Anda di halaman 1dari 22

Kajian Lingkungan

BAB I Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan


Peningkatan

PENDAHULAN
1.1. Latar Belakang
Dalam rangka melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
pembangunan yang berkesinambungan sebagai upaya sadar dan berencana dalam
menggunakan dan mengelola sumberdaya secara bijak untuk meningkatkan mutu
hidup, maka setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan hidup perlu dikaji agar diambil langkah-langkah pencegahan,
pengelolaan dan pemantauan sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan hidup.
Daerah ubud sangat terkenal sebagai daerah wisata yang ada di Bali . banyak
wisatawan mancanegara yang berkunjung hingga tinggal dan menginvestasikan dana
mereka untuk membuat villa , hotel, resort karena merupakan tempat yang masih
sangat kental dengan alamnya yang natural, disamping itu ubud adalah daerah yang
mempunyai nilai seni yang tinggi yang dapat menarik banyak wisatawan untuk
mengunjunginya.
Dengan demikian dalam pelaksanaan pembangunan terutama daerah pariwisata
didukung teknologi, dengan suatu perencanaan yang teratur dan mendapat suatu
pemantauan

agar

benar-benar

mencapai

tujuan

yang

direncanakan.Setiap

pembangunan proyek memiliki dampak terhadap lingkungan yang berbeda-beda.


Pembangunan Ubud Wanna resort yang dilakukan di kawasan padat penduduk dan
juga dekat dengan akses Jalan Raya.
Menurut pendapat warga, dalam pembangunan tersebut terdapat beberapa dampak
yang terjadi diantaranya, jalan akses retak serta kotor akibat truk-truk muatan
material yang tidak dibersihkan sewaktu keluar dari lokasi proyek.
Pada tahap prakonstruksi dan konstruksi Ubud Wanna Resort diperkirakan
akan dapat memberikan dampak positif maupun dampak negatif terhadap
lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27
tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan

Kajian Lingkungan

Pedoman Pelaksanaannya, maka Peningkatan


kegiatan Pembangunan
Wanna
Resort wajib
Dan PemanfaatanUbud
Mata Air
Rendang-Payungan
membuat atau menyusun UKL dan UPL.
Melalui pengkajian ini akan diperkirakan jenis-jenis dampak yang akan terjadi
untuk dapat dicarikan jalan pemecahannya sehingga dampak negatif yang timbul
dapat ditekan sedini mungkin dan dampak positifnya dapat dikembangkan seluasluasnya untuk peningkatan taraf hidup masyarakat banyak.
1.2. Peraturan Perundang-Undangan Yang Berlaku
Peraturan dalam Perundang-undangan yang menjadi acuan dilaksanakannya
UKL dan UPL ini adalah:
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL.
3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI

Nomor 86 Tahun 2002 tentang

Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya


Pemantauan Lingkungan Hidup.
4. Peraturan Daerah Tingkat I Bali

Nomor 4 Tahun 1999 tentang Perubahan

Pertama Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 4 Tahun 1996
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Bali
5. Keputusan Gubernur Bali Nomor 515 Tahun 2000 tanggal 27 Nopember tentang
Standar Baku Mutu Lingkungan.
6. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan RI Nomor Kep-056
Tahun 1994, tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting.
1.3. Kebijaksanaan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan
Pembangunan merupakan upaya sadar untuk mengelola sumberdaya alam
meningkatkan mutu kehidupan rakyat. Kita ketahui bahwa sumberdaya alam
bukanlah merupakan sesuatu yang tidak terbatas, baik dalam jumlah maupun
kualitasnya. Disisi lain kebutuhan manusia terhadap sumberdaya alam semakin
meningkat sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk serta meningkatnya
kebutuhan hidup. Sejalan dengan hal tersebut daya dukung lingkungan dapat
terganggu dan kualitas lingkungan dapat menurun.
2

