Anda di halaman 1dari 27

39

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)


PEKERJAAN DETAIL ENGINEERING DESIGN
REHABILITASI/PENGEMBANGAN PELABUHAN

Kementerian Negara/Lembaga
: (022) Kementerian
Perhubungan
Unit Organisasi
: (04) Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut
Provinsi
: (01) DKI Jakarta
Kode/Nama Satker
:(439200)
Peningkatan
Fungsi Pelabuhan
dan Pengerukan Pusat
Program
: (04.08.11) Program
Pembangunan Transportasi Laut
Sasaran Program
: Meningkatkannya Keandalan
Prasaran dan Sarana
Transportasi Laut
Kegiatan
: (0109) Survey/Studi
Kelayakan/Penyusunan
Master Plan/DED/DED
Sub Kegiatan
: (00041) Survey, Pemetaan,
Master Plan, Studi
Kelayakan dan
Penatagunaan Lahan
MAK
: (536111) Belanja Modal Fisik
Lainnya
1. LATAR BELAKANG (WHY)
a.Dasar Hukum
Undang-undang RI No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara antara
lain
mengamanatkan
penyusunan
anggaran dengan menggunakan pendekatan perspektif
penyusunan anggaran dengan menggunkan.
Untuk menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja
Negara
oleh
Pemerintah
maka
setiap
Kementerian
Negara/
Lembaga
wajib
menyusun
Rencana
Kerja
Anggaran
Kementerian/
Lembaga
(RKA_KL), yang merupakan kompilasi dan Rencana Kerja
Anggaran Satuan Kerja (RKA-SK) uang disusun oleh
Satuan Kerja. RKA-SK secara teknis berupa program
kegiatan yang memuat uraian sasaran yang hendak
dicapai dan dilengkapi dengan data dukung berupa
Kerangka Acuan Kerja (Terms of Reference-TOR),
perhitungan pembiayaan, justifikasi dan dokumen yang
memadai. Maksud dari penyusunan Kerangka Acuan
Kerja ini adalah sebagai penjelasan/keterangan atas
program kerja untuk memperoleh alokasi anggaran
dalam DIPA.
Selanjutnya Undang-Undang RI No.

17 Tahun

2008

tentang Pelayaran mengindikasikan perlunya penyediaan


infrastruktur pelabuhan sebagai tempat perpindahan
intra dan antar moda transportasi. Pembangunan
pelabhan tersebut harus direncanakan secara tepat,
memenuhi
persyaratan
teknis
kepelabuhanan,
kelestarian lingkungan dan memperhatikan keterpaduan
intra dan antar moda transportasi.
Standar Dokumen
Pengadaan Jasa
Konsultansi Badan Usaha
(dengan Prakualifikasi
Dua File)

40

41

Di samping itu, Peraturan Menteri Perhubungan No.KM


31 Tahun 2006 tentang
Pedoman
dan
Proses
Perencanaan di lingkungan Kementerian Perhubungan
mengamanatkan adanya pelaksanaan Detail Engineering
Design sebagai salah satu syarat pembangunan suatu
infrastruktur transportasi, termasuk dalam hal ini
pelabuhan.
b. Gambaran Umum
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia
terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil. Sehingga
transportasi laut sebagai bagian dari sistem transportasi
nasional
terus
dikembangkan
dalam
rangka
mewujudkan
prinsip
Wawasan
Nusantara
untuk
mempersatukan seluruh wilayah teritorial Indonesia.
Dengan semakin meningkatnya kualitas sistem dan
jaringan transportasi akan meningkat pula interaksi di
antara pelaku ekonomi yang pada gilirannya dapat
memajukan perekonomian di seluruh wilayah negara.
Oleh karena itu, pengembangan pelabuhan sesuai
dengan masterplan yang telah direncanakan perlu
dilakukan sesuai dengan prediksi demand yang telah
diprediksi. Rehabilitasi pelabuhan juga diperlukan untuk
mengoptimasi fasilitas eksisting pelabuhan yang ada
dalam
melayani
transportasi
laut.
Maka
untuk
mengakomodir
rehabilitasi/pengembangan pelabuhan
maka diperlukan adanya Detail Engeneering Design
(DED) untuk merencanakan rehabilitasi /pengembangan
pelabuhan yang sesuai kebutuhan dan optimum sesuai
fungsinya.
2. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN (WHAT)
a. Urain Kegiatan
1) Survey Reconnaissance
2) Survey
Hidrografi
pengembangan)

dan

Topografi

(untuk

3) Investigasi
kondisi
eksisting
struktur
pelabuhan eksisting (untuk rehabilitasi)

fasilitas

4) Penyelidikan Tanah
5) Desain Perencanaan Konstruksi
fasilitas pelabuhan

untuk

pengembangan

6) Desain Perbaikan/Perkuatan struktur untuk rehabilitasu


fasilitas eksisting pelabuhan
b. Ruang Lingkup Kegiatan
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

1) Survey Reconnaissance
Kegiatan-kegiatan
yang
dilakukan di
dalampelaksanaan
reconnaissance yakni pengamatan lokasi.
-

42

survey

Rehabilitasi: mengamati dan mengidentifikasi jenisjenis kerusakan yang terjadi pada fasilitas pelabuhan,
memprediksi penyebab terjadinya kerusakan dan
konsep
penanggulangan
yang
sesuai
untuk
memperbaiki fasilitas pelabuhan yang rusak.

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

43

Pengembangan: mengamati fasilitas pelabuhan


eksisting dan perbandingannya terhadap master
plan sesuai dengan kebutuhan eksisting apakah
sudah sesuai dengan masterplan.

Di samping itu, dilakukan pula pengumpulan datadata sekunder meliputi kondisi pelabuhan yang ada
(informasi teknis dan operasional) dan masterplan/
rencana pengembangan pelabuhan.
2) Survey Hidrografi dan Topografi (untuk pengembangan)
Wilayah survey hidrografi seluas 20 Ha dan topografi
seluas 8 Ha (luas dapat berubah sesuai dengan
hasil survey reconnaissanse) untuk mendapatkan
gambaran tentang Konfigurasi dasar laut/sungai
disekitar pelabuhan
eksisting,
Profil
/potongan
melintang pantai, laut/sungai dan areal darat,
Koordinat fasilitas pelabuhan eksisting, Kedudukan
pasang surut, Kedudukan dan arah arus, Arah
gelombang dominan, tinggi gelombang dan periode
gelombang
dan
kondisi
areal
darat
beserta
fasilitiasnya.
3) Investigasi Kondisi Eksisting Struktur (untuk rehabilitasi)
Investigasi kondisi eksisting struktur pada fasilitas
pelabuhan seperti dermaga, trestle dan bangunan
lainnya. Jenis survey yang dilakukan disesuaikan
dengan jenis kerusakan yang terjadi pada fasilitas
pelabuhan. Pekerjaan ini termasuk penyelidikan di
lapangan dan di laboratorium untuk mengetahui
Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan meliputi diantaranya;
- Pengamatan kerusakan pada komponen struktur/non-struktural, seperti
retak, korosi, serta kondisi lapisan penutup beton yang terkelupas.
- Pengukuran kondisi aktual material beton pada struktur
- Pengukuran kondisi aktual struktur, termasuk dimensi elemen struktur
dan penulangan.

