Anda di halaman 1dari 42

ARTIKULASI POLITIK ORMAS ISLAM TERHADAP

LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI LOMBOK


Studi Terhadap Kontestasi NU, Muhammadiyah dan
NW pada Universitas Negeri Mataram (UNRAM) dan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram

DISERTASI

Oleh :
Ihsan Hamid
SEKOLAH PASCASARJANA
PENGKAJIAN ISLAM KONSENTRASI POLITIK ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Abstrak
Kendatipun sudah lama akrab dan mengalami
dinamika transformasi ke dalam Sistem Pendidikan
Nasional, lembaga pendidikan negeri yang diselenggarakn
dan disediakan oleh negara, hingga kini kadang masih
menjadi
wadah
semaian
untuk
mengartikulasikan
kepentingan politik dan ideologi oleh organisasi
keagamaan tertentu. Keragaman kepentingan politik dan
ideologi keagamaan yang dimiliki oleh organisasi
keagamaan tersebut kemudian diartikulasikan dalam
berbagai aspek dalam lembaga pendidikan tinggi,
sehingga lembaga pendidikan tinggi baik yang umum
maupun berlabelkan Islam, dituntut memiliki tiga beban
sekaligus academic purpose (target akademik yang harus
dicapai), social-religious expectation (kurikulum agama
bagi pendidikan yang berlabelkan Islam) disatu sisi, dan
interest organization (kepentingan organisasi yang harus
dicapai) disisi lain. Dalam konteks ini research question
yang diajukan adalah bagaimana kepentingan politik
organisasi keagamaan diartikulasikan pada lembaga
pendidikan tinggi negeri di Lombok?. Rumusan masalah ini
akan dijadikan fokus dalam penelitian ini, dengan
menitikberatkan pada proses desiminasi (konstruksi
aktualisasi), signifikansi dan ekspektasi masyarakat
terhadap muatan kepentingan politik. Relevan dengan
permasalahan ini, secara tentatif memunculkan simpulan
awal bahwa Besarnya beban yang ditanggung dan
terdapatnya berbagai macam keragaman kepentingan
yang ada di dalamnya, diasumsikan menjadi penyebab
yang kadang menjadikan lambannya pendidikan tinggi
negeri di Lombok dan kurang akomodatif terhadap
dinamika yang dihadapi civitas akademik dalam proses
belajar mengajar, selain itu berimplikasi juga terhadap
ketidak mampuan sepenuhnya oleh perguruan tinggi
negeri
dalam
memenuhi
ekspektasi
masyarakat
kendatipun sudah lama mengalami transformasi.
Pada saat bersamaan, penelitian ini secara tentative
setidaknya akan memverifikasi dan bahkan akan
mengkonfirmasi beberapa pendapat pemikir seperti Robert
W. Hefner (2009), Charlene Tan (2011), Karen Bryner
2

(2013), Zaniah Marshallsay (2012), Noorhaidi Hasan


(2012), Kamaruzzaman Bustaman-Ahmad dan Patrick Jory
(2011), dan Azyumardi Azra (2012), yang dipersatukan
oleh pandangan bahwa lembaga pendidikan atau lembaga
pendidikan tinggi baik yang umum maupun berlabelkan
Islam merupakan realitas yang kompleks (beragam).
Walaupun memperlihatkan transformasi dan akselerasi
target, namun tetap memiliki keramagaman dan
kemampuan mempertahankan identitas dan orientasi
ideologisnya, meskipun terkadang harus berpacu dengna
kepentingan politik yang diagendakan oleh Ormas.
Demikian juga Amin Abdullah (2007), Imam Suprayogo
(2007), dan Minako Sakai (2012), mentengarai bahwa
muatan
ideologi
dan
kepentingan
politik
Ormas
keagamaan
yang
diartikulasikan
dalam
lembaga
pendidikan tinggi tidak lagi signifikan dalam merespon
dinamika masyarakat.
Simpulan awal dan dan pertanyaan mendasar di
atas dalam penelitian ini kemudian akan dibahas dalam
beberapa bab sebagaimana tergambar di berikut ini.
Penelitian ini direncanakan memuat enam bab. Susunan
bab didasarkan pada unsur-unsur penelitian ilmiah dan
sistematika dalam tahapan penelitian yang dilakukan.
Masing-masing bab memayungi satu gagasan dan
dispesifikasi dalam beberapa sub, dan merupakan
kesatuan yang terkait. Bab 1 memuat latar belakang yang
mendeskripsikan penelitian dilakukan, dan dirumuskan
spesifik pada identifikasi dan perumusan Masalah. Bagian
ini juga berisi overview berbagai temuan dan diskusi kajian
terdahulu yang relevan, yang selanjutnya dijadikan
kerangka teoritis dalam memposisikan dan menganalisis
data penelitian. Menjawab permasalahan penelitian,
bagian ini juga memuat metodologi penelitian dan
sistematika yang secara operasional mencerminkan
langkah-langkah penelitian di lapangan, sampai pada
pelaporan.
Bab 2 memuat kajian teoritik tentang ideologi
organisasi keagamaan dalam lembaga pendidikan tinggi.
Berdasarkan pembaban penelitian, bagian ini secara
konseptual memperjelas variabel penelitian. Maka
3

pemaknaan ideologi organisasi keagamaan merupakan


bagian pertama yang akan disajikan, selanjutnya diikuti
kajian relasi ideologi organisasi keagamaan dengan
lembaga pendidikan tinggi dalam aspek bentuk penetrasi
penyemaian ideologi, dan modus operandi kepentingan
politik Ormas bekerja yang dimainkan oleh oknum elit
kampus dalam lembaga pendidikan tinggi.
Bab 3
merupakan bagian yang secara lebih luas mendeskripsikan
lokus dan field data sesuai tema penelitian, yang memuat
deskripsi potret lembaga pendidikan tinggi negeri di
Lombok. Bagian ini diawali dengan setting sosial lembaga
pendidikan tinggi negeri di Lombok yang diikuti oleh
deskripsi profil, dinamika orientasi, dan karakteristik
masing-masing lembaga pendidikan tinggi negeri masingmasing, yaitu Universitas Negeri Mataram (UNRAM): Profil,
Ideologi dan Orientasi, dan Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Mataram: Profil, Ideologi dan Orientasi. Kemudian
disusun dengan pembahasan mengenai Peta Ideologi
Pendidikan dan Kecendrungan Lembaga Pendidikan Tinggi
Negeri.
Sedangkan dalam bab 4 merupakan bagian yang
secara spesifik memuat data dan anlisis sesuai dengan
fokus penelitian, yang memuat proses penetrasi politik
dalam lembaga pendidikan tinggi negeri. Pembahasan ini
kemudian peneliti bahas dan bagi menjadi empat sub bab
yang meliputi: pemetaan agenda politik organisasi
keagamaan NU, Muhammadiyah
dan NW terhadap
Kampus Unram dan IAIN Mataram. Kemudian, manifestasi
strategi politik NU terhadap Kampus UNRAM dan IAIN
Mataram, manifestasi strategi politik Muhammadiyah
terhadap Kampus UNRAM dan IAIN Mataram, dan terakhir
membahas masalah manifestasi strategi politik NW
terhadap Kampus UNRAM dan IAIN Mataram. Dan bab 5
merupakan bagian deskripsi data dan analisis sesuai

dengan fokus kedua dalam studi ini, yang memuat


signifikansi dan ekspektasi masyarakat yang meliputi
pembahasan
tentang
signifikansi
politik:
kampus,
organisasi keagamaan, pemerintah dan masyarakat,
kemudian masalah pergeseran orientasi masyarakat dan
relevansi artikulasi politik organisasi keagamaan dalam
lembaga pendidikan tinggi negeri, dan terakhir mencoba
membahas mengenai wujud ekpektasi masyarakat dalam
lembaga pendidikan tinggi negeri di Lombok.
Terakhir bab 6 sebagaimana lazimnya, merupakan
bagian akhir dalam penelitian, yang memuat kesimpulan
dan saran. Kesimpulan memuat statement abstrak yang
dirumuskan berdasarkan refleksi atas temuan dan hasil
analisis. Sedangkan saran memuat beberapa rekomendasi
yang dapat dijadikan statement direction untuk tindak
lanjut baik secara teoritis maupun praktis.
Untuk
menganalisis dan membedah data penelitian ini, sesuai
dengan fokus studi, maka penelitian ini merupakan field
research, dengan paradigma fenomenologi sebagai
cognitif frame work. Sedangkan sumber data ditentukan
secara purposive sampling, dengan mempertimbangkan
aspek keragaman latar belakang keragaman organisasi
pejabat kampus secara kultural atau afiliasi ideologi ormas
keagamaan.

