Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Ada dua aspek yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan dalam
pengambilan keputusan keuangan, yaitu tingkat pengembalian (return) dan risiko
(risk) keputusan keuangan tersebut. Tingkat pengembalian adalah imbalan yang
diharapkan diperoleh di masa mendatang, sedangkan risiko diartikan sebagai
ketidakpastian dari imbalan yang diharapkan. Risiko adalah kemungkinan terjadinya
penyimpangan dari rata-rata dari tingkat pengembalian yang diharapkan yang dapat
diukur dari standar deviasi dengan menggunakan statistika.
Suatu keputusan keuangan yang lebih berisiko tentu diharapkan memberikan
imbalan yang lebih besar, yang dalam keuangan dikenal dengan istilah High Risk
High Return. Ada trade off antara risk dan return, sehingga dalam pemilihan
berbagai alternatif keputusan keuangan yang mempunyai risiko dan tingkat
pengembalian

yang

berbeda-beda,

pengambilan

keputusan

keuangan

perlu

memperhitungkan risiko relatif keputusannya. Untuk mengukur risiko relatif


digunakan koefisien variasi, yang menggambarkan risiko per unit imbalan yang
diharapkan yang ditunjukkan oleh besarnya standar deviasi dibagi tingkat
pengenbalian yang diharapkan.
Risiko keuangan terjadi karena adanya penggunaan hutang dalam struktur
keuangan perusahaan, yang mengakibatkan perusahaan harus menanggung beban
tetap secara periodik berupa beban bunga. Hal ini akan mengurangi kepastian
besarnya imbalan bagi pemegang saham, karena perusahaan harus membayar bunga
sebelum memutuskan pembagian laba bagi pemegang saham. Dengan demikian,
risiko keuangan menyebabkan variabilitas laba bersih (net income) lebih besar.
Jika manajemen perusahaan dapat memanfaatkan dana yang berasal dari hutang
untuk memperoleh laba operasi yang lebih besar dari beban bunga, maka penggunaan
hutang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan dan akan meningkatkan
return bagi pemegang saham. Sebaliknya, jika manajemen tidak dapat memanfaatkan
dana secara baik, perusahaan mengalami kerugian.
1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan di atas,maka masalah yang di


hadapi adalah :
Perbedaan antara risiko dan tingkat pengembalian
Hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian
Tipe risiko dan sumbernya
Bagaimana cara menghitung risiko dan tingkat pengembalian
Model yang di gunakan pada risiko dan tingkat pengembalian

BAB II
ISI
Definisi Risiko dan Tingkat Pengembalian (Risk and Return)
A. Pengertian Risk
Bila ingin menjadi pengusaha sukses, maka anda harus berani menghadapi risiko.
Kalimat tersebut dianggap resep untuk menjadi pengusaha dianggap sukses.
Kehidupan usaha penuh dengan risiko, baik itu risiko finansial maupun manajerial.
Risiko finansial
Berkaitan dengan kegagalan usaha untuk merealisasikan rencana finansial yang
telah ditentukan.
Risiko manajerial
Berkaitan dengan kegagalan pimpinan perusahaan dalam mengelola perusahaannya
yang pada akhirnya diukur dengan kegagalan finansial.
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran.
Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak
diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada
umumnya, terdapat suatu jargon high risk bring about high return, artinya jika
ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih
besar pula. Contohnya dalam investasi saham. Volatilitas atau pergerakan naik-turun
harga saham secara tajam akan membuka peluang untuk memperoleh hasil yang lebih
besar, namun sebaliknya, jika harga bergerak ke arah yang berlawanan, maka
kerugian yang akan ditanggung sangat besar.
Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert, risiko adalah uncertainty about future
event, adapun Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan risiko pada 3 hal:
1. Keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana
hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh
pengambilan keputusan
2. Variasi dalam keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya
3. Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi
kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan
David K. Eiteman, Arthur I Stonehill dan Michael H. Moffet mengatakan bahwa
risiko dasar adalah the mismatching of interest rate bases for associated assets and