Kajian Lingkungan

Pelaksanaan pembangunan Peningkatan


merupakanDan
kegiatan
yangMata
mengandung
resiko akan
Pemanfaatan
Air Rendang-Payungan
terjadinya perubahan kualitas lingkungan yang dapat mengganggu ekosistem dan
sosial. Karena itu dalam pelaksanaan pembangunan yang bijaksana harus dilandasi
dengan suatu prinsip wawasan lingkungan sebagai sarana untuk mencapai
kesinambungan dan menjadi jaminan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan undang-undang yang
mengatur pengelolaan lingkungan hidup, yaitu UU No. 23 tahun 1997 sebagai
pengganti Undang-undang Nomor 4 tahun 1982 untuk menjaga kesinambungan
antara penggunaan sumberdaya alam dan ketersediaan serta kesinambungannya.
Sebagai

pelaksanaan

dari

Undang-Undang

tersebut

dikeluarkan

Peraturan

Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Di


dalam peraturan tersebut di tetapkan bahwa setiap rencana kegiatan yang
diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan wajib
dilengkapi dengan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL).
Kegiatan pembangunan Ubud Wanna Resort di Daerah Nyuh kuning, Ubud,
Gianyar, Bali. pada tahap operasional diperkirakan akan menimbulkan dampak
terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baku mutu lingkungan.
1.4. Tujuan dan Kegunaan UKL-UPL
Tujuan studi UKL-UPL adalah:
1. Mengidentifikasi rencana kegiatan pembangunan yang akan menimbulkan dampak
penting terhadap lingkungan.
2. Mengidentifikasi rona lingkungan yang akan terkena dampak oleh adanya kegiatan
dan sebaliknya kemungkinan dampaknya terhadap Pembangunan Ubud Wanna
Resort.
3. Memperkirakan dan mengevaluasi dampak penting yang terjadi terhadap
lingkungan baik yang terjadi pada tahap awal sampai tahap pembangunan Ubud
Wanna Resort.
4. Memberikan arahan untuk penyusunan Upaya Rencana Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Rencana Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) yang akan
dilaksanakan selama kegiatan berlangsung.

Kajian Lingkungan

Kegunaan studi UKL-UPL adalah:


Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
1. Memberikan gambaran yang terinci tentang pengaruh kegiatan pembangunan
Ubud Wanna Resort terhadap lingkungan hidup serta keterkaitannya satu dengan
yang lain.
2. Membantu Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Bali, dan Instansi-instansi
pemberi ijin di dalam pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan dari
rencana kegiatan yang akan dilakukan.
3. Memberikan masukan bagi Pemrakarsa dan Konsultan perencana untuk menyusun
desain dan rincian teknis dari rencana kegiatan.
4. Memberikan masukan dalam menyusun rencana Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan kegiatan pembangunan UUbud Wanna Resort dan sekitarnya.
5. Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak
positif dan menghindari dampak negatif yang akan timbul dari rencana kegiatan
pembangunan Ubud Wanna Resort tersebut.

Kajian Lingkungan
BAB II Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
Peningkatan

DESKRIPSI RENCANA KEGIATAN

2.1. Data Umum Perusahaan


a. Pemrakarsa
Nama

: Mr. Chen .

Alamat

: Surabaya

Telepon

b. Penanggung Jawab
Nama

: Heru

Alamat

: Jl. Nyuh Kuning Ubud

Telepon

c. Bidang Usaha : Property


Nama

: Ubud Wanna Resort

Alamat

: Jl. Nyuh Kuning, Ubud, Gianyar, Bali

Telepon

: 0366 21336

d. Lokasi Usaha : Daerah Pariwisata .


Batas-batas lokasi usaha :
- Sebelah utara : Rumah Penduduk
- Sebelah timur : Tanah Sawah
- Sebelah selatan: Monkey Forest
- Sebelah barat : Jalan Umum
e. Keterangan Badan Usaha :
-

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan

f. Rencana Penggunaan Lahan

: 4400 m2

Luas lahan

Luas Bangunan

: 4100 m2

2.2. Jarak Kegiatan dengan Kegiatan Lain


- Pemukiman penduduk lokal

: berada di sekitar Ubud Wanna Resort

- Bangunan Property untuk tourist

: berada di sekitar Ubud Wanna Resort

- Tempat Pendidikan

: 750 m

- Tempat Prawisata Monkey Forest

: 600 m

- Pusat kearamaian Ubud

: 3 km

- Pasar seni Ubud

: 10 km

- Jalan Umum

: 0,5-1 km

- SPBU

: 5 km

2.3. Fasilitas Penunjang


Untuk kelancaran operasional Ubud Wanna Resort maka akan dilengkapi berbagai
fasilitas utama terdiri dari:
- Direksi Keet
- Alat berat
- Gudang Material
- Pagar Pembatas

Kajian Lingkungan
BAB III Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
Peningkatan

