Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS SPERMA

Sperma atau mani adalah ejakulat yang berasal dari seorang pria berupa cairan kental
dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar-kelenjar lain dan spermatozoa.
Pemeriksaan sperma merupakan salah satu cara yang mudah untuk mengetahui tingkat
kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini memberi kesan, akan
kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Seorang pria dengan tingkat
kesuburan yang rendah sulit baginya untuk memperoleh keturunan, demikian juga
sebaliknya. Oleh karena itu, maka sebaiknya seorang pria memeriksakan dirinya untuk
mengetahui tingkat kesuburannya. Pemeriksaan mani dengan cara sederhana meliputi
pemeriksaan secara makroskopis, mikroskopis, dan kimia.
PEMBENTUKAN SPERMA
Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus selama kehidupan seksual aktif
sebagai akibat dari rangsangan hormon gonadotropin hipofisis anterior dimulai rata-rata pada
usia 13 tahun dan berlanjut sepanjang hidup.
Struktur dari spermotozoa manusia terdiri dari kepala, leher, dan ekor. Kepala terdiri atas
sel berinti padat dan hanya sedikit sitoplasma dan lapisan membran sel di sekitar
permukaannya. Di bagian luar, dua pertiga anterior kepala terdapat selubung tebal yang
disebut akrosom yang mengandung enzim hialurodinase. Enzim ini mencerna filamen
proteoglikan dari jaringan dan enzim proteolitik yang sangat kuat untuk mencerna protein
sehingga memainkan peranan penting untuk membuahi ovum.
Gerakan ekor mendekat dan menjauh mamberikan motilitas pada sperma. Sperma yang
normal bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan 1 sampai 4 mm / menit. Kecepatan ini
akan memungkinkan sperma untuk bergerak melalui traktus genitalis wanita untuk mencapai
ovum.
PEMATANGAN SPERMA
Setelah terbentuk dalam tubulus seminiferus sperma membutuhkan waktu beberapa hari
untuk melewati epididimis yang panjangnya 6 meter. Sel-sel Sertoli dan epitel epididimis
menyekresikan suatu cairan makanan khusus yang diejakulasikan bersama dengan sperma.
Cairan ini mengandung hormon (baik testosteron maupun estrogen), enzim-enzim, dan nutrisi
khusus yang mungkin penting atau bahkan sangat penting untuk pematangan sperma.

Aktivitas sperma sangat ditingkatkan dalam medium netral dan sedikit basa tetapi akan
sangat ditekan dalam medium yang agak asam.

PENYIMPANAN SPERMA
Kedua testis dari seorang manusia dewasa muda dapat membentuk kira-kira 120 juta
sperma setiap harinya. Sejumlah kecil sperma disimpan dalam epididimis, tetapi sebagian
besar sperma disimpan dalam vas diverens dan ampula ves diverens. Sperma dapat disimpan
dalam duktus genitalis paling aktif selama satu bulan. Selama waktu ini, sperma disimpan
dalam keadaan inaktif yang sangat ditekan karena banyak bahan penghambat dalam bahan
sekresi duktus. Sebaliknya, dengan aktivitas seksualitas yang tinggi, penyimpanan yang
paling lama tidak lebih dari beberapa hari. Walaupun sperma dapat hidup selama beberapa
minggu dalam duktus genitalis testis, hidup sperma pada traktus genetalia wanita hanya 1
sampai 2 hari.
KOMPOSISI SPERMA
Sperma adalah zat setengah cair atau setengah kental yang terdiri dari dua bagian
yaitu plasma sperma (plasma semen) dan spermatozoa. Plasma sperma dihasilkan oleh
kelenjar-kelenjar prostat, vesika seminalis, epididimis, cowper dan littre. Sedangkan
spermatozoa dihasilkan oleh aktivitas tubuli seminiferus.
SEMEN
Semen yang diejakulasikan selama aktivitas seksual pria, terdiri atas cairan dan sperma
yang berasal dari vas deferens (kira-kira 10% dari keseluruhan semen), cairan dari vesikula
seminalis (kira-kira 60%), cairan dari kelenjar prostat (kira-kira 30%) dan sejumlah kecil
cairan dari kelenjar mukosa terutama kelenjar bulbouretralis. Jadi, bagian terbesar semen
adalah cairan vasikula seminalis yang merupakan cairan yang terakhir diejakulasikan dan
berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatorius dan uretra. pH rata-rata
campuran semen mendekati 7,5.
Cairan prostat membuat semen terlihat seperti susu, sementara cairan vesikula seminalis
membuat semen agak kental. Enzim pembeku dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen
cairan vesikula seminalis membentuk koagulum yang lemah, yang mempertahankan semen
dalam daerah vagina yang lebih dalam (leher rahim). Kemudian koagulum dalam waktu 1520 menit larut karena lisis oleh fibrinolisin yang dibentuk oleh profibrinolisin prostat. Pada

menit pertama setelah ejakulasi, sperma masih tetap tidak bergerak, mungkin karena
viskositas koagulum. Sewaktu koagulum dilarutkan, sperma secara simultan menjadi sangat
motil.
Plasma semen yang merupakan sekret kelenjar genital tambahan sebenarnya tidak
dikeluarkan sekaligus sewaktu ejakulasi, tetapi secara bertahap. Ada 4 tahap atau fraksi yaitu:
1

Fraksi Pre ejakulasi


Hasil sekresi dari kelenjar Cowper / Bulbo urethra dan kelenjar Littre. Sekret ini
dikeluarkan dari penis jauh sebelum ejakulasi, volume 0,2 ml. Diduga berfungsi untuk
melicinkan urethra dan melicinkan vagina waktu coitus.

Fraksi Awal
Hasil sekresi dari kelenjar Prostat, sekretnya berupa lendir, volume 0,5 ml. Lendir
mengandung berbagai zat untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh.

Fraksi Utama
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan spermatozoa yang berasal dari
epididimis. Volume 2 ml.

Fraksi Akhir
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan sedikit sekali spermatozoa
(yang non motil). Volume 0,5 ml.

Kandungan zat kimia semen


1

Fruktosa
a

Dihasilkan oleh vesicula seminalis.

Berada dalam plasma semen

Sumber energi bagi motiitas spermatozoa

1,5-7,0 mg/ml.

Asam sitrat
a

Dihasilkan oleh kelenjar prostat

Menjaga keseimbangan osmotik semen

Bila zat ni tidak ditemukan dalam semen berarti ada kelainan pada kelenjar prostat.

