Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen merupakan suatu kegiatan untuk me-managing atau mengurus,
mengatur, dan mengelola apa yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya
perusahaannya. Seseorang yang melaksanakan kegiatan ini disebut dengan
manajer. Manajer di suatu perusahaan salah satu tugasnya, yaitu untuk
mendayagunakan tenaga kerja sehingga bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan
perusahaannya.
Di dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, disini seorang manajer
harus bisa merencanakan terlebih dahulu dengan matang apa saja strategi atau
taktik yang akan disiapkan, misalnya menentukan seperti apa kegiatannya, siapa
yang berperan dalam kegiatan itu, dimana lokasi kegiatannya, kapan kegiatan
akan dilaksanakan, mengapa kita mau melakukan kegiatan tersebut dan
bagaimanakah proses kelangsungan kegiatan tersebut. Perencanaan yang matang
akan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pencapaian tujuan tersebut. Begitu
juga dalam hal pengambilan keputusan terhadap berbagai pilihan jalan keluar
yang di rencanakan, disini seorang manajer harus bisa memilih dan menentukan
alternative yang terbaik sehingga dapat menguntungkan perusahaan. Oleh karena
itulah kami membuat makalah ini sehingga kita lebih mengetahui lagi secara
umum mengenai gambaran fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan itu.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah yang dapat
diambil yaitu :
1. Bagaimana gambaran umum tentang fungsi perencanaan?
2. Bagaimana gambaran umum tentang pengambilan keputusan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas, adapun tujuan dari pembuatan
makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui gambaran umum tentang fungsi perencanaan.
2. Untuk mengetahui gambaran umum tentang pengambilan keputusan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Fungsi Perencanaan


Dalam ekonomi manajemen, perencanaan ialah proses mendefinisikan
suatu tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan
mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Di dalam organisasi,
perencanaan adalah merancang terlebih dahulu stratak (strategi dan taktik) atau
tindakan apapun yang akan di kerjakan dalam suatu kegiatan atau pekerjaan yang
akan dijalankan, baik menentukan seperti apa kegiatannya, siapa yang berperan
dalam kegiatan itu, dimana lokasi kegiatannya, kapan kegiatan akan dilaksanakan,
mengapa kita mau melakukan kegiatan tersebut dan bagaimanakah proses
kelangsungan kegiatan tersebut. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan
perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk mencapai tujuan itu.
Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen
karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan
pengontrolan tak akan dapat berjalan. Perencanaan didefinisikan sebagai suatu
proses menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana hal tersebut dapat dicapai.
Rencana meliputi sumber-sumber yang dibutuhkan, tugas yang diselesaikan,
tindakan yang diambil dan jadwal yang diikuti.
Sebuah perencanaan ini dapat berupa perencanaan formal dan
perencanaan informal. Perencanaan formal ialah rencananya itu tertulis yang
harus

disepakati

dan

dilaksanakan

suatu

organisasi

dan

biasanya

merencanakannya pun tidak individual tetapi merencanakannya dengan bersamasama didalam suatu organisasi tersebut. Sedangkan perencanaan informal ialah
rencananya itu tidak tertulis dan juga bukanlah tujuan bersama dalam organisasi,
biasanya perencanaan informal ini bersifat individual.
2.1.1 Definisi Perencanaan Menurut Para Ahli
Para ahli banyak sekali yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi
perencanaan, antara lain :
3

