Anda di halaman 1dari 6

Anekdot (Politis), Majalah(/Jurnal) Balairung,

dan Derajat Mushowwir-nya Mas Kelik Supriyanto1


HASAN “Hasil Arisan/Tjak Kasan” BACHTIAR2

Get up! Stand up! Stand up for your right!


Get up! Stand up! Don’t give up the fight!
... You can fool some people sometimes, but you can’t fool all the people all the times
... So now you see the Light, just stand up for your right!
—Bob Marley

PEMANASAN
Kehadiran setiap buku humor, sudah selazimnya, atau mungkin harus, bahkan barangkali
hampir selalu, atau boleh jadi sudah pasti pula, patut dirayakan secara penuh sukacita oleh
kita semua. Tidak terkecuali dengan kemunculan buku berjudul The Kampus: Ngakak
Sampe Mampuss (2009) karya Kelik Supriyanto, salah seorang senior saya yang amat saya
hormati, ini. Sebabnya, pastilah, buku ber-genre ini senantiasa mengundang tawa
pembacanya—dalam spektrum, bila direntang, dari sekadar senyum-senyum simpul,
tertawa setengah lebar, ketawa-tawa lebar-lebar, hingga terbahak-bahak terpingkal-
pingkal lepas bebas alias ngakak-huakakak bahkan berjungkir-jungkir lagi tersungkur-
sungkur. Tawa sungguh-sungguh teramat dekat dengan kebahagiaan. Maka, setiap buku
yang mengusung tawa menyenangkan hati kita belaka.3
Saya sendiri pun, tidak saya pungkiri, lumayan
menggemari kegiatan tertawa (pribadi) maupun membuat
orang lain tertawa—namun kurang suka “ditertawakan
ataupun menertawakan” orang lain, tentu saja. Saya, yang
dilahirkan dan dibesarkan hingga remaja di kota Surabaya,
dihidupi oleh tradisi humor Ludruk Kartoloan—juga sedikit
Meduroan. Tatkala mulai menginjak bumi Yogyakarta pada
1998, saya berkenalan dengan pelbagai khazanah humor
Nusantara, mulai dari Mataraman, Sundonan, Papuan,
Medanan, Floresan, Panturonan, dll.—ekuivalen dengan
keluasan jaringan pertemanan saya, tentunya—juga humor-
humor dari mancanegeri (Amerika, Jerman, Jepang, Swiss).
Sekira pada bulan Maret lalu, saya, dengan istri saya, sudah
mengkhatamkan, secara amat bersemangat, tiga jilid buku,
alias trilogi, komedi Drunken karya Pidi Baiq, salah seorang
desainer-grafis Penerbit Mizan, Bandung.4

1 Risalah ulasan buku (book review essay) “asal-asalan” ini dilisankan pada acara Diskusi Bedah Buku The
Kampus: Ngakak Sampe Mampuss (Yogyakarta: Insania, 2009; cetakan ke-1; 104 halaman) karya Kelik
Supriyanto (© 2009), di Bulaksumur B-21, Yogyakarta, Sabtu, 27 Juni 2009, yang terselenggara berkat
prakarsa dan budi baik awak Jurnal Mahasiswa UGM Balairung yang bekerja sama dengan Penerbit Insania.
2 Penulis kini berkarya sebagai Office Director pada Perkumpulan LINGKAR (www.lingkar.or.id), sebuah

organisasi masyarakat sipil di Yogyakarta yang bergerak dalam bidang pengurangan risiko bencana dan
pembangunan berkelanjutan. Pada sekira 1998—2002, kalau tidak keliru, penulis pernah turut aktif belajar
di Majalah/Jurnal Mahasiswa Balairung, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama penulisan risalah ini
bahkan sepanjang masa, penulis patut berterima kasih kepada Arina M. Bachtiar, istri penulis, atas
dukungan, cinta, kasih, dan sayangnya yang meluber-luber kepada penulis. Demi memperbaiki mutu tulisan
ini, para pembaca boleh mengirimkan kritik dan saran melalui e-mail penulis: hsbachtiar@yahoo.co.id.
3 Sebaliknya, setiap risalah “kajian humor” tidak selalu disambut dengan penuh rasa bahagia. Sebabnya,

