Anda di halaman 1dari 86

Postulat Koch

postulat koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi agen
patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Usaha untuk menjalankan Postulat koch
semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Walau
pada masa tersebut virus belum dapat diisolasi dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan
awal dari virologi.Kini, beberapa agen patogen dapat diterima sebagai penyebab suatu penyakit
walaupun tidak memenuhi semua isi postulat.Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis
mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.
Dalam menguji kebenaran akan keberadaan suatu organisme sebagai penyebab penyakit maka
Postulat koch mengatakan bahwa suatu agen penyakit harus dapat:
1) ditemukan dalam seluruh kasus penyakit yang diperiksa;
2) diisolasi dan tumbuhkan dalam kultur murni;
3) menyebabkan gejala sakit yang sama bila kultur murni diinokulasikan pada hewan coba dan
peka; dan
4) diisolasi kembali dari hewan terinokulasi dan di kultur lagi.
Selain Postulat Koch, River turut mengembangkan penelitian tentang virus. Adapun metode dari
River dikenal dengan Postulat River, yang berbunyi bahwa agen virus harus: 1) ditemukan dalam
cairan tubuh sewaktu sakit atau dari sel yang menunjukkan lesio spesifik; 2) diperoleh dari
hewan terinfeksi dapat menginfeksi hewan ercobaan dalam bentuk antibodi terhadap virus
tertentu; dan 3) yang diisolasi dari hewan percobaan harus dapat ditularkan ke hewan peka
lainnya.
Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada
1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi
untuk menentukan hubungan sebab-musabab antara parasit dan penyakit. Ia
menerapkannyauntuk untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya
telah dierapkan pada penyakit lain.
Isi postulat
Isi postulat Koch adalah:
1. Organisme (parasit) harus ditemukan dalam hewan yang sakit, tidak pada yang sehat.
2. Organisme harus diisolasi dari hewan sakit dan dibiakkan dalam kultur murni.
3. Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada hewan yang sehat.
4. Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari hewan yang dicobakan tersebut
Bagaimanapun, harus diperhatikan bahwa Koch mengabaikan bagian kedua dari postulat
pertama (organisme penyakit tidak ditemukan pada hewan sehat), ketika ia menembukan karier
asimtomatik atau tak bertanda pada kolera. Kemudian karier asimtomatik bertambah seiring
ditemukannya virus seperti polio, herpes simpleks, HIV dan hepatitis C.Postulat ketiganya pun
tidak selalu terjadi.

Sejarah
Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi
patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu.[1] Walaupun dalam masa Koch, dikenal
beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak
memenuhi semua postulatnya.[2] Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saat
mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belum
dapat dilihan atau diisolasi dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi.[3]
[4]Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak
memenuhi semua isi postulat.[5] Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis
tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.
Tentang Postulat Koch
Robert Koch (1843 1910) seorang profesional di bidang Kesehatan, memulai penelitian dengan
pendekatan ilmiah terhadap bidang mikrobiologi penyakit.Ia membuat aturan, yang kemudian
dikenal dengan nama postulat Koch, yang digunakan untuk menetapkan bahwa mikroorganisme
tertentu sebagai penyebab penyakit atau bukan. Ada empat ketentuan di postulat Koch, yakni :
1. Mikroorganisme tertentu yang dicurigai harus selalu dijumpai berasosiasi dengan
organisme yang sakit
2. Mikroorganisme yang dicurigai tersebut harus dapat dipisahkan (diisolasi) dari organisme
sakit dan dibiakkan menjadi biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni mikroorganisme yang dicurigai, akan menimbulkan penyakit yang sama
jika dengan sengaja ditularkan (diinokulasikan) kepada organisme sejenis yang rentan
(susceptible)
4. Dengan menggunakan prosedur laboratorium, mikroorganisme yang sama harus dapat
diperoleh dari organisme rentan yang sakit karena sengaja ditulari.

Postulat Koch

1Tentang Postulat Koch


Robert Koch (1843 1910) seorang profesional di bidang
Kesehatan, memulai penelitian dengan pendekatan ilmiah terhadap bidang mikrobiologi
penyakit. Ia membuat aturan, yang kemudian dikenal dengan nama postulat Koch, yang
digunakan untuk menetapkan bahwa mikroorganisme tertentu sebagai penyebab penyakit atau
bukan. Ada empat ketentuan di postulat Koch, yakni :

Mikroorganisme tertentu yang dicurigai harus selalu dijumpai berasosiasi dengan organisme
yang sakit
Mikroorganisme yang dicurigai tersebut harus dapat dipisahkan (diisolasi) dari organisme sakit
dan dibiakkan menjadi biakan murni di laboratorium.
Biakan murni mikroorganisme yang dicurigai, akan menimbulkan penyakit yang sama jika
dengan sengaja ditularkan (diinokulasikan) kepada organisme sejenis yang rentan (susceptible)
Dengan menggunakan prosedur laboratorium, mikroorganisme yang sama harus dapat diperoleh
dari organisme rentan yang sakit karena sengaja ditulari.
Dari postulat tersebut, Koch juga mengembangkan teknik membiakan mikroorganisme
dan teknik pewarnaan pada mikroskopi mikroorganisme. Salah satu teknik membiakan mikroorganisme yang dikembangkan dan sangat membantu dalam dunia mikro-biologi yaitu
menemukan media tumbuh yang padat. Mediua tumbuh sebelumnya yang dikembangkan oleh
banyak peneliti merupakan media cair berupa kaldu daging atau ekstrak tanaman.
Media padat yang dikembangkan awalnya berupa media cair yang dicampur dengan
gelatin, tetapi media gelatin ini akan mencair pada suhu pertumbuhan, sehingga akhirnya
dikembangkan media padat dari agar-agar. Media agar merupakan substrat yang sangat abaik
untuk memisahkan mikroorganisme, sehingga masing-masing jenisnya menja-di tumbuh
terpisah-pisah. Digunakannya media padat ini memungkinkan mikroorganisme tumbuh dengan
agak berjauhan dari sesamanya dan setiap selnya berhimpun membentuk koloni atau masa sel
sejenis yang dapat dilihat oleh mata (lihat gambar). Semua sel dalam satu koloni sama,
kesemuanya merupakan keturunan (progeni) dari satu sel mikroorganisme dan karena itu
mewakili apa yang disebut biakan murni.
Tugas 2
Pertanyaan
1.
2.

Uraikan sumbangan Leewenhoek terhadap Mikrobiologi...?


Bandingkan antara sumbangan Louis Pasteur dengan sumbangan Koch. Kemudian berikan
komentar mengenai perbedaan konseap pendekatan...?
3. Apakah hubungan antara teori nutfa fermentasi dan teori nutfa penyakit...?
4. Mengapa untuk perkembangan Mikrobiologi diperlukan penolakan terhadap teori Generatio
Spontanae...?
5. Mengapa Mikroorganisme seringkali digunakan untuk menelaah fenomena Biologis...?

JAWABAN
1.

Sumbangan Antonie van Leeuwenhoek terhadap mikrobiologi sangat penting. Dimulai pada
abad(1632 1723). Leewenhoek yang adalah seorang pedagang kain, menggemparkan dunia
ilmuan melalui penemuanya yang berhasil membuktikan keberadaan mikroorganisme secara
nyata melalui lensa dengan pembesaran sampai 400 x yang diciptakanya. Leeuwenhoek yang
mempunyai kegemaran mengasah batu lensa. Dengan menggunakan lensanya, secara kebetulan
dia menemukan organisme-organisme kecil dari dalam air hujan, air laut, dari sela-sela gigi dan
lain-lain. Oleh karena itu, hasil-hasil pengamatannya pada organisme-organisme kecil tersebut
menjadi sangat menakjubkan untuk ukuran pada jaman itu, bahkan sampai sekarang jika
didasarkan kepada sederhananya alat yang digunakan. Penemuan Leeuwenhoek tersebut itulah
merupakan awal penting dalam dunia mikrobiologi.

2.

Dari perbandingannya perbedaan konsep pendekatan, Louis pasteur lebih ke pendekatan


eksperimen. Sementara Koch dengan pendekatan ilmia.

3.

Kedua teori dicetuskan Louis Pasteur. Selain itu kedua duanya memperkuat cetusan bantahan
untuk teeori generatio spontanea.

4.

Sebap tori Generatio Spontanea yang mengatakan mikroorganisme itu tumbuh secara tiba
tiba, tidak diperkuat melalui pengujian yang pasti terlebih dahulu. Munculnya teori teori
bantahan yang lebih meyakinkan melalui pendekatan eksperimen serta ilmia, semakin
menegaskan penolakan terhadapnya.

5.

Karena Mikroorganisme mempunyai banyak sifat yang dapat dipakai sebagai pola atau model
untuk menyelidiki fenomena bi

Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada
1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi
untuk menentukan hubungan sebab-musabab antara parasit dan penyakit. Ia
menerapkannyauntuk untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya
telah dierapkan pada penyakit lain.
Isi Postulat Koch adalah:

Organisme (parasit) harus ditemukan dalam hewan yang sakit, tidak pada yang sehat.

Organisme harus diisolasi dari hewan sakit dan dibiakkan dalam kultur murni.

Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada hewan yang sehat.

Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari hewan yang dicobakan tersebut

Bagaimanapun, harus diperhatikan bahwa Koch mengabaikan bagian kedua dari postulat
pertama (organisme penyakit tidak ditemukan pada hewan sehat), ketika ia menembukan karier
asimtomatik atau tak bertanda pada kolera. Kemudian karier asimtomatik bertambah seiring
ditemukannya virus seperti polio, herpes simpleks, HIV dan hepatitis C. Postulat ketiganya pun
tidak selalu terjadi.
Sejarah
Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi
patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu.[1] Walaupun dalam masa Koch, dikenal
beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak
memenuhi semua postulatnya.[2] Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saat
mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belum
dapat dilihan atau diisolasi dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi.[3][4]
Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi
semua isi postulat.[5] Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak
diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.
Postulat Koch
Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert
Koch pada tahun 1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Koch mengungkapkan
keempatnya

harus

dipenuhi

antara parasit dan penyakit.robert

untuk

menentukan

Koch

hubungan
menerapkannya

sebab-musabab
untuk

menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya telah diterapkan pada penyakit
lain.

Isi postulat Koch adalah:


Organisme (parasit) harus ditemukan dalam hewan yang sakit, tidak pada yang sehat.
Organisme harus diisolasi dari hewan sakit dan dibiakkan dalam kultur murni.
Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada hewan yang sehat.
Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari hewan yang dicobakan tersebut
LD( Lethal Dosage)
LD( Lethal Dosage) yaitu dosis yang jika diberikan pada kondisi spesifik menyebabkan
kematian populasi dalam jangka waktu tertentu.
LD50 yaitu dosis yang dalam kondisi spesifik menyebabkan kematian 50% dari total
populasi dalam jangka waktu tertentu. Sementara itu, LD70 adalah dosis yang dalam kondisi
spesifik menyebabkan kematian 70% dari total populasi dalam jangka waktu tertentu.

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG\
2013
I.
A.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman adalah adanya
kontaminasi terhadap mikroorganisme. Contoh dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan
penyakit adalah bakteri, cendawan, dan virus. Namun, mikroorganisme utama yang dapat
menyebabkan penyakit adalah bakteri. Walaupun bakteri dapat menimbulkan penyakit, namun
ada juga bakteri yang menguntungkan bagi manusia.

Adanya ilmu pengetahuan tentang adanya suatu bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada
tanaman, menyebabkan para peneliti mencoba mengkembangbiakkan bakteri tersebut dalam
sebuah media. Dalam membuktikan penyebab suatu penyakit, diperlukan metode pembuktian.
Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah metode postulat koch. Postulat Koch atau
Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada 1884 dan disaring dan
diterbitkannya pada 1890. Penelitian Koch terhadap dimulai ketika antraks menjadi penyakit
hewan dengan prevalensi paling tinggi pada masa itu. Koch mencoba membuktikan secara
ilmiah mengenai Bacillus yang menyebabkan antraks dengan bantuan mikroskop sederhananya.
Hal itu dilakukan dengan menyuntikkan Bacillus anthracis ke dalam tubuh sejumlah tikus. Koch
mendapatkan Bacillus anthracis tersebut dari limpa hewan ternak yang mati karena antraks.

Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada1884
dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi sebelum
patogen yang dianggap sebagai penyebab penyakit, Dalam Postulat-postulat Koch disebutkan,
untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus
memenuhi sejumlah syarat. Pertama, ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah
diperiksa. Kedua, telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu
membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah beberapa generasi berada dalam

kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari hewan yang telah diinokulasi dan dapat
dikulturkan kembali.
B.

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.

Mengetahui gejala dan cirri ikan yang terkena Bakteri.

2.

Mengetahui cara mengetahui Bakteri yang bersifat pathogen atau tidak dengan Postulat Koch.

3.

Mempelajari cara dan metode dari Postulat Koch

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Bakteri dan Bakteri Patogen


Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas
dibandingkan mahluk hidup yang lain . Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat
hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada
pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup
yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki
klorofil dan berukuran renik (mikroskopis) (ilham, 2008).
Berdasarkan definisi umum, bakteri patogen berarti jenis bakteri merugikan yang menimbulkan
berbagai macam penyakit, baik untuk tubuh manusia, tumbuhan, maupun hewan. Bakteri
patogen dibagi menjadi dua kelompok besar.

1.

Bakteri patogen intraseluler yang hanya menyebabkan penyakit bila masuk ke dalam tubuh
makhluk hidup. Contohnya, Mycobacterium tuberculosis, bakteri yang menjadi penyebab

2.

penyakit TBC.
Bakteri kondisional. Bakteri patogen ini bisa menimbulkan penyakit dalam keadaan tertentu.
Bakteri kondisional umumnya mengambil keuntungan dari kelemahan yang diderita makhluk
hidup, misalnya luka yang menganga atau kondisi kekebalan tubuh yang sedang menurun.
Bakteri patogen kondisional biasanya tersebar dengan mudah melalui benda-benda yang dipakai
bersama-sama. Misalnya, pegangan pintu, tombol elevator, serta pegangan kursi ataupun meja.
Contoh bakteri kondisional adalah Haemophilus influenza, penyebab penyakit influenza pada
manusia (Johny, 2011).

B.

Taksonomi dan Biologis Ikan Sampel


Ikan Mas Koki (Carassius auratus)

Menurut Budiman dan Lingga (2005), Klasifikasi ikan mas koki adalah sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actinopterygii
Order: Cypriniformes
Family: Cyprinidae
Genus: Carassius
Species: Carassius auratus (goldfish)
Menurut Yoshichi Matsui, dalam bukunya Goldfish Guide, maskoki di Jepang dikelompokkan
menjadi 3 berdasarkan asalnya. Masing-masing adalah inpor dari cina (wakin, maruko, ryukin,
domekin), hasil seleksi (jikin, nankin, tosakin, tetsuonaga, osaka ranchu, hanafusa, oranda
shishigashira), hasil dari silangan (kiranshi, shubunkin, shukin, kaliko, azumanishiki).
Ikan maskoki dapat tumbuh hingga mencapai 23 inch (53 cm) dan maksimum mencapai berat
9.9 pounds (4.5 kg), namun hal ini sangat jarang terjadi; sebagian besar maskoki hanya mencapai
separuh dari ukuran maksimal tadi dalam masa pertumbuhannya. Dalam kondisi yang optimal,
maskoki mampu bertahan hidup hingga 40 tahun, tetapi sebagian besar maskoki umumnya hidup
antara 6 - 8 tahun. Menurut Redaksi AgroMedia (2008), memelihara dan merawat koki dalam
rumah cukup mudah. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas air, pemberian pakan, dan
sarana penunjang akuarium.

Ikan Mas (Cyprinus caprio L)


Klasifikasi Ikan Mas menurut saanin (1984) adalah sebagai berikut :
Filum : Chodata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi

Sub Ordo : Cyprinoidea


Famili : Cyprinidea
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus caprio L
Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara
150 600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 7-8 dan suhu optimum 2025 oC. Ikan Mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di
sungai danau maupun di genangan air lainnya ( Asmawi, 1986).

Ikan Komet (Carassius auratus).


Ikan komet termasuk dalam famili Cyprinidae dalam genus Carassius. Ikan komet merupakan
salah satu jenis dari Cypridae yang banyak dikenal dikalangan masyarakat karena memiliki
warna yang indah dan eksotis serta bentuk yang menarik. Kedudukan ikan komet di dalam
sistematika (Lingga dan Susanto, 2003) adalah sebagai berikut :
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Sub kelas : Teleostei


Ordo

: Ostariphisysoidei

Sub ordo : Cyprinoidea


Famili

: Cyprinidae

Genus

: Carassius

Spesies : Carassius auratus


Ikan komet untuk hidupnya memerlukan tempat hidup yang luas baik dalam akuarium maupun
kolam dengan sistem aerasi yang kuat dan air yang bersih. Untuk menjaga kualitas airnya
dianjurkan untuk mengganti minimal 25% air akuarium atau kolam tiap minggunya. Untuk
bagian substrat dasar akuarium atau kolam dapat diberi pasir atau kerikil, ini dapat membantu
ikan komet dalam mencari makan karena ikan komet akan dapat menyaringnya pada saat
memakan plankton. Ikan komet dapat hidup dalam kisaran suhu yang luas, meskipun termasuk
ikan yang hidup dengan suhu rendah (15-210 C) tetapi ikan komet juga membutuhkan suhu yang
tinggi sekitar 27-300 C hal ini diperlukan saat ikan komet akan memijah. Untuk memperoleh

suhu inilah maka ketinggian air didalam tempat pemijahan diharapkan hingga 15-20 cm (Partical
Fish Keeping, 2006).
C.

Penyakit yang disebabkan Bakteri


Motil Aeromonas Septicemia (MAS).
Adapun penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas disebut Motil Aeromonas Septicemia
(MAS) atau sering juga disebut Hemorrhage Septicemia. Penularannya melalui air, kontak
badan, peralatan yang tercemari bakteri ini. Ikan-ikan yang terserang bakteri ini memperlihatkan

gejala-gejala:

Warna tubuh menjadi agak gelap

Kulit kasat dan timbul pendarahan yang akan menjadi borok (hemorrhage).

Kemampuan renang menurun dan sering megap-megap di permukaan air karena.

insangnya rusak sehingga sulit bernafas.

Sering terjadi pendarahan pada organ bagian dalam seperti hati, ginjal, limpa seringpula

terlihat perut agak kembung/bengkak.


Jika telah parah keseluruhan sirip rusak dan insangnya berwarna keputih-putihan.
Mata rusak dan agak menonjol (Afrianto dan Liviawaty, 1992).
Tuberkulosis
Bakteri Mycobacterium merupakan penyebab penyakit Tuberkulosis pada ikan. Bakteri ini
diketahui menyerang 157 spesies ikan, 11 spesies amphibian, dan 27 spesies reptilian. Semua
jenis salmon sangat mudah diserang. Tuberculosis akan mengalami kerusakan organ dalam,
kurus dan kemudian mati. Apabila terjadi luka akan kehilangan protein plasma dan ikan sangat
muah terserang infeksi sekunder (Tim, 2002).
Nicordiasis
Penyakit Nicordiasis merupakan penyakit yang disebbkan oleh Bakteri Nocardia, tersebar di
alam termasuk air dan tanah. Nicordiasis dapat menyerang ikan air tawar dan air laut, bahkan
dimungkinkan menyerang paru-paru, kulit, dan tulangmanusia. Sumber penularan adalah ikan
sakit, air, dan tanah (Tim, 2002).
Enteric Red Mouth(ERM)
Penyakit Enteric Red Mouth(ERM) disebabkan oleh Bakteri Yersinia ruckeri. Bakteri ini dapat
menyerang berbagai jenis ikan air tawar maupaun laut. Sumber infeksi Bakteri ini adalah inang

alamiah atau hewan air lain yang dapat menjadi carrier. Yersenia ruckeri juga dapat hidup di
dalam air. Penularan dapat terjadi melalui infeksi alamiah yersebar dari ikan ke ikan. Bakteri ini
dapat menyebabkan penyakit dalam bentuk akut, kronis, atau carrier (Tim, 2002).
Streptomyces
Penyakit Streptomyces adalah penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Streptomyces, merupakan
organism yang bersifat pathogen pada ikan. Serangan penyakit ni mempunyai dampak negative
yang dpat dirasakan secara berkelanjutan. Bakteri ini dapat menginfeksi hati dan ginjal ikan. Di
dalam kolam percobaan menggambarkan waktu kematian disebabkan penyakit ini kurang lebih
satu minggu (Tim, 2002).
D.

