Anda di halaman 1dari 41

SAR ( SEARCH AND RESCUE ) DAN ESAR

1. PENDAHULUAN
SAR adalah akronim dari Search and Rescue yaitu kegiatan
dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang
hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam
musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan, dan bencana.
Istilah SAR telah digunakan secara internasional tak heran jika sudah
sangat mendunia sehingga menjadi tidak asing bagi orang di belahan
dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan
berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di
daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal
yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim
penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan
terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat
darurat dan lain-lain, sementara pada musibah pelayaran bila terjadi
kapal tenggelam, terbakar, tabrakan, kandas dan lain-lain. Demikian
juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran, gedung
runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Terhadap musibah bencana alam, operasi SAR merupakan salah
satu rangkaian dari siklus penanganan kedaruratan penanggulan
bencana alam. Siklus tersebut terdiri dari pencegahan (mitigasi) ,
kesiagaan (preparedness), tanggap darurat (response) dan pemulihan
(recovery), dimana operasi SAR merupakan bagian dari tindakan
dalam tanggap darurat.
Di bidang pelayaran dan penerbangan, segala aspek yang
melingkupinya termasuk masalah keselamatan dan keadaan bahaya,
telah diatur oleh badan internasional IMO dan ICAO melalui konvensi
internasional. Sebagai pedoman pelaksanaan operasi SAR, diterbitkan
IAMSAR Manual yang merupakan pedoman bagi negara anggotanya
dalam pelaksaan operasi SAR untuk pelayaran dan penerbangan.
Untuk menyeragamkan tindakan agar dicapai suatu hasil yang
maksimal maka digunakan suatu Sistem SAR (SAR Sistem) yang perlu
dipahami bagi semua pihak terlibat. Dalam pelaksanaan operasi SAR
melibatkan banyak pihak baik dari militer, kepolisian, aparat
pemerintah, organisasi masyrakat dan lain-lainnya. Demikian juga
sesuai dengan ketentuan IMO dan ICAO setiap negara wajib
melaksanakan operasi SAR. Instansi yang bertanggung jawab di bidang
SAR berbeda-beda untuk setiap negara sesuai dengan ketentuan

berlaku di masing-masing negara, di Indonesia tugas tersebut diemban


oleh Badan SAR Nasional (BASARNAS).
2. TEKNIK-TEKNIK PENCARIAN
Ada 5 metode dalam teknik pencarian orang hilang:
1. Preliminary Mode
Mengumpulkan informasi awal, saat dari mulai tim pencari
diminta bantuan tenaganya sampai kedatangannya dilokasi,
formasi dan perencanaan pencarian awal, perhitungan dan
sebagainya.
2. Confinement Mode
Memantapkan garis batas untuk mengurung orang hilang agar
berada di area pencarian ( search area ).

Trail block
Tim kecil dikirimkan untuk memblokir jalan setapak yang
keluar masuk search area. Mereka mencatat nama dan
data dari setiap orang yang meninggalkan search area dan
memberitahu yang akan masuk search area tentang orang
hilang. Setidak-tidaknya satu orang tetap berjaga
sepanjang waktu dan memperhitungkan bahwa tidak
seorangpun dapat lewat tanpa diketahui.
Trail blok harus tetap diawasi sepanjang waktu sampai
diperintahkan dalam bentuk lain.

Road block
Dasarnya sama saja dengan trail blok. Apabila search area
diputuskan tertutup bagi yang bukan tim pencari,
seseorang ( petugas hukum ) umumnya ditempatkan
dalam Road blok.

Look outs ( pos pengamat )


Menempatkan seorang pengamat sementara tim kecil lain
bergerak memeriksa beberapa lokasi lain dan objek-objek
mencurigakan yang berada dalam jarak pandang
pengamat.

Camp-in
Sebuah camp-in dapat juga berbentuk look outs, trail blok,
radio relay atau situasi lain dimana satu tim kecil
menempati lokasi-lokasi ttu. Itu mungkin merupakan lokasi
dimana posisinya mempunyai luas pandang yang baik,
cabang/pertemuan jalan setapak, tempat pertemuan
sungai dll. Alat-alat yang dapat menarik perhatian orang
hilang ke arah pos dapat digunakan. Ditekankan pada tim
kecil yang memiliki kemampuan cukup untuk menempati
lokasi yang diketahui dan memeriksa daerah sekitarnya.

Track traps
Adalah semacam bentuk camp-in yang tidak
ditempatkanseseorang disana yang mana sewaktu-waktu
mungkin akan berguna. Perlu diperhatikan, ini harus
merupakan lokasi area dimana orang hilang diperkirakan
akan bergerak. Sebarkan debu meluas dan periksa ulang
area itu secara berkala untuk melihat jejak.

String lines
Look outs, camp-in khususnya akan efektif pada daerah
terbuka dimana luas pandang baik. Di dala daerah yang
berpohon dan bersemak lebat, Tagged String Lines
( bentang tali yang bertanda ) dapat lebih sempurna untuk
kepentingan/pengunaan yang sama.
Tags ( tanda-tanda ) pada String Lines menarik perhatian
orang hilang untuk bergerak mengikuti bentang tali itu
keluar ke tempat yang aman.
Setelah Initial Confinement ( pemagaran awal ), tambahan
String Lines dapat digunakan untukpemagaran dan
menandaisektor pencarian.

3. Detection Mode
Pemeriksaan tempat-tempat yang dicurigai bila dirasa perlu dan
pencarian dengan cara menyapu ( sweep searches )
diperhitungkan untuk menemukan orang hilang atau barangbarangnya yang tercecer.

Tipe 1 search

Pemeriksaan tidak resmi yang segera dilakukan terhadap area


yang dianggap paling memungkinkan.

Tipe 2 search
Kriterianya adalah efisiensi pemeriksaan yang cepat dan
sistematik atas area yang luas dengan metode penyapuan
yang mana akan menghasilkan hasil akhir tertinggi dan
setiap pencari per jam kerjanya atau disebut juga Open
Grids.

Tipe 3 search
Kriteria adalah kecermatan pencarian dengan sistematika
yang ketat atas area yang lebih kecil menggunakan
metode yang cermat atau disebut juga CloseGrids.

4. Tracking Mode
Mengikuti jejak atau barang-barang yang tercecer yang
ditinggalkan orang hilang.
Tracking umumnya ada 2 bentuk:
a. Tracking dengan menggunakan anjing pelacak
b. Tracking oleh manusia yang terlatih
5. Evacuation Mode
Memberikan keperawatan pada korban dan membawanya
dengan tandu apabila dibutuhkan.
Dari kelima mode itu, anggota Explorer Search And Rescue
(ESAR) Team, umumnya akan banyak terlibat pada Confinement,
Detection, dan Evacuation. Pada Preliminary Mode, Operastion
Leader (OL) dari ESAR akan bertugas sebagai penghubung
dengan badan yang bertanggung jawab (Polisi, Badan SAR
Nasional, dan lain-lain) dan bertanggung jawab bersama
kelompok SAR yang lain untuk merumuskan perencanaan
pencarian. Anggota tim umumnya tidak terlibat dalam masalah
ini. Sejauh itu juga, ESAR Team tidak dilibatkan di dalam Tracking
Mode.

Tracking Mode biasanya menggunakan :


- Anjing pelacak
- Manusia yang terlatih menyandi jejak.
3. TAHAPAN OPERASI SAR
B. Tahapan kekhawatiran (Awarness Stage)
Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan
muncul (saat disadarinya terjadi keadaan darurat / musibah).
A. Tahapan kesiagaan (Initial Action Stage)
Adalah persiapan untuk menyiagakan fasilitas SAR dan untuk mendapatkan
informasi yang lebih jelas, antara lain :

Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang


didapat
Menyiapkan fasilitas SAR

Pencarian awal dengan alat komunikasi : Pencarian awal


dengan komunikasi (Preliminary Communication Check /
Precom) dan Perluas pencarian dengan komunikasi
(Extended Communication Check / Excom).

B. Tahapan perencanaan (Planning Stage)

C.

Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respons)


terhadap keadaan sebelumnya, antara lain :
Search Planning Event (tahap Perencanaan Pencarian).
Search Planning Sequence (urutan Perencanaan Pencariaan).
Degree of Search Planning (tingkatan Perencanaan Pencarian).
Search Planning Computating (Perhitungan Perencanaan Pencarian).
Tahapan operasi (Operation Stage)

Berpedoman pada tahapan sebelumnya


Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian.
Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui,
yang diperkirakan ditinggalkan suvivor (Detection Mode).

Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor


(Tracking Mode).
Menolong / menyelamatkan dan mengevakuasi korban
(Evacuation Mode). Dalam hal ini yaitu memberikan perawatan
gawat darurat kepada korban yang membutuhkannya dan
membawa korban yang cedera kepada perawatan yang
memuaskan (evakuasi).
Mengadakan briefing kepada SRU.
Mengirim / memberangkatkan fasilitas SAR.
Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.
Melakukan pergantian / penjadwalan SRU di lokasi kejadian.
F. Mission Conclution Stage (Tahap Akhir Misi).
Pada tahap ini dilakukan :
Evaluasi hasil kegiatan
Pengembalian unsur-unsur kepada satuannya masing-masing.
Penyiagaan kembali (agar setiap unsur tetap siap bergerak
setiap saat).
Komponen-komponen yang mendukung tahapan-tahapan di
atas :
1. Organisasi
Merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek
pengerahan
unsur,
koordinasi,
komando,
dan
pengendalian, kewenangan, lingkup penegasan, dan
tanggung jawab untuk penanganan suatu musibah.
2. Fasilitas
Adalah komponen berupa unsur, peralatan, perlengkapan, serta
fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam misi SAR.
3. Komunikasi
Adalah komponen penyelenggara komunikasi sebagai sarana untuk
melakukan fungsi deteksi terjadinya musibah, fungsi komando, dan
pengendalian operasi, membina kerja sama / koordinasi selama SAR
berlangsung.
4. Emergency Care (perawatan gawat darurat)
Adalah komponen penyediaan fasilitas perawatan gawat darurat
yang bersifat sementara termasuk memberikan dukungan terhadap
korban di tempat musibah sampai ke tempat yang lebih memadai.
5.Dokumentasi
Adalah komponen pendataan laporan dari kegiatan, analisa, serta
data-data kemampuan yang akan menunjang efisiensi pelaksanaan
operasi SAR, serta untuk perbaikan atau pengembangan kegiatankegiatan misi SAR yang akan datang.

PENGETAHUAN PRAKTIS SEARCH AND RESCUE


Sebelumnya telah diuraikan mengenai faktor-faktor penyebab
terjadinya kecelakaan, khususnya di gunung hutan. Hal yang berkaitan
dengan masalah tersebut adalah kegiatan SAR (Search and
Rescue=mencari dan menolong). Kegiatan SAR sudah banyak dikenal,
baik SAR di udara, di laut, dan di darat.
Tujuan SAR adalah mencari dan menolong dengan cara efektif dan
efisien, jiwa manusia dan sesuatu yang berharga yang berada dalam
keadaan mengkhawatirkan (distress). Dengan demikian kegiatan SAR
dalam pelaksanaannya haruslah cepat, cermat, dan cekatan (3C).

CEPAT
CERMAT
CEKATAN
Anggota unit SAR harus dapat :
Berpikir dan bertindak cepat sesaat setelah mendengar berita
kecelakaan atau kehilangan.
Membuat strategi dengan cermat, artinya dengan persiapan dan
perhitungan yang matang, berdasar dan terkoordinasi.
Melaksanakan strategi yang telah dibuat dengan cekatan dan
dengan teknik yang terlatih serta kedisiplinan tinggi.
Masih sering kita dengar mengenai pelaksanaan SAR gunung hutan di
Indonesia yang kurang berhasil, yaitu tidak berhasilnya menolong
korban (survivor) dalam keadaan hidup. Hal yang dapat menghambat
keberhasilan misi SAR adalah tidak ada/kurangnya faktor 3 C tersebut,
misal :
Keterlambatan
atau
kurangnya
informasi,
sementara
kemampuan korban untuk bertahan hidup semakin menurun.
Kurangnya komunikasi dan koordinasi, baik perorangan ataupun
antar kelompok, khususnya pecinta alam, pendaki gunung, dan
instansi yang bergerak dalam bidang ini yang kebetulan
tergabung dalam misi SAR tertentu.
Kekurangan/ ketidak seragaman pengetahuan dan pemahaman
tentang SAR pada setiap kelompok.

Kurang disiplin dan tanggung jawab, baik individu maupun


kelompok dalam melaksanakan aturan main di dalam
melakukan
kegiatan
SAR
tersebut
serta
keseragaman/kesepakatan sistem pencarian.

Organisasi SAR di indonesia, sesuai dengan Keppres No.11 tahun 1972,


sebelum dibentuk untuk penanganan SAR penerbangan dan pelayaran.
Akan tetapi sebelum kegiatan di alam terbuka mulai banyak digiati,
maka sangat perlu adanya SAR darat sehingga secara organisasi SAR
ini dapat terbentuk dan berfungsi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhannya.
Organisasi operasi SAR ini tidak harus di bawah koordinasi dari unsurunsur di dalam organisasi SAR pemerintahan tetapi dapat saja
dikoordinasikan pejabat yang mempunyai wewenang (misalnya dalam
penguasaan daerah, mempunyai fasilitas-fasilitas, dan sebagainya)
seperti Pangdam, Kapolres, Kapolda, dan lainnya. Jadi organisasi SAR
ini bersifat temporer (dibentuk dan dibubarkan sesuai kebutuhan, pada
saat misi SAR dimulai, berlangsung, dan selesai) dan organisasi SAR
inilah yang sekarang dipergunakan pada operasi SAR darat (khususnya
di Indonesia).
ORGANISASI SAR
Organisasi SAR yang Dikenal di Indonesia.
o BASARNAS (Badan SAR Nasional)
Dibawah koordinasi DEPT. Perhubungan.
o KKR (Kantor Koordinasi Rescue) : ada 4 Lokasi (Jakarta,
Surabaya, Ujung Pandang, dan Biak).
o SKR (Sub Koordinasi Rescue) : ada 15 daerah antara lain
( Medan, Padang, Tanjung Pinang, Pontianak, Denpasar,
Menado, Banjarmasin, Kupang, Ambon, Balikpapan,
Merauke, Jaya Pura).
Organisasi Operasi SAR
Struktur yang dibuat ketika terjadinya suatu misi SAR ( Insidentil ), dan
akan dibubarkan setelah misi selesai.

SC (SAR Coordinator)
Biasanya pejabat pemerintahan yang mempunyai wewenang dalam
penyediaan fasilitas.
SMC (SAR Mission Coordinator)
:
Harus orang mempunyai pengetahuan yang tinggi dalam menentukan
MPP (Most Probable Position), menentukan area pencarian, strategi
pencarian (beberapa unit, teknik, dan fasilitasnya).
OSC (On Scene Commander)
Tidak mutlak ada tetapi juga bisa lebih dari satu tergantung wilayah
komunikasi dan kesulitan jangkauannya.
SRU (Search And Rescue Unit).
Adalah yang menjadi ujung tombak suatu pencarian, merupakan teamteam yang melakukan pencarian di lapangan.
Tugas SMC
1. Menganalisa data yang masuk/diperoleh untuk :
menentukan datum (MPP)
menentukan daerah pencarian
menentukan jumlah unsur yang dipakai
memperkirakan berapa lama waktu operasi.
2. Melakukan koordinasi dengan semua unsur yang terlibat serta
melayani hubungan koordinasi (misalnya dengan pejabatpejabat,wartawan, dan lain-lain).
3. Menyesuaikan fasilitas logistik yang diperlukan SRU.
Sistem SAR
KEKHAWATIRAN
KESIAGAAN
PERENCANAAN
PERTOLONGAN