1. Menurut

Beishline

(1957),

menjelaskan

bahwa

perencanaan

yaitu

menentukan apa yang harus dicapai (menentukan waktu secara kualitatif),


dan bila hal itu harus dicapai, dimana hal itu harus dicapai, bagaimana hal itu
harus dicapai, siapa yang bertanggung jawab, mengapa hal itu harus dicapai.
2. Menurut Roger A. Kauffman (1972), mengungkapkan perencanaan adalah
proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan
jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif mungkin.
3. Menurut E. MC. Farland dalam bukunya Supervision Management
bertuliskan bahwa perencanaan adalah suatu keaktifan pimpinan untuk
meramalkan keadaan yang akan datang dalam mencapai harapan, kondisi dan
hasil yang akan datang.
2.1.2 Fungsi Perencanaan Dalam Manajemen
Ada beberapa Fungsi perencanaan dalam manajemen yang sangat
menguntungkan bagi kita, antara lain :
1. Untuk membedakan arah dari setiap kegiatan dengan jelas sehingga hasil
diperoleh bisa seefektif dan seefisien mungkin.
2. Untuk mengevaluasi setiap tujuan-tujuan yang telah dilakukan sehingga
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dapat dihindari lebih awal.
3. Memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk mengidentifikasi hambatanhambatan yang mungkin muncul sehingga lebih waspada dan dapat
diselesaikan dengan cepat.
4. Menghindari pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terkendali.
2.1.3 Tujuan Perencanaan
Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan tentang tujuan
perencanaan, yaitu :
1. Untuk memberikan pengarahan baik buat manajer maupun karyawan non
manajerial.
2. Untuk mengurangi ketidak pastian.
3. Untuk meminimalisir pemborosan.

4. Untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi


selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusian.
2.1.4 Dasar-Dasar Perencanaan Yang Baik
1. Forecasting
Yaitu proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa yang akan terjadi pada
masa yang akan datang. Forecasting dibagi menjadi 2, yaitu:
a. forecasting kualitatif: prediksi masa depannya menggunakan pendapat

para ahli.
b. forecasting kuantitatif: prediksi masa depannya menggunakan analisa

data secara matematis dan statistis (analisa time series, model


ekonometri, survey statistik)
2. Penggunaan Skenario
Meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang atau
keadaan peristiwa yang mungkin terjadi. Pengidentifikasian kemungkinan
skenario yang berbeda waktunya akan membantu organisasi beroperasi lebih
fleksibel dalam lingkungan yang dinamis.
3. Benchmarking
Perbandingan eksternal untuk mengevaluasi secara lebih baik suatu arus
kinerja dan menentukan kemungkinana tindakan yang dilakukan untuk masa
yang akan datang. Tujuan: untuk mengetahui apakah orang-orang dan
organisasi

bekerja

dengan

baik

dan

merencanakan

bagaimana

menggabungkan ide-ide tersebut dalam pengoperasiannya.


4. Partisipasi dan Keterlibatan
Perencanaan partisipatif yang aktif: perencanaan di mana semua orang yang
mungkin akan memperngaruhi hasil dari perencanaan dan atau akan
membantu mengimplementasikan perencanaan-perencanaan tersebut.
5. Penggunaan Staf Perencana
Fungsi staf perencana: bertanggung jawab dalam mengarahkan dan
mengkoordinasi sistem perencanaan untuk organisasi secara keseluruhan atau
untuk salah satu komponen perencanaan yang utama.

2.1.5 Sifat Perencanaan


Perencanaan memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Kontribusi terhadap tujuan (contribution of objective).
Bahwa setiap perencanaan dilakukan untuk mewujudkan tujuan yang akan
dicapai.
2. Kedudukan yang istimewa dari suatu perencanaan (primacy of planning).
Bahwa setiap perencanaan selalu harus ditempatkan pada kedudukan pertama
dari suatu proses manajemen. Perencanaan harus dapat member arah bagi
pelaksanaan proses manajemen berikutnya.
3. Kemampuan pengisian dari planning (pervasiveness of planning).
Merupakan dasar manajemen yang berisi tujuan dan cara pencapainnya.
Suatu rencana dilaksanakan oleh semua level manajer, tetapi penekanan dan
cakupannya berbeda, tergantung wewenang yang dimilikinya dan batasan dari
atasan.
2.1.6 Proses Perencanaan
Secara umum proses perencanaan, terdiri dari :
1. Menentukan tujuan perencanaan
2. Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan
3. Mengembangkn dasar pemikiran kondisi mendatang
4. Mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan
5. Mengimplementasi rencana tindakan dan mengevaluasi hasilnya
Sebelum

para

manajer

dapat

mengorganisasi,

memimpin,

atau

mengendalikan, terlebih dahulu mereka harus membuat rencana yang memberikan


arah pada setiap kegiatan organisasi. Pada tahap perencanaan para manajer
menentukan apa yang akan dikerjakan, kapan akan mengerjakan, bagaimana
mengerjakannya, dan siapa yang akan mengerjakannya. Kebutuhan akan
perencanaan ada pada semua tingkatan manajemen dan semakin meningkat pada
tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai
kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan organisasi. Pada
tingkatan top manajer pada umumnya mencurahkan hampir semua waktu