RONA LINGKUNGAN
3.1. Komponen Geofisik-kimia
Komponen iklim yang dikaji dalam penelitian ini meliputi tipe iklim, suhu
udara, kelembaban, curah hujan dan hari hujan, kecepatan angin, kualitas udara dan
pola iklim mikro.
1. Tipe Iklim
Sama halnya dengan Kabupaten lainnya di Provinsi Bali, perbedaan iklim di
Kabupaten Gianyar tidak terlalu nyata. Dari unsur-unsur iklim yang ada, perbedaan
iklim hanya bisa dilihat dari curah hujan. Curah hujan ini merupakan unsur iklim yang
utama yang berpengaruh bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Gianyar, juga
Daerah lain di Bali.
Keadaan iklim Kabupaten Gianyar adalah iklim laut Tropis. Kabupaten Gianyar
yang merupakan bagian dari Pulau Bali terletak diantara 2 (dua) Benua dan 2 (dua)
Samudra sehingga memiliki 2 (dua) musim yaitu Musim Kemarau yang jatuh pada
bulan April sampai dengan Oktober, dan Musim hujan yang jatuh pada bulan Oktober
sampai dengan April tahun berikutnya. Diantara dua musim tersebut diselingi oleh
musim Pancaroba, yaitu musim peralihan yang terdapat pada saat pergantian musim
dari Musim Kemarau ke Musim Hujan dan sebaliknya.

2. Suhu dan Kelembaban Udara


Menurut data fluktuasi, suhu udara lokasi rencana kegiatan dan sekitarnya berkisar
antara Suhu udara di Kabupaten Gianyar rata-rata adalah 26 Celcius, dimana suhu
udara terendah sekitar 23 Celcius dan yang tertingi 29 Celcius, dengan kelembaban
udara rata-rata 82%.
Dari Alat Pencatat Hujan Station Gianyar, terbaca curah hujan sebesar 963 mm
selama periode 2007 tercatat 56,6 mm merupakan bulan terkering ditahun itu.

Kajian Lingkungan

Curah hujan sebelumnya berturut-turut


: tahunDan
2004
= 1811 Mata
mm;Air
tahun
1995 = 1722
Peningkatan
Pemanfaatan
Rendang-Payungan
mm; tahun 1994 = 1765 mm; tahun 1993 = 1294 mm; tahun1992 = 1437 mm dan
tahun 1991 tercatat 1415 mm.
2.2. Fisiografi
Wilayah Kabupaten Gianyar membentang dari Utara yaitu wilayah atas ke Selatan
berupa wilayah pantai dari lautan samudra Indonesia. Keadaan tanah rata-rata tidak
begitu tinggi diatas permukaan laut. Bagian Selatan daerah ini 30% diantaranya
merupakan daratan, sedangkan bagian wilayah Utara merupakan daerah yang
bergelombang. Tanah yang mencapai ketinggian 750 Meter dari permukaan laut tidak
begitu luas (2.463,5 Ha), dibandingkan dengan luas daratan.
Di bagian Selatan merupakan tanah-tanah datar dan agak rendah karena dekat dengan
laut. Di daerah ini terbentang pantai berpasir hitam sepanjang + 20 Km. Wilayah
Kabupaten Gianyar tidak memiliki Danau maupun Gunung.
Formasi Batuan di Kabupaten Gianyar terdiri dari formasi kwarter berasal dari lafa dan
endapan lahar Buyan, Bratan dan Batur. Tutupan lafa dan lahar cukup tebal sehingga
sungai yang terdapat di daerah ini mempunyai lembah aliran yang sempit dan dalam,
terutama pada daerah yang bergelombang di bagian Utara Kabupaten Gianyar.
Sungai mengalir dari pegunungan di daerah Utara kearah Selatan menuju Samudra
Indonesia. Sunagi-sungai ini kebanyakan bersifat permanen dan mengalirkan air
sepanjang tahun. Nma-nama dan panjang Sungai yang mengalir dan mengairi Wilayah
Kabupaten Gianyar adalah sebagai berikut: Sungai Yeh Oos panjangnya 44.000 M,
SungaiPetanu : 38.100 M, Pakerisan : 36.500 M, Sangsang : 32.500 M, Sangku : 6.500
M, Dos : 453.500 M, Dan Nangka : 7.000 M. Sungai Cangkir merupakan batas dengan
Kabupaten Badung, dan Sungai Melangit merupakan pembatas Wilayah Kabupaten
Gianyar dengan Kabupaten Klungkung.