EVALUASI

SUKSES

Gagal
Salah data
Salah Area
Siaga kemba;i

Perencanaan
Pada tahap ini dituntut suatu persiapan perencanaan yang efektif
(termasuk koordinasi). Pelaksanaannya adalah daerah gerak (Confinement
Mode) yang merupakan daerah pencarian.
1. Search Planning Event (Tahap Perencanaan Pencarian).
Ada 5 tahapan pencarian yang berurutan, yaitu :
a. Memperkirakan datum atau MPP (Most Probable Position).
b. Menentukan luas area pencarian (Search Area).
c. Memilih pola pencarian yang sesuai (Search Pattern).
d. Menentukan pencakupan daerah yang diinginkan (Area Coverage).
e. Mengembangkan perencanaan pencarian yang mungkin dilaksanakan
dengan menggunakan unit pencari (SRU) yang ada.
2. Search Planning Sequence (Urutan Perencanaan Pencarian).
Secara umum urutan perencanaan pencarian adalah sebagai berikut :
a. Menentukan posisi kejadian darurat dan mempertimbangkan
pengaruh angin, arus air, dan hal-hal lain yang mungkin
berpengaruh terhadap gerakan korban sejak waktu kecelakaan
terjadi sampai tibanya unit pencari di tempat kejadian.
b. Menentukan luas area pencarian untuk kemungkinan kesalahaan
navigasi dari unit pencari dan kesalahan perhitungan dari faktorfaktor yang berpengaruh terhadap survivor.
c. Memilih pola pencarian terbaik yang akan digunakan, dalam hal ini
yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat kejadian kecelakaan
tersebut.
d. Tipe dari Search Target yang dicari, dipertimbangkan dari jarak
berapa target itu dapat dideteksi dengan alat sensor yang dimiliki
unit pencari. Lebar penyapuan (sweep width) dan jarak jalur
(search track spacing) harus diperhitungkan dan ditentukan untuk
perkiraan kemampuan pendeteksian (Probability of Detection).
e. Jumlah SRU yang tersedia dan keterbatasan pada faktor-faktor lain
juga diperhitungkan (bila dianggap perlu) untuk mengembangkan
perencanaan pencarian agar dapat melengkapi atau mengatasi
suatu keadaan tertentu yang mungkin muncul.
Catatan :
SMC berkoordinasi dengan semua unsur-unsur yang terlibat dan
memberikan pengarahan kepada Unit Pencari dan Penolong (SRU) yang di
bawah koordinasi aksi pencariannya.

3. Tingkatan Perencanaan Pencarian (Degree of Search Planning)


Secara umum tingkatan dari perencanaan pencarian ini membutuhkan
pertimbangan, sebagai berikut :
Keadaan lingkungan alam dari insiden SAR itu.
Ketepatan pelaporan posisi dari insiden.
Dapat / tidaknya unit SAR yang terlatih / tersedia digunakan.
Waktu yang terlewat sejak kecelakaan terjadi.
Keadaan lingkungan alam dari suatu insiden SAR menimbulkan faktorfaktor spesifik yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan
pencarian
Contoh :
Untuk suatu misi yang dilakukan di laut, ada beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap gerak survivor (survivor drift factor) yang akan
masuk perhitungan tetapi hanya satu faktor saja yang mungkin
dimasukkan bila misi ini dilakukan didaerah gunung sehingga :
a. Apabila posisinya diketahui, perencanaan pencarian dapat
dikatakan relatif sederhana.
b. Apabila hanya arah tujuan yang diketahui, perencanaan pencarian
akan lebih sulit.
c. Apabila hanya gambaran-gambaran kasar yang diketahui,
perencanaan pencarian akan menjadi sangat sulit.
Bagaimanapun tepatnya lokasi suatu kecelakaan diketahui,
perencanaan pencarian akan selalu dibutuhkan. Mungkin hal itu
direncanakan hanya dalam waktu singkat tetapi dengan
pertimbangan-pertimbangan profesional untuk keseluruhan
tahapan atau memerlukan waktu sampai beberapa jam dengan
evaluasi yang berkesinambungan, perhitungan-perhitungan,
pertimbangan-pertimbangan besar kecilnya faktor yang
berpengaruh, dan koordinasi yang terus menerus sebelum satu
SRU pun diberangkatkan.
4. Perhitungan Perencanaan Pencarian (Search Planning
Computating)
Perhitungan itu meliputi :
Lokasi insiden SAR (SAR Incident Location)
Tiga situasi yang mungkin timbul yang perlu diperhatikan untuk
menentukan lokasi dari insiden SAR adalah :
posisi diketahui
jalan lintas diketahui
area diketahui.

Definisi-definisi
yang
digunakan
dalam
Perencanaan
Pencarian :
1. Initial Location (Lokasi Antara).
Lokasi antara yang dimaksud dapat berupa :
a. Aerospace Position (posisi di angkasa)
b. Parachute Opening Position (posisi parasut mengembang)

c. Surface Position (posisi di permukaan bumi)


d. Under Water Position (posisi di bawah permukaan air)
e. Dalam hal ini hanya akan disinggung lokasi antara pada
permukaan bumi (di darat).
2. Definisi Datum dan Drift Datum.
a. Datum adalah kemungkinan lokasi dari search object melalui
koreksi dari drift pada banyak arah gerakan yang penting
selama misi berlangsung. Ada tiga tipe datum yang mungkin
berkembang bergantung pada bagaimana ketepatan lokasi
antara dari search object itu diketahui, yaitu datum point,
datum line, dan datum area.
b. Drift adalah gerakan yang terarah dari search object yang
disebabkan oleh momentum, helaan, angin, dan kekuatankekuatan lain.
c. Datum Point (titik Datum) adalah titik yang dinyatakan
apabila posisi antara dari search object diketahui. Perlu
diperhatikan catatan waktu tertentu menurut jam (clock
time).
d. Datum
Line
(Garis
Datum)
adalah
garis
yang
menghubungkan dua atau lebih titik datum, diperhitungkan
pada waktu (jam) tertentu yang sama.
e. Datum Area (Daerah Datum) adalah lokasi search object
diperkirakan. Daerah Datum paling sering dibutuhkan apabila
tidak diketahui posisi atau jalur lintasan.
Langkah-langkah Perhitungan Perencanaan Pencarian.
Langkah pertama dalam perencanaan pencarian adalah menentukan
datum, yang dimulai dari laporan suatu insiden SAR. Laporan ini bisa
berupa posisi, jalur lintasan, atau area. Langkah berikutnya adalah koreksi
drift.
Pola-pola Pencarian (Search Pattern).
Setelah lokasi dan luas Search Area ditentukan, suatu pencarian yang
sistematis terhadap target haruslah direncanakan. Pemilihan pola-pola
pencarian bergantung pada beberapa faktor, antara lain :

Ketepatan datum
Luas search area
SRU yang dapat digunakan untuk pencarian
Kemampuan SRU untuk dapat bergerak dan bernavigasi
Kondisi cuaca dan medan di search target
Besarnya / ukuran search target
Alat-alat yang dimiliki survivor, yang mudah dideteksi
Dan faktor-faktor lain yang diperkirakan perlu
diperhitungkan.

Tahap Operasi SAR

untuk

Operasi SAR sangat berhubungan dengan kendala waktu. Ada


empat faktor yang sangat berhubungan dengan waktu dan masingmasing saling mempengaruhi karena proses ini merupakan sebuah
urutan.
Keempat tahap tersebut, yaitu :
1. Pencarian korban
Pertolongan dapat segera dilakukan apabila telah ditemukan. Lokasi
korban dapat diketahui atau diperkirakan. Tahap pencarian dapat diketahui
dalam sekejap dengan Binokular, atau berhari-hari bila berupa perkiraan di
sebuah jalur pendakian namun entah dimana. Tahapan ini dalam SAR
disebut search, sedang tim pencari biasa disebut SRU.
2. Pencapaian ke korban
Tahap ini dapat memakan waktu pendakian hanya lima menit (mendaki
bukit), beberapa jam (menuruni lereng curam), beberapa hari (mengikuti
jalur pendakian dengan sejumlah advance camp).
3. Penanganan awal pada korban
Penanganan PGD pada sejumlah luka korban memberi kenyamanan pada
korban dan menyiapkan korban untuk dievakuasi dengan selamat. Cedera
dapat bersifat potensial (Hipotermi, Hipoglekemi, Dehidrasi) dan bersifat
aktual (patah tulang paha, pendarahaan dalam, atau ketakutan).
4. Evakuasikan korban
Tahap ini dapat berlangsung sederhana dan sebentar (membimbing korban
turun di jalur setapak) atau sangat sulit dan lama (mengambil korban dari
atas batu di tengah jeram pada sungai yang banjir, menuruni korban dari
tebing 600 meter).