OUT LINE

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
5

B.
C.
D.
E.
F.

Identifikasi
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Kajian Terdahulu
Metodologi Penelitian
Sistematika Penulisan

BAB II : DIALEKTIKA IDEOLOGI, POLITIK DAN


PENDIDIKAN
A. Ideologi dan Ideologi Organisasi Keagamaan
B. Penetrasi Ideologi: Setrategi Desiminasi dalam
Menyemai di Lembaga Pendidikan Tinggi
C. Penetrasi Politik: Manifestasi Setrategi Politik
dalam Lembaga Pendidikan Tinggi
BAB III : LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI: UNIVESITAS
NEGERI MATARAM (UNRAM) DAN INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
A. Setting Sosial Lembaga Pendidikan Tinggi di
Lombok
B. Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri di Lombok:
Dinamika dan Identitas
1. Universitas Negeri Mataram (UNRAM): Profil,
Ideologi dan Orientasi
2. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram:
Profil, Ideologi dan Orientasi
C. Peta Ideologi Pendidikan dan Kecendrungan
Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri
BAB IV : ORGANISASI KEAGAMAAN DI LOMBOK:
PENETRASI
POLITIK
DALAM
LEMBAGA
PENDIDIKAN TINGGI NEGERI
A.
Pemetaan
Agenda
Politik
Organisasi
Keagamaan NU, Muhammadiyah
dan NW
terhadap Kampus Unram dan IAIN Mataram
B. Manifestasi Strategi Politik NU Terhadap Kampus
UNRAM dan IAIN Mataram
C. Manifestasi Strategi Politik Muhammadiyah
Terhadap Kampus UNRAM dan IAIN Mataram

D. Manifestasi Strategi Politik NW


Kampus UNRAM dan IAIN Mataram

Terhadap

BAB V : PENETRASI POLITIK: SIGNIFIKANSI DAN


EKSPEKTASI MASYARAKAT
A. Signifikansi
Politik:
Kampus,
Organisasi
Keagamaan, Pemerintah dan Masyarakat
B. Pergeseran Orientasi Masyarakat dan Relevansi
artikulasi politik organisasi Keagamaan dalam
Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri
C. Wujud Ekpektasi Masyarakat dalam Lembaga
Pendidikan Tinggi Negeri di Lombok
BAB VI : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Implikasi Teoritis
C. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ARTIKULASI POLITIK ORMAS ISLAM TERHADAP


LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI LOMBOK

Studi Terhadap Kontestasi NU, Muhammadiyah dan


NW pada Universitas Negeri Mataram (UNRAM) dan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram

A. Latar Belakang
Dalam bingkai yang lebih luas, isu ideologi, dan
penyemaian kepentingan politik organisasi keagamaan
dalam hubungannya dengan lembaga pendidikan tinggi
menguat beberapa dekade terakhir, bahkan hingga kini
masih menjadi diskursus akademis di berbagai negara,
tidak hanya negara-negara Barat, juga negara-negara
Islam. Berbagai kajian mutakhir tentang pendidikan dan
lembaga pendidikan tinggi baik yang berstatus negeri
maupun swasta, atau yang umum maupun berlabelkan
Islam, kadang menempatkan isu ideologi dan politik
keagamaan dalam berbagai derivasi dan aspeknya
sebagai objek kajian yang dominan. Charlene Tan
mengintrodusir berbagai publikasi media massa, hasil
penelitian dan buku yang memuat stereotype lembaga
pendidikan baik yang umum maupun Islam sering
dijadikan sebagai wadah indoktrinasi dan wadah artikulasi
kepentingan hingga kini masih menjamur di negaranegara Barat maupun timur khususnya bagain asia
tenggara. Tidak hanya lembaga pendidikan tinggi umum
dan Islam seperti universitas Islam, juga lembaga
pendidikan universitas umum juga menjadi sorotan utama,
tidak terkecuali lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.1
Tidak berlebihan jika kemudian, Azyumardi Azra,
memberikan pendapat bahwa hubungan antara dunia
pendidikan dengan politik bukanlah suatu hal yang baru.
Sejak zaman Plato dan Aristotieles, para filsuf dan pemikir
politik telah memberikan perhatian yang cukup intens
kepada masalah ini. Kenyataan ini misalnya ditegaskan
1Charlene Tan, Islamic Education and Indoctrination: the Case in
Indonesia (New York: Routledge, 2011), 1.

dengan ungkapan sebagaimana negara, seperti itulah


sekolah, atau apa yang anda inginkan dalam negara,
harus anda masukkan kesekolah. Juga terdapat teori yang
dominan dalam demokrasi yang mengasumsikan bahwa
pendidikan adalah sebuah korelasi, jika tidak sebuah
persyaratan, bagi suatu tatanan demokrasi.2 Setting sosial
ini kemudian selalu ditempatkan sebagai latar belakang
dan pintu masuk dalam kajian-kajian lembaga pendidikan
tinggi kontemporer. Kondisi ini menurut Charlene Tan,
karena masih kuatnya stereotype yang menempatkan
pendidikan Islam sebagai wadah untuk aktualisasi agenda
politik dan bahkan lebih jauh sebagai wadah indoktrinasi. 3
Konstalasi global ini, berdampak luas tidak hanya terhadap
dialektika dunia pendidikan indonesia, melainkan interaksi
internal Ormas Islam dengan kampus.
Kini lembaga pendidikan tinggi tidak hanya
dihadapkan dengan isu global dan tuntutan akademis,
tetapi juga dihadapkan dengan tuntutan segilintir oknum
elit yang disusupi oleh Ormas tertentu. Hal ini misalnya
banyak terjadi dalam kasus di Turki sebagaimana hasil
studi Beqim Agai misalnya, yang menunjukkan kontrol dan
penetrasi negara terhadap lembaga pendidikan baik
umum maupun Islam. Berbagai regulasi dan sistem
pendidikan
yang
ditawarkan
pemerintah
menjadi
kewajiban kampus dan sekolah. Kuatnya kontrol negara
menjadikan lembaga pendidikan kadang menjadikan
lembaga pendidikan kehilangan identitasnya. Bahkan
menurut Agai kebijakan tersebut dipandang sebagai akhir
dari dikotomi pendidikan Islam di satu sisi dan sistem
pendidikan negara (education state) di sisi lain.4 Maka
sekali lagi hal ini membuktikan dan memperkuat
2 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi
Menuju Melenium Baru (Jakarta: Logos, 1999), 61.
3Istilah ini digunakan sebagai proses penanaman keyakinan
tertentu untuk membentuk control beliefs, yaitu keyakinan
yang mendalam secara psikologis dan kognitif. Charlene Tan,
Islamic Education and Indoctrination, 1, 20-25

pernyataan di atas tadi sebagaimana negara, seperti


itulah sekolah.
Dalam pandangan yang lebih sfesifik, dimana pada
saat yang bersamaan, dalam konteks Ormas yang
hubungannya dengan lembaga pendidikan tinggi. Bahwa
lembaga pendidikan tinggi yang diintervensi oleh Ormas,
yang memasukkan muatan ideologis sesuai dengan
ideologinya masing-masing serta intervensi Ormas dalam
bentuk menyemai agenda politiknya. Hal ini dimungkinkan
dapat terjadi sebagaimana dalam konteks contoh Turki di
atas, namun memiliki model dan corak yang berbeda.
Artinya proses intervensi yang terjadi di kampus berbeda
dengan yang terjadi pada negara. Kampus dijadikan
wadah artikulasi politik oleh Ormas dengan memanfaatkan
kadernya
yang
menjadi
pejabat
kampus
untuk
memanfaatkan jabatannya dalam memaksimalkan peran
dan keuntungan golongannya. Ini menjadi hal biasa jika
melihat kecendrungan yang sering terjadi. Hal ini sesuai
yang diutarakan oleh Azra yang melihat bahwa kampus
merupakan
wadah
setrategis
untuk
menyemai
kepentingan Ormas. Ini sangat mudah dipahami jika
melihat kampus yang memiliki dunia yang lebih matang
jika dibandingkan dengan lembaga sekolah.5
Belum lagi jika kita melihat dalam fokus ideologi
Ormas yang menyemai dalam lembaga pendidikan tinggi.
Dimana metamorfosis ideologi Ormas dalam lembaga
pendidikan tinggi memperlihatkan bahwa kampus dalam
hal ini memiliki dua sisi, yaitu sebagai lembaga pendidikan
formal yang disediakan dan dibiyai negara dan juga

4Bekim Agai, Islam and Education in Secular Turkey: State


Policies and the Emergence of The Fethullah Gulen Group,
dalam Robert W. Hefner dan Muhammad Qasim Zaman. eds.
Schooling Islam the Culture and Politics of Modern Muslim
Education (New Jersey: Princeton University Press, 2007), 168.
5 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi
Menuju Melenium Baru (Jakarta: Logos, 1999), 67.

10

sebagai media transmisi ideologi keagamaan tertentu. 6


Cultural framing sebagai muara dari ideologisasi menurut
Charlene Tan menempat lembaga pendidikan tinggi
sebagai teks dan koteks indoktrinasi.7 Sebagai teks,
lembaga pendidikan tinggi menghadirkan berbagai sumber
dan bahan belajar yang secara spesifik bersesuain dengan
misi ideologis. Sedangkan sebagai konteks, lembaga
pendidikan dapat menjadi setting sosial atau wadah
cultural framing tersebut dan wadah artikulasi agenda
politik. Dalam konteks ini memungkinkan apa yang disebut
Apple sebagai knowlegde as legitimate8 (pengetahuan
sebagai legimitasi) kepentingan tertentu.
Penyemaian ideologi sebagai upaya ekspansi
komunitas dan reproduksi kader, dan dalam batas tertentu
apa yang disebut Charlene Tan sebagai proses control
beliefs.9 Bahkan ideologisasi dengan afialiasi ormas Islam
dan bahkan terkadang dengan partai politik. Hal ini
6Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia, 27
7 Teks dapat berupa kitab-kitab suci, dan konteks mengacu
pada latar belakang sosial politik. Lihat Charlene Tan Islamic
Education and Indoctrination, 29
8 Michael W. Apple, The Politic of Official Knowledge: Does a
National Curriculum Make Sense?, Discourse, vol. 14, no. 1
(1993), 1. Lihat juga Michael W. Apple, Democratic Education in
a Conservative Age (New York: Routledge, 1993). Lihat juga
David Karen, "Life Course: Stages and Institutions - Official
Knowledge: Democratic Education in a Conservative Age by
Michael W. Apple." Contemporary Sociology 23, no. 4 (07,
1994): 572, proQuest.com
9Istilah Control beliefs sebagaimana dimaknai Charlene Tan,
sebagai upaya transmisi dan kontrol sistem keyakinan sehingga
terbentuk cara pandang terhadap diri dan lingkungan sesuai
dengan keyakinan tertentu. Charlene Tan Islamic Education and
Indoctrination, 13.

