Anda di halaman 1dari 19

BUDAYA SEKOLAH (SCHOOL CULTURE)

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Sosio Antropologi Pendidikan

Dosen : Y. Ch. Nany Sutarini, M. Si

Oleh Kelompok 7 :
1. Muthiah Ikhwandhia

12502241016

2. Dewi Wulandari

12502244004

3. Eko Bayu Saputra

12502244008

4. Imam Supardi

12502249001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan taufik, hidayah dan inayah-Nya sehingga tugas makalah Sosio
Antropologi Pendidikan dengan tema Budaya Sekolah (School Culture)

ini

dapat terselesaikan dengan baik.


Tersusunnya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak- pihak yang telah
banyak membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga Allah SWT dapat
membalas dan memberikan yang terbaik.
Di dalam penyusunan tugas ini penyusun telah berusaha semaksimal
mungkin, ibarat pepatah Tak ada gading yang tak retak, tiada hidup dalam
kesempurnaan. Kami mohon kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan tugas ini serta semoga makalah ini dapat diterima dan dapat
menambah wawasan dan menjadi referensi dalam mata kuliah ini dikemudian
hari.

Yogyakarta, 4 Maret 2015


Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang ...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................3
C. Tujuan Pembahasan ...................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................4
A. Pengertian Budaya Sekolah ........................................................................4
B. Karakteristik Budaya Sekolah .....................................................................5
C. Unsur-unsur Budaya Sekolah.......................................................................6
1. Klasifikasi Budaya Sekolah Berdasarkan Usaha Peningkatan
Kualitas Pendidikan ..............................................................................6
2. Klasifikasi Budaya Sekolah Berdasarkan Kategori ...............................7
D. Fungsi dan Peran Budaya Sekolah...............................................................7
E. Membangun Kultur dan Masyarakat Sekolah .............................................9
F. Aplikasi Budaya Sekolah ..........................................................................12
BAB III PENUTUP..............................................................................................15
A. Kesimpulan ................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................16

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan di era globalisasi menghadapi berbagai tantangan yang
semakin berat. Cepatnya perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang
kehidupan di masyarakat, di satu sisi dapat membawa kemajuan, namun juga
sekaligus melahirkan kegelisahan pada masyarakat. Salah satu hal yang
menggelisahkan adalah persoalan moral. Orang sepertinya tidak lagi memiliki
pegangan akan norma-norma kebaikan. Dalam situasi ini, terutama dalam
pendidikan, dibutuhkan sikap yang jelas arahnya dan norma-norma kebenaran
yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk
mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan sosial yang ada, namun lebih
dari itu, pendidikan juga dituntut untuk mampu mengantisipasi perubahan
dalam menyiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupannya di masa
yang akan datang. Salah satu tantangan pendidikan masa depan adalah tetap
berlangsungnya pendidikan nilai, supaya nilai-nilai luhur yang menjadi acuan
dalam perilaku, dapat ditransformasikan dari generasi ke generasi, khususnya
dalam rangka menepis berbagai dampak negatif dari perubahan sosial. Namun
dalam kenyataannya, seperti diungkapkan oleh Sudarminta (Atmadi, 2000: 3)
sungguhkah kegiatan pendidikan selama ini, baik melalui jalur sekolah
maupun luar sekolah sudah kita rancang dan dilaksanakan dengan kesadaran
penuh akan perlunya mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi
tantangan hidupnya di masa depan.
Institusi pendidikan terutama sekolah, selama ini dianggap sebagai salah
satu lembaga sosial yang paling konservatif dan statis dalam masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sering kurang mampu mengikuti
dan menanggapi arus perubahan cepat yang terjadi di masyarakat. Supaya
kegiatan pendidikan mampu membekali peserta didik dalam menghadapi
tantangan hidupnya di masa depan, harus diantisipasi (berdasarkan

