Anda di halaman 1dari 57

1

I.

PENDAHULUAN

Ilmu Tanah adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk tanah terutama yang
berkaitan dengan tanaman.
Tanah (soil) adalah massa bagian atas kulit bumi (lithosfir) yang telah mengalami
pelapukan terdiri fraksi pasir, debu dan liat dan atau tanpa bahan organik. ( satuanya
bobot (berat) : gram/kg/ton).
Tanah berasal dan pelapukan batuan/mineral + bahan organik. Batuan/mineral +
bahan organik/ikutan lain : melapuk bahan induk : melapuk Tanah (Pedogenesis :
ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah mulai dari batuan menjadi
tanah ). Dalam bidang pertanian tanah adalah media tempat tumbuhnya tanaman darat.
Lahan (land) adalah areal permukaan bumi yang mencakup faktor-faktor pembentuk
tanah seperti batuan (rock)/bahan induk, tanah, vegetasi dan mikroorganisme serta
atmosfirnya (satuannya : luas m2/ ha/ acre )
Media tumbuh tanaman dapat berupa : tanah dan air (hydrophonic).
Pedologi adalah ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah beserta faktor
pembentuknya yang meliputi kegiatan survey tanah, cara pengamatan di lapang dan
klasifikasinya.
Edaphologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan tanah dengan tanaman yang
mencakup mempelajari sifat-sifat (fisika, kimia, biologi )tanah dan cara mengelolanya
agar berpengaruh positif bagi tanaman..
Rehabilitasi : memperbaiki lahan yang rusak sehingga menjadi

suatu ekosistem

mendekati asal/ aslinya. Misal: penghijauan pada lahan kritis Kurikulum Ilmu Tanah
meliputi :
1. Pedogenesis : mempelajari proses pembentukan tanah
2. Klasifikasi Tanah: pengelompokan jenis tanah berdasarkan kesamaan horizon penciri,
sifat kimia dan fisika tanah, iklim, dll.
3. Fisika Tanah : mempelajari penyusun (fraksi )tanah, tekstur (perbandingan pasir,
debu dan liat), struktur (susunan agregat), berat jenis, kandungan air dan udara, air
tersedia, drainase, dll.

(Agar tanaman cukup air, udara (02), penetrasi akar)

4. Kimia Tanah : mempelajari reaksi ( asam-basa ) larutan, dinamika unsur kimia,


ketersediaan unsur hara, Kapasitas Tukar Kation, Kejenuhan Basa, kation asam dan

2
basa, unsur hara esensial dan non esensial, bentuk unsur hara yang diabsorpsi
tanaman,dll.(unsur hara tersedia dapat diabsorbsi berimbang dan tidak toksik)
5. Biologi Tanah : mempelajari flora dan fauna tanah yang membantu perbaikan sifat
fisika dan kimia tanah, pelapukan bahan organik,bakteri bermanfaat ( Rhizobium
sp.), Jamur ( Mikorhiza, Cacing tanah, dll.)
6. Pengelolaan Tanah : mengelola sifat fisika, kimia, biologi tanah agar tanaman
berproduksi optimal, secara ekonomis menguntungkan (sustainable ) dan secara
ekologis dapat dipertanggung jawabkan.
Istilah-istilah dalam pengelolaan tanah :
Konservasi :

mencegah agar lahan tidak rusak/degradasi

sebelum dan selama

penggunaan lahan. Misal : usaha pencegahan erosi, penggunaan lahan


sesuai dengan peruntukannya.
Reklamasi : mengelola tanah/lahan yang rusak/kritis sehingga ekosistemnya berubah,
berbeda dengan aslinya. Misal : rawa-rawa direklamasi menjadi sawah,
perkotaan, perumahan, kawasan industri, dll.
Restorasi : memperbaiki lahan yang rusak sehingga ekosistemnya sama dengan
asal/aslinya. Misal mereboisasi

lahan

kritis ( pasca tambang, bekas

kebakaran ).
Rehabilitasi : memperbaiki lahan yang rusak/kritis agar ekosistemnya mendekati
asli/asal. Lahan pasca tambang ditanami sengon ( non indigenous).

3
II.GENESIS TANAH ( PEDOGENESIS )
Proses pembentukan tanah meliputi:
1

Pelapukan batuan/mineral primer dan pembentukan mineral sekunder (liat).

Pelapukan dan penimbunan bahan organik.

Pertukaran dan pengendapan ion - ion.

Pergerakan dan pencucian koloid anorganik dan organik.

Pengendapan garam (kapur, gypsum dan garam larut).

Pencampuran mekanik atau hayati dan bahan tanah.

Profil tanah :adalah penampang vertikal sehingga tampak horizon -horizon.


Penampang tanah sedalam 1,5 meter.
Horison tanah adalah setiap lapisan tanah yang mempunyai sifat fisik dan kimia berbeda
misalnya warna, tekstur, struktur, konsistensi, KTK, K.B., kandungan liat.
Horison A dan horizon B disebut solum tanah.
Selanjutnya horison A disebut horison Eluviasi (hor. pencucian )
Horison B disebut horison Iluviasi (hor.penimbunan) sehingga lebih banyak kandungan
liat dibandingkan horison diatas/dibawahnya.
O1 : Seresah
O2 :Seresah sudah melapuk
Al : Horison eluviasi tanah atas
A2 : Horison eluviasi tanah bawah
A3 : Horison peralihan A ke B
B1 Horison iluviasi peralihan ke B
B2 : Horison iluviasi
C : Bahan induk
R : Batuan induk

Gambar 1 : Profil tanah

4
Faktor - faktor pembentukan tanah
1. batuan induk (bi) : plutonik, vulkanik, batu pasir, gambut
2. topografi (t) : datar, lereng , curam, cekungan, dsb
3. organisme (o): vegetasi hutan, rumput, semak,
4. iklim (i) : kering, basah, tropis, subtropis.
5. waktu (w) : muda, sedang, lanjut.
Tanah = (fungsi ) bi, t, o, i, w, m, ...
Interaksi faktor-faktor tersebut akan menghasilkan berbagai jenis tanah.
Proses pembentukan tanah dari batuan sampai menjadi solum tanah
Top Soil
Horison A

S
O
L

Sub Soil
Horison B

Batuan Induk

Desintegrasi

Badan Tubuh

Batuan
Pembentukan tanah berkembang dengan berjalannya waktu

Horison A

Horison A

Horison B

Horison B2t

Horison C

Horison C

Horison C

Tanah Muda
(ENTISOL)

Tanah Sedang
Berkembang
(INCEPTISOL)

Tanah Lanjut
(ULTISOL)

Horison A

U
M

5
III.KLASIFIKASI TANAH

Klasifikasi tanah adalah pengelompokan tanah berdasarkan sifat dan ciri tanah yang
mencerminkan keadaan dimana tanah ini berkembang.
Sistem kelasifikasi ( taksonomi) tanah (oleh USDA) menggolongkan individu -individu
tanah kedalam kelompok yaitu enam tingkat generalisasi, yaitu:
order ( golongan).
sub order (kumpulan).
great group (jenis tanah).
subgroup (macam tanah).
family (rupa tanah).
series (seri tanah).
2.1 SISTEM KLASIFIKASI USDA
Sebagai dasar dalam klasifikasi sistem USDA, sifat yang paling penting ialah ada
atau tidaknya horison tertentu.

Karena horison sangat penting membantu dalam

menentukan tempat tanah dalam sistem klasifikasi.


2.1.1 Horison Tanah
Horison tanah ialah lapisan di dalam tanah yang lebih sejajar dengan permukaan
tanah dan mempunyai sifat-sifat akibat proses-proses pembentukan tanah yang berbedabeda antara lapisan yang satu dengan lapisan yang lainnya.
Horison ini umumnya dapat dibedakan setidak-tidaknya dari karakteristik yang dapat
dilihat dan di ukur di lapangan seperti : warna, struktur, tekstur, konsistensi, dan ada atau
tidaknya karbonat.
Menurut kriteria yang kita gunakan, horison diidentifikasikan sebagian dengan
morfologi dan sebagian lagi dengan sifat-sifat yang menutupi dan membawahi horison.

6
Jadi mengidentifikasikan horison, pengukuran-pengukuran atau analisis di laboraturium
kadang diperlukan untuk melengkapi pengamatan lapangan.

2.1.2 Macam-macam horison dan lapisannya.


1.

Horison Organik.
O : Horison organik dari mineral tanah.
a. Terbentuknya dan pembentukannya pada bagian permukaan dan tanahtanah mineral dan di atas dari bagian mineral.
b. Didominasi oleh bagian organik segar atau melapuk sebagian.
c. - Mengandung > 30% bahan organik bila fraksi mineral >5% liat.
- Mengandung > 20% bahan organik bila fraksi mineral tidak
mengandung liat.
O1 : Horison organik yang terdiri dari bentuk asli bahan organik penyusunan dapat
dilihat dengan mata biasa.
O2 : Horison organik yang bentuk asli dari tanaman atau hewan (bahan organik)
tidak dapat dikenal dengan mata biasa.
Catatan:Horison organik di dalam tanah organik belum didefinisikan.

2.

Horison mineral dan lapisan-lapisannya.