liabilities. Sehingga secara umum risiko dapat ditangkap sebagai bentuk keadaan
ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya dengan keputusan
yang diambil berdasarkan suatu pertimbangan. Menurut salah satu definisi, risiko
(risk) adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty). Secara umum risiko dapat
diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan dimana
terdapat kemungkinan yang merugikan.
Dalam penyusunan anggaran modal, suatu proyek investasi ( perluasan usaha /
penggantian aktiva tetap ) kita sering mengalami kegagalan setelah proyek tersebut
dilaksanakan. Hal ini karena kita tidak memperhitungkan unsur risiko didalamnya.
Misal : risiko aliaran kas ( cashflow ) dalam faktor diskonto ( dicountrate ) sebagai
biaya modal. Apabila aliran kas yang ada kita peroleh diwaktu yang akan datang
tidak ada risiko, berarti kita dapat menentukan dengan tepat, keputusan yang akan
diambil. Hal ini karena anggaran yang kita susun baik mengenai aliran kas masuk (
cash in flow ) maupun aliran kas keluar ( cash out flow ) dianggap pasti terjadi
dimasa yang akan datang. Namun, jika terjadi penyimpangan, yang tidak
menguntungkan, maka perusahaan akan kesulitan menyesuaikannya, karena risiko
terjadinya penyimpangan tersebut belum ditentukan oleh perusahaan, lain jika unsur
risiko telah ditentukan didepan. Maka apabila terjadi penyimpangan perusahaan akan
lebih mudah menghitungnya.
Demikian pula biaya modal yang harus dikeluarkan dalam anggaran modal.
Apabila kita menganggap bahwa COC yang akan dikeluarkan tanpa risiko, maka kita
akan lebih mudah menghitungnya. Namun, dalam kenyataannya COC tersebut
kemungkinan akan naik atau turun. COC yang turun bagi perusahaan akan
menguntungkan, karena perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih kecil, tetapi jika
COC tersebut naik, maka akan mengurangi kebutuhan perusahaan. Apabila
perusahaan menganggap bahwa biaya modal tersebut konstan/risiko, maka
perusahaan dapat menggunakan tingkat bunga bebas risiko ( freerate ).
Di Indonesia, nampaknya belum ada tingkat bunga yang bebas risiko secara murni.
Tingkat bunga SBI yang biasanya digunakan sebagai acuan tingkat bunga bebas
risiko

sebenarnya

juga

mengandung

risiko. Walau

lebih

kecil

risikonya

dibandingtingkat bunga deposito bank-bank di Indonesia. Apalagi dalam keadaan


keadaan perekonomian yang kurang menguntungkan. Besar tingkat risiko yang
dimaksukan dalam panilainaan investasi akan mempengaruhi besarnya hasil yang

diharapkan oleh pemodal. Apabila perusahaan membangdingkan tingkat risiko yang


tinggi pada suatu investasi yang dianggarkan, maka pemodal yang akan menanamkan
dananya pada investasi tersebut mengharapkan hasil/ mensyaratkan hasil ( required
rate of return ) yang tinggi pula dan terjadi sebaliknya.
Memang antara hasil dan risiko ( risk and return ) memiliki hubungan linear yang
berkebalikan. Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi hasil yang diperoleh.
Sebaliknya semakin rendah risiko maka semakin

rendah pula hasil yang

diperoleh/disyaratkan.
Risiko terhadap perusahaan tidak dapat dihindari, kita hanya dapat mengelola
bagaimana agar risiko tersebut sekecil mungkin mempengaruhi keputusan
perusahaan. Risiko yang terjadi diperusahaan ada yang dapat dikelola/diatasi
perusahaan terdapat pula risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan.
Risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan ini biasanya karena tidak dapat dikontrol
oleh perusahaan. Risiko yang ada diperusahaan dapat dibedakan tiga jenis risiko :
1. Risiko individual
Risiko yang berasal dari proyek investasi secara individu tanpa
dipengaruhi oleh proyek lain.
2. Risiko perusahaan
Risiko yang dapat diukur tanpa mempertimbangkan keanekaragaman
yang dihadapi/portofolio yang dilakukan oleh investor.
3. Risiko pasar( market risk )
Risiko investasi ditinjau dari investor yang menanamkan modalnya
pada investasi yang juga dilakukan oleh perusahaan dan perusahaanperusahaan lain.
Risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara
actual return dan expected return, sehingga setiap investor dalam mengambil
keputusan investasi harus selalu berusaha meminimalisasi berbagai risiko yang
timbul, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Setiap perubahan kondisi
ekonomi baik mikro ataupun makro akan mendorong investor untuk melakukan
strategi yang harus diterapkan untuk tetap memperoleh return.
B. Pengertian Return