Pelaksanaan operasi SAR dapat berupa :


1. Operasi pencarian tanpa operasi pertolongan (karena
korban tidak ditemukan).
2. Operasi pertolongan tanpa operasi pencarian (karena
lokasi sudah ditemukan / dilaporkan dengan pasti).
3. Operasi pencarian dilanjutkan dengan operasi pertolongan.
Ketika operasi dimulai, maka ada 8 tahapan kegiatan yang
harus dilakukan, yaitu :
1. Briefing pencarian.
2. Pemberangkatan SRU.
3. Perjalanan SRU menuju daerah pencarian.
4. Pelaksanaan pencarian.
5. Bila menemukan sasaran.
6. Apabila perlu adanya pergantian SRU.
7. Penarikan SRU ke pangkalan.
8. Briefing ulang (debriefing) SRU.
Semua hal tersebut harus diketahui oleh setiap SRU.

Briefing pada operasi pencarian dilakukan oleh SMC dan sebaiknya


digunakan check list sebagai berikut :
Situasi
Keadaan darurat / distress
Sasaran pencarian
Data terperinci
Posisi akhir yang diketahui
Peralatan survivor yang dibawa
Perkiraan keadaan
SRU yang terlibat
Cuaca
Pada saat musibah terjadi
Saat pencarian akan dilakukan (selama di lokasi pencarian)
Ramalan cuaca (dalam perjalanan dan di lokasi pencarian)
Bahaya / ancaman dari keadaan cuaca yang dihadapi
Areal

Pola

Pencarian
Luas area yang akan diliput
Tanda tanda
Ukuran
Sumbu utama gerak pencarian
Titik awal pencarian (CSP Commence Search Point)
Bahaya dari keadaan medan yang akan dihadapi

Pencarian
Penjelasan pola
Track spacing
Ketinggian pencarian
Kemungkinan menemukan (POD)
Ketepatan navigasi

Variasi dari POD dan pencarian


Kecepatan
Pada OSC, penjelasan seperti dibriefing dilengkapai dengan
keterangan, antara lain :
a. Jam tiba di daerah pencarian
b. Komunikasi yang tersedia di lokasi
c. Kecepatan SRU yang ditugaskan
d. Kemampuan bertahan di lokasi
e. Titik tolak dari daerah yang dikehendaki

Operasi SAR tidak berakhir setelah ditemukannya korban, tetapi


sampai korban diselamatkan. Operasi pertolongan atau
penyelamatan (rescue operation) mungkin dapat terjadi
bersamaan dengan operasi pencarian (search operation) yang
belum berakhir

KENDALA
EVAKUASI

Kendala
Kendalawaktu
waktumakin
makin
diperhitungkan
diperhitungkan
Cedera ringan
berat

Meninggal

Kendala
KendalaTeknik
Teknikmakin
makin
diperhitungkan
diperhitungkan

Pola pola Pencarian


Ada 8 kelompok utama pola pencarian, yaitu :
Track line
Parallel
Creeping line
Square
Sector
Contour
Flare
Homing

Cedera

Pola pencarian yang sering digunakan pada misi SAR darat


(khususnya di Indonesia) adalah track line, parellel, dan contour. Untuk
menamakan sesuatu pada pencarian dalam misi SAR, biasanya
digunakan huruf-huruf awal yang terdiri dari 3 huruf.
Huruf 1 : Pola pencarian yang digunakan, misalnya : T (track
line),
P (parallel).
Huruf 2 : Unit yang terlibat, misalnya : S (single unit), M (multi
unit).
Huruf 3 : Keterangan pelengkap, misalnya :
C=coordinated
(dengan
koordinasi)
atau
circle
(melingkar)
R= radar (digunakan radar untuk pengendalian) atau
return to
starting point (kembali pada titik awal
pencarian)
N= non return (tidak perlu kembali ke titik awal)
L= loran line (sesuai garis loran)
Pencarian dengan pola garis lintasan (track line) digunakan :
a.Apabila seorang dinyatakan hilang pada jalur perjalanan yang
direncanakan dan tidak diketahui data-data lain, berarti jalur
perjalanan / garis lintasan merupakan satu-satunya data.
b.Untuk usaha pencarian secara fisik pertama kali dapat
dilakukan, misalnya meminta bantuan pada pesawat komersil
yang kebetulan melintasi jalur tersebut.
1.
2.
3.
4.

Pola track line dikenal 4 jenis, yaitu :


TSR (track line, single unit, return)
TMR (track line, multi unit, return)
TSN (track line, single unit, return)
TMN (track line, multi unit, non return)

Pencarian dengan pola parallel (sejajar memanjang / melingkar)


digunakan:
a. Apabila daerah pencarian cukup luas dan medannya
relatif datar.
b. Hanya diketahui posisi duga dari sasaran yang dicari.
Pada pola parallel ini dikenal 9 bentuk, yaitu :
1. PS (parallel track, single unit)
2. PM (parallel track, multi unit)
3. PMR (parallel track, multi unit, return)
4. PMN (parallel track, multi unit, non return)
5. PSC (parallel track, single unit, circle)
6. PMC (parallel track, multi unit, circle)
7. PSS (parallel track, single unit, spiral)

8.
9.

PSL (parallel track, single unit, loran)


PSA (parallel track, single unit, arc)

Pencapaian dengan pola contour digunakan untuk daerah yang


bergunung dan berbukit. Syaratnya :
Anggota SRU harus berpengalaman, mempunyai kondisi dan
daya tahan tinggi.
Briefing harus baik dengan peta yang cukup jelas.
Keadaan cuaca harus baik, termasuk visibility (jangkauan
pandang) dan keadaan angin.
CONFINEMENT MODE
Sasaran :
Pemikiran yang melatarbelakangi Confinement Mode adalah
sederhana, yaitu menjebak orang yang hilang di dalam satu area
yang kita ketahui batas-batasnya, sampai :
1. Area itu dapat disapu (dilakukan pencarian) dengan
batas-batas nyata.
2. Orang yang hilang itu akan bergerak keluar area
pencarian dan (dalam proses) dapat tertangkap atau
ditemukan oleh tim pencari.
Waktu :
Di permulaan tahap awal dari operasi pencarian.
Di dalam praktek, Confinement mungkin jarang digunakan, tetapi
untuk daerah pencarian yang luas, terutama daerah yang tidak
memiliki tanda-tanda alam yang jelas, tindakan ini akan sangat
berharga dan suatu kerja yang ada dasarnya.
Kecenderungan yang umum terjadi adalah mengirimkan tim
pencari untuk melakukan pencarian ke area pencarian, yang
diduga didatangi oleh orang yang hilang. Akan tetapi bila OL
salah menduga dan tim pencari serta subyek bergerak lebih
jauh, konsekuensinya search area (area pencarian) yang
memungkinkan akan bertambah luas.
Kerja awal untuk dapat mencapai Confinement adalah memagari
kemungkinan gerak pencarian yang padat yang mungkin
diperlukan, ada kemungkinan bila areal pencarian menjadi
terlalu luas.
Metoda :
1. Trail Block
Tim kecil dikirim untuk memblokir jalan setapak yang
keluar dan masuk ke search area. Mereka mencatat nama-nama
dan data-data dari setiap orang yang meninggalkan search area
dan memberi tahu yang akan masuk ke search area tentang
orang yang hilang. Setidak-tidaknya satu orang tetap berjaga

