Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK DAN MANAGEMEN MAKNA

DISUSUN OLEH KELOMPOK IV:


REGGY ALEXANDER
STEDY HEDENSEN
HELEN
ELISA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA


PRODI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BUNDA MULIA
2014/2015

JUDUL MAKALAH

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK DAN MANAGEMEN MAKNA

Dosen : Dr. Sumardi Dahlan, Ir., M.Si

DISUSUN OLEH KELOMPOK IV:


REGGY ALEXANDER
STEDY HEDENSEN
HELEN
ELISA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA


PRODI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BUNDA MULIA
2014/2015

i|UBM

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas kasih dan Rahmat-Nya maka makalah dengan judul Teori
Interaksi Simbolik dan Manajemen Makna dapat kami selesaikan. Atas
bantuan baik secara materi maupun ilmu yang telah kami dapatkan, maka
kami ingin berterima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Sumardi Dahlan, Ir., M.Si yang telah memberikan tugas,
kepercayaan dan bimbingan kepada kami untuk mengerjakan
makalah ini.
2. Orang tua dari setiap penyusun makalah ini yang telah memberikan
dana untuk membeli buku-buku yang kami perlukan dalam
pembuatan makalah ini.
Makalah ini dibuat dengan usaha yang cukup keras, dimulai dari proses
mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam materi ini. Mencari
berbagai buku yang kira-kira dibutuhkan, serta melakukan Searching guna
mengulas apakah makalah ini sudah tersusun dengan benar baik. Dari
berbagai bantuan dan dukungan yang telah kami peroleh maka makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tidak hanya karena tugas
semata kami membuat makalah ini,melainkan agar setiap mahasiswa
dapat mengerti dan paham betul mengenai materi ini. Kami selaku
penyusun makalah menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan
dalam makalah ini, sehingga kami dengan hati yang lapang menerima
setiap kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca guna
menyempurnakan makalah ini.

Jakarta, 20 Febuari 2015


Penyusun Makala

ii | U B M

DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................... 1
BAB 2 MATERI ................................................................................ 2
BAB 3 PENUTUP .............................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 27

iii | U B M

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pembuatan makalah ini di berikan oleh Bapak Dr. Sumardi
Dahlan, Ir., M.Si untuk kita untuk memenuhi tugas kelompok
serta menjelaskan materi kepada teman-teman sekelas.

2. Tujuan dan Manfaat


Tujuannya adalah untuk Memenuhi Tugas dari Bapak Dr.
Sumardi Dahlan, Ir., M.Si.
Manfaatnya adalah kita semakin mengerti dengan materi yang
diminta untuk dipresentasikan serta melatih cara presentasi
kelompok kami.

1|UBM

BAB II
MATERI

I.

PENDAHULUAN MATERI

A. HISTORISASI (konteks sosial)


Interaksi simbolik merupakan salah satu prespektif teori yang
baru muncul setelah adanya teori aksi (action theory) yang dipelopori
dan dikembangkan oleh Max Weber. Teori interaksi simbolik
berkembang pertama kali di Universitas Chicago dan dikenal dengan
mahzab Chicago tokoh utama dari teori ini berasal dari berbagai
Universitas di luar Chicago. Diantaranya John Dewey dan C. H Cooley,
filsuf yang semula mengembangkan teori interaksi simbolik di
universitas Michigan kemudian pindah ke Chicago dan banyak
memberi pengaruh kepada W. I Thomas dan George Herbert Mead.
Sebagaimana kita ketahui konsep itu muncul tatkala Mead
mengajar psikologi sosial di Chicago sekitar tahun 1916-1928. Waktu
itu dunia sedang dilanda perang besar antara Jerman bersama Austria
melawan Perancis, Inggris dan negara-negara sekutu, termasuk
Amerika Serikat. Setelah selesai Perang Dunia Pertama, Amerika
Serikat mengalami depresi ekonomi yang sangat berat. Pada saat itu
di Amerika Serikat banyak terjadi persoalan sosial. Dari masalah
pengangguran, tingginya kriminalitas, prostitusi, munculnya kasuskasus perceraian di masyarakat, hingga banyaknya orang yang

