Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR ABDOMEN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Profesi Ners Departemen Surgical
di Ruang 12 RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang

OLEH :
SHINTA ARDIANA PUSPITASARI
115070201111021
KELOMPOK 2
REGULER 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A. PENGERTIAN TUMOR ABDOMEN


Tumor merupakan sekelompok sel-sel abnormal yang terbentuk hasil proses
pembelahan

sel

yang

medisnya, Tumor dikenal

berlebihan
sebagai

dan

Neoplasia.

tak

terkoordinasi.

Neo

berarti

baru,

Dalam

bahasa

plasia

berarti

pertumbuhan/pembelahan, jadi Neoplasia mengacu pada pertumbuhan sel yang baru,


yang berbeda dari pertumbuhan sel-sel di sekitarnya yang normal. Yang perlu diketahui,
sel tubuh secara umum memiliki 2 tugas utama yaitu melaksanakan aktivitas fungsional
nya serta berkembang biak dengan membelah diri. Namun pada sel tumor yang terjadi
adalah hampir semua energi sel digunakan untuk aktivitas berkembang biak semata.
Fungsi

perkembangbiakan

ini

diatur

oleh

inti

sel

(nucleus),

akibatnya

pada

sel tumor dijumpai inti sel yang membesar karena tuntutan kerja yang meningkat.
Tumor Abdomen merupakan massa yang padat dengan ketebalan yang berbedabeda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut
berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi kelainan ini
mudah terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter
atau vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur
yang di bungkusnya tetapi tidak menginvasinya.
Tumor abdomen adalah suatu massa yang padat dengan ketebalan yang berbedabeda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut
berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Kelainan ini dapat meluas ke
retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan
fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang dibungkusnya tetapi tidak
menginvasinya.
Bagian terbesar dari tumor abdomen terdiri dari neuroblastoma, tumor Wilms,
teratoma, tumor ovarium, limfoma abdomen, hepatoma dan lainlain. Tumor abdomen
merupakan sepertiga dari seluruh tumor ganas pada anak. Tumor ini sifatnya sangat
berbeda dengan jenis tumor lainnya. Salah satu yang spesial dari tumor ini adalah
sangat sulit untuk dideteksi.Pada umumnya anak dengan tumor abdomen hampir tidak
memberikan keluhan apabila masih dini, bahkan tidak jarang keluhan tidak atau belum
timbul walaupun tumor telah dapat diraba. Hal ini diakibatkan oleh sifat rongga perut
yang yang longgar, sehingga bila ada massa di dalamnya, dapat tumbuh sampai cukup
besar tanpa mengganggu organ di sekitarnya.

B. KLASIFIKASI TUMOR ABDOMEN


Dewasa :
-

Tumor hepar

Tumor limpa / lien

Tumor lambung / usus halus

Tumor colon

Tumor ginjal (hipernefroma)

Tumor pankreas

Anak-anak :
-

Tumor wilms (ginjal)

C. BAGIAN- BAGIAN DARI TUMOR ABDOMEN


Adapun bagian-bagian dari tumor abdomen adalah:
1. Neuroblastoma
Neuroblastoma merupakan tumor lunak, padat yang berasal dari sel-sel crest
neuralis yang merupakan prekusor dari medula adrenal dan sistem saraf simpatis.
Neuroblastoma dapat timbul di tempat terdapatnya jaringan saraf simpatis. Tempat
tumor primer yang umum adalah abdomen, kelenjar adrenal atau ganglia paraspinal
toraks, leher dan pelvis. Neuroblastoma umumnya bersimpati dan seringkali
bergeseran dengan jaringan atau organ yang berdekatan. Tumor ini paling banyak
berasal dari kelenjar adrenal dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat
dilepaskannya metabolit katekolamin secara berlebihan yaitu berupa hipertensi,
kemerahan (flushing), keringat yang berlebihan dan demam. Bila tumor telah
membesar menyebabkan perasaan tidak nyaman dan penuh dalam perut disertai
penurunan berat badan sampai failure to thrive. Ditemukannya benjolan-benjolan
subkutis terutama di daerah kepala atau proptosis dan ekimosis periorbita,
merupakan gambaran penyakit yang lanjut atau metastasis.
Kadar vanillyl mandelic acid (VMA) ialah suatu derivat katekolamin biasanya
meningkat dan dapat ditemukan dalam urin penderita. Pemeriksaan foto polos
abdomen tidak jarang dapat ditemukan tanda-tanda perkapuran dalam massa tumor
dan pada pielografi intravena biasanya sistem pelviokalises masih baik hanya
letaknya berubah. Pemeriksaan USG dan CT scan dapat lebih mengetahui perluasan
tumor

dan

metastasis.

Diagnosis

pasti

ditegakkan

dengan

pemeriksaan

histopatologis tumor, kadang-kadang diperlukan pemeriksaan imunohistokimia


seperti neurofilament, synaptophysin dan neuron specific enolase (NSE) pada
stadium lanjut dapat ditemukan kelompok-kelompok metastasis neuroblastoma
dalam sumsum tulang.
Kebanyakan etiologi dari neuroblastoma adalah tidak diketahui. Ada laporan yang
menyebutkan bahwa timbulnya neuroblastoma infantile (pada anak-anak) berkaitan
dengan orang tua atau selama hamil terpapar obat-obatan atau zat kimia tertentu
seperti hidantoin, etanol, dll. (Willie, 2008). Kelainan sitogenik yang terjadi pada
neuroblastoma kira-kira pada 80% kasus, meliputi penghapusan (delesi) parsial
lengan pendek kromosom 1, anomali kromosom 17, dan ampifilatik genomik dari
oncogen N-Myc, suatu indikator prognosis buruk (Nelson, 2000).
Menurut Cecily & Linda (2002), gejala dari neuroblastoma yaitu:

Gejala yang berhubungan dengan massa retroperitoneal, kelenjar adrenal,


paraspinal.
a. Massa abdomen tidak teratur,tidak nyeri tekan, keras, yang melintasi garis
tengah.
b. Perubahan fungsi usus dan kandung kemih
c. Kompresi vaskuler karena edema ekstremitas bawah
d. Sakit punggung, kelemahan ekstremitas bawah
e. Defisit sensoris
f.

