Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN DISKUSI

MODUL ETNOMEDIK et FARMAKA


PEMICU 2
Kelompok Diskusi 3

:
1.

Dey Shie

(I11108083)

2.

Ullis Mawardhani

(I11111046)

3.

Jovi Pardomuan Siagian

(I11112008)

4.

Syed M. Zulfikar Fikri

(I11112016)

5.

Adela Brilian

(I11112020)

6.

Herick Alvenus Willim

(I11112022)

7.

Fawaid Akbar

8.

Alvina Elsa Bidari

9.

Riko Kuswara

(I11112029)
(I11112038)
(I11112068)

10. Christina Wiyaniputri

(I11112070)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Pemicu
Aloe vera adalah tanaman khas Kalimantan Barat. Aloe vera biasa dimanfaatkan
untuk industri makanan dan minuman. Ryan dan Jefri adalah mahasiswa FK Untan yang
melakukan penelitian terhadap khasiat tanaman Aloe vera. Pada penelitian mereka
didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol Aloe vera memiliki khasiat hepatoprotektor yang
dapat dibuktikan dengan penurunan aktivitas enzim alanin aminotransferase pada plasma
tikus yang diinduksi parasetamol.

B.

Klarifikasi dan Definisi


a. Hepatoprotektor, yaitu senyawa obat yang memiliki efek terapeutik untuk memulihkan,
memelihara dan mengobati kerusakan fungsi hati.

C.

Kata Kunci
a. Aloe vera
b. Hepatoprotektor
c. Enzim alanine aminotransferase

D.

Rumusan Masalah
Mengapa Aloe vera memiliki khasiat hepatoprotektif?

E.

Analisis Masalah
Tanaman Obat

Tanaman Obat
di Kalimantan
Barat

Determinasi
Tanaman

F.

Simplisia
Proses pengolahan sampel
Metode penyarian
Kelebihan dan kekurangan
Syarat
Proses penyimpanan

Aloe vera

Ekstrak etanol
Proses pembuatan
Kelebihan dan kekurangan

Hipotesis
Aloe vera memiliki khasiat hepatoprotektif karena Aloe vera mengandung metabolit
sekunder yang dapat menurunkan derajat kerusakan hepar.

G.

Pertanyaan Diskusi
a. Apa yang dimaksud dengan determinasi tanaman?
b. Jelaskan mengenai simplisia, berdasarkan poin-poin berikut:
i. Prosedur pengolahan
ii. Proses penyimpanan
iii. Pengukuran kadar air
iv. Syarat
v. Kelebihan dan kekurangan
c. Jelaskan mengenai metode-metode ekstraksi.
d. Jelaskan mengenai ekstrak etanol, berdasarkan poin-poin berikut:
i. Proses pembuatan
ii. Kelebihan dan kekurangan
e. Jelaskan mengenai proses skrining fitokimia.
f. Jelaskan mengenai Aloe vera, berdasarkan poin-poin berikut:
i. Klasifikasi
ii. Morfologi
iii. Dosis toksik
iv. Proses pengolahan
v. Metabolit
vi. Penggunaan empiris
vii. Manfaat
viii. Kandungan gizi
3

g. Jelaskan mengenai evidence-based medicine.


h. Jelaskan mengenai aspek medikolegal penggunaan obat tradisional.
i. Jelaskan mengenai tahapan-tahapan pengembangan suatu obat baru.
j.
Jelaskan mengenai enzim alanin aminotransferase.

BAB II
PEMBAHASAN
A.
B.

Proses Determinasi Tanaman


Prosedur Pembuatan SimplisiaDepkesRI
a. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbedabeda antara lain tergantung
pada:
1) Bagian tanaman yang digunakan
2) Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen
3) Waktu panen
4) Lingkungan tempat tumbuh
Waktu panen sangat erat hubunganya dengan pembentukan senyawa aktif di
dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian
tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa
aktif tersebut secara maksimal di dalam bagian tanaman atau tanaman pada umur
tertentu. Di samping waktu panen yang dikaitkan dengan umur, perlu diperhatikan pula
saat panen dalam sehari. Dengan demikian untuk menentukan waktu panen dalam sehari
perlu dipertimbangkan stabilitas kimia dan fisik senyawa aktif dalam simplisia terhadap
panas sinar matahari.
b. Sortasi Basah
4

Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran kotoran atau bahan bahan
asing lainya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu
tanaman obat, bahan bahan seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang
telah rusak, serta pengotor lainya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari
mata air, air dari sumur atau air PAM.
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan
penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur
dengan keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan
alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran
yang dikehendaki.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktu yanglebih lama. Dengan mengurang kadar air
dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan
simplisia.
f. Sortasi kering
Sortasi setelah engeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda benda asing seperti bagian
bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotor pengotor lain yang masih ada dan
tertinggal pada simplisia kering.
g. Pengepakan dan penyimpanan
Pada penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat
mengakibatkan kerusakan simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan
pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara
pengawetanya. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utama adalah air dan
kelembaban. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan
5

penggunaan pengemasaan. Bahan dan bentuk pengemasanharus sesuai, dapat


melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi
pemanfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan maupun penyimpananya.
h. Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian
dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa
simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang
disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia ataupum
Materia Medika Indonesia Edisi terakhir.
C.

