Anda di halaman 1dari 16

PROBLEMATIKA INSTITUSIONALISASI DAN KODIFIKASI HUKUM

KELUARGA ISLAM ( MESIR, INDONESIA, DAN FIKIH)

Tugas makalah pada mata kuliah Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam

Disusun Oleh :
Ratna Khuzaimah
Lhutfi Kamali
M. Akhfas al-Munir

KOSENTRASI PERADILAN AGAMA


PRODI AHWAL AL-SAKHSIYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2009M/1430H
BAB I
PENDAHULUAN

Mesir dan Indonesia adalah dua Negara yang mengalami pengalaman sejarah yang kuat
mengenai Islam, meskipun Mesir memperolehnya lebih awal dan pengaruhnya lebih nyata
terhadap struktur sosial masyarakat dari sejak awal datangnya Islam hingga sekarang.
Institusionalisasi merupakan sebuah proses menjadikan hukum Islam yang hidup di
masyarakat menjadi bahan hukum di institusi hukum, yaitu peradilan. Dalam perjalanan
sejarahnya, Islam di kedua Negara, Mesir dan Indonesia telah menjadi dasar kehidupan
masyarakat. Islam tidak hanya mengakar dalam aspek-aspek sosial, tetapi juga dalam aspek
hukum, saat lahir suatu kasus hukum, maka pemerintah menyelesaikannya dengan hukum
agama.
Sejalan dengan penguatan institusionalisasi hukum, pemerintah Mesir dan Indonesia
melakukan kodifikasi hukum untuk bahan hukum tertulis bagi para hakim di Peradilan Agama.
Kodifikasi hukum yang membawa pengaruh pada substansi hukum keluarga Islam di Mesir
terjadi tahun 1897, kemudian diamendemen tahun 1909, 1910, 1923 dan 1931. Usaha kodifikasi
di Mesir ini berjalan lambat dan dalam rentang waktu yang panjang. Seluruh kodifikasi hukum
keluarga Islam ini tidak diunifikasi dalam buku hukum, tetapi dalam bentuk draft di sejumlah
peraturan.
Sementara di Indonesia, meski dibarengi oleh perdebatan sengit antara kubu nasionalis
dan Islamis, pemerintah akhirnya mengesahkan Undang-undang hukum keluarga Islam dengan
nama Hukum Perkawinan nomor 1 tahun 1974. Undang-undang nomor 1 tahun 1974 ini
merupakan jawaban dari kegalauan umat Islam ketika masih dalam bentuk rancangan undang-
undang yang akhirnya undang-undang ini merupakan satu bentuk kompromi pemerintah dan
para penentangnya dengan umat Islam yang mendukung. Pada dasarnya, keberadaan undang-
undang ini menguatkan eksistensi hukum Peradilan Agama, dan secara tidak langsung
mengukuhkan bahwa undang-undang ini adalah bukti konkrit dari perkembangan hukum
keluarga Islam di tengah-tengah ideologi nasional Negara, yaitu Pancasila . Setelah undang-
undang nomor 1 tahun 1974, proses institusionalisasi dan kodifikasi hukum Islam di Indonesia

2
semakin nyata dengan ditetapkannya Undang-undang nomor 7 tahun 1989, dan Kompilasi
Hukum Islam yang disahkan dengan Instruksi Presiden nomor 1 tahun 1991.
BAB II
PROBLEMATIKA INSTITUSIONALISASI DAN KODIFIKASI HUKUM KELUARGA
ISLAM ( FIKIH, MESIR, DAN INDONESIA)