2|UBM

mengidap

depresi

dan

persoalan

sosial

lain

yang

mengidab

masyarakat urban yang sekulair. Itulah problema masyarakat modern


yang menjadi perhatian ilmuwan social pada masa itu.
Keadaan

itu

nampaknya

mengamati keseharian kehidupan


mengenai

bagaimana

individu

mendorong
manusia,

melakukan

Mead
terutama

interaksi. Kemudian

mengembangkan teori Psikologi sosial. Pada dasarnya dia percaya


bahwa ilmu pengetahuan bisa memberikan solusi terhadap berbagai
persoalan sosial. Untuk itu selain dia memformulasikan pemikirannya
dalam teori interaksi simbolik, keseharian Mead juga aktif dalam
kegiatan reformasi sosial. Dia terlibat kegiatan pengumpulan dana
yang berkenaan dengan kebijakan di bidang pemukiman sosial di
Universitas Chicago. Kondisi eksternal semacam itulah yang menjadi
setting sosial ketika Mead menghasilkan pemikiran- pemikirannya.
Karena itu tidaklah mengherankan jika kajian tentang Mind, Mead
melihat mind secara pragmatis. Yakni mind atau pikiran melibatkan
proses berpikir yang mengarah pada penyelesaian masalah. Saat itu
Mead berasumsi, dunia nyata penuh dengan masalah (sesuai dengan
keadaan saat itu), dan fungsi pikiranlah untuk mencoba menyelesaikan
masalah dan memungkinkan orang lebih efektif dalam kehidupan.
Begitu pula dalam membahas konsep The Self, George Herbert
Mead senantiasa memperhitungkan faktor struktural, yaitu society.
Karena pada dasarnya menurut pengamatan Mead konsep diri (the

3|UBM

self) yang dia sebut sebagai I menentukan kehendak, keinginan,


termasuk ambisi-ambisi dari mahkluk yang namanya manusia. Namun
disisi lain diri manusia juga memiliki konsepsi Me, yang sangat
memperhitungkan

keadaan

sekelilingnya.

Me

senantiasa

dipengaruhi oleh interaksi internal yang dikaitkan dengan keadaan


masyarakat. Itulah struktur sosial

yang berpengaruh terhadap

konsepsi the self.

B.

TOKOH-TOKOH PENGGAGAS
Mead lahir di South Hatley Massachusetts, 27 Februari 1863. Ia

merupakan anak kedua dari profesor Hiram Mead dari Obelin


Theological Seminary. Mead mendapatkan pendidikan terutama di
bidang filsafat dan aplikasinya terhadap psikologi sosial. Awalnya ia
belajar di perguruan dimana ayahnya bekerja, Oberlin College, hingga
mendapatkan sarjana muda pada tahun 1883. Mead dan teman
dekatnya, Henry Northrup Castle, menjadi murid yang bersemangat
mempelajari sastra, puisi, dan sejarah. Saat itu, Mead amat tertarik
dengan karangan-karangan, Shelley, Carlyle, Shakespeare, Keats,
dan Milton. Beberapa tahun kemudian Mead menjadi guru Sekolah
Dasar, tapi hanya berlangsung selama empat bulan. Kemudian
ia menjadi mantri ukur di perusahaan KA, di Wisconsin Central Rail
Road Company, sembari memberikan les prifat.

4|UBM

Tahun

1887

ia

melanjutkan

kuliah

di

Harvard,

hingga

memperoleh gelar Master di bidang filsafat. Di musim gugur 1888,


Mead, mengikuti temannya Henry Nortrup ke Leipzig Jerman untuk
menempuh program Ph.D dalam bidang philosophy dan physiological
psychology. Selama tahun akademik 1888-1889 di University of
Leipzig, Mead tertarik pada teori Darwinisme dan belajar kepada
Wilhelm Wundt dan G. Stanley Hall (dua orang penemu utama
experimental psychology). Atas rekomendasi Hall, Mead pindah ke
University of

Berlin

pada

tahun

1889.Disitulah

dia

kemudian

konsentrasi mempelajari teori ekonomi dan psikologi sosial.


