Anda di halaman 1dari 76

Meningkatkan Pendapatan Sebagai Penggerak Ekonomi

Laporan Tahunan

2010

Meningkatkan Pendapatan Sebagai Penggerak Ekonomi Laporan Tahunan 2010
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

3

MISI DAN VISI BPMIGAS

3

CORE VALUES

4

SAMBUTAN KEPALA BPMIGAS

5

IKHTISAR EKSEKUTIF

9

REALISASI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS TAHUN 2010

27

PELAKSANAAN PROYEK HULU MINYAK DAN GAS BUMI

39

PEMBERDAYAAN KAPASITAS NASIONAL & K3LL

59

INTERNAL BPMIGAS

MISI DAN VISI BPMIGAS MISI Melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kontrak kerja sama dengan

MISI DAN VISI BPMIGAS

MISI

Melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kontrak kerja sama dengan semangat kemitraan untuk menjamin efektivitas dan efisiensi kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi guna sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

VISI

Menjadi mitra yang proaktif dan terpercaya dalam mengoptimalkan manfaat industri hulu minyak dan gas bumi bagi bangsa dan seluruh pemangku kepentingan serta menjadi salah satu lokomotif penggerak aktivitas ekonomi Indonesia.

CORE VALUES

PROFESSIONAL

Bertindak sebagai seorang profesional yang berkomitmen tinggi

RESPONSIVE

Cepat tanggap terhadap permintaan informasi dan penyelesaian masalah

UNITY IN DIVERSITY

Mensinergikan perbedaan untuk mewujudkan pencapaian yang lebih baik

DECISIVE

Berani mengambil resiko dengan didasari oleh perhitungan dan pertimbangan matang

sesuai kewenang yang dimiliki

ETHICS

Menjalankan bisnis dengan standar etika yang tinggi secara konsisten

NATION FOCUSED

Memaksimalkan potensi dan kemampuan nasional

TRUSTWORTHY

Menjaga kredibilitas sehingga mendapatkan kepercayaan dari stakeholders

Assalammulaikum Wr.Wb. SAMBUTAN KEPALA BPMIGAS Industri hulu minyak dan gas bumi masih menjadi industri primadona

Assalammulaikum Wr.Wb.

SAMBUTAN KEPALA BPMIGAS

Industri hulu minyak dan gas bumi masih menjadi industri primadona karena masih berperan sebagai salah satu penghasil utama penerimaan negara. Dalam kurun 3 (tiga) tahun terakhir sumbangan industri hulu migas masih berkisar 30% dari total penerimaan negara.

Namun mengingat sumber daya minyak dan gas bumi merupakan sumber energi yang tidak terbarukan, BPMIGAS mendorong agar terjadi pergeseran fungsi industri hulu minyak dan gas bumi yang sebelumnya hanya menjadi sektor penghasil penerimaan negara (revenue generator) menjadi mesin pertumbuhan ekonomi (economic growth engine). Beberapa upaya dilakukan untuk mewujudkan paradigma tersebut, antara lain dengan melibatkan sektor lain dari dalam negeri untuk terlibat aktif mendukung industri tersebut, mulai dari perbankan hingga industri penunjangnya.

Penggunaan energi untuk domestik juga menjadi prioritas kebijakan BPMIGAS, sebab keputusan tersebut menghasilkan sejumlah efek ganda (multiplier effect) yang merupakan hasil kongkrit dari kebijakan “pro growth, pro poor, pro employment” yang dicanangkan oleh Pemerintah. Penerapan keputusan tersebut tetap mengedepankan aspek perlindungan lingkungan hidup demi tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu, manajemen permintaan, infrastuktur dan pasokan minyak dan gas yang efektif dan holistik harus dikembangkan sebagai prasyarat utama.

Bobot tantangan untuk peningkatan kinerja hulu migas semakin berat, baik yang sifatnya operasional, fiskal maupun legal. Persepsi investor terhadap iklim investasi yang belum kondusif juga menambah tantangan yang harus disikapi dengan kerja keras dan kerja cerdas. Untuk itulah, BPMIGAS mengajak seluruh stakeholder, baik sesama instansi pemerintah maupun pelaku dunia usaha, untuk bekerjasama seerat-eratnya melalui komunikasi dan koordinasi yang efektif agar industri hulu migas dapat berhasil mengemban tugas dan tanggungjawabnya bagi bangsa dan Negara.

Wassalammulaikum Wr.Wb.

Kepala BPMIGAS Ir. R. Priyono
Kepala BPMIGAS
Ir. R. Priyono

BPMIGAS

Laporan Tahunan 2010

04

IKTISAR EKSEKUTIF

LAPORAN TAHUN 2011 BPMIGAS

KINERJA TAHUN 2010

Dengan mengefektifkan perencanaan dan fungsi pengawasan, sekaligus mengupayakan terbentuknya iklim investasi yang kondusif bagi investor hulu migas, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BPMIGAS) dapat menghadapi tahun yang penuh tantangan, menutup tahun 2010 dengan kinerja yang cukup membanggakan. Sumbangan industri hulu migas pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat ditingkatkan, bahkan dapat mengupayakan pertumbuhan di sektor lain. Adapun prestasi yang berhasil diraih tahun ini adalah:

1
1

Menghasilkan penerimaan negara sebesar US$26.49 miliar, atau lebih besar 32,78% dibandingkan penerimaan tahun 2009 sebesar US$19.95 miliar. Realisasi penerimaan negara tahun 2010 tersebut juga melampaui target yang ditetapkan oleh APBN 2010 sebesar US$26.06 miliar atau 100,6%.

2
2

Meningkatkan realisasi lifting minyak dan gas bumi sebesar 11,7%, yaitu dari 2,033 juta barel

oil

ekuivalen pada tahun 2009 menjadi 2,271 juta barel oil ekuivalen per hari pada tahun 2010.

Prestasi ini dapat diraih karena BPMIGAS bersama Kontraktor KKS juga dapat menekan laju

penurunan produksi minyak bumi dari rata-rata penurunan alamiah sebesar 12% menjadi hanya 0,43%.

3
3

Memaksimalkan penggunaan perbankan nasional untuk mendukung transaksi pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas dan penyimpanan dana abandonment and site restoration (ASR) dalam jangka panjang. Sepanjang tahun 2010, nilai transaksi yang dilakukan melalui perbankan nasional telah mencapai US$8.59 miliar (sekitar Rp 76 triliun), sementara dana ASR yang disimpan telah mencapai US$167 juta. Kebijakan yang dimulai pada akhir tahun 2009 ini terbukti dapat memperkuat sektor perbankan nasional.

4
4

Memaksimalkan penggunaan produk barang dan jasa dalam negeri untuk menunjang industri hulu migas. Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk pengadaan barang dan jasa tahun 2010 mencapai US$6.84 miliar atau 63,43% dari seluruh nilai pengadaan sebesar US$10.79 miliar. Realisasi tersebut lebih tinggi dari TKDN 2009 yang hanya 62% dari nilai pengadaan.

5
5

Meningkatkan pemanfaatan gas untuk memenuhi kebutuhan domestik dari 15,28 TCF pada tahun 2009 menjadi 20,09 TCF. Peningkatan volume ini mendorong industri dalam negeri lebih efisien dan memiliki daya kompetitif tinggi menghadapi persaingan global.

6
6

Untuk menjamin kegiatan produksi di masa mendatang, BPMIGAS berhasil meningkatkan komitmen Kontraktor KKS untuk melakukan kegiatan pengeboran eksplorasi di tahun 2010 sebanyak 95 sumur atau naik 26,6% dibandingkan tahun 2009 sejumlah 75 sumur. Tingkat keberhasilan (success ratio) pengeboran eksplorasi di tahun 2010 mencapai 46,27%, dan berhasil menemukan cadangan kontingensi sebesar 489,4 juta barel setara minyak.

7
7

Meningkatkan upaya penghematan biaya hulu migas, melalui kegiatan pengadaan bersama

di

lingkungan Kontraktor KKS dan transfer material (pemanfaatan surplus material, idle asset

dan used material). Pada tahun 2010 nilai penghematan yang dihasilkan dari pengadaan bersama sebesar US$70.19 juta atau meningkat 111% dibandingkan penghematan yang dilakukan pada tahun 2009 sebesar US$33.20 juta. Sementara penghematan yang dihasilkan melalui transfer material sebesar US$34.80 juta meningkat 27% dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar US$27.50 juta.

8 Melakukan perbaikan mekanisme perencanaan program dan anggaran industri hulu minyak dan gas bumi, melalui
8
8

Melakukan perbaikan mekanisme perencanaan program dan anggaran industri hulu minyak dan gas bumi, melalui percepatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Kontraktor KKKS (Work Program and Budget – WP&B), sehingga Kontraktor KKS dapat lebih cepat merealisasi kegiatan di lapangan. Proses persetujuan WP&B tahun 2011 telah diselesaikan pada tanggal 16 Desember 2010, atau lebih cepat dari jadwal pelaksanaan program, yaitu 1 Januari 2011.

9
9

Melakukan reformasi birokrasi di organisasi BPMIGAS, sehingga semua program dapat dilaksanakan secara terarah dan terukur, sesuai fungsi dan kewenangan setiap fungsi.

CATATAN PENTING 2010

Banyak masalah mengganggu realiasi kegiatan industri hulu minyak dan gas bumi di tahun 2010 tersebut, utamanya terkait dengan tumpang tindih peraturan perundangan. Namun beberapa masalah telah dapat diselesaikan, antara lain :

1
1

Diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2010 tentang Cost Recovery dan Pajak Penghasilan Hulu Migas. Kendati peraturan ini dipandang masih memberikan ketidakpastian hukum pada Kontraktor KKS, namun pada saat yang sama juga memberikan kepastian pada masalah perpajakan yang tidak dapat diselesaikan selama beberapa tahun belakangan ini.

2
2

Diterbitkannya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.19 tahun 2010 menggantikan Peraturan Menteri No.04 tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi, dimana peraturan baru tersebut telah mengakomodir kondisi operasional Kontraktor KKS antara lain terkait dengan baku mutu air.

3
3

Dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 165 tahun 2010 untuk menggantikan PMK No. 135 tahun 2009 yang membuat pertukaran material (material exchange) yang digunakan Kontraktor KKS dan waste disposal tidak perlu mendapat persetujuan lembaga- lembaga lain (tergantung nilai material), cukup hanya melalui BPMIGAS.

BPMIGAS

Laporan Tahunan 2010

06

KENDALA SEKTOR HULU MIGAS

Berbagai masalah kini masih menghadang di depan mata, menunggu untuk dicarikan solusinya secara tepat, cepat dan komprehensif agar tidak berdampak negatif pada upaya pencapaian target-target produksi di masa mendatang, yakni:

Kendala yang diakibatkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan, baik yang diterbitkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, antara lain:pencapaian target-target produksi di masa mendatang, yakni: A. Permasalahan tata ruang sebagaimana diatur dalam UU

A. Permasalahan tata ruang sebagaimana diatur dalam UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pemerintah Daerah berdasarkan UU tersebut diberi wewenang dalam penyelenggaraan penataan ruang. Di dalam menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT RW) oleh Pemerintah Daerah, kegiatan usaha hulu migas yang sedang berjalan (existing) seringkali terabaikan.

B. Berbagai peraturan daerah yang dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam kerangka Otonomi Daerah yang membebani sektor hulu migas

C. Tumpang tindih lahan dan kegiatan antara kegiatan industri hulu migas dengan tambang batubara, pertanian, perkebunan, kehutanan dan kegiatan masyarakat terutama pengelolaan lahan pekarangan penduduk

Pemanfaatan gas untuk industri domestik masih terkendala oleh berbagai faktor antara lain:masyarakat terutama pengelolaan lahan pekarangan penduduk A. Penetapan harga gas yang relatif masih rendah sehingga

A. Penetapan harga gas yang relatif masih rendah sehingga tidak memenuhi persyaratan minimal keekonomian proyek.

B. Keterbatasan ketersediaan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan gas domestik khususnya ruas transmisi dan jaringan distribusi yang menghubungkan lapangan produksi ke konsumen gas.

C. Kontrak ekspor jangka panjang yang tidak dpaat dialihkan ke domestic dalam waktu singkat.

Secara keseluruhan kegiatan industri hulu minyak dan gas bumi dapat mencapai target yang ditetapkan, yaitu selain sebagai sumber penerimaan, juga berhasil menjadi agen pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian tidak berlebihan bila menempatkan industri ini sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi Indonesia.

REFORMASI BIROKRASI UNTUK PENINGKATAN KAPABILITAS BPMIGAS

Untuk meningkatkan kinerja industri hulu minyak dan gas bumi, BPMIGAS melakukan reformasi birokrasi agar lebih efektif dan efisien dalam mengawal pencapaian target produksi. Adapun reformasi mencakup 8 (delapan) aspek, yaitu :

1
1

Meningkatkan pola pikir dan budaya kerja melalui core value yang baru yakni: P.R.U.D.E.N.T (Professional, Responsive, Unity in Diversity, Decisive, Ethics, Nation-focused, Trustworthy)

2
2

Meningkatkan kemampuan organisasi dengan melakukan restrukturisasi organisasi agar lebih efektif dan efisien dalam melakukan pengawasan dan pengendalian hulu migas

3
3

Meningkatkan Tata Kelola (Governance) antara lain dengan merubah proses bisnis, Standard Operating Procuders (SOP) dan Pedoman Standar Kewenangan Manajemen (PSKM) sesuai bentuk organisasi baru serta dengan menyusun dan merevisi Peraturan Tata Kerja (PTK)

4
4

Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penerapan manajemen SDM berbasis kompetensi, peningkatan jumlah pekerja sesuai dengan kompetensi yang diperlukan dan penyesuaian uraian tugas sesuai dengan organisasi baru.

5
5

Meningkatkan akuntabilitas dengan menyusun dan memonitor pengukuran kinerja melalui Key Performance Indicators (KPI)

6
6

Meningkatkan pengawasan melalui peningkatan sistem pengendalian internal untuk antara lain untuk perolehan opini auditor yang lebih baik, ditindaklanjutinya temuan BPK/BPKP serta pemberlakuan Kode Etik dan program whistleblower

7
7

Memberi masukan penyempurnaan peraturan perundangan antara lain UU Pelayaran , Peraturan Pemerintah tentang Cost Recovery dan Pajak Hulu Migas

8
8

Meningkatkan pelayanan publik dengan percepatan proses persetujuan WP&B dan AFE serta dilakukannya survey kepuasan KKKS terhadap pelayanan BPMIGAS.

REALISASI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS TAHUN 2010

1

KINERJA HULU MIGAS 2010

LIFTING MINYAK BUMI DAN KONDENSAT

Pencapaian

954 ribu BOPD

(98.9%)

LIFTING GAS BUMI

Pencapaian

7681 BBTUD

(99.0%)

PENDAPATAN NEGARA

Pencapaian

US$26.22 Miliar

(100,6%)

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

01 WILAYAH KERJA INDUSTRI HULU MINYAK DAN GAS BUMI

WILAYAH KERJA INDUSTRI HULU MINYAK DAN GAS BUMI

Sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan penemuan dan penambahan cadangan-cadangan minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja (WK) baru serta meningkatkan produksi dan lifting migas, selalu diupayakan penambahan jumlah WK baru.

Pada tahun 2010 terdapat penambahan 27 WK baru, yang terdiri dari 21 WK minyak dan gas bumi dan 6 (enam) WK Coal Bed Methane (CBM). Pada periode yang sama juga terdapat WK yang diterminasi karena tidak berhasil melaksanakan komitmen pasti. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, pada akhir tahun 2010 Indonesia memiliki 245 WK, yang terdiri dari 67 WK produksi dan 178 WK dalam tahap eksplorasi.

PENAMBAHAN JUMLAH WILAYAH KERJA

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

2010

KKS Baru

7

5

28

41

33

27

KKS Produksi

5

0

0

0

1

1

Khusus WK Eksplorasi, sebanyak 23 WK merupakan WK Coal Bed Methane (CBM) dan 150 WK minyak dan gas bumi aktif, serta terdapat 5 (lima) WK minyak dan gas bumi yang dalam proses terminasi karena tidak dapat melaksanakan komitmen pasti. Ke-5 WK tersebut adalah Yapen (Nations Petroleum) dan East Bawean II (Husky Oil), Rembang (Orna International Ltd), Offshore Halmahera Maluku (Halmahera Petroleum Ltd.) dan Donggala (Santos).t

Pada tahun 2010, BPMIGAS juga memberikan rekomendasi kepada pemerintah (Ditjen Migas) untuk penetapan terms and condition terhadap 44 WK baru minyak dan gas bumi serta 8 (delapan) WK CBM. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas pokok BPMIGAS untuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam rangka penetapan WK baru.

02 KEGIATAN EKSPLORASI

Kegiatan eksplorasi adalah kegiatan untuk mencari informasi yang lebih teliti dan lebih rinci mengenai kondisi wilayah kerja serta sumber daya minyak dan gas bumi di WK Eksplorasi maupun WK Produksi. Kegiatan eksplorasi mencakup kegiatan geofisika (melalui survei seismik 2D dan seismik 3D), pengeboran eksplorasi, coring, dan test produksi. Sementara pada WK CBM terdapat tambahan kegiatan pengeboran CBM dan dewatering.

STUDI G&G DAN TSA

Pelaksanaan studi Geologi dan Geofisika (G&G) dan Technical Assistance from Abroad (TSA) dilaksanakan berdasarkan persetujuan terhadap otorisasi ekspenditur (Authorization For Expenditure/AFE). Tahun 2010 terdapat 259 AFE Studi G&G eksplorasi dan 36 AFE TSA eksplorasi. Anggaran Studi G&G dan TSA eksplorasi adalah sebesar US$ 78,95 juta, terdiri dari anggaran untuk studi G&G sebesar US$ 70,64 juta (89%) dan untuk pekerjaan TSA sebesar US$ 8,31 juta (11%).

PENYELIDIKAN GEOFISIKA

Realisasi survei seismik 2D adalah 27.606 km dari rencana sepanjang 31.181 km, atau 89% dari rencana. Sementara untuk seismik 3D terealisasi seluas 7.411 km2 dari rencana seluas 9.612 km2 atau 81% dari rencana. Hambatan utama realisasi kegiatan adalah pembebasan tanah yang akan digunakan untuk menunjang kegiatan seismik. BPMIGAS melakukan koordinasi dengan instansi terkait (utamanya BPN dan Departemen Kehutanan) untuk mengatasi hambatan tersebut.

REALISASI SURVEI SEISMIK

35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Realisasi Seismik 2D (km)
Realisasi Seismik 3D (km2)
2006 2007 2008 2009 2010 Realisasi Seismik 2D (km) Realisasi Seismik 3D (km2) BPMIGAS Laporan Tahunan

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

PENGEBORAN EKSPLORASI

Realisasi pengeboran sumur eksplorasi tahun 2010 adalah 95 sumur, atau 75,4% dari rencana kegiatan sebanyak 126 sumur. Dibanding realisasi kegiatan tahun 2009, jumlah sumur eksplorasi yang berhasil dibor tahun 2010 lebih tinggi 21% dibanding jumlah sumur yang direalisasi tahun 2009. Tidak terlaksananya sebagian kegiatan yang telah direncanakan utamanya disebabkan oleh faktor pembebasan lahan dan perijinan. Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan oada tahun 2010 akan direalisasikan pada tahun 2011.

Penemuan cadangan kontingensi tahun 2010 sebesar 489,4 juta barrel setara minyak.

