Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan bimbingannya akhirnya kami dapat menyusun makalah ini.
Makalah ini kami susun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah
kimia medisinal ,serta untuk menambah pengetahuan kami tentang meteri Anti
infeksi, hormon, analgetika, dan vitamin.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat
penulis harapkan agar terciptanya kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya,semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar...............................................................................

Daftar Isi........................................................................................

Isi Makalah....................................................................................
A.
B.
C.
D.

Obat antiinfeksi..................................................................
Hormon..............................................................................
Analgetika..........................................................................
Vitamin...............................................................................

Daftar Pustaka................................................................................

ISI MAKALAH

A. OBAT ANTIINFEKSI
Obat antiinfeksi adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan
penyakit infeksi yang disebabkan oleh spesies tertentu dari golongan serangga,
metazoa, protozoa, jamur, bakteri, riketsia atau virus. Berdasarkan kegunaannya
obat antiinfeksi dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu ektoparasitisida, obat
antiinfeksi setempat antiseptika dan disinfektan), anthelmentik, obat
antimikobakteri, antiseptik saluran seni, obat antivirus, obat antijamur, obat anti
protozoa.
1. Ektoparasitisida
Ektoparasitisida adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan
berbagai kelainan yang disebabkan oleh ektoparasit, sperti scabies dan
pedikulosis. Ektoparasit adalah parasit yang terdapat pada kulit tubuh, kuku,
rambut, dan kulit kepala. Berdasarkan struktur kimia dibagi menjadi empat
kelompok.

Hidrokarbon terklorinasi
Contoh turunan hidrokarbon terhalogenasi yang digunakan sebagai
antiskabies adalah lindan. Lindan adalah perangsang sistem saraf pusat

bila diabsorpsi sistemik.


Turunan pipetrin
Turunan pipetrin adalah kandungan aktif dari bunga pyrethrum atau
analog sintetiknya digunakan sebagai insektisida dan ektoparasitisida yang
selektif, terutama untuk antropoda. Contoh : sinerin I dan II, jasmolin I
dan II, piretrin I dan II, aletrin I dan II, resmetrin, tetrametrin, dan

permetrin.
Senyawa sulfur
Sulfur mempunyai aktivitas sebagai insektisida karena antropoda akan
diubah menjadi asam pentationat yang bersifat toksik. Sulfur digunakan
sebagai antiskabies dalam bentuk salep dengan kadar 6%. Contoh: sulfur,

sulfur presipitatum, sulfur sublimatum.


Turunan lain-lain

Benzil benzoate, adalah antiskabies dalam bentuk emulsi dengan kadar


25%, yang cukup kuat dalam merangsang sistem saraf pusat menyebabkan
kejang dan kematian antropoda.
Malation, digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida
Krotamiton, digunakan sebagai ektoparasitisida dalam bentuk lotion 10%
dioleskan 2-3 kali per hari.
2. Obat antiinfeksi setempat
Obat antiinfeksi setempat adalah senyawa yang digunakan secara setempat
untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme baik pada
jaringan hidup maupun jaringan mati. Obat antiinfeksi setempat dibagi menjadi
dua kelompok yaitu antiseptika (turunan alcohol, amidin dan guanidine, zat
warna, halogen, senyawa merkuri, senyawa fenol, senyawa ammonium
kuarterner, senyawa perak, dan turunan lain-lain) dan desinfektan ( turunan
aldehida, turunan klorofor, senyawa pengoksidasi, dan turunan fenol). Mekanisme
kerja antiseptika dan disinfektan dikelompokkan

Penginaktifan enzim tertentu


Denaturasi protein
Mengubah permeabilitas membrane sel bakteri
Interkalasi ke dalam AND
Pembentukan kelat

3. Anthelmintik
Anthelmintik (obat anticacing) adalah senyawa yang digunakan untuk
pengobatan berbagai jenis penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing. Cacing
dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu nemathelmintes (nematoda) dan
platihelmintes (cestoda dan trematoda).
Mekanisme kerja

Kerja langsung yang menyebabkan narcosis, paralisis, atau kematian

cacing
Efek iritasi dan merusak jaringan cacing

Efek mekanis yang menyebabkan kekacauan pada cacing terjadi

perpindahan dan kehancuran cacing oleh fagositosis


Penghambatan enzim tertentu
Mempengaruhi metabolism cacing
Penghambatan biosintesis asam nukleat

Berdasarkan aktivitas biologisnya anthelmentik dibagi tiga kelompok

Obat antinematoda adalah senyawa yang efektif untuk pengobatan infeksi yang
disebabkan oleh nematode. Golongan ini dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu
turunan piperazin (piperasin sitrat, piperazin heksahidrat, dan dietilkarbamazin
sitrat). Turunan vinilpiperidin (contoh pirantel pamoat dan oksantel pamoat).
Turunan imidazotiazol (tetramisol HCL dan levamisol HCL). Turunan
benzimidazol ( contoh mebendazol, oksfendazol, flubendazol, tiabendazol,
kambendazol, albendazol dan oksibendazol. Turunan zat warna sianin
(pirvinium pamoat). Turunan fenol (heksil resorsinol dan diklorofen). Turunan
ammonium kuarterner (befenium hidroksinaftoat)
Obat anticestoda adalah senyawa yang efektif untuk pengobatan infeksi yang
disebabkan oleh cestoda. Golongan ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu
turunan benzimidazol (flubendazol dan mebendazol), turunan fenol
(heksilresorsinol dan diklorofen, turunan lain-lain.
Obat antitrematoda adalah senyawa yang efektif untuk pengobatan infeksi
yang disebabkan oleh trematoda. Berdasarkan struktur kimianya golongan ini
dibagi menjadi enam kelompok yaitu turunan alkaloida ipeka, benzimidazol,
nitro heterosiklik, fenol, kuinolin, dan turunan lain-lain.
4. Obat antimikobakteri
Obat antimikobakteri adalah senyawa yang digunakan utuk pengobatan
penyakit parasit yang disebabkan oleh mikobakteri.
Obat antituberkulosis adalah penyakit yang disebakan oleh
Mycobacterium tuberculosis suatu basil Gram-positif. Basil mikobakteri
ini sangat sukar dibunuh dan sesudah pengobatan kemoterapi eliminasi
basil dari tubuh sangat pelan sehingga pengobatan. Mekanisme kerjanya

yaitu menghambat biosintesis dinding sel mikobakteri, menghambat


biosintesis protein, menghambat biosintesis asam nukleat.
Berdasarkan struktur kimianya dibagi menjadi lima kelompok yaitu
turunan salisilat, turunan hidrazida, turunan amida heterosiklik, gvolongan
antibiotika dan golongan lain-lain.
Obat antilepra adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan infeksi
yang disebakan oleh Mycobacterium leprae. Pengobatan lepra dan reaksi
lepra ukup sukardan sangat kompleks dan harus terus menerus dibawah
pengawasan dokter. Berdasarkan struktur kimianya obat antilepra dibagi
menjadi dua kelompok yaitu turunan sulfon (dapson, asedapson dan
asetosulfon Na), turunan lain-lain (klofazimin, etionamid, isoniazid,
protionamid, rifampisin, dan tioasetazon).
5. Antiseptik saluran seni
Antiseptik saluran seni adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan
infeksi bakteri pada saluran seni. Berdasarkan struktur kimia antiseptik saluran
seni dibagi menjadi lima kelompok
Metenamin dan garamnya contoh metenamin, metenamin hipurat, dan
metenamin mandelat
Asam mandelat dan garamnya contoh asam mandelat, ammonium

mandelat, dan Ca mandelat.