perencanannya jauh ke masa depan dan pada strategi-strategi dari seluruh


organisasi. Manajer pada tingkatan yang lebih rendah merencanakan terutama
untuk subunit mereka sendiri dan untuk jangka waktu yang lebih pendek.
Terdapat pula beberapa variasi dalam tanggung jawab perencanaan yang
tergantung pada ukuran dan tujuan organisasi dan pada fungsi atau kegiatan
khusus manajer. Organisasi yang besar dan berskala internasional lebih menaruh
perhatian pada perencanaan jangka panjang daripada perusahaan lokal. Akan
tetapi pada umumnya organisasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara
perencanaan jangka panjang maupun perencnaan jangka pendek. Karena itu
penting bagi para mnajer untuk mengerti peranan perencanaan secara keseluruhan.
Untuk itulah dalam membuat sebuah perencanaan yang baik, seorang
pemimpin harus benar-benar tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitarnya dan
bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul di masa
yang akan datang. Lebih lanjut Roger A. Kauffman (1972) menjelaskan bahwa
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai
dan menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif
mungkin.

2.2 Gambaran Umum Pengambilan Keputusan


Para ilmuwan, prilaku organisasi, ahli penelitian oprasional, dan manajer
berpendapat bahwa dalam suatu organisasi,sebagian besar para bawahan
menginginkan kesempatan untuk dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Mereka berpendapat bahwa peran serta yang meningkat dalam keputusan
memiliki dampak meningkatnya keterkaitan mereka pada organisasi, kepuasan
pekerjaan, pertumbuhan, dan perkembangan pribadi, serta penerimaan inovasi.
Selain menyebabkan kepuasan yang lebih besar dari bawahan, dan
sebagai dampaknya adalah usaha yang lebih besar, produktifitas kerja, serta
efektifitas yang lebih tinggi. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh
organisasi makin bertambah komplek, memerlukan pengetahuan dalam bidang
yang canggih, dan merupakan bentuk permasalahan yang tidak pernah dihadapi
organisasi sebelumnnya, baik bersifas teknologi, social, maupun manusiawi.
Pengambilan keputusan merupakan suatu pendekatan yang sistematis terhadap
masalah yang dihadapi. Pendekatan tersebut menyangkut pengetahuan mengenai
esensi atas permasalahan yang dihadapi, pengumpulan fakta dan data yang relevan
dengan permasalahan yang dihadapi, analisis permasalahan dengan menggunakan
7

fakta dan data, mencari alternative pemecahan, menganalisi setiap alternative


sehingga ditemukan alternatife yang paling rasional.
Mengambil keputusan berarti memilih dan menetapkan satu alternative
yang dianggap paling menguntungkan dari beberapa alternative yang dihadapi.
Alternative yang ditetapkan merupakan keputusan. Kwalitas dari keputusan yang
diambil tersebut merupakan standar dari elektifitas mereka.
Analisa yang sistematis mengenai pengambilan keputusan terkenal dengan
nama teori keputusan. Teori keputusan berakar kuat dalam bidang statistic dan
ilmu prilaku serta memiliki tujuan sebagai pengambil keputusan dalam ilmu
tersebut bukan hanya sebagai kiat saja. Pada pertengahan abad 20an para ahli
penelitian oprasional ahlistatistika, ahli computer, dan ahli prilaku beursaha
mengidentifikasi elemen dalam pengambilan keputusan.
Herbert A.Simon (1980:5-6) telah mengembangkan klasifikasi jenis
keputusan yang berbeda, yaitu keputusan yang deprogram (programmed
decisions) dan keputusan yang tidak deprogram (non programmed decisions).
1. Keputusan yang deprogram (programmed decisions)
Keputusan dapat deprogram sejauh keputusan tersebut berulang dan rutin
serta telah dikembangkan prosedur tertentu untuk menanganinya. Secara
tradisional, keputusan yang deprogram telah ditangani dengan norma ,
prosedur kerja yang baku, dan struktur organisasi yang mengembangkan
prosedur spesifik untuk menanganinya.
2. Keputsan yang tidak deprogram (non programmed decisions)
Keputusan yang tidak deprogram harus diidentifikasi dengan tepat karena
jenis pengambilan keputusan sering kali memerlukan alokasi dana yang
sangat besar. Keputusan yang tidak deprogram secara tradisional telah
ditangani dengan proses pemecahan umum, pertimbangan, intuisi, dan
kreatifitas. Namun, managemen modern belum banyak kemajuan dalam
meningkatkan pengambilan keputusan yang tidak deprogram dibandingkan
dengan kemajuan dalam pengambilan keputusan yang deprogram.
Perhatian utama managemen puncak (top managemen) hendaknya
dipusatkan pada keputusan yang tidak deprogram. Managemen hierarki tengah
(middle managemen) memusatkan perhatian mereka sebagian besar pada
keputusan yang deprogram, meskipun dalam beberapa hal managemen hierarki
pertama (laower managemen) memusatkan pada keputusan yang deprogram.
Karena managemen hierarki pertama lebih banyak bertanggung jawab pada
pengoprasian rencana yang telah ditetapkan dan aktifitasnya lebih banyak bersifat
teknis. Dengan kata lain, karakteristis, frekuensi, dan tingkat kepastian yang