REALISASI KEGIATAN PENGEBORAN

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 2003 2004 2005 2006 2007
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

Realisasi Sumur Total30 20 10 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Realisasi Sumur Wildcat Realisasi Sumur

Realisasi Sumur Wildcat2005 2006 2007 2008 2009 2010 Realisasi Sumur Total Realisasi Sumur Delineasi Realisasi Sumur CBM PEMENUHAN

Realisasi Sumur Delineasi2009 2010 Realisasi Sumur Total Realisasi Sumur Wildcat Realisasi Sumur CBM PEMENUHAN KOMITMEN PASTI Sepanjang tahun

Realisasi Sumur CBMTotal Realisasi Sumur Wildcat Realisasi Sumur Delineasi PEMENUHAN KOMITMEN PASTI Sepanjang tahun 2010 pemenuhan

PEMENUHAN KOMITMEN PASTI

Sepanjang tahun 2010 pemenuhan komitmen pasti pada WK Eksplorasi untuk kegiatan seismik mengalami berbagai kendala di lapangan, sehingga sebagian rencana tidak dapat direalisasikan. Sebagai contoh, kegiatan seismik 2D terealisasi 69% dari yang direncanakan, sementara seismik 3D tercapai 45% dari rencana.

RENCANA DAN REALISASI PELAKSANAAN KOMITMEN PASTI TAHUN 2010 Production Test 0% Dewatering 0% Pengeboran CBM
RENCANA DAN REALISASI PELAKSANAAN KOMITMEN PASTI TAHUN 2010
Production Test
0%
Dewatering
0%
Pengeboran CBM
9%
Coring
24%
Pengeboran Eks
26%
Seismik 3D (Km2)
26%
Seismik 2D (Km)
69%
0
20
40
60
80
100
Realisasi
Rencana

Beberapa kendala utama yang dihadapi adalah masalah pengadaan peralatan penunjang kegiatan seismik termasuk rig dan kapal (23%), masalah perizinan di daerah kegiatan (13%), tumpang tindih lahan dengan kegiatan lainnya, termasuk dengan kehutanan (22%), masalah sosial masyarakat (2%) dan sengketa perbatasan dengan luar negeri (2%).

HAMBATAN PADA WK EKSPLORASI 23% 32% 2% 2% 13% 19% 9%
HAMBATAN PADA WK EKSPLORASI
23%
32%
2%
2%
13%
19%
9%

Teknis G&G/strategi eksplorasiHAMBATAN PADA WK EKSPLORASI 23% 32% 2% 2% 13% 19% 9% Perizinan Pemda Tumpang tindih dengan

Perizinan Pemda32% 2% 2% 13% 19% 9% Teknis G&G/strategi eksplorasi Tumpang tindih dengan hutan Masalah internal/ tidak

Tumpang tindih dengan hutan19% 9% Teknis G&G/strategi eksplorasi Perizinan Pemda Masalah internal/ tidak aktif Pembatasan PLN Sosial

Masalah internal/ tidak aktifeksplorasi Perizinan Pemda Tumpang tindih dengan hutan Pembatasan PLN Sosial Masyarakat Pengadaan rig/ kapal, dll

Pembatasan PLNTumpang tindih dengan hutan Masalah internal/ tidak aktif Sosial Masyarakat Pengadaan rig/ kapal, dll Akibat

Sosial Masyarakatdengan hutan Masalah internal/ tidak aktif Pembatasan PLN Pengadaan rig/ kapal, dll Akibat kendala-kendala di

Pengadaan rig/ kapal, dllinternal/ tidak aktif Pembatasan PLN Sosial Masyarakat Akibat kendala-kendala di lapangan, 44 WK Eksplorasi belum

Akibat kendala-kendala di lapangan, 44 WK Eksplorasi belum dapat melaksanakan komitmen pasti sesuai yang diatur dalam kontrak. Sementara hanya ada 4 (empat) WK Eksplorasi yang berhasil memenuhi komitmen pasti sesuai kontrak yang ditandatanganinya, yaitu Batanghari di Jambi (CNOOC Batanghari Ltd), Sekayu di Sumatra Selatan (Star Energy (Sekayu) Ltd, Karang Agung di Musi Banyu Asin (PT Odira Energy Karang Agung) dan Randugunting di Jawa Barat (PT Pertamina EP).

Dalam rangka pemenuhan komitmen pasti, Anadarko sebagai pengelola WK North East Madura (NEM) III mengajukan usulan perubahan komitmen pasti kepada Ditjen Migas dan telah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah (DITJEN MIGAS), khususnya pada pembelian data seismik 3D seluas 2.560 km2 yang diakui sebagai pemenuhan Komitmen Pasti.

PENEMUAN CADANGAN

Dari kegiatan pengeboran sumur-sumur eksplorasi pada WK Eksplorasi dan Produksi tahun 2010, berhasil ditemukan prospek cadangan minyak dan gas bumi pada 20 sumur. Total sumber daya yang ditemukan dari temuan tersebut sekitar 140 juta barrel minyak (MMBO) dan 2.095 miliar kaki kubik gas bumi (BCFG) atau setara dengan 490 MMBOE.

Dengan temuan cadangan baru minyak bumi pada tahun 2010 sebesar 140,2 MMBO dan produksi sebesar 344,9 MMBO (945 MBOPD) maka reserve replacement rate (RRR) pada tahun 2010 adalah sebesar 41% atau dengan kata lain setiap produksi 1 (satu) barrel minyak bumi hanya tergantikan 0,41 barrel dari hasil eksplorasi. Kondisi idealnya adalah minimal produksi 1 (satu) barrel minyak bumi tergantikan dengan penemuan hasil eksplorasi sebesar 1 (satu) barrel.

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

PENEMUAN CADANGAN TAHUN 2010

KKKS/JOB

WK

Nama Sumur

MMBO

BCF G

MMBOE

   

Pondok Makmur-C

1.1

0

1.1

Pondok Makmur-D

7.6

0

7.6

Pondok Makmur-E

1.9

0

1.9

PT. PERTAMINA EP

Indonesia

Jati Keling

3.3

0

3.3

PrabuMenang

15.5

0

15.5

PagarDewa Selatan-1

0

12.6

2.1

North Kedung Tuban-A

0

12.7

2.1

Petro China International Jabung Ltd.

Jabung

Panen Utara-1

7

6

8

Sabar-3

2

23.1

5.8

Petro China International (Bermuda)Ltd.

Kepala Burung

North Walio-1

2.3

0

2.3

PT. Seleraya Merangin Dua

Merangin II

West Belani Ext.1

9.4

38.7

15.8

   

Jangkrik-1

0

729.8

121.6

Eni Muara Bakau BV.

Muara Bakau

Jangkrik-2

0

318.4

53.1

Jangkrik-3

0

426.7

71.1

Anadarko Indonesia Nunukan Company

Nunukan

Badik-1/ST1

88.5

492

170.5

OT. Chevron Pacific Indonesia

Rokan

Prima-1

0.7

0

0.7

JOB Pertamina-Petrochina East Java

Tuban

Lengowangi-2A

0.1

0.075

0.1

PT. Sumatera Persada Energi

West Kampar

Pendalian-4

1

0

1

CITIC Seram Energy Limited

Seram

Nief Utara A-3 (USRD)

0.1

0

0.1

Serica Kutei B.V.

Kutai

Dambus-1

0

35

5.8

 

TOTAL

140.2

2095.1

489.5

 

Dengan adanya temuan baru tersebut, cadangan terbukti maupun potensial minyak dan gas bumi pada 01 Januari 2011 Indonesia adalah 7,41 miliar barrel minyak bumi dan 153,72 TSCF atau setara dengan 33,04 miliar BOE. Rincian cadangan minyak dan gas bumi Indonesia adalah sebagai berikut :

STATUS CADANGAN INDONESIA 2010

 

Sudah Produksi

Belum Produksi

Jumlah

Cadangan

Terbukti

Potential

Terbukti

Potential

Minyak + Kondensat (MMSTB)

3.604,56

3.089,58

280,78

444,73

7.419,64

GAS (Associated + Non Associated) (TSCF)

36,08

15,08

68,90

33,67

153,72

MIGAS (MMBOE)

9.617,83

5.599,45

11.764,89

6.055,82

33.040,98

Apabila cadangan yang ada diproduksikan dengan tingkat produksi saat ini maka cadangan minyak bumi Indonesia dapat memenuhi kebutuhan selama 12 tahun, sedangkan gas bumi dapat memenuhi kebutuhan selama 46 tahun.

03 KEGIATAN PRODUKSI

RENCANA PENGEMBANGAN LAPANGAN

Sepanjang tahun 2010, BPMIGAS menerima 48 usulan pengembangan lapangan oleh Kontraktor KKS (Plan of Development – POD). Melalui proses evaluasi, 32 dokumen telah disetujui, 9 (sembilan) dokumen masih dalam tahap evaluasi dan 7 (tujuh) POD dikembalikan. Sebagian besar dokumen POD yang dikembalikan disebabkan belum tersedianya data yang komprehensif, sehingga menyulitkan proses evaluasi.

USULAN POD 2010 OLEH KONTRAKTOR KKS

9 7 32
9
7
32

Usulan disetujuievaluasi. USULAN POD 2010 OLEH KONTRAKTOR KKS 9 7 32 Usulan dikembalikan Usulan dalam proses Dari

Usulan dikembalikanPOD 2010 OLEH KONTRAKTOR KKS 9 7 32 Usulan disetujui Usulan dalam proses Dari POD yang

Usulan dalam prosesKONTRAKTOR KKS 9 7 32 Usulan disetujui Usulan dikembalikan Dari POD yang disetujui, diharapkan pengembangan

Dari POD yang disetujui, diharapkan pengembangan lapangan-lapangan tersebut dapat menghasilkan produksi minyak bumi sebesar 194.1 MMBO dan gas bumi 1.533,74 BSCF. Besaran biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan lapangan sebesar US$ 3.33 miliar.

RINCIAN BIAYA YANG TERCANTUM DALAM POD 2010

0.23 1.01 Dalam Miliar US$ 3.33
0.23
1.01
Dalam
Miliar US$
3.33

InvestasiBIAYA YANG TERCANTUM DALAM POD 2010 0.23 1.01 Dalam Miliar US$ 3.33 Opex ASR BPMIGAS Laporan

OpexBIAYA YANG TERCANTUM DALAM POD 2010 0.23 1.01 Dalam Miliar US$ 3.33 Investasi ASR BPMIGAS Laporan

ASRBIAYA YANG TERCANTUM DALAM POD 2010 0.23 1.01 Dalam Miliar US$ 3.33 Investasi Opex BPMIGAS Laporan

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

PENGEBORAN SUMUR EKSPLOITASI & WORKOVER

Untuk menekan laju penurunan produksi di lapangan-lapangan yang telah diproduksikan, Kontraktor KKS melakukan pengeboran sumur tambahan (infill/sumur sisipan) serta pemeliharaan sumur. Pada tahun 2010 jumlah kegiatan pengeboran sumur eksploitasi sebanyak 951 sumur atau melebihi rencana kegiatan pengeboran tahun 2010 sebanyak 933 sumur.

JUMLAH RENCANA DAN REALISASI PENGEBORAN SUMUR INFILL 1400 1200 1000 800 Rencana 600 Realisasi 400
JUMLAH RENCANA DAN REALISASI PENGEBORAN SUMUR INFILL
1400
1200
1000
800
Rencana
600
Realisasi
400
200
0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Sementara pemeliharaan sumur dilakukan melalui kerja ulang/workover dan pemeliharaan
sumur/well service sebanyak 1.439 sumur. Realisasi ini mencapai 97% dari 1.487 sumur yang
direncanakan. Sebagian besar workover dilakukan di wilayah kerja PT CPI.

REALISASI WORKOVER

1700 1650 1600 1550 1500 1450 1400 1350 1300 2009 2010 Jumlah Workover
1700
1650
1600
1550
1500
1450
1400
1350
1300
2009
2010
Jumlah Workover

WP&BPT CPI. REALISASI WORKOVER 1700 1650 1600 1550 1500 1450 1400 1350 1300 2009 2010 Jumlah

REALISASIPT CPI. REALISASI WORKOVER 1700 1650 1600 1550 1500 1450 1400 1350 1300 2009 2010 Jumlah

KEGIATAN ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)

EOR adalah teknologi pengurasan lanjut yang menggunakan injeksi air, uap, bahan kimia, gas dan mikroba untuk meningkatkan perolehan minyak bumi di lapangan yang pada umumnya sudah tua (mature). Pada tahun 2010, sejumlah kontraktor KKS mengupayakan peningkatan produksi dengan menggunakan teknologi EOR yaitu dengan injeksi air, injeksi uap, injeksi gas dan injeksi kimia. Total produksi minyak yang dihasilkan dari kegiatan EOR tersebut sebesar 332,717 BOPD.

PELAKSANAAN PROGRAM EOR TAHUN 2010

Tambahan Produksi Minyak Primer Kontraktor Lapangan (Incremental Oil) (Baseline) KKS BOPD BOPD
Tambahan
Produksi
Minyak
Primer
Kontraktor
Lapangan
(Incremental Oil)
(Baseline)
KKS
BOPD
BOPD

Water Flood

PT CPI

Minas, Bekasap, Bangko, Balam South, Telisa, Libo SE, Kota Batak, Pungut, Cebakan dan Aman

98,526

17,962

PT Medco E&P

Kaji Semoga

3,525

8,653

PT Pertamina EP

Rantau, Talang Akar, Supa, Sago, TL. Jimar, Tanjung, Benakat, Benakat Timur, TT Barat, Beragai, Lirik, Kenali Asam, Tempino, Limau, Nglabo dan Kawengan

26,438

-

PT BOB - BSP

Zamrud, Pusaka, Beruk, Peudada dan Sabak

7,620

3,687

Total Indonesie

Handil Phase I dan II

3,075

-

CNOOC

Krisna Upper BRF, Krisna Lower BRF, Widuri, Intan, Vita Anryani, East Widuri dan Zelda

4,808

1,459

JOB Pertamina - Talisman

NE Air Serdang dan Guruh

4,678

-

 

Total Water Flood

148,670

31,761

 

Steam Flood

PT CPI

Duri dan NDD

184,047

-

 

Total Steam Flood

184,047

-

 

Total EOR

332,717

31,761

Kegiatan EOR pernah dilakukan di Lapangan Handil, Kalimantan Timur yang dikelola oleh Total E&P Indonesie, dengan menginjeksikan gas bumi ke dalam reservoir. Namun kegiatan ini tidak dilanjutkan karena gas yang diinjeksikan digunakan untuk memenuhi komitmen kepada pembeli.

Beberapa Kontraktor KKS saat ini sedang melakukan studi EOR, misalnya PT Chevron Pacific Indonesia studi untuk Lapangan Minas (dengan menggunakan kimia) dan PT Medco E&P studi untuk Lapangan Kaji Semoga (menggunakan kimia). BPMIGAS mendorong Kontraktor KKS meningkatkan produksi dengan menggunakan teknologi tersebut.

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

04 PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI

Realisasi produksi minyak dan gas bumi Indonesia tahun 2010 sebesar 2,52 juta barel oil equivalen per hari (BOEPD) atau lebih tinggi 6,56% dibandingkan realisasi produksi tahun 2009. Peningkatan produksi gas yang cukup signifikan hingga mencapai titik tertinggi selama sejarah perminyakan Indonesia, mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi tersebut. Peningkatan produksi gas bumi tersebut juga mengantarkan pencapaian produksi Indonesia2010 sama dengan pencapaian tahun 2003. Artinya penurunan produksi yang terjadi sejak tahun 2003 secara berlahan telah dapat ditingkatkan kembali.

REALISASI PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI

2,750 2,500 2,250 2,000 1,750 1,500 1,250 1,000 750 500 250 2000 2001 2002 2003
2,750
2,500
2,250
2,000
1,750
1,500
1,250
1,000
750
500
250
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Gas
Kondensat
Minyak
Ribu BOEPD

MINYAK DAN KONDESAT

Persetujuan WP&B yang berhasil diselesaikan BPMIGAS sebelum penutupan tahun memungkinkan Kontraktor KKS produksi melaksanakan kegiatan sejak awal tahun berjalan. Trend peningkatan produksi dapat ditunjukkan oleh realisasi produksi pada bulan Januari hingga September 2010, sehingga rata-rata produksi harian mencapai target APBN, yaitu sekitar 965 ribu BOPD.

PRODUKSI MINYAK DAN KONDENSAT TAHUN 2010 - (BOPD) APBN= 965 MBOPD 950,000 900,000 850,000 800,000
PRODUKSI MINYAK DAN KONDENSAT TAHUN 2010 - (BOPD)
APBN= 965 MBOPD
950,000
900,000
850,000
800,000
750,000
JAN-10 FEB-10 MAR-10
APR-10 MAY-10
JUN-10 JUL-10
AUG-10
SEP-10
OCT-10
NOV-10
DEC-10

Namun pada akhir September 2010, pipa minyak yang dioperasikan oleh Transportasi Gas Indonesia (TGI) pecah, sehingga 3 (tiga) Kontraktor KKS harus menghentikan produksinya selama beberapa hari karena pipa tersebut tidak dapat menyalurkan minyak ke tangki penampung Dumai. Ke-3 Kontraktor KKS tersebut adalah PT CPI, PT BOB BSP dan PT SPR Langgak.Dari peristiwa ini, produksi nasional berkurang 166,5 ribu BOPD. Usaha untuk mengembalikan produksi ke tingkat produksi awal membutuhkan waktu yang cukup lama.

Gangguan operasi lain yang memberikan kontribusi signifikan pada penurunan realisasi produksi minyak bumi 2010 adalah tertabraknya anjungan KE-40 milik Kodeco Energy Co oleh kapal yang hingga kini belum diketahui pemiliknya. Akibat peristiwa tersebut produksi minyak turun 2.400 BOPD karena anjungan tidak dapat difungsikan.

Mengingat banyaknya fasilitas produksi di lapangan minyak yang usianya lebih dari 20 tahun, maka unplanned shutdown juga merupakan kendala operasi yang tidak terhindarkan.

Dengan adanya berbagai gangguan tersebut di atas, maka Kontraktor KKS produsen minyak yang dapat memenuhi target APBN hanya 14 kontraktor, yaitu: Kodeco, Santos (Sampang), Vico, Medco (Tarakan), JOB Pertamina – PetroChina (Salawati), JOB Pertamina – Talisman OK, ExxonMobil Oil Ind, Chevron Indonesia, ConocoPhillips, JOB Pertamina, PetroChina Eastjava, PHE ONWJ, Pertamina, Total E&P Indonesie dan PT CPI. Realisasi produksi minyak bumi dan kondensat tahun 2010 adalah 945 ribu BOPD atau 97,9% dari target APBN sebesar 965 ribu BOPD.

Unplanned Keterlibatan Offtaker Proyek Bawah Perpanjangan Jumlah Shutdown Proyek Baru Tanah Plan Shutdown 196
Unplanned
Keterlibatan
Offtaker
Proyek
Bawah
Perpanjangan
Jumlah
Shutdown
Proyek
Baru
Tanah
Plan
Shutdown
196
282
Seleraya
CNOOC
& KEI
JOBP - Tallsman
(Jambi-Merang)
1
12
1
71
1
Pecah
pipa
TGI
7000
BOPD
14,043
2,496
4,156
80 4,130
481 25,946
BOPD
BOPD
BOPD
BOPD
BOPD
BOPD
BOPD
57.8%
9.6%
16%
0.3%
14.4%
1.9%
100%
Produk tidak terealisasi
Frekuensi

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

UPAYA PENAHANAN LAJU PENURUNAN PRODUKSI MINYAK BUMI

Sebagian besar produksi minyak bumi nasional berasal dari lapangan-lapangan tua yang telah mengalami penurunan produksi alamiah sekitar 7-12% per tahun. Untuk menekan laju penurunan produksi alamiah tersebut, dilakukan berbagai upaya yaitu usaha intensifikasi (antara lain meningkatkan kegiatan EOR dan seismik) serta usaha ekstensifikasi dengan mengusulkan blok-blok baru kepada Dirjen Migas.