Metode Ekstraksi
Menurut Harborne dan Dirjen POM, terdapat 5 metode ekstraksi atau penyarian yang
sering digunakan. Kelima metode tersebut adalah sebagai berikut:Harborne*,DPOM
a. Ekstraksi secara soxhletasi
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya ekstraksi secara berkesinambungan.
Cairan penyari dipanaskan sampai mendidih. Uap penyari akan naik melalui pipa
samping, kemudian diembunkan lagi oleh pendingin tegak. Cairan penyari turun untuk
menyari zat aktif dalam simplisia. Selanjutnya bila cairan penyari mencapai sifon, maka
seluruh cairan akan turun ke labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian
seterusnya sampai zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari seluruhnya yang
ditandai jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon.
b. Ekstraksi secara perkolasi
Perkolasi dilakukan dengan cara dibasahkan 10 bagian simplisia dengan derajat
halus yang cocok, menggunakan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari dimasukkan
dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Massa dipindahkan sedikit demi
sedikit ke dalam perkolator, ditambahkan cairan penyari. Perkolator ditutup dibiarkan
selama 24 jam, kemudian kran dibuka dengan kecepatan 1 ml permenit, sehingga
simplisia tetap terendam. Filtrat dipindahkan ke dalam bejana, ditutup dan dibiarkan
selama 2 hari pada tempat terlindung dari cahaya.
c. Ekstraksi secara maserasi
Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan 10 bagian simplisia dengan derajat
yang cocok ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan penyari 75 bagian, ditutup dan
dibiarkan selama 5 hari, terlindung dari cahaya sambil diaduk sekali-kali setiap hari lalu
diperas dan ampasnya dimaserasi kembali dengan cairan penyari. Penyarian diakhiri
6

setelah pelarut tidak berwarna lagi, lalu dipindahkan ke dalam bejana tertutup, dibiarkan
pada tempat yang tidak bercahaya, setelah dua hari lalu endapan dipisahkan.
d. Ekstraksi secara refluks
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan.
Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat
yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan
penyari akan menguap, uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan
kembali menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya. Ekstraksi ini
biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam.
e. Ekstraksi secara penyulingan
Penyulingan dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang
mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih yang tinggi pada tekanan
udara normal, yang pada pemanasan biasanya terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk
mencegah hal tersebut, maka penyari dilakukan dengan penyulingan.
D.

Ekstrak Etanol
a. Proses Pembuatan
b. Kelebihan dan Kekurangan

E.

Proses Skrining Fitokimia


Proses skirining fitokimia tergantung pada metabolit yang keberadaannya ingin
dikonfirmasi. Umumnya, metabolit yang sering diuji fitokimia adalah flavonoid, alkaloid,
tanin, saponin, terpenoid dan steroid. Berikut metode skrining kelima senyawa
tersebut.Lailatul*
a. Flavonoid
Infusa sampel sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan dengan serbuk Mg sebanyak 1 g dan larutan HCl pekat. Perubahan warna
larutan menjadi kuning menandakan adanya kandungan flavonoid.
b. Alkaloid
Infusa sampel sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan 5 tetes kloroform dan beberapa tetes pereaksi Meyer yang dibuat dari 1 g
KI dilarutkan dalam 20 ml akuades sampai semuanya larut, lalu ke dalam larutan KI
tersebut ditambahkan 0,271 g HgCl2 sampai larut. Terbentuknya endapan putih
mengindikasikan adanya alkaloid.
c. Tanin
7

Beberapa tetes larutan FeCl3 5% ditambahkan ke dalam 1 ml larutan Infusa.


Perubahan warna menjadi biru tua menunjukkan keberadaan tanin.
d. Saponin
Infusa sampel sebanyak 2 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan dengan air dan dikocok dengan kuat selama 10 menit. Jika berbuih,
menandakan adanya saponin.
5. Terpenoid atau Steroid
Infusa sampel sebanyak 1 mL ditambahkan dengan 1 mL CH3COOH glacial dan 1
mL larutan H2SO4 pekat. Jika warna berubah menjadi biru atau ungu, menandakan
adanya kelompok senyawa steroid. Jika warna berubah menjadi merah, menunjukkan
adanya kelompok senyawa terpenoid.
F.