risalah semacam ini hampir selalu dianggap “serius” sehingga mengundang kerut keriput jidat pembacanya,
yang menandakan kerja keras otaknya. Hal ini terjadi juga, barangkali, terhadap risalah ini. Ya... sudahlah....
4 Trilogi Drunken-nya Pidi Baiq ini, menurut hemat saya dan istri saya, bolehlah digolongkan ke dalam

daftar buku bacaan wajib para reporter Balkon: (1) Drunken Monster; (2) Drunken Molen; dan (3) Drunken
Mama (Bandung: DAR! Mizan, 2008 & 2009).

Page 1 of 6
Untuk bisa tertawa itu murah, dan sudah sewajarnyalah demikian. (Maka, saya
pernah terheran-heran sejuta kata tatkala mendengar bahwa ada suatu kursus khusus lagi
mahal kebablasan, yang diadakan oleh sebuah lembaga jasa kepribadian modern
komersial, yang mengajarkan materi khusus tertawa). Kita bisa mengakses sumber
penawa diri, juga penawar gundah gulana, atau penglipur lara dari beraneka muasal.
Setiap hari ada program siaran komedi di televisi, atau di radio. Banyak kaset audial atau
CD-VCD berisi lelakon humor masih beredar di pasaran. (Bahkan, di rumah, saya biasa
bekerja dengan laptop saya sambil memutar 45 item MP3 ludruk Kartoloan!). Di aneka
koran dan majalah setiap hari mudah kita temukan bacaan lucu. Di internet, setiap detik
tersedia aneka humor. Ada banyak buku anekdot beredar di pasaran. Ada film-film—ini
kesukaan saya!—penuh lelucon dan cerdas, misalnya film-film drama keluarga-edukatif
yang dibintangi oleh Robin Williams, atau film-film dokumenter karya Michael Moore.
Daftar ini masih bisa diperpanjang. Namun, yang juga tak kalah penting, silaturahmi
percakapan sehari-hari dengan keluarga, tetangga, sanak kerabat famili, teman sekolah
atau kantor, dst. juga merupakan sumur humor dan kebahagiaan yang tiada akan pernah
kering—asalkan kita rajin menimbanya sambil tetap merawatnya.
Nah, tepat Jumat kemarin, 26 Juni 2009, saya patut membuat pengakuan bahwa
saya telah mengkhatamkan, secara penuh sukacita, buku The Kampus: Ngakak Sampe
Mampuss. Dengan demikian, tepatlah apabila kali ini saya menulis risalah ini, dan
menyajikannya ke hadapan Anda semua, sebagai sebentuk pertanggungjawaban,
penghargaan, penghormatan, dan perayaan atas kreativitas Mas Kelik. Buku ini berisi + 89
anekdot, penuh warna, aneka-ragam, dan lintas-batas, sebab mengemas atau mengangkat
aneka rupa tema, yang—bila sedikit dipetakan—bermulti-skala: individual, lokal, nasional,
regional, hingga global, privat maupun publik; lintas-sektor kehidupan; mengandung
bermacam pengetahuan yang lintas-disiplin ilmu; menyentuh ruang-ruang kehidupan
yang lintas-kelembagaan; merefleksikan kegelisahan yang lintas-zaman. Pokoknya, buku
“top banget”-lah—a truly genuine, highly recommended, moreover must read, joky book!

PANAS-PANASAN
Sekarang, setelah sedikit pemanasan (warming-up, stretching) di atas, kita bisa mulai
masuk ke “panas-panasan” (exercising). Untuk mengulas The Kampus: Ngakak Sampe
Mampuss (2009) karya Mas Kelik ini, saya mencoba mengajukan tiga jurus pandang
(perspective), yakni jurnalistika, linguistika, dan semiotika. Ketiga jurus pandang ini saya
pilih semata-mata karena itulah yang saya bisa. Tentu saja,
Anda boleh setuju dan tidak. Itu biasa. Pokoknya, kita boleh
dan layak berbeda pendapat asalkan tetap rukun dalam
silaturahmi kemanusiaan dan kebudayaan. Ya, biasa sajalah.