Mencegah terjadinya kalkuli konkresi prostat dengan cara mengikat ion Ca.

Spermin
a

Dihasilkan oleh kelenjar prostat

Menyebabkan bau yang khas pada semen seperti bau bunga akasia

Suatu bakteriostatik.

Seminin
a

Dihasilkan oleh kelenjar prostat

Mengencerkan lendir servix.

Enzim Phosphatase Asam, Glukoronidase, Lisozim dan Amilase


a

Dihasilkan oleh kelenjar prostat.

Memelihara atau memberi nutrisi bagi spermatozoa di luar tubuh demi kelangsungan
hidup spermatozoa.

Prostaglandin
a

Dihasilkan oleh kelenjar vesicula seminalis dan kelenjar prostat.

Merangsang kontraksi otot polos saluran genitalia wanita sewaktu ejakulasi dan untuk
vasodilatasi pembuluh darah.

Melancarkan spermatozoa saat bermigrasi dari vagina ke tuba fallopi dengan


mengurangi gerakan uterus.

Na, K, Zn, Mg
a

Dihasilkan oleh kelenjar prostat dan vesicula seminalis

Memelihara pH plasma semen agar tetap pada pH normal 7,2-7,8.

DEFINISI ANALISIS SPERMA


Analisa sperma adalah suatu pemeriksaan laboratoris yang penting untuk menilai fungsi
organ reproduksi pria. Hasil analisa sperma dapat memberikan kualitas informasi yang
banyak kepada kita tentang keadaan testis baik kuantitas maupun kualitas spermatozoa,
fungsi sekretoris kelenjar seks aksesori pria (baik kelenjar prostat, vesikula seminalis,
parauretra littre & cowpri), juga epididimis maupun kemungkinan adanya kesalahan fungsi
seksual.
Analisa sperma merupakan pemeriksaan yang relatif sederhana dan tidak hanya
diperlukan dalam masalah penanganan infertilitas saja, tetapi juga dalam hal-hal lain seperti
post vasektomi, hernia inguinalis, gangguan desensus testis, pra klinefelter, kasus-kasus
medikolegal, beberapa keluhan seksual, dan sebagainya.
MORFOLOGI SPERMA
Spermatozoa normal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Kepala : bentuk oval, batas teratur, mempunyai tepi akrosom yang menutupi > 1/3
permukaan kepala. Panjang = 3-5 U dan lebar = 2-3 U.

Leher (neck mid-piece) : ramping, lurus, dan batas teratur. Panjang = 7-8 U dan lebar
< 1 U.

Ekor (tail) : ramping (tak tergulung), elegant, batas teratur, panjang minimal 45 U.

Tanpa adanya Cyptoplasmic-droplet.

Spermatozoa Abnormal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Kepala
i. Pyroform: yaitu kepala berbentuk seperti bola lampu / tetesan air mata dengan
ukuran kepala yang normal.
ii. Taperin/lepto/lisong: yaitu kepala berbentuk seperti cerutu dengan panjang > 7
U dan lebar < 3 U.
iii. Pinhead: yaitu kepala berbentuk seperti jarum pentul.
iv. Terato/amorphus:

yaitu

kepala

berbentuk

aneh

sehingga

tidak

dapat

dikelompokkan.
v. Macro: yaitu kepala dengan ukuran yang lebih besar dari normal dan batas tidak
teratur.
vi. Micro: yaitu kepala dengan ukuran yang lebih kecil dari normal dan batas tidak
teratur.
vii. Double/duplicated: yaitu kepala berjumlah dua dengan bentuk dan ukuran yang
bermacam-macam. Bagian tengah tidak normal (tidak lurus) sedangkan ekornya
tampak kurang jelas.

Leher (neck mid-piece)


Adanya defek berupa leher yang lebih tebal atau patah.

Ekor (tail)
Ekor dapat berbentuk bengkok, ganda, pendek, patah, coiled (melingkar).

Cyptoplasmic droplet
Yaitu sisa cyptoplasma yang melekat pada bagian antara kepala leher atau pada bagian
proksimal dari ekor. Ukuran lebih kurang 1/2 besar kepala normal.

Cara Memperoleh Sampel


Sebelum menjalani pemeriksaan mani pasien diminta supaya tidak mengadakan
kegiatan sexual selama 3-5 hari. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pagi hari, sedekat
mungkin sebelum pemeriksaan laboratorium. Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu

wadah terbuat dari gelas atau plastik yang bermulut lebar yang dibersihkan dan dikeringkan
terlebih dahulu. Wadah itu harus dapat ditutup dengan baik untuk menjaga jangan sampai
sebagian tertumpah. Pasien diminta mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya
dan menyerahkan sampel itu selekasnya kepada laboratorium. Laboratorium juga wajib
mencatat waktu pemeriksaan-pemeriksaan dijalankan.
Pemakaian kondom untuk menampung mani tidak dianjurkan karena zat-zat pada
permukaan karet mempunyai pengaruh melemahkan atau membunuh spermatozoa, biarpun
kondom sudah dicuci dan dikeringkan lagi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengambilan sampel :
- Bila pengambilan dengan cara masturbasi, jangan sampai ada sperma yang tertumpah keluar
wadah atau sperma tidak semuanya dikeluarkan. Semua sperma dikeluarkan sampai tetes
terakhir.
- Sperma yang telah berhasil dikeluarkan, ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat
yang telah ditentukan karena sifat sperma, khususnya spermatozoa mudah rusak karena
pengaruh luar.
- Penyerahan sampel sperma ke laboratorium harus segera karena beberapa parameter sperma
mempunyai sifat mudah berubah karena pengaruh luar . sperma yang dibiarkan begitu saja
akan berubah pH, viskositas , motilitas spermatozoanya dan berbagai sifat biokimianya.
- Bila setelah senggama ke-1, kemudian penderita mengalami mimpi basah (night pollution),
maka jarak abstinensia dihitung sejak mimpi basah. Hal ini perlu diutarakan sebab waktu 3
5 hari abstinensia sudah cukup untuk memulihkan kembali semua unsur sperma, baik dari
sekret kelenjar asesoris alat kelamin laki laki maupun jumlah spermatozoa dari kegiatan
tubuli seminiferi.
- Abstenentia yang kurang atau lebih dari waktu yang ditentukan akan mempunyai nilai lain,
dan

ini

menjadikan

nilai

hasil

pemeriksaan

sperma

tidak

sepenuhnya

benar.