11

terkadang memberikan kesan tanpa disenganja dan


disadari, berarti negara memberikan wadah dan ruang
bagi terjadinya proses ideologisasi dan artikulasi politik
dalam pendidikan formal, walaupun secara yuridis belum
ada regulasi yang dijadikan dasar pelaksanaannya.
Namun fakta dan realitas kadang tidak bisa kita
pungkiri jika dinamika itu selalu inheren terjadi dalam
lembaga pendidikan tinggi. Persoalan ini, studi kasusnya
dapat kita lihat di dua lembaga pendidikan tinggi negeri di
Lombok yakni Universitas Negeri Mataram (UNRAM) dan
IAIN Mataram. Dimana di kedua kampus negeri itu sering
terjadi dinamika tarik ulur kepentingan yang diasumsikan
akibat adanya intervensi dari ormas begitu juga dengan
internalisasi ideologi masing-masing Ormas Islam. 10 Bab
tentang pola model keterlibatan ormas ini akan peneliti
perdalam pembahasannya dibab tentang pembahasan
data.
Dari gambaran sepintas di atas terkait UNRAM dan
IAIN Mataram mengasumsikan bahwa ideologi dan bahkan
agenda politik Ormas dalam lembaga pendidikan tinggi
terkadang merupakan unsur fundamental dalam melihat
survive-nya suatu kelompok atau organisasi sosial.
Fundamental, maka penetrasi ideologi politik cenderung
bersifat hegemonik, dimana mendiktekan seluruh citarasa,
kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik seluruh
hubungan sosial, terutama dalam persepektif moral dan
intelektual.11 Kondisi ini sebagaimana dilansir Bartolome
memiliki potensi untuk diterjemahkan secara diskriminatif
dalam proses pembelajaran di kampus dan lebih khusu di
kelas.12 Dengan mengutip pendapat Gramsci, Bartolome
10 Wawancara dengan Saparwadi, M.Ag, salah seorang Dosen
IAIN Mataram, 15 Januari 2015.
11 Peter Burke, History and Social Theory (New York: Cornel
University Press, 1993), 127-128
12Lilia I. Bartomole, Ideologies in Education Unmasking The
Trap of Teacher Neutrality (New York, 2008), xiv.

12

menunjukkan kemungkinan dapat diwujudkan baik melalui


literatur dan sistem pendidikan, dan media pendukung
lainnya dalam kultur di lembaga pendidikan. Bahkan tidak
menutup kemungkinan akan terjadi hegemoni untuk
memperkuat ideologi politik, yang dimanifestasikan dalam
berbagai bentuk kultural, pemaknaan, ritual, dan
memberikan peluang mewakili status quo. 13 Kepentingan
ideologis terasa begitu kuat sehingga cenderung
mengabaikan realitas keberagaman dan espektasi
masyarakat terhadap fungsi dan peran lembaga
pendidikan.
Kondisi di atas akan terasa semakin kompleks ketika
mengamati
kecenderungan
pengembangan
dan
pengelolaan
lembaga
pendidikan
tinggi
yang
bermetamorfosis dengan ideologi di satu sisi, 14 dan
prioritas target capaian akademik di sisi lain. Imam
Suprayogo misalnya mentengarai besarnya beban
ideologis tersebut menjadikan lembaga pendidikan tinggi
baik umum maupun Islam memikul beban terlalu berat
sehingga susah untuk diajak berlari lebih cepat. 15
Pandangan ini merefleksikan muatan kurikulum pada
universitas yang memikul tiga beban sekaligus. Yakni
academic purpose (target akademik yang harus dicapai),
social-religious expectation (kurikulum agama bagi
13Joe L. Kincheloe, Afteword: The Importance of Ideology in
Contemprorary Education, dalam Ideologies in Education
Unmasking The Trap of Teacher Neutrality (New York, 2008),
266.
14Noorhaidi Hasan, The Salafi Madrasas of Indonesia, dalam
Faris A. Noor, Yoginder Sikand dan Martin van Bruinessen, eds.
The Madrasa in Asia Pilitical Activism and Transnational
Linkages (Amsterdam: Amsterdam University Press, 2008), 245248.
15Imam Suprayogo, Quo Vadis Madrasah, Gagasan, Aksi dan
Solusi Pembangunan Madrasah (Yogyakarta: Hikayat, 2007), 6870.

13

pendidikan yang berlabelkan Islam), dan interest


organization (kepentingan organisasi yang harus dicapai).
Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak hanya bergulat
antara academic expectation dengan social expectation
sebagaimana diungkapkan Azyamurdi Azra,16 lebih dari itu
juga ideology and agenda politic expectation.
Merefleksikan realitas di atas, agar pendidikan lebih
dinamis progresif, maka menurut Imam Suprayogo
pendidikan sudah saatnya melepaskan diri dari semaian
ideologis apalagi intervensi politik, kemudian diletakkan
pada posisi sebagai lembaga akademis keilmuan yang
lebih objektif, rasional, empiris dan mengedepankan nilainilai universalisme akademis. Hal ini penting karena kini
telah terjadi pergeseran orientasi masyarakat terutama di
wilayah perkotaan. Mereka tidak menjadikan ideologi
sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan lembaga
pendidikan, melainkan kebutuhan yang lebih pragmatis
yang dapat menjawab tuntutan kehidupan mereka.17
Catatan Imam Suprayogo di atas, sesungguhnya
ingin menempatkan lembaga pendidikan dalam posisi
sebagai lembaga akademis dan ilmiah yang excellent.
Relevan, karena konstruksi dan proses ideologisasi secara
formal dan struktural dalam manajemen dan sistem
pembelajaran di kampus, dapat berimplikasi terhadap
tertindihnya prinsip-prinsip ilmiah - paedagogis dalam
dunia pendidikan di satu sisi, dan besarnya beban
lembaga pendidikan di sisi lain. Logis, karena pendidikan
yang dikelola secara ideologis akan melahirkan out put
yang ideologis pula. Bila demikian, maka lembaga
16Azyumardi Azra dan Jamhari, Pendidikan Islam Indonesia dan
Tantangan Globalisasi: Perspektif Sosio-Historis, dalam Jajat
Burhanudin dan Dina Afrianty (ed), Mencetak Muslim Modern
Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada, 2006), 4.
17Imam Suprayogo, Quo Vadis Madrasah, Gagasan, Aksi dan
Solusi Pembangunan Madrasah (Yogyakarta: Hikayat, 2007), 6870.

14

pendidikan
hanya
akan
melahirkan
ego-sektarian
berdasarkan kelompok keagamaan.
Mempertegas uraian di atas, penelitian ini difokuskan
untuk menggali dialektika dan pergolakan internal
lembaga pendidikan tinggi negeri dalam memperkuat
identitas dalam bingkai sistem pendidikan nasional.
Dengan pertanyaan dan persoalan mendasar yang dibahas
adalah masalah kepentingan politik organisasi keagamaan
yang diartikulasikan pada lembaga pendidikan tinggi
negeri di Lombok. Pertanyaan itu akan dijadikan fokus
kajian ini, dengan menitikberatkan pada proses desiminasi
(konstruksiaktualisasi),
signifikansi
dan
ekspektasi
masyarakat terhadap muatan kepentingan politik.
Hal ini dimungkinkan mengingat dua universitas
negeri yang menjadi objek penelitian ini merupakan
kampus negeri yang sebagian besar dikelola tiga kader
dari organisasi yang dominan di Lombok yakni NU,
Muhammadiyah dan NW.18 Hal ini diperkuat oleh model
prilaku keberagamaan masyarakat Islam Lombok yang
secara ideologis, 85-90% berafiliasi dengan Nahdlatul
Ulama, Muhammadiyah dan Nahdlatul Wathan. Namun
afiliasi ideologis ini nampaknya bukan menjadi pembatas
(distance) dalam menentukan lembaga pendidikan tinggi.
Sehingga menjadi persoalan terkadang pada saat,
Ormas-ormas di atas, terkadang secara tidak langsung
bersikukuh melakukan artikulasi agenda politik dan bahkan
ideologisasi, walaupun dilakukan hanya oleh beberapa
gelintir elit pejabat kampus tapi kecendrungan dan
kebiasaan itu selalu ada. Jadi
kampus negeri yang
dijalankan dan diselenggarakannya dijadikan wadah
semaian ideologi, bahkan dalam batas tertentu kontestasi
18Wawancara dengan Saparwadi, M,Ag, Dosen IAIN Mataram,
15 Januari 2015.

15

kepentingan
agenda
politik
masing-masing.
Tidak
berlebihan jika ada asumsi bahwa lembaga pendidikan
Islam lebih merepresentasikan Ormasnya ketimbang
kebutuhan masyarakat yang dalam batas tertentu dapat
mengaburkan visi ilmiahnya. Sehingga saya tegaskan
sekali lagi lembaga pendidikan tinggi negeri tersebut
memiliki tiga beban sekaligus, yaitu academic purpose
(target akademik yang harus dicapai), social-religious
expectation (kurikulum agama bagi pendidikan yang
berlabelkan Islam), dan interest organization (kepentingan
organisasi yang harus dicapai). Besarnya beban yang
diemban ini diasumsikan merupakan penyebab kadang
lambannya lembaga pendidikan tinggi dalam merespon
kecenderungan, mobilitas dan harapan masyarakat.

