Anda di halaman 1dari 17

DOSEN PENGAMPUH

MATA KULIAH

: SULASMI, SKM., M.Kes


: Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu

MAKALAH PINJAL

KELOMPOK 8 :
ANAUVIA HASDIN DUA LEMBANG
FERANITA TODING RONGKO
SUKMAWATI

PO.71.4.221.13.2.004
PO.71.4.221.13.2.016
PO.71.4.221.13.2.047

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
2015

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang pantas penulis ucapkan
kepada Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul "Pinjal
Penulis ucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu
penulis dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu
pengetahuan ini.
Terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih
positif bagi kita semua.

Makassar, 16 Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...........................................................................
B. Tujuan .........................................................................................
C. Manfaat .......................................................................................

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian Pinjal ........................................................................


Morfologi Pinjal.........................................................................
Jenis-Jenis Pinjal........................................................................
Siklus Hidup Pinjal.....................................................................
Habitat Pinjal ..............................................................................
Pengaruh Pinjal terhadap Kesehatan...........................................
Pencegahan dan Pengendalian Pinjal .........................................

3
4
5
9
10
10
13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran ...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

14
14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di negara empat musim dikenal waktu musim panas. Dalam musim
ini lingkungan menjadi panas, lembab dan tibalah masalah-masalah kulit pada
hewan kesayangan, anjing dan kucing, yang disebabkan terutama oleh
ektoparasit khususnya pinjal (fleas). Karena itu sering kali musim seperti itu
disebut sebagai musim-pinjal (flea-season). Di Indonesia, musim seperti itu
tidak ada karena dapat dikatakan sepanjang tahun panas dengan kelembaban
memadai, sehingga seakan pinjal ada sepanjang tahun.
Pada umumnya orang mengira bahwa pinjal datang begitu saja
bersamaan dengan musim panas. Banyak orang yang tidak berpikir bahwa
lingkungan kita perlu flea-control, padahal justru flea-control inilah yang
menyebabkan investasi pinjal khususnya dan ektoparasit pada umumnya
datang atau tidak, jadi bukanlah semata-mata karena musim. Dengan
demikian melakukan flea-control merupakan kegiatan yang strategik.
Penanggulangan ektoparasit telah lebih banyak diketahui dengan adanya
produk parasit control, obat-obatan misalnya ivermectine, yang dapat
digunakan sebagai penanggulangan penyakit kulit yang dapat digunakan
sebagai penanggulangan penyakit kulit yang disebabkan ektoparasit. Penyakit
kulit yang disebabkan ektoparasit, misalnya oleh pinjal atau demodex, sering
kali begitu hebatnya, sehingga sangat menyiksa baik hewan kesayangannya
maupun pemiliknya.
Pinjal bisa menjadi vektor penyakit-penyakit manusia, misalnya
adalah penyakit pes (sampar = plague) dan murine typhus yang dipindahkan
dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal bisa berfungsi sebagai penjamu
perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadangkadang juga bisa menginfeksi manusia. Pinjal bisa juga menjadi vektor untuk
penyakit pes (kira-kira 60 species). Beberapa species pinjal menggigit dan
menghisap darah manusia. Vektor terpenting untuk penyakit pes dan murine