Postulat Koch
Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan kriteria
yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit
tertentu (Gunawan, 2011).
Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu:

1. Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.


2. Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan penyakit.
4. Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut
(Gunawan, 2011).
Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai
penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus, adanya
bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang
ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisma memerlukan modifikasi dari postulat Koch. Pada
tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen yang menyebabkan penyakit mosaik
pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak tanaman yang sakit. Ekstrak terebut disaring
dengan filter yang ditemukan oleh kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui dapat
menyaring bakteri.Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai ukuran

yang jauh lebih kecil dari bakteri. Yellow fever merupakan penyakit pertama pada manusia yang
diketahui disebabkan oleh virus(Gunawan, 2011).

III. PROSEDUR KERJA


A.

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 04 April 2013 pukul 13.00 WIB bertempat
di Laboratorium Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

B.

Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu jarum ose, cawan petri, tabung reaksi,
kapas, Bunsen, dan aquarium. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu, Media TSA, Media TSB,
ikan mas, ikan mas koki, ikan komet.

C.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Cara Kerja
Ambil sampel ikan yang sakit dengan gejala luka atau borok
Amati gejala eksternal dan internal
Isolasi Bakteri dari bagian tubuh yang luka dan dari ginjal ke dalam medium TSA
Inkubasi selama 24 jam dalam suhu ruang
Pemurnian kultur Bakteri
Identifikasi Bakteri
Kultur dalam media cair
Hitung kepadatan Bakteri dengan spektrofotometer
Infeksikan ke ikan yang sama dengan sampel dengan dosis 107 sel/ikan.
Amati gejala yang ditimbulkan
Jika ikan sakit, isolasi Bakteri yang luka dan dari ginjal kedalam medium TSA
Indentifikasi b kemungkinan Bakteri yang diisolasi adalah bakteri
Jika ada kemiripan, adlah Bakteri penyebab pathogen pada ikan tersebut.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil Pengamatan
Jenis Ikan
Sampel

Organ yang
Dites

Gejala

Waktu

Ikan Mas

Luka

a.

Ikan mas lemas , tidak


a.
mau makan.

b.

Minggu,

1 ikan diam didasar dan

pukul

14.00.
tidak bergerak, 4 lainnya
b.
berenang di dasar.
Minggu,
c.
Ada 1 ekor ikan yang
pukul
sisiknya mulai mengelupas
19.00.
d. Ada 1 ikan yang mati.
e.

c.
Ada 1 ikan lagi yang
mati.

Minggu,
pukul
21.00.

f.

Ada 3 ikan yang sisiknya


mulai mengelupas.

g.

ikan

d.
terjadi Minggu,

pembengkakkan pada intra pukul


h.

muscular.
22.00.
Adanya sisik mengelupas
e.
dan timbulnya luka.

Minggu,
pukul
23.30.
f.

Senin,
pukul
03.00.

g.

Senin,
pukul

04.00.
h.
Senin,
pukul

13.00.
Ikan Mas

Ginjal

a. Ikan mas lemas , tidaka.


mau makan.

Minggu,
pukul

b. Ada 1 yang mati.

14.00.
c.

Ada

ekor

b.
yang

mengelupas sisiknya.

Minggu,
pukul

d. Ada 1 ikan yang sisiknya 19.30.


c.
Nampak kehitaman.
Minggu,
e. Semua ikan Nampak
pukul
kehitaman
di
bawah
21.00.
insang.
d. Senin,
f. Ada 1 ikan yang luka
pukul
dibagian ekor.
02.00.
e.
Senin,
pukul
f.

03.30.
Senin,
pukul
08.30.

Ikan Komet

Luka

a.

Ikan mas lemas , tidak


a.
mau makan.

b.

Ikan mengeluarkan feses

Minggu,
pukul

14.00.
dan berenang lambat di
b.
dasar.
Minggu,
c.
Warna ikan menjadi
pukul
pucat.
15.30.
c.
d.
Sisik ikan mulai
Minggu,
mengelupas.
pukul

e.

Ada ikan yang luka pada 22.30.


bagian dekat insang dan 1
ikan yang mati.

d.

Senin,
pukul

02.00.
e.
Senin,
pukul
07.30.
Ikan Mas Koki

Ginjal

a.

Nafsu makan berkurang.a.


Minggu,

b.

Ada ikan yang bergerak pukul


lambat dan kurang aktif.

c.

17.30.

b.
Ada ikan yang berenang
dengan

posisi

kepala

menghadap ke atas serta


d.

berenang tidak stabil.


c.
Sisik mulai kusam dan
memudar pada salah satu
ikan.

e.

Terdapat
punggung.

luka

di
d.

Minggu,
pukul
19.30.
Minggu,
pukul
22.30.
Senin,
pukul

e.

03.30.
Senin,
pukul
12.30.

B.

Pembahasan
Telah dilakukan praktikum mengenai Bakteri Patogen yang di identifikasi dengan metode
Postulat Koch. Ikan sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan Mas, ikan Mas
Koki, dan ikan Komet. Gejala klinis dari masing-masing ikan sampel yaitu, pada ikan mas
terlihat ada luka yang memerah pada bagian sisik dan juga sirip, luka tersebut membentuk
bulatan yang lebar, gerakan ikan lambat, tidak mau makan, serta terlihat kekurangan osigen
karena ikan selalu berenang ke permukaan untuk mengambil oksigen. Pada ikan Komet,
gejala klinis yang terjadi yaitu ikan terlihat berenang lambat serta terdapat sisik yang
mengelupas, kurang nafsu makan, dan juga berenang miring. Pada ikan Mas Koki, gejala
klinis yang terjadi ikan berenang lambat, adanya luka juga seperti bulatan lebar, nafsu
makan kurang, respon terhadap kejutan lambat, serta berenang dengan kepala menghadap
keatas.
Pada hasil pengamatan praktikum terhadap ikan yang diinfeksikan Bakteri dari ikan sampel
menunjukkan bahwa hasil dari gejala yang terjadi terhadap ikan uji memiliki hamper
kesamaan terhadap ikan sampel. Kesamaan tersebut diantaranya gerakan ikan lambat,
terdapat sisik yang mengelupas seperti pada ikan sampel, ikan kurang nafsu makan,
terdapat luka seperti bulatan lebar, serta gerakan ikan miring dan berenang dengan posisi
kepala menghadap ke atas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil dari metode Postulat
Koch dapat dipakai sebagi cara untuk mengetahu suatu Bakteri bersifat pathogen atau tidak
pada suatu organism. Metode dari Postulat Koch itu sendiri yaitu:

1. Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.


2. Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan
penyakit.
4. Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi
tersebut (Gunawan, 2011).
Dengan melihat cirri-ciri dari gejala penyakit yang terjadi pada ikan tersebut, dapat diduga
bahwa Bakteri yang menyerang ikan-ikan tersebut adalah Aeromonas hidrophyla

dan

Pseudomonas sp. Selain karena ciri-ciri yang di timbulkan, bakteri Aeromonas hidrophyla
dan Pseudomonas sp merupakan Bakteri air tawar.
Dapat diketahui bahwa bakteri Aeromonas hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang
hampir selalu terdapat di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam
kondisi yang kurang baik. Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilla ditandai
dengan adanya bercak merah pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan
organ dalam. Penyebaran penyakit bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat
menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis
yang timbul pada ikan yang terserang infeksi bakteri Aeromonas hidrophyla adalah gerakan
ikan menjadi lamban, ikan cenderung diam di dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang
terinfeksi; perdarahan pada bagian pangkal sirip ekor dan sirip punggung, dan pada perut
bagian bawah terlihat buncit dan terjadi pembengkakan. Ikan sebelum mati naik ke
permukaan air dengan sikap berenang yang labil (Rahmaningsih, 2012).
Sedangkan bakteri Pseudomonas sp yaitu termasuk kelompok bakteri gram negative,
bersifat motil karena adanya alat gerak berupa flagel, dan bersifat aerobic. Beberapa spesies
menghasilkan pigmen yang larut dalam air. Bentuk bakteri ini berbentuk batang dengan
ukuran sekitar 0,6 x 2 m. Bakteri ini dapat terlihat sebagi bakteri tunggal, berpasangan,
atau bergerombol membentuk rantai pendek. Gejala ikan yang terinfeksi bakteri ini adalah :
terdapat benjolan merah pada pangkal sirip dada, perutnya bengkak, tubuhnya penuh borok,
pendarahan pada organ internal, sekitar mulut, opercula dan daerah ventral, terjadi nekrosis
pada jaringan limpa dan ginjal, pertumbuhan menurun, nafsu makan berkurang, dan terlihat
lemah (imi, 2012).
Dari praktikum ini dapat diketahui bahwa praktikum ini mengalami keberhasilan meskipun
ada satu lagi kegiatan dari metode Postulat Koch yang belum dilakukan yaitu isolasi
kembali Bakteri dari ikan yang diinfeksikan Bakteri yang selanjutnya harus diidentifikasi
kesamaan morfologi bakterinya. Tetapi meskipun langkah tersebut belum dilakukan,

praktikum ini tetap dinyatakan berhasil dikarenakan hasil dari ciri-ciri dan gejala ikan yang
diinfeksikan hampir sebagian besar sama dengan ikan sampel yang berpenyakit.

V.
A.

PENUTUP
Keismpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1.

Metode Postulat Koch terbukti mampu menguji suatu Bakteri bersifat pathogen atau
tidak.

2.

Hasil praktikum menunjukkan hasil ikan yang diinfeksikan Bakteri menderita penyakit
dan gejala yang hampir sama dengan ikan sampel yang sakit.

3.

Factor yang dapat mempengaruhi hasil dari metode postulat Koch yaitu kesalahan
praktikan dan ikan sehat yang mungkin membawa bibit penyakit dari luar.

B.

Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan yaitu:

1.

Sebaiknya lebih menjaga aspek kesterilan dalam setiap percobaan sedikin mungkin agar
hasil yang didapat bisa lebih akurat.

2.

Usahakan seluruh peserta praktikum, baik asdos maupun praktikan memakai baju lab,
karena baju lab bukanlah suatu syarat mengikuti praktikum tetapi merupakan syarat
keselamatan dan kesterilan dalam praktikum, dan juga karena asdos juga ikut membimbing
jalannya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E., E. Liviawaty, 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Kanisius. Jakarta
Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. Gramedia. Jakarta.
Budiman A.,Agus dan Lingga P. 2005. Maskoki. Penebar Swadaya. Jakarta.

Gunawan, Rudy. 2011. Makalah Mikroorganisme Postulat Koch. Universitas Muhamadiyah


Purwokerto. Purwokerto.
Ilham, eri. 2008. Bakteri dan pengertiannya: http://gurungeblog.wordpress.com. Diakses pada
April 2013.
Imi, dkk. 2012. Bakteri Patogen pada Ikan: http://imi-jogja.blogspot.com. Diakses pada April 2013.
Johny, Template. 2011.Bakteri Patogen. http://psbiotik.blogspot.com. Diakses pada April 2013.
Lingga dan Susanto. 2003. Klasifikasi Ikan Komet (Carassius auratus). Agromedia. Jakarta.
Partical Fish Keeping. 2006. Biologi Ikan Hias. Agromedia. Jakarta.
Rahmaningsih, S. 2012. Penagruh Ekstrak Sidawayah dengan Konsentrasi yang Berbeda untuk
Mengatasi Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan.
Redaksi AgroMedia. 2008. Buku Pintar Ikan Hias Populer. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta. Bandung.
Tim Karya Tani Mandiri. 2002. Pedoman Budidaya Beternak Ikan Mas. Nuansa Aulia. Bandung.

BIOLOGI IKAN SAMPEL


.1 Klasifikasi Ikan Koi
Menurut Efendi (1993) koi mempunyai nenek moyang berupa ikan karper hitam,
yang secara sistematik atau Taksonomi Ikan Koi dapat di urutkan sebagai berikut :

Filum

: Chordata

Sub-filum

: Vertebrata

Super kelas

: Gnafosfomata

Kelas

: Esteichthyes

Superordo

: Teleostei

Ordo

: Ostariophysi

Family

: Cyprinidae

Genus

: Cyrinus

Jenis spesies : Cyprinus carpio


Malalui proses mutasi atau perkawinan silang yang di lakukan secara selektif, ikan
karper hitam ialah berubah warna sehingga menghasilkan jenis koi yang berwarna-warni
2.2 Morfologi Ikan Koi (Cyprinus carpio)
Ikan koi mempunyai badan yang berbentuk seperti torpedo dengan perangkat gerak
berupa sirip. Adapun sirip-sirip yang melengkapi bentuk morfologi ikan koi adalah sebuah

sirip pungung, sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, sebuah sirip anus, dan sebuah sirip
ekor. Sirip ini terdiri dari jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip. Alat yang mampu
sebagai tenaga dorong dari ikan koi terletak pada selaput sirip yang juga merupakan
sayap. (Susanto, 1997).
Bentuk kepala ikan koi mirip ikan mas koki, tetapi pada ujungnya di lengkapi
sepasang sungut. Sungut ini sebagai alat indra yang berfungsi untuk mencari makanan
sewaktu berada dalam lumpur. (Efendi H, 1993)

Tubuh ikan koi di tutupi kulit yang terdiri dari kulit luar dan kulit dalam. Kulit luar
berfungsi sebagai pelindung terhadap kotoran yang ada di permukaan tubuh dan sekaligus
mencegah masuknya hama penyakit, sedangkan kulit dalam mengadung zat warna
(pigmen) yang antara lain dapat berupa Santofora (kuning), Melanofora (hitam),
Guanofora (putih berkilauan), Eritrofora (merah). Dengan adanya bermacam-macam zat
warna inilah tubuh koi tampak lebih bervariasi (Bachtiar Y, 2002)
Sel warna ini mempunyai corak yang sangat kompleks yang dengan cara kontraksi
memproduksi larutan dengan 4 macam sel warna yang berbeda. Adapun keempat sel yang
di produksinya adalah Melanophore (hitam), Xanthopore (kuning), Erythrophowre (merah),
dan Guanophore (putih).
Organ perasa dan sistem syaraf mempunyai hubungan yang erat dengan penyusutan
dan penyerapan sel sel warna. Organ ini sangat reaktif sekali dengan cahaya. Tempatnya

di antara lapisan epidermis dan urat syaraf pada jaringan lemak, yang terletak di bawah
sisik (Susanto. H ,2005).
Macam-macam warna yang ada pada ikan koi, yaitu hitam, merah, putih, kuning,
keemasan, orange, biru, gading dan berbagai corak lainnya. Ikan koi ada yang mempunyai
warna dasar satu warna, dua warna, tiga warna dan bahkan ada yang empat warna.
Walaupun untuk kombinasi yang terahir ini hanya di temukan satu kali.
2.3 Habitat Dan Penyebaran
IkanKoi termasuk klas Pisces yang merupakan hewan yang hidup di daerah
beriklim sedang dan hidup diperairan tawar. Mereka biasa hidup pada temperatur 8 c 30C. Oleh karenanya koi bisa dipelihara di seluruh Indonesia, mulai dari perairan pantai
sampai hingga daerah pegunungan. Koi tidak tahan mengalami goncangan suhu drastis.
Penurunan suhu hingga 5 c dalam tempo singkat sudah bisa menyebabkannya kelabakan.
Jika tubuh di selimuti lapisan putih, hingga 7C.
Koi asli merupakan ikan air tawar, tapi masih bertahan hidup pada air yang agak
asin. Sekitar (l0 %0) kandungan garam dalam air masih bisa untuk hidup koi. Sedangkan
untuk pakan utama anak koi pertama kali adalah udang-udang renik seperti daphnia.
Sejalan dengan pertumbuhan badannya mereka lantas bisa memakan serangga air, jentikjentuk nyamuk, atau lumut-Iumut yang menempel pada tanaman sebagai hewan yang
tergolong omnivora
Jantan koi akan matang kelamin ketika umumya mencapai 2 tahun, sedangkan
betina berumur 1 tahun lebih lambat yaitu ketika berumur 3 tahun. Mereka akan memijah
setahun sekali. Musim kawinnya pada bulan April hingga Juni. Berbeda dengan daerah
yang mengalami empat musim, seperti Jepang, dikabarkan koi kawin setahun sekali. Di
Indonesia yang hanya terdiri dari dua musim, koi bisa berpijah sepanjang tahun.
Pertumbuhan ikan koi tergantung pada suhu air, pakan dan jenis kelamin. Tidak ada
binatang lain yang mempunyai pertumbuhan tidak teratur (seragam) seperti koi. Dalam
tempo setengah tahun koi tumbuh sangat cepat. Pertumbuhan koi, berat dan panjang
badannya sejalan dengan umurnya (Anonymous A, 2004).

2.4 Tingkah Laku Dan Kebiasaan Pakan


Pakan adalah faktor yang paling penting dan menentukan dalam usaha budidaya,
khususnya proses pembesaran. Karena cepat atau lambatnya proses pembesaran sangat
ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Pakan sendiri dibedakan
menjadi pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami bisa berupa plankton, tumbuhan
maupun hewan air yang terdapat dikolam. Sedangkan pakan buatan misalnya berupa pelet
(Susanto, 2002).
Selain pakan alami pakan buatan juga perlu diberikan dengan catatan kualitas dan
kuantitasnya harus disesuaikan. Alasan diberikannya pakan buatan ini selain agar cepat
besar juga untuk menjaga dan meningkatkan kualitas warna ikan (Agus et aI, 2002 ).
Koi bersifat omnivora atau pemakan segala jenis pakan. Karena itu, koi dapat diberi
berbagai macam pakan, seperti roti, ikan, udang, kerang-kerangan atau tumbuhan. Pakan
alami ini berasal dari tumbuhan dan hewan. Pakan ini diberikan dalam bentuk tepung,
merupakan hasil ekstraksi dari pakan buatan dan paka alami. Fungsi pemberian pakan
alami adalah untuk mencerahkan, mempertajam atau memperjelas, dan menambah
kecemerlangan warna koi. (Bachtiar. 2002).