A : Horison mineral terdiri dari :
1. Horison-horison dan akumulasi dari bahan organik yang dibentuk
atau pembentukannya pada atau dekat dengan permukaan tanah.
2. Horison yang mengalami pencucian liat atau aluminium sehingga
mengakibatkan akumulasi dari quartz atau mineral-mineral resisten
lainnya dalam bentuk pasir atau debu.
3. Horison yang mendekati 1 atau 2 di atas tapi transisi ke B atau C di
bawahnya.

7
A1 : Horison mineral, dibentuk atau pembentukannya pada atau dekat dengan
permukaan yang bentuknya ditekankan pada akumulasi dari humus bahan
A2

organik yang sangat erat kaitannya dengan reaksi mineral.


: Horison mineral yang kehilangan liat, besi atau aluminium yang akibatnya
terjadi penimbunan dari quartz atau mineral resisten lainnya dalam bentuk

A3

ukuran pasir atau debu.


: Horison transisi antara A dan B yang dipengaruhi oleh sifat karakteristik dari

A1 atau A2 tetapi mempunyai beberapa sifat kurang penting/menyerupai B.


AB : Horison transisi antara A dan B yang bagian atasnya dipengaruhi oleh sifatsifat A dan bagian bawah dipengaruhi oleh sifat-sifat B dan kedua bagiannya
tidak sesuai dipisahkan kedalam A3 dan B1.
A dan B: Horison yang akan dikualifikasikan ke A2 termasuk bagian-bagian yang
menyokong 50% dari volume yang akan dikualifikasikan sebagai B.
A C : Horison transisi antara A dan C, mempunyai sifat-sifat dari A dan C, tetapi
B

tidak lebih mirip ke sifat-sifat yang dipunyai baik A atau C.


: Horison mineral di dalam mana bentuk dominan atau bentuk adalah satu atau
beberapa dari sebagai berikut :
1. Akumulasi dari silikat, liat, besi, aluminium atau humus tersendiri dan
2.

terkombinasi.
Akumulasi residu dari seskuioksida atau liat silikat, secara tersendiri
atau campuran yang telah dibentuk oleh selain larutan atau larutan

3.

garam yang lain.


Adanya kutan (coating) atau sesquioksida yang dapat memberikan
warna lebih gelap lebih kuat atau lebih merah dari horison di atas dan
di bawahnya, tanpa adanya iluvial dari besi dan tidak memenuhi

4.

syarat 1 dan 2 di atasnya.


Penghancuran dari bahan dari keadaaan aslinya dalam horison ini,
yang tidak termasuk 1, 2, dan 3 di atas yang membentuk liat silikat,

8
membebaskan oksida-oksida atau keduanya dan membentuk struktur
granular, blocky atau prismatik.
B1 : Horison transisi antara B dan A1 atau antara B dan A2 di dalam mana horison
dipengaruhi oleh sifat-sifat B2 tetapi mempunyai beberapa sifat dari A1 dan
A2.
B dan A : Setiap horison dikualifikasikan sebagai B dalam 50% dari volumenya
termasuk bagian-bagian yang termasuk sebagai A2.
B2 : Bagian dari B horison di mana sifat-sifat dari B dipakai sebagai dasar,
tanpa ada sifat-sifat lain yang karakteristik yang ditunjukkan oleh tambahan
bahwa horison adalah transisi ke A atau ke C atau R.
B3 : Horison transisi antara B dan C atau yang sifat dari diagnostik lapisan B2
cukup jelas nampak, tetapi berkaitan dengan sifat-sifat C atau R.
C

: Horison mineral atau lapisan, tidak termasuk bedrock mungkin menyerupai


atau tidak menyerupai dari mana solum yang diduga berasal.
Relatip sedikit dipengaruhi oleh proses pedogenik dan kekurangan sifat
diagnostik A atau B termasuk bahan dari :
1.
2.

Pelapukan di luar daerah aktivitas biologi.


Sedimentasi, perkembangan kerapuhan, perkembangan berat jenis

3.
4.
5.

yang tinggi dan sifat fragipan lainnya.


Gleying.
Akummulasi CaCO3 dan MgCO3 atau garam-garam.
Sementasi oleh akumulasi sebagai CaCO3 atau MgCO3 atau garam-

6.

garam.
Sedimentasi oleh bahan silikat larutan alkali atau oleh besi dan silikat.

9
R

: Membawahi batuan induk yang kompak, seperti granite, sanstone atau


limestone.

Jika diduga menyerupai bahan induk lapisan di atasnya atau

horison dibentuk, maka diberikan simbol R.


Jika diduga tidak menyerupai bahan di atasnya maka simbol R diikuti oleh
angka romawi yang menunjukkan Lithologik discontinuity atau berasal dari
bahan induk lain.

Berdasarkan klasifikasi tanah Amerika Serikat, terdapat 12 order, yaitu:


1. Entisol.

6. Vertisol

11. Andosol

2. Inceptisol

7. Alfisol

12. Gelisol

3. Aridisol

8. Ultisol

4. MoIlisol

9. Oxisol

5. Spodosol

10. Histosol
IV.

SIFAT FISIKA TANAH

Sifat fisika tanah adalah sifat-sifat yang dapat diamati dan dapat diukur dengan
satuan

(unit) tertentu. Misal dalam gram, cm, ton, cm/jam. Juga merupakan sifat

morfologi tanah.
4.1

Warna Tanah

Sebagai petunjuk beberapa sifat fisika tanah


Perbedaan warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor;
1. Kandungan bahan organik (makin tinggi bahan organik, tanah makin berwarna
gelap)
2. Drainase,
-

Drainase baik, tanah berwarna merah/kuning

Drainase buruk, tanah berwarna abu-abu /kebiruan/kehitaman

3. Unsur-unsur logam (mineral)


-

Besi : Fe (ferrum)

Fe +2 ( fero) kuning Fe3+ (ferri) merah

10
Mn2+

Mn4+ (hitam )

Mangan: Mn

Fe203

Fe203. 3H20 : mineral limonit (berwarna kuning kecoklatan)

: mineral hematit (berwarna merah)

4. Basah / kering
-

Makin basah tanah akan berwarna makin gelap

Warna tanah ditentukan dengan bantuan warna standard (baku) yaitu menggunakan
Buku Soil Munsell Colour Chart
Warna tanah disusun oleh 3 (tiga) variabel:
- HUE : Warna tanah dominan/spektrum yang dominan
- VALUE : Gelap terangnya warna, tergantung dan banyak sedikit warna yang
dipantulkan
- CHROMA : Menujukan kemurnian atau kekuatan warna spektrum
Dalam buku tersebut tercantum :
* Hue: - Spektrum dominan paling merah (5R /Red), palinguning (5Y /Yellow)
5R; 7,5YR; 2,5 YR; 7,5YR; 1OYR; 5Y)
- Tanah tereduksi (tergenang air) yaitu 5G(Grey) 5GY; 5BG dan N (Netral).
* Value : dinilai 0 - 8 (makin tinggi Value, makin terang)
* Chroma : dinilai 0 - 8 ( makin tinggi Chroma, kemurnian spektrum atau kekuatan
warna spektrum meningkat).
Warna tanah menurut buku Soil Munsell Colour Chart .
Contoh;
- Hue
:7,5YR
- Value : 5
- Chroma : 4

] ---- >

7,5 YR 5/4 (Coklat)

- Hue
: 7,5YR - Value : 4
- Chroma : 6

10YR4/6 (merah )

---- >

4.2 Tekstur Tanah


Tanah terdiri dan berbagai ukuran butir/partikel atau fraksi tanah.

11
Ukuran butir tanah <2 mm, jika > 2 mm tergolong kerikil (gravel) atau batu (stone).
Partikel tanah dibedakan berdasarkan ukuran diameter:
- Fraksi pasir : 2mm - 0,05 mm (2000 - 50 )
- Fraksi debu : 0,05 mm - 0,002 mm (50 - 2
- Fraksi liat : <0,002 mm ( < 2 )
Klasifikasi butiran tanah menurut:
- USDA (United States Department of Agriculture)
- ISSI (International Society of Soil Science)

12
Penetapan

jenis tekstur tanah dapat dilakukan dengan 2 cara :

- Lapangan : bersifat kualitatif, relatif kurang akurat.


- Laboratorium bersifat kuantitatif dan lebih akurat

Kualitatif --- > berdasarkan kasar atau halusnya partikel tanah dengan
menggesekkan tanah basah diantara dua jari (ibu jari dengan telunjuk )
- Kasar : jari terasa sakit
- Agak kasar : jari terasa agak sakit
- Sedang : tidak terasa sakit
- Agak halus : terasa agak licin
- Halus : terasa licin dan lengket
Kuantitatif : dengan melarutkan 100 gram tanah dalam 1 liter air
kemudian ditambahkan larutan dispersant seperti Na H2 PO4 agar dispersi
sempurna. Sehingga diketahui jumlah ( %) pasir, debu dan liat. Perbandingan
jumlah (%) fraksi pasir, debu dan liat disebut tekstur. Dari kombinasi
persentase (%) ke-3 fraksi tersebut diperoleh 12 macam kelas tekstur :

Kelas tekstur di kelompokkan menjadi 5 (lima) golongan yaitu kasar, agak


sedang, agak halus dan halus

kasar,

13
Bertekstur Kasar ( tanah berpasir):
1. Tekstur pasir
2. Tekstur pasir berlempung
Bertekstur Agak Kasar ( tanah berpasir halus )
1. Lempung berpasir
Bertekstur Sedang(tanah berlempung)
1. Lempung
2. Lempung berdebu
3. Debu
Bertekstur Agak Halus ( tanah berliat )
1. Lempung liat berpasir.
2. Lempung liat berdebu
3. Lempung berliat
Bertekstur Halus ( tanah liat )
1. Liat berpasir
2. Liat berdebu
3. Liat
Menetapkan tekstur dilapangan ( kualitatif ) : dapat dilakukan dengan memijit/
menggesekan tanah basah di antara jari tangan (ibu jari dan telunjuk ), dirasakan kasar
atau halusnya.
Contoh :
1. Tekstur pasir:
- Rasa kasar dengan jelas
- Tidak melekat/lengket
- Tidak dapat dibentuk bola atau gulungan
2. Pasir berlempung:
- Rasa kasar jelas
- Sedikit sekali melekat/lengket
- Dapat dibentuk bola, tapi mudah sekali hancur.

