Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan Proposal Penelitian
ini sesuai waktu yang ditentukan.
Proposal

Penelitian

ini

berjudul

Karakteristik

Batu

Andesit

dalam

hubunganya dengan Produksi Alat Gali (Backhoe pada PT.Pro Intertech Sorong,
Papua Barat .
Penulis mengakui Proposal Penelitian ini sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu
penulis meminta saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari pembaca semua. Akhir
kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesain Proposal Penelitian ini, semoga Proposal Penelitian ini bermanfaat bagi kita
semua..amin.
Jayapura, 20 Maret 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................I
DAFTAR ISI.....................................................................................................................II
DAFTAR GAMBAR........................................................................................................III
DAFTAR TABEL............................................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
1.1.

LATAR BELAKANG.......................................................................................................1

1.2.

RUMUSAN MASALAH..................................................................................................1

1.3.

BATASAN MASALAH....................................................................................................1

1.4.

TUJUAN PENELITIAN...................................................................................................2

1.5.

MANFAAT PENELITIAN...............................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................3


2.1.

STATIGRAFI REGIONAL..............................................................................................3

2.1.1.

Blok Kenum.............................................................................................................5

2.1.2.

Sistem Sesar Sorong.................................................................................................6

2.1.3.

Bongkah Tamrau......................................................................................................7

2.1.4.

Mandala Batanta-Waigeo.........................................................................................7

2.2.

DEFINISI BATUAN.........................................................................................................7

2.3.

BATUAN ANDESIT........................................................................................................8

2.4.

KARAKTERISTIK BATUAN.........................................................................................8

2.4.1.

Sifat Fisik Batuan.....................................................................................................9

2.4.2.

Sifat Mekanik Batuan.............................................................................................10

2.5.

PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT GALI..................................................................11

2.4.1.

Efisiensi Kerja........................................................................................................12

2.4.2.

Faktor Pengembangan............................................................................................13

2.4.3.

Waktu Edar ( Cycle Time ).....................................................................................13

BAB III METODELOGI PENELITIAN..........................................................................15


3.1.

METODE PENELITIAN................................................................................................15

3.2.

DIAGRAM ALIR PENELITIAN...................................................................................17

3.3.

RENCANA JADWAL KEGIATAN PENELITIAN.......................................................18

3.4.

RENCANA SISTEMATIKA PENULISAN...................................................................18

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................20

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2-1 Geologi dan Tektonik utama Sorong (Amri dkk., 1990).................................3
Gambar 2-2 Stratigrafi Regional daerah Sorong (Amri dkk., 1990)...................................4
Gambar 2-3 Kondisi Tekanan Pada Pengujian Triaksial...................................................11

DAFTAR TABEL
Tabel 2-1 Tabel Kondisi kerja..........................................................................................12

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Peralatan produksi pada operasi penambangan merupakan salah satu sarana
produksi yang vital untuk menunjang target produksi akhir yang telah ditentukan
perusahaan, untuk menunjang produksi di butuhkan peralatan yang dapat bekerja
secara optimal pada tahap operasi penambangan. Tahap operasi penambangan
dimulai dari pembongkaran batuan, pemuatan dan pengangkutan sampai pada
penimbunan.
Backhoe merupakan alat gali dan muat yang biasa digunakan dalam operasi
penambangan, kerja backhoe pada penambangan meliputi pembuatan jalan, jenjang
kerja, produksi bahan galian dan lainnya, dengan manfaat pengunaan backhoe dalam
operasi penambangan maka penggunaannya harus dilakukan dengan benar agar
didapat hasil yang optimal
Sifat fisik dan mekanik batuan di lokasi penambangan merupakan salah satu
faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan jenis alat yang akan
digunakan, karena sifat fisik dan mekanik akan berpengaruh langsung terhadap
produksi Backhoe. Sedangkan sampai saat ini faktor yang sering dipakai dalam
pemilihan alat hanya produktivitas alat, kapasitas alat dan biaya operasi. Oleh karena
itu perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik material yang digali yaitu batu
andesit dalam hubunganya dengan peningkatan produksi Backhoe.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang di gambarkan diatas maka dapat dirumuskan
masalah dalam penelitian ini adalah seberapa besar potensi karakteristik batuan
dalam dalam mempengaruhi produksi alat gali.
1.3. BATASAN MASALAH
Agar dalam pembahasan tulisan ini mengarah sesuai judul maka diperlukan
batasan batasan masalah sebagai berikut :
1. Karakteristik Batu Andesit pada PT.Pro Intertech Sorong, Papua Barat
2. Karakteristik Batuan yaitu sifat fisik (Water Conten, Specific Gravity, Bulk
Density, Dry Density, Void Ratio, Porosity dan derajat kejenuhan) dan sifat
mekanik (Kohesi, sudut geser dalam dan dari batu andesit
3. Menghitung Produksi Alat Gali pada PT. Pro Intertech.