typhus ialah pinjal tikus Xenopsylla cheopis. Kuman pes, Pasteurella pesis,
berkembang biak dalam tubuh penyakit tikus sehingga akhirnya menyumbat
tenggorokkan pinjal itu. Kalau pinjal mau mengisap darah maka ia harus
terlebih dulu muntah untuk mengeluarkan kuman-kuman pes yang
menyumbat tenggorokkannya. Muntah ini masuk dalam luka gigitan dan
terjadi infeksi dengan Pasteurella Pesis. Pinjal-pinjal yang tersumbat
tenggorokannya akan lekas mati.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pinjal dan jenis-jenisnya
2. Untuk mengetahui morfologi pinjal
3. Untuk mengetahui siklus hidup dan habitatnya pinjal
4. Untuk mengetahui pengaruh pinjal terhadap kesehatan
5. Untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian pinjal
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara
teoritis, sekurang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran
bagi dunia pendidikan.
2. Manfaat Praktis
a. Menambah wawasan penulis mengenai dampak positif dan negatif air,
untuk selanjutnya dijadikan sebagai acuan dalam belajar serta
mengaplikasikannya di Masyarakat.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan lebih
lanjut, serta referensi terhadap penulisan yang sejenis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pinjal
Pinjal adalah adalah jenis serangga yang masuk dalam ordo
Siphonaptera yang secara morfologis berbentuk pipih lateral dibanding
dengan kutu manusia (Anoplura) yang berbentuk pipih, tetapi rata atau
horizontal khas, yakni berbentuk pipih horizontal, tidak bersayap, tanpa
mata majemuk, memiliki dua oseli, antena pendek tetapi kuat, alat-alat
mulut dimodifikasi dalam bentuk menusuk dan menghisap, bagian ekstrnal
tubuh memiliki struktur seperti sisir dan duri-duri, bersifat ektoparasit
pada hewan-hewan berdarah panas. Pinjal mempunyai panjang 1,5 4,0
mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Pinjal merupakan
salah satu parasit yang paling sering ditemui pada hewan kesayangan baik
anjing maupun kucing. Meskipun ukurannya yang kecil dan kadang tidak
disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan
hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar
kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit yang parah bahkan menjadi
vektor pembawa penyakit tertentu. Pinjal termasuk ordo Siphonaptera
yang mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Terdapat sekitar 3000
spesies pinjal yang masuk ke dalam 200 genus. Sekarang ini baru 200
spesies pinjal yang telah diidentifikasi (Zentko, 1997). Seringkali orang
tidak dapat membedakan antara kutu dan pinjal. Pinjal juga merupakan
serangga ektoparasit yang hidup pada permukaan tubuh inangnya.
Inangnya terutama hewan peliharaan seperti kucing, dan anjing, juga
hewan lainnya seperti tikus, unggas bahkan kelelawar dan hewan
berkantung (Soviana dkk, 2003). Gigitan pinjal ini dapat menimbulkan
rasa gatal yang hebat kemudian berlanjut hingga menjadi radang kulit
yang disebut flea bites dermatitis. Selain akibat gigitannya, kotoran dan
saliva pinjal pun dapat berbahaya karena dapat menyebabkan radang kulit
(Zentko, 1997).

Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya


dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super
famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Ketiga super
famili

ini

terbagi

menjadi

Sembilan

famili

yaitu

Pulicidae,

Rophalopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pyglopsyllidae, Stephanocircidae,


Macropsyllidae, Ischnopsyllidae dan Ceratophillidae. Dari semua famili
dalam ordo Siphonaptera paling penting dalam bidang kesehatan hewan
adalah famili Pulicidae (Susanti,2001).
Pinjal diklasifikasikan ke dalam:
Kingdom

: Animalia

Filum : Arthropoda
Klasis : Insecta
Ordo : Siphonoptera
B. Morfologi Pinjal
Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat.
Biasanya berwarna gelap (misalnya, cokelat kemerahan untuk kutu kucing).
Pinjal merupakan serangga bersayap dengan bagian-bagian mulut seperti
tabung yang digunakan untuk menghisap darah host mereka. Kaki pinjal
berukuran panjang, sepasang kaki belakangnya digunakan untuk melompat
(secara vertikal sampai 7 inch (18 cm); horizontal 13 inch (33 cm)). Pinjal
merupakan kutu pelompat terbaik diantara kelompoknya. Tubuh pinjal
bersifat lateral dikompresi yang memudahkan mereka untuk bergerak di
antara rambut-rambut atau bulu di tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi
oleh banyak bulu dan duri pendek yang mengarah ke belakang, dimana bulu
dan duri ini memudahkan pergerakan mereka pada hostnya.

C. Jenis-Jenis Pinjal
1. Pinjal Kucing (Ctenocephalides Felis)
a. Klasifikasi
1) Domain
: Eukaryota
2) Kingdom
: Animalia
3) Phylum
: Arthropoda
4) Class
: Insecta
5) Ordo
: Siphonaptera
6) Family
: Pulicidae
7) Genus
: Ctenocephalides
8) Species
: C. Felis
b. Ciri-Ciri Pinjal Kucing
1) Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa
sangat besar.
2) Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang
3)
4)
5)
6)
7)
8)

mengarah ke belakang dan rambut keras.


Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala.
Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk.
Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago).
Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas.
Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan.
Memiliki 2 ktinidia baik genal maupun pronatal.

c. Perbedaan Jantan Dan Betina


1) Jantan : tubuh punya ujung posterior seperti tombak yang
mengarah ke atas, antena lebih panjang dari betina.

2) Betina : tubuh berakhir bulat, antena lebih pendek dari jantan.

2. Pinjal Anjing (Ctenocephalides Canis)


Klasifikasi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Domain
Kingdom
Phylum
Class
Ordo
Family
Genus
Species
Pinjal

: Eukaryota
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Siphonaptera
: Pulicidae
: Ctenocephalides
: C. Canis
pada

anjing

bersifat

mengganggu

karena

dapat

menyebarkan Dipylidium caninum. Mereka biasanya ditemukan di


Eropa. Meskipun mereka memakan darah anjing dan kucing, mereka
kadang-kadang menggigit manusia. Mereka dapat hidup tanpa makanan
selama beberapa bulan, tetapi spesies betina harus memakan darah
terlebih dahulu sebelum menghasilkan telur.
3. Pinjal Manusia (Pulex Irritans)
Klasifikasi :
a. Kingdom
: Animalia
b. Phylum
: Arthropoda
c. Class
: Insecta
d. Ordo
: Siphonaptera
e. Family
: Pulicidae
f. Subfamily : Pulicinae
g. Genus
: Pulex
h. Species
: P. Irritans
Spesies ini banyak menggigit spesies mamalia dan burung,
termasuk yang jinak. Ini telah ditemukan pada anjing liar, monyet di

penangkaran, kucing rumah, ayam hitam dan tikus Norwegia, tikus liar,
babi, kelelawar, dan spesies lainnya. Pinjal spesies in ini juga dapat
menjadi inang antara untuk cestode, Dipylidium caninum.
4. Pinjal Tikus Utara (Nosopsyllus Fasciatus)
Klasifikasi :
a. Domain
: Eukaryota
b. Kingdom
: Animalia
c. Phylum
: Arthropoda
d. Class
: Insecta
e. Ordo
: Siphonaptera
f. Family
: Ceratophyllidae
g. Genus
: Nosopsyllus
h. Species
: N. Fasciatus
Fasciatus Nosopsyllus memiliki tubuh memanjang, panjangnya
3 hingga 4 mm. Memiliki pronotal ctenidium dengan 18-20 duri tapi
tidak memiliki ctenidium genal. Pinjal tikus utara memiliki mata dan
sederet tiga setae di bawah kepala. Kedua jenis kelamin memiliki
tuberkulum menonjol di bagian depan kepala. Tulang paha belakang
memiliki 3-4 bulu pada permukaan bagian dalam.
5. Pinjal Tikus Oriental (Xenopsylla Cheopis)
Klasifikasi :
a. Domain
: Eukaryota
b. Kingdom
: Animalia
c. Phylum
: Arthropoda
d. Class
: Insecta
e. Ordo
: Siphonaptera
f. Family
: Pulicidae
g. Genus
: Xenopsylla
h. Species
: X. Cheopis
Xenopsylla cheopis adalah parasit dari hewan pengerat,
terutama dari genus Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit
pes dan murine tifus. Hal ini terjadi ketika pinjal menggigit hewan
pengerat yang terinfeksi, dan kemudian menggigit manusia. Pinjal tikus
oriental terkenal memberikan kontribusi bagi Black Death.

D. Siklus Hidup
Siklus hidup pinjal terdiri dari 4 tahapan, yaitu :
1. Tahap Telur
Seekor kutu betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan
peliharaan. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan
peliharaan dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor betina dapat
bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya.
2. Tahap Larva
Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah
yang gelap sekitar rumah dan makan dari kotoran kutu loncat (darah
kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit
dua kali dan membuat kepompong dimana mereka tumbuh menjadi pupa.
3. Tahap Pupa
Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi
cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca
mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat
terus tidak aktif sampai satu tahun.
4. Tahap Dewasa
Kutu loncat dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka
merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host
di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin

dan memulai siklus baru.