BAB IV
PRAKIRAAN DAMPAK YANG TERJADI

Kajian Lingkungan

Prakiraan dampak yang terjadi Peningkatan


akibat kegiatan
pembangunan
Ubud
Wanna Resort
Dan Pemanfaatan
Mata Air
Rendang-Payungan
diuraikan mulai dari kegiatan yang dilakukan tahap prakonstruksi dan konstruksi .
1. Tahap Pra Konstruksi
a.

Sumber dampak

Kelengkapan perijinan yang dimiliki pemrakarsa

Penetapan tata letak Ubud Wanna Resort

Sosialisasi rencana usaha

b. Jenis dampak

Kelengkapan perijinan yang dimiliki pemrakarsa kurang lengkap

Keresahan masyarakat sekitar

Timbulnya cemburu sosial

c. Besaran dampak

Adanya keresahan pemilik lahan dan masyarakat walaupun kecil dan lokal, namun
bila terjadi secara akumulatif, maka pengaruhnya cukup besar.

Adanya kecemburuan sosial masyarakat dalam persaingan usaha pengaruhnya kecil


dan bersifat lokal.

d. Keterangan

Timbulnya keresahan masyarakat sekitar akan terjadi bila penetapan tata letak
Ubud Wanna Resort menyimpang dari batas kepemilikan tanah dan melanggar
hukum yang berlaku.

Kecemburuan sosial akan timbul sebagai akibat persaingan ekonomi dan usaha
yang sama di sekitar wilayah rencana proyek.

2. Tahap Konstruksi
a. Sumber dampak

Mobilisasi Tenaga Kerja

Mobilisasi Material

Kajian Lingkungan

Mobiliasisi dan Demobilisasi Alat


Berat Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
Peningkatan

Pengadaan Material

Pematangan Lahan

Penyiapan Tanah Dasar

Pekerjaan konstruksi

Perilaku buruh atau tenaga kerja proyek tidak mendukung kebersihan dan
keamanan lingkungan sehingga mengurangi estetika lingkungan sekitarnya

b. Jenis dampak

Keresahan penduduk lokal dan mancanegara

kerusakan badan jalan

Timbulnya debu dan kebisingan

Terganggunya lalu lintas

Merusak estetika daerah tersebut

c. Besaran dampak

Besarnya dampak penurunan nilai estetika tergolong kecil, karena hanya terjadi
pada areal proyek.

Besarnya dampak keresahan sosial akibat mobilisasi tenaga kerja akan


menimbulkan keresahan masyarakat sekitar dan adat istiadat karena tenaga kerja
yang dipekerjakan bukan penduduk lokal.

Besarnya dampak kerusakan badan jalan akibat mobilisasi alat berat dan material
yang menimbulkan kersehan dan ketidaknyamanan masyarakat lokal dan
mancanegara.

Dampak terhadap debu dan kebisingan termasuk besar, terutama kebisingan


(melebihi ambang batas) akan terjadi pada waktu proses penggunaan alat berat.

Dampak gangguan lalu lintas yang akan terjadi pada saat mobilisasi material tidak
terlalu besar mengingat jalan raya yang dilalui merupakan jalan pedesaan dan
situasinya tidak ramai.

10

d. Keterangan

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan

Menurunnya estetika, buruknya sanitasi lingkungan sekitar proyek .

Keresahan masyarakat lokal akan terjadi, bila tenaga kerja bukan orang lokal yang
mengerti adat istiadat pada daerah tersebut.

Kebisingan dan debu perlu dikelola dengan baik, karena jarak lokasi kegiatan ada
yang cukup dekat dengan pemukiman penduduk.

Gangguan lalu lintas akan terjadi terutama bila pengangkutan peralatan/material


dilakukan pada siang hari (jam sibuk).

3. Tahap Operasional
a. Sumber dampak

Perekrutan tenaga kerja

Operasional Resort dan sarana penunjang

Penanganan limbah

b. Jenis dampak

Keresahan penduduk lokal

Terganggunya kenyamanan masyarakat sekitar

Keresahan masyarakat dan terganggunan ekosistem

c. Besaran dampak

Dampak terhadap keresahan penduduk lokal akibat perekrutan tenaga kerja, cukup
kecil karena akan diutamakan tenaga kerja lokal sesuai kualifikasi kebutuhan.