A. BATASAN UMUR
1. Perspektif Fikih
Dalam fikih tidak ditemukan penjelasan secara langsung tentang batasan minimal usia
untuk melangsungkan perkawinan, bahkan Nabi sendiri mengawini Siti Aisyah pada saat
umurnya baru 6 tahun dan menggaulinya setelah berumur 9 tahun.
Dasar pemikiran tidak adanya batas umur pasangan yang akan kawin itu kiranya sesuai
dengan pandangan umat ketika itu tentang hakikat perkawinan. Menurut mereka perkawinan itu
tidak dilihat dari segi hubungan kelamin, Nabi mengawini Aisyah anak dari Abu bakar dalam
usia 6 tahun diantaranya ditujukan untuk kebebasan Abu Bakar memasuki rumah Nabi, karena
disitu terdapat anaknya sendiri. Namun sekarang perkawinan itu lebih ditekankan kepada tujuan
hubungan kelamin. Dengan demikian, tidak adanya batas umur sebagaimana yang berlaku dalam
kitab-kitab fikih tidak relevan lagi.1
Meskipun secara terang-terangan tidak ada petunjuk al- Quran atau hadits Nabi tentang
batas usia perkawinan, namun ada ayat al-Quran dan begitu pula ada hadits Nabi yang secara
tidak langsung mengisyaratkan batas usia tertentu.
Adapun al-Quran dalam firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 6 yang artinya :
Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin
Dalam ayat ini dapat dipahami bahwa kawin itu mempunyai batas umur dan batas umur itu
adalah baligh.
Adapun hadits Nabi adalah hadits dari Abdullah ibn Mas’ud muttafaq alaih yang artinya:
Wahai para pemuda siapa diantaramu telah mempunyai kemampuan dalam persiapan
perkawinan, maka kawinlah.

1
Amir, syarifuddin. Hukum Perkawinan Islam di indonesia.(jakarta: Kencana) hal. 67

3
Ada seperti persyaratan dalam hadits Nabi ini untuk melangsungkan perkawinan, yaitu
kemampuan persiapan untuk kawin. Kemampuan dan persiapan untuk kawin hanya dapat terjadi
bagi orang yang sudah dewasa.

2. Perspektif Hukum Keluarga di Mesir


Hukum keluarga islam di Mesir menjelaskan bahwa perkawinan hanya dapat di izinkan
jika laki-laki berusia 18 tahun dan wanita berusia 16 tahun. Dalam ayat 5 pasal 99 Undang-
undang susunan Pengadilan agama tahun 1931, menjelaskan bahwa “ tidak didengar gugatan
perkara keluarga apabila usia istri kurang dari 16 tahun atau usia suami kurang dari 18 tahun
kecuali dengan satu ketetapan kami ”. Walaupun demikian , di Mesir perkawinan yang dilakukan
oleh orang yang belum mencapai batas umur terendah itu sah, tapi tidak boleh didaftarkan.
Pemikiran fikih modern tidak merasa keberatan terhadap penetapan batas umur yang didasarkan
pada prinsip prosedural “larangan mendengarkan gugatan” tersebut, karena hal tersebut
didasarkan pada hak penguasa yang diakui oleh fikih untuk menentukan wewenang peradilan
menurut waktu, tempat dan jenis perkara. 2

3. Perspektif Hukum Keluarga di Indonesia


Di Indonesia batas usia dewasa diatur dalam Undang–undang Perkawinan pada pasal 7
sebagai berikut:
a. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas
tahun) dan pihak wanita mencapai umur 16 tahun (enam belas tahun).
b. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada
Pengadilan atau Pejabat lain, yang ditunjuk oleh kedua orang pria maupun pihak
wanita.
c. Ketentuan–ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tersebut
dalam pasal 6 ayat (3) dan (4) undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan
dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam
pasal (6) ayat (6).
KHI mempertegas persyaratan yang terdapat dalam Undang-undang Perkawinan
dengan rumusan sebagai berikut:

2
Syamsul anwar,Islam, Negara, dan Hukum.(Jakarta; INIS) hal. 106-107

4
Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh
dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan pada Pasal 7
Undang-undang No.1 Tahun 1974, yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19
tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun.3

