Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya kita masih diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan
lengkap praktikum farmakognosi II ini. Tidak lupa juga kita sanjung sajikan
selawat beriringkan salam kepada nabi kita yakni Nabi Muhammad SAW yang
membawa kita dari alam kebodohan hingga alam yang penuh pengetahuan yang
seperti kita sarakan pada saat ini.
Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kewajiban
penulis sebagai mahasiswa jurusan farmasi, Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Makassar.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan temanteman yang telah memberi dukungan dalam menyelesaikan laporan ini. Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu
Kami sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun motivasi.
Semoga dengan selesainya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan temanteman. Amin.
Makassar,

Penulis

Juni 2013

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Ilmu farmakognosi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan
bidang terhadap farmasi yang secara teoritis dan praktis membahas tentang
bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat. Selain persyaratanpersyaratan yang harus dipenuhi terhadap sumber bahan alam, misalnya
jenis tumbuhan, cara pengolahan bahan baku, cara identifikasi kandungan
senyawa kimia serta kegunaan maupun cara penggunaan bahan-bahan
tersebut.
Kata farmakognosi berasal dari bahasa Yunani, Pharmakon yang
artinya obat (obat dalam tanda petik yang dimaksud adalah senyawa
obat dari alam).
Praktikum

farmakognosi

secara

praktis

mengutamakan

keterampilan pengolahan sumber bahan alam yang dapat digunakan


sebagai obat bahan alam:
a. Bahan alam nabati

: berasal dari tumbuhan

b. Bahan alam hewani

: berasal dari hewan

c. Bahan alam mineral/pelican


Diantara ketiga sumber bahan alam tersebut, maka bahan alam
nabati paling banyak digunakan, sediaan bahan alam dapat berbentuk
simplisia. Selain pengolahan, diperlukan pula cara-cara identifikasi
kandungan zat aktif yang terdapat dalam simplisis.

Dalam praktikum ini, akan dilakukan pengolahan sumber bahan


alam yang berasal dari tumbuhan dan dapat digunakan sebagai obatobatan, yaitu Kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina BI).

I.2

Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1

Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami cara ekstraksi dan identifikasi komponen kimia yang
terdapat dalam suatu tumbuhan dengan menggunakan metode
tertentu.

I.2.2

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengekstraksi kayu
bidara laut (Strychnos ligustrina BI) secara reflux serta
mengidentifikasi komponen kimia yang terkandung di dalamnya
secara KLT.

I.3

Tujuan Percobaan
I.3.1

Prinsip Ekstraksi secara Reflux


Prinsip ekstraksi secara reflux adalah termasuk metode
berkesinambungan dimana cairan penyari secara kontinya menyari
zat aktif dalam simplisia. Cairan penyari dan sampel dipanaskan
secara bersamaan sehingga mengalami kondensasi menjadi
molekul-molekul cairan dan jatuh ke dalam labu alas bulat sambil

menyari

simplisia.

Proses

ini

berlangsung

secara

berkesinambungan dan biasanya dilakukan dalam waktu 4 jam.


I.3.2

Prinsip Ekstraksi secara Cair-Cair


Prinsip

ekstraksi

secara

cair-cair

yaitu

dengan

menggunakan corong pisah yang merupakan pemisahan komponen


kimia diantara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana
sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut
pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi
di kocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan
terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah
ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya
dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
I.3.3

Prinsip Ekstraksi secara Kromatografi Lapis Tipis


Prinsip kromatografi lapis tipis yaitu metode pemisahan
bahan alam secara fisikokimia berdasarkan prinsip absorbs
(penyerapan pada permukaan sel) dan partisi (penyerapan zat
dalam fase diam).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Teori Ringkas
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan sebagai obat, yang
belum mengalami pengolahan apapun, kecuali dinyatakan lain, simplisia
berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia nabati berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat berupa
tumbuhan utuh, organ atau bagian dari tumbuhan tersebut, atau berupa zat
yang secara spontan keluar dari bagian tumbuhan karena suatu sebab
misalnya ranting patah, luka terkena benda tajam. Zat tersebut dikenal
dengan nama eksudat tumbuhan (misalnya: Gom, Lateks, Oleoresin,
tragakan, dsb).