sepanjang waktu dan dapat memperhitungkan bahwa tidak


seorang pun dapat lewat tanpa diketahui.
Trail Block harus tetap diawasi sepanjang waktu sampai
diperintahkan beralih ke metoda lain.
2. Road Block
Pada dasarnya sama dengan Trail Block. Kadang tenaga
suka rela atau penggemar jeep diminta bantuannya untuk
berfungsi disini, sebagaimana juga sebagai tim pencari di jalanjalan setapak. Apabila search area diputuskan tertutup bagi
orang yang bukan tim pencari, seseorang (sebaiknya petugas
hukum) sebaiknya ditempatkan di Road Block.
3.Look Outs
Sering ada tempat-tempat di sekitar batas search area
yang memberikan batas pandangan yang luas ke dalam lembahlembah di sebelahnya, sungai-sungai, dan sebagainya. Di tempat
lain mungkin ada sebentuk cerobong-cerobong alam (tunnel)
yang menyebabkan orang yang hilang (subyek) untuk memilih
jalan itu.
Sebuah tim kecil ditempatkan pada posisi-posisi itu, dapat
mengawasi daerah-daerah di sekitarnya dengan teropongteropong, dan ada kemungkinan dapat mendeteksi orang yang
hilang bila ia bergerak lewat disana.
Beberapa bentuk peralatan (asap, bunyi-bunyian, lampu,
bendera, dan lain-lain) dapat digunakan untuk menarik perhatian
subyek. Variasi lain bergerak memeriksa beberapa lokasi lain dan
obyek-obyek mencurigakan yang berada di dalam jarak pandang
pengamat. Semua metoda ini diperhitungkan untuk tetap
menjaga agar subyek tidak dapat meninggalkan search area
tanpa terdeteksi.
Asap
X
X
API
Melihat dengan teropong Binokular
4. Camp - In
Camp-In dapat saja berbentuk Look Outs, Trail Block, Radio
Relay (radio penghubung), atau situasi lain, dimana satu tim

kecil menempati lokasi-lokasi tertentu. Lokasi Camp-In


merupakan lokasi yang mempunyai batas pandang yang cukup
luas, pertemuan dari jalan setapak-jalan setapak, pertemuan
cabang-cabang sungai, dan lain-lain. Tanda tanda yang dapat
menarik perhatian orang yang hilang, yang menunjukan arah
menuju ke pos-pos tertentu dapat dipergunakan.
Ditekankan kepada tim kecil yang memiliki kemampuan cukup
untuk menempati lokasi yang diketahui dan memeriksa daerah
sekitarnya, sampai diminta untuk melakukan hal lain.
5. Track Traps
Sebenarnya, track traps hampir mirip dengan metoda
camp-in. tetapi, pada lokasi track traps tidak ditempatkan
personil. Yang harus diperhatikan dalam melakukan metoda ini
adalah lokasi track traps diperkirakan akan dilalui oleh subyek
yang sedang dicari. Salah satu caranya adalah dengan
menggunakan jalur jalan yang berlumpur (becek) sehingga bila
ada orang yang lewat di daerah tersebut, dapat terlihat jejakjejaknya. Pemeriksaan lokasi track traps ini dilakukan secara
berkala untuk melihat jejak. Hal yang penting untuk dipahami
oleh tim pencari adalah untuk tidak merusak tepi sungai yang
berpasir, daerah berlumpur pada jalan setapak, dan lain-lain,
yang memungkinkan terjadinya jejak-jejak yang lebih jelas di
atasnya. Akan tetapi, kalau hal ini tidak bisa dihindari, usahakan
agar tim tracker (pencari jejak) dapat membedakan jejak-jejak
yang sudah lama dengan yang baru.
6. String Lines
Metoda-metoda seperti Look Outs, Camp-In, Track Traps,
akan efektif bila dilakukan pada daerah terbuka dengan luas
pandang yang baik.
Untuk daerah yang berpohon dan bersemak lebat, Tagged String
Lines (bentangan tali yang bertanda) akan lebih efektif untuk
kepentingan/tujuan yang sama dengan metoda lain di atas.
Subjek terakhir terlihat
Arah anak panah
Pada string tag

Jalan setapak

Tags (tanda-tanda) pada string lines menarik perhatian orang


yang hilang untuk bergerak mengikuti bentangan tali itu menuju
ke tempat yang lebih aman.
STRING TAG
String

SEARCH BASE

Setelah Initial Confinement (pemagaran awal), tambahan string


line dapat digunakan untuk membagi-bagi area itu. String line
dapat digunakan untuk memagar dan menandai sektor
pencarian

String Lines
Person last seen

Jalan setapak
Pemisahan lebih lanjut ini menghasilkan 2 hal yang diinginkan :
1. Mengurangi waktu yang diperlukan oleh orang yang hilang
untuk bergerak mencapai string lines.
2. Menjadikan kotak-kotak/ruang-ruang search area menjadi
sektor-sektor yang terkuasai untuk areal pencarian bagi tim
pencari.
Bentuk penerapan lain sama dengan Camp In, yaitu dengan
menempatkan string lines dalam search area, yang bertujuan
untuk mengarahkan orang hilang itu ke jalan setapak, pos-pos
yang ditempati, atau tempat-tempat lain yang aman.
String Line
Trail Creek

Pentingnya Cepat Tanggap


Reaksi yang cepat untuk pencarian anak-anak yang hilang
dan orang-orang yang memiliki kesulitan kondisi kesehatan,
telah lama disetujui.
Bagaimanpun baru pada saat ini, konsep cepat tanggap harus
diberlakukan kepada setiap situasi orang yang hilang,
dipergunakan.
Sering dianggap seorang pemburu atau hiker , bila diberi
waktu sehari atau dua hari akan menemukan jalannya kembali,
seandainya saja ia tersesat. Suatu kebetulan bahwa hal ini sering
terjadi. Namun yang harus dipertimbangkan adalah bahwa makin
berpengalaman seseorang, makin tinggi daya jelajahnya, serta
semakin berani keputusan yang akan diambilnya. Dari kenyataan
ini akan terdapat kemungkinan bahwa sesuatu yang luar biasa
telah terjadi sehingga orang tersebut tidak dapat kembali sesuai
dengan jadwal yang direncanakannya. Misalnya saja orang
tersebut mengalami cedera karena terjatuh. Atau karena orang
tersebut menjelajah lebih jauh dari yang direncanakannya,
karena ada sesuatu yang menimbulkan daya tariknya.
Bagaimanapun, bila mereka bergerak dengan arah yang tidak
menuju ke jalan keluar, gerak pencarian hampir tidak mungkin
dilaksanakan, karena luas search area yang dicurigai semakin
bertambah luas.
Semakain kecil area, maka makin mudah dipagari atau
dilakukan penyapuan.
Hubungan antara jarak tempuh dari titik akhir orang yang hilang
dengan ukuran luas search area terlihat dari gambar berikut.
.
Panjang jalan yang ditempuh dari titik awal
(tempat subyek terakhir terlihat) = 1 mil. Maka
luas areal penyapuan akan menjadi 3,1 mil
persegi.
.
Panjang jalan yang ditempuh dari titik
awal = 2 mil
Luas areal penyapuan = 12,6 mil persegi.
.
Panjang jalan yang ditempuh = 3 mil
Luas areal penyapuan = 28,3 mil persegi.

.
Panjang jalan yang ditempuh = 4 mil
Luas areal penyapuan = 50,3 persegi.

Bila orang yang hilang mempunyai waktu untuk bergerak sejauh


10 mil, maka search area akan menjadi seluas 314 mil persegi.
Mungkin akan dibutuhkan sekitar 50 orang pencari untuk
menyapu daerah seluas 1 mil persegi, dengan waktu sehari
penuh (8 jam kerja). Bahkan untuk daerah tertentu mungkin
membutuhkan sekitar 300 orang pencari untuk daerah yang
sama luasnya. Dapat dibayangkan, betapa sulit dan sangat
memakan waktu melakukan pencarian di daerah seluas itu.
Karena search area sebaiknya tetap dijaga agar tidak semakin
meluas. Diperlukan adanya tindakan yang cepat tanggap untuk
memungkinkan hal tersebut.

Kesulitan
Pencarian

Subyek sudah tidak bergerak lagi (statis)

Waktu sejak subyek dinyatakan hilang.