REALISASI LAJU PENURUNAN PRODUKSI

Kenaikan 4 (%) 2 0 -2 -4 -6 -8 -10 -12 Penurunan -14 (%) 2003
Kenaikan
4
(%)
2
0
-2
-4
-6
-8
-10
-12
Penurunan
-14
(%)
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Produksi Minyak

Dari berbagai usaha yang dilakukan penurunan produksi dapat ditekan dari 8.4% tahun 2003, menjadi hanya 0.43% tahun 2010.

GAS BUMI

Realisasi produksi gas bumi dalam beberapa tahun terakhir selalu meningkat dan pada tahun 2010 realisasi produksi gas bumi merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah kegiatan minyak dan gas bumi Indonesia yaitu sebesar 8.857 MMSCFD atau meningkat 11% dibandingkan produksi pada tahun 2009 sebesar 7.962 MMSCFD. Peningkatan produksi tersebut dicapai setelah Indonesia merealisasikan proyek Tangguh di Papua.

M

M

S

C

F

D

PRODUKSI NASIONAL GAS 10,000 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 2000 2001
PRODUKSI NASIONAL GAS
10,000
9,000
8,000
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Gas

Selain dari proyek Tangguh yang dikelola oleh BP Indonesia, gas bumi nasional diproduksikan dari lapangan-lapangan yang dioperasikan oleh Total E&P Indonesie di Kalimantan Timur, Pertamina EP di region I, II dan III, PHE, ConocoPhillips di wilayah Sumatera dan Natuna, Vico Indonesia di Kalimantan Timur dan lapangan lainnya oleh Exxon Mobil di Aceh, Petrochina Jabung di Jambi, dan Kodeco Energy.

9,600

9,200

8,800

8,400

8,000

7,600

7,200

6,800

6,400

6,000

PRODUKSI DAN PENYALURAN GAS TAHUN 2010 - [MMSCFD] Produksi Lifting APBN = 7,758 MMSCFD Penyaluran
PRODUKSI DAN PENYALURAN GAS TAHUN 2010 - [MMSCFD]
Produksi
Lifting APBN = 7,758 MMSCFD
Penyaluran
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Des

Pemanfaatan gas untuk pemenuhan kebutuhan domestik semakin ditingkatkan.

Gangguan pada proses produksi gas bumi sepanjang tahun 2010 relatif tidak banyak jumlahnya karena fasilitas produksi masih relatif baru. Penurunan produksi yang terjadi umumnya bersifat operasional seperti adanya kegiatan perawatan, penggantian peralatan dan penurunan permintaan konsumen.

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

05 LIFTING MINYAK DAN GAS BUMI

LIFTING MINYAK BUMI

Realisasi lifting minyak bumi tahun 2010 adalah 954 ribu BOPD. Pencapaian ini adalah 98,9% dari target yang ditetapkan pemerintah dan DPR pada APBN 2010 sebesar 965 ribu BOPD. Realisasi lifting minyak bumi lebih tinggi dari realisasi produksi karena memanfaatkan stok yang ada tahun sebelumnya.

LIFTING DAN STOK MINYAK BUMI

Lifting migas 2,27 juta BOEPD atau naik 11,7% dari realisasi lifting tahun 2009

1.100 16 1.000 13 900 10 800 7 700 4 600 1 500 - 2
1.100
16
1.000
13
900
10
800
7
700
4
600
1
500
- 2
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGU
SEP
OKT
NOV
DES
Produksi (BOPD)
Lifting (BOPD)
Total Stok (BBL)
Produksi /Lifting (ribu BOPD)
Stok BBL (juta)

LIFTING GAS BUMI

Sementara itu lifting gas bumi meningkat 11% dibandingkan realisasi lifting pada tahun 2009, yakni dari 6.943 BBTUD menjadi 7.681 BBTUD. Peningkatan lifting ini sejalan dengan meningkatnya produksi gas bumi sepanjang tahun 2010.

Lifting gas bumi digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan ekspor yang disebabkan oleh mulai berproduksinya kilang LNG Tangguh di Papua yang telah didedikasikan untuk ekspor.

REALISASI LIFTING GAS BUMI

5,000 Tangguh 710 BBTUD 4,500 4,000 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 500 - 2003
5,000
Tangguh 710 BBTUD
4,500
4,000
3,500
3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
500
-
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Ekspor
Domestik
BBTUD

06 PENERIMAAN NEGARA DAN COST RECOVERY

Industri hulu migas merupakan salah satu sektor utama pendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia. Tahun 2010 penerimaan negara dari sektor migas sebesar US$26,489 miliar atau meningkat sebesar 32.78% dibandingkan dengan penerimaan tahun 2009 sebesar US$19,950 miliar. Realisasi penerimaan negara tahun 2010 tersebut juga melampaui target APBN 2010 yakni sebesar US$26,060 miliar. Faktor utama pencapaian penerimaan Negara ini adalah realisasi cost recovery yang lebih rendah dari target APBN.

PENERIMAAN NEGARA TAHUN 2005-2011

60 50 40 30 20 10 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gross Revenue Indonesian
60
50
40
30
20
10
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Gross Revenue
Indonesian Share
Cost Recovery
Net Contractor Share
Miliar US$

Penerimaan negara US$26.49 miliar atau naik 32,78% dibandingkan penerimaan tahun 2009

Penerimaan Negara tersebut belum termasuk potensi penerimaan negara dari pajak-pajak tidak langsung seperti Pajak Bumi dan Bangunan, PPN, Pajak Daerah dan Pajak Penghasilan Karyawan pekerja industri hulu migas tahun 2010 sebesar Rp 26,9 triliun.

PERKEMBANGAN PAJAK TIDAK LANGSUNG MIGAS 2006-2010

30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Miliar Rupiah
30,000
25,000
20,000
15,000
10,000
5,000
0
2006
2007
2008
2009
2010
Miliar Rupiah

Pajak Pertambahan Nilai5,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Miliar Rupiah Pajak Bumi dan Bangunan MIGAS Selama satu

Pajak Bumi dan Bangunan MIGAS2008 2009 2010 Miliar Rupiah Pajak Pertambahan Nilai Selama satu dasawarsa terakhir penerimaan negara dari

Selama satu dasawarsa terakhir penerimaan negara dari industri hulu migas memberi kontribusi 20% hingga 30% dari total penerimaan negara. Sebagai sebuah entitas bisnis, dalam kurun waktu 2005 sampai 2010, industri hulu migas secara konsisten menunjukkan Revenue to Cost Ratio rata-rata diatas 400%. Artinya, setiap US$1 yang dibayarkan sebagai biaya dapat menghasilkan sedikitnya US$4. Kondisi ini menunjukkan, bahwa cost recovery yang dibayarkan dari hasil penjualan migas, mampu mendorong penerimaan negara yang jauh lebih besar lagi. Realisasi cost recovery tahun 2010 sebesar US$12 miliar berada 1,5% dibawah target APBN yakni sebesar US$12.2 miliar.

Realisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Tahun 2010

07 REALISASI INVESTASI

Investasi industri hulu migas dalam 5 (lima) tahun terakhir yang ditunjukkan oleh besarnya expenditures (pengeluaran) memperlihatkan perkembangan yang sangat positif. Total expenditures yang dikeluarkan pada periode (2006-2010) mencapai US$54.42 miliar. Sedikitnya 20% dari nilai tersebut diinvestasikan dalam bentuk belanja modal (Capital Expenditures – Capex) yang merupakan jaminan kelanjutan tingkat produksi migas Indonesia. Belanja Modal dimaksud merupakan pertambahan aset negara di industri hulu migas.

REALISASI INVESTASI HULU MIGAS

14

12 10 8 6 4 2 2006 2007 2008 2009 2010 Capital Non Capital Juta
12
10
8
6
4
2
2006
2007
2008
2009
2010
Capital
Non Capital
Juta US$

*) Data Tahun 2010 merupakan data sementara pertanggal 22 Februari 2011

Dibanding investasi yang ditanamkan oleh industri dari sektpr lainnya, investasi di industri hulu migas merupakan yang paling besar. Peranannya untuk meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) dan pertumbuhan ekonomi sangat signifikan sehingga tren positif investasi di industri hulu migas harus dipertahankan melalui kebijakan investasi yang kondusif.

KENDALA INVESTASI

Sepanjang tahun 2010, masih terdapat beberapa kendala yang mengganggu realisasi investasi hulu migas. Sebagian besar kendala muncul karena terbitnya peraturan perundangan yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi industri hulu migas Indonesia, atau tidak sesuai dengan peraturan yang telah ada sebelumnya.

Pengaruh tumpang tindih peraturan ini cukup besar pada realiasi investasi, sebab industri hulu migas selalu menuntut kejelasan peraturan demi kepastian investasi, mengingat jumlah yang akan ditanamkan cukup besar. Beberapa peraturan baru terbukti mengganggu proses produksi secara langsung karena Kontraktor KKS dituntut menambah biaya yang cukup tinggi dalam waktu yang cukup singkat.

biaya yang cukup tinggi dalam waktu yang cukup singkat. Undang-undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran.

Undang-undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Undang-undang tersebut mensyaratkan penerapan secara efektif azas cabotage bagi seluruh jenis kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia, selambat-lambatnya tahun 2011. Masalah muncul karena kapal-kapal yang diperlukan oleh industri hulu migas seperti seismik, pengeboran dan pemeliharaan sumur, termasuk di dalam katagori tersebut. Selain itu, belum ada satu perusahaan nasional pun yang mampu menyediakannya, dan dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk membangunnya.

Akibat peraturan yang diterapkan secara apa adanya tanpa memilah tugas dan fungsi kapal, muncul gangguan operasi yang cukup signifikan, misalnya beberapa kapal pengeboran yang telah habis masa kontraknya harus segera meninggalkan wilayah Indonesia walaupun belum menyelesaikan kegiatannya. Beberapa Kontraktor KKS juga kesulitan mendapatkan sewa kapal seismik untuk kegiatan pengeboran tahun 2011 karena perusahaan dalam negeri belum dapat menyediakan kapal yang dibutuhkannya.

Peraturan Pemerintah No 79 tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan Pemberlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Walaupun di satu sisi peraturan ini memberikan berbagai kepastian hukum di bidang perpajakan (pemberlakuan ketentuan lex specialist untuk Kontraktor KKS eksplorasi), serta memberikan keleluasaan lebih pada penggunaan cost recovery tanpa pembatasan (capping), namun investor menganggap peraturan tersebut masih mengandung ketentuan yang tidak menghargai sanctity contrack.negeri belum dapat menyediakan kapal yang dibutuhkannya. Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Berdasarkan Undang-undang tersebut, Pemerintah Daerah diberi wewenang untuk penataan ruang. Namun dalam penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kegiatan usaha hulu migas yang sedang berjalan sering diabaikan karena masih dianggap bukan sebagai obyek vital nasional. Keberadaannya hanya diperhitungkan layaknya sebuah proyek swasta biasa.ketentuan yang tidak menghargai sanctity contrack. Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup.

Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup. Pemberlakuan Undang-undang tersebut memunculkan masalah pada operasional hulu migas ketika peraturan menteri pendukung undang-undang tersebut, yaitu Permen No. 04 tahun 2007 dikeluarkan. Masalah yang muncul utamanya pada pasal 2 lampiran I yang menyatakan baku mutu air limbah/air terproduksi baru boleh dibuang ke lingkungan bila temperaturnya sudah di bawah 40 derajat Celsius, sementara industri lainnya, termasuk panas bumi/kilang minyak/kilang LNG/kilang LPG masih diperbolehkan membuang pada temperature maksimal 45 derajat Celsius. Akibat perubahan ini, peralatan produksi yang telah ada harus direnovasi, sehingga Kontraktor KKS bersangkutan harus mengeluarkan biaya tambahan dan waktu pengadaan peralatan. Namun peraturan yang memberatkan Kontraktor KKS ini kemudian dapat diatasi dengan kebijakan pemberian waktu tambahan bagi Kontraktor untuk merenovasi peralatannya.hanya diperhitungkan layaknya sebuah proyek swasta biasa. Masih ada beberapa peraturan daerah yang bertentangan dengan

Masih ada beberapa peraturan daerah yang bertentangan dengan ketentuan pemerintah pusat, sehingga membebani pelaksanaan kegiatan hulu migas di daerah.tambahan bagi Kontraktor untuk merenovasi peralatannya. Tumpang tindih lahan kegiatan hulu migas dan kegiatan

Tumpang tindih lahan kegiatan hulu migas dan kegiatan lainnya. Masalah pengadaan tanah untuk mendukung kegiatan hulu migas merupakan salah satu gangguan utama yang menyebabkan rencana investasi tidak dapat direalisasikan pada tahun 2010. Untuk menyelesaikan masalah, beberapa langkah dilakukan BPMIGAS, misalnya melakukan koordinasi dengan Menteri Kehutamam (untuk kasus pengadaan tanah yang bersinggungan dengan wilayah kehutanan), berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasioal serta membentuk tim adhoc yang terjun langsung membantu tim Kontraktor KKS untuk membebaskan tanah milik masyarakat. Model penyelesaian terakhir ini terbukti efektif ketika membantu proses pengadaan tanah proyek MCL di Cepu.pemerintah pusat, sehingga membebani pelaksanaan kegiatan hulu migas di daerah. BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 26

PELAKSANAAN PROYEK HULU MINYAK DAN GAS BUMI

2

Beberapa proyek hulu minyak dan gas bumi yang dilaksanakan pada tahun 2010 digolongkan sebagai proyek utama. Penggolongan ini mempertimbangkan nilai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek, produksi yang akan dihasilkan oleh proyek tersebut atau teknologi canggih yang akan digunakan untuk mendukungnya. Sebagian proyek berada di wilayah laut (offshore) dan sebagian lainnya di darat (onshore). BPMIGAS dan Kontraktor KKS berusaha agar proyek- proyek tersebut dapat direalisasi tepat waktu untuk memenuhi target produksi minyak dan gas bumi.

01 PELAKSANAAN PROYEK-PROYEK ONSHORE

A

PENGEMBANGAN FULL SCALE LAPANGAN BANYU URIP

Pengembangan Lapangan Banyu Urip di WK Blok Cepu Onshore dilaksanakan oleh Mobil Cepu Limited (MCL). Pembangunan proyek dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu pembangunan fasilitas early production dan full scale. Sasaran tahap early production adalah dicapainya produksi minyak bumi sekitar 20 ribu BOPD pada akhir tahun 2009, sementara sasaran tahap full scale adalah realisasi produksi sekitar 165 ribu BOPD pada akhir tahun 2013.

Tahap early production telah diselesaikan pada 31 Agustus 2009 dengan tingkat produksi sekitar 1.700 BOPD. Produksi kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap sehingga sepanjang tahun 2010 proyek tersebut telah menghasilkan produksi rata-rata 18.500 BOPD.

Sementara untuk mendukung realisasi proyek full scale, sepanjang tahun 2010 BPMIGAS telah menyetujui rencana pengadaan kebutuhan proyek, yaitu untuk pengadaan fasilitas produksi (Engineering Procurement Construction/EPC-1), pengadaan pipa di darat (EPC- 2), pengadaan pipa di laut (EPC-3), pengadaan floating storage and offloading (EPC-4) dan pengadaan untuk infrastruktur pendukung (EPC-5). Pada akhir tahun 2010, proses lelang kelima EPC sedang berlangsung dan rencananya pemenang lelang akan diumumkan awal April 2011.

Pengadaan tanah seluas 700 hektar untuk mendukung pelaksanaan proyek juga mengalami kemajuan pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pencapaian ini merupakan hasil kerjasama yang intensif antara tim BPMIGAS dan Kantor Pertanahan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro dalam memproses surat-surat dan peta bidang dari tanah yang dibebaskan.

Pada akhir tahun 2010 pembebasan tanah untuk Central Field Facilities (CFF) telah mencapai 73% dan pembebasan tanah untuk Right of Way (ROW) / jalur pipa onshore dapat diselesaikan sekitar 84%. Adapun tanah untuk fasilitas infrastruktur (EPC-5) seluas 204 Ha telah selesai dibebaskan 100% dengan bantuan BUMD Kabupaten Bojonegoro. Semua pembayaran dan penandatanganan Akte Pelepasan Hak Tanah dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung.

Pelaksanaan Proyek Hulu Minyak dan Gas Bumi

B

PENGEMBANGAN PROYEK JAMBI MERANG

Pengembangan Proyek Jambi Merang di Sumatra Selatan dilaksanakan oleh JOB Pertamina - Talisman Jambi Merang. Pelaksanaan proyek yang meliputi 2 (dua) lapangan yaitu Pulau Gading dan Sungai Kenawang ini ditargetkan menghasilkan gas bumi sebesar 120 BBTUD serta kondensat sebesar 12.500 BOEPD. Sebagian gas bumi akan digunakan untuk menunjang kebutuhan operasi Lapangan Duri yang dikelola oleh Chevron Pacific Indonesia (CPI) untuk keperluan steam flood agar target produksi Lapangan Duri dapat tercapai. Sebagian gas bumi lainnya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat.

Investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek ini sekitar US$464.4 juta, antara lain digunakan untuk :

Membangun fasilitas produksi gas bumi di Pulau Gading berupa fasilitas pemisah dengan kapasitas 95 MMSCFD (feed gas).ini sekitar US$464.4 juta, antara lain digunakan untuk : Membangun Central Gas Production Facilities di Sungai

Membangun Central Gas Production Facilities di Sungai Kenawang berupa fasilitas pemisah dan pemurnian gas bumi serta Condensate Recovery dengan kapasitas sebesar 155 MMSCFDfasilitas pemisah dengan kapasitas 95 MMSCFD (feed gas). Pemasangan pipa penyaluran gas bumi dari Sungai Kenawang

Pemasangan pipa penyaluran gas bumi dari Sungai Kenawang Gas Plant ke jalur pipa yang dikelola oleh PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) sepanjang 14 km agar gas bumi dapat dialirkan ke Lapangan Duri, PKB Batam dan PDPE Sumsel.Condensate Recovery dengan kapasitas sebesar 155 MMSCFD Pemasangan pipa penyalur gas bumi dan kondensat dari Pulau

Pemasangan pipa penyalur gas bumi dan kondensat dari Pulau Gading ke Sungai Kenawang Gas Plant sepanjang 11,5 km serta pipa penyalur kondensat dari Sungai Kenawang Gas Plant ke North Geragai Facilites (pemakaian fasilitas bersama dengan PetroChina Jabung) sepanjang 110 km.dapat dialirkan ke Lapangan Duri, PKB Batam dan PDPE Sumsel. C Sampai akhir tahun 2010 pembangunan

C

Sampai akhir tahun 2010 pembangunan Central Gas Production Facilities Sungai Kenawang dan Gas Production Facilities Pulau Gading telah mencapai 99,2%, penyambungan pipa (tie- in) ke North Geragai Facilities mencapai 77,1% dan tie-in ke pipa gas TGI mencapai 20,8%. Seluruh proyek direncanakan selesai pada Semester I tahun 2011.