II.2

Pembuatan Simplisia
Proses pembuatan simplisia terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
Pengumpulan bahan, sortasi basah, pencucian, pengecilan ukuran/volume,
pengeringan sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan, serta
pemeriksaan kualitas. Selain tahapan yang telah disebutkan di atas,
pembuatan simplisia dapat juga dengan fermentesi (peragian) penyulingan
pengentalan pengeringan sari air.
1. Pengumpulan Bahan

Pada proses pengumpulan/panen, faktor yang perlu diperhatikan


agar bahan baku anbati yang diambil dapat memenuhi standar sesuai
yang disyaratkan untuk memperoleh simplisia yang baik adalah :
a.

Bagian tanaman yang akan digunakan


-

Bila yang diambil biji, diambil bila buah telah kering, maka
selayaknya dipilih yang tidak buah pecah.

Bila yang diambil buah, telah terjadi perubahan kekerasan


atau telah terjadi perubahan warna kulit buah lebih
kecoklatan, telah terjadi perubahan perubahan kandungan air,
telah terjadi perubahan bentuk.

Bila yang diambil daun pucuk, telah terjadi peruabahn


pertumbuhan vegetatif ke generatif.

Bagian yang diambil daun, daun telah membuka sempurna


dan dipilih yang mendapat sinar matahari penuh.

Bila yang diambil batangnya, tanaman sudah cukup umur.

Bagian yang diambil rhizoma/bulbus/tuber, tanda-tandanya


adalah organ tanaman di atas tanah telah mulai kering.

Bila yang dambil bunga, maka dianjurkan untuk bunga


kuncup menjelang mekar.

b.

Umur tanaman

c.

Waktu panen (pagi, siang, sore)

d.

Lingkungan tempat tumbuh

2. Sortasi Basah, pemisahan bahan dari pencemar.

3. Pencucian, menghilangkan sisa tanah atau pencemar yang melekat dan


mengurangi jumlah mikroba awal.
4. Perajangan, mempercepat pengeringan dan mempermudah pemrosesan
dan penyimpanan/pengepakan. Perhatikan adanya zat yang mudah
menguap, reaksi bahan dengan alat dan jumlah mikroba tak bertambah.
5. Pengeringan, dilakukan dengan cepat, suhu tidak terlalu tingg.
Tujuan hasil panen segera dikeringkan, yaitu untuk mengurangi
kadar air agar tidak busuk dan tidak terjadi reaksi enzimatik.
Kandungan air bahan sampai <10%. Temperatur <600C, untuk zat
mudah menguap 300C 400C.
Pengeringan dilakukan dengan 2 cara, yaitu
a.

Alamiah
-

Langsung dibawah sinar matahari, disyaratkan mulai terbit


matahari hingga menjelang siang yaitu jam 11.00, selanjutnya
mulai kembali jam 14.00 hingga terbenam matahari.

b.

Tidak langsung (diangin-angin).

Buatan
-

Menggunakan oven/ruang pengering.

Lebih baik karena:


Panas rata : kering rata
Waktu lebih cepat
Tidak tergantung musim

6. Sortasi kering, pemisahan zat asing yang masih tertinggal

7. Pengepakan
Wadah tidak beracum/tidak bereaksi dengan bahan, melindungi
simplisia dari dehidrasi. Penyerapan air, kehilangan zat aktif,
menghindarkan simplisia dari pencemar/kerusakan oleh serangga dan
hewan lain.
8. Penyimpanan
Ditempatkan pada ruang yang aman dan terlindung dari matahari
langsung, untuk menghindarkan kerusakan simplisia serta pengaruh
luar. Faktor yang berpengaruh terhadap simplisia, yaitu: cahaya,
oksigen, reaksi kimia intern, penyerapan air, dehidrasi, pencemaran,
pengrusakan oleh serangga/hewan lain.
9. Pemeriksaan Mutu dan Metode Standardisasi Simplisia.