kecenderungan-kecenderungan yang ada), apa yang menjadi tantangan hidup


mereka di masa depan. Persoalan pendidikan tidak hanya menyangkut aspek
yang bersifat kuantitatif, akan tetapi hal-hal lain yang bersifat kualitatif masih
menjadi pekerjaan rumah, antara lain: persoalan relevansi kurikulum, kualitas
pendidik, moralitas pendidik, dan peserta didik, desentralisasi pendidikan,
rendahnya komitmen anak bangsa, serta alat ukur pendidikan di setiap jenjang
pendidikan. Dalam skala mikro, paradigma lama yang dijadikan sebagai dasar
praksis pembelajaran di hampir semua jenjang pendidikan hanya memusatkan
perhatian pada kemampuan otak kiri peserta didik. Sebaliknya, kemampuan
otak kanan kurang dikembangkan secara sistematis dan pedagogis (Suyanto
dalam Sismono, 2006: 128). Supaya pendidikan bermakna bagi kehidupan
siswa, maka dalam proses pendidikan, guru harus sanggup mengembangkan
aspek kognitif siswa (menyangkut knowledge) dan afektif (menyangkut moral
and social action) secara simultan.
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan pengajaran, bimbingan, dan atau latihan bagi perannya di
masa yang akan datang. Pendidikan tidak hanya terlaksana di sekolah, namun
juga berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Pendidikan merupakan
proses pemanusiaan dan menyiapkan manusia untuk menghadapi tantangan
hidup. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya peningkatan kualitas pendidikan
yang telah dilakukan, dalam kenyataannya memang banyak pembenahan yang
harus dilakukan. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas sekolah
misalnya, sekurangnya ada tiga aspek pokok yang perlu diperhatikan, yaitu 1)
proses belajar mengajar; 2) kepemimpinan dan manajemen sekolah; dan 3)
budaya sekolah (Depdikbud, 1999: 10). Dua hal yang disebut pertama sudah
banyak menjadi fokus perhatian berbagai pihak yang peduli pada peningkatan
kualitas pendidikan. Namun faktor yang ketiga, yaitu budaya sekolah, belum
banyak diangkat sebagai salah satu faktor yang menentukan, termasuk dalam
upaya pengembangan moral siswa di sekolah (Ariefa Efianingrum, 2007: 4546).

Sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan mempunyai budaya (culture)


tidak tertulis yang mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat
diterima secara baik, yang tersirat dalam budaya dominan sekolah. Setiap
sekolah merupakan suatu sistem yang khas, mempunyai kepribadian dan jati
diri sendiri, sehinga memiliki kultur atau budaya yang khas pula. Budaya
sekolah bisa merupakan bagian atau subkultur dari kuktur masyarakat atau
bahkan budaya bangsa dan negara.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Salah satu dari hal tersebut adalah membangun budaya sekolah dengan baik.
Budaya sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam
bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk
swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan
berhubungan satu sama lain. Budaya sekolah merupakan faktor yang esensial
dalam membantuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil,
berperilaku kooperatif serta memiliki kecakapan personal dan akademik
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Budaya Sekolah (School Culture) ?
2. Bagaimana karakteristik Budaya Sekolah (School Culture) ?
3. Apa saja unsur-unsur Budaya Sekolah (School Culture) ?
4. Apa fungsi dan peran Budaya Sekolah (School Culture) ?
5. Bagaimana membangun kultur dan masyarakat sekolah ?
6. Apa saja aplikasi Budaya Sekolah (School Culture) ?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui pengertian Budaya Sekolah (School Culture).
2. Untuk memahami karakteristik Budaya Sekolah (School Culture).
3. Untuk mengetahui unsur-unsur Budaya Sekolah (School Culture).
4. Untuk mengetahui fungsi dan peran Budaya Sekolah (School Culture).
5. Untuk mengetahui membangun kultur dan masyarakat sekolah.
6. Untuk mengetahui contoh aplikasi Budaya Sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Budaya Sekolah


Budaya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1991:
149) didefinisikan dalam dua pandangan yaitu: pertama hasil kegiatan dan
penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat
istiadat; kedua, menggunakan pendekatan ilmu antropologi yaitu keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk
memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman
tingkah lakunya.
Budaya atau kebudayaan menurut Soerjono Soekanto (1987: 154) adalah
sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perikelakuan yang normatif yang
mencakup pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Tylor membahasakan
sebagai keseluruhan yang kompleks terdiri atas ilmu pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lainnya juga
kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota sosial/masyarakat
(Dikdik Baehaqi Arif, 2009: 3).
Kesimpulannya adalah bahwa budaya itu merupakan pandangan hidup
(way of life) yang dapat berupa nilai-nilai, norma, kebiasaan, hasil karya,
pengalaman, dan tradisi yang mengakar di suatu masyarakat dan
mempengaruhi sikap dan perilaku setiap orang/masyarakat tersebut.
Pandangan lain tentang budaya sekolah dikemukakan oleh Zamroni bahwa
budaya sekolah adalah merupakan suatu pola asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dipegang bersama oleh
seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan
untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan
yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi
tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka
memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami,

berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan


lingkungan yang ada (Siti Zakiyah, 2013: 9).
Berdasarkan kajian tersebut, penulis mengartikan Budaya Sekolah dapat
dimaknai sebagai karakteristik khas sekolah yang dapat diidentifikasi melalui
nilai yang dianutnya, sikap yang dimilikinya, kebiasaan-kebiasaan yang
ditampilkannya, dan tindakan yang ditunjukan oleh seluruh personil sekolah
yang membentuk satu kesatuan khusus dari sistem sekolah.

B. Karakteristik Budaya Sekolah


Kehidupan selalu berubah. Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu dapat terjadi karena pengaruh
lingkungan dan pendidikan. Pengaruh lingkungan yang kuat adalah di sekolah
karena besar waktunya di sekolah. Sekolah memegang peranan penting dan
strategis dalam mengubah, memodifikasi, dan mentransformasikan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang berhubungan dengan
kebutuhan anak untuk hidup di masyarakat sesuai dengan tuntutan jamannya.
Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan hasil perjalanan sejarah
sekolah, produk dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk kek sekolah.
Sekolah perlu menyadari secara serius keberadaan aneka kultur dengan sifat
yang ada, sehat-tidak sehat, kuat-lemah, positif-negatif, kacau-stabil, dan
konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Nilai-nilai dan keyakinan tidak
akan hadir dalam waktu singkat. Mengingat pentingya sistem nilai yang
diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegitan yang jelas
perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Hanum, 2013: 201).
Secara singkat, langkah-langkah membentuk kultur sekolah yang positif
adalah 1) mengamati dan membaca kultur sekolah yang kini ada, melacak
historisnya dan masalah apa saja yang timbul oleh keberadaan kultur sekolah
tersebut; 2) mengembangkan sistem assesmen kultur sekolah sejalan dengan
tujuan perbaikan sekolah yang diinginkan; 3) melakukan kegiatan assesmen
sekolah guna mendiagnosisi permasalahan yang ada dan tindakan kultural
yang dapat dilakukan; 4) mengembangkan visi strategis dan misi perbaikan

sekolah; 5) melakukan redefinisi aneka peranan: kepemimpinan Kepala


Sekolah, guru, siswa, orang tua, dan aneka stekholders; 6) mewaspadai
perilaku yang lama negatif, nilai-nilai yang bersifat racun, dan koalisi mereka;
7) merancang pola perkembangan kultur sekolah dan membangun praktikpraktik baru dan artifak baru dikaitkan secara sadar dengan nilai-nilai lama
yang relevan dan nilai-nilai baru yang diharapkan tumbuh; 8) melakukan
pemantauan dan evaluasi secara dinamika terhadap perkembangan kultur
sekolah dan dampaknya (Hanum, 2013: 202).
Kebehasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda
atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang
dapat dilihat antara lain: adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis
diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi
untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas,
dan sebagainya.

C. Unsur-unsur Budaya Sekolah


Bentuk budaya sekolah secara intrinsik muncul sebagai suatu fenomena
yang unik dan menarik, karena pandangan sikap, perilaku yang hidup dan
berkembang dalam sekolah pada dasarnya mencerminkan kepercayaan dan
keyakinan yang mendalam dan khas dari warga sekolah. Unsur-unsur budaya
sekolah terdiri berbagai macam hal sehingga diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Klasifikasi budaya sekolah, berdasarkan usaha peningkatan kualitas
pendidikan.
Menurut Djemari Mardapi dalam Srinatun (2003: 28) membagi unsurunsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas
pendidikan sebagai berikut :
a. Kultur sekolah yang positif
Kultur sekolah yang positif adalah kegiatan-kegiatan yang
mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama
dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan
komitmen terhadap belajar.

b. Kultur sekolah yang negatif


Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap
peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan,
misalnya dapat berupa: siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan
siswa jarang melakukan kerja sama dalam memecahkan masalah.
c. Kultur sekolah yang netral
Kultur sekolah yang netral adalah kultur yang tidak berfokus pada
satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif tehadap
perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa
arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain.