Dampak terhadap kenyamanan penduduk sekitar cukup besar, Karena setiap saat
akan adanya pengunjung yang datang ke resort baik pagi, siang maupun dimalam
hari.

Dampak terhadap keresahan masyarakat cukup kecil dan terhadap ekosistem juga
cukup kecil karena sudah disediakan tempat penampungan sisa sisa buangan
limbah.

d. Keterangan

11

Kajian Lingkungan

Timbulnya keresahan pendudukPeningkatan


lokal pada
perekrutan
kerja perlu
Danwaktu
Pemanfaatan
Mata Airtenaga
Rendang-Payungan
dicermati, karena akan berdampak kurang kondusif terhadap lingkungan sosial
ekonomi dan sosial budaya.

Timbulnya ketidaknyamanan perlu dicermati dan dikaji lebih dalam serta ditekan
sekecil mungkin

Timbulnya keresahan masyarakat berdampak pada ekosistem tanah dan udara


kerena akan banyaknya sisa sisa buangan yang berupa limbah padat, maupun cair.

Tabel 4.1. Sumber dan Jenis Dampak


Sumber Dampak

Jenis Dampak

Besaran
Dampak

Keterangan

Tahap Prakonstruksi
Perijinan

Keresahan

Penetapan tata letak

Kecemburuan sosial.

Kecil

Sosialisasi
Tahap Konstruksi
Mobilisasi materiil dan alat

Kerusakan

badan

Kecil

Mobilisasi tenaga kerja

jalan.

Pekerjaan konstruksi

Debu dan kebisingan.

Besar

terjadi pada waktu


proses penggunaan
alat

berat,

jarak

lokasi kegiatan ada


yang cukup dekat
dengan pemukiman
penduduk.
Tahap Operasional
Perekrutan tenaga kerja
Operasional Resort

Keresahan penduduk
lokal.

12

Kecil

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan

BAB V
UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
5.1. Tahap Pra Konstruksi
1. Sumber dampak
a. Kelengkapan perijinan yang dimiliki pemrakarsa
b. Penetapan tata letak Ubud Wanna Resort
c. Sosialisasi rencana usaha
2. Jenis dampak
a. Kelengkapan perijinan yang dimiliki pemrakarsa kurang lengkap
b. Keresahan masyarakat sekitar
c. Timbulnya cemburu sosial
3. Upaya pengelolaan dampak
a. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan perijinan yang
diwajibkan terhadap LPM Ubud.
b. Mengikut sertakan penyading dalam pengukuran atau penetapan batas-batas
dan tata letak Resort.
c. Mensosialisasikan atau paling tidak memberitahukan rencana kegiatan
pembangunan Ubud Wanna Resort tersebut kepada Kepala Desa setempat dan
khususnya kepada warga masyarakat desa setempat yang rumah atau tanahnya
dilintasi Ubud Wanna Resort.
5.2. Tahap Konstruksi
1. Sumber dampak
a. Mobilisasi Tenaga Kerja
b. Mobilisasi Material
c. Mobiliasisi dan Demobilisasi Alat Berat

13

d. Pematangan Lahan

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan

e. Penyiapan Tanah Dasar


f. Pekerjaan konstruksi
g. Perilaku buruh atau tenaga kerja proyek tidak mendukung kebersihan dan
keamanan lingkungan sehingga mengurangi estetika lingkungan sekitarnya

2. Jenis dampak
a. Keresahan penduduk lokal dan mancanegara
b. Konflik Adat istiadat
c. kerusakan badan jalan
d. Timbulnya debu dan kebisingan
e. Terganggunya lalu lintas
f. Merusak estetika daerah tersebut

3. Upaya pengelolaan dampak


a. Meyakinkan penduduk setempat bahwa akan dilakukan perbaikan jalan oleh
pihak kontraktor
b. Untuk mencegah dan menanggulangi meningkatnya debu hendaknya dilakukan
penyiraman dengan air, terutama pada saat kegiatan persiapan lahan musim
kemarau, untuk mengurangi intensitas bising dapat dilakukan dengan
penjadwalan penggunaan peralatan mekanis secara bersamaan serta tidak
mengoperasikan peralatan bermesin pada malam hari yang dapat mengganggu
kenyamanan penduduk setempat.
c. Penyediaan tenaga SATPAM untuk melakukan kontrol dan memantau perilaku
tenaga kerja di barak/proyek.
d. Terganggunya lalu lintas akibat mobilisasi material dapat diatasi dengan cara
menjadwalkan mobilisasi material pada jam yang tidak ramai kendaraan
(malam hari).
e. Terganggunya estetika lingkungan sekitar dapat diatasi dengan membuat pagarpagar pembatas di sekitar proyek.