1.4. TUJUAN PENELITIAN


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk bagaimana mengkaji kerja alat gali
(Backhoe) pada operasi penambangan yang berhubungan dengan karakteristik batu
andesit guna mengoptimalkan produksi PT. Pro Intertech.
1.5. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan yaitu :
1. Mengetahui seberapa besar pengaruh karakterristik batuan pada kegiatan
produksi.
2. Menjadi masukan bagi perusahaan guna mempertimabangakan pemilihan alat
gali untuk kegiatan produksi.
3. Menjadi acuan bagi perusahaan perusahaan untuk mengoptimalkan potensi
mineral batuan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. STATIGRAFI REGIONAL
Susunan litologi kepala burung periode pra tumbukan dianggap sebagai
bagian dari benus indo-australia, sehingga susunan endapan sedimen periode ini
dapat di ilustrasikan melalui perkembangan tektonik dan statigrafi cekungan benua
indo-australia bagian utara (peck dan soulhol, 1986; dan henage, 1993). Dua
kecenderungan arah cekungan ditemani pada bagian utara kerak benua ini, yaitu
cekungan palezoikum (600 400 jtl) dan cekungan mesozoikum (sekitar 200 jti).
Hal ini menunjukan adanya dua periode pemekaran palezoikum, pemekaran ini tidak
di ikuti oleh suatu break-up, tetapi oleh penurunan umum dan transgresi laut,
membentuk pengendapan sistem rift. Pemekaran mezoikum ditunjukan oleh formasi
tipuma sebagai endapan syn-rift pada trias jura, diikuti oleh break up benua dan
bergesernya benua india serta pembentukan pengendapan lingkungan pasif margin.
Daerah sorong dapat dibedakan menjadi empat mandala geologi utama. Dari
selatan ke utara, mandala itu adalah bongkah kenum, sistem sesar sorong, bongkah
tamrau, dan mandala batanta waigeo.

Lokasi Penelitian

Gambar 2-1 Geologi dan Tektonik utama Sorong. (Amri, Sanyoto, Hamonangan,
Supriatna, Simanjuntak, & Piters, 1990)

Gambar di atas merupakan pembagian mandala-mandala geologi utama di


daerah penelitian. Dari selatan ke utara terdiri dari Blok Kemum, Sistem Sesar

Sorong, Bongkah Tamrau, dan Mandala Batanta-Waigeo. Daerah penelitian termasuk


ke dalam Blok Tamrau.

Gambar 2-2 Stratigrafi Regional daerah Sorong. (Amri, Sanyoto, Hamonangan,


Supriatna, Simanjuntak, & Piters, 1990)

Pada gambar di atas tampak bahwa daerah Sorong dipengaruhi oleh mandalamandala geologi yang mempunyai urutan-urutan stratigrafi yang berbeda. Batas dari