2. Klasifikasi budaya sekolah berdasarkan kategori


Hedley Beare mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua
kategori, yakni :
a. Budaya yang dapat diamati
Berupa konseptual yaitu struktur organisasi, kurikulum, behavior
(perilaku) yaitu kegiatan belajar mengajar, upacara, prosedur,
peraturan dan tata tertib, material yaitu fasilitas dan perlengkapan.
b. Budaya yang tidak dapat diamati
Berupa filosofi yaitu visi, misi serta nilai-nilai, yaitu kualitas,
efektivitas,

keadilan,

pemberdayaan

dan

kedisiplinan.

Dalam

mengkaji budaya sekolah lebih difokuskan pada hal-hal yang tidak


dapat diamati, khususnya nilai-nilai sebagai inti budaya. Lebih dari itu
nilai merupakan landasan bagi pemahaman, sikap dan motivasi serta
acuan seseorang atau kelompok dalam memilih suatu tujuan atau
tindakan.

D. Fungsi dan Peran Budaya Sekolah


Budaya sekolah yang terpelihara dengan baik, mampu menampilkan
perilaku iman, takwa, kreatif, inovatif, dan dapat bergaul harus terus

dikembangkan. Manfaat yang dapat diambil dari budaya demikian adalah


dapat menjamin hasil kerja dengan kualitas yang lebih baik, membuka seluruh
jaringan

komunikasi,

kekeluargaan,

keterbukaan,

menemukan

masalah

kebersamaan,
dan

cepat

kegotongroyongan,
memperbaiki,

cepat

menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar (faktor eksternal


seperti teknologi, sosial, ekonomi, dll.
Budaya sekolah memiliki fungsi dan peran yang penting dalam
meningkatkan mutu sekolah termasuk kualitas sumber daya yang dimiliki
sekolah, sebab budaya sekolah akan memberi dukungan dan identitas terhadap
sekolah serta membentuk kerangka kerja bagi kegiatan pembelajaran. Budaya
sekolah yang positif sangat kondusif memberi kontribusi bagi kelancaran
pelaksanaan kurikulum. Oleh sebab itu sekolah perlu memperhatikan dan
mengusahakan budaya sekolah yang positif.
Djemari dalam Srinatun (2011: 65) membagi karakteristik peran kultur
sekolah berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi tiga yakni :
a. Bernilai Strategis
Budaya yang dapat berimbas dalam kehidupan sekolah secara dinamis.
Misalnya memberi peluang pada warga sekolah untuk bekerja secara
efisien, disiplin dan tertib. Kultur sekolah merupakan milik kolektif bukan
milik perorangan, sehingga sekolah dapat dikembangkan dan dilakukan
oleh semua warga sekolah.
b. Memiliki Daya Ungkit
Budaya yang memliki daya gerak akan mendorong semua warga
sekolah untuk berprestasi, sehingga kerja guru dan semangat belajar siswa
akan tumbuh karena dipacu dan di dorong, dengan dukungan budaya yang
memiliki daya ungkit yang tinggi. Misalnya kinerja sekolah dapat
meningkat jika disertai dengan imbalan yang pantas, penghargaan yang
cukup, dan proporsi tugas yang seimbang. Begitu juga dengan siswa akan
meningkat semangat belajranya, bila mereka diberi penghargaan yang
memadai, pelayanan yang prima, serta didukung dengan sarana yang
memadai.

c. Berpeluang Sukses
Budaya yang berpeluang sukses adalah budaya yang memiliki daya
ungkit dan memiliki daya gerak yang tinggi. Hal ini sangat penting untuk
menumbuhkan rasa keberhasilan dan rasa mampu untuk melaksanakan
tugas dengan baik. Misalnya budaya gemar membaca. Budaya membaca di
kalangan siswa akan dapat mendorong mereka untuk banyak tahui tentang
berbagai macam persoalan yang mereka pelajari di lingkungan sekolah.
Demikian juga bagi guru mereka semakin banyak pengetahuan yang
diperolah, tingkat pemahaman semakin luas, semua ini dapat berlangsung
jika disertai dengan kesadaran, bahwa mutu/kualitas yang akan
menentukan keberhasilan seseorang.