Pemeriksaan ulang dapat dilakukan karena pemeriksaan yang hanya satu kali belum
mencerminkan spermiogram ( Gambaran ) rata rata.
- Segera setelah di terima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa.
Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar.
- Hal lain yang perlu diberitahukan kepada pasien ialah pada waktu abstensia janganlah minum
obat-obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum, atau semacamnya. Hal
ini agar diperlukan benar-benar sperma yang diperiksa tidak dipengaruhi oleh obat-obatan.
Wadah Penampung

Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu wadah terbuat dari gelas atau plastik yang
bermulut lebar dan yang lebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Wadah harus dapat
ditutup dengan baik untuk menjaga jangan sampai sebagian tertumpah. Pasien diminta
mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya dan menyerahkan sampel itu
selekasnya kepada laboratorium. Laboratorium juga wajib mencatat waktu pemeriksaanpemeriksaan dijalankan.
Penyerahan sampel sperma
Segera setelah sperma ditampung, maka sperma harus secepatnya diserahkan kepada
petugas laboratorium. Hal tersebut perlu dilakukan karena beberapa parameter sperma
mempunyai sifat mudah berubah oleh karena pengaruh luar. Sperma yang dibiarkan begitu
saja akan berubah pH, viskositas, motilitas dan berbagai sifat biokimianya.
Waktu pemeriksaan
Setelah penderita diberikan penerangan tentang cara-cara serta syarat-syarat
pengeluaran sperma dan lainnya, maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal
ini tergantung dari kesiapan pasien dan kesiapan laboratorium. Kalau syarat-syarat serta
semua persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran
sperma dapat dilakukan.
Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa.
Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh didinginkan
dibawah 20C atau dipanaskan diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat mempengaruhi
motilitas dan viabilitas spermatozoa.
Hal-hal lain
Hal lain yang perlu diutarakan pada pasien adalah pada waktu abstinensia janganlah
minum obat - obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum atau
semacamnya. Hal ini diperlukan agar benar-benar sperma yang diperiksa tidak dipengaruhi
oleh obat obatan. Kalau perlu dicatat obat yang dimakan dalam 1-2 minggu sebelum
analisis dilakukan.
Secara teknis laboratoris analisa sperma dibagi menjadi dua yaitu : Analisa sperma dasar
(rutin) dan Analisa sperma lengkap. Untuk praktikum yang dikerjakan adalah Analisa sperma
dasar (rutin). Analisa sperma dasar dilakukan menurut tahapan sebagai berikut :

Pemeriksaan Makroskopis yang meliputi : koagulum, likuefaksi, warna, bau, volume,


viskositas, dan pH.

Pemeriksaan Mikroskopis, ada 2 macam, yaitu :


a

Pemeriksaan Mikroskopis pertama yang meliputi kepadatan, motilitas, aglutinasi,


round cell, dan viabilitas.

Pemeriksaan Mikroskopis kedua yang meliputi jumlah spermatozoa dan morfologi


spermatozoa.
Sedangkan Analisa sperma lengkap, selain pemeriksaan analisa sperma dasar seperti di

atas, ditambah dengan :


1

Pemeriksaan Biokimia yang meliputi fruktosa, fosfatase asam, asam sitrat, Zn dan Mg.

Pemeriksaan Tambahan, yang meliputi uji MAR, uji butir imun, biakan sperma, uji
kontak sperma getah serviks, dan biopsi testis.

A. Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis memperhatikan volume, warna kekeruhan dan kentalnya
mani, selain itu biasanya pH juga diperiksa. Mengukur volume dilakukan dengan
memindahkan ejakulat kedalam gelas ukur 5 atau 10 ml sesuai dengan keadaan yang
dihadapi.
1

Likuefaksi (pencairan)
Sperma yang baru saja dikeluarkan selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara
lendir putih yang cair. Liquefaction ini terjadi karena daya kerja dari enzim-enzim yang
diproduksi oleh kelenjar prostat antara lain enzim seminin. Untuk sperma yang normal
gumpalan ini akan mencair setelah waktu 15-20 menit.
Makna Klinis: Jika liquefaction melebihi dari waktu 20 menit atau lebih lama lagi
berarti terjadi gangguan pada kelenjar prostat dan defisiensi enzim seminin.

Pemeriksaan Viscositas (Kepekatan)


Setelah terjadi likuefaksi, biasanya cairan sperma menjadi homogen, tetapi tetap
menunjukkan suatu sifat kepekatan. Untuk mengukur suatu viscositas dari sperma yang
termudah dengan jalan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang
pengaduk, kemudian ditarik, maka akan terjadi benang yang panjangnya antara 3-5 cm.
makin panjang benang yang terjadi, maka makin tinggi viscositasnya. Pengukuran
viscositas seperti tersebut diatas sifatnya sangat subyektif dan tergantung dari
keterampilan si pemeriksa. Ada suatu cara yang lebih tepat untuk mengukur suatu

viscositas dengan mempergunakan suatu pipet standar yang disebut Pipet Elliasson.
Pipet ini mempunyai volume 0, 1 ml.
Makna klinis :

Jika semen terlalu kental (panjang benang > 5 cm) maka enzim likuefaksi dari
prostat kurang berfungsi.

Jika terlalu encer (panjang benang <8 maka radang akut pada kelenjar genitalia
tambahan atau epiddiymitis.
Hypospermia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

- Sampel tumpah karena tidak hati-hati, ini disebut kesalahan tehnis.


- Gangguan patologis dan genetis pada organ genitalia
- Vesicula seminalis tidak berfungsi
- Gangguan hormonal atau akibat radang.
Hyperspermia disebabkan oleh abstinensi yang terlalu lama dan kelenjar genitalia
tambahan terlalu aktif.
3

Koagulan (gumpalan) : ada atau tidak.


Normal

: ada koagulum

Abnormal

: tidak ada koagulum

Warna : lihat dengan mata telanjang dengan latar belakang putih


Normal: transluen (putih kanji) sampai putih keabu-abuan atau putih kekuningan
koagulum.
Abnormal: kemarahan/merah darah disebut hemospermia, sedangkan putih susu disebut
lekospermia.

Bau : dengan penciuman apakah baunya khas atau tidak.


Normal

: bau khas seperti bunga akasia (langu).

Abnormal : tidak khas, misal amis, pesing atau bau obat.


Setelah likuefaksi selesai, periksa :
6

Volume : masukkan sperma ke dalam gelas ukur dan amati tinggi lapisan atas, tulis
volume menunjuk angka berapa sampai satu angka di belakang koma.
Normal

: 2 6 cc.