B. Permasalahan
Studi ini walaupun ingin menegasikan persepsi
stereotype dan beberapa temuan tentang identitas dan
kebijakan lembaga pendidikan tinggi dan hubungannya
dengan ormas Islam, namun fokus kajian ini adalah
merupakan pergumulan identitas ideologis dan politis
internal organisasi massa Islam, yang terwadahi dalam
bingkai kebijakan lembaga pendidikan tinggi. Aspek ini
kadang luput dari kajian-kajian sebelumnya yang
cenderung meletakkan identitas dan kebijakan lembaga
pendidikan tinggi berhadapan dengan aspek eksternal
seperti muatan ideologi politik organisasi massa Islam
yang berada di sekitarnya.
1. Identifikasi Masalah
Secara umum hubungan lembaga pendidikan
dengan ideologi dan visi politik ormas dan lembaga
keagamaan, sesungguhnya memiliki akar sejarah yang
panjang. Dalam kajian akademis sejarah peradaban
Islam, masalah ini memperoleh perhatian ketika
menjelang akhir masa kejayaan Abbasiyah, dimana
lembaga pendidikan Madrasah Nizamiyah sebagai titik

16

awal. Walaupun tidak sekuat masa awal tersebut,


pergumulan
ideologi
politik
keagamaan
dalam
hubungannya dengan lembaga pendidikan Islam
maupun umum masih memperoleh tempat saat ini.
Di era kontemporer, semaian artikulasi politik
organisasi keagamaan dalam lembaga pendidikan Islam
dan umum, sekilas tidak memiliki implikasi apa-apa
terhadap proses belajar mengajar, karena memang
sama-sama
diakomodasi
dan
dipayungi
Sistem
Pendidikan Nasional. Namun, di tengah perubahan
kebijakan lembaga pendidikan, dinamika struktur
organisai pejabat kampus, dan pergeseran orientasi
kebijakan, muatan kepentingan politik organisasi
keagamaan tersebut dipertanyakan signifikansi dan
relevansinya dalam menjawab dan menjadi solusi dari
berbagai dinamika kampus yang ada. Dalam konteks ini
ada beberapa persoalan yang dapat diidentifikasi:
a. Walaupun lembaga pendidikan
tinggi seperti
lembaga pendidikan tinggi umum negeri dan
lembaga pendidikan tinggi Islam negeri sudah lama
menjadi bagian dari Sistem Pendidikan Nasional,
namun masih menjadi wadah semaian ideologi
bahkan kontestasi eksistensi politik bagi organisasi
keagamaan tertentu. Implikasinya, elit atau aktor
yang dipasang atau dititipi dalam suatu jabatan
lalu mengeluarkan kebijakan seringkali diasumsikan
lebih merepresentasikan kepetingan kelompok dan
Ormasnya ketimbang merepresentasikan masyarakat
akademik secara umum.
b. Lembaga pendidikan yang diselenggarakan dengan
basis muatan ideologis politis, logikanya akan
melahirkan out put yang berorientasi ideologis politis
pula.
c. Adanya pergeseran orientasi dan semakin tingginya
harapan masyarakat terhadap peran lembaga
pendidikan tinggi negeri yang berkualitas, semaian
visi ideologi dan politik yang dikonstruksi secara
formal di atas dipertanyakan signifikansinya. Ormas
keagamaan yang menjadikan lembaga pendidikan
tinggi negeri sebagai wadah kontestaasi, dan
17

d.

e.

f.

g.

h.

terkadang ideologisasi menjadi tanpa memperhatikan


dan mempertimbangkan keragaman dan ekspektasi
masyarakat yang semakin pragmatis.
Semaian artikulasi politik dan bahkan ideologi
tersebut, memunculkan asumsi bahwa lembaga
pendidikan tinggi negeri memiliki standar ganda:
sebagai bagian pendidikan nasional di satu sisi, dan
sebagai lembaga pendidikan yang mengakomodasi
kepentingan Ormas melalui penempatan kaderkadernya disisi lain.
Muatan kepentingan politik tersebut berdampak
terhadap semakin besarnya beban yang harus
diemban oleh lembaga pendidikan tinggi negeri baik
umum maupun Islam. Di satu sisi harus sukses dalam
menjalankan kurikulum nasional
dan targer
universitas, di sisi lain juga harus sukses dalam
menjalankan kepentingan politik.
Besarnya beban muatan lembaga pendidikan tinggi
negeri di atas, diasumsikan sebagai salah satu faktor
lambannya dinamika pendidikan tinggi di Lombok
dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi,
yang menuntut pendidikan yang berkualitas,
sebagaimana lembaga pendidikan tinggi yang tidak
dikontaminasi oleh kepentingan politik Ormas.
Terkait dengan permasalahan poin (c) di atas,
sebenarnya siapa yang diuntungkan dengan muatan
kepentingan politik tersebut? apakah masyarakat,
pemerintah, ataukah hanya sebatas kepentingan
Ormas yang memenangi kontestasi.
Kendatipun muatan ideologi politik Ormas tersebut
dikonstruksi dan diinternalisasi dalam pendidikan
formal, nampaknya belum ada kebijakan dan regulasi
spesifik yang mengatur kepentingan ideologi politik
keagamaan tersebut, baik oleh Kementerian Agama
maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
karena terkadang perjabat pusat melalui dua
kementrian tersebut juga kadang diasumsikan ikut
memainkan
dinamika
tersebut,
entah
dilatarbelakangi oleh kesamaan organisasi maupun
dengan berbagai macam tujuan yang lain.
18

Berbagai masalah yang berhasil diidentifikasi di


atas, memungkinkan lembaga pendidikan tinggi negeri
dalam hubungannya dengan artikulasi politik Ormas,
dapat dikaji dari berbagai sudut pandang. Kondisi ini
akan memberikan ruang bagi para peneliti, dengan
paradigma tertentu, untuk melakukan studi mendalam
sesuai dengan sense crisis of academic masing-masing.

2. Pembatasan Masalah
Berbagai
permasalahan
yang
berhasil
di
identifikasi di atas, penting dilakukan pembatasan,
sehingga penelitian ini lebih terarah dan memudahkan
dalam penentuan fokus penelitian. Berdasarkan
urgensinya, penelitian ini dibatasi pada tiga aspek:
a. Bagaimana
kepentingan
politik
organisasi
keagamaan
didesiminasikan
(dirumuskan
dan
diaktualisasikan) dalam sistem dan jalannya proses
pendidikan di lembaga pendidikan tinggi negeri di
Lombok. Aspek ini dibatasi pada postur organisasi
kampus mulai tingkat rektorat, dekanat dan jurusan,
postur organisasi kemahasiswaan mulai tingkat
badan eksekutif mahasiswa universitas, badan
eksekutif mahasiswa fakultas, dan himpunan
mahasiswa jurusan, dan maupun hidden agenda
dalam pengambilan kebijakan.
b. Bagaimana espektasi masyarakat Lombok terhadap
dinamika muatan kepentingan politik organisasi
keagamaan yang dikonstruksi dan diinternalisasi
melalui lembaga pendidikan formal tersebut?.
Espektasi ini ditekankan dalam dua aspek, yaitu
harapan masyarakat ketika memilih lembaga
pendidikan negeri tertentu, dan harapan masyarakat
terhadap muatan politik organisasi keagamaan dalam

19

lembaga pendidikan pendidikan tinggi negeri


tersebut.
c. Apa
signifikansi
muatan
politik
organisasi
keagamaan tersebut bagi berbagai pihak yang
terkait. Pihak-pihak yang terkait adalah mereka yang
secara langsung bersentuhan dengan proses maupun
kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan
negeri tersebut, yaitu lembaga pendidikan negeri
yang bersangkutan, organisasik keagamaan yang
mengintervensi, masyarakat, dan pemerintah.
3. Rumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang, identifikasi dan
pembatasan masalah yang disajikan di atas, maka
rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana
kepentingan
politik
organisasi
keagamaan
NU,
Muahmmadiyah, dan NW diartikulasikan pada lembaga
pendidikan tinggi negeri di Lombok?. Rumusan masalah
ini akan dijadikan fokus dalam penelitian ini, dengan
menitikberatkan pada proses desiminasi (konstruksi
aktualisasi), signifikansi dan ekspektasi masyarakat
terhadap muatan kepentingan politik.
C. Tujuan
Konsisten dengan batasan dan rumusan masalah di
atas, maka penelitian ini bertujuan:
a. Membuktikan bahwa kendatipun lembaga pendidikan
tinggi negeri baik umum maupun Islam sudah lama
menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional,
namun masih menjadi wadah semaian kepentingan
politik keagamaan yang dikonstruksi dan internalisasi
secara formal.
b. Membuktikan bahwa adanya muatan kepentingan
politik organisasi keagamaan yang diartikulasikan
dalam berbagai aspek pendidikan sebagai indikasi
kurangnya kebijakan yang mengatur masalah itu dan
kurangnya kesadaran oleh oknum elit organisasi
keagamaan
dalam
menempatkan
lembaga
pendidikan tinggi yang harusnya bebas dari
intervensi dan muatan kepentingan politik.
20

c. Menggali espektasi masyarakat Lombok khusunya


dan masyarakat Indonesia umum terhadap muatan
kepentingan politik organisasi keagamaan tersebut
dan berbagai faktor yang mengitari mereka dalam
penentuan lembaga pendidikan negeri sebagai
tempat belajar bagi anak mereka.
D. Signifikansi
Kehadiran lembaga pendidikan tinggi negeri sebagai
bagian dari kewajiban negara untuk menyediakan
pendidikan yang berkualitas dan murah di tanah air,
memberikan warna dan alternatif pilihan pendidikan bagi
masyarakat Indonesia. Eksistensi lembaga pendidikan
tinggi negeri dalam kurun waktu, sejarah dan ruang yang
luas mencerminkan adanya dialektika positif yang terjaddi
terus menerus dalam sistem pendidikan Indonesia.
Dialektika ini mengantarkan lembaga pendidikan tinggi
negeri - sampai pada - mengukuhkan eksistensinya
sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional. Di satu
sisi transformasi ini merupakan langkah maju untuk
memperkuat
eksistensi
pendidikan
nasional
yang
disediakan oleh negara, namun di sisi lain, lembaga
pendidikan tinggi negeri khususnya di Lombok baik yang
umum maupun Islam kadang oknumnya bersikukuh untuk
tetap mempertahankan role model dalam pemilihan
pejabatnya. Pada akhirnya, lembaga pendidikan tinggi
negeri tersebut memiliki tiga beban sekaligus, yaitu
academic purpose (target akademik yang harus dicapai),
social-religious expectation (kurikulum agama bagi
pendidikan yang berlabelkan Islam), dan interest
organization (kepentingan organisasi yang harus dicapai).
Besarnya beban ini, dan adanya keragaman kepentingan
di dalamnya, diasumsikan menjadi penyebab lambannya
pendidikan tinggi negeri di Lombok dan kurang akomodatif
terhadap dinamika yang dihadapi dalam bingkai