14
3. Lempung Berpasir:
- Rasa kasar agak jelas
- Agak melekat
- Dapat dibuat bola, mudah hancur
4. Lempung:
- Rasa tidak kasar dan tidak licin
- Agak melekat/lengket
- Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit di gulung dengan permukaan
mengkilat
5. Lempung berdebu:
- Rasa licin
- Agak melekat
- Dapat dibentuk bola, agak teguh, dapat digulung dengan permukaan mengkilat.
6. Debu:
- Rasa agak licin
- Agak melekat
- Dapat dibentuk bola yang teguh, dapat dibentuk gulungan tapi agak
mudah hancur.
7. Lempung liat berpasir
- Rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar
- Agak melekat
- Dapat dibentuk bola agak teguh hingga teguh, dan mudah digulung.
8. Lempung liat berdebu
- Rasa agak licin
- Dapat membentuk bola teguh, gulungan mengkilat.
- Lengket
9. Lempung berliat
- Rasa agak licin
- Membentuk bola agak licin, digulung mudah hancur.
- agak lengket
10. Liat berpasir:

15
- Rasa halus, berat dan terasa melekat/lengket
- Dapat dibentuk bola teguh mudah digulung.
11. Liat berdebu:
- Rasa halus, berat, agak licin
- Sangat lengket.
- Dapat dibentuk bola, mudah digulung
12. Liat:
- Rasa berat, halus
- Sangat lekat (lengket)
- Dapat dibuat bola, mudah digulung
Menetapkan tekstur di laboratorium (kuantitatif) : lebih akurat
-

dilarutkan dalam air serta diaduk (Stir)

diberi H202 sebagai pelarut bahan organik.

diberi dispersant agar dispersi sempurna (NaH2P04)

ditentukan liatnya dengan hydrometer

disaring sehingga diperoleh pasir dan debu. Fraksi ini kemudian ditimbang lalu
fraksi debu dapat dihitung dengan rumus = 100 gram - ( pasir + liat) gram.

kemudian dihitung dalam prosentase.

plot dalam segitiga tekstur menurut USDA

Susunan butiran pasir, debu, dan liat berpengaruh besar pada sifat-sifat tanah.
4.3 Struktur Tanah
Struktur tanah : ukuran, bentuk dan susunan partikel primer (merupakan gumpalan kecil
dari pasir, debu dan liat dan atau bahan organik /kation ).
-

Partikel primer membentuk partikel sekunder (agregat) yang terbentuk secara


alamiah)

Butir tunggal bergabung membentuk gumpalan kecil/agregat (ped) secara


alamiah.

Jika tanah diolah akan membentuk gumpalan besar (clod).

Ukuran agregat /struktur beberapa mm hingga beberapa cm

16

Struktur tanah mempengaruhi:


- Tata air (drainase )
- Tata udara (airasi )
- Ketersediaan unsur hara
- Kegiatan jasad mikro
- Penetrasi akar tanaman
Struktur tanah dibedakan:
1. Bentuk ( Tipe)
-

Lempeng (platy) : sumbu vertikal lebih pendek dari sumbu horisontal.

Kubus (kubik/blocky) : sumbu vertikal sama dengan sumbu horisontal.

Prismatik : sumbu vertikal > sumbu horisontal. Sisa atas tidak membulat.

Tiang (columnar) : sumbu vertikal > sumbu horisontal. Sisa atas


membulat.

Granular : membulat dan banyak sisi. Masing-masing agregat (ped) tidak


porous.

Remah (crumb) : membulat atau banyak sisi sangat porous. Masingmasing agregat (ped) bersifat porous.

2. Ukuran ( Kelas )
-

Sangat halus : 1-2 mm


Sedang

: 2-5 mm

Kasar

: 5-10 mm

Sangat kasar : > 10 mm

3. Kemantapan ( Perkembangan)
-

Lemah : struktur/agregat dapat dilihat, tetapi mudah rusak dan mudah


hancur.

Sedang : struktur/agregat agak kuat dan tidak mudah hancur.

Kuat : stuktur/agregat tidak mudah rusak.

Tanah yang tidak berstruktur yaitu :

17
-

Butir-butir tanah tidak melekati satu sama lain, struktur lepas (loose),
misalnya tanah pasir.

Butir-butir kompak (massive) atau pejal.

Struktur tanah yang baik granuler dan remah karena :


-

Mempunyai tata udara yang baik.

Pori-pori tidak mudah tertutup akibat agregatnya stabil (tidak mudah


slaking)

18
4.4 Kemantapan Agregat
Agregat yang mantap adalah agregat yang tidak hancur oleh pukulan air hujan atau
karena pengolahan tanah.
-

agregat mikro : beberapa mm

agregat makro : beberapa cm

Agregat terbentuk akibat flokulasi (sementasi), terdiri dari : liat + debu + pasir +
bahan organik. Kemantapan agregat berkaitan dengan:
-

tekstur tanah

jenis liat

ion-ion pada permukaan koloid tanah

jenis dan jumlah bahan organik tanah

populasi jasad mikro yang menghasilkan senyawa organik, fungi (pengikat butir
agregat tanah)

Untuk membentuk agregat dari butir-butir tunggal perlu pengikat sehingga agregat bisa
bertahan (utuh). Sebagai perekatnya terdiri dari : koloid liat, oksida-oksida Fe, Al, Mn
dan bahan organik.

19

20
Berat Jenis penting untuk:
-

menghitung kebutuhan air

menghitung kebutuhan pupuk per hektare yang didasarkan kepada berat tanah

Contoh,
Berapa berat tanah 1 hektar, sedalam 20 Cm dengan berat jenis 1,2 g/Cm3 (1,2 kg/dm3)
1Ha

= 100 m
= (1000

l00 m = l000 dm x l000 dm x 2 dm x l,2 Kg/dm3

x 1000 x 2 ) dm3 x 1,2 Kg / dm3

= 2 400 000 Kg
= 2 400 ton
4.5 Pori-pori
Pori-pori adalah bagian(ruang) yang tidak terisi oleh padatan tapi terisi oleh air dan atau
udara
Pori-pori ada 2 macam yaitu:
1. Pori-pori makro (besar/kasar), terisi oleh udara atau air gravitasi
2. Pori-pori mikro (kecil/halus), terisi oleh air kapiler/udara
Tanah pasir : pori-pori makro lebih banyak dari tanah liat
Tanah dengan pori-pori makro sulit menahan air sehingga tanah mudah kekeringan.
Tanah liat : total pori (makro mikro) lebih besar dari pada tanah pasir
Porositas tanah dipengaruhi oleh:
- Kandungan bahan organik
- StrukturTanah
- Tekstur Tanah
Bahan organik tinggi, porositas tanah juga tinggi.
Struktur granuler/remah: porositas tinggi dibandingkan pejal
Tekstur pasir (kasar) : Porositas tinggi terutama pori-pori makro dibandingkan mikro,
sehingga sulit menahan air.
Tekstur halus mempunyai pori-pori mikro lebih tinggi dibandingkan makro

21
4.6 Permeabilitas/Perkolasi
Air yang masuk kedalam tanah melalui permukaan tanah;
- Infiltrasi, bergerak mengalir turun karena tarikan gaya gravitasi
- Perkolasi, yaitu pergerakan air dari atas ke bawah/kesamping
* Permeabilitas adalah kemampuan tanah melewatkan air per satuan waktu (cm /jam).

4.7 Konsistensi
Konsistensi tanah adalah sift yang melukiskan kekuatan merekat butir tanah satu
dengan yang lainnya. Hal ini timbul karena gaya kohesi dan adhesi dalam tanah pada
berbagai kandungan air. Konsistensi dipengaruhi oleh struktur, bahan organik, jenis dan
jumlah koloid liat dan kandungan air.

Kondisi kering : tanah memiliki konsistensi : lepas, lemah, agak keras, keras,
sangat keras atau ektrim keras. Tanah yang liatnya tinggi sangat keras, butir kuat.

Kondisi lembab: tanah lepas, sangat gembur, teguh melekat satu dengan yang
lain,

sangat teguh atau ekstrim teguh. Kandungan air tanah pada separuh

pori-pori berisi air adalah

saat yang paling tepat melakukan pergolahan

karena agregat mudah terpisah menjadi agregat yang lebih kecil.

Kondisi basah : konsistensi tidak plastis, agak plastis, plastis dan sangat plastis.
-

Plastisitas adalah kemampuan tanah mengambil bentuk dan bertahan dalam


bentuk baru tersebut

Sangat basah memiliki konsistensi tidak lekat, agak lekat, lekat dan sangat lekat,
tergantung dari kandungan jenis frasksinya. Tanah yang mengandung fraksi liat
yang tinggi, konsistensinya plastis dan lekat.

