jelas dalam meminimalkan perbedaan dan memastikan
partisipasi yang seimbang. Dan teknik ini, dalam berbagai macam kasus
menjadi teknik yang hemat waktu. Keunggulan lain adalah dengan teknik
(penutup/tidak mengambang) yang sering kali tidak ditemukan dalam
metode kelompok yang lebih tidak terstruktur.
Kelemahan utama metode ini adalah kurang fleksibel karena
metode ini hanya dapat mengatasi masalah satu persatu. Selain itu, harus
mencapai jumlah keseragaman (conformity) tertentu. Setiap orang harus
merasa nyaman dengan jumlah struktur yang terlibat. Kelemahan lainnya
adalah waktu yang diperlukan dalam menyiapkan aktivitas ini. Tidak ada
spontanitas terlibat dalam metode ini. Fasilitas harus diatur dan
direncanakan dengan hati-hati. Opini bisa saja tidak menyatu dalam proses
voting, fertilisasi silang, ide-ide dapat terhambat dan proses menjadi
terlalu mekanis.
Kerugian NGT

Memerlukan persiapan

Ditujukan untuk satu tujuan dan satu topik saja dalam satu pertemuan

Diskusi lebih sedikit dan tidak ditujukan untuk mengembangkan ide,


dan merupakan metode yang paling tidak menstimulasi proses dalam
grup tersebut dibandingkan teknik lain.

37

Keuntungan NGT

Mendapatkan banyak jumlah ide dibandingkan diskusi grup biasa

Menyeimbangkan

pengaruh

masing-masing

anggota

sehingga

membatasi seseorang untuk mendominasi

Menghilangkan kompetisi dan tekanan di dalam grup

Membuat para anggota menentukan prioritas utamanya secara


demokrasi

Persiapan NGT
a) Ruang pertemuan
Pesiapkan sebuah ruangan yang cukup luas yang dapat menampung
lima sampai sembilan orang. Susun meja sehingga membentuk huruf
U, dengan flip chart si ujungnya.
b) Peralatan
Masing-masing meja dengan susunan berbentuk U memerlukan flip
chart, sebuah spidol yang bermata besar, selotip, kertas, pensil, dan
kartu indeks berukuran 3x5 inchi bagi masing-masing partisipan.
c) Kalimat Pembuka
Kalimat ini memperkenalkan masing-masing peran anggota dan
tujuan dari grup tersebut, dan harus mencakup salam pembuka yang
hangat, kepentingan tugas, dan menyebutkan pentingnya kontribusi
dari masing-masing anggota, dan bagaimana hasil dari grup tersebut
akan digunakan.

Proses dalam Melakukan NGT


a) Mengumpulkan ide
Moderator mengajukan pertanyaan atau suatu masalah ynag telah
tertulis pada suatu format dan membacakannya pada peserta kelompok.
Moderator menginstruksikan pada semua peserta agar menuliskan
pendapatnya pada kalimat singkat secara bebas dan dengan tenang.

38

b) Mencatat ide
Seluruh anggota kelompok terlibat dalam sesi umpan balik untuk
mendengarkan masing-masing ide (tanpa berdebat mengenai pendapat
tersebut). Moderator menuliskan ide setiap anggota kelompoknya pada
flip chart yang dapat dilihat semua anggota kelompok. Ide yang sudah
tertulis sebelumnya tidak perlu dituliskan lagi namun apabila anggota
kelompok tersebut meyakinkan bahwa ide tersebut memiliki
penekanan lain atau variasi maka boleh dimasukkan. Langkah ini terus
dilanjutkan hingga semua ide dicatat.

c) Mendiskusikan ide
Setiap ide yang telah dicatat kemudian didiskusikan untuk
menentukan kejelasan dan kepentingannya. Untuk masing-masing
ide, moderator menanyakan Apakah ada pertanyaan atau komentar?
Langkah

ini

memberikan

kesempatan

bagi

anggota

untuk

memperlihatkan pengertian mengenai logis dan relatif pentingnya ide


tersebut. Pembuat ide tidak harus merasa wajib untuk menjelaskan
ide tersebut, siapapun yang dapat membantu menjelaskannya dapat
melakukan itu.

d) Memilih ide
Setiap

anggota

secara

individual

memberi

suara

untuk

memprioritaskan ide. Pengambilan suara dilakukan untuk mengetahui


ide yang memiliki rate tertinggi yang dipilih oleh kelompok secara
kesatuan. Moderator memberitahukan kriteria apa yang digunakan
untuk menentukan prioritas. Pada awalnya masing-masing anggota
memilih lima hal yang paling penting dari daftar dan menuliskan satu
ide pada masing-masing kartu index. Setelah itu setiap anggota
mengurutkan lima ide yang telah dipilih, yang paling penting
mendapat 5 bintang dan yang berada di urutan terakhir 1 bintang.