21

keragaman masyarakat. Dalam konteks inilah, studi ini


diharapkan memiliki dua signifikansi utama:
a. Bagi pemerintah, masyarakat Lombok khususnya, dan
organisasi sosial keagamaan sebagai pihak yang
harusnya menjadi partner kerja dari lembaga
pendidikan tinggi negeri, hasil studi ini dapat dijadikan
informasi kualitatif dan empiris, terkait dengan
bagaimana kepentingan politik organisasi keagamaan
tersebut dikonstruksi dan diaktualisasikan dalam proses
pendidikan di lembaga pendidikan tinggi negeri.
Informasi tersebut, dapat dijadikan salah satu
pertimbangan dan bahan evaluasi dalam merumuskan
kembali efektifitas dan dampak bagi yang diakibatkan
oleh dinamika tersebut.
b. Walaupun secara empiris dan institusional lembaga
pendidikan tinggi negeri merupakan bagian dari sistem
pendidikan
nasional,
namun
masih
diwarnai
pergumulan internal kepentingan politik organisasi
keagamaan. Menarik dan penting di satu sisi, dan
artikulasi kepentingan politik disisi lain, secara teoritis
akan memberikan dan menambah khazanah intelektual
dan memperkaya informasi empiris mengenai fakta di
lapangan terkait realitas dan dinamika pendidikan
tinggi negeri di beberap wilayah di Indonesia dan di
Lombok khususnya.
E. Kajian Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil identifikasi, ada beberapa hasil
kajian yang membahas tentang lembaga pendidikan Islam
dan umum yang memimiliki titik singgung dan relevansi
dengan fokus penelitian ini. Sebagaimana akan dijelaskan,
setidaknya terdapat kecenderungan dalam studi-studi
yang dilakukan yakni; pertama, mengkaji respon dan
dialektika lembaga pendidikan dalam mempertahankan
identitasnya terhadap pengaruh dan upaya intervensi oleh
lembaga eksternal seperti Ormas guna menyemai tujuan
politiknya, dan kedua, mengkaji dinamika institusional
lembaga organisasi Ormas dan identitasnya dalam
22

hubungannya dengan lembaga pendidikan tinggi negeri di


beberapa tempat tertentu.
Reflianti
dalam
bukunya
yang
berjudul,
NU,
Muhammadiyah dan Modal Sosial: Studi Tentang Peranan
Ormas Islam dalam Pembangunan Institusi Modern,19
sebuah buku yang dihasilkan dari penelitian yang dijadikan
tesis di Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Buku ini lebih banyak membincang terkait peran
kedua ormas islam ini dalam membentuk dan
mempelopori organisasi yang memiliki basis struktur
organisasi modern. Kekuatan jaringan organisasi yang
dimiliki oleh kedua organisasi tersebut hingga tingkat
bawah, pada gilirannya menjadikannya memiliki modal
sosial yang kuat. Hal ini sebagaimana dalam simpulan
penelitain ini diinvertarisir merupakan bagian yang tidak
lepas dari kemudahan kedua organisasi tersebut dalam
membentuk institusi organisasi yang modern.
Kang Young Soon, dalam Antra Tradisi dan Konflik:
Kepolitikan NU,20 sebuah buku yang berasal dari disertasi
di Universitas Indonesia, membahas tentang NU yang
ditinjau dari aspek tradisi pesantrennya yang di dalamnya
dipaparkan secara panjang lebar antara hubungan kiyai
dan santri. Young Soon menjelaskan secara deteail
mengenai kekuatan kiyai dan santri yang kemudian
bermertamorposa menjadi kekuatan politik sehingga
bermuara kepada NU yang menjadi basis massa Islam
terbesar di Indonesia dengan jumlah jamaah lebih dari 40
juta orang. Kelebihan ini kemudian bagi NU kadang
menjadi boomerang tersendiri bagi NU, karena jumlah
massanya yang banyak kadang menjadikan sebagian elit
NU berupaya meraih jabatan melaluinya. Akan tetapi
keinginan itu kadang tidak berjalan lurus dengan apa yang
19Reflianti, NU, Muhammadiyah dan Modal Sosial: Studi
Tentang Peranan Ormas Islam dalam Pembangunan Institusi
Modern, (Yogyakarta: Ngudi Ilmu, 2013).
20 Kang Young Soon, Antra Tradisi dan Konflik: Kepolitikan
Nahdlatul Ulama (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2008).

23

diinginkannya, sehingga menjadikan itu sebagai akar


konflik dalam tubuh NU. Konflik inilah yang juga banyak
dibahas dalam buku ini.
Masnun, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid:
Gagasan Pembaruan di Nusa Tenggara Barat.21 Dalam
buku yang merupakan hasil penelitian ini membahas
tentang bagaimana konsep dan pemikiran pendidikan
menurut TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid di NTB,
sehingga Masnun menyimpulkan bahwa pendidikan
modern di NTB pertama kali dibawa dan diperaktekkan
oleh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dengan membuka
sekolah sistem madrasah, serta perannya dalam usaha
membumikan faham Ahlussunnah Wal Jamaah melalui
dakwah-dakwahnya. Dalam penelitain ini juga terdapat
sedikit pembahasan tentang bagaimana TGKH. M.
Zainuddin Abdul Madjid berpolitik sambil berdakwah dan
bagaimana bentuk persamaan antara NW dan NU.
Fahrurrozi, Dakwah Tuan Guru dan Transpormasi
Sosial di NTB, disertasi pada Sekolah Pascasarjana UIN
Jakarta.22 Penelitian ini membahas tentang peran para
tuan guru dalam berdakwah dan perannya dalam
transformasi dalam perubahan sosial, ekonomi, politik dan
agama. Dalam penelitian dijelaskan bahwa tuan guru
khususnya di Lombok memiliki peran yang sangat besar
dalam perubahan masyarakat, baik dalam bidang sosial
budaya, politik, ekonomi dan agama. Fahrurrozi dalam
penelitian ini menyimpulkan bahwa peran tokoh agama
sebagai katalisator, pemberi pemecah masalah dan
sebagai pemacu proses, sangat signifikan dalam
21 Masnun, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid: Gagasan
Pembaruan di Nusa Tenggara Barat (Desertasi PPs UIN Jakarta,
2005) (Jakarta: Pustaka al-Miqdad, cet. 1 2007).
22 Fahrurrozi, Dakwah Tuan Guru dan Transpormasi Sosial di
NTB (Desertasi pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2010Tidak Terbit).

24

menciptakan transformasi sosial pada masyarakat dengan


mengedepankan kepemimpinan dakwah transformatif.
Baharuddin, Nahdlatul Wathan dan Perubahan Sosial.23
Buku ini banyak mengkaji tentang peran salah satu
lembaga NW yang berlokasi di Narmada Lombok Barat
yakni lembaga Nurul Haramain dengan tokoh TGH. M.
Juani Muhtar dan TGH Afifuddin Adnan, dengan lembaga
dan kiprahnya dapat mewarnai perubahan sosial di
Narmada Lombok Barat khususnya dan NTB pada
umumnya. Buku ini juga membahas tentang prospek NW
secara umum dalam menghadapi berbagai permasalah
keumatan yang ada. Dalam penelitian ini Baharuddin
menemukan bahwa NW telah berperan besar dalam
proses pembaruan dan perbaikan umat di wilayah
Narmada melalui lembaga pesantrennya yang ada di sana.
Khirjan Nahdi, Nahdlatul Wathan dan Peran Modal;
Studi Etnografi- Historis Modal Spiritual dan Sosiokultural,24
(Yogyakarta: Insyira, 2012), buku penelitian yang lumayan
serius ini membahas banyak hal tentang NW Pancor, tetapi
dalam buku ini lebih difokuskan berbicara tentang
organisasi NW yang memiliki banyak elemen, seperti
lembaga pendidikannya dan jamaahnya yang luas dan
tersebar dimana-mana. Hal ini kemudian menurut Khirjan
merupakan modal sosial dan modal kultural bagi NW. Lebih
jauh dalam buku ini banyak dibahas dan di tekankan pada
aspek pendidikannya yang menjadi salah satu modal kuat
dalam tradisi NW. Sehingga Khirjan pada kesimpulannya
menemukan bahwa NW memiliki peran modal yang cukup
kuat baik dari segi sosial, pendidikan dan ekonomi.
Hasil penelitian yang
penting untuk disebutkan
adalah Charlene Tan yang berjudul, Islamic Education and

23 Baharuddin, Nahdlatul Wathan dan Perubahan Sosial, cet. 1


(Yogyakarta: Genta Press, 2007).
24 Khirjan Nahdi, Nahdlatul Wathan dan Peran Modal; Studi
Etnografi- Historis Modal Spiritual dan Sosiokultural (Yogyakarta;
Insyira, 2012).

25

Indoctrination The Case in Indonesia.25 Penelitian ini


dilatarbelakangi oleh kuatnya perspektif stereotype yang
menempatkan lembaga pendidikan Islam sebagai wadah
indoktrinasi
yang
melahirkan
radikalisme.
Tan
mengidentifikasi beberapa pesantren, dan 12 sekolah
Islam
dan
madrasah
dengan
mempertimbangkan
perbedaan orientasi ideologis keagamaan, yaitu lembaga
pendidikan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis dan
lainnya. Berdasarkan temuannya ia
sampai pada
kesimpulan bahwa pada lembaga pendidikan Islam formal
seperti madrasah dan sekolah Islam secara umum tidak
melakukan proses ideologisasi. Menurut Tan, sekolah Islam
dan madrasah sudah menerima ilmu non-agama yang
ditetapkan kurikulum negara. Ideologisasi menurutnya
hanya terjadi pada lembaga pendidikan nonformal seperti
pesantren, sebagaimana yang terjadi pada pondok
Pesantren al-Mukmin, Pimpinan Abu Bakar Baashir.
Hasil studi studi yang cukup respentatif yang
bersentuhan langsung dengan ideologi keagamaan dalam
pendidikan Islam adalah studi Arief Subhan, Lembaga
Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20 Pergolakan antara
Modernisasi dan Identitas.26 Karya ini merupakan hasil
disertasi yang dipertahankan pada Sekolah Pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fokus kajiannya adalah
modernisasi pendidikan Islam dengan melihat strategi
mempertahankan identitas dalam bentuk ideologi
keagamaan yang berlangsung selama abad ke- 20.
Sebagaimana
ditunjukkan
oleh
Subhan,
lembaga
25Charlene Tan, Islamic Education and Indoctrination: the case
in Indonesia (New York: Routledge, 2011).
26Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke20 Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas (Jakarta:
Kencana, 2012).