Kesulitan pencarian terus bertambah sampai subyek tidak
mampu bergerak lagi. Setelah itu, dalam beberapa saat akan
bertambah, untuk seterusnya bergerak mendatar.
Ketika subyek tidak bergerak lagi, ia mungkin masih bisa
berteriak atau dalam bentuk lain menjawab kepada para pencari.
Bila ia menjadi tidak sadar, dan akhirnya meninggal, ia akan
mencapai situasi untuk dapat ditemukan, tetapi kesulitan
pencarian tidak bertambah.
Confinement dan Detection akan menjadi lebih mudah
dilakukan, apabila luas search area kecil.
Tanggapan yang cepat terhadap situasi pencarian adalah kritis.
Untuk itu perlu segera dilaksanakan Confinement dan Detection
terhadap :

Jalan-jalan
Jalan setapak
Sungai atau parit
Bangunan atau gubuk-gubuk
Daerah-daerah yang sulit
Daerah punggungan gunung
Dan lain-lain yang berada di daerah pencarian.

Pencarian dengan cepat ini dilakukan oleh tim-tim kecil,


beranggotakan 3 sampai 6 orang. Tim-tim ini mampu bergerak capat
dan sistematis untuk melihat jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan
subyek. Ada kalanya tim harus bergerak melebar (misalnya bila
bergerak di punggungan yang lebar), tetapi pada umumnya tidak.
Adalah bijaksana untuk berhenti dengan suatu interval tertentu, untuk
melihat kesekitar area, memanggil orang yang hilang, dan menunggu
apakah ada jawaban.
Pemimpin tim tetap harus melaporkan kepada OL tentang
kemajuan dari tim : menemukan barang yang tercecer, jalan-jalan,
jalan setapak, bangunan, yang tak terpetakan. Posko akan mencatat
penemuan itu dan lokasinya.
Apabila OL memerintahkan membawa barang itu, sebuah marker
ditempatkan pada lokasi itu, untuk memungkinkan pencari-pencari lain
atau petugas Polisi untuk menemukan posisi itu, bila dibutuhkan pada
saat terakhir.

EXPLORER SEARCH & RESCUE

REGU___________TANGGAL_________WAKTU_________MARKER_________
_
(KALAU
ADA)
INFORMASI :
TIPE GRID
[ ] KIRI
[ ] AWAL
[ ] TENGAH
[ ] AKHIR
[ ] KANAN
DESKRIPSI TEMUAN : [ ] DIBAWA
[ ] DITINGGAL

TULIS,JIKA ADA

DETECTION
Pengantar
Detection adalah suatu tindakan atas dasar pertimbangan
kemungkinan menemukan orang yang hilang atau barang-barang yang
tercecer yang ditinggalkan oleh orang yang hilang. Pada keadaan
inilah, tenaga ESAR sangat dibutuhkan.
METODA
Metoda Detection ini telah dikelompokan dalam tiga kategori,
yaitu :
1. Tipe I Search
Pemeriksaan tidak resmi yang segera dilakukan terhadap
area yang dianggap paling memungkinkan. (Penamaan lain adalah
Reconnaissance atau Hasty Searchhing / pencarian terburu-buru).
Sasaran :
1. Suatu pemeriksaan segera atas area spesifik yang
sangat memungkinkan.
2. Memperoleh informasi tentang search area
Waktu :
1. Pada tahap awal operasi
2.
Setiap saat untuk memeriksa area yang tidak
diyakini tersapu atau untuk melakukan pemeriksaan
ulang tempat-tempat yang sangat memungkinkan.
Metoda :
Sebuah tim kecil yang mampu bergerak cepat dikirimkan
untuk memeriksa.
2.Tipe II Search
Kriterianya adalah efisiensi, pemeriksaan yang cepat dan
sistematis atas area yang luas dengan metoda penyapuan, yang
akan menghasilkan hasil tertinggi dari setiap pencari setiap jam
kerjanya (Dinamakan juga Open Grid).
Sasaran :
Pencarian yang cepat atas area yang luas.
Waktu :
1. Pada tahap awal operasi pencarian, terutama bila jangka
waktu orang yang hilang itu untuk bertahan hidup sangatlah
pendek.

2. Pada situasi dimana search area luas, tidak ada area-area


khusus yang dapat diidentifikasi,dan bila kekurangan tenaga
untuk bisa meliput seluruh area.
Metoda :
Pencarian menyapu dengan jarak yang lebar di antara tim
pencari. Walaupun ini tidak secermat seperti bila jarak antara
pencari lebih sempit, cara ini lebih efisien (menghasilkan
pencapaian yang lebih besar dari kemampuan kerja pencari per
jam dari waktu pencarian).
Jumlah anggota tim bervariasi antara 3 sampai 7 orang. Jarak
penyapuan yang lebar dapat dilaksanakan sempurna oleh tim
yang terdiri dari 3 orang dengan sudut kompas sejajar.

o
x
50

o
300

Metoda Tipe II dengan regu yang terdiri dari 3 orang pada jarak
penyapuan yang luar
X : orang yang memegang kompas
O : Anggota regu yang bergerak memeriksa ke depan dan
belakang (geraknya bisa bolak-balik).
O

o
O

X
O

TL

50
Metoda Tipe II. Dua regu beranggotakan 3 orang bekerja pada
jarak penyapuan sedang
X : Orang yang memegang kompas

O : Anggota regu
TL : Ketua regu yang bergerak di belakang regu.
Bila jumlah anggota tim lebih dari 5 orang, akan lebih bijaksana
untuk memiliki Pemimpin Tim yang bergerak bolak-balik selebar
areal penyapuan.
Tugasnya adalah untuk:
1. Memperhatikan apakah pemegang kompas ( Compass man)
dapat menjaga sudut kompas yang sejajar.
2. Mengatasi hal-hal yang muncul mendadak.
3. Memeriksa penemuan-penemuan.
Apabila seseorang anggota tim menemukan sesuatu atau
mendapat kesulitan dalam menembus kerimbunan hutan, ia
harus berteriak HALT atau STOP (berhenti). Pemimpin Tim atau
Team Leader akan memeriksa apa yang menjadi alasan untuk
berhenti dan akan memberi perintah untuk bergerak kembali bila
setiap anggota timnya sudah siap. Adalah merupakan prinsip
umum gerak berjajar ini, bahwa setiap anggota tim boleh
berteriak HALT, tetapi hanya Team Leader yang boleh
memerintahkan tim untuk bergerak kembali.
Seperti juga pada tipe I Search, tim harus secara periodik
berhenti dan memanggil orang yang hilang itu. Ini harus diikuti
dengan seluruh anggota tim tidak bersuara, agar dapat
mendengar apabila ada suara jawaban.
Perhatian :
Bila kita mendengar jawaban, periksa melalui radio
komunikasi, apakah ada tim lain disekitar kita dan apakah
mereka mendengar kita memanggil. Sering terjadi, dua tim
saling mengejar karena menyangka mereka telah bertemu
dengan yang dicari.
Yang juga penting adalah setiap anggota tim untuk melihat ke
belakang, ke muka, atau ke samping, karena akan menambah
kesempatan untuk menemukan obyek.
Pada umumnya Tipe II Search digunakan untuk memeriksa
sungai-sungai/parit. Di daerah yang berhutan lebat, sungaisungai kecil merupakan jalan yang lebih mudah ditembus oleh
obyek dibandingkan dengan belukar di sekitarnya.
Creek
(Control Line)
o o
1

o
2

o
3

o
4

Metoda Tipe II
Regu beranggotakan 5 orang memeriksa kedua tepi sungai
Sering kali beberapa tim diminta untuk melakukan penyapuan
sejajar. Ada cara umum tetap menjaga regu-regu itu dari saling
tumpang tindih satu sama lain atau tidak bisa lagi menjaga jarak
di antara mereka. Pertama adalah menggunakan kompas dan
kedua dengan menggunakan pita-pita sebagai kisi-kisi.
ooooo
Team 1
ooooo
Team 2
ooooo
Team 3
Metoda Tipe II
3 regu dalam penyapuan sejajar menggunakan kompas sebagai
kontrol pergerakan
Metoda ini bergantung pada ketepatan penggunaan kompas,
bagaimanapun bila panjang dari setiap penyapuan tidak besar,
cara ini akan lebih cepat dan praktis.
Pita Kontrol (dari bahan kertas,
plastik, kain berukuran 1 x 24 inci).
Team 1
oooooo
TL
Team 2
oooooo
TL
Team 3
oooooo
TL