Jurus Pandang # 1: Jurnalistika


Anekdot-anekdot Kelik Supriyanto, dugaan kuat saya, pertama
dan terutama ditulis untuk diterbitkan dalam pers mahasiswa,
yaitu tidak lain dan tidak bukan ialah Majalah Balairung,
dalam mana Kelik Supriyanto—juga saya, dan sebagian besar
Anda—pernah bergiat selama masih berstatus mahasiswa di
UGM.5 Itu berarti bahwa anekdot-anekdot ini, yang umumnya
ditempatkan di bawah rubrik anekdot, sastra, atau selingan,
merupakan “produk” atawa “komoditas” jurnalistis.

5 Setelah membaca buku inilah saya baru mengetahui bahwa Kelik Supriyanto juga mengirimkan karya
anekdot-anekdotnya ke pers mahasiswa lain, di kampus-kampus di Jawa dan Bali, sejak awal 1990-an, juga
kemudian ke media internet. Kok bisa-bisanya! Namun begitu, biar lebih fokus dan relevan dengan latar
kesejarahan saya maupun Mas Kelik, risalah ini, seperti judulnya, akan menyederhanakan pembahasan
perihal karya-karya anekdot Mas Kelik dalam kaitan dengan Majalah Mahasiswa UGM Balairung sebagai
suatu (komunitas) pers mahasiswa.

Page 2 of 6
Kita mafhum bahwa sudah menjadi kelaziman di dalam dunia jurnalisme (cetak,
print-journalism) diterapkannya variasi alias penganekaragaman sajian jurnalistik. Kalau
disederhanakan, sajian wacana dalam media massa terdiri atas dua jenis. Pertama,
“wacana berita” (news discourse), yang biasanya dianggap “berat”, umpamanya hardnews,
softnews, news feature, editorial, dll. Kedua, “wacana non-berita” (non-news discourse),
yang, sebaliknya, kerap dituduh secara sembarangan sebagai sajian “ringan”.
Bersandingan dengan sajian-sajian “ringan” lain seperti karikatur, kartun, pojok, sastra,
esai foto, surat pembaca, dll., anekdot mengemban fungsi atau tugas untuk “menjaga
stamina membaca” para pembaca alias konsumen media.
Namun, bisa pula disimpulkan secara lain bahwa
anekdot-anekdot Mas Kelik ini merupakan suatu cara
“pengolahan dan pengembangan lebih lanjut” atas berita-
berita (further development of news discourse) dan isu-isu
kunci yang diliput Majalah Balairung pada setiap edisinya.
Selain memperkaya konten media (politics of enrichment),
cara ini juga lazim ditempuh oleh redaksi Majalah
Balairung untuk mengemas isu-isu liputannya (politics of
issue packaging) agar menjadi lebih multidimensional. Artinya, redaksi Majalah
Balairung berusaha mengemas “sikap editorial”-nya perihal sesuatu isu secara lebih halus
melalui anekdot-anekdot tersebut.