Abnormal

: apabila <1,0 cc disebut hipospermia


apabila >6,0 cc disebut hiperspermia

B. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan setelah sperma mengalami liquefaction. Jadi
kira-kira 20 menit setelah dikeluarkan. Adapun pemeriksaan mikroskopis yang umum
dilakukan meliputi:
1 Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa
a

Mekanisme pergerakan
Spermatozoa bergerak (Motil), dengan maksud agar sampai dialat reproduksi wanita
untuk pembuahan. Energi untuk motilitas bersumber pada bagian tengah spermatozoa.
Dibagian tengah itu dapat diibaratkan generator spermatozoa. Energi dari bagian tengah
disalurkan kebagian distal, yaitu ke ekor, kemudian ekor bergerak. Jadi ekor dapat
diibaratkan sebagai kemudi juga sebagai pendorong spermatozoa.
Energi yang keluar menyebabkan dua macam gerakan. Pertama, gerakan
bergelombang keujung ekor. Gelombang itu makin ke ekor makin lemah. Gerakan
kedua bersifat sirkuler. Energi yang keujung ekor itu tidak lurus kebelakang tapi
arahnya melingkari batang tubuh bagian tengah, terus keujung ekor.
Maka dari itu dapat dibayangkan bahwa hanya spermatozoa yang normal saja yang
dapat bergerak normal pula. Sebab andaikata bentuk kepala spematozoa tak normal
katakanlah bentuk terato maka arah gerakan tak mungkin lurus ke depan sebab bagian
depan sedemikian tak ideal untuk memperoleh gerak lurus . Demikian pula andaikata
terdapat bagian tengah yang bengkok, bagian ekor yang melingkar, bagian kepala yang
masih

tertempel

oleh

sisa

sitoplasma

(imatur)

kesemuanya

mengakibatkan

terganggunya gerak lurus ke depan dan lincah.


b

Macam Motilitas spermatozoa


Berdasarkan mekanisme motilitas tersebut dapat dibedakan dua macam motilitas
spermatozoa, yaitu :

Spermatozoa Motilitas Baik.


Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang berirama.

Spermatozoa Motilitas Kurang Baik.


Semua motilitas spermatozoa kecuali yang tersebut spermatozoa motilitas baik,
dianggap spermatozoa dengan motilitas kurang baik atau jelek.
Yang termasuk motilitas spermatozoa kurang baik ialah :

Motilitas bergetar atau berputar

Spermatozoa hanya bergetar dalam satu bidang saja dan kadang-kadang berhenti.
Ekor hanya bergetar kekiri atau ke kanan tak bergetar rotasi meskipun frekuensi
getarnya dapat tinggi. Karena terdapat kelainan morfologis atau kelainan
pengantaran energi gerak melingkar maka spermatozoa dapat menempuh gerakkan
kurva, spematozoa motilitasnya berputar-putar saja.

Motilitas tanpa arah


Pada keadaan ini ekor spermatozoa dapat bergetar tinggi atau rendah. Kepala
bergerak tak teratur. Kelainan ini disebabkan adanya bentuk spermatozoa abnormal
maupun distribusi dan pengantaran energi tak normal pada spermatozoa.

Motilitas karena asimetri kepala atau ekor


Motilitas jenis ini disebabkan karena kelainan morfologi spermatozoa sehingga
memyebabkan motilitasnya melingkar baik searah maupun berlawanan dengan
jarum jam. Kalau morfologi ekor spermatozoa asimetri, amplitudo getaran juga tidak
teratur. Kalau pengantaran energi rotasi ada atau tak teratur sedang ekor asimetri
terjadi motilitas dengan arah melingkar.

Motilitas spermatozoa imatur


Spermatozoa imatur mungkin berbentuk normal dan mungkin pula tidak normal
karena adanya beban droplet (sisa) sitoplasma maka arah gerak kepala berat sebelah.
Kalau sistem pengantaran energi belum masak pula dapat terjadi motilitas yang
bemacam-macam rocking melingkar dan gerak tak teratur. Demikian pula
andaikata sisa sitoplasma terletak dibagian tengah atau ekor spermatozoa motilitas
yang timbul akan bermacam-macam.

Motilitas spermatozoa teraglutinasi


Motilitas spermatozoa ini terbatas karena spermatozoa melekat satu dengan yang
lain (aglutinasi sejati) atau karena melekat pada benda lain (sel bulat, kristal, bakteri,
protozoa dll) bila terdapat aglutinasi palsu. Tergantung macam aglutinasi (kepalakepala, ekor-ekor, dan ekor-kepala) motilitas yang terjadi akan berlainan pula.

Motilitas spermatozoa terperangkap


Motilitas jenis ini terbatas karena terperangkap oleh sperma yang belum
mengalami likuefaksi total, meskipun telah melewati batas normal waktu likuefaksi.
Hal ini akan terlihat kalau sperma diperiksa motilitas berurutan yaitu langsung
setelah ejakulasi dan setiap setengah jam setelah ejakulasi.

Motilitas spermatozoa yang lemah

Spema yang kekurangan energi mempunyai gerakan lemah, meskipun arahnya


ke depan beat ekor teratur, lurus namun tak lincah. Hal ini dapat disebabkan karena
sperma telah lama tak diperiksa, sehingga energi untuk motilias berkurang. Dalam
hal ini fruktosa telah banyak dipecah (fruktolisis). Penyebab lain ialah memang
cadangan energi berkurang sejak awal misalnya pada kelainan vesika seminalis.

Spermatozoa yang tidak bergerak


Spermatozoa yang sama sekali tidak bergerak dan tetap diam ditempat.

Pemeriksaan motilitas spermatozoa :


Pemeriksaan motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara meneteskan setetes
sperma pada gelas obyek. Tetesan diusahakan sama besarnya untuk setiap
pemeriksaan. Bilamana tetesan tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa secara
prosentase dan kuantitatif akan berbeda. Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan
tetesan sperma yang sama, yaitu :

Sperma diteteskan dengan pipet


Diharapkan dengan tetesan pipet volume sperma yang diteteskan sama. Dalam
hal ini untuk setiap sperma harus memakai pipet yang berbeda dan harus baru/bersih
benar. Sebab kalau sebuah pipet telah pernah digunakan untuk satu sperma, kemudian
dipergunakan untuk sperma lainnya akan ada unsur pada sperma pertama yang
terpindahkan ke sperma kedua. Kalau misalnya sperma yang kedua azoospermi maka
kemungkinan akan dinilai tidak azoospermi sebab telah tercampur oleh spermatozoa
dari sampel pertama.