Dengan meletakkan pita-pita pada batang pohon, dahan atau


semak-semak dan sebagainya, orang yang paling pinggir
menandai garis jalannya. Orang yang paling pinggir dari tim
berikutnya dapat mengikuti pita-pita itu, dengan demikian tetap
menjaga atau memelihara jarak dan tidak saling tumpang tindih
dalam penyapuan dari tim. Umumnya pita-pita itu akan diambil
oleh tim berikutnya untuk digunakan lagi kemudian.
Area yang tersapu secara efektif tertandai, yaitu area di
belakang tim dan di antara dua garis pita.
3. Tipe III Search
Kriterianya
adalah
Kecermatan,pencarian
dengan
sistematika yang ketat atas area yang lebih kecil, menggunakan
metoda penyapuan yang cermat (dinamakan Close Grid).
Sasaran :
Pencarian yang cermat atas area yang spesifik.
Waktu :
1. Bila metoda Tipe II telah dicoba tapi Probability Of Detection
(POD) ternyata lebih rendah dari yang diinginkan. (POD adalah
besarnya kemungkinan obyek akan ditemukan bila ia berada di
search area).
2. Bila search area terbatas dan tenaga kerja yang tersedia
mencukupi.
3. Pencarian yang memberikan bukti-bukti yang sangat pasti.
Metoda :
Pencari menyapu dengan jarak penyapuan yang kecil. Hal yang
ingin dicapai adalah kecermatan. Jumlah anggota tim terdiri dari
3 sampai 9 orang.
o

o
TL

Control Line
String Line
Base Line
Metoda Tipe III
Jarak penyapuan yang sempit memperbesar kecermatan.

Di dalam Tipe III Search, pita-pita atau string lines hampir selalu
dipergunakan untuk mengontrol. Hal ini sangat penting untuk
memberi tanda-tanda yang jelas antara area yang sudah dicari
atau belum.

Team 1
String Lines

ooooooo
TL
Team 2
ooooooo
TL
Team 3

Anggota regu
paling kanan
melepas string
line

ooooooo
TL

Road
Metoda Tipe III
2 regu bergerak mencari dalam gerak yang sejajar
Pada gambar, setiap regu berpatokan kekanan.

TL
ooooooo
Team 3

Original
Control Line

TL
ooooooo
Team 2
TL
ooooooo
Team 1

Metoda Tipe III


3 regu yang melakukan penyapuan berbalik kembali
Pada gambar, regu 1 berpatokan ke kanan, dan regu 2 dan
regu 3 berpatokan ke kiri.
Catatan :
Penggunaan kompas sebagai kontrol pergerakan, lebih cocok
digunakan di daerah dengan kondisi medan relatif datar, dengan
tanda-tanda medan yang tidak jelas. Pada daerah pegunungan
dengan punggungan dan sungai-sungai yang mengalir di
lembahnya, lebih cocok digunakan tanda-tanda medan sebagai
kontrol pergerakan yang membentuk garis panjang sebagai
guide.
Sikap Mental Selama Pencarian :
Suatu kesalahan umum dari seorang para pemula adalah bahwa
dengan bergerak sejajar, secara otomatis area akan terliput
dengan cermat.
Padahal sering dengan jarak penyapuan yang sempit, sesuatu
akan terlewati bila pencari tidak mengamati dengan sepenuh
perhatiannya. Dengan demikian, akan menjadi penting untuk
mengembangkan kebiasaan melihat secara agresif ke sekeliling
selama
pencarian.
Hal
ini
dapat
dilakukan
dengan
mengembangkan pikiran kita berusaha menemukan orang yang
hilang dengan baik. Setiap kita menemukan batang pohon, kita
berusaha mencari, adakah sesuatu yang tersembunyi di
belakangnya. Atau kita berjalan melewati tempa-tempat yang
rimbun selalu ada dugaan bahwa bisa saja bersembunyi disana.
Hal seperti ini dapat membuat kita jenuh, tetapi hal ini adalah
sesuatu yang penting.
Bila bentuk pencarian ini kita anggap sesuatu yang menarik,
maka akan lebih efektif hasilnya. Kesungguhan, perhatian, sikap
yang agresif dalam mengawasi merupakan komponen yang
berharga bagi kerja yang efektif dan efisien.
Melihat ke Belakang
Tim yang bergerak sejajar, harus juga melihat kesegala arah
yang mungkin terjangkau batas pandangnya. Karena ini akan
memberikan bentuk pandangan yang sangat berbeda. Hal ini
mendukung efektivitas pencarian.
Jarak :
Jarak untuk tipe III Search harus merupakan jarak maksimum di
antara setiap pencari, yang memungkinkan mereka dapat

melihat hamparan medan antara dirinya dengan pencari yang


berada disebelahnya. Karena pencari di sebelahnya juga melihat
hamparan medan yang sama dengan sudut pandang yang
berlawanan, maka hal ini akan menghasilkan derajat kecermatan
yang tinggi.
Membuat Jarak dengan Susunan Bertangga :
Satu variasi dari gerakan berjajar adalah membuat jarak susunan
tangga dari anggota tim sehingga setiap anggota tim berada
beberapa langkah di belakang orang yang menjadi patokannya.
Pemilihan antara bergerak sejajar datar atau susunan tangga
agaknya
masih
bergantung
kepada
kebiasaan
untuk
menggunakannya. Belum ada suatu penelitian yang telah bisa
menyimpulkan cara bergerak yang mana yang lebih efektif.
o
o
o
o
Control Line

o
o

Susunan tangga dari anggota anggota regu ketika bergerak berjajar.


Menandai Awal dan Akhir Dari Penyapuan Berjajar
Pada daerah pencarian yang luas sering diperlukan untuk
meninggalkan tanda pada titik berangkat dan titik akhir penyapuan.
Tanda ini menjelaskan pada bagian mana tim masuk dan
meninggalkan lokasi itu, kapan, dan apa bentuk penyapuan yang telah
dilakukan. Hal ini memungkinkan tim berikutnya untuk mengetahui
dari mana mereka harus mulai bergerak. Tanda tanda itu juga bisa
dipakai untuk pemeriksaan ulang problem deteksi. Bila 2 tim
EXPLORER SEARCH
& RESCUE
diharapkan bergerak
dengan
patokan sejajar selebar 200 kaki, tetapi
ternyata tanda-tanda itu ditemukan hanya 150 kaki, sebuah problem
REGU :84
TANGGAL : 06-06-90 WAKTU : 11.30 MARKER :
telah ditemukan dengan kata lain disebut kegagalan. Juga tim dari
Posko dapat memeriksa
[JIKA ADA]lokasi dari tanda tanda tersebut, dengan
demikian dapat
memetakan
daerah penyapuan
tim 7dengan
INFORMASI
:
TIPE GRID:
GUIDE 30 lebih teliti.
[ ] SEBELAH KIRI
PENCARIAN
[X] TENGAH
[ ] SEBELAH KANAN

[X ] AWAL
OPERASI
REGU :

[ ] AKHIR

DESKRIPSI TEMUAN : [ ] DIBAWA


JIKA ADA TEMUAN
[ ] DITINGGAL

M AR K E R

Pertama kali pita-pita digunakan untuk menandai titik-titik berangkat


dan akhir penyapuan dari tanda-tanda. Tetapi pita-pita dapat
membingungkan. Tidak lebih dari satu jam, dalam satu area
penyapuan terdapat banyak sekali pita, sehingga tidak lagi artinya
sebagai suatu tanda khusus. Tanda-tanda yang bertuliskan dapat
dibaca dan dimengerti setiap saat.
Pita-pita :
Aturan yang baik adalah mengatur jarak pita sedemikian
rupa sehingga dari satu pita kita sudah dapat melihat pita berikutnya.
Hal ini dapat mengurangi waktu yang seharusnya terpakai bila tim
harus berhenti untuk mencari pita berikutnya.
Daerah Pencarian Yang Berskala Besar
ESAR harus betul-betul menyadari tugasnya agar dapat bekerja sama
dengan banyak pencari-pencari lain dari unit pencari. Metoda umum
untuk menggarap operasi pencarian yang besar adalah memberi nama
setiap unit ESAR dan melakukan pencarian di suatu paket dari Search
Area.