4) Penyelidikan Tanah
Survey dan penyelidikan Tanah tidak wajib dilakukan
untuk rehabilitasi pelabuhan. Disesuaikan dengan
jenis kerusakan yang terjadi pada fasilitas pelabuhan.
Pekerjaan survey dan penyelidikan tanah wajib
dilakukan untuk rencana pengembangan pelabuhan.
Pekerjaan ini berupa penelitian di lapangan dan di
laboratorium adalah untuk mengetahui struktur dan
jenis tiap lapisan tanah di bawah permukaan. Dimana
hasil pekerjaan penyelidikan tanah ini dimaksudkan
sebagai data yang akan dipergunakan untuk
melaksanakan konstruksi yang akan dibangun di
lokasi bersangkutan. Hasil tersebut harus memadai
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

sebagai bahan analisa perencanaan dan perhitungan


yang meliputi:
- Perencanaan sistem pondasi
- Analisa daya dukung untuk pondasi
- Analisa penurunan tanah
- Analisa perbaikan tanah
- Perencanaan retaining wall dan analisa slip circle

44

Kegiatan
yang
dilakukan
pada
saat
survey
penyelidikan tanah antara lain:
- Boring laut: 2 titik (di ujung dermaga terluar
rencana jika dilakukan pengembangan/rehabilitasi
pada sisi laut)
- Sondir darat: 2 titik (titik sondir dilakukan
sesuai rencana pengembangan/rehabilitasi yang
memerlukan daya dukung tanah seperti causeway,
talud, reklamasi, gedung kantor dll.
- Uji lapangan Undisturbed dan disturbed soil
- Uji Labiratorium Undisturbed dan disturbed soil
5) Desain Perencanaan Konstruksi (untuk Pengembangan)
Lingkup pekerjaan
pembuatan
desain
meliputi
perhitungan konstruksi, rencana kerja, dan syaratsyarat (RKS), Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan
gambar rencana.
6) Desain Perbaikan/Perkuatan Struktur (untuk Rehabilitasi)
Lingkup pekerjaan Desain Perbaikan/Perkuatan struktur
meliputi perhitungan Perbaikan dan Perkuatan struktur,
rencana kerja, dan syarat-syarat (RKS), Rencana
Anggaran
Biaya
(RAB)
dan
gambar
rencana
perbaikan/perkuatan.
c. Kebutuhan Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung Teknis
Kualifikasi minimal dari personil yang dipersyaratkan
untuk pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
I. Tenaga Ahli
1) Ahli Perencanaan Kepelabuhanan (team Leader)
Sarjana Teknik Sipil/ Teknik Kelautan dengan
pengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang
Prencanaan Pelabuhan.
2) Ahli Struktur Utama
Sarjana
Teknik
Sipil/Teknik
Kelautan
dengan
pengalaman minimal 3 (tiga) tahun di bidang
perencanaan struktur pelabuhan atau bangunan air.
3) Ahli Mekanika Tanah
Sarjana Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 3
(tiga) tahun di bidang perencanaan pelabuhan atau
bangunan air.
4) Ahli Spesifikasi dan Dokumen Tender
Sarjana teknik Sipil dengan pengalaman minimal 3
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

(tiga) tahun dalam penyusunan spesifikasi teknis


dan engineering estimate konstruksi dermaga,
trestle, causeway, prasarana sandar/tambat kapal
dan fasilitas darat untuk dokumen tender.
5) Ahli Geodesi
Sarjana teknik Geodesi dengan pengalaman
minimal 3 (tiga) tahun dalam mengerjakan
perancangan prasaran pelabuhan dan menguasai
sistem operasional pelabuhan jika dilakukan survey
dan penyelidikan tanah.
II. Tenaga Pendukung teknis
1) Bor Master (1 orang)
Lulusan STM berpengalman sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun dalam perkerjaan boring jika dilakukan
survey dan penyelidikan tanah.
2) Surveyor (2 orang)
Lulusan STM berpengalman sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun dalam perkerjaan survey pemetaan jika
dilakukan pekerjaan survey hidrooceanografi dan
topografi.
3) Draftman ( 1 orang)
Lulusan STM berpengalman sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun dalam perkerjaan menggambar desain
konstruksi menggunakan program komputer,
4) Laboran (1 orang)
Lulusan STM berpengalaman sekurang-kurangnya
3
(tiga)
tahun dalam perkerjaan pengejui
laboratorium mekanika tanah jika dilakukan survey
dan penyelidikan tanah atau laboratorium struktur
dan bahan untuk penyelidikan kondisi material dan
struktur.
3. MAKSUD DAN TUJUAN
a. Maksud Kegiatan
Pekerjaan
Detail
Engineering
Design
ini
dimaksudkan untuk perencanaan pembangunan
pengembangan pelabuhan ataupun rehabiliatasi
pelabuhan eksisting.
b. Tujuan Kegiatan
Mendapatkan gambaran kondisi eksisting dan
kesesuaian
dengan
masterplan
dalam
pengembangan pelabuhan sehingga terbentuklah
pelabuhan yang tepat guna sesuai dengan fungsi
dan perannya.
Mendapatkan
gambaran
fasilitas
pelabuhan
eksisting dan perbaikan yang perlu dilakukan dalam
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

45

merehabilitasi pelabuhan sehingga terbentuklah


pelabuhan yang tepat guna sesuai dengan fungsi
dan perannya.
4. INDIKATOR KELUARAN DAN KELUARAN
a. Indikator Keluaran (Kualitatif)
1) Rehablitiasi/pengembangan
pelabuhan
akan
meningkatkan pelayanan jasa kepelabuhanan
dan transportasi laut kepada masyarakat di
sekitar lokasi.
2) Peningkatan aktivitas transportasi di wilayah
setempat akan mendukung perekonomian lokal
maupun nasional.
b. Keluaran (Kuantitatif)
Hasil pekerjaan dilaporkan secara tertulis kepada
pengguna jasa dalam bentuk buku yang dijilid
dengan baik dan disusun secara sistematis beserta
softcopy nya dalam bentuk CD atau DVD.
1) Laporan
Pendahuluan
dan
Antara
(Hasil
Reconnaissance Survey dan Interim Report)
Laporan dibuat sebanyak 10 (sepuluh) buku, Isi
laporan meliputi:
- Untuk rehabilitasi fasilitas pelabuhan: Kondisi
konstruksi
fasilitas
eksisting,
identifikasi
penyebab kerusakan yang ada dan penyelidikan
yang akan dilakukan selanjutnya.
- Untuk
pengembangan
fasilitas
pelabuhan:
kondisi operasional pelabuhan yang ada berupa
data jenis, ukuran dan jumlah
kapal eksisting
dan kesesuaian dengan masterplan.
- Berita acara peleksanaan reconnaissance survey.
- Foto-foto memanjang dari laut ke pantai.
- Tanggapan terhadap
KAK. Dan
Jika Konsultan diharuskan menyampaikan laporan
pekerjaan
lapangan
untuk
pengembangan
fasilitas pelabuhan yang meliputi:
- Analisa
pasang
surut
digunakan
metode
admiralty yang dibandingkan dengan metode
least square (dipilih analisa metode yang
hasilnya paling mendekati data pasang surut
sebenernya)
- Gambar hasil survey bathimetri menggunakan
kertas A0
- Prosedur pekerjaan lapangan, uraian teknis bila
ada penyimpangan.
- Pengambilan titik-titik tetap dan elevasinya
terhadap LWS.
- Spesifikasi-spesifikasi peralatan pokok.
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