Turunan nitrofuran contoh nitrofurantoin dan hidroksimetil nitrofurantoin.
Turunan piridin contoh fenazopiridin
Turunan pirimidin contoh trimetoprin
Turunan kuinolon

6. Obat antivirus
Obat antivirus adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan dan
pencegahan penyakit yang disebabkan oleh virus. Berdasarkan kandungan asam
nukleatnya virus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu virus yang mengandung AND
dan yang mengandung ARN. Bedasarkan struktur kimianya obat antivirus dibagi
menjadi tiga kelompok

Turunan adamantan Amin contoh amantadin HCL, metisoprinol,


rimantidin, dan tromantadin
Analog nukleosida contoh zidovudin, asiklovir, ribavirin, da vidarabin.
Turunan interferon contoh interferon alfa-n 1, interferon alfa 2a dan
interferon alfa-2b.
7. Obat antijamur
Obat antijamur adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan
penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur. Berdasarkan struktur kimianya obat
antijamur dibagi menjadi 7 kelompok
Turunan asam contoh asam salisilat, salisilanid, asam benzoate, asam
propionate, natrium kaprilat, dan asam undesilenat.
Turunan pirimidin contoh 5-fluorositosin da heksetidin
Turunan tionokarbamat contoh toksilat dan tolnaftat
Turunan antibiotika contoh griseofulvin, dan antibiotika turunan polien,
seperti nastatin, amfoterisin, kandisidin.
Turunan imidazol contoh klotrimazol, ketokonazol, bufonazol, ekonazol
nitrat, isokonazol nitrat, flukonazol, tiokonazol, itrakonazol.
Turuna halogen contoh halopogin
Turunan lain-lain contoh naftifin Hcl, gentian violet, dipirition, oktopiroks.

8. Obat antiprotozoa
Obat antiprotozoa adalah senyawa yang digunakan untuk pencegahan atau
pengobatan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa.berdasarkan
penggunannya dibagi menjadi enam kelompok

Obat antimuba contoh turunan 4-aminokuinolin (klorokuin dan garamgaramnya), antibiotika (eritromisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, dan
paromomisin), turunan 8-hidroksikuinolin (kiniofon, kliokuinol dan
iodokuinol), alkaloid ipeka (emetin Hcl), turunan nitroimidazol turunan
arsen organic (karbarson, difetarson, glikobiarsol)

Obat antileismania
Obat antitrikomonas
Obat antitripanosoma contoh nifurtimoks, suramin Na, melarsoprol,
benznidazol.

B. HORMON
Hormon adalah senyawa yang secara normal dikeluarkan oleh kelenjar
endokrin atau jaringan tubuh dan dilepaskan ke peredaran darah, menuju jaringan
sasaran, berinteraksi secara selektif dengan reseptor khas atau senyawa tertentu
dan menunjukan efek biologis.
Hormon dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1. Hormon kelenjar, yaitu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar
endokrin, seperti kelenjar adrenalis, pituitari, tiroid, pankreas dan gonad.
2. Hormon jaringan, yaitu hormon yang dihasilkan oleh jaringan, contoh :
histamine, norepinefrin dan serotonin.
Hormon mempunyai struktur kimia bervariasi, seperti steroid, peptida,
turunan asam amino aromatik dan asam lemak dalam bab ini hanya dibahas
hormon steroid, yaitu hormon yang mengandung inti steroid. Karena mempunyai
inti sama, maka ketentuan mengenai tatanama dan aspek stereokimia juga sama.
Sedikit modifikasi struktur, seperti perubahan atau pemasukan gugus fungsional
pada posisi berbeda dari inti steroid,kemungkinan menyebabkan perubahan
aktivitas biologis. Demikian pula perubahan stereokimia inti steroid dapat
menyebabkan senyawa kehilangan aktivitas. Contoh hormon penting yang
mengandung inti steroid antara lain adalah hormon-hormon yang dihasilkan oleh
korteks kelenjar adrenalis bagian korteks.
Korteks adrenalis dibedakan menjadi tiga daerah histologis, yaitu :
1. Lapisan terluar (glomerular), mengeluarkan mineralokortikoid, seperti
aldosteron dan deoksikortikosteron, yang berfungsi mengatur keseimbangan
elektrolit dan air terutama pada proses absorpsi kembali natrium di tubulus
distalis.

2. Lapisan tengah (fasikular), mensintesis glukokortikoid, seperti kortison dan


hidrokortison, yang terutama berfungsi pada proses metabolisme karbohidrat,
antiradang, anabolik dan penekanan kortikotropin. Secara umum hormon ini
dapat meningkatkan ketersediaan glukosa, merangsang katabolisme protein
dan liposis.
3. Daerah dalam (retikular), mengeluarkan hormon kelamin, seperti hormon
androgen dan progestin.
Hormon steroid dibagi menjadi dua golongan yaitu hormon adrenokortikoid dan
hormon kelamin.

Hormon adrenokortikoid
Hormon adrenokortikoid merupakan hormon steroid yang disintesis dari
kolesterol dan diproduksi oleh kelenjar adrenalis bagian korteks. Pengeluaran
hormon ini dipengaruhi oleh adreno cortico tropin hormone (ACTH) yang
berasal dari pituitari anterior. Hormon ini disebut pula dengan nama:
adrenokortikosteroid, adrenokortikal, kortikosteroid atau kortikoid. Beberapa
fungsi

fisiologisnya

berhubungan

dengan

sistem

kardiovaskular

dan

darah, sistem saraf pusat, otot polos dan stres.


Hormon adrenokortikoid

dibagi

menjadi dua

kelompok yaitu hormon

mineralokortikoid dan glukokortikoid


1. Hormon mineralokortikoid terutama digunakan di klinik untuk pengobatan
Addison kronik, suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi
kelenjar adrenalis karena sesuatu hal, misal tumor kelenjar, sehingga
produksi hormon menurun. Karena penyakit Addison sukar disembuhkan,
maka pengobatan dapat berlangsung seumur hidup. Hormon ini dapat
meningkatkan pemasukan ion natrium dan pengeluaran kalium di tubulus
ginjal.