setiap mandala adalah batas tektonik. Hal ini menggambarkan kompleknya proses
geologi yang terjadi di daerah Sorong.
Statigrafi daerah kepala burung khususnya daerah sorong termasuk kedalam
empat mandala diatas. Setiap mandala geologi mempunyai statigrafi yang berbeda.
Hal ini diakibatkan karena proses geologi yang terjadi di daerah ini.
2.1.1.Blok Kenum
Batuan dasar blok kenum terdiri dari meta sedimen paleozoikum yang
diterobosi oleh granit perm. Batuan dasar ini tersingkap di daerah tinggian
kenum. Sedimen klastik mesozoikum dan suksesi karbonat tersier menutupi
batuan dasar ini.formasi kenum berumur silur-devon terdiri dari batusabak,
filit greywacke, batupasir dan kuarsit yang mengalami metamorfosa derajat
rendah selama devon atau selama awal atau pertengahan karbon.
Diatas formasi kenuk diendapkan secara tidak selaras kelompok aifam,
yang terdiri dari formasi aimau, formasi ainim. Karbonat masif, serpih,
batulanau, dan batu kuarsitan merupakan ciri endapan karbon-perm di daerah
kepala burung dan sekitarnya. Formasi aimau diendapkan pada umur karbon,
endapannya berupa batu pasir sisipan serpih. Formasi aifat diendapkan diatas
formasi aimau, terdiri dari serpih dan napal. Formasi ini miliki kisaran umur
karbon perm. Jenis litologi ini menunjukan peristiwa taransgresi dari laut
dangkal menjadi laut dalam, tetapi endapan regresi regresi ditemukan dai
bagian atas formasi ini. Formasi ainim berumur perm, diendapkan secara tidak
selaras diatas formasi aifat dengan batuanya berupa perlapisan serpih hitam
dan batu pasir, terdapat pula lapisan batubara. Formasi ini mengindikasikan
pengendapan pada lingkungan flufiatil non marin lakustrin.
Formasi tipuma diendapkan diatas formasi ainim pada umur trias jura
formasi ini diendapakan secara tidak selaras dengan batuanya meliputi
perlapisan antara batu pasir dan serpih. Diendapakan pada lingkungan alluvial
kontinental dengan regresi laut. Formasi ini tersingkap pada daerah barat
papua, dibatasi oleh tinggian tinggian tua, dan mengisi graben-graben yang
ada.
Kelompok kembelangan diendapkan diatas formasi tipuma. Kelompok
ini terdiri dari formasi kembelangan bawah dan formasi jass. Formasi
kembelangan bahwa diendapkan pada umur jura kapur, berupa endapan

pasir laut dangkal yang berlapis dengan serpih. Formasi jass diendapkan diatas
formasi kemebelangan bahwa pada umur kapur. Terdiri dari perlapisan
batulempung dan serpihan lanauan. Formasi ekmai memiliki umur kapur
endapannya terdiri dari endapan batupasir dan serpih, ditemukan di daerah
badan burung bagian central range. Diatas formasi berumur kapur ini
diendapakan kelompok batugamping new guinea yang terdiri dari formasi
waripi, formasi fumai, formasi sirga, dan formasi kais.
Formasi Faumai diendapkan pada umur Eosen dengan batuannya
berupa batugamping. Formasi Sirga memiliki umur Oligosen Akhir Miosen
Awal, formasi ini diendapkan di atas Formasi Fumai. Formasi Sirga
terdiri dari endapan

batugamping. Formasi Kais terendapkan pada umur

Miosen Awal Miosen Tengah, dengan litologinya berupa batugamping


dengan banyak dijumpai pecahan koral.
Formasi

Klasafet

diendapkan

di

atas

Formasi

Kais

yaitu

diendapkan pada umur Miosen Akhir. Formasi Steenkool mulai diendapkan


pada umur Pliosen, terdiri dari perlapisan antara serpih dan batupasir.
Formasi Sele diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Steenkool
pada umur Pleistosen. Endapan Formasi Sele terdiri dari konglomerat,
batupasir, dan batulempung.
2.1.2.Sistem Sesar Sorong
Sistem Sesar Sorong merupakan jalur bancuh yang mencakup
fragmen- fragmen batuan sedimen, batuan karbonat, granit, ultramafik
dan batuan gunungapi dengan ukuran yang berkisar dari kerakal sampai
bongkah dengan panjang beberapa kilometer. Penyebaran fragmen-fragmen
tersebut dipengaruhi oleh Sesar Sorong antara Miosen Akhir dan Kuarter.
Fragmen-fragmen yang terdapat pada sistem sesar sorong terdiri dari fragmen
batuan

dari

Formasi

Kemum,

Formasi

Tamrau,

Formasi

Waiyaar,

Batugamping Faumai, Formasi Klasafet, Formasi Klasaman, Batuan


Gunungapi Dore, dan Batugamping Sagewin. Fragmen-fragmen daru
Sistem Sesar Sorong yang tidak homogen yang tidak dapat dipetakan
disebut sebagai bancuh tak terpisahkan. Konglomerat Asbakin tersusun dari
fragmen yang berasal dari bancuh dan diendapkan antara Miosen Akhir

