Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN MANAJEMEN NYERI

1. Definisi Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat
dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut
Potter dan Perry (2006) nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi
tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri sangat bersifat subjektif dan
sangat bersifat individual. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa nyeri merupakan kondisi yang tidak menyenangkan yang dialami oleh seseorang
sebagai akibat dari kerusakan jaringan aktual maupun potensial, yang bersifat subjektif
dan individual. Rasa nyeri merupakan mekanisme perlindungan. Rasa nyeri timbul bila
ada kerusakan jaringan, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara
memindahkan stimulus nyeri (Guyton & Hall, 2007).
2. Jenis-jenis Nyeri
a. Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan cidera
spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cidera telah terjadi.
Nyeri akut umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu
bulan. Cidera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara
spontan atau dapat memerlukan pengobatan (Smeltzer & Bare, 2002).
b. Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang
suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu penyembuhan yang
diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cidera spesifik.
Nyeri kronis tidak mempunyai awitan yang dapat ditetapkan dengan tepat dan sering
sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respons terhadap
pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis sering didefinisikan
sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih (Smeltzer & Bare,
2002). Nyeri kronis yang terjadi setelah suatu cidera atau proses penyakit diduga
terjadi karena ujung-ujung saraf yang normalnya hanya mentransmisikan stimulus
yang sangat nyeri, mentransmisikan stimulus yang sebelumnya tidak nyeri sebagai
stimulus yang sangat nyeri.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respons Nyeri


a. Pengalaman Masa Lalu dengan Nyeri
Seseorang yang mempunyai pengalaman multipel dan berkepanjangan dengan
nyeri akan lebih sedikit gelisah dan lebih toleran terhadap nyeri dibanding orang
yang hanya mengalami sedikit nyeri.

b. Ansietas dan Nyeri


Ansietas yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan
persepsi pasien terhadap nyeri.
c. Budaya dan Nyeri
Budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang
berespons terhadap nyeri. Namun budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi
nyeri. Sebagai contoh anak anak yang sejak kecil diajarkan bahwa cidera akibat
olahraga tidak terlalu menyakitkan dibandingkan dengan cidera akibat kecelakaan
bermotor. Maka mereka memiliki persepsi bahwa cidera bermotor akan lebih
menyakitkan daripada cidera olahraga.
d. Usia dan Nyeri
Lansia memiliki cara berespon yang berbeda terhadap nyeri dibandingkan
dengan orang yang berusia lebih muda. Nyeri pada lansia mungkin dialihkan jauh
dari tempat cidera atau penyakit. Persepsi nyeri pada lansia mungkin berkurang
sebagai akibat dari perubahan patologis berkaitan dengan beberapa penyakit
(misalnya diabetes), tetapi pada individu lansia yang sehat, persepsi nyeri mungkin
tidak berubah. Karena individu lansia mempunyai metabolisme yang lebih lambat
dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih besar disbanding individu berusia
lebih muda, sehingga analgesik dosis kecil mungkin cukup untuk menghilangkan
nyeri.
e. Efek Plasebo
Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespons terhadap pengobatan atau
tindakan lain karena suatu harapan bahwa pengobatan atau tindakan tersebut akan
memberikan hasil bukan karena tindakan tersebut benar-benar bekerja, namun karena
menerima pengobatan atau tindakan saja sudah memberikan efek positif bagi mereka.
4. Fisiologi Nyeri
a. Masuknya aktivitas saraf aferen dimodulasi oleh mekanisme pembukaan / penutupan
gerbang (gating mechanism) di dalam tanduk dorsal korda spinalis dan batang otak.
Gerbang ini merupakan inhibitor atau fasilitator bagi aktivitas sel Transmisi (T) yang
membawa aktivitas lebih jauh sepanjang jalur saraf.
b. Gerbang dipengaruhi oleh derajat relatif dari aktivitas serabut beta A dengan diameter
besar, serabut delta A diameter kecil serta serabut C. Serabut beta A diameter besar
diaktifkan oleh stimuli tidak berbahaya dan pada aktifitas serabut aferen besar
cenderung menutup gerbang sedangkan aktifitas

serabut kecil cenderung

membukanya.
c. Mekanisme kontrol serabut saraf desendens dari tingkatan yang lebih tinggi di susunan
saraf pusat dipengaruhi oleh proses kognitif, motivasional dan afektif Derajat mekanisme
yang lebih tinggi ini juga memodulasi gerbang. Aktivitas di dalam serabut aferen besar
tidak hanya cenderung menutup gerbang secara langsung tetapi juga mengaktifkan
mekanisme kontrol pusat yang menutup gerbang.

