Anda di halaman 1dari 12

5.1.

1 Geologi Regional Pulau Bali


5.1.1.1 Geomorfologi Regional
Secara garis besar kondisi Topografi pulau Bali dapat dibagi menjadi tiga zona
yaitu zona Bali selatan, daerah tengah, dan zona Bali utara. (Arimuhaimin,
2010)
a. Topografi zone selatan Bali terdiri dari batu gamping yang merupakan
plato-plato yang terbentuk karena pengangkatan dan dataran aluvial
pantai yang banyak terdapat di sekitar Nusa Dua maupun daerah yang
terdapat dekat muara-muara sungai. Pada pantai selatan yang berbatu
gamping banyak terbentuk cliff dan terjadi abrasi membentuk lereng
yang sangat curam. Perbukitan kapur banyak terdapat singkapan batuan
gamping terumbu karang yang mengandung fosil dari formasi palasari.
Pantai bertebing terjal, yang terjadi karena abrasi laut yang sangat kuat
sedang batuan induknya breksi vulkanik. Beting gisik dan sand dunes
yang terdapat di pantai selatan Bali.
b. Daerah tengah termasuk vulkanik muda yang terdiri dari gunung Agung,
gunung Batur, gunung Lessung, dan gunung Bratan. Berlereng curam dan
banyak kenampakan danau tektonik seperti danau Batur, Beratan, Buyan
dan Tamblingan.
c. Daerah utara Bali berupa aluvial pantai dengan kemiringan antara 0 2%
dengan arah utara selatan. Di bagian selatan terdiri atas perbukitan
dengan ketinggian antara 100-500 meter dengan kemiringan lereng 215%. Di daerah Pulaki terdapat patahan arah timur barat yang telah berisi
material aluvium. Ada juga perbukitan kapur dengan ketinggian 0-500
meter dan kemiringan 15-40%. Bukit-bukit rendah terdiri dari batuan
umur tersier yang berlipat, sering batuan tersier yang sudah tertutup oleh
endapan vulkanik muda tersingkap.
Sedangkan dalam( K.M Ejasta, 1995) topografi Pulau Bali secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga bentukan yaitu dataran aluvial, dataran atau
komplek daerah volkanik, dan daerah batu gamping selatan.
a. Dataran aluvial
Dataran aluvial merupakan daerah penimbunan (sedimentasi), dan pada
dasarnya

bentuklahan

yang

disebabkan

oleh

proses

fluvial

atau

bentuklahan yang terjadi akibat proses air mengalir baik yang memusat
(sungai) maupun oleh aliran permukaan bebas (overland flow). (Suprapto
Dibyosaputro, 1997)
Dataran aluvial di Pulau Bali dapat di bagi menjadi dua, yaitu dataran
aluvial selatan dan dataran alluvial pantai utara.
b. Dataran Alluvial Selatan
Wilayah ini meliputi sebagian besar kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar,
dan Klungkung, dengan tofografi yang landai sampai datar, terdiri dari
endapan material flovio fulkanik. Karakteristik tanah yang ada lebih
banyak dipengaruhi oleh lamanya material-material volkanis tersebut
mengalami pelapukan dan endapan yang terjadi akibat adanya luapan air
sungai yang membawa sedimen disaat banjir maka struktur endapan
pada dataran alluvial berlapis horizontal pada elevasi yang rendah.
Lebih keselatan sekitar Lapangan Terbang Ngurah Rai terdapat dataran
sempit (tombolo), yang menghubungkan dataran utama Bali dengan
pegunungan kapur selatan. Tombolo ini terbentuk akibat adanya arus dan
ombak kearah darat. Materian penyusun tombolo ini merupakan endapan
marin.
c. Dataran Alluvial Pantai Utara
Wilayah ini membentang disepanjang pantai utara Bali, atau dapat
disebutlkan sebagai jalur dataran aluvial yang sempit. Topografi dataran
aluvial utara Bali berupa aluvial pantai dengan kemirinagan antara 0 2%
dengan arah utara selatan. Di bagian selatan terdiri atas perbukitan
dengan ketinggian antara 100-500 meter dengan kemiringan lereng 215%. Berdasarka data curah hijan jalur ini termasuk daerah kering. Pada
jalur antara Kubutambahan disebelah timur dan Tukad Gemgem disebelah
barat terdapat benyak meta air, sehingga daerah ini tidak nampakk
kering. Disebelah timur Kubutambahan mata air sudah hampir tidak ada,
sering terjadi banjir yang deras dimusim penghujan. Pada musim
kemarau sungai itu kering, dan tidak dapat digunakan untuk pertanian.
d. Daerah Batu Gamping Selatan
Daerah ini terdapat di semenanjung Bali bagian selatan dan juga Nusa
Penida. Daerah batuan gamping (Bukit Jimbaran dan Nusa Penida)
mempunyai kemiringan lereng landai sampai agak terjal (3 50 %)