II.3

Metode Penyarian
Secara teknis, metode ekstraksi dapat dibedakan dalam 2 cara,
yaitu cara dingin dan cara panas. Termasuk cara dingin yaitu maserasi,
perkolasi, dan sokletasi, sedang cara panas, yaitu refluks, infusidasi, dan
destillasi.
1. Maserasi
Proses maserasi merupakan metode yang paling kuno, alatnya
paling sederhana, yaitu cukup menggunakan bejana atau toples kaca
atau logam anti karat. Bahan baku yang sudah dibuat serbuk
dilembabkan terlebih dahulu, baru kemudian dituangi cairan penyari.

Jumlah penyari pada umumnya ditetapkan sebanyak yang diperlukan


untuk cukup merendam bahan baku hingga di atas bahan baku setinggi
2-3 cm dari serbuk yang direndam dalam bejana maserasi.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah proses penyarian granul atau serbuk dengan
menarik bahan/senyawa aktifnya menggunakan pelarut yang sesuai,
terjadinya ekstraksi pada saat pelarut turun melaluinya. Pada teknik
perkolasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara khusus yang
apabila tidak dikerjakan secara tepat hasilnya dapat menyimpang jauh
bahkan sama sekali tidak tersari, hal yang harus diperhatikan antara
lain adalah bersamaan turunnya penyari, kandungan yang disari dan
terlarut terbawa ke bawah dan agar tidak terlalu banyak penyari
digunakan, maka aliran atau tetesan harus diatur.
Prinsip kerjanya adalah serbuk ditempatkan dalam suatu silinder
(perkolator) dalam keadaan yang porus (mudah dilewati penyari) dari
atas dituangi penyari, maka dengan mekanisme kapilarisasi penyari
melewati serbuk sambil menyari bahan aktif.
3. Sokletasi
Penyarian dengan alat ini masih termasuk penyarian secara
dingin, bahkan boleh dikatakan secara perkolasi juga. Penyarian
menggunakan alat Soklet pada dasarnya adalah penyari yang
dipanaskan pada labu alas bulatnya menguap melalui sifon (cabang
yang berhubungan langsung dari labu ke kondensor) uap penyari

(kebanyakan

pelarut

organic)

akan

mengalami

kondensasi

(pengembunan) di dalam kondensor (pendingin bola). Destilat pelarut


dingin ini menetes membasahi serbuk dalam ruang penyarian, jadi
penyarian serbuk dilakukan oleh penyari dingin, oleh sebab itu
penyarian ini termasuk penyarian dingin.
4. Infus (Infudasi)
Farmakope Indonesia menyatakan bahwa infus adalah penyarian
yang dilakukan secara panas dengan panic infus yang dilakukan pada
suhu 90-98C selama 15 menit dengan sekali-sekali diaduk. Untuk
melihat suhu infundasi sesuai ketentuan maka dilakukan pengadukan,
selanjutnya diukur suhunya dengan thermometer.
5. Reflux
Metode ini tidak termasuk cara resmi, akan tetapi sangat cocok
untuk menyari bahan yang keras seperti kayu (lignum) dan akar
(radix), tetapi cara ini tidak boleh apabila bahan aktifnya mudah
menguap atau terurai atau rusak oleh pemanasan. Bahan dipotongpotong saja atau kalau dibuat serbuk, buatlah serbuk kasar (misalnya
serbuk yang diayak dengan nomor kecil, dapat dilihat di buku FI ed. III
dan IV).
Penyarian ini termasuk cara panas, karena bahan baku yang
disari dipanaskan bersama-sama penyari (umumnya penyari organik)
dalam labu alas bulat. Supaya cairan penyari tidak banyak menguap,
maka di atas labu alat bulat dipasang pendingin libieg atau pendingin

bola yang sesuai panjangnya sesuai dengan titik didih penyari organik
yang digunakan. Semakin rendah titik didihnya, harus digunakan
pendingin semakin panjang.

II.4

Metode Ekstraksi secara Cair-Cair


Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupaka pemisahan komponen
kimia diantara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana
sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase
kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok,
didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan
fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut
sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi
yang tetap.