Return atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, individu


dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Menurut R. J. Shook,
return merupakan laba investasi, baik melalui bunga atau deviden.
Beberapa pengertian return yang lain :
Return on equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan
bersih dibagi ekuitas pemegang saham.
Return of capital atau imbal hasil atas modal merupakan pembayaran kas
yang tidak kena pajak kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil
modal yang diinvestasikan dan bukan distribusi deviden. Investor
mengurangi biaya investasi dengan jumlah pembayaran.
Return on investment atau imbal hasil atas investasi merupakan membagi
pendapatan sebelum pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka yang
mencerminkan hubungan antara investasi dan laba.
Return on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi merupakan
pendapatan bersih dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi total
kapitalisasi perusahaan.
Return realisasi merupakan return yang telah terjadi.
Return on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih merupakan
pemegang saham yang dapat menentukan imbal hasilnya dengan
membandingkan laba bersih setelah pajak dengan kekayaan bersihnya.
Return on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan untuk
menentukan efisiensi operasi perusahaan, seseorang dapat membandingkan
presentase penjualan bersihnya yang mencerminkan laba sebelun pajak
terhadap variable yang sama dari periode sebelumnya.
Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh
investor di masa mendatang.
Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu
periode tertentu.
Return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari returnreturn realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio
tersebut.
Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari returnreturn ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio.

C. Pengertian Risiko dan Tingkat Pengembalian


Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu
dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu
periode akuntansi. Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
1. bersifat linear atau searah
2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko
3. Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi
maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.
D. Hubungan Karakteristik dengan Risk and Return
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld, bahwa pada kenyataanya, seorang
investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum.
Ia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual
sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan
kondisi paritas suku bunga. Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu :
1. Takut pada risiko (RISK AVOIDER)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan
yang diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang
sifatnya mengindari risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter
pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini disebut dengan safety player.
2. Hati-hati pada risiko (RISK INDIFFERENCE)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu
menghitung terhadap segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan.
Bagi kalangan bisnis, mereka menyebut orang dengan karakter seperti ini secara
ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3. Suka pada risiko (RISK SEEKER atau RISK LOVER)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan
spekulasi dan itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin
menjadi pemimpin dan cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker
adalah mental yang dimiliki oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter
ini yang paling mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada risiko.

1.

Tipe-tipe Risiko
Pure Risk (Risiko Murni) : suatu ketidakpastian terjadi, maka
kejadian tersebut pasti menimbulkan kerugian. Risiko murni dapat
dikelompokkan menjadi 3 tipe risiko, yaitu:
Risiko aset fisik: risiko yang berakibat timbulnya kerugian
pada aset fisik suatu perusahaan/organisasi. Contoh: kebakaran,
banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
Risiko Karyawan: risiko yang disebabkan karena apa yang
dialami oleh karyawan yang bekerja di suatu perusahaan atau
organisasi. Contoh : kecelakaan kerja yang menyebabkan
terganggunya aktivitas perusahaan.
Risiko

Legal

risiko

dalam

bidang

kontrak

yang

mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan


rencana. Contoh : perselisihan dengan perusahaan lain sehingga
adanya persoalan seperti penggantian kerugian.
Speculative Risk (Risiko Spekulatif) : suatu ketidakpastian akan
terjadinya untung atau rugi. Risiko ini dapat dikelompokkan
menjadi 4 tipe yaitu:
Risiko Pasar: risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar.
Contoh:

harga

saham

mengalami

penurunan

sehingga

menimbulkan kerugian.
Risiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal
memenuhi

kewajibannya

kepada

perusahaan.

Contoh

timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.


Risiko likuiditas: risiko karena ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan kas. Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga
tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan
perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
Risiko operasional: risiko yang disebabkan pada kegiatan
operasional yang tidak berjalan lancar. Contoh: terjadi
kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena
virus.

Static Risk (Risiko Statis) : mungkin sifatnya murni atau


spekulatif asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada
dalam keseimbangan stabil. Contoh : ketidakpastian terjadinya
sambaran petir.
Dynamic Risk (Risiko Dinamis) : mungkin sifatnya murni atau
spekulatif timbul dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Contoh : urbanisasi, perkembangan teknologi.
Subjective Risk (Risiko Subyektif) : berkaitan dengan kondisi
mental seseorang yang mengalami keragu-raguan dan kecemasan
akan terjadinya kejadian tertentu.
Objective Risk (Risiko Obyektif) : probabilitas penyimpangan
aktual dari yang diharapkan sesuai dengan pengalaman.
2. Sumber-sumber Risiko
Menurut Eduardus Tandelilin, sumber-sumber risiko adalah :
Risiko suku bunga. Naik turunnya suku bunga perbankan akan
mempengaruhi keputusan publik dalam menetapkan keputusannya.
Jika suku bunga naik maka publik akan menyimpan dananya di
bank seperti dalam bentuk deposito, namun jika turun maka publik
akan menggunakan dananya untuk membeli saham.
Risiko pasar. Kondisi risiko pasar dapat dilihat pada saat fluktuasi
pasar, krisis moneter, dan resesi ekonomi.
Risiko Inflasi. Saat inflasi daya beli masyarakat turun, sedangkan
saat normal daya beli masyarakat naik.