Hilangnya kendali sfingter


Gejala-gejala yang berhubunngan dengan masa leher atau toraks.

a. Limfadenopati servikal dan suprakavikular


b. Kongesti dan edema pada wajah
c. Disfungsi pernafasan
d. Sakit kepala
e. Proptosis orbital ekimotik
f.

Miosis

g. Ptosis
h. Eksoftalmos
i.

Anhidrosis

Menurut Willie (2008) manifestasi klinis dari neuroblastoma berbeda tergantung dari
lokasi metastasenya:

a. Neuroblastoma retroperitoneal
Massa menekan organ dalam abdomen dapat timbul nyeri abdomen,
pemeriksaan menemukan masa abdominal yang konsistensinya keras dan
nodular, tidak bergerak, massa tidak nyeri dan sering melewati garis tengah.
Pasien stadium lanjut sering disertai asites, pelebaran vena dinding abdomen,
edema dinding abdomen.

b. Neurobalstoma mediastinal
Kebanyakan di paravertebral mediastinum posterior, lebih sering di mediastinum
superior daripada inferior. Pada awalnya tanpa gejala, namun bila massa besar
dapat menekan dan timbul batuk kering, infeksi saluran nafas, sulit menelan. Bila
penekanan terjadi pada radiks saraf spinal, dapat timbul parastesia dan nyeri
lengan.

c. Neuroblastoma leher
Mudah ditemukan, namun mudah disalahdiagnosis sebagai limfadenitis atau
limfoma maligna. Sering karena menekan ganglion servikotorakal hingga timbul
syndrome paralisis saraf simpatis leher(Syndrom horner), timbiul miosis unilateral,
blefaroptosis dan diskolorasi iris pada mata.

d. Neuroblastoma pelvis
Terletak di posterior kolon presakral, relative dini menekan organ sekitarnya
sehingga menimbulkan gejala sembelit sulit defekasi, dan retensi urin.

e. Neuroblastoma berbentuk barbell


yaitu neuroblastoma paravertebral melalui celah intervertebral ekstensi ke dalam
canalis vertebral di ekstradural. Gejala klinisnya berupa tulang belakang kaku
tegak, kelainan sensibilitas, nyeri. Dapat terjadi hipomiotonia ekstremitas bawah
bahkan paralisis.
2. Nefroblastoma (Tumor Wilms)
Tumor Wilms ini terjadi pada parenchym renal. Penyebabnya tidak di ketahui
secara pasti,tetapi juga di duga melibatkan faktor genetik.Kurang dari 2 % terjangkit
karena faktor keturunan.Kebanyakan kasus terjadi secara sporadik dan merupakan
hasil dari mutasi genetik yang mempengaruhi perkembangan sel-sel di ginjal. Dapat
berhubungan dengan kelainan bawaan tertentu,seperti :
a. Kelainan saluran kemih
b. Anridia ( tidak memiliki iris )
c. Hemyhipertrofi ( pembesaran separuh bagian tubuh)
Tumor bisa tumbuh cukup besar,tetapi biasanya

tetap

berada

dalam

kapsulnya.Tumor bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.Tumor Wilms di


temukan pada 1 diantara 200.000 250.000 anak-anak.Biasanya umur rata-rata
terjangkit kanker ini antara 3-5 tahun baik laki-aki maupun perempuan.
Tumor tersebut tumbuh dengan cpat di lokasi yang dapat unilateral atau
bilateral.Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas atau menyimpang ke luar
renal.Mempunyai gambaran khas berupa glomerulus dan tubulus yang primitif atau
abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif di kelilingi
stroma sel kumparan.
Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi,tetapi kemudian di
invasi oleh sel tumor.Tumor ini pada sayatan memperlihatkan warna yang putih atau
keabu-abuan homogen,lunak dan encepaloid (menyerupai jaringan ikat ).Tumor
tersebut akan menyebar atau meluas hingga ke abdomen dan di katakana sebagai
suatu massa abdomen.Akan teraba pada abdominal dengan di lakukan palpasi.
Tumor ini bila telah menyebar dapat menimbulkan hematuria. Disamping itu
dapat disertai hipertensi karena tumor ini dapat merangsang aktifitas renin. Gejala
tersebut dapat disertai nyeri, demam ataupun kadang-kadang anemia atau gejala
tumor abdomen umumnya. Tumor Wilms disebut dalam kepustakaan dapat disertai
aniridia dan hemihipertrofi, walaupun keadaan tersebut sangat jarang. Pada pielografi
intravena biasanya ditemukan gambaran sistem pelviokalises yang rusak atau
gambar hidronefrosis dan tidak jarang gambaran sekresi ginjal tidak tampak. Pada
stadium lanjut dapat ditemukan gambaran metastasis dalam paru. Ultrasonografi dan

CT scan walaupun tidak mutlak tetapi sangat membantu menegakkan diagnosis dan
juga

mencari

metastasis.

Diagnosis

pasti

ditentukan

dengan

pemeriksaan

histopatologi dari ginjal yang berisi tumor yang telah diangkat pada laparatomi
eksplorasi.
Menurut NWTS (National Wilms Tumor Study ) setelah di lakukan tindakan
Nefroktomi,tingkat penyebaran di bagi menjadi 5 stadium dan rekuren:
a. Stadium I : Tumor terbatas pada ginjal dan dapat di eksisi sempurna
b. Stadium II : Tumor meluas keuar ginjal dan dapat di eksisi sempurna,mungkin
telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal,limfonodi paraaorta atau
ke vasa renalis
c. Stadium III : Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari biopsi
atau ruptur yang terjadi sebelum atau selama operasi
d. Stadium IV : Metastasis ke hematogen,paru-paru,hati,tulang,dan otak
e. Stadium V : Tumor Bilateral.Rekuren = terjadi lagi kanker setelah di terapi,dapat
di tempat pertama kali terjadi atau di organ lain
Keluhan utama biasanya hanya benjolan di perut, perutnya membuncit ketika
di bawa ke Dokter oleh orang tuanya, hematuri karena invasi tumor yang menembus
sistem pelveokalises.Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh terhadap
protein tumor.Gejala lain yang bisa muncul adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Malaise (merasa tidak enak badan)