Mekanisme kerja hormon mineralokortikoid


Mekanisme kerja hormon mineralokortikoid berhubungan dengan
metabolisme elektrolit dan air. Hormon ini memelihara fungsi normal
ginjal, yaitu dengan mengatur pemasukan ion natrium dan pengeluaran ion
kalium.
Pada tingkat molekul, hormon berinteraksi membentuk kompleks
terpulihkan dengan reseptor khas yang terdapat pada bagian inti
ginjal. Pembentukan kompleks tersebut merangsang sintesis ARN dan
enzim yang diperlukan untuk untuk pengangkutan aktif ion Na,
menghasilkan efek mineralokortikoid.
Contoh hormon mineralokortikoid : aldosteron, deoksikortikosteron, dan
fludokortison.
a. Deoksikortikosteron asetat, digunakan untuk pengobatan penyakit
Addison yang disebabkan oleh gangguan fungsi kelenjar korteks
adrenalis kronik. Obat mempunyai waktu paro serum yang pendek
70 menit sehingga umumnya diberikan secara intramuskular atau
dalam bentuk pelet yang ditanam pada subkutan. Dosis pelet : 125 mg,
yang melepaskan 0,5 mg hormon/hari, diganti setelah 8-12 bulan
pemakaian. Deoksikortikosteron pivalat, adalah bentuk ester yang
mempunyai masa kerja panjang. Dosis I.M. : 25 mg, tiap 1 bulan.
b. Aldosteron, merupakan senyawa normal yang dikeluarkan oleh
kelenjar adrenalis dan berfungsi untuk mengatur keseimbangan
elektrolit tubuh. Obat ini jarang digunakan secara klinik karena sangat
mudah terurai.
c. Fludrokortison asetat, merupakan mineralokortikoid yang sangat kuat
dan mempunyai aktivitas glukokortikoid moderat. Fludrokortison
digunakan

sebagai

mineralokortikoid

pengganti

pada

keadaan

10

kerusakan kelenjar korteks adreanlis yang kronik dan untuk


mengontrol hipotensi ortostatik. Senayawa ini sering pula digunakan
sebagai anti radang untuk pemakaian setempat pada obat tetet telinga.
Dosis oral : 0,05-0,1 mg/hari, dosis setempat : larutan 0,1-0,5 %.
2. Hormon Glukokortikoid
Hormon glukokortikoid mempunyai efek antiradang, dalam klinik
digunakan terutama untuk pengobatan kelainan pada jaringan
kolagen, kelainan hematologis (leukemia) dan pernapasan
(asma), untuk pengobatan rematik, pengobatan penyakit karena alergi
tertentu, seperti dermatologis yang berat, penyakit saluran cerna dan
penyakit hati.
Hormon glukokortikoid juga efektif untuk pengobatan penyakit
syok Addison sembab otak, hiperkalsemia dan miastenia
gravis. Hormon glukokortikoid dapat berbahaya bila digunakan secara
tidak tepat Penggunaan jangka panjang menyebabkan efek samping
cukup berat, seperti hipokalemia, tukak lambung, penekanan
pertumbuhan, osteoporosis, muka bulat penekanan sekresi
kortikotropin, atropi kulit, memperberat penyakit diabetes
melitus, mudah terkena infeksi, glaukoma, hipertensi, gangguan
menstruasi dan perubahan mental atau tingkah laku. Penghentian
pengobatan secara tiba-tiba menyebabkan ketidak cukupan adrenal
yang akut dan menimbulkan gejala withdrawal, seperti otot menjadi
lemah, nyeri otot, demam, perubahan mental mual, hipoglikemia,
hipotensi, dehidrasi dan bahkan kadang-kadang menyebabkan
kematian. Oleh karena itu pada pengobatan jangka panjang dengan
hormon glukokortikoid, penghentian obat harus dilakukan dengan
mengurangi dosis secara bertahan.
Mekanisme kerja hormon glukokortikoid
Hormon glukokortikoid berhubungan dengan metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak serta dapat merangsang sintesis
glukosa dan glikogen.

11

Hubungan struktur aktivitas


Modifikasi molekul telah dilakukan pada kortikosteroid alami dan
sudah banyak dihasilkan obat-obtan yang sangat berguna untuk
pengobatan berbagai macam penyakit.
a. Pada konsep interaksi obat reseptor, cincin C dan D lebih penting
dibanding cincin A dan B.
b. Mineralokortikoid pada umumnya tidak mengandung gugus 11-OH
dan 17-OH. Adanya subtituen OH secara umum menghilangkan
aktivitas mineralokortikoid.
Contoh hormon glukokortikoid :
a. Kortison asetat (Cortone) Dosis oral: 25-300 mg/hari, dalam dosis
tunggal atau dosis terbagi.
b. Hidrokortison (Hidrocortone, Cortef), merupakan glukokortikoid
utama

yang

dikeluarkan

oleh

kelenjar

korteks

adrenalis.

Hidrokortison asetat, digunakan untuk pemakaian setempat dalam


bentuk krim atau salep. Dosis 0,25-2,5%, dioleskan 2-4 kali/hari.
Hidrokortison-17-butirat (Locoid), digunakan untuk pemakaian
setempat dalam bentuk krim. Dosis : 0,1%, dioleskan 2-4
kali/hari. Bentuk

garam

sodium

suksinat

dan

sodium

fosfat, digunakan untuk pemakaian parenteral secara intramuskular


atau intravena. Kadar plasma tertinggi dicapai dalam waktu 10
menit setelah pemberian intravena.
c. Prednison (Hostacortin, Pehacort). Dosis oral : 5-60 mg/hari,
dalam dosis tunggal atau dosis terbagi. Sering digunakan dalam
bentuk ester asetatnya.
d. Prednisolon (Meticortelone). Doisi oral : 5-15 mg 1-4dd.
e. 6-metilprednisolon (medrol, urbason). Dosis oral 4 mg 4 dd.

12

f. Triamsinolon (kenacort). Dosis oral : 4-48 mg/hari, dalam dosis


tunggal atau terbagi. Triamsinolon asetonid (Kenalog). Krim atau
salep 0,025-0,5%. Bentuk garam atau heksasetonid dapat
digunakan secara parenteral, intramuskular, intraarttikular atau
intradernal.
g. Fluosinolon. Krim atau salep 0,01-0,2% dioleskan 3-4 kali sehari.
h. Parametason (parameson). Merupakan glukokortikoid yang cukup
kuat. Dosis oral : 2-24 mg/hari.
i. Deksametason (oradexon, fortecortin,scandexon). Dosis oral :
0,75-9 mg/hari
j. Betametason (betason, celestone, benoson). Dosis oral : 0,6-7,2
mg/hari.
k. Fluokortolon (Ultralan). Dosis oral : 20 mg/hari.
l. Aklometason, digunakan untuk pemakaian setempat dalam bentuk
krim atau salep 0,05%, dioleskan 1-2 kali sehari.
m. Amsinodid, digunakan untuk pemakaian setempat dalam bentuk
krim atau salep 0,01%, dioleskan 1-2 kali sehari.
n. Klobetasol, digunakan untuk pemakaian setempat dalam bentuk
krim atau salep 0,05%, dioleskan 1-2 kali sehari.
o. Desonid (apolar), digunakan untuk pemakaian setempat dlam
bentuk krim atau salep 0,05%, dioleskan 1-2 kali sehari.
p. Mometason furoat (elocon), digunakan untuk pemakaian setempat
dalam bentuk krim atau salep 0,1%, dioleskan 1 kali sehari.