Sayangnya

Mead

tidak

pernah

menyelesaikan

gelar

doktornya. Tahun 1891 ia ditawari mengajar di Universitas Michigan.


Tahun

1894

atas

undangan

John

Dewey,

ia

diajak

bergabung mengajar di Jurusan Filsafat Universitas Chicago. Di


Chicago inilah Mead bertahan hingga akhir hayatnya. Saat itu Mead
dan Dewey menjadi teman akrab yang sering saling bertukar pikiran.
Bahkan dalam derajad tertentu kedua teoritisi ini memiliki kemiripian
dalam perspektif filosofi mereka. Hanya saja John Dewey

lebih

berkonsentrasi pada filsafat dan pendidikan, sedangkan Herbert Mead


lebih banyak bekerja untuk sumbangan pemikirannya pada isu-isu
dasar dalam psikologi sosial dan sosiologi.
Mead menikah dengan Helen Castle di Berlin pada bulan
Oktober, 1891. Sebelumnya kakak Helen, Henry Northrup Castle, yang

5|UBM

merupakan teman akrab Mead menikah terlebih dahulu juga di Berlin


dengan Frieda Stechner dari Leipzig. Kemudian Henry and dan
pasangannya kembali pindah ke Cambridge, Massachusetts, dimana
Henry melanjutkan sekolahnya di Jurusan Hukum di Harvard
University. George Herbert Mead punya anak satu satunya yang
bernama Henry Castle Albert Mead, yang lahir di Ann Arbor pada
tahun 1892. Anak Mead tersebut setelah dewasa menjadi seorang
psikiater.
Mead adalah seorang pengajar yang baik, namun bukan
seorang penulis yang baik, karenanya dia tidak pernah menyelesaikan
sebuah

penulisan

buku.

Kesulitannya

menulis

itu

pernah

diucapkannya, Saya sangat tertekan dengan ketidakmampuan saya


menuliskan sesuatu yang saya inginkan. (Mead, 1993:xii).
Sisi kelemahan Mead yang lain, Ia juga tidak pernah lulus
doktor, namun murid muridnya amat mengaguminya. Para muridnya
mengakui bahwa setiap kuliah prof Mead, isinya selalu menarik, dan
disampaikan secara mengalir. Salah satu muridnya, Herbert Blumer,
pada tahun 1937 memberi julukan pemikiran Mead itu sebagai teori
Interaksionisme Simbolik.

6|UBM

II.

ISI TEORI

A. TEORI INTERAKSI SIMBOLIK


Orang bergerak untuk bertindak berdasarkan makna yang
diberikannya pada orang, benda dan peristiwa. Makna makna ini
diciptakan dalam
bahasa yang digunakan orang, baik untuk berkomunikasi
dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri, atau pikiran
pribadinya.
Bahasa memungkinkan oang untuk mengembangkan perasaan
mengenai diri dan untuk berinteraksi dengan orang lainnya dalam
sebuah komunitas.

Teori Interaksi Simbolik (George Herbert Mead)

7|UBM

Model Interaksional -> perspektif interaksi simbolik


Asumsi : manusia sbg aktif, kreatif, reflektif, menapsirkan,
menampilkan
perilaku yg rumit, sulit diramalkan
Individu

orang-orang

yg

mengembangkan

potensi

manusiawinya melalui
interaksi sosial, yaitu apa yg disebut pengambilan peran orang
lain (role taking)

1. Interaksi Simbolik Dalam Realitas Sosial


Manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan
dan

memanipulasi

symbol-simbol.

Kemampuannya

itu

diperlukan untukn komunikasi antarpribadi dan pikiran subjektif.


Guna memandang proses dan relativitas bentuk-bentuk yang
ada, maka Mead selanjutnya menggunakan tiga perspektif
yang

berbeda;

evolusionisme

Darwin,

idealism

dialektis

Jerman, dan pragmatism Amerika, meskipun Mead menolak


dikatakan hanya mensintesis ketiga perpektif itu.

a) Sikap-isyarat (Gestur)
Gertur

adalah

gerakan

organisme

pertama

yang

bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan


tanggapan (secara social) yang tepat dari organisme kedua.