II.5

Metode Kromatografi Lapis Tipis (Thin Layer Chromatography)


Pada kromatografi lapis tipis komponen kimia dapat terpisah karena
disebabkan oleh pelarut tiap-tiap komponen dalam cairan (eluent) tidak
sama dan daya serap adsorben terhadap tiap-tiap komponen kimia tidak
sama, maka komponen kimia bergerak dengan kecepatan yang berbedabeda dan hal ini yang menyebabkan terjadinya pemisahan.

II.6

Uraian Sampel Kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina BI.)


II.6.1 Klasifikasi

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Solanales

Famili

: Convolvulaceae

Genus

: Merremia

Spesies

: Merremia mammosa Chois.

II.6.2 Deskripsi
Tumbuh semak, tinggi lebih kurang 2 meter. Berbatang
kecil, berkayu keras, dan kuat. Bagian yang digunakan kayu dan
biji.
II.6.3 Kandungan Kimia
Sifat khas pahit, mendinginkan, melancarkan peredaran
darah, membersihkan darah dan beracun. Khasiat anti inflamasi,
analgesic, dan diaforetik.
II.6.4 Kegunaan
Kayu bidara laut dapat digunakan untuk menyegarkan kulit
muka, membangkitkan nafsu makan, rematik, sakit perut, bisul,
kurap, dan radang kulit bernanah.

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat dan Bahan


III.1.1 Alat yang digunakan
1. Timbangan
2. Beker gelas
3. Seperangkat alat reflux
4. Corong gelas
5. Rotavapor
6. Penangas air
7. Pipet tetes
8. Botol vial
9. Statif dan klem
10. Corong pisah
11. Botol semprot
12. Gelas ukur 10 ml, 25 ml
13. Gunting
14. Lap
15. Masker
16. Chumber dan penutup chumber
17. Lampu ultraviolet
18. Lempeng KLT ukuran 7 cm x 2 cm
19. Penotol (pipa kapiler)

20. Pensil
21. Pinset
22. Pensil warna
23. Kaki Tiga
24. Bunsen
25. Asbes
III.1.2 Bahan yang digunakan
1. Sampel Kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina BI)
2. Aluminium foil
3. Methanol
4. Kertas saring
5. Kapas
6. Label
7. Tissue
8. Aquadest
9. Dietil eter
10. n-butanol
11. Asam Sulfat
12. Benzen
13. Etanol 96%
14. Kloroform
15. Etil Asetat
III.2

Cara Kerja

III.2.1 Pengambilan Sampel


Sampel berupa kayu bidara laut (Strychnos ligustrina BI)
diambil dengan memilih kayu yang baik, diambil dengan
menebangnya menggunakan parang. Sampel diambil pada pagi
hari pada pukul 08.00-09.00 WITA.
III.2.2 Pengolahan Sampel
Sampel berupa kayu bidara laut (Strychnos ligustrina BI)
yang telah dikumpulkan, kemudian dibersihkan dengan cara dicuci
dengan air lalu kayu dipotong kecil-kecil dan kemudian
dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari pagi
pada pukul 07.00 - 09.00, setelah itu dipindahkan dari sinar
matahari dan diangin-anginkan, dan disimpan untuk selanjutnya
diekstraksi dengan metode reflux.
III.2.3 Ekstraksi Sampel
1. Ekstraksi Sampel dengan Metanol secara Reflux
Simplisia yang telah dikeringkan ditimbang 70 gram
dan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan
cairan penyari 2/3 bagian (500) bagian dari sampel lalu
ditutup pada kondensor di atas kaki tiga bunsen. Setelah
terpasang kuat, aliran alir dan api bunsen dinyatakan. Ditunggu
selama 3-4 jam. Setelah itu sampel disaring, ekstrak dan ampas
ditampung dalam wadah yang berbeda. Ekstrak yang diperoleh
diambil dan diuapkan hingga kering atau kental, selanjutnya