14

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan

5.3. Tahap Operasional


1. Sumber dampak
a. Pemanfaatan sarana utama dan penujang
b. Perekrutan tenaga kerja
c. Pengelolaan tenaga kerja, peralatan kerja dan kesehatan karyawan
2. Jenis dampak
a. Kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat
b. Ketertiban dan keamanan
c. Keselamatan dan kesehatan kerja
3. Upaya pengelolaan dampak
a. Penugasan SATPAM dan kerjasama dengan pihak kepolisian/Polsek kota agar
tidak terjadi tindak kriminal.
b. Pemberian peralatan keselamatan kerja, kedisiplinan kerja, pergantian jam kerja
serta asuransi kecelakaan kerja.
c. Pemeriksaan kesehatan karyawan serta pemasangan rambu peringatan/tanda
bahaya.
Tabel 5.1. Matrik Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
No.

Jenis
Kegiatan

1.

Tahap
Prakonstruksi

Jenis Dampak
Keresahan
masyarakat
sekitar.
Timbulnya
cemburu sosial

Indikator
Dampak
Adanya keresahan
masyarakat lokal
akibat tidak adanya
sosialisasi
atau
pemberitahuan
tentang
rencana
pembangunan
Ubud
Wanna
Resort
khusunya
kepada
warga
masyarakat
desa
setempat.

Pengelolaan
Lingkungan
Mensosialisasikan
paling

tidak

memberitahukan rencana
kegiatan
Ubud

pembangunan
Wanna

Resort

tersebut kepada Kepala


Desa

setempat

dan

khususnya kepada warga


masyarakat

15

atau

desa

Kajian Lingkungan
yang rumah
Peningkatan Dan Pemanfaatansetempat
Mata Air Rendang-Payungan

atau tanahnya dilintasi


Ubud Wanna Resort.

2.

Tahap
Konstruksi

Keresahan

Keresahan

penduduk

masyarakat

lokal

Penyediaan

tenaga

lokal SATPAM

untuk

dan akan terjadi, bila melakukan kontrol dan

mancanegara

tenaga kerja bukan memantau

perilaku

orang lokal yang tenaga


mengerti

kerja

di

adat barak/proyek.

istiadat pada daerah


tersebut.
kerusakan

kerusakan

badan

badan jalan

jalan

akibat

mobilisasi alat berat


dan material

Meyakinkan
setempat

penduduk

bahwa

dilakukan
jalan

akan

perbaikan
oleh

pihak

kontraktor

Timbulnya
debu

debu & kebisingan meningkatnya


dan akan terjadi pada hendaknya

kebisingan.

waktu

dilakukan

proses penyiraman dengan air,

penggunaan
berat.

debu

alat untuk

mengurangi

intensitas
bisingdilakukan

dengan

penjadwalan penggunaan
peralatan
Terganggunya

akan terjadi pada diatasi

lalu lintas

saat
material

dengan

cara

mobilisasi menjadwalkan mobilisasi


material pada jam yang
tidak ramai kendaraan

16

Kajian Lingkungan
Peningkatan Dan Pemanfaatan(malam
Mata Airhari).
Rendang-Payungan

Merusak

estetika

daerah dapat

diatasi

dengan

estetika daerah tersebut terganggu membuat

pagar-pagar

tersebut

di

akibat kegiatan ini.

pembatas

sekitar

proyek.

3.

Tahap
Operasional

Kesempatan
kerja dan
berusaha

Keresahan
masyarakat

Kesehatan dan
keselamatan
kerja

Tenaga kerja lokal


yang terserap
Usaha sampingan
bagi masyarakat
sekitar
Ikut terlibat dalam
kegiatan
Keresahan
masyarakat
Protes dan gugatan
masyarakat
Gangguan
Ada tidaknya
kecelakaan kerja
Kejadian
kecelakaan kerja

Ada tidaknya chek


up kesehatan

17

Mengutamakan tenaga
kerja lokal
Sosialisasi pada
masyarakat
Membuat kesepakatan
dan kontribusi dengan
pihak masyarakat
lingkungan sekitar.
UMR sesuai aturan.
Jam kerja mengikuti
aturan Disnaker.
Tersedianya kotak P3K.
Peralatan kerja yang
memadai.
Tunjangan
kesehatan/BPJS
Ikut JAMSOSTEK.
Baik sehat untuk
lingkungan kerja.
Adanya tenaga
pengatur lalu lintas
keluar masuk.

Kajian Lingkungan
BAB VI Dan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
Peningkatan

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN


6.1. Tahap Prakonstruksi
Pada masa prakonstruksi tidak terdapat kegiatan proyek yang akan menjadi sumber
dampak terhadap lingkungan, oleh karena pada masa ini kegiatan lebih banyak
bersifat on the desk. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah
pengurusan kelengkapan perijinan, pembuatan master plan dan detail plan dari
rencana kegiatan, dan pengukuran Ubud Wanna Resort. Untuk penyusunan master
plan dan detail plan pihak pemrakarsa terus melakukan koordinasi dan konsultasi
dengan Konsultan Perencana.
6.2. Tahap Konstruksi
1. Jenis sumber dampak yang dipantau:
a. Pematangan lahan.
b. Penyiapan Tanah dasar
c. Mobilisasi

tenaga

kerja,

peralatan dan material proyek


d. Perilaku buruh atau tenaga kerja
proyek
kebersihan

tidak
dan

mendukung
keamanan

lingkungan sehingga mengurangi


estetika lingkungan sekitarnya
e. Kegiatan konstruksi fisik Ubud Wanna Resort dan konstruksi fasilitas
pemipaan.

2. Parameter yang dipantau :

18

Kajian Lingkungan

a. Kualitas konsentrasi udara Peningkatan


dan intensitas
bising serta
mobilisasi
terhadap
Dan Pemanfaatan
Mata Air
Rendang-Payungan
kendaraan keluar masuk lokasi proyek
b. Tingkat kriminalitas, seperti pencurian, keributan dan sebagainya yang dialami
penduduk lokal, serta adanya protes penduduk lokal mengenai kekecewaan
mereka dalam penerimaaan serta prilaku pekerja proyek yang menyinggung
keberadaan penduduk setempat
c. Jumlah tenaga kerja lokal yang terserap bekerja di proyek dan peluang berusaha
yang dapat diambil oleh penduduk sekitarPada pembangunan fisik Ubud Wanna
Resort
3. Lokasi Pemantauan:
a. Lokasi Proyek
b. Pemantauan kualitas udara dan kebisingan di lokasi kegiatan dan pemukiman
penduduk setempat
4. Upaya Pemantauan Lingkungan
a. Pemantauan terhadap estetika lingkungan meliputi kerapihan dan kebersihan
serta panorama alam di lokasi kegiatan dan sekitarnya
b. Pemantauan untuk konsentrasi debu dan kebisingan dengan manual, jika dirasa
terlalu bising dan sangat mengganggu, maka penyebab kebisingan tersebut
dikurangi.
c. Pemantauan kriminalitas dilakukan secara langsung dilapangan melalui
observasi dan wawancara dengan penduduk lokal dan tokoh-tokoh masyarakat
setempat
d. Memantau jalannya konstruksi Ubud Wanna Resort yang telah direncanakan
sesuai dengan kesepakatan.
5. Waktu Pemantauan
a. Untuk waktu pemantauan pembuatan barak, tingkat kriminalitas, perekrutan
tenaga kerja serta kegiatan konstruksi Ubud Wanna Resort dan fasilitas
pemipaan dipantau sejak awal proyek sampai masa konstruksi selesai.