8|UBM

Isyarat suara sangat penting perannya dalam pengembangan


isyarat yang signifikan. Namun, tak semua isyarat suara
signifikan, kekhususan manusia dibidang isyarat (bahasa) ini
pada hakikatnya yang bertanggung jawab pada asal-muasal
pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang
dengan

seluruh

control

terhadap

alam

dan

lingkungan

dimungkinkan berkat pengtahuan.

b) Simbol-simbol Signifikan
Symbol Signifikan adalah sejenis gerak isyarat yang
hanya dapat diciptakan oleh manusia. Isyarat menjadi symbol
signifikan bila muncul dari individu yang membuat symbolsimbol itu sama dengan dengan sejenis tanggapan (tetapi tidak
perlu sama) yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran
isyarat. Jadi disini dapat disimpulkan symbol-simbol signifikan
ada 2, yaitu: symbol Bahasa dan Simbol Isyarat Fisik: -Fungsi
bahasa ataw symbol yang signifikan pada umumnya adalah
menggerakan tindakan yang sama dipikhak individu yang
berbicara dan juga pihak yang lainnya. Pengaruh lain dari
bahasa merangsang orang yang berbicara dan orang yang
mendengarkannya. Simbol Isyarat Fisik, menciptakan peluang
diantara individu yang terlibat dalam tindakan social tertntu

9|UBM

untuk mengacu pada objek ataw objek-objek yang menjadi


sasaaran tindakan itu,

c) Pikiran (mind)
Didefinisikan

mead

sebagai

proses

percakapan

seseorang dengan sendirinya, tidak ditemukan dalam diri


individu; pikiran adalah fenomena social. Pikiran muncul dan
berkembang dalam proses social dan merupakan bagian
integral dari proses social. Dan karakteristik istimewa dari
pikiran adalah kemampuan individu untuk memunculkan dalam
dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon
komunitas secara keseluruhan, itulah yang dinamakan pikiran.

d) Diri (self)
Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima
diri sendiri sebagai objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk
menjadi subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu
harus mencapai keadaan diluar dirinya sendiri sehingga
mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi objek bagi
dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba
memeriksa diri sendiri secara inpersonal, objektif dan tanpa
emosi, Mead mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia
namakan I dan Me. Mead menyatakan, diri pada dasarnya

10 | U B M

diri adalah proses social yang berlangsung dalam dua fase


yang dapat dibedakan, perlu diingat I dan ME adalah proses
yang terjadi didalam proses diri yang lebih luas. Bagian
terpenting dari pembahasan Mead adalah hubungan timbal
balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai subjek. Diri
sebagai objek ditujukan oleh Mead melalui konsep Me,
sementara ketika sebagai subjek yang bertindak ditunjukan
dengan konsep I.
Analisis Mead mengenai I membuka peluang bagi
kebebasan dan spontanitas. Ketika I mempengaruhi Me,
maka timbulah modifikasi konsep diri secara bertahap . ciri
pembeda manusia dan hewan adalah bahasa dan symbol
signifikan. Symbol signifikan haruslah merupakan suatu makna
yang dimengerti bersama. Ia terdiri dari dua fase, Me dan I.
dalam kontek ini Me adalah sosok saya sendiri sebagai mana
yang dilihat oleh orang lain, sedangkan I adalah bagian yang
memperhatiakan diri saya sendiri. Dua hal yang itu menurut
Mead menjadi sumber orisinallitas, kreativitas, dan spontanitas.
Percakapan internal memberikan saluran melalui semua
percakapan eksternal. Andai diri itu hanya mengandung Me,
hanya akan menjadi agen masyarakat. Fungsi kita hanyalah
memenuhi perkiraan dan harapan orang lain. Menurut Mead,
diri juga mengadung I yang merujuk pada aspek diri yang aktif

11 | U B M

dan

mengikuti

gerak

hati.