Anorexia
Anemia
Lethargi
Hemihypertrofi
Nafas pendek,dyspnea,batuk,nyeri dada (karena ada metastase)

3. Limfoma Abdomen
Limfoma abdomen dapat timbul dari kelenjar getah bening di hati, limpa dan usus.
Apabila timbul di hati atau limpa akan menyebabkan hepatomegali atau splenomegali
atau keduanya. Tetapi bila timbulnya di usus, maka massa tumor dapat
menyebabkan obstruksi usus atau sebagai leading point untuk terjadinya intususepsi.
Gejala yang dapat timbul ialah nyeri disertai pembengkakan perut dan perubahan
kebiasaan buang air besar serta gejala obstruksi usus serta mual dan muntah.
Perdarahan saluran cerna jarang terjadi apalagi perforasi usus. Biasanya pasien
dengan gejala seperti tersebut di atas datang pada ahli bedah. Pemeriksaan
radiologik yang diperlukan ialah barium meal terutama bila obstruksinya parsial.
Dapat pula dilakukan pemeriksaan USG usus.
4. Teratoma
Tumor yang berasal dari sel germinativum ini dapat timbul di manamana. Tumor
yang asalnya dari rongga abdomen hanya sekitar 1-2% dan biasanya letaknya
retroperitoneal.

Kira-kira

29%

teratoma

berasal

dari

ovarium.

Teratoma

retroperitoneal harus dibedakan dengan tumor Wilms, neuroblastoma atau


rhabdomiosarkoma. Selain ditemukan massa tumor dalam abdomen yang biasanya
cukup besar, untuk teratoma matur, pada pemeriksaan foto polos abdomen dapat
ditemukan gambaran gigi, tulang dan lain-lain.
5. Rhabdomiosarkoma
Umumnya sebagian tumor ini berasal dari rongga pelvis, tetapi bila sudah besar
dapat mendesak ke rongga abdomen sehingga secara klinis sukar dibedakan
asalnya.
Tumor ini dapat memberikan gejala hematuria, sekret berdarah ataupun obstruksi
saluran kemih. Pada anak perempuan tumor dapat keluar melalui vagina khususnya
jenis botryoid, sehingga diagnosis menjadi lebih mudah. Pemeriksaan penunjang lain
untuk tumor ini tidak banyak memberikan bantuan kecuali pemeriksaan histopatologis
dan imunohistokimia seperti vimentin, actin, myosin dan desmin.
D. ETIOLOGI TUMOR ABDOMEN
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal.
Pembelahan sel tumor tergantung drai besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi
autonomnya

dalam

pertumbuhan,

kemampuannya

mengadakan

infiltrasi

dan

menyebabkan metastasis. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya


tumor antara lain:

1. Karsinogen
a. Kimiawi
Bahan kimia dapat berpengrauh langsung (karsinogen) atau memerlukan
aktivasi terlebih dahulu (ko-karsinogen) untuk menimbulkan neoplasi. Bahan kimia
ini dapat merupakan bahan alami atau bahan sintetik/semisintetik. Benzopire
suatu pencemar lingkungan yang terdapat di mana saja, berasal dari pembakaran
tak sempurna pada mesin mobil dan atau mesin lain (jelaga dan ter) dan terkenal
sebagai suatu karsinogen bagi hewan maupun manusia. Berbagai karsinogen lain
antara lain nikel arsen, aflatoksin, vinilklorida. Salah satu jenis benzo (a) piren,
yakni, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yang banyak ditemukan di dalam
makanana yang dibakar menggunakan arang menimbulkan kerusakan DNA
sehingga menyebabkan neoplasia usus, payudara atau prostat.
b. Fisik
Radiasi gelombang radioaktif seirng menyebabkan keganasan. Sumber
radiasi lain adalah pajanan ultraviolet yang diperkirakan bertambah besar dengan
hilangnya lapisan ozon pada muka bumi bagian selatan. Iritasi kronis pada
mukosa yang disebabkan oleh bahan korosif atau penyakit tertentu juga bisa
menyebabkan terjadinya neoplasia.
c. Viral

Dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jenis asam ribonukleatnya; virus DNA
serta RNA. Virus DNA yang sering dihubungkan dengan kanker antara human
papiloma virus (HPV), Epstein-Barr virus (EPV), hepatiti B virus (HBV), dan
hepatitis C virus (HCV). Virus RNA yang karsonogenik adalah human T-cell
leukemia virus I (HTLV-I) .
2. Hormone
Hormon dapat merupakan promoter kegananasan.
3. Gaya hidup, kelebihan nutrisi khususnya lemak dan kebiasaan makan makanan yang
kurang berserat.
4. Parasit: parasit schistosoma hematobin yang mengakibatkan karsinoma planoseluler
5. Genetic
6. Infeksi, trauma, hipersensitivitas terhadap obat-obatan
E. PATOFISIOLOGI
Tumor adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal di ubah oleh mutasi
ganetic dari DNA seluler, sel abnormal ini membentuk kolon dan ber popliferasi secar
abnormal, mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel
tersebut.
Sel-sel neoplasma mandapat energi terutama dari anaerob karena kemampuan sel
untuk oksidasi berkurang, meskipun mempunyai enzim yang lengkap untuk oksidasi.
Susunan enzim sel uniform sehingga lebih mengutamakan berkembang biak yang
membutuhkan energi unruk anabolisme daripada untuk berfungsi yang lmenghasilkan
energi dengan jalan katabolisme. Jarinagan yang tumbuh memerlukan bahan- bahan
tuk

membentuk

neoplasma

protioplasma dan

dapat

mengalahkan

energi,

antara

lain

asam

amino.

Sel-sel

sel- sel normal dalm mendapatkan bahan- bahan

tersebut.(Kusuma, Budi dr g. 2001).