22

Mudah atau tidaknya air hilang didalam tanah menentukan kelas drainase tanah. Air
hilang melalui permukaan tanah maupun peresapan (perkolasi) kedalam tanah. Kelas
drainase dibedakan mulai dari yang terhambat (tergenang) sampai air hilang sangat cepat.
Kelas drainase ditentukan di lapangan dengan melihat gejala-gejala pengaruh air didalam
profil tanah seperti pucat, kelabu, atau bercak-bercak karatan (mottling atau konkresi ).
-

Pucat atau kelabu kebiruan petunjuk tergenang air (drainase buruk)

Bercak -bercak karatan terjadi basah / tergenang dan kering berulang-ulang


sehingga udara (oksigen ) dapat masuk.

Merah kecoklatan : tidak pernah tergenang (drainase baik).

4.8 Air tanah


Air berperan penting dalam tanah (no water, no agriculture) untuk:
-

pelapukan mineral

pelapukan bahan organic

pelarut unsur hara

pengisi

sel

tanaman

dan

memenuhi

kebutuhan

tanaman

dalam

fotosintesis/respirasi (metabolisme)
Kelebihan air dapat menyebabkan:
-

pencucian atau menghanyutkan unsur hara

mengurangi ketersediaan O2

Air berpengaruh penting terhadap sifat fisik dan kimia tanah. Air yang diserap tanaman
99% diuapkan lagi ke atmosfer (dalam bentuk evapotranspirasi) melalui stomata. Air
bersifat polar (bipolar), ada muatan positif

dan negatif. Polaritas menentukan hidrasi

yaitu gaya tarik molekul-molekul air terhadap ion-ion terlarut. Air dapat meresap dan

23
ditahan didalam tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi.
Berdasarkan gaya-gaya tersebut. air dalam tanah dibedakan atas:
1. Air Adhesi :
-

satu lapisan film air yang menyelimuti partikel/agregat tanah. Bisa hilang kalau
dipanaskan

2. Air Higroskopis (air pada kering udara/ air dry)


-

lapisan air yang tipis, tidak dapat diserap oleh tanaman

jumlah air tergantung macam koloid liat dan kelembaban udara

pF 4,7, atau tegangan 50atm

3. Air Kapiler
-

air kapiler adalah air yang mengisi pori-pori

gaya adhesi dan kohesi lebih besar dan gaya gravitasi

air ini dapat bergerak kesamping atau keatas

sebagian besar dapat diserap oleh tanaman


Air ini dapat dibedakan 2 macam :
1. Air Titik Layu Permanen (Permanent Wilting Point = P.W.P.)
- pF 4,2 atau tegangan 15 atm
- tanaman tidak mampu lagi menyerap air dari tanah

sehingga tanaman

menjadi layu (baik siang maupun malam)


- tanaman akan layu dan mati. Tapi di gurun, tanaman mampu menyerap
hingga tegangan air pada 40 atm yaitu kaktus.
2. Kapasitas Lapang ( Field Capacity= F.C. )
-

pF 2,54 atau tegangan 1/3 atm

jumlah air maksimum yang mampu ditahan (dipegang) oleh tanah terhadap
gaya gravitasi.

Air ini dapat diserap atau menguap sehingga tanah makin kering menuju
Titik Layu Permanent.

Jumlah kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air
(moisture tension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukan besarnya
tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut didalam tanah.

24
Diukur dengan satuan bar, atm, cm air atau log cm air ( pF)
1 atm = 1,0127 bar = 76 Cm Hg
1 bar = 75 Cm Hg
Air dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa gaya yang memberi air energi. Gaya-gaya ini
termasuk gaya gravitasi, kapiler, dan osmotik.
-

Gaya kapiler (gaya matrik) yaitu gaya yang berasal dan butiran tanah (penyusun
tanah)

Gaya osmotik yaitu gaya tarikan dari ion-ion bermuatan (kation/anion) terhadap
molekul air

Gaya gravitasi yaitu gaya tarik bumi/kebawah.

Tekanan adalah gaya per satuan luas. Tekanan 1 bar berat (gaya) dan air setinggi 1020
Cm, yang bekerja pada bidang seluas 1 Cm2.
1 atm =

l033 Cm kolom air (76CmHg )

4.9 Air Tersedia


Adalah selisih antara air pada kapasitas lapang dikurangi kadar air pada titik layu
permanen.

25

Gambar

Kurva Karakteristik Air

26

27

Sifat air yang (di) bipolar:


1. Kation-kation seperti Ca+2, K+ dan Na+ menjadi terhidrasi melalui tarikan ke
kutub negatif dari molekul air. Pada waktu kation terhidrasi energi juga
dibebaskan, gejala ini disebut panas larutan.
-

partikel lempung mengalami hidrasi energi yang dilepaskan disebut Panas


pembasahan

2. Liat bermuatan negatif menarik molekul air melalui kutub positif molekul air
3. Membantu proses pelarutan garam, karena komponen ion garam mempunyai
afinitas lebih besar terhadap molekul air dari pada terhadap sesamanya.
4.10

Tegangan Permukaan

Gaya tarik-menarik antara sesama molekul air lebih besar dari pada antara molekul air
dan udara di atasnya, sehingga air berperiaku seolah-olah permukaannya tertutup oleh
selaput lentur (konkaf). Berperan penting dalam gerakan air tanah, yang disebut
kapilaritas

28
V. SIFAT KIMIA TANAH
Sifat Kimia Tanah mempelajari :
-

reaksi kimia larutan tanah dengan fase padat tanah

mobilitas unsur hara ( unsur kimia) meliputi larut

atau mengendapnya unsur

hara.
5.1 Reaksi Tanah
Reaksi tanah menunjukan sifat kemasaman atau alkalinitas/kebasaan
dengan pH ( potential of hydrogen )
pH= -log [H+ ]= log

1
[ H+]

pH tanah menunjukan konsentrasi H+ dalam tanah.


Makin tinggi konsentrasi [H+], pH makin turun/ kecil
Makin rendah konsntrasi [H+], pH makin naik/tinggi.
H20

< ----- >

[ H+ ] + [ OH-]
[ H+] x [ OH-] = 10-14 mol/liter (Konstanta)
log [ H+ ] + log [OH-] = log [ 10-14]
pH

pOH

14

dan dinyatakan

29

30

Peranan reaksi/kemasaman tanah ( pH ):


1.

Menentukan kelarutan unsur-unsur hara atau tersedianya unsur hara untuk


tanaman.
-

pH rendah : unsur P difiksasi oleh Al+++ -----> AlPO4

pH tinggi : unsur P difiksasi oleh Ca ----- >

Ca3(P04)2

Menunjukan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun seperti Al +++, Mn4+,

2.

Al +++ merupakan racun bagi akar tanaman kedele, SO4--

bersifat racun bagi

tanaman.
3.

Keracunan unsur mikro : Fe, Mn, Zn, Cu, Co dan lain-lain


Mempengaruhi perkembangan mikro-organisme

Bakteri berkembang baik path pH 5,5 (Rhizobium > pH 5,5)

Jamur berkembang pada pH rendah atau asam.

Mengubah pH:
-

pH rendah bisa dinaikkan dengan menggunakan kapur ( CaCO3, CaO dan


Ca(OH)2 ) dan Dolomit ( CaMg (C03)2).

pH tinggi dapat diturunkan dengan inenggunakan Belerang (S)

SO4

Sumber Kemasaman:
-

Asam firuvat

Asam- asam Organik :- - Asam fulvic - Asam Citrat

Asam-asam Anorganik : HCL, H2S04

Ion Al +++ dapat tukar,

Micel H

Misel( = Mikro sel)


Kemasaman aktif

A13+ ++ + H20 -

Al+(OH)3 +

3H+

H (Larutan)
butir koloid bermuatan listrik
(Aktual)

ditentukan oleh ion H+ dalam larutan tanah

Kemasaman potensial : ditentukan oleh H+ yang teradsorbsi oleh misel


%

Kejenuhan basa = Jumlah basa dapat tukar


KTK

x 100 %

31

Sumber Alkalinitas:
Hidrolisis dari garani-garam alkalis:

Kation-kation dapat tukar (basa-basa): Na+, K+, Mg++, Ca++

Unsur hara Esensial (makro) dan bentuk yang diabsorpsi tanaman :


1. Karbon (C)

: CO2- -, HCO3

2. Hidrogen (H)

: H+, OH-

3. Oksigen (O)

: - senyawa dengan unsur lain

4. Nitrogen (N)

: NH4+, NO3-

5. Fosfor (P)

: PO4---, H2PO4 - ,HPO4

6.

: 4K

Kalium (K)

7. Kalsium (Ca)

: Ca++

8. Magnesium (Mg)

: Mg++

9. Sulfur (S)

: SO4 ++, S--

Unsur Hara Non Esensial :


1. Kobalt (Co)

: Co

2.

: Cl-

Khlor(C1)

3. Aluminium (Al)

: Al+++

4. Silikon (Si)

: SiO4---

5. Besi (Fe)

: Fe ++ , Fe +++

6. Mangan (Mn)

: Mn ++, Mn04

7. Molibdenum (Mo)

: Mo ++

8. Boron (B)

: B ++

9. Tembaga (Cu)

: Cu ++

10. Seng(Zn)

: Zn++

11. Khlor(Cl)

: Cl

Reaksi Enzimatik : Oksidasi Reduksi

CaCO3, MgCO3 dan NaHCO3

Koloid Tanah :

32
Bahan mineral dan bahan organik tanah yang halus sehingga mempunyai luas
permukaan per Satuan berat/massa. Contoh :
-

Clay ( liat ) : koloid anorganik

Humus

koloid

organik
-

Koloid berukuran

Liat : < 2

: tidak semua fraksi liat termasuk koloid.