Mead

menyebutkan,

bahwa

seseorang itu dalam membentuk konsep dirinya dengan jalan


mengambil perspektif orang lain dan melihat dirinya sendiri
sebagai objek. Untuk itu, ia melllewati tiga tahap yaitu:

a) Fase Bermain
Dimana si individu memainkan peran social orang lain.
Tahap ini menymbang perkembangan kemampuan untuk
meransang perilaku individu itu sendiri menurut perspektif
orang lain dalam suatu peran yang berhubungan dengan itu.

b) Fase Pertandingan
Fase pertandingan yang terjadi stelah pengalaman
social individu berkembang. Tahap pertandingan ini dapat
dapat dibedakan dari tahap bermain dengan adanya suatu
tingkat organisasi yang lebih tinggi. Konsep diri individu terdiri
dari kesadaran subjektif individu terhadap perannya yang
khusus dalam kegiatan bersama itu, termasuk persepsipersepsi tentang harapan dan respons dari yang lain.

12 | U B M

c) Fase Mengambil Peran


Fase mengambil peran (generalized other), yaitu ketika
individu mengontrol perilakunya sendiri menurut peran-peran
umum bersifat impersonal. Menurut Mead, generalized other itu
bisa mengatasi kelompok atau komunitas tertentu secara
transeden atau juga mengatasi bata-batas kemasyarakatan.

d) Masyarakat
Pada tingkatan paling umum, Mead menggunkan istilah
masyarakat (society) yang berarti proses social diri tanpa henti
yang mendahului pikiran dan diri. Masyarat penting peranannya
dalam membentuk pikiran dan diri, ditingkat lain, menurut
Mead, Masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan
terorganisir yang diambil oleh individu dalam bentuk aku
(me).Konsep Mead tentang masyarakat juga menekankan pada
kekhususan model praksis manusia,di mana tanganlah yang
menjembatani interaksi manusia dengan dania interaksi antara
manusia

dengan

manusia

lain,ia

menekankan

keterkaitan antara pengalaman praktis yang d

adanya

ijembatani

oleh tangan.Pembicaraan dan tanganj secara bersama-sama


berperan

dalam

social.Maksudnya,beberapa

pengembangan

manusia

jenis aktivitas kerjsama

telah

menyebabkan adanya kedirian.

13 | U B M

2. Lingkungan Sosial (Social Environment)

- Lingkungan

sosial mencakup

setting fisik

dari

suatu

masyarakat atau budaya. Contoh; tipe kehidupan orang di


rumah tangga, pekerjaan yg dilakukan, jumlah penghasilan
yg diperoleh, dan sistem hukum atau aturan-aturan sosial yg
berlaku di masyarakat
- Lingkungan

sosial

kelompok-kelompok,
ygmemungkinkan
;keluarga,

teman,

juga

mencakup

organisasi,

individu-individu,
dan

sistem

orang-orang

saling

kontak,

kelompok

kerja,

dan

meliputi

pemerintah

Lingkungan sosial meliputi ; kondisi-kondisi dan interaksi


antar orang-orang
- Institusi-institusi sosial seperti pemeliharaan kesehatan,
perumahan,

kesejahteraan

sosial,sistem

pendidikan

merupakan aspek-aspek lainnya dari lingkungan sosial


- Manusia saling berkomunikasi dan berinteraksi di dalam
lingkungan mereka. Interaksi tsb menunjukkan adanya
transaksi diantara orang dan lingkungannya. Transaksi
bersifat aktif dan dinamis, sebab sesuatu yg dikomunikasikan
bisa berubah.

14 | U B M

- Dengan demikian, individu-individu harus memiliki interaksi


yg efektif

dg lingkungannya agar kehidupan mereka

berfungsi secara wajar

3. Teori Perilaku
Classical Conditioning (Model S R)
(Pavlop)
Stimulus

Respon

Model S R (positif positif)

Model S R (negatif
negatif)
Merupakan model yang paling sederhana dari modelmodel komunikasi lainnya. Haikatnya terdapat proses aksireaksi, maksudnyaa apabila

seseorang memberikan aksi

maka orang yang diberi aksi akan melakukan

respon

tertentu.
Berdasarkan teori Lewin
B = f (P+E), dapat diartikan bahwa perilaku sebagaisatu
variabel keberadaannya ditentukan oleh variabel lain yakni
diri (self) individu yang berinteraksi dengan lingkungan.