dengan beberapa tempat >30 %, terutama pada tebing-tebing laut,


terletak pada ketinggian 0 210 meter di atas permukaan laut. Tingkat
erosi

permukaan

merupakan

daerah

kecil

hingga

abrasi

dan

sedang

dengan

berpotensi

beberapa

gerakan

tanah

tempat
berupa

amblasan. .Pada garis besarnya karakteristik lahan pegununga kapur


selatan ini mirip dengan pegunungan batu gamping barat. Bedanya di
bagian selatan terdapat dua jenis kapur yaitu koral dan marl. Kapur koral
berkembang menjadi topografi berbukit-bukit dengan kemiringan lereng
lebih terjal dari marl. Karakteristik lahan yang lain serupa dengan daerah
batu gamping barat.
e. Komplek daerah vulkanik
Vulkanisme ialah peristiwa alam yang berhubungan dengan pembentukan
gunung api, yaitu pergerakan magma di kulit bumi (litosfer) menyusup ke
lapisan lebih atas atau keluar permukaan bumi. Di permukaan bumi ini
banyak

berbagai

bentukan

yang

berkaitan

dengan

vulkanisme,

diantaranya gerak tektonik adalah semua gerak naik dan turun yang
menyebabkan perubahan bentuk kulit bumi. Gerak ini dibedakan menjadi
gerak epirogenetik dan gerak orogenetik.
Komplek daerah volkanik di Bali dapat dibagi menjadi empat komplek
yaitu:
1.

Komplek Vulkanik di Bali Bagian Barat


Wilayah ini meliputi daerah pegunungan mulai dari Gunung Patas
kearah barat sampai dekat Gilimanuk. Puncak-puncak separti
gunung kelatakan, gunung sangiang, gunung Merbuk, dan Gunung
Mesehe termasuk didalam unit ini. Jenis batuannya lava breksi, batu
pasir, dan tufa merupakan bahan induk tanah yang terbentuk di
daerah yang bertofografi barat ini.

2.

Komplek Gunungapi Buyan - Beratan


Gunung Buyan - Beratan adalah komplek pegunungan di bagian
tengah Bali, dan puncak-puncak gunung yang saat dapat kita lihat
seperti membentengi daerah tersebut merupakan bagian dari
gunungapi Beratan Buyan purba. Tetapi karena proses geomorfologi
juga terjadi di sana sepeti terjadinya proses denudasi, sehingga

kenampakannya kini telah berubah dan kaldera gunung beratan


buyan kini kenampakannya tidak sejelas kaldera yang terdapat di
Gunung Batur. Daerah ini mempunyai kemiringan yang landai
sampai terjal di beberapa tempat. Daerah ini berada di dataran
tinggi yang subur sehingga lahan di daerah Candikuning dan
Pancesari dominan dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

3.

Gunung api Batur


Menurut

Kemmerling,

(1918)

dan

Stehn,

(1928)

dalam

I.S.

Sutawidjaja, dkk, (1990). Kaldera Batur merupakan ketel raksasa


berukuran 13,8 x 10 km. Kaldera ini tertutup dari segala arah,
merupakan salah satu kaldera terbesar dan terindah di dunia (van
Bemmelen, 1949) dalam (I.S. Sutawidjaya, 1990). Pematang kaldera
tingginya berkisar antara 1267 m - 2152 m (Puncak G. Abang). Di
dalam Kaldera I terbentuk Kaldera II yang berbentuk melingkar
dengan garis tengah lk. 7 km. Dasar Kaldera II terletak antara 120 300 m lebih rendah dari Undak Kintamani (dasar Kaldera I). Di
dalam kaldera tersebut terdapat danau yang berbentuk bulan sabit
yang menempati bagian tenggara yang panjangnya lk. 7,5 km, lebar
maksimum 2,5 km, kelilingnya lk. 22 km, luasnya lk. 16 km 2. Tinggi
permukaan air 1031 m di atas muka laut. Danau tersebut terjadi
karena suatu penurunan dasar (Slenk, graben). Menurut van
Bemmelen

