Anda di halaman 1dari 8

Sistem Sensorik

Sensibilitas terbagi menjadi 4 jenis: sensasi superfisial, dalam, viseral dan


khusus. Sensasi superfisial disebut juga eksteroseptif atau protektif yang
mengurus rasa raba, nyeri dan suhu. Sensasi dalam disebut juga sebagai
propioseptif yang termasuk rasa gerak (kinetik), rasa sikap (statognesia) dari
otot dan persendian, rasa getar (pallesthesia), rasa tekan dalam, rasa nyeri
dalam otot. Sensasi viseral (nteroseptif) dihantarkan melalui serabut otonom
aferen dan mencalup rasa lapar dan rasa nyeri pada visera.

Pemeriksaan sensibilitas
Dari gangguan dapat dibedakan gangguannya bersifar sentral, perifer atau
berbentuk dermatom.
Pemeriksaan rasa raba
Dapat digunakan kapas untuk memeriksa atau ujung kain. Bagian yang
digunakan adalah ujung bebas dari kapas tersebut, sehingga penekanan yang
dihasilkan oleh penggoresan kapas itu minimal. Periksa seluruh tubuh dengan
membandingkan kiri dan kanan. Daerah tubuh proksimal akan lebih peka
daripada bagian distal tubuh, dan daerah-daerah tertentu erotogenik seperti
leher, sekitar payudara dan genitalia lebih peka dibanding dengan bagian tubuh
lainnya. Untuk rasa raba halus dinamakan thigmestesia. Kesulitan yang didapat
adalah serangkaian stimulus yang diberikan dapat mengakibatkan pengurangan
sensasi raba yang bisa diakibatkan karena adaptasi sehingga pemeriksaan
menjadi kurang akurat. Pasien dapat seperti merasakan raba walaupun sedang
tidak bersentuhan dengan alat pemeriksaan.

Pemeriksaan rasa nyeri


Rasa nyeri dibedakan atas rasa nyeri tusuk, rasa nyeri tumpul, rasa nyeri cepat,
rasa nyeri lambat. Rasa nyeri tusuk memiliki sifat tajam, cepat timbul cepat dan
cepat pula hilangnya, sedangkan jika timbulnya dan hilangnya lama disebut
nyeri lambat. Dalam sehari-hari digunakan jarum atau peniti untuk melakukan
tes ini. Tusukan hendaknya benar-benar keras sehingga timbul rasa nyeri,
periksalah seluruh bagian tubuh dan membandingkan antara kiri dan kanan.
Reseptor rasa nyeri pada beberapa tempat seperti lidah, bibir dan ujung jari
letaknya lebih berdekatan sehingga bagian-bagian tersebit lebih perasa
dibandingkan bagian lainnya.

Pemeriksaan rasa suhu


Ada dua macam rasa suhu yaitu panas dan dingin, rasa suhu diperiksa dengan
menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan air es (10-20 0C) dan air panas
(40-500C). Suhu yang kurang dari 5oC atau lebih ari 500C akan menimbulkan
rasa nyeri. Kepekaan bagian-bagian tubuh tidak sama, bagian proksimal
ekstremitas biasanya kurang peka terhadap rasa raba dingin. Pada pemeriksaan
ini akan dibandingkan bagian-bagian tubuh dan dibandingkan antara kiri dan
kanan dalam kondisi yang sama, seperti daerah tertentu antara kiri dan kanan
dengan lama terpajan dengan udara kamar saat pakaian dibuka. Air yang
digunakan dipantau dengan menggunakan termometer untuk mengetahui suhu
dengan pasti. Pertama pemeriksaan dapat dilakukan dari suhu yang berbeda
sangat jelas (400C dan 100C ) kemudian dilanjutkan dengan suhu lainnya. Pada
orang normal dapat membedakan 10C pada suhu yang hangat antara 28-320C ,
dan perbedaan 35-400C pada suhu yang dingin antara 10-200C. Karena bagian