Unit D

Unit A
ooooooo

Unit B
ooooooo

ooooooo
ooooooo
ooooooo

ooooooo
Stri

ng 5
o
o
o

o
o
o
o
o
o
o

o
o
o
o

ooooooo
ooooooo

Unit C
o

String 9
o

o
o

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
String 13
String 10
String 14
String 16
Sungai
Pencarian berskala besar
Setiap ESAR unit dinamai untuk sebuah search area

Penamaan Grid
Sampai beberapa waktu yang lalu, Close Grid mendominasi pikiranpikiran Search And Rescue di banyak area; karena suatu area akan
selalu tersapu separuhnya sampai kita mengetahui bahwa orang
yang hilang tidak berada disitu. Hal ini tidak lagi dilakukan akhir-akhir
ini karena dari pengalaman-pengalaman pencarian yang disadari oleh
penelitian membuktikan bahwa jarak penyapuan yang lebar
memberikan hasil yang baik di bawah situasi tertentu.

Kecenderungan yang mulai dikembangkan sekarang : jarak penyapuan


berjajar lebar dan dibarengi lagi dengan yang serupa dengan waktu
yang pendek telah diterapkan dalam SAR.
Karena hal tersebut dan juga karena pentingnya komunikasi yang tepat
antara tim dengan OL, sehubungan dengan jarak penyapuan antara
tim, penamaan grid dengan sistem berikut dikembangkan :
Sistem Penamaan Grid
Berisi bentuk sebuah Angka Kata Angka Rangkaian
Angka Pertama
Jumlah anggota tim di dalam garis penyapuan. Ini di luar
Team Leader bila ia memilih untuk bergerak bolak-balik di
belakang tim.
Kata
Antara Kompas dan Guide (patokan)
Kompas :
Bila tim menggunakan kompas untuk mengontrol
arah majunya.
Guide :
Bila tim menggunakan string line, garis-garis pita,
anak sungai, jalan, punggungan, atau bentuk lain
selain kompas.
Angka Rangkaian :
Menyatakan jarak antar anggota tim di dalam garis
penyapuan.
Sebagai contoh :

o o o o o o o
TL
20

String Line

Road

o
o

o
o

o o
o
Team 1 TL
o

o
50

Team 2 TL
50
o o o o o
40

o o
Ribbon Line

Kelebihan sistem ini :


1. Apabila tim lewat radio menyatakan mereka memulai dalam
bentuk 5 compass 50 atau lainnya, hal ini segera memberikan
satu kesempatan akhir untuk mengungkapkan setiap ada
perbedaan antara apa yang dikehendaki oleh OL dan apa yang
dimengerti oleh Team Leader tentang kehendak OL tersebut.
2. Apabila kita menggabungkan total besar angka (jumlah
penyapu dikalikan lebar penyapuan), ini akan menunjukkan
kelebaran tim kita. Hal ini merupakan informasi yang sangat
berguna untuk digambarkan pada peta operasi di Posko.
4. Angka terakhir merupakan gambaran mengenai apa yang
akan diperkirakan oleh OL tentang POD untuk area itu.

EXPLORER SEARCH AND RESCUE


DATA INFORMASI
TIPE OPERASI
:...
JUMLAH SUBYEK :...
LOKASI KEJADIAN :...
LEMBAR PETA no :...
GRID POSISI SUBYEK TERAKHIR DILIHAT/BERHUBUNGAN :

...
OLEH / DENGAN SIAPA :
..
WAKTU TERAKHIR DILIHAT/BERHUBUNGAN :
TGL.BLN..THN.JAM
TUJUAN/RUTE DIRENCANAKAN SUBYEK
:
TITIK BERANGKAT :.
TITIK TUJUAN
:.
TITIK KEMBALI
:.
WAKTU TEMPUH DIRENCANAKAN SUBYEK:
BERANGKAT
:..
TIBA DITUJUAN
:..
KEMBALI
:..
KESULITAN YANG MUNGKIN DIALAMI SUBYEK
:
..
LOKASI BASE OPERASI :
RUTE TERDEKAT MENCAPAI BASE :..
CARA MENGHUBUNGI BASE CAMP :..
RADIO KOMUNIKASI FREQUENCY :...
LAIN LAIN
:..
BASE CAMP DICAPAI DENGAN JENIS KENDARAAN :.

UNIT ESAR YANG SUDAH ADA/BEROPERASI DI LOKASI :


..
UNIT ESAR YANG SUDAH/SEDANG DIHUBUNGI :
..
LOKASI/DESA TERDEKAT DENGAN TEMPAT KEJADIAN :
..
DAPAT DICAPAI DENGAN KENDARAAN :.
LOKASI FASILITAS PERAWATAN MEDIAS TERDEKAT :
ALAMAT :
:
HUBUNGAN TRANSPORTASI DESA TERDEKAT :
DENGAN FASILITAS MEDIS TERDEKAT :
LEMBAGA/INSTANSI PEMERINTAHAN TERDEKAT :
.
ALAMAT :.

:..
DATA INFORMASI INI DIBUAT/DITERIMA OLEH :
NAMA
:
ALAMAT
:....

:
UMUR
:.THN
PEKERJAAN :

TANDA
TANGAN

(..)

PEMBUAT/PENERIMA DATA INFORMASI INI MERUPAKAN ORANG KE


:
a. Pertama
b.
Kedua
c. Ketiga
d.
melihat langsung/berhubungan langsung :..

MENERIMA DATA INFORMASI DENGAN MEDIA :


a. Telepon
b. Radio komunikasi
c. Wawancara
d.
Keterangan lain mengenai asal data ?
-------------ESAR--------------

EXPLORER SEARCH AND RESCUE


DATA SUBYEK
SUBYEK NO.
NAMA
ALAMAT

:.
:.
:.
:.

TEMPAT/TGL.LAHIR
JENIS KELAMIN
TINGGI BADAN
BERAT BADAN
WARNA KULIT

:
:
:.CM
:.KG
:

WARNA RAMBUT
PEKERJAAN
KEBANGSAAN

:
:
:

TANDA KHUSUS DI BADAN


:
KONDISI FISIK TERAKHIR
:
CATATAN MEDIS/KESEHATAN :
PERLENGKAPAN YANG DIBAWA SUBYEK :
MERK/JENIS
WARNA/UKURAN
BAJU
CELANA
JAKET
SWEATER
SEPATU
RANSEL
PONCO
TENDA
SLEEPING BAG
PETA/KOMPAS
GOLOK/PISAU
LAIN-LAIN

JUMLAH

PERBEKALAN SUBYEK :
MAKANAN, MINUMAN, ROKOK (YANG DIBAWA SUBYEK)
JENIS/MERK
JML
1..
2..
3..
4..
5..
6..
7..
8..
9..
10

WARNA
.

SUBYEK MENGIKUTI ORGANISASI/PERHIMPUNAN DARI :


1.
2.
3.
4.
5.
PENGALAMAN DAN KETERAMPILAN HIDUP DI ALAM TERBUKA :

NAMA ORANG TUA


PEKERJAAN
ALAMAT

:
:
:
:
BRIEFING FORM OPERASI SAR

SAR :..HARI:TGL:.BLN:THN:..
KETUA REGU
ANGGOTA REGU : 1.
2.
3.
4.
5.

: SEARCH AREA
..
..
..
..
..

BATAS UTARA
:.(..:.)
BATAS SELATAN
:.(..:.)
BATAS TIMUR
:.(..:.)
BATAS BARAT
:.(..:.)
LOKASI BIVOUAC
: (..:)
RUTE MENUJU SEARCH AREA :
RUTE KEMBALI KE BASE:
TUGAS SAR : 1.CONFINEMENT :PATOKAN/GUIDE :
2.DETECTION
:. 1.STRING LINE NO:
3.EVACUATION :. 2.KOMPAS :.
4. ..
3. ..
WAKTU BERANGKAT
:
WAKTU KEMBALI
:.
WAKTU TEMPUH KE SEARCH AREA :...
LAMA OPERASI
:

ALAT KOMUNIKASI
FREQUENCY

:.JAM PANGGIL
FREQ.ALTERNATIF FREQ.EMERGENCY

ALTERNATIF KOMUNIKASI LAIN :..


PERLENGKAPAN RESCUE YANG DIBAWA :
1.
5.
2.
6.
3.
7.
4.
8.