46

47

- Penetapan
koordinat,
levelling,
penentuan
azimuth matahari, konstanta harmonis berikut
AT dan LWS,
- Data arus, grafik kecepatan arus yang
memperlihatkan hubungannya dengan pasang
surut, peta arah dan kecepatan arus.
- Grafk Paang surut lengkap dengan HWS, MSL dan
LWS.
- Data meteorologi (curah hujan minimum 5
tahun terakhir dan data angin).
- Gambar
situasi
(hasil
survey
hidrografi/topografi) dilengkapi dengan koordinat
dan posisi pengamatan arus.
- Gambar profil melintang dan memanjang.
- Semua gambar harus dilengakapi dengan
tanggal pelaksanaan, nama dan tanda tangan
pelaksana, penggambar dan penanggung jawab.
- Evaluasi dan rekomendasi sementara hasil survey.
- Semua berita acara dari semua tahapan dan
penyelesaian pekerjaan lapangan. Semua data
asli hasil pengukuran dijilid tersendiri dan
diserahkan
kepada
Pengguna
Jasa
saat
pembahasan laporan dengan Tim Evaluasi Teknis
- Data Sekunder.
Jika Konsultan diharuskan menyampaikan laporan
pekerjaan lapangan untuk rehabilitasi fasilitas
pelabuhan yang meliputi:
- Visual Inspection yaitu mengamati secara visual
kerusakan-kerusakan yang terjadi baik
kerusakan struktural maupun non-struktural.
- Pengukuran lebar dan panjang retak yang terjadi
pada elemen struktural.
- Pengidentifikasian detail penulangan yang
digunakan pada elemen struktural bangunan,
yang berupa pelat, balok dan kolom, serta
pengidentifikasian tebal selimut beton elemenelemen tersebut.
- Penentuan kuat tekan beton aktual.
- Pengukuran kedalaman retakan.
- Pengecekan potensi korosi pada tulangan dan
korosi pada tiang pancang baja.
- Evaluasi dan rekomendasi sementara hasil
survey.
- Semua berita acara dari semua tahapan dan
penyelesaian pekerjaan lapangan. Semua data
asli hasil pengukuran dijilid tersendiri dan
diserahkan
kepada
Pengguna
Jasa
saat
pembahasan laporan dengan Tim Evaluasi Teknis
- Data Sekunder.
2) Draft Laporan Akhir Survey dan Draft Final
Desain (Draft Final Report Survey and Design)
Setelah
seluruh
pekerjaan
lapangan
dan
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

48

pekerjaan laboratoruim selesai, penyedia jasa


konsultasi diminta menyampaikan draft laporan
akhir survey sebanyak 10 (sepuluh) buku yang
merupakan penyempuranaan Laporan Antara dan
dilengkapi dengan:
- Bor-log yang memperlihatkan hubungan antara
kedalaman dalam m-LWS dan N-SPT, soil
description berdasarkan contoh tanah yang
diperoleh dari spon sampler, sample dan lainlain dengan memasukkan hasil dan besaran
dari percobaan laboraturium.
- Gambar korelasi (statigrafi) tanah antar bor-log
dengan konstanta kedalaman m-LWS dan N-SPT.
- Hasil pekerjaan survey berupa grafik-grafik dan
tabel-tabel yang menggambarkan besaranbesaran tahanan ujung (end
resistance),
tahanan geser setempat (local friction) dan
jumlah tahanan geser (total friction).
- Hasil percobaan laboratorium lengkap dengan
lampiran- lampiran grafik, tabel dan lain-lain
untuk penentuan index dan properti fisik tanah.
- Evaluasi atas hasil pekerjaan lapangan dan
laboratorium
- Posisi/koordinat titik-titik boring diplotkan dalam
gambar hidrografi/topografi.
- Hubungan antara derajat konsolidasi (u%)
dengan waktu penurunan (time settlement).
- Klasifikasi tanah.
- Rekomendasi dan kesimpulan yang meliputi
rencana sistem pondasi, analisa daya dukung
tanah dan analisa soil improvement
- Apabila hasil-hasil laboratorium tidak sesuai
dengan lapangan atau dijumpai kejanggalankejanggalan dalam hasil lapangan/laboratorium
maka
Penyedia
jasa
Konsultasi
dapat
merekomendasikan
tambahan
pekerjaan
penyelidikann
tanah
sebelum
pekerjaan
konstruksi dimulai.
- Data sekunder yang dibutuhkan.
Survey dan penyelidikan tanah dapat tidak
dilakukan jika memang tidak diperlukan sesuai
laporan Antara rehabilitasi fasilitas pelabuhan.
Dan

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

49

- Analisa sistem konstruksi fasilitas pelabuhan


yang dibutuhkan berdasarkan hasil survey
- Sistem pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
sistem struktur yang digunakan dan tidak
merusak fasilitas pelabuhan eksisting.
- Kebutuhan peralatan yang diperlukan untuk
pekerjaan.
- Gambar-gambar
detail
konstruksi
yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan.
- Rencana
kerja
dan
syarat-syarat
(RKS)
mencakup
item/pekerjaan
sesuai
dengan
perencanaan.
- Pada
setiap
kolom
keterangan
gambar
konstruksi, dilengkapi dengan keterangan titik
sondir dan boring, dengah fasilitas pelabuhan
eksisting dan rencana, tampak, porongan dan
detail konstruksi.
- Spesifikasi umum dan khusus
- Rencana Anggaran Biaya (RAB)
- Analisa harga satuan
- Perhitungan konstruksi
3) Laporan Akhir (Final Report Design)
Dibuat sebanyak 10 (sepuluh) buku
merupakan penyempurnaan dari laporan
sebelumnya.
4) Laporan Ringkasan Eksekutif (Executive Summary)
Dibuat sebanyak 10 (sepuluh) buku yang meliputi
ringkasan hasil survey yang telah dilakukan dan
layout pelabuhan eksisting dan rencana.
5) CD
Dibuat sebanyak 10 (sepuluh) CD. Berisi semua
softcopy
laporan yang telah disempurnakan.
5. LOKASI PELAKSANAAN KEGIATAN (WHERE)
Kegiatan DED akan dilakukan pada 5 (lima) lokasi
pelabuhan yang dianggap potensial untuk dibangun
atau dikembangkan dan akan ditetapkan berdasarkan
usulan dari pemerintah daerah, unit pelaksana teknis
ataupun direktorat teknis terkait sesuai skala prioritas.
6. PELAKSANA DAN PENANGGUNG JAWAB KEGIATAN (WHO)
a. Pelaksana Kegiatan
Kegiatan DED Pelabuhan akan dilaksanakan oleh
Penyedia Jasa Konsultansi yang diseleksi melalui
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

50

proses sesuai Peraturan Presiden RI nomor 54 tahun


2010
tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
beserta
perubahan-perubahannya.
b. Penanggung Jawab Kegiatan
Penanggung jawab kegiatan
dan
Pengguna
Jasa
diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang dalam hal
ini bertindak untuk dan atas nama Menteri Perhubungan.
c. Penerima Manfaat
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian
Perhubungan.
7. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN (WHEN)
a. Waktu Pelaksanaan Kegiatan
Untuk pelaksanaan pekerjaan ini, Penyedia Jasa
Konsultansi diberikan waktu 120 (seratus lima puluh)
hari kalender terhitung sejak kontrak ditandatangani.
b. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan (Schedule)
Jadwal pelaksanaan kegiatan disampaikan terlampir.
8. METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN (HOW)
a. Pekerjaan Pemeruman (Sounding)
1) Koordinat titik-titik dalam peta hidrografi harus
mengunakan
koordinat
geografis
(disarankan
menggunakan GPS), atau dapat menggunakan
koordinat
lokal
(x,y)
atau
UTM
(dengan
persetujuan Pengguna Jasa).
2) Pengukuran-pengukuran sudut dalam penentuan
titik referensi dan beacon maupun azimuth
menggunakan theodolit Wild T2.
3) Semua perhitungan agar dilampirkan dalam laporan.
4) Pengukuran jarak basis lebih dari 200 m diukur
dengan alat ukur optik (theodolit Wild T2), untuk
jarak basis kurang dari
200 m boleh memakai alat pengukur panjang pita
baja (meetbond).
5) Kedalaman diukur dengan alat perum gema
(echosounder) dengan ketelitian yang tinggi dan
telah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa.
Alat perum gema yang dimaksud adalah alat
gema
yang
mengunakan
kertas
pencatat
kedalaman dan bukan sinar, dengan skala 1 cm
pada kertas pencatat = 1 m kedalaman.
6) Setiap hari Penyedia Jasa Konsultansi harus
melakukan bar- check terhadap alat echosounder
yang dipakai sebelum dan sesudah pekerjaan
sounding. Salah satu hasil bar-check dilampirkan
dalam laporan (bar-check untuk setiap beda
kedalaman 1 m, jarak kedalaman minimal 5X =
5 m, lebih dalam lebih teliti).
7) Bidang surutan yang dipakai sebagai dasar
pengukuran dan data-data pengamatan pasangsurut yang asli di lapangan harus dibawa untuk
diperlihatkan
kepada
Tim
Evaluasi
saat
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