Terbitnya buku Mas Kelik kini, boleh dikata, juga merupakan suatu usaha
“mengenang kembali”, suatu in memoriam, “kedigdayaan” Majalah Balairung dahulu
sebelum, pada tahun 2001, bertransformasi menjadi “jurnal ilmiah mahasiswa”.
Perubahan Majalah menjadi Jurnal Balairung adalah suatu strategi respon kontekstual, di
satu segi, dengan segala kebaikannya; namun, upaya itu juga mesti dibayar dengan harga
hilangnya rubrik anekdot, di sisi lain. Anekdot-anekdot Mas Kelik, juga anekdot-anekdot
karya teman-teman lain, patut diakui, turut berperan di sini dalam membentuk kekhasan
Majalah Balairung dari edisi ke edisi dulu.
Saya jadi terbayang kembali ingatan-ingatan lama, pada hari-hari saya masih bergiat
di Majalah Balairung. Di sela-sela mengusir kepenatan, kita biasa berbincang santai pada
sore atau malam hari di B-21, di ruang belakang, tengah, depan, atau di teras di bawah
pohon, perihal banyak hal. Pada momen-momen semacam itulah muncul lelucon-lelucon
segar, tentang apa dan siapa saja yang bisa dileluconkan, diolok-olok, dijungkirbalikkan,
dari satu sama lain partisipan obrolan. Lantas, apabila lelucon itu dirasa cukup orisinal,
diambillah kesepakatan tentang siapa yang akan menuliskannya untuk terbitan Majalah
Balairung edisi mendatang. Nah, simsalabim, jadilah anekdot-anekdot itu nongol di
dalam edisi demi edisi Majalah Balairung.
Di sekujur teks buku Mas Kelik ini, kita dapat menjumpai
aneka nama (manusia) bermunculan silih berganti sebagai
para “pelibat” (tenors) wacana. Mas Kelik banyak mencuplik
nama-nama yang, secara historis, cukup saya kenal kuat-kuat,
yaitu sebagian terbesar merupakan nama-nama para mantan
awak Majalah Balairung. Apa mau Mas Kelik dengan ini
semua? Tebakan “positif” saya, dia sudah “kangen” dengan
teman-teman lamanya di Majalah Balairung, baik dari
generasi sebelumnya, generasinya sendiri, ataupun generasi-
generasi sesudahnya yang silih berganti. Kalau tidak begitu, ya, tafsiran “negatif” saya,
mungkin Mas Kelik masih memendam “dendam pribadional” kepada orang-orang dengan
nama-nama itu, mungkin termasuk saya, “Hasil Arisan”, yang belum sempat
terlampiaskan dahulu. Tapi, segera saya mesti menandaskan bahwa saya haqqul yaqin
Mas Kelik bukan sekanak-kanak yang Anda pikirkan!?!?
Perihal hubungan antara anekdot dan jurnalisme, saya masih ingat sebuah karikatur,
namun saya sudah lupa dari mana sumbernya, yang menggambarkan suasana sebuah