PENGEMBANGAN PROYEK BETARA BCD-4

Proyek Betara di Provinsi Jambi dilakukan oleh PetroChina International Jabung Ltd. Proyek BCD-4 adalah proyek pengembangan lanjutan Lapangan Betara untuk memanfaatkan gas bumi yang dibakar (flaring) dari associated gas Area South West Betara dan West Betara serta pembangunan pipa minyak bumi dengan kapasitas 9.300 BOPD. Pembangunan pipa tersebut untuk menggantikan pengangkutan minyak bumi yang selama ini dilakukan dengan mengggunakan truk (temporary trucking). Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan meliputi pemasangan kompresor, flowlines dan Gathering System untuk sumur, dan pemasangan vapour recovery system.

Pada akhir Desember 2010 realisasi proyek telah mencapai 95,34% dan diharapkan dapat diselesaikan pada kuartal kedua tahun 2011. Investasi untuk pembangunan fasilitas produksi BCD-4 ini diperkirakan sebesar US$122.5 ribu.

D

PENGEMBANGAN LAPANGAN SINGA

Proyek pengembangan dan pembangunan Central Processing Plant (CPP) Lapangan Singa yang dilakukan oleh Medco E&P Lematang, terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Proyek dilaksanakan untuk mendukung produksi dari Lapangan Singa-1, Singa-3 dan Singa-4 yang diperkirakan dapat menghasilkan gas bumi sekitar 50 MMSCFD. Berdasarkan penjanjian penjualan yang telah ditandatangani, gas bumi akan dimanfaatkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Pekerjaan konstruksi telah dimulai sejak Januari 2008 dan pada akhir tahun 2010 telah dapat memproduksikan gas bumi sekitar 30 MMSCFD dari Sumur Singa-3. Penyelesaian seluruh proyek sempat tertunda dari rencana awal yaitu Desember 2009. Hal ini disebabkan mundurnya penyelesaian pengeboran sumur Sumur Singa-1 dan Singa-4 sehingga pasokan gas bumi untuk kegiatan commissioning belum dapat dilakukan.

E

NORTH DURI DEVELOPMENT (NDD) AREA-12

Lapangan North Duri terletak di Provinsi Riau, dan dioperasikan oleh PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). Untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi dari lapangan tersebut, pada tahun 2010 dilakukan pengembangan Area-12 yang juga merupakan bagian dari pengembangan Area-13 dan Area-14. Sejak tahun 2008, Area-12 telah mulai berproduksi. Pengembangan area ini diharapkan dapat menghasilkan produksi sekitar 34 ribu BOPD di tahun 2011.

Pada kegiatan pengembangan NDD Area-12, lingkup pekerjaan yang dilakukan adalah membangun test station, CVC (Casing Vapor Collection), Degassin, sistem pemipaan, kelistrikan dan instrumentasi, serta pembangunan jalan utama Area-12 untuk memudahkan mobilisasi ke lapangan. Investasi yang dicadangkan untuk proyek ini sekitar US$207.7 juta, sementara estimasi biaya project to completion sekitar US$168.4 juta.

Pada akhir tahun 2010, penyelesaian proyek telah mencapai 99,2%. Finalisasi pekerjaan adalah penyempurnaan kinerja fasilitas pendukung yang tidak terkait dengan fasilitas utama.

penyempurnaan kinerja fasilitas pendukung yang tidak terkait dengan fasilitas utama. BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 32

Pelaksanaan Proyek Hulu Minyak dan Gas Bumi

F

MINAS SURFACTANT FIELD TRIAL 2

Proyek yang dilaksanakan di Lapangan Minas oleh PT CPI ini merupakan studi untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan bagi implementasi program Enhanced Oil Recovery (EOR) skala besar. Saat ini, untuk membantu proses pengambilan minyak bumi dari Lapangan Minas, PT CPI menggunakan teknologi water flooding, yaitu menginjeksikan air panas ke reservoir sehingga minyak bumi terdorong ke permukaan. Namun teknologi tersebut belum dapat mengangkat semua minyak bumi dari dalam reservoir. Diperkirakan Lapangan Minas masih mengandung minyak bumi lebih dari 4 (empat) miliar barel yang belum dapat diambil (recover) setelah water flooding. Penerapan teknologi surfactant/ polymer EOR (kimia) diperkirakan dapat membantu pengambilan minyak bumi sebesar 841 juta barel.

 

Biaya investasi untuk proyek ini diperkirakan sekitar US$157.3 juta, yang akan digunakan untuk pembangunan fasilitas produksi, pengeboran sumur, pengadaan bahan kimia dan project manajement. Untuk keperluan pilot project, maka sumur yang dikembangkan terdiri dari sumur injeksi chemical, sumur produksi, sumur monitor, sumur S - sand injection well, dan sumur coring.

Sampai akhir tahun 2010, realisasi keseluruhan proyek telah mencapai 66,2%, diharapkan kegiatan injeksi pertama dapat dilakukan pada akhir Maret 2012.

G

PENGEMBANGAN LAPANGAN GAS BUMI SOUTH SEMBAKUNG

Pengembangan Lapangan South Sembakung yang terletak di Onshore Simenggaris Block di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur dilakukan oleh JOB Pertamina Medco Simenggaris Pty. Ltd. Berdasarkan Plan of Development (POD) yang disetujui BPMIGAS, biaya proyek sekitar US$ 22 juta.

Pengembangan lapangan dilakukan melalui pemasangan pipa dan gas manifold untuk menyalurkan produksi dari sumur dengan produksi sekitar 25 MMSCFD, menuju Kilang Methanol Bunyu (KMB) yang akan dibangun oleh Konsorsium Pertagas – Medco Gas.

Kegiatan produksi direncanakan dapat terealisasi Desember 2011. Pada akhir 2010, kemajuan proyek telah mencapai 10,03% sesuai target yang telah ditetapkan.

02 PELAKSANAAN PROYEK-PROYEK OFFSHORE

A

INDONESIAN DEEPWATER DEVELOPMENT (IDD)

Proyek IDD merupakan pengembangan 5 (lima) lapangan gas bumi di laut dalam Makasar (antara 975 m – 1.785 m) pada 4 (empat) WK, yaitu Ganal, Rapak, Makassar Strait dan Muara Bakau. Lapangan-lapangan yang dikembangkan adalah Lapangan Gendalo, Maha, Gandang, Gehem dan Bangka. Lapangan Gendalo merupakan unitisasi antara WK Ganal dan Makassar Strait; Lapangan Maha merupakan unitisasi antara WK Ganal, Makassar Strait dan Muara Bakau; sedangkan Lapangan Gehem merupakan unitisasi WK Ganal dan Rapak dan Lapangan Bangka di Wilayah Kerja Rapak. Operator pelaksana unitisasi PSC tersebut adalah Chevron Indonesia Company (CICo).

Pengembangan lapangan-lapangan ini dilakukan secara terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan gas bumi domestik maupun ekspor. Gas bumi yang dialokasikan untuk ekspor terlebih dahulu akan diolah menjadi LNG di Kilang LNG Bontang yang juga terletak di Kalimantan Timur.

Ruang lingkup proyek terdiri dari pengeboran sumur dan pembangunan fasilitas produksi. Fasilitas produksi yang akan dibangun adalah : di Lapangan Bangka akan dibangun subsea flowline dari sumur menuju Floating Production Unit (FPU) West Seno (existing), di Lapangan Gehem akan dibangun FPU, subsea completion dan pipa produksi menuju Terminal Santan, sementara di Lapangan Gendalo yang juga digunakan sebagai Hub akan dibangun FPU, subsea completion dan pipa produksi menuju Terminal Santan.

Direncanakan pada kwartal 3 (tiga) tahun 2014, pengiriman gas bumi ke konsumen akan dimulai dari Lapangan Bangka sebesar 120 MMSCFD dan kondensat sebesar 2.880 BOPD. Produksi akan ditingkatkan secara bertahap, sehingga pada tahun 2017 akan mencapai puncak produksi gas bumi sebesar 924 MMSCFD dan kondensat sebesar 23 ribu BOPD. Kemudian produksi akan menurun hingga mencapai economic limit pada tahun 2028.

Investasi untuk pengembangan proyek IDD diperkirakan sebesar US$ 6.98 miliar, yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan pengeboran dan pembangunan fasilitas produksi. Sementara itu, untuk mengurangi dampak kegiatan terhadap lingkungan, CICo juga telah menyusun Kerangka Acuan AMDAL, yang diharapkan dapat disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada akhir tahun 2011.

Pelaksanaan Proyek Hulu Minyak dan Gas Bumi

B

PENGEMBANGAN LAPANGAN GAS BUMI ABADI MASELA

Lapangan Gas Bumi Abadi ditemukan pada bulan Desember tahun 2000 melalui pengeboran sumur eksplorasi Abadi #1 di Blok Masela yang dioperasikan oleh INPEX. Lapangan Abadi terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), di Laut Arafura, berjarak sekitar 350 km di sebelah timur Pulau Timor, dengan kedalaman laut berkisar antara 400 - 700 meter.

Pemerintah (Menteri ESDM) telah menerbitkan persetujuan POD Pertama Lapangan Abadi Blok Masela pada tanggal 6 Desember 2010. Pengembangan proyek adalah menggunakan Floating LNG berkapasitas 2,5 MTPA.

Pengembangan lapangan tahap pertama dirancang dengan perkiraan biaya investasi sebesar US$ 4.99 miliar dan biaya operasi sebesar US$ 4.01 miliar. Produksi gas bumi diharapkan dapat terealisasi pada tahun 2016 dengan rata-rata produksi sebesar 355 MMSCFD selama 30 tahun. Produksi awal kondensat sebesar 7.106 BOPD akan ditingkatkan secara bertahap menjadi 8.194 BOPD pada periode tahun 2020 – 2041. Setelah masa itu produksi diperkirakan menurun hingga tahun 2049.

C

PENGEMBANGAN LAPANGAN GAS BUMI APN E DAN APN F

Lapangan Gas Bumi APN E dan APN F terletak di WK Offshore North West Java yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java Ltd (PHE ONWJ). Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan fasilitas produksi proyek pengembangan tersebut diperkirakan sebesar US$ 97.26 juta.

D

Pengembangan Lapangan Gas Bumi APN E/F dilakukan untuk meningkatkan produksi gas bumi guna memenuhi peningkatan permintaan konsumen, misalnya untuk pemenuhan kebutuhan Pupuk Kujang. Seluruh proyek pengembangan dijadwalkan dapat diselesaikan pada Desember 2011.

PENGEMBANGAN LAPANGAN GAJAH BARU-NATUNA SEA BLOCK A

Lapangan Gajah Baru terletak di bagian selatan wilayah kerja Natuna Sea Block A yang dioperasikan oleh Premier Oil Natuna Sea B.V. (PONSBV). Pengembangan lapangan ini berdasarkan persetujuan POD Lapangan Gajah Baru, Iguana dan Naga tanggal 14 April 2008 dengan total biaya investasi fasilitas produksi sebesar US$ 873 juta. Khusus untuk pengembangan Lapangan Gajah Baru, investasi sebesar US$ 418 juta yang akan digunakan untuk Central Processing Platform (CPP), Wellhead Platform (WP), pipeline dan Onshore Receiving Facilities (ORF).

Lapangan Gajah Baru dikembangkan untuk memenuhi komitmen gas bumi pada konsumen dalam negeri di wilayah Batam yakni PT PLN dan PT UBE serta konsumen luar negeri, yaitu Sembgas (Singapura). Komitmen pengiriman gas bumi dari Lapangan Gajah Baru adalah pada tahun 2011. Pada akhir tahun 2010, kegiatan pembangunan proyek telah mencapai 74,7%.

E

PENGEMBANGAN LAPANGAN TUNU

Lapangan Tunu merupakan lapangan raksasa dengan panjang sekitar 75 km dan lebar sekitar 18 km di tepi Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Lapangan Tunu dioperasikan oleh Total E&P Indonesie (TEPI) berdasarkan Mahakam Production Sharing Contract (TEPI dan INPEX masing-masing menguasai 50% saham). Lapangan ini menyuplai kebutuhan gas bumi Kilang LNG Bontang (untuk selanjutnya diekspor) dan untuk konsumen domestik seperti PT Pupuk Kaltim dan PLN.

Pengembangan Lapangan Tunu dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2010 kegiatan pengembangan dilakukan pada Proyek Tunu Phase 11, Proyek Tunu Phase 12 dan Proyek Tunu Phase 13A.

TUNU PHASE 11 Pengembangan Tunu Phase 11 adalah pembangunan fasilitas kompresi, manifold dan utility agar tingkat produksi gas bumi dari sumur-sumur di wilayah Tunu South dan Tunu North dapat dipertahankan. Proyek ini dilaksanakan karena terjadi penurunan alami tekanan di kepala sumur dari 30 barg menjadi 10 barg (Low Pressure). Melalui pembangunan fasilitas ini produksi gas bumi dapat ditingkatkan kembali sebesar 200 – 250 MMSCFD. Seluruh proyek telah dapat diselesaikan pada akhir Juni 2010 dengan total investasi sekitar US$ 554 juta.

TUNU PHASE 12 Fasilitas Tunu Phase 12 merupakan fasilitas Gathering Testing Satellite (GTS) & Wellhead Platform (WHP) untuk mengakomodir penambahan sumur dalam upaya meningkatkan produksi sebesar 405 MMSCFD. Proyek telah diselesaikan pada akhir April 2010 dengan total investasi sekitar US$108 juta, sehingga beberapa sumur juga telah berhasil diproduksikan. Pengeboran sumur dilakukan secara bertahap, sesuai dengan disain yang telah ditetapkan.

TUNU PHASE 13A Pengembangan Tunu Phase 13A merupakan proyek pembangunan fasilitas Gathering Testing Satellite (GTS) & Wellhead Platform (WHP) untuk mengakomodir penambahan sumur dalam upaya meningkatkan produksi sebesar 270 MMSCFD.

Seluruh proyek telah selesai pada awal Juni 2010 dengan total investasi sekitar US$ 103 juta. Produksi gas dari beberapa sumur yang telah diproduksikan dialirkan melalui pipa trunkline yang telah ada. Pengeboran sumur dilakukan secara bertahap pada WHP-WHP yang sudah disediakan.

Pelaksanaan Proyek Hulu Minyak dan Gas Bumi

F

PENGEMBANGAN LAPANGAN PECIKO

Lapangan Peciko yang terletak 25 km sebelah Tenggara Senipah, Kalimantan Timur dioperasikan oleh Total E&P Indonesie (TEPI) berdasarkan Mahakam Production Sharing Contract (TEPI : 50% dan INPEX : 50%). Seluruh produksi Lapangan Peciko dialirkan ke Onshore Processing Central Senipah, untuk diproses (dilakukan pemisahan dan treatment) sehingga memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan untuk gas bumi, minyak bumi/kondensat dan air buangan.

Proyek pengembangan Lapangan Peciko yang dilaksanakan pada tahun 2010 terdiri dari Proyek Peciko Phase 6 LP Compression dan Proyek Peciko Phase 7A.

PECIKO PHASE 6 LP COMPRESSION Proyek Fasilitas Peciko Phase 6 LP Compression merupakan pembangunan fasilitas kompresi untuk mengantisipasi penurunan alami tekanan kepala sumur di Lapangan Peciko dari 30 barg menjadi 12 barg (Low Pressure), sehingga produksi gas bumi dari lapangan tersebut diharapkan dapat dipertahankan sebesar 333 MMSCFD pada tahun 2015.

Seluruh proyek telah selesai pada awal Mei 2010 dengan investasi sekitar US$ 178 juta. Dengan adanya proyek ini, sumur-sumur yang ada di Lapangan Peciko yang sudah dalam kondisi low pressure kini dapat dikompresi di LP Compression train.

PECIKO PHASE 7A Proyek Peciko Phase 7A merupakan proyek penambahan extension platform pada beberapa platform yang sudah ada di lapangan Peciko untuk mengakomodir penambahan sumur dalam upaya meningkatkan produksi sebesar 85 MMSCFD pada tahun 2010 dan 156 MMSCFD pada tahun 2011.

Gambar L10. Peciko Phase 7A Extension Platform

Total investasi proyek Peciko Phase 7A adalah US$46.56 ribu. Proyek diharapkan dapat diselesaikan pada November 2011. Pada Desember 2010 pelaksanaan proyek telah mencapai

86,78%.

Proyek diharapkan dapat diselesaikan pada November 2011. Pada Desember 2010 pelaksanaan proyek telah mencapai 86,78%. 37

G

PENGEMBANGAN LAPANGAN SOUTH MAHAKAM

Lapangan South Mahakam terletak 58 km sebelah Barat Daya Lapangan Peciko atau 100 km dari Senipah, Kalimantan Timur. Lapangan South Mahakam dioperasikan oleh Total E&P Indonesie (TEPI) berdasarkan Mahakam Production Sharing Contract (TEPI : 50% dan INPEX : 50%) yang diterima seluruh produksi Lapangan South Mahakam dialirkan ke Onshore Processing Central di Senipah, untuk dilakukan proses pemisahan dan treatment, sebelum gas bumi dikirimkan ke Bontang. Proyek pengembangan Lapangan South Mahakam ini dilaksanakan guna mendukung pengembangan Lapangan South Mahakam Phase 1 & 2 agar dapat memproduksikan gas bumi sebesar 128 MMSCFD dan kondensat 5900 BOPD pada tahun 2012.

Total investasi untuk pembangunan fasilitas produksi South Mahakam Phase 1 dan Phase 2 ini US$382.59 ribu. Pada akhir tahun 2010, kemajuan proyek telah mencapai 16,26%, dan diperkirakan proyek dapat diselesaikan pada kuartal pertama tahun 2012.

H

PROYEK PENDALAMAN PIPA GAS BAWAH AIR (PGBA) 16” KODECO ENERGY

Pipa gas 16” Kodeco Energy menyalurkan gas bumi dari Poleng Processing Platform (PPP) ke Onshore Receiving Facility (ORF). Pipa gas ini dibangun untuk mendukung Proyek Gas Expansion Phase 2 oleh Kodeco Energy, dan mulai dioperasikan pada bulan Juni 2009. PGBA tersebut melintang di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) di 2 (dua) titik, yaitu kilometer poin (KP) 35-36 dan KP 44-46 pada kedalaman 16 meter Low Water Spring (LWS).

Agar tidak mengganggu jalur pelayaran, Kodeco melakukan pemendaman pipa tersebut menjadi -19 meter LWS. Pelaksanaan pemendaman dimulai pada tanggal 19 Oktober 2010 dan diharapkan dapat diselesaikan pada tanggal 17 Februari 2011. Target penyelesaian proyek senilai US$17 juta ini berpotensi mundur karena kendala cuaca yang ekstrim.

PROYEK PENGEMBANGAN DONGGI SENORO

Lapangan Senoro dan Area Matindok yang dioperasikan oleh Kontraktor KKS JOB Pertamina- Medco (Tomori) pertama kali ditemukan pada tahun 1988. Ditargetkan lapangan ini dapat diproduksikan pada tahun 2014, dengan produksi rata-rata sekitar 415 MMSCFD.

Pasokan gas bumi dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan PLN (sekitar 25 MMSCFD), pabrik pupuk PT Panca Amara Utama (PAU) (sekitar 55 MMSCFD) dan untuk diolah menjadi LNG di Kilang Donggi Senoro LNG (sekitar 335 MMSCFD).

