Anda di halaman 1dari 14

GEOMORFOLOGI

Hubungan Morfologi, Statigrafi, Struktur Geologi


dengan Pola Pengaliran dan Metode Geofisika
A. Pola Pengaliran
Pola pengaliran adalah rangkaian bentuk aliran-aliran sungai pada daerah lemah tempat erosi
mengambil bagian secara aktif serta daerah rendah tempat air permukaan mengalir dan berkumpul (A.D.
Howard, 1967).
1.
2.
3.
4.

Kalimat di atas dapat dipahami sebagai:


Rangkaian bentuk aliran-aliran sungai: terdapat lebih dari satu aliran sungai dan terdiri atas aliran utama,
cabang, dan ranting sungai.
Pada daerah lemah: atau zona lemah, yaitu bidang perlapisan, bidang kekar dan sesar atau bidang
diskontinuitas.
Tempat erosi mengambil bagian secara aktif: artinya terdapat daya tahan terhadap erosi yang berbeda-beda,
tergantung batuannya (litologi).
Daerah rendah tempat air permukaan mengalir dan berkumpul: faktor lereng dan bentuklahan.
Berdasarkan pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pola pengaliran merupakan fungsi

dari:
1. Topografi (kelerengan).
2. Bentuklahan.
3. Tingkat erosi (resistensi batuan).
4. Litologi (ukuran butir-pelapukan).
5. Struktur geologi (kekar, sesar, lipatan, dan perlapisan batuan).
6. Iklim (curah hujan dan vegetasi) serta infiltrasi (peresapan).
1
2
3
4
5

Berbekal peta topografi, maka antara lain dapat dilakukan interpretasi:


Pola pengaliran dasar dan berbagai ubahannya: mengungkap makna bentuklahan, lereng, litologi dan
resistensinya, serta struktur geologi.
Penyimpangan aliran: mengungkap makna bentuklahan, lereng, litologi dan resistensinya, serta struktur
geologi.
Tekstur pengaliran: mengungkap makna litologi dan resistensinya.
Bentuk lembah: mengungkap makna litologi dan resistensinya.
Tempat mengalirnya: mengungkap makna litologi dan resistensinya.

Dengan mengamati dan menganalisis pola pengaliran, maka dapat ditafsirkan kondisi kelerengannya,
bentuklahan, litologi dan resistensinya, serta struktur geologi.

B. Macam-macam pola pengaliran (Howard, 1967)


Pola Pengaliran Dasar (Gambar 4.1)
1 Dendritik
- Bentuk menyerupai cabang-cabang pohon,
- Mencerminkan resistensi batuan atau homogenitas tanah yang seragam,
- Lapisan horisontal atau miring landai,
- Kontrol struktur kurang berkembang.