Sperma diteteskan dengan batang pangaduk terbuat dari pada gelas


Cara ini kebanyakan akan memperoleh tetesan yang sama besar. Apalagi kalau
ujung batang gelas tidak sama besarnya. Keadaan yang mempengaruhi ialah
kekentalan sperma . Bila sperma kental tetesan akan berbeda bilamana sperma encer.
Perbedaan-perbedaan ini dapat diatasi kalau para pemeriksa sperma banyak
pengalaman meneteskan sperma pada gelas objek.

Sperma diteteskan dengan batang kawat baja berujung bulat


Dengan cara ini memang diperoleh ukuran tetesan yang sama. Untuk menghindari
kontaminasi sperma lain maka setelah loop dipakai untuk satu spesimen sperma,
kemudian dibakar, setelah itu dapat dipergunakan untuk memeriksa sperma yang lain.

Penilaian motilitas spermatozoa


Penilaian motilitas spermatozoa dilakukan sebagai berikut :

Spermatozoa yang bergerak aktif adalah spermatozoa yang bergerak cepat ke


depan, lincah dan aktif (%)

Spermatozoa yang kurang aktif bergerak adalah spermatozoa yang bergerak


berputar di tempat (%)

Spermatozoa tidak bergerak (%).

Jumlah spermatozoa yang aktif ditentukan dalam persen (%). Misalnya : jumlah
spermatozoa 110 yang bergerak aktif 50 maka spermatozoa yang aktif adalah
50/110 x 100% = 45,5%

Besar kecilnya tetesen dan berat ringannya gelas penutup berpengaruh pada
motilitas spermatozoa. Sebelum diteteskan sperma terlebih dahulu diaduk rata
sehingga homogen. Motilitas spermatozoa biasanya dilihat setelah terjadi
likuefaksi lengkap.

Pemeriksaan harus segera dilakukan setelah gelas obyek ditempelkan. Bila terlalu
lama dibiarkan baru kemudian diperiksa akan terjadi perbedaan dalam motilitas
spermatozoa.

Untuk tahap permulaan sediaan diperiksa dengan pembesaran objektif 10 x.


Setelah itu diganti dengan pembesaran objektif 40 x

Dalam keadaan normal yang motil aktif harus diatas 70%, yang motil lemah
dibawah 20% dan tidak motil dibawah 0%.

Berkurangnya derajat motilitas


Spermatozoa akan berkurang motilitasnya bila dibiarkan setelah ejakulasi. Angka
yang dilaporkan perlu dihubungkan dengan waktu yang sudah berlalu sejak saat
ejakulasi, semakin banyak waktu lewat, semakin berkurang motilitas spermatozoa.
Penilaiannya :

Biasanya didapat bahwa sampai 1 jam setelah dikeluarkan, mani berisi 70% atau
lebih spermatozoa aktif, angka itu terus menerus menurun sehingga menjadi 50%
sekitar 5 jam lewat ejakulasi.

Pada keadaan normal kemunduran motilitas terjadi kira-kira 10-20% dalam waktu
2-3 jam.

Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini temperatur laboratorium


harus dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga berpengaruh terhadap
motilitas spermatozoa.
Dalam pemeriksaan rutin tidak banyak gunanya mengikuti penyusutan motilitas
dari jam ke jam, berkurangnya motilitas banyak dipengaruhi oleh cara menyimpan
sampel.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan motilitas sperma :

Tetesan pada objek glass diusahakan sama besarnya untuk setiap pemeriksaan.
Bilamana tetesan tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa secara prosentase
dan kuantitatif akan berbeda

Tekanan gelas penutup pada tetesan sperma harus rata dan sama bagi tiap sampel
sperma untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang cermat, sebab besar kecilnya
tetesan dan berat ringannya gelas penutup berpengaruh pada motilitas spermatozoa.

Harus dilakukan setelah gelas objek ditempelkan. Bila terlalu lama dibiarkan, baru
kemudian diperiksa, akan terjadi perbedaan dalam motilitas spermatozoa.

Pemeriksaan motilitas sperma biasanya dilaksanakan setelah liquefaksi terjadi


keseluruhan. Pada saat itu sperma telah homogen, sehingga spermatozoa dapat lebih
bebas. Liquefaksi sempurna biasanya terjadi 15- 30 menit setelah ejakulasi.

Pemeriksaan motilitas berurutan sampai 2-3 jam seteleh ejakulasi dimaksudkan


untuk mengetahui derajat penurunan motilitas spermatozoa. Sebab pada keadaan
normal, kemunduruan motilitas terjadi kira-kira 10-20 % dalam waktu 2 3 jam.
Tetapi kalau dalam waktu tersebut turunnya motilitas lebih dari 20 %, berarti daya
tahan motilitas spermatozoa itu berkurang.

Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini, temperatur laboratorium


harus dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga berpengaruh terhadap
motilitas spermatozoa.

Sperma yang diteteskan pada gelas obyek kemudian ditutup dengan gelas penutup.
Menutupnya harus baik agar jangan sampai ada gelembung udara di dalamnya atau
jangan sampai tetesan sperma luber keluar gelas penutup.

Tekanan gelas penutup pada tetesan sperma harus rata dan sama bagi setiap sampel
sperma. Untuk maksud itu tidak boleh sembarang ukuran gelas penutup
dipergunakannya. Gelas penutup harus yang sama ukurannya yaitu 18 mm x 18 mm.

2 Pemeriksaan Vitalitas Spermatozoa


Spermatozoa yang tidak bergerak, belum tentu mati. Adakalanya lingkungannya tidak
cocok, spermatozoa tidak bergerak. Tetapi kalau keadaan lingkungannya suatu ketika baik,
ada kemungkinan spermatozoa bergerak lagi. Maka dari itu perlu dibedakan lagi antara
spermatozoa yang hidup dengan spermatozoa yang mati. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan
vitalitas spermatozoa.
Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan pengecatan vital atau vital staining.
Cara ini digunakan untuk memastikan diagnosa nekrozoospermia.
Metode : Eosin-Nigrosin Supravital Stainning Sperma Viability
Tujuan : Untuk membedakan dan mengetahui sperma yang hidup dan yang mati.
Prinsip : Sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai, dikeringkan dan diperiksa sperma yang
mati dan yang hidup dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100.
Alat :
- Pipet tetes

- Rak dan bak pewarnaan

- Objek glass

- Tabung reaksi

- Mikroskop

- Botol semprot

Reagensia :
- Eosin 5 %
- Negrosin 10 %
Cara Kerja :

Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil

Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10 %, di aduk

Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass, dikeringkan.

Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x100 pada 100 lapang pandang
dan hasil dinyatakan dalam persen ( % ).

Penilaian :
Spermatozoa yang mati akan berwarna merah
Spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak berwarna
Nilai Normal : 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup.
Hal hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan vitalitas :

Spermatozoa yang hidup (Viable) tidak berwarna, dengan latar belakang kemerahan,
sedangkan spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa
rusak, zat warna masuk kedalam sel, sel berwarna merah. Spermatozoa hidup tetap
tak berwarna karena dinding sel masih utuh, tidak dapat ditembus zat warna.

Untuk membuat pengecatan vitalitas yang baik, zat warna harus baru jangan terlalu
kental dan jangan banyak endapan.

Pemeriksaan Jumlah Spermatozoa


Menghitung jumlah spermatozoa dapat dilakukan dengan metode hemocytometer biasa

menggunakan pipet Thoma atau dengan modifikasi hemocytometer dengan pengenceran


dalam tabung menggunakan Clinipette. Larutan yang biasa yang dipergunakan ialah larutan
pengencer 5% Natrium bikarbonat dalam aquadest ditambah dengan formaldehide 1 ml.
Larutan pengencer ini juga bertindak sebagai zat spermisida yang mematikan
spermatozoa, serta merupakan garam fisiologis. Dengan demikian spermatozoa yang terdapat
didalam kamar hitung dapat lebih cermat dihitung.
Jumlah spermatozoa dihitung menurut beberapa cara :
1

Jumlah Spermatozoa per ml ejakulat.

Jumlah Spermatozoa per volume ejakulat.

Namun yang umum dipakai adalah spermatozoa per ml ejakulat. Bilamana menghendaki
perhitungan untuk seluruh ejakulat, tinggal mengalikan dengan volume ejakulat.
Perhitungan :
Misal jumlah didapat 200 spermatozoa
200 x 50 = 10.000/mm3= 10.000 x 1000 = 10 juta/ml
Nilai Normal : 20-70 juta / ml
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan jumlah sperma :

Biasanya didapat 70 juta atau lebih banyak spermatozoa per ml ; kalau jumlah kurang
dari 20 juta per ml , ada kemungkinan mati itu kurang memadai dalam hal fertilitas.

Tetapi kita harus berhati hati dalam mengambil kesimpulan seperti itu. Tidak jarang
dilihat bahwa hasil pemeriksaan mani berikutnya atau yang mendahuluinya berbeda jauh.
Dapat juga dilakukan pada pemeriksaan motilitas hanya sedikit sekali spermatozoa
kelihatan bergerak aktif.

Catatan :

- Untuk mempermudah penghitungan didalam bilik hitung dapat digunakan pipet eryhtrosit
sebagai pipet pengencer dan sperma diisap sampai 0,5 tepat dan pengencer 101.
pengenceran pipet 200x dikalikan untuk perhitungan.
- Untuk pengenceran yang lebih teliti sebaiknya menggunakan pengenceran menggunakan
Clinipette dalam tabung. Pengenceran dapat diubah sesuai dengan keinginan.
- Menurut R. Gandasoebrata bila tidak memiliki larutan pengencer Natrium bikarbonat maka
dapat digunakan aquadest sebagai larutan pengencer.
4

Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa


Pemeriksaan morfologi spermatozoa ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk spermatozoa
yang didasarkan atas bentuk kepala dari spermatozoa. Seperti diketahui spermatozoa
mempunyai beberapa macam bentuk. Dengan pemeriksaan ini diketahui beberapa banyak
bentuk spermatozoa normal dan abnormal. Bentuk yang normal adalah spermatozoa yang
kepalanya berbentuk oval dan mempunyai ekor yang panjang. Untuk pemeriksaan morfologi
ini dimulai dengan pembuatan preparat smear di atas objek glass, yang dibiarkan kering
dalam temperatur kamar. Setelah preparat smear tersebut kering, maka selanjutnya dilakukan
prosedur pewarnaan.
Agar memperoleh hasil yang baik pemeriksaan morfologi spermatozoa dilakukan
pengecatan khusus. Terdapat berbagai macam pengecatan guna memeriksa morfologi
spermatozoa, diantaranya Giemsa, Wright, Romanowsky, May Grunwald, Kiewit de Jong.
Morfologi spermatozoa :
Spermatozoa Normal :
Spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval, reguler, dengan bagian tengah utuh dan
mempunyai ekor tak melingkar dengan panjang 45 um.
Spermatozoa Abnormal :
Spermatozoa disebut abnormal bilamana terdapat satu atau lebih dari bagian
spermatozoa yang abnormal. Jadi meskipun kepala spermatozoa oval, tetapi kalau bagian
tengah menebal, maka dikatakan abnormal.
Abnormalitas kepala :
-

Kepala oval besar


Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih besar dari normal. Panjang
kepala >5 dan lebar >3

Kepala oval kecil

Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal. Panjang
kepala <3>2 .
-

Kepala pipih (tapering head = lepto)


Kepala spermatozoa berbentuk seperti cerutu dengan kedua sisinya sejajar,
bentuk ramping dan agak panjang, akrosomnya dapat berujung lancip atau tidak.

Kepala berbentuk pir (piriform head)


Kepalanya nyata atau bahkan lebih menyolok berbentuk sebagai tetesan air,
bagian runcing berhubungan dengan bagian tengah.

Kepala dua (duplicated head)


Spermatozoa dengan memiliki dua kepala.

Kepala berbentuk amorfous (terato)


Bentuk kepala yang tak menentu atau sangat besar dengan struktur yang aneh.
Abnormalitas bagian tengah :

Bagian tengah tebal

Bagian tengah patah

Tak mempunyai bagian tengah


Abnormalitas ekor :

Ekor sangat melingkar

Ekor patah yang meninggalkan sisa ekor.