Page 3 of 6
kantor redaksi media massa. Di dalam karikatur itu ada dua meja dan dua orang lelaki,
masing-masing duduk di mejanya yang berdampingan. Meja pertama bertuliskan
“Redaktur Berita Politik”. Si lelaki/redaktur politik itu sedang membaca-baca naskah
berita, dan dia tertawa terbahak-bahak. Meja kedua bertuliskan “Kompartemen Humor”.
Si redaktur humor ini juga sedang membaca-baca naskah humor, namun dia justru
terlihat sangat serius, dahinya berkerut-kerut. Nah! Barangkali, di negeri kita, peristiwa-
peristiwa politik tak lebih dari sekadar dagelan belaka(?), sedangkan keseriusan
kehidupan justru kita temukan dalam artifak-artifak yang biasa secara semberono disebut
sebagai “lelucon”! Begitulah manusia, di dunia nan fana ini.

Jurus Pandang # 2: Linguistika


Dari jurus pandang linguistika (antropologis), beraneka macam cerita lucu, anekdot,
lelucon, humor, satire, pantun, tebak-tebakan, mitos, dongeng, resep masakan dan obat-
obatan, permainan, dan sebangsanya disebut sebagai “folklore”. Folklor
dianggap penting dalam kajian linguistika sebab merupakan salah satu
penentu “identitas kontekstual” (contextual identity) bagi bahasa-
bahasa. Linguistika, biasanya, berusaha merumuskan “konvensi-
konvensi yang membuat ekspresi humor merupakan salah satu konteks
distingtif bagi bahasa yang sangat berpengaruh kuat”.
Mas Kelik, dengan buku anekdot yang ditulisnya dalam Bahasa Indonesia ini, pada
hemat saya, telah turut memperkokoh “identitas kontekstual” (sekaligus hegemoni)
Bahasa Indonesia. Buku ini, sudah pasti, merupakan suatu sumbangan teks Bahasa
Indonesia “ragam humor”, sehingga secara akumulatif telah turut memperkaya khazanah
(sekaligus dominasi) Bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk linguistis wacana-wacana anekdot
di dalam buku karya Mas Kelik ini juga menunjukkan adanya pola-pola kelanjutan
(continuity) maupun perubahan (change) dari wacana-wacana sejenis pada masa lampau,
sehingga menambah perbendaharaan dan kreativitas humor bangsa kita.6
Selanjutnya, pada bagian ini, yang semula mencoba memeriksa anekdot-anekdot
yang pernah diterbitkan Majalah Balairung dengan metodologi linguistika, disiplin ilmu
yang secara “tragis” pernah saya hayati, saya tidak akan berpanjang lebar. Telah saya
lampirkan sebuah makalah yang saya tulis pada tahun 2002 perihal ini. Makalah itu
mengupas anekdot-anekdot Majalah Balairung pada periode 1997—1999, dalam mana
Mas Kelik dan saya juga turut menyumbang, dengan metode “analisis wacana kritis”
(critical discourse analysis) mazhab Halliday-Hasan, Foucault, Mills, dan Fairclough.
Nah, Anda bisa membacanya lebih khusyuk secara sendiri-sendiri, nanti.
Yang perlu saya ceritakan secara jujur di sini dan sekarang ini
kepada Anda semua ialah bahwa, menurut salah seorang mahaguru
linguistika, David Crystal, “Nothing is more likely to kill a good joke
than a linguistic analysis.”7 Dor! Matilah saya! Welgeduwelbeh
makalah saya, ternyata, malah “membunuh” anekdot-anekdot yang
sudah baik-baik saja itu menjadi luluh-lantak berkeping-keping.
Walhasil, buku The Kampus: Ngakak Sampe Mampuss karya Mas
Kelik ini silahkan saja langsung Anda baca sampai khatam, dinikmati,
bahkan dihayati, dipetik hikmah manfaat kemanusiaan yang
disuguhkannya, kalau perlu disebarluaskan kepada kerabat Anda, tak
usah menunggu mengkhatamkan risalah dan makalah saya ini.

6 Bandingkan dengan Hermanu (penghimpun), Penggeli Hati: dari sa koempoelan njang hebat-hebat dan
Penggeli Hati II: Lelucon (Yogyakarta: Bentara Budaya, 2004 & 2005; katalog pameran).
7 David Crystal, The Cambridge Encyclopedia of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1987),

hlm. 62—63. Gejala serupa terjadi pada “analisis struktural” terhadap karya-karya sastra, mitos, film, musik,
dll. Karya-karya budaya tersebut, sebaiknya, dengan demikian, dinikmati sajalah, tak perlu diteorisasikan
ndakik-ndakik alias muluk-muluk.