Paralel
- Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang sejajar atau paralel pada bentangalam yang
memanjang.
- Mencerminkan kelerengan yang cukup besar, curam, dan hampir seragam.
- Bentuk aliran sungai akan sedikit berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang
cabang sungai yang sangat sedikit
- Pola aliran pararel kadangkala mengindikasi adanya suatu patahan besar yang memotong daerah
yang batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam
Trellis
- Terbentuk dari cabang-cabang sungai kecil yang berukuran sama, dengan aliran tegak lurus
sepanjang sungai induk subsekuen yang paralel.
- Terdapat pada daerah lipatan, patahan yang paralel, daerah blok punggungan pantai hasil
pengangkatan dasar laut, daerah vulkanik atau metasedimen derajat rendah dengan pelapukan yang
berbeda-beda.
Rectangular
- Aliran cabang sungai tegak lurus terhadap sungai induk
- Aliran memotong daerah secara tidak menerus,
- Mencerminkan kekar/sesar yang saling tegak lurus, tidak serumit pola trellis.
Radial
- Bentuk aliran seolah memancar dari satu titik pusat berasosiasi dengan tubuh gunungapi atau kubah
berstadia muda,
- Dalam konsep Davis, pola radial ini adalah menyebar dari satu titik pusat (sentrifugal), sedangkan
kalsifikasi lain menyatakan pola radial mencakup dua sistem pola pengaliran yaitu ; sentrifugal dan
sentripetal.
Annular
- Cabang sungai mengalir tegak lurus sungai utama yang melingkar,
- Pada struktur kubah, cekungan, atau pada intrusi stock yang tererosi,
- Sungai dikontrol pola sesar atau kekar pada bedrock.
Multibasinal
- Pada daerah endapan antar bukit, batuan dasar yang tererosi,
- Ditandai adanya cekungan-cekungan yang kering atau terisi air yang saling terpisah, aliran yang
terputus dan arah aliran yang berbeda-beda,
- Pada daerah aktif gerakan tanah, vulkanik, dan pelarutan batugamping.
Contorted
- Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang relatif tegak lurus terhadap sungai induk
subsekuen yang melengkung,
- Dibedakan dari recurved trellis dengan ciri daerahnya yang tidak teratur, dikontrol struktur sesar,
lipatan menunjam, atau pada daerah labil.

Gambar 4.1. Pola pengaliran dasar (Howard, 1967).


Ubahan pola pengaliran dendritik (Gambar 4.2)
1 Subdedritik
- Modifikasi dari pola dendritik, karena pengaruh dari topografi dan struktur,
- Topografi sudah miring, struktur geologi sudah berperan tetapi kecil.
2 Pinnate
Tekstur rapat pada daerah yang sudah tererosi lanjut,
Tidak ada kontrol struktur pada daerah landai dengan litologi bertekstur halus (batulanau,
batulempung dll).
3 Anastomatik
Jaringan saluran saling mengikat,
Terdapat didaerah dataran banjir, delta dan rawa, pasang surut.
4 Distributary
Bentuknya menyerupai kipas,
Terdapat pada kipas aluvial dan delta.

Ubahan pola pengaliran paralel (Gambar 4.2)


1 Subparalel
- Kemiringan lereng sedang atau dikontrol oleh bentuklahan subparalel
- Dikontrol oleh lereng, litologi dan struktur,
- Lapisan batuan relatif seragam resistensinya.
2 Coliniar
- Kelurusan sungai atau aliran yang selang-seling antara muncul dan tidak, memanjang diantara
punggungan bukit pasir pada gurun pasir landai dan loess.
Ubahan pola pengaliran trellis (Gambar 4.2)
1. Directional trellis
- Anak sungai lebih panjang dari sungai utama,
Dijumpai pada daerah homoklin, dengan kemiringan landai.
2. Fault trellis
- Kelurusan sungai-sungai besar adalah sebagai kelurusan sesar,
Menunjukkan graben dan hors secara bergantian.
3. Joint trellis
Kontrol strukturnya adalah kekar,
Ditandai oleh aliran sungai yang pendek-pendek, lurus dan sejajar.

Gambar 4.2 Pola pengaliran ubahan (Howard, 1967).


Ubahan pola pengaliran rectangular (Gambar 4.3)
1 Angulate
- Kelokan tajam dari sungai kemungkinan akibat sesar,
- Kelurusan anak sungai diakibatkan kekar,
- Pada litologi berbutir kasar dengan kedudukan horisontal,
- Biasanya angulate dan rectangular terdapat bersama dalam satu daerah.
Ubahan pola pengaliran radial (Gambar 4.3)
1 Centripetal
- Pola ini berhubungan dengan kawah, kaldera, dolena besar atau uvala,
- Beberapa pola centripetal yang bergabung menjadi multicentripetal.

Gambar 4.3 Pola pengaliran ubahan (Howard, 1967).