26

pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah, Nahd}atul


Ulama, dan Salafi, kendatipun sudah sejak lama
melakukan modernisasi (walaupun dalam intensitas yang
berbeda), namun tidak mau kehilangan identitasnya.
Subhan berhasil mengidentifikasi tidak hanya respon dan
model lembaga yang dikembangkan berhadapan dengan
moderniasai, namun juga keragaman ideologi keagamaan
yang menjadi identitas kelembagaan. Dengan mengambil
sejumlah pesantren, madrasah, dan Sekolah Islam di Jawa
tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat
sebagai sampel, ia sampai pada kesimpulan bahwa
lembaga pendidikan Islam bukanlah realitas yang tunggal,
tetapi merupakan realitas yang kompleks, sejalan dengan
dinamika historisnya.
Selain karya di atas, buku Pendidikan Islam Tradisi
dan Modernisasi di Tengah Tantagan Milenium III27 yang
ditulis Azyumardi Azra, penting untuk disebutkan. Kendati
buku ini lebih dominan menyajikan kembali isi buku yang
sudah diterbitkan sebelumnya dengan penambahan
beberapa isu kontemporer, namun informasi dan substansi
yang dimuatnya masih relevan dan menarik untuk
dijadikan kerangka mencermati dinamika pendidikan Islam
saat ini. Beberapa aspek yang disajikan buku ini, tidak
hanya berkaitan dengan berbagai tantangan yang
dihadapi, juga tipologi pendidikan Islam berdasarkan
responnya terhadap lingkungan dan modernisasi. Cakupan
yang cukup luas, menjadikan buku ini dapat memotret
beberapa sisi pendidikan yang bersifat holistik (lembaga,
substansi, metodologi) dari perspektif historis dan
kontemporer.
27Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di
Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: UIN Press-Kencana,
2012).

27

Studi yang cukup obyektif dalam memotret


pendidikan Islam disajikan Sarfaroz Niyozov dan Nadeem
Memon, dalam karyanya Islamic Education and
Islamization: Evolution of Themes, Continuities and New
Directions.28 Berdasarkan pembacaan dari perspektif
historis dan kontemporer studi ini memberikan informasi
tidak hanya dinamika pendidikan Islam dalam merespon
isu-isu kontemporer di beberapa negera Islam sendiri, juga
menyajikan dialektika pendidikan Islam di dunia Barat,
terutama Amerika Serikat. Studi ini juga menyajikan
adanya keragaman interpertasi internal seperti sunny dan
shii yang mewarnai pendidikan Islam, tidak hanya di
negara-negara Islam, juga di Amerika Serikat. Hasil
analisis atas berbagai respon yang diberikan umat Islam,
Niyozov dan Memon mengungkapkan adanya continuity
and change dalam pendidikan Islam sesuai dengan ruang
dan waktu. Pendidikan Islam mencerminkan akomodasinya
terhadap isu-isu dan tuntutan global, tanpa kehilangan
identitas internalnya.
Berkaitan
dengan
keragaman
pemahaman
keagamaan masyarakat Islam Indonesia, disajikan
Departemen Agama, Nalar Islam Nusantara Studi Islam ala
Muhammadiyah, al-Irshad, Persis, dan NU.29 Studi ini
menyajikan variasi tradisi Islamic Studies yang berbasis
ormas-ormas Islam di Indonesia. Ormas sebagaimana yang
28Sarfaroz Niyozov and Nadeem Memon. "Islamic Education and
Islamization: Evolution of Themes, Continuities and New Directions."
Journal Of Muslim Minority Affairs 31, no. 1 (March 2011): 5-30.
Religion and Philosophy Collection, EBSCOhost (accessed November
19, 2013)

29Departemen Agama, Nalar Islam Nusantara Studi Islam ala


Muhammadiyah, al-Irsyad, Persis, dan NU (Jakarta: Direktorat
Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama RI, 2007).

28

tampak dalam judul ini, digali dan dipetakan berdasarkan


epistemologi atas pemahaman yang tumbuh dan
berkembang
serta
mentradisi
dalam
prilaku
keberagamaan umat Islam, baik aspek teologis, fiqih,
tasawuf maupun dakwah. Studi yang merupakan serial
penelitian kompetitif ini, berhasil mengelaborasi dialektika
Islam dengan realitas sejarah yang kemudian pemahaman
dan pemaknaan versi masing-masing ormas keagamaan.
Berdasarkan analisis atas temuan yang diperoleh, studi ini
menyimpulkan bahwa corak gerakan dan pemikiran
keislaman di indonesia merupakan hasil dari dialektika
antara pemahaman teks-teks keagamaan, dengan realitas
sosial, politik dan kebudayaan. Hal ini sebagai konskuensi
dari
kergaman
kerangka
epistimologi,
yaitu
tradisionalisme, modernisme, literalisme, dan liberalisme.
Keragaman ini dapat dijadikan setting epistimologi untuk
memotret
perbedaan
teologis
yang
berkembang
menjadikan ideologis, dimana lembaga pendidikan seperti
madrasah dan sekolah menjadi wadah doktrinasi.
Studi yang lebih operasional terkait dengan
transmisi ilmu pengetahuan dan metode pembelajaran
dalam pendidikan Islam dilakukan, Adel al-Sharaf,
Development Scientific Thinking Methods and Applications
in Islamic Education.30 Artikel ini menyajikan tradisi
keilmuan dalam dunia Islam dari perspektif historis,
dimana metodologi ilmiah, kritis, elaboratif, inovatif,
pemikiran logis dan sistematis, mewarnai transmisi
keilmuan dalam pendidikan Islam. Al-Sharaf sampai pada
kesimpulan bahwa walaupun tidak ada konsep paedagogis
secara
spesifik
sebagaimana
dunia
pendidikan
30Adel al-Sharaf, Development Scientific Thinking Methods and
Applications in Islamic Education 2013. Education 133, no. 3: 272282. Education Research Complete, EBSCOhost (accessed October 3,
2013).

29

kontemporer, metodologi tersebut telah dipraktikkan


secara luas dalam dunia Islam, dan berhasil melahirkan
peradaban dan ilmuan dunia yang berpengaruh. Hasil
studi ini mensiratkan, agar transmisi keilmuan di dunia
pendidikan Islam saat ini diletakkan dalam posisi
menjunjung metodologi dan prinsip-prinsip akademis
ilmiah.
Berdasarkan identifikasi dan pemetaan literatur
(theorical mapping) yang peneliti lakukan di atas, kajian
terhadap
hubungan
ideologi
keagamaan
dengan
pendidikan Islam sudah cukup banyak dilakukan dalam
berbagai aspek. Namun demikian, kajian-kajian tersebut
mencerminkan kecenderungan menempatkan pendidikan
Islam dalam hubungannya dengan wacana-wacana
eksternal, seperti modernisasi, globalisasi, dunia Barat,
dan nation state. Kajian yang secara spesifik bagaimana
dialektika keragaman ideologi keagamaan diartikulasikan
dan diterjemahkan secara internal dalam lembaga
pendidikan tinggi baik umum maupun Islam belum
sepenuhnya mendapat perthatian, untuk menyebutnya
terabaikan. Dalam posisi inilah penelitian ini akan
ditempatkan. Urgen, karena dalam faktanya, ideologi
keagamaan telah dan masih dikonstruksi sedemikian rupa
dalam sistem pendidikan tinggi, karenanya turut serta
dalam menentukan ritme dan kualitas out put yang
dihasilakan.

F. Metodologi Penelitian
a. Pendekatan
Sesuai dengan fokus kajian, penelitian ini merupakan field
research, yang dilakukan pada latar alamiah dengan lokus
lembaga pendidikan tinggi negeri pada masyarakat di
Lombok. Maka dipandang relevan metode kualitatif

30

dengan paradigma fenomenologi dijadikan sebagai


cognitive frame work dalam proses penelitian. Penggunaan
pendekatan ini - sesuai karakternya, mengharuskan
peneliti sebagai key instrument terjun ke lapangan dalam
waktu yang memadai. Fenomenologi mengharuskan
peneliti menyatu dengan subyek penelitian dan subyek
pendukungnya.31 Sebagai salah satu pendekatan dalam
sosiologi, fenomenologi menekankan pada makna
(meaning) dari suatu peristiwa dan interaksi yang
dikonstruksi oleh subyek yang diteliti, 32 bukan oleh peneliti
sendiri.
Penggunaan fenomenologi dalam studi ini karena:
pertama, sesuai dengan fokus penelitian, yang dikaji
adalah artikulasi politik yang mengandung pemaknaan
dan manifestasi kepentingan dalam berbagai aspek
lembaga pendidikan negeri Sehingga yang diamati bukan
saja realitas yang manifes, tetapi yang lebih penting
adalah apa mendasari artikulasi politik Ormas itu muncul
sebagai desiminasi kepentingan keagamaan; kedua,
artikulasi kepentingan politik Ormas melibatkan dimensi
belief dan kepentingan sesat yang bersifat subyektif,
sehingga data yang diperoleh tergantung dan ditentukan
oleh subyek itu sendiri. Sebagai paradigma fenomenologi
data-data yang diperoleh tersebut akan dikonstruksi dan
diabstraksikan sesuai dengan subyek itu sendiri; ketiga,
signifikansi dan espektasi masyarakat terhadap artikulasi
politik organisasi keagamaan pada lembaga pendidikan
tinggi negeri sebagai unit analisis, juga melibatkan
31Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Ediisi IV
(Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000), 25
32Robert C. Bogdan dan Bilken Sari Knopp, Qualitive Research
for Education An Introduction to Theory and Methods, Thrid
Edition (Needham Heights: Viacom Company, 1998), 23