Page 4 of 6
Jurus Pandang # 3: Semiotika
Mas Kelik Supriyanto, dengan buku kumpulan anekdot karyanya, The Kampus: Ngakak
Sampe Mampuss (2009), adalah sebuah “tanda” (sign) dalam pengertian yang seluas-
luasnya dan sepenuh-penuhnya, yang tampil dalam beraneka “obyek-tanda” (sign-object)
dan mengandung bertumpuk “makna-tanda” (sign-meaning).8 Maka, langsung saja, dari
jurus pandang semiotika ini, saya mau menelisik lebih jauh tanda ini dengan cara
melakukan “semiosis” (sederhana)9 terhadapnya.
Humor-humor dalam anekdot-anekdot Mas Kelik dalam
Majalah Balairung, seperti sudah saya singgung di atas, serba
melintas batas! Anekdot adalah “narasi karikatural-komikal”,
atau “karikatur/komik naratif”, atas kenyataan/realitas. Dalam
perkataan lain, anekdot-anekdot tersebut adalah “fiksionalisasi
atas fakta-fakta” sekaligus “faktualisasi atas fiksi-fiksi”. Sektor
dan tema yang dijangkau anekdot-anekdot Mas Kelik, juga di
Majalah Balairung, merentang dari ideologi, agama,
kebudayaan, politik, ekonomi, lingkungan, pendidikan, militer,
seksualitas, hingga “ideologinya-agama”, “politiknya-ekonomi”,
“budayanya-pendidikan”, “seksualitasnya-pendidikan”,
“politiknya-lingkungan”, “budayanya-militer”, dan aneka
saling-silang lainnya yang juga bertali-temali secara rumit.
Dengan strategi inilah persis saya melihat bagaimana Mas
Kelik, juga awak Majalah Balairung, menyelenggarakan
tindakan-tindakan pencerapan, pemahaman, dan pengungkapan realitas secara lintas-
batas. Sebabnya, sudah gamblang, realitas dan fakta itu sendiri sedemikian rumit lagi
ruwet, tidak bisa secara serampangan dipilah-pilah menurut optik-optik disipliner—
seperti jamak terjadi di kampus Gadjah Mada!
Dengan begitu, anekdot-anekdot ini telah menjadi suatu “realitas verbal” yang jauh-
jauh lebih serius ketimbang fakta-fakta kebanyakan. Humor ala Mas Kelik, anekdot-
anekdot ini semua, bagi saya, tampil sebagai semacam “etnografi karikatural” perihal
kehidupan mahasiswa dan kampus, tentang tipologi orang-orangnya, konten-konten
kulturalnya, interaksi-interaksi dinamisnya, pendek kata segala pernak-perniknya.
Namun, sayangnya, keluarga besar sains modern sedang mengalami buta-tuli untuk
menangkap pengaruh besar anekdot-anekdot Mas Kelik dan Majalah Balairung.
Humor membuat kita selalu tetap sadar-diri bahwa, pada
akhirnya, kita bukan apa-apa, sedangkan kehidupan dan ciptaan-
Nya sungguh kaya, dan kita cuma mampu menangkapnya sebagian-
sebagian, tidak utuh. Urip mung mamping ngombe. Urip mung
ngglethek.10 Ojo adigang, adigung, adiguno!

8 Setelah menelusuri secara kritis pelbagai definisi “tanda” dalam tradisi-tradisi linguistika, semiotika, dan
filsafat bahasa, Ahmad Ibrahim meredefinisi konsep “tanda” sebagai berikut: “sesuatu maujud abstrak yang
dipahami dalam rangka kesalinghubungan antara obyek, citra, serta makna; dan oleh karenanya ia akan
terdiri atas dua unsur pokok, yaitu obyek-tanda dan makna-tanda”. Pengertian tanda inilah yang saya anut
di dalam tulisan ini. Untuk ulasan lebih rinci, lihat Ahmad Ibrahim, “Konstruk Citra dan Tanda di Dunia
Cyber: Analisis Semiotik atas Kasus Bahasa Pemrograman dan Cyberspeak“, skripsi sarjana pada Fakultas
Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2003 (manuskrip tidak diterbitkan), hlm. 286—304.
9 Ibrahim juga merumuskan sebuah pengertian yang ringkas lagi tandas perihal semiosis, yakni “tindakan

yang diperbuat manusia dengan menggunakan bakat kecerdasan yang dimilikinya secara variatif bagi suatu
jenis pencirian tertentu atas sesuatu hal yang menjadi perhatiannya”. Semiosis, dengan begitu, menurut
Ibrahim, terdiri atas dua tingkat: pertama, pada tingkat rampat, semiosis terbentuk dari tindakan-tindakan
pencerapan, pemahaman, dan pengungkapan; kedua, pada tingkat kontekstual, semiosis tersusun sebagai
suatu pola tindakan yang mengikuti formula “S(P,O,T[o-t,m-t],TS)”—keterangan: S = Relasi Semiosis; P =
Penafsir; O = Obyek; T = Tanda; o-t = obyek-tanda; m-t = makna-tanda; TS = Tipe Situasi. Lihat Ahmad
Ibrahim (2003), ibid., hlm. 304—307.
10 Sindhunata, Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (Yogyakarta: Boekoe Tjap Petroek, 2004).