Aloe vera
a. Klasifikasi
Klasifikasi ilmiah atau taksonomi dari lidah buaya menurut Bajwa et al. adalah
sebagai berikut:Bajwa*
Kingdom : Plantae
Division : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Liliflorae
Family : Liliceae
Genus : Aloe
Species : Aloe vera
b. Morfologi
Lidah buaya sama seperti tanaman lainnya yang mempunyai struktur akar, batang,
daun dan bunga, namun yang sering digunakan di dalam pengobatan adalah bagian
daun. Daun lidah buaya merupakan daun tunggal berbentuk tombak dengan helaian
memanjang berupa pelepah dengan panjang mencapai kisaran 4060 cm dan lebar
pelepah bagian bawah 813 cm dan tebal antara 23 cm.

Furnawanthi*

Daunnya berdaging

tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu- abuan dan mempunyai lapisan lilin di
permukaan serta bersifat sukulen, yakni mengandung air, getah dan lendir yang
8

mendominasi daun.

Furnawanthi*

Bagian atas daun rata dan bagian bawahnya membulat

(cembung). Daun lidah buaya muda memiliki bercak berwarna hijau pucat sampai putih.
Bercak ini akan hilang saat daun lidah buaya dewasa. Namun tidak demikian halnya
dengan tanaman lidah buaya jenis kecil atau lokal.

Furnawanthi*

Hal ini kemungkinan

disebabkan faktor genetiknya. Sepanjang tepi daun berjajar gerigi atau duri yang tumpul
dan tidak berwarna.Furnawanthi*
c. Dosis Toksik
d. Proses Pengolahan
e. Metabolit
Metabolit-metabolit yang terkandung di dalam daging lidah buaya menurut para
peneliti antara lain adalah lignin, saponin, anthraquinone, vitamin, mineral, gula dan
enzim, monosakarida dan polisakarida, asam-asam amino essensial dan non essensial
yang secara bersamaan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang menyangkut
kesehatan tubuh. Kekayaan akan kandungan bahan yang didapat berfungsi sebagai
bahan kosmetik, obat dan pelengkap gizi menjadikan lidah buaya sebagai tanaman
ajaib, karena tidak ada lagi tanaman lain yang mengandung bahan yang menguntungkan
bagi kesehatan selengkap yang dimiliki tanaman tersebut.Hartanto*
f. Penggunaan Empiris
g. Manfaat
Uji praklinik efek immunostimulant dibuktikan oleh Stuart yang menyebutkan
bahwa pemberian ancemannan secara in vitro ke dalam suspensi sel peritoneal mencit
dapat meningkatkan respiratory burst, fagositosis, aktivitas killing terhadap makrofag
dilakukan melalui reseptor mannose yang terdapat dipermukaan sel makrofag.Davis*
Uji praklinik efek antiinflamasi dibuktikan oleh Davis dalam penelitiannya
menggunakan mencit yang dibuat diabetes. Ternyata lidah buaya memiliki aktivitas
menghambat infiltrasi polymorphonuclear (PMN). Lidah buaya juga mempunyai
aktifitas antiinflamasi pada pemakaian topikal yang dibuktikan terhadap mengecilnya
edema yang diinduksi menggunakan croton-oil.Stuart*
h. Kandungan Gizi
Menurut Henry, unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin,
gum dan unsur lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir
daun lidah buaya mengandung beberapa mineral seperti Zn, K. Fe dan vitamin seperti
9

vitamin A.Henry* Komponen nutrien dalam 100 g gel lidah buaya dapat dilihat di Tabel
1.Morsy*
Komponen
Karbohidrat
Kalori
Lemak
Protein
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B3
Vitamin C
Kalsium
Zat besi

G.
H.

Jumlah
0,3 g
1.730-2.300 kal
0,05-0,09 g
0,010-0,061 g
2,0-4,6 IU
0,003-0,004
0,001-0,002
0,038-0,04
0,5-4,2 mg
9,92-19,92 mg
0,06-0,32 mg

Evidence-based Medicine
Aspek Medikolegal Penggunaan Obat Tradisional
Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi
persyaratan objektifitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. Obat tradisional
termasuk dalam sediaan farmasi dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang
harus mengikuti ketentuan sesuai pasal-pasal berikut dari UU tersebut:SekretariatRI
1. Pasal 100
(1) Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman digunakan dalam
pencegahan, pengobatan, perawatan, dan/atau pemeliharaan kesehatan tetap dijaga
kelestariannya.
(2) Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan bahan baku obat tradisional.
2. Pasal 101
(1) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah, memproduksi,
mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional
yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
(2) Ketentuan mengenai mengolah, memproduksi, mengedarkan, mengembangkan,
meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
3. Pasal 104
10

(1) Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan untuk melindungi
masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat
kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau
khasiat/kemanfaatan.
(2) Penggunaan obat dan obat tradisional harus dilakukan secara rasional.
I.