Risiko Bisnis.

Risiko Finansial.
Risiko Likuiditas.
Risiko Nilai tukar mata uang
Risiko Negara. Berkaitan dengan keadaan politik.
3. Risiko Sistematis, tidak sistematis dan Total
a) Systematic Risk (Resiko sistematis)
Resiko sistematis disebut juga dengan market risk atau resiko umum.

Resiko sistematis adalah resiko yang bisa didiversifikasikan atau resiko yang
sifatnya mempengaruhi secara menyeluruh. Contohnya krisis moneter pada
tahun 1997 di Indonesia yang telah menyebabkan banyak sekali perusahaan
yang bangkrut dan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu terjadi pula
pada tahun 2008 yaitu saat dunia dilanda krisis finansial yang salah satunya
disebabkan oleh kredit subrime mortgage di Amerika Serikat (tahun 2008)
yang sudah terlalu tinggi, dan ternyata tidak bisa diatasi lagi.
b) Unsystematic Risk (Risiko tidak sistematis)
Unsystematic Risk disebut juga dengan resiko spesifik atau resiko yang dapat
didiversifikasikan.
Resiko yang tidak sistematis yaitu hanya membawa dampak pada perusahaan
yang terkait saja. Jika suatu perusahaan mengalami Unsystematic Risk maka
kemampuan

untuk mengatasinya masih akan bisa dilakukan, karena

perusahaan bisa menerapkan berbagai strategi untuk mengatasinya.


Contohnya jika harga sekuritas perusahaan jatuh, maka perusahaan
menerapkan berbagai strategi investasi.
c) Total Risk
Total Risk adalah gabungan atau penjumlahan antara Systematic Risk dan
Unsystematic Risk.
4. Alternatif alternatif Menghindari Resiko
Untuk menghindari resiko yang timbul terhadap aktivitas investasi yang dilakukan,
perlu dilakukan alternatif-alternatif dalam pengambilan keputusan. Alternatif
keputusan yang diambil adalah dianggap realistis dan tidak akan menimbulkan
masalah nantinya. Tindakan seperti ini dianggap sebagai bagian strategi investasi.
Bahwa berbagai keputusan-keputusan strategis akan menghasilkan nilai yang lebih
besar bagi perusahaan. Dimana tindak lanjut dari keputusan strategis ini adalah
dengan

melibatkan

secara

maksimal

sumber

daya

yang

ada

untuk

mengimplementasikan keputusan yang dimaksud dan menentukan pihak-pihak yang


bertanggung jawab atas implementasi ini. Artinya adalah resiko yang timbul
merupakan bentuk dari realita yang terjadi, yang mana resiko itu selalu saja sulit
untuk dihindari namun diusahakan resiko itu terjadi dalam jumlah yang sangat
minim.

5. Mengelola Resiko
Dalam aktivitas yang namanya resiko adalah pasti terjadi dan sulit untuk dihindari
sehingga bagi sebuah lembaga bisnis seperti perbankan sangat penting untuk
memikirkan bagaimana mengelola resiko tersebut. Dalam mengelola resiko pada
dasarnya ada 4 cara yaitu :
Memperkecil resiko, dengan cara tidak memperbesar setiap
keputusan yang mengandung resiko tinggi tapi membatasinya
bahkan meminimalisirnya agar resiko tersebut tidak menambah
menjadi besar dan diluar kontrol manajemen perusahaan.
Mengalihkan resiko, dengan cara mengalihkan resiko yang kita
terima tersebut ketempat lain seperti mengasurasikan bisnis guna
menghindari terjadinya resiko yang sifatnya tidak tentu waktunya
Mengontrol

resiko,

dengan

cara

melakukan

kebijakan

mengantisipasi terhadap timbulnya resiko sebelum terjadi, seperti


memasang alarm terhadap mobil, menempatkan satpam pada siang
atau malam hari
Pendanaan resiko, dengan cara menyediakan dana cadangan
(reserve) guna mengantispasi timbulnya resiko dikemudian hari,
seperti perubahan terhadap nilai tukar dolar