diidentifikasi komponen kimianya dengan KLT. Ekstrak


tersebut disimpan dalam botol vial.
2. Ekstraksi Sampel dengan Dietil Eter
Ekstraksi methanol yang sudah kental dari kayu bidara
laut (Strychnos ligustrina BI) disuspensikan dengan 20 ml
kemudian diekstraksi dengan eter 2 kali masing-masing 20 ml
dalam corong pisah lalu didiamkan selama 15 menit sehingga
terjadi pemisahan fase air dan fase eter. Ekstraksi dietil eter
yang

diperoleh

dimasukkan

ke

dalam

vial

kemudian

diidentifikasi dengan KLT dan lapisan air yang diperoleh


diekstraksi dengan menggunakan pelarut n-butanol.
3. Ekstraksi Sampel dengan n-Butanol Jenuh Air
Lapisan air dari ekstrak eter diekstraksi dengan
menggunakan n-butanol jenuh air sebanyak 2 kali masingmasing 20 ml dalam corong pisah kemudian dikocok dan
dibiarkan 15 menit sampai terjadi pemisahan. Ekstrak nbutanol

yang

diperoleh

dalam

vial

lalu

identifikasi

kromatografi lapis tipis dengan pelarut polar.


III.2.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
III.2.4.1 Penyiapan KLT
Untuk cairan pengelusi polar digunakan CHCl3MeOH-H2O (16:5:1). Dan untuk cairan pengelusi non
polar digunakan Benzen-EtOAc (8:2).

Chumber

kaca

dibersihkan

terlebih

dahulu

kemudian dimasukkan cairan pengelusi sesuai batas


lempeng bawah. Sebelum digunakan terlebih dahulu
chumber yang telah berisi cairan pengelusi dijenuhkan
dengan cara kertas saring dimasukkan ke dalam
chumber, jika telah terbasahi sampai pada permukaan
berarti chumber telah jenuh dan siap untuk digunakan.
III.2.4.2 Pengerjaan KLT
Ekstrak methanol, ekstrak eter, dan ekstrak nbutanol dari sampel ditotolkan pada lempeng batas
bawah, penotolan dengan menggunakan pipa kapiler
secara tegak lurus dengan permukaan lempeng sampai
diperoleh penotolan sempurna. Lempeng yang telah
ditotolkan dimasukkan ke dalam chumber, jika telah
terelusi sampai batas atas diangkat lalu kemudian dilihat
permukaan noda dengan menggunakan lampu UV 254360 nm. Noda yang tampak digambar lalu dihitung nilai
Rf-nya. Selanjutnya lempeng disemprot dengan larutan
asam sulfat 10% dengan cara terbalik. Setelah itu
dikeringkan lalu difiksasi hingga diperoleh noda yang
stabil. Noda-noda yang diperoleh pada gambar tersebut
kemudian dihitung nilai Rf-nya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1

Hasil Pengamatan
IV.1.1 Hasil Ekstraksi
No

Berat Sampel

Jumlah Cairan

Berat Ekstrak

Kering

Penyari

Kering

1.
IV.1.2 Hasil KLT

No

Nama
Ekstrak

Jumlah Noda
Eluen

Lampu

H2SO4

UV

10%

CHCl3-MeOH1.

Metanol

H2O
(16:5:1)

2.

Metanol

3.

Eter

Benzen-EtOAc
(8:2)
Benzen-EtOAc
(8:2)
CHCl3-MeOH-

4.

n-BuOH

H2O
(16:5:1)

IV.2

Pembahasan
Pada praktikum ini, dilakukan ekstraksi dari bahan-bahan alam
yang mengandung zat berkhasiat yang berada di lingkungan sekitar. Bahan