E. Membangun Kultur dan Masyarakat Sekolah


Pada dasarnya kualitas sebuah lembaga pendidikan dapat dilihat dari
sejauh mana keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas mulai dari kultur
organisasi atau institusi. Khusus dalam lembaga pendidikan formal seperti
sekolah kultur yang dibangun adalah nilai-nilai atau norma-norma yang dianut
dari generasi ke generasi.
Peran kultur di sekolah akan sangat mempengaruhi perubahan sikap
maupun perilaku dari warga sekolah. Kultur sekolah yang positif akan
menciptakan suasana kondusif bagi tercapainya visi dan misi sekolah,
demikian sebaliknya kultur yang negatif akan membuat pencapaian visi dan
misi sekolah mengalami banyak kendala. Kultur sekolah yang baik misalnya
kemauan

menghargai

hasil

karya

orang

lain,

kesungguhan

dalam

melaksanakan tugas dan kewajiban, motivasi untuk terus berprestasi,


komitmen serta dedikasi kepada tanggungjawab. Sedangkan kultur yang
negatif misalnya kurang menghargai hasil karya orang lain, kurang
menghargai perbedaan, minimnya komitmen, dan tiadanya motivasi
berprestasi pada warga sekolah.
Berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia, juga perlu diciptakan
kultur yang baik. Pada semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan harus

ada komunikasi dan kolaborasi yang apik sehingga mendukung sebuah


lembaga untuk terus berinovasi, untuk terus melakukan perubahan yang
positif, atau Tajdid dalam bahasa persyarikatan kita. Tenaga pendidik dan
kependidikan yang memiliki kultur yang baik akan meciptakan suasana
pembelajaran kepada peserta didik yang juga menyenangkan, dilakukan
dengan kesungguhan dan sepenuh hati.
Untuk siswa perlu ditingkatkan motivasi belajar dan pentingnya
kedisiplinan, kejujuran dan motivasi berprestasi sehingga kompetisi antar
siswa akan tercipta. Contoh kultur negatif yang masih sering dilakukan siswa
antara lain masih kurang diperhatikannya persoalan kedisiplinan, ini terbukti
dari angka keterlambatan yang cukup tinggi.
Budaya inovasi juga perlu ditingkatkan dalam semua elemen dan warga
sekolah. Misalnya saja guru harus membudayakan untuk terus berinovasi
dalam

pembuatan

media

pembelajaran.

Metode

pembelajaran

yang

konvensional harus diganti dengan metode baru yang kontemporer dan


profesional tanpa meninggalkan penekanan kepada makna dan kearifan lokal.
Setiap perubahan budaya menuju perbaikan jelas akan menemui tantangan,
terutama oleh mereka yang merasa sudah mapan, status quo yang yang sudah
terlanjur nyaman dengan kemapanan. Kelompok pembaharu umumnya akan
ditentang, memang karena perubahan itu akan terkesan menakutkan bagi
sebagian orang. Dalam manajemen organisasi ini sesuatu yang wajar namun
tetap perlu dikendalikan.
Solusinya, harus ada kemauan untuk membangun budaya yang kondusif
bagi pembelajaran itu dari semua pihak. Lembaga sekolah harus melakukan
berbagai pendekatan agar terjadi komunikasi yang baik antara sekolah dengan
warga sekolah. Pendekatan yang dilakukan bisa massal maupun personal.
Bagi guru, agar mudah menerima perubahan maka mesti memperluas
wawasan, sharing perkembangan yang sudah terjadi sehingga bisa berpikir
lebih akomodatif terhadap perubahan positif kebudayaan. Dan yang tidak
kalah penting, kepada siswa perlu dilakukan sosialisasi mengenai tantangan

10

dunia ke depan sehingga mereka termotivasi untuk menyiapkan diri


menghadapi tantangan zaman.
Terhadap kultur yang dibawa oleh kecanggihan teknologi memang tidak
semuanya baik. Kita perlu menyaring, memilih dan memilah mana yang baik
dan mana yang tidak baik. Tidak semuanya konsekuensi teknologi itu kita
biarkan, diperlukan adaptasi, bukan adopsi. Namun adanya sisi negatif itu
bukan berarti kita harus menutup diri dari teknologi, kalau kita antipati maka
kita pasti semakin tertinggal.
Sekolah dapat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan di dalam
sekolah, termasuk kepada pendidik dan peserta dididk. Budaya sekolah
berpengaruh terhadap bagaimana pendidik berhubungan dan bekerja sama
dengan semua warga sekolah, dengan sesama pendidik, peserta didik,
orangtua peserta didik, pegawai tata usaha sekolah, dan juga kepada
masyarakat. Nilai-nilai sosial budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana
sekolah

menghadapi

masalah

sekolah,

dan

sekaligus

memecahkan

masalahnya, termasuk masalah hasil belajar peserta didik.