Ekor lebih dari satu

Ekor sebagai tali terpilin

Spermatozoa imatur
Spermatozoa yang masih mengandung sisa sitoplasma, yang paling tidak besarnya
separuh dari ukuran kepala dan masih terikat, baik pada kepala, bagian tengah maupun
pada ekor spermatozoa.
Leukosit dalam sperma :
Dalam sperma kecuali terdapat spermatozoa juga terdapat rundzellen / round cell atau
sel bundar yang terdiri dari leukosit dan sel-sel spermiogenesis. Dalam keadaan biasa
terdapat leukosit dalam sperma, jumlahnya meningkat melebihi normal akan berpengaruh
terhadap gambaran spermiogenesis, sehingga perlu dilakukan penghitungan leukosit.
Menghitung rundzellen (sel bundar) :

Karena terdiri dari dua sel yaitu sel muda sperma dan leukosit, maka untuk
membedakannya dapat dilakukan penghitungan sebagai berikut :
- 1 tetes sperma ditambah 1 tetes larutan Sedicolor (larutan Methylen Blue) diaduk rata diobjek
glass, dibiarkan beberapa menit, diperiksa di mikroskop dengan pembesaran 400-600
kali.
- Dilakukan diferensiasi antara sel spermatozoa muda dan leukosit yang dinyatakan dalam
100%.
- Ciri-ciri sel :
Sel

spermiogenesi:

Leukosit:

Dinding

Dinding

sel

kelihatan

tipis

tampak

tebal

dengan

inti

dengan
yang

inti

yang

kompak.

khas

untuk

leukosit.

Dihitung 100-200 sel bundar dan cara ini dilakukan jika junlah sel bundar per Lp lebih
dari 6-10.
Jika pada sediaan jelas terlihat adanya leukosit maka dapat dipakai cara tanpa
pengecatan, yaitu :
- 0,1 ml sperma diteteskan diatas objek glass lalu ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa
dengan pembesaran 400-600 kali.
- Jika didapat sel leukosit 6-10/Lp atau lebih, kemungkinan menunjukkan adanya infeksi pada
traktus genitalis.
Hal hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan morfologi sperma :

Untuk sperma dengan kepadatan tinggi, tetesan dibuat kecil dan hapusannya lebih
cepat dan berat dan untuk spermatozoa kepadatan rendah dibuat tetesan lebih besar
dan hapusannya lebih lambat dan ringan.

Jika jumlah kepadatan spermatozoa kurang dari 10 juta / ml sediaan hapus dibuat dari
sentrifugasi dengan 2000 rpm selama 15 menit.

Sediaan / hapusan sperma dapat diwarnai dengan cat : Giemsa, Mayer, O. Steeno, Fast
green, Wright, Bryan / leishman dan papanocolou.

Sel-sel bundar terdapat pula pada ejakulat, dan dapat diamati pada analisis sperma.
Pada pemeriksaan sperma dengan pengecetan sederhana, yakni dengan metilin blue,
sel sel tersebut telah tampak sel-sel itu ialah lekosit, polimorfonuklear dan monosit.

Aglutinasi Spermatozoa

Aglutinasi spermatozoa ialah penggumpalan atau perlekatan antara satu spermatozoa


dengan beberapa spermatozoa yang lain. Aglutinasi spermatozoa dapat disebabkan oleh
faktor imunologis dan non-imunologis. Cara membedakan keduanya dengan mengukur titer
antibodi yang terdapat pada pasangan suami isteri. Namun guna informasi pendahuluan
proses aglutinasi spermatozoa, dapat dilakukan cara : Satu tetes sperma diberi garam
fisiologis
Kalau terjadi aglutinasi sejati, spermatozoa akan tetap melekat satu dengan yang lain.
Kalau dengan penambahan garam fisiologis spermatozoa lepas satu dengan yang lain, maka
aglutinasi tersebut adalah aglutinasi palsu.
Cara lain oleh Hellinga (1976)
Setetes sperma segar, setelah likuefaksi total, diletakkan pada objek glass, lalu ditutup dengan
gelas penutup. Sediaan dibiarkan tidak disentuh sedikitpun selama paling tidak 1 jam. Pada
sperma tertentu akan terjadi penggumpalan satu dengan yang lain.
Macam-macam aglutinasi atau penggerombolan spermatozoa tersebut yaitu :
a

Aglutinasi ekor dan ekor


Pada keadaan ini ujung atau bagian ekor yang lebih proksimal bersentuhan atau
berlekatan satu dengan yang lain, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini
dinamakan tail to tail agglutination (TT).

Aglutinasi kepala dan kepala


Pada keadaan ini kepala spermatozoa saling berlekatan atau bergerombol,
sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan head to head agglutination (HH).

Aglutinasi kepala dengan ekor


Pafa keadaan ini kepala satu spermatozoa atau lebih berlekatan dengan ekor
sebuah spermatozoa atau lebih. Ini dinamakan head to tail agglutination (HT).

Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada suatu sel muda spermatozoa,
epitel atau lain-lain benda pada sperma.

Spermatozoa dapat menggerombol seperti benang pada pinggir daerah sperma


tertentu. Ini dinamakan aglutinasi rantai (string agglutination)

Benda-benda khusus spermatozoa


Didalam sperma kecuali spermatozoa dan spermatozoa muda, terdapat benda-benda
khusus lainnya. Benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria atau
benda-benda lain baik hidup maupun benda mati.

Benda-benda mati

Sel epitel
Biasanya berupa sel epitil pipih, yang berasal dari lepasan sel pada saluran
urogenitalis. Sel pada traktus urogenitalis memang mudah lepas, apalagi kalau terjadi
proses keradangan, sehingga tambahan diagnostik untuk sesuatu keradangan.

Kristal-kristal
Kristal-kristal ini berasal dari kelenjar-kelenjar asesoria.kristal yang banyak
dijumpai pada sperma : fosfat, urat dan sitrat.

Lemak
Lemak dalam sperma berasal dari kelenjar prostat, berbentuk bundar jernih.
Benda ini tak banyak artinya dalam klinis.

Benda prostat
Berasal dari prostat, berbentuk bundar tepinya tidak rata, serta tidak berinti.

Benda-benda hidup

Bakteri
Bakteri ini berasal dari infeksi traktus urogenitalis, benruknya tak nampak jelas.

Protozoa
Infeksi traktus urogenitalis oleh protozoa sering terjadi, misal Trichomonas, amoeba
dan Clamydia trachomatis.

Jamur
Dapat dijumpaipad pasien yang dermatitis didaerah genitalia atau perineum.

C. Pemeriksaan Kimia
Karbohidrat yang ada dalam mani ialah fruktosa dan kadar fruktosa itu mempunyai
korelasi positif dengan kadar testosteron dalam tubuh. Penetapan kadar fruktosa memakai
reaksi Selivanoff sebagai dasar, pada reaksi itu fruktosa bereaksi dengan resorcinol dengan
menyusun warna merah.
Parameter: Penetapan Fruktosa
Tujuan: Untuk mengetahui dan menentukan kadar fruktosa dalam semen yang bertalian
dengan kadar testosteron.
Prinsip: Fruktosa akan berubah menjadi furfural oleh pengaruh HCl dan pemanasan, furfural
yang terjadi akan berkondensasi dengan resorsinol menyusun senyawa yang berwarna merah.