13

q. Desoksimetason (esperson), digunakan untuk pemakaian setempat


dalam bentuk gel 0,05% atau salep 0,25%, dioleskan 2 kali sehari.
r. Halcinodid (halog), digunakan untuk pemakaian setempat dalam
bentuk krim 0,1%, dioleskan 2-3 kali sehari.
s. Diflukortolon (nerisona), digunakan untuk pemakaian setempat
dalam bentuk krim atau salep 0,1-0,3%, dioleskan 1-2 kali sehari.

Hormon kelamin
Hormon kelamin pada umumnya merupakan turunan steroid, molekulnya

bersifat

planar

dan

tidak

lentur. Kerangka

dasarnya

adalah

siklopentanaperhidrofenatren yang bersifat kaku (rigid).


Ada tiga aspek kimia hormon kelamin yang penting diketahui karena dapat
mempengaruhi aktivitas, yaitu :
1. Letak gugus pada cincin aksial, aksial atau ekuatorial.
2. Posisi gugus pada bidang, konfigurasi atau , dan isomer cis atau trans.
3. Konformasi cincin sikloheksan bentuk kursi cis atau perahu.
Hormon kelamin dibagi dalam empat kelompok yaitu hormon androgen,
hormon estrogen hormon progestin dan obat kontrasepsi.
1. Hormon Androgen
Hormon androgen, seperti testoteron dan dihidrotestoteron, terutama
dihasilkan oleh testis, dan dalam jumlah yang lebih kecil oleh korteks
adrenalis dan ovarium. Pada laki-laki hormon androgen mempengaruhi
mempunyai beberapa fungsi fisiologis, seperti mengontol perkembangan
dan pemeliharaan organ kelamin, mempengaruhi kemampuan penampilan
seksual, untuk pertumbuhan tulang rangka dan otot rangka, dan
merangsang perkembangan masa pubertas. Penggunaan utama hormon
androgen adalah untuk pengobatan keadaan ketidakcukupan hormon pada

14

laki-laki. Selain itu hormon androgen juga digunakan sebagai anabolik


steroid untuk meningkatkan pertumbuhan (pada anak-anak) karena
mempercepat anabolisme protein, dan merangsang hematopoiesis untuk
pengobatan anemia. Kadang-kadang androgen, dalam dosis rendah
digunakan untuk pengobatan dismenorhu, menghambat laktasi dan
pengobatan frigiditas pada wanita. Penggunaan hormon androgen sebagai
anabolik sering disalahgunakan, misal untuk doping bagi
olahragawan. Efek samping yang ditimbulkan oleh hormon androgen
antara lain kelaki-lakian, tumbuh rambut sekunder, mual, berjerawat,
hiperkalsemia, gangguan fungsi hati, sembab, dan gangguan siklus
menstruasi (pada wanita).
Mekanisme kerja hormon androgen
Hormon androgen dapat meningkatkan transkripsi dan atau translasi ARN
khas pada biosintesis protein. Testosteron oleh enzim 5-reduktase diubah
menjadi 5-dehidrotestosteron dan bentuk aktif ini dapat mengikat reseptor
khas yang terdapat pada testis, prostat, hipofisis dan hipotalamus. Pengikatan
ini menyebabkan perubahan konformasi dan menimbulkan pengaktifan
kompleks androgen-reseptor. Kompleks akan berpindah dari sitoplasma ke
inti sel sasaran, mengikat tempat aseptor pada inti kromatin dan mengaktifkan
proses translasi. Pengaktifan ini merangsang sintesis mARN khas, dan mARN
yang terbentuk meninggalkan inti dan mulai mengatur sintesis protein serta
merangsang pertumbuhan sel.
Berdasarkan aktivitasnya hormon androgen dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu :
a. Senyawa androgenik , contoh : testoteron, metiltedtoteron,
fluoksimesteron, mesterolon dan metandrostenolon.
b. Senyawa anabolik, contoh : oksimetolon, stanozolol, nandrolon dan
etilestrenol.

15

Hubungan struktur dan aktivitas


a. Pemasukan gugus gugus 3-keto dan 3-hidroksi dapat meningkatkan
aktivitas androgenik.
b. Gugus 17-hidroksi penting dalam hubungannya dengan pengikatan
reseptor, oleh karena itu isomer 17- hidroksi lebih aktif dibanding 17hidroksi.
c. Testosteron, tidak dapat diberikan secara oral karena oleh bakteri usus
gugus 17-hidroksi akan dioksidasi menjadi 17-keto yang tidak aktif.
Selain itu testoteron mempunyai waktu paro pendek karena cepat
diabsorpsi dalam saluean cerna dan cepat mengalami degradasi hepatik.
d. Adanya gugus alkil pada C17 mencegah perubahan metabolisme gugus
17-hidroksi sehingga senyawadapat diberikan diberikan secara oral
e. Esterifikasi pada gugus 17- hidroksi dapat memperpanjang masa kerja
obat. Bentuk ester bersifat lebih non polar, lebih mudah larut dalam
jaringan lemak dan bila diberikan secara intramuskular dapat
menghasilkan respons sampai 2-4 minggu. Contoh : testosteron
propionat, testosteron enantat, testosteron fenilpropionat dan testosteron
dekanoat. Testosteron propinoat mempunyai awal kerja cepat dan masa
kerja yang lebih pendek dibanding ester-ester lain.
f. Substitusi atom halogen menurunkan aktivitas androgenik senyawa,
kecuali substitusi pada atom C4 dan C9. Contoh : fluoksimesteron,
mempunyai aktivitas androgenik 5-10 kali lebih besar dibanding
testosteron. Analog testosteron yang sering digunakan sebagai androgenik
antara lain adalah mesterolon dan metandrostenolon. Metandrostenolon
mempunyai aktivitas androgenik sama dengan testosteron.
Contoh senyawa androgenik : metiltestosteron, testoteron enatat,
fluoksimesteron, mesterolon, metandrostenolon.
2. Hormon Estrogen
Estrogen adalah hormone kelamin wanita diproduksi oleh ovarium,
plasenta dan korteks adrenalis sedang pada laki-laki diproduksi oleh testis dan
korteks adrenalis.