Penggabungan dari beberapa pola dasar dan perkembangan pola baru
1 Complex
- Ada lebih dari satu pola dasar yang bergabung dalam satu daerah,
- Kontrol struktur, topografi dan litologi sangat dominan,
- Terdapat didaerah "Melange".
2 Compound
Terdiri dari dua pola kontemporer,
Kombinasi pola radial dan anular yang merupakan sifat kubah.
3 Palimpsest
Sungai tua atau pola tua yang sudah ditinggalkan dan membentuk pola baru,
Merupakan daerah pengangkatan baru.

C. Penyimpangan Aliran

Pola pengaliran merupakan fungsi darii topografi (kelerengan), tingkat erosi


(resistensi batuan), litologi (ukuran butir-pelapukan), struktur geologi (kekar, sesar, lipatan,
dan pelapisan batuan), iklim (curah hujan dan vegetasi), serta infiltrasi (peresapan).
Dengan mengamati dan menganalisa pola pengaliran, maka dapat ditafsirkan kondisi,

kelerengannya, bentuklahan, litologi, dan resistensinya, serta struktur geologi. Kajian


penyimpangan aliran sangat penting terutama pada daerah yang datar dan dapat bersifat
lokal.
Penyimpangan aliran dapat terjadi apabila penyimpangan arah aliran sungai (bentuk
paling sederhana adalah pembelokan sungai arah aliran). Penyimpangan ini dapat
disebabkan oleh berkembang atau terjadi perulangan proses dari satu fungsi pola
pengaliran ( gambar 5.1 , 5.2, dan 5.3)

Gambar 5.1 macam-macam penyimpangan aliran

Macam penyimpangan aliran


1. Rectilinearity
- Bagian sungai yang lurus dan panjang,
-

tetapi menyimpang dari pola umum daerah.


Diinterpretasi sebagai tanggul alam yang
tererosi atau adanya rekahan.

2. Local Meandering
- Adanya meander yang tiba-tiba secara
-

lokal (local meandering)


Diinterpretasikan sebagai munculnya kubah
yang dihubungkan dengan pengangkatan di
ladang minyak Lafitte, N.Orleans

3. Compressed meanders
- Adanya meander yang tertekan dan terpotong.
- Diinterpretasikan sebagai adanya kubah

4. Local braiding
- Bentuk teranyam yang muncul secara
lokal akibat kubah garam di Scully,
New Orleans.
Braided stream disebabkan oleh:
a. Beban kasar lokal atau berkurangnya kekuatan
arus.
b. Berkurangnya jumlah air karena
adanya aliran bawah permukaan lokal.
5. Pitched valley dan Anomalous flare in falley
- Penyempitan dan perluasan lembah atau saluran sungai akibat adanya
pengangkatan dangkal secara lokal

6. Anomalous ponds, marsh, or alluvial fill


- Adanya kolam, danau, rawa, atau pengisian
-

endapan aluvial secara setempat.


Kondisi ini menunjukkan bahwa

pembentukannya disebabkan oleh naik


turunnya daerah setempat ke arah hilir atau
faktor gerakan tanah.
7. Variations in levee width
- Penyimpangan lebar tanggul alam yang
melebar dapat disebabkan oleh adanya
amblesan, percabangan, atau penggabungan
sungai. Dapat pula akibat adanya struktur
terbenam, seperti kubah.

8. Flying levees
- Di daerah delta dapat terjadi lembah sungai
lama telah turun di bawah permukaan rawa
dan hanya sedikit yang bertahan muncul di
permukaan. gejala ini bisa ditafsir-kan
adanya kubah.

9. Anomalous curves and turns


- Bentuk melengkung, membalik atau
pembelokan secara tiba-tiba pada daerah
datar, maka diinterpretasikan sebagai adanya
kubah, sesar aktif, lipatan, batuan resisten
atau jurus lapisan.

