Anda di halaman 1dari 2

5.

Pemeriksaan Penunjang Konjungtivitis


Kebanyakan kasus konjungtivitis dapat didiagnosa berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan.
Meskipun demikian, pada beberapa kasus penambahan tes diagnostik membantu.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat
sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang
polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa
akan didapatkan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan klinik didapat adanya hiperemia
konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
a.

Kultur Konjungtiva
Kultur konjungtiva diindikasikan pada semua kasus yang dicurigai merupakan
konjungtivitis infeksi neonatal. Kultur bakteri juga dapat membantu untuk konjungtivitis
purulen berat atau berulang pada semua grup usia dan pada kasus dimana konjungtivitis

b.

tidak berespon terhadap pengobatan.


Kultur Virus
Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes imunodiagnostik
yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen sudah tersedia untuk
konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas 88% sampai 89% dan
spesifikasi 91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik mungkin tersedia untuk virus lain, tapi
tidak diakui untuk spesimen dari okuler. PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu
teknik sintesis dan amplifikasi DNA secara in vitro. PCR dapat digunakan untuk
mendeteksi DNA virus. Ketersediannya akan beragam tergantung dari kebijakan

c.

laboratorium.
Tes Diagnostik Klamidial
Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat dipastikan
dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan imunologikal telah
tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan enzyme-linked imunosorbent
assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR untuk spesimen genital, dan, karena
itu, ketersediaannya untuk spesimen konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk
mengetes sampel okuler beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan
performa yang memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.

d.

Smear/sitologi

Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (mis.,gram, giemsa) direkomendasikan pada
kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus, konjungtivitis kronik atau berulang,
e.

dan pada kasus dicurigai konjungtivitis gonoccocal pada semua grup usia.
Biopsi
Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak berespon pada
terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung keganasan, biopsi langsung
dapat menyelamatkan penglihatan dan juga menyelamatkan hidup. Biopsi konjungtival
dan tes diagnostik pewarnaan imunofloresens dapat membantu menetapkan diagnosis
dari penyakit seperti OMMP dan paraneoplastik sindrom. Biopsi dari konjungtiva bulbar
harus dilakukan dan sampel harus diambil dari area yang tidak terkena yang berdekatan
dengan limbus dari mata dengan peradangan aktif saat dicurigai sebagai OMMP. Pada
kasus dicurigai karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh ketebalan
diindikasikan. Saat merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan ahli patologi

f.

dianjurkan untuk meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen yang tepat.


Tes darah
Tes fungsi tiroid diindikasikan untuk pasien dengan SLK yang tidak mengetahui
menderita penyakit tiroid. Konjungtivitis non-infeksius biasanya dapat didiagnosa
berdasarkan riwayat pasien. Paparan bahan kimiawi langsung terhadapa mata dapat
mengindikasikan konjungtivitis toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan

g.

bahan kimia, pH okuler harus dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai.
Konjungtivitis juga dapat disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi mekanikal dari
kelopak mata.
Daftar pustaka :
Novitasari,

Lusy.

2013/2014.

Konjungtivitis

FKUY.

Available

at

https://www.academia.edu/6174407/1_-_Konjungtivitis_-_Lusy (diakses tanggal 31 Oktober


2014)