Pada akhir tahun 2010, BPMIGAS telah menandatangani Seller Apointment Agreement (SAA) untuk konsep alokasi gas dan DMO dan persetujuan penandatanganan GSA.

PEMBERDAYAAN KAPASITAS NASIONAL & K3LL

3

PENGGUNAAN KOMPONEN DALAM NEGERI MENINGKAT 14%

PENGHEMATAN PENGADAAN BERSAMA MENINGKAT 111%

OPTIMALISASI PEMANFAATAN ASET MENINGKAT 27%

TRANSAKSI MELALUI BANK BUMN MENINGKAT 18%

PENYIMPANAN DANA ASR MENINGKAT 27%

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

01 PEMANFAATAN BARANG DAN JASA DALAM NEGERI

Pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri pada kegiatan hulu migas tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun 2009, baik dilihat dari sisi jumlah maupun prosentasenya. Peningkatan ini merupakan hasil upaya BPMIGAS dalam rangka meningkatkan komitmen para Kontraktor KKS untuk memaksimalkan penggunaan barang dan jasa dalam negeri.

Sekitar 63% dari nilai pengadaan barang dan jasa industri hulu migas berasal dari dalam negeri.

Sebagai gambaran, nilai pengadaan barang dan jasa dalam negeri pada tahun 2010 sebesar US$6.84 miliar atau 63,43% dari seluruh nilai pengadaan sebesar US$10.79 miliar. Realisasi belanja Kontraktor KKS di dalam negeri lebih didominasi oleh belanja pengadaan jasa, yaitu sebesar 71,9%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan jasa penunjang hulu migas nasional masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan kemampuan dan daya saingnya.

Untuk mendorong penggunaan komponen barang dan jasa dalam negeri, BPMIGAS menetapkan peraturan bahwa pengadaan barang dan jasa hanya boleh dilakukan perusahaan nasional, atau perusahaan asing yang bermitra dengan penyedia barang dan jasa dalam negeri. Peraturan ini terbukti efektif untuk memagari kepentingan nasional kendati BPMIGAS memberikan kewenangan yang lebih besar pada Kontraktor KKS pada persetujuan pengadaan dari US$2 juta menjadi US$5 juta.

NILAI PENGADAAN DAN TKDN

12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 %TKDN 43% 54%
12,000
10,000
8,000
6,000
4,000
2,000
0
2006
2007
2008
2009
2010
%TKDN
43%
54%
43%
49%
63%
Jasa
Barang
Juta Us$

100%

90%

80%

70%

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

2008 2009 2010 %TKDN 43% 54% 43% 49% 63% Jasa Barang Juta Us$ 100% 90% 80%

UPAYA PENGHEMATAN DARI PENGADAAN BARANG/JASA

Sejak pertengahan tahun 2008, BPMIGAS terus berupaya meningkatkan efisiensi biaya operasional hulu migas melalui kerjasama fungsi pengadaan antar Kontraktor KKS. Kerja sama ini digagas melalui Forum Supply Chain Management (SCM). Bentuk kerjasama pengadaan diwujudkan melalui kontrak pengadaan bersama misalnya untuk sewa rig, sarana transportasi (darat, laut, dan udara), pengadaan bersama suku cadang alat-alat berat dan mesin-mesin bermerek sama, pemakaian bersama fasilitas shorebase dan fasilitas penunjang operasional lainnya, serta pemanfaatan barang-barang surplus oleh Kontraktor KKS yang membutuhkan. Kerjasama pengadaan sangat dimungkinkan terutama bagi Kontraktor KKS yang memiliki wilayah kerja saling berdekatan, dan Kontraktor KKS yang memiliki persamaan karakteristik operasional.

Sebagai hasilnya, pada tahun 2010 BPMIGAS berhasil melakukan penghematan melalui pengadaan bersama sebesar US$70.19 juta atau meningkat 111% dibandingkan dengan penghematan yang diciptakan tahun 2009 sebesar US$33.20 juta. Peningkatan ini merupakan hasil dari bertambahnya keikutsertaan Kontraktor KKS pada forum SCM. Disamping penghematan melalui pengadaan bersama, penghematan juga dicapai melalui transfer material sebesar US$34.80 juta atau meningkat 27% dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar US$27.50 juta. Penghematan yang diciptakan dari transfer material tersebut menunjukkan semakin efektifnya pengelolaan aset karena banyak material surplus, idle asset dan used material yang dimanfaatkan oleh Kontraktor KKS melalui metode material transfer.

Upaya penghematan dari pengelolaan material hulu migas yang efektif menghasilkan penghematan biaya operasi US$104.99 juta.

PENGHEMATAN PENGADAAN DAN OPTIMALISASI ASET 2010

PENGHEMATAN PENGADAAN BERSAMA

OPTIMALISASI PEMANFAATAN ASET KKKS

80 40 70 35 } } 60 40% 30 39% 50 25 40 20 30
80
40
70
35
}
}
60
40%
30
39%
50
25
40
20
30
15
20
10
10
0
0
2009
2010
2009
2010
Target
Realisasi
Target
Realisasi
US$ Juta
US$ Juta

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

02 PENGELOLAAN ASET

Pada akhir tahun 2010, nilai buku aset yang digunakan untuk menunjang kegiatan operasi hulu minyak dan gas bumi tercatat sebesar US$6.09 miliar dari nilai perolehan sebesar US$31.23 miliar. Nilai perolehan ini mengalami peningkatan sebesar 4,4 % dibandingkan dengan nilai perolehan pada akhir 2009 yang tercatat sebesar US$27.01 miliar.

Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir, aset hulu minyak dan gas bumi menambah aset negara rata-rata sebesar 9% per tahun.

NILAI ASET INDUSTRI HULU MIGAS

35 30 25 20 15 10 5 - 2006 2007 2008 2009 2010 Nilai Perolehan
35
30
25
20
15
10
5
-
2006
2007
2008
2009
2010
Nilai Perolehan
Nilai Buku
Miliar US$

Akumulasi Penyusutan2008 2009 2010 Nilai Perolehan Nilai Buku Miliar US$ Untuk melindungi dari risiko operasional maupun

Untuk melindungi dari risiko operasional maupun non-operasional, semua aset diasuransikan. Proses penutupan asuransi dilakukan melaui perusahaan asuransi nasional penanggung, yang secara otomatis menjadi anggota konsorsium penanggung utama. Pendekatan ini dilakukan guna lebih memberdayakan perusahaan-perusahaan asuransi di dalam negeri serta meningkatkan retensi yang ditanggung oleh perusahaan asuransi di dalam negeri.

Nilai premi perlindungan aset hulu migas yang dibayarkan pada tahun 2010 sebesar US$29.78 juta, atau turun sebesar 21% dibandingkan dengan nilai premi yang dibayarkan pada tahun 2009 sebesar US$37.95 juta.

Penurunan nilai premi tahun 2010 merupakan prestasi tersendiri bagi BPMIGAS karena telah mendukung penutupan asuransi selama 3 (tiga) tahun terakhir, sejak tahun 2009. Hal ini mengakibatkan besaran premi yang dibayarkan oleh industri hulu migas Indonesia tidak ikut terimbas oleh kecenderungan peningkatan nilai pertanggungan dunia yang terjadi pada tahun 2010 akibat banyaknya kecelakaan kerja di kegiatan perminyakan (terutama saat terjadi kecelakaan kerja di wilayah kerja BP, di Teluk Meksiko) dan bencana alam pada tahun tersebut.

03 PENGGUNAAN PERBANKAN NASIONAL

TRANSAKSI PENGADAAN BARANG DAN JASA

Sejak tahun 2009 BPMIGAS mulai mewajibkan Kontraktor KKS menggunakan perbankan nasional untuk mendukung pengadaan barang dan jasa yang dilakukannya. Kebijakan ini diterapkan agar industri hulu minyak dan gas bumi memberikan keuntungan maksimal bagi negara, antara lain meningkatnya peredaran uang di perbankan nasional serta meningkatnya kemampuan perbankan nasional untuk mendukung pendanaan kegiatan usaha hulu migas.

Sejak kebijakan tersebut diberlakukan, nilai transaksi yang dilakukan melalui perbankan nasional mulai meningkat. Jika di tahun 2009 besarnya nilai transaksi pengadaan melalui perbankan nasional US$ 3,93 miliar (sekitar Rp 35,4 triliun), pada tahun 2010 meningkat menjadi US$ 4,63 miliar (sekitar Rp 41 triliun), hal ini berarti terdapat ada kenaikan sekitar 18%. Secara total, sejak tahun 2009, perbankan nasional sudah menangani transaksi pengadaan hulu migas sebesar US$ 8,56 miliar atau sekitar Rp 77 triliun.

PEMANFAATAN BANK UMUM NASIONAL DALAM TRANSAKSI PENGADAAN KONTRAKTOR KKS

2009

2010

13% 7% 2% 11% 67%
13%
7%
2%
11%
67%
1% 4% 16% 79%
1%
4%
16%
79%

KKS 2009 2010 13% 7% 2% 11% 67% 1% 4% 16% 79% Mandiri US$2.63 miliar BNI

Mandiri

US$2.63 miliar

BNIUS$419.69 juta

US$419.69 juta

BRIUS$63.35 juta

US$63.35 juta

miliar BNI US$419.69 juta BRI US$63.35 juta Syariah Mandiri Mandiri / BNI US$291.30 juta US$522.35 juta

miliar BNI US$419.69 juta BRI US$63.35 juta Syariah Mandiri Mandiri / BNI US$291.30 juta US$522.35 juta

miliar BNI US$419.69 juta BRI US$63.35 juta Syariah Mandiri Mandiri / BNI US$291.30 juta US$522.35 juta

Syariah Mandiri

Mandiri / BNI

US$291.30 juta

US$522.35 juta

Mandiri

US$3.65 miliar

BNIUS$737.91 juta

US$737.91 juta

BRIUS$166.27 juta

US$166.27 juta

miliar BNI US$737.91 juta BRI US$166.27 juta Syariah Mandiri US$68.76 juta Sektor perbankan nasional

Syariah Mandiri

US$68.76 juta

Sektor perbankan nasional diperkuat untuk mendukung

kegiatan hulu migas.

79%

BPMIGAS

Laporan Tahunan 2010

44

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

PENEMPATAN DANA ABANDONMENT AND SITE RESTORATION

Dana Abandonment and Site Restoration (ASR) adalah sejumlah dana yang harus dicadangkan Kontraktor KKS untuk menghentikan pengoperasian fasilitas produksi dan sarana penunjang lainnya secara permanen dan menghilangkan kemampuannya untuk dapat dioperasikan kembali, serta melakukan pemulihan lingkungan di wilayah kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.

Pada tahun 2009 BPMIGAS kemudian mengarahkan agar pengumpulan dana ASR dilaksanakan melalui joint account antara BPMIGAS dan Kontraktor KKS di perbankan nasional. Dari kebijakan ini besarnya Dana ASR yang disimpan di perbankan nasional mengalami peningkatan. Jika di tahun 2009 dana tersebut sebesar US$132 juta, maka pada tahun 2010 meningkat 27% menjadi US$167 juta.

PERKEMBANGAN DANA ASR DI PERBANKAN NASIONAL

34% 2009 50% 16% Bank Mandiri Bank BRI
34%
2009 50%
16%
Bank Mandiri
Bank BRI
32% 34% 2010 34% Bank BNI
32%
34%
2010
34%
Bank BNI

Usaha melibatkan perbankan nasional dalam kegiatan industri hulu migas, baik sebagai tempat penyimpanan dana ASR, maupun pada transaksi pengadaan barang dan jasa dimaksudkan pula untuk meningkatkan kualitas likuiditas perbankan nasional sehingga bisa berperan aktif dalam penyaluran kredit, baik kredit investasi maupun modal kerja, untuk industri migas pada khususnya dan sektor rill pada umumnya.

Peluang pemberian kredit oleh perbankan untuk sektor hulu migas masih terbuka lebar. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, kredit yang diberikan oleh perbankan nasional ke sektor pertambangan (termasuk sektor hulu migas) pada periode 2003-2009 hanya 3,8% untuk kredit investasi dan 2% untuk kredit modal kerja (Bank Indonesia, 2009).

OrangOrang

04 PENGELOLAAN SDM

TENAGA KERJA

Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga kerja asing (TKA) di industri hulu migas sangat tergantung pada jumlah dan jenis kegiatan yang dilakukan pada tahun tersebut. Secara kumulatif, pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja di Kontraktor KKS Eksplorasi dan Produksi turun 1,6%.

Pada Kontraktor KKS eksplorasi, jumlah tenaga kerja turun 29,4% dibanding tahun 2009. Rinciannya jumlah TKI turun dari 2.233 orang menjadi 1.601 orang, sementara TKA turun dari 252 orang menjadi 152 orang.

Sementara pada Kontraktor KKS produksi jumlah tenaga kerja naik 1,5% dibanding tahun 2009. Rinciannya jumlah TKI naik dari 21.520 orang menjadi 21.727 orang, sementara TKA naik dari 649 orang menjadi 776 orang.

Peningkatan jumlah pekerja pada Kontraktor KKS produksi ini telah terlihat sejak tahun 2009 seiring adanya peningkatan kegiatan pada 3 (tiga) proyek utama hulu migas, yaitu pengembangan Blok Cepu oleh Mobil Cepu Ltd, Indonesia Deepwater Development (IDD) oleh Chevron Indonesia Company (Cico) dan Masela oleh Inpex.

Berdasarkan persetujuan Work Program and Budget (WP&B) tahun 2011 yang dikeluarkan pada akhir tahun 2010, jumlah tenaga kerja eksplorasi akan naik lagi seiring dengan telah ditandatanganinya kontrak-kontrak WK baru.

REALISASI TKA & TKI 2010 - KKKS PRODUKSI

30.000

25.000

20.000

15.000

10.000

5.000

0

2006 2007 2008 2009 2010 2011
2006 2007
2008
2009
2010
2011

REALISASI TKA & TKI 2010 - KKKS EKSPLORASI

2500 2000 1500 1000 500 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011
2500
2000
1500
1000
500
0
2006 2007
2008
2009
2010
2011

Catatan :

1. Data Tahun 2006 s/d 2010 mengacu kepada data laporan CDM 2010 2. Data Tahun 2011 berdasarkan jumlah TKA & TKI yang telah direkomendasikan dalam WP&B2011

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

PENGEMBANGAN KARIR

Dalam rangka pengawasan terhadap pengembangan karir TKI di manajemen Kontraktor KKS dan guna memastikan adanya transfer teknologi pada kegiatan usaha hulu migas, BPMIGAS merancang program Career Development Monitoring (CDM). Melalui program tersebut, BPMIGAS menilai kinerja Kontraktor KKS atas biaya personil, perencanaan tenaga kerja, pengembangan karir, pengembangan pelatihan, kesempatan untuk penugasan internasional bagi TKI (misalnya melalui program swapping, overseas job assignment, technical development exchange, internasionalisasi), rencana suksesi dan sebagainya.

Hasil monitoring tahun 2010 menunjukkan bahwa 3 (tiga) Kontraktor KKS besar yang memiliki program terbaik adalah Medco E&P Indonesia (MEPI), PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dan PT Pertamina EP. Sedangkan 3 (tiga) kontraktor KKS kecil yang memiliki program terbaik adalah BP Indonesia, Santos dan Pearl Energy.

Secara keseluruhan pelaksanaan program overseas development bagi TKI pada tahun 2010 menurun drastis. Faktor utama penyebab penurunan program tersebut adalah adanya kebijakan pengetatan anggaran pasca krisis dari kantor pusat Kontraktor KKS.

REALISASI PROGRAM PENGEMBANGAN TKI 2010

250 200 150 100 50 0 2008 2009 2010 Orang
250
200
150
100
50
0
2008
2009
2010
Orang

InternasionalisasiTKI 2010 250 200 150 100 50 0 2008 2009 2010 Orang Swapping Job Assignment TDE

150 100 50 0 2008 2009 2010 Orang Internasionalisasi Swapping Job Assignment TDE Untuk memastikan agar

Swapping

Job Assignment50 0 2008 2009 2010 Orang Internasionalisasi Swapping TDE Untuk memastikan agar pengembangan TKI berjalan sesuai

2009 2010 Orang Internasionalisasi Swapping Job Assignment TDE Untuk memastikan agar pengembangan TKI berjalan sesuai

TDE

Untuk memastikan agar pengembangan TKI berjalan sesuai dengan rencana, maka mulai tahun 2011 BPMIGAS akan mengevaluasi optimalisasi penggunaan TKA dan memastikan TKA yang dipekerjakan pada proyek-proyek besar hulu migas memiliki KPI yang dapat membantu akselerasi proyek. Upaya lain yang akan dilakukan adalah memaksimalkan penggunaan TKI

terutama pada Kontraktor KKS yang produksinya mulai menurun dengan mengganti posisi TKA yang ada di

terutama pada Kontraktor KKS yang produksinya mulai menurun dengan mengganti posisi TKA yang ada di Kontraktor KKS dimaksud serta melakukan pembatasan TKA pada Kontraktor KKS eksplorasi.

BPMIGAS juga mengarahkan manajemen Kontraktor KKS agar pengembangan karir TKI dapat menggantikan posisi-posisi yang selama ini banyak diisi oleh TKA yaitu posisi leadership, surface operations, subsurface, drilling, wells and completion serta discipline engineering & projects.

PEMBINAAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

Dalam rangka meningkatkan pembinaan hubungan industrial, pada tahun 2010 BPMIGAS berusaha mempercepat persetujuan Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang diajukan Kontraktor KKS, dengan memperhatikan perkembangan terkini. Selain itu, BPMIGAS juga mengevaluasi gaji dan benefit seluruh pekerja industri hulu migas agar mengikuti acuan yang telah ditetapkan.

Kasus-kasus perselisihan yang menyangkut hubungan industrial tidak banyak terjadi. Kasus-kasus yang terjadi pada umumnya terkait dengan tuntutan dari pekerja pihak ketiga untuk dijadikan pekerja permanen. Namun demikian, seluruh kasus telah dapat diselesaikan melalui proses negosiasi.

Evaluasi yang dilakukan BPMIGAS menunjukkan bahwa semua Kontraktor KKS yang menghadapi tuntutan dari pekerja pihak ketiga belum memiliki alur kerja yang membagi fungsi pekerja core business dan yang non core business. Oleh karena itu, untuk memperbaiki hubungan industrial di industri hulu migas, BPMIGAS telah mewajibkan seluruh Kontraktor KKS agar memiliki alur kerja dan pelaksanaannya dipantau melalui audit HR dan CDM.

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

05 PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

PELAKSANAAN STUDI

Untuk meminimalkan dampak kegiatan hulu minyak dan gas bumi bagi lingkungan, peraturan perundangan mewajibkan Kontraktor KKS melakukan beberapa studi sebelum kegiatan dilakukan. Salah satu kewajiban adalah menyusun Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yaitu kajian mengenai besar dan pentingnya dampak kegiatan pengembangan suatu lapangan terhadap lingkungan hidup. AMDAL dibuat saat rencana pengembangan lapangan disusun, dengan mengkaji aspek fisika-kimia, ekologi, sosial – ekonomi, sosial – budaya dan kesehatan masyarakat. Dasar pelaksanaannya mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Pada tahun 2010 terdapat 8 (delapan) Kontraktor KKS yang mengajukan dokumen AMDAL (yang terdiri dari KA-ANDAL, ANDAL- RKL-RPL) dan Revisi AMDAL (RKL-RPL Tambahan). Hingga akhir tahun, 7 (tujuh) di antaranya telah disetujui oleh Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sedangkan 1 (satu) dokumen masih dalam proses persetujuan.