D. Tekstur Pengaliran
Dalam pola pengaliran sungai terdapat juga tekstur pengaliran, sungai yang mengalir diatas batuan
yang tidak/kurang resisten terhadap erosi akan membentuk tekstur sungai yang halus (rapat) sedangkan
pada batuan yang resisten (seperti granit) akan membentuk tekstur kasar (renggang). tekstur sungai di
definisikan
sebagai panjang sungai per satuan luas. mengapa demikian ? hal ini dapat di jelaskan bahwa
resistensi batuan terhadap erosi sangat berpengaruh pada proses pembentukan alur-alur sungai batuan yang
tidak resisten akan cenderung lebih mudah dierosi membentuk alur-alur sungai. Jadi suatu sistem
pengaliran sungai yang mengalir pada batuan yang tidak resisten akan membentuk pola jaringan sungai
yang rapat (tekstur halus), sedangkan sebaliknya, pada batuan yang resisten akan membentuk tekstur kasar.
Menurut way (1920), tekstur pengaliran adalah jarak terdekat antar sungai-sungai orde 1 yang
dinyatakan secara relatif, yaitu halus, sedang, dan kasar pada skala 1:20.000 (gambar 5.4 dan tabel 5.1),
Semakin dekat jarak antar sungai orde 1, maka tekstur pengalirannya semakin halus, dan sebaliknya.
Tekstur pengaliran merupakan fungsi dari litologi dan resistensi batuan (tingkat erosi suatu daerah).

Gambar 5.4 Tekstur pengaliran pada skala 1:20.000 (Way, 1920)

Tekstur Pengaliran
Halus
Sedang
Kasar

Jarak Sungai orde 1 (Inchi atau


cm)
<0,25 inchi atau <0,635 cm
0,25-2 inchi atau 0,635 5,08
cm
>2 inchi atau >5,08 cm

Tabel 5.1 Penentuan tekstur pengaliran pada skala 1:20.000 (Way, 1920)

E. Bentuk Lembah
Klasifikasi lembah sungai berdasarkan pada tahapan siklus geomorfik adalah yang paling banyak
dipergunakan. Penamaannya tergantung pada sifat - sifat erosinya yang berkembang pada tahapan yang
berbeda - beda selama perkembangan evolusinya, dan penamaan ini tdak berhubungan dengan umur atau
waktu tetapi lebih ke arah hubungan antara erosi dengan kondisi geologi dan struktur geologinya.
Berdasarkan sistem ini, lembah sungai terbagi maenjadi :
a) Lembah sungai muda
Cirinya :
Lembahnya berbentuk V
Erosinya vertikal sangat intensif
Banyak percepatan pada pola alirannya atau jeram jeram dan air terjun.
Pada wilayah ini struktur batuannya benar-benar sangat kokoh.
Pada peta ditunjukan dengan garis kontur yang sangat rapat.
b) Lembah sungai dewasa
Cirinya :
Erosi lateral telah bekerja
Sedimentasi dan erosi mulai sebanding sehingga menghasilkan sungai yang relatif simetris.
Mulai memperlihatkan kelokan kelokan dengan sudut besar.
struktur batuannya sudah mulai mengalami peguatan dari struktur kuat, karena sudah banyak proses
erosi dan sedimentasi.
c) Lembah sungai tua
Cirinya :
Proses sedimentasi lebih besar dari pada erosi
Mempunyai bentuk bentuk yang khas seperti pola berkelok kelok tajam
Adanya danau punuk sapi dan tanggul alam.
Penyempitan dan pelebaran tanah

Perubahan arah aliran secara mendadak atau tiba-tiba.

F. Tempat mengalirnya air


1
2

Bedrock stream, aliran sungai yang mengalir di atas batuan dasarnya.