dan Plistosen di sekitar daerah Asbakin, Konglomerat Sele di Lembah


Warsamson dan endapan aluvial.
2.1.3.Bongkah Tamrau
Satuan tertua adalah Formasi Tamrau yang berumur Jura Tengah
sampai Kapur Atas yang tersusun oleh batuan metamorf derajat rendah.
Diatas satuan ini diendapkan secara tidak selaras oleh Batugamping
Formasi Koor. Batugamping Sagewin diendapkan diatas batuan gunungapi
Dore yang berumur Miosen. Batuan gunungapi di Pulau Salawati menutupi
Formasi Waiyaar yang pembentukannya sama dengan Formasi Tamrau yang
tersingkap di sekitar Sistem Sesar Sorong. Endapan sungai, litoral dan
pantai Kuarter diendapkan diatas batuan yang lebih tua.
2.1.4.Mandala Batanta-Waigeo
Mandala ini mencakup pulau-pulau di utara dan barat dari Pulau
Salawati dengan batuan dasarnya berupa batuan gunungapi Tersier dan
batuan ultramafik sampai mafik yang berumur mesozoikum. Batuan yang
berumur Mesozoikum itu berupa batuan ofiolit di Kepulauan Fam. Batuan
yang berumur lebih muda termasuk ke dalam Formasi Saranami, batuan
metamorf derajat rendah dan batuan gunungapi andesit. Batuan-batuan
tersebut mempunyai batas sesar dengan batuan Gunungapi Batanta.
Batuan Gunungapi Batanta mempunyai hubungan menjemari dengan
Formasi Yarifi dan batugamping Dayang yang berumur Oligo-Miosen, lalu
diatasnya diendapakan secara tak selaras batugamping Formasi Waigeo yang
berumur Miosen Atas sampai Pliosen. Batuan sedimen Formasi Marchesa di
Batanta Timur yang berumur Plio-Pleistosen diendapkan diatas Formasi
yarifi dan batuan Gunungapi Batanta. Batuan yang berumur paling muda
adalah terumbu karang yang terangkat dan endapan pantai dan sungai.
2.2. DEFINISI BATUAN
Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda dimana
tidak mempunyai komposisi kimia tetap. Batuan terdiri dari bagian yang padat baik
berupa kristal maupun yang tidak mempunyai bentuk tertentu dan bagian kosong
seperti pori-pori, fissure, crack, joint dan lain-lain. Dari definisi di atas dapat

disimpulkan bahwa batuan tidak sama dengan tanah. Tanah dikenal sebagai material
yang mobile, rapuh dan letaknya dekat dengan permukaan bumi.
Berbagai definisi dari batuan sebagai objek dari mekanika batuan telah
diberikan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang saling berhubungan, yaitu :
Menurut para ahli geologiwan
Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang bersatu membentuk
kulit bumi.
Menurut para ahli teknik sipil khususnya para ahli geoteknik
Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan solid dari kulit bumi, serta
batuan tidak dapat digali dengan cara yang biasa, misalnya dengan menggunakan
cangkul.
Menurut Talobre
Batuan adalah material yang membentuk kulit bumi termasuk fluida yang ada
di dalamnya seperti air, minyak dan lain-lain.
Menurut ASTM
Batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid) berupa
massa yang berukuran besar ataupun yang berupa fragmen-fragmen.
Secara Umum
Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda, tidak
mempunyai komposisi kimia tetap.
2.3. BATUAN ANDESIT
Batuan andesit merupakan kelompok batuan beku ekstrusif dengan tekstur
afanitik. Mineral penyusun utama berupa plagioklas, mineral penyusun lain yang
dapat ditemukan berupa biotit, hornblende dan piroksen. Secara umum memiliki
struktur yang sama dengan diorit.
2.4. KARAKTERISTIK BATUAN
Batuan mempunyai sifat sifat tertentu yang perlu diketahui dalam makanika
batuan dan dapat dikelompokan menjadi dua bagian besar, yaitu sifat fisik dan sifat
mekanik. Kedua sifat tersebut dapat ditentukan baik di laboratorium maupun
dilapangan (in-situ). (Rai, Kramadibrata, & Wattimena, 2011)

2.4.1.Sifat Fisik Batuan


Beberapa sifat fisik yang ditentukan untuk kepentingan penelitian
adalah sebagai berikut :
1. Bobot isi asli (natural density) merupakan perbandingan antara berat
batuan asli dengan volume total batuan (termasuk rongga).
Bobot isi asli

Wn
WwWs

..(2.1.)

2. Bobot isi kering (dry density) merupakan perbandingan antara berat


batuan kering dengan volume total batuan.
Bobot isi kering =

W0
WwWs

..(2.2.)