16

Mekanisme kerja hormone estrogen


Hormone estrogen dapat menyebabkan beberapa efek biologis pada organ
sasaran. Pada ovarium merangsang pertumbuhan volikular, pada uterus
merangsang pertumbuhan endometrium, pada vagina menyebabkan kornivikasi.
Berdasarkan sumbernya estrogen dibagi menjadi
Estrogen steroid
Terdiri dari estrogen alami (contoh setradiol, estriol, dan estron), estrogen
teresterifikasi (contoh estradiol benzoate, estradiol dipropionat, estradiol
valerat), wstrogen terkonjugasi (contoh senyawa estrogen terkonjugasi),
turunan semisintetik (contoh asam doisionolat
Estrogen non steroid
Estrogen non steroid adalah senyawa yang dapat menimbulkan efek
estrogenic dan strukturnya tidak mengandung inti steroid. Contoh
dietilstilbestrol, heksestrol, benzestrol, dienestrol, dan klorotrianizen.
Antiestrogen
Antiestrogen adalah senyawa yang digunakan sebagai perangsang ovulasi
karena mempunyai efek langsung terhadap hipotalamus dalam
meningkatkan poduksi follicle stimulating hormone. Mekanimse kerja
melalui pemblokan hambatan kembali dai estrogen yang dihasilkan oleh
ovarium. Contoh klomifen sitrat, human menopausal gonodotropin

Hormone progestin
Progestin adalah hormone kelamin laki-laki. Secara alamiah dikeluarkan

terutama oleh korpus luteum dan plasenta. Progestin digunakan untuk pengobatan
pada keadaan ketidakcukupan progesterone, seperti amenorhu, dismenorhu,
ketidaknormalan perdarahan uterus dan endometriosis. Berdasarkan struktur
kimianya hormone progestin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu turunan
progesteron (contoh progesterone, hidroksiprogesteron kaproat,
medroksiprogesteron asetat, didrogesteron,) dan turunan testosterone (contoh
noretindron, norgestrel, lianestrenol, geostrinon)

.Obat kontrasepsi

17

Bentuk sediaan obat kontrasepsi dapat berupa tablet kombinasi hormon


progestin dan estrogen, tablet hormone progestin sediaan injeksi hormone
progestin, sediaan implant hormone progestin, dan spermisida pada vagina.
Tablet kombinasi hormone progestin dan estrogen
Contoh trinordiol dan triquilar yang mengandung kombinasi
levonorgestrel dan etinilestradiol engan kadar yang bervariasi, 6 tablet , 5
tablet, 10 tablet, dan 7 plasebo.
Tablet hormone progestin
Pil mini ini digunakan secara oral contoh linestrenol 0,5mg, noretindron
0,35mg, norgestrel 0 ,075mg.
Sediaan injeksi hormon progestin
Diberikan secara i.m dan efektif selama 3-6 bulan. Contoh suspensi
medroksiprogesteron asetat 150mg dan noretindron enantat 200mg
Sediaan implant hormone progestin
Digunakan secara subdermal dan efektif selama 5-7 tahun contoh levonorgestrel 36mg.
Spermisida pada vagina
Digunakan secara setempat dengan cara dimasukkan ke vagina.
Spermisida dapat membunuh spermatozoa. Ada 3 kelompok spermisida
yaitu senyawa asam, bakterisida, dan surfaktan.

C. ANALGETIKA
Analgetika adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat
secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi
kesadaran. Analgetika bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa
sakit. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul analgetika dibagi
menjadi dua golongan yaitu analgetika narkotik dan analgetika non narkotik.
1. Analgetika narkotik
Analgetika narkotik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem
saraf pusat secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang moderat

18

ataupun berat, seperti rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit kanker, serangan
jantung akut, sesudah operasi dan kolik usus atau ginjal. Pemberian obat secara
terus menerus menimbulkan ketergantungan fisik dan mental atau kecanduan dan
efek ini terjadi secara cepat Penghentian pemberian obat secara tiba-tiba
menyebabkan sindrom abstinence atau gejala withdrawal. Kelebihan dosis dapat
menyebabkan kematian karena terjadi depresi pernapasan.
Mekanisme kerja analgetik narkotik dihasilkan oleh adanya pengikatan
obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord.rangsangan
reseptor juga menimbulkan efek euphoria dan rasa mengantuk. Berdasarkan
struktur kimianya analgetik narkotik dibagi menjadi empat kelompok yaitu :

Turunan morfin
Morfin didapat dari opium, yaitu getah kering tanaman Papaver
somniverum. Opium mengandung tidak kurang dari 25 alkaloida, antara
lain adalah morfin, kodein, noskapin, papaverin, tebain dan narsein. Selain
efek analgesic, turunan morfin juga menimbulkan euphoria sehingga
banyak disalahgunakan. Oleh karena itu distribusi turunan morfin
dikontrol secara ketat oleh pemerintah. Karena turunan morfin
menimbulkan efek kecanduan, yang terjadi secara cepat maka dicari
turunan atau analognya yang masih mempunyai efek analgesic tetapi efek

kecanduannya lebih rendah.


Turunan meperidin
Meskipun strukturnya tidak berhubungan dengan struktur morfin tetapi
masih menunjukkan kemiripan karenamempunyai pusat atom C
kuarterner, rantai etilen, gugus N-tersier dan cincin aromatic sehingga
dapat berinteraksi dengan reseptor analgesik. Contoh meperidin,

difenoksilat, loperamid, fentanil, sufentanil.


Turunan metadon
Turunan metadon berifat optis aktif dan biasanya digunakan dalam bentuk
garam HCl. Meskipun tidak mempunyai cincin piperidin, seperti pada
turunan morfin atau meperidin tetapi turunan metadon dapat membentuk
cincin bila dalam larutan atau cairan tubuh. Hal ini disebabkan karena ada

19

daya tarik menarik dipole-dipol antara basa N dengan gugus karboksil.

Contoh metadon, propoksifen.


Turunan lain-lain
Contoh tramadol dan butorfanol.

2. Analgetika non narkotik


Analgetik non narkotik dgunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan
sampai moderat, sehingga sering disebut analgetika ringan, juga untuk
menurunkan suhu badan pada keadaan panas badan yang tinggi dan sebagai anti
radang untuk pengobatan rematik. Mekanisme kerja yaitu analgesk, antipiretik,
antiradang. Berdasarkan struktur kimianya analgetika non narkotik dibagi menjai
dua kelompok

Analgetik antipiretika
Obat golongan ini digunakan untuk pengobatan simptomatik, yaitu hanya
meringankan gejala penyakit, tidak menyembuhkan atau menghilangkan
penyebab penyakit. Berdasarkan struktur kimianya obat kelompok ini
dibagi menjadi dua kelompok yaitu turunan aniline dan para aminofenol
(contoh seperti asetaminofen, asetanilid, dan fenasetin). Serta turunan 5-

pirazolon (contoh antipirin, amidopirin, dan metampiron).