Aluvial stream, aliran sungai yang mengalir di atas endapa alluvial

G. Hubungan Geomorfologi, Stratigrafi, dan Struktur geologi dengan metode Geofisika


- Hubungan Geomorfologi dengan Metode Geofisika
Dalam Eksplorasi Mineral, geomorfologi di gunakan sebagai digunakan dalam tahap enterprentasi
awal bentang lahan, melalui geomorfologi, akan terlihat struktur-struktur geologi seperti sesar, lipatan,
kekar, pola pengaliran, statigrafi dan litologi batuan, yang di dalamnya kemungkinan terdapat cebakancebakan mineral, yang kemudian akan lebih di teliti lagi dengan metode-metode geofisika

- Metode-metode Geofisika
1. Metode Gravitasi (metode gayaberat)
Dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan berdasarkan perbedaan rapat masa
cebakan mineral dari daerah sekeliling (r=gram/cm3). Metode ini adalah metode geofisika yang
sensitive terhadap perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini disukai untuk mempelajari kontak
intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai purba, lubang di dalam masa batuan, shaff
terpendam dan lain-lain.
Pengukuran ini dapat dilakukan dipermukaan bumi, di kapal maupun diudara. Dalam metode
ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan di bawah
permukaan sehingga dalam pelaksanaannya yang diselidiki adalah perbedaan medan gravitasi dari
suatu titik observasi terhadap titik observasi lainnya.
Metode gravitasi umumnya digunakan dalam eksplorasi jebakan minyak (oil trap).
Disamping itu metode ini juga banyak dipakai dalam eksplorasi mineral dan lainnya. Beberapa
endapan seperti zinc, bauksit, atau barit sangat sulit dideteksi melalui metoda magnetik maupun
elektrik, namun dapat dideteksi dengan metoda gaya berat (gravity), tapi hanya untuk mengetahui
profil batuan sampingnya (tidak dapat langsung mendeteksi bijihnya) melalui anomali densiti
Prinsip pada metode ini mempunyai kemampuan dalam membedakan rapat massa suatu
material terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian struktur bawah permukaan dapat
diketahui. Pengetahuan tentang struktur bawah permukaan ini penting untuk perencanaan langkahlangkah eksplorasi baik minyak maupun mineral lainnya.
Metode Gravitasi berhubungan dengan statigrafi dan struktur geologi

2. Metode Magnetik
Metode dilakukan dengan berdasarkan pada hasil pengukuran anomaly geomagnet yang
diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas, atau permeabilitas magnetik tubuh cebakan dari
daerah di sekelilingnya. Perbedaan permeabilitas relatif itu diakibatkan oleh perbedaan distribusi
mineral ferromagnetic, paramagnetic, dan diamagnetic. Metode ini sensitive terhadap perubahan
vertical, umumnya digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal
yang kaya akan mineral ferromagnetic, struktur geologi. Dan metode ini juga sangat disukai pada
studi geothermal karena mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila
dipanasi mendekati temperatur Curie oleh karena itu digunakan untuk mempelajari daerah yang
dicurigai mempunyai potensi Geothermal.

Metode eksplorasi disukai karena data acquitsition dan data proceding dilakukan tidak
serumit metoda gaya berat. Penggunaan filter matematis umum dilakukan untuk memisahkan
anomaly berdasarkan panjang gelombang maupun kedalaman sumber anomaly magnetic yang ingin
diselidiki
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di
permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah
permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif
besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi
bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan
geologi yang mungkin.
Metode magnetik berhubungan dengan struktur geologi, litologi batuan