Secara umum klasifikasi ikan nila menurut Trewavas dalam Suyanto (2003),
adalah sebagi berikut; Filum Chordata, Sub Filum Vertebrata, Kelas Osteichtyes, Sub
Kelas Acanthopterigii, Ordo Percomophy, Sub Ordo Percoidea, Famili Cichilidae, Genus
Oreochromis, Spesies Oreochromis niloticus.
Menurut Saanin (1986), ikan nila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : bentuk
tubuh panjang dan ramping, sisiknya besar berjumlah 24 buah, terdapat gurat sisi (linea
lateralis) terputus-putus di bagian tengah badan kemudian berlanjut tetapi letaknya lebih
kebawah dari pada letak garis yang memanjang di atas sirip dada, matanya menonjol dan
bagian tepinya berwarna putih. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa
pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis
tegak berjumlah 7-12 buah.
Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan plankton,
sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan
sebagai pengendali gulma air. Ikan ini mudah berkembang biak. Secara alami, ikan nila
(dari perkataan Nile, Sungai Nil) ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika
Timur sampai ke Kongo dan Liberia. Pemeliharaan ikan ini diyakini pula telah
berlangsung semenjak peradaban Mesir purba. Karena mudahnya dipelihara dan
dibiakkan, ikan ini segera diternakkan di banyak negara sebagai ikan konsumsi, termasuk
di berbagai daerah di Indonesia. Ikan nila dijual dalam keadaan segar, dan daging ikan
nila sering dijadikan fillet (Wikipedia, 2010).
Suyanto (2003), ikan nila hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, waduk
dan rawa. Ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang

sempit dan dangkal dengan kisaran kadar garam 0-35 permil. Nila juga dapat hidup di
sungai yang tidak terlalu deras aliranya. Suhu optimal untuk ikan nila antara 25-300C.
Djarijah (2002), menyatakan bahwa ikan nila dan mujair merupakan sumber
protein hewani murah bagi konsumsi manusia. Karena budidayanya mudah, harga
jualnya juga rendah. Budidaya dilakukan di kolam-kolam atau tangki pembesaran.
Pada budidaya intensif, nila dan mujair tidak dianjurkan dicampur dengan ikan lain
karena memiliki perilaku agresif. Nilai kurang bagi ikan ini sebagai bahan konsumsi
adalah kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi sementara asam lemak omega-3
yang rendah. Komposisi ini

kurang baik bagi mereka yang memiliki penyakit yang

berkaitan dengan peredaran darah.


Komposisi kimia daging ikan nila menurut Rukmana (2003), adalah sebagai
berikut; air 65%, protein 17,5%, lemak 3,3% dan abu 0,9%. Ditambahkan Awang et al.,
(2002) ikan nila mengandung sumber asam amino yang berguna seperti treonin (175,2
mg/g), leusin (62 mg/g), lisin (20,5 mg/g), metionin (11 mg/g), fenilalanin (30 mg/g) dan
tryptophan (15 mg/g).

DAFTAR PUSTAKA

Saanin, H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta. 520 hal.
Suyanto, S.R., 2003. Nila. Penebar Swadaya. Jakarta. 105 halaman.
Wikipedia. 2010. Ikan Nila. http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila. Di akses pada Maret 2011.
Djauhariya, Endjo. 2003. Mengkudu (Morinda citrifolia L) Tanaman Obat Tradisional.
Perkembangan Teknologi 15(1): 18-23.

Rukmana. R. 2003. Ikan nila, Budidaya dan Prospek Agribisnis. Kanisius. Yogyakarta. 95
halaman.

Klasifikasi Ikan Nila

Klasifikasi ikan Nila adalah sebagai


berikut:
Kingdom : Animalia,
Filum : Chordata,
Kelas : Pisces,
Ordo : Percormorphii,
Famili : Cichlidae,
Genus : Oreochromis,
Spesies : Oreochromis Niloticus,

Morfologi
Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres)
dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung
hidung (terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal
dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila
adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada

bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa
digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman.
Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang
keras, begitu pun bagian analnya. Dengan posisi sirip anal di belakang sirip dada
(abdorminal).
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik
tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin
pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata.
Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi
terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan
yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah.
(Slamsmart, 2011)

Menurut Saanin (1982), klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai
berikut:

Kingdom
Filum

: Chordata,

Kelas

: Osteichtes,

Ordo

: Percomorphii,

: Animalia,

Famili

: Cichlidae,

Genus

: Oreochromis,

Spesies

: Oreochromis niloticus

Ikan nila pada umumnya mempunyai bentuk tubuh panjang dan ramping, perbandingan
antara panjang dan tinggi badan rata-rata 3 : 1. Sisik-sisik ikan nila berukuran besar dan
kasar. Ikan nila berjari sirip keras, sirip perut torasik, letak mulut subterminal dan berbentuk
meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat dilihat adalah dari ikan nila adalah warna
tubuhnya yang hitam dan agak keputihan. Bagian bawah tutup insang berwarna putih,
sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan ada yang kuning. Sisik ikan nila
besar, kasar, dan tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi sisi bagian depan.
Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang terputus antara bagian atas dan bawahnya.
Linea lateralis bagian atas memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang sirip
punggung sampai pangkal sirip ekor. Ukuran kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di
ujung kepala serta mempunyai mata yang besar (Merantica 2007).

IKAN KARANG
Morfologi ikan Pada ikan dan pada hewan air lainnya pada umumnya bagian tubuh dibagi
menjadi tiga bagian yakni bagian kepala, badan dan ekor, namun pada setiap jenis ikan
ukuran bagian-bagian tubuh tersebut berbeda-beda tergantung jenis ikannya. Adapun organorgan yang terdapat pada setiap bagian tersebut adalah:
1. Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut terdepan hingga hingga ujung operkulum
(tutup insang) paling belakang. Adapun organ yang terdapat pada bagian kepala ini antara
lain adalah mulut, rahang, gigi, sungut, cekung hidung, mata, insang, operkulum, otak,
jantung, dan pada beberapa ikan terdapat alat pernapasan tambahan, dan sebagainya.
2. Bagian badan yakni dari ujung operkulum (tutup insang) paling belakang sampai pangkal
awal sirip belang atau sering dikenal dengan istilah sirip dubur. Organ yang terdapat pada
bagian ini antara lain adalah sirip punggung, sirip dada, sirip perut, hati, limpa, empedu,
lambung, usus, ginjal, gonad, gelembung renang, dan sebagainya.
3. Bagian ekor, yakni bagian yang berada diantara pangkal awal sirip belakang/dubur
sampai dengan ujung terbelakang sirip ekor. Adapun yang ada pada bagian ini antara lain
adalah anus, sirip dubur, sirip ekor, dan pada ikan-ikan tertentu terdapat scute dan finlet,
dan sebagainya.
Bentuk tubuh atau morfologi ikan erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya
sebelum melihat anatominya, terlebih dahulu kita lihat bentuk tubuh atau penampilan
(morfologi) ikan tersebut. Dengan melihat morfologi ikan maka kita akan dapat
mengelompok-ngelompokan ikan/hewan air, dimana sistem atau caranya mengelompokan
ikan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi ikan. Dengan demikian, maka
sistematika atau taksonomi ini merupakan ilmu yang digunakan untuk mengklasifikasikan
ikan/hewan air atau hewan lainnya.
Pada sistematika/taksonomi ini, ada tiga pekerjaan yang biasa dilakukan, yakni identifikasi,
klasifikasi dan pengamatan evolusi. Pada identifikasi yaitu usaha pengenalan dan deskripsi
yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies untuk selanjutnya memberi nama
ilmiahnya sehingga dapat diakui oleh para ahli di seluruh dunia. Dengan demikian, maka
dapat dikatakan bahwa pada saat kita melakukan identifikasi sama halnya dengan kita
melakukan analisis. Setelah melakukan identifikasi selanjutnya melakukan klasifikasi, pada
tahap ini dilakukan penyususnan kategori-kategori yang lebih tinggi dan menetapkan ciricirinya sehingga pada akhirnya akan diketemukan klasifikasinya. Dengan melihat hal ini,
maka dapat dikatakan bahwa klasifikasi merupakan taraf untuk melakukan sintesis. Adapun
pada penelitian terjadinya spesies dan pengamatan terhadap faktor-faktor evolusi, bertujuan
untuk mengetahui pembentukan spesies lain yang sudah ada dan menelaah kemungkinan
terjadinya perubahan-perubahan di kemudian hari. Untuk mencapai tujuan ini maka
dilakukan penelaahan kemungkinan terjadinya perubahan pada saat terjadi perubahan

kondisi dan menelaah faktor pendorong dan penghambat perubahan tersebut. Adapun
morfologi ikan yang terlihat dengan jelas dari luar antara lain adalah bentuk badan, mulut,
cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi (linea lateralis/LL), sirip dada, sirip
perut, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor, bentuk dari sirip-sirip tersebut serta
warna badan dan atau bagian-bagian badan tersebut.
Taksonimi
Tedapat 103 famili ikan karang yang dapat ditemui di daerah terumbu karang di lautan
pasifik, sebagian besar didominasi oleh ikan perciform baik dalam jumblah spesies maupun
kelimpahannya yaitu sebanyak 51 famili yang semuanya berasosiasi dengan daerah
terumbu karang. Terdapat delapan famili dalam tiga taxa ikan dan peran penting dalam
ekosistem terubu karang, yaitu:
1. Acanthuroid, yang terdiri atas famili Achanturidae, Siganidae dan Zanclidae
2. Chaetodotid, yang terdiri atas famili Chaetodontidae dan Pomacanthidae
3. labriod, yang terdiri atas famili Scaridae, pomacentridae, dan labridae
ikan dari kelompok diatas mempunyai pola penyebaran yang berhubungan dengan
penyebaran yang berhubungan dengan penyebaran terumbu karang. Seluruh daur hidup
selama masa post sattlement juga berlangsung di wilayh terumbu karang hanya sebagian
terdapat di negara 4 musim.
Acanthuroid (Gambar 2.3) terdiri atas famili Acanthuridae (surgeonfishes), Siganidae
(Rabbitfishes), dan Zanclidae (Morish Idol). Famili Acanthuridae mempunyai 76 spesies,
Siganidae terdapat 25 spesies, dan Moorish Idol terdapat 1 spesies. Hampir semua spesies
ikan Acanthuroid adalah tipe ikan karang herbivora dan detrivora. Famili Acanthuridae
memiliki keanekaragaman pola makan yang besar. Sebagian besar spesies genus
Zebrasoma dan Acanthurus adalah herbivora, namun ada pula yang merupakan planktivora
bersama dengan spesies dari genus Naso (Choat dan Bellwood, 1991). Pola makan
herbivora dalam jumlah besar membuat Acanthuroid memberi pengaruh yang besar
terhadap ekosistem terumbu karang, mereka juga memiliki kelimpahan yang tinggi dalam
ekosistem terumbu karang (Choat, 1991). Famili Siganidae mempunyai sebaran yang lebih
luas dibanding acanthuridae. Sebagian memakan mikroalga, tetapi adapula beberapa
spesies yang memakan alga yang lebih besar.
Gambar
Famili Labridae (Wrasse), Scaridae (Parrotfishes) dan Pomacentridae (Damselfishes)
termasuk famili yang masuk ke dalam Labroid (Gambar 2.3). Wrasse adalah famili besar
dengan 500 spesies karnivorus yang terbagi menjadi 50 genus yang mempunyai spesialisasi

makan karnivora dengan mengambil berbagai invertebrata bentik terutama krustacea dan
moluska. Terdapat sekitar 79 spesies pada Parrotfish dan sebagian besar adalah herbivora
yang mengambil alga dari substrat keras. Beberapa spesies juga mengkonsumsi substansi
dari karang hidup. (Sale, 1991). Allen (2000), memperkirakan Damselfish diseluruh dunia
kurang lebih berjumlah 335 spesies dan 170 spesiesnya terdapat di Australia dan Asia
Tenggara. Rata-rata mempunyai ukuran kurang dari 10 cm. Ikan ini memiliki berbagai
perilaku makan baik planktivora dan karnivora bentik crustacea, namun sebagian besar
merupakan herbivora. Spesies ikan dari famili Pomacentridae ini memiliki hubungan
dengan habitat yang sangat kuat, yaitu dicirikan dengan adanya teritori sehingga famili ini
cenderung menetap serta agresif dalam mempertahankan daerahnya (McConnel, 1987).
Gambar
Ikan karang pada taxa Chaetodontid terdiri dari 2 famili utama yang berasosiasi dengan
terumbu karang tropis yaitu famili Chaetodontidae dan Pomacanthidae. Kedua famili ini
memiliki tubuh yang memipih, mulut yang kecil dilengkapi dengan gigi gigi menyerupai
bulu (Sale, 1991). Ikan dalam kelompok ini mempunyai warna paling cerah di ekosistem
terumbu karang (Gambar 2.4). Terdapat 120 spesies ikan dari famili Chaetodontidae yang
90%nya terdapat di Indo-Pasific. Famili ini terbagi menjadi 10 genus dan 78%nya
merupakan genus Chaetodon (Allen,1981 dalam Sale, 1991). Ikan Chaetodontid aktif
melakukan pemangsaan pada siang hari. Hampir separuh dari genus Chaetodon merupakan
pemakan coral (koralivora), walaupun sebagian lainnya merupakan pemakan invertebrate
kecil di karang, alga atau bahkan plankton. Famili Pomacanthidae mempunyai 82 spesies
yang terbagi menjadi 7 genus, sebagian besar terdapat di Pasifik barat (Allen, 2000).
Mereka mempunyai tiga strategi makan utama, yaitu: mengkonsumsi invertebrata (terutama
sponge), herbivora dan planktivora. (Allen, 1981 dalam Hallacer, 2003).
Gambar
Klasifikasi Ikan Karang
Pengelompokan Ikan Karang Berdasarkan Periode Aktif Mencari Makan :
1. Ikan Nokturnal (aktif ketika malam hari) contohnya pada ikan-ikan dari
SukuHolocentridae (Swanggi), Suku Apogoninade (Beseng), Suku Hamulidae.
Priacanthidae (Bigeyes), Muraenidae (Eels), Seranidae (Jewfish) dan beberapa dari suku
dari Mullidae (goatfishes) dll
2. Ikan Diurnal (aktif ketika siang hari),
contohnya pada ikan-ikan dari Suku Labraidae (wrasses), Chaetodontidae (Butterflyfishes)
Pomacentridae (Damselfishes), Scaridae (Parrotfishes), Acanthuridae(Surgeonfishes),

Bleniidae(Blennies), Balistidae (triggerfishes), Pomaccanthidae (Angelfishes),


Monacanthidae, Ostracionthidae(Boxfishes),etraodontidae, Canthigasteridae dan beberapa
dari Mullidae (goatfishes)
3. Ikan Crepuscular (aktif diantara)
contohnya pada ikan-ikan dari suku Sphyraenidae (Baracudas), Serranidae (groupers),
Carangidae (Jacks), Scorpaenidae (Lionfishes), Synodontidae (Lizardfishes),
Carcharhinidae, lamnidae, Spyrnidae (Sharks) dan beberapa dari Muraenidae (Eels).
Pengelompokan Ikan Karang Berdasarkan Peranannya :
1. Ikan Target
Ikan yang merupakan target untuk penangkapan atau lebih dikenal juga dengan ikan
ekonomis penting atau ikan kosumsi seperti; Seranidae, Lutjanidae, Kyphosidae,
Lethrinidae, Acanthuridae, Mulidae, Siganidae Labridae ( Chelinus, Himigymnus,
choerodon) dan Haemulidae.
2.Ikan Indikator
ikan penentu untuk terumbu karang karena ikan ini erat hubunganya dengan kesuburan
terumbu karang yaitu ikan dari Famili Chaetodontidae (kepe-kepe).
3.Ikan Mayor
Ikan ini umumnya dalam jumlah banyak dan banyak dijadikan ikan hias air laut
(Pomacentridae, Caesionidae, Scaridae, Pomacanthidae, Labridae, Apogonidae dll.)
DAFTAR PUSTAKA
Allen, G.R. 2000. A Field Guide for Anglers and Divers : Marine Fishes of South-East
Asia. Periplus Editions. Singapore.292 pp.
English, S. V. Baker and C. Wilkinson. 1997. Survey Manual for Tropical Marine
Resources 2ed edition. Australian Institute of Marine Science. Townsville. 390 pp.
Froese, R and Pauly, D (Eds) (2000) Fish Base. World Wide Web electronic Publication.
www.Fishbase.org

SIFAT-SIFAT BAKTERI
Bakteri merupakan makhluk hidup bersel satu. Kebanyakan berukuran antara 1 5 mikron,
tetapi ada juga yang berukuran kurang lebih 500 mikron, misalnya Escherichia Coli.
Bakteri mempunyai bentuk tetap dan mempunyai susunan tubuh sebagai berikut:

Dinding sel, terdiri atas protein, lemak dan polisakarida. Dinding sel ini seringkali
ditutupi oleh selaput lendir yang dihasilkan oleh sitoplasma.

Sitoplasma, ada yang berklorofil atau berpigmen dan ada juga yang tidak berklorofil
atau tidak berpigmen.

Prokarion, tidak berselaput dan berisi materi inti (DNA)

Bakteri Autotrof
Bakteri ada yang dapat hidup sendiri, karena dapat melakukan sintesis. Bakteri demikian
disebut bakteri autotrof, sedangkan bakteri yang tergantung pada makhluk hidup lain
disebut bakteri heterotrof. Bakteri autotrof ada dua macam yaitu bakteri fotoautotrof dan
bakteri kemoautotrof. Bakteri fotoautotrof mengadakan sintesis dari zat-zat anorganik
dengan pertolongan sinar matahari sebagai sumber energi. Bakteri-bakteri tersebut
mempunyai pigmen yang disebut bakteriopurpurin, misalnya bakteri ungu atau yang
mempunyai pigmen hijau disebut bakterioklorofil, misalnya pada bakteri hijau. Bakteri
kemoautotrof dapat mengadakan sintesis dari zat-zat anorganik tanpa bantuan cahaya.
Sumber energi berasal dari proses kimia. Yang termasuk bakteri kemoautotrof, misalnya
bakteri belerang, bakteri besi, bakteri nitrogen, dan bakteri nitrat.

