Anda di halaman 1dari 22

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam matakuliah Elektronika II telah dipelajari beberapa teori tentang rangkaian
common seperti common basis, common emitter, dan common collector. Salah satu penerapan
dari rangkaian common emitter adalah penguat kelas A. Penguat kelas A ini terdiri dari
rangkaian CE, dimana titik Q nya itu berada tepat ditengah-tengah garis beban DC.
Dalam teori kita telah mempelajari cara merancang penguat kelas A dengan
perhitungan-perhitungan dan karakteristik dari penguat kelas A itu sendiri. Untuk
membuktikan rancangan yang kita buat, maka kita harus mempraktikannya secara langsung.
Maka dari itu, untuk memenuhi tugas matakuliah Elektronika II dan untuk membuktikan
rancangan penguat yang telah kita buat menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang
kita inginkan.
Penguat kelas A ini adalah penguat tegangan. Tegangan output yang dihasilkan akan
memiliki nilai tegangan yang lebih besar daripada tegangan inputnya. Hal ini karena terdapat
penguatan dalam rangkaian tersebut. Sinyal output yang dihasilkan akan berbanding terbalik
dengan sinyal inputnya. Jika rancangan yang kita buat tepat, maka tidak akan terjadi
perpotongan sinyal pada sinyal outputnya.

1.2. Perumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik penguat daya kelas A ?
2. Bagaimana membuat rancangan penguat daya kelas A ?
3. Bagaimana cara kerja penguat daya kelas A ?
4. Apakah ada perbedaan output yang dihasilkan antara rancangan hasil perhitungan
dengan hasil pengukuran ?

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

1.3. Tujuan Penulisan


1. Memahami karakteristik penguat daya kelas A
2. Dapat membuat rancangan penguat daya kelas A
3. Memahami cara kerja penguat daya kelas A
4. Mengetahui perbedaan output yang dihasilkan antara rancangan hasil perhitungan
dengan hasil pengukuran

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


BAB II
PEMBAHASAN
PENGUAT DAYA KELAS A
Apabila sebuah transistor mempunyai titik Q didekat tengah-tengah dari garis beban
DC, suatu sinyal AC yang kecil mengakibatkan transistor bekerja di daerah aktif dalam
seluruh siklusnya. Apabila isyarat membesar, transistor terus bekerja di daderah aktif selama
waktu mencapai puncak-puncaknya sepanjang garis beban titik jenuh dan titik pancung tidak
terpotong. Untuk membedakan cara operasi ini dari jenis-jenis lainnya, operasi tersebut
disebut dari kelas A. Operasi kelas A, berarti operasi di mana tidak terjadi pengguntingan di
kedua ujung dari sinyal AC. Apabila pengguntingan terjadi, operasi tersebut tidak lagi disebut
dari kelas A.
Untuk membuat rangkaian penguat daya kelas A kita dapat menggunakan rangkaian
sebuah penguat CE. Kita dapat melakukan perancangan penguat kelas A ini dengan
menggunakan beberapa rumus yang akan dibahas di pembahasan berikutnya. Tentu saja
rancangan yang kita buat harus meletakan titik Q berada di tengah-tengah garis beban DC
agar tidak terjadi perpotongan sinyal pada outputnya.
Sinyal output dari penguat daya kelas A ini adalah terbalik dengan sinyal inputnya.
Hal ini terjadi karena ?????

2.1.Garis beban AC
Setiap penguat melihat dua macam beban; beban dc dan beban ac. Ini berarti kita mengenal
dua jenis garis beban; garis beban dc dan garis beban ac. Kita dapat menurunkan garis beban
dc, dengan menganalisa rangkaian ekivalen dc. Hal ini telah kita lakukan dalam bab-bab
sebelumnya. Untuk memperoleh garis beban ac, kita harus menganalisa rangkaian ekivalen
ac.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

(a
(b
))

(c)

(d
)

Gambar 1. Penguat CE (a) Rangkaian (b) Rangkaian ekivalen DC (c) Rangkaian Ekivalen
AC

Gambar 2. Garis beban DC dan AC


Pada Gambar 1-b. Bila terminal-terminal kolektor-emitor dihubung pendekan, transistor akan
menjadi jenuh dan arus dc dari kolektor menjadi maksimum dan diberikan oleh:

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


Apabila terminal-terminal kolektor-emitor terbuka transistor-transistor tersebut dalam
keadaan off dan tegan dc kolektor-emitor mencapai maksimum sama dengan

Perpotongan dengan sumbu-sumbu vertikal dan mendatar diperlihatkan dalam Gambar 2.


Selanjutnya, kita dapat mencari arus dan tegangan dc di titik Q. Untuk seterusnya kita akan
mempergunakan

I CQ

V CEQ untuk melambangkan dan di titik Q. Seperti

dan

diperlihatkan dalam Gambar

2. Dalam Gambar 2, arus

kolektor

diberikan oleh

dc

kira-kira

Dimana

Tegangan dc kolektor-emitor adalah

Setelah menentukan garis beban dc. Pada Gambar 1-c menunjukkan rangkaian ekivalen ac.
Emiter untuk ac tersambung ke bumi, oleh adanya kapasitor pintas, dan kolektor memacu
suatu tahanan beban sebesar

Apabila tegangan masukan ac dari Gambar 1-c disusutkan menjadi nol, transistor akan
beroperasi di titik Q yang diperlihatkan dalam Gambar 1-d. Apabila isyarat masukan ac
diperbesar mulai dari nol, perubahanperubahan akan terjadi dalam arus kolektor total
dan tegangan kolektor total

IC

V CE . Oleh karena tahanan beban ac berbeda dengan tahanan

beban dc, maka operasi berlangsung sepanjang garis beban ac daripada garis beban dc.
Perhatikan bahwa garis beban ac mempunyai titik jenuh (saturation point) yang diberi
lambang

I C (sat) dan suatu titik pancung yang ditunjukkan dengan

v CE (cutoff ) .

2.2.Ujung-ujung Garis Beban AC

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


i c(sat ) dan

Untuk mendapatkan harga dari

v CE(cutoff )

dalam Gambar 1-c, tegangan

kolektor ac diberikan oleh

Dimana tanda minus menunjukkan pembalikan fasa. Oleh karena tegangan ac dan arus ac
ekivalen dengan perubahan dalam arus dan tegangan total, persamaan di atas dapat ditulis
sebagai:

Dalam Gambar 2, perubahan dalam arus total antara titik Q dan titik jenuh dari garis beban
adalah:

Ini menyatakan kenaikan dalam arus total apabila kita berpindah dari titik Q ke titik jenuh
yang terletak pada garis beban.
Dengan jalan yang sama, perubahan dalam tegangan total antara titik Q dan titik jenuh adalah

Hal ini diperhatikan oleh karena tegangan total menurun bila kita pindah dari titik Q ke titik
jenuh yang terletak pada garis beban.
Apabila perubahan ini disubstitusikan ke dalam persamaan (1-6), kita peroleh :

Dengan menyelesaikan persamaan untuk ini kita peroleh :

arus ini adalah arus di ujung atas dari garis beban. Dengan penurunan yang serupa, tegangan
di ujung bawah dari garis beban adalah

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Gambar 3. Garis beban ac untuk penguat yang sembarang.


Gambar 3 memberikan rangkuman dari garis beban. Garis beban ac ini juga berlaku untuk
penguat yang sembarang oleh karena penurunan untuk tittik-titik ujung serupa dengan
penurunan dari persamaan (1-7) dan (1-8).
2.3.Kepatuhan
Dalam sebuah penguat linier, sebuah transistor bekerja sebagai sebuah sumber arus. Selama
sinyal ac kecil, transistor akan berperilaku sebagai sebuah sumber arus selama siklus ac.
Akan tetapi, apabila isyaratnya besar, transistor dapat didesak ke keadaan jenuh atau keadaan
terpancung di mana transistor tidak lagi berperilaku sebagai sumber arus.
Kepatuhan DC
Kepatuhan (Complience) dari sebuah sumber arus adalah jangkauan tegangan operasi
dari sumber tersebut. Misalnya apabila sebuah sumber arus dapat bekerja antara suatu
tegangan minimum 5 V dan sebuah tegangan maksimal 25 V,maka sumber tersebut
mempunyai kepatuhan 20 V
Kepatuhan dc dari sebuah penguat transistor adalah jangakauan tegangan operasi dc
dari kolektor. Misalnya, Gambar 4 memperlihatkan sebuah garis beban dc dari sebuah
rangkaian yang diberi prategangan oleh sebuah pembagai tegangan. Oleh karena titik Q dapat
ditempatkan di mana saja sepanjang garis beban dc, maka kepatuhan tegangan dc sama
dengan . Apabila

V CC =15V maka penguat transistor tersebut mempunyai kepatuhan 15V.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Gambar

4.

Kepatuhan dc sama denegan seluruh garis beban dc.


Sinyal maksimum tak terpotong
Sebuah penguat akan beroperasi sepanjang garis beban ac, bila penguat tersebut
dijalankan oleh sebuah tegangan ac. Apabila sinyalnya terlalu besar, sinyal tersebut
akan terpotong di salah satu ujungnya seperti ditunjukkan dalam Gambar 5-a. Apabila
titik Q berada di bawah pusat garis beban, kita memperoleh pemotongan seperti
ditunjukkan dalam Gambar 5-a. Apbila titik Q berada di atas pusat dari garis beban,
kita peroleh pemotongan jenuh, seperti diperlihatkan dalam Gambar 5-b. Apbila kita
menempatkan Q di tengah-tengah garis beban, kita peroleh sinyal terbesar yang tidak
terpotong (Gambar 5-c).

Gambar 5. (a)Penjepitan pancung. (b)Penjepitan kejenuhan. (c) ayun


isyarat maksimal

Kepatuhan AC
ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


Kepatuhan ac PP adalah maksimum tegangan keluaran penguat dari puncak ke puncak
(tanpa pemotongan). Misalnya dalam Gambar 5-a diperlihatkan garis beban ac dengan
titik Q lebih dekat ke keadaan pancung daripada keadaan jenuh. Oleh karena
perpotongan dalam keadaan terpancung terjadi lebih dulu, maka kepatuhan ac-nya
adalah:

Apabila

I CQ =1 mA

r L=3 K ,

dan

harus mempunyai kepatuhan ac

penguat

sebesar

Nilai PP ini menyatakan maksimum dari tegangan keluaran dari puncak ke puncak
yang tak terpancung dari setiap penguat dengan

I CQ =1 mA

dan r L=3 K

Dalam Gambar 5-b, titik Q lebih dekat pada kejenuhan. Ini berarti sinyal keluaran
yang terbesar yang tidak tergantung mempunyai tegangan puncak ke puncak sebesar

Apabila misalnya

V CEQ =5 V

, penguat mempunyai kepatuhan ac sebesar 10 V.

Apabila titik Q ditempatkan di pertengahan di garis beban ac seperti diperlihatkan


dalam Gambar 5-c, penguat mempunyai kepatuhan ac yang maksimal, artinya penguat
tersebut dapat menghasilkan sinyalyan tak terpancung yang maksimal. Selanjutnya

Oleh karena itu kita dapat menghitung kepatuhan ac dengan menggunakan


atau

2 I CQ . r L

2V CEQ

. Apabila kita menganalisa penguat transistor, kita ingin mengetahui

kepatuhan ac-nya. Untuk setiap penguat, kepatuhan tersebut sama dengan yang
terkecil di antara

2V CEQ

dan

2 I CQ . r L .

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

BAB III
PERANCANGAN
Setelah kita mengetahui tentang definisi dan juga rumus-rumus dari
penguat daya kelas A. Selanjutnya adalah perancangan penguat daya kelas
A. Untuk merancang sebuah penguat daya kelas A, diperlukan langkahlangkah dalam membuatnya, diantaranya:
3.1.Menentukan Transistor.
Untuk menentukan transistor yang digunakan pada penguat daya kelas
A. Maka kita memilih transistor jenis NPN dan memiliki aplikasi untuk penguat
daya. Jika kita lihat pada Gambar. 1 maka secara kasat mata kita akan
mengetahui bentuk fisik transistor daya. Selain itu, lihat datasheet transistor
untuk mengetahui Power Dissipation, ingat bahwa transistor daya harus
memiliki PD lebih dari 0,5 watt. Pada perancangan rangkaian penguat daya
kelas A, kami memilih transistor TIP41C, yang memiliki karakteristik dan
absolute maximum rating sebagai berikut.
Jenis : NPN Epitaxial Silicon Transistor
Aplikasi : Medium Power Linier and
Switching

Tabel 1. Absolute Maximum Ratings of TIP41C

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

10

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

V CC ,

3.2.Menentukan besar

dc

, dan

I CQ

Dalam menentukan besar Vcc, jangan melebihi dari nilai


Dan dalam menentukan nilai dari

I CQ

V CEO

, jangan melebihi dari

= 100 V.

IC

DC = 0,3

A.
Sehingga kita mendapatkan:

dc =75
I C =0,3 A
V CC =20V
I CQ =0,5 I C =0,5 ( 0,3 )=0,15 A

3.3.Menentukan nilai

R E , RC

R1

dan

R2

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

11

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Kita mulai dengan menghitung


Tegangan Emiter.
V E =0,1 V CC =0,1 ( 20 )=2 volt

Maka, Tahanan Emiter

VE
2V
=
=13,3
I E 0,15 A
Tahanan Kolektor
RC =4 R E=4 ( 13,3 )=53,2
R E=

Tegangan Basis yang diperlukan


adalah :
V B =V E + V BE=2+ 0,7=2,7 Volt

Oleh karena

I B=

dc

= 75, maka Arus Basis :

I C 0,15 A
=
=2 mA
dc
75

Arus melalui pembagi tegangan sekurang-kurangnya 10 kali lebih


besar dari arus basis yaitu :

I 2 =10 I B =10 ( 2 mA )=20 mA

Oleh karena itu, tahanan total dari sebuah pembagi tegangan :

R=

V CC 20 V
=
=1 K
I 2 20 mA

Oleh karena

R 2=

V B =V 2=2,7 V maka R 1 dan R2 sebagai berikut :

V 2 2,7 V
=
=135
I 2 20 mA

dan

R1=RR2=1000135=865

Tabel Nilai Perhitungan dan Nilai sebenarnya resistor.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

12

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Nilai Resistor

Hasil
Perhitungan

Yang ada Di
Pasaran

R1

865

820

R2

135

120

RE

13,3

15

RC , R L

53,2

56

3.4.Menentukan besar

C1 , C2

dan

C3

Pada rangkaian penguat daya kelas A, kapasitor yang digunakan adalah


yang memiliki polaritas (electrolyc capacitor). Untuk C1 dan C2 bernilai 10
F karena hanya sebagai bypass. Sedangkan untuk
karena sebagai kapasitor kopling. Oleh karenanya

erhatikan nila X C dari kapasitor


XC

XC

C3

C3
XC

sebesar 100 F
<< R E

berikut

1
= 2 fc
=

1
2 . . 100 .10 6 . 100 .106

X C =0,00001592
Terbukti bahwa nilai

XC

lebih kecil dari nilai

RE

Setelah semua nilai

komponen sudah didapat nilainya, maka rangkaiannya akan seperti gambar


di bawah ini.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

13

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

820

56
10

56

TIP 31
C

10

100
120

15

Gambar 8. Skema yang diuji cobakan


Karena resistor yang memiliki nilai pada skema diatas tidak di jual di pasaran,
maka kita akan menggantinya dengan resistor yang nilainya mendekati nilai
perhitungan. Kami juga menggunakan resistor dengan toleransi rendah yakni
5%. Untuk menghindari kesalahan nilai dalam perancangan rangkaian.
Tabel 3. Nilai Perhitungan dan Nilai sebenarnya resistor.
Nilai
Resistor

Nilai Perhitungan

Nilai Sebenarnya

R1

865

820

R2

135

120

RE

13,3

15

RC , R L

53,2

56

BAB IV
PERCOBAAN
4.1 Tujuan Percobaan
ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

14

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


Berikut adalah tujuan dari percobaan terhadap Penguat Kelas A :
1. Meguji Penguat Kelas A yang telah dirancang.
2. Membuktikan Karakteristik dari Penguat Kelas A.
4.2 Alat dan Bahan
Berikut adalah daftar dari Alat dan Bahan yang digunakan dalam percobaan :
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Alat/Bahan
Oskiloskop
Function Generator
Multimeter Digital
Power Supply
Probe Oskiloskop
Probe Function Generator
Capit Buaya
Transistor

Resistor

10

Kapasitor

11
12

Proto Board
Kabel Jumper

Keterangan
Dual Trace
Sanwa
TIP 41 C
- 120
- 820
- 15
- 56
- 10 uF
- 10 uF
- 100 uF
Potongan

Jumlah
1
1
1
1
2
2
4
1
@ 1 pcs

@ 1 pcs
1
10

4.3 Penguat Kelas A


Berikut adalah gambar rangkaian dari Penguat Kelas A yang telah dirancang
sebelumnya :

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

Gambar 1. Rangkaian Penguat Kelas A

15

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

4.4 Langkah Percobaan


Langkah-langkah yang telah kami lakukan dalam percobaan ini adalah :
1. Menyiapkan Segala Alat dan Bahan yang dibutuhkan.
2. Menyusun rangkaian pada proto board seperti gambar :

Gambar 2. Rangkaian Pada Proto Board

3. Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian penguat kelas A.


4. Menampilkan bentuk gelombang pada masukan dan keluaran.

4.5 Data Hasil

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

16

Gambar 3. Gelombang masukan dan gelombang keluaran.

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]


Berikut adalah sata hasil pengukuran pada percobaan pada rangkaian Penguat
Daya Kelas A :
No.

Besaran

Nilai

Vcc

20 V

VR1

16,93 V

VR2

2,5 V

VBE

0,7 V

VRE

1,93 V

Channel
1
V
RC

No.

Keterangan

8 1=5V
Volt/Div Channel
Volt/Div Channel
9 2=5V
Time/Div = 1ms
Nilai

IE
IC 1,8 Div
VIN = 9 V

Channel 26,5 V
125,65 mA
4,2
Div mA
206,43
VOUT = 21 V

Gambar Hasil pengukuran Gelombang :

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

17

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Berdasarkan Vin dan Vout yang diperoleh maka :


A=

V OUT 21
= =2,3
V
9

4.6 Analisis Data dan Perhitungan


Garis Beban DC
R2
120
V 2=
x V CC =
x 20=2,55 Volt
R 2+ R 1
120+ 820

I E =I C =

I B=

V 2V BE 2,5V 0,7 V
=
=123,3 mA
RE
15

I C 123,3 mA
=
=1,64 mA
DC
75

V CE =V CC I E ( RC +R E )
V CE =20123,3 mA ( 56 +15 )
V CE =20 V 8,75
V CE =11,25 V

I C (sat)=

V CC
20 V
=
=281,6 mA
R E + RC 15+ 56

V CE ( cut off )=V CC=20Volt

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

18

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

Penguatan
R .R
56 .56
rC= C L =
=28
RC + R L 56 +56
'

r e=

A=

25 mV
25 mV
=
=0,202
IC
123,3mA

rC
'

re

28
=138,6
0,202

Mencari Garis Beban AC


R .R
56 .56
rC= C L =
=28
RC + R L 56 +56
ic ( sat )=I CQ +

V CEQ
11,25
=123,3 mA +
=384, 92
r C +r E
28 +15

v ce ( cutoff )=V CEQ + I CQ ( r C +r E )


v ce ( cutoff )=11,25 V +123,3 mA ( 28+15 )
v ce ( cutoff )=11,25 V +5,3 V =16,55 V

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

19

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

No

Besaran

Hasil
Pengukuran

Hasil
Perhitungan

Presentasi
Error %

Vcc

20 V

20 V

0%

VR1

16,93 V

VR2

2,5 V

2,55 V

1,96%

VBE

0,7

0,7 V

0%

VRE

1,93 V

1,8 V

7,2%

VRC

6,5 V

6,3 V

1,58%

IE

125,65 mA

123,3 mA

1,9%

IC

206,43 mA

123,3 mA

67%

2,3

138,6

98,3 %

Perhitungan-Perhitungan lain
V 2=V R 2=2, 5Volt
V =V 2 V BE=2,50,7=1,8 V
V RC =I C x RC =123,3 mA x 56 =6,9 V

Analisis Error

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

20

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Apabila sebuah transistor mempunyai titik Q didekat tengah-tengah dari garis
beban DC, suatu sinyal AC yang kecil mengakibatkan transistor bekerja di daerah aktif
dalam seluruh siklusnya. Apabila isyarat membesar, transistor terus bekerja di daderah
aktif selama waktu mencapai puncak-puncaknya sepanjang garis beban titik jenuh dan
titik pancung tidak terpotong. Untuk membedakan cara operasi ini dari jenis-jenis
lainnya, operasi tersebut disebut dari kelas A. Operasi kelas A, berarti operasi di mana
tidak terjadi pengguntingan di kedua ujung dari sinyal AC. Apabila pengguntingan terjadi,
operasi tersebut tidak lagi disebut dari kelas A.
Untuk merancang penguat kelas A yang memiliki titik Q ditengah garis beban DC
nya maka menentukan nilai dari setiap hambatan dan juga kapasitor adalah kuncinya.
Disamping menentukan hal tersebut pemilihan transistor juga meruapakan hal yang
penting, karena data karakteristik dari sebuah transistor-lah yang akan mempengaruhi
nilai-nilai dari resistor pada rangkaian.
Besarnya penguatan dapat dihitung dengan membandingkan tegangan keluaran
(Vout) dengan tegangan masukan (Vin). Ciri khas dari sebuah penguat kelas A adalah
memiliki gelombang keluaran yang tidak terpangkas dan bekerja pada daerah aktif.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

21

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A]

5.2 Saran
1. Pemilihan transistor hendaknya memiliki karakteristik kerja diatas 0,5 Watt.
2. Dalam menentukan dc lebih baik menggunkana instrument ukur agar hasil dapat
lebih akurat.
3. Menggunakan alat ukur yang masih bekerja dengan baik (presisi).
4. Memilih resistor yang tersedia di pasaran dengan cermat, hindari menggunakan
resistor yang memiliki nilai cukup jauh dari yang telah ditentukan pada saat
perancangan.

ELEKTRONIKA II | Pendidikan Teknik Elektronika

22