mengelilingi suatu permasalahan harus menentukan hierarki managemen yang


seharusnya mengambil keputusan.
2.2.1 Proses Pengambilan Keputusan
Keputusan yang telah ditetapkan oleh manajer bukanlah tujuan organisasi.
Keputusan tersebut lebih tepat dilaksanakan sebagai cara yang tepat untuk
merealisasikan tujuan. Keputusan sebenarnya merupakan suatu tanggapan
keorganisasian terhadap suatu permasalahan. Setiap keputusan adalah keluaran
dari proses dinamis yang dipengaruhi oleh kekuatan yang banyak sekali.
Herbert Simon mengajukan model yang bermanfaat sebagai dasar dalam
proses pengambilan keputusan (Davis, 1974), Model yang diajukan terdiri atas
tiga tahap pokok, yaitu sebagai berikut :
1. Penelitian, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan
keputusan. Data mentah diperoleh, diolah, dan diuji untuk dijadikan arah
tindakan yang dapat mengidentifikasi permasalahan.
2. Desain, yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan
yang mungkin, Aktivitas ini meliputi proses untuk memahami permasalahan,
menghasilkan pemecahan, dan menguji kelayakan pemecahan tersebut.
*Proses keputusan dapat dipandang sebagai sebuah arus dari penelitian
sampai desain dan kemudian penentuan alternatif yang dipandang tepat
(pemilihan). oleh karena itu, tahapan tersebut merupakan elemen sebuah proses
yang kontinu.
James L. Gibson, dkk. (1984) mengemukakan proses pengambilan
keputusan yang seluruhnya terdiri atas tujuh tahapan. Tahapan pengambilan
keputusan yang diajukan lebih sesuai bagi jenis keputusan yang tidak deprogram
daripada keputusan yang di programkan, antara lain:
1. Penetapan tujuan spesifik serta pengukuran hasilnya.
Setiap organisasi memerlukan tujuan dalam setiap bidang dimana hasil karya
mempengaruhi efektivitas organisasi.
2. Identifikasi permasalahan
Salah satu syara yang sangat urgen bagi keputusan adalah permasalahan.
Dengan demikian, apabila tidak ada permasalahan maka tidak perlu
keputusan.
3. Pengembangan alternatif
Sebelum manajer melakukan pengambilan keputusan, terlebih dahulu perlu
dikembangkan beberapa alternatif yang dapat dilaksanakan data harus
dipertimbangkan konsekuensi yang mungkin dari masing-masing alternatif.
4. Evaluasi alternatif
9