Bakteri Heterotrof
Bakteri heterotrof memerlukan senyawa organik yang komplek dari makhluk hidup lain
yang masih hidup atau sudah mati, atau kotoran makhluk hidup. Bakteri heterotrof yang
hidup dari makhluk hidup lain disebut bakteri parasit. Bakteri parasit yang menyebabkan
penyakit disebut bakteri patogen. Bakteri heterotrof yang hidup dari makhluk hidup lain
yang sudah mati atau kotorannya (sampah) disebut bakteri saprofit.
Berdasarkan cara melakukan respirasi bakteri dibagi menjadi dua kelompok. Bakteri yang
melakukan repirasi dengan mengambil oksigen dari udara disebut bakteri aerob, sedangkan
bakteri yang melakukan respirasi tanpa mengambil oksigen dari udara disebut aneorob.
Bakteri anaerob akan mati jika ada oksigen, misalnya bakteri nitrit (Nitrosococcus) dan
bakteri nitrat (Nitrobacter). Bakteri nitrit mengoksidasikan amonia (NH3) menjadi senyawa
nitrit (NO2), dan bakteri nitrat mengoksidasikan senyawa niitrit menjadi senyawa nitrat
(NO3).
Nitrat sangat dibutuhkan oleh tanaman. Bakteri nitrit dan bakteri nitrat mendapatkan energi
dari oksidasi tersebut diatas. Contoh bakteri anaerob adalah bakteri-bakteri dinitrifikan,
misalnya bakteri micrococcus denitrificans. Bakteri ini mereduksi senyawa nitrat menjadi
amonia. Bakteri tersebut mendapat energi dengan mereduksi. Jadi kerja bakteri dinitrifikan
berlawanan dengan kerja bakteri nitrit dan bakteri nitrat. Padahal senyawa nitrat sangat
dibutuhkan oleh tanaman. Karena itu, supaya bakteri micrococcus denitrificans tidak
bekerja mereduksi nitrat menjadi amonia, maka harus ada udara (oksigen) dalam tanah
dengan jalan menggemburkan tanah sehingga udara dapat masuk.
Umumnya bakteri hidup dan berkembangbiak dengan baik jika keadaan sekelilingnya
lembab. sehingga jika media tempat hidup bakteri tersebut dipanaskan bakteri akan mati.
Namun ada pula bakteri yang dapat hidup pada temperatur tubuh, bahkan dapat hidup pada
temperatur 60oC 80oC. Ada juga bakteri yang dapat hidup baik jika keadaan
sekelilingnya asam, basa, atau netral. Seperti yang telah disebutan diawal, maka bakteri
dapat dibedakan berdasarkan tempat hidupnya. Bakteri berkembangbiak secara aseksual
dengan cara membelah diri menjadi dua, dalam ondisi yang sesuai bakteri
melakukanpembelahan setiap 15 menit. Maka dalam 8 jam dari satu bakteri dapat menjadi
4.000 juta bakteri. Oleh karena itu kalau dibiarkan atau tidak ada pemangsanya, dunia dapat
penuh dengan bakteri. Bakteri dapat juga berkembangbiak secara konjugasi, yaitu
penyatuan dua sel lalu membelah lagi mejadi dua. Apabila keadaan lingkungan tidak sesuai,
bakteri dapat membentuk spora. Spora ini berdinding tebal sehingga lebih tahan hidup.
Apabila direbus atau dipanaskan atau dengan diberi zat kimia bakteri biasa akan mati, tetapi
sporanya tidak mati. Spora tersebut dapat terbawa angin ketempat yang lain. Jika keadaan
sudah sesuai maka spora dapat tumbuh menjadi bakteri-bakteri.

bakteri bersifat
heterotrof. Hidupnya sebagai
saprofit atau sebagai parasit.
Namun demikian ada beberapa
jenis yang mampumengadakan
asimilasi sehingga bersifat
autotrof. Sehingga berdasarkan
asal energi yang digunakan
untuk berasimilasi maka bakteri
dengan sifat autotrof dapat
dibedakan menjadi dua
golongan :
1. Yang bersifat Kemoautotrof:
bila energi yang digunakan
untuk asimilasi berdasarkan
dari reaksi-reaksi kimia,
misalnya dari proses-proses
oksidasi senyawa tertentu.
Baketrei nitrit dengan
mengoksidasi NH3, bakteri
nitrat dengan mengoksidasikan
HNO2, bakteri belerang dengan
mengoksidasi senyawa
belerang.
2. Yang bersifat Fotoautotrof:
bila energi untuk asimilasi
didapatkan dengan bantuan
cahaya matahari. Seperti pada
tumbuhan hijau, bakteri yang
dapat melakukan fotosintesis
adalah bakteri yang
mengahsilkan zat warna. (dari
golongan thiorhodaceae
{bakteri belerang berzat warna}
).
Bakteri yang hidup sebagai
saprofit menggunakan sisa-sisa
tumbuhan atau hewan sebagai
subsrat dan sumber

kehidupannya. Kegiatan
fisisologi bakteri yang
menempati substrat mengalami
proses penguraian yang
biasanya dsertai dengan
timbulnya energi. Proses ini
dinamakan pembusukan bila
disertai dengan bau dan
fermentasi bila suatu
pernapasan tramolekuler.
Dari segi kebutuhan akan
oksigen, baketri dapat
dibedakan menjadidua
golongan
1. Bakteri aerob: untuk hidup
memerlukan oksigen bebas.
Bakteri aerob dapat dibedakan
lagi menjadi aerob obligat,
artinya untuk hidupnya mutlak
diperlukan adanya oksigen
bebas. Tetapi bila oksigen yang
diperlukan bersifat tidak mutlak
maka disebut dengan aerob
fakultatif.
2. Bakteri anaerob: untuk hidup
tidak tergantung pada oksigen
bebas, karena dalam
pernapasannya tidak
memerlukan oksigen.
7.Cara Perkembangbiakan
bakteri
Bakteri umumnya melakukan
reproduksi atau berkembang
biak secara aseksual (vegetatif =
tak kawin) dengan membelah
diri. Pembelahan sel pada
bakteri adalah pembelahan
biner yaitu setiap sel membelah
menjadi dua.

Reproduksi bakteri secara


seksual yaitu dengan
pertukaran materi genetik
dengan bakteri lainnya.
Pertukaran materi genetik
disebut rekombinasi genetik
atau rekombinasi DNA.

IFAT BAKTERI,
CIRI DAN SIFAT BAKTERI
1. Bakteri merupakan mikroogranisme bersel satu.
2. Pada umumnya tidak berklrofil tetapi ada juga jenis bakteri yang mempunyai klorofil.
3. Inti selnya masih dalam bentuk prokarion.
4. Ukuran tubuhnya kebanyakan berukuran 1-5 mikron
5. Berkembang biak dengan cara membelah diri dan konjugasi (perkawinan dua individu
yang belum diketahui jenis kelaminnya).
6. Dapat hidup di segala tempat misalnya di darat, udara, air bahkan dalam tubuh manusia.
7. Apabila lingkungan tidak menguntungkan, bakteri akan membentuk endospora.
8. Bakteri pada umumnya lebih tahan pada suhu rendah (40C) daripada suhu tinggi (600C ).

Bakteri merupakan organisme bersel tunggal, prokarion yaitu inti belum memiliki membran
inti, umumnya tidak berklorofil. Berukuran diameter 0,5 1 mikron, panjang 0,1 10
mikron, sehingga disebut juga sebagai mikroorganisme atau organisme renik. Bakteri
mampu hidup di mana-mana, maka bersifat kosmopolitan.
Struktur Tubuh Bakteri
1) Kapsul dan lapisan lendir: kapsul memiliki struktur tebal dan padat, sedangkan lapisan
lendir menyebar, keduanya memberikan perlindungan tumbuhan pada bakteri, misalnya
Staphylococcus pneumoniae (radang paru-paru).
2) Dinding sel: memberikan bentuk tubuh yang kaku pada tubuh bakteri, berfungsi
mencegah sel membengkak dan pecah akibat tekanan osmosis jika sel diletakkan pada
larutan yang lebih rendah konsentrasinya (hipotonik).
3) Flagellum: memungkinkan bakteri untuk bergerak (mobile), gerakannya menyerupai
gerak alat pembuka tutup botol (gerak memutar).
Berdasarkan tipe Flagellum bakteri dibagi menjadi :
Monotrik: memiliki satu flagel yang terletak di salah satu ujungnya. Misalnya:
Pseudomonas aeruginosa.
Ampitrik: memiliki 2 flagel pada kedua ujungnya, misalnya: Aquaspirillum serpens.
Lopotrik: memiliki banyak flagel di salah satu ujungnya, misalnya: Pseudomonas
flourescens.
Peritrik: memiliki banyak flagel di seluruh tubuhnya, misalnya: Salmonella thyposa. Atrik:
tidak memiliki flagel.
4) Pilus atau fimbria: merupakan struktur tumbuhan yang berkembang dari dinding sel.
Fimbria merupakan alat pelekat antara sel bakteri yang satu dengan sel bakteri yang lain
atau antara sel bakteri dengan permukaan tubuh organisme lain, sedangkan Pilus
merupakan saluran penghubung dalam transfer DNA saat konjugasi.
5) Membran permukaan sel, memiliki sifat permeabel artinya sebagian glukosa, asam
amino, dan gliserol dapat melaluinya.
6) Mesosom, merupakan bagian membran yang membentuk lipatan, berfungsi sebagai
tempat pemisahan 2 molekul DNA anak dan pembentuk dinding sel baru.
7) Membran fotosintetik, pada bakteri fotosintesa memiliki membran permukaan sel yang
melekuk ke dalam dan mengandung pig men fotosintesa (klorofil bakteri).
8) Materi genetik merupakan "kromosom bakteri", berupa DNA bakteri yang berisi beriburibu gen untuk mengendalikan aktivitas sel bakteri tersebut juga untuk pengkode informasi
genetika.
9) Ribosom, tersusun atas protein dan RNA, berfungsi untuk sintesa protein.
10) Spora, pada genus tertentu (Clostridium dan Bacillus) akan membentuk endospora
(spora yang dihasilkan di dalam sel). Endospora bersifat dorman (suatu keadaan sel yang
tidak aktif dan proses metabolisme berkurang. Spora bakteri bukan merupakan alat

perkembangbiakan tetapi merupakan usaha bakteri untuk melindungi diri dari keadaan yang
menguntungkan (kondisi ekstrim).

Morfologi :
Secara umum terbagi 3 :
a. Coccus : Bakteri berbentuk bulat seperti bola. Variasinya :
- Mikrococcus : Jika kecil dan tunggal.
- Diplococcus : Jika berganda dua dua.
- Tetracoccus : Bergandeng empat dan bujursangkar.
- Sarcina : Bergerombol membentuk kubus.
- Staphylococcus : Seperti anggur.
- Streptococcus : Seperti rantai.
b. Basilus : Bakteri berbentuk batang atau silinder. Variasinya :
- Diplobasilus : Bergandeng dua.
- Streptobasilus : Bergandeng seperti rantai.
- Kokobasilus : Batang yang pendek menyerupai coccus.
- Fusiformis : Kedua ujung batang meruncing
c. Spiril (Spirilum) : Bakteri berbentuk lengkung. Variasinya :
- Vibrio
: Bentuk koma, lengkungnya kecil dari setengah lingkaran.
- Spiral
: Lengkungnya lebih dari setengah lingkaran
- Spirokhaeta : Spiral halus, elastis dan fleksibel, dapat bergerak dengan flagel.
Struktur :
a. Inti atau nukleus : Dengan pewarnaan Feulgen, inti dapat dilihat dengan mikroskop
cahaya biasa. Badan inti tidak mempunyai dinding atau membran. Di dalamnya terdapat
DNA fibril. DNA benang ini disebut kromosom dengan panjang lebih kurang 1 mm.
b. Sitoplasma : Tidak mempunyai mitokondria / kloroplas / mikrotubulus. Menyimpan
cadangan makanan dalam bentuk granula sitoplasma yang bekerja menjadi sumber
nitrogen, sulfur, fosfat anorganik dan granula metakromatik.
c. Membran sel : Terdiri dari fosfolipid dan protein. Tidak mengandung sterol, kecuali
genus Mycoplasma. Terdapat mesosom, enzim enzim dan molekul molekul yang
berfungsi pada biosintesa DNA, polimerase dinding sel dan lipid membran untuk fungsi
biosintetik.
d. Dinding sel : Terdiri dari lapisan peptidoglikan / mukopeptida. Berperan untuk menjaga
tekanan osmotik, menjaga agar sel tidak pecah, memegang peranan dalam pembelahan sel,
biosintesa sendiri untuk membentuk dinding sel, merupakan determinan dari antigen
permukaan kuman. Pada kuman gram negatif terdapat lipopolisakarida yang bersifat toksik.
e. Kapsul : Sintesa polimer ekstrasel. Lebih tahan terhadap efek fagositosis.
f. Flagel : Berbentuk seperti benang. Terdiri dari protein dengan diameter 12 30 nm.
Merupakan alat pergerakan. Proteinnya disebut flagelin.
g. Pili / fimbrae : Meruakan rambut pendek dan keras. Dimiliki oleh beberapa kuman gram
negatif.
h. Endospora : Paling sering dibentuk oleh bakteri batang gram positif. Merupakan bakteri
dalam bentuk istirahat. Sangat resisten terhadap panas, kekeringan dan zat kimiawi. Spora
tersiri dari core, dinding spora, korteks, coat dan ekspoporium.
Sifat fisiologis :
Yang diperlukan bakteri untuk hidup :

a. Air
Bakteri memerlukan air dalam konsentrasi tinggi disekitarnya karena diperlukan bagi
pertumbuhan dan perkembangbiakan. Air merupakan pengantar semua bahan gizi yang
diperlukan sel dan untuk membuang semua zat yang tak diperlukan ke luar sel.
b. Garam garam organik
Diperlukan untuk mempertahankan keadaan koloidal dan tekanan osmotik di dalam sel,
untuk memelihara keseimbangan asam basa dan berfungsi sebagai bagian enzim atau
sebagai aktivator reksi enzim.
c. Mineral
Diperlukan karbon, nitrogen, belerang, fosfat, aktivtor enzim seperti Mg, Fe, K dan Ca.
d. CO2
Diperlukan dalam proses sintesa dengan timbulnya asimilasi CO2 di dalam sel.
e. O2
Berdasarkan keperluan akan oksigen, Bakteri dibagi dalam 5 golongan :
1. Anaerob obligat : hidup tanpa oksigen, oksigen toksik terhadap golongan bakteri ini.
2. Anaerob aerotoleran : tidak mati dengan adanya oksigen.
3. Anaerob fakultatif : mampu tumbuh baik dalam suasana dengan atau tanpa oksigen.
4. Aerob obligat
: tumbuh subur bila ada oksigen dalam jumlah besar.
Temperatur
Bakteri mempunyai temperatur optimum yaitu dimana bakteri tersebut tumbuh sebaik
baiknya dan batas batas temperatur dimana pertumbuhan dapat terjadi.
a. Psikhrofilik : -5 sampai +300C dengan optimum 1- 200C.
b. Mesofilik : 10 450C dengan optimum 20 400C.
c. Termofilik : 25 800C dengan optimum 50 600C.
pH
pH mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Kebanyakan bakteri patogen mempunyai pH
optimum 7,2 7,6.
Reproduksi bakteri
a. Pembelahan
Umumnya bakteri berkembangbiak secara amitosis dengan membelah diri menjadi 3
bagian. Waktu diantara 2 pembelahan tersebut disebut dengan generation time dan ini
berlainan tiap jenis bakteri, bervariasi antara 20 menit sampai 15 jam.
b. Pembentukan tunas atau cabang
Bakteri membentuk tunas, tunas akan melepaskan diri dan membentuk bakteri baru.
c. Pembentukan filament
Sel mengeluarkan rambut panjang, filament yang tidak bercabang. Bahan kromosom
kemudian dimasukkan ke dalam filament. Filament terputus putus menjadi beberapa
bagian. Tiap bagiam membentuk bakteri baru, dijumpai terutama pada keadaan abnormal.
d. Reproduksi secara seksual

Pembelahan didahului peleburan bahan kromosom dari 2 bakteri sehingga timbul sel sel
bakteri dengan sifat sifat yang berasal dari kedua induknya.
- Fase penesuaian (lag fase)
Bakteri belum berkembang biak tapi aktivitas metabolisme sangant tinggi. Berlangsung
selama 2 jam dan merupakan persiapan untuk fase berikutnya.
- Fase pembelahan (eksponensial fase)
Bakteri berkembangbiak dengan berlipat 2, jumlah bakteri meningkat secara eksponensial,
berlangsung 18 24 jam.
- Fase stasioner
Dengan meningkatnya jumlah bakteri, meningkat juga jumlah hasil metabolisme yang
toksik. Bakteri mulai ada yang mati, pembelahan terhambat. Pada suatu saat terjadi jumlah
bakteri yang hidup tetap sama.
- Fase kemunduran
Jumlah bakteri hidup berkurang dan menurun.
2. Jalur Transmisi bakteri :
a. Bakteri secara umum yang menyebabkan penyakit pada manusia terutama ada pada
hewan, menginfeksi manusia secara tidak sengaja :
- Salmonella (khas menginfeksi hewan) : Ditularkan dalam produk makanan ke manusia
- Yernisia pestis : Ditransmisikan kepada manusia melalui lalat.
- Basillus anthracis (hidup di lingkungan dan hewan) : Ditransmisikan ke manusia melalui
produk produk seperti rambut kasar dari hewan yang terinfeksi.
b. Bakteri juga bisa ditransmisikan dari seseorang ke orang lain :
- Mycobacterium tuberculosis : Secara alami hanya menginfeksi manusia, ditularkan ke
orang lain melalui batuk.
- Streptococcus aurens : Terdapat dalam nares anterior, pembawa bakteri menggosok
hidung, bakteri berpindah ke tangan dan ke orang lain.
Tempat masuk bakteri patogen :
a. Paling sering
1. Tempat bertemunya selaput lendir dengan kulit :
- Saluran pernafasan
- Gastrointestinal
- Genitalia
- Saluran kemih
2. Kulit abnormal :
- Terpotong
- Luka bakar

3. Respon imun yang berperan pada infeksi bakteri


Bakteri berdasarkan tempat replikasinya dibedakan atas bakteri intraselular dan bakteri
ekstraselular. Mekanisme pertahanan tubuh dipengaruhi oleh struktur dinding sel

dan patogenitas bakteri. Sifat sifat patogenitas bakteri dilihat dari toksisitas dan
invasifnya, yaitu :
1. Bakteri yang toksik tetapi tidak invasif
2. Bakteriyang invasif tetapi tidak toksik
Bakteri gram negatif umumnya dapat dibunuh langsung oleh sel NK dengan melisis
membran sel bakteri. Disamping itu berperan juga sel Tc yang merusak membran sel yang
terinfeksi bakteri intraselular yang dapat membuat bakteri tersebut keluar dari sel dan dapat
dihancurkan.
Bakteri ekstraselular adalah bakteri yang berada di sirkulasi atau jaringan konektivus
ekstraselular, rongga rongga jaringan seperti lumen saluran cerna dan saluran pernafasan.
Bila bakteri ekstraselular, baik yang bersifat endotoksin ataupun eksotoksin, akan
menimbulkan respon imun langsung dari tubuh untuk menghadapi toksin yang dihasilkan
oleh bakteri tersebut. Untuk bakteri gram positif yang dinding selnya merupakan
peptidogllikan dan mengeluarkan eksotoksin, akan mengaktifkan komplemen melalui jalur
alternatif melalui peningkatan pembentukan C3 convertase. Untuk bakteri gram negatif
yang dinding selnya berupa lipopolisakarida dan mengeluarkan endotoksin, akan
merangsang sel makrofag menghasilkan limfokin, diantaranya : TNF, IL 1, IL 6 dan IL 8.
Bakteri yang masuk juga akan merangsang pembentukan antibodi IgM dan IgG yang akan
meningkatkan opsonisasi, menetralkan toksin dan mengaktifkan komplemen. Bakteri juga
akan merangsan sel CD4 yang selanjutnya akan merangsang sel B menghasilkan antibodi
dan sel makrofag yang meningkatkan fungsi antimikroba makrofag.
Bakteri intraselular adalah bakteri yang berada di dalam sel seperti sel makrofag dan
merangsang respon imun selular. Pada respon imun nonspesifik yang dirangsang oleh
bakteri intraselular, bakteri yang telah diopsonisasi melekat padda Fc dan reseptor C3b
untuk ditelan oleh fagosit. Tetapi terdapat beberapa bakteri yang menentag keampuhan
makrofag untuk memfagositosit, seperti : Bakteri Mycobacterium tubercolosis, dapat
menghambat fusi lisosom dengan vakuola fagosittik. Lipid mycobakterium seperti
lipoarabinomanna menghambat aktivasi makrofag dan melindungi bakteri dari unsur
oksigen reaktif pembersih seperti anion superoksida, hidrogen superoksida dan lain lain.
Contoh bakteri lain yaitu Listeria monocytogenes menggunakan lisin khusu untuk
menghindarkan dirinya dari fagosom dan hidup dalam sitoplasma. Selain merangsang
respon imun non spesifik, dirangsang juga respon imun spesifik, yaitu aktivasi makrofag
oleh sel CD4+ Th1 untu memproduksi IFN yang dapat memacu pembunuhan mikroba.
Selain itu juga akan terjadi lisis sel yang terinfeksi oleh CD8+//CTL.
Jenis toksin pada bakteri :
Eksotoksin
Endotoksin
Tempat
produksi

Dikeluarkan oleh kuman hidup,


Bagian integral dari dinding sel
konsentrasinya dalam medium cair
kuman gram negatif
sangat tinggi

Struktur
kimia

Polipeptida

Komples lipopolisakarida

Sifat fisik
Sifat
imunologis
Toksisitas
Reaksi
badan

Relatif
tidak
stabil,
dengan Relatif stabil, aktivitas toksin
pemanasan aktiviatas toksin menurun menetap walaupun dipanaskan
Sangat
antigenic,
menghasilkan
antitoksin dalam jumlah banyak,
dapat dibuat toksoid
Sangat toksik, menimbulkan kematian
meskipun dalam dosis kecil

Tidak menginduksi terbentuknya


antitoksin, tidak dapat dibuat
toksoid
Kurang toksik, dalam dosis besar
baru menimbulkan kematian

Tidak demam

Demam

4. Proses terjadinya infeksi bakteri di dalam tubuh manusia


a. Kolonisasi permukaan pejamu
- Bakteri masuk melalui permukaan mukosa traktus respiratorius, okular, traktus
gastrointestinal, genitourinaria dan kulit.
- Kolonosasi yang berhasil memerlukan perlekatan bakteri ke permukaan mukosa dan
dibantu dengan pili, polisakarida kapsul dan asam lipoteikoat.
- Targetnya adalah saluran mukosa yang membatasi sel epitel atau lapisan mukosa itu
sendiri.
- Struktur lain yang terlibat seperti protein spesifik pada stafilokokus yang berikatan dengan
protein manusia seperti : fibrin, fibronektin, laminin dan kolagen.
2. Invasi jaringan dan tnopisme jaringan
- Melalui ambilan intraselular oleh sel epitel atau melalui lintasan pertemuan sel epitel.
Contohnya : Bakteri Staphylokokus dan Streptokokus menguraikan enzim ekstraselular
seperti hialuronidase, lipase, hemolisin untuk memecah struktur selular dan
memperbolehkan bakteri masuk ke jaringan yang lebih dalam dan darah. Bakteri Yersinia
enterocolitica melalui aktivasi protein invasin. Bakteri Brucella dibawa oleh sel fagosit
yang mencerna tapi gagal membunuh bakteri.
- Ada juga bakteri yang tanpa invasi, seperti : Bordetella pertusis, V. Cholerae, Clostridium
tetani, Mycobacterium tuberculosis dan Mycobaterium leprae.
- Patogen yang menyebabkan penyakit setempat seperti ; faringitis, ulserasi kulit dan diare.
- Patogen yang ada yang memerlukan suatu penembusan dalam jaringan pejamu untuk
menyebabkan infeksi lebih dalam seperti Bacteroides fragilis.
- Tnopisme yaitu menginfeksi jaringan spesifik dan belum diketahui mekanisnya.

5. Manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan terapi komprehensif


infeksi bakteri
Faringitis, disebabkan oleh bakteri Streptokokus grup A.
Manifestasi klinis :

Masa inkubasi 1 4 hari

Gejala : nyeri tenggorokan, demam dan menggigil, keluhan abdomen dan muntah.

Gejala dan tanda klinis bervariasi dengan keluhan tenggorokan mulai ringan hingga
demam tinggi dan nyeri tenggorokan hebat yang disertai eritema luas,
pembengkakan mukosa faring, eksudat purulenta pada dinding posterior faring dan
pilar tonsil.

Pemeriksaan penunjang :
Biakan tenggorokan
Diagnosis :
Dugaan bakteri : Corynebacterium hemoliticum, virus coxsackie influenza, dan lain lain.
Terapi :
Pencegahan demam reumatik tergantung pada pembasmian kuman dari faring, pemulihan
gejala, pengobatan dengan penisilin 10 hari dengan dosis tunggal penisilin benzakin G 1,2
juta unit IM / penisilin V 250 mg P O x 10 hari. ( untuk anak anak dibawah 27 kg
dosisnya ). Kalau alergi penisilin bias diganti dengan eritromisin (10 mg/kg P O sampai
maksimum 250 mg/dosis).
Tetanus, disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani.
Manifestasi klinik :

Peningkatan tonus otot dan spasme generalisata.

Awitan gejala median setelah cedera setelah 7 hari

Pertamanya terjadi peninggian tonus otot masceter (trismus atau kaku rahang),
difagia, nyeri atau kaku kuduk, bahu, otot belakang dan lain lain.

Diagnosis :
Berdasarkan temuan fisis.
Pemeriksaan penunjang :

Biakan luka C. Tetani bisa dibiakkan dari luka pasien tanpa tetanus dan sering
ditemukan dari luka pasien tetanus.

Peningkatan leukosit tapi cairan otak normal.

Diagnosis banding :
Keadaan yang menimbulkan trismus seperti abses alveolans, keracunan sriknin, reaksi obat
distonik (fenotiazin). Keadaan yang dikacaukan dengan tetanus seperti : meningitis, rabies.

Tapi diperkuat itu tetanus dengan adanya peningkatan nyata tonus otot pada otot pusat
(wajah, leher, dada, punggung, perut), spasme generalisata yanng menjadi tersamar dan
bebas gejala pada kaki dan tangan.
Terapi :
a. Tindakan umum :
- Menghilangkan sumber toksin, menetralkan toksin
- Mencegah spasme otot
- Perlindungan pernafasan
- Pemulihan
- Pasien harus dirawat di ruangan yang tenang dengan perawatan intensif
- Luka harus dieksplorasi, secara hati hati dibersihkan dan di debridemen secara
menyeluruh
b. Terapi antibiotik :
- Penisilin parenteral (10 12 juta unit/hari, 10 hari untuk membasmi sel sel vegetatif
sumber toksin.
- Pengganti penisilin : klindamisin, eritomisin, metronidazol.
c. Antitoksin : Globilin imun tetanus (mns) / TIG IM, dosis terbagi 3000 6000 unit,
diberikan sebelum membersihkan luka. Antitoksin tetanus dosisnya 100.000 unit IM dan
IV, tapi 10.000 unit sudah cukup.
d. Pengendalian spasme otot : Diazepam 250 mg/hari atau lebih. Lorazepam / midazolam
intravena.
Disentri, disebabkan oleh Shigella dysentriae.
Manifastasi klinik :

Nyeri perut, demam, diare cair.

Jika infeksi mengenai ileum dan kolon mengakibatkan jumlah feses meningkat,
feses lebih kental tapi sering mengandung lendir dan darah.

Sering pada orang dewasa, demam dan diare menghilang spontan dalam 2 5 hari.
Namun pada anak anak dan lansia dapat menimbulkan dehidrasi, asidosis bahkan
kematian.

Pemeriksaan penunjang :

Feses segar, lendir dan usapan rektum sebagai spesimen. Akan didapatkan
peningkatan leukosit dan ditemukannya sel darah merah pada feses.

Terjadi peningkatan antibodi spesifik.

Pemeriksaan serologi tidak digunakan

Diagnosis :
Disentri oleh Shigella dysentriae.
Terapi :
Siprofloksin, ampisilin, doksisiklin, trimetoprim sulfametoksazol. Dapat menekan
serangan klinis disentri akut dan memperpendek durasi gejala.

B. Ukuran sel bakteri


- Sangat kecil dan bervariasi : 1,0 - 5,0 x 0,5 - 1,0 m, diameter 0,6 - 3,5 m
- Diamati dengan mikroskop pada pembesaran maksimum (100 X)
- Detil struktur sel dapat diamati dengan menggunakan mikroskop elektron
Struktur Sel bakteri

Struktur Sel bakteri dapat dibagi atas 3 bagian utama yaitu :


1. Dinding sel
2. Bagian internal berupa protoplasma yang mengandung :
Membran sel
Inclusion body
Mesosom
Ribosom
Nukleoid (DNA)
3. Bagian eksternal
Kapsul
Flagela
Pili
Dinding sel
Dinding sel bakteri sangat tipis dan elastis ,terbentuk dari peptidoglikan yang merupakan
polimer unik yang hanya dimiliki oleh golongan bakteri. Fungsinya dinding sel adalahmemberi bentuk sel, member perlindungan dari lingkungan luar dan mengatur pertukaran
zat-zat dari dan ke dalam sel Teknik pewarnaan Gram adalah untuk menunjukan perbedaan
yang mendasar dalam organisasi struktur dinding sel bakteri atau cell anvelope.
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel relatif tebal, terdiri dari berlapis-lapis polymer
peptidoglycan (disebut juga murein). Tebalnya dinding sel menahan lolosnya komplek
crystal violet-iodine ketika dicuci dengan alkohol atau aseton. Bakteri Gram negatif
memiliki dinding sel berupa lapisan tipis peptidoglycan, yang diselubungi oleh lapisan tipis
outer membrane yang terdiri dari lipopolysaccharide (LPS). Daerah antara peptidoglycan
dan lapisan LPS disebut periplasmic space (hanya ditemui pada Gram negatif) adalah zona
berisi cairan atau gel yang mengandung berbagai enzymes dan nutrient-carrier proteins.

Kompleks Crystal violet-iodine mudah lolos melalui LPS dan lapisan tipis peptidoglycan
ketika sel diperlakukan dengan pelarut. Ketika sel diberi perlakuan pewarna tandingan
Safranin O, pewarna tersebut dapat diserap oleh dinding sel bakteri Gram negatif.
Protoplasma
Yaitu semua material yang terdapat didalam dinding sel.
A. Membran sel : Terdapat dibagian dalam dinding sel, terdiri dari phospholipid yang
tersusun bilayer , dan mengandung berbagai protein yaitu:
Enzym untuk reaksi
Pori untuk proses difusi
Reseptor untuk transpor
Reseptors untuk mengenal, komunikasi, dan penempelan.
B. Sitoplasma : Merupakan cairan sel yang terdapat didalam plasma membran. Terdiri dari
80% air, ribosom, berbagai enzim, koenzim, senyawa organik (protein, lemak, karbohidrat,
dll), senyawa anorganik.
C. Ribosom : organel sel yang berfungsi sebagai pabrik protein
D. Mesosome : Invaginasi dari plasma membran, dalam bentuk vesikel, tubule, atau lamela
E. Nukleoid : Material genetik bakteri/kromosom bakteri/DNA , berbentuk circular
(melingkar), membawa sifat yg mengatur viabilitas bakteri.
F. Plasmid : Material genetik non esensial, ekstra kromosom, berbentuk melingkar tetapi
ukuran lebih kecil dari DNA, membawa sifat-sifat tambahan ketahanan terhadap antibiotik,
ultra violet, patogenisitas, produksi bakteriosin, dll, tetapi tidak membawa sifat untuk
viabilitas sel. Plasmid dapat berpindah antar bakteri, atau dari bakteri ke sel tanaman inang
(contoh pada Agrobakterium tumefaciens).
Bagian eksternal
A. Flagela
Berfungsi sebagai alat gerak, struktur utamanya adalah protein yang disebut flagellin,
fleksibel, ukuran diameter10-15m, dengan panjang 10-20m. Berdasarkan tempat dan
jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

-Atrik, tidak mempunyai flagel.


-Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
-Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
-Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
-Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
B. Pili/Fimbriae
Merupakan alat untuk menempel pada permukaan (adhesin) substrat. Pili ada yang khusus
digunakan untuk konjugasi, disebut pili sex. DNA bakteri dapat ditransfer dari satu sel
bakteri ke sel bakteri lain selama proses konjugasi.
C. Kapsul/envelope
Merupakan selubung sel bakteri berupa extracellularpolysacharide (EPS). Berupa kapsul
bila melekat erat pada dinding sel atau berupa lendir dengan struktur longgar Berfungsi
sebagai pelindung sel dari kekeringan dan serangan mikroorganisme lain; alat untuk
melekat pada permukaan; berperan dalam penyerapan ion selektif; dan dalam interaksi
inang-patogen.
Reproduksi Bakteri
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif =
tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner
yaitu setiap sel membelah menjadi dua. Selama proses pembelahan, material genetik juga
menduplikasi diri dan membelah menjadi dua, dan mendistribusikan dirinya sendiri pada
dua sel baru. Bakteri membelah diri dalam waktu yang sangat singkat.Pada kondisi yang
menguntungkan berduplikasi setiap 20 menit.
Cara Reproduksi Bakteri selain pembelahan biner antara lain :
1. Konjugasi : reproduksi seksual dimana bakteri bertukar bahan genetik sebelum
membelah diri, sehingga turunannya memiliki gen baru. Material genetik ditransfer melalui
pili sex.

2. Transformasi bakteri mengambil gen dari bakteri lain yang telah mati dari
lingkungannya.
3. Transduksi virus menyisipkan gen baru ke dalam sel bakteri. Metoda ini digunakan
dalam bioteknologi untuk menghasilkan bakteri yang dapat menghasilkan insulin.
Klasifikasi Bakteri
Klasifikasi adalah meletakkan organisme kedalam kelompok taksonomik berdasarkan
persamaan karakter yang dimiliki. Klasifikasi Bakteri Patogen Tanaman mengikuti
Bergeys Manual of Determinative Bacteriology, Ninth Edition (1994) :
KINGDOM PROKARIOT
BAKTERI Memiliki membran dan dinding sel
Devisi I : GRACCILICUTES Bakteri Gram negatif
Klas : PROTEOBACTERIA Umumnya bersel tunggal
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Erwinia
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Acidovorax, Pseudomonas, Rhizobacter, Xanthomonas, Xylophilus
Famili : Rhizobiaceae
Genus : Agrobacterium, Rhizobium
Famili : Genus : Xylella
Devisi II : FIRMICUTES Bakteri Gram Positif
Klas : FIRMIBACTERIA Umumnya bersel tunggal
Genus : Bacillus, Clostridium
Klas : THALLOBACTERIA bakteri bercabang
Genus : Arthrobacter, Clavibacter, Curtobacterium,
Rhodococcus, Streptomyces
Devisi III: TENERICUTES
Klas : Mollicutes
Famili : Spiroplasmataceae
Genus : Spiroplasma

Famili : Genus : belum ditetapkan, dikenal sebagai phytoplasma (dulu disebut micoplasmalike
organisms (MLO)
Devisi IV: MENDISICUTE
Klas : Archaeobacteria
Jenis-jenis Bakteri
Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua
golongan yaitu bakteri heterotrof dan bakteri autotrof.
A. Bakteri Heterotrof
Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya
karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik
diperoleh dari sisa-sisa organisme lain. Bakteri yang mendapatkan zat organik dari sampah,
kotoran, bangkai dan juga sisa makanan, kita sebut sebagai bakteri saprofit. Bakteri ini
menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi
dan mineral.
B. Bakteri Autotrof
Bakteri Autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat
anorganik yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof (auto =
sendiri, trophein = makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Bakteri fotoautrotof
Bakteri fotoautrotof yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk
mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh bakteri ini
adalah: bakteri hijau, bakteri ungu.
2. Bakteri kemoautrotof
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya
pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang
sederhana dengan melepaskan hidrogen. Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas.
Nitrosomonas dapat memecah NH3 menjadi NH2, air dan energi.
Di samping terdapat bakteri yang dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkan makanan,
ada juga penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses
respirasi. Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob
yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal:
Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter.

2. Bakteri anaerob
yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal:
Streptococcus lactis.
Sedangkan berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dikelompokkan lagi menjadi:
1. Bakteri aerob obligat
yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana mengandung oksigen. Misal:
Nitrobacter dan Hydrogenomonas.
2. Bakteri anaerob obligat
yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana tanpa oksigen. Misal: Clostridium
tetani.
3. Bakteri anaerob fakulatif
yaitu bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa oksigen. Misal: Escherichia coli,
Salmonella thypose dan Shigella.

Bakteri Patogen
Bakteri Penyebab Penyakit Pada Ikan
Arsip Cofa No. C 049

Daya Patogen Beberapa Bakteri


Austin dan Austin (1999), berdasarkan laporan beberapa penelitian, mendaftar jenis-jenis
bakteri patogen pada ikan di antaranya sebagai berikut :
- Eubacterium tarantellae : infeksi bakteri ini bisa melalui luka atau kerusakan jaringan
ikan yang ditimbulkan oleh parasit, patogen lemah atau stres. Begitu memasuki jaringan
tubuh, kerusakan lebih lanjut bisa terjadi akibat racun ekso- dan endotoksin. Bakteri
anaerob ini menghasilkan hemolisin dan lesitinase, yang berbahaya bagi ikan.
- Carnobacterium piscicola : percobaan skala kecil telah dilakukan dengan ikan rainbow
trout yang dipelihara dalam air tawar pada suhu 18 C dan hasilnya menunjukkan bahwa
kematian bisa terjadi dalam 14 hari setelah penyuntikan bakteri ini secara intraperitoneal
(lewat-perut) sebanyak 105 sel/ikan. Ikan mati dan ikan sekarat memiliki ginjal yang
membengkak dan menimbun cairan nanah di dalam rongga perut. Bagaimanapun, efek
merugikan tidak terlihat setelah penyuntikan ekstrak bebas-bakteri. Hal ini menunjukkan
bahwa eksotoksin (racun luar) tidak berperanan penting dalam patogenisitas.
- Lactococcus garvieae : infeksi terjadi dengan penyuntikan 104 sampai 105 sel bakteri ini;
juga terjadi setelah ikan dipaparkan selama 10 menit terhadap 106 bakteri ini. Penyakit
kemudian menjadi makin parah hingga terjadi kematian. Beberapa ikan peka terhadap
bakteri ini, misalnya trout yang bisa mengalami kematian masal, sedangkan ikan mujaer
(Sarotherodon mossambicus), mujaer bergaris (Tilapia sparramanii), ikan mas (Cyprinus
carpio) dan largemouth bass (Micropterus salmoides) tidak.
- Streptococcus milleri (G3K) : bakteri ini yang disuntikkan sebanyak 5 x 106 sel/ikan
menyebabkan 20% mortalitas pada salmon Atlantik. Yang menarik, semua ikan menjadi
berwarna gelap, namun tidak ada tanda-tanda ketidak normalan internal atau eksternal.
Pada rainbow trout, ada bukti bahwa ginjalnya dipenuhi cairan.
- Vagococcus salmoninarum : infeksi bakteri ini dicapai dengan dosis yang agak tinggi,
yaitu 1,8 x 106 sel/ikan pada rainbow trout.
- Bacillus sp : infeksi pada lele (Clarias gariepinus) telah dilakukan melalui mulut dan
penyuntikan secara subcutaneous (bawah-kulit) dengan dosis yang agak rendah 0,5 ml,
yang mengandung 1,8 x 103 sel/ml. Mortalitas sebesar 60 % dan 30 % terjadi selama
periode 3 minggu untuk infeksi bakteri lewat mulut dan bawah-kulit, berturut-turut.
- Bacillus mycoides : penyuntikan bakteri ini sebanyak 1,6 x 104 sel secara intramuscullar
(lewat-otot) menyebabkan kerusakan jaringan pada ikan channel catfish; kerusakan tersebut
mirip dengan gejala penyakit yang asli. Penyuntikan bakteri secara intraperitoneal dan
subcutaneous tidak mengakibatkan kerusakan jaringan pada ikan yang terinfeksi.
- Corynebacterium aquaticum : isolat bakteri dari ikan, RB 968 BA,membunuh rainbow
trout dan ikan stripped bass dengan LD-50 (lethal dose; dosis mematikan) hasil perhitungan