Obat antiradang bukan steroid
Berdasarkan struktur kimia obat aniradang bukan steroid dibagi menjadi 7
kelompok yaitu turunan salisilat( contoh aspirin, salisilamid, diflunisal),
turunan 5-pirazolidindion (contoh fenilbutazon, oksifenbutazon,
sulfinpirazon, bumadizon kalsium semihidrat), turunan asam Narilantranilat( contoh asam mefenamat, asam flufenamat, natrium
meklofenamat, glafenin, floktafenin), turunan asam arilasetat (contoh
diklofenak Na, ibuprofen, ketoprofen, flurbiprofen, loksoprofen, fenbufen,
turunan asam heteroarilasetat (contoh fentiazak, asam tiaprofenat, asam
metiazinat, ketorolak trometamol), turunan oksikam (contoh piroksikam,
tenoksikam), turunan lain-lain (contoh benzidamin HCl, tinoridin, asam
niflumat).

D. VITAMIN

20

Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan dalam


jumlah kecil dalam diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolism dalam
sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara
kesehatan.
Kebanyakan vitamin-vitamin ini tidak dapat disintesis oleh tubuh.
Beberapa di antaranya masih dapat dibentuk oleh tubuh, namun kecepatan
pembentukannya sangat kecil sehingga jumlah yang terbentuk tidak dapat
memenuhi kebutuhan tubuh. Oleh karenanya tubuh harus memperoleh vitamin
dari makanan sehari-hari. Jadi vitamin mengatur metabolism, mengubah lemak
dan kabohidrat menjadi energi, dan ikut mengatur pembentukan tulang dan
jaringan.
Sejarah penemuan vitamin dimulai oleh Eijkman yang pertama kali
mengemukakan adanya zat yang bertindak sebagai faktor diet esensial dalam
kasus penyakit beri-beri. Pada tahun 1897 ia memberikan gambaran adanya suatu
penyakit yang diderita oleh anak ayam yang serupa dengan beri-beri pada
manusia. Gejala penyakit tersebut terjadi setelah binatang diberi makanan yang
terdiri atas`beras giling murni. Ternyata penyakit ini dapat disembuhkan dengan
memberikan makanan sisa gilingan beras yang berupa serbuk. Hasil penemuan
yang menyatakan bahwa dalam makanan ada faktor lain yang penting selain
kabohidrat, lemak dan protein sebagai energy, mendorong para ahli untuk
meneliti lebih lanjut tentang vitamin, sehingga diperoleh konsep tentang vitamin
yang kita kenal sekarang. Pada saat ini terdapat lebih dari 20 macam vitamin.
Polish kemudian member nama faktor diet esensial ini dengan vitamin.

21

Selanjutnya hasil pekerjaan Warburg tentang koenzim (1932-1935) dan kemudian


penyelidikan R Kuhn dan P Kerrer menunjukkan adanya hubungan antara struktur
kimia viatamin dengan koenzim.
Vitamin dibagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama oleh Kodicek
(1971) disebut prakoenzim (procoenzyme), dan bersifat larut dalam air, tidak
disimpan oleh tubuh, tidak beracun, diekskresi dalam urine. Yang termasuk
golongan ini adalah: tiamin, riboflavin, asam nikotinat, piridoksin, asam kolat,
biotin, asam pantotenat, vitamin B12 (disebut golongan vitamin B) dan vitamin C.
Golongan kedua yang larut dalam lemak disebutnya alosterin, dan dapat
disimpan dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan
tersimpan dalam tubuh, dan memberikan gejala penyakit tertentu
(hipervitaminosis), yang juga membahayakan. Kekurangan vitamin
mengakibatkan terjadinya penyakit defisiensi, tetapi bisanya gejala penyakit akan
hilang kembali apabila kecukupan vitamin tersebut terpenuhi.
1. Asam Nikotinat
Niasin penting untuk pertumbuhan yang normal dan kesehatan
sepanjang hidup manusia.

Vitamin ini merupakan bahn dasar dari Koenzim Nikotinamida


adenine dinukleotida NAD+). Telah kita ketahui bahwa koenzim ini
merupakan koenzim dari enzim deghidrogenase, dengan mentransfer
hidogen dalam rekasi oksidasi reduksi Penyakit atau Gejala Degisiensinya.
Apabila cadangan vitamin di dalam tubuh ini telah habis dalam
waktu 30-180 hari dan penambahan dari makanan sangat sedikit atau tidak

22

ada sama sekali, akan timbul penyakit pellagra ( pele = ukilt, agra =
kasar ). Penyakit ini dapat mengenai usus, kulit, dan system syarat. Kulit
misalnya pada muka, leher, dada, lengan menjadi kemerah-merahan.
Untuk penyembuhan penyakit ini diperlukan makanan sumber vitamin lain
pula, yaitu makanan yang mengutamakan sumber vitamin B1, vitamin B2
dan niasin sendiri.
Walaupun tidak terdapat kasus pelagra yang sama, namun ciri-ciri
berikut merupakan gejala umum dari pellagra.
a. Gejala awal diantaranya : lelah, pusing, kehilangan berat badan, tidak
mempunyai selera makan.
b. Merasa sakit pada lidah, mulut, kerongkongan, disertai glositis
(perasaan seperti terbakar pada lidah )yang dapat meluas sampai usus.
Lidah dan bibir menjadi merah.
c. Mual , muntah-muntah yang diikuti oleh diare.
d. Dermatitis ( gatal terasa panas ) khususnya pada permukaan tubuh
yanbg terbuka yaitu lengan, tangan, lutut dan leher.
e. Gejala neurologis seperti daya ingat lemah, mudah bingung, mudah
marah, halusinasi dan demensia ( gangguan jiwa dan gangguan
syaraf ).
Sumber vitamin ini adalah di antaranya makanan yang kaya akan
protein, seperti telur, daging, dan susu. Sumber vitamin nabati misalnya
biji-nijian, sayuran hijau, kentang, kacang-kacangan ( leguminosa ) seperti
kedelai, dan petai cina. Gejala pellagra dapat dihilangkan dengan
pemberian 4,4 mg niasin per 1000 kalori energy yang dibutuhkan tubuh
per hari.
Niasin dapat larut dalam air, sehingga kehingga kehilangan vitamin
ini sering terjadi apabila sayuran di cuci setelah dipotong-potong. Niasin

23

tahan terhadap pemanasan. Di Negara-negara yang penduduknya


mengalami kasus pellagra, Niasin ditambahkan ke dalam makanan
penduduk.
2. Tiamin ( vitamin B1 )
Tiamin telah lama dikenal sebagai antineuritik karena digunakan
untuk membuat normal kembali susunan syaraf. Adapun struktur /rumus
kimia dari Tiamin adalah sebagi berikut :

Koenzim yang berasal dari vitamin ini adalah tiamin pirofosfat


(TPP)yang berfungsi dalam reaksi-reaksi dekarboksilasi asam keto,
oksidasi keto, transketolasi. Adapun bagian aktif dari koenzim TPP
adalah gugus tiazolnya.