pembahasan Laporan Antara.


8) Bidang surutan yang dipakai adalah 0,00 m-LWS.
9) Semua kertas echosounder hasil pengukuran dan
data-data sudut asli di lapangan harus dibawa
untuk diperlihatkan kepada Tim Evaluasi saat
pembahasan Laporan Antara.
10) Posisi pemeruman
Posisi sounding ditentukan dengan salah satu dari
cara-cara sebagai berikut:
a) Cara Snellius dengan mengunakan 2 buah sextant
Dalam Laporan Antara harus dilampirkan datadata lapangan dengan urutan sebagai berikut:
- Titik-titik yang dipakai dan rencana lembarlembar busur (arch-sheet).
- Perhitungan lembar-lembar busur yang sudah
dicek.
- Daftar seluruh pasangan sudut dari tiap
posisi fixed sounding (dalam daftar rapih).
b) Cara perpotongan dua jarak dengan mengunakan
alat elektronik (MRS III dan sejenisnya).
c) Cara gabungan jalur arah dan jarak dengan
menggunakan pengukur sudut elektronik.
Untuk cara-cara dalam butir a), b) dan c) dalam
Laporan Antara harus dilampirkan data-data
lapangan dengan urutan sebagai berikut:
- Sketsa titik-titik lengkap dengan pembagian
lembarnya (sheet).
- Daftar sudut-sudut dan jarak-jarak lengkap
dengan formula/cara perhitungan (dalam
daftar rapih).
d) Cara gabungan Raai dan potongan/cutting
(dipergunakan untuk areal yang tidak luas)
e) Untuk proyek-proyek baru dengan luas > 100
Ha, harus digunakan alat positioning dengan
GPS atau DGPS.
11) Bila terdapat areal di dekat garis pantai yang
tidak dapat di- sounding, maka kedalamannya
harus diukur dengan bandul pengukur hand-load
atau disipat datar (levelling) dari darat.
12) Selama pekerjaan sounding, kecepatan kapal
harus tetap dipertahankan konstan (maksimum 4
knot) dan berada dalam satu jalur, dengan posisi
echosounder tetap diaktifkan.
13) Haluan perum diusahakan tegak lurus pantai atau
dermaga,
sedangkan
untuk
pengontrolan
kedalaman pada jalur sounding dilakukan dengan
cara sounding silang minimal 3 jalur.
b. Pengamatan Pasang Surut
1) Maksud pengamatan pergerakan pasang surut
adalah
untuk
menentukan
kedudukan
air
tertinggi, duduk tengah dan air terendah yang
dicapai maupun kedudukan LWS.
2) Pengamatan/pencatatan pergerakan muka air
dilakukan minimum selama 15 hari terus menerus
menggunakan alat pencatat otomatis (automatic
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

51

3)
4)

5)
6)

tide gauge). Pencatatan dimulai pukul 00.00


waktu setempat pada hari pertama dan terakhir
pada pukul 24.00 hari ke-15 (atau 24 jam x 15 hari).
Kertas rekaman dibawa untuk diperlihatkan
kepada Tim Evaluasi Teknis saat pembahasan
Laporan Antara dengan Tim Evaluasi Teknis.
Untuk
perhitungan-perhitungan
konstanta
harmonis, duduk tengah, air tinggi yang dapat
dicapai maupun LWS mempergunakan metode
Admiralty (tidak diperkenankan menggunakan
formula penentuan air terendah untuk Indian Low
Water
Spring).
Uraian
perhitungan
dengan
metode Admiralty agar disampaiakan dengan
urutan sebagai berikut:
- Rumus umum yang dipakai dalam perhitungan.
- Perhitungan konstanta harmonis dan elevasi
duduk tengah (DT) atau MSL.
- Perhitungan elevasi 0,00 LWS dan air tinggi
yang dapat dicapai.
- Sketsa urutan tiap elevasi air untuk 0,00 LWS,
DT, AT yang dapat dicapai berdasarkan
perhitungan.
Elevasi LWS harus dipindahkan ke bangunan
gudang atau dermaga yang ada pada bagian
yang aman, terlindung dan mudah terlihat.
Data air tertinggi atau muka air banjir yang
pernah terjadi harus dicatat dengan jelas (bila data
ada).

c. Pengukuran Arus
1) Pengamatan kecepatan dan arah arus dilakukan
minimal pada 2 lokasi.
2) Pengamatan dilakukan selama 25 jam terus
menerus
dengan
interval waktu 30 menit,
menggunakan alat current meter dan floater yang
dilakukan pada saat pasang tertinggi (Spring Tide)
dan pada saat pasang terendah (Neap Tide) pada
bulan yang sama.
3) Posisi pengamatan arus adalah 0,2d; 0,6d; dan
0,8d dari permukaan air, dimana d = kedalaman
di lokasi pengamatan arus.
4) Apabila memungkinkan, hasil simulasi arus dengan
menggunakan perangkat lunak agar ditampilkan
pada saat pembahasan laporan dengan Tim
Evaluasi.
5) Lokasi
pengamatan
diplotkan
dalam
peta
hidrografi dan hasil pengamatan arus dilampirkan
pada laporan dalam bentuk:
- Grafik hubungan antara pergerakan pasang
surut dan kecepatan arus.
- Peta arah arus.
d. Pengambilan Contoh Air
1) Pengambilan contoh air dilakukan dengan water
sampler pada posisi pengamatan arus pada
kedalaman 0,2d; 0,6d dan 0,8d.
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

52

53

2) Pengambilan contoh air dilakukan pada saat Spring


Tide dan
Neap Tide pada bulan yang sama.
3) Contoh air kemudian diuji di laboratorium dalam
hal
kadar
endapan/sedimen
dan
kadar
garam/salinitas. Satuan kadar garam dalam 0/0
dan satuan sedimen dalam mg/l.
e. Pembuatan Bench Mark (BM)
Bench Mark (BM) dibangun minimum 2 (dua) buah
pada posisi yang aman dan saling terlihat dengan
ketinggian berdasarkan LWS dan jarak antara kedua
BM minimal 100 cm. BM tersebut dibuat dari beton
dengan ukuran 40x40x150 cm3 yang ditanam sedalam
100 cm dari permukaan tanah dan diplot dalam peta.
Penempatan BM harus mempertimbangkan rencana
pengembangan pelabuhan,
sehingga BM dapat
bermanfaat untuk jangka waktu lama dan mudah
pengawasannya. BM berfungsi sebagai titik awal
pemetaan, dicat dengan warna biru muda dan pada
bagian atas ditulis BM.1 HUBLA dan BM.2 HUBLA serta
tanggal pembuatan. Setelah pekerjaan survey selesai,
BM harus diserahkan kepada pejabat setempat
dengan Berita Acara.
f.