B. PENCATATAN PERKAWINAN
1.Perspektif fikih
Ada beberapa analisis yang dapat dikemukakan mengapa pencatatan perkawinan tidak
diberi perhatian yang serius oleh fikih walaupun ada ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk
mencatat segala bentuk transaksi muamalah. Pertama, larangan untuk menulis sesuatu selain al-
Qur’an. Akibatnya kultur tulis tidak begitu berkembang dibandingkan dengan kultur hafalan.
Kedua, kelanjutan dari yang pertama, maka mereka sangat mengandalkan hafalan. Agaknya
mengingat sebuah peristiwa perkawinan bukanlah sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Ketiga,
tradisi Walimah al-Urusy walaupun dengan seekor kambing merupakan saksi di samping saksi
syar’i tentang sebuah perkawinan. Keempat, ada kesan perkawiann yang berlangsung pada masa
awal Islam belum terjadi antar wilayah Negara yang berbeda. Biasanya perkawinan pada masa
itu berlangsung dimana calon suami dan calon istri berada dalam suatu wilayah yang sama.
Sehingga alat bukti kawin selain saksi belum dibutuhkan.4
Dengan alasan-alasan yang telah disebut di atas, dapatlah dikatakan bahwa pencatatan
perkawinan belum dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting sekaligus belum dijadikan alat
bukti autentik terhadap sebuah perkawinan. Dan sejalan dengan perkembangan zaman serta
dinamika yang terus berubah, maka banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Pergeseran
kultur lisan kepada kultur tulis sebagai ciri masyarakat modern, menuntut dijadikannya akta,
surat sebagai bukti autentik. Saksi hidup tidak lagi bisa diandalkan tidak saja karena bisa hilang
dengan sebab kematian, manusia juga dapat mengalami kelupaan dan kehilafan. Atas dasar ini
diperlukan sebuah bukti yang abadi itulah yang disebut dengan akta.
Dengan demikian salah satu bentuk pembaharuan hukum keluarga islam adalah
dimuatnya pencatatan perkawinan sebagai salah satu ketentuan perkawinan yang harus dipenuhi.
Dikatakan pembaharuan hukum islam karena masalah tersebut tidak ditemukan di dalam kitab-
kitab fikih ataupun fatwa ulama.
3
Amir, syarifuddin. Hukum Perkawinan Islam di indonesia.(jakarta: Kencana) hal. 68
4
Amiur, Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia.( Jakarta; kencana) hal. 121

5
2. Perspektif Hukum Keluarga Mesir
Usaha untuk menetapkan pencatatan perkawinan di Mesir di mulai dengan terbitnya
Ordonasi 1880 yang berisi ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pegawai-pegawai
pencatat nikah dan dasar–dasar pemilihan dan pengangkatan mereka serta menyerahkan
pelaksananan pencatatan nikah kepada kemauan para pihak yang berakad dan pertimbangan
kepentingan mereka. Ordonasi tahun1880 itu diikuti dengan lahirnya ordonasi tahun 1897 yang
pasal 31-nya menyatakan bahwa “gugatan perkara nikah atau pengakuan adanya hubungan
perkawiann tidak akan didengar oleh pengadilan setelah meninggalnya salah satu pihak apabila
tidak dibuktikan dengan adanya suatu dokumen yang bebas dari dugaan pemalsuan”. Tampak
bahwa pasal ini mengandung persyaratan adanya dokumen yang diduga tidak palsu agar dapat
dijadikan dasar keputusan. Demikian pula Ordonasi tahun 1921 mengandung ketentuan bahwa
dokumen itu harus bersifat resmi, dibuat oleh pegawai berwenang yang ditugaskan untuk itu.
Dari sini jelaslah bahwa undang-undang di mesir mengambil prinsip” tidak mendengarkan suatu
gugatan” dalam kasus-kasus perkawinan dan akibat- akibat hukumnya apabila perkawinan
tersebut tidak terbukti berdasarkan suatu dokumen resmi yang diterbitkan oleh pejabat
berwenang, serperti hakim dan pegawai pencatat nikah atau kosul (untuk luar negri)5.

3. Perspektif Hukum keluarga di Indonesia


Undang-undang perkawinan menempatkan pencatatan perkawinan sebagai sesuatu yang
penting, tetapi juga menjelaskan mekanisme bagaimana pencatatan perkawinan itu dilaksanakan.
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 merupakan era baru bagi kepentingan umat Islam
khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Undang-undang dimaksud merupakan
kodifikasi dan unifikasi hukum perkawinan yang bersifat nasional yang menempatkan hukum
Islam mempunyai eksistensi tersendiri, tanpa diresepsi oleh hukum adat. Amat wajar bila ada
pendapat yang mengungkapkan bahwa undang-undang Perkawinan merupakan ajal teori
receptie (istilah Hazairin). Pencatatan perkawinan seperti diatur pada Pasal 2 ayat (2) meskipun
telah disosialisasikan selama 26 tahun lebih, sampai saat ini masih dirasakan adanya kendala-
kendala. Upaya ini perlu dilakukan oleh umat Islam secara berkesinambungan di negara
Republik Indonesia.