Page 5 of 6
PENDINGINAN
Kalaulah seluruh uraian di atas sudah sedikit-banyak membahas
karya, maka pada bagian pendinginan—itu artinya, Anda semua
saya ajak untuk cooling-down setelah sejak tadi warming-up
lantas exercising—ini saya ingin menyapa Mas Kelik Supriyanto
sebagai manusia, seorang karyawan yang telah menghaturkan
karyanya kepada kita untuk kita nikmati, telaah, dan ambil
manfaatnya. Jadi, siapakah, sejatinya, Kelik Supriyanto—bagi
saya sendiri, bagi Anda, bagi warga Sleman-Yogyakarta, bagi suku
Jawa, bagi bangsa Indonesia, bagi umat manusia, di antara
seluruh makhluk-Nya di mana saja? (Bagi Anda yang ingin tahu
siapakah Kelik Supriyanto bagi dan menurut Kelik Supriyanto sendiri, ya, jelaslah,
tanyakan sendiri kepada Kelik Supriyanto. Masuk akal, ya).
Saya mengenal Kelik Supriyanto sejak tahun 1998, jadi sudah 11 tahun hingga hari
ini, persis sejak saya bergabung dengan Majalah Balairung. Kelik Supriyanto bagi saya
adalah pertama dan terutama seorang “senior”, seseorang yang saya anggap lebih tua, saya
tuakan, kakak, dan pastilah berkemampuan lebih baik dibanding saya—dalam
multiaspek—yang yunior belaka, dalam komunitas Majalah Balairung.
Selanjutnya, bagi saya lagi, Mas Kelik adalah “manusia asketis”. Dia sedang
“menyiksa diri”, menjalani lelaku topo, ber-zuhud dalam kesederhanaan dan kesahajaan.
Semula saya kira Mas Kelik tidak berniat membuat capaian-capaian besar, dan juga jelas
bahwa dia hidup tidak dengan cara memakan harga sosial-ekologis yang mahal—entah
secara psikologis-kultural(?). Akan tetapi, dengan buku ini, Mas Kelik bagi saya telah
membuat capaian penting, bahkan “gemilang”, dengan harga yang sangat minimal. Boleh
diartikan dengan bahasa “manajemen modern”, Mas Kelik adalah seorang yang amat
efisien lagi efektif hidupnya. Cuma, saya tidak tahu ke mana arah proses hidup pribadinya
selanjutnya. Saya cuma selalu berdoa semoga Mas Kelik segera
menemukan jalan-jalan penciptaan, penataan, dan keindahan
yang baru dan yang lain.
Tidak main-main, saya setuju dengan lontaran Emha
Ainun Nadjib sekira 15 tahun lampau bahwa para humoris
atawa pelawak, termasuk Kelik Supriyanto dengan anekdot-
anekdotnya dalam buku yang sedang kita ulas sekarang ini,
adalah kaum yang—dalam Bahasa Arab, Asma’ul Husna, dan
al-Quran—tergolong sebagai “mushowwir”, orang yang
“membuat keindahan, memperindah lingkungan dan
kehidupan”. Kaum mushowwir ini berpeluang masuk surga
“tanpa screening”. Ini bukan pernyataan sembarangan, jadi
sungguh serius. Sebab gamblangnya? Sambung Cak Nun,

Akhirnya, percayalah, bahwa melawak itu juga merupakan kewajiban dari Tuhan. Itulah sebabnya
kenapa tadi saya sebut kalau kans pelawak itu masuk surga insya Allah lebih cepat dari saya atau
pejabat. Ini karena, ketika banyak orang berkuasa yang pekerjaannya tiap hari adalah menyusahkan
orang lain, maka pekerjaan pelawak setiap hari adalah menyenangkan orang lain.11

Nah, sampai di sini, ya, sudah. Selesai. Tuntas. Wis mari. Beres. Rampung. Finished.
Mission accomplished.„

11Untuk mencapai derajat mushowwir, menurut Cak Nun, seseorang harus menapaki terlebih dahulu tahap-
tahap khalik (mencipta, menemu, biasanya ialah para ilmuwan dan intelektual) dan baari’ (menata,
mengelola, umumnya yaitu para birokrat dan manajer). Lihat transkrip ceramah Emha Ainun Nadjib pada
acara Temu Kangen Pelawak di Jakarta, 4 Agustus 1994, yang dimuat dalam Darminto M. Sudarmo,
Anatomi Lelucon di Indonesia (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004), hlm. 197—205.

Page 6 of 6