PROSES PERSETUJUAN AMDAL KONTRAKTOR KKS 2010

Kontraktor

Judul Dokumen

Status

KKS

Genting Oil Natuna Pte. Ltd.

AMDAL Pengembangan Lapangan Minyak Ande-Ande Lumut Blok Northwest Natuna

In progress di KLH

Pertamina Hulu

RKL/RPL Tambahan Pengembangan Lapangan Migas di Blok Offshore North West Java (ONWJ) di lepas pantai utara Jawa Barat dan DKI Jakarta

Sudah disetujui

Energi ONWJ

KLH

JOB Pertamina

KA ANDAL Pengembangan Lapangan Migas Blok Tuban Tahap IV-West Area di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur

Sudah disetujui

PetroChina East

KLH

Java

Pearl Oil

AMDAL Pengembangan Lapangan Gas Ruby di Blok Sebuku, Selat Makassar

Sudah disetujui

(sebuku) Ltd.

KLH

Kondur

RKL/ RPL Tambahan Pengembangan Lapangan Minyak dan Gas Bumi Kuaru dan Padang Selatan, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau

Sudah disetujui

Petroleum S.A.

KLH

Total E&P

RKL / RPL Tambahan Kegiatan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Kontrak Mahakam, South Ma- hakam dan Balikpapan Base, Provinsi Kalimantan Timur

Sudah disetujui

Indonesie

KLH

Kalila (Bentu) Ltd. & Kalila (Korinci Baru) Ltd.

Rencana Pengembangan Lapangan Gas di Wilayah kerja Pertambangan Kalila (Bentu) Ltd. Di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kampar, dan Kota Pekanbaru Provinsi Riau

Sudah disetujui

KLH

Chevron Pacific

ANDAL, RKL, dan RPL Pengembangan Produksi Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Minas Siak Areal Minas, Kotabatak-Petapahan, dan Libo Provinsi Riau

Sudah disetujui

Indonesia

KLH

Bagi Kontraktor KKS yang masih dalam tahap eksplorasi, diwajibkan menyusun studi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Pelaksanaannya mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13 Tahun 2010. Pada tahun 2010 terdapat 114 studi UKL/UPL kegiatan Kontraktor KKS yang dievaluasi BPMIGAS untuk diajukan dan disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi maupun Kabupaten, di mana 50% di antaranya kini telah disetujui instansi terkait.

Selain melaksanakan ketentuan sesuai peraturan perundangan, Kontraktor KKS juga diwajibkan melakukan Environmental

Selain melaksanakan ketentuan sesuai peraturan perundangan, Kontraktor KKS juga diwajibkan melakukan Environmental Baseline Assessment (EBA). Kewajiban yang dicantumkan dalam PSC ini harus dilakukan Kontraktor KKS pada awal kegiatan di suatu wilayah kerja. Tujuannya agar dapat mengidentifikasi data rona lingkungan awal, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan pengembangan lapangan dan juga sebagai dasar strategi penanggulangan apabila terjadi pencemaran. Dari 32 studi EBA yang diajukan Kontraktor KKS pada tahun 2010, 17 studi di antaranya telah dianggap memenuhi kriteria EBA .

PENANGGULANGAN TUMPAHAN MINYAK

Sepanjang tahun 2010 tidak terjadi kejadian tumpahan minyak major (di atas 15 barel) baik di darat maupun di perairan. Hal ini merupakan prestasi tersendiri, mengingat pada tahun- tahun sebelumnya gangguan ini selalu muncul dalam kegiatan hulu minyak dan gas bumi. Prestasi ini merupakan buah dari upaya BPMIGAS dan Kontraktor KKS yang selalu bekerjasama dengan instansi lain membuat berbagai latihan penanggulangan dan kampanye “Journey To Zero Incident” yang bersifat preventif.

KEJADIAN TUMPAHAN MINYAK 2010

No

Area Tumpahan

2009

2010

1

Darat

10

0

2

Perairan

6

0

Sebagai langkah antisipasi, BPMIGAS bekerjasama dengan Kontraktor KKS juga memperbarui Pedoman Tata Kerja (PTK) Penanggulangan Tumpahan Minyak. PTK ini merupakan penggabungan dari PTK tentang Penanggulangan Tumpahan Minyak Perairan dan PTK tentang Penanggulangan Tumpahan Minyak di Darat.

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

PENILAIAN KINERJA LINGKUNGAN

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) untuk kegiatan hulu minyak dan gas bumi setiap tahun diumumkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH). Pada penilaian tahun 2010, terjadi peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan oleh perusahaan-perusahaan yang ikut dalam program. Salah satu indikator, tidak ada lagi Kontraktor KKS yang mendapatkan peringkat Hitam, karena semua kontraktor KKS telah memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Jumlah kontraktor yang memiliki peringkat PROPER taat juga meningkat dari 56 area peserta, menjadi 59 area peserta.

PARTISIPASI KONTRAKTOR KKS DI DALAM PROPER

Penilaian

Tahun

2008

2009

2010

Hitam

1

1

0

 
 

Tidak Taat

Merah

3

5

 

11

 

Merah

2

5

Biru

12

29

 

48

Biru

27

17

 

Taat

Hijau

7

10

11

Emas

0

0

0

 

Total

52

67

70

 

Dalam usaha memberikan semangat peningkatan kinerja HSE, BPMIGAS juga memberikan Penghargaan Best HSE Performance kepada Kontraktor KKS. Penilaian dilakukan berdasarkan data Keselamatan Kerja Kontraktor KKS selama periode 2009 dan Penilaian PROPER tahun 2009 oleh KLH.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan, penghargaan Kinerja HSE terbaik diberikan kepada PT. Chevron Pacific Indonesia Blok Siak (untuk kategori di atas 10 juta jam kerja), Chevron Indonesia Co. Blok Makassar (untuk kategori antara 2 juta -10 juta jam kerja) dan kepada Star Energi (Kakap) Ltd. Blok Kakap (kategori di bawah 2 juta jam kerja).

06 PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Untuk mempercepat pengembangan kemandirian masyarakat di sekitar wilayah pertambanganmigas,KontraktorKKSmelakukankegiatanpengembanganmasyarakat.Namun seiring dikeluarkannya Keputusan Menteri ESDM No 22 Tahun 2008 tentang Jenis-jenis Biaya Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi yang Tidak Dapat Dikembalikan Kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang melarang program pengembangan masyarakat dimasukkan sebagai biaya operasi, maka BPMIGAS membagi pelaksanaan program pengembangan masyarakat ke dalam 2 (dua) katagori. Pembagian ini untuk membedakan antara program pengembangan sosial yang dimasukkan sebagai biaya operasi untuk memenuhi peraturan yang ada, serta kegiatan pengembangan sosial (community development) yang merupakan program yang harus dibiayai dari anggaran kantor pusat Kontraktor KKS.

PROGRAM SOSIAL PENUNJANG OPERASI

Program sosial penunjang operasi (PSPO) merupakan kegiatan pengembangan masyarakat yang direalisasikan oleh Kontraktor KKS untuk menunjang kelancaran kegiatan operasi di lapangan pada WK produksi. Kegiatan ini juga dilakukan untuk memenuhi peraturan yang terkait dengan AMDAL atau berbagai peraturan lain yang harus dipenuhi.

Dalam pelaksanaannya, PSPO terbagi atas 4 (empat) jenis program yakni infrastruktur, kompensasi kegiatan yang terkait dengan perizinan/penggunaan lahan dan ketaatan terhadap peraturan. Program yang terkait dengan infrastruktur mencakup pembangunan / perbaikan jalan, pemasangan instalasi listrik dan pembangunan pusat informasi. Sedangkan yang terkait dengan kompensasi mencakup renovasi / perbaikan fasilitas umum, kompensasi atas efek operasi terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan atau keamanan, ganti rugi lahan, tumpang tindih lahan, sosialisasi proyek dan relokasi. Program terkait dengan perizinan mencakup kebutuhan masyarakat dalam bentuk pemberian sumbangan, servis atau development.

PROGRAM SOSIAL PENUNJANG OPERASI 2010

6% 47% 22% 25%
6%
47%
22%
25%

Pemenuhan peraturanPROGRAM SOSIAL PENUNJANG OPERASI 2010 6% 47% 22% 25% Kompensasi Rp 52,44 Miliar Rp 97,85 Miliar

Kompensasi Rp 52,44 Miliar Rp 52,44 Miliar

Rp 97,85 Miliar

peraturan Kompensasi Rp 52,44 Miliar Rp 97,85 Miliar Infrastruktur Perizinan Rp 46,39 Miliar Rp 12,81 Miliar

peraturan Kompensasi Rp 52,44 Miliar Rp 97,85 Miliar Infrastruktur Perizinan Rp 46,39 Miliar Rp 12,81 Miliar

Infrastruktur

Perizinan

Rp 46,39 Miliar

Rp 12,81 Miliar

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

KEGIATAN PENGEMBANGAN SOSIAL

Kegiatan pengembangan masyarakat atau CD merupakan pendekatan pembangunan untuk mendorong adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan. Dengan pendekatan ini semua usaha swadaya komunitas disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholder lainnya sehingga dapat meningkatkan taraf hidup komunitas lokal. Untuk itu, inisiatif warga sendiri harus menjadi fokus dalam CD.

Pada umumnya CD dapat dikategorikan menjadi community charity seperti bantuan korban bencana, community service seperti pembangunan infrastruktur, dan pelatihan dan pengembangan potensi masyarakat lokal.

Dalam beberapa tahun terakhir, CD dikembangkan ke pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), dimana fokus pengembangan tidak saja terbatas pada manusia tetapi juga lingkungan hidup; tidak saja terbatas pada pembangunan aspek ekonomi tetapi juga pembangunan aspek industri.

Jika dikelompokkan dari jenis kegiatan yang dilaksanakan, maka program CD Hulu Migas dapat dibagi menjadi 5 (lima) bidang, yakni bidang ekonomi (membantu pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dalam usaha meningkatkan ekonomi), bidang pendidikan dan kebudayaan (dalam bentuk pemberian beasiswa, membantu kelengkapan sarana

7%

kebudayaan dan prasarana pendidikan, olahraga) dan bidang kesehatan (untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat), bidang fasilitas sosial dan fasilitas umum (untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana sosial, fasilitas umum di daerah operasi) dan bidang lingkungan (untuk mendukung program peningkatan kesadaran lingkungan).

Grafik berikut ini menunjukkan komposisi biaya PSPO dan Community Development tahun

2010.

KOMPOSISI BIAYA PSPO DAN COMMUNITY DEVELOPMENT 2010

6% 11% 41% 12% 30%
6%
11%
41%
12%
30%

PSPO DAN COMMUNITY DEVELOPMENT 2010 6% 11% 41% 12% 30% Ekonomi Rp 41,91 Miliar Pendidikan Rp

Ekonomi

Rp 41,91 Miliar

PendidikanRp 30,07 Miliar

Rp 30,07 Miliar

LingkunganRp 11,91 Miliar

Rp 11,91 Miliar

Fasos & Fasum

Fasos & Fasum

Rp 11,25 Miliar

KesehatanRp 6,65 Miliar

Rp 6,65 Miliar

Pada tahun 2010, beberapa Kontraktor KKS yang hanya melaksanakan kegiatan CD tanpa PSPO yakni ConocoPhillips

Pada tahun 2010, beberapa Kontraktor KKS yang hanya melaksanakan kegiatan CD tanpa PSPO yakni ConocoPhillips (Natuna, South Jambi), Kodeco Energy, CITIC Seram Energy, PremierOil (Natuna Sea) Ltd., PearlOil (Tungkal) Ltd. , PT. Medco E & P – Tarakan. Realisasi PSPO dan CD industri hulu minyak dan gas bumi tahun 2010 mencapai Rp 311,2 miliar, lebih tinggi 35% dibandingkan dengan realisasi tahun 2009 sebesar Rp 231,1 miliar.

PERKEMBANGAN REALISASI PROGRAM CD HULU MIGAS

350 300 250 200 150 100 50 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Anggaran
350
300
250
200
150
100
50
0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Anggaran
Realisasi
Miliar Rp

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

07 PENGAMANAN OBJEK VITAL

GANGGUAN KEAMANAN

Seluruh aset yang digunakan untuk menunjang operasional industri hulu migas masuk dalam katagori obyek vital nasional, karena memiliki peran penting bagi bangsa dan negara baik ditinjau dari aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Gangguan keamanan pada aset-aset tersebut, akan menyebabkan kerugian negara.

Sejak Juni 2010 jumlah gangguan keamanan meningkat cukup signifikan, bahkan yang terbanyak dibanding 5 (lima) tahun belakangan ini. Dari identifikasi yang dilakukan, beberapa hal yang berpotensi memunculkan gangguan adalah :

Sebagian tanah yang digunakan untuk menunjang kegiatan usaha hulu migas belum tersertifikasi, sehingga banyak terjadi penyerobotan lahan terutama pada jalur Right of Way (ROW) pipa penyalur, lahan yang belum digunakan, lahan yang berdekatan dengan kegiatan masyarakat.beberapa hal yang berpotensi memunculkan gangguan adalah : Kekurangpahaman stakeholders (terutama di sekitar wilayah

Kekurangpahaman stakeholders (terutama di sekitar wilayah industri migas) terhadap status aset yang digunakan oleh Kontraktor KKS.digunakan, lahan yang berdekatan dengan kegiatan masyarakat. JUMLAH DAN JENIS GANGGUAN KEAMANAN TAHUN 2006-2010 1200

JUMLAH DAN JENIS GANGGUAN KEAMANAN TAHUN 2006-2010

1200 1000 800 600 400 200 0 2006 2007 2008 2009 2010 Pencurian Peralatan Migas
1200
1000
800
600
400
200
0
2006
2007
2008
2009
2010
Pencurian Peralatan Migas
Total Gangguan
Jumlah Gangguan

Gangguan Operasi MigasPencurian Peralatan Migas Total Gangguan Jumlah Gangguan Dilihat dari lokasi kejadian, sebagian besar gangguan

Dilihat dari lokasi kejadian, sebagian besar gangguan keamanan terjadi di Sumatra Selatan, khususnya di wilayah kerja ConocoPhillips Indonesia Inc (COPI) dan Pertamina EP. Jenis gangguan yang umum terjadi adalah pencurian minyak bumi dan blokade area di wilayah kerja.

Salah satu contoh gangguan di WK COPI adalah terjadinya pemblokiran jalan akses menuju sumur Suban#4, karena sengketa tanah yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya operasional Suban#4 terpaksa dihentikan sehingga mengakibatkan kerugian negara yang cukup signifikan.

Pemblokiran juga pernah terjadi di WK Gunung Kembang yang dioperasikan oleh Medco E&P sehingga menimbulkan kehilangan produksi sekitar 7 MMSCFD. Gangguan keamanan juga terjadi di WK PT Pertamina EP Sumbagsel, sebagian besar berupa pencurian minyak bumi melalui jalur pipa Pertagas Tempino Plaju.

JUMLAH GANGGUAN KEAMANAN DI KONTRAKTOR KKS SUMATERA SELATAN 2010

9% 10% 37% 16% 28%
9%
10%
37%
16%
28%

Medco E&P (Sumbangsel)KONTRAKTOR KKS SUMATERA SELATAN 2010 9% 10% 37% 16% 28% Pertamina EP (Mayoritas Sumbangsel) Conoco Phillips

Pertamina EP (Mayoritas Sumbangsel)2010 9% 10% 37% 16% 28% Medco E&P (Sumbangsel) Conoco Phillips Indonesia Inc. (Sumbangsel) Chevron Pacific

Conoco Phillips Indonesia Inc. (Sumbangsel)E&P (Sumbangsel) Pertamina EP (Mayoritas Sumbangsel) Chevron Pacific Indonesia (Riau) Vico Indonesia (Kaltim)

Chevron Pacific Indonesia (Riau)Sumbangsel) Conoco Phillips Indonesia Inc. (Sumbangsel) Vico Indonesia (Kaltim) BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 56

Vico Indonesia (Kaltim)Conoco Phillips Indonesia Inc. (Sumbangsel) Chevron Pacific Indonesia (Riau) BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 56

Indonesia Inc. (Sumbangsel) Chevron Pacific Indonesia (Riau) Vico Indonesia (Kaltim) BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 56

Pemberdayaan Kapasitas Nasional & K3LL

INTEGRATED SECURITY SYSTEM

Kecenderungan penurunan gangguan terlihat pada WK PHE ONWJ yang beroperasi Jawa Barat. Sebelumnya selama bertahun-tahun, frekwensi gangguan keamanan dalam bentuk pencurian peralatan produksi di WK ONWJ merupakan yang tertinggi, dengan frekuensi di atas 100 kali gangguan sehingga merugikan ratusan juta dolar AS. Namun pada tahun 2010 gangguan relatif dapat dihilangkan.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk menghilangkan gangguan tersebut adalah menerapkan security based community, yaitu bentuk pendekatan keamanan baru melibatkan masyarakat lokal, pemerintah dan aparat keamanan dalam menyelesaikan atau menanggulangi konflik.

Pada akhir tahun 2009, PHE ONWJ menandatangani kerjasama dengan Polda Jabar untuk pengamanan wilayah operasi. Selain itu juga dibuat kerjasama dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi (sebagian besar merupakan masyarakat nelayan) untuk ikut terlibat dalam penjagaan keamanan. Mekanismenya dilakukan melalui kegiatan community development, perusahaan memberikan kredit bergulir untuk pembelian motor tempel perahu bagi masyarakat, dan mewajibkan para penerima kredit harus membuat perjanjian untuk ikut menjaga aset ataupun melaporkan apabila mengetahui informasi pencurian.

Usaha-usaha tersebut terbukti cukup efektif, terbukti beberapa kejadian pencurian dapat digagalkan berkat laporan nelayan tersebut sehingga angka pencurian relatif dapat dihilangkan.

Perusahaan juga melaksanakan sosialisasi kegiatan hulu migas terhadap aparat pemerintah dan DPRD, sehingga mereka secara sadar ikut menjaga aset hulu migas. Saat ini Pemda telah menyadari bahwa kelancaran kegiatan operasi akan meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui mekanisme bagi hasil.

kegiatan operasi akan meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui mekanisme bagi hasil. 57

JUMLAH PENCURIAN DAN KERUGIAN DI WK PHE ONJW

50 45 450 40 400 35 350 30 300 25 250 20 200 15 150
50
45
450
40
400
35
350
30
300
25
250
20
200
15
150
10
100
5
50
0
-
2008
2009
2010
Nilai kerugian
Jumlah Peristiwa
Nilai Kerugian (x1.000 US$)

Jankerugian Jumlah Peristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt

Febkerugian Jumlah Peristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt

MarJumlah Peristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov

AprJumlah Peristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov

MeiPeristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

JunPeristiwa Nilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jul Agt Sep Okt Nov Des

JulNilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Agt Sep Okt Nov Des Untuk

AgtNilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Sep Okt Nov Des Untuk

SepNilai Kerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Okt Nov Des Untuk

OktKerugian (x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Nov Des Untuk menekan

Nov(x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Des Untuk menekan jumlah

Des(x1.000 US$) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Untuk menekan jumlah

Untuk menekan jumlah dan kerugian akibat gangguan di WK migas, pada tahun 2010 BPMIGAS mengeluarkan beberapa peraturan bagi Kontraktor KKS, antara lain optimalisasi kerjasama dengan Satuan Pelaksana Penanganan Bersama (Satlakpamber), membuat standarisasi sistem manajemen pengamanan Kontraktor KKS beserta turunannya, peningkatan pengamanan melalui pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli (TURJAWALI) di area kegiatan serta membangun security ownership kepada seluruh kontraktor dan warga di sekitar kegiatan sehingga terbangun sistem Security based community.