5
Syamsul anwar “islam, Negara dan hukum”

6
Berdasarkan kendala di atas, sebagai akibat adanya pemahaman fikih Imam Syafi’i
yang sudah membudaya dikalangan umat Islam Indonesia. Menurut paham mereka, perkawinan
telah diangap cukup bila syarat dan rukunnya telah terpenuhi tanpa dikuti oleh pencatatan,
apalagi akta nikah. Kondisi ini terjadi sehinga masih ditemukan perkawinan di bawah tangan.
Kenyataan dalam masyarakat seperti ini merupakan hambatan dalam Undang-undang
Perkawinan .
Di dalam UU No.1/1974 pasal 2 ayat 2 dinyatakan bahwa” tiap-tiap perkawinan dicatat
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Di dalam PP No.9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang Perkawinan pasal 3
ada dinyatakan:
1. Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan
kehendaknya kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan
dilangsungkan.
2. Pemberitahuan tersebut dalam ayat (1) di lakukan sekurang-kurangnya 10 hari
kerja sebelum perkawinan dilangsungkan.
3. Pengecualian terhadap jangka waktu tersebut dalam ayat 2 disebabkan sesuatu
alasan yang penting, di berikan oleh camat.

Dengan demikian, pencatatan perkawinan ini walaupun di dalam UUP hanya diatur oleh
satu ayat, namun sebenarnya masalah pencatatan ini sangat dominan. Tidaklah berlebihan jika
ada sementara pakar hukum yang menempatkanya sebagai syarat administratif yang juga
mencantumkan sah tidaknya sebuah perkawinan.
Perspektif KHI
KHI memuat masalah pencatatan perkawinan ini pada pasal 5 sebagai berikut:
1. agar terjaminya ketertiban perkawinan bagi masyarakat islam, setiap perkawinan
harus di catat.
2. Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1) dilakukan oleh pegawai pencatat nikah
sebagaimana yang diatur dalam UU No.22 tahun 1946jo. UU No. 32 tahun 1954.
Selanjutnya pada pasal 6 dijelaskan :
(1). Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan di
hadapan dan dibawah pengawasan pegawai pencatat nikah.

7
(2). Perkawinan yang dilakukakan diluar pengawasan pegawai pencatat nikah tidak
mempunyai kekuatan hukum.

C. POLIGAMI
Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang paling banyak
dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami di tolak dengan berbagai macam
argumentassi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan
ketidakadilan jender. Bahkan para penulis barat sering mengklaim bahwa poligami adalah bukti
bahwa ajaran islam dalam bidang perkawinan sangat diskriminatif terhadap perempuan. Pada
sisi lain, poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normatif yang tegas dan
dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi.
Kajian berikut ini sebisanya akan melihat persoalan poligami ini lebih jernih dan
berupaya untuk mendudukan perbedaan yang ada secara lebih proposional.