3. Bobot isi jenuh (saturated density) merupakan perbandingan antara berat


batuan jenuh dengan volume total batuan.

Ww
WwWs

Bobot isi jenuh =

...........(2.3.)

4. Berat jenis semu (apparent specific grafity) merupakan perbandingan


antara bobot isi kering batuan dengan bobot isi air.
Berat jenis semu =

Wo
WwWs

/ bobot isi air ..(2.4.)

5. Berat jenis asli (true specific grafity) merupakan perbandingan antara


bobot isi butiran batuan dengan bobot isi air.
Berat jenis asli =

Wo
WoWs

/ bobot isi air ......(2.5.)

6. Kadar asli ( natural water content) merupakan perbandingan antara berat


air dalam batuan asli dengan berat butiranbatuan dan dinyatakan dalam
persen.
Kadar air asli=

WnWo
x 100 % .....................(2.6.)
Wo

7. Kadar air jenuh (saturated water content) merupakan perbandingan


dengan antara berat air dalam batuan jenuh dengan berat butiran batuan
dinyatakan dalam persen.

Saturated water content =

WwWo
x 100
Wo

..............(2.7.)

8. Derajat kejenuhan (degree of saturation) merupakan perbandingan antara


kadar air asli dengan kadar air jenuh dan dinyatakan dalam persen.
Derajat kejenuahan =

WnWo
x 100
WwWo

(2.8.)

9. Porositas (porosity) merupakan perbandingan antara volume rongga


dalam batuan dalam volume total batuan dan dinyatakan dalam persen.

WwWo
x 100
WwWs

Porositas (n) =

..........(2.9.)

10. Angka pori (void ratio) merupakan perbandingan antara volume rongga
dalam batuan dengan volume butiran batuan.
Void ratio (e)

n
1n

......(2.10.)

Dimana :
Berat asli (natural) : Wn
Berat kering (sesudah dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan
temperatur kurang lebih 100o C) : Wo
Berat jenuh (sesudah dijenuhkan dengan air selama 24 jam) : Ww
Berat jenuh + berat air + berat bejana : Wb
Berat jenuh di dalam air : Ws = (Wa Wb)
Volume sampel tanpa pori-pori : Wo Ws
Volume sampel total : Ww - Ws
2.4.2.Sifat Mekanik Batuan
Pengujian Triaksial
Segala aktivitas yang dilakukan manusia pada batuan seperti masalah
fondasi, pemakaian batu sebagai bahan bangunan, pengalian batuan di bawah
permukaan tanah untuk bangunan sipil dan pengalian tambang bawah tanah
akan berkaitan erat dengan persoalan didalam mekanika batuan.
Salah satu uji di dalam mekanika batuan adalah uji triaksial yang
digunakan untuk menentukan kekuatan batuan dibawah tiga komponen
tegangan melalui persamaan kriteria keruntuhan. Pengujian ini menggunakan

10

beberapa contoh batuan, minimum 5 contoh, kemudian diberi tekanan


pemampatan (3) yang berbeda-beda.
Kekuatan batuan pada kondisi tegangan triaksial akan sangat berguna
sebagai parameter rancangan pembuatan lubang bukaan bawah tanah. Kriteria
keruntuhan yang sering digunakan dalam pengolahan data uji triaksial adalah
kriteria mohr coulomb yang ditulis dalam persamaan berikut.
cntan
Pengujian ini adalah salah satu pengujian yang terpenting dalam
makanik batuan untuk menentukan kekuatan batuan di bawah tekanan
triaksial.

Gambar 2-3 Kondisi Tekanan Pada Pengujian Triaksial

Percontoh yang digunakan berbentuk silinder dengan syarat-syarat sama


pada pengujian kuat tekan. Dari hasil pengujian triaksial dapat ditentukan :

Strength envelope (Kurva instrinsic) yaitu kurva yang menunjukan


kekuatan batuan terhadap tahanan batuan yang berada di atasnya dimana
terdapat kohesi dan sudut geser dalam sebagai parameter keruntuhan

batuan.
Kuat geser atau sherar strength (yaitu gaya tahanan internal yang
bekerja per satuan luas masa batuan untuk menahan keruntuhan atau

kegagalan sepanjang bidang runtuh dalam masa batuan tersebut.


Sudut geser dalam, (yaitu sudut yang dibentuk dari hubungan antara
tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau batuan.
Sudut geser dalam adalah sudut rekahan yang dibentuk jika suatu
material dikenai tegangan atau gaya terhadapnya yang melebihi tegangan
gesernya.