19

Kajian Lingkungan

b. Untuk pemantauan kualitasPeningkatan


debu danDan
intensitas
bising,
setiap hari
Pemanfaatan
Matadilakukan
Air Rendang-Payungan
selama masa konstruksi berlangsung dimulai dari awal proyek.
6.3. Tahap Operasional
1. Jenis sumber dampak yang dipantau:
a. Pemanfaatan sarana dan prasarana
b. Pengelolaan tenaga kerja, peralatan kerja dan kesehatan karyawan
2. Parameter yang dipantau :
a. Adanya kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat
b. Kesehatan karyawan, kecelakaan kerja dan gangguan keselamatan pekerja
3. Lokasi Pemantauan
a. Pemantauan untuk kesempatan kerja, kesehatan karyawan, kecelakaan kerja dan
gangguan keselamatan pekerja dipantau di kantor setempat.
b. Peningkatan pendapatan masyarakat dipantau melalui wawancara dengan
masyarakat sekitar proyek.
4. Upaya Pemantauan Lingkungan:
a. Bekerja sama dengan banjar atau desa adat setempat dalam keamanan
lingkungan setempat.
b. Pemantauan terhadap kondisi peralatan kerja serta pembuatan jadwal pergantian
jam kerja.
c. Pemerikasaan kesehatan karyawan dan memberikan asuransi kecelakaan kerja
serta meningkatkan kedesiplinan kerja.
Tabel 6.1. Matrik Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
No.
1

Jenis Dampak

Pemantauan
Lingkungan

Indikator Dampak

Kesempatan

Tenaga lokal yang

Jumlah tenaga lokal

kerja dan

terserap.

yang terserap.

berusaha

Usaha sampingan

Ada tidaknya usaha

masyarakat.

sampingan masyarakat.

20

Institusi Pemantau
Pemrakarsa
Tim UKL dan UPL
Gianyar

Terlibatnya

Keresahan
masyarakat

Kajian Lingkungan
Terlibatnya
pengusaha
Peningkatan
Dan Pemanfaatan
Mata Air Rendang-Payungan

pengusaha lokal.

lokal.

Koordinasi dengan

Koordinasi dengan

pihak Dusun
Keresahan

pihak Dusun.
Ada tidaknya surat

masyarakat.

persetujuan/sosialisasi

Protes dan gugatan

dengan masyarakat.

masyarakat.

Ada tidaknya protes

Gangguan

masyarakat.

kamtibmas.

Ada tidaknya gangguan


kamtibmas.
Petugas sesuai dengan
bidang keahlian.
Ada tidaknya papan
pengumuman tanda
bahaya.
Kondisi peralatan dan
umurnya.
Pengelolaan karyawan.
Jam kerja dan
pergantiannya.
Pemeriksaan kesehatan.
Ikut askes dan
jamsostek.

Sarana dan prasarana


kerja.
3

Kesehatan dan

Kejadian kecelakaan

Keselamatan

kerja.

Karyawan

Kesehatan karyawan.
Kondisi peralatan
kerja.

Pemrakarsa
Tim UKL dan UPL
Gianyar

Pemrakarsa

Tim UKL dan UPL


Gianyar

Perilaku tamu dan


karyawan.

Keresahan

Ada tidaknya

masyarakat.

koordinasi dengan

Keresahan dan protes

lingkungan/dusun.

Ketertiban dan

karyawan.

Ada tidaknya

keamanan

Protes masyarakat.

demonstrasi karyawan.

Tim UKL dan UPL

Gangguan

Ada tidaknya kejadian

Gianyar

kamtibmas.

kriminalitas.

21

Pemrakarsa

Kajian Lingkungan
BAB VIIDan Pemanfaatan Mata Air Rendang-Payungan
Peningkatan

PELAPORAN
Hasil pelaksanaan UKL dan UPL akan dilaporkan kepada instansi terkait sebagai berikut:
7.1. Intansi yang dilapori:
a. Dinas Lingkungan Hidup Desa Ubud
b. Dinas Tenaga Kerja Desa Ubud
c. Dinas Pertamanan dan Kebersihan Desa Ubud
d. Desa Ubud daerah Nyuh Kuning
e. Desa Adat Ubud
7.2. Materi Pelaporan
Materi laporan yang dimaksud adalah laporan mengenai pemantauan lingkungan yang
berisi:
a. Pelaksanaan pemantauan lingkungan
b. Waktu dan frekwensi pemantauan
c. Metode dan peralatan yang dipergunakan dalam pelaksanaan pemantauan
d. Hasil analisis atau hasil kajian sosial antara lain gangguan lalu lintas, fasum dan
fasos, keresahan masyarakat dan gangguan kamtibmas.
7.3. Frekwensi Waktu Laporan
Pelaporan terhadap pemantauan lingkungan dilaksanakan pada tahap operasional.
Waktu pelaporan dilakukan 6 bulan sekali (sudah diterima oleh instansi-instansi yang
dilapori/dituju).

22