1. Perspektif fikih
Poligami memiliki akar sejarah yang cukup panjang sepanjang sejarah peradaban
manusia itu sendiri. Sebelum Islam datang ke Jazirah Arab, poligami merupakan sesuatu yang
telah mentradisi bagi masyarakat Arab. Poligami masa itu dapat disebut poligami tak terbatas.
Lebih dari itu tidak ada gagasan keadilan di antara para istri. Suamilah yang menentukan
sepenuhnya siapa yang paling ia sukai dan siapa yang ia pilih untuk dimiliki secara tidak
terbaras para istri harus menerima takdir mereka tanpa ada usaha untuk memperoleh keadilan.6
Kedatangan Islam dengan ayat-ayat poligaminya, kendatipun tidak menghapus praktik
ini, namun islam membatasi kebolehan poligami hanya sampai empat orang istri dengan
syarat–syarat yang ketat pula seperi keharusan berlaku adil di antara para istri. Syarat-syarat ini
ditemukan di dalam dua ayat poligami yaitu surah an-Nisa’:3 dan surah an-Nisa’:129.7
Dalam penafsirannya, sebenarnya dua ayat di atas menjelaskan betapa al-Qur’an
begitu berat untuk menerima institusi poligami, tetapi hal itu tidak bisa diterima dalam situasi
yang ada maka al-Qur’an membolehkan laki-laki kawin hingga empat orang istri dengan syarat
harus adil. Dengan mengutip al-Tabari, inti ayat di atas sebenarnya bukan pada kebolehan
6
Ahmad Nurudin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata islam di Indonesia. 2006. Jakarta ; Kencana

8
poligami, tetapi bagaiman berlaku adil terhadap anak yatim terlebih lagi ketika mengawini
mereka.
Berbeda dalam pandangan fikih, poligami yang di dalam kitab-kitab fikih disebut
dengan ta’addud al-zaujat, sebenarnya tidak lagi menjadi persoalan. Tidak terlalu berlebihan
jika dikatakan, bahwa para ulama sepakat tentang kebolehan poligami, kendatipun dengan
persyaratan yang bermacam-macam. As-sarakhsi menyatakan kebolehan poligami dan
mensyaratkan pelakunya harus berlaku adil. Al-kasani menyatakan lelaki yang berpoligami
wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya. As-Syafi’I juga mensyaratkan keadilan diantara para
istri-istrinya, dan menurutnya keadilan ini hanya meyangkut urusan fisik semisal mengunjungi
istri di malam atau di siang hari.8
Jika disederhanakan pandangan normatif al-Qur’an yang selanjutnya diadopsi oleh
ulama-ulama fikih setidaknya menjelaskan dua persyaratan yang harus dimiliki suami.
Pertama, seorang laki-laki yang berpoligami harus memilki kemampuan dana yang cukup
untuk membiayai berbagai keperluan dengan bertambahnya istri yang dinikahi. Kedua, seorang
lelaki harus memperlakukan istri sama dalam memenuhi hak perkawinan serta hak-hak lain.

2. Perspektif Hukum Keluarga di Mesir


Banyak pendapat bermunculan menentang gejala poligami dan menganggapnya
menimbulkan kerugian terhadap kedudukan wanita dalam keluarga dan penghalang kebebasan
serta keleluasaan wanita. Para Fuqoha modern menyerang pandangan tersebut dan
menganggapnya bertentangan dngan hak-hak yang diberikan al-Quran kepada suami. Dalam hal
ini muncul pendapat Muhammad Abduh yang menafsirkan ayat-ayat an-Nisa’ yang menyatakan
bahwa syarat kebolehan poligami adalah berlaku adil, kalau tidak bisa, poligami haram
dilakukan karena menyakiti istri, sehingga istri mempunyai hak untuk memutuskan perkawinan
kepada Hakim.
Pemikiran fikih di Mesir pada tingkat yuridis memandang cukup ketentuan-ketentuan
Ordonasi tahun 1929 yang memberi hak kepada wanita untuk memutuskan perkawinan karena
menyakiti secara umum.
Setelah beberapa waktu sesudah dibukanya perdebatan mengenai masalah poligami,
pemikiran fikih di Mesir sampai pada suatu ketegasan bahwa:

8
Pendapat ulama ini telah dirangkum cukup baik oleh khairudin nasution, dalam, status wanita di asia tenggara;

9
1. Keadilan yang dituntut untuk dibolehkannya poligami dalam al-Quran adalah suatu syarat
moral yang pelaksanaanya lebih tepat diserahkan kepada suami dan tidak seyogyanya
dianggap sebagai suatu syarat hukum, karena sukarnya pengadilan mengukur keadilan
itu.
2. Kenyataan-kenyataan angka statistik yang riil belum sampai menunjukkan bahwa
poligami telah menjadi problem sosial, sebab belum mencapai angka tiga per seribu.
3. Pemecahan hukum yang dibenarkan bagi wanita yang suaminya kawin lagi adalah
memberinya hak meminta pemutusan hubungan perkawinan dengan syarat ia dapat
membuktikan adanya kesakitan yang menimpanya karena tidak mendapatkan nafkah,
perlakuan kejam, tidak ditiduri atau semacam itu.
Dan pada tahun 1979 terbitlah Undang-undang yang membawa ketentuan-ketentuan
baru mengenai poligami. Dalam pasal undang-undang tersebut ditegaskan dua hal :
1. Pencatat nikah wajib memberitahu istri pertama tentang perkawinan kedua suaminya
apabila perkawinan tersebut dilakukan oleh sang suami.
2. Dianggap menyakiti istri adanya wanita lain yang mendampingi suaminya tanpa
persetujuannya, meskipun pada waktu dilakukan akad nikahnya dahulu, ia tidak
mensyaratkan kepada suamiya agar tidak memadunya. Demikian pula suami
merahasiakan terhadap istrinya yang baru bahwa ia berada dalam ikatan perkawinan
dengan orang lain.

3. Perspektif Hukum Keluarga di Indonesia


Kendatipun Undang-undang Perkawinan di Indonesia menganut asas monogami
seperti yang terdapat di dalam pasal 3 yang menyatakan “ Seorang pria hanya boleh
mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami ” ,
namun pada bagian yang lain dinyatakan bahwa dalam keadaan tertentu poligami dibenarkan.
Seorang suami yang ingin beristri lebih dari seorang dapat dibolehkan bila dikehendaki oleh
pihak-pihak yang bersangkutan dan Pengadilan Agama telah mengizinkan (Pasal 3 ayat (2)
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974). Dasar pemberian izin poligami oleh Pengadilan Agama
diatur dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Perkawinan seperti diungkapkan sebagai berikut :
Pengadilan Agama memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang
apabila :

10
a. Istri tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri ;
b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Dengan adanya pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami kendatipun dengan
alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh undang-undang Perkawinan
sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan disebut monogami terbuka atau monogami
yang tidak bersifat mutlak. Poligami ditempatkan pada status hukum darurat (emergency law),
atau dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary circumstance).

D. PERCERAIAN
1. Perspektif Fikih
Menurut kalangan Malikiyah pada umunya perceraian disebabkan oleh talak, khulu’
fasakh, syiqaq, nusyuz, ila’ dan zhihar. Menurut kalangan Hanafiyah putusnya perceraian
disebabkan oleh talak, khulu’, ila’ dan zhihar. Sedangkan menurut Syafi’i di antara sebab-sebab
terjadinya perceraian antara lain talak, khulu’ fasakh, syiqaq, nusyuz, ila’ zhihar dan li’an.
Dari kedelapan hal-hal yang dapat mengakibatkan putusnya perceraian di atas, hampir
semuanya berada pada kendali suami. Bahkan pada talak, di dalam kitab-kitab fikih tidak
terdapat keterangan yang jelas mengenai sebab-sebab yang membolehkan suami untuk men-talak
istrinya. Dan dari sekian banyak sebab putusnya perceraian hanya satu yang berada dalam
kendali istri, yaitu khulu’. Meskipun khulu’ menjadi hak istri, itupun masih harus melalui
ketentuan yang melibatkan suami. Ketentuan fikih juga tidak mengatur proses perceraian.
Perceraian tidak harus dilakukan di depan sidang pengadilan atau di depan hakim.9

2. Perspektif Hukum Keluarga di Mesir


Pada umumnya muslim Mesir menganut madzhab Syafi’i dan Hanafi. Maka tidak
mengherankan apabila ketentuan-ketentuan yang digunakan dalam hukum keluarga di Mesir
banyak mengambil dari kedua madzhab ini, khususnya sebelum terjadi pembaruan.
Dibandingkan Indonesia, Mesir lebih awal melakukan pembaruan Perundang-
Undangan Perkawinan. Mesir juga lebih sering dalam melakukan pembaruan ini. Namun