15 | U B M

Teori tersebut emandang atau menempatkan individu


sebagai

seseorang

yg

pasif

dan

reaktif,

karena

keberadaannya tergantung pada lingkungan dimana ia


berada. Teori Lewin tersebut bisa saja berubah atau berbeda
dalam prakteknya di lapangan, yakni bisa terjadi bahwa
unsur individu (P) merupakan fungsi dari perilaku (B) yang
berinteraksi dengan lingkungan (E), sehingga rumusnya
menjadi : B = f (PE) Dalam pandangan yg demikian, individu
dipandang sebagai seseorang yg aktif dan kreatif, yakni
individu yg dapat mengaktualisasikan potensi yg ada dalam
dirinya ke dalam kehidupan lingkungan dimana ia berada.
GEORGE HERBERT MEAD merupakan pencetus awal

Symbolic Interaction Theory yang merujuk pada kemampuan


manusia untuk menggunakan simbol orang bertindak
berdasarkan makna simbolik yang muncul dalam situasi
tertentu Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol
dan interaksi.
Menurut Ralp Larossa dan Donald C. Reitzes (1993)
interaksi simbolik pada intinya adalah sebuah kerangka
referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama
dengan orang lainnya, menciptakan dunia simbolik dan
bagaimana dunia, sebaliknya membentuk perilaku manusia.

16 | U B M

B. Tema dan Asumsi Teori Interaksi Simbolik


Tema :
1) Pentingnya makna bagi perilaku manusia
Manusia membentuk makna melalui komunikasi karena makna tidak
bersifat intrinsik terhadap apapun. Tujuan interaksi menurut SI adalah
untuk menciptakan makna yang sama. Menurut Herbert Blumer :
Asumsi :

Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna


yang diberikan orang lain pada mereka

Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia

Makna dimodifikasi melalui proses interpretif

Terdapat tiga cara untuk menjelaskan asal makna

Makna adalah sesuatu yang bersifat intrinsik dari suatu benda


(mengenali makna yang sudah terdapat pada objek / benda
tersebut )

Makna dibawa benda oleh seseorang yang diperuntukan bagi siapa


benda itu bermakna

Makna adalah produk sosial yang terjadi diantara orang-orang.


Makna adalah ciptaan yang dibentuk melalui pendefinisian aktivitas
manusia ketika berinteraksi

17 | U B M

Makna menurut Blumer dimodifikasi melalui proses interpretif


melalui dua langkah :
o Para pelaku menentukan benda-benda yang mempunyai
makna. Manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk
menentukan bagian-bagian yang bermakna bagi dirinya.
o Melibatkan pelaku untuk memilih, mengecek dan melakukan
transformasi makna didalam konteks dimana dirinya berada.

2) Pentingnya konsep mengenai diri


Konsep diri adalah seperangkat perspektif yang relatif stabil yang
dipercaya orang mengenai dirinya sendiri.
Asumsi :
1. Individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan
orang lain
2. Konsep diri memberikan motif yang penting untuk perilaku

3) Hubungan antara individu dan masyarakat


Asumsi:
1. Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses sosial dan budaya
2. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial

18 | U B M

TEORI-TEORI PESAN MANAJEMEN MAKNA


I.

ISI TEORI
A. Pengantar
Teori-teori pesan terfokus pada bagaimana produksi isi pesan,

penyampaian pesan dan pemaknaan terhadap isi pesan. Poin-poin materi


teori pesan terfokus pada :

Tanda dan Simbol

Bahasa

Pesan Non Verbal

Strategi Merancang Pesan

Desain Pesan

Pemaknaan Pesan

B. Symbol theory : Susanne Langer

Simbolisme

merupakan

inti

dari

filsafat

dan

mendasari

pengetahuan dan pemahaman manusia

Perasaan manusia termediasikan melalui konsepsi, simbol dan


bahasa

Simbol lebih dari sekedar tanda. Tanda merupakan stimulus yang


menandai keadaan atau sesuatu hal. Simbol lebih kompleks yaitu
instrumen pemikiran manusia dan menandai sesuatu bukan dari
sesuatu yang ada atau nampak.