Setelah dilakukan pengambilan alternatif, alternatif tersebut harus di evaluasi


dan di bandingkan.
Alternatif keluaran didasarkan oleh tiga kondisi berikut.
a. Kepastian
b. Ketidak pastian
c. Resiko
5. Seleksi alternatif
Seleksi alternatif dilakukan dengan maksud untuk memecahkan permasalahan
sehingga mampu merealisasikan tujuan yang telah di ditetapkan. Hal yang
paling penting adalah bahwa pengambilan keputusan bukan hanya merupakan
aktivitas untuk memilih tetapi lebih dari itu merupakan proses yang dinamis.
Meskipun terdapat perbedaan antara sasaran sebuah keorganisasian dengan
sasaran keorganisasian yang lain, atau dengan sasaran sosial,namun system
nilai dari manajer sebagai pengambil keputusan akan memberikan dampak
alternative yang dipilihnya. Manajer sebagai pengambil keputusan
sebenarnya bukan orang yang mencari kepuasan dengan memilih alternatif
yang memenuhi standar yang dapat diterima.
6. Implimentasi keputusan
Setiap keputusan memiliki karakteristik sedikit lebih dari suatu abstrak,
manakala keputusan tersebut tidak di implimentasikan. Apabila terjadi
keputusan yang baik dapat menjadi jelek karena dalam mengoprasikannya
kurang baik. Implimentasi keputusan merupakan aktivitas yang lebih penting
dari pada aktivitas nyata memilih alternatif. Pekerjaan manajer tidak hanya
terbatas pada keterampilan memilih pemecahan yang baik, tetaapi juga
meliputi pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk melaksanakan
pemecaha tersebut menjadi perilaku dalam organisasi.
7. Pengendalian dan evaluasi
Manajemen yang efektif melakukan pengukuran berkala mengenai keluaran
yang nyata. Apabila nyata tidak sesuai dengan keluaran yang direncanakan,
harus diadakan perubahan dalam pemecahan yang dipilih pelaksanaannya
atau dalam sasaran semula. Apabila sasaran semula harus diubah proses
pengambilan keputusan secara keseluruhan perlu diulang kembali. Hal yang
penting adalah bahwa jika keputusan tersebut dilaksanakan, manajer tidak
dapat beranggapan bahwa keluarannya akan memenuhi sasaran semula.
2.2.2 Gaya Pengambilan Keputusan Manajemen
Faktor penting dalam proses pengambilan keputusan adalah permasalahan
yang harus dihadapi. Untuk merealisasikan tujuan, aktivitas perencanaan harus
dilaksanakan terlebih dahulu secara sederhana maupun rumit sehingga timbul
10

aktifitas yang efektif dengan rencana tertentu sebagai standar melakukan aktifitas
dalam organisasi. Manajer karena otoritasnya dalam suatu organisasi dipenuhi
dengan seranhkaian pengambilan keputusan untuk menetapkan alternatif tindakan
dalam penyelesaian permasalahan yang dihadapi.
Dalam proses perencanaan
tersebut manajer menetapkan tujuan
organisasi, sumber daya yang akan digunakan, dan bawahan mana yang akan
menjalankan setiap tugas yang telah ditetapkan.
Secara umum gaya pengambilan keputusan yang dimaksud adalah sebagai
berikut.
1. Manajer mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan masukan
informasi yang tersedia pada waktu tertentu.
2. Manajer memperoleh informasi yang diperlukan dari para bawahan dan
kemudian menetapkan keputusan yang dipandang relevan.
3. Manajer membicarakan permasalahan yang dihadapi organisasi dengan para
bawahan secara individual dan mendapatkan gagasan dan sasaran tanpa
melibatkan para bawahan sebagai suatu kelempok.
4. Manajer membicarakan situasi keperluan dengan para bawahan sebagai suatu
keleompok dan mengumpulkan gagasan dan sasaran para bawahan tersebut.
5. Manajer membicarakan situasi keputusan dengan para bawahan sebagai suatu
kelompok dan kelompok menyusun serta menilai alternatif.
Pengambilan keputusan (manajer) sebagai seorang yang harus melakukan
pengambilan keputusan harus memenuhi berbagai keteria dasar, terutama syarat
intelektual dan mental. Dalam organisasi, sering kali timbul keputusan untuk
membentuk pusat penyimpanan informasi. Organisasi baru biasanya memiliki
pusat informasi yang sekaligus mendukung pusat-pusat keputusan. Setiap
keputusan akan selalu timbul permasalahan keputusan. Permasalahan tersebut
terjadi mengenai apa yang harus dikumpulkan dan dalam bentuk yang bagaimana
informasi tersebut harus disimpan dimana dan untuk berapa lama. Apabila
manajer terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, bawahan makin lama
makin tidak tau mengenai hal-hal yang harus dikerjakan secara terarah.
2.2.3 Kerangka Kerja Dan Konsep Pengambilan Keputusan
Menurut Davis (1974) kerangka kerja untuk pengambilan keputusan
tersebut meliputi hal-hal berikut
1. Sistem pengambilan keputusan
Sistem pengambilan keputusan adalah suatu cara atau prosedur tertentu,
ketika suatu keputusan diambil oleh pembuatnya. Sistem pengambilan
keputusan tersebut dapat dilakukan secara terbuka dan secara tertutup.
11