alam yang digunakan pada percobaan ini adalah kayu bidara laut
(Strychnos ligustrina BI).
Percobaan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui dan
memahami cara mengekstraksi dan mengidentifikasi komponen kimia
yang terkandung dalam bahan alam atau simplisia. Pada praktikum ini,
ekstraksi komponen kimia dilakukan dengan metode maserasi kemudian
diisolasi dengan cara ekstraksi cair-cair setelah itu di KLT.
Adapun pemilihan metode untuk ekstraksi simplisia, disesuaikan
dengan tekstur dari bahan alam yang akan diekstraksi. Kayu bidara laut
(Strychnos ligustrina BI) dengan metode reflux.
Pengolahan simplisia dilakukan sebelum dilakukan ekstraksi,
seluruh sampel disortasi basah terlebih dahulu. Kayu bidara laut
(Strychnos ligustrina BI) dipotong kecil-kecil untuk memudahkan
keluarnya zat aktif yang berada dalam sel, kemudian dikeringkan di bawah
sinar matahari pada pagi hari pukul 07.00-10.00 dan pengeringan
selanjutnya pada pukul 15.00-17.00. Pengeringan pada waktu tertentu ini
dilakukan agar zat aktif dalam simplisia berupa minyak-minyak yang
mudah menguap tidak hilang/menguap oleh pemanasan sinar matahari.
Simplisia yang telah kering dimasukkan ke dalam labu alas bulat
dan ditambahkan cairan penyari 2/3 bagian (500) bagian dari sampel lalu
ditutup pada kondensor di atas kaki tiga bunsen. Setelah terpasang kuat,
aliran alir dan api bunsen dinyatakan. Ditunggu selama 3-4 jam. Setelah
itu sampel disaring, ekstrak dan ampas ditampung dalam wadah yang

berbeda. Ekstrak yang diperoleh diambil dan diuapkan hingga kering atau
kental, selanjutnya diidentifikasi komponen kimianya dengan KLT.
Ekstrak yang diperoleh dimasukkan ke dalam vial dan diberi etiket untuk
di KLT dan sisnya diekstraksi lebih lanjut dengan ekstraksi cair-cair
(corong pisah). Diekstraksi dengan eter, dan ekstrak yang diperoleh
dimasukkan ke dalam vial. Sisa dari ekstraksi eter, dilanjutkan dengan
ekstraksi dengan pelarut n-butanol.
Prinsip ekstraksi cair-cair adalah menggunakan 2 fase pelarut yang
tidak bercampur, yaitu pelarut polar (air) dan pelarut nonpolar (eter),
sehingga kedua pelarut akan terpisah di dalam corong pisah. Pada keadaan
tersebut, zat aktif atau komponen kimia yang bersifat polar tertarik ke
dalam air dan yang bersifat non polar tertarik ke dalam eter. Pelarut nbutanol bersifat polar sehingga harus dijenuhkan dengan air agar di dalam
corong pisah n-butanol tidak lagi menarik air, sehingga kedua pelarut tetap
terpisah.
Ekstrak methanol, ekstrak eter, dan ekstrak n-butanol dari masingmasing simplisia kemudiaan diidentifikasi komponen kimianya secara
kromatografi lapis tipis. Metode KLT didasarkan pada prinsip adsorbs dan
partisi, komponen kimia akan teradsorbsi pada fase diam (slika gel) dan
terpartisi oleh fase gerak (eluen). Lempeng KLT yang telah ditotol dengan
masing-masing ekstrak dimasukkan ke dalam eluen sesuai kepolarannya.
Untuk ekstrak eter yang bersifat non polar dimasukkan dalam
chamber berisi eluen Benzan-EtOAc (8:2) bersama ekstrak methanol.

Ekstrak n-butanol yang bersifat polar dimasukkan ke dalam chamber berisi


eluen CHCl3-MeOH-H2O (16:5:1) bersama ekstrak methanol. Kemudian
lempeng dibiarkan hingga terelusi sampai batas atas. Adanya perbedaan
kepolaran setiap komponen kimia menyebabkan terjadinya pemisahan.
Komponen kimia ini akan tampak sebagai noda pada lempeng KLT jika
dilihat dengan lampu UV dan disemprot dengan asam sulfat 10%,
kemudian dipanaskan di atas bunsen.
Pada sampel kayu bidara laut (Strychnos ligustrina BI), ekstrak
methanol menggunakan eluen non polar yaitu Benzan-EtOAc (8:2)
terdapat . noda dan eluen polar CHCl3-MeOH-H2O (16:5:1) terdapat .
noda. Untuk ekstrak eter dengan eluen Benzan-EtOAc (8:2) terdapat .
Noda. Untuk ekstrak n-butanol dengan menggunakan eluen CHCl3MeOH-H2O (16:5:1) terdapat . noda.