d. Saat gerbang terbuka dan aktivitas di dalam aferen yang baru masuk cukup untuk
mengaktifkan sistem transmisi, dua jalur asendens utama diaktifkan. Yang pertama
adalah jalur sensoris-diskriminatif, yang bersambung dengan korteks somatosensoris
serebri melalui thalamus ventroposterior. Jalur ini memungkinkan penentuan tempat
nyeri. Kedua, jalur asendens yang melibatkan informasi retikuler melalui sistem
thalamus dan limbus medial. Jalur ini berurusan dengan rasa tidak enak, penolakan
(aversif) dan aspek emosional dari nyeri. Jalur desendens, selain berpengaruh pada
gerbang tanduk dorsal, dapat juga berinteraksi dengan kedua sistem asendens ini.
5. Penilaian Nyeri
Penilaian nyeri merupakan elemen yang penting untuk menentukan terapi nyeri
paska pembedahan yang efektif. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan
untuk menilai derajat nyeri. Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien
dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan. Ada beberapa
skala penilaian nyeri pada pasien sekarang:
a. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale
Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda, dimulai dari
senyuman sampai menangis karena kesakitan. Skala ini berguna pada pasien dengan
gangguan komunikasi, seperti anak-anak, orang tua, pasien yang kebingungan atau
pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat.

b. Verbal Rating Scale (VRS)


Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima
poin ; tidak nyeri, ringan, sedang, berat dan sangat berat.

c. Numerical Rating Scale (NRS)


Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978, dimana pasien
ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 5
atau 0 10, dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10
menunjukkan nyeri yang hebat.

d. Visual Analogue Scale (VAS)


Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang
merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak ada
nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Pasien diminta untuk membuat
tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan. Penggunaan
skala VAS lebih gampang, efisien dan lebih mudah dipahami oleh penderita
dibandingkan dengan skala lainnya. Penggunaan VAS telah direkomendasikan oleh
Coll dkk karena selain telah digunakan secara luas, VAS juga secara metodologis
kualitasnya lebih baik, dimana juga penggunaannya realtif mudah, hanya dengan
menggunakan beberapa kata sehingga kosa kata tidak menjadi permasalahan.
Willianson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik
kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena dapat menyajikan
data dalam bentuk rasio. Nilai VAS antara 0 4 cm dianggap sebagai tingkat nyeri
yang rendah dan digunakan sebagai target untuk tatalaksana analgesia. Nilai VAS > 4
dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga pasien merasa tidak nyaman sehingga
perlu diberikan obat analgesik penyelamat (rescue analgetic).

6. Manajemen Nyeri
a. Management Farmakologi, terdiri atas:
Analgesik non opioids
Termasuk nonsteroidal anti inflamatory drugs ( NSAIDS ), seperti: Aspirin,
acetaminophen, dan ibuprofen. Menurut American Pain Society, obat-obatan ini
bekerja pada saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkat/ level inflamasi.
Analgesik opioids
Analgesik opioids termasuk opium derivate, seperti morfin dan kodein. Obat-obat
ini bekerja dengan cara mengubah mood, perhatian, perasaan pasien menjadi lebih
baik, dan lebih nyaman walaupun terdapat nyeri.
Analgesik adjuvant.

Analgesik adjuvant adalah terapi pengobatan selain menggunakan analgesic,


tetapi dapat mengurangi tipe-tipe nyeri kronik. Contohnya Diazepam (Valium)
yang dapat menggunakan rasa nyeri pada saat terjadi spasme otot membantu bisa
tidur nyenyak.
b. Management non Farmakologi, terdiri atas:
Intervensi fisik
Tujuan dari intervensi fisik adalah:
Membuat nyaman.
Mengurangi disfungsi fisik.
Menormalkan respon fisiologis.
Mengurangi ketakutan.
Cutaneous Stimulation
Yang termasuk cutaneous stimulation:
Pemijatan/massage
Kompres panas/dingin
Asupressure
Contralateral Stimulation
Immobilisasi
Biasanya pasien tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat kontraktur
atau terjadi ketidakseimbangan otot. Splint ini harus diubah posisinya tiap 30
menit untuk mencegah terjadinya penyakit baru seperti dicubitus.
TENS
Transcutaneous electrice nerve stimulation (TENS) adalah noninvasive, teknik
control nyeri nonalgesic untuk klien dengan nyeri akut ataupun kronik.
Akupuntur
Akupuntur telah diterapkan di China dan mendapat perhatian tinggi dari Amerika
Utara. Biasanya digunakan untuk nyeri akut.
Placebo
Placebo adalah salah satu bentuk treatment seperti medikasi atau tindakan
keperawatan ya ng menghasilkan efek pada klien, bahwa tindakan yang dilakukan
atau yang diberikan perawat dapat menyembuhkan penyakit.
Distraksi
Contoh dari distraksi adalah pada saat klien dipindahkan dari ruang bedah
mungkin tidak merasakan nyeri saat melihat pertandingan sepak bola di televisi,
tapi nyeri akan dirasakan lagi pada saat pertandingan itu sudah selesai.
Hypnosis
Hypnosis digunakan untuk memfokuskan konsentrasi dan meminimalisir distraksi.
Relaksasi
Macam-macam teknik relaksasi : meditasi, yoga, dan latihan relaksasi progresif.
Teknik ini tidak dilakukan pada pasien yang nyeri akut karena ketidakmampuan
berkonsentrasi. Latihan relaksasi progresif mencakup latihan control nafas,
kontraksi, dan relaksasi otot.

https://id.scribd.com/doc/205612698/Laporan-Pendahuluan-Nyeri

7. Asuhan Keperawatan
N

Data

Masalah

Etiologi

Nyeri

Agen cidera

Diagnosa Keperawatan

o
1.

DO
1. Ekspresi
tampak

wajah
menahan

biologi

Nyeri berhubungan dengan


agen cidera biologi ditandai
dengan

nyeri

ekspresi

wajah

tampak menahan nyeri, klien

DS
1. Klien mengatakan
nyeri

diarea

punggung
2. Klien
mengeluh

mengatakan

nyeri

diarea

punggungdan klien mengeluh


sakit perut sebelah kiridan
menjalar kebelakang

sakit perut sebelah


kiridan

menjalar

kebelakang
NOC: Pain Control
Setelah diberikan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan pasien dapat:
(1) Mengenal gejala nyeri (4)
(2) Melaporkan nyeri yang dirasakan (5)
(3) Mengenali faktor penyebab nyeri (4)
(4) Menggunakan terapi non-analgesik untuk mengurangi nyeri (4)

NIC: Pain Management


(1) Observasi ketidaknyamanan pasien secara nonverbal, khususnya komunikasi yang
tidak efektif
(2) Eksplorasi pasien faktor-faktor yang dapat memperberat dan meringankan nyeri
(3) Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
(4) Sediakan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berakhir dan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan
(5) Kolaborasi pemberian analgesik dengan dokter

DAFTAR PUSTAKA
Dochterman, J.M.C., & Bulechek, G.M. (2004). Nursing intervention classification (4th
ed.). Missouri: Mosby.
Guyton, A.C., & Hall, J.E. (2007). Buku ajar fisiologi kedokteran (11th ed.). Jakarta: EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24986/3/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31992/4/Chapter%20II.pdf
Johnson, M., Maas, M., & Moorhead, S. (2004). Nursing outcomes classification (2nd ed.).
Missouri: Mosby.
Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W.I., & Setiowulan, W. (Eds.). (2009).
Kapita selekta kedokteran (3rd ed. 1st vol). Jakarta: Media Aesculapius.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses,
dan praktik. (4th ed. 2nd vol). Jakarta: EGC
Santosa, B. (2005). Panduan diagnosa keperawatan NANDA. Jakarta: Prima Medika.
Smeltzer, S., & Bare, B. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah brunner &
suddarth (8th ed. 2nd vol). Jakarta: EGC.