Professional Responsive Unity in diversity Decisive Ethics Nation Focused Trustworthy

Professional Responsive Unity in diversity Decisive Ethics Nation Focused Trustworthy INTERNAL BPMIGAS

INTERNAL BPMIGAS

4 REFORMASI BIROKRASI BPMIGAS TELAH DIMULAI

4

REFORMASI BIROKRASI BPMIGAS TELAH DIMULAI

4 REFORMASI BIROKRASI BPMIGAS TELAH DIMULAI

Internal BPMIGAS

TAHUN 2010 merupakan kelanjutan proses transformasi BPMIGAS menjadi sebuah badan pemerintah yang didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang profesional dan kompeten agar mampu mendorong kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi menghasilkan penerimaan yang maksimal bagi negara. Untuk mencapai tujuan tersebut, BPMIGAS melakukan berbagai upaya reformasi birokrasi, antara lain menata kembali organisasi, melakukan penguatan kapabilitas organisasi, pembinaan dan pengembangan pekerja hingga penguatan pengawasan baik melalui usaha preventif dan kuratif (post-audit).

Penguatan pengawasan menjadi salah satu hal pokok yang dibenahi agar transformasi yang dilakukan berjalan sesuai rencana. Usaha preventif di bidang pengawasan yang dilakukan antara lain mewajibkan seluruh pimpinan dan pekerja BPMIGAS menandatangani komitmen moral yang diberi nama PAKTA INTEGRITAS sebelum melaksanakan tugas dan kewajibannya secara profesional.

Usaha preventif lainnya adalah membentuk Satuan Tugas Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) yang bertujuan mengontrol sekaligus mendukung peningkatan kinerja internal di BPMIGAS pada khususnya dan Kontraktor KKS pada umumnya. SPIP melibatkan semua fungsi di BPMIGAS dan bertugas memberikan masukan kepada manajemen untuk perbaikan sistem pengendalian internal di lingkungan organisasi BPMIGAS.

Untuk memperkuat fungsi auditor, BPMIGAS juga melakukan penguatan Unit Pengawasan Internal (UPI) yang bertugas mengaudit aspek ekonomi, efisiensi dan efektivitas proses yang dilaksanakan di BPMIGAS. Penguatan dilakukan antara lain melalui penambahan jumlah SDM yang kompeten dan penguatan posisi organisasi.

Performance

PERJALANAN BPMIGAS MENUJU VISI ORGANISASI

Pengapalan pertama LNG TangguhPerformance PERJALANAN BPMIGAS MENUJU VISI ORGANISASI Realisasi penerimaan negara 2007-2009 selalu diatas target APBN

Realisasi penerimaan negara 2007-2009 selalu diatas target APBNMENUJU VISI ORGANISASI Pengapalan pertama LNG Tangguh Menawarkan 4 KPI organisasi BPMIGAS kepada Dep Keu Jumlah

Menawarkan 4 KPI organisasi BPMIGAS kepada Dep Keupenerimaan negara 2007-2009 selalu diatas target APBN Jumlah KKKS sampai dengan 245 2009 Realisasi komitmen TKDN

Jumlah KKKS sampai denganAPBN Menawarkan 4 KPI organisasi BPMIGAS kepada Dep Keu 245 2009 Realisasi komitmen TKDN untuk pengadaan

245 2009 Realisasi komitmen TKDN untuk pengadaan barang dan jasa mencapai 2010 Realisasi komitmen TKDN
245
2009 Realisasi komitmen
TKDN untuk pengadaan
barang dan jasa mencapai
2010 Realisasi komitmen TKDN
untuk pengadaan barang dan
jasa mencapai 69%
49%
Realisasi penggunaan
perbankan nasional tahun
Realisasi penggunaan
perbankan nasional 2010
2009 adalah US$ 3,93 miliar
sampai US$ 7,87 miliar.
WP&B 2010 disetujui sebelum
tahun berjalan
WP&B 2011 disetujui sebelum
tahun berjalan
Scale Up
Operations
DI tahun 2009, 55.46% gas
bumi dimanfaatkan untuk
domestik
Transformation
in Progress
Perbaikan yang
berkesinambungan untuk
proses bisnis (continous
improvement)
Immediate Fixes
Penyelarasan dan
implementasi proses bisnis,
kewenangan, job desc,
dan implementasi proses bisnis, kewenangan, job desc, Peluncuran Misi, Visi, dan Core Values baru Reorganisasi

Peluncuran Misi, Visi, dan Core Values barudan implementasi proses bisnis, kewenangan, job desc, Reorganisasi BPMIGAS (pembentukan CPMR, PPA, PBO,

Reorganisasi BPMIGAS (pembentukan CPMR, PPA, PBO, Perwakilan)job desc, Peluncuran Misi, Visi, dan Core Values baru Peluncuran program bekerja berdasarkan KPI (KPI based)

Peluncuran program bekerja berdasarkan KPI (KPI based)BPMIGAS (pembentukan CPMR, PPA, PBO, Perwakilan) Peluncuran inisiatif peningkatan TKDN Peluncuran program

Peluncuran inisiatifPeluncuran program bekerja berdasarkan KPI (KPI based) peningkatan TKDN Peluncuran program penggunaan bank umum

peningkatan TKDN

Peluncuran program penggunaan bank umum nasional untuk menangani transaksi finansial industri hulu migasKPI (KPI based) Peluncuran inisiatif peningkatan TKDN manual, dan KPI Implementasi program peningkatan kapabilitas

manual, dan KPI

Implementasi programtransaksi finansial industri hulu migas manual, dan KPI peningkatan kapabilitas organisasi Peningkatan kerja sama

peningkatan kapabilitas organisasi

Peningkatan kerja samaKPI Implementasi program peningkatan kapabilitas organisasi dan keterbukaan kepada stakeholders Implementasi ICT

dan keterbukaan kepada stakeholders

Implementasi ICT BlueprintPeningkatan kerja sama dan keterbukaan kepada stakeholders Penandatanganan MOU dengan berbagai lembaga pemerintahan

Penandatanganan MOU dengan berbagai lembagaketerbukaan kepada stakeholders Implementasi ICT Blueprint pemerintahan Memulai internalisasi core values Peluncuran

pemerintahan

Memulai internalisasi core valuesPenandatanganan MOU dengan berbagai lembaga pemerintahan Peluncuran program untuk memaksimalkan pasoka domestik

Peluncuran program untuk memaksimalkan pasoka domestik barang dan jasa

oleh industri penunjang migas dalam negeri

Peningkatan program-barang dan jasa oleh industri penunjang migas dalam negeri program ICT (eg. data real- time dari

program ICT (eg. data real- time dari KKKS)

Peningkatan kapabilitasprogram- program ICT (eg. data real- time dari KKKS) organisasi dan industri dalam mengantisipasi keperluan skill

organisasi dan industri dalam

mengantisipasi keperluan skill tertentu (eg. Deepwater, CDM)

Sinergi antara CSR dan Bright

& Green di lokasi fasilitas produksi

Establish World Class Organization

Mengintegrasikan seluruh fungsi transaksional SDM, HR, PMA, TI di bawah naungan BPMIGAS- Indonesia Incorported

Peningkatan sektor riil yang didorong adanya finansial dari pendapatan migas yang dapat digunakan untuk permodalan di bidang migas

Melembagakan inovasi dan perbaikan lebih lanjut (continous improvement)

Melakukan pertukaran “business opportunities”, bukan hanya jual beli komoditas, akan tetapi memanfaatkan adanya kesempatan bisnis ke dalaminovasi dan perbaikan lebih lanjut (continous improvement) negeri Dengan diperoleh devisa dari penjualan SDA migas, dan

negeri

Dengan diperoleh devisa dari penjualan SDA migas, dan tumbuhnya industri penunjang di dalam negeri sehingga akan menjadi penggerak kemajuan ekonomi bangsa, sehingga BPMIGAS menjadi lokomotif.akan tetapi memanfaatkan adanya kesempatan bisnis ke dalam negeri 2009 2010 2011 2015 2017 BPMIGAS Laporan

2009
2009
2010
2010
2011
2011
2015
2015
2017
2017

BPMIGAS

Laporan Tahunan 2010

62

Internal BPMIGAS

01 PENGUATAN KAPABILITAS ORGANISASI BPMIGAS

Penguatan kapabilitas organisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan BPMIGAS untuk meningkatkan kompetensi organisasi dalam mengemban tugas pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi agar sesuai dengan visi dan misi organisasi. Beberapa usaha yang telah dilakukan sepanjang tahun 2010 adalah merestrukturisasi organisasi agar lebih efektif dalam melakukan pengawasan dan pengendalian, meningkatkan tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas SDM, meningkatkan akuntabilitas dan meningkatkan pelayanan publik.

Dalam meningkatkan tata kelola organisasi, BPMIGAS telah melakukan pembenahan proses bisnis, memperjelas tugas dan kewenangan (job desk) setiap fungsi, menyempurnakan Pedoman Sistem Kewenangan Manajemen (PSKM), menyempurnakan proses penetapan dan pemantauan Key Performance Indicator (KPI) pekerja dan fungsi, memperbaiki manajemen kearsipan, serta melakukan sinkronisasi Pedoman Tata Kerja (PTK) agar terintegrasi satu dengan yang lain dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pembenahan organisasi dilakukan sebagai bagian dari reformasi birokrasi

Agar proses perubahan dapat dilakukan tepat sasaran, BPMIGAS melakukan survei kinerja organisasi sebelum menyusun program kerja. Survei yang dilakukan pada awal tahun 2010 tersebut menunjukkan pekerja BPMIGAS dinilai kurang peduli terhadap Kontraktor KKS sehingga kurang cepat dan tanggap dalam memberikan respons atas keluhan-keluhan Kontraktor KKS.

Sebagai tindak lanjut survei, BPMIGAS melakukan berbagai upaya perbaikan, antara lain melakukan sosialisasi nilai-nilai organisasi kepada seluruh pekerja, yaitu Profesional, Responsive, Unity in Diversity, Decisive, Ethics, Nation Focused dan Trustworthy (P.R.U.D.E.N.T). Tujuannya agar seluruh pegawai BPMIGAS dapat menerapkan core values baru pada perilaku dan aktivitas pekerjaannya, sehingga misi dan visi organisasi dapat tercapai.

menerapkan core values baru pada perilaku dan aktivitas pekerjaannya, sehingga misi dan visi organisasi dapat tercapai.

Untuk membangkitkan semangat pekerja dalam penerapan nilai-nilai baru tersebut, manajemen telah memberikan penghargaan kepada 35 pekerja BPMIGAS dari berbagai fungsi yang dinilai telah berperilaku sesuai core values PRUDENT. Penyerahan penghargaan dilakukan pada saat upacara penutupan Rapat Kerja BPMIGAS 2010 yang dilaksanakan pada Desember 2010.

Penyempurnaan proses bisnis, job description dan PTK pada tahun 2010 telah menghasilkan 877 proses bisnis dan 82 job description fungsi. Selain itu terdapat 28 PTK yang telah disahkan, sementara 10 PTK lainnya masih dalam proses penyusunan. Keberhasilan tersebut merupakan dukungan dan peran aktif seluruh fungsi pada semua tingkatan saat melakukan pembahasan dan penyusunan.

KPI telah diberlakukan untuk semua pekerja dan pimpinan.

Pada tahun 2010, BPMIGAS juga mulai memonitor pelaksanaan KPI yang telah diimplementasikan sejak September 2009. Pengukuran kinerja yang dihasilkan dari kegiatan monitoring dikuantifikasikan dalam bentuk angka dan waktu pencapaian berdasarkan hari kerja. Hasil monitoring dilaporkan langsung ke manajemen setiap bulan.

Agar memenuhi prinsip-prinsip good corporate governance yang efektif dan efisien, BPMIGAS juga menetapkan standar pengelolaan kearsipan, baik pada proses pemilahan dan penataan arsip, penyimpanan, perawatan arsip dan pemusnahan arsip. Setiap pekerja dan sekretaris harus mengikuti pelatihan Pengelolaan Administrasi Umum (PAU). Pada tahun 2010, sosialisasi PAU baru menjangkau 36% pekerja. Proses akan dilanjutkan pada tahun- tahun berikutnya untuk menjangkau seluruh pekerja.

Proses akan dilanjutkan pada tahun- tahun berikutnya untuk menjangkau seluruh pekerja. BPMIGAS Laporan Tahunan 2010 64

Internal BPMIGAS

02 PENGELOLAAN PEKERJA

Untuk memenuhi dinamika lingkungan strategis bisnis hulu migas, pada tahun 2010 BPMIGAS menyusun road map pengelolaan SDM. Berdasarkan roadmap tersebut, pengembangan pekerja akan mulai diimplementasikan tahun 2011 dan diharapkan pada tahun 2015 telah dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

ROADMAP PROGRAM PENGELOLAAN SDM BPMIGAS

Horizon 1 :

Horizon 2 :

Horizon 3 :

“Build the Foundation”

“Capability Alignment”

“World Class HR”

2011

2012

2013-2015

Tujuan Fokus area pengembangan akan dilakukan terhadap area pengelolaan SDM yang paling critical terhadap bisnis dan memiliki gap terbesar antara As-Is dan To-Be

Tujuan “Capability Alignment” akan dilakukan dengan implementasi terhadap rancangan yang sudah dibangun di tahun pertama, termasuk roll-out ke seluruh organisasi

Tujuan

Meningkatkan kapabilitas organisasi untuk menjadi “World Class HR”pertama, termasuk roll-out ke seluruh organisasi Tujuan Periode stabilisasi untuk area pengelolaan SDM yang telah

Periode stabilisasi untuk area pengelolaan SDM yang telah diimplementasikankapabilitas organisasi untuk menjadi “World Class HR” Initiatives Initiatives Initiatives Manajemen

Initiatives

Initiatives

Initiatives

Manajemen KompetisiImplementasi 1 tahun siklus Periode stabilisasi untuk area pengelolaan SDM yang

Implementasi 1 tahun siklusManajemen Kompetisi Periode stabilisasi untuk area pengelolaan SDM yang

Periode stabilisasi untuk area pengelolaan SDM yangManajemen Kompetisi Implementasi 1 tahun siklus

Pengelolaan Kinerjaperformance

performance

Pengembangan KarirKnowledge Management telah diimplementasikan

Knowledge ManagementPengembangan Karir telah diimplementasikan

telah diimplementasikan

PembelajaranEmployee Relations Human Capital Strategy

Employee RelationsPembelajaran Human Capital Strategy

Human Capital StrategyPembelajaran Employee Relations

RewardsWorkforce Planning

Workforce PlanningRewards

Succession PlanningRekrutmen

RekrutmenSuccession Planning

Human Capital InfrastructureRewards Workforce Planning Succession Planning Rekrutmen Organization & Workplace Design Manajemen Perubahan

Organization & Workplace DesignStrategy Rewards Workforce Planning Succession Planning Rekrutmen Human Capital Infrastructure Manajemen Perubahan

Manajemen PerubahanWorkforce Planning Succession Planning Rekrutmen Human Capital Infrastructure Organization & Workplace Design

PEMEKARAN ORGANISASI

Langkah awal untuk mencapai World Class Human Resources (HR) sebagai salah satu syarat menjadi badan pemerintah yang profesional adalah melakukan pemekaran organisasi agar jumlah pekerja cukup untuk mengawal visi dan misi yang telah diterapkan. Penambahan jumlah pekerja disesuaikan dengan struktur organisasi yang disusun berdasarkan proses bisnis yang juga telah dibenahi. Penambahan fungsi paling nyata terlihat pada penambahan bidang baru yaitu bidang Evaluasi dan Pertimbangan Hukum (EPH). Selanjutnya Deputi EPH membawahi Divisi Pertimbangan Hukum, Divisi Evaluasi, Pelaporan, dan Teknologi Informasi serta para VP Management Representatif yang ditempatkan di lingkungan Kontrakor KKS.

Perubahan organisasi juga difokuskan untuk penguatan bidang-bidang utama, yaitu Perencanaan, Pengendaliaan Operasi dan Pengendalian Keuangan serta untuk memastikan agar support dari bidang pendukung yaitu bidang Umum serta bidang Evaluasi dan Pertimbangan Hukum dapat berjalan efektif.

Di dalam proses pemekaran organisasi, BPMIGAS juga merekrut pekerja profesional migas yang sudah berpengalaman. Tujuannya, untuk mengisi kesenjangan pekerja golongan 6 (enam) yang jumlahnya saat ini masih perlu ditambah. Kebutuhan tenaga yang sudah berpengalaman juga dilakukan dalam rangka mempersiapkan organisasi pada 5 (lima) tahun mendatang ketika pejabat yang ada memasuki masa purna bhakti.

DEMOGRAFI PEKERJA PER GOLONGAN DAN USIA 200 180 160 140 120 100 80 60 40
DEMOGRAFI PEKERJA PER GOLONGAN DAN USIA
200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
UC
09
08
07
06
05
04
03
02
01
<30 th
31-35 th
36-40 th
41-45 th
46-50 th
51-54 th
>54 th

ANALISIS PEKERJA MPP PER GOLONGAN TAHUN 2011 - 2015

20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 01 02 03 04
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
01
02
03
04
05
06
07
08
09
UC
2011
2012
2013
2014
2015
Jumlah Pekerja MPP

PROGRAM PENGEMBANGAN KARIR

Untuk memenuhi kebutuhan pejabat setingkat kasubdin, BPMIGAS melakukan akselerasi penjenjangan karir bagi sebagian pekerja golongan 5 (lima) dan 6 (enam) untuk dipromosikan menjadi pejabat setingkat kepala subdinas. Pekerja-pekerja yang dipromosikan adalah yang memiliki prestasi kinerja yang baik, memiliki kompetensi yang dibutuhkan serta memiliki kematangan (maturity) manajerial dan kepemimpinan.

Internal BPMIGAS

Demi perbaikan organisasi secara menyeluruh, sepanjang tahun 2010 BPMIGAS mengevaluasi sistem pengelolaan SDM yang telah dilakukan selama ini. Hasil evaluasi dijadikan dasar untuk penyempurnaan PTK Pengelolaan SDM BPMIGAS, khususnya yang terkait dengan pengelolaan kompetensi, pengelolaan kinerja (performance management), pengelolaan karir (career development) sekaligus pembelajaran bagi pekerja agar tidak terjadi gap kompetensi yang besar di dalam organisasi seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Kegiatan peningkatan kompetensi pekerja dilakukan demi penyempurnaan organisasi.

Sampai akhir tahun 2010, penyempurnaan PTK Pengelolaan SDM BPMIGAS telah mencapai tahap pemetaan kondisi pengelolaan SDM saat ini dan menyusun kondisi yang diharapkan serta rencana kerja menuju pengelolaan SDM yang diharapkan. Ditargetkan, penyempurnaan PTK tersebut dapat diselesaikan pada pertengahan tahun 2011.

Untuk mendukung proses perubahan, beberapa kegiatan yang tujuannya mengarah ke sasaran mulai dilaksanakan. Salah satunya di bidang peningkatan kompetensi pekerja. Sepanjang tahun 2010, BPMIGAS telah menyusun sejumlah pelatihan yang bersifat mandatori yang harus diikuti oleh pekerja. Pekerja di tingkat staf menerima pelatihan lebih banyak dibanding pejabat di tingkat atasnya. Jumlah pelatihan bagi kepala divisi merupakan yang paling sedikit dibanding pejabat di tingkat bawahnya.