Ketika dicapai suatu tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasi, dan terjadi
perubahan pada jar ingan sekitarnya. Sel- sel tersebut menginfiltrasi jaringan dan
memperoleh akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluh darah
tersebut sel-sel dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk
metastase (penyebaran tumor) pada bagian tubuh yang lain Meskipun penyakit ini dapat
diuraikan secara umum seperti yang telah digunakan namun tumor bukan suatu penyakit
tunggal dengan penyebab tunggal: tetapi lebih kepada suatu kelompok penyakit yang
jelas denagn penyebab, metastase, pengobatan dan prognosa yang berbeda (Smelstzer,
Suzanne C.2001).
F. MANIFESTASI KLINIK
a. Keluhan yang menonjol adalah nyeri perut. Adapun jenis nyeri perut terdiri dari:
a. Nyeri Viseral
Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut.
Peritonium visceral yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf
otonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Akan tetapi bila
dilakukan regangan organ atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang

menyebabkan iskhemia akan timbul nyeri. Pasien biasanya tidak dapat


menunjukkan secara tepat letak nyeri. Nyeri visceral disebut juga sebagai nyeri
sentral.
Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan organ
embrional yang terlibat. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut)
menyebabkan nyeri di ulu hati atau epgastrium. Saluran cerna yang berasal dari
usus tengah (midgut) menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian saluran
cerna yang berasal dari usus belakang (hindgut) menyebabkan nyeri di perut
bagian bawah. Demikian juga nyeri dari buli-buli atau rektosigmoid. Karena tidak
disertai rangsang peritonium nyeri ini tidak dipengaruhi gerakan sehingga
penderita dapat aktif bergerak. Persarafan sensorik organ perut:

Organ atau struktur Saraf


Tingkat persarafan
Bagian tengah diafragma
n. frenikus C3-5
Tepi diafragma, lambung, pankreas, Pleksus seliakus Th. 6-9
kandung empedu, usus halus
Apendiks, kolon proksimal, dan organ Pleksus mesenterikus Th. 10-11
panggul
Kolon distal, rektum, ginjal, ureter, dan

n. splanknikus kaudal Th. 11-L1

testis
Buli-buli, rektosigmoid

Pleksus hipogastrik S2-S3

b. Nyeri Somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf
tepi, dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk atau disayat,
dan pasien dapat menunjukkan secara tepat letaknya dengan jari. Rangsang
yang menimbulkan nyeri ini berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi atau
proses radang.
Gesekan antara visera yang meradang menimbulkan rangsang peritoneum dan
menyebabkan nyeri. Perdangannya sendiri maupun gesekan antar kedua
peritoneum menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang
menjelaskan nyeri kontralateral pada apendisitis akut.
Letak nyeri somatik :
Letak
Abdomen kanan atas

Organ
Kandung empedu, hati, duodenum,

Epigastrium

pankreas, kolon, paru, miokard


Lambung, pankreas, duodenum, paru,

Abdomen kiri atas


Abdomen kanan bawah

kolon
Limpa, kolon, ginjal, pankreas, paru
Apendiks, adneksa, sekum, ileum,

Abdomen kiri bawah


Suprapubik
Periumbilikal
Pinggang/punggung

ureter
Kolon, adneksa, ureter
Buli-buli, uterus, usus halus
Usus halus
Pankreas, aorta, ginjal

b. Hiperplasia
c. Konsistensi tumor umumnya padat atau keras
d. Tumor epital biasanya mengandung sedikit jaringan ikat dan apabila berasal dari
masenkim yang banyak mengandung jaringan ikat maka akan elastic kenyal atau
lunak.
e. Kadang tampak hipervaskulari disekitar tumor.
f.

Biasa terjadi pengerutan dam mengalami retraksi.

g. Edema disekitar tumor disebabkan infiltrasi kepembuluh limfe.


h. Anoreksia, mual, muntah.
i.

Penurunan berat badan

G. PEMERIKSAAN TUMOR ABDOMEN


a. Pemeriksaan Diagnostik
Prosedur diagnostik yang biasa dilakuakan dalam mengevakluasi malignansi
meliputi:
1. Marker tumor
Substansi yang ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lain yang dibentuk oleh
tumor atau oleh tubuh dalam berespon terhadap tumor.
2. Pencitraan resonansi magnetic (MRI)
Penggunaan medan magnet dan sinyal frekuensi_radio untuk menghasilkan
gambatan berbagai struktur tubuh.
3. CT Scan
Menggunakan pancaran sinar sempit sinar-X untuk memindai susunan lapisan
jaringan untuk memberikan pandangan potongan melintang.
4. Flouroskopi
Menggunakan sinar-X yang memperlihatkan perbedaan ketebalan antar jaringan;
dap[at ,mencakup penggunaan bahan kontras.
5. Ultrasound
Echo dari gelombang bunyi berfrekuensi tinggi direkam pada layer penerima,
digunkan untuk mengkaji jarinagn yang dalam di dalam tubuh.

6. Endoskopi
Memvisualkan langsung rongga tubuh atau saluran denagan memasukan suatu ke
dalam rongga tubuh atau ostium tubuh; memungkinkan dilakukannya biopsy jaringan,
aspirasi dan eksisi tumor yang kecil.
7. Pencitraan kedokteran nuklir
Menggunakan suntikan intravena atau menelan bahan radiosisotope yang diikuti
dengan

pencitraan yang menkadi yempat berkumpulnya radioisotope.(Smeltzer,

Suzanne C.2001).
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan klinik di sini adalah pemeriksaan rutin yang biasa dilakukan dengan
cara anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu:
-