Umur rata-rata pinjal sekitar 6 minggu, tetapi pada kondisi


tertentu dapat berumur hingga 1 tahun. Pinjal betina bertelur 20-28
buah/hari. Selama hidupnya seekor pinjal bisa menghasilkan telur hingga
800 buah. Telur bisa saja jatuh dari tubuh kucing dan menetas menjadi
larva di retakan lantai atau celah kandang. Pertumbuhan larva menjadi
pupa kemudian berkembang jadi pinjal dewasa bervariasi antara 20-120
hari.
E. Habitat Pinjal
Adapun tempat atau habitat yang biasa terdapat hewan yang disebut
Flea (pinjal) adalah sebagai berikut:
1. Tumbuhan Flea biasa tinggal di sekitar area yang dipenuhi oleh tumbuhan
atau tanaman kecil karena Flea memenuhi kebutuhan hidupnya di tempat
itu yakni memakan cairan tumbuhan.
2. Hewan (anjing atau kucing) Selain hidup di tumbuhan, biasanya Flea juga
hidup di tempat yang berbulu atau berambut seperti pada bulu anjing
maupun bulu kucing.
3. Benda / perabot rumah yang berbulu atau berambut Flea juga biasa
berkembang biak pada benda atau perabotan rumah yang berbulu atau
berambul seperti kasur, selimut atau karpet.
9

F. Pengaruh Pinjal terhadap Kesehatan


Secara kasat mata pinjal agak sulit ditemui bila jumlah populasinya
sedikit, namun dapat dikenali dari kotorannya yang menempel pada bulu.
Kotoran kutu berwarna hitam yang sebenarnya merupakan darah kering yang
dibuang kutu dewasa. Pinjal yang menghisap darah inang juga menimbulkan
rasa sangat gatal karena ludah yang mengandung zat sejenis histamine dan
mengiritasi kulit. Akibatnya hewan terlihat sering menggaruk maupun
mengigit daerah yang gatal terutama di daerah ekor, selangkangan dan
punggung.
Pinjal juga dapat

menimbulkan

alergi

oleh karena reaksi

hipersensitivitas terhadap antigen ludah pinjal. Pada anjing sering ditandai


dengan gigitan secara berlebihan sehingga dapat mengakibatkan bulu rontok
dan peradangan pada kulit. Kasus flea allergy bervariasi tergantung kondisi
cuaca terutama terjadi pada musim panas dimana populasi kutu meningkat
tajam.
Penyakit yang berhubungan dengan pinjal yaitu pes. Vektor pes
adalah pinjal. Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla
cheopis, Culex iritans, Neopsylla sondaica, dan Stivalus cognatus. Reservoir
utama dari penyakit pes adalah hewan-hewan rodent (tikus, kelinci). Kucing
di Amerika juga pada bajing.
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada
rodent. Kuman-kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat
ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap
darah tikus yang mengandung kuman pes tadi, dan kuman-kuman tersebut
akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama
yaitu melalui gigitan.

10

Pada no.1 s/d 5, penularan pes melalui gigitan pinjal akan


mengakibatkan pes bubo. Pes bubo dapat berlanjut menjadi pes paru-paru
(sekunder pes). Selain pes, pinjal bisa menjadi vektor penyakit-penyakit
manusia, seperti murine typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia.
Disamping itu pinjal bisa berfungsi sebagai penjamu perantara untuk
beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadang-kadang juga bisa
menginfeksi manusia.
Selain pada manusia pinjal juga dapat mempengaruhi kesehatan hewan
peliharaan seperti di bawah ini :
1. Flea Allergy Dermatitis (FAD). Penyakit kulit alergi pinjal. Waktu seekor
kutu menggigit hewan peliharaan, ia memasukan ludah ke dalam kulit.
Hewan peliharaan mendevelop reaksi alergi terhadap ludah/saliva (FAD)
yang menyebabkan rasa gatal yang amat gatal. Tidak saja hewan
peliharaan akan menggaruk atau mengigit-gigit berlebihan di daerah ekor,
selangkangan atau punggung, jendolan juga akan muncul di sekitar leher
dan punggung.
2. Cacing Pita; Dipylidium canium. Cacing pita (tapeworm) disalurkan oleh
pinjal pada tahap larva waktu makan di lingkungan hewan peliharaan.