(1949)

diperkirakan

terbentuk

bersamaan

dengan

pembentukan Kaldera II; menurut Stehn (1926) terbentuknya


kemudian.
Kegiatan purna kaldera ditandai dengan pertumbuhan kerucut G.
Batur. Kegiatan ini sekitar diawali 5000 tahun yang lalu oleh
pembentukan kerucut G. Batur berkomposisi basal sampai andesit
basalan. Kawah puncaknya berpindah berarah timurlaut - baratdaya
antara G. Payang dan G. Bunbulan. Sejak tahun 1800 G. Batur telah
meletus sekurang-kurangnya 28 kali, umumnya bersifat efusif
(leleran lava) dan strobolian. leleran lava terbanyak terjadi pada
bulan September 1963 menutupi daerah seluas lk. 5.967.550

m2. Letusan terakhir terjadi 7 Juli 2000, sebanyak 3 kejadian, pusat


letusan dari Kawah 1999. Letusan disertai lontaran piroklastik,
seperti pasir, lapili dan bongkah mengendap dengan radius lk. 100
m dari bibir kawah. Asap letusan mencapai tinggi lk. 300 m di atas
bibir kawah. Aktifitas vulkanik G. Batur purna letusan Juli 2000,
berupa kegiatan solfatara di dalam kawah-kawahnya.
4.

Komplek Gunung Agung dan Gunung Seraya


Komplek ini terletak pada bagian timur pulau Bali

dengan titik

tertinggi sekaligus titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m (dpal) dan


terakhir meletus pada Maret 1963. merupakan komplek gunungapi
yang cukup luas. Disebelah timur klungkung terdapat medan lahar
yang cukup luas dari hasil letusan gunung Agung. Timbunan lahar
yang sangat luas juga terdapat di lereng utara Gunung Agung, mulai
dari Batudawa disebelah barat Culik, dekat Tianyar. Diantara medan
lahar tersebut terdapat deretan pegunungan yang terbentuk dari
aliran lava pada periode erupsi sebelumnya. Medan lahar berupa
batu-batu, krikil campur pasir, aliran lava berupa masa padat yang
besar dari batuan beku berongga, berwarna coklat merah.
Gunung Seraya memiliki karakteristik lahan yang berbeda dengan
gunung Agung. Gunungapi ini sudah tidak aktif pada periode yang
cukup lama, sehingga proses denudasi lebih dominan membentuk
lembah-lembah bekas pengikisan yang sangat dalam. Denudasi
yang lanjut ini mengakibatkan solum tanah tipis pada lerenglerengnya, sedangkan pada bagian yang agak datar solum tanahnya
tebal berwarna coklat dengan tekstur liat berdebu.
5.

Depresi Karangasem
Terdapat disebalah barat daerah Gunung Seraya. Daerah ini lebih
hijau dibandingkan dengan di sekitarnya. Ini disebabkan karena
daerah ini mendapat rembesan air tanah yang keluar dari lapisanlapisan tanah Gunung Agung, dan sungai-sungai pada daerah ini
tidak kering pada musim kemarau.

6.

Gugusan bukit Sidemen


Terdapat di sebelah barat depresi Karangasem, terdiri dari barisan
bukit-bukit yang renadah, dengan tinggi tidak melebihii 800 m.
gugusan Bukit Sidemen ini dipisahkan dengan gunung Gunung
Agung oleh sebuah pelana yang dinamakan Sebetan. Sedangkan
material bukit ini terdiri dari lapisan breksi.

5.1.1.2 Stratigrafi Regional


Kondisi geologi regional Bali dimulai dengan adanya kegiatan di lautan
selama kala Miosen Bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan
breksi yang disisipi oleh batu gamping. Di bagian selatan terjadi
pengendapan oleh batu gamping yang kemudian membentuk Formasi
Selatan.

Di

jalur

yang

berbatasan

dengan

tepi

utaranya

terjadi

pengendapan sedimen yang lebih halus. Pada akhir kala Pliosen, seluruh
daerah pengendapan itu muncul di atas permukaan laut. Bersamaan
dengan pengangkatan, terjadi pergeseran yang menyebabkan berbagai
bagian tersesarkan satu terhadap yang lainnya. Umumnya sesar ini
terbenam oleh bahan batuan organik atau endapan yang lebih muda.
Selama kala Pliosen, di lautan sebelah utara terjadi endapan berupa
bahan yang berasal dari endapan yang kemudian menghasilkan Formasi
Asah. Di barat laut sebagian dari batuan muncul ke atas permukaan laut.
Sementara ini semakin ke barat pengendapan batuan karbonat lebih
dominan. Seluruh jalur itu pada akhir Pliosen terangkat dan tersesarkan.
Kegiatan gunung api lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan
gunung api dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera,
yaitu mula-mula kaldera Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau
Bali masih mengalami gerakan yang menyebabkan pengangkatan di
bagian utara. Akibatnya, Formasi Palasari terangkat ke permukaan laut
dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai penampang Utara-Selatan
yang tidak simetris. Bagian selatan lebih landai dari bagian Utara.
Stratigrafi regional berdasarkan Peta Geologi Bali geologi Bali tergolong
masih muda. Batuan tertua kemungkinan berumur Miosen Tengah.