Pekerjaan Topografi
1) Pengamatanazimuth matahari (pengukuran
azimuth) dilakukan pada salah satu BM.
2) Pengukuran dengan menggunakan sistem triangulasi:
- Dipakai titik BM sebagai basis.
- Pengukuran jarak basis dengan alat elektronik
atau optis (T2 dan intervarbasis) atau sejenis.
- Pengukuran sudut dilakukan dengan 4 (empat)
seri biasa- luar biasa. Selisih sudut antara tipa
bacaan titik boleh lebih daripada 10 detik.
3) Pengukuran Poligon
- Pengukuran poligon sepanjang titik-titik poligon
dengan jarak antara titik-titik poligon maksimum
50 m dan radius survey dari tiap poligon adalah
75 m.
- Pengukuran harus dimulai dari titik ikat awal
dan pengukuran poligon harus tertutup (dimulai
dari titik ikat awal dan berakhir pada titik yang
sama atau ditutup pada titik lain yang sudah
diketahui koordinatnya sehingga kesalahankesalahan sudut maupun jarak dapat dikontrol).
4) Pengukuran Sipat Datar
- Pengukuran sipat datar dilakukan sepanjang titiktitik poligon dan diikatkan pada Bench Mark.
- Pengukuran sipat datar dari Bench Mark ke
Bench Mark dengan alat waterpass dilakukan
dengan teliti, dengan kesalahan penutup tidak
boleh lebih dari (3 Vd) mm dimana d= jarak jalur
pengukuran (dalam km).
- Semua ketinggian harus mengacu pada LWS.
- Pengukuran sipat datar dilakukan dengan cara
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

54

double stand (pulang pergi). Selisih bacaan


setiap stand maksimum 2 mm dan selisih hasil
ukuran total antara pergi dan pulang tidak boleh
lebih dari (8 Vd) mm dimana d= jarak jalur
pengukuran (dalam km).
5) Pengukuran Situasi dan Detail
- Bangunan-bangunan yang penting dan berkaitan
dengan
pekerjaan
desain
harus
diambil
posisinya.
- Setiap ujung dermaga existing harus diambil
posisinya dan jarak antara ujung-ujung dermaga
yang bersebelahan juga harus diukur (guna
pengecekan)
6) Buku ukur harus diperlihatkan kepada Pengguna Jasa.
g. Pekerjaan Pemetaan
1) Metode Pemetaan
Perhitungan dalam pembuatan peta hidrografi
disajikan dalam lintang/bujur (apabila didapatkan
BM berkoordinat geografis) dengan metode:

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

55

Ellipsoide : bessel 1841.


Proyeksi : mercator.
Skala peta : untuk kolam pelabuhan 1:1.000,
untuk alur pelayaran 1:2.500.
- Meridian utama yang dipakai adalah Jakarta Baru.
- Dalam hal tidak didapatkan titik tetap,
koordinat geografis bisa menggunakan sistem
lokal (X,Y) atau UTM (dengan persetujuan
Pengguna Jasa).
- Peta menggunakan kertas ukuran A1 dan bila
luas daerah yang disurvey melebihi ukuran di
atas, peta dibagi dalam beberapa lembar. Peta
harus dibuat dengan skala besar yang
memperlihatkan
area
survey
secara
keseluruhan.
- Peta hidrografi dan topografi dibuat di atas
kertas kalkir dengan posisi selalu menghadap
Utara.
- Penulisan
angka-angka
kedalaman
pada
masing-masing jalur maksimum 10 cm untuk
skala 1:1.000 dan maksimum 25 m untuk skala
1:2.500.
- Jarak antara lajur sounding adalah 25 m,
kecuali untuk daerah di sekitar rencana
dermaga digunakan jarak antara 10 m.
2) Ruang Lingkup Pemetaan
Peta yang akan disajikan harus memperhatikan
atau
menggambarkan keadaan-keadaan penting
seperti:
- Daerah dangkal.
- Karang tenggelam maupun timbul.
- Kerangka kapal tenggelam.
- Rintangan-rintangan
yang
masuk
dalam
kategori rintangan navigasi.
- Garis kedalaman/ketinggian (kontur).
a. Untuk hidrografi, kontur yang ditarik adalah
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 15, 20, dst.
b. Untuk topografi, kontur yang ditarik adalah:
1, 2, 3, dst (interval 1 meter).
- Garis pantai dibuat lebih tebal, agar terlihat
beda antara daratan dan perairan.
- Daerah ketinggian antara 0,00 m-LWS dan
garis pantai supaya diberikan angka-angka
ketinggian (hal ini perlu mendapat perhatian
khusus).
- Pada peta dicantumkan nilai LWS (muka
surutan) terhadap MSL (duduk tengah) dan
HWS (muka air tertinggi), serta hubungan
antara pasang surut dan BM.
Simbol-simbol yang dipakai dalam penggambaran
seperti: karang, pantai berpasir, kerangka kapal
dan lain-lain harus mengacu kepada peta yang
-

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

diterbitkan Dishidros TNI-AL atau Bakosurtanal.


3) Gambar Potongan
Untuk lokasi tertentu (alternatif rencana dermaga
dan trestle) diharuskan membuat gambar-gambar
potongan melintang setiap jarak 25 m dengan
skala vertikal 1:100 dan skala horizontal 1:500
atau 1:1.000 sejumlah minimum 3 profil untuk
setiap alternatif (kecuali bila ada ketentuan lain
dalam aanwijzing). Dalam gambar harus terlihat
posisi potongan profil.

56

h. Pekerjaan Boring
Pekerjaan lapangan disyaratkan mengikuti prosedur
ASTM. Pengeboran dilaksanakan sampai kedalaman
-30 meter dari dasar laut dengan pengambilan contoh
tanah dan pelaksanaan SPT setiap interval 2 meter
(SPT pertama kali dilaksanakan pada kedalaman -1
meter dari dasar laut).
Pelaksanaan SPT diberhentikan setelah SPT > 60
sebanyak 3 (tiga) kali untuk penurunan berturut-turut
setinggi 30 cm sampai dengan ketebalan minimal 5
meter, sedangkan pengeborannya sendiri tetap
dilakukan sampai 30 meter dari dasar laut.
Apabila sampai pada kedalaman 30 meter dari dasar
laut belum dijumpai lapisan tanah keras (SPT > 60)
maka hal tersebut harus segera dilaporkan kepada
Pengguna Jasa untuk mendapat petunjuk lebih lanjut.
Apabila sangat diperlukan, kedalaman pengeboran
dapat ditambah atau dikurangi dengan persetujuan
Pengguna
Jasa.
Penambahan/pengurangan
akan
diperhitungan sebagai pekerjaan tambah kurang.
1) Metode Pelaksanaan Pengeboran
Sebelum pelaksanaan pengeboran dimulai, semua
peralatan yang akan dipergunakan dalam pekerjaan
tersebut harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu
di tempat sehingga pelaksanaan dapat berjalan
dengan lancar. Pengeboran dilakukan dengan alat
bor yang mempunyai kemampuan dan memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
- Mampu menembus tanah keras dengan nilai N-60
- Kemampuan alat bor dapat mencapai kedalaman
100 m
- Mesin diesel kapasitas 80 PK
- Water pump dengan kapasitas (50 s/d 60 liter/menit)
- Casing dengan diameter minimum 97 mm
- Drilling rod (4,05 cm)
- Tabung sampel panjang 50 cm dan diameter 7,5 cm
- Mata bor klep
- Tabung SPT
- Piston
dan
piston
rod
untuk
keperluan
pengambilan
undisturbed
sample
Kapasitas pompa harus cukup besar sehingga
terjamin bahwa sisa pengeboran yang keluar dari
lubang harus selalu diamati agar diketahui bila
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