Reagensia:
1

Larutan Ba(OH)2 0,3 N dibuat dengan melarutkan 47,5 g Ba(OH)2.8H2O dalam 1000
ml aqusdest.

Larutan ZnSO4 0,175 M dibuat dari 50 g ZnSO4.7H2O dalam 1000 ml aquadest.

Larutan resorcinol 0,1% dalam 100 ml alkohol 95%, larutan ini bertahan 2 bulan bila
disimpan dalan lemari es.

HCl 10 N dibuat dari 1 volume aquadest ditambah 6 volume HCl pekat.


5. a. Standard fruktosa stock 50 mg fruktosa larutkan dalam 100 ml larutan asam benzoat
0,2%.

Standard fruktosa sebagai larutan kerja. 1 ml standard fruktosa stock diencerkan dengan
aquadest sampai 100 ml. Pada cara dicantumkan dibawah, larutan kerja ini sesuai dengan
200 mg /dl fruktosa mani.

Prosedur Kerja :
1

Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu mengencerkan
0,1 ml mani dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml larutan Ba(OH)2, campur,
tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4, campur lagi dan pusinglah kuat-kuat.

Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko). Tabung T diisi 2 ml cairan atas
dari langkah 1, tabung S diisi 2 ml standard fruktosa larutan kerja dan tabung B diisi 2 ml
air/ aquadest.
BLANKO
2 ml

STANDART

SAMPEL

Aquadest
Standart
2 ml
Sampel
2 ml
Resorsinol
2 ml
2 ml
2 ml
HCL
6 ml
6 ml
6 ml
Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml resorsinol dan 6 ml HCl.

Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam bejana air 90OC selama 10 menit.

Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm.

Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 = mg / dl fruktosa mani.

Catatan :
Kadar fruktosa dalam mani normal berkisar antara 120-450 mg/dl dan fruktosa itu
berasal dari vesiculae seminales. Selain dipengaruhi oleh kadar testosteron dalam tubuh,
banyaknya fruktosa dalam mani juga mengalami perubahan oleh proses-proses dalam
vesiculae seminales dan ductuli ejaculatorii, pada hipoplasia dan radang vesiculae seminales

dan pada penyumbatan partial ductuli ejaculatorii kadar fruktosa menurun. Penyumbatan
ductuli ejaculatorii yang total berakibat kadar fruktosa dalam mani menjadi nol.
TATA CARA PEMBACAAN HASIL
Interpretasi hasil analisa sperma saat ini didasarkan pada 2 parameter dari 2-3 sediaan
dalam sekali analisa sperma. Dan hasilnya harus diulang 1 minggu atau 2 minggu lagi
sehingga kita dapatkan 2-3 sediaan.
1
a

Jumlah spermatozoa / ml
Normozoospermia : jumlah spermatozoa 20-250 juta/ml dianggap dalam batas
normal.

Azoospermia : jumlah spermatozoa 0 juta/ml

Ekstrim-oligozoospermia : jumlah spermatozoa 0-5 juta/ml

Oligozoospermia : jumlah spermatozoa >5 - <20 jyta/ml

Polizoospermia : jumlah spermatozoa > 250 juta/ml

Prosentase motilitas spermatozoa yang bergerak baik (Good & Excellent atau grade 2 +
3). Apabila % spermatozoa yang motil < 50% disebutasienozoospermia.

Prosentase morfologi spermatozoa normal

Apabila % spermatozoa yang mempunyai morfologi normal <50% disebutteratozoospermia.


INTERPRETASI ANALISA SPERMA RUTIN
Jumlah

Morfologi

No Nomenklatur

Spermatozoa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

(juta/ml)
normal (%)
> 20
> 50
> 50
> 20
> 50
> 50
<5
> 50
> 50
> 20
< 50
> 50
> 20
> 50
< 50
< 20
< 50
> 50
< 20
< 50
< 50
< 20
> 50
< 50
> 20
< 50
< 50
> 250
> 50
> 50
Jika semua spermatozoa tan viabel
Adalah spermatozoa yang tersembunyi
Apabila tidak ada sperma

Normozoospermia
Oligozoospermia
Ekstrim Oligozoospermia
Astenospermia
Teratospermia
Oligo-astenozoospermia
Oligo-asteno-teratozoospermia
Oligo-teratozoospermia
Asteno-teratozoospermia
Polizoospermia
Azoospermia
Nekrozoospermia
Kriptozoospermia
Aspermia

TERMINOLOGI

Motil (%)

Spermatozoa

Berikut beberapa terminalogi yang dipergunakan dalam spermatologi :


1 Azoospermia: Dalam ejakulat tidak terdapat/ditemukan sperma
2 Aspermatogenesis: Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis.
3 Aspermia: Tidak terdapat ejakulat
4 Normospermia: Jumlah volume sperma 2-5 ml.
5 Hypospermia: Volume ejakulat kurang dari 1 ml
6 Hyperspermia: Volume ejakulat lebih dari 6 ml
7 Hypospermatogenesis: Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis.
8 Oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap ml
sperma)
9 Normozoospermia: Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200 juta/ml.
10

Asthenospermia: Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik di bawah 50%.

11

Necrospermia: Semua spermatozoa dalam keadaan mati.

12

Extrem oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap 1 ml ejakulat.

13

Asthenozoospermia: Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.

14

Teratozoospermia: Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari 40%.

15

Nekrozoospermia: Bila semua spermatozoa tidak ada yang bergerak atau hidup.

16

Kriptozoospermia: Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila ditemukan


dalam sedimen sentrifugasi sperma.

17

Polizoospermia: Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per ml sperma

18

Leukospermia: Warna sperma putih keruh serupa susu karena terdapat leukosit yang
banyak.

19

Hemospermia: Warna sperma kemerahan karena terdapat erythrosit yang banyak.

20

Residual Body: Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa yang belum matur.

DAFTAR PUSTAKA
Penuntun Laboratorium Klinik, R.Gandasoebrata, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1989

Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Frances.K.Widmann, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta, 1995
Ronald A.Sacher, Richard A. Mc.Pharson, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium,
Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Depkes RI, PusLabkes, Petunjuk Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Lab.kes,1997