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

Pemeriksaan ini sangat penting, karena dari hasil pemeriksaan klinik yang dilakukan
secara teliti, menyeluruh, dan sebaik-baiknya dapat ditegakkan diagnosis klinik yang
baik pula. Pemeriksaan klinik yang dilakukan harus secara holistik, meliputi bio-psikososio-kulturo-spiritual.
Anamnesis seorang pasien, dapat bermacam-macam mulai dari tidak ada keluhan
sampai banyak sekali keluhan, bisa ringan sampai dengan berat. Semakin lanjut
stadium tumor, maka akan semakin banyak timbul keluhan gejala akibat tumor ganas
itu sendiri atau akibat penyulit yang ditimbulkannya.
Apabila ditemukan tumor ganas di dalam atau di permukaan tubuh yang jumlahnya
banyak (multiple), maka perlu ditanyakan tumor mana yang timbul lebih dahulu.
Tujuannya adalah untuk memperkirakan asal dari tumor tersebut. Pemeriksaan fisik
ini sangat penting sebagai data dasar keadaan umum pasien dan keadaan awal
tumor ganas tersebut saat didiagnosa. Selain pemeriksaan umum, pemeriksaan
khusus terhadap tumor ganas tersebut perlu dideskripsikan secara teliti dan rinci.
Untuk tumor ganas yang letaknya berada di atau dekat dengan permukaan tubuh,
jika perlu dapat digambar topografinya pada organ tubuh supaya mudah
mendeskripsikannya. Selain itu juga perlu dicatat :
1. Ukuran tumor ganas, dalam 2 atau 3 dimensi,
2. Konsistensinya

3. Ada perlekatan atau tidak dengan organ di bawahnya atau kulit di atasnya.
H. PENATALAKSANAAN MEDIK
1. Pembedahan

Pembedahan adalah modalitas penanganan utama, biasanya gasterektoni subtotal


atau total, dan digunakan untuk baik pengobatan maupun paliasi.
2. Pasien dengan tumor lambung tanpa biopsy dan tidak ada bukti matastatis jauh
harus menjalani laparotomi eksplorasi atau seliatomi untuk menentukan apakah
pasien harus menjalani prosedur kuratif atau paliatif. Komplikasi yang berkaitan
dengan tindakan adalah injeksi, perdarahan, ileus, dan kebocoran anastomoisis.
(Smeltzer, Suzanne C. 2001)
Laparatomi
Laparatomi adalah salah satu jenis operasi yang di lakukan pada daerah
abdomen. Operasi laparatomy di lakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang
berat pada area abdomen, misalnya trauma abdomen. Perawatan post laparatomi
adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang
telah menjalani operasi pembedahan perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5
cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya
pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian
bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi
appendictomy.
Indikasi
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
b. Peritonitis
c. Perdarahan saluran pencernaan.
d. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
e. Masa pada abdomen
Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
3. Radioterapi
Penggunaaan partikel energy tinggi untuk menghancurkan sel-sel dalam pengobatan
tumor dapat menyebabkan perubahan pada DNA dan RNA sel tumor. Bentuk energy

yang digunakan pada radioterapi adalah ionisasi radiasi yaitu energy tertinggi dalam
spektrum elektromagnetik.
4. Kemoterapi
Kemoterapi sekarang telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk reseksi tumor,
untuk tumor lambung tingkat tinggi lanjutan dan pada kombinasi dengan terapi radiasi
dengan melawan sel dalam proses pembelahan, tumor dengan fraksi pembelahan
yang tinggi ditangani lebih efektif dengan kemoterapi.

5. Bioterapi
Terapi biologis atau bioterapi sebagai modalitas pengobatankeempat untuk kanker
dengan menstimulasi system imun(biologic response modifiers/BRM) berupa
antibody monoclonal, vaksin, factor stimulasi koloni, interferon, interleukin.(Danielle
Gale. 2000).
I.

KOMPLIKASI TUMOR ABDOMEN

J. JENIS-JENIS VENTILATOR
Ventilasi mekanik dengan alatnya yang disebut ventilator adalah suatu alat
bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien dengan cara
memberikan

tekanan

udara

positif

pada

paru-paru

melalui

jalan

nafas

buatan. Ventilasi mekanik merupakan peralatan wajib pada unit perawatan intensif
atau ICU. ( Corwin, Elizabeth J, 2001)
Ventilasi mekanik (Ventilator) adalah suatu system alat bantuan hidup yang
dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal.
Tujuan utama pemberian dukungan ventilator mekanik adalah untuk mengembalikan
fungsi normal pertukaran udara dan memperbaiki fungsi pernapasan kembali ke
keadaan normal. (Bambang Setiyohadi, 2006).
Tujuan pemasangan ventilasi mekanik
1. Mengurangi kerja pernapasan
2. Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien
3. Pemberian MV yang akurat
4. Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
5. Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat
Indikasi Pemasangan Ventilasi Mekanik
a. Pasien dengan gagal nafas.
Pasien dengan distres pernafasan gagal nafas, henti nafas (apnu) maupun
hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen merupakan indikasi
ventilasi mekanik. Idealnya pasien telah mendapat intubasi dan pemasangan

ventilasi mekanik sebelum terjadi gagal nafas yang sebenarnya. Distres


pernafasan

disebabkan

ketidakadekuatan

ventilasi

dan

atau

oksigenasi.

Prosesnya dapat berupa kerusakan paru (seperti pada pneumonia) maupun


karena kelemahan otot pernafasan dada (kegagalan memompa udara karena
distrofi otot).

b. Insufisiensi jantung.
Tidak semua pasien dengan ventilasi mekanik memiliki kelainan pernafasan
primer. Pada pasien dengan syok kardiogenik dan CHF, peningkatan kebutuhan
aliran darah pada sistem pernafasan (sebagai akibat peningkatan kerja nafas dan
konsumsi oksigen) dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi
mekanik untuk mengurangi beban kerja sistem pernafasan sehingga beban kerja
jantung juga berkurang.
c. Disfungsi neurologist
Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko mengalami apnu berulang juga
mendapatkan ventilasi mekanik. Selain itu ventilasi mekanik juga berfungsi untuk
menjaga jalan nafas pasien serta memungkinkan pemberian hiperventilasi pada
klien dengan peningkatan tekanan intra cranial.
d. Tindakan operasi
Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan anestesi dan sedative sangat
terbantu dengan keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas selama
operasi akibat pengaruh obat sedative sudah bisa tertangani dengan keberadaan
ventilasi mekanik.
Klasifikasi
1. Ventilasi mekanik diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung
ventilasi, dua kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan tekanan positif.
a. Ventilator Tekanan Negatif
Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada
eksternal.