Tahapan Pengembangan Obat


Pada proses pengembangan obat, calon obat baru akan menjalani uji pra-klinis
terlebih dahulu. Tujuan utama uji pra-klinis adalah untuk menentukan dosis yang aman
untuk uji klinis pada manusia nantinya. Obat-obat pada uji pra-klinis akan menjalani uji
farmakodinamik, farmakokinetik dan toksisitas yang semuanya dilakukan pada hewan
coba. Pada umumnya, semua uji tersebut akan dilakukan secara in vitro dan in vivo.
Pengembangan kemudian akan dilanjutkan ke fase uji klinis yang memiliki 4 tahap.
Di fase pertama, obat akan diberikan pada responden sukarela yang sehat untuk
memastikan keamanan dan dosis pada manusia. Pada fase kedua, obat akan diberikan pada
sejumlah kecil responden yang sakit untuk mengobservasi efikasi dan lebih mendalami
keamanan obat tersebut. Fase ketiga memiliki perlakuan yang sama seperti fase kedua
hanya saja terjadi peningkatan jumlah responden yang signifikan. Umumnya setelah
melewati ketiga fase tersebut suatu obat akan mendapatkan izin edar. Fase keempat dimulai
setelah obat mulai beredar bebas di pasar di mana efek-efek terhadap responden-responden
yang tidak termasuk kriteria inklusi pada ketiga fase sebelumnya diamati.

J.

Enzim Alanin Aminotransferase


Alanin aminotransaminase (ALT) atau yang dijuga dinamakan SGPT merupakan
enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi
hepatoseluler. Kenaikan kadar ALT disebabkan oleh sel-sel yang kaya akan transaminase
mengalami nekrosis atau hancur. Enzim-enzim tersebut masuk ke dalam peredaran darah.
Kadarnya dalam darah tidak hanya disebabkan oleh kerusakan hati karena enzim-enzim
tersebut terutama GOT juga terdapat pada organ-organ tubuh yang lain. Speicher* ALT serum
umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara semi-otomatis atau
otomatis. Nilai rujukan untuk ALT adalah 0-50 U/L untuk pria dan 0-35 U/L untuk wanita.
Kondisi yang meningkatkan kadar ALT adalah sebagai berikut:
Hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitas obat atau kimia)
11

Infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan empedu ekstra hepatik,


sindrom Reye, dan infark miokard
Pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis biliaris

BAB III
KESIMPULAN
Aloe vera memiliki khasiat hepatoprotektif karena Aloe vera mengandung metabolit
sekunder yang dapat menurunkan derajat kerusakan hepar.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: Depkes


RI; 1985: h. 222.
Harborne JB. Metode Fitokimia. ITB: Bandung; 1987.

3.

Ditjen POM. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1986: h. 10-1.

4.

Lailatul L, Kadarohman A & Eko R. Efektivitas biolarvasida ekstrak etanol limbah


penyulingan minyak akar wangi (Vetiveria zizanoides) terhadap larva nyamuk Aedes
aegypti, Culex sp. dan Anopheles sundaicus. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia 1(1);
2010: h. 1-60.

5.

Bajwa R, Shafique S & Shafique S. Appraisal of antifungal activity of aloe vera.


Mycopath; 2007.

6.

Furnawanthi I. Khasiat dan manfaat lidah buaya si tanaman ajaib. Edisi 8. Jakarta
Selatan: PT. AgroMedia Pustaka; 2007: h. 1-29

7.

Hartanto ES & Lubis EH. Pengolahan Minuman Sari Lidah Buaya (Aloe vera Linn.). Warta
IHP/J. Agro-Based Industry; 2002.

8.

Davis RH. Topical effect of aloe with ribonucleic acid and vitamin C on adjuvant
arthritis. J Am Pod Med Assoc 76; 1985: h. 61-6.

12

9.

Stuart RW, Lefkowitz DL & Lefkowitz SS. Upregulation of phagocytosis and candidicidal
activity of macrophages exposed to the immunostimulant acemannan. Int. J.
Immunopharmacol. 19(2); 1997: h. 75 82.

10.

Henry R. An Update Review of Aloe vera. Cosm and Toiletries. 1979.

11.

Morsy EM. The Final Technical Report on Aloe vera: Stabilization and Processing for the
Cosmetics, Beverage, and Food Industries. Aloe Industry and Technology Institute; 1991;
h. 56-60, 83-91.

12.

Sekretariat Republik Indonesia. Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2009.

13.

Ciociola AA, Cohen LB, Kulkarni P & FDA-related Matters Committee of the American
College of Gastroenterology. How drugs are developed and approved by the FDA: current
process and future directions. Am J Gastroenterol 109(5); 2014: h. 620-3.

14.

Speicher CE & Smith JW. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif. Penerjemah: Suyono
J. Cetakan kedua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1996.

15.

13