9
http;//mushthava.blogspot.com/2009/05/potret-perkembangan-hukum -talak.html

11
demikian bukan berarti perundang-undangan Mesir lebih lengkap dan lebih menjamin keadilan
semua pihak.
Dalam Undang-undang No. 25 tahun 1929 alasan untuk menuntut talak diperluas. Dalam
Undang-undang ini ditetapkan dua hal yang dapat dijadikan Pengadilan untuk menetapkan talak
yaitu
a. Apabila suami tidak mampu untuk memberikan nafkah;
b. Apabila suami mempunyai penyakit menular atau membahayakan;
c. Apabila ada perlakuan yang semena-mena dari suami;
d. Apabila suami pergi meninggalkan istri dalam waktu yang cukup lama.
Mesir lebih awal melakukan reformasi di bidang hukum keluarga, khususnya mengenai
cerai dan talak. Sama dengan Indonesia, tujuan pembaruan hukum keluarga di Mesir juga untuk
meningkatkan status wanita. Dengan adanya pembaruan perundang-undangan cerai dan talak ini
maka suami tidak dapat menjatuhkan talak secara semena-mena terhadap istri. Karena suami
harus dapat mengajukan bukti-bukti dan saksi tentang alasan permohonan talaknya. Selain itu
talak harus melalui proses sertifikasi. Berkaitan dengan gugat cerai, istri juga diberi hak yang
lebih luas, yaitu dapat mengajukan gugatan khulu’. Begitu juga apabila suami pergi
meninggalkan istri tanpa alasan yang jelas, suami mengidap penyakit atau tidak mampu
memberikan nafkah maka ia dapat mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.

3. Perspektif Hukum Keluarga di Indonesia


Pasal 38 UU No. 1/1974 menyebutkan bahwa perkawinan dapat putus karena, 1)
kematian, 2) perceraian, dan 3) atas putusan Pengadilan
Menurut UU.No. 1/1974 perceraian harus dilakukan di depan sidang Pengadilan, dan
di dalam UU No. 7 tahun 1989 pasal 65 tentang Peradilan Agama dijelaskan bahwa perceraian
hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan
berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Sedangkan di dalam KHI pasal 115 dinyatakan:
bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Keterangan di atas menjelaskan bahwa dalam perundang-undangan yang berlaku, telah
diatur bagi siapa saja yang hendak menalak istrinya dapat mengajukan permohonan ke

12
Pengadilan Agama. Permohonan tersebut dapat berupa lisan maupun tulisan dan harus disertai
dengan bukti-bukti. Dan hal yang paling berbeda dengan ketentuan dalam fikih adalah perceraian
yang sah adalah perceraian yang dilakukan di depan sidang, hal ini diatur dalam pasal 39 UUP
No. 1/1974, UUPA No. 7/1989 dalam KHI pasal 115.
Selanjutnya pasal 18 menyatakan bahwa perceraian itu dihitung pada saat perceraian itu
dinyatakan di depan sidang pengadilan. Hal ini senada dengan yang dituangkan dalam KHI pasal
123: perceraian itu dihitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang ditetapkan dalam undang-
undang hukum keluarga telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan apabila dibanding
dengan ketetapan yang ada dalam kitab-kitab fikih. Berkaitan dengan tujuan pembaruan, yaitu
untuk mengangkat status sosial wanita juga sudah tampak, ini dapat kita cermati bahwa dalam
kitab-kitab fikih tidak menjelaskan alasan-alasan bagi suami untuk menjatuhkan talak.
Sedangkan dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, khusunya sekarang, untuk
menjatuhkan talak harus ada alasan yang dikuatkan dengan saksi-saksi. Permohonan talak
dengan alasan apapun harus diajukan ke pengadilan serta harus diucapkan di depan sidang.
Terjadinya perceraian baik dengan talak maupun gugat cerai terhitung sejak putusan Pengadilan
Agama, putusan perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan surat cerai.
Namun demikian pada umumnya perundang-undangan yang ada belum secara total menjunjung
hak-hak dan martabat wanita.