Defisiensi vitamin ini menyebabkan terjadinya penyakit beri-beri,


terutama pada Negara yang menggunakan nasi sebagai bahan makanan
pokoknya. Defisiensi vitamin ini juga mengakibatkan rusaknya alat
pencernaan makanan, yang disertai dengan muntah-muntah dan diare.
Sumber vitamin ini adalah segala biji-bijian, seperti beras, gandum, dan
sumber lainnya adalah daging, unggas, telur, hati, kedelai, kacang tanah,
sayuran, dan susu.

24

Tiamin memiliki sifat yang mudah larut dalam air, sehingga dapat
hilang dan rusak selama dalam proses pemasakan, dan juga tidak tahan
terhadap pemanasan yang terlalu lama. Faktor lain yang juga
menyebabkan kerusakan pada tiamin adalah adanya alkali yang
terkandung. Jika dilihat pada proses pemasakan roti, kehilangan tiamin
mencapai 25%, daging yang direbus mencapai 50%, dan yang dipanggang
kehilangan 25 %. Oleh karena itu, guna menjaga kehilangan tiamin dari
makanan, terutama sayuran, maka dalam memasaknya digunakan air yang
sedikit saja, kecuali jika air rebusan itu ikut di manfaatkan untuk konsumsi
bersama sayuran itu sendiri.
3. Riboflavin ( B2 )
Riboflavin merupakan pembentuk flavin mononukleotida (FMN)
dan juga sebagai koenzim FAD, yang mempunyai rumus (b)

Dan struktur kimia vitamin B2 adalah sebagai berikut :

25

Tanda-tanda defisiensi pada vitamin ini adalah keilosis ( terjadi


kerak pada sudut mulut yang berwarna merah ). Sumber vitamin ini adalah
susu, daging, telur, dan ikan. Adapun biji-bijian seperti beras dan gandum
hanya mengandung riboflavin dalam jumlah yang kecil (sedikit).
Kebutuhan riboflavin dinjurkan sebagai berikut :
Bagi wanita yang lebih dari 23 tahun
1,2 mg/hari
Pria lebih dari 23 tahun
1,6 mg/hari
Wanita menyusui
1,7 mg/hari
Wanita hamil
1,5 mg/hari
Bayi
0,6 mg/hari
Anak sampai 10 tahun
1,2 mg/hari
Pada pasteurisasi, evaporasi atau pengeringan susu terjadi
pengurangan riboflavin mencapai 20%. Apabila dijemur di bawah sinar
matahari langsung selama 3,5 jam terjadi pengurangan sampai 75%. Oleh
karenanya pada pengemasan susu harus digunakan tempat dari aluminium,
karton atau botol berwarna. Pada pengawetan sayuran yang menggunakan
bikarbonat akan menyebabkan perusakan vitamin secara total.
4. Asam Lipoat
Struktur kimia Asam Lipoat adalah sebagai berikut ;

Enzim yang mengandung gugus lipoil, -S-S ini berfungsi sebagai katalis
pada reaksi pemindahan/transfer gugus asil dan transfer hidogen. Reaksi
berlangsung dalam tiga tahap, yaitu : pengikatan gugus asil oleh guhgus
lipoil, pemindahan gugus asil pada koenzim A yang disertai pengikatan

26

dua atom H oleh gugus lipoil, dan pemindahan hydrogen yang diikatnya
kepada koenzim NAD+, seperti terlihat dalam persamaan reaksi berikut :

Pada reaksi tahap dua, asil-lipoil-enzim memindahkan asil pada


koenzim A dan lipoil sendiri mengalami reduksi karena mengikat 2 atom
hydrogen, terakhir lipoil tereduksi kemudian dioksidasi oleh enzim yang
mengandung koenzim yang mengandung FAD.
5. Biotin
Rumus kimia vitamin ini adalah sebagai berikut ;

Biotin sebagai kofaktor yang terikat kuat pada bagian protein


enzim. Ada tiga jenis reaksi yang dapat dilangsungkan oleh biotin, yaitu
reaksi karboksilasi pada karbon dari asil KoA, reaksi karboksilasi pada
atom karbon yang berikatan ganda dari rantai karbon senyawa asil KoA,
dan reaksi transkarboksilasi pada senyawa asil KoA.

27

Gejala defisiensi yang tampak pada vitamin ini adalah sebagai


berikut :
a. Kulit menjadi kasar bersisik
b. Rasa sakit pada urat-urat
c. Kulit memucat
d. Anoreksia (kehilangan selera makan) dan mual
e. Kadar hemoglobin menurun
f. Kadar kolesterol menaik
g. Kadar biotin urin menurun samapi 1/10 normal
Adapun sumber utama vitamin biotin adalah daging, kuning telur,
kacang polong, kaenari atau kemiri.
6. Piridoksin, Piridoksal dan Piridoksamin ( Vitamin B6 )
Vitamin piridoksal fosfat berpartisipasi dalam reaksi-reaksi
metabolism asam amino, seperti reaksi transaminasi, dekarboksilasi dan
raseminasi. Masing-masing reaksi ini berlangsung dengan katalis enzim
yang berbeda-beda. Namun semua enzim ini memerlukan koenzim yang
sama yaitu piridoksal fosfat.
Transaminasi

Dekarboksilasi

28

Raseminasi

Adapun gejala defisiensi yang ditunjukkan oleh vitamin ini adalah


hambatan pertumbuhan, badan lemah dan gangguan mental, ernenia,
dermatitis (gatal-gatal pada kulit dengan bercak merah). Sumber utama
vitamin ini adalah dahing, unggas, ragi, legume, serealia, ubi jalar, dan
kentang.
7. Asam Folat
Defisiensi asam folat menunjukkan anemia megaloblastik, glositis
(inflamasi pada lidah), dan diare. Makanan sumber asam folat adalah hati,
sayuran berwarna hujau tua terutama bayam, asparagus dan kacangkacangan. Tetrahidofolat berperan dalam pembentukan komponen-

29

komponen RNA dan DNA, oleh karenanya sangat penting dalam


pembelahan sel dan reproduksi.
8. Vitamin B12 (kobalamin)
Defisiensi vitamin ini biasanya disebabkan oleh kerusakan sistem
absorpsi di usus. Beberapa gejala defisiensi vitamin ini antara lain sebagai
berikut ;
Anemia pernisiosa, yang disebabkan oleh ketidakmampuan

tubuh mengabsorpsi B12


Pucat dan menjadi kurus
Anoreksia (kehilangan nafsu makan)
Gangguan neurologis
Depresi mental

Sumber vitamin B12 adalag berasal dari makanan hewani, seperti


daging, susu, telur, unggas, mentega, dan hati. Makanan sumber nabati
tidak mengandung vitamin B12.
9. Asam Pantotenat
Vitamin ini merupakan pembentuk koenzim A. Gugus aktif
koenzim A adalah gugus -S-H. Dalam reaksi-reaksi kimia biasanya
dituliskan KoA-SH atau HS-KoA. Gengan gugus karboksil dari substrat
koenzim A membentuk ikatan tioester.