31

harapan, motivasi dan persepsi (meaning), merupakan


realitas yang relevan diungkap dengan fenomenologi.
Konsisten dengan pendekatan di atas, secara
operasional peneliti tidak akan berhenti pada realitas yang
mudah diamati, seperti konstruksi dan internalisasi
kepentingan politik organisasi keagamaan dalam postur
organisasi kampus baik tingkat pemangku kebijakaannya
seperti Rektor Dekan dan Ketua Jurusan, Ketua BEM, BEM
F, dan Ketua HMJ di tingkat Mahasiswa, melainkan juga
struktur psikologis dan sosiologis pimpinan organisasi
keagamaan serta aparatur pemerintah, yang inheren dan
mengitari subyek penelitian. Demikian juga terkait
ekspektasi masyarakat, tidak akan berhenti pada pilihan
lembaga pendidikan tinggi negeri tertentu dapat dipahami
sebagai dorongan ideologi tertentu, tetapi lebih dari itu
latar
belakang
yang
mendasari
pilihan
tersebut
merupakan bagian yang urgen. Cara kerja demikian
diharapkan pergumulan internal dan penguatan identitas
melalui muatan kepentingan politik keagamaan yang
diartikulasikan di lingkungan lembaga pendidikan tinggi
negeri, dan bagaimana ekspektasi masyarakat dapat
diamati secara utuh dalam proses penelitian.
Namun sebelum terjun ke lapangan, sebagaimana
disarankan Marguerite,33 maka terlebih dahulu dilakukan
penyusunan kerangka teoritis (overview) yang diperoleh
dari berbagai hasil studi sebelumnya (prior research) yang
relevan, baik dalam bentuk buku, jurnal ilmiah, dan
disertasi. Sebagaimana dijelaskan pada bagian kajian
terdahulu, berbagai hasil kajian pendidikan tinggi dalam
beragam aspeknya (terutama hasil penelitian empiris),
diidentifikasi dan diletakkan sesuai dengan fokus dalam
33Marguerite G. Lodico, Methods in Educational Research From
Theory to Practice (Francisco, Jossey-Bass, 2006), 265-266

32

studi ini. Langkah selanjutnya, walaupun fokus kajian


sudah diidentifikasi, dalam waktu bersamaan peneliti akan
melakukan identifikasi terhadap wilayah spesefik yang
menjadi entry point, sekaligus menentukan karakteristik
sumber data (sebagaimana tercermin dalam sumber data).
Langkah-langkah ini diterapkan, diharapkan proses
penelitian akan lebih terarah dan sistematis dalam
menggali data yang holistik.
b. Sumber Data
Pemilihan sumber data dalam penelitian ditentukan
secara purposive sampling, dengan mempertimbangkan
kesesuainnya dengan kepentingan penelitian. Penggunaan
purposive, merupakan langkah yang tepat sesuai dengan
pendekatan penelitian yang digunakan (kualitatif),
sehingga hal-hal yang dicari tampil menonjol dan lebih
mudah dicari maknanya.34 Konsisten dengan teknik ini,
lembaga pendidikan tinggi negeri baik umum maupun
berlabel Islam yang dijadikan sumber data ditelusuri dan
ditetapkan berdasarkan dua pertimbangan. Pertama,
keragaman basis atau afiliasi ideologi keagamaan para
pejabatnya. Berdasarkan identifikasi terhadap corak
identitas kelembagaan pendidikan tinggi di Lombok, maka
ada dua lembaga pendidikan tinggi negeri yang akan
dijadikan objek kajian, yaitu Universitas Mataram (UNRAM)
dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram Kedua,
seberapa kuat muatan politik organisasi keagamaan
diartikulasikan dalam aspek formal (rekonstruksi postur
organisasi atau kebijakan yang dikeluarkan) 35 dan kultural
(iklim) pendidikan di lembaga tersebut.
34Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, 149
35Seperti mata pelajaran Ahli al-Sunnah wa al-Jama>ah
(ASWAJA) di lembaga pendidikan Nahd}atul Ulama, Ke-NW-an
pada lembaga pendidikan Nahd}atul Wat}an,
Kemuhammadiyahan pada lembaga pendidikan
Muhammadiyah, dan muatan tarbiyah pada lembaga
pendidikan Islam Terpadu yang berafiliasi dengan PKS.

33

Pemilihan pulau Lombok sebagai lokus lokasi penelitian


didasarkan pada: pertama, diversifikasi corak artikulasi
ideologi keagamaan pada lembaga pendidikan di atas
yang cukup merata. Kedua, hadirnya Nahdatul Wathan
sebagai organisasi sosial keagamaan yang bersifat lokal,
namun memiliki pengaruh yang paling dominan dalam
pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan
tinggi negeri tersebut di daerah ini. Ketiga, kecenderungan
masyarakat Lombok yang semakin dinamis dalam
menentukan lembaga pendidikan tinggi, di tengah
kebutuhan pragmatis dan keragaman ideologi yang
mengitarinya. Didasarkan pada tiga pertimbangan ini,
Lombok akan dijadikan sebagai entry point untuk melihat
fenomena yang sama di berbagai daerah bahkan negara.
Karenya diharapkan dapat merepresentasikan fenomena
pendidikan tinggi negeri secara umum, dan dalam batas
tertentu dapat memotret realitas mutakhir pendidikan
tinggi secara global baik yang umum maupun yang
berlabelkan Islam, dalam kaitannya dengan ideologi dan
kepentingan
politik
organisasi
keagamaan
dalam
pendidikan tinggi. Tidak berlebihan, karena realitas
pendidikan pendidikan tinggi negeri, baik dalam perspektif
historis maupun kontemporer, nasional dan global belum
sepenuhnya bisa lepas dari muatan ideologis politis
tersebut. Dengan demikian, Lombok akan dijadikan pintu
masuk untuk melihat fenomena pendidikan tinggi negeri
yang lebih luas.
c. Teknik Pengumpulan Data
Agar penelitian ini dapat menggali data secara utuh
dan holistik, maka teknik wawancara mendalam (indept
interview), observasi dan dokumentasi akan digunakan
secara simultan. Berpedoman pada garis-garis besar
bahan wawancara (semi terstruktur), wawancara akan
dilakukan dengan unsur pimpinan perguruan tinggi negeri
dan organisasi sosial keagamaan yang memiliki
kepentingan dan terlibat langsung, ketua organisasi intra
mahasiswa BEM U, BEM F dan HMJ, wali mahasiswa,
anggota komite kampus, lembaga-lembaga terkait
34

(Kemenag dan Kemendiknas pusat), dan Mahasiswa.


Sesuai dengan teknik penentuan sumber data secara
purposive, maka mereka yang akan diwawancarai dan
diobservasi
ditentukan
berdasarkan
kedalaman
pengetahuan, peran, dan posisinya sesuai dengan fokus
dalam studi ini. Dari mereka diperoleh informasi tentang
pemaknaan, manifestasi, konstruksi, motivasi, persepsi,
dan proses berbagai aspek tentang muatan ideologi
keagamaan dalam proses pendidikan di madrasah dan
sekolah di atas.
Sedangkan dokumentasi digunakan untuk menggali
data dalam bentuk dokumen, baik yang berterkaitan
dengan kebijakan, regulasi, kurikulum (intra dan
ekstrakurikuler), sumber dan bahan ajar, media, metode,
majalah, maupun news paper yang memuat artikulasi
kepentingan politik keagamaan tertentu. Sedangkan
observasi diarahkan untuk menggali data tentang setting
sosial lokus penelitian, proses pengambilan kebijakan,
aktivitas kampus, berbagai kegiatan kampus yang relevan
dengan fokus kajian.
d. Teknik Analisis
Prosedur analisis data yang digunakan dalam
studi ini adalah mengacu pada prosedur analisis Milles dan
Huberman. Menurut Milles dan Huberman analisis data
dalam penelitian kualitatif secara umum dimulai sejak
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan atau verifikasi.36 Penggunaan
prosedur ini dalam memahami artikulasi politik organisasi
keagamaan dalam lembaga pendidikan tinggi negeri,
mengingat unsurunsur metodologis dalam prosedur ini
bersifat interaktif dan fleksibel, sehingga sesuai dengan
pendekatan dan karakteristik data yang dibutuhkan.
Kegiatan analisis selama pengumpulan data
dimaksudkan untuk menetapkan fokus di lapangan,
penyusunan temuan sementara, pembuatan rencana
36Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman. Qualitative Data
Analysis: A Sourecbook of New Methods (Bavery Hills: Sage
Publication, 1986), 16.

35

pengumpulan
data
berikutnya,
pengembangan
pernyataan-prnyataan analitik dan penetapan sasaransasaran pengumpulan data berikutnya. Kemudian dari
pengumpulan data (data collection) tersebut, direduksi
(data reduction) sebagai upaya pemilihan pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, dan pengabstrakan datadata lapangan. Dalam proses reduksi data ini peneliti
melakukan pemilihan atau pemetaan dengan membuat
kategori-kategori berdasarkan rumusan permasalahan
yang diteliti. Ketika penulis berada di lapangan tidak
hanya mencari dan mengumpulkan data, tetapi langsung
melakukan klasifikasi dan mengolah data.
Setelah hasil dari seperangkat reduksi baik yang
berkaitan dengan proses artikulasi ideologi keagamaan,
signifikansinya, maupun ekspektasi masyarakat, maka
langkah selanjutnya adalah menyajikan sekumpulan
informasi atau data yang disusun, kemungkinan adanya
penarikan
kesimpulan.
Kesimpulan-kesimpulan
juga
diverifikasi selama kegiatan berlangsung, sehingga akan
jelas bagaimana karakteristik data tersebut secara utuh,
sebagai dasar perumusan simpulan akhir.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini direncanakan memuat enam bab. Susunan
bab didasarkan pada unsur-unsur penelitian ilmiah dan
sistematika dalam tahapan penelitian yang dilakukan.
Masing-masing bab memayungi satu gagasan dan
dispesifikasi dalam beberapa sub, dan merupakan
kesatuan yang terkait.
Bab 1 memuat latar belakang yang mendeskripsikan
penelitian dilakukan, dan dirumuskan spesifik pada
identifikasi dan perumusan Masalah. Bagian ini juga berisi
overview berbagai temuan dan diskusi kajian terdahulu
yang relevan, yang selanjutnya dijadikan kerangka teoritis
dalam memposisikan dan menganalisis data penelitian.
Menjawab permasalahan penelitian, bagian ini juga
memuat metodologi penelitian dan sistematika yang