ditemui perubahan lapisan tanah yang dibor dengan


melihat perubahan jenis tanah yang keluar. Lubang
bor yang terjadi sewaktu pengeboran harus
dilindungi dengan casing agar tidak terjadi
kelongsoran sehingga diperoleh hasil pengeboran
yang baik dan teliti. Pada setiap tambahan
kedalaman tertentu, casing harus diturunkan
sampai
dasar
lubang
dengan
menambah
sambungan pada bagian atas casing. Untuk tanah
lunak (soft soil) sistem pengeboran harus
dilaksanakan
dengan
casing
system
yaitu
mengebor dengan casing yang berputar (drilling
rod) dan ujung casing diberi mata bor.
2) Data dan Hasil Pekerjaan Lapangan
Dari setiap pengeboran harus dilakukan pencatatan
pelaksanaan pekerjaan terutama masalah teknis
lapangan yang ditemui. Hasil pekerjaan lapangan
tersebut dituangkan ke dalam bor-log yang
menggambarkan:
- Elevasi muka tanah terhadap Datum
- Number of blows pada standard penetration test
dan kedalamannya (dalam angka dan grafik)
- Kedalaman tanah dimana undisturbed sample
diambil
- Elevasi lapisan batas atas dan bawah dari setiap
perubahan lapisan tanah yang ditemui selama
pengeboran
- Deskripsi dari jenis tanah untuk tiap interval
kedalaman
- Hal-hal lain (khusus) yang ditemui/terjadi pada
saat pengeboran dilaksanakan
- Penjelasan
teknis
dari
penyimpanganpenyimpangan atau kejanggalan yang terjadi
selama pengeboran.

57

3) Undisturbed Sampling
Untuk setiap interval kedalaman 2 meter diambil
undisturbed sample dan untuk pertama kalinya
diambil sampel pada kedalaman 3 m dari muka
tanah yang bersangkutan. Tabung contoh tanah
(tube sample) yang disyaratkan adalah seamless
tube sampler ukuran OD 3 inch dan ID 2 7/8 inch
(ID=Internal Diameter, OD=Outer Diameter), tebal
tabung 1/16 inch, dengan panjang 50 cm. Tabung
yang dipakai tipe fixed-piston sampler terbuat dari
baja atau kuningan.
Tebal tabung: baja 1,5 0,1 mm dan ID 75 0,5 mm
Bila akan dipakai ID yang lain dari harga di atas
harus dipenuhi persyaratan Degree of disturbance:
A(%) = 100 (OD2- ID2) < 10 %
ID2
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi pada
waktu pengambilan contoh tanah adalah:
- Dasar lubang bor di mana akan diambil contoh
tanah harus bersih dari sisa pengeboran
dengan memompakan air ke dalam lobang bor
yang berfungsi untuk membersihkan sisa- sisa
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

58

tanah yang tertinggal, lama mencuci minimum 5


menit sebelum diadakan pengambilan sampel.
Ujung bawah casing pada saat itu harus berada
pada dasar lubang bor untuk menghindari
adanya longsoran-longsoran pada dasar lubang
dan sisa pengeboran (sludge)
Segera setelah lubang bor bersih, tabung
contoh tanah ditekan ke dalam tanah dengan
tekanan tenaga manusia. Penekanan harus
dilakukan dengan hati-hati, continuous (single
movement) dan perlahan agar air yang terdapat
dalam tabung diberi kesempatan keluar melalui
katup (ball- valve) yang terdapat pada kepala
tabung (connector head). Dalam segala hal
tidak diperkenankan menekan tabung dengan
pukulan.
Sebelum tabung ditarik dari dalam tanah, tabung
harus diputar 3600 untuk melepaskan tabung
bersama isinya dari tanah dan kemudian
diangkat keluar dari dalam tabung.
Tanah pada kedua ujung tabung harus dibuang
secukupnya dan ruangan itu kemudian diberi
parafin panas sebagai penutup dan pelindung
tanah dalam tabung. Tebal parafin pada bidang
bawah minimum 1 cm dan pada bidang atas
minimum 3 cm.
Untuk pelaksanaan uji laboratorium, sampel
dapat dipotong di lapangan dengan hati-hati
sesuai dengan panjang yang diperlukan dan
tidak boleh merusak keaslian sampel sisanya
yang belum diuji.
Pengangkutan sampel harus dilakukan hati-hati,
dijaga dari guncangan dan beda temperatur
yang tinggi (panas sinar matahari dll), sedapat
mungkin pengujian dilakukan pada laboratorium
yang dekat jaraknya dengan lokasi pengeboran
(bila terdapat laboratorium yang memenuhi
syarat).
Untuk jenis tanah khusus yang sukar diambil
undisturbed sampel-nya dengan cara biasa, harus
digunakan tabung sampel yang sesuai: soft
cohessive soil dengan alat piston sampler, non
cohessive soil dengan alat piston sampler atau core
cutter sampler, dan hard cemented soil dengan core
barrel.

4) Standard Penetration Test (SPT)


Pelaksanaan SPT pertama kali pada kedalaman -1
meter dari sea bed, SPT kedua dan selanjutnya
dimulai setelah pengambilan undisturbed sample
pada kedalaman -3 meter dari sea bed (interval 2
meter).
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah:
- Tabung SPT harus mempunyai ukuran diameter
OD 2 inch/profil ID 138 inch, panjang 24 inch
menggunakan split spoon sampler type.
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

- Hammer
yang
dipakai
untuk melakukan
penumbukan seberat 140 lbs (63,5 kg), tinggi
jatuh bebas hammer adalah 30 inch (75 cm).
- Sebelum melakukan percobaan SPT, casing
harus diturunkan sampai dasar lubang. Lubang
bor kemudian dibersihkan dari sisa pengeboran
dari tanah yang ada di dasar lubang bor
seperti yang diuraikan pada undisturbed
sampling (h.1), h.2), h.3).
- Perhitungan dilakukan sebagai berikut
a. Tabung SPT ditekan ke dalam dasar lubang
sedalam 15 cm.
b. Untuk setiap interval 10 cm dilakukan
perhitungan
jumlah
pukulan
untuk
memasukkan tabung ke dalam tanah
sampai dicapai 3 x 10 cm.
- Tabung diangkat ke permukaan tanah dan split
spoon sampler dibuka. Sludge yang terdapat
dalam
tabung
harus
dibuang,
kemudian
terhadap sampel diadakan klasifikasi. Unified
soil
classification
dipergunakan
untuk
menyusun soil description atau lithology. Tanah
tersebut dapat dipakaiuntuk laboratorium test.
Untuk itu sampel harus dimasukkan dalam
kantong plastik yang ditutup dengan baik dan
diberi identitas nomor boring dan kedalamannya.
- Percobaan SPT dihentikan setelah didapatkan
harga SPT-60 sebanyak 3 (tiga) kali berturutturut (pengeboran tetap dilaksanakan hingga
kedalaman -30 meter dari seabed dengan
memakai core tube system/diamond bit).
i.