Koloid : bagian dari liat (tanah) yang sangat aktif dalam reaksi
fisika- kimia di dalam tanah.

Partikel Koloid : Misel (mikro sel), umumnya bermuatan negatif, sehingga ion-ion positif
(kation) akan tertarik sehingga terbentuk lapisan ganda ion (double layer) Mineral hat :
berukuran < 2, terbentuk karena:
1. kristalisasi (sintesis) dan senyawa-senyawa hasil pelapukan mineral primer
2. Alterasi yaitu penghancuran langsung dan mineral primer.
Seperti contoh :
-

Mineral hat Al-silikat

Oksida-oksida Fe dan Al

Mineral-mineral primer.

Mineral skunder (liat ) bermuatan negatif:


1. Kelebihan muatan negatifpada ujung-ujung patahan kristal
Si - tetrahedral Al - oktahedral
2. Disosiasi H+ dan gugus OH- yang terdapat pada tepi atau ujung kristal.
3. Substitusi

isomorfik : Pergantian dalam struktur kristal oleh kation lain yang

mempunyai ukuran yang sama tetapi dengan muatan (valensi) yang berbeda.
Contoh : Mg ++/Fe++ menggantikan Al - dalam A1-oktahedral
kelebihan muatan negatif pada liat.

sehingga terjadi

33

Koloid Organik:
-

C amorf : adalah Humus dengan KTK lebih tinggi

Lebih mudah hancur dibandingkan liat

muatan Humus 4 tergantung pada pH (pH dependent charge) artinya anuatan


dapat berubah mengikuti perubahan pH.

Dalarn situasi asam (H-f) 4 H dipegang kuat oleh dalam karboksil atau phenol

Asam Fulvik :

Berat molekul yang paling kecil

Aktifdalarn reaksi

Humus (Asam Humik) :

B.M Sedang

aktif dalam reaksi

Asam Humin :

B.M paling besar

Gelap

tidak aktif dalam reaksi kimia

5.2 Kapasitas Tukar Kation (KTK= CEC)


Kation : ion bermuatan positif. Ca2+ , Mg2+, K+ , Na+ , NH4+, Al3+ , dsb. Jumlah kation
yang dijerap (absorbsi) oleh tanah dalam m.e/1 00 g tanah. Kation yang terabsorbsi dapat
diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah yang disebut Pertukaran kation.
Satuan KTK m.e / 100g
satuan m.e dapat di ubah menjadi berat atau ppm, ppb, permil, persen
Misal: 1 m.e H+

= 1mgH (berat atom H =1, Valensi = 1)

1 m.e

= 1 mili gram hidrogen

1 m.e K

= 39mg (Berat Atom K = 39, Val = 1)

1 m.e Na

= 23mg (Berat Atom Na = 23,Va1= 1)

1 m.e Ca

= 40 mg /2 = 20 mg (Berat Atom Ca = 40,Val = 2)

1 m.e Mg

= 24 mg/2 = 12 mg ( Berat Atom Mg = 24, Val =2)

34

Jika, K dalam Tanah 0,6 m.e/100 g


= 0,6 X 39 mg / 100g
= 23,4 mg/100000 mg = 234 mg/1000000 mg
= 234 ppm
Jika, Ca dalam tanah = 21,5 m.e/100 g
= 21,5 X 40 / 2 mg / 100 g
= 21,5 X 20 mg / 100 g
= 430 mg / 100 g
= 430 mg / 100000 mg
= 4300 mg / 1000000 mg
= 4300 ppm
Contoh : KTK Koloid ;
Koloid

= 50 m.e / 100 g

Bahan Organik

= 100 300 m.e / 100 g

Vermikulit

= 100 150 m.e / 100 g

Montmorilonit

= 60 100 m.e / 100 g

Khlorit

= 20 40 m.e / 100 g

Kaolinit

= 5 16 m.e / 100 g

Sesquioksida (A12O3 , SiO3)

= 0 3 m.e / 100 g

Karena adanya muatan tergantung pH (pH - dependent Charge) koloid tanah, maka
dalam menentukan KTK di laboratrium harus didasarkan pada pH larutan pengestrak.

Amonium asetat (CH3COONH4)


pH = 7 (Buffer)
-

macam ekstraksi

Garam netral (1 N KCI) - tanpa buffer

BaCI + Trietanol amin buffer pada pH 8,2

35

Buffer CHlCOONH4 (buffer 7,0)


-

Untuk tanah-tanah yang memiliki pH 7, nilai KTK akan lebih besar dari nilai
KTK yang sebenarnya.

Sebaliknya untuk tanah-tanah dengan pH > 7, hasil analisis KTK lebih rendah
dan KTK sebenarnya.

Garam Netral (1 N KCI)


-

bila tanah diekstrak dengan I N KCI (garam netral), maka air cuciannya basabasa.

Air Cucian (Leachate) akan mengandung H dan A1 ( H dapat dipertukarkan)


tanpa penyangga. Juga terdapat : Ca2+, Mg2+, K+. Na+ dan lain-lain. Jumlah Ca ,
Mg , K , Na dan ditambah kation lainnya tiap 100 gram tanah disebut KTK Effectif yang berasal dari muatan permanen (KTK pada permanen CEC).

KTK Efektif Aldd (1 N KCI) + Jumlah basa tukar (NH4OAc)

Bila tanah telah di ekstrak I N KCI kemudian + BaCI - TEA pH 8,2, maka H+ yang
berasal dan bahan muatan tetap akan di ekstrak (H dan gugus OH dan ujung patahan
kristal liat, karboksil (OH).
KTK tiap tanah berbeda
KTK Tanah

= KTK liat + KTK humus

KTK Humus

= 100 300 m.e / 100 g

Khlorit

= 10 40 m.e / 100 g

Montmorilonit

= 80 150 m.e / 100 g

Illit

= 10 40 m.e / 100 g

Kaolinit

= 3 15 m.e / 100 g

HaIoysite. 2H2O

= 5 10 m.e / 100 g

Haloysite

= 41 120 m.e / 100 g

Seskuioksida

= 0 3 m.e / 100 g

36

5.3 KTK erat kaitanya dengan kesuburan tanah.


-

KTK tinggi :
- Mampu menyerap unsur hara
- Menyediakan unsur hara
- Menghindari tercucinya unsur hara
- Pada tanah koloid liat montmorilonit + humus yang tinggi.

KTK rendah:
- Pada jenis liat kaolinit
- Pada Oksisol < 16 m.e / 100 g

Pertukaran Anion
- Jumlah sedikit karena adanya muatan liat positif.
- KTA (Kapasitas Tukar Anion) : dijumpai pada mineral Amorf liat Al - Oksida,
Fe - Oksida, liat kaolinit meskipun sedikit.

Muatan positif terjadi akibat patahan kristal mineral liat.


- pergantian OH oleh anion lain
- pada oksida Fe & Al

akibat pergantian gugusan OH- oleh anion-anion lain.

Pertukaran Anion : (NO3-), C1- (Khlor), Fosfat (PO43-), Sulfat (SO42-).


5.4 KEJENUHAN BASA (KB)

Kation

Unsur hara tanaman berbentuk kation (basa) kation jerapan

(adsorpsi) pada permukaan koloid.

Basa

: Ca2+, Mg2+, K+ dan Na+

Asam

: H+ dan Al3+

Kejenuhan Basa (KB) adalah Perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan
semua kation ( kation basa + asam ) yang terdapat dalam komplek jerapan (adsorpsi)
tanah.
KB = Kation Basa X 100 %

37
KTK
Basa

: Unsur hara tanah

KB Tinggi

mudah tercuci

belum banyak mengalami pencucian

Tanah yang subur :

berkaitan dengan pH tanah

pH rendah

: KB rendah komplek absorbsi kebanyakan di isi oleh A13+ dan H+

pH tinggi

: KB tinggi kompleks adsorpsi diisi oleh basa-basa.

5.5 REAKSI TANAH


Reaksi Tanah

menyatakan asam basa tanah

Proses-proses yang terjadi dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah

Laju Dekomposisi baik mineral tanah maupun bahan organik tanah dipengaruhi
oleh reaksi tanah.

Reaksi tanah mempengaruhi ketersediaan unsur hara

Jumlah H+ terlalu tinggi berpengaruh buruk (racun / toksik) terhadap tanaman


(jika terdapat dalam konsentrasi tnggi).

5.5.1 Asam Basa:


1. Konsep Arhenius (1880 - 1890) :
-

Asam - senyawa yang mengandung / menghasilkan ion Hidrogen (H+) Rd. H2S04 dsb.

Basa - senyawa yang menghasilkan OH

2. Konsep Bronsted - Lowry (1923) :


-

Asam - adalah suatu senyawa yang mampu menyumbangkan proton (donor


proton.)

Basa - adalah senyawa yang mampu menerima proton (akseptor proton)


HCl- i-r+cr

asam asam basa penerima proton


HCI + H2O

H3O + CI-

38
Asam

basa

H3O+

ion Hidronium

H2O-

bersifat basa (karena penerima proton)

3. Konsep Lewis (1923)


-

Asam - Senyawa yang dapat menerima suatu pasangan electron

Basa - senyawa yang dapat menyumbang pasangan elektron.