39

e. Metode Strategi Grids


Strategi Grids
Strategi grids memfasilitasi instansi untuk lebih fokus dengan
memberikan penekanan terhadap masalah yang akan memberikan hasil
terbaik. Alat ini sangan berguna ketika lembaga-lembaga dimana
lembaga tersebut memilki kemampuan terbatas dalam kapasitas dan
ingin fokus pada area yang sekiranya akan memberikan keuntungan
terbesar bagi mereka daripada melihat tantangan ini melalui lensa
ataupun pandangan dimana kulaitas pelayanan masih memiliki
kekurangan, strategi grids dapat menyediakan mekanisme untuk
mengambil pendekatan yang bijaksana agar mendapatkan hasil yang
maksimal dengan sumber daya yang masih terbatas. Metode ini dapat
membantu dalam proses perubahan dimana selama ini hanya
memikirkan permasalahan menjadi lebih fokus untuk merencanakan
tindakan yang akan dilakukan.

Langkah-langkah strategi grids:


1) Pilih kriteria
Pilihlah dua kriteria yang luas yang saat ini paling berhubungan
dengan agensi tersebut (penting/ mendesak, biaya/ dampak,
kebutuhan/ kelayakan). Dalam hal ini akan diberikan evaluasi
mengenai seberapa baik set criteria ini memenuhi tujuan yang ingin
dicapai.
2) Buat kisi-kisi
Buatlah kisi-kisi dengan empat kuadran yang telah disediakan dan
tetapkan criteria yang luas untuk setiap sumbu. Buatlah panah pada
sumbu untuk menunjukkan tinggi atau rendah, seperti contoh yang
akan ditunjukkan dibawah ini.
3) Buat tabel kuadran
Berdasarkan sumbu, beri label pada tiap kuadran yaitu kebutuhan
tinggi/ paling mungkin dikerjakan, kebutuhan tinggi/ sulit

40

dikerjakan, kebutuhan rendah/ mudah dikerjakan, kebutuhan


rendah/ sulit dikerjakan
4) Mengkategorikan dan membuat prioritas
Merumuskan, menempatkan criteria sesuai dengan kondisinya,
sehingga dapat dibuat prioritas apa yang paling dibutuhkan dan
paling mungkin untuk dikerjakan, sehingga masalah yang ada
berubah dari hanya dipikirkan kearah bergerak.
Berikut adalah makna dari tiap sumbu dalam tabel kuadran :
a) Kebutuhan tinggi/ kemungkin dikerjakan tinggi :
Dengan kebutuhan atau tingkat keperluan yang paling tinggi dan
merupakan hal yang paling mungkin atau paling mudah dikerjakan,
maka hal inilah yang menjadi prioritas utama dimana harus
direncanakan dan diberikan sumber daya yang cukup baik untuk
mempertahankan maupun meningkatkan
b) Kebutuhan rendah/ kemungkinan untuk dikerjakan tinggi
Seringkali penting dalam segi politik, dan sulit untuk dieliminasi
item ini mungkin perlu dirancang ulang dan untuk mengurangi
pemborosan sekaligus mengurangi dampak yang tidak baik
c) Kebutuhan tinggi/ kemungkinan untuk dikerjakan rendah
Ini adalah proyek jangka panjang yang tetap harus dikerjakan
karena memiliki bayak potensi dalam menyelesaikan masalah yang
sedang terjadi, namun akan memerlukan investasi yang cukup
signifikan. Apabila terlalu terfokus dengan item ini maka hal itu
justru akan mempersulit pelaksana kegiatan
d) Kebutuhan rendah/ kemungkinan untuk dilakukan rendah
Dengan hasil yang begitu rendah yang didapatkan bila kita
mengutamakan untuk menyelesaikan masalah ini maka, masalah
yang terdapat di kuadran ini merupakan prioritas yang terendah dan
harus dihapuskan, sehingga kita dapat mengguankan sumber daya
ke prioritas masalah yang jauh lebih penting.