11

Kohesi, (C) yaitu gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan,
dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas. Kohesi batuan akan
semakin besar jika kekuatan gesernya makin besar.

2.5. PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT GALI


Pada penelitian ini produksi menyatakan banyaknya volume batuan yang
dapat digali / dipindahkan oleh Backhoe. Satuan yang digunakan adalah Bcm/Jam.
Produksi dirumuskan sebagai berikut.

P=

60
x Ex I x H
Ct

Dimana :
P = Produksi alat gali

H = Kapasitas bucket

E = Efisiensi kerja

C = Waktu edar

I = swell factor
2.4.1.Efisiensi Kerja
Pekerjaan atau mesin tidak mungkin selamanya bekerja 60 menit/jam,
karena hambatan-hambatan yang akan terjadi seperti menunggu alat,
pemeliharaan dan pelumasan mesin-mesin. Menurut pengalaman yang terjadi
dilapangan, efisiensi jarang melebihi 83%.
Efisiansi kerja alat berat adalah perbandingan antara waktu kerja efektif
dengan waktu kerja yang tersedia.
Efisiensi kerja =

jam kerja efektif / hari


X 100
jumlah jam kerja /hari

Berikut disajikan tabel efisiensi kerja alat mekanis.


Tabel 2-1 Tabel Kondisi kerja
Kondisi kerja
Bagus Sekali
Bagus
Sedang
Buruk

Bagus sekali
0.84
0.78
0.72
0.63

Kondisi pengolahan
Bagus
Sedang
0.81
0.76
0.75
0.71
0.69
0.65
0.61
0.57

Buruk
0.70
0.65
0.60
0.52

12

2.4.2.Faktor Pengembangan
Swell yaitu pengembangan volume suatu material apabila material
tersebut lepas atau tergali dari tempat aslinya. Di alam, material diperoleh
dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan baik, sehingga kandungan
rongga yang berisi udara atau air antar butiran di dalam material di alam
tersebut sangat sedikit.
Sehingga apabila material yang berada di alam tersebut terbongkar,
maka akan terjadi pengembangan volume (swell). Untuk menyatakan berapa
besarnya pengembangan volume tersebut, dikenal dengan dua istilah yaitu :
1. Swell factor
2. Percent Swell
Rumus untuk menghitung swell factor (SF) dan percent swell yaitu :
Swell Factor =

bank volume
loose volume

% Swell

volume
( bank volumebank
) X 100
bank volume

x 100 %

Faktor pengembang material perlu diketahui karena volume material


yang diperhitungan pada waktu penggalian yaitu volume dalam keadaan bank
yard atau volume aslinya di alam. Sedangkan yang harus diangkut adalah
material yang telah mengembang karena digali. Jadi faktor pengembang disini
berfungsi mengetahui seberapa besar persentase pengembangan material dari
keadan asli ke kondisi loose sehingga bisa disesuaikan dengan kapasitas alat
angkut.
2.4.3.Waktu Edar ( Cycle Time )
Yaitu waktu yang dibutuhkan alat mekanis untuk menyelesaikan satu
kali puatarn kerja (1 trip). Semakin kecil waktu edar dari alat mekanis, maka
semakin tinggi produksi yang dihaslkan alat tersebut.
Waktu edar alat gali muat terdiri atas :
Waktu edar alat gali-muat dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ctgm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4
Keterangan :
Ctgm

= Waktu edar alat gali muat, (detik)

Tm1 = Waktu menggali material, (detik)

13

Tm2 = Waktu putar dengan bucket terisi, (detik)


Tm3 = Waktu menumpahkan muatan, (detik)
Tm4 = Waktu putar dengan bucket kosong, (detik)
Waktu edar alat angkut terdiri atas :
Waktu edar alat angkut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Cta = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6
Keterangan :
Cta = Waktu edar alat angkut, (menit)
Ta1 = Waktu mengambil posisi untuk dimuati, (menit)
Ta2 = Waktu diisi muatan, (menit)
Ta3 = Waktu mengangkut muatan, (menit)
Ta4 = Waktu mengambil posisi untuk menumpahkan, (menit)
Ta5 = Waktu pengosongan muatan, (menit)
Ta6 = Waktu kembali kosong, (menit)