Nilai-nilai sosial budaya sekolah tentu saja dapat dibangun, diubah sesuai
dengan budaya baru yang tumbuh dalam masyarakat. Ketika masyarakat
masih memiliki paradigma lama dengan menyerahkan sepenuhnya urusan
pendidikan anaknya kepada sekolah, maka lahirlah satu bentuk hubungan
sekolah dengan orangtua siswa dan masyarakat yang sangat birokratis.
Orangtua dan masyarakat berada di bawah perintah kepala sekolah.
Contoh nilai-nilai sosial budaya yang harus ditanam pada masyarakat
sekolah yaitu :
a. Etika
Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup
bersama dengan orang lain. Kita hidup tidak sendirian, dilahirkan oleh dan
dari orang lain yang bernama ibu dan ayah kita, dan kemudian hidup
bersama dengan orang lain, oleh karena itu, kita harus hidup beretika,
menghormati diri sendiri dan orang lain.
b. Kejujuran

11

Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur, mulai jujur kepada
dirinya sendiri, jujur kepada Tuhan, jujur kepada orang lain. Kejujuran itu
harus dibangun di sekolah.
c. Bertanggung jawab
Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari
kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. Itulah sebabnya maka kita
harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga
pendidikan sekolah, bahkan dari keluarga.
d. Menghormati hukum dan peraturan
Sering kita menghormati hukum dan peraturan karena takut kepada
para penegak hukum. Kita mematuhi hukum dan perundang-undangan
karena takut terhadap ancaman hukuman. Seharusnya, kita mengormati
hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa hukup dan peraturan itu
adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita.
e. Tepat waktu
Waktu adalah pedang, adalah warisan petuah para sahabat Nabi. Time
is money adalah warisan para penjelajah rules of the waves bangsa
pemberani orang Inggris. Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu
di ladang sekolah kita. Sudah tentu masih banyak lagi nilai-nilai sosial
budaya yang harus kita tanam melalui ladang lembaga pendidikan sekolah.
Nilai-nilai sosial budaya tersebut harus dapat ditanamkan dan terus
dipupuk melalui proses pendidikan dan pembudayaan di rumah, sekolah,
dan dalam kehidupan masyarakat.

F. Aplikasi Budaya Sekolah


Banyak sekali nilai-nilai sosial budaya yang harus dibangun di sekolah.
Sekolah adalah ibarat taman yang subur tempat menanam benih-benih nilainilai sosial budaya tersebut. Beberapa contoh aplikasi budaya sekolah dapat
dibedakan menjadi :
1. Budaya akademik
a. Budaya disiplin

12

Yaitu dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas bila terlambat


dan melakukan pelanggaran tata tertib sekolah.
b. Budaya kerja keras
Yaitu siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, dan
tepat waktu.
c. Mandiri & bertanggung jawab
Yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan
bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru.
d. Mencintai belajar
Mencintai belajar jauh lebih penting ketimbang bersusah payah
menghafalkan bahan ajar.
e. Mencintai pekerjaan
Pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan ini. Siapa yang tidak
bekerja adalah tidak hidup. Oleh karena itu, peserta didik harus
diberikan kesadaran tentang pentingnya menghargai pekerjaan.
2. Budaya non akademik
a. Budaya salam
Yaitu dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling
mengucapkan salam dan berjabat tangan
b. Budaya bersih
Yaitu adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri,
c. Budaya Kreatif
Yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya.
d. Etika
Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup
bersama dengan orang lain.
e. Kejujuran
Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur, mulai jujur kepada
dirinya sendiri, jujur kepada Tuhan, jujur kepada orang lain.
f. Kasih sayang

13

Kasih

sayang

telah

melahirkan

kepercayaan.

Kepercayaan

menghasilkan kepercayaan, dan kepercayaan akan menghasilkan


kewibawaan.
g. Menghormati hukum dan peraturan
Kita mengormati hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa
hukum dan peraturan itu adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita.
h. Menghormati hak orang lain
Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status
sosial, ekonomi, agama, dan budaya.
i. Suka menabung
j. Ekstrakurikuler
Yaitu kegiatan non akademik yang memberi wadah /kesempatan
kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan
bakat dan minatnya masing-masing (Suparlan, 2009: 3).