Pekerjaan Sondir
Pekerjaan sondir dilakukan untuk mendapatkan
gambaran dan hubungan antara kedalaman lapisan
tanah dengan kekerasan atau kepadatannya serta
untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras
bilamana ada. Alat sondir yang dipakai adalah tipe
Dutch Penetrometer
yang
mempunyai
Conus
dengan luas 10 cm dan sudut lancip kerucut 60
untuk mengukur perlawanan ujung, dilengkapi dengan
mantel (sleeve) yang berdiameter sama dengan
conus dan luas selimut 100 cm untuk mengukur
lekatan (friction) dari lapisan tanah.
Kapasitas minimal alat sondir disyaratkan harus
mampu menembus lapisan-lapisan tanah keras sampai
tahanan ujung qc > 250 kg/cm.
Disyaratkan
menggunakan Gouda mekanis.
1) Metode pelaksanaan sondir
Letak titik-titik penyondiran harus sesuai rencana
yang telah ditetapkan Pengguna Jasa. Peralatan
Sondir dan perlengkapan harus sudah berada di
lapangan sebelum pelaksanaan agar pekerjaan
dapat berjalan dengan lancar.
Dalam pelaksanaannya, alat sondir harus dijangkar
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

59

60

ke dalam tanah atau platform atau diberi


pemberat yang cukup antara lain drum diisi air dll,
agar alat sondir cukup kokoh dan tidak terangkat
pada waktu conus menembus tanah keras.
Besaran- besaran yang hendak diperoleh dari
penyondiran
ini
adalah
hubungan
antara
kedalaman dengan:
- Tahanan ujung (end resistance)
- Tahanan geser setempat (local friction)
- Jumlah tahanan (total friction)
Untuk mendapatkan harga-harga tersebut conus
ditekan ke dalam tanah dengan tenaga mekanis
dari peralatan sondir dengan perantaraan batangbatang sondir. Pembacaan
dilakukan setiap
interval 20 cm pada waktu dilakukan dengan
kecepatan maksimum 1 cm/detik. Besarnya
perlawanan conus dan tahanan geser dibaca pada
parameter.
2) Kedalaman sondir
Sondir dapat dihentikan dengan ketentuan sebagai
berikut:
- Perlawanan conus sudah mencapai qc > 250
Kg/cm.
Kriteria qc > 250 kg/cm adalah bila conus yang
bersangkutan tidak dapat lagi masuk lebih
dalam setelah dicoba menekan conus tiga kali
berturut-turut. Apabila diperkirakan conus kena
batu atau kedalaman stang sondir masih
rendah, sondir perlu dipindahkan ke tempat
yang baru.
- Kedalaman
sondir
mencapai
30
m
dari
permukaan
tanah/dasar laut.
Apabila sampai dengan kedalaman tersebut
belum diperoleh qc > 250 kg/cm, hal ini harus
dikonsultasikan dengan Pengguna Jasa/Tim
Evaluasi.
j.

Pekerjaan Pemetaan Kerusakan


Pekerjaan ini bertujuan untuk memetakan pola
kerusakan dan mengidentifikasi jenis kerusakan yang
terjadi. Jenis pengukuran lapangan yang dilakukan
disesuaikan dengan jenis kerusakan dan potensi
kerusakan yang mungkin terjadi. Bentuk-bentuk
pengukuran lapangan yang dilakukan dapat dilihat
pada Tabel 1.

Tabel 1. Bentuk-bentuk Pengukuran Lapangan dan Laboratorium yang


dilakukan
No.
1.

Pengujian
Visual
Inspection

Alat
Observasi
Visual

Prinsip
Mengamati,
mengklasifikasi, dan
mendokumentasikan
bagian yang rusak pada
permukaan struktur

Tujuan
Memetakan pola
kerusakan seperti
retak, pecah, karat,
spalling, atau cacat
akibat konstruksi

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

yang terekspos
2.

Pengukuran
lebar retak

Crack - meter

3.

Identifikasi
detail
penulangan
dan selimut
beton

Cover - meter

4.

Penentuan
kekuatan
beton aktual

Core drill

Schmidt
Rebound
Hammer

Mengukur lebar retak


dengan skala pada
crack-meter
Medan magnet
diaplikasikan pada
permukaan beton;
keberadaan dari
tulangan yang tertanam
merubah medan ini,
dan pengukuran dari
perubahan ini
memberikan informasi
mengenai penulangan
dalam beton
Sampel core drill
diambil dari struktur
beton eksisting

Pengukuran sifat
pantulan (diberikan
dalam nilai-R) yang
didapatkan dari impak
massa benda yang
terhubung dengan
pegas pada permukaan
beton

Compression
Machine
Weight Scale
5.

Pengukuran
kedalaman
retakan

Ultrasonic
Pulse
Velocity

6.

Pengukuran
potential
korosi

Half-cell
Potential

Menggunakan sifat
gelombang ultrasonik
untuk mengidentifikasi
kedalaman retak
Mengukur perbedaan
potensial (tegangan)
antara tulangan baja
dan elektroda referensi
standar; tegangan yang
diukur memberikan
indikasi kemungkinan
bahwa korosi terjadi di
baja tulangan

(selimut beton yang


kurang)
Untuk menentukan
lebar retak

61

Mengidentifikasi
jumlah dan ukuran
baja tulangan dan tebal
selimut beton

Mengukur secara
langsung kekuatan
material beton dan
sifat fisiknya.
Mendeteksi kerusakan
seperti pengelupasan,
keropos, dan retak
pada beton
Membandingkan
kualitas material beton
Mendeteksi potensi
pengelupasan

Untuk menentukan
kuat tekan material
beton yang diambil
dari alat core drill.
Untuk menimbang
sampel beton core
drill yang akan diuji
Untuk mengukur
kedalaman retak
Mengidentifikasi
wilayah atau daerah
dalam struktur beton
bertulang di mana ada
kemungkinan besar
bahwa korosi yang
terjadi pada saat
pengukuran.
Mengidentifikasi
lokasi depassivasi baja
tulangan

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan

7.

Pengambilan Small
sampel
Electric Drill
beton

8.

Pengujian
kadar
klorida

Chemical
Test
Equipment

62

Untuk mengumpulkan
bubuk konkret dari
kedalaman tertentu
dalam struktur beton
untuk analisis klorida
Metode titrasi
volumetrik dalam
medium aquades

Untuk mengukur kadar


ion klorida terlarut
dalam air dalam bubuk
beton diambil dari
lapangan

k. Pembuatan Desain
1) Umum
Konsultan
ditugaskan
untuk
melaksanakan
pekerjaan- perkerjaan di bawah ini sebagai suatu
kesatuan pekerjaan dengan menggunakan datadata dari desain dermaga prototipe, hasil survey
topografi, bathymetri dan penyelidikan tanah serta
data-data sekunder, yaitu mencakup:
a) Tata
letak
fasilitas
pelabuhan
yang dibutuhkan/direncanakan.
b) Posisi alur (access channel), labuh jangkar
(anchorage) dan kolam pelabuhan (turning
basin).
c) Sistem struktur bangunan atas dermaga dan
fasilitas pelabuhan lainnya.
d) Bahan bangunan yang akan digunakan
dan sumber materialnya.
e) Perencanaan sistem pondasi.
f) Dokumen tender dan gambar-gambar
perencanaan standar.
g) Sistem pelaksanaan pembangunan dermaga
dan fasilitas pelabuhan yang dibutuhkan dalam
hal sistem struktur, bahan bangunan, sistem
pondasi lapangan terkait dengan peralatan,
mobilisasi dan logistik.
2) Penentuan Sistem Struktur Bangunan Atas
Dermaga dan Fasilitas Pelabuhan Lainnya yang
dibutuhkan
Sistem struktur bangunan atas dermaga dan
fasilitas
pelabuhan
lainnya
didasarkan
atas
kekuatan/keamanan, kesesuaian bahan bangunan,
tingkat kemudahan pelaksanaan dan kebutuhan
pelayanan bongkar muat pelabuhan.
Tipe bangunan atas dermaga meliputi:
a) Floating type: ponton (baja, beton).
b) Fixed
type:
lantai
dermaga,
balok-balok
pendukung lantai, kepala tiang, dudukan fender
dan bolder, tipe dan instalasi fender, sarana
sandar dan apabila dibutuhkan dilengkapi
dengan breasting dolphin atau mooring dolphin.
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

Sistem struktur bangunan atas dermaga dapat terdiri


dari:
a) Struktur monolit (peer, balok).
b) Sistem pracetak (lantai).
c) Sistem dengan menggunakan bahan kayu.