5,8 x 104 dan 1,0 x 105, berturut-turut. Ikan yang diinfeksi secara eksperimental
mengembangkan hemoragi (pendarahan) di dalam rongga tengkorak, tetapi tidak
menunjukkan sedikit pun gejala-gejala penyakit eksternal.
- Coryneform : sebagai hasil percobaan patogenisitas dengan ikan rainbow trout (berat ratarata 8 gram) yang dipelihara dalam air tawar pada suhu 18 C, telah diketahui bahwa 1,25 x
106 sel, yang diberikan melalui penyuntikan intraperitoneal, dapat membunuh ikan dalam
beberapa hari.
- Micrococcus luteus : penyuntikan 105 sel, secara intramuscullar dan intraperitoneal,
menyebabkan mortalitas 54 % pada anak rainbow trout dalam 14 hari.
- Mycobacterium spp. : hanya Mycobacterium chelonei subspesies piscarium yang telah
dipelajari secara mendetail. Pada suhu air 12 C, infeksi eksperimental telah dilakukan pada
rainbow trout melalui penyuntikan secara intraperitoneal sebanyak kira-kira 107 sel.
Mortalitas akumulatif berkisar dari 20 % sampai 52 %. Pada juvenil chinook salmon, 98 %
mortalitas dilaporkan dalam 10 hari pada suhu air 18 C.
- Nocardia spp. : infeksi eksperimental telah dilakukan pada ikan gabus Formosa (Chanos
maculata) (catatan : yang benar di sini Chanos atau Channos ?) dan largemouth bass
(Micropterus salmoides). Kerusakan jaringan yang diikuti kematian terjadi dalam 14 hari
setelah penyuntikan 8 mg suspensi Nocardia asteroides secara intraperitoneal.
- Planococcus sp. : ikan, yang disuntik secara intraperitoneal dengan 105 sel tampak
berenang tidak menentu dalam 48 jam. Pada saat itu, insangnya menjadi pucat, anus
menjulur dan perut membengkak. Usus bengkak dan berdarah. Ginjal sedikit berair. Sekitar
30 40 % ikan yang terinfeksi mati.
Bakteri Pada Ikan Turbot Budidaya
Novoa et al. (1990) dalam Banning (1992) melaporkan bahwa perkembangan budidaya
ikan turbot (Scophthalmus maximus L.) meningkat pesat di Galicia (Spanyol Barat-laut).
Perkembangan ini diikuti oleh munculnya masalah patologis pada spesies ikan tesebut.
Laporan pendahuluan hasil survei mikrobiologis pada budidaya ikan turbot menunjukkan
bahwa bakteri yang sering diisolasi adalah dari genus Vibrio (Vibrio splendidus, Vibrio
pelagius), dan yang kurang sering adalah dari genus Pseudomonas, Streptococcus serta
Staphylococcus. Birnavirus (virus mirip-IPN) diisolasi hanya dari dua sampel. Flagelata
Costia sp., ciliata Trichodina sp. dan Cryptocaryon sp., mikrosporidia Tetramicra
brevifilum dan cacing cestoda Bothriocephalus scorpii semua jarang dijumpai.
Penyakit Ginjal Akibat Hafnia
Teshima et al. (1992) menemukan penyakit ginjal yang diakibatkan oleh infeksi alami
bakteri Hafnia alvei pada juvenil umur setahun ikan cherry salmon Oncorhynchus masou
yang dipelihara di kolam ikan lokal di Jepang. Dari luar, ikan yang sakit menunjukkan
permukaan tubuh yang gelap dan perut membengkak, dan mereka berenang perlahan-lahan.
Dari dalam tubuh, kerusakan jaringan dengan berbagai ukuran, yang tampak seperti
benjolan putih keabuan, timbul pada sisi ventral ginjal; secara histopatologis gejala-gejala
ini mirip dengan gejala bacterial kidney disease (penyakit ginjal bakterial) yang
diakibatkat oleh bakteri Renibacterium salmoninarum. Patologi ginjal secara eksperimental
bisa ditimbulkan kembali dengan isolat murni Hafnia alvei yang diambil dari luka-luka
pada ginjal ikan yang terinfeksi alami. Periode inkubasi penyakit ini pada ikan cherry

salmon muda adalah sekitar 3 bulan setelah penyuntikan intraperitoneal tunggal. Penyakit
ini, bagaimanapun, bisa muncul lebih cepat sejalan dengan peningkatan frekuensi
penyuntikan isolat bakteri.
Mycobacterium Pada Ikan
Lansdell et al. (1993) mengamati spesies-spesies bakteri Mycobacterium pada ikan.
Beberapa spesies ikan laut yang ditangkap dari alam liar dan ikan hias air tawar digunakan
dalam studi ini. Organ-organ yabg diinfeksi (hati, limfa, dan ginjal) disampling untuk
menemukan mycobakteria. Sampel jaringan yang telah didekontaminasi diletakan pada
media selektif untuk mencari mycobakteria. Setelah isolasi awal, teknik fluoresensi dan
penodaan asam-cepat digunakan untuk mengidentifikasi bakteri sampai ke genus. Profil
karakteristik pertumbuhan biokimia dipakai untuk menidentifikasi lebih lanjut isolat
tersebut sampai ke spesies. Lima spesies Mycobacterium telah diidentifikasi :
Mycobacterium simiae, Mycobacterium scrofulaceum, Mycobacterium marinum,
Mycobacterium chelonae dan Mycobacterium fortuitum. Di antara mereka Mycobacterium
simiae dan Mycobacterium scrofulaceum belum pernah dilaporkan ditemukan pada ikan.

Pengertian Patogen
Apakah ini pernah terjadi pada Anda? Seorang siswa yang duduk di sebelah Anda di dalam
kelas yang sedang pilek. Siswa lain batuk dan bersin, tetapi Anda merasa baik-baik saja.
Dua hari kemudian, Anda baru merasakan panas dingin, juga. Penyakit seperti pilek dapat
menular. Penyakit menular juga disebut penyakit infeksius. Penyakit menular adalah
penyakit yang menyebar dari orang ke orang.
Penyakit infeksius yang disebabkan oleh patogen. Sebuah patogen adalah makhluk hidup
atau virus yang menyebabkan penyakit. Patogen yang biasa disebut kuman. Mereka dapat
melakukan perjalanan dari satu orang ke orang lain.
Jenis Patogen
Makhluk hidup yang menyebabkan penyakit pada manusia termasuk bakteri, jamur, dan
protozoa. Sebagian besar penyakit infeksi yang disebabkan oleh organisme ini dapat
disembuhkan dengan obat-obatan. Sebagai contoh, obat yang disebut antibiotik dapat
menyembuhkan sebagian penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri adalah organisme
bersel satu tanpa inti. Meskipun sebagian besar bakteri tidak berbahaya, beberapa penyebab
dari mereka penyebab penyakit.
Di seluruh dunia, penyakit yang paling umum yang disebabkan oleh bakteri adalah
tuberkulosis (TB). TB adalah penyakit serius pada paru-paru. Penyakit lain yang umum
disebabkan oleh bakteri adalah radang tenggorokan. Anda mungkin mengalami sendiri
radang tenggorokan. Beberapa jenis radang paru-paru dan banyak kasus penyakit dari
makanan juga disebabkan oleh bakteri.
Jamur adalah organisme sederhana yang terdiri dari satu sel atau lebih. Mereka termasuk
jamur dan ragi. Penyakit manusia yang disebabkan oleh jamur termasuk kurap dan kaki
atlet. Keduanya adalah penyakit kulit yang biasanya tidak serius. Sebuah penyakit jamur
yang lebih serius adalah histoplasmosis. Ini adalah infeksi paru-paru.
Protozoa adalah organisme bersel satu dengan inti. Mereka menyebabkan penyakit seperti
malaria. Malaria adalah penyakit serius yang umum pada daerah beriklim hangat. Protozoa
menginfeksi orang-orang ketika ada nyamuk disekitar mereka. Lebih dari satu juta orang
meninggal karena malaria setiap tahun. Protozoa lainnya menyebabkan diare. Contohnya
adalah Giardia lamblia.
Virus merupakan zat tak hidup kumpulan protein dan DNA yang harus mereproduksi dalam
sel-sel hidup. Virus menyebabkan banyak penyakit yang umum. Sebagai contoh, virus
menyebabkan pilek dan flu. Herpes labialis disebabkan oleh virus Herpes simplex.

Antibiotik tidak mempengaruhi virus, karena antibiotik hanya membunuh bakteri. Tapi obat
yang disebut obat antivirus dapat mengobati banyak penyakit yang disebabkan oleh virus.
Bagaimana patogen Menyebar
Patogen yang berbeda menyebar dengan cara yang berbeda. Beberapa patogen menular
melalui makanan. Penyebab mereka ditularkan melalui makanan berpenyakit, yang dibahas
dalam konsep sebelumnya. Beberapa patogen menyebar melalui air. Lamblia Giardia
adalah salah satu contoh. Air dapat direbus untuk membunuh Giardia dan kebanyakan
patogen lainnya.
Beberapa patogen menyebar melalui kontak seksual. HIV adalah salah satu contoh, yang
dibahas dalam konsep berikutnya. Patogen lain yang menyebar melalui kontak seksual
dibahas dalam konsep terpisah.
Banyak patogen yang menyebabkan penyakit pernapasan menyebar melalui tetesan di
udara. Tetesan yang dilepaskan ketika seseorang bersin atau batuk. Ribuan tetesan kecil
yang dilepaskan ketika seseorang bersin (Gambar di bawah). Setiap tetesan dapat berisi
ribuan patogen. Virus yang menyebabkan pilek dan flu dapat menyebar dengan cara ini.
Anda mungkin akan sakit jika Anda menghirup patogen.
Patogen pada Permukaan
Patogen lainnya menyebar ketika mereka terdapat pada benda atau permukaan. Sebuah
jamur dapat menyebar dengan cara ini. Sebagai contoh, Anda dapat mengambil jamur yang
menyebabkan kaki atlet dengan mengenakan sepatu yang telah digunakan orang yang
terinfeksi. Anda juga dapat tertular jamur ini dari lantai pemandian umum. Setelah jerawat,
kaki atlet adalah penyakit kulit yang paling umum di Amerika Serikat. Oleh karena itu,
kesempatan datang di kontak dengan jamur di salah satu cara ini cukup tinggi.
Bakteri yang menyebabkan penyakit kulit impetigo, yang menyebabkan lecet, dapat
menyebar ketika orang-orang berbagi pakai handuk atau pakaian. Bakteri juga dapat
menyebar melalui kontak kulit langsung dalam olahraga seperti gulat.

Patogen dan Vektor

Patogen adalah makhluk hidup atau virus yang menyebabkan penyakit. Patogen yang biasa
disebut kuman.
Namun patogen lainnya disebarkan oleh vektor. Vektor adalah organisme yang membawa
patogen dari satu orang atau hewan lain. Kebanyakan vektor adalah serangga, seperti kutu
dan nyamuk. Ketika serangga menggigit orang yang terinfeksi atau hewan, itu mengambil
patogen. Kemudian patogen melakukan perjalanan ke orang berikutnya atau hewan yang
digigit. Kutu membawa bakteri yang menyebabkan penyakit Lyme. Kedua patogen itu
menyebabkan demam, sakit kepala, dan kelelahan. Jika penyakit ini tidak diobati, gejala
yang lebih serius dapat berkembang. Penyakit lain yang disebarkan oleh nyamuk termasuk
Demam Berdarah dan Demam Kuning.
Kasus pertama virus West Nile di Amerika Utara terjadi pada tahun 1999. Dalam hanya
beberapa tahun, virus telah menyebar ke seluruh sebagian besar Amerika Serikat. Burung
serta manusia dapat terinfeksi virus. Burung sering terbang jarak jauh. Inilah salah satu
alasan mengapa virus West Nile menyebar begitu cepat.

Bakteri dianggap sebagai patogen karena dapat menyebabkan penyakit pada tanaman,
serangga, hewan, serta manusia.
Kemampuan bakteri menimbulkan penyakit disebut patogenisitas.
Patogenisitas ini dinyatakan dalam virulensi.
Virulensi bakteri adalah tingkat patogenisitas yang ditunjukkan oleh bakteri tertentu.
Ada beberapa faktor yang menentukan tingkat virulensi bakteri diantaranya yaitu kode
genetik, jalur biokimia, atau bentuk struktural.
Lalu apa saja yang membuat bakteri menjadi patogen?
Berikut adalah faktor-faktor yang membuat bakteri bersifat patogenik:
1. Fimbriae
Fimbriae disebut juga pili adalah struktur yang menyerupai rambut yang terdapat pada
permukaan tubuh bakteri.
Fimbriae membantu bakteri melekatkan diri pada tempat-tempat tertentu dalam tubuh
sehingga mencegah bakteri hanyut oleh cairan tubuh.
Fimbriae biasanya terdapat pada sebagian besar enterobacteria, seperti E.coli.
Bakteri jenis ini umumnya menyebabkan infeksi saluran kemih.
Jadi, rambut-rambut pili akan mencegah bakteri hanyut dari kandung kemih oleh urin.
2. Flagela
Flagela adalah struktur panjang yang menyerupai ekor yang membantu bakteri untuk
berenang atau bergerak.
Flagela ini membantu bakteri berpindah tempat menuju tempat yang terinfeksi dan bertahan
hidup.
Oleh karena itu, flagela membantu meningkatkan patogenisitas bakteri.
3. Racun/Toksin
Bakteri menghasilkan senyawa beracun yang menyebabkan efek merugikan pada tubuh.

Senyawa ini tidak lain adalah toksin yang antara lain memicu muntah dan diare.
Toksin ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan nyeri hebat, demam tinggi, serta
mengakibatkan kelumpuhan.
Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak berbahaya jika mereka gagal mengeluarkan toksin.
Salah satu contoh bakteri yang menghasilkan toksin adalah bakteri yang menyebabkan
keracunan makanan.
4. Invasif
Beberapa bakteri memiliki kemampuan menyerang sel-sel tubuh sehingga menyebabkan
patogenisitas.
Bakteri membuat sel-sel tubuh menjadi rusak dan hancur saat memakan isi sel.
Sebagai contoh, Salmonella typhimurium memiliki kemampuan menghancurkan sel-sel
usus sehingga menyebabkan diare berat.
Salah satu penyakit kronis yang disebabkan sifat invasif dari bakteri adalah tuberkulosis
(TB).
Mycobacterium tuberculosis menyerang sel paru-paru dan kemudian menghancurkan selsel tersebut.
Namun, harus diketahui bahwa tidak semua bakteri bisa menimbulkan penyakit pada
manusia.
Meskipun secara alami bakteri adalah patogen, namun pertahanan alami tubuh akan
mencegah bakteri menimbulkan efek negatif pada tubuh.
Hanya bakteri yang cukup pintar bersembunyi, menghindari, atau melawan reaksi
kekebalan tubuh yang bisa menyebabkan penyakit.[]

Ada beragam jenis bakteri, salah satunya adalah kelompok patogenik. Untuk memahami
kelompok bakteri yang satu ini, bisa dimulai dari istilah patogenik itu sendiri. Secara
harfiah, istilah ini mengakar pada bahasa Yunani kuno yang berarti penyebab penderitaan.
Jadi secara sederhana, bakteri pathogen bisa diartikan sebagai jenis bakteri yang menjadi
sumber penderitaan. Dalam kajian yang lebih lengkap, bakteri patogen adalah jenis-jenis
bakteri yang menjadi biang penyakit pada makhluk hidup. Bakteri patogen ini bekerja
dengan cara menginfeksi organisme dan sebagai akibatnya, muncul gejala-gejala abnormal
yang kita kenali sebagai tanda-tanda penyakit. Sebagian dari bakteri patogen ini tidak terasa
di tubuh, namun tak jarang pula yang menyebabkan penyakit serius semacam HIV, SARS,
Flu Burung dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam kajian ilmu biologi, dikenal kecenderungan karakteristik organisme yang sangat
patogen sajalah yang bisa menyebabkan penyakit pada makhluk hidup. Sementara
selebihnya tidak mengakibatkan apa-apa. Bakteri yang jarang menyebabkan pemyakit
tersebut dikenal dengan istilah patogen oportunis, yakni jenis bakteri yang tidak
menyebabkan atau menimbulkan penyakit pada makhluk hidup dengan kompetensi umun
atau daya tahan tubuh yang baik. Sebaliknya, jenis bakteri ini bisa memicu penyakit bagi
mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah. Jadi bisa disumpulkan bahwa bakteri
patogen oportunis ini mengambil kesempatan dari menurunnya sistem pertahanan di dalam
tubuh sang inang yang ia infeksi.

OPORTUNISTIK
Pengertian Patogenesis adalah proses dimana mekanisme infeksi dan mekanisme
perkembangan suatu penyakit. Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang
memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit.
Kapasitas bakteri menyebabkan penyakit tergantung pada patogenitasnya. Dengan kriteria
ini, bakteri dikelompokan menjadi 3, yaitu agen penyebab penyakit, patogen oportunistik,
nonpatogen.

Agen penyebab penyakit adalah bakteri patogen yang menyebabkan suatu penyakit
(contohnya Salmonella spp.). Patogen oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan
sebagai patogen ketika mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli
menginfeksi saluran urin ketika sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah).
Nonpatogen adalah bakteri yang tidak pernah menjadi patogen. Namun bakteri nonpatogen
dapat menjadi patogen karena kemampuan adaptasi terhadap efek mematikan terapi modern
seperti kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi. Bakteri tanah Serratia
marcescens yang semula nonpatogen, berubah menjadi patogen yang menyebabkan
pneumonia, infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang terkompromi.

Virulensi adalah ukuran patogenitas organisme. Tingkat virulensi berbanding lurus dengan
kemampuan organisme menyebabkan penyakit. Tingkat virulensi dipengaruhi oleh jumlah
bakteri, jalur masuk ke tubuh inang, mekanisme pertahanan inang, dan faktor virulensi
bakteri. Secara eksperimental virulensi diukur dengan menentukan jumlah bakteri yang
menyebabkan kematian, sakit, atau lesi dalam waktu yang ditentukan setelah introduksi.

infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak
menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tetapi
dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Mereka membutuhkan
kesempatan untuk menginfeksi seseorang (sumber :Wikipedia.org)
Dalam tubuh anda terdapat banyak kuman bakteri, protozoa, jamur dan virus. Saat sistim
kekebalan anda bekerja dengan baik, sistim tersebut mampu mengendalikan kuman-kuman
ini. Tetapi bila sistim kekebalan dilemahkan oleh penyakit HIV atau oleh beberapa jenis
obat, kuman ini mungkin tidak terkuasai lagi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan.
Infeksi yang mengambil manfaat dari lemahnya pertahanan kekebalan tubuh disebut
oportunistik. Kata infeksi oportunistik sering kali disingkat menjadi IO.
(sumber: http://www.odhaindonesia.org/content/apa-itu-infeksi-oportunistik)
Anda dapat terinfeksi IO, dan dites positif untuk IO tersebut, walaupun anda tidak
mengalami penyakit tersebut. Misalnya, hampir setiap orang dengan HIV akan menerima
hasil tes positif untuk sitomegalia (Cytomegalovirus atau CMV). Tetapi penyakit CMV itu
sendiri jarang dapat berkembang kecuali bila jumlah CD4 turun di bawah 50, yang
menandakan kerusakan parah terhadap sistem kekebalan.
Untuk menentukan apakah anda terinfeksi IO, darah anda dapat dites untuk antigen
(potongan kuman yang menyebabkan IO) atau untuk antibodi (protein yang dibuat oleh
sistem kekebalan untuk memerangi antigen). Bila antigen ditemukan artinya anda
terinfeksi. Ditemukan antibodi berarti anda pernah terpajan infeksi. Anda mungkin pernah
menerima imunisasi atau vaksinasi terhadap infeksi tersebut, atau sistem kekebalan anda
mungkin telah memberantas infeksi dari tubuh, atau anda mungkin terinfeksi.
Afrianto E. dan E. Liviawati. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit. Kanisius.
Yogyakarta. 89 hal.Austin B. and D. A. Austin. 1999. Bacterial Fish Pathogens : Disease of
Farmed And Wild Fish. Praxis Publishing. Chichester.Balai Karantina Ikan. 2000. Prosedur
Pemeriksaan Bakteri. Dinas Kelautan dan Perikanan. Jakarta.Effendy, H. 1993. Mengenal
Beberapa Jenis Koi. Kanisius. Yogyakarta.Handajani, A. dan S. Samsundari. 2005. Parasit
d a n P e n y a k i t I k a n . M u h a m m a d i y a h University Press.
Malang. 201 hal.Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 256 hal.Lingga, P. dan H. Susanto. 2003. Ikan Hias Air T a w a r E d i s i
R e v i s i ( P e n e b a r S w a d a y a . Jakarta). 237 hal.Prajitno, A. 2005. Diktat Kuliah
Parasit dan P e n y a k i t I k a n . U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a . Malang. 104
hal.Yildiz, K and A. Kumantas. 2002. Argulus foliaceus infection in a goldfish (
Carassius auratus
). Israel. 57 (3): 118- 120.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri ......