H+ , OH-, HOfl(H2O)
Menerima menyumbang elektron
NH3 -Nf14
menerima penyumbang pasangan elektron
Pada larutan tanah - konsep Brownsted Lowiy dan Lewis dapat diterapkan.
Path kondisi lain - Arhenius dapat diterapkan.
Untuk mencirikan reaksi asam basa didalam tanah (kondisi masam/alkalin)
digunakan istilah pH: Istilah ini diperkenalkan Sorensen (1909):
pH = log 1/AH+ = - log AH+
=log 1/(Hj=-Iog(H)
Hasil Kali Kelarutan = Hash kali konsentrasi ion cia/am larutan jenuh dan .wa!u
gzikar/anii
Disosiasi Air:
Molekul air mempunyai kecenderungan untuk Pecah (disosiasi): H dan 01-f
hidrngei hdroksiI
H205 HOH
Keq (Tetapan Disosiasi Air) = QJf X COW= 1,8 X I 06
CH2O
CH2O=55,5mol/liter
CI-I4XCOH 1,8x 10x55,5
Kw(produkion)= 1,01 x
Pada25C=298K

39
Kw = (]-I x C01{ = 10 4(pada 25 C)
- log (Hj log (01-f) = - log i0
atau - log (W) log (OFf) = 14
ataul pH+pOH14j -)tetap
Konsep Kemasaman Tanah
Kisaran pH tanah:
Berdasarkan tingkat relatif kemasaman, tanah dipisahkan kedalarn beberapa kelas
kemasaman atau kebasaan.
Tanah Masam 4 didaerah ikiim basah. Al, Fe, Mn 4 kelarutan tinggi
Tanah Basa 4 didaerah iklim Kering.

(senyawa-senyawa) (senyawa-senyawa)

40
VI. BAHAN ORGANIK TANAH
Bahan organik tanah ( C-organik ) berasal

dari pelapukan bahan tanaman,

binatang, makro-mikro organisme dan sisa-sisa yang tahan lapuk.


Bahan tanaman yang hancur (binatang + mikrobia)
Bahan Organik Tanah (C)

Biota tanah, mikroorganisme, dan akar tanaman


Bahan organik yang telah lapuk

Total karbon ( C ) di alam > 1019 kg. Hanya sebagian kecil saja yang terlibat dalam
siklus karbon (terutama bahan/ karbon organik pada permukaan tanah).
Sebagian terbesar lagi terbenam dalam bumi sebagai sedimen :
-

karbonat di lautan

batuan beku

fosil ( batubara dan minyak bumi / alkana CnH2n+2 )

Karbon yang aktif (terlibat dalam siklus karbon ) di bumi terdapat di :


-

dalam mahluk hidup

dalam atmosfir

dalam bahan organik tanah yang tahan lapuk (humus ) sekitar 3 x 10 15


kg atau 3 x C di atmosfir = mahluk hidup.

Gas karbon dioksida ( CO2 ) secara normal di atmosfir sebesar 0,03 % dan
akibat aktivitas manusia bertambah 15% dari total karbon. Hal ini
mengakibatkan pemanasan global.
Sumber bahan organik tanah yang terbesar adalah sisa-sisa tanaman berupa serasah,
cabang, akar dan bagian yang jatuh dan exudath terdiri dari :
-

sellulosa ( polimer glukosa )

hemisellulosa ( polimer heksosa ) : 20 persen

- lignin (resistant )

: 50 persen
: 18 persen

41
- protein

: 5 persen

- pektin,gula,dll.

: 7 persen

Depolimerisasi sellulosa oleh mikroorganisme :


- jamur

: Trichoderma, Fussarium dan Aspergillus

- bakteri

: Bassillus, Pseudomonas
+ 6 O2

C6H12O6

6 CO2 + 6 H20 + energi

( aerobik )
2 CH3CH2OH + 2 CO2 + energi
(anaerobik)
Bahan organik tanah terdiri dari bahan organik yang sebagian atau

seluruhnya melapuk. Di bagian lapisan atas tanah (top soil ) terdapat bahan organik
hingga 5 persen, dan makin kecil di bagian bawah tanah. Bahan organik yang mudah
lapuk ( 95 % dari total bahan organik tanah), membantu meningkatkan KTK, kapasitas
memegang air dqan menstabilkan agregat mikro.
Sedangkan bahan organik yang sukar lapuk ( 5% ) seperti polisakarida seperti lignin
akan membantu menstabilkan agregat makro. Bahan organik hidup seperti jamur, akar
rambut dapat menstabilkan agregat makro. Bahan organik juga sebagai indikator penting
dalam menentukan kesehatan tanah.
Kandungan bahan organik tanah dapat ditingkatkan dengan :
-

menanam tanaman penghasil bahan organik tinggi,

menanam tanaman yang berakar rambut banyak ( rumput, jagung, bijibijian ),

tanaman penutup tanah,

pemberian kompost, pupuk kandang,

dll.

42
Bahan organik tanah akan cepat berkurang (mengalami depolimerisasi ) bila tanah
sering diolah dan mengalami oksidasi.
-

Total karbon di bumi (alam) > 1015 kg

Hanya sebagian kecil saja yang aktif terlibat dalam siklus karbon

Sebagian besar lagi terbenam dalam bumi sebagai sedimen


- Karbonat di lautan
- Batuan beku
- Fosil

Karbon aktif di bumi :


1. Karbon dalam mahluk hidup
2. Karbon dalam atmosfir
3. Karbon dalam bahan organik tanah yang tahan
lapuk (residu)
diduga

humus

: 3 x 1015 kg
: 5 x C di atmosfir = mahluk hidup (no.1)

Dalam beberapa hal, lebih dari 90 % dari bahan organik tanah dalam bentuk yang telah
lapuk, walaupun terjadi perubahan bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Bahan tanah yang

CO2

dapat
lapuk

tahan
lapuk

biota

43
6.1 Pelapukan Sisa Tanaman
Sejauh ini sumber bahan organik tanah yang terbesar adalah sisa-sisa tanaman,
berupa seresah, cabang akar, bagian yang jatuh dan exudat.

Lignin
Hemiselulosa

Protein
18 %

2%
Asam amino & gula

20 %

5%
Protein lignin, Pigmen
5%
50 %

selulosa
-

Jamur :
-

Trichoderma

Fusarium

Aspergillus

Bakteri :
-

Bakteri

Pseudo
Aerobik

: + 6 O2

6 CO2 + 6 H2O + Energi

C6H12O6
Anaerobik : 2 CH3 CH2 OH + 2 CO2 + Energi

44
-

Selulosa

Polimer glukosa

Dekomposisi selulosa oleh energi

Hemiselulosa :

Polimer hexosa,

Lignin :

Bagian yang paling resistant


R
C

HC C

CCCCC

6.2 Koloid Bahan Penyusun Tanah


Organik

: humus, protoplasma & dinding sel mikrobia.

Penyusun Tanah
Inorganik : (batu, kerikil), pasir, debu, dan liat
Koloid

< 2 m
Partikel sangat halus, mendekati ukuran molekul
50 A0 (5 m) 2 m
Humus

bersifat hidrofilik

Liat (clay)

hidrofobik

dapat diflokulasikan

hidrofilik

tidak dapat diflokulasikan

Partikel koloid yang disekelilingi oleh kulit hidrasi disebut misel.

45
6.3 Komponen Organik (Bahan Organik Tanah)
- Komponen hidup ( akar tanaman, flora,fauna )
- Komponen mati (pernah hidup) :
- masih tampak dengan tanaman asli ( kasar )
fisik tanah
- bahan yang terlapuk sempurna

untuk memperbaiki sifat

untuk memperbaiki sifat kimia tanah

Jaringan tanaman : C, H, O, N, S, dan P dan kation Ca, K, Mg, Na, Si, Fe, dll.
- anorganik
abu ; 10%
- organik :
- karbohidrat (polisakarida)
- asam amino / protein
- lipid (lemak )
- asam nukleat
- lignin
- humus

Polisakarida tanah dapat dilindungi dari degradasi interaksi dengan konstituen-konstituen


tanah lainnya seperti liat dan kation-kation logam. Terutama dengan mineral liat yang
mengembang diantara misel (mites misil) melindungi polisakarida dari serangan
enzimatik dan / atau serangan mikroba. Reaksi kompleks dengan kation-kation logam,
misalnya : Cu, Fe, Zn, dapat menghambat dekomposisi enzimatik dari polisakarida tanah.
Polisakarida tanah mempengaruhi :
-

Kondisi fisik tanah


Reaksi pertukaran ion
Retensi ion
Metabolisme karbon
Aktivitas biologi
Reaksi kompleks logam-logam
Bereaksi dengan lignin
Bereaksi dengan asam amino
membentuk humus, asam humat dengan senyawa lainnya.

interaksi antara polisakarida tanah dengan partikel-partikel tanah melindungi agregasi


tanah pengaruh --- >
pelapukan
destruksi oksidatif dari polisakarida tanah menghasilkan penurunan stabilitas agregat
tanah sebesar 30 60%.