3. Metode Seismik
Metoda seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada pengukuran
respon gelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam tanah dan kemudian direleksikan atau
direfraksikan sepanjang perbedaan lapisan tanah atau batas-batas batuan. Sumber seismik umumnya
adalah palu godam (sledgehammer) yang dihantamkan pada pelat besi di atas tanah, benda bermassa
besar yang dijatuhkan atau ledakan dinamit. Respons yang tertangkap dari tanah diukur dengan
sensor
yang
disebut
geofon,
yang
mengukur
pergerakan
bumi.
Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang dikelompokkan dalam
metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan dengan menggunakan sumber seismic (palu,
ledakan, dll). Setelah usikan diberikan, terjadi gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan)
yang memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun
pembiasan akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan
partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat diperkirakan
bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.
Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik refleksi maupun refraksi.
Ada beberapa anggapan mengenai medium dan gelombang dinyatakan sebagai berikut :
a Anggapan yang dipakai untuk medium bawah permukaan bumi antara lain :
- Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang
seismik dengan kecepatan berbeda.
- Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin kompak.
b Anggapan yang dipakai untuk penjalaran gelombang seismik adalah :
- Panjang gelombang seismik.
- Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi hukum Snellius dan
prinsip Huygens.
- Pada batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan kecepatan gelombang
padalapisan di bawahnya.
- Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Metode seismik sering
digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara, pencarian air tanah (ground water),
kedalaman serta karakterisasi permukaan batuan dasar (characterization bedrock surface),
pemetaan patahan dan stratigrafi lainnya dbawah permukaan dan aplikasi geoteknik.
Metode seismik berhubungan dengan struktur geologi, stratigrafi

4. Metode Geolistrik ( resistivas )


Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di
dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi
pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun
akibat injeksi arus ke dalam bumi. Ada beberapa macam metoda geolistrik, antara lain : metode
potensial diri, arus telluric, magnetoteluric, elektromagnetik, IP (Induced Polarization), resistivitas
(tahanan jenis) dan lain-lain.
Dalam bahasan ini dibahas khusus metode geolistrik tahanan jenis. Pada metode geolistrik
tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus.Kemudian beda
potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda
potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan variasi harga
hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur (sounding point).
Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, jarang
memberikan informasi lapisan di kedalaman lebih dari 1000 feet atau 1500 feet. Oleh karena itu
metode ini jarang digunakan untuk eksplorasi munyak tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang
engineering geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air, juga
digunakan dalam eksplorasi geothermal. Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda arus,
dikenal beberapa jenis metode resistivitas tahanan jenis ( Metode Schumberger, Wenner, dan
Dipole-dipole )
metode geolistrik di hubungkan dengan statigrafi
5. Metode Elektromagnetik VLF (Very Low Frequency)
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam prospeksi geofisika adalah metode
elektromagnetik. Metode elektromagnetik biasanya digunakan untuk eksplorasi benda-benda
konduktif. Perubahan komponen-komponen medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk
menentukan struktur bawah permukaan. Medan elektromagnetik yang digunakan dapat diperoleh
dengan sengaja membangkitkan medan elektromagnetik di sekitar daerah observasi, pengukuran
semacam ini disebut teknik pengukuran aktif. Contoh metode ini adalah Turam elektromagnetik.
Metode ini kurang praktis dan daerah observasi dibatasi oleh besarnya sumber yang dibuat
Metode Elektromagnetik Berhubungan dengan Litologi batuan, dan struktur bawah
batuan/stratigrafi
6. Metode Radioaktif
Yaitu mengukru sifat radioaktif bebatuan, terutama pada eksplorasi mineral yang
mengandung radioaktif. Untuk pencarian cebakan mineral yang mengandung uranium digunakan
peralatan yakni geigercounter ataupunscillometer untuk mengukur besarnya radiasi persatuan
waktu. Dengan penggunaan alat tersebut maka metoda ini dapat dimasukkan dalam salah satu cara
prospeksi geofisika. Pada lubang pemboran kadang dilakukan deteksi litologi dengan alatneutronlog, sedangkan scillometer dipakai pada operasional dengan pesawat udara.
Metode Radioaktif berhubungan dengan Litologi batuan
Hubungan antara metode geofisika dengan Geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi dapat
digambarkan dalam tabel di bawah ini :

Metode Gravitasi
Metode Magnetik

Geomorfologi

Metode Seismik
Metode Geolistrik

Stratigrafi
Metode Elektromagnetik

Struktur Geologi

Metode Radioaktif