Manajer sebagai pengambil keputusan terbuka memiliki asumsi dasar


yaitu.
a. Tidak mengetahui seluruh alternatif dan keluarannya
b. Melakukan pencarian secara terbatas untuk menentukan beberapa
alternatif yang memuaskan.
c. Mengambil keputusan yang memuaskan tingkat aspirasinya.
2. Pengetahuan mengenai keluaran
Suatu keluaran menentukan mengenai hal-hal yang akan terjadi manakala
suatu arah tidak ditentukan. Dalam analisa pengambilan keputusan, bisanya
dibedakan menjadi 3 kategori dasar pengetahuan yang sangat berhubungan
keluaran, yaitu sebagai berikut.
a. Kepastian, yaitu pengetahuan yang akurat dan lengkap mengenai
keluaran setiap alternatif.
b. Resiko, yaitu keluaran yang mungkin timbul dapat dilettakan pada
setiap keluaran.
c. Ketidakpastian, yaitu beberapa keluaran mungkin timbul dan dapat
diidentifikasi tetapi tidak ada penegtahuan tingkat kemungkinan yang
dapat diletakkan kepada setiap keluarannya.
Apabila keluarannya diketahui dan dampak keluaran adalah pasti,
permasalahan pengambilan keputusan adalah menghitung alternatif atau
keluaran optimum. Pengambilan keputusan rasional dilakukan apabila hanya
kemungkinan berbagai kluaran saja yang diketahui adalah identik dengan
kepastian. Akan tetapi dalam hal ini bukan memaksimumkan keluaran,
melainkan norma umumnya memaksimumkan keluaran yang diharapkan.
3. Tanggapan keputusan
Pada umumnya keputusan dapat digolongkan menjadi keputusan terprogram
dan keputusan tidak terprogram.
a. Keputusan terprogram
Yaitu keputusan yang dapat dispesifikasikan sebelumnya sebagai
seperangkat norma atau prosedur keputusan.
b. Keputusan tidak terprogram
Yaitu keputusan yang terjadi hanya satu kali atau berubah setiap saat
diperlukan. Pada pengamblan keputusan tidak terprogram biasanya
tidak dapat didelegasikan.
4. Deskripsi mengenai pengambilan keputusan

12

Dua model pengambilan keputusan yang sangat sering terdapat dalam suatu
organisasi adalah model normatif dan model deskriptif.
a. Model normatif
Yaitu sebuah model pengambilan keputusan yang memberikan kepada
manajer sebagai pengambil keputusan mengenai bagaimana ia harus
mengambil sekelompok keputusan.
b. Model deskriptif
Yaitu sebuah model pengambilan keputusan yang berusaha untuk
menejalaskan prilaku konkret dan karena itu telah dikembangkan
terutama oleh para ilmuan prilaku.
5. Kriteria untuk pengambilan keputusan
Pada model normatif, kriteria untuk menentukan saru diantara beberapa
alternatif adalah maksimumkan atas laba, utilitas, nilai yang diharapkan, dan
sejenisnya. Pandangan alternatif pada kriteria pengambilan keputusan adalah
pemuasan. Anggapan konsep pemuasan lebih merupakan rasionalitas terbatas
daripada rasionalitas lengkap.
6. Relevansi konsep keputusan terhadap desain sistem informasi manajemen
Sistem infomasi manajemen berdasarkan komputer berguna baik dalam
model keputusan tertutup maupun keputusan terbuka. Variasi dalam
pengambilan keputusan untuk keputusan dalam kondisi kepastianm, resiko,
dan ketidakpastian menunjukkan perlunya beberapa model keputusan bagi
sistem informasi manajemen.
Keputusan tidak terprogram biasanya tidak berstruktur. Untuk itu,
sistem informasi manajemen menyediakan seperangkat alat agar manajer
sebagai pengambil keputusan dapat menstruktur proses pengambilan
keputusan.
2.2.4 Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi Sederhana
Biasanya permaslahan yang dihadapi oleh organisasi sederhana adalah
masalah strategis dan langsung pada permasalahan organisasi atau permasalahan
kerja. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam praktik dan keputusan
yang harus diambil, dapat digolongkan menjadi beberapa tipe permasalahan, yaitu
sebagai berikut.
1. Permasalahan yang bersifat rutin dan repetitif
Untuk menghadapi permasalahan tersebut harus dibuat semacam program
atau sistem ysng terdiri atas berbagai macam proses atau prosedur
penanganan yang spesifik.
2. Permasalahan yang datangnya tidak menentu, yang bersifat insidental

13

Permasalahan tersebut memili sifat yang unik strukturnya tidak menentu


untuk menghadapi permasalahan demian hanya akan mampu menentukan tata
cara penanganan permasalahan yang sangat umum dan menunjuk manajemen
yang memiliki otoritas apabila muncul. Keputusan yang diambil dalam
rangka ini biasanya disebut keputusan tidak terprogram. Selai pengelolan tipe
permasalahan di atas menurut hierarki permasalahandapat dibedakan menjadi
berikut.
a. Permasalan yang bersifat sederhana
b. Permasalahan yang bersifat sedang
3. Permasalahan yang bersifat sangat koplek
Permasalahan yang bersifat sangat komplek memiliki elemen yang agak
banyak, volume data atau informasi yang harus diolah sangat besar.
Untuk menelaah cara pengambilan keputusan, terlebih dahulu harus
dipahami mengenai metode, teknik, prosedur, dan sistem. Metode adalah
suatu cara tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu dengan memberikan
pertimbngan yang cukup kepada tujuan, fasilitas yang tersedia, dan jumlah
pengguna waktu, uang dan aktifitas. Teknik adalah cara menangani detaildetail teknis dari sesuatu atau cara mengapa dan menggunakan data teknis
dari suatu barang atau pekerjaan. Prosedur berhubungan dengan pemilihan
dan utilitas suatu arah tindakan tertentu sesuati dengan kebijakan yang telah
ditentukan. Dalam setiap pengambilan keputusan selalu diperlukan kombinasi
yang sebaik-baiknya atas faktor-faktor
1. Intuisi dan perasaan
2. Pengumpulan, pengolahan, penilaian, dan interpretasi fakta secara
rasional sistematis
3. Pengalaman
4. Kewibawaan
5. Otoritas
Metode atau cara pengambilan keputusan organisasi sederhana dapat
diaplikasikan terhadap karakteristis keputusan sebagai berikut.
1. Keputusan yang bersifat sederhana atau rutin dapat diambil secara
individual.
2. Keputusan yang dibakukan dapat diserahkan kepada suatu unit pengolah
elektronik atau kepada seorang yang professional.
3. Keputusan yang bersifat rumit dan komplek dalam arti tanggung jawab
sosial sebaiknya diambil berkelompok untuk mempermudah analisis
permasalahan dan memperingan resiko.
14

4. Keputusan yang bersifat rumit dan komplek oleh karena permasalahan


mengandung beberpa alternatif yang tidak terjangkau dengan otak biasa
maka sebaiknya diambil seorang ahli dan profesinal.

2.2.5 Sistem Informasi Manajemen


Sistem informasi manajemen merupakan sebuah sistem informasi yang
digunakan untuk melakukan pengolahan transaksi yang sangat berguna bagi
kepentingan organisasi. Sistem informasi manajemen secara umum dapat
didefinisikan sebagai sebuah sistem manusia atau mesin yang terintegrasi untuk
menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi organisasi. Sistem
informasi manajemen sebagai suatu kumpulan manusia dan sumber daya modal
didalam suatu organisasi yang bertanggung jawab untuk pengumpulan dan
pengolahan data guna menghasilkan informasi yang berguna bagi setiap hierarki
manajemen dalam perencanaan dan pengendalian aktifitas organisasi.
Tujuan utama sistem informasin manajemen, yaitu untuk membantu
seluruh hierarki pengurusan dalam organisasi dari manajemen hierarki puncak
yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan secara keseluruhan
sampai pada manajemen hierarki pertama yang hanya bertanggung jawab atas
operasi sehari-hari dari departemen tertentu saja.
Siklus pengolahan data dapat disimpulkan sebagai siklus yang memiliki
lima tahap, yaitu:
a. Tahap pengumpulan data
Meliputi dua aktifitas utama yaitu
1. Observasi lingkungan yang menimbulkan data
2. Pencatatan data yang biasanya dalam bentuk dokumen
b. Tahap penghalusan data
Penghalusan data meliputu aktifitas sebagai berikut
1. Salah satu diantaranya adalah klasifikasi data yang menyangkut
penerapan kode identifikasi pada catatan data yang didasarkan pada
sistem pengelompokan yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Akumulasi catatan masukan yang sama untuk diolah sebagai satu
akumulasi atau kelompok.
3. Penyortiran data untuk menyiapkan suatu akumulasi catatan masukan
kedalam urutan berdasarkan nomor urutan atau menurut abjad sesuai
dengan cara yang dikehendaki.

15

4. Pemindahan data dari satu lokasi ke lokasi lain dan pengubahan dalam
bentuk yang lain.
c. Tahap pengolahan data
Tahap ini mencakup berbagai tahap aktifitas yang meliputi hal-hal berikut
1. Akumulasi yang meliputi operasi matematis.
2. Perbandingan dan pemeriksaan simultan terhadap dua atau lebih
golongan data
3. Pengikhtisaran merupakanaktitas pengolahan yang sangat penting dan
menyangkut penggunan data sedikit demi sedikit ke dalam kuantitas yang
dikehendaki
4. Penyaringan yaitu meneliti data tambahan dari pengolahan berikutnya
5. Pencarian berupa aktifitas mengambil dari tempat penyimpanan untuk
digunkan dalam pengolahan atau untuk tujuan keluaran.
d. Tahap pemeliharaan data
Tahap ini meliputi aktifitas sebagai berikuti
1. Penyimpanan data untuk referensi
2. Pemutakhiran data yang disimpan untuk menunjukkan kondisi yang lebih
muktahir
3. Pemberian indeks data yang menyangkut pembuatan catalog informasi
yang berhubungan dengan data yang disimpan
4. Perlindungan atau pengamanan data yang disimpan yang meliuputi
berbagai prosedur dan teknik untuk mencegah kerusakan, kehilangan,
atau pemahaman yang tidak mendapat perstujuan manajemen.
e. Tahap keluaran data
Tahap ini biasanya dalam bentuk yang umum, yaitu laporan atau dokumen.
Istilah pengedaran biasanya digunakan dalam pengertian penyiapan dokumen
kluaran seperti cek, faktur, nota, dan surat pesanan pembelian batang.
Dalam pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya modal
tersebut terdapat dua kategori pengolahan data yaitu pengolahan data secara
manual dan secara otomatis.
1. Sistem pengolahan data secara manual
Tingkat kemutakhiran yang paling rendah dalam sistem pengolahan data
secara manual adalah bahwa seluruh fungsi pengolahan data
dilaksanakan seluruhnya oleh manusia.
2. Sistem pengolahan data secara otomatis
16

Tingkat kemuktakhiran yang paling rendah dalam sistem pengolahan


data otomatis adlah sistem kartu pons. Fungsi pengolahan data adalah
pencatatan, penyortiran, kalkulasi, ikhtisar, dan pelapor.

17

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi dalam upaya untuk mencapai tujuan dari suatu perusahaan itu,
terlebih dahulu harus memperhatikan dalam hal perencanaan serta pengambilan
keputusan.
Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen
karena

tanpa

perencanaan

fungsi-fungsi

lain

seperti;

pengorganisasian,

pengarahan, dan pengontrolan tidak akan dapat berjalan. Perencanaan merupakan


suatu proses menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana hal tersebut dapat
dicapai berkaitan dengan apa yang akan di kerjakan dalam suatu kegiatan.
Adapun fungsi perencanaan dalam manajemen yaitu; untuk membedakan
arah dari setiap kegiatan dengan jelas sehingga hasil diperoleh bisa seefektif dan
seefisien mungkin, untuk mengevaluasi setiap tujuan-tujuan yang telah dilakukan
sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dapat dihindari lebih awal,
memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan
yang mungkin muncul sehingga lebih waspada dan dapat diselesaikan dengan
cepat, dan menghindari pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terkendali.
Untuk pengambilan keputusan sendiri merupakan serangkaian aktifitas
yang dilakukab oleh seorang dalam usaha memecahkan permasalahan yang
sedang dihadapi dengan cara memilih suatu alternave pilihan yang terbaik
sehingga dapat menguntungkan dan bisa mencapai apa yang menjadi tujuan
perusahaan.

18