19 | U B M

Makna merupakan relasi antara simbol, objek dan manusia,


Terdapat 2 makna :
1) denotatif (makna logis )
2) konotatif (Makna psikologis, bersifat subjektif)

Simbol dapat mengkomunikasikan gagasan, pengetahuan, pola


ataupun bentuk-bentuk tertentu

Orang cenderung melakukan abstraksi terhadap simbol yaitu suatu


proses membentuk gagasan umum yang didasarkan atas berbagai
pengalaman dan dibangun atas makna denotasi dan konotasi dari
simbol

C. Model Pilihan Strategi Pesan


1. Compliance Gaining :

Didasarkan atas teori pertukaran dimana kecenderungan orang


berkomunikasi didasarkan atas reward dan cost yang dia peroleh
dan keluarkan

Pemenuhan kepatuhan dari diri orang lain merupakan strategi


untuk mencapai tujuan komunikasi kita Terdapat 16 strategi :
1. Memberikan janji
2. Melakukan ancaman
3. Menunjukkan hasil positif yang akan diperoleh
4. Menunjukkan hasil negatif yang akan diperoleh
5. Menunjukkan rasa suka

20 | U B M

6. Memberi reward terlebih dahulu


7. Memberi hukuman sampai kepatuhan diperoleh
8. Menyatakan bahwa orang tersebut hutang sesuatu hal di masa
lalu
9. Menunjukkan kepatuhan sebagai bentuk tanggung jawabmoral
10. Menunjukkan perasaan positif yang akan dirasakan kalau patuh
11. Menunjukkan perasaan negatif kalau tidak patuh
12. Menghubungkan kepatuhan dengan kualitas yang bagus
13. Menghubungkan ketidakpatuhan dengan kualitas yang buruk
14. Menunjukkan kepatuhan sebagai bentuk rasa suka
15. Menunjukkan kalau patuh akan lebih disukai orang lain
16. Menunjukkan kalau tidak patuh , akan lebih tidak disukai orang
lain

Secara ringkas dapat dikategorisasikan dalam 5 strategi umum yaitu :


Rewarding, Punising, Expertise, Impersonal Commitments Dan Personal
Commitments
Kepatuhan dapat diperoleh bila seseorang memiliki power terhadap orang
lain, Tiga bentuk kepatuhan :
1. Kemampuan untuk memanipulasi konsekuensi dari suatu tindakan
2. Kemampuan untuk menentukan posisi seseorang dalam suaturelasi
3. Kemampuan untuk mendefinisikan nilai-nilai, tanggung jawab atau
keduanya

21 | U B M

2. Constructivism :

Individu mengintrepretasikan makna dan melakukan tindakan


berdasar kategori konseptual yang ada dalam pemikirannya.

Setiap orang memiliki kerangka pikir yang berbeda dan


kategorisasi berbagai hal secara berbeda pula (mis : apa yang
dianggap baik, buruk)

Berawal dari masa kecil dimana individu belajar membedakan


hal-hal tertentu dengan membuat ukuranukuran tertentu

Sistem pemikiran individu semakin lama semakin berkembang


dan kompleks dan ini berimplikasi pada pesan yang
disampaikan dan dimaknainya

Jika kita cenderung berpikir secara sederhana, bisa terjadi


munculnya stereotipe tertentu terhadap orang lain, karena
hanya menilai berdasar sifat tertentu yang menonjol

D. Model Desain Pesan


1. Teori Perencanaan :

Komunikasi bersifat intensional, untuk tujuan tertentu sehingga


pesan perlu direncanakan untuk mencapai tujuan tersebut

Bila tujuan bersifat kompleks, lebih dari satu, maka tujuan perlu
diatur

urutan-urutan pencapaiannya dan setiap tujuan memiliki

bentuk pesan yang berbeda

22 | U B M

Pesan akan memiliki muatan: isi pesan itu sendiri (spesific domain
knowledge) dan cara menyampaian pesan agar mengarah pada
tujuan (general domain knowledge)

