Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TENTANG KARTU KREDIT

A. Pengertian Kartu Kredit


Kartu kredit adalah kartu yang di keluarkan oleh pihak Bank dan lembaga
keuangan lain yang sejenis untuk memungkinkan pembawanya membeli barang-barang
yang di butuhkan secara hutang. Expert Dictionary
Pada awalnya kartu kredit di terbitkan oleh bank untuk mempermudah
pembayaran bagi konsumen. Tetapi pada kenyataanya penerbitan kartu kredit di sertai
oleh

factor

nasabah

yang

kekurangan

dana

dalam

bentuk

deposit.

Bank

akan menerbitkan kartu kredit dengan jaminan berupa surat-surat berharga nasabah.
Sistem kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dengan
menggunakan kartu yang terbuat dari bahan plastik. Penerbitan kartu kredit sendiri
tercipta atas kesepakatan antara nasabah dengan bank yang menerbitkan kartu dalam
bentuk perjanjian yang sah secara hukum. Kartu kredit di fungsikan dengan
menggunakan ATM (Automatic Teller Machine)
Saat ini di Dunia kartu kredit di terbitkan oleh beberapa jaringan Internasional
yaitu VISA, MASTERCARD, DINNERS CLUB INTERNATIONAL dan AMERICAN
EXPRESS. Tetapi untuk jaringan sendiri saat ini yang paling luas adalah VISA, hal itu
terbukti dengan dipercaya sebagai sponsor pada olimpiade Beijing 2008.

B. Jenis-jenis Kartu Kredit


Saat ini yang berhak menerbitkan kartu kredi di Indonesia adalah lembaga
keuangan resmi seperti bank. Masing-masing penerbit memiliki kekurangan untuk

memberikan service kepada nasabah. Ada pun jenis-jenis kartu kredit berdasakan
jumlah maksimal uang yang dapat di keluarkan (limit) adalah :
1.

Platinum Limit yang paling tinggi s.d tidak terbatas

2.

Gold Limit menengah s.d tinggi

3.

Silver Limit rendah s.d menegah

C. Perkembangan Kartu kredit


Perkembangan kartu kredit cukup signifikan terutama di Benua Amerika dan
Eropa pada tahun 1966. Di dukung juga dengan munculnya Automatic Teller Machine
(ATM) pada tahun 1969. Pekembangan kartu kredit berkembang hingga ke Benua Asia
yang pada awalnya di Jepang dengan di keluarkanya kartu kredit oleh Bank
Sumitomo. Di Indonesia sendiri tidak ketinggalan dengan perkembangan kartu kredit.
Meskipun sudah sejak tahun 1964 hotel Indonesi menerima pembayaran dengan kartu
kredit. Penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran di Indonesia di secara
menonjol di mulai pada tahun 1970-an.
Kartu kredit yang pertama kali terbit di Indonesia adalah kartu kredit yang di
terbitkan oleh Dinners Club Member dan American Express. Sedangkan bank Nasional
yang pertama kali yang menerbitkan kartu kredit adalah bank Central Asia (BCA), namu
kartu itu hanya dapat di manfaatkan oleh nasabah Bank BCA (bersifat internal).
Sedangkan bank Nasional yang pertama kali menerbitkan kartu kredit bekerja sama
dengan jaringan Internasional adalahBank DUTA. Perkembangan penggunaan kartu
kredit dalam waktu yang relative singkat tarjadi di perbankan Indonesia.

D.

Dasar

Indonesia

Hukum

Penggunaan

Kartu

Kredit

di

Kegiatan penerbitan kartu kredit di Indonesia di dasarkan pada beberapa kententuan


sebgai berikut:
1. UU No 7 tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana yang telah di ubah
dengan UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan Nasional. Penyelenggaraan
kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu kredit didasarkan pada
ketentuan Pasal 6 huruf 1 UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana
telah

diubah

dengan Undang-Undang

Nomor

10

Tahun

1998

Tentang Perbankan. Pasal 6 huruf 1 Undang-Undang Perbankan menyatakan


bahwa usaha kartu kredit merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat
dilakukan oleh bank. Dengan demikian, Undang-Undang Perbankan dapat
dijadikan dasar penyelenggaraan usaha kartu kredit sebagai alat pembayaran
oleh bank. Namun, Undang-Undang Perbankan tidak mengatur secara lebih rinci
mengenai penerbitan dan penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran.
2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK. 013/1988 tentang ketentuan
dan tata cara pelaksanaan lembaga pembiayaan. Keputusan Menteri keuangan
nomor 1251/KMK. 013/1988 tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan
lembaga pembiayaan (KMK Lembaga Pembiayaan) mulai berlaku pada tanggal
20 Desember 1988. KMK Lembaga Pembiayaan ini merupakan peraturan
pelaksana dari Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga
Pembiayaan. Di dalam KMK Lembaga Pembiayaan ini dinyatakan bahwa usaha
kartu kredit merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat dilaksanakan oleh
Lembaga Pembiayaan.
3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/52/PBI/2005 tentang penyelenggaraan
kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu kredit tanggal 28
Desember 2005 yang di perbaharui dengan peraturan Bank Indonesia Bank
Indonesia Nomor 10/8/PBI/2008.12
4. Peraturan Bank Indonesia nomor 7/52/PBI/2005 tentang penyelenggaraan
kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu tanggal 28 Desember
2005 (PBI APMK) merupakan peraturan dari Bank Indonesia yang mengatur

secara khusus mengenai penyelenggaraan kegiatan pembayaran dengan


menggunakan kartu kredit. Di dalam PBI APMK ini diatur mengenai proses
pengajuan ijin oleh Bank dan Lembaga selain bank untuk menjadi prinsipal,
penerbit, maupun sebagai acquirer. Selain itu PBI APMK ini juga mengatur
mengenai penyelenggaraan dan penghentian kegiatan alat pembayaran dengan
menggunakan kartu dan pengawasan terhadap penyelenggaraan kegiatan
tersebut.

E. Klasifikasi Kartu Kredit


Berdasarkan klasifikasiny Kartu kredit dapat dibedakan menjadi berbagai jenis, antara
lain:
a. Berdasarkan sudut pandang penerbitan, kartu kredit dapat dibedakan menjadi
kartu kredit yang diterbitkan oleh bank dan lembaga keuangan lain yang bukan
bank. Kartu kredit yang diterbitkan oleh Bank misalnya Visa Card dan Master
Card, sedangkan kartu kredit yang diterbitkan oleh lembaga keuangan selain
bank misalnya Dinners Club dan American Express
b. Berdasarkan sudut pandang tujuan, kartu kredit dapat dibedakan menjadi
kartu kredit umum dan kartu kredit khusus. Kartu kredit umum adalah kartu kredit
yang dapat digunakan untuk bertransaksi dimana saja misalnya kartu kredit yang
hanya dapat digunakan untuk bertransaksi dimana saja misalnya kartu
kredit Visa dan Master Card, sedangkan kartu kredit khusus adalah kartu kredit
yang hanya dapat digunakan di tempat-tempat tertentu saja, misalnya Golf
Card yang hanya dapat digunakan ditempat bermain golf atau Mega carrefour
yang hanya dapat digunakan untuk berbelanja di pasar swalayan Carrefour.
c. Berdasarkan sudut pandang fasilitas (jumlah limit kredit), kartu kredit
dibedakan atas kartu kredit Classic dan Gold. Kartu kredit Classic ini memiliki
limit kredit antara 1 hingga 10 juta rupiah, sedangkan kartu kredit Gold memiliki

limit kredit antara 10 sampai 30 juta rupiah. Dasar pembedaan ini adalah jumlah
pendapatan pemegang kartu kredit yang bersangkutan.
d. Berdasarkan sudut pandang pemegang kartu kredit, kartu kredit dibedakan
atas kartu kredit utama seperti Personal (Primary) Card dan Company Card,
serta kartu kredit pelengkap seperti Supplementary Card.

F. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Proses Penerbitan


Dan Penggunaan Kartu Kredit
Di dalam proses penerbitan dan penggunaan kartu kredit terdapat beberapa
pihak yang terlibat, adapun pihak-pihak tersebut adalah :
1)

Pihak Penerbit (issuer)


Pihak penerbit adalah bank atau lembaga keuangan lain selain bank yang
membuat rekening dan mengeluarkan kartu pembayaran bagi card holder.
Pihak penerbit menjamin pembayaran untuk transaksi yang terotorisasi
menggunakan kartu pembayaran yang dikeluarkannya, sesuai dengan regulasi
yang dikeluarkan oleh pemegang merek kartu dan pemerintah setempat..

2)

Pihak Pengelola (acquirer)


Acquirer adalah bank atau lembaga keuangan selain bank yang melakukan
kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu yang dapat berupa
VISA, MASTERCARD, DINNERS CLUB, AMERICAN EXPRESS dan lainya.

a. Financial acquirer, yaitu acquirer yang melakukan pembayaran terlebih dahulu


atas transaksi yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit
b. Technical acquirer, yaitu acquirer yang menyediakan saran yang diperlukan
dalam pemrosesan alat pembayaran dengan menggunakan kartu;

3)

Pihak Pemegang Kartu Kredit (cardholder)


Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat menjadi
pemegang kartu kredit, yaitu :
A. UU Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan Pasal 1 ayat 16,
Penghasilan yang jumlahnya cukup dan disesuaikan dengan fasilitas
melalui kartu kredit yang diberikan. Pemenuhan syarat ini dapat dilihat
melalui slip gaji, laporan keuangan usaha, mutasi rekening bank, dan lainlain.
B. Kontinuitas

penghasilan.

Penghasilan

yang

tinggi

tidak

menjamin

keberlanjutan dari pemenuhan kewajiban pemegang kartu kredit untuk


memenuhi kewajibannya kepada perusahaan kartu kredit. Kontinuitas dari
penghasilan yang cukup lebih dapat memberikan keyakinan atas
kemampuan calon pemegang kartu kredit untuk melunasi kewajibannya.
C. Niat baik dari calon pemegang kartu kredit untuk selalu memenuhi
kewajibannya. Salah satu cara untuk melihat niat baik dari calon
pemegang kartu kredit adalah dengan melihat apakah calon pemegang
kartu kredit yang bersangkutan termasuk ke dalam daftar hitam milik bank,
bank sentral, atau lembaga keuangan lain. Seseorang yang namanya
tercantum di dalam daftar hitam biasanya dianggap kurang dapat
dipercaya dalam memenuhi kewajiban keuangannya.
D. Pihak Pemegang barang dan/ atau jasa (merchant) Merchant adalah
pedagang barang dan/ atau jasa yang telah bekerja sama dengan issuer
dan acquirer untuk menerima alat pembayaran dengan menggunakan
kartu kredit. Prosedur Permohonan dan Penerbitan Kartu Kredit

G. Hak dan Kewajiban Pihak-Pihak Yang Terkait


Dalam Proses

Dengan adanya perjanjian penerbitan kartu kredit, maka dengan demikian timbul
hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang terlibat di dalam proses penerbitan
dan penggunaan kartu kredit tersebut. Adapun hak dan kewajiban tersebut adalah
sebagai berikut :.
a. Hak penerbit
1. Memperoleh iuran tahunan;
2. Memperoleh pembayaran transaksi yang telah dilakukan pemegang kartu kredit
termasuk bunga keterlambatan;
3. Membatalkan atau memperpanjang keanggotaan pemegang kartu kredit;
4. Menarik kembali kartu kredit yang ada pada pemegang kartu kredit;
5. Mencantumkan nomor kartu kredit yang telah dibatalkan oleh penerbit atau atas
permintaan pemegang kartu kredit ke dalam daftar hitam;
6. Menolak transaksi yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit bila :
i.

Pemegang kartu kredit belum memenuhi kewajibannya kepada


pnerbit;

ii.

Transaksi tersebut diragukan oleh penerbit karena alasan tertentu

Di Indonesia penerbitan kartu kredit di atur oleh Undang-Undang suapaya setiap bank
tidak mengalokasikan modalnya untuk kredit.
b. Kewajiban Penerbit
1. Membayar segala transaksi pemegang kartu kredit yang telah disetujui oleh
penerbit kepada pedagang melalui pengelola;
2. Memberikan pelayanan dan informasi kepada pemegang kartu kredit;
3. Menyampaikan tagihan bulanan kepada pemegang kartu kredit.
c. Hak Pemegang Kartu Kredit

1. Berbelanja di pedagang yang telah ditunjuk oleh penerbit dengan menggunakan


kartu kredit;
2. Mengambil uang tunai di bank dengan batasan jumlah yang telah di sepakati
dengan pihak penerbit (bank)
3. Memperoleh kartu pengganti baik atas kartu yang telah hilang maupun
kadaluarsa;
4. Menolak memperpanjang keanggotaan dengan memberitahukan secara tertulis
kepada bank.
d. Kewajiban Pemegang Kartu Kredit
1. Melaporkan kepada penerbit pada kesempatan pertama apabila kartu kredit
pemegang hilang atau dicuri disertai dengan laporan polisi;
2. Membayar dan melunasi segala kewajiban kepada penerbit yang terdiri dari
iuran tahunan dan segala bunga dan biaya keterlambatan;
3. Melaporkan setiap perubahan data pribadi pemegang kartu kredit.

H. TUJUAN KARTU KREDIT


Tujuan awal kartu kredit adalah untuk mempermudah nasabah di dalam
pembayaran. Dengan penerbitan kartu kredit yang di dukung juga Automatic Teller
Machine (ATM) dan informasi on line memanjakan nasabah selama 24 jam dapat
bertransaksi. Tetapi di era sekrang kartu kredit cukup membantu pertumbuhan ekonomi
rakyat. Dengan kartu kredit masyrakat dapat ber-investasi dengan membuka usaha
baru. Penggunaan kartu kredit akan semakin signikan di masyarakat dengan suku
bungan yang rendah sehingga mayarakat tidak terlalu terbeban dengan bunga yang di
tentukan oleh bank. Pergeseran pengertian kartu kredit terlihat jelas di era sekarang,
yang sebelumnya adalah sebagai alat pembayaran menjadi sumber modal bagi
nasabah. Kondisi seperti itu memiliki resiko yang besar terhadap Lembaga keuangan

atau bank sementara modal yang dapat di jadikan kredit di batasi oleh UndangUndang . Pada nyatanya modal yang di miliki oleh bank dalam status kredit macet.
Kredit macet akan di hitung menjadi activa tidak lancar oleh pihak penerbit kartu kredit.
Di Negara Indonesia pihak bank bekerja sama dengan pihak lain untuk menagih kredit
macet.

Pada

awalnya

bank

akan

menugaskan

Departemen

Collector

untuk

menagihnya. Tetapi pada nyatanya pemegang kartu kredit belum juga membayarkanya.
Langkah selanjutnya yang di ambil oleh pihak bank adalah dengan menjual kredit
macet kepada pihak lain atau yang sering di sebut Collector. Penjualan oleh bank
dengan pihak penagih berlangsung 3 bulan dan bila ternyata belum juga dapat di tagih
maka akan di perpanjang kembali perjanjian kontrak dengan pihak Collector. Ketentuan
perjanjian itu tidak di atur oleh Undang-Undang melainkan kesepakatan antara ke dua
pihak. Pada umumnya Colector akan membeli kredit macet dengan harga 60-80 % dari
jumlah kredit macet.