Menurut Purbohadiwidjoyo, (1974). dan Sandberg, (1909) dalam

K.M

Ejasta,(1995), secara geologi pulau bali masih muda, batuan tertua


berumur miosen. Secara garis besar batuan di Bali dapat dibedakan
menjadi beberapa satuan yaitu:
a. Formasi Ulakan
Formasi ini merupakan formasi tertua berumur Miosen Atas, terdiri
dari stumpuk batuan yang berkisar dari lava bantal dan breksi basal
dengan sisipan gampingan. Nama formasi Ulakan diambil dari nama
kampung Ulakan yang terdapat di tengah sebaran formasi itu.
Bagian atas formas ulakan adalah formasi Surga terdiri dari tufa,
nafal dan batu pasir. Singkapan yang cukup luas terdapat dibagaian
tengah daerah aliran sungai Surga. Disini batuan umumnya miring
kearah

selatan

atau

sedikit

menenggara

(170-190 o)

dengan

kemiringan lereng hingga cukup curam (20-50 ). singkapan lain


berupa jendela terdapat di baratdaya Pupuan, dengan litologi yang
mirip.
b.

Formasi Selatan
Formasi ini menempati semenanjung Selatan. Batuannya sebagian
besar berupa batugamping keras. menurut Kadar, (1972) dalam K.M
Ejasta, (1995) tebalnya berkisar 600 meter, dan kemiringa menuju
keselatan

antara

7-10o

kandungan

fosil

yang

terdiri

dari

Lepidocyclina emphalus, Cycloclypeus Sp, Operculina Sp, menunjukan


berumur Miosen. Selain di semananjung selatan, formasi ini juga
menempati Pulau Nusa Penida.
c. Formasi Batuan Gunungapi Pulaki
Kelompok batuan ini berumur pliosin, merupakan klompok batuan
beku yang umumnya bersifat basal, terdiri dari lava dan breksi.
Sebenarnya terbatas di dekat Pulaki. Meskipu dipastikan berasal dari
gunung api, tetapi pusat erupsinya tidak lagi dapat dikenali. Di daerah
ini terdapat sejumlah kelurusan yang berarah barat-timur, setidaknya
sebagian dapat dihubungkan dengan persesaran. Mata air panas yang
terdapat di kaki pegunungan, pada perbatasan denga jalur datar di

utara, dapat dianggap sebagai salah satu indikasi sisa vulkanisme,


dengan panas mencapai 470 C dan bau belerang agak keras.
d. Formasi Prapatagung
Kelompok

batuan

ini

berumur

Pliosin,

menempati

daerah

Prapatagung di ujung barat Pulau Bali. Selain batugamping dalam


formasi ini terdapat pula batu pasir gampingan dan napal.
e. Formasi Asah
Kelompok batuan ini berumur Pliosen menyebar dari baratdaya Seririt
ke timur hingga di baratdaya Tejakula. Pada lapisan bawah umumnya
terdiri dari breksi yang beromponen kepingan batuan bersifat basal,
lava, obsidian. Batuan ini umumnya keras karena perekatnya
bisaanya gampingan. Dibagian atas tedapat lava yang kerapkali
menunjukan rongga, kadang-kadang memperlihatkan lempengan dan
umunya berbutir halus. Kerpakali Nampak struktur bantal yang
menunjukan suasana pengendapan laut.
f.

Formasi batuan gunungapi kuarter bawah


Kwarter di Bali di Dominasi oleh batuan bersal dari kegiatan gunung
api. berdasarkan morfologinya dapat diperkirakan bahwa bagian barat
pulau Bali ditempati oleh bentukan tertua terdiri dari lava, breksi dan
tufa. Batuan yang ada basal, tetapi sebagian terbesar bersifat
andesit, semua batuan volkanik tersebut dirangkum ke dalam Batuan
Gunungapi Jemberana. Berdasarkan kedudukannya terdapat sedimen
yang

mengalasinya,

umur

formasi

ini

adalah

kuarter

bawah,

seluruhnya merupakan kegiatan gunung api daratan.