36

secara
operasional
mencerminkan
langkah-langkah
penelitian di lapangan, sampai pada pelaporan.
Bab 2 memuat kajian teoritik tentang ideologi
organisasi keagamaan dalam lembaga pendidikan tinggi.
Berdasarkan pembaban penelitian, bagian ini secara
konseptual memperjelas variabel penelitian. Maka
pemaknaan ideologi organisasi keagamaan merupakan
bagian pertama yang akan disajikan, selanjutnya diikuti
kajian relasi ideologi organisasi keagamaan dengan
lembaga pendidikan tinggi dalam aspek bentuk penetrasi
penyemaian ideologi, dan modus operandi kepentingan
politik Ormas bekerja yang dimainkan oleh oknum elit
kampus dalam lembaga pendidikan tinggi.
Bab 3 merupakan bagian yang secara lebih luas
mendeskripsikan lokus dan field data sesuai tema
penelitian, yang memuat deskripsi potret lembaga
pendidikan tinggi negeri di Lombok. Bagian ini diawali
dengan setting sosial lembaga pendidikan tinggi negeri di
Lombok yang diikuti oleh deskripsi profil, dinamika
orientasi, dan karakteristik masing-masing lembaga
pendidikan tinggi negeri masing-masing, yaitu Universitas
Negeri Mataram (UNRAM): Profil, Ideologi dan Orientasi,
dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram: Profil,
Ideologi dan Orientasi. Kemudian disusun dengan
pembahasan mengenai Peta Ideologi Pendidikan dan
Kecendrungan Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri.
Bab 4 merupakan bagian yang secara spesifik
memuat data dan anlisis sesuai dengan fokus penelitian,
yang memuat proses penetrasi politik dalam lembaga
pendidikan tinggi negeri. Pembahasan ini kemudian
peneliti bahas dan bagi menjadi empat sub bab yang
meliputi: pemetaan agenda politik organisasi keagamaan
NU, Muhammadiyah dan NW terhadap Kampus Unram
37

dan IAIN Mataram. Kemudian, manifestasi strategi politik


NU terhadap Kampus UNRAM dan
IAIN Mataram,
manifestasi strategi politik Muhammadiyah terhadap
Kampus UNRAM dan
IAIN Mataram, dan terakhir
membahas masalah manifestasi strategi politik NW
terhadap Kampus UNRAM dan IAIN Mataram.
Bab 5 merupakan bagian deskripsi data dan analisis
sesuai dengan fokus kedua dalam studi ini, yang memuat
signifikansi dan ekspektasi masyarakat yang meliputi
pembahasan
tentang
signifikansi
politik:
kampus,
organisasi keagamaan, pemerintah dan masyarakat,
kemudian masalah pergeseran orientasi masyarakat dan
relevansi artikulasi politik organisasi keagamaan dalam
lembaga pendidikan tinggi negeri, dan terakhir mencoba
membahas mengenai wujud ekpektasi masyarakat dalam
lembaga pendidikan tinggi negeri di Lombok.
Bab 6 sebagaimana lazimnya, merupakan bagian
akhir dalam penelitian, yang memuat kesimpulan dan
saran. Kesimpulan memuat statement abstrak yang
dirumuskan berdasarkan refleksi atas temuan dan hasil
analisis. Sedangkan saran memuat beberapa rekomendasi
yang dapat dijadikan statement direction untuk tindak
lanjut baik secara teoritis maupun praktis.

DAFTAR PUSTAKA
38

Buku:
Abdullah, Amin. Kesadaran Multikultural: Sebuah Gerakan
Interest Minimalizatioan dalam Meredakan Konflik
Sosial. dalam Pendidikan Multikultural CrossCultural Understanding untuk Demokrasi dan
Keadilan. Yogyakarta: Pilar Media, 2007.
Agai, Bekim. Islam and Education in Seculer Turkey: State
Policies and the Emergence of The Fethullah Gulen
Group. dalam Schooling Islam the Culture and
Politics, ed. Robert W. Hefner dan Muhammad Qasim
Zaman. New Jersey: Princeton University Press,
2007.
Azra, Azyumardi dan Jamhari. Pendidikan Islam Indonesia
dan Tantangan Globalisasi: Perspektif Sosio-Historis.
dalam Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan
Islam di Indonesia, ed. Jajat Burhanudin dan Dina
Afrianty. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.
----------,. Dina Afrianty dan Robert W. Hefner. Pesantren
dan Madrasah: Muslim Schools and National Ideals in
Indonesia., dalam Schooling Islam the Culture and
Politics, ed. Robert W. Hefner dan Muhammad Qasim
Zaman. New Jersey: Princeton University Press,
2007.
---------,. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di
Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: UIN PressKencana, 2012.
Bartomole, Lilia I. Ideologies in Education Unmasking The
Trap of Teacher Neutrality . New York, 2008.
Berkey, Jonathan P. Madrasah Madievel and Modern:
Politic, Education, and The Problem of Muslim
Identity. dalam Schooling Islam the Culture and
Politics, ed. Robert W. Hefner dan Muhammad Qasim
Zaman. New Jersey: Princeton University Press,
2007.
Bogdan, Robert C. dan Bilken Sari Knopp. Qualitive
Research for Education An Introduction to Theory
39

and Methods, Thrid Edition. Needham Heights:


Viacom Company, 1998.
Burhanudin, Jajat. Pesantren, Madrasah, dan Islam di
Lombok. dalam Mencetak Muslim Modern Peta
Pendidikan Islam di Indonesia, ed. Jajat Burhanudin
dan Dina Afrianty. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada,
2006.
Burke, Peter. History and Social Theory. New York: Cornel
University Press, 1993.
Departemen Agama, Nalar Islam Nusantara Studi Islam ala
Muhammadiyah, al-Irshad, Persis, dan NU. Jakarta:
Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Departemen
Agama RI, 2007.
Departemen Pendidikan Nasional. Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003.
Hefner, Robert W. Introduction: The Culture, Politics, and
Future of Muslim Education. dalam Schooling Islam
the Culture and Politics of Modern Muslim Education,
ed. Robert W. Hefner dan Muhammad Qasim Zaman.
New Jersey: Princeton University Press, 2007.
----------. Islamic School, Social Movement, and Democrasi
in Indonesia. dalam Making Modern Muslim the
Politic of Islamic Education in Southeast Asia, ed.
Robert W. Hefner. Hawai: University of Hawai Press,
2009.
----------. Making Modern Muslim the Politic of Islamic
Education in Southeast Asia. Hawai: University of
Hawai Press, 2009.
Jamil, M. Mukhsin, dkk. Nalar Islam Nusantara Studi Islam
ala Muhammadiyah, al-Irshad, Persis, dan NU.
Jakarta: Diktis Departemen Agama RI, 2007.
Milles, Matthew B. dan Huberman, A. Michael. Qualitative
Data Analysis: A Sourecbook of New Methode.
Bavery Hills: Sage Publication, 1986
Michael Stanton, Charles. Pendidikan Tinggi dalam Islam.
Terj. oleh Affandi dan Hasan Asari. Jakarta: Logos,
1994.
Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif Ediisi IV.
Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000.

40

Nata, Abuddin. Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia.


Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006.
-----------. Sejarah Pendidikan Islam. Kencana: Jakarta, 2011.
Subhan, Arif. Potret Madrasah Islam di Dunia Islam:
Keragaman, Kompleksitas, dan Persaingan Konsep
Keislaman. Studia Islamika, Vol. 14, no. 3, 2007.
----------,. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20
Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas.
Jakarta: Kencana, 2012.
Suprayogo, Imam. Quo Vadis Madrasah, Gagasan, Aksi dan
Solusi Pembangunan Madrasah. Yogyakarta: Hikayat,
2007.
Reflianti. NU, Muhammadiyah dan Modal Sosial: Studi
Tentang Peranan Ormas Islam dalam Pembangunan
Institusi Modern. Yogyakarta: Ngudi Ilmu, 2013.
Tan, Charlene. Islamic Education and Indoctrination: the
case in Indonesia. New York: Routledge, 2011.
Jurnal:

Arifin, Syamsul. Agama sebagai Instrumen Gerakan Sosial


Tawaran Teoritik Kajian Fundamentalisme Agama
(2008): Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No.
1, 2008, 41.
Karen, Karen. "Life Course: Stages and Institutions - Official
Knowledge: Democratic Education in a Conservative
Age by Michael W. Apple." Contemporary Sociology
23, no. 4 (07, 1994): 572, proQuest.com
Marshallsay, Zaniah. Twists and Turns of Islamic Education
across the Islamic World." International Journal Of
Pedagogies & Learning (2012): 7, no. 3: 180-190
Education Research Complete, EBSCO (accessed
October 3, 2013).
Muhtar, Fathurrahman. Pola Pengembangan Ponpes NW
Pasca Wafatnya TGH. M. Zainuddin Abdul Majid.
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 9, no. 1, 2013.

41

Niyozov, Sarfaroz, and Memon, Nadeem. "Islamic


Education and Islamization: Evolution of Themes,
Continuities and New Directions (2011): Journal Of
Muslim Minority Affairs 31, no. 1, 5-30. Religion and
Philosophy
Collection,
EBSCOhost
(accessed
November 19, 2013)
Pohl, Florian. Negotiating Religious and National
Identitities in Contemporary Indonesia Islamic
Education (2011): Cross Currents 61, no. 3: 399414. Humanities Full Text (H.W. Wilson), EBSCOhost
(accessed November 20, 2013).
Sakai, Minako. Preaching on Muslim Youth in Indonesia:
the Dakwah Activities of Habiburrahman El-Shirazi,
dalam rima Review of Indonesian and Malaysian
Affairs, Vol. 46, number 1, 2012.

42