41

f. Metode Analisis ABC


Metode analisis ABC merupakan sebuah metode dimana kita
menganalisa dan memberikan ukuran berupa kisaran dari setiap
masalah tersebut yang akan dikelompokkan berdasarkan tingkatan
tertentu yang signifikan dan bisa diselesaikan sesuai dengan
kebutuhannya atau tingkat kesulitannya.12
Item tersebut dikelompokkan dalam grup yang terdiri dari tiga
kategori yaitu A, B, C, yang ditentukan sesuai dengan dugaan tingkat
kepentingannya yaitu :11
a) Item A adalah sangat penting
b) Item B adalah penting

42

c) Item C adalah tidak begitu penting


Metode ini merupakan metode yang berguna dan cukup banyak
dipakai di beberapa area, baik oleh individu maupun oleh grup.
ABC analisis bisa digunakan sebagai ide untuk mengevaluasi
dalam dua cara yang berbeda yaitu :
a) Kemungkinan pertama adalah untuk mengelompokkan beberapa
ide berdasarkan tingkat kepentingannya sesuai criteria ABC yang
telah tersedia
b) Kemungkinan kedua adalah untuk menganalisa ide yang terpilih
dalam melewati dua tahap:
1) Tahap pertama, dengan menggunakan metode brainstorming
sebanyak mungkin ide yang terdapat dalam daftar tersebut
2) Tahap

kedua

adalah

kita

mengelompokkan

mereka

berdasarkan tingkat kepentingannya yaitu kategori ABC

E. Kendala dalam Menentukan Prioritas Masalah


Terdapat beberapa alasan mengapa organisasi pada umumnya
mengalami kesulitan dalam menetapkan prioritas. Menurut Drucker (1973),
hal ini utamanya banyak terjadi dalam organisasi yang bergerak di sektor
publik, karena melibatkan kepentingan banyak pihak. Bryson (1988)
menyebutkan empat masalah utama yang menjadi hambatan dalam mencapai

43

perencanaan stratejik yang efektif. Keempatnya memiliki kaitan erat dengan


penentuan prioritas program. Keempat masalah itu adalah:
1. Human problem; kesulitan untuk memusatkan perhatian personil kunci
(key people) terhadap masalah, keputusan, konflik, dan kebijakan utama.
Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini adalah bagaimana
menentukan prioritas organisasi secara imperative dan meminta setiap
individu untuk mengesampingkan kepentingan masingmasing hingga
kerangka yang lebih luas selesai disusun. Untuk mengatasi human
problem, beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:
a. Mulailah dengan menciptakan konsensus mengenai apa yang akan
dicapai melalui penetapan prioritas. Mengapa kita melakukan hal
tersebut dan apa manfaatnya.
b. Melibatkan para pengambil keputusan dalam menentukan proses
dan kriteria prioritas untuk memastikan rasionalitas dan kejelasan
prioritas tersebut.
c. Mengidentifikasi kekuatan dari berbagai sudut berbeda.
d. Memberikan kesempatan bagi pihak lain untuk mencerna informasi
yang diberikan dan memberi masukan sehingga dapat dilakukan
penyesuaian terhadap keputusan yang akan diambil.
e. Secara hati-hati mempekerjakan staf yang akan mengumpulkan dan
menginterpretasikan

informasi.

Sediakan

pelatihan

apabila

diperlukan.
f. Memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat dapat menjalankan
peran mereka secara berkesinambungan.
2. Process problem
Kesulitan dalam mengelola informasi dan ide dalam proses penentuan prioritas
masalah. Untuk mengatasi process problem, beberapa hal yang harus dilakukan
antara lain:
a.

Penentuan prioritas harus sangat spesifik untuk mengurangi


multiinterpretasi

44

b.

Adanya kewajiban dan tanggung jawab untuk mengekspresikan


dan memberikan sejumlah alternatif yang masuk akal

c. Informasi kunci harus disediakan sebelum penentuan keputusan


d. Hati-hati agar tidak membuang terlalu banyak waktu dalam
melakukan analisis maupun terlalu terburu-buru mengejar tenggat
waktu
e. Secara aktif menciptakan suasana yang membantu orang untuk
memiliki pandangan luas dan memiliki paradigma masingmasing
karena informasi eksternal mungkin sangat berguna.

3. Structural problem;
Kesulitan dalam mengelola sebagian atau keseluruhan hubungan yang ada
dalam organisasi. Tantangan yang harus dihadapi dalam mengatasi masalah ini
adalah bagaimana untuk menentukan prioritas maslah sesuai dengan prioritas
organisasi atau asosiasi secara lebih luas. Hal ini merepresentasikan interpretasi
konsisten terhadap visi dan misi. Dengan demikian, suatu organisasi dapat
melakukan penentuan prioritas dengan sangat baik dalam lingkup program
maupun antar program. Untuk mengatasi structural problem, beberapa hal
yang harus dilakukan antara lain:
a. Menetapkan dan mengklarifikasi peranan setiap pihak sejak awal
proses
b. Tetap fokus pada prioritas saat ini dan bukan prioritas masa lalu
c. Komunikasi terbuka inter- dan antarstaf dan pemimpin
d. Mengidentifikasi dan mengkomunikasikan manfaat yang dapat
diperoleh apabila suatu sistem dapat berjalan dengan baik
e. Mendorong terjalinnya hubungan yang harmonis selama proses
perencanaan.
4. Institutional problem;
Kesulitan dalam menerjemahkan prioritas ke dalam aksi atau aktivitas yang
riil. Untuk mengatasi institutional problem, beberapa hal yang harus dilakukan
antara lain:

45

a. Adanya komitmen dalam mengimplementasikan hal yang telah


disepakati maupun penyesuaian atau perubahan yang dilakukan
b. Perlu adanya proses pencocokan (fitting) antara pengetahuan dan
keahlian dengan tugas yang diberikan ke setiap individu
c. Implementasi program disesuaikan dengan kekuatan yang dimiliki
d. Rencana implementasi didefinisikan secara jelas
e. Prioritas dilengkapi dengan deskripsi posisi, alokasi waktu, rencana
implementasi, dan penghargaan terhadap presetasi kerja.

46

BAB III
KESIMPULAN
Memilih topik atau menetapkan permasalahan penelitian merupakan
langkah paling awal dari keseluruhan kegiatan penelitian. Sehingga
sebenarnya permasalahan penelitian dapat dicari pada semua aspek kehidupan
baik yang menimpa pelaksana kesehatan maupun obyek dari pelaksana
bidang kesehatan. Identifikasi dan prioritas masalah kesehatan merupakan
bagian dari proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan
melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat. Sehingga masalah
yang ditetapkan untuk ditanggulangi betul-betul merupakan masalah dari
masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan untuk menanggulangi
masalah kesehatan yang ada, masyarakat dapat berperan aktif didalamnya.
Dalam menetapkan prioritas sebelumnya kita menentukan kriteria
untuk menetapkan prioritas, anda dapat menggunakan salah satu dari tiga
metode, yaitu: dot voting, weighted voting atau consensus voting tergantung
waktu, sumber dan sifat kelompok. Sementara itu, metode yang digunakan
dalam penentuan prioritas masalah dibedakan atas dua yaitu secara Scoring
Technique (Metode Penskoran). Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan
dengan memberikan score (nilai) untuk berbagai parameter tertentu yang
telah ditetapkan, misal: metode USG, metode Hanlon, metode MCUA,
metode CARL, PAHO, cara Bryant, cara ekonometrik, dan Non Scoring
Technique Tehnik ini dipilih jika tidak tersedia data, dalam menetapkan
prioritas masalah, (NGT, Delphin Technique dan Delbech Technique).
Pemilihan kedua cara tersebut berdasarkan ada tidaknya data yang tersedia.
Dalam menentukan prioritas masalah, sering kali terdapat kesulitankesulitan. Bryson (1988) menyebutkan empat masalah utama yang menjadi
hambatan dalam mencapai perencanaan strategi yang efektif. Keempatnya
memiliki kaitan erat dengan penentuan prioritas program. Kempat masalah itu
adalah human problem, process problem, structural problem dan institutional
problem.

47

DAFTAR PUSTAKA
1. Notoatmodjo S. 2003. Prinsip-Prinsip Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan
ke-2. Jakarta : Rineka Cipta.
2. Azwar A. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta : Bina Rupa
Aksara.
3. Sutisna Sulaeman, Endang. 2009. Manajemen Kesehatan. Teori dan Praktik di
Puskesmas. Surakarta: UNS
4. Biro Perencanaan Departemen Kesehatan RI dan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia. 2002. Perencanaan dan Penganggaran
Terpadu (Integrated Health Planning and Budgetting), Penentuan Prioritas
Masalah Kesehatan (Modul 05). Jakarta: Depkes RI.
5. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Jenderal Soedirman Fakultas
Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat. 2010.
Buku Pedoman Praktek Belajar Lapangan. Purwokerto: Univ.Jend.Soedirman.
6. Analisis Perencanaan Tahunan Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol
1. 2007.
7. Cuhls Kerstin. Delphi Method. Fraunhofer Institute for Systems and
Innovation

Research.

2005.

Available

from

http://www.unido.org/fileadmin/import/16959_DelphiMethod.pdf.
8. NACCHO. 2010. Priorization Summaries. NACCHO. 2010. available from
http://chfs.ky.gov/NR/rdonlyres/B070C722-31C1-4225-95D527622C16CBEE/0/PrioritizationSummariesandExamples.pdf
9. Nangi, Moh.Guntur. Problem Solving Kesehatan Masyarakat. 2010. Available
from

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&u
rl=http%3A%2F%2Fmohamadguntur.files.wordpress.com%2F2010%2F03%2
Fproblemsolving-kes

48

10. Pasinringi, Syahrir A. Perencanaan Pelayanan Kesehatan. 2002. Makassar.


FKM

Unhas.

Available

from

Perencanaan-Pelayanan-Kesehatan.

http://www.scribd.com/doc/2908460/