Dengan

mengurangi

tekanan

intratoraks

selama

inspirasi

memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-paru sehingga memenuhi


volumenya. Ventilator jenis ini digunakan terutama pada gagal nafas kronik
yang berhubungn dengan kondisi neurovaskular seperti poliomyelitis, distrofi
muscular, sklerosisi lateral amiotrifik dan miastenia gravis. Saat ini sudah
jarang di pergunakan lagi karena tidak bias melawan resistensi dan
conplience paru, disamping itu ventla tor tekanan negative ini digunakan
pada awal awal penggunaan ventilator.
b. Ventilator Tekanan Positif

Ventilator

tekanan

positif

menggembungkan

paru-paru

dengan

mengeluarkan tekanan positif pada jalan nafas dengan demikian mendorong


alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Pada ventilator jenis ini
diperlukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi. Ventilator ini secara luas
digunakan pada klien dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis
ventilator tekanan positif yaitu tekanan bersiklus, waktu bersiklus dan volume
bersiklus.
2. Berdasarkan mekanisme kerjanya ventilator mekanik tekanan positif dapat dibagi
menjadi empat jenis yaitu : Volume Cycled, Pressure Cycled, Time Cycled, Flow
Cycle.
a. Volume Cycled Ventilator.
Volume cycled merupakan jenis ventilator yang paling sering
digunakan di ruangan unit perawatan kritis. Perinsip dasar ventilator ini adalah
cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi
bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled
ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan
volume tidal yang konsisten. Jenis ventilator ini banyak digunakan bagi pasien
dewasa dengan gangguan paru secara umum. Akan tetapi jenis ini tidak
dianjurkan bagi pasien dengan gangguan pernapasan yang diakibatkan
penyempitan lapang paru (atelektasis, edema paru). Hal ini dikarenakan pada
volume cycled pemberian tekanan pada paru-paru tidak terkontrol, sehingga
dikhawatirkan jika tekanannya berlebih maka akan terjadi volutrauma.
Sedangkan penggunaan pada bayi tidak dianjurkan, karena alveoli bayi masih
sangat rentan terhadap tekanan, sehingga memiliki resiko tinggi untuk
terjadinya volutrauma.
b. Pressure Cycled Ventilator
Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan
tekanan. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai
tekanan yang telah ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup
dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan
komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga
pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini
tidak dianjurkan, sedangkan pada pasien anak-anak atau dewasa mengalami
gangguan pada luas lapang paru (atelektasis, edema paru) jenis ini sangat
dianjurkan.
c. Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan
waktu ekspirasi atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi

ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit).


Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2.
d. Berbasis aliran (Flow Cycle)
Memberikan napas/ menghantarkan oksigen berdasarkan kecepatan
aliran yang sudah diset.

Kriteria Pemasangan Ventilasi Mekanik


Menurut Pontopidan (2003), seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik
(ventilator) bila :
1. Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.
2. Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2 kurang dari 70 mmHg.
3. PaCO2 lebih dari 60 mmHg
4. AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350 mmHg.
5. Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.
Modus operasional ventilasi mekanik
Modus operasional ventilasi mekanik terdiri dari :
a. Controlled Ventilation
Ventilator mengontrol volume dan frekuensi pernafasan. Pemberian volume
dan frekuensi pernapasan diambil alih oleh ventilator. Ventilator tipe ini
meningkatkan kerja pernafasan klien.
b. Assist/Control
Ventilator jenis ini dapat mengontrol ventilasi, volume tidal dan kecepatan. Bila
klien gagal untuk ventilasi, maka ventilator secara otomatis. Ventilator ini diatur
berdasarkan atas frekuensi pernafasan yang spontan dari klien, biasanya
digunakan pada tahap pertama pemakaian ventilator.
c. Synchronized Intermitten Mandatory Ventilation (SIMV)
SIMV dapat digunakan untuk ventilasi dengan tekanan udara rendah, otot
tidak begitu lelah dan efek barotrauma minimal. Pemberian gas melalui nafas
spontan biasanya tergantung pada aktivasi klien. Indikasi pada pernafasan
spontan tapi tidal volume dan/atau frekuensi nafas kurang adekuat.
d. Continious Positive Airway Pressure. (CPAP)
Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada
pasien yang sudah bisa bernafas dengan adekuat. Tujuan pemberian mode ini
adalah untuk mencegah atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum
pasien dilepas dari ventilator.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian klien :
1. Aktivitas istirahat
Gelaja : kelemahan dan keletihan
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri, dada pada pengarahan kerja.
Kebiasaan : perubahan pada TD
3. Integritas ego
Gejala : alopesia, lesi cacat pembedahan
Tanda : menyangkal, menarik diri dan marah
4. Eliminasi
Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darh pada feces, nyaeri pada
defekasi.
Perubahan eliminasi urunarius misalnya nyeri atau ras terbakar pada saat berkemih,
hematuria, sering berkemih.
Tanda : perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
5. Makanan/cairan
Gejala : kebiasaan diet buruk ( rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan pengawet).
Anoreksisa, mual/muntah.
Intoleransi makanan
Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan hebat, berkuranganya massa
otot.
Tanda : perubahan pada kelembapan/tugor kulit, edema.
6. Neurosensori
Gejala : pusing, sinkope.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : ketidaknyamanan ringan sampai berat (dihubungkan dengan proses
penyakit)
8. Pernafasan

Gejala

merokok(tembakau,

mariyuana,

hidup

denan

sesoramh

yang

merokok.)Pemajanan asbes.
9. Keamanan
Gejala : pemajanan bahan kimia toksik. Karsinogen
10. Pemajanan matahari lama/berlebihan.
Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi.
11. Seksualitas
Gejala : masalah seksualitas misalnya dampak pada hubungan perubahan pada
tingkat kepuasan.
12. Interaksi social
Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operasi
1. Ketakuatan/ansietas b/d perubahan status kesehatan.
2. Nyeri (akut) b/d proses penyakit
3. Kurang pengetahuan mengenai prognisis dan kebutuhan pengobatan.
Post operasi
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan
pembedahan.
2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
C. RENCANA KEPERAWATAN
Pre operasi
5. Ansietas/cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam rasa kecemasan klien
berkurang
Kriteria hasil :
a. berkurangnya rasa takut
b. Tampak rileks
Intervensi
a. Kaji penyebab dari kecemasan klien.
b. Dorong klien untuk mengungkapkan
pikiran dan perasaan.