63

Sistem struktur fasilitas pelabuhan lainnya, antara lain:


a) Jalan dan lapangan penumpukan
Bagian atas
: aspal, coneblock, lapisan
perkerasan, dll.
Pondasi
: pasangan batu kosong,
urugan pasir/sirtu, dll.
Bagian tepi/pinggir : pasangan batu
kosong/spesi, kansteen,
dll.
b) Gudang dan terminal penumpang
Atap
: kuda-kuda
kayu/baja,
atap genteng/seng/baja deck, dll.
Dinding
: batu bata, batako, spesi,
ring balk beton, dll.
Lantai
: beton, keramik, dll.
Lain-lain
: pintu, jendela, ventilasi, dll.
c) Fasilitas penunjang, antara lain: instalasi air
bersih, instalasi air kotor, instalasi listrik, pagar,
dll.
3) Bahan bangunan yang digunakan.
Bahan
bangunan
yang
digunakan
harus
dipertimbangkan kesesuaiannya dengan aspek
keawetan,
kekuatan
dan
kemudahan
pengerjaannya. Macam bahan bangunan yang
dapat dipilih mencakup:
a) Bahan alam asli, misalnya batu gunung maupun
sungai, kerikil, pasir, kayu dan lain-lain.
b) Bahan batuan, misalnya beton (bertulang/tidak
bertulang/pratekan), baja, karet dan lain-lain.
4) Informasi lain-lain
a) Informasi mengenai sumber bahan bangunan
termasuk tersedianya air kerja juga menjadi
bahan pertimbangan untuk perencanaan.
b) Hal-hal lain yang spesifik pada daerah/lokasi
yang akan dibangun, misalnya adanya benda
hanyutan
sungai,
kemungkinan
hilangnya
bagian-bagian konstruksi dan lain- lain agar
menjadi pertimbangan juga.
5) Perencanaan sistem pondasi
Berdasarkan
hasil
survey
soil,
hidrografi,
pembebanan dan pemilihan sistem konstruksi
fasilitas
pelabuhan,
kemudian
dikerjakan
perencanaan sistem pondasi. Sistem pondasi yang
direncanakan juga harus memperhitungan bahan
bangunan yang akan digunakan dan sistem
pelaksanaanya serta lingkungan pekerjaan (di air
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

laut atau di air tawar). Setiap alternatif sistem


pondasi akan mempengaruhi berbagai parameter
lainnya, sehingga untuk menetapkan alternatif
sistem pondasi perlu dibahas kembali parameterparameter yang mempengaruhi.
6) Dokumen tender dan gambar
pelaksanaan Dokumen tender
terdiri dari:
a) Gambar-gambar konstruksi
b) Rencana kerja dan syarat-syarata
c) Spesifikasi umum dan khusus
d) Bill of Quantity
Termasuk dalam dokumen tender:
a) Sistem pelaksanaan dan peralatan yang akan
digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.
b) Kesesuaian dengan keadaan alam dan sifat
operasional lokasi pembangunan.
Persyaratan peralatan yang diperlukan
pelaksanaan pekerjaan, mencakup:
a) Alat pancang apung
b) Mobile crane
c) Ponton (dalam jumlah cukup)
d) Tug boat
e) Work boat

untuk

Gambar Pelaksanaan:
Gambar
pelaksanaan
harus
dapat
memberi
pedoman kepada pelaksana dalam mewujudkan
konstruksi yang direncanakan. Pedoman tersebut
antara lain menyangkut: posisi konstruksi, dimensi
konstruksi, volume konstruksi, elevasi konstruksi,
tahapan konstruksi, dll. Seluruh gambar pelaksana
harus dilengkapi dengan skala, ukuran, elevasi
berdasarkan lebih kurang 0,00 m-LWS, kualitas yang
akan dicapai (misalkan: mutu baja, mutu beton), dll.
Seluruh gambar pelaksanaan dibuat dengan
menggunakan komputer (CAD) dan soft copy-nya
diserahkan
bersama
Laporan
Akhir
kepada
Pengguna Jasa. Gambar pelaksanaan meliputi:
a) Gambar lay-out (dilengkapi dengan garis kontur,
arah mata angin, skala posisi BM, dll)
b) Gambar denah (misalkan posisi tiang, balok, dll)
c) Gambar potongan memanjang dan melintang
d) Gambar detail
Dalam gambar pelaksanaan dilampirkan data:
grafik pasang surut, profil tanah, peta hidrografi dan
topografi.
7) Dasar-dasar Perencanaan
a) Sistem konstruksi
Dari hasil desain dermaga prototipe, konsultan
perencana harus menetapkan alternatif sistem
konstruksi
yang
sesuai
dengan
kondisi
Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)
Fasilitas Pelabuhan

64

65

pelabuhan
dimana
akan
direncanakan
pembangunan dermaga.
Pilihan alternatif yang sesuai harus ditetapkan
mencakup:
Sistem konstruksi bangunan atas.
Sistem konstruksi bangunan bawah/pondasi.
Bahan bangunan yang akan digunakan.
Metode pelaksanaan konstruksi dan peralatan
yang akan digunakan
b) Data peta kedalaman laut dan peta topografi
Data
peta
kedalaman
laut
dan
peta
topografi
yang digunakan sebagai dasar
perencanaan fasilitas pelabuhan adalah sesuai
dengan hasil survey konsultan.
Peta-peta tersebut di atas akan digunakan untuk
perencanaan
Tatanan prasarana laut dan darat (general layout plan)
Alur dan kolam pelabuhan
Olah gerak kapal
Kebutuhan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran
(SBNP), dll
c) Data hasil penyelidikan tanah
Data hasil penyelidikan tanah untuk pelabuhan
yang akan direncanakan sesuai hasil survey
yang telah dilakukan. Data hasil penyelidikan
tanah digunakan untuk merencanakan sistem
pondasi baik pondasi langsung maupun pondasi
dalam atau tiang pancang. Data-data tersebut
juga
dipergunakan
untuk
perhitungan
konsolidasi dan stabilitas timbunan.
d) Data-data sekunder
Data-data sekunder antara lain: data operasional
pelabuhan dan arsitektur daerah setempat. Data
operasional pelabuhan untuk merencanakan
pengembangan pelabuhan meliputi tata letak
bangunan, luas bangunan, jenis bangunan dan
arsitektur
daerah
digunakan
untuk
merencanakan
bentuk
bangunan (misalnya
bentuk bangunan terminal penumpang yang
merupakan ciri khas daerah tersebut).
9. BIAYA PELAKSANAAN KEGIATAN (HOW MUCH)
Kegiatan DED Fasilitas Pelabuhan akan dibiayai melalui
DIPA APBN Satuan Kerja Peningkatan Fungsi Pelabuhan
dan Pengerukan Pusat Tahun Anggaran 2013.

Dokumen Seleksi Umum Detail Engineering Design (DED)


Fasilitas Pelabuhan