11

Telur-telur tumbuh di dalam kehidupan yang tidak aktif dalam


perkembangan pinjal ini. Jika pinjal ini di ingested oleh hewan peliharaan
waktu digrooming, cacing pita dan terus menerus berkembang menjadi
cacing dewasa di usus hewan peliharaan.
3. Anemia; terjadi pada yang muda, yang tua atau pun yang sakit jika terlalu
banyak kutu loncat yang menghisap darahnya. Gejala anemia termasuk,
gusi pucat, lemas dan lesu pada hewan peliharaan.

G. Pencegahan dan Pengendalian Pinjal


1. Pencegahan
Langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah
keberadaan pinjal yaitu :
a. Menyedot Menggunakan Vaccum
Seringlah menyedot di daerah dimana saja hewan peliharaan
kunjungi, khususnya di mobil jika sering berpergian, daerah berkarpet,
dan perabotan yang sering dikunjungi oleh hewan peliharaan supaya
semua kutu termasuk telur, dan pupanya dibersihkan sebanyak
mungkin.
b. Pencucian
Cucilah tempat tidur hewan peliharaan, kasur, selimut dan
barang lainnya dengan air panas jika memungkinkan.
c. Penyemprotan Lingkungan
Ada beberapa macam spray/semprotan yang tersedia yang
bertujuan membunuh kutu loncat di lingkungan sekitarnya.
2. Pengendalian
Mengendalikan populasi tikus di daerah pedesaan dan perkotaan
melalui sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah yang baik, dan

12

memperbaiki sanitasi lingkungan yang rusak yang dapat dijadikan sebagai


sarang tikus (Evy Nur Hidayah, 2012).
Untuk mencegah penyebaran penyebaran penyakit yang
disebabkan oleh pinjal maka perlu dilakukan tindakan pengendalian
terhadap arthopoda tersebut. Upaya yang dapat dilakukan, antara lain
melalui penggunaan insektisida, dalm hal ini DDT, Diazinon 2% dan
Malathion 5% penggunan repllent (misalnya, diethyl toluamide dan
benzyl benzoate) dan pengendalian terhadap hewan pengerat (rodent).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pinjal merupakan salah satu parasit berukuran kecil dan kadang tidak
disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan
hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar
kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit yang parah bahkan menjadi
vektor pembawa penyakit tertentu.
2. Beberapa jenis pinjal yaitu: pinjal kucing, pinjal anjing, pinjal manusia,
pinjal tikus utara, dan kutu tikus oriental.
3. Penyakit yang berhubungan dengan pinjal ialah Flea Allergy Dermatitis,
Cacing Pita, Anemia, dan Pes.
4. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam pencegahan pinjal adalah
menyedot dengan menggunakan vaccum, pencucian, dan penyemprotan
lingkungan.
5. Adapun pengendalian terhadap pinjal dapat dilakukan dengan langkah
IPM, yaitu mengidentifikasi masalah hama, mencegah masalah hama,
monitor atas kehadiran hama, mengatur tingkat toleransi dan tindakan
untuk setiap hama populasi, mengelola hama masalah, dan Evaluasi
dampak dan keberhasilan hama manajemen usaha.

13

B. Saran
1. Bagi masyarakat yang memelihara kucing dan anjing dianjurkan untuk
lebih memelihara kebersihan hewan peliharaannya.
2. Bagi masyarakat yang memelihara kucing dan anjing dianjurkan pula
untuk memeriksakan kesehatan hewan peliharaannya agar terhindar dari
penyakit yang diakibatkan oleh pinjal.
3. Masyarakat disarankan untuk menghindari kontak langsung dengan
hewan peliharaan agar terhindar dari gigitan pinjal.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

Makalah Pinjal. 2011. http://kesmasunsoed.com/2011/05/makalahpinjal-mata-kuliah-pengendalian-vektor-epidemiologi.html (diakses


tanggal 15 Maret 2015)

Aslam,

Andi F. Makalah Vektor Pinjal. https://www.scribd.com/doc/223383949/Makalah-Vektor-PINJAL (diakses tanggal 15 Maret 2015)

Anonim.

Pinjal. 2011.
http://kesehatanlingkungansby.blogspot.com/2011/01-/pinjal.html
(diakses tanggal 15 Maret 2015)

Made,

Bakta. Pinjal Sebagai Vektor. 2013. https://www.scribd.com/doc-/81


890735/PINJAL-SEBAGAI-VEKTOR (diakses tanggal 15 Maret
2015)

14