Pada daerah Candikusuma sampai Melaya terdapat banyak

bukit

rendah yang merupakan trumbu terbentuk pada alas konglomerat


dan diatasnya menimbun longgokan kedalam formasi Palasari, suatu
bentukan muda karena pengungkitan endapan disepanjang tepi laut.

g. Formasi batuan gunungapi kwarter


Kegiatan vulkanis pada kwarter menghasilkan terbentuknya sejumlah
kerucut yang umumnya kini telah tidak aktif lagi. Gunungapi tersebut
menghasikan batuan tufa dan endapan lahar Buyan-Beratan dan
Batur, batuan gunungapi Gunung Batur, batuan gunungapi Gunung
Agung, batuan gunungapi Batukaru, lava dari gunung Pawon dan
batuan gunungapi dari kerucut-kerucut subresen Gunung Pohen,
Gunung

Sangiang

dan

gunung

Lesung.

Gunungapi-gunungapi

tersebut dari keseluruhannya hanya dua yang kini masih aktif yaitu
Gunung Agung dan Gunung Batur di dalam Kaldera Batur.

Tabel 5.1.

Stratigrafi regional pulau Bali berdasarkan Peta Geologi Bali


menurut Dony Purnomo, (2010).
Kala Geologi
Formasi

Kwarter

Endapan aluvium terutama di sepanjang pantai,


tepi Danau Buyan, Bratan, dan Batur
Batuan gunung api dari krucut subresen Gunung
Pohen, Gunung Sangiang, Gunung Lesung
Lava dari Gunung Pawon
Batuan dari gunung api Gunung Batukaru
Batuan gunung api Gunung Agung
Batuan gunung api Gunung Batur

Kwarter bawah

Tufa dari endapan lahar Buyan-Bratan dan Batur


Formasi Palasari: konglomerat, batu pasir,
batu gamping terumbu
Batuan gunung api Gunung Sraya
Batuan gunung api Buyan-Bratan Purba dan
Batur Purba
Batuan gunung api Jembrana: lava, breksi, dan
tufa
dari Gunung Klatakan, Gunung Merbuk, Gunung
Patas,
dan batuan yang tergabung

Pliosen

Miosen - Pleosen
Miosen Tengah-Atas
Miosen Bawah-Atas

Formasi Asah: lava, breksi, tufa batuapung,


dengan isian rekahan bersifat gampingan
Formasi Prapat Agung: batu gamping, batu pasir
gampingan,
napal
Batuan gunung api Pulaki: lava dan breksi
Formasi Selatan: terutama batugamping
Formasi Sorga: tufa, napal, batu pasir
Formasi Ulukan: breksi gunung api, lava, tufa
dengan sisipan batuan gampingan

5.1.1.3 Struktur Geologi Regional


Struktur geologi regional P.Bali dimulai dengan adanya kegiatan di lautan
selama kala Miosen Bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan
breksi yang disisipi oleh batu gamping. Di bagian selatan terjadi
pengendapan oleh batu gamping yang kemudian membentuk Formasi
Selatan.

Di

jalur

yang

berbatasan

dengan

tepi

utaranya

terjadi

pengendapan sedimen yang lebih halus. Pada akhir kala Pliosen, seluruh
daerah pengendapan itu muncul di atas permukaan laut. Bersamaan
dengan pengangkatan, terjadi pergeseran yang menyebabkan berbagai
bagian tersesarkan satu terhadap yang lainnya. Umumnya sesar ini
terbenam oleh bahan batuan organik atau endapan yang lebih muda.
Selama kala Pliosen, di lautan sebelah utara terjadi endapan berupa
bahan yang berasal dari endapan yang kemudian menghasilkan Formasi
Asah. Di barat laut sebagian dari batuan muncul ke atas permukaan laut.
Sementara ini semakin ke barat pengendapan batuan karbonat lebih
dominan. Seluruh jalur itu pada akhir Pliosen terangkat dan tersesarkan.
Kegiatan gunung api lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan
gunung api dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera,
yaitu mula-mula kaldera Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau
Bali masih mengalami gerakan yang menyebabkan pengangkatan di
bagian utara. Akibatnya, Formasi Palasari terangkat ke permukaan laut
dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai penampang Utara-Selatan
yang tidak simetris. Bagian selatan lebih landai dari bagian Utara.

Stratigrafi regional berdasarkan Peta Geologi Bali geologi Bali tergolong


masih muda. Batuan tertua kemungkinan berumur Miosen Tengah. Peta
Geologi Regional P Bali dan lokasi rencana waduk Telaga Waja dapat

Gambar 5.1. . Peta geologi regional P. Bali-Telaga Waja

dilihat pada Gambar 1.