dipasaran maka

kebijakan sebuah bank adalah harus memiliki dana cadangan dalam


bentuk dolar
6. Pengambilan Keputusan Dalam Berbagai Kondisi
Tindak lanjut dalam bidang investasi yang terpenting adalah pengambilan keputusan
(decision making). Ada berbagai kondisi yang sering muncul dalam pengambilan
keputusan namun secara umum dapat dibagi menjadi tiga saja, yaitu:
a) Kondisi pasti
Dalam kondisi pasti proses pengambilan keputusan yang dilakukan adalah
berlangsung tanpa ada banyak alternatif, keputusan yang diambil sudah jelas pada
fokus yang dituju. Ada beberapa teknik yang bisa dipergunakan sebagai penyelesaian
pengambilan keputusan dalam kondisi pasti ini, yaitu menggunakan program linier
atau secara aljabar linier, dan analisis jaringan kerja.

b) Kondisi Tidak Pasti


Pada kondisi seperti ini proses lahirnya keputusan lebih sulit atau lebih kompleks
dalam artian keputusan yang dibuat belum diketahui nilai probabilitas atau hasil yang
mungkin diperoleh. Situasi seperti ini dimungkinkan sekali terjadi dikarenakan
minimnya informasi yang diperoleh baik informasi yang sifatnya hasil penelitian
maupun rekomendasi lisan yang bisa dipercaya. Untuk menghindari timbulnya
masalah dalam situasi yang tidak pasti seperti ini adalah sebaiknya melakukan riset
terlebih dahulu, mencari informasi sebanyak mungkin dan mempergunakan beberapa
metode pengambilan keputusan yang paling sesuai dengan setiap kondisi masalah
yang mungkin timbul. Hal ini dapat menggunakan:
metode laplace proses pengambilan keputusan dengan
asumsi bahwa probabilitas terjadinya berbagai kondisi adalah
sama besarnya.
Metode maximax proses pengambilan keputusan dengan
hanya mengutamakan hasil yang paling optimistik dan
mengabaikan sisi lain yang mungkin terjadi.
metode maximin proses pengambilan keputusan dengan
memilih alternatif yang minimalnya paling besar.
metode regret proses pengambilan keputusana dengan
didasari pada hasil keputusan yang maksimal berdasarkan data
pada masa lalu sebagai bahan perbandingannya.
metode realism proses pengambilan keputusan dengan
menggabungkan metode maximax dan maximin.
c) Kondisi konflik
Pada kondisi konflik maka pengambilan keputusan yang dilakukan akan
menimbulkan dampak yang mungkin saja dapat merugikan salah satu pihak. Dalam
keadaan seperti ini lahirnya keputusan sebelumnya telah diawali oleh keadaan yang
saling bertentangan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Untuk menyelesaikan
masalah di sini biasanya dilakukan pendekatan secara teori permainan, yang dalam
dunia bisnis teraplikasi dalam bentuk tawar-menawar harga dan hingga terealisasinya
suatu kontrak atau kesepakatan.

BAB III
KESIMPULAN
Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif, semakin besar risiko (risk)
yang

ditanggung,

semakin

besar

pengembalian

(return)

yang

harus

dikompensasikan. Sebaliknya, semakin kecil return yang diharapkan, semakin


kecil risiko yang ditanggung.
Model perhitungan risiko yang paling sering dipergunakan khususnya dalam
investasi, yaitu secara standar deviasi dan varian
Tingkat pengembalian faktor yang perlu diperhatikan adalah seperti harga
saham,dividend yang perlu.
Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
bersifat linear atau searah
Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko
Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka
semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.

Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal

DAFTAR PUSTAKA
Brealey, Myers, dan Marcus. 2007. Dasar- dasar Manajemen Keuangan.
Perusahaan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Fery N. Indroes dan Sugiarto, Managemen Resiko Perbankan, 2006, hal. 7
Irham Fahmi dan Yovi Lavianti Hadi, Teori Portofolio dan Analisis
Investasi Teori dan Soal Jawab, 2009, hal. 151-152
Guru besar keuangan di Stanford University Graduate School of Business.
Pada tahun 1990 mendapat hadiah Nobel di bidang ekonomi. Beliau
merupakan salah satu orang yang memunculkan pemahaman CAPM pada
tahun 1960-an selain Lintner dan Mossin.

Google.com

Wikipedia.com