Koenzim A dalam reaksi-reaksi kimia merupakan pemindah gugus


asil. Defisiensi vitamin ini memberikan gejala sebagai berikut :
Kehilangan selera makan

30

Tidak dapat melaksanakan pencernaan makanan dengan


baik
Depresi mental
Insomnia (tidak dapt tidur)
Mudahterjadi infeksi pernapasan
Semua makanan yang berasal dari hewan merupakan sumber dari
asam pantotenat. Disamping itu juga biji-bijian dan kacang polong. Buah
dan sayur mengandung asam pantotenat dalam jumlah yang rendah.
10. Vitamin C( Asam Askorbat)
Rumus kimia vitamin C adalah sebagai berikut :

Dalam larutan air, vitamin c mudah dioksidasi, terutama


apabila dipanaskan. Oksidasi dipercepat apabila ada tembaga atau
suasana alkalis. Kehilangan vitamin c sering terjadi karena pengolahan,
pengeringan dan cahaya. Vitamin csangat penting dalam pembuatan zatzat interseluler dan kolagen. Vitamin ini tersebar diseluruh tubuh dalm
jaringan ikat, rangka, matriks, dan lain-lain.
Vitamin C berperan dalam hidroksilasi prolin dan lisisn
menjadi hidroksiprolin dan hodroksilasi yang merupakan bahan
pembentuk kolagen tersebut. Dalam proses pernapasan, vitamin C

31

banyak terlibat , namun mekanismenya belum diketahui dengan jelas.


Peran penting vitamin ini adalah sebagai berikut :
Oksidasi fenilalanin menjadi tirosin
Reduksi ion feri menjadi fero dalam saluran pernapasan
Mengubah asam folat menjadi bentuk aktif asam folitat
Sintese hormo-hormon steroid darikolesterol.
Vitamin C merupakan reduktor kuat .bentuk teroksidasinya adalah
asam dehidroaskorbat seperti di bawah ini.

Dengan demikian vitamin C juga berperan menghambat reaksireaksi oksidasi dalam tubuh yang berlebihan dengan bertindak sebagai
inhibitor. Tampaknya vitamin C merupakan vitamin yang esensial
untukmemelihara fungsi normal semua unit sel termasuk struktur-struktur
subsel seperti ribosom dan mitokondria.
Kemampuan vitamin ini untuk melepaskan dan menerima
menunjukkan adanya peran yang sangat penting dalam proses
32

metabolism. Pada waktu stess dimana aktivitas hormon adrenal korteks


tinggi, konsentrasi vitamin dalam jaringan ternyata menurun. Infeksi
dan demam tubuh mnemerlukan tambahan jumlah vitamin C yang
cukup banyak untuk mecapai kadar normalnya kembali dalam jaringan.
Peranan vitamin C dalam menanggulangi flu telah banyak dilaporkan.
Pada binatang percobaan, ternyata didapat bahwa kadar vitamin C yang
tinggi dapat meningkatkan sintesis vitamin B kompleks dalam intestin.
Adapun defisiensi terhadap vitamin ini adalah sebagai berikut ;
Skorbut atau pendarahan gusi
Mudah terjadi luka dan infeksi tubuh, dan kalau sudah
terjadi susah disembuhkan
Hambatan pada pertumbuhan bayi dan anak-anak
Pembentukan tulang yang tidak normal pada bayi dan anakanak
Kulit mudah mengelupas
Sumber vitamin C adalah sayuran berwarna hijau dan buahbuahan. Kadar vitamin C dapat hilang karena hal-hal sebagai
berikut :
Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya
struktur
Pencucian sayuran setelah dipotong-potong terlebih dahulu
Adanya alkali atau suasana basa dalam pengolahan
Membuka tempat berisi vitamin C sebab oleh udara akan
terjadi oksidasi yang tidak teversibel

33

Penambahan tomat atau jeruk nipis dapa mengurangi kadar vitamin


C. Pemanasan sayuran hendaknya dilakukan sebentar saja dan
dengan mendidihkan airnya terlebih dahulu.
11. Vitamin A (Retinol)
Vitamin A adalah suatu alcohol yang terdapat di dalam tumbuhan
sebagai provitamin A, yaitu senyawa karoten. Pada hirolisis karoten terjadi
vitamin A. Rumus karoten adalah seperti di bawah ini :

Vitamin A berperan dalam proses melihat, yaitu pada


proses fotokimia pada retina. Pada retina mata terdapat cahaya, yaitu
rodopsin, suatu protein gabungan yang dapat terdisosiasi menjadi protein
opsin dan retinen trans (vitamin A dalam bentuk aldehida).
Disosiasi ini terjadi apabila rodopsin ini terkena
cahaya.Trans retinen selanjutnya dapat direduksi oleh NADH dan enzim
dehidrogenase alkohol membentuk trans vitamin A1.peran lain cahaya
pada siklous rodopsin adalah menghambat pembentukan rodopsin dari
protein opsin dan sis retinen.
Melalui isomerisasi sisi retinen menjadi trans retinen.
Sebaliknya, dalam keadaan gelap, sis retinen membentuk rodopsin

34

kembali dengan opsin. Sis retinen juga dapat terbentuk kembali melalui
isomerasi trans retinen atau melalui oksidasi sis vitamin A.
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkanseseorang tidak dapat
melihat dengan jelas dalam cahaya yang redup (rabun senja)
Dala proses reproduksi, vitamin A berfungsi sebagai salah satu
factor pertumbuhan. Tikus yang kekurangan vitamin A ternyata kurang
subur,dan mengalami gangguan dalm sitesis Androgen.
Vitamin A berperan dalam sintesis mukoprotein dan
mukopolisakarida yang berfungsi mempertahankan kesatuan epitel,
khusunya jaringan mata, mulut, alat pencernaan, alat pernapasan, dan
saluran genital atau urin. Gangguan mukosa dapat menyebabkan tubuh
mudah terkena infeksi. Dan dalam pertumbuhan tulang dan gusi, vitamin
A juga merupakan factor yang esensial.
Defisiensi vitamin A
a. Rabun malam atau rabun senja
Penyakit ini merupakan awal dari defisiensi vitamin A.
penderita juga tidak dapat melihat untuk jangka waktu yang relative
lebih lama dibandingkan orang normal, bila datang dari tempat
terang ke tempat yang gelap.
b. Perubahan epitel
Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan perubahanperubahan tertentu pada jaringan epitel diseluruh tubuh, termasuk
mata.

35

DAFTAR PUSTAKA
Siswandono, dan Bambang Soekarjo. 2000. Kimia medisinal edisi II. Airlangga
university Press. Surabaya.
https://www.scribd.com/doc/43406774/Pengertian-Dan-Definisi-Vitamin

36