Rasional
a. Mempermudah perawat melakukan
intervensi yang tepat.
b. Memberikan kesempatan untuk
memeriksa takut realistis serta
kesalahan konsep tentang

c. Berikan lingkungan terbuka dimana

diagnosis.
c. Membantu klien untuk merasa

klien merasa aman untuk

diterima pada adanya kondisi tanpa

mendiskusikan perasaannya.

perasaan dihakimi dan


meningkatkan rasa terhormat.
d. Memberikan keyakinan bahwa klien

d. Pertahankan kontak sesering

tidak sendiri atau ditolak.


e. Dukungan dan konseling sesering

mungkin dengan klien.


e. Bantu klien/keluarga dalam

diperlukan untuk memungkinkan

mengenali dan mengklasifikasikan

individu mengenal dan menghadapi

rasa takut untuk memulai

rasa takut.

mengembangkan strategi koping.

6. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam rasa kecemasan klien
berkurang
Hasil yang diharapkan :
a. Melaporkan nyeri yang dirasakan menurun atau menghilang
b. Ekspresi wajah tampak rileks
a. Tentukan

Intervensi
riwayat nyeri misalnya

Rasional
a. Informasi memberikan data dasar

lokasi, durasi dan skala

untuk mengevaluasi kebutuhan /

b. Berikan tindakan kenyaman dasar


misal:
c.

massage

punggung

keefektifan intervensi.
b. Dapat meningkatkan relaksasi

dan

aktivitas hiburan misalnya music.


Dorong penggunaan keterampilan
manajement nyeri misalnya relaksasi

c. Memungkinkan klien untuk


berpartisipasi secara aktif dalam

napas dalam.
d. Kolaborasi
pemberian

analgetik

sesuai indikasi

meningkatkan rasa control.


d. Analgetik dapat menghambat
stimulus nyeri.

7. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mengungkapkan
informasi akurat tentang diagnose dan aturan pengobatan
a.

Intervensi
Review pengertian
keluarga

klien

tentang

dan

a.

diagnosa,

dan

pengobatan dan akibatnya.


b.

Rasional
Menghindari adanya duplikasi
pengulangan

terhadap

pengetahuan klien.

Tentukan persepsi klien tentang

b.

Memungkinkan

dilakukan

penyakit

dan

pengobatannya,

pembenaran terhadap kesalahan

ceritakan

pada

klien

persepsi

pengalaman

klien

tentang

lain

yang

dan

konsepsi

serta

kesalahan pengertian.

menderita penyakit yang sama


c.

Beri informasi yang akurat dan

c.

Membantu

klien

dalam

faktual. Jawab pertanyaan secara

memahami proses penyakit.

spesifik, hindarkan informasi yang


tidak diperlukan.
d.

Berikan

bimbingan

kepada

d.

Membantu klien dan keluarga

klien/keluarga sebelum mengikuti

dalam

prosedur pengobatan, therapy yang

pengobatan.

lama,

komplikasi.

Jujurlah

membuat

keputusan

pada

klien.
e.

Anjurkan klien untuk memberikan


umpan

balik

verbal

e.

dan

pemahaman klien dan keluarga

mengkoreksi miskonsepsi tentang


penyakitnya.
f.

f.
status

nutrisi

Meningkatkan

pengetahuan

klien dan keluarga mengenai nutrisi

yang

optimal.
g.

mengenai penyakit klien.

Review klien /keluarga tentang


pentingnya

Mengetahui sampai sejauhmana

yang adekuat.
g.

Mengkaji perkembangan proses-

Anjurkan klien untuk mengkaji

proses penyembuhan dan tanda-

membran mukosa mulutnya secara

tanda infeksi serta masalah dengan

rutin, perhatikan adanya eritema,

kesehatan

ulcerasi.

mempengaruhi intake makanan dan

mulut

yang

dapat

minuman.
h.
h.

Anjurkan

klien

memelihara

Meningkatkan integritas kulit dan


kepala.

kebersihan kulit dan rambut.


Post operasi
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan
pembedahan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam voume cairan seimbang.
Kriteria hasil :
membrane mukosa lembab, turgor kulit dan pengisian kapiler baik tanda vital stabil
dan haluaran urien adekuat.
a.

Monitor

Intervensi
intake

termasuk
normal

keluaran
seperti

dan
yang

emesis,

output
tidak

Rasional
a. Pemasukan oral yang tidak adekuat
dapat menyebabkan hipovolemia.

diare,

drainase luka. Hitung keseimbangan


selama 24 jam.
b.

Timbang
diperlukan.

berat

b. Dengan memonitor berat badan


badan

jika

dapat

diketahui

bila

ada

ketidakseimbangan cairan.
c. Tanda-tanda

hipovolemia

segera

c.

Monitor

vital

signs.

Evaluasi

pulse peripheral, capilarry refil.

diketahui dengan adanya takikardi,


hipotensi dan suhu tubuh yang
meningkat

berhubungan

dengan

dehidrasi.
d. Dengan
d.

Kaji turgor kulit dan keadaan


membran mukosa. Catat keadaan
kehausan pada klien.

e.

dehidrasi

mengetahui
dapat

tanda-tanda
mencegah

terjadinya hipovolemia.
e. Memenuhi kebutuhan cairan yang

Anjurkan intake cairan samapi

kurang.

3000 ml per hari sesuai kebutuhan


individu.
f.

f. Segera diketahui adanya perubahan

Observasi

kemungkinan

keseimbangan volume cairan.

perdarahan seperti perlukaan pada


membran

mukosa,

luka

bedah,

adanya ekimosis dan pethekie.


g.

g. Mencegah terjadinya perdarahan.

Hindarkan trauma dan tekanan


yang berlebihan pada luka bedah.

Kolaboratif
h.

Berikan cairan IV bila diperlukan.

h. Memenuhi kebutuhan cairan yang


kurang.
i. Mencegah/menghilangkan

i.