14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Budaya sekolah yang positif akan mendorong semua warga sekolah untuk
bekerjasama yang didasarkan saling percaya, mengundang partisipasi seluruh
warga, mendorong munculnya gagasan-gagasan baru, dan memberikan
kesempatan untuk terlaksananya pembaharuan di sekolah yang semuanya ini
bermuara pada pencapaian hasil terbaik. Budaya sekolah yang baik dapat
menumbuhkan iklim yang mendorong semua warga sekolah untuk belajar,
yaitu belajar bagaimana belajar dan belajar bersama. Belajar yang muncul dari
dorongn diri sendiri, intrinsik, motivasi, bukan karena tekanan dari luar dalam
segala bentuknya.Akan tumbuh suatu semangat di kalangan warga sekoalah
untuk senantiasa belajar tentang sesuatu yang memiliki nilai-nilai kebaikan.
Budaya sekolah yang baik dapat memperbaiki kinerja sekolah, baik kepala
sekolah, guru, siswa, karyawan maupun pengguna sekolah lainnya. Situasi
tersebut akan terwujud manakala kualifikasi budaya tersebut bersifat sehat,
solid, kuat, positif, dan professional. Dengan demikian suasana kekeluargaan,
kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan untuk bekerja
keras dan belajar mengajar dapat diciptakan.
Budaya sekolah yang baik akan secara efektif menghasilkan kinerja yang
terbaik pada setiap individu, kelompok kerja/ unit dan sekolah sebagai satu
institusi, dan hubungan sinergis antara tiga tingkatan tersebut. Budaya sekolah
diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu
kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif dan
profesional.
Budaya sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah
berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas,
memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Oleh karena
itu, budaya sekolah ini perlu dikembangkan.

15

DAFTAR PUSTAKA

Atmadi, A. & Setianingsih, Y. (ed). 2000. Transformasi Pendidikan, Memasuki


Milenium Ketiga. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma.
Baehaqi, Dikdik. 2009. Wawasan Tentang Manusia dan Masyarakat dalam
Perspektif
Kebudayaan.
Diunduh
dari
alamat
https://baehaqiarif.files.wordpress.com/2009/12/wawasan-tentangmanusia-dan-masyarakat-dalam-perspektif-kebudayaan.doc. Pada hari
Kamis, 23 April 2015 pada pukul 20.08 WIB.
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djemari, Mardapi. 2003. Pengembangan Kultur Sekolah. Makalah disajikan
dalam Seminar Pengembangan Kultur Sekolah di Universitas Negeri
Yogyakarta. Edwar Sallis. 1993. Total Quality Management In Education.
London.
Efianingrum, Ariefa. 2007. E-Prints Dinamika Pendidikan: Kultur Sekolah yang
Kondusif bagi Pengembangan Moral Siswa. Diunduh dari alamat
http://eprints.uny.ac.id/4802/1/KULTUR_SEKOLAH_YANG_KONDUSI
F_BAGI_PENGEMBANGAN_MORAL.pdf. Pada hari Kamis, 23 April
2015 pada pukul 18.58 WIB.
Hanum, Farida. 2013. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Kanwa Publisher
Suparlan.
2009.
Membangun
Budaya
Sekolah.
Diunduh
dari
http://suparlan.com/70/2009/04/03/membangun-budaya-sekolah/ pada hari
Rabu, 22 April 2015 pada pukul 14.01 WIB.
Srinatun. 2011. E-Jurnal Integralistik: Upaya Meningkatkan Kinerja Guru
Melalui
Kultur
Sekolah.
Diunduh
dari
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/integralistik/article/download/168
9/1894 pada hari Rabu, 22 April 2015 pada pukul 13.39 WIB.
Zakiyah, Siti. 2013. Tesis UPI: Pengaruh Budaya Sekolah dan Kinerja Guru
Terhadap Mutu Raudhatul Athfal di Kota Cimahi. Diunduh dari alamat
Siti
Zakiyah,
2013:
http://repository.upi.edu/2841/4/T_ADP_1102538_CHAPTER1.pdf. Pada
hari Kamis, 23 April 2015 pada pukul 20.17 WIB.

16