tubuh yang tertutup pakaian lebih peka terhadapa rangsang suhu. Perubahan
rasa suhu dinyatakan dengan anestesia suhu (tidak merasa), hipestesia suhu
(kurang merasa) dan hiperestesia suhu (lebih merasa). Pada orang yang berusia
lanjut menunjukan hipestesia terhadap rangsang ini pada tangan dan kakinya,
hal ini dapat menunjukkan karena adanya sirkulasi darah pada bagian distal
kurang baik pada manifestasi proses menua sehingga tidak didapatkan kelainan
yang patologi.
Rasa gerak dan rasa sikap
Rasa gerak dirasakan ketika tubuh digerakkan baik secara aktif maupun pasif
dan rasa sikap tau posisi tubuh atau bagian tubuh. Pada pemeriksaan kita dapat
menggerakan jari-jari pasien secara pasif dan menilai apakah pasien dapat
merasakan gerak tersebut dan arahnya, pegang bagian lateral jari-jari pasien
agar saat dilakukan tes ini tidak dapat menggunakan eksteroseptifnya (rasa raba
halus) untuk mengetahui gerakan tersebut. Jari yang satu diusahakan untuk
tidak bersentuhan dengan jari lainnya. Nilai derajat terkecil yang masih dapat
dinilai. Pada orang normal dapat merasakan arah gerakan bila sendi interfalang
digerakkan sekitar dua derajat atau 1mm. Bila terjadi gangguan, yang paling
ringan adalah posisi jari-jari dan kemudian gerak. Setelah menilai gerakan jari,
kita menilai ekstremitas, ekstremitas yang akan dinilai digerakkan dan pasien
menunjukkan posisi ibu jarinya. Selama pemeriksaan mata pasien ditutup.
Pemeriksaan untuk rasa sikap dapat diakukan dengan cara sebagai berikut:

Menempatkan salah satu lengan atau tungkai pasien pada satu posisi
tertentu, kemudian pasien diminta untuk menempatkan posisi yang sama
seperti sebelumnya, pemeriksaan ini dalam keadaan mata pasien
tertutup.
Pasien diminta untuk menyentuh ujung jari. Beberapa tes untuk menilai
ataksia dapat dilakukan untuk tes rasa gerak dan sikap, seperti tes tunjuk
hidung dan tes tumit lutut yang dilakukan dengan memejamkan mata.

Rasa getar
Pemeriksaan ini menggunakan garpu tala berfrekuensi 128 Hz yang digetarkan
pada ibu jari kaki, maleolus lateral dan medial kaki, tibia, spina iliaka anterior
superior, sakrum, prosesus spinosus vertebra, sternum, klavikula, radius-ulna

dan jari-jari. Pasien diberi keterangan untuk mengetahui getaran dari garpu tala
dan memberitahukan pemeriksa bila getaran sudah hilang. Bila getaran sudah
tidak terasa kemudian pindahkan pada pemeriksa dengan beranggapan
pemeriksa adalah normal sehingga dapat diketahui sampai berapa lemah pasien
masi dapat merasakan dan dibandingkan juga antara bagian tubuh yang lain.
Untuk gangguan hilangnya rasa getar dinamakan pallanesthesia.

Pemeriksaan rasa raba kasar (rasa tekan)


Pemeriksaan ini dengan menekan jari atau benda tumpul pada kulit atau dengan
memencet tendon dan serabut saraf, namun perlu diperhatikan untuk tidak
terlalu kuat menekan karena akan menimbulkan rasa nyeri. Kemudian pasien
diberitahukan untuk mengatakan apakah merasakan tekanan tersebut dan
lokasinya.
Pemeriksaan rasa nyeri dalam
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menekan otot atau tendon, menekan serabut
saraf yang letaknya dekat permukaan atau menekan bola mata. Biasanya
pemeriksaan dilakukan dengan menekan otot lengan atas, lengan bawah, paha,
betis dan tendon achilles, selain itu kita dapat melakukan pemeriksaan dengan
mengetok dengan menggunakan palu reflek. Saraf yang letaknya di permukaan
diperiksa juga rasa nyeri tekannya, karena pada neuritis dapat lebih peka
terhadap nyeri tekan. Perabaan saraf dapat dilakukan karena pada kusta terjadi
pembesaran saraf selain meningkatnya rasa nyeri tekan. Nervus yang diperiksa
yaitu nervus ulnaris, nervus peroneus, nervus aurikularius magnus dan nervus
supraorbitalis.
Ada beberapa tanda yang dapat digunakan sebagai penilaian dalam
pemeriksaan yaitu:

Tanda Abadie: penekanan yang kuat pada tendon Achilles tidak


membangkitkan rasa nyeri
Tanda Biernacki: penekanan kuat pada nevus ulnaris tidak membangkitkan
rasa nyeri
Tanda Pitres: penekanan pada testis tidak menimbulkan nyeri

Rasa interoseptif

Yaitu rasa yang timbul dari organ dalam (visera) seperti rasa mules, kembung
atau kandung kencing terasa penuh. Rasa ini biasanya difus dan lokalisasinya
tidak tegas. Pada neurologi pemeriksaani ini sulit untuk dilakukan dan dievaluasi
karena selain letaknya yang difus kita sulit untuk melakukan tes pada organ
yang letaknya di dalam tubuh.
Nyeri rujukan (referred pain)
Nyeri ini biasanya didapatkan pada dermatom yang sama atau berdekatan
dengan organ internal karena persarafan segmental yang sama, namun mungkin
juga pada tempat yang lebih jauh. Seperti contoh nervus frenikus mempersarafi
diafragma dan jaringan sekitarnya yaitu pleura dan jaringan ekstraperitoneal
yang berada di dekat kandung empedu dan hepar. Serabut saraf ini berasal dari
servikal 3,4 dan 5 sehingga bila terjadi iritasi di daerah organ tersebut dapat
dirasakany nyeri pada lokasi organ itu dan dapat dirasakan nyeri di tempat lain
yang sama-sama dipersarafi oleh nervus itu, dalam hal ini pada kuduk dan bahu.
Nyeri rujukan ini disebabkan oleh refleks visero-kutan. Nyeri rujukan perlu
diketahui seperti angina pektoris yang dapat menjalar sampai lengan kiri atau
pada ginjal yang dapat menjalar ke sekitar inguinal.
Rasa somestesia luhur
Rasa somestesia luhur adalah rasa yang mempunyai sikap diskriminatif dan sifat
tiga dimensi. Pada rasa somestesia luhur memerlukan komponen kortikal dan
persepsi akhir. Komponen kortikal merupakan fungsi dari lobus parietal untuk
menganalisis setiap rangsangan, mengkorelasi, mengintegrasi dan
menginterpretasi untuk mengenal impuls-impuls. Pada somestesia luhur meliputi
rasa diskriminasi, barognosia, stereognosia, topostesia dan grafestesia.
Diskriminasi
Rasa ini untuk mengetahui apakah ditusuk dengan menggunakan satu atau dua
jarum pada waktu yang bersamaan. Untuk pemeriksaan ini dapat dilakukan
dengan menggunakan jangka Weber atau dua buah jarum. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan cara ditekan pada daerah yang diperiksa dengan
menggunakan dua jarum pada waktu yang bersamaan dan pasien harus
mengatakan apakah pasien ditusuk dengan menggunakan satu atau dua jarum.
Pemeriksaan ini perlu diketahui jarak terkecil yang masih dirasakan sebagai dua
tusukan. Jarak ini akan berbeda-beda pada bagian-bagian tubuh yang lain,
misalnya pada lidah pada jarak 1mm sudah dapat dibedakan dua tusukan, atau
pada ujung jari 2-4mm, pada telapak tangan 8-12mm, pada punggung tangan
20-30mm, pada punggung 40-70mm, pada lengan atas dan paha 75mm.
Lakukan pemeriksaan ini pada bagian badan yang simetris. Bila terganggu rasa
diskriminasinya namun rasa rabanya baik, hal ini menunjukan adanya lesi di
lobus parietalis.

Barognosia
Baronogsia adalah kemampuan untuk mengenal berat benda yang dipegang
atau membedakan berat benda. Kemampuan ini terganggu bila rasa
propioseptifnya terutama rasa gerak dan rasa sikap terganggu. Untuk
pemeriksaan ini digunakan benda-benda yang ukuran, bentuk, bahan dasar yang
sama namun beratnya yang berbeda. Hilangnya kemampuan untuk dapat
membedakan berat benda dinamakan baragnosia.
Stereognosia
Stereonognia merupakan kemampuan untuk mengenal bentuk benda dengan
meraba tanpa melihat. Bila kemampuan ini terganggu dinamakan astereognosia
atau agnosia taktil. Cara pemeriksaannya adalah pasien menutup mata dan
ditempatkan berbagai macam benda ke dalam tangannya. Benda yang
digunakan adalah benda-benda yang sederhana dan diketahui dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya kunci, gelas, uang logam atau jam tangan. Pasien
kemudian meraba dan mengenali benda-benda tersebut, selain itu juga pasien
memberikan gambaran mengenai ukuran, betuk dan materi benda tersebut.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan tangan.
Topestesia
Topestesia atau topogsia adalah kemampuan melokalisasi tempat dari rasa raba.
Cara pemeriksaannya yaitu dengan mata tertutup pasien diberitahukan untuk
menyebutkan tempat-tempat atau bagian tubuh yang disentuh oleh pemeriksa.
Tempat tersebut harus dilokasi yang jelas seperti pipi kiri atau bawah telinga
kanan. Bila terjadi gangguan maka dinamakan topagnosia atau topoanestesia.
Grafestesia
Grafestesia merupakan kemampuan utnuk mengenalli huruf-huruf atau angka
yang ditulis di kulit dengan mata tertutup. Jadi dalam pemeriksaan ini dapat
digunakan pensil atau benda tumpul lainnya untuk menuliskan huruf ataupun
angka pada kulit pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mata tertutup, dan
pasien menyebutkan berapa angka yang dituliskan atau menyebutkan jenis
huruf yang dituliskan. Hilangnya kemampuan ini dinamakan grafanestesia.

Anda mungkin juga menyukai