Semakin kita mengetahui kedua hal tersebut diatas, semakin


kompleks perencanaan pesan yang akan kita lakukan

2. Logika Desain Pesan


Setiap orang memiliki cara komunikasi dan isi pesan yang berbeda
serta logika berpikir yang berbeda dalam menyampaikan suatu pesan
terhada seseorang dalam situasi tertentu

Tiga desain logis pesan :


1. The expressive logic: melihat komunikasi sebagai cara seseorang
mengekspresikan perasaan dan pemikirannya
2. The conventional logic: melihat komunikasi sebagai hal yang harus
dimainkan dengan mengikuti aturan- aturan tertentu
3. The rhetorical logic: memandang komunikasi sebagai cara yang
fleksibel,

memiliki

perspektif

terhadap

pihak

yang

diajak

berkomunikasi (person centered)

3. Semantic Meaning Theory


Makna tentang atau terhadap sesuatu hal bersifat konotatif, karena
makna bersifat internal, unik berdasar pengalaman setiap orang.

23 | U B M

Osgood mengembangkan sematik diferensial sebagai cara


mengukur makna dengan menggunakan kata-kata sifat
Makna dapat diukur berdasar tiga dimensi :
1. Evaluasi (baik atau buruk)
2. Aktivitas (aktif atau pasif)
3. Potensi (kuat atau lemah)

II.

ASUMSI-ASUMSI MANAGEMEN MAKNA TERKOORDINASI


Beberapa contoh asumsi :
1. Manusia hidup dalam komunikasi
2. Manusia saling menciptakan realitas sosial
3. Transaksi informasi bergantung kepada makna pribadi dan
interpersonal

Konstruksionisme sosial : kepercayaan bahwa orang-orang saling


menciptakan realitas sosial mereka yang baru

Realitas sosial : keyakinan seseorang mengenai bagaimana makna


dan tindakan sesuai atau tepat dala sebuah interaksi sosial

Makna pribadi : makna yang didapat ketika seseorang membawa


pengalaman-pengalamannya yang unik ke dalam sebuah interaksi

Makna interpersonal: hasil yang muncul ketika dua orang sepakan


akan interpreetasi satu sama lain mengenai sebuah interaksi

24 | U B M

III.

HIERARKI DARI MAKNA YANG TERORGANISASI

CULTURAL PATTERN / POLA BUDAYA


Gambaran mengenai dunia dan bagaimana hubungan seseorang dengan
hal tersebut.
LIFE SCRIPT / NASKAH KEHIDUPAN
Kelompok-kelompok episode masa lalu atau masa kini yang menciptakan
suatu system amkna yang dapat dikelola bersama dengan orang lain
RELATIONSHIP / HUBUNGAN
Merupakan kesepakatan dan pengertian antara dua orang, dan juga
memiliki keterlibatan atau batasan dimana dua orang mengidentifikasi diri
mereka sebagai bagian dari suatu system

25 | U B M

EPISODE / EPISODE
Episode merupakan rutinitas komunikasi yang memiliki awal, pertengahan,
dan akhir yang jelas Ada pula perbedaan dalam menandai atau
menekankan sebuah episode
SPEECH ACT / TINDAK TUTUR
Tindak tutur merupakan tindakan yang kita lakukan melaui berbicara
CONTENT / ISI
Isi atau content merupakan langkah awal dimana data mentah
dikonversikan menjadi makna.

26 | U B M

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan
simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut.
B. Saran
Agar tercipta proses interaksi yang baik sebaiknya semua interaksi
antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol dan
penyamaan makna agar tidak terjadi miss communication.

27 | U B M

DAFTAR PUSTAKA

West.,Richard, & Lynn H. Tunner. (2008). Pengantar Teori


Komunikasi Analisi dan Aplikasi, Jakarta: Penerbit Salemba
Humanika

Stephen W Littlejohn, Keren A. Foss.(2009).Teori Komunikasi ,


Theories of Human Communication.9.Salemba Humanika,Jakarta

Jasi, M. 2000. Interaksi Simbolik. PT. Raja Grafindo: Jakarta

Kartono, H. 2003. Teori Interaksi. PT. Gramedia: Jakarta

28 | U B M