Pelatihan yang sifatnya mandatori adalah pelatihan yang harus diikuti oleh pekerja sesuai level dan bidang disiplinnya. Beberapa jenis pelatihan mandatori misalnya menyangkut kemampuan negosiasi, kemampuan manajerial dan sebagainya. Sementara pelatihan yang diajukan oleh pekerja diseleksi, dan persetujuannya disesuaikan dengan job desk fungsi.

03 REALISASI ANGGARAN DAN BELANJA BPMIGAS

Besaran anggaran belanja BPMIGAS tahun 2010 adalah Rp 901,17 miliar dan US$ 10.06 juta atau total Rp 901,17 miliar bila memperhitungan kurs Rp 9.300 per dolar. Besaran anggaran tersebut telah disetujui Menteri Keuangan melalui surat No. S-200/MK.02/2010 tanggal 6 Mei 2010. Selanjutnya melalui Surat Nomor S-578/MK.02/2010 tanggal 23 November 2010, Menteri Keuangan juga telah menyetujui anggaran belanja tambahan BPMIGAS sebesar Rp 48,09 miliar untuk biaya relokasi kantor. Relokasi kantor merupakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pelayanan di industri hulu minyak dan gas bumi, serta untuk menjawab tantangan organisasi yang semakin berkembang.

Realisasi anggaran tahun 2010 setara Rp 880,45 miliar atau 92,47% dari total anggaran yang telah disetujui. Penyerapan anggaran tahun 2010 dapat dilakukan lebih baik dibandingkan penyerapan anggaran tahun 2009 yang hanya sebesar 86,73% atau setara Rp 665,10 miliar. Hal ini merupakan hasil dari perencanaan program kerja yang lebih matang dan terarah.

500 450 Keterangan : 1. Biaya Pekerja & Peningkatan Profesionalsime 400 2. Penataan & Sewa
500
450
Keterangan :
1. Biaya Pekerja & Peningkatan Profesionalsime
400
2. Penataan & Sewa Ruangan Kantor
350
3. Sarana Kedinasan
4. Pengelolaan Operasional
300
5. Pengkajian dan Pengembangan Bisnis
250
6. Pengembangan SIstem Informasi Manajemen
7. Perajalanan Dinas Luar Negeri
200
8. Kegiatan Lain-lain
150
9. Biaya Relokasi Kantor
100
50t
-
1
2 3
4
5 6
7
8 9
%Realisasi
99.17%
99,68%
84,70%
84,48%
85,74%
54,74%
100%
82,64%
97,98%
RAPB-RK
Realisasi Anggaran
Juta Rp

SARANA DAN PRASARANA BPMIGAS

Kebutuhan operasional BPMIGAS dalam rangka pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan kegiatan industri hulu minyak dan gas bumi dirasakan semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah Kontraktor KKS yang kini mencapai 245 buah.

Guna mendukung pencapaian kinerja BPMIGAS terhadap target lifting, pengendalian cost recovery dan penerimaan negara, sangat diperlukan sarana yang memadai terutama pengadaan gedung kantor yang mampu menampung jumlah pekerja yang ada.

Disamping itu, sebagai lembaga yang bertugas untuk mengelola bahan galian strategis yang termasuk dalam objek vital nasional, kebutuhan untuk menjaga kerahasiaan data menjadi sangat penting. Untuk itu, setelah sekitar 9 (sembilan) tahun menempati kantor lama yakni Gedung Patra Jasa Jl. Gatot Subroto Kav. 32-34, maka pada bulan November 2010 BPMIGAS menempati kantor baru di Wisma Mulia Jl Gatot Subroto No.42, Jakarta Selatan. Kantor baru yang memberikan kenyamanan dan keamanan dalam bekerja diharapkan akan meningkatkan kinerja BPMIGAS sebagai manajemen Kontraktor KKS.

DAFTAR WILAYAH KERJA HULU MIGAS INDONESIA

DAFTAR WILAYAH KERJA HULU MIGAS INDONESIA WK PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN OPERATOR WILAYAH KERJA 70 1 INDONESIA

WK PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN

OPERATOR

WILAYAH KERJA

70

1 INDONESIA PETROLEUM LTD.

2 PETROCHINA INTERNATIONAL BANGKO LTD.

3 PT. MEDCO E&P RIMAU

4 CAMAR RESOURCES CANADA INC.

5 EXXONMOBIL OIL IND. INC.

6 LAPINDO BRANTAS INC.

7 KALREZ PETROLEUM (SERAM) LIMITED

8 PT CHEVRON PACIFIC INDONESIA

9 CONOCOPHILIPS (GRISSIK) LTD.

10 BOB PERTAMINA – BUMI SIAK PUSAKO

11 CHEVRON INDONESIA COMPANY

12 PT. PERTAMINA HULU ENERGI GEBANG & SUMATRA (COSTA)

13 PETROCHINA INTERNATIONAL JABUNG LTD.

14 CONOCOPHILLIPS (SOUTH JAMBI) LTD.

15 STAR ENERGY (KAKAP) LTD.

16 PT.MEDCO E&P INDONESIA

17 PETROCHINA INTERNATIONAL (BERMUDA) LTD.

18 KALILA (KORINCI BARU) LTD.

19 PT.MEDCO E&P INDONESIA

20 TOTALFINAELF E&P INDONESIE

21 CHEVRON MAKASSAR LTD.

22 KONDUR PETROLEUM S.A

23 PREMIER OIL NATUNA SEA B.V.

24 CONOCOPHILIPS INDONESIA INC. LTD.

25 PT. MEDCO E&P MALAKA

26 MOBIL EXPLORATION IND.

27 JOB PERTAMINA-TALISMAN (OGAN KOMERING)

28 PERTAMINA HULU ENERGI ONWJ LTD

29 HESS (INDONESIA-PANGKAH) LTD.

30 TRIANGLE PASE INC.

31 JOB PERTAMINA-GOLDEN SPIKE INDONESIA, LTD.

32 PT PERTAMINA EP

33 PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA

34 CNOOC SES LTD.

35 JOB PERTAMINA-PETROCHINA SALAWATI

36 SANTOS (SAMPANG) PTY LTD.

37 PETROSELAT, LTD.

ATTAKA BANGKO RIMAU BAWEAN N. SUMATRA, CONTRACT AREA B BRANTAS BULA SIAK CORRIDOR C P P EAST KALIMANTAN GEBANG JABUNG SOUTH JAMBI B KAKAP CENTRAL SUMATRA (KAMPAR) KEPALA BURUNG KORINCI BARU LEMATANG MAHAKAM MAKASSAR S. OFF. AREA A MALACCA STRAIT NATUAN SEA BLOCK A SOUTH NATUNA SEA “B” AREA A, N. SUMATRA NSO/NSO Ext. OGAN KOMERING OFF. NORTH WEST JAVA PANGKAH PASE PENDOPO-RAJA INDONESIA ROKAN SOUTH EAST SUMATRA SALAWATI SAMPANG

SELAT PANJANG

38 ENERGY EQUITY EPIC (SENGKANG) PTY. LTD.

39 CITIC SERAM ENERGY LIMITED

40 JOB PERTAMINA - MEDCO TOMORI SULAWESI

41 PT. MEDCO E&P INDONESIA

42 TOTAL E&P INDONESIE

43 JOB PERTAMINA-PETROCHINA EAST JAVA

44 PEARL OIL (TUNGKAL) LTD.

45 PERUSDA “BENUO TAKA”

46 KODECO ENERGY COY.

47 JOB PERTAMINA-HESS JAMBI MERANG

48 SANTOS (MADURA OFFSHORE) PTY. LTD.

49 KANGEAN ENERGY INDONESIA LIMITED

50 VICO

51 MOBIL CEPU LTD

52 PT SARANA PEMBANGUNAN RIAU-KINGSWOOD CAPITAL LTD

53 KALILA BENTU SEGAT LTD

54 BP. BERAU LTD

55 BP MUTURI HOLDINGS BV

56 BP. WIRIAGAR LTD.

57 ELNUSA BANGKANAI ENERGY LTD.

58 CHEVRON GANAL LTD.

59 PC KETAPANG II LTD

60 PC MURIAH LIMITED

61 CHEVRON RAPAK LTD

62 PEARL OIL (SEBUKU) LTD.

63 HUSKY OIL (MADURA) LTD.

64 JOB PERTAMINA-MEDCO SIMENGGARIS PTY.LTD

65 PT. SELE RAYA MERANGIN DUA

66 INPEX MASELA LTD.

67 MANHATTAN KALIMANTAN INVESTMENT PTE. LTD.

EKSPLORASI MIGAS : 145 WK

OPERATOR

SENGKANG SERAM NON BULA SENORO TOILI TARAKAN TENGAH TUBAN TUNGKAL WAILAWI WEST MADURA JAMBI MERANG MADURA OFFSHORE ONS. & OFF. KANGEAN SANGA-SANGA CEPU LANGGAK BENTU SEGAT BERAU MUTURI WIRIAGAR BANGKANAI GANAL KETAPANG MURIAH RAPAK SEBUKU ONS.& OFF. MADURA STRAIT AREA SIMENGGARIS MERANGIN II MASELA TARAKAN OFFSHORE

WILAYAH KERJA

1 TITAN RESOURCES (NATUNA) INDONESIA, LTD.

2 CONOCOPHILIPS WARIM Ltd.

3 CONTINENTAL- GEOPETRO (BENGARA-II) LTD.

4 ENI (Ex.Shell bv.,Lasmo,Eni,Chevron)

5 LUNDIN SAREBA BV.

6 NATIONS PETR.BV.(Ex.Ramu Inter.,Exspan,Rarmu)

7 ENI AMBALAT LTD.

8 MEDCO (Ex.Petroner,Exspan)

9 ENI KRUENG MANE, LTD

10 STAR ENERGY (BANYUMAS) LTD.

11 PACIFIC OIL & GAS KISARAN

12 ANADARKO PAPALANG, LTD.

13 ANADARKO POPODI LTD

14 ENI MUARA BAKAU BV

15 PEARL OIL (Ex.Sebana)

16 PT MEDCO E&P MERANGIN

17 SOUTH MADURA EXPLORATION COMPANY LTD.

18 MITRA ENERGY (BILITON) LIMITED

19 SALAMANDER ENERGY (BONTANG) PTE. LTD

20 TATELY NV.

21 PEARL ENERGY PTY LTD.

NORTH EAST NATUNA WARIM BENGARA II BUKAT SAREBA ROMBEBAI AMBALAT BENGARA I KRUENG MANE BANYUMAS KISARAN PAPALANG POPODI MUARA BAKAU BULU MERANGIN I SOUTH MADURA BILITON BONTANG PALMERAH WEST SALAWATI

22

SANYEN OIL

ANAMBAS

BPMIGAS

Laporan Tahunan 2010

71

72

23 CAHAYA BATU RAJA

24 ALTAR RESOURCES, S.A.

25 SELE RAYA

26 ENI BULUNGAN, B.V.

27 PT. EASCO EAST SEPANJANG

28 IRIAN PETR. LTD. (Ex.Waropen Perkasa)

29 GENTING OIL NATUNA PTE. LTD.

30 ANADARKO INDONESIA NUNUKAN COMPANY

31 TROPIK ENERGY

32 PT. KUTAI ETAM PETROLEUM

33 TRANSWORLD EXPL. LTD.

34 ENDEAVOUR ENERGY (BENGKULU) PTY LTD.

35 BUNGA MAS INTERNATIONAL COMPANY

36 PAN ORIENT (ex. BPREC)

37 GREENSTAR ASSETS LTD.

38 ZARATEX N.V.

39 STAR ENERGY SENTOSA (Sebatik) LTD.

40 SUMATERA PERSADA ENERGI

41 MARATHON INTERNATIONAL PETROLEUM INDONESIA LTD.

42 EXXONMOBIL EXPLORATION AND PRODUCTION SURUMANA LTD.

43 CONOCO PHILL. (AMBORIP VI) LTD.

44 CNOOC BATANGHARI LTD

45 RANHIL JAMBI INC. PTE LTD

46 TATELI BUDONG-BUDONG N.V

47 JAPEX BUTON LTD.

48 WEST NATUNA EXPL. LTD.

49 ODIRA ENERGY KARANG AGUNG

50 CONOCOPHILLIPS (KUMA) LTD.

51 SERICA KUTEI BV

52 PT HEXINDO (ex. INDELBERG HEXA PERKASA LEMANG)

53 PETROJAVA NORTH KANGEAN INC

54 INDOREACH EXPL. LTD.

55 STAR ENERGY (SEKAYU) LTD

56 MITRA ENERGY (IND. SIBARU) LTD

57 PT MOSESA PETROLEUM

58 PANDAWA PRIMA LESTARI

59 PT KALIMANTAN KUTAI ENERGI

60 SIGMA ENERGY PETRONAS

61 PERTAMINA HULU ENERGY KARAMA

62 EXXONMOBIL EXPLORATION AND PRODUCTION INDONESIA (MANDAR) LTD.

63 ADITYA NUGRAHA PRATAMA ENERGY LAMPUNG

64 TALISMAN (South Makassar) ltd.

65 TOTAL E&P SE MAHAKAM

66 PREMIER OIL H B.V

67 M3NERGY GAMMA SDN BHD

68 TIARA BUMI PETROLEUM

69 INSANI BINA PERKASA

70 PERTAMINA EP RANDUGUNTING

71 GENTING OIL KASURI PTE. LTD.

72 LUNDIN RANGKAS B.V.

73 MURPHY SOUTH BARITO LTD.

74 CNOOC PALUNG ARU

75 ENI WEST TIMOR LIMITED

76 CONOCOPHILLIPS (ARAFURA SEA BLOCK INDONESIA) LTD

AIR KOMERING BARITO BELIDA BULUNGAN EAST SEPANJANG MANOKWARI NORTH WEST NATUNA NUNUKAN PANDAN SEINANGKA-SENIPAH SERUWAY BENGKULU BUNGAMAS CITARUM EAST KANGEAN LHOKSEUMAWE SEBATIK WEST KAMPAR PASANGKAYU SURUMANA AMBORIP VI BATANGHARI BATU GAJAH BUDONG-BUDONG BUTON DUYUNG KARANG AGUNG KUMA KUTAI LEMANG NORTH KANGEAN PARI SEKAYU SIBARU TONGA WAIN WEST SANGATTA ENREKANG KARAMA MANDAR OFFSHORE LAMPUNG I SAGERI SOUTH EAST MAHAKAM TUNA UJUNG KULON WEST AIR KOMERING ALAS JATI RANDUGUNTING KASURI RANGKAS SOUTH BARITO SOUTH EAST PALUNG ARU WEST TIMOR ARAFURA SEA

77 LUNDIN BARONANG B.V

BARONANG

78 MARATHON INDONESIA (BONE BAY) LIMITED

79 PT PUTINDO BINTECH

80 LUNDIN CAKALANG B.V

81 CJSC SINTEZMORNEFTEGAZ

82 PEARL OIL (EAST MURIAH) LTD

83 SERICA EAST SERUWAY BV

84 EXXON MOBIL EXPLORATION & PRODUCTION INDONESIA (GUNTING) LTD

85 PEARL OIL (TACHYLYTE) LTD

86 PT KARYA INTI PETROLEUM

87 SPE PETROLEUM LTD

88 SPC E & P UPSTREAM PTE LTD

89 HUSKY OIL NORTH SUMBAWA LTD

90 MURPHY SEMAI OIL CO.LTD;

91 PT. SUMA SARANA

92 HESS(INDONESIA-SEMAI V)LTD

93 BLACK GOLD INDONESIA LLC

94 ACG (SOUTH BENGARA II) PTE.LTD

95 RANHILL PAMAI TALUK ENERGY PTE. LTD

96 NIKO RESOURCES (SOUTH EAST GANAL I) LTD

97 SALAMANDER ENERGY (SE SANGATTA)LTD

98 GUJARAT STATE PETROLEUM CORP. LTD.

99 BLACK GOLD SOUTH MATINDOK LLC

100 RADIANT BUKIT BARISAN E&P

101 CHEVRON WEST PAPUA I LTD

102 CHEVRON WEST PAPUA III LTD

103 NIKO RESOURCES (OVERSEAS II)LTD

104 THREE GOLDEN ENERGY WEST TUNGKAL

105 EXXON MOBIL EXPLORATION & PRODUCTION INDONESIA CENDRAWASIH LTD.

106 NORTHEN YAMANO TECHNOLOGY OIL

107 NIKO RESOURCES (OVERSEAS XVI) LTD.

108 MARATHON INDONESIA (KUMAWA) LTD;

109 PT HARPINDO MITRA KHARISMA

110 SARMI PAPUA ASIA OIL LTD.

111 ARCHIPELAGO RESOURCES

112 PT ENERGI MINERAL LANGGENG

113 REALITO ENERGI NUSANTARA CORELASI

114 HESS (INDONESIA SOUTH SESULU) LTD.

115 AWE (TERUMBU) NZ LTD.

116 ORCHARD ENERGY (WEST BELIDA) LTD.

117 TALISMAN ASIA LTD

118 Konsorsium Petronas - Pertamina

119 NIKO RESOURCES (HALMAHERA KOFIAU) LTD.

120 BLACK GOLD EAST BULA LLC.

121 NIKO (WEST PAPUA IV) LTD

122 PT Brilliance Energy.

123 PT Sele Raya Energi

124 Baruna Nusantara Energy Ltd

125 Repsol Exploracion S.A.

126 NIKO RESOURCES (CENDRAWASIH BAY III) LTD.

127 NIKO RESOURCES (CENDRAWASIH BAY IVI) LTD.

128 PT. Sargas & Vega

129 Cakra Nusa Darma (SKKMG) Ltd

130 NIKO RESOURCES (SUNDA STRAIT I) LTD.

131 Konsorsium PT. Baruna Recovery Energy - AWE Ltd

BONE BAY BUTON I CAKALANG EAST BAWEAN I EAST MURIAH EAST SERUWAY GUNTING KERAPU LIRIK II MADURA MAHAKAM HILIR NORTH SUMBAWA II SEMAI II SEMAI III SEMAI V SERAM SOUTH BENGARA II SOUTH CPP SOUTH EAST GANAL I SOUTH EAST SANGATTA SOUTH EAST TUNGKAL SOUTH MATINDOK SOUTH WEST BUKIT BARISAN WEST PAPUA I WEST PAPUA III WEST SAGERI WEST TUNGKAL CENDRAWASIH, PAPUA EAST PAMAI, RIAU KOFIAU, WEST PAPUA KUMAWA MALUKU, WEST PAPUA LAMPUNG 3, SUMATERA SELATAN NORTHEN PAPUA, PAPUA PASIR, KALIMANTAN TIMUR SOUTH EAST MADURA, JAWA TIMUR SOUTH BLOCK “A”, SUMATERA UTARA SOUTH SESULU, KALIMANTAN TIMUR TERUMBU, JAWA TIMUR WEST BELIDA JAMBI, SUMATRA SELATAN ANDAMAN III WEST GELAGAH KAMBUNA HALMAHERA KOFIAU EAST BULA WEST PAPUA IV SULA I BLORA NORTH MAKASSAR STRAITR CENDRAWASI BAY II CENDRAWASI BAY III CENDRAWASI BAY IV PURI Sakakemang Sunda Strait I North Madura

133 PT. Leogryph Indonesia

Karapan

134 PT. Kalisat Energi Nusantara