Austin B & Austin DA. 2007. Bacterial Fish Patogen: Diseases of Farmed and Wild Fish.
Fourth Edition. Springer Praxis. United Kingdom.
Flammer et al. 1998. Antimicrobial Therapy in Exotic Animals. Bayer Corporation. Kansas.
Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Markovic et al. 2007. Aeromonas Salmonicida In Californian Trout (Oncorhynchus
Mykiss, Walbaum, 1792 ) And Some Biochemical Characteristics Of This Bacteria . The
Internet Journal of Microbiology. Vol.3(1).
Bakteri patogen oportunis pada dasarnya bersifat saprofit sehingga memungkinkan diisolasi
dan ditumbuhkan pada media buatan untuk keperluan identifikasi ciri karakteristiknya. Ada
sejumlah kecil bakteri yang bersifat patogen, meskipun mampu bertahan hidup sementara
waktu di air tetapi tidak dapat tumbuh di luar sel inangnya. Sebagian besar bakteri patogen
ikan memiliki sel berbentuk batang pendek, bersifat Gram-negatif. Penyakit yang
ditimbulkannya menunjukan tanda-tanda tipikal seperti septikemia dan ulkus. Adapun
sebagian lainnya bervariasi antara lain sifatnya Gram-negatif atau Gram-positif, bentuk sel
kokus atau batang. Austin & Austin (2007) mengidentifikasi 13 kelompok bakteri yang
terdiri dari 51 genus, merupakan penyebab utama penyakit infeksi bakterial pada ikan.
Genus bakteri tersebut antara lain adalah: Mycobacterium, Aeromonas, Flavobacterium,
Pseudomonas dan Vibrio. Penyakit infeksi bakterial pada ikan memiliki waktu inkubasi,
tingkat mortalitas dan tanda-tanda klinis bervariasi. Sebagian besar bakteri patogen ikan
yang sudah diketahui, dapat ditumbuhkan pada medium buatan di luar tubuh inang.

Gambar 1. Lele Sangkuriang


Dari hasil identifikasi, bakteri yang didapat adalah bakteri 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Bakteri
2=3=5=6. Sehingga ada tiga jenis bakteri yaitu bakteri 1(A), bakteri 4(B) dan bakteri
2&3&5&6(C). Bakteri A merupakan bakteri yang berasal dari genus Aeromonas, hasil

identifikasi ini didapat setelah mencocokkan hasil beberapa uji dengan beberapa literatur,
diantaranya menurut Markovic et al. (2007), genus Aeromonas memiliki ciri katalase
positif, fermentasi glukosa, VP negatif, tidak menghasilkan H2S, indol negatif dan
hemolisis. Bakteri B merupakan bakteri dari genus Moraxella, hal ini dapat diketahui
dengan melihat sifat-sifatnya seperti hemolisis, katalase positif, sitrat negatif, indol
negatif, tidak menghasilkan H2S dan VP negatif (Austin & Austin 2007). Bakteri C
merupakan bakteri dari genus Plesiomonas. Bakteri ini menurut Austin & Austin (2007)
mempunyai ciri indol positif, urease negatif, tidak menghasilkan H2S, MR-VP negatif dan
fermentasi glukosa.
OPORTUNISTIK
Pada dasarnya dari seluruh mikroorganisme yang ada di alam, hanya sebagian kecil saja
yang merupakan patogen. Patogen adalah organism atau mikroorganisme yang
menyebabkan penyakit pada organism lain. Kemampuan pathogen untuk menyebabkan
penyakit disebut dengan patogenisitas. Dan patogenesis disini adalah mekanisme infeksi
dan mekanisme perkembangan penyakit. Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang
memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit.
Kapasitas bakteri menyebabkan penyakit tergantung pada patogenitasnya. Dengan kriteria
ini bakteri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu agen penyebab bakteri, pathogen
oportunistik, dan non pathogen. Agen penyebab penyakit adalah bakteri pathogen yang
menyebabkan suatu penyakit ( Salmonella sp. ). Pathogen oportunistik adalah bakteri yang
berkemampuan sebagai pathogen ketika mekanisme pertahanan inang diperlemah ( contoh
E. coli ) menginfeksi saluran urin ketika sistem pertahanan inang dikompromikan
( diperlemah ). Non pathogen adalah bakteri yang tidak pernah menjadi pathogen. Namun
bakteri non pathogen dapat menjadi pathogen karena kemampuan adaptasi terhadap efek
mematikan terapi modern seperti kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi.
Bakteri tanah Serratia marcescens yang semula non pathogen, berubah menjadi pathogen
yang menyebabkan pneumonia, infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang
terkompromi. Pathogen oportunistik biasanya adalah flora normal ( manusia ) dan
menyebabkan penyakit bila menyerang bagian yang tidak terlindungi, biasanya terjadi pada
orang yang kondisinya tidak sehat. Pathogen virulen ( lebih berbahaya ), dapat
menimbulkan penyakit pada tubuh kondisi sehat ataupun normal.
Sebagaimana kita ketahui sebelumnya mikroorganisme adalah organisme hidup yang
berukuran mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Mikroorganisme dapat ditemukan disemua tempat yang memungkinkan terjadinya
kehidupan, disegala lingkungan hidup manusia. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan

akuatik, dan atmosfer ( udara ) serta makanan, dan karena beberapa hal mikroorganisme
tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap dalam tubuh
manusia atau hanya bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme ini dapat
menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit.

Patogen oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan sebagai patogen ketika


mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli menginfeksi saluran urin ketika
sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah). Nonpatogen adalah bakteri yang
tidak pernah menjadi patogen. Namun bakteri nonpatogen dapat menjadi patogen
karena kemampuan adaptasi terhadap efek mematikan terapi modern seperti
kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi. Bakteri tanah Serratia marcescens
yang semula nonpatogen, berubah menjadi patogen yang menyebabkan pneumonia,
infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang terkompromi.

JENIS BAKTERI PADA IKAN


Aeromonas hydrophila
Aeromonas hydrophila merupakan bakteri heterotrophic unicellular, tergolong
protista prokariot yang dicirikan dengan adanya membran yang memisahkan inti dengan
sitoplasma. Bakteri ini biasanya berukuran 0,7-1,8 x 1,0-1,5 m dan bergerak
menggunakan sebuah polar flagel (Kabata 1985). Hal ini diperkuat oleh Krieg dan Holt
(1984) yang menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila bersifat motil dengan flagela
tunggal di salah satu ujungnya. Bakteri ini berbentuk batang sampai dengan kokus dengan
ujung membulat, fakultatif anaerob, dan bersifat mesofilik dengan suhu optimum 20 - 30 C
(Kabata 1985). Bakteri ini bersifat gram negatif, berbentuk batang, motil. Merupakan
agensia penyebab hemoragik septicemia atau MAS (Motile Aeromonas Septicaemia) pada
beragam spesies air tawar.
Tanda-tanda klinis infeksi Aeromonas hydrophila bervariasi tetapi umumnya
ditunjukkan adanya hemoragik pada kulit, insang, rongga mulut, dan borok pada kulit yang
dapat meluas kejaringan otot. Sering juga tanda-tanda klinis ditunjukkan dengan terjadinya
eksoptalmia, ascites, pembengkakan limfa dan ginjal. Secara histopatologis tampak
terjadinya nekropsi pada limfa, hati, ginjal dan jantung. Seringkali bakterimia ditandai oleh
penampakan sel-sel bakteri pada jaringan-jaringan tersebut.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menekan masuknya pathogen dan kontak
dengan ikan. Kemudian perlu dihindari pula pemasukan ikan dari daerah yang merupakan
sumber penyakit. Pengobatan saat ini masih terbatas pada empat antibiotik, yaitu
Terramycin, Oxytetracycline, dan Remet-30, Potentiated Sulfonamida.
Streptococcus sp
Bakteri ini memiliki bentuk bulat atau kokus dan bersifat gram positif umumnya
dijumpai dalam bentuk kumpulan sel-sel yang membentuk rantai. Bakteri ini merupakan
pathogen pada ikan tilapia, striped bass hibrida, dan oncorhiynchus mykis. Penyakit yang
ditimbulkan dapat dijumpai dalam bentuk septicemia berat yang akut atau dalam bentuk
kronikdengan serangan terbatas pada system syaraf pusat. Septicemia kemungkinan disertai
dengan hemoragik pada sirip, kulit dan permukaan serosal, dapat pula terbentuk borak.
Secara

mikroskopis,

akibat

penyalit

bakteri

ini

dapat

terlihat

oleh

adanya

meningoensefalitis, poliserositis, epikarditis, miokarditis dan selulitis. Sel-sel bakteri akan


dijumpai pada area yang mengalami inflamasi. Pada infeksi kronik dapat terjadi granuloma
pada hati, ginjal dan otak. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan
untuk pencegahannay vaksinnya pun sudah tersedia. I Jepang telah digunakan erythromycin
dan ampisilin untuk mengatasi penyakit ini.
Vibrio sp
Secara umum, bakteri vibrio bersifat aerob, tetapi ada pula yang bersifat anaerob
fakultatif. Selain itu, vibrio juga bersifat motil karena pergerakannya dikendalikan
oleh flagela polar, tergolong bakteri gram negatif dan berbentuk batang yang melengkung
(seperti tanda koma ).vibrio pada umumnya menyerang ikan air laut atau ikan air payau,
tetapi ada laoran mengenai infeksi vibrio pada ikan air tawar.
Tanda-tanda vibriosis mirip dengan penyakit infeksi bacterial lainnya. Umumnya
dimuali dengan latargik dan kehilangan nafsu makan. Selanjutnya kulit akan mengalami
pemucatan atau diskolorisasi, terjadi peradangan dan nekrotik, dilanjutkan oleh kulit
melapuh atau borok. Disekitar mulut dan insang terjadi bercak berdarah. Jika infeksi
berlanjut sistemik, maka terjadi eksoptalmia serta pendarahan pada saluran pernafasan dan
muara pengeluaran.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan vaksinasi meliputi cara oral ,
rendaman, suntikan, dan secara semprotan dengan emulsi vaksin pada tubuh ikan. Beberapa
odat yang dapat digunakan meliputi oksitetrasiklin dan sulfonamid. Efek sampingan yaitu
timbulnya strain bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.
Pseudomonas sp.
Pseudomonas sp. Meruakan bakteri berbentuk batang pendek, motil dengan flagella
polar dan bersifat gram-negatif. Bakteri ini menyerang ikan air tawar dan merupakan
pathogen oportunistik. Secara umum tanda-tanda klinis infeksi bakteri ini mirip dengan
Aeomonas Hydrophila antara lain terjadi hemoragik septicemia, hemoragik pada insang
dan ekor, dan borok pada kulit.
Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kondisi lingkungan
yang baik. Selain itu pengobatan yang dapat dilakukan adalah pengobatan untuk baktei
gram negatif.

Pengujian Total Plate Count (TPC)


Pengujian Total Plate Count (TPC) digunakan untuk menunjukkan jumlah mikroba
yang terdapat dalam suatu produk dengan cara menghitung koloni bakteri yang
ditumbuhkan pada media agar.
Postulat Koch
Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert
Koch pada tahun 1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Koch mengungkapkan
keempatnya

harus

dipenuhi

antara parasit dan penyakit.robert

untuk

menentukan
Koch

hubungan

sebab-musabab

menerapkannya

untuk

menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya telah diterapkan pada
penyakit lain.
Isi postulat Koch adalah:

Organisme (parasit) harus ditemukan dalam hewan yang sakit, tidak pada yang sehat.

Organisme harus diisolasi dari hewan sakit dan dibiakkan dalam kultur murni.

Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada hewan yang sehat.

Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari hewan yang dicobakan tersebut
LD( Lethal Dosage)
LD( Lethal Dosage) yaitu dosis yang jika diberikan pada kondisi spesifik
menyebabkan kematian populasi dalam jangka waktu tertentu.
LD50 yaitu dosis yang dalam kondisi spesifik menyebabkan kematian 50% dari
total populasi dalam jangka waktu tertentu. Sementara itu, LD70 adalah dosis yang dalam
kondisi spesifik menyebabkan kematian 70% dari total populasi dalam jangka waktu
tertentu.

Bakteri Penyebab Penyakit Pada Ikan


Bakteri merupakan jenis mikrooganisme yang sebagian besar bersifat parasit dan patogen
bagi semua organisme tidak terkecuali ikan. Bakteri menginfeksi organisme lain lalu
menyebabkan penyakit dan mengambil nutrisi dari inangnya. Adapun bakteri yag
menyerang ikan yakni:
Aeromonas hydrophila
Aeromonas hydrophila merupakan suatu bakteri berbentuk batang yang pada
umumnya terdapat pada perairan dengan bahan organik yang tinggi. Bakteri ini termasuk
jenis bakteri gram negatif karena saat pewarnaan dinding sel organisme ini tidak dapat
menahan zat pewarna setelah dicuci dengan alkohol 95% akibat dari diinding sel bakteri ini
mengandung lebih sedikit peptidoglikan tetapi di luar lapisan peptidoglikan ada struktur
membran kedua yang tersusun dari protein, fosfolipida, dan lipopolisakarida. Bakteri ini
bersifat motil yang bergerak dengan flagella polar. Aeromonas hydrophila tidak hanya
mampu menyerang ikan mas, melainkan dapat juga menyerang hampir semua jenis ikan air
tawar, termasuk juga didalamnya ikan lele. Aeromonas hydrophila menghasilkan berbagai
toksin ekstraseluler salah satunya aerolysin yang mungkin merupakan faktor virulen.
Aeromonas hydrophila dikenal sebagai bakteri yang bersifat oportunis, yaitu jarang
menyerang pada ikan yang sehat tetapi dapat menginfeksi pada saat system pertahanan
tubuh ikan sedang menurun akibat stess. Bakteri ini dapat ditemukan di air tawar maupun
payau pada iklim tropik. Hal ini karena bakteri ini dapat bertahan hidup dalam lingkungan
yang aerobik dan anaerobik, dan dapat mencerna bahan seperti gelatin dan hemoglobin.
Gejala yang timbul akibat infeksi bakteri ini adalah adanya borok pada ikan, busuk ekor
dan sirip, dan hemoragik septikemia. Adanya hemoragik septikemia menyebabkan
pendarahan di insang dan anal, exophthalmia, serta pembengkakan. Cara pencegahan ikan
dari infeksi bakteri ini yakni : pergantian air harus dilakukan secara terkontrol dan periodic,
padat tebar diusahakan sesuai dengan carrying capacity kolam agar tidak terjadi
gesekan/luka antar ikan. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan memberikan desinfektan
dan acriflavine pada air kolam sesuai dosis. Pengobatan ikan yang terinfeksi bakteri ini
dengan menggunakan satu persen natrium hipoklorit dan dua persen kalsium hipoklorit atau
memberikan agen antibiotic misalnya kloramfenikol, florenicol, tetracycline, sulfonamide,
nitrofuran derivative, dan asam pyrodinecarboxylic.
Streptococcus sp.
Bakteri ini bersifat non motil karena tidak memiliki alat gerak, termasuk jenis bakteri
gram-positif. Selama hidupnya bakteri ini tidak membentuk spora (endospora). Bakteri ini
biasanya hidup tidak soliter akan tetapi berpasangan, bergerombol seperti anggur atau
bergerombol seperti rantai yang panjangnya bervariasi. Bakteri ini memiliki karakteristik
bulat atau bulat telur . Kebanyakan bakteri ini bersifat anaerob fakultatif, meskipun
beberapa spesies bersifat anaerob obligat. Mereka biasanya membutuhkan medium kultur
yang kompleks untuk tumbuh. Bakteri ini biasanya menyerang belut, ikan belanak, mujair,
mas, lele, nila, dan ikan trout. Gejala ikan yang terinfeksi bakteri ini adalah : bagian perut
ikan bengkak, exophthalmia (penonjolan mata) , haemoragic pada mata, opercula, dasar

sirip, dan permukaan tubuh, kulit berwarna kehitaman, ikan kejang/berputar, nafsu makan
turun, lemah,pertumbuhan lambat, pergerakan tidak terarah, sedangkan kerusakan internal
biasanya terjadi pada bagian hati, ginjal, limpa, dan usus, serta terdapat cairan pada rongga
perut Pencegahan agar ikan tidak terinfeksi ikan ini yakni memberikan desinfektan ke air
kolam sebelum ikan ditebar dan setelah pemeliharaan ikan, memberikan vaksin antiStreptococcus spp. pada benih ikan, memberikan immunostimulan seperti : memberikan
tambahan vitamin c pada pakan selama pemiliharaan, pemeriksaan kesehatan ikan secara
terkontrol, serta perbaikan kualitas air kolam secara keseluruhan terutama peningkatan
frekuensi pergantian air dan pengurangan bahan organic pada kolam. Adapun pengendalian
ikan yang terinfeksi yakni dengan pemberian erythromycin 25 mg/kg bb/hari selama 4-7
hari, pemberian oxytetracyclin dan amphicilin, serta sodium nipufur styrenate 50 mg/kg
bb/hari selama 3-5 hari.
Vibrio sp.
Bakteri ini merupakan salah satu jenis bakteri yang tergolong dalam kelompok marine
bacteria, hal ini berkaitan dengan habitat alaminya yang hidup di laut. Bakteri ini juga
sering di jumpai hidup di perairan payau misalnya estuari. Spesies bakteri ini termasuk ke
dalam kelompok bakteri gram negatif dengan bentuk tubuhnya batang pendek yang
bengkok (koma) atau lurus, serta biasanya bersifat motil karena dilengkapi oleh alat gerak
berupa flagella polar. Biasanya bakteri ini panjang tubuhnya berukuran (1,4 5,0) m dan
lebar (0,3 1,3) m. Karekateristik spesies ini yakni kemampuannya yang bisa berpendar
di dalam air. Adapun sifat biokimia bakteri ini yakni oksidase positif, fermentatif terhadap
glukosa dan sesnsitif terhadap uji 0/129. Bakteri Vibrio sp. tumbuh pada pH 4 - 9 dan
tumbuh optimal pada pH 6,5 - 8,5 atau kondisi alkali dengan pH 9,0. Bakteri ini juga
bersifat halofil yang tumbuh optimal pada air laut bersalinitas 20-40. Gejala ikan/udang
yang terinfeksi bakteri ini adalah nafsu makan menurun, kondisi tubuh lemah, berenang
lambat, pada udang terdapat bercak merah pada bagian pleopod dan abdominal, serta
menunjukan nekrosis, pada malam hari ikan/udang yag terinfeksi bisanya terlihat menyala,
selain itu pada ikan gejala lain berupa warna kulit buram, inflamasi pada bagian anus,
insang, dan mulut, terjadi pendarahan pada pangkal sirip dan mulut. Pencegahan
ikan/udang dari infeksi bakteri ini adalah : desinfeksi sarana budidaya sebelum dan setelah
pemeliharaan, menghindari terjadinya setres, pemberian unsur imunostimulan secara rutin
selama pemeliharaan (pemberian vitamin c), melakukan vaksinasi anti fibrosis, dan
pengelolaan kualitas air dan kesehatan ikan secara terpadu. Adapun pengendalian ikan yang
terinfeksi bakteri ini yakni dengan pemberian antibiotik oxytetracycline sebanyak 0,5
garam per kg makanan pada udang/ikan selama 7 hari, sulphonamides 0,5 gram per kg
makanan udang ditambak selama 7 hari dan chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg
berat makanan udang/ikan selama 4 hari, serta pemberian iodine pada bagian yang borok
akibat infeksi sebagai obat oles pertama.
Pseudomonas sp.
Bakteri ini termasuk kelompok bakteri gram negative, bersifat motil karena adanya
alat gerak berupa flagel, dan bersifat aerobic. Beberapa spesies menghasilkan pigmen yang
larut dalam air. Bentuk bakteri ini berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 m.
Bakteri ini dapat terlihat sebagi bakteri tunggal, berpasangan, atau bergerombol membentuk