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Setelah dilakukan pengamatan di laboratorium, maka dapat
disimpulkan bahwa sampel kayu bidara laut (Strychnos ligustrina BI)
dengan:
a. Ekstrak methanol
Pada eluen polar yaitu CHCl3-MeOH-H2O (16:5:1): terdapat . noda.
Pada eluen non polar yaitu Benzan-EtOAc (8:2): terdapat . noda.
b. Ekstrak eter
Pada eluen non polar yaitu Benzan-EtOAc (8:2): terdapat . noda.
c. Ekstrak n-butanol
Pada eluen polar yaitu CHCl3-MeOH-H2O (16:5:1): terdapat . noda.

V.2

Saran
Kami sebagai praktikan menginginkan agar prosedur penyiapan
sampel hingga analisis dengan KLT yang ada sebaiknya diperbaharui dan
diperbaiki, sebaiknya pembimbing mengawasi praktikan agar pada saat
pemisahan cair-cair, sehingga diperoleh ekstrak yang benar-benar murni.

LAMPIRAN
Skema Kerja
Bersifar semi polar

Ekstrak Metanol
Diuapkan hingga kental

Diidentifikasi komponen kimia KLT

Disuspensi dengan air


Diekstrasi dengan pelarut eter
dalam corong pisang (diulangi 3x)
diperoleh

Bersifat non polar

air

Ekstrak Eter

Diuapkan sampai kental


Diekstraksi dengan pelarut
n-butanol jenuh air dalam
dalam corong pisah (diulangi 3x)
Diidentifikasi komponen kimia
secara KLT

Bersifat polar

diperoleh

Ekstrak n-BuOH

Diuapkan hingga kental

Diidentifikasi komponen kimia secara KLT

air

Skema Kerja Reflux


Simplisia kering Kayu
Bidara Laut (g)

Dimasukkan ke dalam labu alas bulat


dan ditambahkan metanol

Aliran air dan pemanas


dijalankan hingga 4 jam

Sampel disaring dan


ekstrak, diendapkan

Ekstrak methanol disaring dan


diuapkan hingga kental/kering

Diidentifikasi komponen
kimia dengan KLT

Tabel Daftar Nilai Rf

No
1

Nama Ekstrak
Metanol
Eluen: CHCl3-MeOHH2O (16:5:1)
Metanol
Eluen: Benzan-EtOAc
(8:2)

Eter
Eluen: Benzan-EtOAc
(8:2)

N-BuOH
Eluen: CHCl3-MeOHH2O (16:5:1)

No Noda

Nilai Rf

Warna Noda
Lampu UV H2SO4 10%

Kromatografi Lapis Tipis


Ekstrak metanol polar

Ekstrak metanol non polar

Ekstrak Eter

Ekstrak n-BuOH

Gambar Alat dan Sampel

Kayu Bidara Laut

Reflux

Hasil Reflux

Rotavapor

Ekstrak Metanol

Corong Pisah

Ekstrak Eter

Ekstrak n-BuOH

Chamber dan Penutup

DAFTAR PUSTAKA
Anonim: http://www.plantamor.com/ diakses pada tanggal 31 Mei 2013
Departemen Kesehatan RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Bakti Husada.
Tim Pengajar.2013. Teori dan Praktek Farmakognosi II. Makassar: Politeknik
Kesehatan Kemenkes Makassar.

LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI II
KAYU BIDARA LAUT (Strychnos ligustrina BI)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK A2-1

LENI MARLINA

(PO.71.3.251.11.1.027)

MEILATRI RIBER

(PO.71.3.251.11.1.028)

MUH. SYARIFURISMAN (PO.71.3.251.11.1.029)


MUSFIRAH

(PO.71.3.251.11.1.030)

NUR FAUZIAH KASIM

(PO.71.3.251.11.1.031)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR


JURUSAN FARMASI
2013