46
melalui interaksi dengan mineral liat, polisakarida mengubah sifat-sifat dari
permukaan lempung tersebut dalam kaitan dengan penyerapan air.
Asam amino :
NH2
C
C
COOH
H
Unit struktural dasar dari protein
Lipid :
-

Senyawa heterogen dari asam lemak, lilin dengan minyak


Klasifikasi :
1. Lipit netral (gliserol)
2. Fosporida
3. Glikolopid
4. Lipid terpenoid : - karateroid
- steroid
Kelarutannya terbatas dalam air, sifat hidrofobik
Lipid yang mengandung P
fosfolipid

Lignin :
- Suatu sistem dari polimer tiga dimensi terproplastik yang berasal dari monomermonomer alkohol konferil atau propana greuasil
Lignin tanaman : 1) Lignin dari kayu lunak
2) Lignin dari kayu keras
3) Lignin dari rumput-rumputan, bambu dan paku
Bagian terbesar dari lignin terdapat dalam dinding sel sekunder, berasosiasi dengan
selulosa dan hemi - selulosa pada batang.
Kadar lignin meningkat dengan meningkatnya umur tanaman, dan besar batang.
Lignin penyusun penting dari jaringan kayu dan mengandung bagian terbesar dari
kadar metoksil kayu.
Tidak larut dalam air larut dalam pelarut organik dan asam sulfat kuat

Humus dan Asam Humat

Bahan Organik : - bahan terhumifikasi

47
- bahan tak terhumifikasi
Bahan tak terhumifikasi :
o Bahan-bahan (senyawa-senyawa)

dalam tanaman dan organisme lain seperti :

karbohidrat, asam amino, protein, lipid dan asam nukleat berada dalam kondisi
anaerobik. Dengan keadaan demikian tidak terjadi degradasi.
Bahan/fraksi terhumifikasi :
o Dikenal sebagai senyawa humus / senyawa humat.
Dianggap sebagai hasil akhir dekomposisi bahan tanaman didalam tanah.
Bahan koloidal terdekomposisiyang bersifat anorganik, berwarna kuning
hingga coklat
Fraksi humat
Asam sulfat
Asam humat
Asam humat melanik
Humik

Alkali
Larut
Larut
Larut
Tidak

Asam
Larut
Tidak larut
Tidak larut
Larut

Alkohol
Tidak larut
Larut
Tidak larut

Humus dan bahan humad sangat penting sebagai komponen tanah :


C/N

8 20 untuk humus

C/N

> 20

Senyawa Humat:
mempengaruhi sifat kimia tanah, fisik dan biologi tanah (kesuburan tanah)
berpengaruh terhadap metabolisme dan terhadap sejumlah proses biologi
lainnya. misalnya : 0,7 4,6 %
6.4 Peranan Bahan Organik dalam Meningkatkan Kualitas Tanah
1. Memperbaiki sifat kimia tanah :
Menambah unsur hara
Meningkatkan K
Mengurangi kehilangan unsur hara pupuk

48
Meningkatkan efisiensi pemupukan
Mencegah keracunan zat besi dan Al
2. Mempertahankan kualitas sifat fisik :
Mempermudah perkembangan/penetrasi akar tanaman
Meningkatkan daya menahan air tanah
Pembentukandan menstabilkan pori - pori
Merungangi aliran air permukaan (run of ) dan erosi.
Mengurangi fluktuasi tempratur tanah
3. Memperbaiki kualitas biologi tanah :
Sebagai sumber energi bagi aktivitas organisme
6.5 Cara Mempertahankan Kandungan Bahan Organik Tanah (BOT)
Pengembalian sisa panen (2 - 5 ton ha-1)
Pemberian kotoran hewan (pupuk kandang) 2 ton/ha setiap musim panen
Pemberian pupuk hijau

Penggunaan Azolla pada Padi

VII.KESUBURAN TANAH
7.1 Unsur Hara Tanaman
Tumbuh-tumbuhan hijau diangap sebagai produsen bagi organisme lain, Karena
mampu mengolah bahan makanan sendiri, tetapi tentu saja dibutuhkan air, udara,
beberapa unsur hara dan cahaya untuk kelangsungan hidupnya. Jadi unsur hara ini
penting, karena dibutuhkan tanaman untuk keperluan metabolisme didalam semua
tanaman, meskipun demikian tidak semua unsur hara esensial bagi proses pertumbuhan
tanaman. Kriteria unsur hara esensial adalah :
1. Kekurangan unsur hara tersebut dapat merosotnya tumbuhan tanaman baik
vegetatif maupun generatif.

49
2. Gejala kekurangan dari unsur tersebut dapat diatasi atau dihilangkan hanya
oleh penambahan unsur bersangkutan.
3. Unsur tersebut harus secara langsung terlibat didalam nutrisi tanaman.
Terlepas

dari

kemungkinaan

berpengaruh

memperbaiki

lingkungan

mikroorganisme atau reaksi kimia didalam media pertumbuhan.


Unsur hara dalam tanah terdapat paling banyak sebagai penyusun mineral dan bahan
organik dalam jumlah kecil sebagai bentuk ion dapat tukar atau sebagai ion dalam larutan
tanah. Jumlah unsur hara yang larut dan dijerap koloid dan serta tersedia bagi
tanaman disebut kesuburan aktif tanah.sedangkan unsur hara yang menyusun
mineral primer dan sekunder serta terdapat dalam bahan organik yang semi
resisten, sehingga unsur hara itu tidak dalam keadaan tersedia sehingga disebut
kesuburan potensial tanah. Dengan demikian produksi tanaman tergantung pada laju
perubahan bentuk potensial kebentuk aktif.
Unsur-unsur hara esensial dibagi 2 (dua) golongan berdasarkan kebutuhan
tanamannya yaitu :
1. Unsur hara makro ;
Unsur-unsur ini dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, seperti C,
H, O, N, S, P, K, Ca, dan Mg.
2. Unsur hara mikro ;
Unsur-unsur ini dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif sedikit
seperti Fe, Mn, Mo, B, Cu, Zn, dan CI.
Selain unsur hara esensial, beberapa tanaman membutuhkan/menyerap unsur lainnya dari
tanah seperti Va, Na, Si.
C, H, O, N, P dan S merupakan unsur-unsur penyusun protein atau protoplasma, dan yang
merupakan bagian didalam abu tanaman seperti : Ca, Mg, K, Fe, Na, Cu, Zn, Mo dan CI.
Kecuali C, H dan O, pada umumnya unsur-unsur hara diambil oleh tanaman dari
dalam tanah, ketiga unsur hara ini berasal dari air dan udara (CO 2) yang kemudian
dirubah menjadi karbohidrat sederhana melalui proses fotosintesa yang akhirnya menjadi
asam-asam amino, protein dan protoplasma. Jadi unsur ini tidak digolongkan unsur
mineral.

50
Unsur hara N kadang-kadang berasal dari fiksasi mikroorganisme penambat N dari
udara yang bersimbiose dengan tanaman leguminosa. Sedangkan tanaman lain
memperoleh N dari tanah.
Bentuk-bentuk hara yang diserap tanaman berupa bentuk ion-ion, disajikan pada
tabel 2.
Tabel 2. Bentuk ion dari unsur hara yang diserap tanaman
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Unsur

Unsur

Kation
Anion
Unsur hara makro
Nitrogen
NH4+
NO3Kalsium (Ca)
Ca2+
Magnisium (Mg)
Mg2+
Kalium (K)
K+
Fosfor
HPO42-, H2PO4-, PO43Belerang (S)
SO42Unsur hara mikro
Tembaga (Cu)
Cu2+
Besi (Fe)
Fe3+
Mangan (Mn)
Mn2+, Mn4+
Seng (Zn)
Zn2+
Boron (Bo)
BO33+
Molibelenum (Mo)
MoO42Klor
Clhara diserap tanaman dari larutan tanah dan hanya beberapa dari unsur hara yang

berasal dari kompleks koloid, unsur hara diambil tanaman dalam jumlah cukup besar
adalah Ca2+, Mg2+, dan K+.
Bila konsentrasi Ca2+ dan Mg2+ dilarutkan tanah, maka sebagian besar Ca dan Mg diserap
tanaman langsung dari larutan tanah.
Nitrogen merupakan unsur yang penting bagi tanaman dan dapat tersedia
melalui pemupukan. N umumnya diserap tanaman dalam bentuk kation (NH 4+)
contohnya padi sawah, sebaliknya tanaman darat mengabsorbsi dalam bentuk
anion (NO3-) yang terbanyak.
Nitrogen tidak dapat bertahan dalam bentuk NH 4+ dalam tanah. NH4+ lebih
cepat diubah menjadi NO3- oleh mikroorganisme tertentu di dalam tanah. Nitrogen
yang diserap tanah ini, didalam tanaman dirubah menjadi N, NH, dan NH 2. Bentuk

51
reduksi ini kemudian dirubah menjadi senyawa yang lebih kompleks dan akhirnya
menjadi protein.
Pada umumnya muatan tanah negatif, dengan demikian kation terjerap dipermukaan
kompleks koloid (misel tanah). Sedangkan anion tidak dijerap oleh kompleks koloid,
sehingga sebagian besar tersedia dalam larutan tanah. Unsur hara yang berada dalam
larutan dapat tercuci, sehingga kecil kemungkinan terjadi akumulasi anion dalam bentuk
tersedia pada daerah curah hujan tinggi.
Mengingat unsur hara merupakan hasil pembebasan dari proses mineralisasi dan
humifikasi, terutama untuk daerah tropik dengan curah hujan tinggi, unsur hara dapat
disediakan melalui pemupukan.

52
7.2 TANAH DAN KETERSEDIAAN UNSUR HARA BAGI TANAMAN
Larutan tanah merupakan campuran dari air tanah dan faraksi koloidal
( komplek koloid) serta gas-gas yang terlarut didalamnya. Larutan tanah dibedakan
atas :
1. Larutan tanah dalam, yang kontak langsung dengan fraksi padat , kationkation didalam larutan tanah ini berada dalam keseimbangan dengan kation
pada komplek absorbsi.
2. Larutan tanah luar, larutan tanah yang mengisi rongga-rongga kapiler yang
lebih besar dengan konsentrasi ion yang lebih rendah.
Susunan dan konsentrasi ion-ion didalam larutan setiap saat berubah tergantung dari
kecepatan transformasi ion-ion didalam tanah, hujan atau evapotranspirasi.
Hujan mencuci ion-ion yang mobil dan mengencerkan larutan tanah, sedangkan
evapotranspirasi akan membawa ion-ion ke lapisan atas serta memekatkan larutan tanah.
Hara tanaman yang terlarut didalam larutan tanah berasal dari pelapukan mineralmineral primer, dekomposisi bahan organik, pengendapan dari atmosfir, pemupukan,
perembesan dari daerah-daerah lain. Ion-ion didalam tanah mengalami beberapa proses
sebelum sampai dipermukaan akar, proses-proses tersebut meliputi :
1. Pertukaran ion
2. Mekanisme pergerakan ion-ion/unsur hara ke akar
7.2.1 Pertukaran ion
merupakan proses pertukaran antara kation dengan anion yang terikat secara adsorbsi
pada permukaan kompleks adsorpsi dengan kation dan anion di dalam larutan tanah.
Proses pertukaran ini dapat terjadi melalui proses kontak antara komplek koloid ataupun
pertukaran kedudukan antara ion-ion di dalam komplek itu sendiri.

53
Bagian yang paling aktif dalam pertukaran ion adalah butir koloid. Koloid anorganik
hampir seluruhnya terdiri dari berbagai mineral fraksi liat dan koloid organik/humus.
Fraksi ini bermuatan listrik negatif pada liat disebabkan oleh:
1. Subtisusi Isomorfik didalam kisi-kisi kristal
2. Ionisasi gugusan hidroksil yang terikat pada atom-atom Si dari bidang tetrahedron
yang terputus.
3. Pada fraksi organik disebabkan adanya patahan pada gugusan COOH dan OH
atau NH2.
Subtitusi isomorfil ini menghasilkan muatan tetap, sedangkan ionisasi gugusan
hidroksil ini menyebabkan muatan tergantung pH.
Muatan-muatan listrik negatif pada fraksi-fraksi anorganik maupun organik
didalam tanah selalu dinetralkan oleh kation basa-basa dan hidrogen. Jumlah
kation-kation yang dinyatakan dalam mili setara setiap 100g tanah kering oven
105oC disebut Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah.
KTK ini merupakan sifat kimia yang terpenting dari tanah dan sangat erat
hubungannya dengan kesuburan tanah.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan jumlah muatan negatif persatuan berat
koloid yang dinetralisasi oleh kation yang mudah diganti. KTK didefinisikan
sebagai nilai yang diperoleh pada pH 7. KTK tanah tergantung pada tipe dan
jumlah kandungan liat, kandungan bahan organik dan pH tanah. KTK beberapa
jenis koloid tanah disajikan pada table 3.
Tabel 3. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Koloid Tanah
No
1
2
3

Koloid
Bahan organik
Vermikulit
Monmorilonit

KTK. me/100gram
100 300
100 150
60 100

54
4
5
6
7

Chlorid
Illit
Kaolinit
Seskuioksida

20 40
20 40
2 16
0

KTK tanah yang memiliki muatan tergantung pH akan berubah-ubah tergantung


perubahan pH. Bila tanah sangat masam maka KTK dan kemampuan menyimpan hara
kation dapat tukar menukar karena perkembangan muatan positif. KTK koolinit
berkurang dari pH 8 menjadi 5,5.
Muatan negatif padfa kompleks adsorbsi (Misel) di netralkan oleh Ca, K, Mg, Na,
Nh4, Al, H dan lain-lain. kejenuhan ion-ion ini pada kompleks adsorbsi berbeda-beda
tergantung dari muatan dan tebalnya selubung air hidrat dari ion tersebut.

Reaksi

pertukaran kation sebagai berikut :


Ca2+

MISEL
MISEL

Ca2+ Mg2+ H+ H+
K+

+ 2H+

H+
H+

+ 2H+

Ca2+ Mg2+

MISEL
MISEL
+
K H+ NH4+

MISEL
MISEL

MISEL
MISEL
H+
H+

H+
H+

+ Ca2+

+ K+ + NH4+

Umumnya kation bervalensi 1 diikat dengan kekuatan yang kecil sekali dibandingkan
dengan yang bervalensi 2 atau 3. Jadi makin besar valensi kation makin sulit ditukar.
Demikian juga ion dengan air hidrat tebal akan lebih mudah ditukar daripada ion yang
berselubung air hidrat tipis.
Mudah atau sukar suatu ion ditukar diberikan dalam suatu deretan yang disebut
DERETAN LYOTROPI
L1 > Na > K > NH4 > Mg > Ca > Si > Ba > H

55
Ion-ion yang terletak disebelah kiri lebih mudah dilepaskan daripada ion-ion yang
terletak disebelah kanannya. Tetapi dengan konsentrasi yang cukup tinggi ion-ion seperti
Na dan K ataupun NH4+ dapat membebaskan H ataupun Al dan Fe.
Bagi daerah bercurah hujan tinggi, basa-basa seperti Na,K,Ca dan Mg tercuci
sehingga tanah-tanah bereaksi masam. Reaksi tanah masam berkorelasi dengan nilai
kejenuhan basanya. Kejenuhan basa adalah jumlah basa-basa (Na, K, Ca, Mg) yang
mempunyai tempat-tempat pertukaran setiap 100 gr tanah terhadap harga KTKnya.

Kejenuhan basa :

x 100%

Berbeda dengan pertukaran kation, maka kapasitas tukar anion (KTA) bertambah dengan
menurunnya pH tanah, KTA dari tanah-tanah yang kaya mineral liat 1 : 1 dan oksida
alumunium dan besi selalu lebih besar dari tanah-tanah yang kaya mineral liat 2 : 1
Mekanisme pertukaran anion pada umumnya sebagai berikut :
Bila pH tanah diturunkan maka aktivasi gugusan basa bertambah sehingga penerimaan
proton juga bertambah.
Misal : R-OH + HSO4R-NH2 + HCl

R-OH2 + SO4R-NH3 + Cl-

Dalam kedudukan demikian anion-anion ini mengadakan pertukaran dengan anion lain
didalam tanah sehingga dijumpai peristiwa pertukaran anion.

7.2.2 Mekanisme pergerakan unsur hara ke akar

56
Sebelum tanaman dapat mengabsorbsi suatu unsur hara, unsur tersebut harus terdapat
pada permukaan akar. Pergerakan unsur hara kepermukaan akar terjadi melalui 3
cara :
1. Intersepsi akar
2. Aliran masa
3. Difusi
Intersepsi akar :
Proses pertukaran ion-ion yang terdapat pada permukaan akar dengan ion-ion
dipermukaan kompleks adsorbsi. Proses ini terjadi tanpa melalui larutan, jadi
langsung dari fase padat.
Aliran massa :
Proses pergerakan ion-ion bersama air dalam tanah. Aliran massa sangat
efektif dalam mengangkut unsur hara ke akar tanaman bila air tanah bergerak
akibat daya serap akar, karena alirannya selalu menuju ke akar. Hal ini terjadi bila
konsentrasi hara cukup tinggi dalam larutan tanah.
Difusi :
Proses pemindahan ion/unsur hara yang terjadi oleh perbedaan konsentrasi.
Unsur bergerak dari bagian yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi ke arah
konsentrasi yang lebih rendah.Perbedaan konsentrasi akan terjadi bila ion-ion yang
diserap akar sehingga konsentrasi ion-ion dalam larutan tanah diikat akar lebih
rendah dibandingkan dengan konsentrasi ion-ion dalam larutan tanah yang lebih
jauh dari akar.
Difusi sangat penting bagi unsur hara yang berada pada konsentrasi rendah dalam
larutan tanah.

57

7.3 EVALUASI KESUBURAN TANAH


Dalam pengelolaan / budidaya pertanian kita tidak lagi bersifat mining the soil,
tetapi mengarah ke Intensifikasi Pertanian. Yang berarti bagaimana caranya mengelola
lahan yang tadinya kurang potensial menjadi potensial.
Salah satu cara untuk meningkatkan potensialitas lahan dengan cara pemupukan.
Tetapi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan harus melalui suatu cara, yaitu
Evaluasi Kesuburan Tanah.
Evaluasi kesuburan tanah bertujuan mengetahui status kesuburan tanah
apakah kurang subur, sedang atau subur. Untuk menentukan suatu tanah subur
atau tidak dapat dipakai beberapa test/pengujian yaitu melalui pendekatan antara
lain :
1.
2.
3.
4.

Memerikas tanda-tanda kekurangan unsur pada tanaman


Analisis jaringan tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut
Secara test biologis dengan menggunakan tanaman atau mikroorganisme
Analisis kimia tanah.