rantai pendek. Gejala ikan yang terinfeksi bakteri ini adalah : terdapat benjolan merah pada
pangkal sirip dada, perutnya bengkak, tubuhnya penuh borok, pendarahan pada organ
internal, sekitar mulut, opercula dan daerah ventral, terjadi nekrosis pada jaringan limpa
dan ginjal, pertumbuhan menurun, nafsu makan berkurang, dan terlihat lemah. Pencegahan
ikan dari infeksi bakteri ini yakni pengelolaan kualitas air ditingkatkan, pengendalian
penyakit secara terpadu, memberikan imunostimulan, dan mencegah ikan setres. Adapun
pengendalian ikan yang terinfeksi bakteri ini yakni melakukan perendaman pada ikan yang
terinfeksi dengan larutan kalium permanganate dosis 10-20 ppm selama 30-60 menit,
perendaman dengan oxytetracyclin dosis 5 ppm selama 24 jam, perendaman dengan larutan
emequil dosis 5 ppm selama 24 jam atau bisa juga dilakukan penyuntikan secara
intraperitomeal menggunakan kanamycin dosis 20 mg/kg ikan-40 mg/kg ikan atau
penyuntikan secara intra muscular menggunakan steromycin dosis 20 mg/kg ikan-40 mg/kg
ikan.

Pada air laut


Parasit yang Menyerang Ikan
Parasit dapat didefinisikan sebagai organisme yang hidup di dalam organisme lain,
yang disebut inang, dan mendapatkan keuntungan dari inang yang ditempatinya (Yuliartati,
2011). Parasit adalah organisme yang hidup pada organisme lain dan umumnya
menyebabkan efek serius pada organisme yang ditempatinya. Parasit memiliki habitat
tertentu di dalam tubuh inang. Berdasarkan habitatnya, parasit dapat digolongkan menjadi
dua yaitu, ektoparasit dan endoparasit (Akbar, 2011). Ektoparasit yaitu parasit yang hidup
di permukaan tubuh dan mendapatkan makanan dengan mengirimkan hausetorium masuk
ke dalam sel-sel tubuh inang, sedangkan endoparasit yaitu, parasit yang terdapat pada
organ- organ dalam. (Anshary, 2008 dalam Yuliarti, 2011). Salah satu organisme yang
dapat terserang parasit adalah ikan. Parasit yang menyerang ikan baik dari air laut maupun
air tawar yaitu dari golongan cacing (Dactylogyrus, Diplectanum, Gyrodactylus, dan
Clinostomum) dan sisanya dari golongan protozoa (Trichodina) serta cepopoda (Studivianto
et al., 2007).
Ektoparasit Protozoa
Salah satu jenis penyakit ikan, adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
ektoparasit. Gangguan ektoparasit sering menyebabkan infeksi, secara tidak langsung dapat
membunuh ikan. Meskipun Infeksi ektoparasit tidak menyebabkan kerugian yang berarti,
tetapi sering mengakibatkan munculnya mikroorganisme patogen yang lebih berbahaya
seperti virus dan bakteri. Kerugian yang disebabkan oleh infeksi ektoparasit memang tidak
sebesar kerugian yang diakibatkan oleh organisme patogen yang lain seperti, virus dan

bakteri, namun infeksi ektoparasit merupakan salah satu faktor predisposisi bagi infeksi
organisme patogen yang lebih berbahaya. Akibat infeksi ektoparasit secara non lethal
adalah rusaknya organ tubuh bagian luar, selain itu dapat menyebabkan lambatnya
pertumbuhan. Infeksi ektoparasit dapat menyebabkan stres, pertumbuhan menjadi lambat
sehingga dapat menurunkan nilai jual (Handayani et al., 2004 dalam Budhi & Syakuri,
2008). Serangan ektoparasit menyebabkan aktivas dan tingkah laku ikan sehingga terjadi
peningkatan sensifitas stressor terhadap ikan (Purbomartono et al., 2003).
Infeksi ektoparasit yang tinggi dapat menyebabkan kematian secara masal. Menurut
Sommerville (1998) dalam Budhi & Syakuri (2008), kematian akut yang diakibatkan
tingginya tingkat infeksi ektoparasit menjadi masalah yang serius, yaitu mortalitas tanpa
menunjukan gejala terlebih dahulu. Mortalitas yang tinggi dapat terjadi akibat infeksi
ektoparasit sehingga mendorong usaha untuk melakukan pengendalian infeksi ektoparasit
(Budhi & Syakuri, 2008).
Sejauh ini banyak hasil penelitian yang menunjukan bahwa, parasit yang dijumpai
pada umumnya terdapat pada jenis ikan air tawar tropis (Budhi & Syakuri, 2008). Terdapat
tiga jenis parasit dari golongan ektoparasit yang menyerang ikan antara lain, jenis protozoa,
trematoda, dan crustacea. Banyak penilitian yang menunjukan bahwa, jenis ektoparsit yang
sering dijumpai pada ikan yaitu dari jenis protozoa, trematoda, dan crustacea
(Purbomartono et al., 2003).
Protozoa adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler) yang memilki struktur
komplek sebagai alat pergerakan, pelekatan dan perlindungan. Banyak jenis protozoa
belum teridentifikasi yang memilki bentuk menyerupai bulan sabit, berinti satu, dan flagel
yang tidak terlihat jelas (Safety, 2008). Berdasarkan taksonominya, ada beberapa phylum

spesies protozoa yang menyerang ikan diantaranya, phylum amoebozoa, dinoflagellata,


parabasalia, euglenozoa, cilliopora, apichomplexa, mikrospora, dan phylum myxozoa
(Gusrina, 2008).
Ektoparasit golongan protozoa pada umumnya menyerang organ luar ikan seprti
insang, sirip dan bagian permukaan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Purbomartono et al
(2003), tingkat infeksi ektoparasit tertinggi dari golongan protozoa yang menyerang insang
dan bagian permukaan. Protozoa dapat menyebabkan penyakit yang menyebabkan
mortalitas yang tinggi dan berdampak pada kerugian ekonomi baik dalam budidaya air
tawar maupun laut (Gusrina, 2008). Hasil penelitian Purbomartono et al (2003), ditemukan
spesies ektoparasit dari jenis protozoa pada tubuh ikan gurami(Osphronemus gouramy
Lac) adalah, Trichodina sp., Ichthyophthirius multifiliis, Chilodonella sp., Ephisthylis
sp.,Vorticella sp.

Pembusukan sirip/ekor (Bakteri Fin Rot)


Bakteri ini biasanya menyerang sirip-sirip, terutama sirip ekor dan dapat mengakibatkan
luka dan pengelupasan kulit. Ikan-ikan yang terserang penyakit ini akan menalami
luka/kerusakan pada bagian tepi dan sirip-siripnya, termasuk sirip ekor dan akan terkikis
secara tidak teratur. Bahkan tidak jarang terjadi sirip yang terserang akan tinggal bagian
pengkalnya saja. Jika diamati pada bagian yang terkena penyakit atau bagian yang luka
hanya sedikit terdapat protozoa, tetapi diketemukan banyak sekali populasi bakteri yang
terdiri dari bakteri Mycobacter sp.
Vibrio sp, jenis-jenis Pseudomonas dan Cocci gram positif. Diperkitakan bahwa kerusakan
yang terjadi tersebut diakibatkan oleh serangan bakteri dengan populasi yang sangat padat.
Bakteri ini mudah menular lewat luka-luka ikan yang lain akibat sentuhan ekor yang sakit.
Bakteri yang paling dominan adalah Vibro sp karena mempunyai kemampuan yang baik
untuk hidup di air laut dan pertumbuhannya untuk membentuk koloni lebih cepat
dibandingkan dengan bakteri yang lain.
Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, tetapi yang menjadikan bahaya justru
infeksi sekunder jenis bakteri lain yang dapat memperparah penyakit tersebut dan
menyebabkan kematian ikan. Pencegahan dan pengobatan Pencegahan dapat dilakukan
dengan jalan perendaman ikan yang sakit ke dalam bak air dengan menggunakan :

Nitrofurozone 15 ppm, selama 3 4 jam.

Suplhonamide 50 ppm, selama 3 4 jam.

Neomycin sulphate 50 ppm, selama 1 2 jam.

Chloramphenicol 50 ppm, selama 1 2 jam.

Acriflavine 100 ppm, selama 1 menit.

Sesudah pengobatan, tempatkan ikan ke dalam kurungan yang bersih dengan kepadatan
yang rendah dan aliran air yang baik, atau pada bak dengan penambahan aerasi
secukupnya.
2.

Vibriosis

Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Bakteri Vibrio sp
termasuk kelompok bakteri yang heterogen dan gram negatif. Ada 2 bakteri penting yang
diketahui menyerang ikan laut yaitu : V. alginolyticus dan V. parahaemollyticus. Vibriosisi
merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan
penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Dari percobaan yang dilakukan terhadap bakteri yang diisolasikan dari ikan kerapu dan
kakap putih yang sakit, ternyata bakteri ini tidak mampu membuat ikan menjadi sakit
vibriosis setelah dilakukan penyuntikan dengan bakteri tersebut.
Terkecuali apabila dosisnya tinggi. Ikan kerapu yang terkena Vibriosisi akaibat suntikan
bakteri tersebut, akan mengalami perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dan daerah
bekas suntikan akan menjadi borok. Selanjutnya akan terjadi pendarahan pada bagian
peritonial dan ginjalnya akan rusak. Pengamatan di alapangan juga menunjukkan gejala
ikan kurang nafsu makan, busuk sirip dan akumulasi cairan di bagian abdomen.
Pencegahan dan pengobatan
Beberapa pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan antara lain :

Menggunakan Oxytetracycline sebanyak 0,5 garam per kg makanan ikan selama 7


hari.

Menggunakan Sulphonamides 0,5 gram per kg makanan ikan selama 7 hari.

Chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat makanan ikan selama 4 hari.
Apabila ikan tak mau makan, cobalah pengobatan dengan perendaman sbb :
o Nitrofurozon 15 ppm, selama lebih kurang 4 jam.
o Sulphonamides 50 ppm, selama lebih kurang 4 jam.

3.

Streptococcus

Bakteri dari genus Streptococcus ini kadang-kadang menyebabkan penyakit pada ikan laut
yang dibudidayakan, seperti ikan kerapu merah dan ikan beronang. Tanda-tanda dari infeksi
penyakit ini biasanya tidak jelas, namun ikan terkadang terlihat lesu, tidak sehat, berenang
tidak teratur dan pendarahan pada cornea. Biasanya penyakit ini diamati lewat
pemerikasaan laboratories.
Streptococcus sp termasuk bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara
terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain.
Pencegahan dan pengobatan
Berikut adalah perlakuan pengobatan yang disarankan tes sensitivitas antibiotik.

Amphicilin 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 2 hari.

Oxytetracycline 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 7 hari.

Erythromycin estolate 1,0 gram per kg makanan untuk 5 hari.


Dapat juga menggunakan penicilin 3.000 unit per kg berat ikan yang disuntik secara
intramascullar.

37
Suryani, Y.
,
Astuti
,
B. Oktavia
, and
S. Umniyati. (2010). Isolasi dan Karakterisasi
Bakteri Asam Laktat dari Limbah Kotoran Ayam sebagai Agensi Probiotik
dan
Enzim
Kolesterol Reduktase.
Prosiding Seminar Nasional Biologi
. Yogyakarta.
Todar, K. (2008).
Lactic Acid Bacteria
. Todars Online Textbook of Bacteriology.
www.textbookofbacteriology.net
.
Vuyst, L.
D. and E. J. Vandamme. 1994.
Bacteriocins of Lactic Acid Bacteria
. Blackie
Academic &
Professional. Glasgow. United Kingdom.
Wasitaningrum, I. D. A. 2009
. Uji Resistensi Bakteri
Staphylococcus aureus
dan
Escherichia coli
dari Isolat Susu Sapi Segar Terhadap Beberapa Antibiotik.
Skripsi
U
niversitas Muhammadiah Surakarta. Surakarta.
Widya
st
uti, Y dan E. Sofarianawati. 1999
. Karakter Bakteri Asam Laktat
Enterococcus

sp.
yang Diiisolasi dari Saluran Pencernaan Ternak
.
Jurnal Mikrobiologi
Indonesia
Vol 4(2):
50
53.
Yeoman, C. J., N. Chia, P. Jeraldo, M. Sipos, N. D. Goldenfeld, and B. A.
White.
2012.
The Microbiome of The Chicken Intestines Gastrointesinal Tract.
Animal Healt

DAFTAR PUSTAKA Ade. 1994. Mencari Primadona Baru Ikan Air Tawar. Majalah
Agrobis. Surabaya. Afrianto, Liviawati E. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan.
Kanisius. Yogyakarta. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. 2003. Quick Look Riset
Kelautan dan Perikanan. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Blair, et al. 1999.
Food Studies Research unit, university of ulstrerat Jordanstom, co. Antrim, Northem
Ireland, Aeromonas / introduction 25. Cahyono B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar.
Kanisius. Yogyakarta. Dealani D (2001). Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Peraturan Pemerintah Indonesia No. 15 Tahun
2002. http://bpkp.go.id/unithukum/pp/2002/015-02.pdf [2 Januari 2013] Dooley, et al.
1988. Surface Protein composition of Aeromonas hydrophila virulent for fish :
identification of an S-layer protein J. Bacteriol. 170: 499-506 Dwidjoseputro D (2005).
Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta. Esa. 1994. Supermarket AS Butuhkan 100
Ton Nila Merah per Bulan. Majalah Agrobis. Surabaya. Fauci A. 2001. Pengaruh
Pemberian Levamisol dan Saccharomyces cereviceae Dosis 60 ppm terhadap Gambaran
Darah Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila (skripsi).
Bogor: fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Petanian Bogor. Hamza A. 2010.
Penyakit Yang Disebabkan Oleh Bakteri. http://www.scribd.com/doc/21382789/Penyakitbakteri [2 Januari 2013] Handajani H, Sri S. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. Universitas
Muhamadiyah Malang. Malang. Hamdhani H, Evi L, Syamsudin A R, Eddy A. 1992.
Kamus Istilah Perikanan. Kanisius. Yogyakarta. Hayes, J., 2000. Aeromonas hydrophila.
Oregon State University. http://hmsc.oregonstate.edu/classes/MB492/hydrophilahayes
Tanggal akses: 13 December 2006 Holt JG, Kreig NR, Sneath PHA, Staley JT, 1994.
Bergeys Manual of Determinative Bacteriology. United States of America Baltmore:
Williams & wilkins Company Isohood JH, Drake M. 2002. Review : Aeromonas species in
foods. J. Food Prot 65 : 575-582 Irawan A (2000). Menanggulangi Hama dan Penyakit
Ikan. Aneka. Solo. Kabata Z. 1985. Parasites and Disease of Fish Cultured in Tropics.
London and Philadelphia: Taylor and Francis Press Khairuman. (2002). Wabah Penyakit
Bakteri Pada Ikan. http://www.pikiran-rakyat.com/wabah penyakit bakteri pada ikan.htm [2
Januari 2013] Kordi K, ghufron H. 2004. Penanggulanagn Hama dan Penyakit Ikan. Rineka
Cipta dan Bina Adiaksara. Jakarta. Kreig NR, Holt JG. 1984. Bergeys Manual of
Systematic Bacteriology. Ed ke_1. United States of America Baltimore : Williams &
Wilkins Company. Miyazaki, T. and Kaige, N. 1985. A histopathological study on motile
aeromonas disease in Crucian carp. Fish Pathology. Edisi 21: halaman 181185. Miyazaki,
T. and Jo, Y. 1985. A histopathological study on motile aeromonad disease in ayu. Fish
Pathology. Edisi 20: halaman 5559. Narbuko dan Achmadi (2001). Metodologi Penelitian.
Bumi Aksara. Jakarta. Nazir (1993). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Pusat
Karantina Ikan. 2005. Pelatihan Dasar Karantina Ikan Tingkat Terampil. Jakarta. Pusat
Penyuluh Perikanan. 2011. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit pada Budidaya Ikan.
http://pusluh.kkp.go.id/index .php/arsip/c/35/ [15 Januari 2013] Puskari (2005). Tindakan
Karantina Ikan http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/30/tindakan-karantina-ikan/ [2
Januari 2013] Rahardjo A. 2010. Komoditas Ikan Air Tawar di Indonesia. http://benihikan.
net/kabar/komoditas-budidaya-air-tawar-di-indonesia/ [3 Januari 2013] Septiama dkk.
2008. Metode Standar Pemeriksaan HPIK Golongan Bakteri Aeromonas Salmonicida.
Pusat Karantina Ikan departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta Stasiun Karantina Ikan
Kelas II Tanjung Perak Surabaya (2008). Prosedur Tindakan Karantina. Surabaya. Sismeiro

et al. 1998. Aeromonas hydrophila Adenylyl Cyclase: a New Class of Adenylyl Cyclase
with Thermopphilic Properties and Sequences Similiarities to Proteins From
Hyperthermophilic Archaebacteria. J Bakteriol 180:3339-3344 Subagyo (1991). Metode
Penelitian dalam Teori dan Praktek. Bumi Aksara. Jakarta. Suprastyani dkk (1999). Upaya
peningkatan Proteksi Ikan Mas koki (Carrasius turatus) var Tosa sebagai komoditas Ekspor
Dengan Cara imunisasi maternal Anti Aeromonas hidropyla. Jurnal Penelitian Perikanan.
Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang. Supriyadi H (2002). Pengendalian dan
Pembuatan Media Penyakit Ikan Golongan Bakteri. Jakarta. Yuasa K, Isti K, D Roza, Ketut
M, F Johnny (2003). Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Departemen Kelautan dan
Perikanan Jambi [BBAT] Balai Budidaya Air Tawar Jambi, Ditjen Perikanan Budidaya,
DKP dan JICA. Jambi. Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ Copy and WIN :
http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