BAB III
KESIMPULAN

13
Munculnya ide pembaruan Perundang-Undangan Hukum Perkawinan di berbagai Negara
muslim dewasa ini tidak terlepas dari banyaknya masukan dari pemikiran kaum intelektual. Para
intelektual ini menekankan pentingnya pembaruan Perundang-Undangan Hukum Keluarga yang
selama ini berpijak pada kitab-kitab fikih abad pertengahan atau kitab klasik agar lebih
menekankan pada realitas sosio-kultural masyarakat.
Demikian adalah tabel ringkasan perbandingan hukum keluarga di Mesir, indonesia, dan
fikih.
Masalah Fikih Mesir Indonesia
Batas umur dalam Di dalam fikih tidak Dalam ayat 5 pasal 99 Dalam Undang-undang
perkawinan dijelaskan secara Undang-undang No.7 tahun 1974
langsung, akan tetapi pengadilan Agama menjelaskan bahwa
dalam surat an-Nisa’ tahun 1931, batas usia batas usia dalam
ayat 6 dipahami laki-laki 18 tahun dan perkawinan adalah
bahwa batas umur perempuan 16 tahun . untuk laki-laki 19
perkawinan tahun dan perempuan
seseorang adalah 16 tahun.
baligh.
Pencatatan Di dalam fikih tidak Hukum keluarga di Di Indonesia
Perkawinan dijelaskan tentang Mesir, sesuai dengan pencatatan perkawinan
adanya pencatatan Ordonasi 1897 Pasal merupakan sesuatu hal
perkawinan, tapi ada 31 yang menyatakan yang sangat penting,
ayat al-Quran yang bahwa, suatu perkara setiap perkara bisa
menganjurkan tidak akan diterima diproses gugatannya
mencatat setiap gugatannyaa apabila kalau ada bukti
transaksi muamalah. tidak ada pencatatan autentik (dokumennya).
dalam dokumen
resmi.
Poligami Ulama’ sepakat Poligami dibolehkan, Poligami dibolehkan,
membolehkan dengan syarat adil akan tetapi harus dapat
poligami. Dengan dan tidak menyakiti izin dari Pengadilan
batasan empat orang istri, apabila ada Agama. Dan dengan
istri. unsur menyakiti maka syarat-syarat tertentu,
sang istri boleh poligami ditempatkan

14
meminta pemutusan pada status hukum
hubungan darurat.
perkawinan.
Perceraian Di dalam fikih Perceraian di mesir Perceraian harus
putusnya perkawinan harus ada sertifikasi dilakukan di muka
masih dalam kendali dari pengadilan, pengadilan, dengan
suami, dan tidak ada seorang istri saksi dan bukti yang
ketentuan untuk diberikan hak lebih jelas, putusnya
melapor ke luas untuk melakukan perkawinan hanya bisa
pengadilan, hak khulu’ atau gugatan dibuktikan dengan
perempuan untuk perceraian terhadap adanya surat cerai.
mlakukan gugatan suami.
masih sempit.

Dari tabel diatas kita bisa menyimpulakan bahwa Hukum keluarga di Mesir dan
Indonesia telah banyak mengalami perkembangan dari segi pembaruan. Sesuai dengan
perkembangannya, Hukum keluarga di Mesir dan di Indonesia telah mengangkat status sosial
wanita, walaupun belum secara total. Ini mengidentifikasikan adanya kemajuan pemikiran
dikalangan pakar Hukum Islam di setiap negara, walaupun tidak bisa dipungkiri banyaknya
pergulatan politik didalam pembentukannya.

DAFTAR PUSTAKA

• Anwar, Syamsul. Islam, Negara, dan Hukum . 1993. Jakarta; INIS

15
• Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. 2007. Jakarta ; Prenada
Media (cetakan ke-2)
• Ali, Zainuddin. Hukum Perdata Islam di Indonesia. 2006. Jakarta ; Sinar grafika
• Nuruddin, Ahmad dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata islam di Indonesia. 2006.
Jakarta ; Kencana
• http://mushthava.blogspot.com/2009/05/potret-perkembangan-hukum -talak-html
• Atho’, Mudhar dan Khoiruddin Nasution . Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern,
2003. Jakarta: Ciputat Press
• http://pchuzaimahbb.com/journal/item/20/hukum-islam-keluarga-di-Mesir-dan-Indonesia

16