Berikan therapy antiemetik.

mual

muntah.
j. Mengetahui perubahan yang terjadi.

j.

Monitor hasil laboratorium : Hb,


elektrolit, albumin

2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi.


Tujuan : Nyeri dapat berkurang
Kriteria : Klien mengungkapkan nyeri berkurang dan ekspres wajah normal.
Intervensi
a. Kaji nyeri meliputi lokasi, tempat,
faktor pencetus, durasi, dan kualitas.
b. Observasi isyarat ketidaknyamanan
non verbal.
c. Ajarkan penggunaan teknik non
farmakologis: teknik relaksasi napas
dalam selama aktivitas yang
menyakitkan dan sebelum nyeri
meningkat.

Rasional
a. Mengevaluasi kebutuhan/ keefektifan
intervensi.
b. Bermanfaat dalam mengevaluasi
nyeri, menentukan pilihan intervensi,
menentukan efektivitas terapi
c. Membantu untuk memfokuskan
kembali perhatian dan membantu
pasien untuk mengatasi nyeri/rasa
tidak nyaman secara lebih efektif.

d. Berikan informasi tentang nyeri,

d. Memberikan kesempatan untuk

seperti penyebab nyeri, seberapa

pemberian analgesik sesuai waktu

lama akan berlangsung, dan

(membantu dalam meningkatkan

antisipasi ketidaknyamanan.

kemampuan koping pasien dan dapat


menurunkan ansietas).
e. Efek analgetik yaitu memblok stimulus

e. Kolaborasi pemberian analgesik.

nyeri disistem saraf pusat.


3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi.
Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi.
Kriteria: Luka sembuh dengan baik, verband tidak basah dan tidak ada tanda-tanda
infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor).
Intervensi
Rasional
a.
Cuci tangan sebelum melakukan a.
Mencegah
tindakan.

Pengunjung

dianjurkan

melakukan

juga

hal

yang

hygine

klien

terjadinya

infeksi

silang.

sama
b.

Jaga

personal

dengan baik.
c.

b.

Monitor temperatur

adanya organisme hidup


c.

d.

Kaji semua sistem untuk melihat


tanda-tanda infeksi

e.

Menurunkan/mengurangi

tanda terjadinya infeksi


d.

Hindarkan/batasi prosedur invasif


dan jaga aseptik prosedur

Peningkatan suhu merupakan


Mencegah/mengurangi
terjadinya resiko infeksi

e.

Mencegah terjadinya infeksi

f.

Segera dapat diketahui apabila

Kolaboratif
f.

Monitor CBC, WBC, granulosit,


platelets.

g.

Berikan

antibiotik

diindikasikan.

bila

terjadi infeksi.
g.

Adanya

indikasi

yang

jelas

sehingga antibiotik yang diberikan


dapat

mengatasi

organisme

penyebab infeksi.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan :Nutrisi klien dapat terpenuhi.
Kriteria: Klien mengungkapkan nafsu makan baik, badan tidak lemah, dan HB
normal.
Intervensi
Rasional
a.
Monitor intake makanan setiap a.
Memberikan informasi tentang

hari, apakah klien makan sesuai

status gizi klien.

dengan kebutuhannya.
b.

Timbang dan ukur berat badan, b.


ukuran

triceps

serta

amati

penurunan berat badan.


c.

lambat

dan

penambahan dan penurunan berat


badan klien.

Kaji pucat, penyembuhan luka c.


yang

Memberikan informasi tentang

pembesaran

Menunjukkan keadaan gizi klien


sangat buruk.

kelenjar parotis.
d.

Anjurkan
mengkonsumsi

klien

untuk d.

makanan

tinggi

Kalori

merupakan

sumber

energi.

kalori dengan intake cairan yang


adekuat. Anjurkan pula makanan
kecil untuk klien.
e.

Kontrol faktor lingkungan seperti e.

Mencegah

mual

muntah,

bau busuk atau bising. Hindarkan

distensi berlebihan, dispepsia yang

makanan

menyebabkan

yang

terlalu

manis,

berlemak dan pedas.

penurunan

nafsu

makan serta mengurangi stimulus


berbahaya

yang

dapat

meningkatkan ansietas.
f.

Ciptakan suasana makan yang f.


menyenangkan

misalnya

makan

Agar

klien

merasa

seperti

berada dirumah sendiri.

bersama teman atau keluarga.


g.

Anjurkan
visualisasi,

tehnik
latihan

relaksasi, g.
moderate

sebelum makan.
h.

Anjurkan

Untuk menimbulkan perasaan


ingin makan/membangkitkan selera
makan.

komunikasi

terbuka h.

Agar

dapat

diatasi

secara

tentang problem anoreksia yang

bersama-sama (dengan ahli gizi,

dialami klien.

perawat dan klien).

Kolaboratif
i.

Amati studi laboraturium seperti i.

Untuk mengetahui/menegakkan

total limposit, serum transferin dan

terjadinya gangguan nutrisi sebagi

albumin

akibat

perjalanan

pengobatan

dan

penyakit,
perawatan

terhadap klien.
j.

Berikan

pengobatan

sesuai j.

indikasi
Phenotiazine,

Membantu

menghilangkan

gejala penyakit, efek samping dan


antidopaminergic,

corticosteroids, vitamins khususnya

meningkatkan
klien.

status

kesehatan

A,D,E dan B6, antacida


k.

k.

Pasang pipa nasogastrik untuk


memberikan

makanan

secara

enteral, imbangi dengan infus.

Mempermudah intake makanan


dan minuman dengan hasil yang
maksimal

dan

tepat

sesuai

kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
Doenges, E.M. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi 3). EGC:Jakarta
Elizabet J. Corwin. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC:Jakarta
Gale,Danielle RN, MS, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Smelster Suzanne, C 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 2. EGC.:Jakarta
(http://tumor.abdomen.htm)
Barbara C, Long. 1985. Escential of Medical. Surgical Nursing ( A Nursing Process
Approach). The C.V Mosby Company : Toronto
Sabiston, 1995. Buku Ajar Bedah Bagian III. EGC: Jakarta:
Barbara Engram, 1999 Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 32. EGC;
Jakarta.
Marylin E. Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta.