Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

Gabah
Suatu proses gabah menjadi beras memiliki beberapa tahapan, dimulai dari
pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan. Tiap-tiap tahapan ini
sangatlah berbeda penanganannya satu sama lain, pada saat pemanenan biasanya
petani menggunakan arit (sabit) dimana mereka bekerja sama dalam memanen
sawah mereka ataupun mengupahkannya kepada orang, pada saat perontokan,
petani pada saat ini sudah mampu menggunakan mesin dalam melakukannya,
dimana sebelumnya mereka merontokkan gabah dengan cara memukul gabah ke
kayu-kayu yang disusun sedemikian rupa, dengan menggunakan mesin tentunya
perontokan akan semakin mudah dan cepat, untuk melakukan pengeringan gabah
petani biasanya langsung menjemur gabah dipanas matahari, dimana waktu
pengeringan dengan cara seperti itu akan memakan waktu yang relatif lama
biasanya 2 hari, pada tahap penggilingan mereka akan membawa gabah yang
sudah dikeringkan ke kilang padi.
Jumlah kandungan air pada gabah disebut kadar air dan dinyatakan dengan
persen (%). Karena tingginya kandungan air gabah maka perlulah dilakukan
pengeringan, dimana pada umumnya kadar air gabah mencapai 20 % - 26 % ini
bergantung cuaca pada saat pemanenan tentunya
Pengeringan gabah adalah suatu perlakuan yang bertujuan menurunkan
kadar air sehingga gabah dapat disimpan lama, daya kecambah dapat
dipertahankan, mutu gabah dapat dijaga agar tetap baik (tidak kuning, tidak
berkecambah dan tidak berjamur), memudahkan proses penggilingan dan untuk

Universitas Sumatera Utara

meningkatkan rendemen serta menghasilkan

beras gilingan

yang

baik

(Damardjati, 1978) .
Pengeringan merupakan salah satu kegiatan pascapanen yang penting,
dengan tujuan agar kadar air gabah aman dari kemungkinan berkembangbiaknya
serangga dan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. Pengeringan harus
sesegera mungkin dimulai sejak saat dipanen. Apabila pengeringan tidak dapat
dilangsungkan, maka usahakan agar gabah yang masih basah tidak ditumpuk
tetapi ditebarkan untuk menghindarkan dari kemungkinan terjadinya proses
fermentasi. Pengeringan akan semakin cepat apabila ada pemanasan, perluasan
permukaan gabah padi dan aliran udara.
Adapun tujuan pengeringan disamping untuk menekan biaya transportasi
juga untuk menurunkan kadar air dari 23-27 % menjadi 14 %, agar dapat
disimpan lebih lama serta menghasikan beras yang berkualitas baik. Proses
pengeringan gabah sebaiknya dilakukan secara merata, perlahan-lahan dengan
suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang kurang merata, akan
menyebabkan timbulnya retak-retak pada gabah dan sebaliknya gabah yang terlalu
kering akan mudah pecah saat digiling. Sedangkan dalam kondisi yang masih
terlalu basah disamping sulit untuk digiling juga kurang baik ditinjau dari segi
penyimpanannya karena akan gampang terserang hama gudang, cendawan dan
jamur (Strumillo and Kudra, 1986).
Metode Pengeringan
1. Pengeringan Alami
Menurut Widiastuti (1980), Metode pengeringan terbagi atas :
1. Pengeringan di atas lantai

Universitas Sumatera Utara

2. Pengeringan di atas rak


3. Pengeringan dengan ikatan-ikatan ditumpuk
4. Pengeringan dengan ikatan-ikatan yang diberdirikan
5. Pengeringan dengan memakai tonggak
Penjemuran gabah pada lantai jemur (lamporan) adalah cara pengeringan gabah
secara alami yang praktis, murah, sederhana dan umum digunakan oleh para
petani. Energi untuk penguapan diperoleh dari angin dan sinar matahari.
Lamporan harus bersih agar gabah padi yang dikeringkan tidak kotor. Lamporan
haruslah memenuhi syarat antara lain tidak menimbulkan panas yang terlalu
tinggi, mudah dibersihkan dan dikeringkan, tidak basah sewaktu digunakan, dan
tidak

berlubang-lubang. Lamporan pada umumnya dibuat

dari semen,

permukaannya agak miring dan bergelombang dengan maksud agar air tidak
menggenang, Mudah dikeringkan dan permukaannya menjadi lebih luas. Cara
penjemuran gabah dihamparkan di lamporan setipis mungkin, namun untuk
efisiensi dan mengurangi pengaruh lantai semen yang terlalu panas maka tebal
lapisan dianjurkan sekitar 5-7 cm. Padi harus sering dibolak-balik secara merata
minimal 2 jam sekali. Pengeringan padi dapat dilakukan selama 1-3 hari
tergantung dengan cuaca (mendung atau terik matahari). Penjemuran sebaiknya
dilakukan ditempat yang bebas menerima sinar matahari, bebas banjir dan bebas
dari gangguan unggas dan binatang penggangu lainnya.
Penjemuran sebaiknya dilakukan pada pukul 07.00-16.00 atau tergantung
pada intensitas panas sinar matahari. Apabila penjemuran selesai dan gabah tidak
akan segera dikemas serta disimpan di dalam gudang, sebaiknya tumpukan gabah
ditutup dengan plastik atau seng agar terhindar dari embun maupun hujan.

Universitas Sumatera Utara

Pengeringan secara alami mempunyai kelemahan antara lain (a)


memerlukan

banyak

tenaga

kerja

untuk

menebarkan,

membalik

dan

mengumpulkan kembali, (b) sangat bergantung pada cuaca, sehingga padi tidak
dapat dikeringkan apabila cuaca buruk terlebih-lebih apabila hujan datang pada
saat sedang menjemur, (c) memerlukan lahan yang luas untuk jumlah gabah padi
yang besar dan lahan yang dijadikan lamporan semen tidak dapat lagi
dipergunakan untuk beberapa keperluan lain, (d) sulit mengatur suhu dan laju
pengeringan di atas semen atau alas logam (Widjono, dkk).
2. Pengeringan Buatan
Pengeringan buatan mempunyai kelebihan dibanding pengering alami
yaitu waktu penjemuran yang lebih singkat dan gabah yang djemur lebih bersih
dan terlindung dari debu, hujan dan lain-lain. Pengeringan buatan bemacammacam, ada yang menggunakan listrik, matahari, bahan bakar sekam dan lain-lain
(Setijahartini, 1980).
Teori Pengeringan
Proses pengeringan adalah poses menurunkan kadar air suatu bahan sampai
pada batas kandungan air yang ditentukan. Dalam wet basis, jumlah (massa) air
yang diuapkan dihitung berdasarkan selisih massa air mula-mula (mw1) dan massa
air akhir (mw2).
mw = mw1-mw2 ...................(1)
mw = massa air yang diuapkan pada proses pengeringan

mw1

= massa air mula-mula

mw2

= massa air akhir

Universitas Sumatera Utara

dimana
mw1 = Ko.m ......................(2)
Ko

= kadar air mula-mula dalam wet basis (%)

= massa total bahan sebelum dikeringkan

Kadar air akhir (K) dicari dengan menggunakan persamaan :


K=

mw2
........................(3)
mw2 + md

= kadar air setelah proses pengeringan dalam wet basis (%)

md

= massa kering bahan

Sehingga
mw2 =

K .md
...........................(4)
1 K

Sehingga didapatkan :
mw = Ko.m -

K .md
1 K

mw =

Ko.m(1 K ) K .(m mw)


1 K

mw =

Ko.m(1 K ) K .(m Ko.m)


1 K

mw =

m( Ko K )
................(5)
1 K

Persamaan di atas digunakan untuk menghitung massa air yang diuapkan dalam
suatu bahan pada proses pengeringan ( Henderson and Perry, 1976).
Kandungan air suatu bahan dapat dinyatakan dalam wet basis atau dry basis.
Kandungan kelembaban dalam wet basis menyatakan perbandingan massa air

Universitas Sumatera Utara

dalam bahan dengam massa total bahan. Pada dry basis, kandungan air dihitung
dengan membagi massa air dalam bahan dengan massa keringnya saja. Keduanya
baik wet basis dan dry basis dinyatakan dalam persen kelembaban :

Mw =

mw
........................ (6)
mw + md

Mw = Wet basis
mw = massa air
md = massa kering bahan
Md =

mw
....................(7)
md

Md = dry basis
( Henderson and Perry, 1976).
Kelembaban Udara
Kelembaban udara mempengaruhi kemampuan udara untuk memindahkan
uap air. Secara umum, kelembaban udara adalah ukuran kandungan air di udara.
Kelembaban udara dapat dinyatakan dalam dua pengertian yang berbeda yaitu
kelembaban relatif dan kelembaban mutlak. Kelembaban mutlak adalah massa
uap air dalam tiap satuan massa udara kering. Kelembaban udara relatif adalah
perbandingan kelembaban udara tertentu dengan kelembaban udara jenuh pada
kondisi dan tekanan yang sama. Perbandingan ini dinyatakan dalam persentase
kejenuhan dengan 100 % untuk udara jenuh dan 0 % untuk udara yang benarbenar kering, sedangkan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kelembaban
udara adalah sling psychrometer. Alat ini terdiri atas dua termometer standar yang
ditancapkan pada suatu kerangka yang dapat diputar. Termometer pertama ditutup

Universitas Sumatera Utara

dengan kain basah sedangkan termometer yang lain dibiarkan terbuka. Sling
kemudian diputar, termometer yang ditutup kain basah menunjukkan suhu wet
bulb sedangkan termometer yang lainnya menunjukkan dry bulb (Taib dan
Wiraatmadja,1988).
Radiasi Surya
Tenaga matahari berjumlah besar dan bersifat kontiniu. Tenaga matahari
dapat dikonversi langsung menjadi tenaga lainnya dengan tiga proses terpisah
yaitu :
1. Proses heliochemical : tenaga matahari dapat merubah atau menstimulir
proses kimia dari suatu bahan
2. Proses helioelectrical : tenaga matahari dapat dirubah menjadi tenaga listrik
melalui fotosel sebagai pengumpul dan perubah tenaga matahari
3. Proses heliothermal : tenaga radiasi matahari dapat dirubah menjadi tenaga
panas dengan suatu alat pengumpul panas (kolektor keping datar) yang
selanjutnya dapat digunakan untuk pengeringan atau untuk keperluan lain
(Rizaldi, 2006).
Radiasi surya yang sampai pada permukaan bumi telah mengalami
perubahan intensitas akibat penghamburan antara lain oleh molekul-molekul
udara, nitrogen dan oksigen, aerosol, uap air dan debu dan partikel-partikel lain.
Penghamburan radiasi ini menyebabkan langit tampak berwarna biru pada hari
cerah. Beberapa radiasi yang sudah mengalami penghamburan ini mencapai
permukaan bumi dikenal dengan radiasi difusi. Radiasi difusi biasanya juga
disebut radiasi langit. Apabila radiasi surya tidak mengalami penghamburan oleh

Universitas Sumatera Utara

atmosfer, maka radiasi sampai ke permukaan sebagian radiasi langsung (beam


radiation) (Arismunandar, 1995).
Kolektor Surya Plat Datar
Kolektor surya plat datar adalah suatu bentuk khusus alat penukar panas
dimana perpindahan panas radiasi memegang peranan sangat penting. Apabila
pada pesawat penukar pada konvensional, energi panas dipindahkan antara fluida
dan radiasi bukanlah suatu hal penting maka pada kolektor surya plat datar, energi
dipindahkan dari sumber energi radiasi yang berjarak tertentu, dan melalui prinsip
fotothermal, energi radiasi matahari diubah menjadi energi panas (Holman, 1991).
Elemen Alat
1. Glasswool
Glasswool adalah bahan kedap suara dan insulation yang baik. Banyak
digunakan untuk insulasi, kedap suara dan perlindungan panas terhadap pipa,
kabel dan lainnya. Glasswool ini sangat userfriendly, elastic, lunak dan mudah
dipasang sesuai kebutuhan. Sering kita lihat Glasswool ini terpasang di bawah
atap pabrik, atap gedung perkantoran, lapisan pada tembok studio, kantor dan
hotel untuk kedap suara, dan juga digunakan di pabrik-pabrik sebagai pelapis
pipa dan saluran-saluran AC dan udara (Anonimous, 2009).
2. Plat Aluminium
Aluminium tidak termasuk kelompok logam mulia dan secara kimiawi
termasuk jenis logam yang sangat reaktif. Aluminium bersifat lembut, ringan,
tahan terhadap karat, dan tidak beracun. Dewasa ini aluminium telah
dipergunakan secara luas terutama dalam hal transportasi (mobil, pesawat

Universitas Sumatera Utara

terbang, truk, perahu, sepeda,dll), pengepakan (kaleng, foil, dll), water


treatment, pembasmi parasit, (perikanan), konstruksi, alat masak, kabel
transmisi, dll. Aluminium juga dipergunakan sebagai konduktor bahkan
mampu sebagai super konduktor, lebih baik daripada tembaga
(Anonimous, 2008).
3. Kaca
Kaca merupakan materi bening (tembus pandang) yang biasanya
dihasilkan dari campuran silikon atau bahan siikon dioksida (SiO2), secara
kimia sama dengan kuarsa. Biasanya dibuat dari pasir dan suhu lelehnya adalah
2000 0C. Komponen utama kaca adalah silika. Silika adalah galian yang
mengandung silikon dioksida (Anonimous, 2009).
4. Exhaust fan
Exhaust fan adalah kipas yang berfungsi sebagai penghisap udara didalam
ruang untuk dibuang keluar, dan pada saat bersamaan menarik udara segar
diluar kedalam ruangan, Exhaust fan butuh daya listrik dan ia dapat
menghembuskan dan menyedot udara sehingga sirkulasi udara didalam ruang
bisa berjalan lebih cepat dan optimal. Motor Exhaust fan dilengkapi sekring
pengaman. Jadi, bila panas karena terlalu lama bekerja, motor tidak rusak tapi
hanya sekringnya yang putus. Motor juga memiliki sistem pelumasan agar
motor lancar berputar (Anonimous, 2008).

Universitas Sumatera Utara