14

BAB III METODELOGI PENELITIAN


3.1. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan kemudian melakukan
pengujian di laboratorium dilanjutkan dengan studi pustaka dan melakukan analisis
untuk mendapat penyelesaian masalah. Adapun urutan pekerjaan penelitian sebagai
berikut :
1. Studi Litelatur
Studi litelatur ini dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang
menunjang antara lain :
a. Buku-buku yang menunjang
b. Jurnal terkait
c. Internet
2. Penelitian di lapangan
Dalam penelitian ini dilakukan beberapa tahap kegiatan :
a. Melakukan pengamatan terhadap alat mekanik dan rangkaian kegiatan
produksi yang dilakukan.
b. Melakukan pengambilan sampel batuan.
c. Melakukan pengujian dan pengamatan di laboratorium.
3. Pengambilan data
Pengambilan data dilaksanakan setelah dilakukan studi litelatur. Adapun data
yang diambil berupa data primer dan sekunder
a. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari pengujian dan
pengamatan dilapangan dan di laboratorium
b. Data sekunder adalah data yang diambil dari litelatur dan laporan perusahaan
4. Akuisisi data
Akuisisi data bertujuan untuk :
a. Mengumpulkan data dan mengelompokan data untuk memudahkan analisa
nantinya
b. Mengolah nilai karakteristik data-data yang mewakili obyek pengamatan
c. Mengetahui keakuratan data, sehingga kerja menjadi lebih efisien.

5. Pengolahan data

15

Pengolahan data dengan beberapa perhitungan selanjutnya disajikan dalam


bentuk tabel-tabel, grafik atau rangkaian perhitungan dalam menyelesaikan suatu
proses tertentu.
6. Analisis pengolahan data
Analisis hasil pengolahan data dilakukan dengan tujuan memperoleh
kesimpulan sementara. Selanjutnya kesimpulan sementara tersebut akan diolah
lebih lanjut dalam bagian pembahasan.
7. Kesimpulan
Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil pengolahan
data yang telah dilakukan dengan permasalahan yang teliti. Kesimpulan ini
merupakan suatu hasil akhir dari semua aspek yang telah dibahas.

16

3.2. DIAGRAM ALIR PENELITIAN


Latar Belakang

Peralatan produksi merupakan salah satu sarana produksi yang vital untuk
menunjang produksi akhir yang tetapkan perusahaan, untuk menunjang
produksi di butuhkan peralatan yang dapat bekerja secara optimal pada tahap

operasi penambangan.
Karakteristik batuan merupakan salah satu faktor penting yang harus
dipertimbangkan dalam pemilihan jenis alat yang akan digunakan.

Survey Lapangan

Studi Literatur
Rumusan Masalah
Seberapa besar potensi karakteristik batuan
dalam dalam mempengaruhi produksi alat
gali.
Tujuan

Mengkaji kerja alat gali (Backhoe) pada operasi penambangan


yang berhubungan dengan karakteristik batu andesit guna
mengoptimalkan produksi PT. Pro Intertech.
Pengumpulan Data

Data Primer :
Pengujian Sifat
Mekanik Batuan

Fisik

Data Sekunder :
Spesifikasi Alat
Peta Geologi
Stratigrafi Batuan

&

Analisis & Pembahasan

Kesimpulan

17

3.3. RENCANA JADWAL KEGIATAN PENELITIAN


Kegiatan
Minggu

Juni
1

Juli
3

Agustus
2
3

Persiapan dan
Studi Literatur
Survey dan
Pengamatan
Pengujian Lab
Pengolahan dan
Analisis data
Penyusunan
Laporan

3.4. RENCANA SISTEMATIKA PENULISAN


Adapun rencana sistematika penulisan yang digunakan adalah sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Batasan Masalah
1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi Batuan
2.2. Batuan Andesit
2.3. Karakteristik Batuan
2.4. Perhitungan Produksi

BAB III METODELOGI PENELITIAN

18

3.1. Metode penelitian


3.2. Diagram Alir Penelitian
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.2. Pembahasan
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran

19

DAFTAR PUSTAKA
Amri, C., Sanyoto, P., Hamonangan, B., Supriatna, S., Simanjuntak, W., & Piters, P.
(1990). Peta Geologi Lembar Sorong. Australia: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi.
Rai, R. A., Kramadibrata, S., & Wattimena, R. K. (2011). Mekanika Batuan. Bandung:
Program Studi Teknik Pertambangan; Istitut Teknologi Bandung.

20